Anda di halaman 1dari 36

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Vertebrata merupakan salah satu subfilum dari Chordata yang memiliki
tengkorak sehingga disebut kelompok Craniata (Cranium=tengkorak). Vertebrata
adalah anggota chordate yang paling banyak jenisnya. Oleh karena itu, kita dapat
dengan mudah menemukan contoh-contoh hewan vertebrata baik di darat maupun
di perairan. Vertebrata berasal dari kata vertebrae yang artinya tulang belakang.
Jadi, semua anggota vertebrata sudah memiliki tulang belakang yang nyata
(Nurhayati, 2007)
Vertebrata dikelompokkan menjadi 5 kelas, yaitu: Pisces (ikan), Amfibia
(amfibi), Reptilia (hewan melata/ reptile), Aves (Burung), Mammalia (Hewan
Menyusui). Dalam makalah ini lebih menekankan pada amfibi. Amfibi merupakan
vertebrta yang secara tipikal dapat hidup dalam air maupun darat. Sebagian besar
mengalami metamorphosis dari berudu (aqutis dan bernafas dengan insang)
kedewasa (amfibios dan bernafas dengan paru-paru), namun beberapa amfibi tetap
mempunyai insang dalam hidupnya.
Amfibi mempunyai 3 ordo, yaitu: 1. Katak dan bangkong (ordo Anura), 2.
Salamander dan kadal aur (newt) (ordo Urodela), 3. Sesilia (ordo Apoda), yang
merupakan hewan seperti cacing dan tanpa kaki. Karena tidak mempunyai kulit
dan telur yang kedap air, maka tak ada satu amfibia pun yang dapat menyesuaikan
sepenuhnya dengan keadaan daratan (Brotowidjoyo, 1994)

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1. Bagaiman klasifikasi kelas amphibi?
2. Bagaiman ciri khas dari masing-masing ordo dalam kelas amphibi?
3. Apa saja contoh spesies dari masing-masing ordo dalam kelas amphibi?

1
1.3 Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:


1. Untuk memahami klasifikasi pada kelas amphibi
2. Untuk memahami ciri khas dari masing-masing ordo dalam kelas amphibi
3. Utnuk mengetahui contoh sepsies dari masing-masing ordo dalam kelas
amphibi

2
BAB 11 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian , Karakteristik, dan Klasifikasi Amphibi

Amphibia berasal dari kata Amphibi, artinya rangkap dan bios, artinya kehidupan,
karena Amphibia ialah hewan yang hidup dengan dua bentuk kehidupan, mula-mula dalam
air tawar, kemudian dilanjutkan di darat. Fase kehidupan di dalam air berlangsung sebelum
alat reproduksinya masak, keadaan ini merupakan fase larva atau biasa disebut berudu.
Hewan dewasa memiliki columna vertebralis dan biasanya extremitates dengan digiti atau
jari-jari yang berbeda-beda. Sedang kulitnya ialah lembut dan tidak berambut, bersisik atau
tidak berbulu. Kriteria semacam itu sering tidak dapat dipakai untuk spesies tertentu;
beberapa spesies mengalami modifikasi, bahkan tidak mengalami fase larva di dalam air, dan
sebaliknya beberapa hewan dewasa tetap bertahan di dalam air. Karena ada beberapa spesies
yang hidupnya tetap di dalam air bahkan ada yang sama sekali tidak mengalami kehidupan di
dalam air, beberapa ahli sependapat menggunakan nama Batrachia (batrachos= katak),
meskipun pemakaian nama itu tidak meluas (Radiopoetro, 1996).
Katak adalah contoh paling representatif yang paling sering dipelajari pada kelas
Amphibia, subfilum Vertebrata, filum Chordata. Penting untuk diingat bahwa amphibia
adalah hewan transisi yang tipikalnya sebagian hidupnya dihabiskan di air dan sebagian yang
lain di darat. Dengan demikian, mereka menunjukkan karakteristik campuran yang mewakili
penyesuaian untuk kehidupan terestrial dan beberapa adaptasi untuk kehidupan di dalam air.
Perkawinan hampir semuanya terjadi di air, sebab telur yang dihasilkan kekurangan penutup
(pelindung luar) yang menyebabkan predator semacam burung dan reptil yang hidup di
daratan memangsanya. Beberapa amphibi, bagaimanapun juga, menghabiskan semua
hidupnya di air, dan sedikit sekali di daratan, ini merupakan mekanisme perkembangan
spesial untuk memproteksi telur mereka dari kekeringan (Lytle & Meyer: 2005).
Amphibia memiliki ciri-ciri umum fase larvanya, kecebong (berudu), bernafas
menggunakan insang luar yang kemudian mengalami metamorfosis menjadi anak katak
dengan alat pernafasan berupa paru-paru. Ada juga yang tidak mempunyai paru-paru sampai
dewasa dan bernafas melalui kulit, karenanya kulit tersebut selalu basah dan glandular
(Sukiya, 2005).

3
Gambar 1. Fase larva atau berudu

Gambar 2. Metamorfosis pada Katak


Sumber: Hickman, 2006
Kelompok amphibia adalah vertebrata yang hadir pertama kali hidup di darat. Pada
dasarnya mereka memiliki pentadaktil (lima ujung jari-jari kaki), meskipun jumlahnya bisa
saja berkurang dari lima tersebut. Amphibia sendiri termasuk ektoterm atau yang perubahan
suhu tubuhnya tergantung perubahan suhu lingkungannya. Pada kebanyakan amphibia
meninggalkan telurnya dalam kolam dan di aliran-aliran air dan tidak seekorpun
dapat berjalan di tanah begitu menetas, sedikit spesies yang dapat hidup jauh dari
air (Sukiya, 2005).

4
Amfibia merupakan perintis vertebrata daratan. Paru-paru dan tulang anggota tubuh,
yang mereka warisi dari moyang krosopterigia, memberikan sarana untuk lokomosi dan
bernapas di udara. Atrium kedua dalam jantung memungkinkan darah yang mengandung
oksigen langsung kembali ke dalamnya untuk dipompa ke seluruh badan dengan tekanan
yang penuh. Sementara percampuran darah yang mengandung oksigen dengan darah yang
kurang mengandung oksigen terjadi dalam ventrikel tunggal, jantung yang beruang tiga itu
agaknya memberikan peningkatan yang berarti dalam efisiensi peredaran dan dengan
demikian meningkatkan kemampuan untuk mengatasi lingkungan daratan yang keras dan
lebih banyak berubah-ubah (Kimball, 1983).
Di daratan, kemampuan untuk mendeteksi suara merupakan hal yang sangat penting,
dan amfibia telah mengembangkan telinga sederhana dari struktur yang diwarisinya dari
moyang mereka. spirakel tertutup dengan membran yang berfungsi sebagai gendang telingan
dan tulang rahang yang tidak terpakai lagi (yang berasal dari lengkung insang agnatha)
berguna untuk meneruskan getaran dari membran ini ke telinga dalam. Tulang pendengaran
yang paling dalam dari telinga kita (sanggurdi) adalah homolog dengan tulang tadi ini
(Kimball, 1983).
Sesuai dengan namanya, amfibia itu hanya separuh hidupnya di daratan (semi
terrestrial). Mereka harus kembali ke air untuk bertelur, dan setidak-tidaknya keturunan masa
kininya tidak tahan lama terhadap udara kering. Peralihan berkala dari air ke daratan dan
sebaliknya menimbulkan masalah tambahan dalam mempertahankan keseimbangan air dan
ekskresi limbah nitrogen. Di dalam air, seperti pada ikan air tawar, pemasukan air secara
terus-menerus harus dikeluarkan dari glomerulus. Di daratan, air harus dipertahankan dan
untuk ini amfibia mengurangi masukan darah ke glomerulus, dan dengan demikian
mengurangi laju filtrasi. Tentu saja, hal ini juga mengurangi aliran darah dari glomerulus ke
tubulus. Akan tetapi, fungsi tubulus harus dipertahankan dan peningkatan aktivitas portarenal
tambahan memungkinkan hal ini (Kimball, 1983).
Untuk ukuran masa kini, amfibia yang paling awal adalah cukup besar
(Diplovertebron, panjangnya kurang lebih 60 cm), tetapi beberapa hewan yang kemudian ada
mempunyai ukuran yang sungguh menakjubkan. Beberapa contoh fosil berukuran kurang
lebih 2,5 m. Amfibia ini berjaya selama zaman karbon. Bumi ditutupi oleh rawa yang luas,
kehidupan tumbuhan berlimpah, dan terdapat banyak insekta untuk dimakan oleh amphibia.
Zaman ini sering disebut zaman amphibian. Zaman ini diikuti oleh suatu periode (perm)
ketika bumi menjadi lebih dingin dan kering. Penurunan kejayaan amphibia terjadi yang
berlangsung terus sampai sekarang (Kimball, 1983).

5
Berikut adalah klasifikasi kelas Amphibi dalam bentuk tabel:
Kelas Amphibia
Subkelas Apsidospondyli
Superordo Labyrinthodonta
Ordo Temnospondyli
Ordo Anthracosauria
Superordo Sailentia
Ordo proanura
Ordo Anura (katak dan kodok)
Familia Ada 17 familia: Pipidae (tongueless frogh),
discoglossidae (fire-belly dan midwife toads),
Rhinophrynidae (burrowing toads), Pelobatidae
(spadefoot toads), leptodactylidae, bufonidae
(kodok), rhinodermatidae (mouth-breeding
frogh), dendrobatidae, atelopidae, hylidae (tree
frogs), centrolenidae, heleophrynidae,
pseudidae, ranidae (true frogs),
rhacophhoridae, microhylidae, phyronomeridae
Subkelas Lepospondyli
Ordo Aistopoda
Ordo Nectridia
Ordo Caudate atau Urodela (salamander)
Famlia Ada 8 familia: hynobiidae, cryptobranchidae
(giant salamanders), ambystomidae,
samandridae (newts),
amphiumidae,plethodontidae
Ordo (lunglesssalamander), proteidae (mudpuppies
dan olm), sirenidae.
Familia Gymnophiona atau apoda

Caeciliidae
Tabel 1 Klasifikasi Kelas Amphibi

6
Kecebong, larva amphibia biasanya merupakan herbivor akuatik dengan insang,
sistem gurat sisi yang menyerupai vertebrata akuatik, dan ekor yang panjang dan bersirip.
Kecebong pada awalnya tidak memiliki kaki; ia berenang dengan mengibas-ngibaskan
ekornya. Selama metamorfosis yang menuju ke kehidupan kedua, kecebong
mengembangkan kaki, paru-paru, sepasang gendang telinga, eksternal, dan sistem pencernaan
yang teradaptasi untuk cara makan karnivora. Dalam waktu yang sama, insang menghilang;
sistem gurat sisi juga menghilang pada sebagian besar spesies. Anak katak merayap menuju
ke pesisir dan menjadi pemburu terestrial. Akan tetapi, terlepas dari namanya, banyak
amfibia tidak menjalani kehidupan ganda-akuatik dan terestrial. Ada beberapa katak,
salamander, dan sesilia yang sepenuhnya akuatik atau sepenuhnya terestrial. Terlebih lagi,
larva salamander dan sesilia lebih mirip dengan bentuk dewasanya, dan biasanya larva
maupun hewan dewasa merupakan karnivora (Campbell, 2012).
Sebagian besar amfibia ditemukan di habitat yag lembab seperti rawa-rawa dan
hutan hujan. Bahkan amfibia yang telah teradaptasi terhadap habitat yang lebih kering masih
menghabiskan banyak waktunya di dalam liang atau di bawah dedaunan lembab yang tingkat
kelembabannya tinggi. Amfibia umumnya sangat bergantung pada kulitnya yang lembab
untuk pertukaran gas dengan lingkungan. Beberapa spesies terestrial tidak memiliki paru-
paru dan hanya bernapas melalui kulit dan rongga mulutnya (Campbell, 2012).
Kebanyakan amfibi membagi hidup mereka antara air tawar dan daratan. Dari
kehidupan seperti ini mencerminkan bahwa amfibi memerlukan adaptasi pada kedua
lingkungan tersebut. Di dalam air, amfibi mempunyai kemampuan mengapung, hal ini
bertujuan untuk proses pertukaran gas dengan air. Sedangkan di darat, amfibi mempunyai
kemampuan sendiri untuk melawan gravitasi, pertukaran gas dengan udara, dan cenderung
kehilangan air ke udara (Miller & Harley: 2001).

7
2.2 Kulit dan kelenjar kulit

Gambar 3. Pigmen Kulit pada Amphibi


Sumber : Hickman, 2006
Beberapa ciri khusus pada amphibi adalah pada kulit dan kelenjar kulitnya, warna
tubuhnya, pergantian kulitnya, serta alat geraknya. Berikut uraian singkanya:
Kulit amfibi sangat penting dalam respirasi dan proteksi. Kulit terjaga kelembabannya
dengan adanya kelenjar mukosa, bahkan pada sepesies yang hidup di air, mukus memberikan
pelumas bagi tubuh. Sebagian besar amfibi memiliki kelenjar granular dan kelenjar mukus.
Meskipun keduanya mirip dalam beberapa hal, kelenjar granular memproduksi zat obnoxious
(menjijikan) atau racun untuk melindungi diri dari musuh(Sukiya, 2005).
Kulit ampibi dewasa lembut dan biasanya lembab. Umumnya ampibi dewasa hidup di
lingkungan yang basah atau lembab, sejak mereka sudah mulai rentan untuk kehilangan air di
kulitnya. Katak memiliki kulit yang tidak rata yang mampu mengurangi kesempatan untuk
kehilangan air dan kemudian menyebabkan mereka dapat menghabiskan banyak waktu di
darat(Lytle & Meyer: 25).
Racun yang terdapat amfibi sangat bervariasi. Kodok yang hidup di laut (Bufo
marinus) rancunnya sangat manjur untuk membunuh anjing. Kelenjar racun pada katak dan
kodook dapat menimbulkan iritasi pada kulit jika seseorang menyentuh binatang ini. Studi
tentang katak neotropik dari keluarga Dendrobatide yang beracun, meunjukan bahwa racun
itu merupakan steoridal alkaloid yang berefek pada saraf dan aktivitas otot korban. Tipe

8
racun lain pada amfibi adalah neurotoksin, halusinogen, vasokontriktor, hemolitik dan local
irritant. Ketika beberapa sepesies amfibi ditempatkan bersama-sama di tempat semmpit, ada
sepesies tertentu cepat mati karena racun yang dikeluarkan spesies lain (Sukiya, 2005).
Kelenjar mukus dan granular atau kelenjar racun dikelompokkan sebagai kelenjar
alveolar. Kelenjar alveolar adalah kelenjar yang tidak mempunyai saluran pengeluaran, tetapi
produknya dikeluarkan lewat dinding selnya sendiri secara alami. Akan tetapi ada juga
beberapa amfibi yang mempunyai kelenjar alveolar tubuler, kelenjar demikian ini sering
ditemukan di ibu jari pada katak dan kodok dan terkadang juga ditemukan di bagian dadanya.
Kelenjar ini menjadi fungsional selama musim reproduksi dan mengeluarkan cairan yang
membantu pejantan dalm melekatkan diri ke betina selama musim kawin, bahkan pada
salmander terdapat tubular pada dagu pejantannya yang mengeluarkan cairan khusus untuk
menarik betina selama musim reproduksi (Sukiya, 2005).

Gambar 4 Kelenjar pada Kulit Amphibi


Sumber: Hickman, 2006
2.3 Warna tubuh
Amfibi sangat beraneka ragam warnanya, hijau teerang, kuning, orange dan emas,
sedangkan warna merah dan biru jarang ditemukan. Warna tubuh amfibi bisa disebabkan oleh
karena pigmen atau secara struktural, atau dihasilkan oleh keduanya (paduuan pigmen dan
struktural). Pigmen pada amfibi, sebagaimana pada ikan, terletak pada kromatofora di kulit.
Sel-sel pigmen ini biasanya dinamakan menurut jenis pigmen yang dikandung. Melanofora
mengandung pigmen coklat dan hitam da lipofora mengandung pigmen merah, kuning dan
orange. Amfibi juga memiliki sel-sel pigmen yang disebut guanofora, semacam iridosit pada
ikan, mengandung kristal guanin yang dapat memproduksi iridesen atau efek putih terang.
Umumnya lipofora terletak di dekat permukaan kulit, lebih ke arah dalam terdapat guanofora
dan yang paling dalam terdapat melanofora(Sukiya, 2005).

9
Kromatofora bentuknya agak ameboid dengan prosesus protoplasmik meluas ke luar
dari tubuh selnya ke sel lain. Pigmen padasitoplasma dala, kromatofora mampu berpindah
sehingga pigmen dapat terkonsentrasi mengumpul untuk menebalkan warna atau terpencar
sehingga menipiskan warna. Sel pigmen, khususnya lipofora mampu melakukan gerakan
ameboid dan dapat berpindah mendekat atau menjauh dari permkaan kulit. Seringkali
perubahan dari hijau ke kuning merupakan hasil kontraksi dari melanofora dan perpindahan
lipofora ke posisi antara atau di bawah guanofora (Sukiya, 2005).
Warna pada beberapa amfibi ketika ditempatkan di lingkungan gelap, menjadi tampak
bercahaya, adalah merupakan hasil dari simulasi kelenjar pineal menghasilkan melatonin (zat
sejenis hormon) yang mampu mengurangi kuantitas cahaya atau sinar gelombang panjang.
Kemudian kontak hormon kromatotrofik hipofise yang menyebabkan perluasan melanofora,
akibatnya melanofora berkontraksi dan menghasilkan efek tubuh menjadi lebih
bercahaya. Percobaan dengan menghilangkan kelenjar pineal (pinealectomized)
menyebabkan tubuh katak tersebut tidak bercahaya di tempat gelap. Beberapa amfibi
mempunyai pewarnaan yang bersifat protektif (Sukiya, 2005).

Gambar 5 Contoh spesies dari Kelas Amphibi yang Memiliki Berbagai Warna Tubuh
Sumber: Hickman, 2006
2.4 Pergantian kulit
Seluruh kulit amfibi terlepas secara periodik. Proses ini berlangsung di bawah kontrol
hormon. Lapisan luar kulit tidak hanya satu bagian, tidak sebagaimana pada reptil, teatapi
dalm fragmen, meskipun tungkai biasanya utuh dan mengelupas bersamaan. Frrekuensi
bergantinya kulit bermacam-macam pada sepesies yang berbeda. Penglupasan kulit pada
katak pohon hijau, mungkin terjadi setiap bulan atau lebih (Sukiya, 2005)

10
2.5 Alat gerak (appendages)
Meskipun dipercaya, bahwa ansestor Amphibia mempunyai dua pasang tungkai
pentadaktila, ternyata terjadi variasi oleh karena adaptasi untuk hidup di darat, air, arboreal
(hidpu di atas pohon) dan di bawah tanah. Semua Caecillia di daerah tropis bertungkai,
tubuhnya memanjang (wormlike) dan teradaptasi hidup di liang dengan cara menggali humus
atau kayu-kayu yang membusuk (Sukiya, 2005).
Sebagian besar amfibi berekor modern memiliki empat tungkai relatif lemah yang
tidak cocok untuk berjalan cepat di tanah. Umumnya, kaki depan memiliki 4 jari dan kaki
belakang 5 jari, tetapi pada beberapa sepesies terjadi pengurangan (Sukiya, 2005).
Secara umum katak dan kodok, jumlah jari tungkai depan biasanya 4 buah, tungkai
belakang memanjang dan biasanya untuk melompat. Kebanyakan katak dan kodok memiliki
5 jari pada tungkai belakang dan jari tambahan di ketahui sebagai perhaluk pada sisi ventral
kaki. Perhaluk ini pada Spadefoot ( katak penggali tanah) berupa tulang-tulang yang tajam
yang digunakan menggali, untuk bersembunyi di dalam tanah. Beberapa jenis katak arboreal
mempunyai jari lebih lebar dan advise. Meskipun ada sejumlah amfibi bertanduk, tetapi
jarang ditemukan jari-jarinya tumbuh kuku kecuali latak di Afrika dan salmander yang hidup
di pengunungan (Sukiya, 2005).
Ada berbagai variasi struktur kaki belakang Anura, ada yang berselaput meluas
sampai ke jari dan yang lainnya ada tetapi tidak sampai meluas ke jari atau bahkan tidak ada
sama sekali. Anura tidak mampu melakukan regenerasi tungkai ataupun jari yang hilang,
tetapi pada salamander mampu melakukannya (Sukiya, 2005).
Tetrapoda (berkaki empat, beberapa amphibi) bergantung pada tubuh anggota gerak
(appendages) ketimbang dinding tubuh untuk lokomosi. Dengan demikian dinding tubuh
tereduksi dan otot-otot appendikularmendominasi. Salamander menggunakan bentuk
lokomosi yang relatif tak terspesialisasi yang mengingatkan pada lokomosi bentuk ombak
yang dimiliki ikan di sekitar tubuhnya. Salamander terrestrial juga bergerak dengan pola
tungkai dan pergerakan tubuh yang mana pergerakan alternatif dari apendages hasil dari
kontraksi otot yang melemparkan tubuh pada tikungan untuk memajukan langkah dari
tungkai. Sesilia memilikipergerakan seperti akordeon yang mendekatkan bagian-bagian tubuh
untuk melakukan gerakan tarik atau dorong ke depan dalam waktu yang sama (Miller &
Harley, 2001).
Tungkai belakang yang panjang dan panggul Anura termodifikasi untuk
melompat. Tulang dorsal pada pelvis (ilium) memanjang ke depan dan dengan hati-hati
melekat pada vertebral column, dan urostyle memanjang ke belakang dan melekat pada

11
panggul. Modifikasi tulang ini mengeraskan setengah dari bagian posterior tubuh Anura.
Tungkai belakang yang panjang danbentuk otot yang bertenaga merupakan sistem pengungkit
yang efisien untuk melompat. Jaringan penghubung yang elastis dan otot-otot melekat pada
pectoral ke tengkorak dan vertebral column, dan berfungsi sebagai peredam kaget untuk
pendaratan yang dilakukan dengan tungkai depan (Miller & Harley, 2001).
Selain menunjukkan ciri-ciri keampibiannya, mereka (spesies kelas amphibi) juga
menunjukkan beberapa ciri-ciri yang aneh untuk gaya hidup mereka. Salamander merupakan
spesies yang paling menunjukkan tipikal ciri-ciri ampibia. Beberapa dari ciri-ciri spesial dari
bentuk dewasanya adalah: 1. Tidak memiliki ekor 2. Kehilangan beberapa tulang tengkorak
3. Bagian anterior lidah 4. Tidak adanya tulang-tulang rusuk 5. Leher yang tampak kurang
jelas 6. Kaki belakang yang tinggi dan kuat (Lytle & Meyer: 2005).
Selama 25 tahun terakhir, para ahli zoologi telah mendokumentasikan penurunan
populasi-populasi amfibia yang cepat dan menghawatirkan di seluruh dunia. Tampaknya
terdapat beberapa penyebab, antara lain lenyapnya habitat, penyebaran fungi (kitrid) patogen,
perubahan iklim, dan polusi. Faktor-faktor ini dan faktor yang lain tidak hanya mengurangi
populasi namun juga menyebabkan kepunahan. Sebuah penelitian tahun 2004
mengindikasikan bahwa sejak 1980, setidaknya spesies amfibia telah punah. Sebanyak 139
spesies lain tidak pernah terlihat sejak saat itu dan dianggap barang kali punah (Campbell,
2012).
2.6 Sistem Rangka dan Otot Amphibi
Skeleton pada katak terdiri dari tulang utama dan tulang rawan. Skeleton
mendukung berbagai bagian dari tubuh, menjaga organ-organ penting seperti otak dan
sumsum tulang, serta sebagai pelekatan otot. Skeleton pada vertebrata terdiri dari skeleton
tubuh (somatik: skeleton dinding tubuh dan anggota badan) dan skeleton viseral (skeleton
dinding faringeal-dimiliki oleh ikan sebagai pendukung insang dan sebagai bagian dari
rahang, namun kebanyakan tereduksi pada vertebrata tingkat tinggi). Pada katak, skeleton
viseral secara prinsip diwakili oleh apparatus hyoid , adalah tulang kecil dengan struktur yang
rawan yang membantu mulut bagian dasar, yaitu di dasar lidah, bagian dari rahang dan
laring (Lytle & Meyer: 2005).
Amfibi mempunyai tengkorak yang tebal dan luas secara proporsional, kebalikan
dari ikan. Tengkorak amfibi modern mempunyai tulang-tulang premaksila, nasal, frontal,
parietal dan skuamos (Sukiya, 2005).

12
Tengkorak katak terdiri dari 3 bagian utama yaitu 1) kranium 2) pasangan kapsul
sensori dari telinga, hidung, dan rongga mata yang lebar, 3) skeleton viseral (terdiri dari
bagian rahang, apparatus hyoid, dan kartilago laringeal) (Lytle & Meyer: 2005).
Kebanyakan permukaan dorsal dari tubuh Anura tidak seluruhnya tertutup tulang.
Bagian dari kondrokanium masih belum mengearas, hanya daerah okspital dan
eksoksipitalnya mengeras, dan masing-masing memiliki kondila bertemu dengan vertebrata
pertama. Tidak ada langit-langit/ palatum pada amfibi, akibatnya neres internal lebih maju di
dalam langit-langit mulut. Di bagian ventral otak di tutupi oleh tulang dermal dinamkan
parasfenoid. Gigi ada pada permaksila, maksila, paltine, vomer, parasvenoid, dan tulang
dental. Ada beberapa amfibi yang sama sekali tidak memiliki gigi, atau gigi pada rahang
bawah mereduksi (Sukiya, 2005).
Kelompok vertebra memiliki 10 tulang belakang (vertebra). Tulang
belakang pertama adalah atlas, berhubungan dengan dasar dari tulang tengkorak. Bagian ini
tidak memiliki proses atau pergerakan melintang (transversal) dan hanya pergerakan
servikal vertebra (leher) di katak. Tulang belakang ketujuh selanjutnya adalah vertebra
abdomina (abdomen). Ekor menuju abdomen vertebra adalah sacrum yang luas dengan dua
proses atau pergerakan transversal yang kuat yang bergabung dengan ileum (Lytle & Meyer:
2005).
Jumlah ruas tulang pada amfibi bervariasi dari 10 ruas pada salientina sampai 200
pada gymnophiona. Tengkorak bersendi dengan tulang tengkuk, jumlah vertebrata kaudal
bervariasi. Pada salientia ada satu elemen vertebra yang mengalami elongasi (memanjang)
dinamakan urostile yang memanjang dari sacrum ke ujung posterior pelvis (Sukiya, 2005).
Bangsa amfibia merupakan vertebrata yang pertama mempunyai sternum (tulang
dada) tetapi perkembangannya kurang sempurna. Tulang iga hanya pendek dan kurang
berkembang sehingga tidak berhubungan dengan sternum seperti yang terjadi pada reptil,
burung atau pada mamlia (Sukiya, 2005).
Sebagian besar amfibi mempunyai dua pasang tungkai dengan 4 jari kaki pada kaki
depan dan 5 jari pada kaki belakang. Jumlah jari mungkin ada yang berkurang sebanyak dua
buah. Tungkai belakang berkurang seperti pada salamander, dan pasangan tungkai tidak ada
pada cecillia. Tungkai biasanya tidak mempunyai kuku, tetapi ada semacam tanduk pada jari-
jarinya (Sukiya, 2005).
Sistem otot pada amfibi, seperti sistem-sistem organ yang lain, seperti transisi antara
ikan dan reptil. Sistem otot pada ikan terpusat pada gerakan tubuh ke lateral, membuka dan

13
menutup mulut serta gill apertura( Operculum atau penutup lubang/ celah ingsang) dan
gerakan sirip yang relatif sederhana (Sukiya, 2005).
Sistem otot aksial pada amfibi masih metamerik seperti pada ikan tetapi tampak
tanda-tanda perbedaan, sekat horisontal membagi otot dorsal dan ventral, Bagian dari sistem
otot epaksial pembagian otot-otot setiap segmen tubuh amfibi. Sedangkan otot hipaksial
terlepas atau terbagi dalam lapisan-lapisan kemudian membentuk otot-otot oblique internal
dan otot tranversus, Sedangkan otot dermal sangat kurang, Macam- macam gerakan pada
amfibi yaitu berenang, berjalan, meloncat atau memanjat, melibatkan perkembangan berbagai
tipe otot. Beberapa diantaranya terletak dalam tungkai dan berupa otot-otot intrinsik (Sukiya,
2005).
Air menahan dan mendukung hewan akuatik. Fungsi utama kerangka ikan adalah
melindungi organ-organ internal,menyediakan tempat sebagai pelekatan otot, dan mencegah
tubuh dari runtuh saat bergerak. Namun, pada vertebrata terrestrial kerangka dimodifikasi
untuk memberikan dukungan dalam melawan gravitasi dan harus cukup kuat untuk
mendukung otot yang relatif penuh kekuatan untuk menggerakkan vertebrata terrestrial
menyusuri daratan. Tengkorak amphibi berbetuk datar, relatif lebih kecil, dan memiliki
sedikit elemen tulang daripada tengkorak ikan. Hal ini dapat membantu amphibi saat keluar
dari air. Berubahnya struktur rahang dan otot menjadikan vertebrata terrestrial dapat
menghancurkan mangsa yang didapatnya di dalam mulut (Miller & Harley, 2001).
Vertebral column pada amphibi termodifikasi untuk mendukung dan agar fleksibel
saat di darat. Perilaku ini seperti lengkungan pada jembatan untuk mendukung berat tubuh
antara anterior dan posterior pasangan appendages. Proses dukungan ini disebut
zygapophyses pada tiap vertebra mencegah tubuh mereka meliuk/ tidak tegak dan kokoh. Tak
seperti ikan, amphibi memiliki leher. Tulang belakang pertama adalah cervical vertebra, yang
bergerak berlawanan dengan belakang tengkorak dan menjadikan kepala dapat mengangguk
secara vertikal.tulang belakang yang terakhir adalah sacral vertebra. Tulang belakang ini
melabuhkan panggul pada vertebral column untuk memberikan dukurang tambahan. Piringan
ventral tulang, disebut sternum, berada pada daerah anterior ventral batang tubuh dan
mendukung tungkai depan serta melindungi organ-organ dalam. Bagian yang ini tidak ada
atau tereduksi pada Anura (Miller & Harley, 2001).
Asal-usul tulang vertebrata appendages (tulang anggota gerak) tidak diketahui secara
pasti. Namun, kesamaan dalam struktur tulang-tulang appendages amfibi dan tulang-tulang
sirip ikan purba sarcopterygian kemungkinan homolog.Sendi pada bahu, pinggul, siku, lutut,
pergelangan tangan, dan pergelangan kaki memungkinkan dapat bergerak bebas dan dapat

14
berkontak langsung dengan substrat. Bagian panggul amfibi terdiri dari tiga tulang (ilium,
ischium, dan pubis) yang dengan kuat melekatkan panggul pada vertebral columnar. Tulang-
tulang ini ada pada semua tetrapoda, tetapi tidak pada ikan (Miller & Harley, 2001).

Gambar 6. Rangka pada Katak


Sumber: Hickman, 2006

Gambar 7 Otot pada Katak


Sumber: Kotpal, 2007

15
2.7 Sistem Sirkulasi Amphibi
Pada katak, bentuk jantungnya adalah beruang tiga; dan sistem sirkulasi yang
menunjukkan dua jalur yaitu sistem divisi untuk menyuplai organ tubuh dan pulmonal divisi
untuk membawa darah menuju dan dari paru-paru (Lytle & Meyer: 2005).
Sistem sirkulasi pada amphibi menunjukkan adaptasi yang luar biasa untuk
kehidupannya yang terbagi antara habitat akuatik dan terestrial. Pemisahan paru-paru dan
sistemik sirkuit dianggap kurang efisien pada amphibi ketimbang ikan. Atrium terbagi secara
sebagian pada Urodeles dan terbagi secara sempurna pada Anura. Ventrikelnya tidak
memiliki septa. Katub spiral pada conus arteriosus atau pada ventral aorta membantu
mengarahkan darah pada paru-paru dan sistemik sirkuit. Sebagaimana yang didiskusikan
nanti, pertukaran gas pada kulit pada amphibi, sama baiknya dengan pertukaran gas di paru-
paru. Oleh karena itu, darah memasuki jantung bagian kanan hampir sama terisinya dengan
baik oleh oksigen dengan darah yang memasuki jantung dari paru-paru! Ketika amphibi
benar-benar tenggelam, semua pertukaran gas terjadi di seluruh kulit dan permukaan yang
lembab lain dari tubuhnya; leh sebab itu, darah datang dari atrium kanan memiliki oksigen
dengan konsentrasi tinggi daripada darah yang kembali pada atrium kiri dari paru-paru
(Miller & Harley: 2001).
Sebagian besar amfibi mempunyai masalah untuk mengisi jantung yang menerima
oksi dari paru-paru dan darah deoksi yang tidak mengandung oksigenn dari tubuh. Amfibi
mengembangkan darahnya ke arah sistem sirkulasi transisional. Dan jantung mempunyai
sekat interatria, kantong Vertikular, dan pembagian konus arteriosus dalam pembuluh
sistematik dan pembuluh pulmonari.Darah dari tubuh masuk ke atrium kanan dari
sinus venosus kemudian masuk ke sisi kanan ventrikel, dan dari sini di pompa ke paru-
paru. Darah yang mengandung oksigenj dari paru-paru masuk ke atrium kiri lewat vena
pulmonalis kemudian menuju ke sisi kiri ventrikel untuk dipompa menuju ke seluruh
tubuh. Beberapa pengecualian terjadi pada salamander yang tidak mempunyai paru-paru, dan
dimana celah interatrial tidak lengkap dan vena pulmonalis tidak ada (Sukiya, 2005).
Kebanyakan pada amfibi pasangan arkus aorta pertama, kedua dan kelima
hilang, Arkus aorta keempat merupakan sistem arkus yang menuju ke posterior berupa dorsal
aorta. Bagian proksimal dari pasangan keenam arkus aorta kulit diamana aerasi terjadi.
Sistem venosus pada amfibi sangat mirip pada paru-paru ikan, kecuali pada vena abdominal
masuk sistem portal hepatik ke sinus venosus (Sukiya, 2005).

16
Gambar 8 Jantung pada Katak
Sumber: Kotpal, 2007

2.8 Sistem Pencernaan Amphibi


Kebanyakan amphibia dewasa adalah karnivora yang memakan berbagai varietas
dari hewan invertebrata. Diet beberapa Anura, bagaimanapun juga, lebih beragam. Misalnya,
bullfrog akan memangsa mamalia kecil, burung, dan anggota Anura lain. Faktor utama yang
menentukan apa yang akan amphibia makan adalah berdasarkan ukuran dan ketersediaan
mangsa. Hampir semua larva adalah herbivora dan memakan alga serta tanaman lain.
Kebanyakan amphibi mencari mangsa mereka dengan mengandalkan penglihatan dan dengan
gampang menunggu mangsa hingga lewat. Organ penciuman pada salamander akuatik dan
sesilia memainkan peran penting dalam mendeteksi mangsa. Banyak salamander secara
relatif tidak terspesialisasi dalam metode makan-memakan mereka. hanya menggunakan
rahang mereka untuk menangkap mangsa (Miller & Harley: 2001).
Anura dan Plethodontid salamander, bagaimanapun juga, menggunakan lidah dan
rahang dalam mekanisme menjentik dan menangkap mangsa. Lidah yang sesungguhnya baru
nampak pada hewan amphibi. Lidah amphibi menempel pada pinggiran depan rahang dan
mampu melipat kembali ke mulut bagian bawah. Mukus dan kelenjar buccal yang berada di
ujung lidah mengeluarkan sekret yang lengket. Ketika mangsa datang dalam jangkauan,
amphibia menekuk lututnya ke depan dan mengeluarkan lidahnya. Lidahnya menjulur
panjang, dan rahang bawahnya tertekan. Kepalanya miring menuju servikal vertebranya,

17
yang membantunya melancarkan serangan. Ujung lidahnya menjebak mangsa, kemudian
lidah dan mangsanya tadi kembali masuk dalam mulut. Segalanya tadi terjadi hanya dalam
0,05 sampai 0,15 detik! Amphibia menerkam mangsanya dengan cara menekannya dengan
gigi pada mulut bagian atas, dan lidah serta otot-otot lain pada mulut mendorong makanan
menuju esofagus. Matanya mengarah ke bawah ketika menelan dan membantu dalam
mendorong makanan menuju esofagus (Miller & Harley: 2001).
Katak air butuh sedikit kelenjar oral, karena makanan katak berada di air sehingga
tidak memerluakan banyak kelenjar mukus dimulut. Kelenjar-kelenjar tersebut berada pada
lidahnya yang digunakan untuk menangkap mangsa. Amfibi darat juga memiliki kelenjar
intermaksilari pada dinding mulutnya. Beberapa amfibi yang lidahnya tidak dapat bergerak,
tetapi sebagian besar bangsa amfibi mempunyai lidah yang dapat dijulurkan keluar (
prostusible tongue ) serta pada katak dan kodok lidah digulung kebelkang bila tidak
digunakan. Esofagus pendek dapat dibedakan dari lambung, Usus menunjukan berbagai
variasi , pada Celcillia menunjukan ada gulungan kecil dan tidak dibedakan antara usus kecil
dan usus besar, pada katak dan kodok terdapat usus yang relatif panjang, menggulung
membuka ke kloaka (Sukiya, 2005).

Gambar 9. Rongga mulut pada Katak


Sumber: Kotpal, 2007

18
2.9 Sistem Pernafasan Amphibi
Selama tahap larva sebagian besar amfibi bernafas dengan insang. Insang ini bukan
tipe internal seperti pada ikan, tetapi insang eksternal.Struktur insang luar adalah filamenous,
bertutup epitelium bersilia, umumnya mereduksi selama metamorphosis. Beberapa amfibi
berekor, insang luar ini ada selama hidupnya (Sukiya, 2005).
Masalah fisiologis dari metamorphosis amfibi yang berubah dari kehidupan larva
akuatik kekehidupan katak dewasa di darat, memang menarik untuk dipelajari. Umumnya
pada larva akuatik, kadar hemoglobin lebih rendah sebagai akibat sedikitnya sirkulasi eritrosit
sehingga insang lebih efisien, sebab secara umum aktivitas di lingkungan air lebih sedikit
dibandingkan di darat (Sukiya, 2005).
Struktur paru-paru pada amfibi masih sederhana. Amfibi yang hidup di air,
permukaan dalam dari paru-paru lembut, tetapi sebagian besar dinding paru-paru pada katak
dan kodok berisi lipatan alveoli sehingga meningkatkan permukaan pernafasan. Beberapa
amfibi dari ordo Caudata memiliki trakhea pendek, disokong oleh kartilago terbagi dalam dua
cabang yang membuka kearah paru-paru. Ujung dari trakhea atas diperluas, khususnya pada
katak dan kodok, untuk membentuk larink atau voice box (sakusvocalis = kotaksuara),
dimana pita suara berada. Pertemuan antara farink dan larink disebut glottis. Pada umumnya
udara dipompa ke dalam paru-paru melalui proses yang sederhana. Sebagian besar amfibi
bernafas melalui kulit, tetapi salamander ketika dewasa mendapatkan oksigen melalui kulit
dan epitelium oral. Oleh sebab itu, berarti kulit harus dijaga kelembabannya. Amfibi darat
dalam menjaga kelembaban tubuh ini dilengkapi dengan sejumlah kelenjar rmukus yang
didistribusikan dari permukaan tubuh (Sukiya, 2005).

2.10 Sistem Urogenital Amphibi


Ginjal amfibi, seperti pada ikan sejenis opistonefros. Amfibi berekor ginjalnya
berstruktur elongasi seperti pada Elasmobranchiite tapi pada sejenis Anura ada tendensi
menjadi pendek. Banyak amfibi sebagian atau seluruh hidupnya berada dalam air, korpus
kelrenalis berkembang untuk membantu mencegah pengenceran yang berlebihan dari cairan
tubuh. Pembuluh arkinefrik amfibi jantan berupa genital ekskretori. Pembuluh arkinefrik
tersebut hanya melekukan transport sperma (Sukiya, 2005).
Bangsa Amphibia, kemihnya telah berkembang daripada yang ditemui pada ikan.
Secara umum kandung kemihtersebut hasil dari perluasan ujung pembuluh arkinefrik distal
melewati pembuluh ginjal menuju kloaka, dari sini kemudianke penampung urine. Pada
amfibi darat, air dari urine yang terkumpul diserap kembali pada waktu tertentu untuk

19
mengimbangi kelembaban kulit yang berkurang. Amfibi yang banyak menghabiskan waktu
di dalam tanah, seperti spadefoot toad (Scaphious), dapat menyerap air dari tanah selama
tekanan osmotik cairan tubuh lebih tinggi dari pada tegangan air dalam tanah. Berikut ini
adalah gambar dari sistem urogenital katak jantan dan katak betina (sumber: kinantan, 2010):
Indung telur pada amfibi berpasangan dan berisi rongga yang didalamnya
berisi getah bening. Oviduk jugaberpasangan meskipun di daerah distal menyatu.
Seringkali ujung distal masing-masing oviduk diperluas ke uterus membentuk struktur ovisak
sebagai tempat penyimpanan ova secara temporer sebelum dikeluarkan atau untuk
perkembangan embrio pada spesies ovoviviparous. Kelenjar yang mengeluarkan jelli untuk
melumuri telur-telur biasanya berada di dalam oviduk (Sukiya, 2005).
Testis berpasangan dan berhubungan langsung atau dihubungkan tubulus mesonefrik
ke kloaka, tidak ada organ kopulasi spesial.Pada kodok ada suatu struktur yang disebut
organ Bidder terletak di anterior setiap testis (Sukiya, 2005)

Gambar 10. Organ-organ Urogenital Katak

2.11 Sistem Saraf dan Indera Amphibi


Sistem saraf amfibi pada dasarrya sama seperti pada ikan.Pusat kegiatan otak berada
pada bagian dorsal otaktengah, di mana sel-sel saraf (lapisan abu-abu) terkonsentrasi di
dalam tektum. Telencefalon secara alami merupakan bagian penciuman, sehingga
memperluas hemisfer cerebral. Lineal body ditemukan pada semua amfibi, tetapi Anura
memiliki parietal body atau ujung organ pineal. Karena amfibi bergerak lamban, maka

20
cerebellum sangat kecil kecuali pada Caecilia. Hanya ada 10 saraf kranial. Akar dorsal dan
ventral dari saraf spinal bergabung melalui foramen intervertebra (Sukiya, 2005).
Sistem saraf pada amfibi menurut (Jasin,1992) terdiri atas sistem saraf sentral dan
system saraf periforium. Sistem saraf sentral terdiri dari : encephalon (otak) dan medulla
spinalis. Enchephalon terdapat pada kotak otak (cranium). Pada sebelah dorsal akan tampak
dua lobus olfactorium menuju saccusnasalis, dua haemisperiumcerebri atau cerebrum kanan
kiri yang berbentuk ooid yang dihubungkan dengan comisure anterior, sedangkan bagian
anteriornya bergabung dengan dienchepalonmedialis. Di bagian belakang ini terdapat dua
bulatan lobusopticus yang ditumpuk otak tengah (mesenchepalon) sebelah bawahnya
merupakan cerebreum (otak kecil). Dibelakang terdapat bagian terbuka sebelah atas
yakni medulla oblongata yang berhubungan dengan medulla spinalis dan berakhir di
sebelah feliumterminale (Sukiya, 2005).

Gambar 11. Jantung pada Amphibi


Sumber : Hickman, 2006

Organ perasa pada amfibi, tidak seperti pada ikan, terbatas pada dinding mulut dan
lidah. Khoane internal, apertural nasal berfungsi sebagai penciuman tetapi juga untuk saluran
udara. Biasanya epitelium olfaktori lembut dan terbatas pada bagian dorsal nasal. Sturktur
olfaktori yang lain pada amfibi adalah organ Jacobson (organ vameronasal). Organ tersebut
dipercaya menjadi alat bantu dalam merasakan makanan. Organ ini juga penting dalam
tingkah laku reproduksi, karena aksi pertama adalah hewan jantan menyentuh hidung, kepala
dan leher betinanya (Sukiya, 2005).

21
Jika diperhatikan bentuk tengkoraknya luas dan datar dengan mulut yang lebar,
lubang hidung, dua mata yang mencolok dan membran timpani yang sirkular berada di
belakang mata. Batas matanya adalah kelopak mata bawah yang besar dan kelopak mata atas
yang tidak mencolok. Kelopak mata ketiga merupakan kelopak dalam yang jernih
yaitu membran nictitating , membantu dalam menjaga mata agar tetap lembab ketika katak
berada di darat dan juga membantu menjaga mata dari abrasi ketika berada di air (Lytle &
Meyer: 2005).
Mata amfibi juga seperti pada Vertebrata lain. Lensa mata tetap dan tidak berubah
kecembungnnya untuk jarak pandang yang relatif jauh,mungkin berpindah maju ke depan
saat melihat objek yang dekat, dengan akomodasi otot-otot lensa yang kecil. Pupil apertura
mungkin vertikal, horizontal, tiga sudut atau empat sudut. Kelopak mata kurang bagus bagi
yang di air tetapi berkembang bagus pada sepesies yang hidup di darat. Kelopak bagian
bawah biasanya lebih mudah bergerak daripada bagian atas. Karena kornea mata amfibi darat
menjadi kering akibat evaporasi, maka perlu di basahi dengan cairan yang dihasilkan oleh
kelenjar Harderian. Lacrimal atau kelenjar air mata pada amfibi, kurang bagus
perkembangannya (Sukiya, 2005).
Parietal dan pinael body berfungsi sebagai fotoreseptor, sensitif terhadap gelombang
panjang dan intensitas cahaya, berperan dalam termorgulasi dan orientasi arah. Fotoreseptor
pada gelombang panjang juga terdapat pada kulit katak dan salamander (Sukiya, 2005).
Ada berbagai macam alat pendengaran pada amfibi. Salmander dan
golongannyatidak punya pendengaran tengah, meski salmander dipercaya dapat mendeteksi
vibrasi. Katak dan kodok mempunyai pendengaran tengah dan gendang telinga. Saura di
transmisikan dari gendang telinga melaui lubang timpani ke teligna dalam melewati sebuah
tulang yang disebut kollumela. Kollumela homolog dengen elemen hiomandibula dari arkus
insang pada ikan tulang rawan. Di bagian ventral sakulus pada telinga dalam ventral
outpocketing yang di sebut lagena (seperti kohlea mamal), dan diyakini menjadi resepsi
vibrasi suara. Linea lateralis ada pada larva amfibi dan bahkan ditemukan pada katak dewasa
untuk sepesies katak yang hidup di air. Secra struktural linea lateralis itu seperti pada
ikan (Sukiya, 2005).
2.12 Sistem Reproduksi dan Endokrin Amphibi
Fertilisasi berlangsung secara eksternal pada sebagian besar amfibia; jantan
memegang erat-erat betina dan menumpahkan spermanya di atas telur-telur yang sedang
dikeluarkan oleh betina. Amfibia biasanya bertelur di dalam air atau dilingkungan darat yang
lembab. Telur tidak memiliki cangkang dan cepat mengering di dalam udara kering.

22
Beberapa spesies amfibia bertelur dalam jumlah yang sangat banyak di kolam sementara, dan
mortalitas telurnya tinggi. Sebaliknya, spesies-spesies yang bertelur dalam jumlah yang
relatif sedikit dan menunjukkan berbagai macam pengasuhan anak. Bergantung pada spesies,
jantan atau betina, mungkin membawa telur-telurnya di punggung, di dalam mulut, atau
bahkan di dalam lambung. Katak-katak pohon tropis terbentuk mengaduk-aduk massa
telurnya menjadi jaring-jaring berbuih yang tahan kekeringan. Ada pula spesies ovovivipar
dan vivipar yang menyimpan telur-telurnya di dalam saluran reproduksi betina, tempat
embrio dapat berkembang tanpa mengalami kekeringan (Campbell, 2012).
Banyak amfibia menunjukkan perilaku sosial yang kompleks dan beraneka ragam,
terutama selama musim kawin. Katak biasanya diam, namun jantan pada kebanyakan spesies
bersuara untuk mempertahankan wilayah kawinnya atau untuk menarik betina. Pada beberapa
spesies, migrasi ke tempat perbiakan tertentu mungkin melibatkan komunikasi suara, navigasi
selestial, atau sinyak kimiawi (Campbell, 2012).
Sistem endokrin pada amfibi mirip pada vertebrata tingkat tinggi. Kelenjar paratiroid
ada (tidak ada pada ikan), sebagai regulator kalsium dalam sistem endokrin. Kelenjar
adrenal, korteks dan medulla bergabung tidak terpisah seperti pada ikan. Kelenjar tiroid tidak
hanya mengatur aktivitas metabolsime tubuh tetapi dipercaya sangat penting dalam
mempengaruhi periode penglupasan lapisan luar kulit (Sukiya, 2005)
Hormon tiroksin yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid meregulasi metabolisme pada
katak, manusia, dan vertebrata yang lain. Akan tetapi, tiroksin memiliki efek tambahan dan
berbeda pada katak, yaitu merangsang resorpsi ekor kecebong dalam metamorfosisnya
menjadi dewasa (Campbell, 2012).

23
2.13 Ordo Apoda
Apoda berasal dari kata a artinya tanpa dan podos artinya kaki. Hewan yang
tergolong ke dalam ordo ini adalah hewan-hewan amphibia yang tidak mempunyai kaki (kaki
tereduksi). Nama lain dari Apoda adalah Caecilian berasal dari bahasa Latin yaitu caecus
yang berarti buta. Dinamakan demikian karena matanya tertutup oleh kulit dan dalam
beberapa spesies tertutup oleh tulang. Selain kedua nama di atas, di dalam taksonomi
digunakan nama Gymnophiona, berasal dari bahasa Yunani gymnos yang berarti terbuka dan
ophis yang berarti ular. Dikarenakan organ kaki tereduksi dan tubuhnya bersegmen-segmen,
morfologi luar dari Apoda mirip sekali dengan cacing atau ular. Selain kakinya, organ ekor
juga mereduksi atau hilang, sehingga tubuhnya memanjang karena disesuaikan pula dengan
habitatnya di tanah dengan menggali/membuat sebuah lubang. Kisaran panjang tubuh antara
90-1.600 mm.
Walaupun mata hewan-hewan ini tereduksi, namun Apoda mempunyai tentakel
(sensori) untuk membantunya hidup di dalam tanah atau air. Letak tentakel ini bervariasi,
antara lubang hidung dan matanya yang tidak berkelopak. Fase hidup yang bersifat aquatik
adalah saat larva. Setelah dewasa hidup di tanah dengan menggali lubang. Namun beberapa
spesies ada pula yang hidup di air (Genus Typhlonectes, Atretochoana, dan Potomotyphlus)
sehingga tubuhnya dilengkapi sirip kecil untuk membantu berenang. Penampakan seperti ini
sangat mirip dengan belut. Selain itu apoda tidak memiliki membran tympanum untuk alat
bantu pendengaran, tidak seperti kebanyakan amfibi.
Tubuh Apoda bersegmen-segmen, setiap segmen yang berbentuk seperti cincin
disebut annuli. Penampakan seperti ini menjadikan apoda mirip dengan cacing tanah. Annuli
pada apoda dibedakan menjadi annuli sekunder dan tersier. Pada bagian post tubuhnya, ekor
membentuk bagian tubuh yang sangat kecil dibandingkan bagian yang lainnya. Bahkan, pada
beberapa spesies tubuhnya tiba-tiba berakhir pada terminal tumpul. Famili dari apoda yang
masih memiliki ekor dianggap lebih primitif dari pada yang ekornya telah tereduksi.
Ukuran tubuh Apoda bervariasi, apoda terkecil yang pernah dikenal adalah
Idiocranium russeli dari Kamerun. Ukuran spesies ini yang paling besar yang pernah
ditemukan adalah 14,4 cm. Namun seekor Idiocranium russeli betina pun telah bertelur saat
panjang tubuhnya hanya 9 cm. Apoda terpanjang yang pernah ditemukan berukuran 151,5 cm
yaitu Caecilia thompsoni.

24
Gambar 12. Herpele multiplicata
Sumber: Hickman, 2006
a. Tengkorak Apoda
Tengkorak Apoda memiliki susunan dan bangunan yang kuat dan berat. Hal ini
disesuaikan dengan fungsi kepalanya untuk menggali dan mendorong tanah. Oleh karena itu
struktur tulang pada tengkoraknya saling menyatu. Di samping sensorinya yang membuka,
tengkorak kebanyakan spesies apoda beratapkan tulang-tulang yang tebal. Kondisi ini disebut
stegokrotaphy. Tetapi beberapa spesies apoda masih mempertahankan tengkorak yang bagian
temporalnya membuka, kondisi ini disebut zygokrotaphy. Apoda yang tengkoraknya bersifat
demikian dianggap lebih primitif. Semakin berkurang jumlah tulang pada tengkorak pada
ordo ini, maka dianggap merupakan famili yang lebih maju.
b. Mata
Semua apoda mempunyai organ mata, tetapi sangat tereduksi dan tertutup oleh kulit
atau tulang. Mungkin karena hidupnya pada liang-liang tanah, matanya telah merosot ke
berbagai bagian kepala, setiap spesies berbeda. Beberapa spesies, seperti Ichthyophis sp.,
memiliki mata di permukaan agak dangkal sementara spesies lain seperti Herpele dan
Gegeneophis punya mata di bawah tulang tengkorak dan bahkan memiliki soket mata yang
digantikan oleh tulang. Studi perbandingan morfologi menunjukkan bahwa ada
kecenderungan peningkatan mata tertutup dengan kulit atau tulang bersamaan dengan
hilangnya modifikasi lensa dan retina. Namun, retina dan saraf optik tetap utuh sehingga
kemungkinan bahwa sebagian besar mata Apoda masih mampu melakukan photoreception.
Apabila cahaya terang mereka akan bersembunyi begitu sebaliknya. Namun Apoda tidak
mampu mendeteksi gerakan visual.
c. Tentakel
Tentakel sensori kecil terdapat di kedua sisi kepala antara mata dan lubang hidung.
Pada kebanyakan spesies, tentakel menonjol melalui lobang di tengkorak sementara pada
spesies lain tidak demikian. Famili Scolecomorphidae terkenal karena memiliki tentakel

25
dekat dengan mata. Tentakel adalah struktur yang kompleks dari berbagai bentuk, termasuk
jaringan saraf, otot, saluran, dan kelenjar dan diperkirakan berfungsi dalam chemoreception.
d. Mulut, Gigi dan Otot Rahang
Mulut apoda terletak di bagian agak bawah dari kepala (subterminal). Morfologi
mulut ini disebut countersunk dan dianggap sebuah adaptasi untuk menggali. Apoda yang
paling primitif masih memiliki mulut terminal. Pada masing-masing rahang terdapat dua baris
gigi, baris sebelah dalam dan luar. Ukuran giginya bervariasi dan bentuknya tergantung pada
spesies. Semua vertebrata darat, kecuali Apoda, memiliki satu set otot penutup rahang. Apoda
memiliki dua set otot (adductors jaws dan otot-otot interhyoideus) dan ini dianggap sebagai
adaptasi untuk mempertahankan posisi rahang agar tetap tertutup rapat saat menggali.
e. Nuchal Collars
Di belakang kepala terdapat dua struktur anatomis yang saling berhubungan yaitu nuchal
collars, yang berbeda tiap spesiesnya. Bentuknya agak mirip dengan clitellum cacing tanah.
Alur yg berhubung dengan nuchal pertama menandai perbatasan posterior tengkorak dan
menandai kedua pembagian antara dua nuchal. Alur yang berhubung dengan kuduk ketiga
menandai batas antara kedua nuchal yang berhubung dengan seluruh tubuh. Pada beberapa
spesies terkadang sulit untuk membedakannya karena adanya lipatan dermal tambahan
sepanjang permukaan dorsal.
f. Kulit Apoda
Seperti amfibi lainnya, Apoda memiliki kelenjar racun di kulit meskipun potensi
racun tersebut belum banyak dikenal. Akan tetapi yang berbeda dari Apoda dibanding
amphibi lainnya adalah sisiknya yang berada di bawah permukaan kulit. Sisik terdiri dari
serabut kolagen yang tertutup oleh mineralized nodul. Ini dapat ditemukan dalam lipatan dan
alur-alur kulit dan biasanya semakin ke arah posterior jumlahnya semakin meningkat. Selain
itu, Caecilia sp. punya tipe sisik sekunder yang tertanam ke dalam jaringan ikat subdermal.
Reproduksi
Sesilia merupakan satu-satunya ordo amfibi yang pembuahannya internal. Sesilia
jantan memiliki organ mirip penis, disebut phallodeum, yang dimasukkan ke kloaka betina
selama 2 sampai 3 jam. Sekitar 25% spesies sesilia ovipar (bertelur); telurnya itu dijaga oleh
betina. Pada beberapa spesies, sesilia sudah bermetamorfosis saat menetas; yang lain menetas
menjadi larva. Larvanya tidak sepenuhnya hidup di air, namun menghabiskan waktunya di
tanah dekat air. 75% spesies vivipar, yang artinya mereka melahirkan anak yang sudah
berkembang. Janinnya diberi makan dalam tubuh betina dari sel-sel oviduk, yang mereka
makan dengan gigi pemegang khusus. Spesies Boulengerula taitanus yang bertelur memberi

26
makan anaknya dengan mengembangkan lapisan luar kulit yang kaya akan lemak dan nutrisi
yang dikuliti anaknya dengan gigi yang serupa. hal ini memungkinkan mereka tumbuh
sepuluh kali lipat beratnya dalam seminggu. Kulit itu dimakan tiap tiga hari, waktu yang
diperlukan lapisan baru untuk tumbuh, dan anak itu diamati hanya makan pada malam hari.
Dulu anak muda itu dianggap hidup dari caiarn sekresi dari ibunya. Beberapa larva seperti
larva Typhlonectes, lahir dengan insang luar yang besar yang hampir segera tanggal.
Ichthyophis bertelur dan diketahui menunjukkan sifat merawat anak dengan ibu menjaga
telur-telurnya hingga menetas.

Gambar 13. Herpele multiplicata sedang Mengerami Telurnya


Sumber: Hickman, 2006
2.14 Ordo Urodella
Ordo Urodela (Oura yang berarti ekor dan Delos yang berarti jelas) mencakup amfibi
berekor, sekitar 553 spesies salamander. Salamander terdapat di hampir semua daerah
beriklim sub tropis dan mereka melimpah dan beragam di Amerika Utara. Salamander terjadi
juga di daerah tropis tengah dan utara Amerika Selatan. Salamander biasanya kecil,
salamander Amerika Utara memiliki panjang kurang dari 15 cm dan Japanese giant
salamanders memiliki panjang melebihi 1,5 m. Salamander adalah hewan karnivora baik
sebagai larva dan dewasa, biasanya memangsa cacing, arthropoda kecil, dan moluska kecil
(Hickman et al, 2006)

27
a. Siklus Hidup
Salamander hidup air atau darat sepanjang siklus hidupnya, fase larva hidup di air
dan pada saat dewasa hidup di terestrial dan berada di tempat-tempat yang lembab. Fertilisasi
pada salamander merupakan fertilisasi secara internal (Hickman et al, 2006)

Gambar 14 siklus hidup salamander

Sumber: Hickman et al, 2006

Gambar 15: siklus hidup salamander


Sumber: Hickman et al, 2006

28
b. Klasifikasi Urodella

Tabel 2. kalsifikasi dari kelas Urodella


Sumber: Khanna (tanpa tahun)

29
2.15 Ordo Anura

Anura, yang berjumlah sekitar 5.420 spesies, lebih terspesialisasi untuk bergerak di
daratan daripada Urodela. Katak dewasa menggunakan kaki belakangnya yang kuat untuk
melompat-lompat di lapangan. Katak menangkap serangga dan mangsa yang lain dengan
menjulurkan lidahnya yang panjang dan lengket, yang melekat ke bagian depat mulut. Katak
menunjukkan berbagai macam adaptasi yang membantunya untuk menghindari pemangsaan
oleh predator yang lebih besar. Kelenjar-kelenjar kulitnya menyekresikan mukus yang tidak
enak atau bahkan berbisa. Banyak spesies yang beracun memiliki warna cerah, yang
tampaknya diasosiasikan dengan bahaya oleh para predator. Katak-katak yang lain memiliki
pola-pola warna yang dapat menyamarkan mereka (Campbell, 2012).
Ordo Anura (An=tanpa, oura=ekor) atau Salientia termasuk sekitar 3.500 spesies
katak dan kodok. Anura hidup di hampir lingkungan tropis, kecuali di lintang atas dan di
beberapa kepulauan laut.sedikit beberapa di temukan di daerah kering berpasir. Fase
dewasanya tidak memiliki ekor, dan ekor vertebra bergabung menjadi struktur mirip tangkai
yang disebut urostyle. Kaki belakangnya panjang serta berotot dan diakhiri dengan kaki
berselaput (Miller & Harley: 2001).
Anura memiliki kehidupan sejarah yang beragam. Fertilisasinya hampir selalu
dilakukan secara eksternal, dan telur-telur serta larva-larvanya bertipikal akuatik. Fase
larvanya disebut kecebong (berudu),mempunyai perkembangan ekor yang baik. Tubuh
gemuk mereka tidak berlengan (bertungkai, berkaki) sampai mendekati akhir dari masa
larvanya. Tidak seperti bentuk dewasanya, bentuk larva bersifat herbivora dan
memiliki proteinaceous, yaitu struktur bagian tubuh yang serupa dengan paruh yang
digunakan untuk makan. Larva Anura mengalami metamorfosis yang drastis dan cepat dari
bentuk larva hingga bentuk tubuh dewasa (Miller & Harley: 2001).
Perbedaan antara katak dan kodok lebih merujuk pada sisi vernakular (kebiasaan)
daripada dilihat dari sisi ilmiahnya. Kodok biasanya merujuk pada Anura dengan kulit yang
lebih kering dan berkutil (tidak halus) yang lebih terrestrial daripada anggota lain dari Ordo
Anura ini. Beberapa jumlah taxa dengan kekerabatan jauh memiliki karakteristik ini. Kodok
benar atau kodok sejati menjadi milik famili Bufonidae pada Ordo Anura (Miller &
Harley: 2001).
Katak dan kodok, pada kategori ini, menunjukkan kepala menyatu dengan badan dan
tidak memiliki leher. Dua pasang anggota tubuh berkembang dengan baik, sehingga
ekstremitas posterior disesuaikan untuk melompat. Kaki berselaput dan disesuaikan untuk

30
berenang. Katak dan kodok adalah vertebrata pertama yang memiliki pita suara untuk
produksi suara. Larva anura atau kecebong memiliki kepala dan tubuh menyatu menjadi satu.
Metamorfosis mengakibatkan hilangnya insang dan digantikan dengan paru-paru, ekor
terdegradasi dan diga tikan oleh kaki (Khanna, tanpa tahun).
Ciri-ciri dari katak adalah :
Katak memiliki tidak lebih dari sembilan tulang di depan sakrum, dan 3-4 tulang
belakang sakrum menyatu menjadi urostyle.
Pada masa dewasa anura tidak memiliki ekor.
Katak juga memiliki radio-ulna, yang merupakan radius menyatu dan ulna (tulang
lengan bawah), dan tibio-fibula, tibia menyatu dan fibula (tulang betis).
Pada pergelangan kaki katak terdapat tulang tibiale dan fibulare yang juga kenal
sebagai astragalus dan calcaneum.
Katak juga memiliki fase kehidupan yang berbeda disebut sebagai kecebong (Khanna,
tanpa tahun).
Meskipun tidak ada perbedaan ilmiah antara katak dan kodok. Pada katak yang hidup di
air, sebagian besar berkulit halus dan memiliki kaki belakang yang panjang untuk melompat,
sedangkan yang hidup di darat memiliki kulit berkutil kering, dan kaki belakang lebih pendek
untuk melompat. Anura memiliki banyak habitat, mulai dari gurun gersang ke daerah
pegunungan ke daerah-daerah rawa hutan hujan tropis. Suhu dan pengaturan air sangat
penting untuk amfibi pada umumnya, dan anuran pada khususnya. Menjadi ectothermal,
katak dan kodok tergantung pada suhu lingkungan untuk regulasi suhu tubuh. Di musim
dingin, katak mengurangi aktivitas. Di sisi lain, mereka menghindari panas pada musim
panas di daerah tropis, dengan tetap berada di bawah tanah selama siang hari dan aktif di
malam hari (Khanna, tanpa tahun).
Anura juga rentan terhadap hilangnya kelembaban tubuh karena kondisi yang sangat
panas atau kering. Di daerah beriklim sedang, anura menjaga kulit agar tetap lembab. Selain
itu, kulit yang permeabel memberikan kemampuan pada katak untuk menyerap air.
Sebaliknya katak di daerah kering memiliki kulit kedap air, sehingga mencegah penguapan
yang cepat dan dehidrasi. Katak menutupi tubuh mereka dengan lendir atau berada di dalam
tanah untuk menghindari panas. Perkembangbiakan katak dipicu oleh perubahan suhu dan
curah hujan. Selama musim kawin, ribuan katak mungkin berkumpul. Katak jantan menarik
pasangannya dengan mengeluarkan suara (Khanna, tanpa tahun).

31
Ada 5 Famili yang terdapat di indonesia yaitu Bufonidae, Megophryidae, Ranidae,
Microhylidae dan Rachoporidae. Adapun penjelasan mengenai kelima famili tersebut adalah
sebagai berikut:
a. Bufonidae
Famili ini sering disebut kodok sejati. Ciri-siri umumnya yaitu kulit kasar dan
berbintil, terdapat kelenjar paratoid di belakang tympanum dan terdapat pematang di kepala.
Mempunyai tipe gelang bahu arciferal. Sacara diapophisis melebar, Bufo mempunyai mulut
yang lebar akan tetapi tidak memiliki gigi. Tungkai belakang lebih panjang dari pada tungkai
depan dan jari-jari tidak mempunyai selaput. Fertilisasi berlangsung secara eksternal.
Famili ini terdiri dari 18 genera dan kurang lebih 300 spesies. Beberapa contoh famili
Bufo yang ada di Indonesia antara lain: Bufo asper, Bufo biporcatus, Bufo melanosticus dan
Leptophryne borbonica. ( Eprilurahman, 2007)

Gambar 16: Bufo melanostictus


b. Megophryidae
Ciri khas yang paling menonjol adalah terdapatnya bangunan seperti tanduk di atas
matanya, yang merupakan modifikasi dari kelopak matanya. Pada umumnya famili ini
berukuran tubuh kecil. Tungkai relatif pendek sehingga pergerakannya lambat dan kurang
lincah. Gelang bahu bertipe firmisternal. Hidup di hutan dataran tinggi. Pada fase berudu
terdapat alat mulut seperti mangkuk untuk mencari makan di permukaan air. Adapun contoh
spesies anggota famili ini adalah Megophrys montana dan Leptobranchium hasselti. (
Eprilurahman, 2007)

32
Gambar 17: Megophrys montana

c. Ranidae
Famili ini sering disebut juga katak sejati. Bentuk tubuhnya relatif ramping. Tungkai
relatif panjang dan diantara jari-jarinya terdapat selaput untuk membantu berenang. Kulitnya
halus, licin dan ada beberapa yang berbintil. Gelang bahu bertipe firmisternal. Pada kepala
tidak ada pematang seperti pada Bufo. Mulutnya lebar dan terdapat gigi seperti parut di
bagian maxillanya. Sacral diapophysis gilig. Fertilisasi secara eksternal dan bersifat ovipar.
Famili ini terdiri dari 36 genus. Adapun contoh spesiesnya adalah: Rana chalconota, Rana
hosii, Rana erythraea, Rana nicobariensis, Fejervarya cancrivora, Fejervarya limnocharis,
Limnonectes kuhli, Occidozyga sumatrana.( Eprilurahman,2007).

Gambar 18: Rana chalconota

33
d. Microhylidae
Famili ini anggotanya berukuran kecil, sekitar 8-100 mm. Kaki relatif panjang
dibandingkan dengan tubuhnya. Terdapat gigi pada maxilla dan mandibulanya, tapi beberapa
genus tidak mempunyai gigi. Karena anggota famili ini diurnal, maka pupilnya memanjang
secara horizontal. Gelang bahunya firmisternal. Contoh spesiesnya adalah: Microhyla
achatina. ( Eprilurahman, 2007)

Gambar 19:Microhyla achatina


e. Rachoporidae
Famili ini sering ditemukan di areal sawah. Beberapa jenis mempunyai kulit yang
kasar, tapi kebanyakan halus juga berbintil. Tipe gelang bahu firmisternal. Pada maksila
terdapat gigi seperti parut. Terdapat pula gigi palatum. Sacral diapophysis gilig. Berkembang
biak dengan ovipar dan fertilisasi secara eksternal. ( Eprilurahman, 2007).

Gambar 20: Rhacophorus leucomystax sexvirgata

34
KESIMPULAN
1. Amfibi mempunyai 3 ordo, yaitu: 1. Katak dan bangkong (ordo Anura), 2.
Salamander dan kadal aur (newt) (ordo Urodela), 3. Sesilia (ordo Apoda),
yang merupakan hewan seperti cacing dan tanpa kaki. Karena tidak
mempunyai kulit dan telur yang kedap air, maka tak ada satu amfibia pun yang
dapat menyesuaikan sepenuhnya dengan keadaan daratan
2. Hewan yang tergolong ke dalam ordo Apoda adalah hewan-hewan amphibia
yang tidak mempunyai kaki (kaki tereduksi). Ordo Urodela (Oura yang berarti
ekor dan Delos yang berarti jelas) mencakup amfibi berekor. Ordo Anura
mencakup golongan amphibi yang tidak berekor.
3. Contoh dari Ordo Apoda adalah Herpele multiplicata. Contoh dari Ordo
Urodella adalah Desmognathus sp. Contoh dari ordo Anura adalah Microhyla
achatina

35
DAFTAR PUSTAKA

Campbell, N.A. Jane B. Reece and Lawrence G. Mitchell. 2012. Biology. New York : Mc.
Graw Hill Companies, Inc.
Company. New York.
Djuhanda, T. 1983. Analisa Struktur Vertebrata Jilid I. Armico: Bandung.
Duellman, W. E. and L. Trueb. 1986. Biology of Amphibians. McGraw Hill Book
Eprilurahman, R. 2007. Keanekaragaman Berudu Anggota Ordo Anura di Lereng Selatan
Gunung Merapi, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dipresentasikan dalam Seminar
Nasional Herpetologi 2007. Bogor.
Hickman, C.P., Robert, L.S., Keen, S.L., Larson, A., IAnson, H., Eisenhour, D.J. 2006.
Integrated Principle of Zoology Fourteenth Edition. New York: McGraw-Hill Higher
Education
Jasin, M. 1984. Zologi Vertebrata. Armico. Bandung.
Khanna, Monisha. Animal Diversity: Chordata. New Delhi: University of Delhi
Kimball, J.W. 1988. Biologi Edisi Kelima Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Lytle, C.F and Meyer, J.R. 2005. General Biology. New York : Mc. Graw Hill Higher
Education.
Miller, S.A & Harley, J.P. 2001. Zoology 5th Edition. New York : Mc. Graw Hill Companies,
Inc.
Radiopoetro. 1996. Biologi. Jakarta : Erlangga
Sukiya. 2005. Biologi Vertebrata. Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang

36