Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH TEKNOLOGI HASIL TENAK

Penanganan dan Pengolahan Kulit


Oleh :
Mursalin 200110140122
Cinta Herlina 200110140123
Santi Agustini 200110140124
Silvi Fitriani 200110140162
Hana Lestari 200110140163
Rudiyansah 200110140164
Yogi Ikballudin 200110140166
Hadi Setiadi 200110140167
Wahidiyat Suyudi 200110140193
Herti Eka Pujianti 200110140195
Risca Amelia Septyani 200110140196
Dimas Tresno Wibowo 200110140199
Nurazizah Ramadhanti 200110140200
Teza Ramdhani 200110140204
Kelompok : 3
Kelas : A

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PETERNAKAN
SUMEDANG
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu Wa Ta Ala yang telah


memberikan nikmat serta hidayah-Nya terutama nikmat kesempatan dan
kesehatan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Teknologi Hasil Ternak
yang berjudul Penanganan dan Pengolahan Kulit. Shalawat beserta salam kita
sampaikan kepada Nabi besar kita Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wa
Sallam yang telah memberikan pedoman hidup yakni Al-Quran dan Al-Hadist
untuk keselamatan umat di dunia.

Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Teknologi Hasil
Ternak. Selanjutnya kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada Bapak Dr. Jajang Gumilar, S.Pt., MM. dosen pengampu mata kuliah
Teknologi Hasil Ternak yang telah membimbing selama pembuatan makalah ini.

Penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk


pembuatan makalah di masa yang akan datang. Mudah-mudahan pembuatan
makalah ini bisa memberikan manfaat.

Sumedang, Desember 2016

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Bab Halaman

KATA PENGANTAR ..................................................................... ii

DAFTAR ISI ..................................................................................... iii

I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .............................................................................. 1
1.2 Identifikasi Masalah ...................................................................... 2
1.3 Maksud dan Tujuan ....................................................................... 2

II DISKUSI DAN PEMBAHASAN


2.1 Pengawetan Kulit ......................................................................... 3
2.2 Penyamakan Kulit ......................................................................... 7
2.3 Macam-Macam Produk Kulit ....................................................... 13

III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ..................................................................................... 18
3.2 Saran ............................................................................................... 18

DAFTAR PUSTAKA 19

iii
I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pemanfaatan kulit sapi untuk kepentingan manusia itu berjalan searah
dengan perkembangan peradaban manusia. Keseluruhan produk sampingan hasil
pemotongan ternak, maka kulit merupakan produk yang memiliki nilai ekonomis
yang paling tinggi. Berat kulit pada sapi, kambing dan kerbau memiliki kisaran
7-10% dari berat tubuh. Secara ekonomis kulit memiliki harga berkisar 10-15%
dari harga ternak.
Potensi hasil ikutan berupa kulit di Indonesia masih sangat besar, hal ini
disebabkan masih sedikitnya industri besar yang mengelola secara intensif.
Kalaupun ada kapasitasnya belum mampu memenuhi permintaan pasar. Sebelum
era krisis moneter, pihak pemerintah dengan syarat tertentu masih mengizinkan
industri-industri penyamakan kulit untuk mengimpor kulit mentah dan awetan
dari luar negeri, dengan maksud untuk memenuhi kebutuhan bahan baku kulit
dalam negeri yang sepenuhnya belum mencukupi. Namun demikian sejak
dimulainya krisis moneter, pemerintah akhirnya mengeluarkan suatu kebijakan
untuk melarang impor kulit mentah maupun kulit setengah jadi dari luar negeri
dengan alasan tingginya harga dasar barang (naik + 300-400%) dan pajak impor
yang harus ditanggung oleh importir akibat fluktuasi rupiah oleh mata uang asing.
Berdasarkan gambaran tersebut, tentunya banyak hal yang harus dikaji dan
terpulang kepada bagaimana perkembangan ilmu dan teknologi khususnya ilmu
dan teknologi pengolahan kulit ke depan serta kualitas SDM peternakan yang
dimiliki. Selanjutnya akan dikaji mengenai teknik penanganan dan pengolahan
pada kulit.
2
1.2 Identifikasi Masalah
a. Bagaimana pengawetan pada kulit mentah.
b. Bagaimana penyamakan pada kulit.
c. Apa saja macam-macam olahan kulit.

1.3 Maksud dan Tujuan


a. Mengetahui macam-macam dan penjelasan pengawetan pada kulit mentah.
b. Mengetahui teknologi penyamakan kulit.
c. Mengetahui macam-macam olahan kulit.
II

DISKUSI DAN PEMBAHASAN

2.1 Pengawetan Kulit


Menurut Aten (1966), pengawetan dengan cara penggaraman terbagi
menjadi penggaraman kering (dry salting) dan penggaraman basah (wet salting).
Stanley (1993), menambahkan bahwa peng garaman merupakan metoda
pengawetan yang paling mudah dan efektif. Reaksi osmosis dari garam mendesak
air keluar dari kulit hingga tingkat kondisi yang tidak memungkinkan
pertumbuhan bakteri. Kulit mentah segar bersifat mudah busuk karena merupakan
media yang baik untuk tumbuh dan berkembangbiaknya organisme. Kulit mentah
tersusun dari unsur kimiawi seperti: protein, karbohidrat, lemak, dan mineral.
Oleh sebab itu, perlu dilakukan proses pengwetan kulit sebelum kulit diolah lebih
lanjut. Teknik mengolah kulit mentah menjadi kulit samak disebut penyamakan.
Dengan demikian, kulit hewan yang mudah busuk dapat menjadi tahan terhadap
serangan mikroorganisme (Judoamdjojo, 1981).
2.1.1 Mekanisme Penggaraman
Mekanisme penggaraman terjadi dalam 3 tahap. Tahap pertama yaitu
garam mengikat air didalam bahan. Tahap kedua yaitu menurunkan aktivitas air
produk sehingga mikroba pembusuk dan perusak yang tidak tahan terhadap aw
rendah tidak dapat tumbuh. Dan tahap ketiga adalah merubah konsentrasi intra
dan ekstrasel dalam jaringan bahan sehingga menghasilkan tekstur tertentu.
Beberapa faktor yang mempengaruhi proses penggaraman antara lain :
1. Karakteristik dan sifat bahan
2. Jumlah dan konsentrasi garam
3. Suhu pengeringan
4. Waktu penggaraman
5. Tujuan penggaraman (fermentasi dan enzimatis)

4
Selama proses penggaraman akan terjadi perubahan-perubahan antara lain:
1. Perubahan tekstur
Perubahan tekstur pada bahan secara umum disebabkan karena selama
proses berlangsung terjadi penguapan air dan salting out akibat suhu pengeringan
setelah dilakukan proses penggaraman. Perubahan tekstur menjadi keras
disebabkan karena garam mengikat air dan menyebabkan perubahan konsentrasi
antara intrasel dan ekstrasel dalam jaringan bahan.Konsentrasi ekstrasel
meningkat dan menyebabkan air didalam sel mengalami osmosis dan berkurang.
Keadaan ini menyebabkan tekstur produk menjadi lebih keras dan padat. Selain
itu, protein juga mengalami proses koagulasi yang menyebabkan penurunan daya
ikat air, akibatnya tekstur menjadi lebih kaku dan mengkerut. Perubahan tekstur
yang lunak dapat disebabkan karena terjadi proses perubahan kolagen menjadi
gelatin yang kemudian larut, selain itu fraksi lemak pada bahan meleleh.
2. Perubahan warna
Perubahan warna pada bahan yang digaramkan terjadi karena proses
reaksi mailardpada saat pengeringan dan terjadi oksidasi kandungan bahan.
3. Perubahan berat
Penyusutan berat diakibatkan karena garam yang memiliki sifat hidrokopis
akan menyerap cairan yang ada pada jaringan dan terjadi penurunan jumlah air
bebas. Konsentrasi ekstrasel akan meningkat dengan adanya garam dan
menyebabkan sel osmosis. Penyusutan bisa juga disebabkan karena hilangnya air
bersama-sama dengan uap air saat dilakukan proses pengeringan. Sel pada saat
terbuka dan menyebabkan air bebas dalam jaringan keluar. Penurunan berat juga
terjadi karena pada proses pengeringan menggunakan uap panas sehingga terjadi
proses leaching pada komponen protein dan lemak, sel menjadi rusak. Sel yang
rusak akan menyebabkan jaringan terbuka dan menurunkan tekanan rigor mortis
sehingga daya ikat protein menurun dan air ikut menguap bersama dengan titik
atau uap air yang hilang.

5
2.1.2 Tahap Pengawetan kombinasi Penggaraman dengan Pengeringan
Kulit segar setelah bersih dari lemak, darah, sisa-sisa daging maupun
kotoran yang melekat, kemudian direndam dalam dalam cairan garam (NaCl)
jenuh dengan kadar kepekatan garam (salinitas) 20-24oBe selama 1-2 hari.
Tingkat kepekatan garam tidak boleh berada dibawah 20oBe. Kadar salinitas
tersebut diukur dengan alat yang disebut Baume meter. Bila tingkat salinitas
mengalami penurunan maka sebaiknya ditambah dengan garam. Bila alat ukur
tersebut tidak dijumpai, maka kadar salinitas dapat diprediksi dengan formulasi
berikut.
Untuk membuat larutan garam dengan tingkat kepekatan 1 oBe maka
dibutuhkan garam murni (NaCl) sebanyak 1% dari total berat air pelarut,
sedangkan bila menggunakan garam teknis dibutuhkan 1,5 % dari total berat air
pelarut. Mengingat garam murni sangat sulit untuk diperoleh dan secara
ekonomis mahal, sehingga lebih baik menggunakan garam teknis (garam kotor)
yang banyak dijual di pasaran.
Standar baku untuk salinitas 1oBe dapat dibuat dengan melarutkan 1 kg
garam murni ke dalam 100 liter air atau 1,5 kg untuk garam teknis. Berdasarkan
acuan tersebut berarti untuk mencapai larutan dengan tingkat kepekatan 20oBe,
berarti untuk penggunaan garam murni dibutuhkan 20 kg (20 x 1% x 100 = 20)
dan untuk garam teknis 30 kg (20 x 1,5% x 100 = 30).
Cara lain untuk menentukan tingkat kejenuhan garam dalam pelarut, yakni dengan
melarutkan garam ke dalam air sambil diaduk. Bila garam tidak dapat larut lagi,
berarti konsentrasi garam dalam larutan tersebut telah jenuh , Kulit yang telah
direndam ditiriskan pada bagian atas bak perendaman. Bagian daging dari kulit
tersebut ditaburi kembali dengan garam dengan persentase 10% dari berat kulit
basah dan kulit didiamkan selama 1-2 jam untuk memperbaiki kondisi peresapan.
Kulit kembali dipentang pada bingkai kayu dengan waktu pengeringan 3-5 hari.
Kulit yang telah kering selanjutnya dilipat.

6
Dalam proses ini memiliki beberapa keuntungan maupun kerugian antara
lain :
1. Keuntungan
a. Selama waktu pengeringan kulit tidak lekas menjadi busuk sekalipun
pengeringannya memerlukan waktu yang relatif lama misalnya pada saat
musim penghujan.
b. Kualitas kulit menjadi lebih baik dari pada yang dikeringkan saja (cara-1)
oleh karena serat-serat kulit tidak melekat satu sama lain.
c. Kulit sangat baik untuk disamak terutama dalam proses perendaman
(soaking) yang tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama lagi
2. Kerugian
Biaya pengawetan yang dibutuhkan menjadi lebih banyak dibanding cara-
1 karena jumlah penggunaan garamnya bertambah pula
2.1.3 Tahap Penggaraman Basah
Kulit yang telah bersih dimasukkan ke dalam garam jenuh selama 24 jam.
Setelah perendaman, kulit tidak lagi dikeringkan, tetapi kulit diletakkan pada
lantai miring yang diatasnya telah ditaburi dengan garam. Kulit yang berada pada
posisi paling bawah diletakkan dengan bagian bulu menghadap ke lantai dan
bagian berdaging menghadap keatas.
Bagian berdaging ditaburi garam kira-kira 30% dari berat kulit basah
(setelah perendaman). Penempatan kulit berikutnya sama halnya dengan posisi
pertama yaitu untuk kulit-kulit yang memiliki bulu pendek seperti sapi, kerbau
dan kuda. Jadi bagian daging posisi pertama bersentuhan dengan bagian bulu
posisi kedua. Begitu seterusnya hingga tinggi tumpukan maksimal 1 meter. Kulit
terakhir yang berada pada posisi atas berfungsi sebagai penutup sehingga posisi
penempatannya terbalik dari keadaan semula yaitu bagian bulu menghadap ke
atas. Tumpukan kulit didiamkan selama 1 malam hingga air dalam kulit menetes
sedikit demi sedikit. Kulit yang telah digarami tersebut didiamkan selama 2-4
minggu supaya cairannya bisa seluruhnya keluar.
7
Dengan demikian kulit dapat dilipat untuk diperdagangkan atau disimpan
sebagai kulit garaman. Penyimpanan kulit-kulit yang telah diikat tersebut dalam
gudang tidak lebih dari1 meter untuk mencegah timbulnya panas yang
berlebihan. Pengawetan dengan cara ini terutama dilaksanakan di daerah-daerah
yang memiliki iklim dingin/sejuk yang kurang terkena sinar matahari. Teknik ini
digunakan pula untuk pengawetan kulit yang tidak tahan terhadap sinar matahari
seperti kulit ikan dan kulit reptil. jenis pengawetan ini memiliki beberapa
keuntungan dan kerugian antara lain :
1. Keuntungan
a. Pengawetan tidak tergantung dengan sinar matahari
b. Sedikit sekali terjadi kerusakan kulit
c. Proses perendaman (soaking) dalam proses penyamakan kulit
membutuhkan waktu yang singkat
d. Pelaksanaan cepat dan tidak membutuhkan ruangan yang luas
2. Kerugian
a. Untuk daerah tropik seperti di Indonesia pengawetan dengan
menggunakan garam basah masih disangsikan keberhasilannya mengingat
temperatur ruangan yang sangat baik untuk pertumbuhan bakteri
khususnya bila penyimpanan dilakukan dalam jangka waktu yang cukup
lama. Bakteri yang seringkali ditemukan pada kulit garaman adalah jenis
bakteri halapofilik yang diketahui relatif tahan terhadap suasana garam.
b. Biaya pengawetan sedikit lebih mahal karena pemakaian garam yang
relatif lebih banyak serta membutuhkan penyimpanan dengan temperatur
yang rendah.

2.2 Penyamakan Kulit


Prinsip mekanisme penyamakan kulit adalah memasukkan bahan
penyamak ke dalam anyaman atau jaringan serat kulit sehingga menjadi ikatan
kimia antara bahan penyamak dan serat kulit (Purnomo, 1985).
8
Menurut Muslich (1999), teknik penyamakan kulit dikelompokkan
menjadi 3 tahapan, yaitu proses pra-penyamakan, penyamakan, dan pasca
penyamakan. Proses pra-penyamakan (beam open house operation) meliputi
perendaman, pengapuran, pembuatan daging, pembuangan kapur, pengikatan
proten, pemucatan dan pengasaman (Purnomo, 1985). Perendaman (soaking)
merupakan tahapan pertama dari proses penyamakan yang bertujuan
mengembalikan kadar air kulit yang hilang selama proses pengawetan sehingga
kadar airnya mendekati kadar air kulit segar. Tujuan perendaman adalah
membuang zat padat seperti pasir, kerikil, parasit, sisa darah, urin, dan kotoran.
Pencegahan proses pembusukan dalam perendaman dapat dilakukan dengan cara
mengusahakan agar air perendaman tetap dingin, terutama di musim panas perlu
digunakan termometer dan penambahan sedikit bakterisida (Mann, 1980).
Selama proses penyamakan, senyawa non-kolagen harus dihilangkan, dan
tingkat penghilangan senyawa non-kolagen ini menentukan kualitas kulit. Untuk
itu, penambahan enzim sangat diperlukan untuk mempermudah proses
penyamakan dan disamping itu penambahan enzim dapat pengurangan bahan
kimia yang digunakan, sehingga berdampak pula terhadap pengurangan limbah
kimia yang dihasilkan. Penerapan penyamakan dengan menggunakan enzim
sebenarnya sudah pula diterapkan, yaitu dengan menggunakan bahan-bahan
tambahan kulit tumbuhtumbuhan bakau, namun hal ini berdampak pula terhadap
kelestarian hutan bakau dan prosesnya kurang dapat dikendalikan.
Secara garis besar tahapan proses industri penyamakan kulit sebagai
berikut, yaitu:
1. Tahapan Proses Pengerjaan Basah (Beam House)
Urutan proses pada tahap proses basah beserta bahan kimia yang
ditambahkan dan limbah yang dikeluarkan, yaitu:
a. Perendaman (Soaking)
Maksud perendaman ini adalah untuk mengembalikan sifat- sifat kulit
mentah menjadi seperti semula, lemas, lunak dan sebagainya.
9
Kulit mentah kering setelah ditimbang, kemudian direndam dalam 800-
1000% air yang mengandung 1 gram/ liter obat pembasah dan antiseptik,
misalnya tepol, molescal, cysmolan dan sebagainya selama 1- 2 hari. Kulit
dikerok pada bagian dalam kemudian diputar dengan drum tanpa air selama 1/ 5
jam, agar serat kulit menjadi longgar sehingga mudah dimasuki air dan kulit lekas
menjadi basah kembali. Pekerjaan perendaman dianggap cukup apabila kulit
menjadi lemas, lunak, tidak memberikan perlawanan dalam pegangan atau bila
berat kulit telah menjadi 220- 250% dari berat kulit mentah kering, yang berarti
kadar airnya mendekati kulit segar (60-65 %). Pada proses perendaman ini,
penyebab pencemarannya ialah sisa desinfektan dan kotoran- kotoran yang berasal
dari kulit.
b. Pengapuran (Liming)
Maksud proses pengapuran ialah untuk:
1) Menghilangkan epidermis dan bulu.
2) Menghilangkan kelenjar keringat dan kelenjar lemak.
3) Menghilangkan semua zat-zat yang bukan collagen yang aktif
menghadapi zat-zat penyamak.
Cara mengerjakan pengapuran, kulit direndam dalam larutan yang terdiri
dari 300-400% air (semua dihitung dari berat kulit setelah direndam), 6-1 %,
Kapur Tohor Ca (OH)2, 3-6%, dan Natrium Sulphida (Na2S). Perendaman ini
memakan waktu selam 2-3 hari. Dalam proses pengapuran ini mengakibatkan
pencemaran yaitu sisa- sisa Ca (OH)2, Na2S, zat-zat kulit yang larut, dan bulu
yang terlepas.
c. Pembelahan (Splitting)
Untuk pembuatan kulit atasan dari kulit mentah yang tebal (kerbau-sapi)
kulit harus ditipiskan menurut tebal yang dikehendaki dengan jalan membelah
kulit tersebut menjadi beberapa lembaran dan dikerjakan dengan mesin belah atau
Splinting Machine.

10
Belahan kulit yang teratas disebut bagian rajah atau nerf, digunakan untuk
kulit atasan yang terbaik. Belahan kulit dibawahnya disebut split, yang dapat pula
digunakan sebagai kulit atasan dengan diberi nerf palsu secara dicetak dengan
mesin press (Emboshing machine) pada tahap penyelesaian akhir. Selain itu, kulit
split juga dapat digunakan untuk kulit sol dalam, krupuk kulit, dan lem kayu.
Untuk pembuatan kulit sol, tidak dikerjakan proses pembelahan karena diperlukan
seluruh tebal kulit.
d. Pembuangan Kapur (Deliming)
Oleh karena semua proses penyamakan dapat dikatakan berlangsung
dalam lingkungan asam maka kapur didalam kulit harus dibersihkan sama sekali.
Kapur yang masih ketinggalan akan mengganggu proses- proses penyamakan.
Misalnya:
1) Untuk kulit yang disamak nabati, kapur akan bereaksi dengan zat
penyamak menjadi kalsium tannat yang berwarna gelap dan keras
mengakibatkan kulit mudah pecah.
2) Untuk kulit yang akan disamak krom, bahkan kemungkinan akan
menimbulkan pengendapan Krom Hidroksida yang sangat merugikan.
Pembuangan kapur akan menggunakan asam atau garam asam, misalnya
H2SO4, HCOOH, (NH4)2SO4, Dekaltal, dan lain-lain.
e. Pengikisan Protein (Bating)
Proses ini menggunakan enzim protese untuk melanjutkan pembuangan
semua zat- zat bukan collagen yang belum terhilangkan dalam proses pengapuran
antara lain:
1) Sisa- sisa akar bulu dan pigmen.
2) Sisa- sisa lemak yang tak tersabunkan.
3) Sedikit atau banyak zat- zat kulit yang tidak diperlukan artinya untuk
kulit atasan yang lebih lemas membutuhkan waktu proses bating yang
lebih lama.
4) Sisa kapur yang masih ketingglan.
11
f. Pengasaman (Pickling)
Proses ini dikerjakan untuk kulit samak dan krom atau kulit samak sintetis
dan tidak dikerjakan untuk kulit samak nabati atau kulit samak minyak. Proses
pengasaman untuk mengasamkan kulit pada pH 3- 3,5 dengan tujuan kulit dapat
menyesuaikan dengan pH bahan penyamak yang akan dipakai nanti dan kulit
tidak bengkak.
Selain itu pengasaman juga berguna untuk:
1) Menghilangkan sisa kapur yang masih tertinggal.
2) Menghilangkan noda- noda besi yang diakibatkan oleh Na2gS, dalam
pengapuran agar kulit menjadi putih bersih.
2. Tahapan Proses Penyamakan (Tanning)
Proses penyamakan dimulai dari kulit pikel untuk kulit yang akan
disamakkrom dan sintan, sedangkan untuk kulit yang akan disamak nabati dan
disamak minyak tidak melalui proses pickling (pengasaman).
Fungsi masing-masing bagian pada proses penyamakan, yaitu:
a. Penyamakan
Pada tahap penyamakan ini ada beberapa cara yang bisa dilakukan, yakni:
1) Cara penyamakan dengan bahan penyamakan nabati
a) Cara Counter Current
Kulit direndam dalam bak penyamakan yang berisis larutan ekstrak nabati
+ 0,50. Be selama 2 hari, kemudian kepekatan cairan penyamakan dinaikkan
secara bertahap sampai kulit menjadi masak yaitu 3- 4 0Be untuk kulit yang tipis
seperti kulit lapis, kulit tas, kuli pakaian kuda, dan lain-lain. Sedangkan untuk
kulit- kulit yang tebal seperti kulit sol, ban mesin dan lain-lain pada kepekatan 6-8
0Be.Untuk kulit sol yang keras dan baik biasanya setelah kulit tersamak masak
dengan larutan ekstrak, penyamakan masih dilanjutkan lagi dengan cara kulit
ditanam dalam babakan dan diberi larutan ekstrak pekat selama 2-5 minggu.

12
b) Sistem samak cepat
Penyamakan awal menggunakan 200% air, 3% ekstrak mimosa (Sintan)
putar dalam drum selam 4 jam. Putar terus tambahkan zat peyamak hingga masak
diamkan 1 malam dalam drum.
2) Cara penyamakan dengan bahan penyamakan mineral
a) Menggunakan bahan penyamak krom
Zat penyamak krom yang biasa digunakan adalah bentuk kromium sulphat
basa. Basisitas dari garam krom dalam larutan menunjukkan berapa banyak total
velensi kroom diikat oleh hidriksil sangat penting dalam penyamakan kulit. Pada
basisitas total antara 0- 33,33%, molekul krom terdispersi dalam ukuran partikel
yang kecil (partikel optimun untuk penyamakan). Zat penyamak komersial yang
paling banyak digunakan memunyai basisitas 33,33%. Jika zat penyamak krom ini
ingin difiksasikan didalam substansi kulit, maka basisitas dari cairan krom harus
dinaikkan sehingga mengakibatkan bertambah besarnya ukuran partikel zat
penyamak krom. Dalam penyamakan diperlukan 2,5- 3,0% Cr2O3 hanya 25 %,
maka dalam pemakainnya diperlukan 100/25 x 2,5 % Cromosol B= 10%
Cromosol B. Obat ini dilautkan dengan 2-3 kali cair, dan direndam selama 1
malam. Kulit yang telah diasamkan diputar dalam drum dengan 80- 100%, air, 3-4
% garam dapur (NaCl), selama 10-15 menit kemudian bahan penyamak krom
dimasukkan sebagai berikut:
- 1/3 bagian dengan basisitas 33,3 % putar selama 1 jam.
- 1/3 bagian dengan basisitas 40-45 % putar selama 1 jam.
- 1/3 bagian dengan basisitas 50 % putar selama 3 jam.
b) Cara penyamakan dengan bahan penyamak aluminium (tawas
putih)
Kulit yang telah diasamkan diputar dengan:
- 40- 50 % air
- 10% tawas putih

13
- 1- 2% garam, putar selama 2-3 jam lu ditumpuk selama1 malam.
- Esok harinya kulit diputar lagi selama 1 jam, laludigantung dan
dikeringkan pada udara yang lembabselama 2-3 hari. Kulit diregang
dengan tangan atau mesin sampai cukup lemas.
3. Tahapan Penyelesaian Akhir (Finishing)
Penyelesaian akhir bertujuan untuk memperindah penampilan kulit
jadinya, memperkuat warna dasar kulit, mengkilapkan, menghaluskan
penampakan rajah kulit serta menutup cacat-cacat atau warna cat dasar yang tidak
rata.

2.3 Macam-Macam Produk Kulit


2.3.1 Kerupuk Kulit
Beberapa daerah menyebut olahan ini rambak atau jangek. Kerupuk yang
terbuat dari kulit sapi atau kerbau ini memiliki cita rasa gurih dan nikmat. Namun
dibalik cita rasa yang gurih itu ternyata pengolahan kerupuk kulit ini cukup
membutuhkan kesabaran. Karena bahan baku kulit sapi atau kerbau ini perlu
dicuci berkali kali agar baunya hilang dan direbus hingga berjam jam lamanya.
Setelah mengalami proses perebusan, kulit sapi atau kerbau ini di jemur 3 hari
lamanya. Setelah benar benar kering, kerupuk digoreng hingga renyah.
Proses awal yang harus dilakukan untuk membuat kerupuk kulit yaitu kulit
utuh sapi atau kerbau diiris menjadi empat. Disarankan memakai kulit kerbau
karena akan memudahkan dalam pengelupasan bulunya. Kemudian dibuat lubang
di salah satu sudutnya. Lalu direbus sekitar 15 menit hingga bulu dan kulit luar
mudah dikelupas. Setelah direbus lalu didinginkan. Kemudian Anda kerok dengan
menggunakan pisau sampai bersih.
Langkah berikutnya, kulit tadi dipotong-potong segi empat kurang lebih 10
cm. Lalu di rebus kembali sampai matang. Proses selanjutnya adalah pendinginan
dan pembersihan serta pengambilan daging yang masih melekat di kulit.
Kemudian dipotong kecil-kecil sekitar 2 cm. Baru dijemur kurang lebih 2-3 hari.
14
Apabila tidak dijemur hingga kering bisa membuat kerupuk hancur pada
saat penggorengan. Proses terakhir adalah proses penggorengan dan pemberian
bumbu. Di sini merupakan proses yang paling sulit. Penggorengan akan
menentukan kerupuk yang mengembang dan renyah. Sedangkan pemberian
bumbu akan menentukan merata atau tidaknya bumbu. Untuk penggorengan bisa
memakan waktu hingga 8 jam.
Kerupuk kulit berpeluang menambah gizi untuk kesehatan tubuh.
Berdasarkan hasil penelitian dari Pusat Penelitian Penyakit Tidak Menular, Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI,
menyimpulkan bahwa kerupuk kulit merupakan kerupuk yang paling bergizi
dibandingkan dengan kerupuk tapioka, terigu, dan kedelai. Berbagai macam gizi
seperti protein, karbohidrat, dan lemak serta mineral terkandung didalamnya.
Kerupuk kulit mengandung 82,9 % protein. Sedangkan mineral seperti kalsium,
fosfor, dan besi terkandung sebanyak 0,04% (Pearson dan Dutson, 1992).
2.3.2 Krecek
Krecek adalah masakan yang bumbu bumbunya sama dengan bumbu
sambal goreng. Bumbunya yang kuah cukup banyak . Kuliner ini dapat ditemukan
di Jawa Tengah dan biasa dikenal dengan goreng tempe dan campuran kerupuk
kulit. Kerecek yang digunakan hampir sama dengan kerupuk kulit yang sering
dijadikan cemilan di rumah. Hanya saja krecek teksturnya lebih keras dan renyah.
Dimaksudkan saat dimasak nanti kerupuk ini tidak hancur. Sambel goreng krecek
ini sangat gurih dengan kuah santan dan terasa lebih nikmat jika disajikan dengan
gudeg jogja atau sambel tumpah.
2.3.3 Sop Kikil
Kikil adalah kulit pada kaki sapi atau kerbau. Kikil bertekstur kenyal dan
berwarna putih dan kekuningan. Sop kikil adalah makanan khas Jawa Timur. sama
dengan sop pada umumnya, Namun sop ini berbahan dasar kikil yang menjadi ciri
khas. Rasa kulit kikil akan bercampur dengan hangatnya kaldu sapi.

15
Berikut ini cara membuat sop kikil. Pertama siapkan kikil yang telah
dicuci bersih dan kemudian rebus kikil dengan daun salam, lengkuas, jahe, serai,
dan garam hingga matang. Bila sudah matang, angkat kikil, potong potong dan
buang airnya. Kemudian tumis bumbu halus dan serai sampai harum, tambahkan
kikil dan aduk rata. Masukkan air, garam, gula pasir dan masak sampai matang.
Sebelum diangkat tambahkan daun bawang untuk menambah sensasi harum pada
sop kikil dan aduk rata. Akhirnya sop kikil pun siap disantap.
2.3.4 Gulai Kikil
Gulai kikil adalah kuliner bersantan dan banyak ditemukan di daerah
Sumatra barat. Selain memiliki rasa yang gurih, gulai kikil juga memiliki rasa
yang agak sedikit pedas. ini akan menambah selera makan kita. Untuk menikmati
gulai kikil ini , anda pun tidak perlu pergi jauh jauh karena anda bisa langsung
mencobanya.
Caranya pun tak kalah mudah, anda hanya perlu menyiapkan kikil yang
telah direbus air hingga empuk . angkat kemudian tiriskan. Potong kikil dengan
sesuai selera dan sisihkan. Campur santan dengan bumbu halus yang terdiri dari
bawang merah, putih, kemiri, lengkuas, ketumbar dan daun salam. Jangan lupa
tambahkan daun serai dan daun jeruk . masak kuah hingga mendidih dan
masukkan kikil kedalam kuah yang telah direbus tadi.
Hanya memerlukan api kecil untuk memasak gulai kikil ini sampai santan
mengental. Dan bila sudah mengeluarkan minyak, angkat gulai kikil dan gulai
kikil anda siap disajikan . gulai kikil ini enak disantap dengan sepiring nasi hangat
dan jangan lupa ditemani daun singkong rebus serta sambel hijau.
2.3.5 Jaket Kulit
Jaket adalah baju luar yang panjangnya hingga pinggang atau pinggul dan
berguna untuk menahan angin, terlebih untuk musim hujan. Jaket biasanya dibuat
dari kain tebal sering diberi bahan pelapis dan penghangat dibagian dalam. Bahan
dasar jaket kulit terbuat dari kulit binatang.

16
Yang paling populer digunakan adalah kulit domba, sapi, unta, dan kerbau.
Sebelum dibuat jaket terlebih dahulu kulit harus melalui proses pengolahan. Salah
satunya disamak dengan memberi beberapa zat kimia. Penyamakan ini berfungsi
untuk menghilangkan lemak serta beberapa bagian kulit yang tidak berguna.
Dalam proses penyamakan ini kulit juga bisa diberi warna sesuai dengan
kebutuhan (Sukarbowo dan Sudarjo,1989).
2.3.6 Fashion dan Accessories
Kerajinan kulit biasanya menggunakan bahan dari kulit sapi, itu arena kulit
sapi lebih memiliki tekstur yang khas, tahan lama dan merupakan jenis kulit yang
paling banyak digunakan dalam proses produksi kulit. Kerajinan dari kulit untuk
fashion dan aksesoris adalah tas kulit, dompet kulit, sepatu/sandal kulit, ikat
pinggang, gelang, dan sebagainya. Berikut adalah beberapa jenis kulit yang
digunakan untuk membuat produk kulit:
a. Kulit Sapi Nabati
Sifat kulit tebal/kaku., jenis kulit sapi ini lebih banyak kami gunakan,
karena selain kualitasnya cukup baik, harganya tidak terlalu mahal
dibandingkan dengan jenis kulit sapi lainnya. Sehingga dapat tetap
memiliki produk fashion dan accesories dari kulit sapi yang tetap terjaga
keaslian kulitnya.
b. Kulit Sapi Krom
Sifat kulit tebal/lembut, jenis kulit sapi ini tergolong agak halus, sehingga
dari sisi harga lebih mahal dari jenis kulit sapi nabati. Jenis kulit ini biasa
digunakan untuk membuat produk fashion dan accesories dari kulit yang
limited edition atau branded.
c. Kulit Sapi Pullup
Sifat kulit tebal/lembut/lentur, harga untuk jenis kulit sapi ini lebih mahal 2
hingga 3 kali dari jenis kulit nabati dan krom. Jenis kulit ini cocok jika
digunakan untuk membuat produk fashion dan accesories dari kulit dengan
kualitas super.

17
Peminat untuk jenis kulit ini tergolong dari kelas menengah keatas dengan
harga rata-rata produk diatas Rp. 800.000, biasanya tergantung dari model
dan ukuran produk.
d. Kulit Sapi Suede
Sifat kulit: tipis/lembut, jenis kulit ini merupakan yang termahal dari jenis
nabati dan krom, memiliki tekstur yang hampir berbulu serta lembut. Jenis
kulit sapi suede ini biasa digunakan untuk membuat produk fashion dan
accesories dari kulit yang bersifat branded.
III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
a. Pengawetan pada kulit mentah terdiri dari mekanisme penggaraman,
penggaraman dengan pengeringan, dan penggaraman basah
b. Penyamakan kulit dilakukan dengan cara perendaman, pengapuran,
pembelahan (Splitting), pembuangan kapur (Deliming), pengikisan protein
(Bating), pengasaman (pickling), kemudian proses penyamakan dengan
bahan nabati, alumunium, serta proses finishing yaitu memperindah
penampilan kulit dari warna dan penghalusan.
c. Macam-macam olahan kulit diantaranya adalah kerupuk kulit, krecek, sop
kikil, gulai kikil, jaket kulit, Fashion dan Aksesoris.

3.2 Saran
Kunjungan kulit ini merupakan salah satu faktor yang dibutuhkan oleh
mahasiswa karena kurangnya praktek ke lapangan secara langsung, maka dari itu
fakultas seharusnya mengadakan lebih banyak praktek lapangan secara langsung
agar mahasiswa lebih banyak ilmu yang tidak dipatkan di teori.
DAFTAR PUSTAKA

Abustam, E., Said. M.I, Wahyuddin, E, Sukendar, N.K. 2002. Produksi Gelatin
dan Produk Kapsul dari Kulit Kaki Ayam. Laporan Penelitian Proyek
Hibah Bersaing X. Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin,
Makassar.

Aten, ARF. 1966. Flying and Curing of Hide and Skin as A Rural Industri. FAO,
Rome.
Djojowidagdo, S 1999. Histologi Sebagai Ilmu Dasar dan Perannya dalam
Pengembangan Iptek Pengolahan Kulit. Program Pascasarjana Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta.

Judoamidjojo, M. 1981. Defek-Defek pada Kulit Mentah dan Kulit Samak.


Bhatara Karya Aksara, Jakarta.
Junqueira., L.C., Corneiro, J dan Kelly, R.O. 1998. Alih Bahasa : Tambayong, J.
1998. Histologi Dasar. EGC Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta.
LP.POM-MUI. 1997. Tulang yang berserakan. Jurnal halal. Bogor.

Mann, I. 1980. Rural Tanning Techniques. Food and Agriculture Organization of


The United Nations, Rome.
Pearson, A.M and Dutson, T.R. 1992. Inedible Meat By-Products. Advances In
Meat Research. Vol.8. Elsevier Applied Science, London and New York.

Purnomo, E. 1985. Pengetahuan Dasar Teknologi Penyamakan Kulit. Akademi


Teknologi Kulit, Departemen Perindustrian, Yogyakarta.
Roddy, W.T. 1956. Histology of Animal Skins. Chapt.2. Vol I. in The
Chemistry and Technology of Leather. Robert E. Krieger Publishing Co.
Huntington, New York.
Sarkar, K.T. 1995. Theory and Practice Leather Manufacture. THE AUTHOR.
4. Second Avenue. Mahatma Ghandi Road. 600 041

Stanley, A. 1993. Preservation of Rawstock. Leather the International Journal. 195


(4662) Dec. 1993:27-3

Sukarbowo, P dan Sudarjo, S. 1989. Pengetahuan Dasar Teknologi Penyamakan


Kulit. Akademi Teknologi Kulit, Yogyakarta.