Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM

TOKSIKOLOGI DASAR
UJI KETOKSIKAN AKUT

Disusun oleh:

Nama/NIM : Agatha Novita Ika (078114040)

Christina Ramya Hening (088114013)

Dessy Jayanti (088114019)

Wiria Sende Paiman (088114025)

Franciska Williasari (088114037)

Eureka Gracia Letitia (088114044)

Aloysius Singgih (088114058)

Kelompok prak. : D1
Hari, tgl prak. : Kamis, 16 September 2010
PJ Laporan :

LABORATORIUM TOKSIKOLOGI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2010
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pestisida telah digunakan secara luas untuk meningkatkan produksi pertanian,
perkebunan, dan memberantas vector penyakit. Penggunaan pestisida untuk keperluan
di atas, terutama sintetik telah menimbulkan dilema. Pestisida sintetik di satu sisi
sangat dibutuhkan dalam rangka meningkatkan produksi pangan untuk menunjang
kebutuhan yang semakin meningkat dan di satu sisi penggunaanya juga berdampak
negatif baik pada manusia, hewan, mikroba dan lingkungan.
Menurut data WHO, paling tidak ditemukan 20.000 orang meninggal karena
keracunan pestisida dan sekitar 5.000 10.000 mengalami dampak yang sangat
berbahaya seperti kanker, cacat, mandul dan hepatitis dalam setiap tahunnya
(Priyanto, 2009).
Sidametrin (Sipermetrin) merupakan salah satu contoh pestisida yang biasanya
digunakan untuk membasmi hama pertanian. Uji ketoksikan akut dirasa penting untuk
senyawa ini karena uji ini dapat memperkirakan kisaran dosis letal atau dosis toksik
obat terkait.
Uji ketoksikan akut merupakan parameter derajat efek toksik suatu senyawa
yang terjadi dalam waktu singkat setelah pemberiannya dalam dosis tunggal. Batasan
waktu yang dimaksud dalam uji ketoksikan akut ini adalah 24 jam setelah pemejanan.
Karena sifatnya yang akut dan dalam waktu singkat, maka uji ini sangat penting
dipelajari untuk mengantisipasi akibat terburuk yang akan terjadi.

B. PERMASALAHAN
1. Apakah tujuan, sasaran luaran, dan manfaat dari uji ketoksikan akut sidametrin?
2. Bagaimanakah tata cara pelaksanaan uji ketoksikan akut obat sidametrin?
3. Berapakah nilai LD50 dari obat sidametrin?
4. Bagaimanakah spektrum efek toksik obat sidametrin pada beberapa fungsi vital
tubuh, seperti penapasan, gerak, dan perilaku?
C. MANFAAT
1. Praktikan dapat mengetahui serta menerapkan metode penentuan dosis yang
berbahaya bagi tubuh.
2. Praktikan dapat menghitung LD50 dengan menggunakan berbagai metode.
3. Praktikan dapat mengamati gejala klinis dan morfologi efek toksik senyawa uji
Sidametrin (Sipermetrin).

D. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami tujuan, sasaran, luaran, dan manfaat dari uji
ketoksikan akut, serta tata cara pelaksanaan uji ketoksikan akut obat sidametrin
tersebut.

2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu menentukan nilai LD50 dari obat sidametrin dengan
menggunakan Metode Farmakope Indonesia Edisi III, Metode Litchfield-
Wilcoxon, Thompson-Weil, dan metode Miller-Tainter.
b. Mahasiswa mampu menetapkan potensi ketoksikan akut dari obat sidametrin.
c. Mahasiswa mampu menetapkan spektrum efek toksik obat sidametrin pada
beberapa fungsi vital tubuh, seperti pernapasan, gerak, dan perilaku.

BAB II
PENELAAHAN PUSTAKA

A. TINJAUAN PUSTAKA
1. Uji Toksisitas
Uji toksisitas dapat digolongkan menjadi 2 golongan, yaitu uji toksisitas tak
khas dan uji toksisitas khas. Uji toksisitas tak khas adalah uji toksisitas yang
dirancang untuk mengevaluasi keseluruhan efek toksik suatu senyawa pada aneka
ragam jenis hewan uji. Termasuk dalam golongan ini adalah uji toksisitas akut, uji
toksisitas subkronis, dan uji toksisitas kronis. Sedangkan yang dimaksud dengan
uji toksisitas khas adalah uji yang dirancang untuk mengevaluasi secara rinci efek
khas suatu senyawa pada aneka ragam hewan uji. Termasuk dalam golongan uji
potensiasi, uji kekarsinogenikan, uji kemutagenikan, uji keteratogenikan, uji
reproduksi, uji kulit, dan uji perilaku (Donatus, 1990).

2. Uji Toksisitas Akut


Uji toksisitas akut merupakan uji toksisitas dengan pemberian suatu
senyawa pada hewan uji pada suatu saat. Maksud uji tersebut adalah untuk
menetukan gejala yang timbul sebagai akibat pemberian suatu senyawa dan untuk
menentukan tingkat letalitasnya (Loomis, 1978).
Uji toksisitas akut dilakukan untuk menentukan efek toksik suatu senyawa
dalam waktu singkat setelah pemejanan. Uji ketoksikan dikerjakan dengan
memberikan dosis tunggal senyawa uji pada hewan uji (sekurang-kurangnya 2
jenis hewan uji roden dan miroden, jantan maupun betina). Takaran dosis yang
dianjurkan paling tidak 4 peringkat dosis dari dosis rendah yang tidak mematikan
hewan uji sampai dosis tertinggi yang mematikan seluruh hewan uji. Pengamatan
yang dilakukan meliputi gejala klinis, jumlah hewan yang mati dan histopatologi
organ (Donatus, 2001).
Tujuan dari uji ketoksikan adalah menggambarkan ketoksikan intrinsik dari
suatu zat kimia untuk memperkirakan resiko atau ketoksikan pada spesies target,
mengidentifikasikan organ target, menyediakan informasi tentang desain dan
pemilihan tingkat dosis, untuk penelitian dalam jangka waktu yang lebih panjang.
Yang terpenting ialah menyediakan infomasi untuk keperluan klinis dalam
memperkirakan, mendiagnosis dan meresepkan pengobatan zat kimia yang secara
akut beracun (Hayes, 2001).
Data yang diperoleh dari uji ketoksikan akut berupa data kuantitatif yang
berupa LD50 sedangkan data kualitatif berupa penampakan klinis dan morfologi
efek toksik senyawa uji. Data LD50 yang diperoleh digunakan untuk potensi
ketoksikan akut senyawa relatif terhadap senyawa lain dan untuk memperkirakan
takaran dosis uji toksikologi lainnya (Donatus, 2001).
LD50 didefinisikan sebagai dosis tunggal suatu zat yang secara statistik
diharapakan akan membunuh 50% hewan coba, juga dapat menunjukkan organ
sasaran yang mungkin dirusak dan efek toksik spesifiknya, serta memberikan
petunjuk dosis yang sebaiknya digunakan dalam pengujian yang lebih lama.
Evaluasi juga terhadap kelainan tingkah laku, stimulasi atau depresi SSP, aktivitas
motorik dan pernapasan untuk mendapat gambaran tentang sebab kematian
(Donatus, 2001 ).

3. Kekerabatan Dosis-Respon
Konsep dasar dalam toksikologi bahwa tidak ada zat kimia yang benar-
benar aman, demikian juga bahwa tidak ada zat kimia yang tidak akan
menimbulkan efek jika jumlah yang berinteraksi dengan jaringan biologi belum
cukup untuk dapat menimbulkan efek, sehingga dapat dikatakan ada hubungan
antara kadar zat kimia dengan respon yang ditimbulkan atas mekanisme biologi
tertentu (Loomis, 1978).
Data respon yang dapat diamati dari suatu percobaan toksisitas dapat
digolongkan menjadi 2 tipe:
a. Data tipe sama sekali ada atau sama sekali tidak ada respon, biasa juga disebut
respon kuantal, yaitu respon yang mana efek yang diamati hanya ada dua
kemungkinan: ada atau tidak ada respon. Misalnya pada uji toksisitas data
respon berupa kematian atau tetap hidup.
b. Data tipe bertingkat atau respon gradual, yang mana respon yang diberikan
hewan uji akan bertingkat sesuai dengan intensitas pemejanan pada hewan uji.
Sejauh ini, hubungan kurva dosis-respon merupakan suatu hubungan antara
respon jaringan dengan adanya kenaikan kosentrasi obat. Hubungan tersebut
dikenal sebagai respon kuantal.

4. Kondisi Efek Toksik


Kondisi efek toksik adalah faktor yang dapat mempengaruhi keefektifan
absorbsi, distribusi, dan eliminasi zat beracun di dalam tubuh, sehingga akan
menetukan keberadaan zat kimia utuh atau metabolitnya dalam sel sasaran serta
toksisitasnya, atau keefektifan antaraksinya dengan sel sasaran. Kondisi efek
toksik adalah kondisi pemejanan yang meliputi jenis pemejanan (akut-kronis),
jalur pemejanan (intravaskular atau ekstravaskular), lama dan kekerapan
pemejanan, saat pemejanan dan takaran atau dosis pemejanan. Selain itu,
termasuk pula dalam kondisi efek toksik ialah subyek atau makhluk hidup yang
meliputi keadaan fisiologis (berat badan, umur, suhu tubuh, kecepatan
pengosongan lambung, kecepatan alir darah, status gizi, kehamilan, genetika, jenis
kelamin, keadaan patologi seperti penyakit saluran cerna, kardiovaskuler, hati dan
ginjal) (Donatus, 1990).

5. Mekanisme Aksi Efek Toksik


Zat beracun setelah masuk ke dalam tubuh akan mengalami distribusi
sampai cairan ekstrasel atau intrasel. Karena itu, berdasarkan sifat dan tempat
kejadiannya, mekanisme efek toksik zat kimia dibagi menjadi dua yaitu
mekanisme luka intrasel dan mekanisme luka ekstrasel. Mekanisme luka intrasel
adalah luka-luka sel yang diawali oleh aksi langsung zat beracun atau
metabolitnya pada tempat aksi tertentu di dalam sel sasaran. Karena itu,
mekanisme ini disebut juga mekanisme langsung atau mekanisme primer.
Mekanisme luka ekstrasel terjadi secara tidak langsung. Artinya, zat beracun pada
awalnya bereaksi di lingkungan luar sel dengan akibat terjadinya luka di dalam
sel. Karenanya, mekanisme ini disebut juga mekanisme tidak langsung atau
sekunder. Dengan memahami mekanisme aksi toksik zat beracun, maka dapat
diketahui penyebab timbulnya keracunan yang berkaitan dengan wujud dan sifat
efek toksik yang terjadi (Donatus, 1990).

6. Potensi Ketoksikan
Kriteria yang dapat dipergunakan untuk melukiskan ketoksikan adalah
dosis (kuantitas zat kimia yang terlibat) yang dapat dinyatakan sebagai potensi
untuk menimbulkan toksisitas (tingkat keberbahayaan).
Penggolongan potensi ketoksikan, berdasarkan Loomis, 1978:
a. Luar biasa toksik (1 mg/kgBB atau kurang)
b. Sangat toksik (1-50 mg/kgBB)
c. Cukup toksik (50-500 mg/kgBB)
d. Sedikit toksik (0.5-5 g/kgBB)
e. Praktis tidak toksik (5-15 g/kgBB)
f. Relatif kurang berbahaya (lebih 15 g/kgBB)
7. Sipermetrin
Sipermetrin, ditemukan pada tahun 1975. Insektisida non-sistemik ini
bekerja sebagai racun kontak dan racun perut, efektif-terutama-untuk
mengendalikan Lepidoptera, Coleoptera, Diptera, Hemiptera, dan kelas-kelas
lainnya. Sipermetrin digunakan di bidang pertanian, rumah tangga, kesehatan
masyarakat, dan kesehatan hewan. LD50 (tikus) sekitar 250-4.150 mg/kg; LD50
dermal (tikus) > 4.920 mg/kg agak menimbulkan iritasi kulit dan mata; LC50
inhalasi (4 jam, tikus) 2,5 mg/liter udara; NOEL (2 tahun, tikus) 7,5 mg/kg; dan
ADI 0,05 mg/kg bb (Djojosumarto, 2008).

B. LANDASAN TEORI

Toksisitas merupakan suatu sifat relatif yang biasa digunakan untuk


membandingkan apakah zat kimia yang satu lebih toksik dari zat kimia yang lain.
Sipermetrin merupakan insektisida non-sistemik yang bekerja sebagai racun
kontak dan racun perut. Sipermetrin banyak digunakan pada bidang pertanian,rumah
tangga, kesehatan, masyarakat serta kesehatan hewan.
Untuk menentukan efek toksik suatu senyawa dalam waktu singkat setelah
pemejanan perlu dilakukan suatu uji toksisitas akut. Uji ketoksikan dikerjakan dengan
memberikan dosis tunggal senyawa uji pada hewan uji (sekurang-kurangnya 2 jenis
hewan uji roden dan miroden, jantan maupun betina). Takaran dosis yang dianjurkan
paling tidak 4 peringkat dosis dari dosis rendah yang tidak mematikan hewan uji
sampai dosis tertinggi yang mematikan seluruh hewan uji. Pengamatan yang
dilakukan meliputi gejala klinis, jumlah hewan yang mati dan histopatologi organ.
Data yang diperoleh dari uji ketoksikan akut berupa data kuantitatif yang
berupa LD50 sedangkan data kualitatif berupa penampakan klinis dan morfologi efek
toksik senyawa uji data. LD50 yang diperoleh digunakan untuk potensi ketoksikan akut
senyawa relatif terhadap senyawa lain dan untuk memperkirakan takaran dosis uji
toksikologi lainnya.

C. HIPOTESIS

1. LD50 sidametrin adalah 7 mg/ 20g BB mencit


2. Pada hewan uji mencit, pemberian sidametrin pada peringkat dosis I tidak
menyebabkan kematian (tingkat toksisitasnya rendah).
3. Pada pemberian sidametrin peringkat dosis II dan III, terjadi kematian setengah
atau sepertiga jumlah populasi dari hewan uji mencit yang dapat dilihat dari nilai
LD50-nya dan penampakan klinis serta morfologis efek toksis dari senyawa uji.
4. Pada pemberian sidametrin peringkat dosis IV atau maksimum, hewan uji mencit
mengalami kematian secara total dari keseluruhan jumlah populasi.

BAB III
METODE PENELITIAN

A. JENIS PENELITIAN
Penelitian ini adalah penelitian eksperimental murni sederhana yang dilakukan
dengan memberikan perlakuan pada subyek uji.

B. VARIABEL PENELITIAN
1. Variabel utama
i. Variabel bebas
Tingkat pemberian dosis pada mencit, yaitu:

ii. Variabel tergantung


1. Kondisi setelah pemberian sidametrin.
2. Jumlah mencit yang mati.

2. Variabel pengacau
i. Variabel terkendali
1. Bobot mencit.
2. Jenis kelamin mencit.
ii. Variabel tidak terkendali
1. Kondisi hewan uji (mencit).
2. Umur mencit
3. Galur pada mencit.

C. ALAT DAN BAHAN


Alat :
1. Timbangan analitik
2. Alat alat gelas (beker glass, pipet tetes, labu ukur, pipet ukur, pengaduk, dll).
3. Spuit injeksi oral

Bahan :
1. Aquadest
2. Sidametrin

D. HEWAN UJI
Mencit putih galur Swiss @ kelompok 5 ekor

E. SKEMA KERJA
1. Pemilihan hewan uji
Dipilih hewan uji mencit galur Swiss, dewasa sehat, jenis kelamin betina, beratnya
seragam dalam range 25-30 gram (variasi yang diperbolehkan 10%).

Dipilih 5 ekor untuk tiap meja.

2. Pengelompokan hewan uji


Hewan yang dipilih paling tidak diadaptasikan di laboratorium selama seminggu.

Penimbangan berat badan mencit dilakukan 1 hari sebelum percobaan.

Hewan dibagi beberapa kelompok sesuai peringkat dosis yang diberikan ditambah
kelompok kontrol negatif.

3. Tata cara pemberian/pemejanan dosis sediaan uji


LD50 Sidametrin pada mencit p.o adalah 7 mg/20g BB mencit (setelah dikonversi
dari LD50 sidametrin pada tikus p.o. 250 mg/kg BB tikus) (Djojosumarto, 2008).
Sedapat mungkin senyawa uji dipersiapkan dalam sediaan larutan terdiri dari 4
peringkat dosis:
Dosis I : 3,5 mg/20gBB
Dosis II : 7,0 mg/20gBB
Dosis III : 14 mg/20gBB
Dosis IV : 28 mg/20gBB

Diberikan secara p.o. terhadap hewan uji mencit.

4. Pengamatan
Masa pengamatan dilakukan selama 24 jam, kecuali pada kasus-kasus tertentu
dapat selama 7-14 hari.

Pengambilan meliputi pengamatan fisik terhadap gejala klinis (blanko data),
jumlah hewan yang mati dan hispatologi seluruh organ (warna).

5. Analisis dan evaluasi hasil


Dari gejala klinis yang nampak pada fungsi vital secara kualitatif, dipakai untuk
mengevaluasi mekanisme penyebab kematian.

Data hispatologi digunakan untuk mengevaluasi 5 spektrum efek toksik.

Data jumlah yang mati pada kelompok, secara kuantitatif digunakan menghitung LD50
mengikuti salah satu cara dalam pendahuluan.

Bila sampai batas volume maksimum tidak menimbulkan kematian hewan uji, maka
dosis tertinggi tersebut dinyatakan sebagai LD50 semu.

F. ANALISIS HASIL
Pengukuran LD50 menggunakan metode Hiller-Tainter, Farmakope Indonesia III,
Litchfield-Wilcoxon, dan Thompson-Weil.
1. Metode Hiller-Tainter
RL antara log dosis (x) dengan nilai probit (y).

2. Metode Farmakope Indonesia III


Log LD50 = a-b (pi 0,5)
Keterangan:
a = log dosis yang menyebabkan jumlah kematian 100% hewan uji
b = logaritma ratio dosis yang berurutan
pi= jumlah hewan mati yang menerima dosis dibagi jumlah hewan seluruhnya
yang menerima dosis

3. Metode Litchfield-Wilcoxon
RL antara log dosis (x) dengan % mati (y).

4. Metode Thompson-Weil
log LD50 = log Do + (d(f+1))
Keterangan:
Do = peringkat dosis rendah
d = faktor kelipatan dosis
f = tetapan berdasarkan jumlah kematian hewan uji sesuai tabel Thompson-Weil
G.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1995, Farmakope Indonesia, Edisi IV, 709, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta
Anonim, 2008, Propranolol HCl, www.diskes.jabarprov.go.id, diakses tanggal 9 September
2009
Djojosumarto, P., 2008, Pestisida dan Aplikasinya, 109, Agro Media Pustaka, Jakarta

Donatus, I. A., 1990, Audiovisual Toksikologi Dasar, 36-53, Laboratorium Farmakologi dan
Toksikologi Jurusan Kimia Farmasi Fakultas Farmasi UGM, Yogyakarta
Donatus, I. A., 2001, Toksikologi Dasar, 1, 200, 201, Laboratorium Farmakologi dan
Toksikologi Jurusan Kimia Farmasi Fakultas Farmasi UGM, Yogyakarta
Hayes, A, W., 2001, Principles and Methods of Toxicology, Ed 4, Taylor & Francis, United
States of America
Loomis, T. A., 1978, Toksikologi Dasar, diterjemahkan oleh: Imono Argo Donatus, Edisi III,
20-23, 83-86, 206-208, 228-232, IKIP Semarang-Press, Semarang
Priyanto, 2009, Toksikologi : Mekanisme, Terapi Antidotum, dan Penilaian Resiko, 99,
Lembaga Studi Dan Konsultasi Farmakologi Indonesia, Jawa Barat
TUGAS

1. Perbedaan tata cara perhitungan LD50 antara metode-metode :


a. Metode Miller Tainter
Persamaan yang digunakan untuk menghitung log LD 50 adalah regresi linear
antara log dosis setiap kelompok hewan uji vs probit. Persamaan log LD 50
digunakan untuk menentukan nilai x LD50. setelah didapatkan nilai x,
kemudian dikonversikan ke nilai antilognya. Kadar yang didapat adalah LD50
bagi mencit mg/kg BB. Untuk perhitungan LD50 bagi manusia perlu dilakukan
onversi dosis dari mencit ke manusia.

No Log dosis mati % mati probit

b. Metode Thompson Weil


Rumus yang digunakan :
Log LD50 = log D0 + { log d ( f + 1)}
Keterangan : D0 = peringkat dosis yang terendah
d = faktor kelipatan dosis
f = harga tetapan berdasarkan jumlah kematian hewan
uji berdasarkan tabel Thompson Weil

c. Metode Litchfield Wilcoxon


Persamaan dihitung dengan regresi linier hubungan log dosis dan % mati.
LD50 adalah kadar obat yang mematikan 50% populasi hewan uji.
No Log dosis mati % mati probit

d. Farmakope Indonesia III


Rumus yang digunakan :
LD50 = a-b ( pi 0,5 )

Keterangan : a = log dosis terendah yang mematikan 100% populasi


tiap hewan uji
b = beda logaritma berurutan
pi = jumlah hewan yang mati dibagi jumlah hewan
seluruhnya yang menerima dosis

2. Tujuan, sasaran, luaran, dan manfaat uji ketoksikan akut


a. Tujuan : untuk menetapkan potensi ketoksikan akut, yakni kisaran dosis letal
atau dosis toksik obat terkait pada satu jenis hewan uji atau lebih serta untuk
menilai berbagai gejala klinis yang timbul, adanya efek toksik yang khas dan
mekanisme yang memerantarai terjadinya kematian hewan uji.
b. Sasaran : tolok ukur ketoksikan kuantitatif (kisara dosis letal/toksik) dan tolok
ukur ketoksikan kualitatif (gejala klinis, wujud, dan mekanisme efek toksik)
c. Luaran : penilaian keamanan obat terkait bila digunakan untuk manusia,
meliputi nilai potensi ketoksikan (LD50) dan potensi keefektifan (ED50) obat
terkait.
d. Manfaat : pengetahuan tentang potensi ketoksikan akut dimanfaatkan untuk
merancang uji ketoksikan subkronis atau kronis, maupun untuk
memperkirakan dosis awal atau dosis terapi penelitian yang lain (5-10%LD50)

3. perbedaan harga LD50 dengan LC50


LD50 : dosis obat /senyawa kimia yang menyebabkan kematian 50% hewan
uji.
LC50 : konsentrasi obat/senyawa kimia (dalam udara/air) yang menyebabkan
kematian 50% hewan uji