Anda di halaman 1dari 39

Presentasi Kasus Besar

SEORANG PEREMPUAN 32 TAHUN DENGAN CHF NYHA IV A(x)


KARDIOMIOPATI DILATASI E(x) HIPERTENSI STAGE II DENGAN
OEDEM PULMONUM, EFUSI PLEURA BILATERAL, ASCITES
PERMAGNA, HIPERTENSI STAGE II

Oleh:
Asticha Erlianing Sari G99152052
Rafi Amanda Rezkia A. G99152048

Pembimbing

Eva Niamuzisilawati, dr., Sp.PD, M.Kes

KEPANITERAAN KLINIK SMF ILMU PENYAKIT DALAM


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR MOEWARDI
SURAKARTA

0
2017
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Kasus Kecil Ilmu Penyakit Dalam dengan judul:

SEORANG PEREMPUAN 32 TAHUN DENGAN CHF NYHA IV A(x)


KARDIOMIOPATI DILATASI E(x) HIPERTENSI STAGE II DENGAN
OEDEM PULMONUM, EFUSI PLEURA BILATERAL, ASCITES
PERMAGNA, HIPERTENSI STAGE II

Oleh:
Asticha Erlianing Sari G99152052
Rafi Amanda Rezkia A. G99152048

Telah disetujui untuk dipresentasikan pada tanggal:

Eva Niamuzisilawati, dr., Sp.PD, M.Kes

1
BAB I
STATUS PASIEN

I. ANAMNESIS
A. Identitas penderita
Nama : Ny. PL
Umur : 32 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah
No RM : 0136xxxx
Suku : Jawa
Pekerjaan : Pegawai
Pendidikan : SMP
Status : Menikah
Tanggal Masuk : 16 Januari 2017
Tanggal Periksa : 18 Januari 2017

B. Data dasar
Auto anamnesis dilakukan saat hari kedua perawatan di Bangsal
Mawar 1 kamar 3D RSUD Dr. Moewardi.

Keluhan utama:
Sesak napas sejak 1 minggu SMRS.

Riwayat penyakit sekarang:


Pasien mengeluh sesak napas sejak 1 minggu SMRS. Sesak
muncul pertama kali saat pasien habis mengangkut barang-barang berat
di toko. Sebelumnya pasien tidak ada keluhan saat melakukan aktivitas
yang sama. Sesak napas dirasakan berkurang dengan istirahat. Sesak
napas juga muncul saat pasien berbaring sehingga harus menggunakan 3
bantal saat tidur. Di malam hari pasien sering terbangun tiba-tiba karena
sesak napas. Sesak tidak dipengaruhi oleh cuaca, debu, dan emosi. Pasien
juga mengeluhkan adanya batuk yang biasanya muncul pada malam hari,
tidak berdahak dan tidak berdarah.

2
Sejak 2 hari SMRS pasien mengeluh sesak napas yang
bertambah berat. Sudah 2 hari pasien tidak melakukan pekerjaan apapun
tapi sesak napas tetap ada meskipun pasien beristirahat. Pasien tidak bisa
tidur karena sesak semakin bertambah jika posisi berbaring meskipun
sudah menggunakan 3 bantal. Sesak tidak dipengaruhi cuaca, debu, dan
emosi. Pasien masih mengeluhkan adanya batuk pada malam hari, tidak
berdahak dan tidak berdarah.

Pasien juga mengeluhkan perut membesar sejak 1 bulan yang lalu.


Perut membesar perlahan dan terus menerus, tidak membaik dengan
istirahat. Namun dalam 1 minggu terakhir perut dirasakan lama-
kelamaan menjadi sangat besar, tegang, dan nyeri apabila ditekan. Pasien
tidak bisa tidur dengan berbaring.
Pasien mengeluhkan kaki dan tangan bengkak sejak 8 bulan yang
lalu. Awalnya hanya pada kedua kaki, lama kelamaan bengkak menjalar
hingga tangan pasien. Bengkak dirasakan hilang timbul. Bengkak
dirasakan muncul biasanya saat pasien beraktivitas berat dan menghilang
bila beristirahat. Namun dalam 1 bulan terakhir, pasien merasakan
bengkak pada tangan dan kaki tidak menghilang dan cenderung
membesar. Pasien sempat berobat jalan ke puskesmas dan diberikan
beberapa obat namun pasien lupa nama obatnya. Pasien mengaku
keluhan sedikit berkurang. Namun sekitar 1 minggu terakhir bengkak
muncul kembali dan semakin membesar.
Pasien buang air kecil dengan frekuensi kurang lebih 3-4 kali
sehari dengan volume 1 - 1 gelas belimbing, berwarna kuning jernih.
Tidak didapatkan batu, pasir maupun darah, rasa nyeri maupun panas saat
berkemih. Pasien buang air besar sebanyak 1 kali sehari berwarna kuning
kecoklatan, tidak didapatkan feses berwarna hitam, lendir, maupun darah.
Pasien memiliki riwayat hipertensi yang diketahui sejak 5 tahun
terakhir dengan terapi amlodipin 1x10 mg. Riwayat sakit jantung, liver,
dan ginjal disangkal.

Riwayat penyakit dahulu :


Disangkal

3
Riwayat penyakit keluarga

Penyakit Tempat Perawatan Keterangan


Riwayat sakit serupa Disangkal Disangkal
Riwayat sakit darah tinggi Disangkal Disangkal
Riwayat sakit liver Disangkal Disangkal
Riwayat sakit jantung Disangkal Disangkal
Riwayat sakit gula Disangkal Disangkal
Riwayat sakit paru Disangkal Disangkal
Riwayat sakit ginjal Disangkal Disangkal
Riwayat asma Disangkal Disangkal
Riwayat alergi Disangkal Disangkal

Pohon keluarga pasien:

34 th 32 th

Keterangan :
: Pasien

Riwayat kebiasaan
Makan Pasien mengaku makan 2-3x sehari sebanyak
+10 sendok makan
Merokok Disangkal
Alkohol Disangkal
Olahraga Pasien mengaku jarang melakukan aktivitas
olahraga
Konsumsi jamu dan Pasien tidak mengonsumsi obat maupun jamu
obat saat ini

4
Riwayat gizi
Pasien makan 3 kali atau hanya 2 kali sehari. Porsi untuk sekali
makan 10 sendok makan dengan nasi, lauk pauk, dan sayur.

Riwayat sosial ekonomi


Pasien bekerja sebagai pegawai toko sembako. Pasien tinggal di
kamar kost sendiri. Pasien berobat menggunakan fasilitas BPJS.

Anamnesis Sistemik
Keluhan utama : Sesak napas
Kulit : Kuning (-), kering (-), pucat (-), menebal (-), gatal (-),
bercak-bercak kuning (-), luka (-)
Kepala : Nyeri kepala (-), nggliyeng (-),kepala terasa berat (-),
berkunang-kunang (-), rambut mudah rontok(-)
Mata : Mata berkunang kunang(-), pandangan kabur (-/-),
gatal (-), mata kuning (-), mata merah (-/-), mata
bengkak (-/-)
Hidung : Tersumbat (-), keluar darah (-), keluar lendir atau air
berlebihan (-), gatal (-)
Telinga : Pendengaran berkurang (-),keluar cairan atau darah (-),
telinga berdenging (-).
Mulut : Bibir kering (+), gusi mudah berdarah (-), papil lidah
atrofi (-), sariawan (-), gigi mudah goyah (-), sulit
berbicara (-)
Leher : Leher kaku (-), pembesaran kelenjar getah bening (-)
Tenggorokan : Rasa kering dan gatal (-), nyeri telan (-), sakit
tenggorokan (-), suara serak (-).
Sistem respirasi : Sesak napas (+), batuk (-), nyeri dada (-), mengi (-)
Sistem kardio : Nyeri dada (-), terasa ada yang menekan (-), sering
pingsan (-), berdebar-debar (-), keringat dingin (-), ulu
hati terasa panas (-), denyut jantung meningkat (-),
bangun malam karena sesak nafas (+).
Sistem gastrointestinal: Mual (-), muntah (-), rasa penuh di perut (-),
cepat kenyang(-), nafsu makan berkurang (+),
nyeri ulu hati(-), diare (-), BAB cair (-), sulit
BAB (-), BAB berdarah (-), perut nyeri setelah

5
makan (-), BAB warna seperti dempul(-), BAB
warna hitam (-).
Sistem muskuloskeletal : Lemas (-),kaku sendi (-), nyeri sendi (-),
bengkak sendi (-), nyeri (-), kaku otot (-),
kejang(-), leher cengeng (-)
Sistem genitouterina : BAK sedikit (-), nyeri saat BAK (-), panas
saat BAK (-), sering buang air kecil (-),air
kencing warna seperti teh (-),BAK darah (-),
nanah (-), berpasir (-),anyang-anyangan (-),
sering menahan kencing (-), rasa pegal di
pinggang, rasa gatal pada saluran kencing (-),
rasa gatal pada alat kelamin (-), kencing nanah
(-).
Ekstremitas :
Atas : Luka (-/-), kesemutan (-/-), tremor (-/-), ujung jari
terasa dingin (-/-), bengkak (+/+), lemah(-/-), nyeri
(-/-), lebam kulit (-/-), terdapat benjolan pada clavicula
tengah kanan.
Bawah : Luka bekas operasi (-/-), kesemutan (-/-), tremor (-/-),
ujung jari terasa dingin (-/-), bengkak (+/+), lemah
(-/-), nyeri (-/-), lebam kulit (-/-)

II. PEMERIKSAAN FISIK


Pemeriksaan fisik dilakukan tanggal 18 Desember 2016 dengan hasil sebagai
berikut:
1. Keadaan umum
Tampak sakit sedang, lemah, compos mentis, GCS E4V5M6, kesan gizi
baik
2. Tanda vital
a. Tensi : 160/100 mmHg
b. Nadi : 94 kali /menit
c. Frekuensi nafas : 24 kali /menit
d. Suhu : 36,40C
e. VAS : 1 (abdomen)
3. Status gizi
a.
Berat badan : 55 kg
b.
Tinggi badan : 160 cm

6
c.
IMT : 21,48kg/m2
d.
Kesan : Normoweight
4. Kulit : Kulit berwarna sawo matang, turgor menurun (-),
hiperpigmentasi (-), kering (-), teleangiektasis (-), petechie
(-), ikterik (-), ekimosis (-)
5. Kepala : Bentuk mesocephal, rambut warna sebagian besar putih
dengan beberapa hitam, mudah rontok (-),luka (-), atrofi m.
Temporalis (-)
6. Mata : Mata cekung (-/-), konjungtiva pucat (-/-), sklera ikterik
(-/-), perdarahan subkonjugtiva (-/-), pupil isokor dengan
diameter (3 mm/3 mm), reflek cahaya (+/+), edema
palpebra (-/-), strabismus (-/-)
7. Telinga : Sekret (-), darah (-), nyeri tekan mastoid (-), nyeri tekan
tragus (-)
8. Hidung : Nafas cuping hidung (-), sekret (-), epistaksis (-)
9. Mulut : Mukosa basah (+), sianosis (-), gusi berdarah (-), papil lidah
atrofi (-), gusi berdarah (-), luka pada sudut bibir (-) oral
thrush (-)
10. Leher : JVP R+5 cm, trakea ditengah, simetris, pembesaran
kelenjar tiroid (-), pembesaran kelenjar getah bening leher
(-), leher kaku (-), distensi vena-vena leher (-)
11. Thorax : Bentuk normochest, simetris, pengembangan dada kanan =
kiri, retraksi intercostal (-), pernafasan abdominothorakal,
sela iga melebar(-), pembesaran kelenjar getah bening axilla
(-/-)
12. Jantung
Inspeksi : Ictus kordis tidak tampak
Palpasi : Ictus kordis teraba di SIC VI linea
medioclavicularis sinistra 2 cm lateral, kuat
angkat
Perkusi :
- Batas jantung kanan atas: SIC II linea sternalis dextra
- Batas jantung kanan bawah: SIC IV linea parasternalis
dekstra
- Batas jantung kiri atas: SIC II linea sternalis sinistra
- Batas jantung kiri bawah: Batas jantung kiri bawah: SIC
VI linea medioclavicularis sinistra 2 cm lateral

7
Batas jantung kesan melebar ke caudolateral
- Kesan: jantung melebar caudolateral
Auskultasi : Bunyi jantung I-II murni, intensitas normal, reguler,
gallop (-), bising (+) pansistolik 4/6 di apex dan
pansistolik 3/6 di LLSB.
13. Pulmo
a. Depan
Inspeksi
- Statis : Normochest, simetris, sela iga tidak
melebar, iga tidak mendatar
- Dinamis : Pengembangan dada simetris kanan = kiri,
sela iga tidak melebar, retraksi intercostal
(-)
Palpasi
- Statis : Simetris
- Dinamis : Pergerakan dinding dada kanan = kiri,
fremitus raba kanan = kiri, fremitus
menurun pada SIC IV ke bawah
Perkusi
- Kanan : Sonor, redup pada SIC IV linea
medioclavicularis dextra
- Kiri : Sonor, redup SIC IV linea
medioclavicularis dextra
Auskultasi
- Kanan : Suara dasar vesikuler menurun di SIC
IV kebawah, suara tambahan: wheezing
(-), ronkhi basah kasar (-), ronkhi basah
halus (+), krepitasi (-)
- Kiri : Suara dasar vesikuler menurun di SIC
IV kebawah, suara tambahan: wheezing
(-), ronkhi basah kasar (-), ronkhi basah
halus (+), krepitasi (-)
b. Belakang
Inspeksi
- Statis : Normochest, simetris, sela iga tidak
melebar, iga tidak mendatar

8
- Dinamis : Pengembangan dada simetris kanan=kiri,
sela iga tidak melebar, retraksi intercostal
(-)
Palpasi
- Statis : Simetris
- Dinamis : Pergerakan dinding dada kanan = kiri,
fremitus raba kanan = kiri, fremitus
menurun pada SIC IV ke bawah, nyeri
tekan (-)
Perkusi
- Kanan : Sonor, redup pada SIC IV linea
medioclavicularis dextra
- Kiri : Sonor, redup pada SIC IV linea
medioclavicularis sinistra
- Peranjakan diafragma 2 cm
Auskultasi
- Kanan : Suara dasar vesikuler menurun SIC IV
linea medioclavicularis dextra, suara
tambahan: wheezing (-), ronkhi basah
kasar (-), ronkhi basah halus (+),
krepitasi (-)
- Kiri : Suara dasar vesikuler menurun SIC IV
linea medioclavicularis sinistra, suara
tambahan: wheezing (-), ronkhi basah
kasar (-), ronkhi basah halus (+),
krepitasi (-)
13. Abdomen
Inspeksi : Dinding perut lebih tinggi dari dinding thoraks,
venektasi (-), sikatrik (-), striae (-), caput medusae (-),
ikterik (-)
Auskultasi : Bising usus (+) 12 x / menit, bruit hepar (-), bising
epigastrium (-)
Perkusi : Redup
Palpasi : supel, undulasi (+), pekak alih (+), lingkar perut
107 cm

14. Ekstremitas

9
Akral dingin + + Oedem
+ +

Superior Ka/Ki sianosis (-/-), pucat (-/-), akral dingin (-/-), ikterik (-/-),
luka (-/-), kuku pucat (-/-), spoon nail (-/-), clubing
finger (-/-), flat nail (-/-), nyeri tekan dan nyeri gerak
(-/-), nyeri (-)
Inferior Ka/Ki sianosis (-/-), pucat (-/-), akral dingin(-/-), ikterik
(-/-),kuku pucat (-/-), spoon nail (-/-), clubing finger
(-/-), flat nail (-/-),deformitas (-/-).

III. PEMERIKSAAN PENUNJANG


A. Laboratoriumdarah (16 Januari 2017)
Pemeriksaan Hasil Satuan Rujukan
HEMATOLOGI RUTIN
Hb 11.3 g/dl 12.1 17.6
Hct 34 % 33 45
3
AL 7.7 10 / L 4,5 11,0
AT 251 103 / L 150450
AE 4.73 103/ L 4,50 5,90
KIMIA KLINIK
Gula darah
104 mg/dl 60 140
sewaktu
SGOT 13 u/l < 35
SGPT 11 u/l < 45
Albumin 3.1 g/dl 3.2 4.6
Creatinine 0.7 mg/dl 0.8 1.3
Ureum 25 mg/dl < 50

10
ELEKTROLIT
Natrium darah 136 mmol/L 136 145
Kalium darah 4.6 mmol/L 3.3 5.1
Chlorida darah 103 mmol/L 98 106

B. Urinalisa (17 Januari 2017)


Pemeriksaan Hasil Satuan Rujukan
SEKRESI
MAKROSKOPIS
Warna Yellow
Kejernihan Sl. Cloudy
KIMIA URIN
Berat Jenis 1.010 1.015 1.025
PH 5.0 4.5 8.0
Leukosit 75 u/l Negatif
Nitrit Negatif Negatif
Protein Negatif mg/dl Negatif
Glukosa Normal mg/dl Normal
Keton Negatif mg/dl Negatif
Urobilinogen Negatif mg/dl Negatif
Bilirubin Negatif mg/dl Negatif
Eritrosit Negatif mg/dl Negatif
MIKROSKOPIS
Eritrosit 2.3 /Ul 0 8.7
Leukosit 9.3 /LPB 0 12
EPITEL
Epitel Squamous 1-2 /LPB Negatif
Epitel
/LPB Negatif
Transisional
Epitel Bulat /LPB Negatif
SILINDER
Hyline 3 /LPK 03
Granulated - /LPK Negatif
Leukosit /LPB Negatif
Bakteri 63.2 /uL
Kristal /uL 0.0 0.0
Yeast like cell 0.0 /uL 0.0 0.0
Sperma 0.0 /uL 0.0 0.0
Konduktivitas 17.4 mS/cm 3.0 32.0
Lain-lain Eritrosit 2-3/LPB, Leukosit 8-10/LPB

11
C. Elektrokardiografi (16 Januari 2017)

Kesimpulan:
Sinus rhytm, detak jantung 95 kali per menit, right axis deviation

12
D. Foto Thorax PA (16 Januari 2017)

Cor: Tak valid dinilai (tertutup perselubungan)


Pulmo: Tak tampak infiltrat di kedua lapang paru, corakan bronkovaskuler
meningkat, mengabur dengan hillar haze (+)
Sinus costophrenicus kanan kiri tumpul
Diaphragma kanan kiri tertutup perselubungan
Trakhea di tengah
Sistema tulang baik

Kesimpulan:
1. Edema paru
2. Efusi pleura bilateral
3. Cor tak valid dinilai (tertutup perselubungan)

E. Analisa Cairan Ascites (18 Januari 2017)

PEMERIKSAAN HASIL SATUAN RUJUKAN

Tes Kehamilan Negatif

Analisa Cairan Tubuh

Makroskopis

Warna Kuning Kuning muda

Kejernihan Jernih Jernih

13
Bekuan Tidak Tidak ada bekuan
ditemukan

Bau Tidak berbau Tidak berbau

Protein kuantitatif 2.7 g/dl <3

Glukosa 123 mg/dl 70-115

LDH 135 U/L <200

Jumlah sel 141 /ul <1000

Hitung jenis sel PMN 86 % 30-75

Hitung jenis PMN 14 % <10

Analisa Cairan Ascites: kesan Transudat

IV. RESUME

14
1. Keluhan utama
Sesak napas sejak 1 minggu SMRS
2. Anamnesis:
Pasien mengeluh sesak napas sejak 1 minggu SMRS. Sesak
muncul pertama kali saat pasien habis mengangkut barang-barang
berat di toko. Sebelumnya pasien tidak ada keluhan saat melakukan
aktivitas yang sama. Sesak napas juga muncul saat pasien berbaring
sehingga harus menggunakan 3 bantal saat tidur. Di malam hari pasien
sering terbangun tiba-tiba karena sesak napas. Sesak tidak dipengaruhi
oleh cuaca, debu, dan emosi. Pasien juga mengeluhkan adanya batuk
yang biasanya muncul pada malam hari, tidak berdahak dan tidak
berdarah.
Sejak 2 hari SMRS pasien mengeluh sesak napas yang
bertambah berat. Sudah 2 hari pasien tidak melakukan pekerjaan
apapun tapi sesak napas tetap ada meskipun pasien beristirahat. Pasien
tidak bisa tidur karena sesak semakin bertambah jika posisi berbaring
meskipun sudah menggunakan 3 bantal. Sesak tidak dipengaruhi
cuaca, debu, dan emosi. Pasien masih mengeluhkan adanya batuk pada
malam hari, tidak berdahak dan tidak berdarah.
Pasien juga mengeluhkan perut membesar sejak 1 bulan yang
lalu. Perut membesar perlahan dan terus menerus, tidak membaik
dengan istirahat. Namun dalam 1 minggu terakhir perut dirasakan
lama-kelamaan menjadi sangat besar, tegang, dan nyeri apabila
ditekan. Pasien tidak bisa tidur dengan berbaring.
Pasien mengeluhkan kaki dan tangan bengkak sejak 8 bulan
yang lalu. Awalnya hanya pada kedua kaki, lama kelamaan bengkak
menjalar hingga tangan pasien. Bengkak dirasakan hilang timbul.
Bengkak dirasakan muncul biasanya saat pasien beraktivitas berat dan
menghilang bila beristirahat. Namun dalam 1 bulan terakhir, pasien
merasakan bengkak pada tangan dan kaki tidak menghilang dan
cenderung membesar. Pasien sempat berobat jalan ke puskesmas dan
diberikan beberapa obat namun pasien lupa nama obatnya. Pasien
mengaku keluhan sedikit berkurang. Namun sekitar 1 minggu terakhir
bengkak muncul kembali dan semakin membesar.
Pasien buang air kecil dengan frekuensi kurang lebih 3-4 kali
sehari dengan volume 1 - 1 gelas belimbing, berwarna kuning
jernih. Tidak didapatkan batu, pasir maupun darah, rasa nyeri maupun
panas saat berkemih. Pasien buang air besar sebanyak 1 kali sehari
berwarna kuning kecoklatan, 15
tidak didapatkan feses berwarna hitam,
lendir, maupun darah.
Pasien memiliki riwayat hipertensi yang baru diketahui sejak 5
V. DIAGNOSIS ATAU PROBLEM
1. CHF NYHA IV A(x) Kardiomegali E(x) Hipertensi Stage II dengan Oedem
Pulmo, Efusi Pleura Bilateral, dan Ascites Permagna
2. Hipertensi Stage II

VI. PROGNOSIS
1. Ad vitam : dubia ad bonam
2. Ad sanam : dubia ad malam
3. Ad fungsionam : dubia ad malam

16
Rencana Awal

No Pengkajian RencanaAwal Rencana


Diagnosis RencanaTerapi RencanaEdukasi
(Assesment) diagnosis Monitoring

17
1. CHF NYHA Anamnesis: Echocardiogr Bed rest total setengah Penjelasan kepada KU/VS/8 jam
IV A(x) Pasien mengeluh sesak napas sejak aphy duduk pasien mengenai Balans
Kardiomegali O2 3 lpm kondisi, prosedur
1 minggu terakhir Liver cairan/12 jam
Diet lunak TKTP
E(x) Sesak napas dirasakan terus Function Test diagnosis dan
1700 kkal
Hipertensi menerus hingga pasien tidak dapat USG tatalaksana beserta
Infus RL 16 tpm
Stage II beraktivitas. Abdomen komplikasi yang
mikro
dengan Sesak napas dirasakan memberat Inj furosemid 40 mg/8 dapat terjadi.
Profil lipid
Oedem dengan posisi berbaring dan jam IV
Pulmo, Efusi Captopril 3x25 mg
membaik dengan posisi setengah
Pleura duduk
Bilateral, dan
Pasien nyaman tidur dengan bantal
Ascites
2-3 bantal
Permagna
Pasien kadang terbangun pada
malam hari karena sesak napas
Pasien mengeluh perut membesar
sejak 1 bulan terakhir
Pasien mengeluh kaki dan tangan
bengkak sejak 8 bulan yang lalu.
Bengkak dirasakan hilang timbul.
Bengkak muncul biasanya saat
pasien beraktivitas berat dan
menghilang bila beristirahat
Dalam 1 bulan terakhir, pasien

18
merasakan bengkak pada tangan
dan kaki tidak menghilang dan
cenderung membesar
Pemeriksaan fisik:
TD: 160/100 mmHg
Leher: JVP R+5
Jantung:
Batas jantung kesan melebar ke
caudolateral
Bising pansistolik 4/6 di apex dan
bising pansistolik 3/6 di LLSB
Paru:
Palpasi: fremitus raba menurun di
SIC IV ke bawah
Perkusi:
- Kanan : Sonor, redup pada SIC
IV linea medioclavicularis
dextra
- Kiri : Sonor, redup pada SIC
IV linea medioclavicularis
sinistra
Auskultasi:
Suara dasar vesikuler paru kanan

19
dan kiri menurun di SIC IV ke
bawah
Ronki basah halus (+/+)
Abdomen:
Inspeksi: dinding perut lebih tinggi
dari dinding dada
Perkusi: redup
Palpasi: pekak alih (+) undulasi (+)
Ekstremitas: Oedema + +
+ +

Pemeriksaan penunjang :
Lab darah: Albumin 3.1 mg/dl
Urinalisa: Eritrosit 2-3/LPB,
Leukosit 8-10/LPB
Analisa cairan ascites: kesan
transudat
Foto Thorax: Cor tak valid dinilai
(tertutup perselubungan), edema
paru, efusi pleura bilateral
2. Hipertensi Anamnesis: Captopril 3x25 mg Penjelasan kepada KUVS
Stage II Pasien memiliki riwayat darah pasien mengenai
tinggi sejak 1 tahun yang lalu, tidak kondisi, prosedur

20
rutin berobat. Bila ada keluhan diagnosis dan
meminum amlodipin 1x10 mg. tatalaksana beserta
Pemeriksaan fisik: komplikasi yang
TD 160/100 mmHg dapat terjadi.

Leher: JVP R+5


Jantung:
Batas jantung kesan melebar ke
caudolateral
Bising pansistolik 4/6 di apex dan
bising pansistolik 3/6 di LLSB
Pemeriksaan penunjang :
Foto Thorax: cor tak valid dinilai,
edema paru, efusi pleura bilateral

FOLLOW UP PASIEN

Tgl 19 Januari 2017 20 Januari 2017 21 Januari 2017 22 Januari 2017

(DPH 3) (DPH 4) (DPH 5) (DPH 6)

S Lemas, sesak (+) membaik Lemas, sesak (+) membaik Lemas, sesak (-) Lemas, sesak (-)

21
O KU: Sakit sedang, E4V5M6 KU: Sakit sedang, E4V5M6 KU: Sakit sedang, E4V5M6 KU: Sakit sedang, E4V5M6
Tensi :150/100 mmHg Tensi :150/90 mmHg Tensi :150/100 mmHg Tensi :140/90 mmHg
Resp : 24 kali/menit Resp : 20 kali/menit Resp : 24 kali/menit Resp : 20kali/menit
Nadi :88 kali/menit Nadi :84 kali/menit Nadi :88 kali/menit Nadi :82 kali/menit
Suhu : 36,7 C Suhu : 36,5 C Suhu : 36,7 C Suhu : 36,5 C
Kulit : Turgor kulit normal Kulit : Turgor kulit normal Kulit : Turgor kulit normal Kulit : Turgor kulit normal
Mata : CA (-/-),SI (-/-) Mata : CA (-/-),SI (-/-) Mata : CA (-/-),SI (-/-) Mata : CA (-/-),SI (-/-)
Hidung : nafas cuping hidung (-), Hidung : nafas cuping hidung (-), Hidung : nafas cuping hidung (-), Hidung : nafas cuping hidung (-),
sekret (-) sekret (-) sekret (-) sekret (-)
Telinga : sekret (-), darah (-) Telinga : sekret (-), darah (-) Telinga : sekret (-), darah (-) Telinga : sekret (-), darah (-)
Mulut: mukosa basah, sianosis (-) Mulut: mukosa basah, sianosis (-) Mulut: mukosa basah, sianosis (-) Mulut: mukosa basah, sianosis (-)
Leher : JVP R+5 cm Leher : JVP R+5 cm Leher : JVP R+5 cm Leher : JVP R+4 cm
Thoraks : simetris, retraksi (-) Thoraks : simetris, retraksi (-) Thoraks : simetris, retraksi (-) Thoraks : simetris, retraksi (-)
Cor Cor Cor Cor
I : IC tidak tampak I : IC tidak tampak I : IC tidak tampak I : IC tidak tampak
P : IC teraba di SIC VI P : IC teraba di SIC VI P : IC teraba di SIC VI P : IC teraba di SIC VI linea
linea medioclavicularis linea medioclavicularis linea medioclavicularis medioclavicularis
sinistra 2 cm lateral
sinistra 2 cm lateral sinistra 2 cm lateral sinistra 2 cm lateral
P : Batas jantung kesan
P : Batas jantung kesan P : Batas jantung kesan P : Batas jantung kesan
melebar ke caudolateral
melebar ke caudolateral melebar ke caudolateral melebar ke caudolateral
A : BJ I-II intensitas normal,
A : BJ I-II intensitas normal, A : BJ I-II intensitas normal, A : BJ I-II intensitas normal,
reguler, bising pansistolik
reguler, bising pansistolik reguler, bising reguler, bising
4/6 di apex dan bising
4/6 di apex dan bising pansistolik 4/6 di apex pansistolik 4/6 di apex
pansistolik 3/6 di LLSB
pansistolik 3/6 di LLSB dan bising pansistolik dan bising pansistolik
Pulmo
Pulmo
3/6 di LLSB 3/6 di LLSB I : Pengembangan dada
I : Pengembangan dada
Pulmo Pulmo
kanan=kiri
kanan=kiri I : Pengembangan dada I : Pengembangan dada
P : Fremitus raba kanan=kiri,
P : Fremitus raba kanan=kiri,
kanan=kiri kanan=kiri

22
fremitus raba menurun P : Fremitus raba kanan=kiri, P : Fremitus raba kanan=kiri, fremitus raba menurun di
di SIC IV ke bawah fremitus raba menurun fremitus raba menurun SIC V ke bawah
P : Kanan: Sonor, redup P : Kanan: Sonor, redup pada
di SIC IV ke bawah di SIC V ke bawah
pada SIC IV linea P : Kanan: Sonor, redup P : Kanan: Sonor, redup SIC V linea
medioclavicularis dextra pada SIC IV linea pada SIC V linea medioclavicularis dextra
Kiri: Sonor, redup pada Kiri: Sonor,redup pada
medioclavicularis dextra medioclavicularis dextra
SIC IV linea
Kiri: Sonor, redup pada Kiri: Sonor, redup pada SIC V linea
medioclavicularis SIC V linea
SIC IV linea medioclavicularis
sinistra medioclavicularis sinistra
medioclavicularis
A :SDV (+/+), RBH (+/+) 1/3 A :SDV (+/+), RBH (+/+) 1/3
sinistra
sinistra
lapang paru A :SDV (+/+), RBH (+/+) 1/3 lapang paru
A :SDV (+/+), RBH (+/+) 1/3
Abdomen
lapang paru Abdomen
I : DP lebih tinggi dari DD lapang paru
Abdomen I : DP lebih tinggi dari DD
A : Bising usus (+) 12x/menit Abdomen
I : DP lebih tinggi dari DD A : Bising usus (+) 12x/menit
P : redup, pekak alih (+), I : DP lebih tinggi dari DD
A : Bising usus (+) 12x/menit P : redup, pekak alih (+),
A : Bising usus (+) 10x/menit
undulasi (+) P : redup, pekak alih (+),
P : redup, pekak alih (+), undulasi (+)
P : Supel, nyeri tekan (-), hepar
undulasi (+) P : Supel, nyeri tekan (-), hepar
undulasi (+), lingkar
& lien tidak teraba P : Supel, nyeri tekan (-), hepar
& lien tidak teraba
perut 105 cm
Ekstremitas superior dan & lien tidak teraba Ekstremitas superior dan
P : Supel, nyeri tekan (-), hepar
Ekstremitas superior dan
inferior: akral dingin (-/-) dan inferior: akral dingin (-/-) dan
& lien tidak teraba
inferior: akral dingin (-/-) dan
oedema (+/+) perbaikan Ekstremitas superior dan oedema (+/+) perbaikan
oedema (+/+) perbaikan
inferior: akral dingin (-/-) dan
oedema (+/+) perbaikan
Px Kimia Klinik Hasil Echocardiography
Penun PT : 13.0 detik terlampir

23
jang APTT : 26.2 detik
INR : 1.040
SGOT : 23 u/l
SGPT : 17 u/l
Bilirubin total : 0.59 mg/dl
Albumin : 3.3 g/dl
Cholesterol total: 93 mg/dl
Cholesterol LDL: 59 mg/dl
Cholesterol HDL: 20 mg/dl
Trigliserida: 63 mg/dl
Elektrolit
Natrium darah: 134 mmol/L
Kalium darah: 2.7 mmol/L
Calsium ion: 0.88 mmol/L
A 1. CHF NYHA IV A(x) 1. CHF NYHA IV A(x) 1. CHF NYHA IV a. 1. CHF NYHA IV a.
Kardiomegali E(x) Kardiomegali E(x) Kardiomiopati Dilatasi e. Kardiomiopati Dilatasi e.
Hipertensi Stage II dengan Hipertensi Stage II dengan Hipertensi Stage II dengan Hipertensi Stage II dengan
Oedema Pulmonum, Efusi Oedema Pulmonum, Efusi Oedema Pulmonum, Efusi Oedema Pulmonum, Efusi
Pleura Bilateral, dan Pleura Bilateral, dan Pleura Bilateral, dan ascites Pleura Bilateral, dan ascites
Ascites Permagna Ascites Permagna permagna perbaikan permagna perbaikan
2. Hipertensi Stage II 2. Hipertensi Stage II
perbaikan perbaikan
2. Hipertensi Stage II 2. Hipertensi Stage II
P Dx: USG Abdomen, Dx: USG Abdomen, Dx: USG Abdomen Dx: USG Abdomen

24
Echocardiography Echocardiography Tx:

Tx: Tx: Bed rest total setengah Tx:

Bed rest total setengah Bed rest total setengah duduk Bed rest total setengah
O2 3 lpm
duduk duduk Diet lunak TKTP 1700 duduk
O2 3 lpm O2 3 lpm O2 3 lpm
Diet lunak TKTP 1700 kkal Diet lunak TKTP 1700 kkal Diet lunak TKTP 1700 kkal
Infus RL 16 tpm mikro Infus RL 16 tpm mikro Infus RL 16 tpm mikro
kkal Inj furosemid 40 mg/8 jam
Inj furosemid 40 mg/8 jam Inj furosemid 40 mg/8 jam
Infus RL 16 tpm mikro
IV Inj furosemid 40 mg/8 jam IV IV
Captopril 3x25 mg P.O Captopril 3x25 mg P.O Captopril 3x25 mg P.O
IV Spironolacton 1x25 mg Spironolacton 1x25 mg P.O
Captopril 3x25 mg P.O
Spironolacton 1x25 mg P.O

P.O
Monit KUVS KUVS KUVS KUVS
oring
Balans Cairan Balans Cairan Balans Cairan Balans Cairan

25
Tgl 23 Januari 2017 24 Januari 2017 25 Januari 2017
(DPH 7) (DPH 8) (DPH 9)
S Lemas, sesak (-) Lemas, sesak (-) Lemas, sesak (-)
O KU: Sakit sedang, E4V5M6 KU: Sakit sedang, E4V5M6 KU: Sakit sedang, E4V5M6
Tensi :150/90 mmHg Tensi :140/90 mmHg Tensi :140/90 mmHg
Resp : 22 kali/menit Resp : 22 kali/menit Resp : 22 kali/menit
Nadi : 88 kali/menit Nadi : 82 kali/menit Nadi : 84 kali/menit
Suhu : 36,4 C Suhu : 36,6 C Suhu : 36,7 C
Kulit : Turgor kulit normal Kulit : Turgor kulit normal Kulit : Turgor kulit normal
Mata : CA (-/-),SI (-/-) Mata : CA (-/-),SI (-/-) Mata : CA (-/-),SI (-/-)
Hidung : nafas cuping hidung (-), sekret Hidung : nafas cuping hidung (-), sekret Hidung : nafas cuping hidung (-), sekret
(-) (-) (-)
Telinga : sekret (-), darah (-) Telinga : sekret (-), darah (-) Telinga : sekret (-), darah (-)
Mulut: mukosa basah, sianosis (-) Mulut: mukosa basah, sianosis (-) Mulut: mukosa basah, sianosis (-)
Leher : JVP R+3 cm Leher : JVP R+3 cm Leher : JVP R+2 cm
Thoraks : simetris, retraksi (-) Thoraks : simetris, retraksi (-) Thoraks : simetris, retraksi (-)
Cor Cor Cor
I : IC tidak tampak I : IC tidak tampak I : IC tidak tampak
P : IC teraba di SIC VI linea P : IC teraba di SIC VI linea P : IC teraba di SIC VI linea
medioclavicularis sinistra 2 cm medioclavicularis sinistra 2 cm medioclavicularis sinistra 2 cm
lateral lateral lateral
P : Batas jantung kesan melebar ke P : Batas jantung kesan melebar ke P : Batas jantung kesan melebar ke
caudolateral caudolateral caudolateral
A : BJ I-II intensitas normal, reguler, A : BJ I-II intensitas normal, reguler, A : BJ I-II intensitas normal, reguler,
bising pansistolik 4/6 di apex dan bising pansistolik 4/6 di apex dan bising pansistolik 4/6 di apex dan
bising pansistolik 3/6 di LLSB bising pansistolik 3/6 di LLSB bising pansistolik 3/6 di LLSB

26
Pulmo Pulmo Pulmo
I : Pengembangan dada kanan=kiri I : Pengembangan dada kanan=kiri I : Pengembangan dada kanan=kiri
P : Fremitus raba kanan=kiri, fremitus P : Fremitus raba kanan=kiri, fremitus P : Fremitus raba kanan=kiri,
P : Kanan: Sonor
raba menurun di SIC V ke raba menurun di SIC VI ke
Kiri: Sonor
bawah bawah A :SDV (+/+), RBH (+/+) basal paru
P : Kanan: Sonor, redup pada SIC V P : Kanan: Sonor Abdomen
Kiri: Sonor I : DP lebih tinggi dari DD
linea medioclavicularis dextra
A :SDV (+/+), RBH (+/+) basal paru A : Bising usus (+) 9x/menit
Kiri: Sonor, redup pada SIC V
Abdomen P : redup, pekak alih (+), undulasi
linea medioclavicularis sinistra I : DP lebih tinggi dari DD
(+), lingkar perut 96 cm
A :SDV (+/+), RBH (+/+) A : Bising usus (+) 12x/menit
P : Supel, nyeri tekan (-), hepar & lien
Abdomen P : redup, pekak alih (+), undulasi
I : DP lebih tinggi dari DD tidak teraba
(+)
A : Bising usus (+) 10x/menit
P : Supel, nyeri tekan (-), hepar & lien Ekstremitas: akral dingin dan oedema
P : redup, pekak alih (+), undulasi
tidak teraba tidak ada
(+), lingkar perut 100 cm
Ekstremitas: akral dingin dan oedema
P : Supel, nyeri tekan (-), hepar & lien
tidak ada
tidak teraba
Ekstremitas superior dan inferior: akral
dingin (-/-) dan oedema (+/+) perbaikan
Px Kimia Klinik
Penunjang
Elektrolit
Natrium darah: 137 mmol/L
Kalium darah: 3.6 mmol/L
Calsium ion : 1.06 mmol/L

27
Hasil USG Abdomen terlampir
A 1. CHF NYHA IV a. Kardiomiopati 1. CHF NYHA IV a. Kardiomiopati 1. CHF NYHA IV a. Kardiomiopati
Dilatasi e. Hipertensi Stage II Dilatasi e. Hipertensi Stage II Dilatasi e. Hipertensi Stage II
dengan Oedema Pulmonum, Efusi dengan Oedema Pulmonum, Efusi dengan Oedema Pulmonum, Efusi
Pleura Bilateral, dan ascites Pleura Bilateral, dan ascites Pleura Bilateral, dan ascites
permagna perbaikan permagna perbaikan permagna perbaikan
2. Hipertensi Stage II 2. Hipertensi Stage II 2. Hipertensi Stage II
P Dx: USG Abdomen Tx: Tx:

Tx: Bed rest total setengah duduk Bed rest total setengah duduk
O2 3 lpm Diet lunak TKTP 1700 kkal
Bed rest total setengah duduk Diet lunak TKTP 1700 kkal Furosemid 40 mg/12 jam P.O
O2 3 lpm Infus RL 16 tpm mikro Captopril 3x25 mg P.O
Diet lunak TKTP 1700 kkal Inj furosemid 40 mg/8 jam IV Spironolacton 25 mg/24 jam P.O
Infus RL 16 tpm mikro Captopril 3x25 mg P.O KSR 600 mg/8 jam P.O
Inj furosemid 40 mg/8 jam IV Spironolacton 1x25 mg P.O
Captopril 3x25 mg P.O
Spironolacton 1x25 mg P.O
Monitoring KUVS KUVS KUVS

Balans Cairan Balans Cairan Balans Cairan

28
Hasil Echocardiography (21 Januari 2017)

Dimensi LV Dilatasi, IVS & PW menebal, massa meningkat


Kontraktilitas LV EF 45 %, Fungsi diastolik restriktif
Wall Motion, Global Normokinetik
Dimensi LA, RA & RV: Dilatasi
Kontraktilitas RV menurun TAPSE 1,1 cm
Katup-katup Jantung
Aorta : 3 kuspis dalam batas normal
Mitral : MR Moderate dengan Peak PG 72,72 mmHg ec Prolaps PML
Trikuspid : TR severe dengan Peak PG 39, 89 mmHg
Pulmonal : dalam batas normal
Conclusion:
MR moderate ec, Prolaps PML
TR severe
LVH eksentrik dengan Kontraktilitas LV 45%

USG Abdomen (Hepar), Lien, Pancreas, Ginjal (24 Januari 2017)


Klinis: Ascites perbaikan
USG Abdomen:
Hepar: ukuran normal, sudut tajam, tepi reguler, intesitas echoparenkim normal,
VH/VP normal, IHBD/EHBD normal, tak tampak nodul/kista
GB: ukuran normal, dinding tidak menebal, tak tampak batu/kista/massa
Lien: ukuran normal, intensitas echoparenkim normal, tak tampak nodul/massa/kista
Pankreas: intensitas echoparenkim normal, tak tampak nodul/kista/massa
Ren dextra: ukuran normal, intensitas echoparenkim normal, batas sinus-korteks tegas,
tak tampak ectasis PCS, tak tampak batu/kista/massa
Ren sinistra: ukuran normal, intensitas echoparenkimnormal, batas sinus-korteks
tegas, tak tampak ectasis PCS, tak tampak batu/kista/massa
Bladder: terisi cukup urin, dinding tak tebal, tampak tampak massa/batu
Uterus: ukuran normal, tak tampak massa
Limfadenopati di inguinal kanan kiri
Tampak intensitas echo cairan di cavum pleura dekstra et sinistra dan cavum abdomen

29
Kesimpulan:
1. Tak tampak intraabdominal metastase
2. Ascites di cavum abdomen dan paravesica
3. Tampak efusi pleura bilateral maupun ascites
4. Tampak limfadenopati di inguinal kanan kiri

30
ALUR PEMIKIRAN

Hipertensi

Kardiomiopati
Dilatasi

Congestive
Heart Failure

Edema Paru Efusi Pleura Ascites Edema


Ekstremitas

BAB III

31
PEMBAHASAN

Dari hasil anamnesis pasien mengeluh sesak napas sejak 1 minggu SMRS.
Sesak muncul pertama kali saat pasien habis mengangkut barang-barang berat di toko.
Sebelumnya pasien tidak ada keluhan saat melakukan aktivitas yang sama. Sejak 2
hari SMRS pasien mengeluh sesak napas yang bertambah berat. Sudah 2 hari pasien
tidak melakukan pekerjaan apapun tapi sesak napas tetap ada meskipun pasien
beristirahat. Sesak napas juga muncul saat pasien berbaring sehingga harus
menggunakan 3 bantal saat tidur. Di malam hari pasien sering terbangun tiba-tiba
karena sesak napas. Sesak tidak dipengaruhi oleh cuaca, debu, dan emosi. Pasien juga
mengeluhkan adanya batuk yang biasanya muncul pada malam hari, tidak berdahak
dan tidak berdarah. Keluhan-keluhan tersebut mengarah bahwa pasien ini mengalami
gagal jantung kongestif. Diagnosis gagal jantung kongestif membutuhkan adanya
minimal 2 kriteria mayor atau 1 kriteria mayor ditambah 2 kriteria minor.

Kriteria Mayor Kriteria Minor

Paroxysmal nocturnal dyspneu Edema ekstremitas bawah


Distensi vena pada leher Orthopneu
Cardiomegali Dyspneu deffort
Edema paru akut Hepatomegali
S3 (suara jantung ketiga) Efusi pleura
Hepatojugular refluks Takikardi

Pada pasien ini didapatkan empat kriteria mayor. Pertama terdapatnya


paroxismal nocturnal dyspneu dari hasil anamnesis. Kedua, dari hasil pemeriksaan
fisik jantung didapatkan adanya pelebaran batas jantung. Dari perkusi didapatkan
batas jantung kiri bawah pada SIC VI 2 cm ke lateral dari linea midclavicularis
sinistra. Hal ini juga didukung dari hasil pemeriksaan foto rontgen yang didapatkan
cardiomegali serta edema paru. Dari pemeriksaan fisik paru juga didapatkan ronkhi
basah halus di kedua lapang paru. Dan yang keempat adalah didapatkan peningkatan
tekanan vena jugularis yaitu R+5 cm.

32
Sedangkan untuk kriteria minor didapatkan dyspneu deffort dari anamnesis
bahwa pasien merasa semakin bertambah sesak saat pasien berakitivitas bahkan
selama 2 terakhir pasien tidak dapat beraktivitas karena sesak napas tetap muncul saat
pasien beristirahat. Pasien juga lebih nyaman dengan posisi setengah duduk karena
jika berbaring sesak akan memberat (orthopneu). Kemudian didapatkan adanya edema
pada ekstremitas atas dan bawah. Pemeriksaan fisik paru juga didapatkan perkusi paru
posterior redup pada SIC IV linea medioclavicularis dextra dan sinistra didukung dari
hasil rontgen didapatkan adanya efusi pleura bilateral. Pasien juga mengeluhkan batuk
pada malam hari. Dari pemeriksaan abdomen juga didapatkan adanya ascites. Dari
penghitungan Skor Framingham diatas, pasien ini kami diagnosis dengan gagal
jantung kongestif.
Berdasarkan gejala yang berkaitan dengan kapasitas fungsionalnya menurut The
New York Heart Association (NYHA), gagal jantung pada pasien termasuk gagal
jantung NYHA kelas IV, karena pasien tidak sanggup melakukan kegiatan apapun
tanpa keluhan, gejala sesak napas tetap ada walaupun saat pasien beristirahat.
Pemeriksaan foto toraks merupakan komponen penting dalam diagnosis gagal jantung.
Pada rontgen toraks pasien terdapat kardiomegali, kongesti paru, efusi pleura yang
menyebabkan atau memperberat sesak nafas. Dari pemeriksaan elektrokardiografi
didapatkan adanya right axis deviation.
Kardiomiopati dilatasi adalah jenis kardiomiopati dengan ciri-ciri yaitu
terdapatnya dilatasi ruang ventrikel yang progresif dan disertai disfungsi dari
kontraksi ventrikel saat sistolik. Penyakit ini memiliki banyak etiologi antara lain:
genetik, hipertensi, bahan toksik (alkohol, doxorubicin), peripartum, miokarditis virus,
tetapi pada sebagian besar kasus penyebabnya adalah idiopatik. Dilatasi ruang
ventrikel biasanya diikuti pembesaran dinding ventrikel tetapi pembesaran dinding
yang terjadi masih lebih kecil dibandingkan dengan dilatasi ruang ventrikel. Pada hasil
echocardiography pasien didapatkan adanya dilatasi pada semua ruang jantung dan
penurunan fungsi kontraktilitas ventrikel kanan dan kiri menurun. Pada pasien ini
riwayat hipertensi lama diduga menjadi penyebab terjadinya kardiomiopati.
Penyebab dari gejala klinis yang tampak pada kardiomiopati dilatasi adalah
adanya penurunan fungsi kontraksi miokardium diikuti oleh adanya dilatasi pada
ruang ventrikel. Penurunan fungsi kontraksi miokardium disebabkan karena adanya

33
kerusakan pada kardiomiosit, kerusakan ini akan mengakibatkan kontraksi ventrikel
menurun, dan diikuti dengan penurunan volume sekuncup serta curah jantung. Pada
pasien ini didapatkan adanya penurunan fungsi kontraktilitas pada ventrikel kanan dan
kiri. Penurunan kontraksi ventrikel jika sudah tidak dapat diatasi lagi oleh mekanisme
kompensasi (baik oleh peningkatan simpatis, mekanisme Frank-Starling, sistem renin-
angiotensin-aldosteron/RAA dan vasopresin), maka akan menyebabkan ventrikel
hanya dapat memompa sejumlah kecil darah ke sirkulasi, sehingga nantinya darah
tersebut akan lebih banyak tertimbun di ventrikel, timbunan darah inilah yang akan
menyebabkan dilatasi ruang ventrikel yang bersifat progresif. Dilatasi ruang yang
progresif nantinya akan membuat disfungsi katup mitral (katup mitral tidak dapat
tertutup sempurna), kelainan pada katup mitral ini akan menyebabkan terjadinya
regurgitasi darah ke atrium kiri. Regurgitasi darah ke atrium kiri memiliki tiga dampak
yang buruk, yaitu peningkatan tekanan dan volume yang berlebihan di atrium kiri
sehingga atrium kiri membesar yang akan meningkatkan resiko, dampak buruk
berikutnya adalah regurgitasi ke atrium kiri menyebabkan darah yang dipompakan
oleh ventrikel kiri lebih sedikit sehingga memperparah penurunan stroke volume
yang telah terjadi, dampak buruk yang terakhir adalah pada saat diastolik volume
darah yang masuk ke atrium kiri menjadi lebih besar karena mendapat tambah darah
yang disebabkan oleh regurgitasi ventrikel kiri yang pada akhirnya akan menambah
jumah darah di ventrikel kiri, sehingga memperparah dilatasi yang telah terjadi.
Regurgitasi dari atrium kiri dapat menyebabkan gejala-gejala kongesti paru seperti
dispnea, ortopnea, ronki basah.
Pada jantung kanan pasien fungsi kontraktilitas juga menurun sehingga lebih
banyak darah tertimbun di ventrikel kanan, timbunan darah inilah yang akan
menyebabkan dilatasi ruang ventrikel yang bersifat progresif. Dilatasi ruang yang
progresif nantinya akan membuat disfungsi katup trikuspid (katup trikuspid tidak
dapat tertutup sempurna), kelainan pada katup trikuspid ini akan menyebabkan
terjadinya regurgitasi darah ke atrium kanan. Regurgitasi darah ke atrium kanan dapat
menyebabkan kongesti ke pembuluh sistemik vena cava yang menimbulkan tanda-
tanda kongesti sistemik peningkatan tekanan vena jugularis, efusi pleura, ascites, dan
edema perifer.

34
Ascites dapat terjadi melalui beberapa patogenesis, yaitu penurunan tekanan
onkotik plasma, peningkatan tekanan hidrostatik plasma, aliran balik limfe terhambat,
dan adanya retensi natrium. Pada pasien ini jantung tidak dapat memompa darah
secara adekuat menyebabkan penurunan cardiac output. Penurunan cardiac output
menyebabkan kompensasi untuk mengurangi volume efektif vascular dengan cara
vasokonstriksi. Vasokonstriksi pembuluh darah menyebabkan peningkatan volume
darah melalui retensi natrium sehingga terjadi peningkatan aliran balik vena. Karena
fungsi sistolik dan diastolik jantung sudah menurun, peningkatan aliran balik vena
tersebut dapat menyebabkan kongesti ke belakang sehingga tekanan hidrostatik
pembuluh darah meningkat cairan dapat berekstravasasi ke ruang interstitial.
Pada pasien didapatkan adanya hipoalbuminemia ringan. Albumin berfungsi
untuk menjaga tekanan onkotik plasma. Hipoalbuminemia juga dapat menyebabkan
terjadinya ascites melalui mekanisme penurunan tekanan onkotik koloid plasma
sehingga cairan berekstravasasi ke ruang interstitial. Namun hipoalbumin yang terjadi
pada pasien diduga karena intake makanan pasien yang kurang bukan karena adanya
kelainan pada hepar.
Berdasarkan American Heart Association (AHA) terapi farmakologi yang
diberikan kepada pasien gagal jantung dengan gejala yang berat dan terdapat tanda
gagal jantung serta memiliki komplikasi adalah berupa pemberian obat golongan
diuretik, ACE inhibitor, B-blocker, nitrat, dan digitalis.
Terapi farmakologi yang diberikan kepada pasien adalah oksigenasi 3 liter per
menit, pemberian oksigen untuk pencegahan hipoksia serta mengurangi beban jantung
pada pasien yang mengalami sesak napas. IV line ringer laktat 16 tetes per menit
mikro bertujuan untuk pembatasan intake cairan. Pemberian diuretik berupa injeksi
furosemid 40 mg per 8 jam, sampai tekanan vena jugularis normal dan menghilangkan
edema. Pemberian diuretik secara parenteral diindikasikan pada gagal jantung berat
dan edema paru akut.
Pada pasien diberikan ACE inhibitor yaitu captopril 25 mg tablet diberikan tiap
8 jam. Berdasarkan AHA heart failure guideline 2013 disebutkan bahwa dapat
diberikan ACE inhibitor bermanfaat untuk menekan aktivasi neurohormonal dan pada
gagal jantung yang disebabkan disfungsi sistolik ventrikel kiri, serta untuk anti
remodeling untuk mencegah dilatasi jantung. Pada PERKI 2015 juga dianjurkan untuk

35
diberikannya ACE inhibitor bila tidak terdapat kontraindikasi.
Pada pasien ini diberikan antagonis aldosteron yaitu spironolakton 25 mg
tablet diberikan 1 kali pada pagi hari. Pemberian obat ini penting terutama pada
pasien yang diberikan loop diuretic untuk mencegah hipokalemi, dan menurut AHA
heart failure guideline 2013 dosis yang diberikan sudah sesuai yaitu 12,5-25 mg 1 kali
per hari, dengan dosis maksimal 2 kali 25mg.

36
DAFTAR PUSTAKA

Camn JA, Luscher TF, dan Serruys PW. 2007. The ESC Textbook of Cardiovascular
Medicine. London: Blackwell Publishing.

Corwin E. 2005. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.

Crawford MH, Abdulla C, Richard WA, Nitish B, Andrew JB. 2012. Current
Diagnosis & Treatment. Congestive Heart Failure.Cardiology update, 3rd
Edition. Chapter 18:The McGraw-Hill.Companies

Depkes RI. 2006. Pedoman Teknis Penemuan dan Tatalaksana Penyakit


Hipertensi.Jakarta.

Doughty RM, White HD.2007. Epidemiology of Heart Failure. University of


Auckland New Zealand. Available from:
http://spinger.com/cda/content/document/cda_downloaddocument/97818480
01015-c2.pdf

Ganiswarna SG. 2003. Famakologi dan Terapi. Jakarta: Bagian Farmakologi FKUI.

Guyton AC, Hall JE. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta: EGC.

Hunt SA, Baker DW, Chin MH,.et al. 2001. American College of
Cardiology/American Heart Association Task Force on Practice Guidelines.
Circulation;104(24):2996-3007

Kabo P. 2010. Bagaimana menggunakan obat-obat kardiovaskuler secara rasional.


Balai penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.

Lily IR, Faisal B, Santoso KK, Poppy SR. 2002. Buku ajar Kardiologi. Balai Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.

Lip GYH, Gibbs CR, Beevers DG. 2001. Aetiology. BMJ;320(7227);104-107

37
Mansjoer A, et al. 2015. Kapita selekta kedokteran jilid I.Jakarta: Media Aesculapius
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Nafrialdi. 2009.Antihipertensi.Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta: FKUI, pp:


341-60.

Powers CA. 2015..Harrisons Principle of Internal Medicine 16th. Medical Publishing


Division Mc Graw-Hill. North America.

Price SA, Wilson LM. 2005. Patofisiologi: konsep klinis proses- proses penyakit.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Siswanto BB, Hersunanti N, Erwinanto, Barack R et al. 2015. Pedoman Tatalaksana


Gagal Jantung. Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular
Indonesia.Jakarta:1-56

Siswanto BB, Hersunarti N, Erwinanto, Barack R, Pratikto RS, Nauli SE, et al.
Pedoman tatalaksana gagal jantung Edisi ke-1. Jakarta: Perhimpunan Dokter
Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI). 2015. hlm. 14-28.

Soenarta AA, Erwinanto, Mumpuni ASS, Barack R, Lukito AA et al. 2015. Pedoman
Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular. Perhimpunan Dokter
Spesialis Kardiovaskular Indonesia.

Yancy CW, Jessup M, Bozkurt B, Butler J, Casey DE, Drazner MH, et al. 2013
ACCF/AHA guideline for the management of heart failure: a report of the
American College of Cardiology

38