Anda di halaman 1dari 12

BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Hak Merek


1. Merek adalah tanda yang dapat ditampilkan secara grafis berupa
gambar, logo, nama, kata, huruf, angka, susuan warna, dalam
bentuk dua dimesi dan atau tiga dimensi, suara, hologram, atau
kombinasi dari dua taua lebih unsur tersebut untuk membedakan
barang dan atau jasa diproduksi oleh orang atau badan hukum
daam kegiatan perdagangan barang dan atau jasa.(Undang-Undang
No. 20 tahun 2016, ayat 1 pasal 1)
2. Hak atas merek adalah hak eksklusif yang diberikan oleh negara
kepada pemilik merek yang terdaftar untuk jangkanwaktu tertentu
dengan menggunakan sendiri merek tersebut atau memberikan izin
kepada pihak lain untuyk menggunakannya.( Undag-Undang No. 20
tahun 2016, ayat 5 pasal 1)
3. Menurut para ahli :
a. Menurut Philip kothler, menyatakan bahwa : merek adalah tanda
yang berupa gambar naa, kata, huruf,-huruf, angka, susunan warna
atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya
pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau
jasa.
b. Menurut djaslim saladin, menyatakan bahwa : merek adalah suatu
nama, istilah, tanda, lambang atau desain, atau gabungan semua
yang diharapkan mengidentifikasikan barang atau jasa dari seorang
penjual atau sekelompok penjual, dan diharapkan akan
membedakan barang atau jasa dari produk pesaing.
c. Menurut Dr. Buchari alma : nerek adalah tanda atau simbol yang
memberikan identitas suatu barang atau jasa tertentu yang dapat
berua kata-kata, gambar atau kombinasi keduanya.
B. Ruang Lingkup Hak Merek
Ruang lingkup hak merek meliputi merek dagang (trade mark)
dan merek jasa.
1. Merek dagang: merek yang digunakan pada barang yang diperdagangkan oleh
seseorang/beberapa orang / badan hukum untuk membedakan dengan barang
sejenis lainnya ( Pasal 1 angka 2 UU No.15 Tahun 2001).
2. Merek jasa: merek yang digunakan pada jasa yang diperdagangkan oleh
seseorang / beberapa orang / badan hukun untuk membedakan dengan jasa sejenis
lainnya (Pasal 1 angka 3 UU No.15 Tahun 2001).
3. Merek kolektif: merek yang digunakan pada barang / jasa dengan karakteristik
yang sama yang diperdagangkan oleh beberapa orang / badan hukum secara
bersama-sama untuk membedakan dengan barang / jasa sejenis (Pasal 1 angka 4
UU No.15 Tahun 2001). (Burhanuddin, 2011: 217).

C.Pengalihan Dan Lisensi Merek


Dalam ketentuan pasal 40 ayat (1) Undang-Undang No. 15
tahun 2001 tentang merek, disebutkan Hak atas merek terdaftar
dapat beralih atau dialihkan karena pewarisan, wasiat, hibah,
perjanjian dan sebab-sebab lain yang dibenarkan oleh peraturan
perundang-undangan. Sedangkan pada Undang-Undang terbaru
tetang merek yaitu Undang-Undang No. 20 tahun 2016 yang
terdapat pada pasal 41 ayat (1) Undang-Undang ini merupakan
revisi dari Undang-Undang tetang merek No. 15 tahun 2001,
pengalihan hak atas merek terbagi menjadi 6 bagian, apabila
sebelumnya hanya ada 5, yaitu pewarisan, wasiat, wakaf,
perjanjian, dan sebab lain yang dibenarkan oleh perundang-
undangan. Hanya ada penambahan satu cara peralihan yaitu wakaf.
Pengalihan ha katas merek ini dilakukan dengan
menyertakan dokumen yang mendukungnya antara lain sertifikat
merek serta bukti-bukti lain yang mendukung kepemilikan tersebut,
kemudian wajib dimohonkan pencatatannya kepada direktorat
merek untuk dicatatkan dalam daftar umum merek. Pencatatan ini
dimaksudkan agar akibat hukum dari pengalihan Ha katas merek
terdaftar tersebut berlaku terhadap pihak-pihak yang bersangkutan
dan kepada pihak ketiga. Yang dimaksud dengan pihak-pihak yang
bersangkutan disini adalah pemilik merek dan penerima
pengalihan hak atas merek.
Adapun yag dimaksud dengan pihak ketiga adalah penerima
lisensi. Namun, tujuan yang penting dari adanya kewajiban untuk
mencatatkan pengalihan ha katas merek adalah untuk
memudahkan pengawsan dan mewujudkan epastian hukum.
Di dalam pengalihan hak atas merek terdaftar dapat disertai
dengan pengalihan nama baik, reputasi atau lain-lainnya yang
terkait denga merek tersebut. Pengalihan hak atas merek terdaftar
hanya dicatat oleh direktorat jenderal apabila diserati pernyataan
tertulis dari penerima pengalihan bahwa merek tersebut akan
digunakan bagi perdagangan barang dan atau jasa.
Lisensi adalah izin yang diberikan pemilik merek terdaftar
epada seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau
badan hukum menggunakan merek tersebut, baik untuk seluruh
atau sebagian jenis barang atau jasa yang didaftarkan.
Pasal 43 undang-undang merek menentukan bahwa pemilik
merek terdaftar berhak memberikan lisensi kepada pihak lain
dengan perjanjian bahwa penerima lisensi akan menggunakan
merek tersebut untuk sebagian atau seluruh jenis barang atau jasa.
Perjanjian berlaku diseluruh wilayah negara republik Indonesia
kecuali jika diperjanjikan lain, untuk jangka waktu yang tidak lebih
lama dari jangka waktu perlindungan merek terdaftar yang
bersangkutan.

D. Landasan Pembentukan Undang-Undang Nomor 15 Tahun


2001 Tentang Merek.
Salah satu perkembangan yang actual dan memperoleh
perhatian seksama dalam masa sepuluh tahun terakhir ini dan
kecenderungan yang masih akan berlangsung dimasa yang akan
datang adalah makin meluasnya arus globalisasi, baik dibidang
social, ekonomi budaya maupun bidang-bidang kehidupan lainnya.
Era perdagangan global hanya dapat dipertahankan jika
terdapat iklim persaingan usaha yang sehat. Disini merek
memegang peranan yang sangat penting yang memerlukan sistem
pengaturan yang lebih memadai. Berdasarkan pertimbangan
tersebut dan sejalan dengan perjanjian-perjanjian internasional
yang telah diratifikasi Indonesia serta pengalaman melaksanakan
administrasi merek, diperlukan penyempurnaan undang-undang
merek yaitu undang-undang No 19 tahun 1992 (lembaran negara
tahun 1992 Nomor 81) sebagaimana diubah dengan undang-
undang No 14 tahun 1997 (lembaran negara tahun 1997 No 31)
selanjutnya disebut undang-undang merek lama, dengan satu
undang-undang merek yang baru.
Beberapa perbedaan yang menonjol dalam undag-undang ini
dibandingkan dengan undang-undang merek-lama, antara lain
menyangkut pemeriksaan substantive dilakukan setelah
permohonan dinyatakan memenuhi syarat secara administrative.
Semula pemeriksaan substantive dilakukan setelah selesainya
masa pengumuman tentang adanya permohonan. Dengan
perubahan ini dimaksudkan agar dapat lebih cepat diketahui
apakah permohonan tersebut disetujui atau ditolak dan memberi
kesempatan kepada pihak lain untuk mengajukan keberatan
terhadap permohonan yang disetujui untuk didaftar.
Sekarang jangka waktu pengumuman dilaksanakan selama 3
(tiga) bulan lebih singkat dari jangka waktu pengumuman
berdasarkan undang-undang merek-lama. Dengan dipersingatnya
jangka waktu pengumuman, secara keseluruhan akan dipersingkat
pula jagka waktu penyelesaian permohonan dalam rangka
meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
Berkenaan dengan hak prioritas, dalam undag-undang diatur
nahwa apabila pemohon tidak melangkapi bukti penerimaan
permohonan yang pertama kali menimbulkan hak prioritas dalam
jangka waktu tiga bulan setelah berakhirnya hak prioritas,
permohonan tersebut diproses seperti biasa tanpa menggunakan
hal prioritas.
Hal lain adalah berkenan dengan ditolaknya permohonan
yang merupakan kerugian bagi pemohon. Untuk itu, perlu
pengaturan yang dapat membantu pemohon untuk mengetahui
lebih jelas alasan penolakan permohnanya dengan terlebih dahulu
memberitahukan kepadanya bahwa permohonan akan ditolak.
Selain perlindungan terhadap merek dagang dan merek jasa,
dalam undang-undang ini juga perlindungan terhadap indikasi
geografis yaitu tanda yang menunjukan daerah asal suatu barang.
Faktor lingkungan geografis termasuk faktor alam atau faktor
manusia atau kombinasi kedua faktor tersebut, memberikan ciri dan
kualitas tertentu pada barang yang dihasilkan selain itu, juga diatur
mengenai indikasi asal.
Selanjutnya, mengingat merek merupakan bagian dari
kegiatan perekonomian/dunia usaha, penyelesaian sengketa merek
memerlukan badan peradilan khusus yaitu, pengadilan niaga
sehingga diharapkan sengketa merek dapat diselesaikan dalam
waktu yang relative cepat. Sejalan dengan itu, harus diatur hukum
acara khusus untuk menyelesaikan masalah sengketa merek seperti
juga bidang ha katas kekayaan intelektual lainnya. adanya
peradilan khusus untuk masalah merek dan bidang-bidang hak
kekayaan atas intelektual lain, juga dikenal dibeberapa negara lain,
sepeti Thailand. Dalam undang-undang ini pun pemilik merek diberi
upaya perlindungan hukum yang lain yatu dalam wujud penetapan
sementara pengadilan untuk melindungi mereknya guna mencegah
kerugian yang lebih besar. Di sampan itu untuk memberikan
kesempatan yang lebih luas dalam peyelesaian sengketa, dalam
undang-undang ini dimuat ketentuan tentang arbitrase atau
alternatif penyelesaian sengketa.
Melalui undang-undang ini terciptalah pengaturan ,erek dalam
suatu naskah (single text) sehingga lebih memudahkan masyarakat
mengunakannya. Dalam hal ini ketentuan-ketetuan dalam undang-
undang merek-lana, yang substansinya tidak diubah, dituangkan
kembali dalam undang-undang ini.(Adrian sutedi, 2009 :89)

E. Fungsi Merek
Fungsi utama dari suatu merek adalah untuk membedakan barang-barang atau
jasa sejenis yang dihasilkan oleh suatu perusahaan lainnya, sehingga merek dengan
kata lain merupakan fungsi pembeda. Selain fungsi pembeda dari berbaga literature
ditemukan bahwa merek mempunyai fungsi , yaitu:
a. Menjaga persaingan usaha tidak sehat
Hal ini berfungsi untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan pelaku usaha dan
kepentingan umum dengan menumbuhkan iklim usaha yang sehat dan menjamin
kepastian kesempatan berusaha bersama.
b. Melindungi konsumen
c. Sebagai sarana dari pengusaha untuk memperluas bidang usahanya.
d. Sebagai sarana untuk dapat menilai kualitas suatu barang kulitas barang tertentunya
tidak selalu baik atau dapat memberika kepuasan bagi setiap orangyang membelinya.
e. Untuk memperkenalkan barang atau nama barang
f. Untuk memperkenalkan identitas perusahaan.

F. Syarat Dan Tata Cara Permohonan


Untuk mendapatkan merek suatu usaha, perlu adanya upaya pendaftaran
terlebih dahulu . merek terdaftar dan mendapatkan perlindungan hokum untuk jangka
waktu 10 (sepuluh) tahun sejak tanggal penerimaan dan jangka waktu perlindungan
itu dapat diperpanjang. Ketika mengajukan permohonan pendaftaran suatu merek,
seseorang harus memenuhi ketentuan-ketentuan yang diatur dalam UU terbaru yaitu
UU No 20 Tahun 2016 tentang merek dan indikasi geografis Pasal 4 sebagai berikut:
1. Permohonan pendaftaran merek diajukan oleh pemohon atau kuasanya kepada
Menteri secra elektronik atau non elektronik dalam bahasa Indonesia.
2. Dalam permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mencantumkan :
a. Tanggal, bulan, dan tahun permohonan
b. Nama lengkap, kewarganegaraan, dan alamat pemohon.
c. Nama lengkap dan alamat kuasa hokum jika permohonan diajukan melalui kuasa
d. Warna jika merek yang dimohonkan pendaftarannya menggunakan unsur warna
e. Nama Negara dan tanggal permintaan merek yang pertama kali dalam hal
permohonan diajukan dengan hak priritas dan
f. Kelas barang dan atau kelas jasa serta uraian barang dan atau jenis jasa
3. Permohonan ditanda tangani pemohon dan kuasanya.
4. Permohonan sebaaimana dimaksud pada ayat (1) dilampiri dengan label merek dan
bukti pembayaran biaya.
5. Biaya permohonan pendaftaran merek ditenukan per kelas barang da atau jasa.
6. Dalam hal merek sebagaimana dimaksud pada ayat (4) berupa bentuk 3 (tiga )dimensi
label merek yang dilampirkan dalam bentuk karakteristik dari merek tersebut.
7. Dal hal merek sebagaimana dimaksud pada ayat (4) berupa suara, lebel merek yang
dilampirkan berupa notasi dan rekaman suara.
8. Permohonan sebagai mana dimaksud pada ayat (1) wajib dilampiri dengan surat
pernyataan kepemilikan merek yang dimohonkan pendaftarannya.
9. Ketentuan lebi lanjut mengenai biaya permohonan sebaagai mana dimaksud pada
ayat (5 diatur dengan peraturan Pemerintah.
G. Mekanisme penghapusan dan Pembatalan Merek
1. Permohonan pembatalan diajukan melalui gugatan kepada Pengadilan Niaga,
diantaranya dengan alasan:
a. Merek terdaftar yang pendaftarannya dilakukan oleh pihak yang tidak beritikad
baik.
b. Mereka terdaftar tersebut mengandung salah satu unsur berupa upaya yang
bertentangan dengan kesusialaan dan ketertiban umum, tidak memiliki daya
pembeda, telah menjadi milik umum atau merupakan keterangan atau berkaitan
dengan barang atau jasa yang dimintakan pendaftarannya.
c. Adanya persamaan pad pokoknya atau keseluruhannya dengan merek milikiny
yang sudah terdaftar terlebih dahulu untuk barang atau jasa sejenisnya yang
termasuk dalam satu kelas.
d. Mempunyai nama orang terkenal, foto, dan nama badan hokum yang dimiliki
orang lain .
e. Peniruan atau menyerupai nama atau singkatan nama, bendera, lambing atau
symbol atau emblem dari Negara lain atau lembaga nasional maupun internasional
dengan secara tidak sah (tanpa izin tertulis).
f. Peniruan atau menyerupai tanda atau cap atau stempel resmi yang digunakan oleh
Negara atau lembaga pemerintahan secara tidak sah .
g. Menyerupai ciptaan orang lain yang dilindungi hak Cipta dengan tanpa persetujuan
tertulis. ( (Firmansyah, 2011:48).

2. Ketentuan penghapusan yang diprakasai oleh Direktorat Jenderal Merek pada


Pasal 72 UU No 20 tahun 2016 , hal tersebut dapat dilakukan jika:
a. Penghapusan merek terdaftar dapat diajukan oleh pemilik merek yang
bersangkutan kepada menteri.
b. Permohonan penghapusan sebagaimana dimaksdu pada ayat (1) dapat diajukan
oleh pemilik merek atau melalui kuasanya baik itu untuk sebagian maupun
seluruh jenis baramg dan atau jasa.
c. Dalam hal merek sebagaimana dimaksud pada ayat (1) masih terikatt perjanjian
lisensi, penghapusan hanya dapat dilakukan jika hal tersebut disetujui secara
tertulis oleh penerima lisensi.
d. Penghapusan pendaftaran merek dicatat dan diumumkan dalam berita resmi
merek.
e. Penghapusan merek terdaftar dapat dilakukan atas prakarsa menteri.
f. Penghapusan merek terdaftar atas prakarsa Menteri dapat dilakukan jika:
1) Memiliki persamaan pada pokoknya dan atau keseluruhannya dengan indikasi
Geografis.
2) Bertentagan dengan ideologi Negara, peraturan Perundang-undangan, moralitas,
agama, kesusilaan, dan ketertiban umum. Atau
3) Memilki kesamaan ada keseluruhan nuyya dengan ekspresu budaya tradisonal,
warisan budaya tak bedam atau nama atau logo yang sudah merupakan tradisi
turun temurun.

H. Penyelesaian Pelanggaran Hukum Terhadap Merek Yang Sudah Didaftarkan


Terhadap sengketa antar pemegang merek dengan pihak lain yang sama-sama
mendaftarkan merek yang akan diberikan perlindungan hukum dengan menempuh
mekanisme upaya hukum untuk memberikan perlindungan terhadap pemilik merek
yang sah yaitu dengan cara sebagai berikut:
a) Perlindungan Hukum Atas Merek Secara Preventif
Perlindungan hukum preventif merupakan sebuah bentuk perlindungan yang
mengarah pada tindakan yang bersifat pencegahan. Tujuannya adalah meminimalisasi
peluang terjadinya pelanggaran merek dagang. Langkah ini difokuskan pada
pengawasan pemakaian merek, perlindungan terhadap hak eksklusif pemegang ha
katas merek dagang terkenal asing, dan anjuran anjuran kepada pemilik merek untuk
mendaftarkan mereknya agar haknya terlindung. Faktor faktor yang harus
diperhatikan dalam upaya preventif adalah:
a. Faktor Hukum
UU No. 15 Tahun 2001 jo UU No.20 Tahun 2016 bertujuan untuk lebih
memberikan perlindungan hukum bagi pemegang hak atas merek dagang terkenal
asing
b. Faktor Aparat Direktorat Merek
Direktorat Merek bertugas untuk memeriksa permohonan pendaftaran merek.
Hal yang paling mendasar yang perlu dicermati oleh aparat Direktorat merek:
1) Terjadinya pendaftaran sutu merek tertentu yang sama dan menyerupai dengan
merek terkenal milik pihak lain dapat terjadi, salah satunya disebabkan kelemahan
dari aparat Direktorat Merek dalam melakukan proses filterisasi di awal pengajuan
merek tersebut oleh masyarakat.
2) Penguasaan bahasa asing di lingkungan aparat Direktorat Merek. Hal ini dilakukan
untuk menghindari adanya merek syag sama yang terdaftar dua kali di dalam Daftar
Umum Merek, serta dapat memudahkan kerja Direktorat Merek dalam
mempertimbangkan adanya merek-merek terkenal terkenal asing yang belum
didaftarkan di Indonesia.

b. Perlindungan Hukum atas Merek Secara Represif


Perlindungan hukum represif adalah perlindungan yang dilakukan untuk
menyelesaikan atau menaggulangi suatu peristiwa atau kejadian yang telah terjadi,
yaitu berupa pelanggarann hak atas merek. Dalam perlindungan hukum yang sifatnya
represif, maka pemberian sanksi yang jelas dan tegas bagi pelaku pelanggaran merek
sesuai dengan UU Merek yang berlaku, juga harus dilaksanakan oleh aparat penegak
hukum secara konsisten. Konsistensi ini akan memberikan jaminan kepastian hukum
khususnya bagi pemegang hak atas merek dagang terkenal asing di Indonesia.
Upaya hukum yang dapat digunakan dalam kasus pelanggaran Haki, yaitu :
1. Gugatan ke Pengadilan Niaga
Langkah pertama yang dapat dilakukan oleh pemilik merek yang sah, yaitu
pemilik mereka terdaftar dapat mengajukan gugatan kepada Pengadilan Niaga
terhadap pihak yang secara tanpa hak menggunakan merek yang mempunyai
persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya untuk barang atau jasa yang sejenis
berupa gugatan ganti rugi dan penghentian semua perbuatan yang berkaitan dengan
penggunaan merek tersebut.
2. Pengajuan Kasasi
terhadap putusan Pengadilan Niaga , penyelesaia sengketa mereka dapat diajukan
kasasi.
3. Penetapan Semetara
Penetapan sementara atau Injuction ini merupakan hal yang baru dalam menetapkan
system hukum di Indonesia. Penetapan sementara ini adalah sistem yang sering
diterapkan dalam commontwealth legal system. Sedangkan prinsip yang digunakan
tetap pada pradua tak bersalah.
I. PNBP Merek Berdasarkan PP No. 45 Tahun 2016

PNBP Merek Satuan Tarif (Rp.)

1. Permohonan Pendaftaran Merek dan Permintaan Perpanjangan Perlindungan Merek


Terdaftar
a. Usaha Mikro dan Usaha Kecil
1) Secara Elektronik (online) Per Kelas 500.000
2) Secara non Elektronik (manual) Per Kelas 600.000
b. Umum
1) Secara Elektronik (online) Per Kelas 1.800.000
2) Secara Non Elektronik (manual) Per Kelas 2.000.000
2. Perpanjangan Perlindungan Merek / Merek Kolektif terdaftar
a. Dalam jangka waktu 6 bulan sebelum/sampai dengan berakhirnya perlindungan Merek
1) Usaha Mikro dan Usaha Kecil
a. Secara Elektronik (online) Per Kelas 1.000.000
b. Secara Non Elektronik (manual) Per Kelas 1.200.000
2) Umum
a. Secara Elektronik (online) Per Kelas 2.250.000
b. Secara Non Elektronik (manual) Per Kelas 2.500.000
b. Dalam Jangka Waktu 6 bulan setelah berakhirnya perlindungan Merek
1) Usaha Mikro dan Usaha Kecil
a. Secara Elektronik (online) Per Kelas 1.500.000
b. Secara Non Elektronik (manual) Per Kelas 1.800.000
2) Umum
a. Secara Elektronik (online) Per Kelas 3.000.000
b. Secara Non Elektronik (manual) Per Kelas 4.000.000

3. Pengajuan Keberatan atas Permohonan Merek/Merek Kolektif/Indikasi Geografis 1.000.000


Per Permohonan

4. Permohonan Banding Merek/Merek Kolektif/Indikasi Geografis 3.000.000


Per Permohonan
5. Biaya Pencatatan dalam Daftar Umum Merek
Per Permohonan
a. Pencatatan Perubahan Nama dan/atau Alamat Pemilik Merek 300.000
Per Nomor
Pencatatan Pengalihan Hak/Pengabungan Perusahaan (Merger) atas Merek/Merek Per Nomor
b. 650.000
Kolektif Terdaftar Daftar
Per Nomor
c. Pencatatan Perjanjian Lisensi 500.000
Daftar
Pencatatan Penghapusan Pendaftaran Merek dan/atau Merek Kolektif dan/atau Per Permohonan
d. 200.000
Indikasi Geografis Per Nomor
Per Nomor
e. Pencatatan Perubahan Peraturan Penggunaan Merek Kolektif 300.000
Daftar
6. Permohonan Petikan Resmi dan Permohonan Keterangan Tertulis Mengenai Merek
a. Permohonan Petikan Resmi Pendaftaran Merek/Merek Kolektif/Indikasi Geografis Per Permohonan 200.000
Per Nomor
b. Permohonan Keterangan Tertulis Mengenai
Per Permohonan
1) Klasifikasi Barang dan/atau Jasa 200.000
Per Kelas
Per Permohonan
2) Barang dan/atau Jasa Sejenis 200.000
Per Kelas
Per Permohonan
3) Perpanjangan Jangka Waktu Perlindungan Merek Terdaftar Per Nomor 200.000
Daftar
Per Permohonan
c. Permohonan Keterangan Tertulis Mengenai Daftar Umum Merek/Indikasi Geografis 200.000
Per Nomor
Perubahan Data Permohonan Pendaftaran Merek atau Indikasi Geografis Karena Per Permohonan
7. 200.000
Kesalahan Penulisan oleh Pemohon yang Tidak Berdampak Perubahan Kepemilikan/Kuasa Pendaftaran
Perubahan Data Permohonan Pendaftaran Merek, Merek Kolektif atau Indikasi Geografis
Per Permohonan
8. Pada Sertifikat Karena Kesalahan Penulisan oleh Pemohon yang Tidak Berdampak 300.000
Pendaftaran
Perubahan Kepemilikan/Kuasa
Per Permohonan
9. Biaya Salinan Bukti Prioritas Permohonan Merek 300.000
Per Nomor
10. Pendaftaran Konsultan Kekayaan Intelektual Per Orang 0.00

http://laman.dgip.go.id/layanan-kekayaan-intelektual/merek/tarif-merek)DJKI
KEMENERIAN HUKUM dan HAM