Anda di halaman 1dari 4

Resume

Characteristics of Farmers and Technical Efficiency in CocoaFarming at Sigi


Regency - Indonesia with Approach StochasticFrontier Production Function
1,2,* 3 3 3
Effendy , Nuhfil Hanani , Budi Setiawan , A. Wahib Muhaimin
1. Doctoral Students of Agricultural Economics Faculty of Agriculture, University of Brawijaya,
Indonesia
2. Department of Agriculture Economic, University of Tadulako, Indonesia
3. Department of Agriculture Economic, University of Brawijaya, Indonesia
*. E-mail of the Corresponding author: effendy_surentu@yahoo.com

Pendahuluan
Kebutuhan kako dunia petahun mencapai 6,7 juta ton dan hanya 2, juta
ton yang terpenuhi. Berarti kurang dari 44,2 juta tonbelum terpenuhi sehingga
bisa menjadi peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan produksi kakao.
Sedangkan produksi biji kako Indonesia menempati posisi ke 2 di bawah Ghana.
Dengan permintaan kako yang semakin meningkat setiap tahunnya namun tidak
dapat meningkatkan pendapatan petani. Hal ini diakrenakan peningkatan produksi
kakao ditentukan oleh efisiensi produksi. Masalah yang dihadapi oleh petani kako
di Kabupaten Sigi Indonesia adalah rendahnya tinkat produktifitas kakao.
Sebenarya petani tidak mampu mencapai efisiensi yang tinggi. Hasil yang di capai
adalah pengaruh karakteristik petani seperti usia, pendidikan, pengalaman bertani,
frekuensi penyuluhan diikuti, frekuensi pohon kakao pemangkasan dan sanitasi.
Salah satu metode untuk mengetahui tingkat efisiensi efisiensi teknis adalah
melalui stochastic frontier fungsi produksi Cobb-Douglas. Analisis
memperkirakan fungsi produksi Cobb-Douglas stochastic frontier digunakan
untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kakao. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi
produksi pertanian kakao dan karakteristik pengaruh petani dalam meningkatkan
efisiensi teknis sehingga produksi kakao dapat ditingkatkan.
Metode penelitian
Penelitian dilakukan di Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi- Indonesia
lokasi ini dipilih karena Kabupten Sigi temasuk sentra produksi kakao. Desa
Sejahtera dan Desa Bulili di jadikan sampel karena desa tersebut sentra terbesar
prroduksi kako di di Kabupaten Sigi. Penelitian dilakukan dari Januari hingga
Maret 2013 dengan jumlah sampel petani kakao desa sejahtera sebanyak 106 dan
desa Bulili sebanyak 112. Metode yang digunakan adalah survey dengan
penentuan sampel secara random. Penentuan jumlah sampel dengan menggunakan
rumus Parel et al (1973).

Sedangkan untuk penentuan proporsional sampel dari masing-masing desa


ditentukan dengan rumus:

Kemudian metode yang digunakan untuk menjawab tujuan penelitian adalah


stokastik frontier model Cobb Douglas dan analisis efisiensi teknis.

Hasil dan Pembahasan


1. Estimasi Stochastic Frontier Fungsi Produksi Model Cobb Douglas
Parameter estimasi fungsi produksi stochastic frontier model Cobb-Douglas
dengan metode OLS memberikan gambaran rata-rata kinerja produksi pertanian
kakao di tingkat teknologi yang digunakan. Hasil Estimasi dengan metode MLE
menggambarkan kinerja terbaik (potensi produksi) pertanian kakao di tingkat
teknologi yang digunakan. Dari analisis data tersebut di hasilkan pengaruh
masing-masing factor produksi kakao dengan tingkat = 5% sebagi berikut:
1. Pupuk
Pupuk secara signifikan meningkatkan produksi kakao dengan t statistik =
2,175> t tabel = 1,985 di tingkat = 5%. Koefisien regresi (elastisitas
produksi) 0,282 berarti bahwa untuk setiap penambahan 1% dari pupuk
dapat meningkatkan produksi kakao dengan 0,282% dengan asumsi bahwa
faktor-faktor lain dianggap konstan.
2. Pestisida
Pestisida secara signifikan mempengaruhi produksi kakao dengan t
statistik = 2,578> t tabel = 1,985 di tingkat = 5%. Koefisien regresi
(elastisitas produksi) 0,345 berarti bahwa untuk setiap tambahan 1%
pestisida dapat meningkatkan produksi kakao dengan 0.345% dengan
asumsi bahwa faktor-faktor lain dianggap konstan.
3. Tenaga kerja
Tenaga kerja secara signifikan mempengaruhi produksi kakao dengan t
statistik = 2,221> t tabel = 1,985 di tingkat = 5%. Koefisien regresi
(elastisitas produksi) 0,314 berarti bahwa untuk setiap tambahan 1%
tenaga kerja bisa meningkatkan produksi kakao dengan 0,314% dengan
asumsi bahwa faktor-faktor lain yang dipertimbangkan konstan.
2. Efisiensi teknis petani kakao
2.1 Distribusi Tingkat Efisiensi Efisiensi Teknis
Tingkat efisiensi dan inefisiensi kakao teknis pertanian dianalisis secara
bersamaan dengan menggunakan stochastic fungsi produksi frontier model
Cobb-Douglas. Tingkat distribusi efisiensi teknis uasahatani kakao
menunjukkan kelas efisiensi teknis 0,8-0,8999 dengan frekusnsi tertinggi
30,30%. Tingkat efisiensi teknis minimal = 0,3896 dan maksimum =
0,9922 dengan rata-rata = 0,8082. Untuk petani yang memiliki efisiensi
rendah apat meningkatkan dengan mengikuti pendidikan non formal
maupun kegiatan konseling.
2.2 Sumber Teknis Inefisiensi
a. umur
Umur petani berkorelasi negatif dan tidak signifikan terhadap
inefisiensi teknis petani kakao di tingkat = 10%.
b. pendidikan
Pendidikan petani berkorelasi negatif dan signifikan terhadap
inefisiensi teknis petani kakao di tingkat = 5%. dengan kata lain,
semakin tinggi pendidikan seorang petani, semakin tinggi tingkat
efisiensi teknis karena dengan pendidikan yang tinggi petani dapat
memanfaatkan teknologi dengan baik
c. Pengalaman Pertanian
Pengalaman pertanian berkorelasi negatif dan signifikan terhadap
inefisiensi teknis petani kakao di tingkat = 1%. Korelasi negatif
berarti, semakin tinggi pengalaman bertani petani, semakin tinggi
tingkat efisiensi teknis.
d. Frekuensi tindakan konseling
Frekuensi tindakan konseling berkorelasi negatif dan signifikan
terhadap inefisiensi teknis petani kakao pada tingkat = 10%. Korelasi
negatif berarti bahwa semakin tinggi frekuensi konseling diikuti oleh
petani, semakin tinggi tingkat efisiensi teknis
e. Frekuensi Pemangkasan dari pohon kakao
Frekuensi pemangkasan pohon kakao berkorelasi negatif dan tidak
signifikan terhadap inefisiensi teknis kakao pertanian di tingkat =
10%.
f. Sanitasi
Frekuensi sanitasi berkorelasi negatif dan signifikan terhadap
inefisiensi teknis petani kakao di tingkat = 1%. Korelasi negatif
berarti bahwa semakin tinggi frekuensi melakukan sanitasi oleh petani
semakin tinggi tingkat efisiensi teknis
Kesimpulan
Hasil penelitian menunjukkan pupuk, pestisida dan tenaga kerja
berpengaruh positif dan signifikan terhadap produksi kakao di Sigi Kabupaten -
Indonesia. Rata-rata tingkat efisiensi yang dicapai teknis petani kakao yaitu
0,8096. Karakteristikyang dimiliki petani seperti pendidikan, pertanian
pengalaman, Frekuensi mengikuti konseling dan frekuensi melakukan sanitasi
dapat meningkatkan efisiensi teknis usahatani kakao.