Anda di halaman 1dari 14

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Air
Air merupakan bahan esensial bagi hidupnya organisme, oleh karena itu air selalu penuh
dengan benda-benda hidup. Manusia dan makhluk-makhluk lain yang tidak hidup di dalam air
senantiasa mencari tempat-tempat tinggal dekat air supaya mudah mengambil air untuk
keperluan hidupnya, maka desa atau kota zaman dulu tumbuh di sekitar sumber air, di tepi
sungai, atau di tepi danau. Sesudah manusia lebih maju, tempat tinggalnya tidak perlu dekat air
dengan sumber jauh yang disalurkan dengan pipa dan didistribusikan (Prawiro, 1989).
Pentingnya air di dalam tubuh manusia, berkisar antara 50%70% dari seluruh total berat
badan. Tulang manusia mengandung air sebanyak 22% berat tulang, dalam darah dan ginjal
sebanyak 83%. Pentingnya air bagi kesehatan dapat dilihat dari jumlah air yang ada di dalam
organ, 80% dari darah terdiri atas air, dalam tulang mengandung 25%, sedangkan dalam urat
syaraf terdapat 75% air, dalam ginjal mengandung 80% air, dalam hati 70% air, dan otot 75% air.
Kekurangan air menyebabkan penyakit batu ginjal dan kandung kemih, karena terjadi kristalisasi
unsur-unsur yang ada di dalam cairan tubuh. Kehilangan air sebanyak 15% dari berat badan
dapat mengakibatkan kematian. Kebutuhan minum orang dewasa adalah minimum 1,52 liter air
sehari (Slamet, 2004).
Selain pentingnya air bagi tubuh manusia, air dibutuhkan bagi kehidupan lainnya, baik
untuk kebutuhan hidup sehari-hari yaitu keperluan untuk kebutuhan domestik rumah tangga
maupun kebutuhan dalam pertanian, industri, perikanan, pembangkit listrik tenaga air, dan
navigasi, serta rekreasi (Soerjani, 1997).
Air tawar bersih yang layak minum, demikian langka di perkotaan. Sungai-sungai yang
menjadi sumbernya sudah tercemar berbagai macam limbah, mulai dari buangan sampah
organik, rumah tangga hingga limbah beracun dari industri. Air tanah sudah tidak aman dijadikan
bahan air minum karena telah terkontaminasi rembesan dari tangki septik maupun air permukaan
(Pudjarwoto, 1993).
Air merupakan komponen esensial bagi kehidupan jasad hidup. Akan tetapi dapat juga
merupakan suatu substansi yang membawa malapetaka, karena air dapat membawa
mikroorganisme patogen dan zat-zat kimia yang bersifat racun (Gause, 1946).
Banyaknya kontaminan dalam air memerlukan standar tertentu untuk menjamin
kebersihannya. Air yang terkontaminasi oleh bakteri patogen saluran cerna sangat berbahaya
untuk diminum. Hal ini dapat dipastikan dengan penemuan organisme yang ada dalam tinja
manusia atau hewan dan yang tidak pernah terdapat bebas di alam. Ada beberapa organisme yang
termasuk kategori ini, yaitu bakteri Coliform (Escherichia coli), Enterococcus
faecalis,danClostridium. Di Indonesia, bakteri indikator air terkontaminasi adalahEscherichia
coli (Gause, 1946).
2.2 Bakteri Coliform
Bakteri Coliform adalah jenis bakteri yang umum digunakan sebagai indikator penetuan
kualitas sanitasi makanan dan air. Coliform sendiri sebenarnya bukan penyebab dari penyakit-
penyakit bawaan air, namun bakteri jenis ini mudah untuk dikultur dan keberadaannya dapat
digunakan sebagai indikator keberadaan organisme patogen seperti bakteri lain, virus atau
protozoa yang banyak merupakan parasit yang hidup dalam sistem pencernaan manusia serta
terkandung dalam feses. Organisme indikator digunakan karena ketika seseorang terinfeksi oleh
bakteri patogen, orang tersebut akan mengekskresi organisme indikator jutaan kali lebih banyak
dari pada organisme patogen. Hal inilah yang menjadi alasan untuk menyimpulkan bila tingkat
keberadaan organisme indikator rendah maka organisme patogen akan jauh lebih rendah atau
bahkan tidak ada sama sekali (Servais, 2007).
Bakteri Coliform dijadikan sebagai bakteri indikator karena tidak patogen, mudah serta
cepat dikenal dalam tes laboratorium serta dapat dikuantifikasikan, tidak berkembang biak saat
bakteri patogen tidak berkembang biak, jumlahnya dapat dikorelasikan dengan probabilitas
adanya bakteri patogen, serta dapat bertahan lebih lama daripada bakteri patogen dalam
lingkungan yang tidak menguntungkan (Slamet, 2004).
Bakteri Coliform adalah bakteri indikator keberadaan bakteri patogenik lain. Lebih
tepatnya, sebenarnya, bakteri Coliform fekal adalah bakteri indikator adanya pencemaran bakteri
patogen. Penentuan Coliform fekal menjadi indikator pencemaran dikarenakan jumlah koloninya
pasti berkorelasi positif dengan keberadaan bakteri patogen. Selain itu, mendeteksi Coliform jauh
lebih murah, cepat, dan sederhana daripada mendeteksi bakteri patogenik lain. Contoh
bakteri Coliform adalah, Esherichia coli dan Entereobacter aerogenes. Jadi, Coliform adalah
indikator kualitas air. Makin sedikit kandungan Coliform, artinya, kualitas air semakin baik.
(Friedheim, 2001).
Eschericia coli, merupakan anggota Coliform yang dapat dibedakan dari
bakteri Coliform lain karena kemampuannya memfermentasikan laktosa pada suhu 44C (pada
JPT hal ini dilakukan pada tahap terakhir atau saat uji kelengkapan). Pengidentifikasian dapat
dilihat dari pertumbuhan dan reaksi yang memberikan warna berbeda pada media kultur khusus.
Saat dikulutur pada media EMB, hasil positif E. coli adalah koloni berwarna hijau metalik. Tidak
seperti golongan Coliform pada umumnya, E. coli merupakan bakteri yang berasal dari feses dan
kehadirannya efektif mengkonfirmasi adanya kontaminasi fekal pada badan air. Umumnya, pada
feses, E. coli ada sebanyak 11% dariColiform (Slamet, 2004).
2.3 Metode MPN
Jumlah mikroorganisme dapat dihitung melalui beberapa cara, namun secara mendasar
dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu perhitungan langsung dan tidak langsung. Perhitungan
secara langsung dapat mengetahui beberapa jumlah mikroorganisme pada suatu bahan pada suatu
saat tertentu tanpa memberikan perlakuan terlebih dahulu, sedangkan jumlah organisme yang
diketahui dari cara tidak langsung terlebih dahulu harus memberikan perlakuan tertentu sebelum
dilakukan perhitungan. Perhitungan secara langsung, dapat dilakukan dengan beberapa cara
antara lain adalah dengan membuat preparat dari suatu bahan (preparat sederhana diwarnai atau
tidak diwarnai) dan penggunaan ruang hitung (counting chamber). Sedangkan perhitungan cara
tidak langsung hanya untuk mengetahui jumlah mikroorganisme pada suatu bahan yang masih
hidup saja (viable count). Dalam pelaksanaannya, ada beberapa cara yaitu, perhitungan pada
cawan petri (total plate count/TPC), perhitungan melalui pengenceran, perhitungan jumlah
terkecil atau terdekat (Metode MPN) dan kalorimeter (cara kekeruhan atau turbidimetri). Metode
perhitungan MPN sering digunakan dalam pengamatan untuk menghitung jumlah bakteri yang
terdapat di dalam tanah seperti Nitrosomonas danNitrobacter. Kedua jenis bakteri ini memegang
peranan penting dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman, sehubungan dengan
kemampuannya dalam mengikat N2 dari udara dan mengubah amonium menjadi
nitrat (Dwidjoseputro, 1994).
Metode MPN merupakan salah satu metode perhitungan secara tidak langsung. Metode
MPN terdiri dari tiga tahap, yaitu uji pendugaan (presumptive test), uji konfirmasi (confirmed
test), dan uji kelengkapan (completed test). Dalam uji tahap pertama, keberadaan Coliform masih
dalam tingkat probabilitas rendah, masih dalam dugaan. Uji ini mendeteksi sifat
fermentatif Coliformdalam sampel (Lim, 1998).
Dalam metode MPN, pengenceran harus dilakukan lebih tinggi daripada pengenceran
dalam hitungan cawan, sehingga beberapa tabung larutan hasil pengenceran tersebut
mengandung satu sel jasad renik. Beberapa tabung mungkin mengandung lebih dari satu sel,
sedangkan tabung lainnya tidak mengandung sel. Dengan demikian setelah inkubasi diharapkan
terjadi pertumbuhan pada beberapa tabung yang dinyatakan sebagai tabung positif sedang tabung
lainnya negatif. Metode MPN biasanya digunakan untuk menghitung jumlah mikroba di dalam
contoh yang berbentuk cair, meskipun dapat pula digunakan untuk contoh berbentuk padat
dengan melakukan pengenceran terlebih dahulu (Fardiaz, 1996).
Metode MPN merupakan uji deretan tabung yang menyuburkan
pertumbuhan Coliform sehingga diperoleh nilai untuk menduga jumlahColiform dalam sampel
yang diuji. Uji positif akan menghasilkan angka indeks. Angka ini disesuaikan dengan tabel
MPN untuk menentukan jumlah Coliformdalam sampel (Pakadang, 2010).
Metode MPN biasanya dilakukan untuk menghitung jumlah mikroba di dalam contoh
yang berbentuk cair, meskipun dapat pula digunakan untuk contoh berbentuk padat dengan
terlebih dahulu membuat suspensi 1:10 dari contoh tersebut. Metode MPN digunakan medium
cair di dalam tabung reaksi, dimana perhitungannya dilakukan berdasarkan jumlah tabung yang
positif yaitu yang ditumbuhi oleh jasad renik setelah inkubasi pada suhu dan waktu tertentu.
Pengamatan tabung yang positif dapat dilihat dengan mengamati timbulnya kekeruhan atau
terbentuknya gas di dalam tabung kecil (tabung durham) yang diletakkan pada posisi terbalik,
yaitu untuk jasad renik pembentuk gas. Untuk setiap pengenceran pada umumnya digunakan tiga
atau lima seri tabung. Lebih banyak tabung yang digunakan menunjukkan ketelitian yang lebih
tinggi, tetapi alat gelas yang digunakan juga lebih banyak (Fardiaz, 1996).
Untuk metode MPN (most probable number) digunakan medium cair dalam wadah
berupa tabung reaksi, perhitungan di lakukan berdasarkan jumlah tabung yang positif yaitu
tabung yang mengalami perubahan pada mediumnya baik itu berupa perubahan warna atau
terbentuknya gelembung gas pada dasar tabung durham. Pada metode perhitungan MPN ini
digunakan bentuk tiga seri pengenceran, yang pertama 10-1, 10-2 dan 10-3. Kemudian dari hasil
perubahan tersebut dicari nilai MPNnya pada tabel nilai MPN, dan untuk jumlah bakterinya
maka digunakan rumus (Gobel, 2008).
Tabel yang digunakan untuk menentukan nilai MPN dari tiga seri tabung berbeda dengan
tabel lima seri tabung. Kombinasi yang dipilih mulai dari pengenceran tertinggi yagn masih
menghasilkan semua tabung positif sedangkan pada pengenceran yang berikutnya ada tabung
yang negatif. Kombinasi yang diambil terdiri dari tiga pengenceran. Jika pada pengenceran yang
keempat atau seterusnya masih diketemukan tabung yang hasilnya positif, maka jumlah tabung
yang positif tersebut harus ditambahkan pada angka kombinasi yang ketiga sampai mencapai
jumlah maksimum (Volk, 1993).
Beberapa jenis bakteri selain Coliform juga memiliki sifat fermentatif, sehingga
diperlukan uji konfirmasi untuk mengetes kembali kebenaran adanyaColiform dengan bantuan
medium selektif diferensial. Uji kelengkapan kembali meyakinkan hasil tes uji konfirmasi
dengan mendeteksi sifat fermentatif dan pengamatan mikroskop terhadap ciri-
ciri Coliform seperti, berbentuk batang, gram negatif, tidak-berspora. Output metode MPN
adalah nilai MPN. Nilai MPN adalah perkiraan jumlah unit tumbuh (growth unit) atau unit
pembentuk koloni (colony forming unit) dalam sampel. Namun, pada umumnya nilai MPN juda
diartikan sebagai perkiraan jumlah individu bakteri. Satuan yang digunakan, umumnya per 100
mL atau per gram. Metode MPN memiliki limit kepercayaan 95 persen sehingga pada setiap nilai
MPN, terdapat jangkauan nilai MPN terendah dan nilai MPN tertinggi (Lim, 1998).
Uji penduga merupakan uji positif untuk menentukan bakteri Coliform. Media yang
digunakan ialah media Lactose Broth. Bakteri dapat menggunakan laktosa sebagai sumber
karbon, namun ada pula sebagian bakteri enteric yang tidak dapat melakukannya. Kaldu laktosa
mengandung surface tension depressant yang menekan pertumbuhan bakteri gram positif dan
memacu bakteri gram negatif terutama bakteri Coliform. Hasil uji penguat yang positif atau
meragukan menyatakan bahwa sampel air tidak layak untuk diminum. Uji penguat memerlukan
media selektif dan diferensial seperti Eosin-Biru Metilenatau ENDO agar yang akan diinokulasi
dari tabung laktosa yang positif. Uji pelengkap, uji ini merupakan tahap akhir analisis bakteri
dari contoh air. Uji pelengkap dilakukan dengan pewarnaan gram (Volk, 1993).

BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Adapun waktu dan tempat dilaksanakannya praktikum uji kualitas air dengan
menggunakan metode MPN adalah :
Hari/Tanggal : Sabtu, 4 Mei 2013
Waktu : 13.00 WITA-Selesai
Tempat : Laboratorium Terpadu Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan Universitas Tadulako.
3.2 Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum uji kualitas air dengan
menggunakan metode MPN adalah :
3.2.1 Alat
1. Pipet tetes
2. Rak tabung
3. Tabung reaksi
4. Gelas ukur 10 ml
5. Tabung durham
6. Bunsen
7. Inkubator
8. Handsprayer
3.2.2 Bahan
1. Sampel air (air sumur, air sungai dan air galon)
2. Medium Brilliant Green Lactase Bilebroth (BGLB)
3. Medium Laktose Broth (LB)
4. Medium Escherichia coli (EC)
5. Aquades steril
6. Alkohol 70%
7. Korek api
8. Spiritus
9. Label
3.3 Prosedur Kerja
3.3.1 Pengenceran
1. Menyiapkan 9 tabung reaksi dan memberikan label pada masing-masing tabung dengan tanda
10-1, 10-2 dan 10-3.
2. Mengisi tabung reaksi masing-masing 9 ml aquadest steril yang telah di ukur dengan
menggunakan gelas ukur.
3. Menambahkan sampel air sumur dan air sungai masing-masing 1 ml dengan menggunakan pipet
tetes ke dalam tabung yang telah berisi aquades steril pada tabung pengenceran 10 -1, kemudian
mengocok agar tercampur secara homogen. Air galon tidak dilakukan pengenceran karena telah
melalui proses sterilisasi.
4. Menambahkan 1 ml sampel dari pengenceran 10-1 ke dalam tabung pengenceran 10-2, kemudian
mengocok sehingga tercampur secara homogen.
5. Menambahkan 1 ml sampel dari pengenceran 10-2 ke dalam tabung pengenceran 10-3, kemudian
mengocok sehingga tercampur secara homogen.
6. Perlakuan pada poin 3-5 dilakukan sebanyak 3 kali pada tabung reaksi yang lain.
3.3.2 Uji Pendugaan
1. Memfiksasi mulut tabung media LB (Lactose Broth) pada api Bunsen kemudian menambahkan
masing-masing 5 ml/100 tetes dari tabung pengenceran 10 -1 ke dalam 3 tabung media Lactose
Broth (LB), dan kembali memfiksasi tabung reaksi dan menutup dengan kapas.
2. Memfiksasi mulut tabung media LB (Lactose Broth) kemudian menambahkan masing-masing 1
ml/20 tetes dari tabung pengenceran 10-2 ke dalam 3 tabung media Lactose Broth (LB), dan
kembali memfiksasi tabung reaksi dan menutup dengan kapas.
3. Memfiksasi mulut tabung media LB (Lactose Broth) kemudian menambahkan masing-masing
0.5 ml/10 tetes dari tabung pengenceran 10-3 ke dalam 3 tabung media Lactose Broth (LB), dan
kembali memfiksasi tabung reaksi dan menutup dengan kapas.
4. Menghomogenkan secara perlahan pada seluruh tabung agar sampel menyebar rata keseluruh
media.
5. Menginkubasikan seluruh tabung pada suhu 340C selama 24 jam.
7. Mengamati adanya gelembung udara di dalam tabung durham dan mencatat kode tabung yang
positif mengeluarkan gas.
3.3.3 Uji Penegasan
1. Mengambil sampel air dari tabung LB yang positif yang ditandai adanya gelembung pada tabung
durham kemudian memasukkan sebanyak 2 tetes kedalam tabung BGLB dan EC medium untuk
pemeriksaan total Coliform.
2. Menginkubasi media BGLB dan EC pada suhu 34oC selama 24 jam.
3. Mencatat jumlah tabung yang menunjukkan tes penegasan positif.
4. Menentukan nilai MPN Coliform berdasarkan tabel MPN yang terdapat pada lampiran.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
4.2.1 Tabel Hasil Pengamatan Uji Pendugaan

No. Sampel MPN


-1
10 10-2 10-3
1. Air sumur 3 0 1
2. Air sungai Poboya 2 2 0
3. Air gallon 0 0 0

4.1.2 Tabel Hasil Pengamatan Uji Penegasan

Tingkat Gambar Medium Keterangan


No. Pengenceran
BGLB EC BGLB EC

10-1 + +
Air sumur

1.

10-1 + +
Air Sumur

10-1 + +
Air sumur

2. 10-3 + +
Air sumur
10-1 + +
Air sungai
3.

10-1 + +
Air sungai

10-2 + +
Air sungai
4.

10-2 + +
Air sungai

4.2 Pembahasan
Metode MPN merupakan salah satu metode perhitungan secara tidak langsung. Metode
MPN terdiri dari tiga tahap yaitu, uji dugaan (presumptive test), uji penetapan (confirmed test),
dan uji pelengkap (completed test). Metode MPN biasanya dilakukan untuk menghitung jumlah
mikroba di dalam contoh yang berbentuk cair, meskipun dapat pula digunakan untuk contoh
berbentuk padat.
Untuk metode MPN (Most Probable Number) digunakan medium cair dalam wadah
berupa tabung reaksi, perhitungan di lakukan berdasarkan jumlah tabung yang positif yaitu
tabung yang mengalami perubahan pada mediumnya baik itu berupa perubahan warna atau
terbentuknya gelembung gas pada dasar tabung durham. Pada metode perhitungan MPN ini
digunakan bentuk tiga seri pengenceran, yang pertama 10-1, 10-2, dan 10-3.
Adapun sampel air yang diujikan untuk mengetahui kualitas air yaitu air sumur, air
sungai Poboya dan air galon. Sebelum semua prosedur kerja dilakukan terlebih
dahulu tangan harus disterilkan menggunakan alkohol 70% yang disemprotkan ke seluruh
permukaan tangan yang bertujuan untuk mencegah terjadinya kontaminan bakteri. Langkah
selanjutnya dilakukan pengenceran pada sampel air sumur dan air sungai. Sampel air galon tidak
dilakukan pengenceran karena telah melalui beberapa proses sterilisasi sehingga mikroorganisme
yang berada pada sampel air galon ikut tersaring pada proses sterilisasi. Pengenceran dilakukan
dengan menggunakan aquades steril yang bertujuan untuk menimalisir jumlah bakteri yang
terdapat pada medium yang digunakan, karena aquades adalah air dari hasil fermentasi yang
tidak terdapat bakteri didalamnya sehingga pada pencampuran medium dengan bahan yang
diujikan akan menangkap mikroorganisme yang terkandung di dalamnya sehingga mudah untuk
diamati. Pengenceran dilakukan dengan menggunakan tiga seri tabung pengenceran 10-1, 10-2 dan
10-3.
Pada uji pendugaan dilakukan dengan menginkubasi sampel air yang telah dimasukkan
ke dalam tabung reaksi yang berisi medium Lactose Brothdan tabung durham. Sebelum sampel
air dari pengenceran dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi medium Lactose
Broth bagian pinggir dari tabung reaksi difiksasi pada api bunsen, tujuan dari perlakuan fiksasi
ini adalah untuk menjaga kesterilan dari media sehingga tidak terkontaminasi dengan
udara. Lactose broth digunakan sebagai media untuk mendeteksi kehadiranColiform dalam air,
makanan, produk susu, dan mempelajari fermentasi laktosa oleh bakteri pada umumnya.
Medium Lactose broth memiliki komposisi 0.3% ekstrak beef, 0.5% pepton, dan 0.5% laktosa.
Pepton dan ekstrak beef menyediakan nutrien esensial untuk metabolisme bakteri. Laktosa
menyediakan sumber karbohidrat yang dapat difermentasi untuk organisme Coliform. Pada
tabung reaksi diletakkan tabung durham secara terbalik, fungsi dari tabung durham adalah untuk
mengetahui terbentuknya gas gelembung atau untuk menangkap gas yang ditimbulkan akibat
adanya fermentasi laktosa menjadi asam dan gas.
Setelah melakukan uji pendugaan dilanjutkan dengan uji penegasan. Uji penegasan
berfungsi untuk meyakinkan hasil positif yang ada pada uji pendugaan. Medium yang digunakan
dalam uji penegasan ini yaitu mediumBrilliant Green Lactase Bilebroth (BGLB)
yang merupakan media yang akan berwarna hijau metalik jika terdapat reaksi fermentasi dengan
media. Warna ini berasal dari adanya koloni Coliform yang bereaksi dengan BGLB. E.
Colimerupakan bakteri fermentasi, seringkali menghasilkan warna hijau metalik
mengkilap. Brilliant Green Lactose Bile Broth, dibuat dari peptone, lactose, oxgall, brilliant
green, dan aquades. Fungsi dari medium BGLB adalah untuk mendeteksi bakteri Coliform yang
ada pada air. Medium kedua yang digunakan pada uji penegasan ini adalah Medium Escherichia
coli (EC) yang berfungsiuntuk mendeteksi adanya bakteri Eschericia coli pada air yang diujikan.
Pada hasil pengamatan uji pendugaan hasil positif ditandai dengan adanya gelembung
pada tabung durham yang berarti terjadi proses fermentasi laktosa menjadi asam dan gas. Pada
sampel air sumur MPN 10-1 terdapat hasil positif dari ketiga tabung tersebut. Pada MPN 10 -
2
terdapat ketiga tabung menunjukkan hasil yang negatif. Sedangkan pada MPN 10 -3 terdapat
hasil positif pada tabung pertama dan negatif pada tabung kedua dan ketiga. Setelah ditentukan
nilai MPN Coliform berdasarkan tabel MPN dengan formasi 3-0-1 nilai MPN/g dari air sumur
adalah 38 atau dalam sampel air tersebut mengandung Coliform 38/100 ml air pada setiap
gramnya.
Setelah melakukan uji pendugaan dilanjutkan dengan uji penegasan. Hasil positif pada
medium BGLB menandakan bahwa air yang diujikan mengandung bakteri Coliform non fekal,
sedangkan hasil positif pada medium EC menandakan keberadaan bakteri Escherichia coli. Pada
hasil pengamatan uji penegasan air sumur pada pengenceran MPN 10 -1 pada ketiga tabung
didapatkan hasil positif pada medium BGLB dan EC, yang ditandai dengan terjadinya perubahan
warna dan terdapat gelembung pada tabung durham. Pada uji penegasan air sumur pada
pengenceran MPN 10-2 pada semua tabung didapatkan hasil negatif. Pada uji penegasan air
sumur pada pengenceran MPN 10-3 hanya satu tabung yang didapatkan hasil positif pada medium
BGLB dan EC, yang ditandai dengan terjadinya perubahan warna dan terdapat gelembung pada
tabung durham. Perubahan warna terjadi dikarenakan aktivitas dari suatu
mikroorganisme. Gelembung udara yang dihasilkan pada tabung durham disebabkan oleh adanya
aktivitas respirasi mikroorganisme, sehingga dapat dilihat hasil dari respirasi mikroorganisme
tersebut berupa gelembung gas. Berdasarkan hal ini pada pengujian air pada air sumur
pengenceran 10-1 dan 10-3 bakteri yang terdapat pada air sumur merupakan bakteri Coliform non
fekal yang merupakan spesies bakteri Escherichia coli.
Pada hasil pengamatan uji pendugaan didapatkan pada sampel air sungai MPN 10 -
1
terdapat hasil negatif pada tabung pertama dan terdapat hasil positif pada tabung kedua dan
ketiga. Pada MPN 10-2 terdapat hasil positif di tabung pertama dan kedua, dan hasil negatif pada
tabung ketiga. Sedangkan pada MPN 10-3 ketiga tabung menunjukkan hasil negatif. Setelah
ditentukan nilai MPNColiform berdasarkan tabel MPN dengan formasi 2-2-0 nilai MPN/g
adalah 21atau dalam sampel air tersebut mengandung Coliform 21/100 ml air.
Pada hasil pengamatan uji penegasan air sungai pada pengenceran MPN 10 -1 dua tabung
didapatkan hasil positif pada medium BGLB dan EC, yang ditandai dengan terjadinya perubahan
warna dan terdapat gelembung pada tabung durham. Pada hasil pengamatan uji penegasan air
sungai pada pengenceran MPN 10-2 dua tabung didapatkan hasil positif pada medium BGLB dan
EC, yang ditandai dengan terjadinya perubahan warna dan terdapat gelembung pada tabung
durham. Perubahan warna terjadi dikarenakan aktivitas dari suatu mikroorganisme. Gelembung
udara yang dihasilkan pada tabung durham disebabkan oleh adanya aktivitas respirasi
mikroorganisme, sehingga dapat dilihat hasil dari respirasi mikroorganisme tersebut berupa
gelembung gas. Sedangkan pada tabung pengenceran 10 -3 semuanya menunjukkan hasil negatif.
Berdasarkan hal ini pada pengujian air pada air sumur pada pengenceran 10 -1 dan 10-2 bakteri
yang terdapat pada air sumur merupakan bakteri Coliform non fekal yang merupakan spesies
bakteri Escherichia coli.
Hal ini berarti sampel air sumur dan air sungai sudah diambang batas, karena menurut
Standar WHO yakni 95% dari sampel-sampel tidak boleh mengandung Coliform dalam 100 ml,
tidak ada sampel yang mengandung E. coli dalam 100 ml, tidak ada sampel yang
mengandung Coliform lebih dari 10 dalam 100 ml. Jadi dari kedua sampel tersebut sudah tidak
layak/aman untuk dikonsumsi sebab jumlah bakteri Coliform sudah pada ambang batas.
Berdasarkan data yang diperoleh maka dapat dijelaskan, bahwa mikroba yang terbentuk dalam
tabung reaksi memerlukan oksigen untuk hidup, sehingga mikroba tersebut tergolong ke dalam
bakteri aerob, dan salah satu cara untuk mengenali adanya mikroba dapat dilihat dari
terbentuknya gas pada tabung yang menandakan tabung bersifat positif.
Pada hasil pengamatan uji pendugaan didapatkan pada sampel air galon MPN 10 -1, 10-
2
dan 10-3 semuanya menunjukkan hasil negatif. Pada sampel air galon selanjutnya tidak
dilakukan uji penegasan karena sampel air tersebut tidak terdapat mikroorganisme, karena telah
melalui proses sterilisasi sehingga bakteri dan kotoran yang terdapat sebelumnya ikut tersaring
pada proses sterilisasi. Setelah dicocokkan dengan tabel MPN bahwa perbandingan tabung
positif adalah 0-0-0 nilai MPN/g adalah < 3 atau dalam sampel air tersebut
mengandung Coliform < 3/100 ml air.
Pada sampel air galon pada pengenceran 10-1, 10-2, 10-3 pada tabung
reaksi semuanya menunjukkan hasil negatif pada uji pendugaan sehingga tidak dilanjutkan pada
uji penegasan. Hal ini dikarenakan air galon tersebut telahmengalami proses filterisasi, dimana
pada saat proses filterisasi mikroorganisme dan kotoran lain yang ada pada air ikut terfiltrasi
(tersaring).Hal ini menandakan bahwa air ini aman untuk dikonsumsi.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dari uji kualitas air dengan menggunakan
metode MPN dapat diambil kesimpulan bahwa:
1. Metode yang digunakan dalam pemeriksaan kualitas air adalah metode MPN (Most Probable
Number) karena metode ini dapat mendeteksiColiform dalam jumlah yang sangat
rendah. Metode MPN terdiri dari tiga tahap, yaitu uji pendugaan (presumptive test), uji
konfirmasi (confirmed test), dan uji kelengkapan (completed test). Metode MPN (most probable
number) menggunakan medium cair dalam wadah berupa tabung reaksi, perhitungan di lakukan
berdasarkan jumlah tabung yang positif yaitu tabung yang mengalami perubahan pada
mediumnya baik itu berupa perubahan warna atau terbentuknya gelembung gas pada dasar
tabung durham.
2. Kualitas air pada sampel air sumur dan air sungai yang diuji tidak
layakuntuk dikonsumsi sebagai air minum sebab jumlah bakteri Coliform sangat banyak pada
jenis air sampel sehingga akan berbahaya bila dikonsumsi, jumlah bakteri yang
terdapat pada sampel air sumur mengandung Coliform38/100 mlair dan jumlah bakteri yang
terdapat pada sampel air sungaimengandung Coliform 21/100 ml air. Sedangkan pada air galon
kualitas air dalam air galon sudah baik sehingga dapat digunakan minum serta keperluan sehari-
hari, dimana pada sampel air galon mengandung Coliform< 3/100 ml air.
5.2 Saran
Adapun saran yang dapat ingin disampaikan adalah sebaiknya di dalam pelaksanaan
praktikum kali ini waktu yang telah ditetapkan digunakan sebaik-baiknya sehingga praktikum
dapat berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan.Selain itu sampel yang diujikan dapat diganti
untuk praktikum selanjutnya,sehingga dapat diketahui kualitas air yang diujikan selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Dwidjoseputro. 1994. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan. Jakarta.
(http://yayanajuz.blogspot.com/2012/06/laporan-mengukur-kualitasairdengan html) Di akses
pada tanggal 6 Mei 2013 pukul 20.34 WITA.

Fardiaz. 1996. Analisis Mikrobiologi Pangan. PT Radja Grafindo Persada. Jakarta. (http://dunia-
mikro.blogspot.com/) Di akses pada tanggal 6 Mei 2013 pukul 20.56 WITA.

Friedheim. 2001. Bacteriological Analytical Manual. John Wiley & Sons Inc. New York.Dikutip dari
tulisan Hariyono Purbowarsito. 2011. Uji Bakteriologis Air Sumur
diKecamatan Semampir Surabaya. Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga.
Surabaya.(http://journal.unair.ac.id/index.php/mik/article/download/1430/1520). Di akses pada
tanggal 6 Mei 2013 pukul 21.38 WITA.

Gause. 1946. Media Pertumbuhan Mikroorganisme. Rajawali Press. Jakarta.


(http://anyleite.wordpress.com/category/laporan-praktikum-mikrobiologi/) Di akses pada
tanggal 6 Mei 2013 pukul 21.25 WITA.

Gobel. 2008. Mikrobiologi Umum Dalam Praktek. Universitas Hasanuddin,


Makassar. (http://rahdie.blogsome.com/) Di akses pada tanggal 6 Mei 2013 21.15 WITA.

Lim. 1998. Microbiology, 2nd Edition. McGraw-Hill Book. New York. (http://dunia-
mikro.blogspot.com/) Diakses pada tanggal 6 Mei 2013 pukul 20.56 WITA.

Pakadang. 2010. Buku Penuntun Praktikum Mikrobiologi Farmasi. Jurusan Farmasi Politeknik
Kesehatan Depkes Makassar. Makassar.(http://anyleite.wordpress.com/category/laporan-
praktikum-mikrobiologi/) Di akses pada tanggal 6 Mei 2013 pukul 21.25 WITA.

Prawiro, 1989. Uji Mikrobiologi Air Minum Yang Dikonsumsi oleh Masyarakat Desa Deket Wetan Kec.
Deket Kab. Lamongan. Universitas Airlangga. Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Airlangga. Surabaya. (http://www.f-
mipa.unair.ac.id/artikel1/2011/Prawiro%20060610097%20%20Artikel%20Ilmiah.pdf)Di akses
pada tanggal 6 Mei 2013 pukul 21.49 WITA.

Pudjarwoto. 1993. Water Quality Conservatiom For The Citarum River In West Java.Great Britain. Di
kutip dari tulisan Garneta Radina Badiamurti. 2008.Korelasi Kualitas Air dan Insedensi Penyakit
Diare Berdasarkan Keberadaan Bakteri Coliform di Sungai Cikapundung. Program Studi Teknik
Lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung. Bandung.
(http://journal.itb.ac.id/index.php/jsv/article/download/310/230) Di akses pada
tanggal 6 Mei 2013 pukul 22.11 WITA.

Servais, Pierre. 2007. Fecal bacteria in the rivers of the Seine drainage network (France). Sources, fate
and modeling; Universit Libre de Bruxelles; Bruxelles. Di kutip dari tulisan Sasnita
Sahabuddin. 2010. Analisis Kualitas Air Minum Isi Ulang di Kabupaten Manokwari. Jurusan
Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Papua. Manokwari.
(http://journal.unip.ac.id/index.php/science/article/download/474/470) Di akses pada
tanggal 6 Mei 2013 pukul 21.49 WITA.

Slamet, Juli Soemirat. 2004. Kesehatan Lingkungan. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta. (http://johnbalya.blogspot.com/) di akses pada tanggal 6 Mei2013 pukul 21.48
WITA.

Soerjani. 1997. Laporan Pra Survey Danau Sentani Irian Jaya, dan Wilayah Sekitarnya. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Di kutip dari
tulisan Ima Fitha Patasik. 2010.Kualitas Sumber Air Minum Masyarakat Kampung Yokiwa
Distrik Sentani Timur Secara Bakteriologis. Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Cendrawasih. Jayapura.
(http://journal.lib.ac.id/index.php/JIPK/article/download/390/401) Di akses pada
tanggal 6 Mei 2013 pukul 22.05 WITA.

Sterrit. 1988. Microciology for Environmental and Public Health Engineers. E&F Spon Ltd. London. Di
kutip dari tulisan Mirna Sari Randa. 2012. Analisis Bakteri Coliform (Fekal dan Non Fekal)
Pada Air Sumur di Kompleks Roudi Manokwari. Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Negeri Papua. Manokwari.
(http://www4.webng.com/bioscientiae/v4n1/v4n1_sari.pdf) Di akses pada tanggal 6 Mei 2013
pukul 22.15 WITA.

Volk. 1993. Mikrobiologi Dasar Jilid 1, Edisi Kelima. Erlangga. Jakarta.(http://rahdie.blogsome.com/)


Di akses pada tanggal 6 Mei 2013 21.15 WITA.
Read Users' Comments (1)komentar

1 Response to "Uji Kualitas Air Menggunakan Metode MPN"


1. Putri Audia Aneti Kallista, on 8 Mei 2016 08.25 said:

ini sangat membantu;)

Poskan Komentar