Anda di halaman 1dari 20

1

STATE OF THE ART

KAJIAN EPIDEMIOLOGI INFEKSI TOXOPLASMA GONDII PADA


MANUSIA DAN HEWAN DI INDONESIA

Oleh:
Novericko Ginger Budiono (B252150031)
Nanis Nurhidayah (B252150061)
RA Dewi Maria Yuliani (B262160021)
Veronica Wanniatie (B261160031)
Chandra Utami Wirawati (B261160041)
Junaidi (B261160021)

Departemen Ilmu Penyakit dan Kesehatan Hewan


Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor
2016
2

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI............................................................................................................2
1 LATAR BELAKANG...........................................................................................3
2 MASALAH SECARA MENYELURUH.............................................................4
3 PEMECAHAN MASALAH SECARA UMUM...................................................7
3.1. Perbaikan sanitasi dan higine....................................................................7
3.2. Gaya Hidup dan Pola Konsumsi...............................................................8
3.3. Pengobatan dan Vaksinasi.........................................................................9
4 MASALAH KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER.............................12
5 JUDUL PENELITIAN YANG DIRENCANAKAN...........................................17
6 HIPOTESIS.........................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................18
3

1 LATAR BELAKANG

Infeksi protozoa parasit masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan


hewan dan manusia di Indonesia. Satu diantara agen infeksi yang paling
berpengaruh tersebut adalah Toxoplasma gondii. Parasit ini merupakan protozoa
yang masuk dalam kelompok apikompleksa dan menyebabkan toksoplasmosis
pada hewan dan manusia. Inang definitif parasit ini adalah kucing dan bangsa
felidae lain, sedangkan 200 jenis mamalia termasuk manusia dan hewan ternak
(sapi, babi, kuda, domba) berperan sebagai inang antara. Infeksi menyebabkan
gejala asimptomatis pada kucing namun dapat menimbulkan keparahan bahkan
kematian pada manusia. Infeksi kronis dan pada ibu hamil dapat menyebabkan
gangguan tumbuh kembang janin dan bayi lahir dalam kondisi cacat.

Kajian epidemiologi infeksi baik pada hewan dan manusia telah banyak
dilakukan di berbagai negara dunia namun masih sangat jarang di Indonesia. Hal
ini menyebabkan toksoplasmosis menjadi satu diantara penyakit tropis yang
terabaikan (neglected tropical diseases) dan sulit untuk dikendalikan
(Epistemiologi). Oleh karena itu, kajian epidemiologi dibutuhkan untuk
mendapatkan data dengan mengetahui prevalensi dan faktor risiko infeksi terkini.
Informasi tersebut dapat digunakan sebagai pedoman dalam penyusunan program
pengendalian toksoplasmosis di Indonesia dan bahkan negara tropis lainnya yang
memiliki kesesuaian situasi sosiogeografisnya (Aksiologi).
4

2 MASALAH SECARA MENYELURUH

Definisi sakit menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) adalah rasa
tidak nyaman di tubuh atau bagian tubuh karena menderita sesuatu. Sedangkan
menurut World Health Organization (WHO) sakit diartikan sebagai kondisi cacat
atau kelainan yang disebabkan oleh gangguan penyakit, emosional, intelektual dan
sosial. Dalam kajian yang lebih luas dalam masyarakat, teori tentang faktor
penyebab penyakit tidak dapat dipisahkan dari teori ekologi lingkungan dimana
manusia mendapatkan penyakit tertentu akibat interaksinya dengan faktor
lingkungan dan kondisi tertentu pula. Hal ini sejalan dengan konsep epidemiologi
penyakit dimana kejadian penyakit tidak terlepas dari adanya ketidakseimbangan
rantai hubungan antara manusia sebagai inang (host) dengan keragaman sifatnya
(biologis, fisiologis, psikologis, sosiologis dan antropologis), agen penyebab serta
lingkungan (Noor 2000).

Aspek manuasia (host) terdiri atas: a) umur, jenis kelamin, ras, kelompok
etnik (suku), hubungan keluarga; b) bentuk anatomis tubuh; c) fungsi fisiologis
atau faal tubuh; d) status kesehatan, termasuk status gizi; e) keadaan kuantitas dan
respon monitor; f) kebiasaan hidup dan kehidupan social; dan g) pekerjaan.
Sedangkan, unsur lingkungan berperan dalam penentuan sifat karakteristik
individu sebagai inang dan ikut memegang peranan dalam proses kejadian
penyakit. Unsur lingkungan tersebut terbagi dalam lingkungan biologis yaitu
segala flora dan fauna yang berada di sekitar manusia, meliputi: beberapa
mikroorganisme patogen dan tidak patogen, vektor pembawa infeksi, berbagai
binatang dan tumbuhan yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia, baik
sebagai sumber kehidupan (bahan makanan dan obat-obatan), maupun sebagai
reservoir/sumber penyakit atau pejamu antara (inang antara), fauna sebagai vektor
penyakit. b) lingkungan fisik yaitu keadaan fisik sekitar manusia yang
berpengaruh terhadap manusia baik secara langsung, maupun terhadap lingkungan
biologis dan lingkungan sosial manusia. Lingkungan fisik meliputi: udara keadaan
cuaca, geografis, dan air. c) Lingkungan sosial yaitu semua bentuk kehidupan
5

sosial budaya, ekonomi, politik, sistem organisasi serta institusi/peraturan yang


berlaku bagi setiap individu yang membentuk masyarakat tersebut.

Penyakit parasitik merupakan penyakit yang disebabkan karena adanya


infeksi oleh protozoa, cacing daun (trematoda), cacing pita (cestoda), cacing gilik
(nematoda), artropoda penting (serangga, caplak, pinjal, kutu dan tungau)
(Bogitsh et al. 2013). Penyakit parasitik memiliki pengaruh besar dalam kesehatan
hewan maupun kesehatan masyarakat dunia. Fakta menunjukkan bahwa 70-80%
penyakit hewan di Nigeria adalah disebabkan oleh kasus penyakit parasitik
(LaMann 2010). Sedangkan satu per empat bagian dari keseluruhan total kasus
penyakit infeksius pada manusia adalah disebabkan oleh kelompok cacing
(helminth) dan protozoa (Cleaveland et al. 2001).

Toksoplasmosis adalah penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh


parasit intraseluler obligat Toxoplasma gondii (T. gondii). Parasit ini pertama kali
dilaporkan oleh Janku pada 1923 dengan mengisolasi kista parasit di retina bayi
yang menderita hidrosefalus dan microphthalmia. Selain manusia, T. gondii juga
dapat menginfeksi hewan mamalia (antara lain kucing, anjing, sapi, kerbau,
kambing dan domba) dan juga burung (Curtis 2000; Baldwin 2003). Toxoplasma
gondii dapat ditemukan di seluruh dunia dan menginfeksi hampir sepertiga
penduduk dunia. Centers for Disease Control and Prevention CDC (2013)
memperkirakan 60 juta lebih penduduk Amerika Serikat sekarang ini telah
terinfeksi dengan parasit ini. Oleh karena itu, diperlukan suatu penelitian yang
mengkaji kejadian toxoplasmosis baik pada hewan maupun manusia. Parasit
memiliki beberapa stadium dalam hidupnya yaitu stadium takizoit, bradizoit dan
ookista.
6

Gambar 1 organela penyusun takizoit (kiri) dan bradizoit (kanan) (Dubey et al


1998)

Gambar 2 kista jaringan yang berisi sekitar 1 000 bradizoit yang diperoleh dari
ulas impresi dari otak tikus (14 bulan pos infeksi) yang diinfeksi
dengan strain VEG (Dubey et al 1998).
7

3 PEMECAHAN MASALAH SECARA UMUM

3.1. Perbaikan sanitasi dan higine

Toksoplasmosis merupakan penyakit yang memiliki kaitan erat dengan


aspek sanitasi dan higine. Infeksi pada manusia dapat dicegah melalui mencuci
tangan dengan menggunakan air dan sabun setelah memegang daging dan semua
alat untuk memotong, tempat mencuci, pisau dan alat-alat lainnya yang
berhubungan dengan daging harus dicuci dengan air dan sabun karena stadium T.
gondii yang ada pada daging dapat mati dengan air. Daging dari semua hewan
harus dimasak pada suhu 66C sebelum dikonsumsi manusia atau hewan, dan
hindari mencicipi daging saat dimasak atau memberi bumbu saat membuat sosis.
Wanita hamil harus menghindari kontak dengan feses kucing, sampah, tanah dan
daging mentah (Dubey, 2000).

Kebersihan hewan terutama kucing juga menjadi salah stau kunci


pencegahan dan pengendalian. Kucing harus diberi makan bila kering,
dikalengkan, atau makanan yang dimasak. Kotoran kucing harus dibuang setiap
hari, diutamakan bukan oleh wanita hamil. Saat berkebun harus menggunakan
sarung tangan. Sayuran dicuci sebelum dimakan karena resiko kontaminasi
dengan feses kucing. Sebagian besar kucing terinfeksi karena makan jaringan
yang terinfeksi, maka kucing jangan diberi makan daging yang belum dimasak,
jeroan atau tulang dan mempertahankan kucing untuk tetap di dalam rumah.
Tempat sampah harus tertutup untuk mencegah pemulungan. Kucing dimandulkan
untuk mengurangi populasi kucing di peternakan. Daging yang dibekukan
semalaman pada kulkas rumahan (-8 sampai dengan -12C) dapat membunuh
sebagian besar kista jaringan T. gondii (Dubey, 2000).

Pencegahan Toxoplasmosis sangat penting pada pasien dengan gangguan


sistem imun dan wanita hamil. Pencegahannya meliputi: (Hokelek, 2016)

- Menghindari makan daging mentah, susu yang tidak terpasteurisasi dan telur
yang tidak dimasak.
- Mencuci tangan setelah memegang daging mentah
8

- Menggunakan sarung tangan ketika berkebun dan memegang tanah lalu


mencuci tangan sesudahnya
- Mencuci buah dan sayuran
- Menghindari kontak dengan feses kucing

Bepergian ke daerah endemis dapat meningkatkan resiko terpapar,


menghindari transfusi produk darah dari donor dengan seropositif ke pasien
dengan seronegatif atau gangguan sistem imun. Pekerja laboratorium dapat
terinfeksi melalui tertelannya ookista yang bersporulasi dari T. gondii dari
speseimen feses kucing atau melalui kulit atau kontak mukosa baik dengan
trakizoit ataupun bradizoit pada manusia atau hewan. Laboratorium harus
memiliki Standar Operasional Prosedur untuk menangani spesimen yang
mengandung T. gondii untuk menghindari kontaminasi (Hokelek, 2016). Namun,
rendahnya tingkat kesadaran akan pentingnya higine dan snaitasi di Indonesia
membuat penyakit ini sangat berpotensi terjadi di tengah masyarakat.

3.2. Gaya Hidup dan Pola Konsumsi

Toksoplasmosis ditularkan melalui ookista di dalam kotoran kucing yang


terinfeksi dan juga konsumsi sayuran yang terkontaminasi dan tidak dicuci, buah-
buahan, susu tidak dipasteurisasi dan daging mentah atau kurang matang yang
terinfeksi, transfusi darah dan transplantasi organ. Tercemarnya alat-alat untuk
masak dan tangan oleh bentuk infektif parasit ini pada waktu pengolahan makanan
merupakan sumber lain untuk penyebaran T. gondii. Perilaku dan sikap yang
beresiko terinfeksi parasit ini adalah kebiasaan dalam menjaga kebersihan
seseorang seperti mencuci tangan setelah berkebun, sebelum/sesudah mengolah
makanan khususnya daging mentah, sebelum/sesudah makan, mencuci alat dapur
yang digunakan untuk mengolah daging mentah dan menutup makanan agar
terhindar dari vektor.

Kebiasaan dan prilaku hidup sehat merupakan cara yang efektif untuk
mengurangi penyebaran T. gondii. Tindakan pencegahan infeksi T. gondii antara
lain adalah: (1) Tidak mengkonsumsi daging mentah atau setengah matang, (2)
mencuci tangan setelah memegang daging mentah, (3) mencuci alat dapur (pisau,
9

talenan) selesai digunakan memotong daging, (4) tidak mengkonsumsi sayur dan
buah mentah yang belum dicuci bersih, (mencuci tangan setelah berkebun,
membersihkan kotoran hewan peliharaan, atau memegang hewan peliharaan,
mencegah kecoa dan lalat hingga di makanan (Chahaya, 2003).

Toxoplasmosis merupakan salah satu penyakit kongenital yang paling


banyak ditemukan. Tenaga kesehatan di beberapa negara di Eropa terutama
Dokter spesialis Kandungan dan Dokter anak setiap harinya menyarankan
pasiennya untuk melakukan pemeriksaan terhadap Toxoplasmosis (Ambroise-
Thomas, 2000).

Wanita hamil dengan seronegatif direkomendasikan tentang makanan dan


higiene yang baik untuk mengurangi resiko terkena infeksi Toxoplasma
(Ambroise-Thomas P, 2000). Pengaruh Pendidikan kesehatan untuk mencegah
infeksi Toxoplasma gondii selama kehamilan belum dapat dibuktikan lebih lanjut.
Meskipun pada penelitian didapatkan pengurangan sebanyak 63% serokonversi
selama 7 tahun diberikan pendidikan kesehatan secara sistematis (Peterson, 2000).
Infeksi Toxoplasma gondii tanpa gejala klinis dan tidak dilaporkan lebih
dari 80% kasus dan lebih dari 80% kelahiran dengan kongenital toxoplasmosis
tidak memberikan gejala pada saat kelahiran, program skrining secara sistematis
merupakan cara yang memungkinkan untuk mendeteksi infeksi pada stadium
awal. Konsep skrining prenatal belum dilaksanakan di semua negara. (Peterson,
2000).

3.3. Pengobatan dan Vaksinasi


Pengobatan untuk kasus yang asimptomatik tidak diperlukan, kecuali pada
anak-anak usia kurang dari 5 tahun. Pasien dengan gejala Toxplasmosis harus
diberikan pengobatan sampai terbentuk sistem imun. Obat yang
direkomendasikan untuk pengobatan Toxoplasmosis bekerja melawan takizoit dari
T. gondii. Meskipun tidak menghilangkan bradyzoit. Pyrimethamine yang paling
efektif pada semua regimen. Pemberian Leucoverin harus dipantau dengan efek
penekanan pada sumsum tulang belakang (Hokelek, 2016).
Hokelek (2016) menambahkan bahwa efikasi dari Azithromicin,
Clarithromycin, Atovaquone, dapsone dan kotrimoksazole belum jelas, hanya
10

digunakan sebagai alternatif kombinasi dari Pyrimethamine. Terapi yang paling


efektif adalah kombinasi Pyrimethamine dan sulfadiazine atau trisulfapyrimidines
(misalnya kombinasi Sulfamerazine, sulfamethazine, dan sulfapyrazine). Agen ini
sangat efektif melawan takizoit dan sinergi bila digunakan secara kombinasi.
Penggunaan obat-obatan perlu memperhatikan penggunanan dosis pada setiap
regimen karena tergantung pada kondisi pasien (misal, status imun dan
kehamilan). Pyrimethamine dapat digunakan dengan sulfonamides, quinone dan
anti malaria atau antibiotik lainnya.
Di Austria dan Perancis pengobatan pada wanita yang tefinfeksi atau pun
pencegahan transmisi dari ibu ke anak dan pengobatan bayi yang terinfeksi
menggunakan obat dan prosedur yang sama. Pemberian politerapi kombinasi
antara pyrimethamine dan sulfadoxine atau pyrimethamine dan sulfadiazine yang
lebih efektif tetapi sedikit memberikan efek samping pada usia kehamilan 12-15
minggu. Spyramicin tidak terlalu aktif dibandingkan obat lainnya yang diberikan
secara kombinasi tetapi mengurangi efek samping yang tidak diinginkan (Nielsen,
2000).
Pemberian terapi pada pasien yang tidak hamil, sebagai berikut (Hokelek,
2016):

Regimen diberikan selama 6 minggu:

- Pyrimtehamine (100mg dosis tunggal oral dilanjutkan dengan 25-50 mg/hari)


ditambah sulfadiazine (2-4 gram/hari terbagi dalam 4 dosis perhari) atau
- Pyrimethamine (100 mg dosis tunggal oral dilanjutkan 25-50 mg/hari)
ditambah clindamycin (300mg oral 4 x perhari)
- Asam folat (Leucoverin) 10-25 mg/hari diberikan pada semua pasien yang
toksik terhadap pyrimethamine
- Trimethoprim (10 mg/kg/hari) sulfamethoxazole (50 mg/kg/hari) selama 4
minggu

Sulfadiazine atau clindamycin dapat digantikan dengan azithromycin 500


mg perhari atau atovaquone 750 mg 2x perhari pada pasien dengan gangguan
daya tahan tubuh atau pasien dengan alergi obat sebelumnya (Hokelek 2016).
11

Kontroversi efikasi pengobatan selama kehamilan dalam mengurangi


resiko terpapar pada janin dan perkembangan klinis dari penyakit. Kontroversi
juga terjadi pada regimen yang optimal dalam mengobati infeksi yang didapat
secara maternal. Dosis regimen pada kehamilan sebagai berikut (Hokelek 2016):

- Spiramycin 1 gram oral setiap 8 jam


- Apabila hasil test amniotik postif T.gondii : pyrimethamine (50 mg/hari oral)
selama 3 minggu dan sulfadiazine (3 gram/hari oral dalam 2-3 dosis) atau
- Pyrimethamine (25 mg/hari oral) dan sulfadiazine (4 gram/hari) terbagi dalam
2-4 kali perhari sampai melahirkan dan
- Leucoverin 10-25 mg.hari oral untuk mencegah sumsum tulang belakang

Imunisasi merupakan strategi yang efektif untuk mencegah penyakit


menular tetapi vaksin untuk Toxoplasmosis pada manusia belum dikembangkan.
Wanita hamil yang terinfeksi T. gondii dapat menularkan infeksi ke janinnya pada
infeksi pertama. Infeksi primer pada wanita hamil atau tidak hamil memberikan
hasil kekebalan yg kompleks secara klinis dalam melawan infeksi berulang pada
kehamilan dan melindungi janin. (Nielsen, 2000). Adapun pengendalian yang
telah dilaksanakan tersebut perlu didukung dengan kampanye aktif dari
pemerintah suatu negara atau wilayah untuk melaksanakan program eliminasi
penyakit.
12

4 MASALAH KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER

Toksoplasmosis merupakan ancaman serius karena mampu menjadi salah


satu diantara food borne diseases. Penularan toksoplasmosis terbilang masif
melalui rute ini. Manusia dapat terinfeksi karena menelan stadium infektif parasit
berupa ookista dan kista jaringan. Ookista berada pada kotoran kucing yang
terinfeksi sedangkan kista jaringan yang ada pada daging (utamanya sapi, babi,
domba) termakan akibat pengolahan daging yang tidak matang sempurna (Dubey
2004; Bogitsh et al 2013). Di Chili diketahui bahwa 43% wanita memiliki status
seropositif terhadap ookista Toxoplasma dan 57% lain diketahui terinfeksi karena
mengkonsumsi daging yang tidak matang (Munoz-Zanzi et al 2010). Selain itu,
lalat dan kecoa diimplikasikan mampu bertindak sebagai pembawa stadium
infektif yang berasal dari feses kucing ke makanan (Bogitsh et al 2013).

Peningkatan kesejahteraan dan perubahan gaya hidup masyarakat modern


memiliki dampak langsung dan tidak langsung terhadap kejadian toxoplasmosis.
Adanya kebiasaan mengkonsumsi daging mentah atau setengah matang yang saat
ini mulai meningkat terjadi karena perkembangan trend makanan. Berbagai
makanan mentah disajikan dengan tampilan yang menarik dan semakin mendunia.
Bahkan, makanan setengah matang atau tidak matang sempurna sering
diidentikkan sebagai makanan mewah di sebagian kawasan Eropa. Kajian
epidemiologi seroprevalensi Toxoplasma gondii tinggi terjadi di Prancis berkaitan
dengan adanya kebiasaan makan daging mentah atau tidak matang sempurna pada
kalangan menengah keatas dan mencerminkan gaya hidup mewah. Sehingga
kejadian toxoplasmosis lebih banyak ditemukan di kawasan negara maju.
Sedangkan di masyarakat Asia dan Afrika lebih didominasi oleh masyarakat yang
memiliki kultur memasak makanan hingga matang sehingga kasus T. gondii lebih
jarang ditemukan di kawasan tersebut (Dubey 2009).

Penelitian yang dilakukan Mohammed et al. (2016) terhadap kebiasaan


mengkonsumsi daging mentah/setengah matang merupakan faktor utama
prevalensi terjadinya toksoplasmosis pada perempuan hamil di Mekkah, Arab
13

Saudi. Kista T. gondii dalam daging dapat bertahan hidup pada suhu -4C selama
tiga hari dan pada suhu -2oC selama dua hari. Daging dapat menjadi hangat pada
semua bagian dengan suhu 65oC selama empat sampai lima menit atau lebih maka
secara keseluruhan daging tidak mengandung kista aktif, demikian juga hasil
daging siap konsumsi yang diolah dengan garam dan nitrat (WHO, 1979).

Toksoplasmosis juga mampu ditularkan melalui media air (waterborne)


dilaporkan terjadi di berbagai wilayah dunia. Meski bukan merupakan penyebab
utama penularan dari hewan ke manusia, namun cukup untuk menimbulkan
wabah toksoplasmosis pada masyarakat baik di kawasan desa atau perkotaan. Di
Kanada, wabah toksoplasmosis diketahui terjadi akibat adanya kontaminasi air
perkotaan dari kucing liar. Sedangkan di Amerika, penularan terjadi akibat adanya
infeksi dari mamalia air laut (Dubey 2004). Fayer et al (2004) menyebutkan
bahwa terjadinya infeksi Toxoplasma dari daratan ke lautan dan atau sebaliknya
diawali akibat adanya faktor pergerakan kotoran (manusia ataupun hewan) dari
daratan ke laut secara masif, dimana kotoran tersebut mengandung protozoa
dalam bentuk kista terenkistasi. Kotoran yang terbawa ke laut mengkontaminasi
manusia yang beraktivitas di sekitar pantai secara langsung atau terdeposit dalam
tubuh kerang dan kemudian termakan oleh manusia atau mamalia air. Parasit
mampu mengeluarkan stadium infektif dalam jumlah yang banyak di lingkungan
dan bertahan dalam kondisi iklim yang kurang menguntungkan dalam waktu yang
lama sehingga menghasilkan ancaman besar bagi kesehatan masyarakat (Slifko et
al 2000).

Pada kasus di manusia, pendekatan seroprevalensi dilakukan untuk


mengetahui tingkat penyakit di berbagai negara, antara lain di Amerika (15.8%)
pada kelompok umur 12-49 tahun dan India (24.3%). Petersen (2007)
menyatakan, angka insidensi kasus tinggi pada daerah tropis namun cenderung
menurun pada dataran tinggi. Seroprevalensi di Eropa mencapai 54% dan
mengalami penurunan di Eropa bagian selatan hingga menjadi 5-10%.
Toksoplasmosis juga sering dikaitkan dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat,
dimana masyarakat miskin yang tinggal dengan lingkungan yang buruk beresiko
14

lebih tinggi, sepertihalnya kasus yang terjadi di Brazil dan sebagian besar negara
di Amerika Selatan (Bahia-Oliveira et al 2003). Kasus toksoplasmosis juga sering
dikaitkan dengan penderita AIDS, dimana Lebih dari 20% pasien AIDS akan
menunjukkan adanya gejala toksoplasmosis (Bogitsh et al 2013). Hal ini berkaitan
dengan adanya reakivasi dari infeksi laten yang terjadi, namun mekanisme
reaktivasi tersebut belum diketahui secara pasti (Dubey et al 1998).

Berdasarkan studi yang dilakukan di belanda diketahui bahwa terdapat 2


kasus toksoplasmosis kongenital dalam setiap 1000 kelahiran dengan angka
DALYS 2300 (Kortbeek et al 2009), 1 hingga 310 kasus di berbagai populasi di
Eropa, Asia, Australia dan Amerika per 10 000 kelahiran (Tenter et al 2000).
Bentuk kongenital juga dilaporkan mampu memicu terjadinya abortus, kematian
pascalahir atau abnormalitas fetus serta menurunkan kualitas hidup anak-anak
yang mampu bertahan dari infeksi prenatal (Tenter et al 2000; Bogitsh et al 2013).
Sementara itu, adanya bangsa kucing yang bertindak sebagai inang antara (mampu
menyebarkan ookista) yang hidup berdampingan dengan manusia memberikan
resiko tersendiri.

Dampak sosial ekonomi dari toksoplasmosis pada penderitaan manusia


dan biaya perawatan anak yang sakit, terutama mereka dengan keterbelakangan
mental dan kebutaan, sangat besar Pengujian dari semua wanita hamil untuk T.
gondii infeksi rutin di beberapa negara Eropa, termasuk Perancis dan Austria.
Biaya-manfaat dari skrining massal seperti sedang diperdebatkan di banyak
negara lain (Roberts and Frencel. 1990).

Bogitsh et al (2013) mengklasifikasikan gejala toksoplasmosis pada


manusia menjadi akut, subakut dan kronis atau kongenital. Kejadian akut
dicirikan dengan adanya invasi nodus limfatikus mesenterika dan parenkima hepar
sehingga gejala yang timbul adalah adanya rasa sakit, bengkak pada kelenjar limfa
yang ada di bagian inguinal, servikal, dan bagian subklavikula, kadang disertai
dengan adanya demam, sakit kepala, anemia, sakit otot dan terkadang timbul
komplikasi pulmoner. Takizoit berproliferasi di berbagai jaringan dan mampu
membunuh sel tubuh inang dengan cepat. Apabila sel dari retina dan otak terkena,
15

maka dapat menimbulkan gejala yang parah. Sub akut adalah bentuk kelanjutan
dari bentuk akut.

Bentuk kronis dari toksoplasmosis bergantung dari sistem kekebalan


inang. Pada fase ini, kekebalan yang terbentuk berjalan lambat sehingga
memungkinkan parasit untuk terus berkembang dan merusak sel tubuh inang
(paru-paru, liver, jantung, mata dan otak). Kerusakan parah terjadi pada sistem
syaraf pusat dibandingkan dengan jaringan non-syaraf, hal ini berkaitan dengan
proses pembentukan kekebalannya yang sangat lama. Proses pembentukan
penyakit kronik ini terjadi apabila ada kombinasi antara sistem imun inang dengan
pembentukan zoitocyst dalam pembentukan takizoit. Zoitocyst mampu bertahan
selama setahun tanpa menunjukkan gejala klinik. Apabila dindingnya rusak akan
mengeluarkan bradizoit, sebagian dihancurkan oleh sistem imun inang namun
sebagian lain mampu masuk ke jaringan baru dan membentuk zoitocyst baru.
Bradizoit yang mati akan menaikkan respon hipersensitivitas. Respon tersebut
memicu terbentuknya nodul di sel glia di otak dan apabila nodul tersebut cukup
banyak maka akan mengakibatkan terjadinya gejala enchepalitis kronis dan
paralisa spastik. Hal inilah yang banyak terjadi pada penderita kasus AIDS
(acquired immune deficiency syndrome), dimana dimungkinkan untuk terjadi
kerusakan otak secara ekstensif. Gejala toksoplasmosis lain adalah kebutaan yang
diakibatkan adanya ruptur pseudokista di dalam retina dan koroid. Sedangkan
myokarditis yang terjadi dapat berakibat pada kerusakan jantung permanen dan
pneumonia.

Sementara itu, bentuk kongenital dari infeksi transplasental fetus dapat


mengakibatkan kematian bayi saat baru lahir atau peningkatan kerusakan organ
pada saat bayi dilahirkan. Sebanyak 12% bayi lahir hidup namun kemudian
meninggal dan kurang dari 20% yang mampu bertahan normal hingga usia 4
tahun. Abnormalitas terjadi di otak, mata dan organ dalam dengan gejala
sepertihalnya jaundice, mikrocephali dan hidrocephalus. Sedangkan pada kucing,
toksoplasmosis terjadi secara subklinik dengan gejala utama demam, radang pada
16

organ penglihatan, anoreksia, letargi, ketidaknyamanan abdomen dan


abnormalitas syaraf (Elmore et al 2010).

Pendekatan epidemiologi toksoplasmosis juga harus dilakukan pada


hewan berkaitan dengan banyaknya jenis mamalia yang mampu menjadi inang
definitif parasit. Kajian juga harus mencakup aspek kesehatan hewan yang
berpotensi menjadi reservoir dan atau inang antara (Zhang et al. 2016; Dzib-
Paredes et al. 2016). Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk
terbanyak keempat di dunia. Selain itu, Indonesia juga memiliki kekayaan hayati
berupa fauna yang sangat beragam. Kondisi ini namun belum didukung dengan
adanya kesejahteraan masyarakat dan masih banyaknya mmasyarakat yang tinggal
di kawasan pedesaan dengan sanitasi dan higinine buruk. Sayangnya, kajian
epidemiologi infeksi dan identifikasi parasit secara molecular terhadap
Toxoplasma gondii baik di hewan dan manusia belum banyak dilakukan di
Indonesia. Kajian komperhensif penyakit parasitik tersebut diperlukan dalam
rangka peyusunan strategi pengendalian dan eliminasi penyakit.
17

5 JUDUL PENELITIAN YANG DIRENCANAKAN

Kajian Epidemiologi Infeksi Toxoplasma Gondii pada Manusia Dan Hewan di


Indonesia

6 HIPOTESIS
Penelitian ini termasuk dalam jenis kajian descriptive epidemiologi dengan
analisis hasil deskriptif maka tidak diperlukan hipotesis penelitian sesuai dengan
Thrushfield (2007).
18

DAFTAR PUSTAKA
Ambroise-Thomas P. 2000. What Informations should be extracted from the
national programs for the prevention of congenital toxoplasmosis in Sustria
and in France? Congenital Toxoplasmosis: Scientific backgrounds, Clinical
management and control. Springer. 300-303
Bahia-Oliveira LM, Jones JL, Azevedo-Silva J, Alves CC, Orefice F, Addiss DG.
2003. Highly endemic, waterborne toxoplasmosis in north Rio de Janeiro
state, Brazil. Emerg Infect Dis 9: 55-62.
Baldwin KJ. (2014). Toxoplasmosis. Encyclopedia of the Neurological Sciences 4
(Second Edition): 480-484. doi.org/10.1016/B978-0-12-809324-5.03540-9
Bogitsh BJ, Carter CE, Oeltmann TN. 2013. Human Parasitology: Fourth
Edition. Oxford: Academic press.
[CDC] Centers for Disease Control and Prevention. 2013. Parasites-
Toxoplasmosis (Toxoplasma infection). [Internet]. [diunduh 2016 Sept
22]. Tersedia pada:
http://www.cdc.gov/parasites/toxoplasmosis/gen_info/faqs.html
Chahaya I. 2003. Epidemiologi Toxoplasma gondii. USU digital library. [Diakses
tanggal 17 Nopember 2016]. Tersedia pada
http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-indra%20c4.pdf.
Cleaveland S, Laurenson MK, Taylor LH. 2001. Diseases of Humans and Their
Domestic Mammals: Pathogen Characteristics, Host Range And The Risk
Of Emergence. Phil Trans R Soc Lond B: 356: 9919.
Curtis. 2000. Manual pemberantasan penyakit menular. Penerjemah: Kandun IN
editor, Chin DJ. Gilot-Fromont E, Llu M, Dard ML, Richomme C,
Aubert D, Afonso E, Mercier A, Gotteland C, Isabelle Villena I. 2012. Di
dalam The life cycle of toxoplasma gondii in the natural environment. Di
dalam: Djakovi D. Editor, Toxoplasmosis - recent advances. [Internet].
[diunduh 2016 Sept 22]. Tersedia pada:
http://www.intechopen.com/books/toxoplasmosis-recent-advances.
Dubey J P. 2000. The Scientific basic for Prevention of Toxoplasmosis gondii
infection : studies on tissue cyst survival, risk factors and hygiene measures.
Congenital Toxoplasmosis: Scientific backgrounds, Clinical management
and control. Springer. 271-275
Dubey JP, Lindsay DS, Speer CA. 1998. Structures of Toxoplasma gondii
Tachyzoites, Bradyzoites, and Sporozoites and Biology and Development
of Tissue Cysts. Clinical Microbiology Reviews 11 (2): 267299.
Dubey JP. 2004. Toxoplasmosis a waterborne zoonosis [Review]. Veterinary
Parasitology 126: 5772. DOI: http://10.1016/j.vetpar.2004.09.005.
19

Dubey JP. 2009. History of the discovery of the life cycle of Toxoplasma gondii.
Int. J. Parasitol. 39, 877882.
Dzib-Paredes GF, Aguilar JAR, Acosta-Viana KY, Ortega-Pacheco A, Hernndez-
Cortzar IB, Guzman-Marn E, Jimnez-Coello M. 2016. Seroprevalence
and parasite load of Toxoplasma gondii in Mexican hairless pig (Sus
scrofa) tissues from the Southeast of Mexico Veterinary Parasitology 229
(2016) 454.
Elmore SA, Jones JL, Conrad PA, Patton S, Lindsay DS, Dubey JP. 2010.
Toxoplasma gondii: epidemiology, feline clinical aspects, and prevention.
Trends in Parasitology 26 (4): 190-196
Fayer R, Dubey JP, Lindsay DS. 2004. Zoonotic protozoa: from land to sea
[Review]. TRENDS in Parasitology 20 (11): 531-536. DOI:
http://10.1016/j.pt.2004.08.008
Hokelek M.2016. Toxoplasmosis. Tersedia pada :
http://emedicine.medscape.com/article/229969-medication#
Kortbeek, L.M., Hofhuis, A., Nijhuis, C.D.M., Havelaar, A.H., 2009. Congenital
toxoplasmosis and DALYs in the Netherlands. Mem. Instit. Oswal. Cruz
104: 369372.
LaMann GV. 2010. Parasite Control and Livestock Production In Nigeria. Vet
Parasitol (9).
Mohammed, K et al. 2016. Detection of Toxoplasma gondii infection and
associated risk factors among pregnant women in Makkah Al Mukarramah,
Saudi Arabia. Asian Pac J Trop Dis 6(2):113-119.
Munoz-Zanzi, C.A., Fry, P., Lesina, B., Hill, D., 2010. Toxoplasma gondii oocyst
specific antibodies and source of infection. Emerg. Infect. Dis. 16: 1591
1593.
Nielsen HV, Innes EA, Petersen E, Buxton D. 2000. Strategies for development of
vaccines against Toxoplasmosa gondii. Congenital Toxoplasmosis:
Scientific backgrounds, Clinical management and control. Springer. 313-
322.
Noor NN. 2002. Epidemiologi. Univesitas Hasanuddin Makassar.
Petersen E. 2007. Toxoplasmosis. Seminars in Fetal & Neonatal Medicine 12:
214-223. DOI: http://doi:10.1016/j.siny.2007.01.011
Peterson E, Eaton RB. 2000. Neonatal screening for congenital infection with
Toxoplasma gondii. Congenital Toxoplasmosis: Scientific backgrounds,
Clinical management and control. Springer. 305-311.
http://gen.lib.rus.ec/book/index.php?
md5=d2a9fdb4b12387abd6cf89d82620ddac
20

Roberts T, Frenkel JK. 1990. Estimating income losses and other preventable
costs caused by congenital toxoplasmosis in people in the United States.
Jam Vet Med Assoc 1990; 196: 24956.
Slifko TR, Smith HV, Rose JB. 2000. Emerging associated with water and food.
Int. J. for Parasitology 30: 1379-1393
Tenter AM, Heckeroth AR, Weiss LM. 2000. Toxoplasma gondii: from animals to
humans. International Journal for Parasitology 30: 1217-1258.
Trushfield M. 2007. Veterinary Epidemiology: Third Edition. Oxford (UK):
Blackwell Publishing.
[WHO]. World Health Organization. 1979. Parasitic Zoonosis. Report of A WHO
Expert Committee With The Participation of FAO. WHO Technical Report
Series 637: 35.
Zhang X, Cong W, Ma J, Lou Z, Zhao Q, Meng Q, Qian A, Zhu X. 2016. First
genetic characterization of Toxoplasma gondii infection in Arctic foxes
(Vulpes lagopus) in China. Infection, Genetics and Evolution 44: 127129