Anda di halaman 1dari 37

Makalah Perpindahan Kalor

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat rahmat
dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah Pemicu III, dengan topik Hukum
Kedua Termodinamika dan Proses Siklik ini tepat pada waktunya. Penulisan makalah ini
bertujuan untuk memenuhi tugas Mata Ajar Termodinamika Teknik Kimia, dan juga sebagai
media pembelajaran yang mandiri untuk dapat lebih memahami topik mengenai hukum
pertama termodinamika serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam proses penulisan makalah ini, kami menemukan banyak kesulitan. Namun, berkat
bantuan dan bimbingan berbagai pihak, makalah ini akhirnya dapat terselesaikan dengan
baik. Oleh karena itu, kami mengucapkan kepada,
1. Ir. Kamarza Mulia, M.Sc., Ph.D selaku fasilitator mata ajar Termodinamika Teknik
Kimia, yang telah membimbing kami dalam kegiatan diskusi hingga penyusunan
makalah ini;
2. Eliza Habna Lana selaku asisten mata ajar Termodinamika Teknik Kimia, yang telah
memberi masukan terhadap pembuatan makalah ini; serta
3. Semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini yang tidak dapat
kami sebutkan satu persatu.

Kami menyadari bahwa baik dalam segi sistematika penyusunan maupun materi yang
dipaparkan masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami berharap agar adanya
kritik dan saran yang sekiranya dapat membantu kami sehingga dapat menyempurnakan
makalah ini untuk perbaikan di masa yang akan datang. Semoga makalah ini bisa bermanfaat
bagi para pembaca dan bagi dunia ilmu pengetahuan dan teknologi, demi pengembangan
bangsa ini.

Depok, 23 Maret 2017

Tim Penyusun Kelompok 1

1 | D e p a r t e m e n Te k n i k K i m i a
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................................i
DAFTAR ISI ............................................................................................................................ii
BAB 1 PENDAHULUAN.........................................................................................................1
1.1. Latar Belakang...................................................................................................1
1.2. Tujuan Penulisan................................................................................................2
BAB 2 PEMBAHASAN...........................................................................................................3
2.1. Assignment 1 ....................................................................................................3
2.2. Assignment 2 ....................................................................................................5
2.3. Assignment 3 ....................................................................................................8
2.4. Assignment 4 ....................................................................................................12
2.5. Assignment 5 ....................................................................................................20
2.6. Assignment 6 ....................................................................................................26
2.7. Assignment 7 ....................................................................................................30
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................31

BAB 1
PENDAHULUAN

2 | D e p a r t e m e n Te k n i k K i m i a
1.1. Latar Belakang
Termodinamika membahas tentang sistem keseimbangan (equilibrium), yang dapat
digunakan untuk mengetahui besarnya energi yang diperlukan untuk mengubah suatu sistem
keseimbangan, tetapi tidak dapat dipakai untuk mengetahui seberapa cepat (laju) perubahan
itu terjadi karena selama proses sistem tidak berada dalam keseimbangan. Suatu sistem
tersebut dapat berubah akibat dari lingkungan yang berada di sekitarnya. Sementara untuk
aplikasi dalam materialnya, termodinamika membahas material yang menerima energi panas
atau energi dalam bentuk yang berbeda-beda.
Dalam termodinamika, terdapat hukum-hukum yang menjadi syarat termodinamika.
Di dalam hukum-hukum tersebut terdapat rumus-rumus yang berbeda pula, sesuai dengan
permasalahan yang ada. Ada Hukum 0 Termodinamika atau biasa disebut sebagai Hukum
awal Termodinamika, lalu ada Hukum 1 Termodinamika, Hukum 2 Termodinamika, dan
Hukum 3 Termodinamika.
Di dalam Hukum II Termodinamika berkaitan dengan proses-proses yang dianggap
memenuhi Hukum I Termodinamika, di mana terjadi atau tidak terjadi di alam. Selain itu,
Hukum II Termodinamika menjelaskan bahwa aliran kalor memiliki arah, atau dengan kata
lain tidak semua proses di alam semesta bersifat reversible (dapat berbalik arah). Hukum II
Termodinamika juga menjelaskan bahwa energi memiliki kualitas di samping kuantitas,
sehingga berhubungan dengan konsep entropi.

1.2. Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan makalah ini dapat diuraikan sebagai berikut.
1. Menjelaskan konsep entropi dan hokum kedua termodinamika.
2. Menjelaskan perubahan entropi pada turbin atau ekspander.
3. Menjelaskan aplikasi umum turbin dan kondisi operasi atau batasan yang ada.
4. Menghitung efisiensi turbin atau menggunakan informasi tersebut untuk menjelaskan
kondisi fluida keluar atau masuk turbin.
5. Menjelaskan aplikasi umum alat penukar kalor dan kondisi operasi atau batasan yang
ada.
6. Menentukan kondisi fluida keluar atau masuk alat penukar kalor.
7. Menjelaskan aplikasi umum pompa dan kondisi operasi atau batasan yang ada.
8. Menghitung efisiensi pompa atau menggunakan informasi tersebut untuk menjelaskan
kondisi fluida masuk atau keluar pompa.

3 | D e p a r t e m e n Te k n i k K i m i a
4 | D e p a r t e m e n Te k n i k K i m i a
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1. Assignment 1 : Carnot cycle is the most efficient heat engine


Hilda received an assignment from her thermodynamics course instructor who asked
students to derive the equation to calculate the efficiency of a Carnot engine

TC
=1
TH

(a) could you also do Hildas assignment? Hilda learned that the high temperature source
could be a combustion chamber where mixture of air and coal could react and reach
temperature of 700 K. (b) What is the value of the carnot engine efficiency calculated by
Hilda? (c) Explain why the efficiency of the Carnot heat engine is higher than the typical
efficiency value of an actual heat engine (<0.4)?

(a) Deriving the equation

Deriving the equation from a Carnot engine cycle

Sebuah mesin Carnot adalah sebuah mesin yang bekerja dalam proses siklis. Dalam
kerjanya ada tiga hal yang perlu diperhatikan antara lainnya adalah;

- Penerimaan panas bertemperatur tinggi kedalam sistem |Q H|

- Pengeluaran panas keluar sistem dengan temperature rendah |QC|


- Kerja yang dilakukan oleh sistem |W |
- Mesin Carnot adalah mesin yang ideal oleh karena itu Q T

Karena proses ini merupakan sebuah proses siklus (kembali pada kondisi awal), maka:

WQ H Q C (1)

Efisiensi thermal dari sebuah mesin dapat dihitung sebagai:

Q H
(2)
W

Kerja yang dilakukan
= =
Panas yang diserap

Maka persamaan (1) dan (2) dapat dihubungkan menjadi:

1 | D e p a r t e m e n Te k n i k K i m i a
(3)
Q C
QH QC

Q H =
W

QH
QC

=1

Karena mesin Carnot adalah mesin yang ideal maka Q T dan persamaan dapat
ditulis sebagai :

T H
TC

=1
(4)

Deriving the equation from ideal gas

Dalam mesin Carnot jika siklus tersebut dilakukan oleh fluida yang bekerja sebagai
gas ideal maka akan terdiri dari empat langkah reversible:

a b Kompresi adiabatic hingga temperatur


meningkat dari TC menjadi TH
b c Ekspansi isothermal hingga titik c
dengan menyerap panas |QH|
c d Ekspansi Adiabatik hingga temperatur
menurun menjadi TC
d a Kompresi isothermal hingga kondisi
awal dengan membuang panas |QC|

Untuk proses isothermal persamaan yang digunakan adalah:

V V
|Q H|=R T H ln V c dan |QC|=R T C ln V d
b a

Maka :

(5)

2 | D e p a r t e m e n Te k n i k K i m i a
T H ln ( V c /V b )
QC =
T C ln ( V d /V a)
QH

Untuk proses adiabatic persamaan yang digunakan adalah:


TH TH
Cv dT V Cv dT V
R T =ln V a dan R T
=ln d
Vc
T C
b TC

Karena kedua persamaan memiliki bagian kiri yang sama maka persamaan dapat
disederhanakan menjadi :

(6) Va Vd
ln ln
Vb = Vc

Persamaan isothermal dan adiabatic kemudian dapat dihubungkan dan didapat


persamaan 1

T H ln ( V c /V b )
QC =
T C ln ( V d /V a)
QH

TH
QC =
TC
Q H
(7)

Maka persamaan dapat dituliskan sebagai (dalam fungsi ( T )=T );

(8) TC
QH =1
TH
|W |

(b) Carnot engine efficiency calculations

3 | D e p a r t e m e n Te k n i k K i m i a
Diketahui:

Reaksi pembakaran dan udara mencapai temperatur maksimum 700 K (TH)

Mesin tersebut menggunakan idealisasi mesin Carnot

Ditanya:

Berapa efisiensi mesin Carnot dari perhitungan Hilda?

Asumsikan:

Combustion chamber berada pada ruangan dengan ambient temperature sebesar 25oC
(=298K)

Jawaban:

Persamaan efisiensi Carnot dapat dihitung menggunakan perbandingan temperatur


panas maksimal terhadap temperatur pada saat kalor dikeluarkan, maka dari persamaan
di soal dapat digunakan perhitungan

TC
=1
TH

dimana TC adalah temperatur ambient ruangan, TH adalah temperatur maksimal dari


combustion chamber dan adalah nilai efisiensi mesin

TC
=1 x 100
TH

298 K
=1 x 100
700 K

= 0.574 x 100% 57 %

(c) Why Carnot engines efficiency is higher than any other Heat Engine?

4 | D e p a r t e m e n Te k n i k K i m i a
Entropi dari sebuah material nyata berubah terhadap temperatur. Perubahan ini
ditunjukkan dengan kurva pada diagram T-S. Pada gambar ini, kurva tersebut
menunjukkan kesetimbangan uap-cair. Dalam siklus Carnot yang bisa dilihat pada
gambar kanan, proses isothermal menandakan tidak adanya perubahan entropi pada
sistem. Working fluid dikembalikan seperti semula setelah satu siklus namun total
perubahan entropy menjadi > 0.

Untuk sebuah mesin memiliki efisiensi 100% dibutuhkan nilai reservoir dingin
sebesar Ideally T2 0 K namun hal tersebut adalah masalah karena tidak ada proses di
dunia ini yang memiliki reservoir sekecil itu oleh karena itu tidak ada mesin yang
memiliki efisiensi 100%.

Untuk sebuah Heat Exchanger yang tidak ideal, total proses termodinamika bersifat
irreversible tidak seperti mesin Carnot, serta dalam Heat Exchanger lainnya terjadi
perubahan temperatur antara fluida dan reservoir saat terjadinya perpindahan panas.
Kedua aspek tersebut menurunkan efisiensi dari kerja sebuah mesin.

Salah satu hal yang membuat mesin Carnot lebih efisien dibandingkan Heat
Exchanger lainnya adalah siklus ini mencapai efisiensi maksimum karena panas yang
ditambahkan kepada working fluids dalam siklus pada temperatur maksimum dan
dibuang pada temperatur minimum, dimana pada HE lainnya temperatur hanya
mencapai titik maksimum ketika sedang dikonsumsi , oleh karena itu efisiensinya lebih
kecil.

Mesin nyata juga memiliki beberapa faktor yang dapat mengurangi efisiensi selaindari
perhitungan matematis, antara lain sebagai berikut :

- Gesekan dari bagian mesin atau partikel yang bergerak

- Pembakaran yang tidak efisien

- Panas yang hilang dari combustion chamber

- Energi digunakan untuk pompa selain mesin

- Kompressor dan turbin yang tidak efisien

5 | D e p a r t e m e n Te k n i k K i m i a
Namun faktor paling besar yang membuat mesin tidak efisien adalah pembuangan
panas yang dilakukan oleh mesin tersebut, tetapi banyak aspek yang perlu diperhatikan
diluar idealisasi mesin Carnot yang membuat efisiensinya lebih besar dibandingkan
mesin lainnya. Real Engines.

Perhitungan Matematis

Dalam sebuah real heat engines telah disebutkan bahwa dua hal yang berbeda dari
idealisasi mesin Carnot adalah

1. Terdapat perubahan entropi yang terjadi dalam sebuah siklus namun bukan total
entropi.
2. Terdapat perbedaan temperatur working fluid dan reservoir saat kalor
ditambahkan pada sistem.

Oleh karena itu perhitungan matematisnya akan dianggap perubahan entropi pada
SH
proses penambahan kalor ditandakan dan panas yang lebih kecil dari TH.

dQH
S H =
T

Pada persamaan diatas nilai T akan selalu lebih kecil dari TH maka :

QH d QH
= SH
TH TH

Perhitungan juga dilakukan pada proses penambahan kalor dan perubahan entropi pada
SC
cold reservoir :

d QC d QC Q C
SC = =
T TC TC

S H = SC
Dalam sebuah proses siklik tidak terdapat perubahan entropi maka maka :

QC QH

TC TH

Sebuah kerja yang dilakukan oleh mesin dalam sebuah siklus memiliki persamaan

WQ H Q C

Persamaan tersebuh dihubungkan pada persamaan sebelumnya menghasilkan


persamaan:

6 | D e p a r t e m e n Te k n i k K i m i a
W T
(1 C )
QH TH

Dari persamaan tersebut didapatkan bahwa :

Terbukti secara metematis persamaan yang membuktikan bahwa efisiensi dari mesin
real akan lebih kecil dari efisiensi mesin Carnot. Pernyataan Teorema Clausius bahwa
QC QH
. Hal ini menandakan total entropi dari total sistem meningkat untuk real
TC TH

engine, karena penambahan entropi yang didapat pada cold reservoir QC mengalir pada
TC, lebih besar dari entropi yang hilang pada hot reservoir QH pada TH.

2.2. Assignment 2
The Ranque-Hilsch vortex tube is a device that receives a gas stream (say at 10 bar
and 295 K) and divides streams with equal pressure (say 1 bar). There is no
mechanical work and heat transfer involved in the operation of this device. Show
by using the first and the second law of thermodynamics, that maximum
temperature difference between the two outlet streams is 501 K. Hint : largest
temperature difference can be obtained only if gas expansion is a reversible process.

Cp 30 kJ / ( kmol K ) .
Use gas of

Jawab :

Vortex Tube, atau biasa dikenal dengan nama Ranque-Hills Vortex Tube adalah
peralatan mekanik yang memisahkan gas terkompresi menjadi aliran panas dan aliran
dingin.

Gambar 1. Sistem Pemisahan dalam Vortex Tube

7 | D e p a r t e m e n Te k n i k K i m i a
Gas terkompresi diinjeksikan secara tangensial ke dalam ruang pusaran (swirl
chamber) dan diakselerasi menjadi rotasi kecepatan tinggi. Karena nozzle berbentuk
kerucut pada ujung tube, hanya bagian terluar dari gas terkompresi yang bisa keluar.
Sementara sisanya dipaksa kembali dan keluar dari bagian lainnya.

Pin = 10
bar

Tin = 295
Cold Hot
out

T =501 K

Cp = 30
Asumsi :

Adiabatik (Q=0)
Tidak ada kerja (W = 0)
Steady state process
Open system

Hukum I Termodinamika : (dilihat dari neraca energi)


K + P+ H=QW

H=0

H= H c + H h=0

H=mc c p ( T c T i ) +mh c p ( T hT i )=0

Sehingga diperoleh :

m m
(9)
(
T i = 1
c
m
i)
Th+ c T c
m
i

Dimana subskrip i, c, dan h menunjukkan aliran masuk, dingin, dan panas.

m hotout = m coldout

8 | D e p a r t e m e n Te k n i k K i m i a
Basis : mi = 1 kmol

Maka berdasarkan persamaan (1) :

m
c m
m
c m

+ h =1 = h =0,5
m
i m
i m
i m
i

m m
(
T i = 1
c
m
i ) c
Th+ T c
m
i

295=( 10,5 ) T h +0,5 T c

590=T h +T c

T h=590T c
(10)

Hukum II Termodinamika

Pada gas ideal, perubahan entropi didefinisikan :

du p
ds= + dv ; du=c v ( T ) dT
T T

dh v
ds= + dp
T T ; dh=c p ( T ) dT

Sehingga :

dT dv
ds= c v (T ) +R
T v

dT dp
ds= c p (T ) +R
T p

Berdasarkan hukum termodinamika kedua mengenai entropi, maka :

1
S= dq
T

9 | D e p a r t e m e n Te k n i k K i m i a

(11)
Stotal = S sistem

S= S c + Sh

S=
m
c
m
i [ T
Ti
p m
pc m

] [ T p
c p ln c + R ln i + h c p ln h + R ln i
i Ti ph ]
Gradien temperatur terbesar (kondisi maksimum) terjadi ketika proses berjalan secara

reversibel, di mana S=0 , sehingga persamaan (11) menjadi :

m
c
m
i [ T p
pc m
m

] [ T p
c p ln c + R ln i + h c p ln h + R ln i =0
Ti i Ti ph ]
[
0.5 c p ln
Tc
Ti
p
pc] [ T
Ti
p
]
+ R ln i +0.5 c p ln h + R ln i =0
ph

[
0.5 30 ln
Tc
295
+8.314 ln
10
1 ] [ T
+0.5 30 ln h + 8.314 ln
295
10
1
=0 ]
kJ
15 ln ( T c x T h )=170.60919.144
K

kJ
15 ln ( T c x T h )=151.465 kJ
K

ln ( T c x T h ) =10.098

( T c x T h )=24294.372 K 2

T c ( 590T c )=24294.372

590 T c T c 2=24294.372
(12)

Sehingga diperoleh :

10 | D e p a r t e m e n Te k n i k K i m i a
T c1=44,5 T c2=545,5
;

Berdasarkan Persamaan (12) dan diketahui T =501 K , maka dipilih nilai

T c =44,5 K
. Sehingga,

T h=59044,5=525,5 K

Dan dapat dibuktikan bahwa :

T =T hT c =545,544,5=501 K

2.3. Assignment 3
Superheated steam at 40 bar and 360C with mass flow rate of 11 kg/s is divided
into two streams. The first stream enters a 90% efficient steam turbine which
produces 2,24 MW of shaft work and the second stream enters a throttling valve.
The streams exiting the valve and the turbine mix in a mixing chamber and flows
into a condensor where steam becomes saturated liquid at 198,3C. Determine: (a)
the temperature of the stream leaving the mixing chamber; (b) the mass flow rate
through the valve, in kg/s; (c) locate the four numbered states on an h-s diagram.
Neglect heat transfer with the surroundings, changes in kinetic and potential
energy, and pressure drop in mixing chamber and condensor.

Jawab :

11 | D e p a r t e m e n Te k n i k K i m i a
Gambar 2. Gambar Sistem

Identifikasi sistem:
^
1) T, P, H , dan S^ , pada aliran 1a dan 1b adalah sama karena berasal

dari aliran yang sama sedangkan laju alir massanya berbeda.


2) Berdasarkan kesetimbangan massa, maka jumlah laju alir massa pada
aliran 1a dan 1b adalah 11 kg/s.
3) Pada unit throttling valve berlangsung secara adiabatik sehingga tidak
terjadi pertukaran kalor antara sistem dan lingkungan. Setelah melalui
throttling valve maka tekanan dan temperatur aliran keluarannya akan
berkurang karena entalpinya tetap.
4) P2 = P3 = P4 (karena P pada mixing chamber diabaikan).
5) P4 = P5 (karena P pada condensor diabaikan).

^ ^
Penentuan H dan S pada aliran 1 (meliputi 1a dan 1b) :
Dari steam tables pada buku Van Ness diperoleh:
^
H 1 (40 bar, 360 C) = 3117,62 kJ/kg
-

- S^ 1 (40 bar, 360 C) = 6,62168 kJ/kg.K

^
H ^
Penentuan dan S pada aliran 5
Dari steam tables pada buku Van Ness diperoleh:
^
H 5 (saturated liquid, 198,3 C) = 844,7502 kJ/kg
-

12 | D e p a r t e m e n Te k n i k K i m i a
- S^ 5 (saturated liquid, 198,3 C) = 2,314684 kJ/kg.K

- P5 (saturated liquid, 198,3 C) = 15 bar

Tinjauan kesetimbangan massa


m = m1a + m1b
11 = m1a + m1b
m1a = 11 m1b
(13)
Unit Turbin
W ^ ^2
= H 1 a H
m1 a

2240 ^2
=3117,62 H
m1 a

^
H2 ^
H2s
Untuk memperoleh nilai maka dicari dahulu yang merupakan entalpi

keluaran turbin apabila turbin bekerja secara reversibel (isentropik). Apabila turbin
bekerja secara isentropik maka:
S^ 2 = S^ 1 = 6,62168 kJ/kg.K

P2 = P4 = 15 bar (P pada mixing chamber diabaikan)

Setelah itu dari S^ 2 S dan P2 dilakukan interpolasi untuk menentukan


^
H2s

^
H 2 s=2879,53318 kJ /kg .
sehingga diperoleh
Karena turbin memiliki efisiensi maka turbin bekerja secara irreversibel sehingga:
H^ H ^2
= 1 a
^ ^2 S
H 1 a H
^
3117,62 H 2
0,9=
3117,622879,53318
^
H 2=2903,3419 kJ /kg
^
H 2 dan P dilakukan interpolasi untuk menentukan T 2
Setelah itu dari 2 sehingga

kJ
T 2 =241,93043 S^ 2=6,66956 . K
diperoleh dan kg

Unit Throttling Valve


E P + E K + H=QW

13 | D e p a r t e m e n Te k n i k K i m i a
E P=0
- Perubahan energi potensial diabaikan ( )
E K =0
- Perubahan energi kinetik diabaikan ( )

- Berlangsung secara adiabatik ( Q=0 )


- Tidak ada kerja ( W =0
Maka persamaan di atas menjadi:
H =0

H 3H 1 b=0

H 3=H 1 b

m3 . ^ ^1b
H 3=m1 b . H

Karena m3 = m1b maka :


^
H 3= ^
H1b

^
H 3=3117,62 kJ /kg

P3 = P4 = 15 bar (P pada mixing chamber diabaikan)


^
Dengan diketahuinya nilai H 3 pada tekanan P3, dilakukanlah interpolasi untuk

menentukan T3 sehingga didapat T3 = 336,153145 C.

Perhitungan laju alir massa yang melalui throttling valve (m1b)


Dari persamaan (13) diperoleh persamaan :
2240 ^2
=3117,62 H
m1 a

2240
=3117,622903,3419
m1 a

m1 a=10,453705

m1 b=11m1a =1110 , 453705=0 , 546295 kg /s


Maka,

Unit Mixer
E P + E K + H=QW

E P=0
- Perubahan energi potensial diabaikan ( )
E K =0
- Perubahan energi kinetik diabaikan ( )

14 | D e p a r t e m e n Te k n i k K i m i a
- Berlangsung secara adiabatik ( Q=0 )
- Tidak ada kerja ( W =0
Maka persamaan di atas menjadi:
H =0

H 4 ( H 2+ H 3 )=0

H 4 =H 2+H 3

H 4 =m2 . ^
H 2+ m3 . ^
H3

H 4 =( 10,4537 x 2903,3419 ) +(0,5463 x 3117,62)

H 4 =32053,821kJ

Maka:

H
^
H4= 4
m4

^ H4
H 4=
( m2 +m3)

^ 32053,821
H4= =2913,98373 kJ /kg
11

P4 = P5 = 15 bar (P pada condensor diabaikan)


^
Dengan diketahuinya nilai H 4 pada tekanan P4, dilakukanlah interpolasi untuk

menentukan T4 sehingga didapat T4 = 246,08739 C.


Setelah itu dari T3 dan P3 dilakukan interpolasi untuk menentukan S^ 3 sehingga

kJ
S^ 3=7,05265435 . K
diperoleh kg , T4 dan P4 dilakukan interpolasi untuk menentukan

kJ
S^ 4 sehingga diperoleh
S^ 4 =6,69086571 . K
kg

Tabel 1. Nilai T, P, H dan S untuk setiap keadaan


Titik T (C) P (bar) H (kJ/kg) S (kJ/kg.K)
1 360 40 3117,62 6,62168
2 241,9303 15 2903,3419 6,66956

15 | D e p a r t e m e n Te k n i k K i m i a
3 336,153145 15 3117,62 7,05265435
4 246,08739 15 2913,98373 6,69086571
5 198,3 15 844,7502 2,314684

Lokasi setiap titik pada diagram H-S

H 1 3

Saturated
Superheate
liquid 2
d

5
Vapor-Liquid

S
Gambar 3. Lokasi Setiap Keadaan pada Diagram H-S

2.4. Assignment 4: Rankine cycle for elelctric power generation

Your new assignment is about Rankine cycle, an important cyclic process in the
application of electrical power generation. The following pictures are the only leads
that you received from your thermodynamics course instructor.

16 | D e p a r t e m e n Te k n i k K i m i a
Having a good textbook on chemical engineering thermodynamics you are
confident that you will learn the fundamentals of the Rankine cycle. What you need
to do are as follows: (a) Explain what happens to the working fluid as it moves
along the cycle. Using steam as your working fluid and the following data:
saturated vapor enters the turbine at 8,0 MPa, saturated liquid exits the condenser
at 0,008 MPa, and, the net power generated by the cycle is 100 MW, and typical
efficiency values for turbines and pumps, determine the following quantitites: (b)
the mass flow rate of the steam, in kg/h; (c) the rate of heat transfer, q in, into the
working fluid as it flows through the boiler, in MW; (d) the rate of heat transfer,
qout, from the condensed steam as it flows through the condenser, in MW; (e) the
mass flow rate of the condenser cooling water, in kg/h, if the cooling water enters at
15C and leaves the condenser at 35C; (f) the thermal efficiency of the cycle.

Diketahui :
Masuk turbin : Saturated vapor ; P = 8,0 MPa.
Keluar turbin : Saturated liquid ; P = 0,008 MPa.
Net power generated by the cycle W = 100 MW.

Ditanya :
a. Menjelaskan apa yang terjadi saat fluida berada pada siklus.
b. m = ...? (kg/h)
steam

c. Qin boiler = ...? (MW)


d. Qout kondenser = ...? (MW)
e. m = ...? jika air pendingin masuk T=15C dan keluar T=35C (kg/h)
cooling water

f. termal siklus = ...?

Asumsi:
Aliran dalam siklus pada keadaan steady state
Karena pengaruh energi kinetik dan energi potensial sangat kecil, maka dapat diabaikan
(Ek&Ep=0)
Turbin dan pompa bekerja secara isentropik
Efisiensi turbin dan pompa 75%

Jawaban :
A. Menjelaskan apa yang terjadi saat fluida berada pada siklus.

17 | D e p a r t e m e n Te k n i k K i m i a
Siklus rankine terdiri dari 4 tahap yaitu:
1 2 Setelah steam menjadi saturated liquid, pada pompa terjadi proses
reversibel adiabatik (isentropik) dengan menaikan tekanan saturated liquid
menghasilkan subcooled liquid.
2 3 Terjadi proses pemanasan dengan tekanan konstan di boiler. Seluruh step
berlangsung pada keadaan isobar (tekanan tetap didalam boiler), dan terdiri dari 3
tahapan. Yang pertama memanaskan subcooled liquid water menuju temperatur
jenuh, lalu proses penguapan pada suhu dan tekanan konstan, lalu menjadikan
steam menjadi superheated vapor.
3 4 Prosesnya reversibel, terjadi proses adiabatik (isentropik) ekspansi uap di
turbin menuju kondisi tekanan pada kondenser. Turbin berfungsi untuk
menghasilkan kerja dari uap yang masuk dengan kondisi tekanan yang tinggi dan
keluar menuju kondenser dengan kondisi tekanan yang relatif rendah.
4 1 Pada proses ini setelah tekanan saturated vapor diturunkan di turbin, pada
kondisi tekanan dan suhu yang konstan, terjadi perpindahan panas melalui media
pendingin baik air atau udara sehingga merubah dari saturated vapor menjadi
saturated liquid pada keluaran kondenser.

Pada saat kondisi masuk turbin P=8 MPa;T=295,01C saturated vapor, sehingga
didapatkan pada Steam Table:
H3=2758,6 kJ/kg
S3=5,7448 kJ/kg.K

18 | D e p a r t e m e n Te k n i k K i m i a
Kondisi keluar turbin dan kondenser P=0,008 MPa;T=41,51C, sehingga didapatkan
pada steam table: (kondisi keluar turbin masih memiliki kualitas, sedangkan saat keluar
kondenser sudah saturated liquid) :
H4L=173,85 kJ/kgS4L=0,5925 kJ/kg.K
H4V=2576,2 kJ/kg S4V=8,2274 kJ/kg.K

Neraca massa:
m 3=m
4

Neraca energi:
dEcv 2

dt
h+ v + g z
=Q W + m
2 ( )
Karena proses steady state, tidak ada panas yang masuk atau keluar dari turbin, serta
energi kinetik dan energi potensial diabaikan sehingga neraca energi menjadi:
=m
W ( h 4h3 )

Pada ekspansi menuju P=0,008 MPa terjadi proses isentropik sehingga:


'
S 4 =S 3=5,7448 kJ /kg . K

Dikarenakan steam dengan entropi tersebut pada tekanan 0,008 MPa memiliki kualitas,
maka:
S '4 =S l4 +x 4 ' (S v4S l4 )

5,7448 kJ /kg . K =0,5925+ x 4 ' ( 8,22740,5925)

x 4 '=0,675

Setelah didapatkan nilai kualitas maka dapat ditentukan nilai entalpi pada kondisi 4,
yaitu:
H '4 =H l4 + x 4 '( H v4H l4 )
'
H 4 =173,85+ 0,675(2576,2173,85)

H '4 =1795,04 kJ /kg

Sehingga, nilai (H)S = H4-H3 ( H )S =1795,042758,6=963,559 kJ /kg

19 | D e p a r t e m e n Te k n i k K i m i a
W S (isentropik ) turbin=( H ) S=963,559 kJ /kg

Dan kita dapat menghitung nilai H, sebesar:


H= ( H )S

W S (turbin)= H =0,75 (963,559 )=722,669 kJ /kg

Lalu kita mendapatkan nilai H4, sebesar:


H 4 =H 3+ H

H 4 =2758,6722,669

H 4 =2035,931kJ /kg

Pada tinjauan kondenser

Asumsi :
Steam dan arus air pendingin tidak bercampur
Tidak ada kerja yang dihasilkan atau dipakai di kondenser
Model cairan inkompresibel berlaku pada air pendingin, dimana tekanannya konstan

Neraca massa:
m 4= m
1

Neraca energi:
m
Q= ( h1h4 )

Sehingga dapat mencari nilai Q kondenser sebesar:


Qkondenser =( h1h 4 )

Qkondenser =( 173,852035,931 )

Qkondenser =1862,08 kJ /kg

Tanda negatif menandakan bahwa aliran kalor keluar dari sistem.

Tinjauan Pompa

20 | D e p a r t e m e n Te k n i k K i m i a
Neraca massa:
m 1=m
2

Neraca energi:
dEcv 2

dt
=Q W + m
2(
h+ v + g z )
Sehingga neraca energi untuk pompa menjadi:
W =m ( h 2h1 )

Untuk properti saturated liquid pada P=0,008 MPa;T=41,51C adalah sebagai berikut:
V = 1.008,5 cm3/kg
Dengan menggunakan dapat tersebut dapat dicari nilai WS(isentropis)
W S ( isentropik )=( H )S =V ( P2P1 )

W S ( isentropik )=( H )S =1008,5 ( 80008 )=8,060 x 106 kPa . cm3 / kg

W S (isentropik ) pompa=( H ) S=8,060 kJ /kg

Jadi nilai H yang didapatkan sebesar:


( H )S
H=

8,060
W S ( pompa)= H = =10,75 kJ / kg
0,75

Untuk nilai H2 dapat dicari dengan cara:


H 2=H 1 + H

H 2=173,85+10,75

H 2=184,6 kJ /kg

Tinjauan Boiler

Neraca massa:

21 | D e p a r t e m e n Te k n i k K i m i a
m 2=m
3

Neraca energi:
dEcv 2

dt
=Q W + m
2(
h+ v + g z )
Karena proses steady state, tidak ada kerja yang bekerja pada boiler, dan energi
kinetik serta energi potensial dapat diabaikan, sehingga neraca energi pada boiler
menjadi:
m
Q= ( h3 h2 )

Sehingga kita dapat mencari nilai Q yang masuk pada boiler:


Qboiler =( 2758,6184,6 )=2574 kJ / kg

Lalu kita dapat mencari net work dari siklus dengan cara:
W S ( net )=W S ( pompa ) +W S (turbin)

W S ( net )=10,75722,669

W S ( net )=711,919 kJ /kg

B. m

steam = ...? (kg/h)
Untuk net power generated siklus sebesar 100 MW=100.000 kW maka didapatkan laju
alir sebesar:
S ( net ) 100.000 kJ /s
W
m=
= =140,47 kg/ s
W S ( net ) 711,919 kJ /kg

C. Qin boiler = ...? (MW)


Untuk dapat menghitung nilai Q pada boiler digunakan rumus:
Q boiler =(Qboiler )( m)

boiler =(2574 kJ / kg)(140,47 kg/ s)


Q
boiler =361557,9 kJ /s
Q
boiler =361,56 MW
Q

D. Qout kondenser = ...? (MW)


Untuk dapat menghitung nilai Q pada boiler digunakan rumus:
kondenser =(Q kondenser )( m)
Q
kondenser =(1862,08 kJ /kg)(140,47 kg/s )
Q
kondenser =261558 kJ /s
Q

22 | D e p a r t e m e n Te k n i k K i m i a
kondenser =261,56 MW
Q

E. m

cooling water = ...? jika air pendingin masuk T=15C dan keluar T=35C (kg/h)

Asumsi :
Steam dan arus air pendingin tidak bercampur
Tidak ada perpindahan kalor yang berarti antara keseluruhan kondenser dengan
sekelilingnya
Tidak ada kerja yang dihasilkan atau dipakai di kondenser
Model cairan inkompresibel berlaku pada air pendingin, dimana tekanannya
konstan

Neraca massa:
m 4= m
1

m = m
out

Neraca energi:
dEcv 2

dt
v
(
=Q W + m h+ + g z

2 )
Sehingga neraca energi dengan memasukkan asumsi nya menjadi:
0=00+ m ( h+0+0 )

0=m
4 h4 m
1 h1 + m
h m
out hout

0=m(
h4 h1 )+ m
(h h out )

m
(h hout )= m(
h4h1)

m
(h out h )=m(h
4 h1 )

(hout h )
m
=
m
(h4h1)

(h4 h1 )
m
= m

(h out h )

23 | D e p a r t e m e n Te k n i k K i m i a
Untuk kondisi air pendingin pada T=15C h=62,984 kJ/kg
Untuk kondisi air pendingin pada T=35C h=146,64 kJ/kg

Sehingga laju alir masa air pendingin sebesar:


(2035,931173,85)
m =140,47
(146,6462,984)

m
=3126,59 kg /s

F. termal siklus = ...?


Efisiensi termal siklus dapat dihitung dengan cara:
|W S (net )| 711,919
= = =0,277
Q(boiler ) 2574

2.5. Assignment 5: How to improve the efficiency of a basic Rankine Cycle

Explain the difference between the simple Rankine Cycle shown in assignment 4
and the modified Rankine Cycle shown below.
Simple Rankine Cycle

Modified Rankine Cycle

24 | D e p a r t e m e n Te k n i k K i m i a
Jawaban :

Deskripsi dan Fungsi

Modifikasi Rankine Cycle pada gambar diatas disebut juga Regenerative Rankine
Cycle. Salah satu jenis modifikasi Rankine Cycle yaitu menggunakan Closed Feedwater
Heater sebelum proses masuk ke Boiler. Feedwater heater umumnya digunakan pada
konvensional power plant untuk pemanasan awal feedwater dari boiler. Sumber
panasnya berasal dari steam yang diambil dari turbin. Adapun tujuan dari penggunaan
sistem ini adalah untuk meningkatkan efisiensi termodinamika dari siklus.

Gambar 3. Closed feedwater heater system

25 | D e p a r t e m e n Te k n i k K i m i a
Gambar 4. Closed feedwater heater pada Power Plant

Closed feedwater heater umumnya berupa tipe shell and tube heat exchanger dimana
feedwater melewati tube dan dipanaskan dengan steam yang berasal dari turbin. Pada
sistem ini tidak diperlukan pompa yang bekerja sebelum dan sesudah heater seperti
halnya pada open feedwater heater. Biasanya pompa hanya diperlukan untuk mendorong
feedwater masuk ke heater dan boiler.

Panas dan kerja yang bekerja pada sistem dapat dijelaskan sebagai berikut:

Panas masuk, Qin = h1 h6

Panas keluar, Qout = (1 y)(h3 h4) + (y)(h8 h4)

Kerja masuk, Wpump,in = (h5 h4)

Kerja keluar, Wturbin, out = (h1 h2) + (1 y)(h2 h3)

Tahapan Proses

Tahapan proses dari Regenerative Rankine Cycle dengan Closed Feedwater Heater ini
dapat dijelaskan sebagai berikut:

1 2 Steam keluaran dari Boiler masuk ke dalam 1st stage Turbine

26 | D e p a r t e m e n Te k n i k K i m i a
2 3 Sebagian steam (1 y) keluaran 1st stage Turbine masuk ke dalam 2nd stage
Turbine
2 7 Sebagian steam (y) keluaran 1 st stage Turbine masuk ke dalam Closed
Feedwater Heater. Panas dari steam digunakan untuk memanaskan feedwater.
Efek dari proses tersebut terjadinya kondensasi.
7 8 Kondensat (y) keluaran dari Closed Feedwater Heater diturunkan
tekanannya menggunakan Trap sebelum masuk ke Condenser.
3 4 Pada Condenser terdapat pelepasan panas steam yang masuk dari 2nd stage
Turbine (1 y).
8 4 Pada Condenser terdapat pelepasan panas kondensat keluaran dari Trap (y).
4 5 Feedwater keluaran condenser dipompakan menuju Closed Feedwater
Heater dan boiler (y).
5 6 Feedwater yang telah ditingkatkan tekanannya masuk kedalam tube di
Closed Feedwater Heater, dipanaskan dengan sumber panas berasal dari steam
keluaran turbin.
6 1 Feedwater yang telah dipanaskan masuk ke boiler untuk dipanaskan
kembali.

Kelebihan & Kekurangan

Kelebihan dari penggunaan Regenerative Rankine Cycle dengan Closed Feedwater


Heater dirangkum sebagai berikut:

1. Mengurangi ireversibilitas pada steam generator dan meningkatkan efisiensi (1%


s/d 2%).
2. Menghindari kejutan thermal pada dinding boiler ketika feedwater kembali ke
siklus.
3. Tidak membutuhkan tambahan pompa karena aliran steam dan feedwater tidak
tercampur dalam heater.
4. Mengurangi heat loss pada condenser karena jumlah steam keluaran turbin yang
masuk ke condenser tidak sebanyak dibanding pada rankine cycle sederhana.

Kekurangan dari penggunaan Regenerative Rankine Cycle dengan Closed


Feedwater Heater dirangkum sebagai berikut:

1. Dibanding penggunaan Open Feedwater Heater, Closed Feedwater Heater lebih


complex dan mahal dalam investasi

Perbandingan Simple Rankine Cycle dan Regenerative Rankine Cycle

27 | D e p a r t e m e n Te k n i k K i m i a
1. Sistem lebih kompleks dengan adanya tambahan peralatan Closed Feedwater
Heater, Trap dan pompa.
2. Steam yang masuk pada turbin 1st stage sebagian dialirkan ke Closed Feedwater
Heater yang akan digunakan sebagai fluida pemanas dari feedwater sebelum
masuk ke boiler. Sebagian steam lainnya masuk kembali ke 2nd stage turbine.
3. Efisiensi dari penggunaan regenerative rankine cycle lebih tinggi dibanding simple
rankine cycle karena berkurangnya ireversibilitas pada steam generator dan
berkurangnya heat loss pada condenser.

2.6. Assignment 6
6. Cryogenic Rankine cycle to utilize an LNG revaporization unit (10)
After graduating with a degree in chemical engineering you are working for PT Putra
Gasindo Gemilang (GPG) as a process engineer. PT GPG received a contract from an LNG
receiving terminal authority to evaluate the possibility of utilizing LNG cold energy for the
generation of electrical energy using the Rankine cycle. A short description is given:
LNG from LNG storage tank is pumped using LNG pump to pressure of 35 45 kg
f/cm2 gauge
LNG flows through the first heat exchanger (propane vapor condenser) so that its
temperature is increased from 1 60 to 5 0 0C. Subsequently, LNG is evaporated in
the natural gas trim heater using sea water as the heating fluid.
Once liquefied, propane as a working fluid in the Rankine cycle is pressurized by the
propane circulation pump and vaporized in the propane vaporizer at a pressure
corresponding to the temperature of the sea water. Propane vapor is expanded in the
turbine to produce electricity.
Propane leaving the turbine enters the LNG vaporizer to be liquefied again utilizing
the LNG cold temperature
The website of the Osaka Gas Company in Japan described their cold energy utilization with
the following process flow
diagram:
Assignments :
(a) Describe the Rankine cycle employed by Osaka Gas. Why is it called low temperature
Rankine cycle;
(b) Estimate the conditions (temperature, pressure, phase) of the two fluids (LNG/NG and
propane) used in the low temperature Rankine cycle.

28 | D e p a r t e m e n Te k n i k K i m i a
a. Describe the Rankine cycle employed by the Osaka gas. Why is it called low temperature
Rankine cycle?
Siklus Rankine pada Osaka gas digunakan pada generator. Pada sistem generator ini
digunakan LNG pada suhu -160 C yang kemudian dipompa pada tekanan 3.5-4.5 MPa
dan working fluid berupa propana. Propana dipanaskan pada heat exchanger
menggunakan panas dari air laut. Kemudian uap propana di bawa menuju generator.
Tekanan dari uap propana memutar turbun pada generator dan menghasilkan energi
listrik. Setelah melalui turbin propana kehilangan sebagian energi dalam dalam bentuk
panas dan tekanan. Kemudian propan masuk kedalam heat exchanger dimana terjadi
pertukaran panas antara propana dan LNG. Suhu LNG naik hingga sekitar -50C dan
menguap menjadi natural gas (NG). Natural gas kemudian di bawa menuju trim heater
dan dipanaskan lagi menggunakan air laut hingga suhu 0C sampai suhu air laut (sekitar
5-25C) dan dikeluarkan untuk digunakan menjadi city gas. Sementara propana yang
didinginkan hingga bentuk fluidnya kemudian disirkulasikan lagi menggunakan pompa,
menuju heat exchanger/vaporizer yang menggunakan panas dari air laut seperti semula.
(sumber: http://osakagas.co.jp/en/rd/technical/1198907_6995.html)
Siklus rankine suhu rendah atau siklus rankine cryogenic merupakan siklus rankine
yang suhu sistemnya di bawah suhu lingkungan atau pemanas yang digunakan suhunya
maksimal sebesar suhu lingkungan (referensi:
https://www.researchgate.net/publication/ 265952189
_Thermodynamic_Analysis_of_a_Novel_Cryogenic_Rankine_Cycle_for_Wind_En
ergy _Storage)

Pada sistem siklus rankine yang digunakan Osaka Gas pemanas dengan suhu
tertingginya adalah air laut di mana suhu air laut merupakan suhu lingkungan sehingga
suhu sistem tidak akan melewati suhu lingkungan. Oleh karena itu siklus rankine Osaka
Gas bisa disebut low temperature rankine cycle.

29 | D e p a r t e m e n Te k n i k K i m i a
b. Estimate the condition (temperature, pressure, phase) of the two fluid (LNG/NG and
Propane) used in the low temperature rankine cycle.
Asumsi:

1. Keadaan sistem steady state


2. Sistem bekerja pada keadaan ideal
3. LNG 100% metana

(diagram diambil dari: http://chempedia.info/info/59559/ )

30 | D e p a r t e m e n Te k n i k K i m i a
Dari
Siklus LNG(Metana)
1. LNG Vaporizer (propane condeser)
input:
fasa = liquid
suhu = -160C
tekanan = 4 MPa

Output:
fasa = vapor
suhu = -50C
tekanan = 4MPa
H = 40kJ/kg

2. LNG heat exchanger (trim heaeter using sea water)


input 2 = output 1
Output:
- fasa = vapor
- suhu = 0-25C (dari website)
- tekanan = 4MPa

Siklus Porpana
1. Propane Vaporizer
Ouput:
- fasa = vapor
- suhu = 25C (suhu air laut)
- tekanan = 0.95 MPa (uap jenuh pada 25C)

2. Turbin
Input = output vaporizer
Output:
- Wshaft = 240 kWh / ton = 36000 kWh untuk 150 ton
- suhu = -30 C
- tekanan = 0.45 MPa
- fasa = liquid-vapor

31 | D e p a r t e m e n Te k n i k K i m i a
3. Propane condenser
Input = output turbin
Output:
- H = 640kJ/kg = 275 BTU/lb
- suhu = -80 C
- tekanan = 0.45 MPa

2.7. Assigment 7: Cryogenic Rankine cycle to utilize an LNG revaporization unit


Learn what organic rankine cycle is by watching the video using the following link:
https://www.youtube.com/watch?v=Gkd2RKHydww
And reading the information using the following link:
http://site.ge-energy.com/businesses/ge_oilandgas/en/techinsights/oregen-waste-heat-
recovery-1.html
After you understand how an ORC works, write a short explanation on the
similarities and differences between the steam and the organic Rankine cycle. Also,
prepare a short oral presentation using the video downloaded from youtube using
your own voice.
Jawaban :
(a) Persamaan dan perbedaan Steam dan Organic Rankine Cycle
Persamaan dari Steam dan Organic Rankine Cycle antara lainnya adalah:
Keduanya menggunakan aspek Rankine Cycle.
Keduanya menggunakan turbin sebagai sumber generator listrik.
Keduanya menggunakan working fluids yang dipanaskan menjadi uap untuk
memutar turbin.
Keduanya terdiri dari pompa pemanas turbin condenser pompa.
Perbedaan dari Steam dan Organic Rankine Cycle antara lainnya adalah:
Working fluids yang digunakan pada ORC menggunakan fluida organic.
Efisiensi ORC dibandingkan RC biasa lebih rendah.
ORC tidak perlu menggunakan boiler untuk memanaskan working fluids.
ORC menggunakan intermediate fluid dalam proses pemanasan.
Operating temperature lebih rendah dari steam Rankine Cycle.

32 | D e p a r t e m e n Te k n i k K i m i a
DAFTAR PUSTAKA

Himmelblau, David Mautner. 1996. Basic Principles and Calculations in Chemical


Engineering 3th ed. New Jersey : Prentice Hall PTR.
Moran, Michael J., Howard N. Shapiro. 2010. Fundamentals of Engineering
Thermodynamics 3th ed. Asia : John Wiley & Sons Pte Ltd.
Moran, M.J. et al. 2011. Fundamentals of Engineering Thermodynamics Seventh
Edition. United States of America: John Wiley & Sons, Inc..
Smith, J.M.,H.C.van Ness, and Abbott, M.M.. 1996. Introduction to Chemical
Engineering Thermodynamics 5th ed.. United States of America: McGraw-Hill.

31 | D e p a r t e m e n Te k n i k K i m i a