Anda di halaman 1dari 6

Koperasi

Azas Koperasi Indonesia adalah kekeluargaan dan kegotong- royongan.


Tujuan didirikan Koperasi adalah untuk :
Meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya;
Menjadi gerakan ekonomi rakyat serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional.
Tujuan Ekonomi:
Melayani kebutuhan bersama dan wadah partisipasi pelaku ekonomi skala kecil.
Dari beberapa tujuan koperasi diatas, garis besarnya adalah:

1) Mensejahterakan para anggota koperasi dan masyarakat

2) Mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan makmur

3) Memperbaiki kehidupan para anggota dan masyarakat terutama dalam bidang perekonomian

4) Membangun tatanan perekonomian nasional

Struktur organisasi koperasi:

Pengambilan keputusan Koperasi:

Pengambilan keputusan berdasarkan mufakat dilakukan setelah kepada anggota koperasi yang hadir diberikan
kesempatan untuk mengemukakan pendapat serta saran yang kemudian dipandang cukup untuk diterima oleh anggota
koperasi sebagai sumbangan pendapat dan pemikiran bagi penyelesaian masalah yang sedang dimusyawarahkan.

Hak suara/ keanggotaan koperasi:


Memiliki hak suara yang sama.

Imbal Jasa/laba koperasi:


Koperasi memberikan timbal balik kepada anggota yang telah menanamkan modalnya dan mempercayakan koperasi
dalam mengelola modal tersebut berupa balas jasa yang sesuai dengan keadilan, keseimbangan dan keterbatasan seberapa
besar modal yang telah diberikan anggota dengan transparan agar anggota jelas dan mengerti pemberian balas jasa yang
diberikan koperasi sudah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Permodalan Koperasi:

1. Modal Dasar
Tujuan utama mendirikan sebuah organisasi koperasi adalah untuk mengakumulasikan potensi keuangan para pendiri dan anggotanya
yang meskipun pada awalnya berjumlah kecil tetapi tetap ada.

2. Modal Sendiri
Modal sendiri terdiri dari:
a) Simpanan Pokok
Simpanan pokok adalah sejumlah uang yang wajib disetorkan ke dalam kas koperasi oleh para pendiri atau anggota koperasi
pada saat masuk menjadi anggota. Simpanan pokok tidak dapat ditarik kembali oleh anggota koperasi tersebut selama yang
bersangkutan masih tercatat menjadi anggota koperasi.
b) Simpanan Wajib
Konsekuensi dari simpanan ini adalah harus dilakukan oleh semua anggota koperasi yang dapat disesuaikan besar kecilnya
dengan tujuan usaha koperasi dan kebutuhan dana yang hendak dikumpulkan, arena itu akumulasi simpanan wajib para anggota
harus diarahkan mencapai jumlah tertentu agar dapat menunjang kebutuhan dana yang akan digunakan menjalankan usaha
koperasi.
c) Dana Cadangan
Dana cadangan ialah sejumlah uang yang diperoleh dari sebagian hasil usaha yang tidak dibagikan kepad anggoya;
tujuannya adalah untuk memupuk modal sendiri yang dapat digunakan sewaktu-waktu apabila koperasi membutuhkan dana
secara mendadak atau menutup kerugian dalam usaha.
d) Hibah
Hibah adalah bantuan, sumbangan atau pemberian cuma-cuma yang tidak mengharapkan pengembalian atau pembalasan
dalam bentuk apapun. Siapa pun dapat memberikan hibah kepada koperasi dalam bentuk apapun sepanjang memiliki pengertian
seperti itu; untuk menghindarkan koperasi menjadi tergantung dengan pemberi hibah sehingga dapat mengganggu prinsip-
prisnsip dan asas koperasi.

Kerugian Koperasi:
Koperasi dengan ukuran dan kompleksitas bisnis yang tinggi dapat mengalami kerugian karena risiko
hukum, reputasi, strategik, dan kepatuhan, yang dapat membahayakan kelangsungan usahanya, wajib
menerapkan manajemen risiko untuk seluruh risiko yang dimaksud.

3. Modal Pinjaman
Modal pinjaman terdiri dari:
a) Pinjaman dari Anggota
Pinjaman yang diperoleh dari anggota koperasi dapat disamakan dengan simpanan sukarela anggota. Kalau dalam simpanan
sukarela, maka besar kecil dari nilai yang disimpan tergantung dari kerelaan anggota. sebaliknya dalam pinjaman, koperasi
meminjam senilai uang atau yang dapat dinilai dengan uang yang berasal dari anggota.
b) Pinjaman dari Koperasi Lain
Pada dasarnya diawali dengan adanya kerja sama yang dibuat oleh sesama badan usaha koperasi untuk saling membantu
dalam bidang kebutuhan modal. Bentuk dan lingkup kerja sama yang dibuat bisa dalam lingkup yang luas atau dalam lingkup yang
sempit; tergantung dari kebutuhan modal yang diperlukan.
c) Pinjaman dari Lembaga Keuangan
Pinjaman komersial dari lembaga keuangan untuk badan usaha koperasi mendapat prioritas dalam persyaratan. Prioritas
tersebut diberikan kepada koperasi sebetulnya merupakan komitmen pemerintah dari negara-negara yang bersangkutan untuk
mengangkat kemampuan ekonomi rakyat khususnya usaha koperasi.

d) Obligasi dan Surat Utang


Untuk menambah modal koperasi juga dapat menjual obligasi atau surat utang kepada masyarakat investor untuk mencari
dana segar dari masyarakat umum diluar anggota koperasi. Mengenai persyaratan untuk menjual obligasi dan surat utang tersebut
diatur dalam ketentuan otoritas pasar modal yang ada.
e) Sumber Keuangan Lain
Semua sumber keuangan, kecuali sumber keuangan yang berasal dari dana yang tidak sah dapat dijadikan tempat untuk
meminjam modal.

Legalitas Koperasi:

1. Badan Hukum Koperasi No. 64/BH/PAD/KWK.9/III/1997 yang disahkan oleh Departemen Koperasi tanggal 24 Maret 1997.

2. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) Nomor : 0177 /P/1.824.51 Tahun 2007 dari kantor Suku Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Jakarta Selatan

3. Tanda Daftar Perusahaan No. 09.03.2.71.00052 dari Kantor Dinas perindustrian dan Perdagangan DKI Jakarta berlaku sampai
dengan tanggal 14 September 2010

4. Surat Keterangan Domisili Perusahaan No: 698/1.824.5/2008 Kelurahan Gunung,Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Pajak Koperasi:
Kewajiban memungut

Pajak Penghasilan Pasal 22

Kewajiban Koperasi untuk memungut PPh Pasal 22 muncul sebagai akibat dari terbitnya Peraturan Menteri Keuangan Nomor PMK-
08/PMK.03/2008 tentang Penunjukan Pemungut PPh Pasal 22, Sifat, Besaran Pungutan, dan Tata Cara Pelaporan dan Penyetoran. Dalam hal ini
Koperasi berkewajiban menjadi pemungut apabila melakukan pembelian bahan atau produk dari hasil pertanian, perkebunan, kehutanan, atau
perikanan melalui pedagang pengumpul untuk keperluan industri atau ekspor.

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Kewajiban untuk memungut PPN hanya dibebankan kepada Koperasi yang berstatus sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) atas
penyerahan/penjualan jasa/barang kena pajak. Seperti telah disebutkan di dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor PMK-68/PMK.03/2010
sebagaimana terakhir telah diubah dengan PMK-197/PMK.03/2013 tentang batasan pengusaha kecil Pajak Pertambahan Nilai (PPN), kewajiban
untuk menjadi Pengusaha Kena Pajak bagi Koperasi muncul dalam hal jumlah peredaran/penerimaan bruto melebihi Rp 4,8 (empat miliar
delapan ratus juta rupiah).

Kewajiban membayar sendiri

Pajak Penghasilan 1 %

PPh 1 % berlaku atas penghasilan Koperasi yang beromzet di bawah Rp 4,8 miliar.

Sejak Juli 2013, Pemerintah berupaya mengintensifkan peran serta semua pelaku kegiatan ekonomi untuk membayar pajak, tak terkecuali
Koperasi. Koperasi dengan omzet kurang dari Rp 4,8 miliar dalam setahun termasuk kriteria pengusaha yang disebutkan di dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tanggal 13 Juni 2013 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh
Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu. Ini menyebabkan setiap bulan Koperasi dikenakan kewajiban untuk membayar PPh Pasal
4 Ayat (2) final sebesar 1% (satu persen) dari omzet per bulan.

Pajak Penghasilan Masa Pasal 25

Apabila omzet sebuah Koperasi melebihi Rp 4,8 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) maka kewajiban Koperasi adalah menghitung PPh
Masa Pasal 25 yang akan terutang sepanjang suatu Tahun Pajak sebagai Kredit Pajak pada perhitungan PPh pada akhir tahun. Umumnya, untuk
Koperasi yang baru berdiri akan lebih sulit menghitungnya. Untuk Koperasi yang telah berusia lebih dari satu tahun pajak, lebih mudah
diketahui dan bisa langsung dihitung kewajiban PPh membayar sendiri yang harus ditanggung di Tahun Pajak berikutnya.

Pajak Penghasilan Pasal 29

Pada dasarnya perhitungan Pajak Penghasilan Pasal 29 adalah bagian tak terpisahkan dari pemenuhan kewajiban pelaporan SPT Tahunan PPh
Koperasi yang paling lambat harus dilaporkan empat bulan setelah berakhirnya tahun pajak. Hasil perhitungan PPh Pasal 29 ini tertuang dalam
SPT Tahunan PPh. Meski demikian, tata cara perhitungan PPh Pasal 29 dalam rangka pemenuhan kewajiban pelaporan SPT Tahunan PPh untuk
Koperasi sangat tergantung pada jumlah omzet Koperasi itu sendiri.
Apabila omzet suatu Koperasi pada Tahun Pajak sebelumnya masih di bawah Rp 4,8 (empat miliar delapan ratus juta rupiah), maka semua isian
SPT Tahunan PPh adalah Nihil, karena pengenaan pajaknya sudah dilakukan secara final sebesar 1% PPh Final Pasal 4 Ayat (2), sehingga
Koperasi hanya perlu mencatat semua jumlah omzet bulanan yang telah dijadikan dasar dalam menghitung PPh Final Pasal 4 Ayat (2) setiap
bulannya. Meski demikian, pengurus Koperasi tetap wajib melampirkan Laporan Keuangan (Laporan Rugi/ Laba dan Neraca) dalam pelaporan
SPT Tahunan PPh Badan. Karena jumlah omzet yang dilaporkan dalam Laporan Rugi/Laba akan jadi penentu tata cara pengenaan kewajiban
PPh dibayar sendiri pada Tahun Pajak berikutnya.

Kepemilikan Koperasi:

kepemilikan menunjukkan besarnya peranan dalam koperasi, artinya anggota adalah pemilik perusahaan koperasi. Sebagai
pemilik anggota mempunyai kewajiban kewajiban dan hak hak tertentu terhadap koperasinya, baik kewajiban dan hak
individual maupun kewajiban dan hak keuangan (finansial).

Prinsip-prinsip Koperasi:

1. Keanggotaan bersifat sukarela

2. Keanggotaan terbuka

3. Pengembangan anggota

4. Identitas sebagai pemilik dan pelanggan

5. Manajemen dan pengawasan dilakukan secara demokratis

6. Koperasi sebagai kumpulan orang-orang

7. Modal yang berkaitan dengan aspek sosial tidak dibagi

8. Efisiensi ekonomi dari perusahaan koperasi

9. Perkumpulan dengan sukarela

10. Kebebasan dalam pengambilan keputusan dan penetapan tujuan

11. Pendistribusian yang adil dan merata akan hasil-hasil ekonomi

12. Pendidikan anggota.

Resiko Koperasi:

1. Resiko Kredit , resiko ini didefinisikan sebagai resiko kerugian sehubungan dengan pihak peminjam tidak dapat dan
atau tidak mau memenuhi kewajiban untuk membayar kembali dana yang dipinjamkannya secara penuh pada saat jatuh
tempo atau sesudahnya.

2. Resiko Likuiditas , resiko yang disebabkan Koperasi tidak mempu memenuhi kewajibannya yang telah jatuh tempo.

3. Resiko Operasional , resiko operasional didefinisikan sebagai resiko kerugian atau ketidakcukupan proses internal,
sumber daya manusia dan system yang gagal atau dari peristiwa eksternal.

4. Resiko Bisnis , adalah resiko yang terkait dengan posisi persaingan antar Koperasi dan prospek keberhasilan Koperasi
dalam perubahan pasar.

5. Resiko Strategik , adalah resiko yang terkait dengan keputusan jangka panjang yang dibuat oleh pengurus dan
pengelola.

6. Resiko Reputasional , resiko kerusakan pada Koperasi yang diakibatkan dari hasil opnini publik yang negatif.

7. Resiko Legal , resiko yang berkenaan dengan landasan hokum yang berhubungan dengan koperasi simpan pinjam

8. Resiko Politik, resiko yang dipengaruhi oleh keputusan-keputusan pihak-pihak yang terkait dengan koperasi seperti
pemerintah, badan keuangan lain atau koperasi lain dalam melakukan hubungan atau keputusan politik yang dapat
mengganggu kestabilitasian koperasi.
9. Resiko Kepatuhan, resiko yang berkenaan dengan kepatuhan koperasi dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku
namun dalam kepatuhan tersebut koperasi harus mempertanggungjawabkan keberlangsungan koperasi dan kepercayaan
anggota.

PERBEDAAN DARI PERUSAHAAN PERSEORANGAN, FIRMA, CV, PT, BUMN, KOPERASI

Keterangan Perorangan Firma CV PT Koperasi BUMN


umumnya bukan umumnya bukan
Pengguna Jasa bukan pemilik umumnya bukan pemilik anggota/umum masyarakat
pemilik pemilik
sekutu usaha yang
pemilik usaha individu sekutu usaha terdiri dari sekutu pemegang saham anggota pemerintah
aktif dan sekutu pasif
yang punya hak
pemilik para sekutu sekutu aktif pemegang saham biasa anggota pemerintah
suara
biasanya menurut menurut besarnya saham satu anggota satu suara
pelaksanaan voting tidak perlu besarnya modal yang dimiliki melalui dan tidak boleh
penyertaan RUPS diwakilkan
penentuan orang yang
para sekutu sekutu aktif direksi pengurus pemerintah
kebijaksanaan bersangkutan
balas jasa terhadap
tidak terbatas tidak terbatas tidak terbatas tidak terbatas terbatas tidak terbatas
modal
penerima orang yang para sekutu secara sesuai perjanjian yang pemegang saham secara anggota sesuai
rakyat, negara
keuntungan bersangkutan proporsional telah disepakati proporsional jasa/partisipasi
pemegang saham
yang bertanggung anggota sejumlah modal
pemilik para sekutu sekutu aktif sejumlah saham yang pemerintah
jawab terhadap rugi ekuitas
dimiliki

Sektor Usaha
Segi-segi yang Swasta Badan Usaha
No
dibandingkan Koperasi Milik Negara
Perorangan Persekutuan Perseroan Terbatas (Persero)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1 Siapa pengguna Bukan pemilik. Umumnya bukan Umumnya bukan Terutama anggota Umum/ Anggota
jasanya? Pelanggan pemilik. Pelanggan pemilik. Pelanggan Masyarakat
2 Siapa pemilik Perorangan Para sekutu usaha Pemegang saham Para anggota Pemegang saham
usahanya?
3 Siapa-siapa yang Tidak diperlukan Para sekutu usaha Pemegang saham biasa Para anggota Pemegang saham
mempunyai hal (Common Stockholders)
suara?
4 Bagaimana voting Tidak diperlukan Biasanya menurut Menurut besarnya saham Satu anggota satu suara Berdasarkan jumlah
itu dilakukan? besarnya modal yang dimilikinya. pada Rapat Anggota dan saham yang
penyertaan sekutu usaha Dilakukan melalui tidak boleh diwakilkan imilikinya
RUPS.
5 Siapa yang Orang yang Para sekutu usaha Direksi Pengurus. Direksi
menentukan bersangkutan Dalam hal-hal tertentu
kebijaksanaan memerlukan pengesahan
perusahaan? dari Rapat Anggota
6 Apa balas jasa Tidak Tidak Tidak Ya, maksimum 8% tidak
atas modal itu
terbatas?
7 Siapa yang Orang yang Para sekutu usaha Para pemegang saham Anggota, sesuai dengan Pemegang saham
menerima hasil bersangkutan proportional dengan jasa proportional dengan jasa/ partisipasinya
dari usaha mereka dalam usaha jumlah saham yang
tersebut? tesebut imilikinya
8 Siapa yang Pemilik yang Para sekutu usaha Pemegang saham atas Anggota, atas sejumlah Pemegang saham
bertanggung bersangkutan sejumlah saham yang modal equity (simpanan
jawab terhadap dimilikinya. pokok & wajib).
kerugian?

Perbedaan Antara Koperasi dan Peseroan Terbatas

Koperasi Perseroan Terbatas

Tujuan 1. Tujuan
Tidak semata-mata mencari Mencari keuntungan sebesar-
Koperasi Perseroan Terbatas

keuntungan, tetapi terutama untuk besarnya


memperbaiki kesejahteraan para
anggota.
Keanggotaan, Modal dan
2. Keanggotaan, Modal dan
Keuntungan Keuntungan
Anggota adalah yang utama, jadi Modal adalah primer. Jadi
Koperasi adalah kumpulan dari merupakan kumpulan modal.
orang-orang. Modal adalah sebagai Orang adalah sekunder. Jumlah
alat. Keuntungan yang diperoleh modal menentukan besarnya hak
dibagi kepada anggota menurut jasa suara dan keuntungan dibagi
masing-masing. menurut besar/kecilnya modal.
Tanda Peserta 3. Tanda Peserta
Koperasi hanya mengenal satu Dinamakan pesero atau saham.
macam keanggotaan dan tanda Terdapat lebih dari satu jenis
peserta tidak boleh diperjual saham dan masing-masing jenis
belikan. mempunyai hak yang berbeda-beda.
Selain itu saham bole
diperjualbelikan.
Pemilikan dan Hak suara 4. Pemilikan dan Hak suara
Tidak ada perbedaan hak suara Saham dapat terpusat pada satu
diantara sesame anggota. Satu atau beberapa orang, sehingga bias
anggota satu suara dan hak suara terjadi konbsentrasi modal, dengan
tidak boleh diwakilkan (no voting by konsentrasi bahwa kebijaksanaan
proxy). perusahaan tersebut bias hanya
ditentukan oleh satu atau dua
orang saja, di mana saham
terpusat. Hak suara bole
diwakilkan.
Cara Bekerja 5. Cara Bekerja
Koperasi bekerja secara terbuka Cara bekerja tidak terbuka dan
dan diketahui oleh semua anggota. direksi memegang peranan dalam
pengelolaan usaha (organisasi).