Anda di halaman 1dari 29

STUDI KASUS

Layanan Bimbingan Terhadap Kesulitan Belajar Siswa Kelas X


Akuntansi SMK Negeri 1 Jember

Oleh :

Yunita Fitrianingsih

NIM. 14020154390

UNIVERSITAS MOCH. SROEDJI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan
rahmat serta hidayah-Nya kepada kami semua, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas
yang telah diberikan kepada kami berupa laporan studi kasus dengan judul Layanan
Bimbingan Terhadap Kesulitan Belajar Siswa Kelas X Akuntansi SMK Negeri 1 Jember

Dalam penyusunan laporan ini kami yakin masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu,

kami mengharap kepada para pendidik khususnya dan para pembaca umumnya untuk

memberikan saran dan kritik, dalam rangka penyempurnaan laporan ini. Untuk itu kami

menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Hanya kepada Allah SWT kami memohon semoga laporan ini bermanfaat bagi kita semua.

Amin.

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................... i


DAFTAR ISI....................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.................................................................................................... 1
B. Pengertian Layanan Bimbingan......................................................................... 3
C. Tujuan Layanan Bimbingan .............................................................................. 5
D. Pentingnya Layanan Bimbingan......................................................................... 6
E. Metode Pengumpulan Data ................................................................................ 8
F. Kerahasiaan/Konfidensialitas ............................................................................ 9

BAB II LAYANAN BIMBINGAN SISWA


A. Identifikasi Masalah ........................................................................................... 10
B. Diagnosis ........................................................................................................... 16
C. Prognosis ........................................................................................................... 18
D. Treatment (Pemberian Bantuan)......................................................................... 20
E. Follow Up........................................................................................................... 22

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ........................................................................................................ 23
B. Saran .................................................................................................................. 24

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... 25
LAMPIRAN........................................................................................................ 26

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Tujuan Pendidikan Nasional Indonesia telah dirumuskan dalam
UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab II Pasal 3 yang berbunyi:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta

peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,

bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman

dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,

mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Untuk mewujudkan tujuan pendidikan tersebut, perlu adanya kerja sama antara

sekolah, keluarga, masyarakat dan pemerintah. Sekolah sebagai salah satu lembaga

pendidikan formal merupakan lingkungan hidup kedua sesudah rumah dimana anak didik

untuk sekian jam tiap-tiap hari mengisi hidupnya (Partowisastro, 1982: 13). Di sekolah selain

melakukan kewajiban untuk belajar, siswa juga melakukan interaksi dengan warga sekolah

lainnya seperti guru, sesama siswa, karyawan sekolah dan lainnya. Tidak jarang di sekolah

ditemui siswa yang mengalami kesulitan, seperti kesulitan dalam pelajaran, penyesuaian diri

dengan lingkungan ataupun kesulitan-kesulitan lainnya, bahkan mungkin lingkungan

keluarga dan lingkungan masyarakat ikut menimbulkan masalah bagi siswa di sekolah.

Masalah-masalah tersebut dapat menjadi penghambat bagi siswa untuk mencapai prestasi

yang optimal di sekolah.


Untuk mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut terkadang dibutuhkan bantuan orang

lain untuk ikut menyeleseikannya karena tidak semua siswa mampu menyeleseikan

masalahnya sendiri. Sekolah menyediakan konselor untuk membantu siswa mengatasi

kesulitan-kesulitan yang dialaminya. Selain konselor, guru sebagai salah satu komponen

penting dalam proses belajar mengajar mempunyai tanggung jawab besar terhadap anak

didiknya. Guru mengemban tugas ganda yaitu sebagai pengajar dan pendidik. Salah satu

tugas guru sebagai pendidik dalam hal ini adalah membantu siswa dalam memecahkan
masalah yang dihadapi sehingga diperlukan seorang guru yang profesional agar tujuan

pendidikan dapat tercapai.

Permasalahan yang dihadapi siswa merupakan masalah penting yang harus diketahui

guru yang sangat berpengaruh langsung terhadap keberhasilan siswa dalam studinya. Untuk

itu siswa perlu diberi pengarahan dan bimbingan oleh pihak yang lebih berpengalaman dan

dalam hal ini diwakili oleh guru BK, wali kelas ataupun guru mata pelajaran yang

bersangkutan. Salah satu bentuk bimbingan tersebut melalui program bimbingan siswa yang

memberikan bantuan dan penanganan secara intensif terhadap masalah-masalah yang

dihadapi siswa.

Layanan bimbingan merupakan bagian dari faktor yang mempengaruhi belajar siswa

dan dikategorikan sebagai faktor eksternal. Hal ini karena layanan bimbingan dilakukan oleh

orang lain dan merupakan faktor yang mempengaruhi siswa dari luar dirinya. Layanan

bimbingan tidak dapat dipisahkan dari proses belajar, motivasi belajar, bahkan hasil belajar

yang dicapai sehingga hal tersebut merupakan bagian integral dari pendidikan dan

pengajaran. Dengan layanan bimbingan yang tepat diharapkan dapat memberikan pengaruh

terhadap peningkatan motivasi belajar siswa.

Selama bimbingan berlangsung, hendaknya siswa memang mendapatkan kesempatan

untuk berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuan, kecerdasan, bakat dan

minatnya sebab setiap siswa mempunyai kemampuan, minat dan bakat yang berbeda

(Ruffendi, 1980: 107). Seorang guru dalam memberikan bantuan kepada anak didiknya harus

memperhatikan aspek-aspek yang ada pada pribadi siswa tersebut, antara lain kematangan,

bakat, lingkungan dan sebagainya agar siswa yang diberi bantuan dapat menyelesaikan

masalah

yang dialaminya secara tepat.


Dalam layanan bimbingan ini, penulis memilih salah satu siswa kelas X Akuntansi

SMK Negeri 1 Jember karena penulis adalah praktikan yang mengajar di kelas X Akuntansi

sehingga praktikan bisa mengamati secara langsung pada waktu mengajar di kelas tersebut.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka praktikan memilih judul Layanan

Bimbingan Terhadap Kesulitan Belajar Siswa Kelas X Akuntansi SMK Negeri 1 Jember

Tahun Ajaran 2016.

B. Pengertian Layanan Bimbingan

Layanan bimbingan memegang peranan penting bagi siswa dalam memecahkan

masalah yang dihadapi sehingga dengan adanya layanan bimbingan, perkembangan siswa

berjalan sesuai dengan harapan. Para pakar telah mendefinisikan pengertian layanan

bimbingan, diantaranya adalah:

1. Menurut Djumhur (1975: 25), bimbingan adalah suatu proses pemberian

bantuan kepada siswa atau individu yang dilakukan secara terus-menerus supaya individu

tersebut itu dapat memahami dirinya sehingga ia sanggup mengarahkan dirinya dan bertindak

wajar sesuai dengan tuntutan dan dan keadaan sekolah, keluarga, dan masyarakat. Dengan

demikian dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi kehidupan masyarakat pada

umumnya.

2. Menurut Wingkel (1997: 15), bimbingan merupakan suatu proses pemberian bantuan kepada

seseorang atau kelompok orang dalam membuat pikiran secara bijak dan dalam

menyesuaikan diri terhadap tuntutan hidup yang bersifat psikologis.

3. Menurut Walgito dalam Soetjipto dan Kosasi (1994: 57), bimbingan adalah bantuan atau

pertolongan yang diberikan kepada individu atau sekumpulan individu-individu dalam


menghindari atau mengatasi kesulitan dalam hidupnya, agar individu atau sekumpulan

individu-individu itu dapat mencapai kesejahteraan hidupnya.

4. Menurut Mohammad Surya (1988: 12), bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan
yang terus menerus dan sistematis dari pembimbing kepada yang dibimbing agar tercapai
kemandirian dalam pemahaman diri dan perwujudan diri, dalam mencapai tingkat
perkembangan yang optimal dan penyesuaian diri dengan lingkungannya.
5. Buku Pedoman Praktek Pengalaman Lapangan (2011: 35), layanan bimbingan adalah upaya
mengenal, memahami, dan menetapkan siswa yang mengalami kesulitan belajar, khususnya
kesulitan belajar bidang studi, dengan kegiatan mengidentifikasi, mendiagnosis,
memprognosis, dan memerikan pertimbangan pemecahan masalah.
Jadi dari beberapa pengertian yang telah dikemukakan oleh pakar di atas maka dapat

disimpulkan bahwa bimbingan merupakan proses pemberian bantuan kepada seseorang atau

sekelompok orang secara terus menerus dan sistematis oleh guru pembimbing agar individu

atau sekelompok individu menjadi generasi yang mandiri. Layanan bimbingan siswa

dimaksudkan untuk melaksanakan suatu kegiatan dengan memberikan upaya bantuan dan

pertolongan kepada siswa agar permasalahan dan kesulitannya dalam belajar dapat diatasi.

C. Tujuan Layanan Bimbingan

1. Tujuan Umum

Tujuan layanan bimbingan secara umum adalah kegiatan yang dilakukan oleh
pembimbing atau guru untuk mengenal latar belakang pribadi siswa yang mengalami
kesulitan belajar serta memahami dan menetapkan jenis sifat kesulitan belajar, faktor-faktor
penyebab dan penetapan kemungkinan bagaimana pemecahannya, baik secara pencegahan
maupun penyembuhan.
2. Tujuan Khusus

Secara khusus layanan bimbingan bertujuan untuk membantu agar siswa mampu
melakukan atau meraih hal-hal berikut:
a. Mengembangkan pemahaman diri sesuai dengan kecakapan, minat, pribadi hasil belajar,

sehingga tercapai kemajuan pengajaran yang berarti.

b. Memiliki motivasi dalam pengarahan diri, pemecahan masalah, pengambilan keputusan dan

keterlibatan diri dalam proses pendidikan.

c. Memperoleh kepuasan pribadi dalam penyesuaian diri secara maksimal terhadap masyarakat.

d. Meningkatkan prestasi belajar siswa dalam semua bidang pelajaran.


D. Pentingnya Layanan Bimbingan

Layanan bimbingan siswa sangat penting dilakukan karena layanan ini diperlukan
bagi pengembangan intelektual siswa. Dengan adanya layanan ini, siswa diharapkan dapat
mengetahui arah dan tujuan pengembangan dirinya dan dapat secara bijaksana menyelesaikan
masalah yang dihadapi.
Layanan bimbingan ini sangat penting bagi pihak-pihak, antara lain:

1. Siswa yang bersangkutan

Layanan bimbingan sangat penting sebagai informasi untuk memperoleh alternatif yang
memungkinkan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya, sekaligus sebagai acuan
dalam upaya menggali dan memahami dirinya, yaitu mengetahui kelemahan dan kelebihan
yang dimilikinya, sehingga siswa tersebut dapat mencapai prestasi yang memuaskan.
2. Guru PPL

Layanan bimbingan dapat digunakan sebagai latihan dalam memperoleh pengalaman dalam

membantu memecahkan masalah siswa tersebut, sehingga apabila kelak terjun dalam dunia

pendidikan, guru telah memiliki pengalaman yang selanjutnya dapat dikembangkan secara

maksimal.

3. Wali kelas

Layanan bimbingan siswa ini dapat digunakan sebagai masukan berupa informasi
perkembangan siswanya, sehingga dapat memberikan bimbingan kepada siswanya yang
mengalami kesulitan belajar.
4. Guru BK

a. Bagi guru BK adanya layanan bimbingan siswa ini akan mempermudah untuk mengadakan
pengawasan terhadap siswa dan dapat segera memberikan solusi yang terbaik bagi siswa.
b. Dapat digunakan sebagai masukan yang berupa informasi tentang perkembangan siswa.
5. Kepala sekolah

a. Informasi layanan bimbingan siswa dapat dipergunakan sebagai pedoman dalam menentukan
dan menetapkan kebijakan sekolah, khususnya yang berkaitan dengan program bimbingan.
b. Dapat digunakan untuk mengawasi keadaan siswa dan kemampuan guru dalam memberikan
layanan bimbingan.
c. Dijadikan upaya dalam menentukan cara-cara yang baik untuk meningkatkan prestasi siswa.

E. Metode dan Alat Pengumpulan Data


Agar diperoleh pemecahan yang baik, maka diperlukan teknik pengumpulan data

yang yang tepat dan relevan. Adapun teknik pengumpulan data tersebut adalah sebagai

berikut:

1. Observasi

Observasi merupakan teknik pengumpulan data dengan jalan mengadakan pengamatan

langsung terhadap siswa yang dilakukan didalam dan diluar kelas, menyangkut berbagai

perilaku dan kegiatan yang dilakukan siswa.

2. Angket

Angket merupakan teknik pengumpulan data yang berupa suatu daftar yang berisi

pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dan dikerjakan oleh responden, dalam hal ini

adalah siswa yang bersangkutan. Siswa diberikan Problem Check List untuk diisi sesuai

keadaan siswa, sehingga dapat diketahui data masalah atau kesulitan-kesulitan yang sedang

dihadapinya. Check list ini antara lain berisi kesehatan, keadaan kehidupan,penyesuaian

terhadap sekolah, hubungan sosial, kebiasaan belajar dan masa depan yang berhubungan

dengan karier.

3. Studi Dokumenter

Teknik ini merupakan teknik pengumpulan data dengan cara mengumpulkan data dari

sumber-sumber tertulis. Teknik dokumenter dilakukan dengan cara mempelajari dokumen-

dokumen yang dijadikan sumber data yaitu: daftar nilai, buku catatan pelanggaran tata tertib,

buku presensi kelas, buku catatan pelajaran.

4. Wawancara
Metode ini merupakan teknik pengumpulan data dengan cara mengadakan wawancara
dengan siswa yang bersangkutan, teman siswa, guru dan juga pihak lain yang mengetahui
tentang diri siswa.

F. Kerahasiaan/ Konfidensialitas
Seluruh data yang diperoleh dari layanan bimbingan siswa atau studi kasus ini bersifat

rahasia dan tidak boleh digunakan untuk kepentingan lain tanpa seijin siswa kasus. Asas

kerahasiaan ini dilakukan sesuai dengan kode etik konselor

Bab II sub bab Penyimpanan dan Penggunaan Informasi butir 1.1 yang menyatakan bahwa:

Catatan tentang diri klien yang meliputi data hasil wawancara, testing, surat-menyurat,

perekaman, dan data lain, semuanya merupakan informasi yang bersifat rahasia dan hanya

boleh digunakan untuk kepentingan klien. Penggunaan data atau informasi untuk keperluan

riset atau pendidikan calon konselor dimungkinkan, sepanjang identitas klien dirahasiakan.

Oleh karena itu, dalam laporan layanan bimbingan siswa ini, data diri siswa
disamarkan atau dibuat fiktif agar tidak diketahui orang lain. Akan tetapi, data yang berkaitan
dengan masalah yang dihadapi siswa ataupun data lain yang digunakan dalam studi kasus ini
tetap dijaga keutuhannya. Penyamaran nama, alamat, dan hal-hal lain dalam laporan ini
berdasarkan fiktif belaka dan tidak merujuk pada individu lain.

BAB II
LAYANAN BIMBINGAN SISWA

Layanan bimbingan siswa merupakan suatu upaya untuk mengenal, memahami,

dan membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar. Kegiatan layanan bimbingan siswa

dapat dilaksanakan melalui langkah-langkah berikut:

A. Identifikasi Masalah

Identifikasi masalah adalah suatu cara untuk mencari, menetapkan dan mendapatkan

siswa mana yang tergolong mengalami kesulitan belajar. Langkah ini berusaha mencari siapa

yang mengalami kesulitan belajar, diperlukan adanya ukuran yang berupa kriteria atau norma

tertentu, sehingga dengan demikian siswa yang mengalami kesulitan belajar adalah benar-

benar siswa yang tidak mencapai kriteria yang ditentukan. Sebagai ukuran bahwa siswa

tergolong mengalami kesulitan belajar atau tidak, dipakai kriteria antara lain sebagai berikut:

1. Apabila secara nyata siswa tidak dapat mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan

sebelumnya. Tujuan ini merupakan tujuan formal yaitu tujuan kurikuler, tujuan pembelajaran

umum dan tujuan pembelajaran khusus. Tujuan pembelajaran khusus merupakan tujuan yang

ingin dicapai pada setiap akhir pelajaran dengan cara mengadakan post test yang dikerjakan

siswa baik secara lisan maupun tertulis, sehingga dapat diketahui siswa yang tergolong

mengalami kesulitan belajar.

2. Siswa yang skor atau nilainya dibawah rata-rata baik tes formatif maupun tes sumatif.

3. Siswa secara nyata tidak dapat memenuhi harapan-harapan guru, harapan-harapan ini

terutama berhubungan dengan sikap dan tingkah laku, misalnya sikap yang jujur, rajin,

bertanggung jawab, serta menghargai orang lain.

Tahap analisis data adalah tahap pengumpulan data dan pengorganisasian data dengan baik
yang berupa data pribadi maupun data tentang lingkungan sekitarnya secara menyeluruh.
Semua data yang telah diperoleh adalah dengan menggunakan metode observasi, angket
melalui problem check list, studi dokumenter dan wawancara.
1. Observasi
Observasi ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui aktivitas siswa dan

dilakukan tanpa sepengetahuan siswa. Tingkah laku siswa yang diobservasi adalah tingkah

laku yang sebenarnya bukan dibuat-buat. Dari observasi yang telah dilakukan diperoleh data

sebagai berikut:

a Konseli termasuk siswa yang pendiam dan sering melamun dalam proses belajar mengajar.

b Konseli sering menyendiri dalam mengerjakan tugas, tidak membahasnya dengan teman

dekat tempat duduknya.

c Konseli agak lambat dalam belajar.

2. Angket

a. Identitas konseli

Nama : Sandara

Nama pangilan : Dara

Tempat, Tgl lahir : Jember, 01 Januari 1996

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Alamat : Jalan Jayanegara No.22 Rambipuji

b. Identitas orang tua

Nama Ayah : Duliam (Alm)

Nama Ibu : Minah

Pekerjaan Ibu : Pedagang

Pendidikan Ibu : SD

Agama : Islam

Alamat : Jalan Jayanegara No.22 Rambipuji

c. Data tentang keluarga

Konseli tinggal bersama : Orang Tua


Jumlah saudara :3

Konseli anak ke :1

Jumlah penghuni rumah : 4 orang

d. Riwayat pendidikan

SD : MI Attaroqie Lulus tahun 2009

SMP : MTS Nurul Ulum Lulus tahun 2012

e. Keterangan Khusus

1) Konseli mengikuti kegiatan ekstrakurikuler BDI seminggu 2 kali.

2) Kegiatan di luar sekolah adalah Kegiatan Mengaji

3) Belajar di rumah dilakukan setiap harinya jam 06.00 sampai jam 09.30

4) Tidak ada ruangan tersendiri untuk belajar di rumah

5) Jika ada kesulitan dalam belajar dibahas dengan teman

6) Ada perhatian dari orang tua terhadap balajar siswa

7) Jarak rumah ke sekolah 30 menit dan ditempuh dengan angkot

Data yang diperoleh melalui problem check list:

a. Kesehatan

Sering sakit waktu SD/SMP

Sering merasa lelah tak bersemangat

Sering merasa pening

b. Rumah dan keluarga

Jumlah saudara banyak

Sudah tidak berayah

Anak sulung
c. Keadaan kehidupan

Penghasilan orang tua kurang

Ibu mencari nafkah untuk keluarga

Tamat SMK ingin bekerja

d. Agama dan moral

Sering timbul sifat iri hati

e. Hubungan sosial

Tidak senang bermain kerumah teman

Merasa tidak disenangi teman

Bersifat pemalu

Kurang dapat mengeluarkan isi hati

f. Penyesuaian terhadap sekolah

Di dalam kelas saya sering melamun

Sering merasa cemas bila ulangan

Merasa bahan pelajaran sulit dikuasai

Ada beberapa pelajaran yang tidak disenangi

g. Kebiasaan belajar

Belajar tidak teratur waktunya

Sukar memusatkan perhatian waktu belajar


Kalau belajar sering mengantuk

Sering terganggu saudara dalam belajar

Belajar dengan cara membayangkan

h. Masa depan berhubungan karier

Jurusan saya sekarang tidak sesuai


Sering berdebar bila mengingat masa depan

i. Penggunaan waktu

Saya tidak dapat memanfaatkan waktu luang


Lebih senang dirumah dari pada kegiatan menyalurkan hobi

j. Berhubungan dengan kurikulum

Sering mendapat angka rendah


Sering khawatir kalau mendapat giliran

Merasa sulit pada pelajaran yang hitungan

k. Masalah asmara

Bercinta pada masa sekolah dapat mendorong

Mulai tertarik dengan pada salah satu teman

Mulai tertarik pada lawan jenis

Pernah patah hati

3. Studi Dokumenter

Hasil dari studi dokumenter yang telah dilakukan sebagai berikut:


a. Pada pembelajaran Menerapkan Prinsip Profesional dalam Bekerja, nilai Ulangan Harian

mendapat dibawah KKM yaitu 50 (KKM: 80).

b. Nilai akuntansi yang merupakan kompetensi pokok jurusan konseli mendapatkan dibawah

KKM (KKM: 80).

4. Wawancara

Berdasarkan hasil wawancara yang kami lakukan dengan konseli diperoleh

keterangan:

Konseli merasa sukar memahami pelajaran terutama pelajaran yang bersifat hitungan,

yaitu Akuntansi dan Matematika. Ketika SMP ia ingin sekolah di salah satu SMA favorit di

kotanya, namun karena nilai ujian nasionalnya tidak mencukupi akhirnya batal, kemudian ia

daftar di SMK. Saat memilih jurusan ia sebetulnya ingin di jurusan Usaha Pariwisata, namun

karena tinggi badan tidak mencukupi dan ia diarahkan keluarga dekatnya untuk memilih

jurusan Akuntansi. Sehingga ia pada akhirnya ia merasa salah jurusan dengan memilih

Akuntansi tersebut.

Ia merasa tidak suka pada salah satu temannya dikelas, karena ia sering dijahili

dengan ucapan olehnya, sehingga teman-teman yang lain juga ikut menjahili dia. Hal tersebut

mengganggu ketenangan hatinya.

Hasil wawancara denga guru pengajar Akuntansi yang merupakan bidang keahliannya

dapat diketahui bahwa konseli termasuk siswa yang lambat dalam menangkap pelajaran,

perlu dijelaskan dengan pelan-pelan untuk dapat memahami materi.

B. Diagnosis

Diagnosis adalah suatu langkah untuk mencari, menemukan dan menentukan faktor-
faktor yang menyebabkan timbulnya masalah. Tujuan diagnosis adalah untuk mengetahui
letak kesulitan, jenis kesulitan dan mengetahui latar belakang kesulitan siswa. Tahap
diagnosis ini terbagi menjadi 2 (dua) langkah yaitu:
1. Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah merupakan kegiatan untuk mengidentifikasikan atau
menemukan permasalahan yang dihadari konseli. Dari data yang praktikan kumpulkan, maka
dapat diambil suatu diagnosis bahwa konseli saat ini mempunyai masalah yang meliputi:
a. Masalah belajar
1) Merasa kesulitan mengatur waktu belajar
2) Cepat bosan dalam belajar
3) Sulit berkonsentrasi dalam belajar
4) Agak lambat dalam belajar
5) Tidak suka dengan pelajaran yang bersifat hitungan

b. Masalah rumah dan keluarga


1) Konseli sudah tidak berayah, sehingga ibu yang menjadi kepala keluarga.
2) Mempunyai 2 adik yang perlu bimbingannya ketika ibu tidak dirumah.

2. Menemukan Sumber Penyebab Masalah (Etiologi)


Dalam kegiatan ini praktikan berusaha untuk menemukan faktor-faktor

penyebab timbulnya masalah yang dialami konseli. Berdasarkan data yang sudah didapatkan.

Faktor penyebab timbulnya masalah adalah sebagai berikut:

a. Faktor Internal

Faktor penyebab timbulnya masalah yang dihadapi konseli antara lain:

1) Minat terhadap pelajaran (interest)

Merasa bosan dan tidak berminat dalam belajar terutama dalam pelajaran yang bersifat

hitungan.

2) Kebiasaan belajar

Memiliki pola belajar yang tidak teratur, sering belajar dan mengerjakan tugas didepan TV.

3) Kegiatan Belajar

Konseli agak lambat dalam belajar, nilainya banyak dibawah KKM, ia juga sering terlambat

dalam mengumpulkan tugas. Selain itu saat proses pembelajaran Menerapkan Prinsip

Profesional Kerja ketika guru beberapa kali mengajukan pertanyaan atas materi yang sudah

dijelaskan, ia lamban dalam menjawab. Menurut guru pengajar pelajaran akuntansi yang

merupakan kompetensi kejuruannya nya, ia lamban dalam memahami materi yang

disampaikan sehingga perlu menerangkannya dengan pelan.

b. Faktor Eksternal
Faktor dari luar diri konseli yang menjadi penyebab timbulnya masalah antara lain:
1) Kurang dapat bekerjasama dengan temananya saat mengerjakan soal.
2) Tidak ada yang membimbing secara mendalam untuk kegiatan belajarnya.
3) Ada beberapa temannya yang suka menjahili konseli sehingga membuatnya merasa tidak

nyaman.

C. Prognosis

Prognosis adalah langkah memprediksi kemungkinan yang akan terjadi apabila

siswa yang mempunyai masalah segera diberi bantuan dan apabila tidak segera diberi

bantuan. Alternatif bantuan yang diberikan adalah Bimbingan Konseling (BK) dan hal-hal

yang disepakati bersama dengan siswa. Adapun prediksi terhadap konseli adalah sebagai

berikut.

1. Apabila konseli tidak segera diberi bantuan, maka:

a. Prestasi belajar konseli akan semakin menurun

b. Dimungkinkan konseli akan tinggal kelas

c. Konseli tidak dapat berkonsentrasi dalam belajar

d. Konseli akan semakin kesulitan dalam bersosialisasi dengan teman-temannya.

2. Apabila masalah konseli dapat segera diatasi, maka:

a. Pestasi konseli akan lebih membaik

b. Konseli akan lebih berkonsentrasi dalam belajar

c. Konseli akan mudah bersosialisasi dengan teman-temannya

3. Rencana bantuan

Rencana bantuan yang akan diberikan kepada konseli adalah sebagai berikut.

a. Koseling:
Memberikan motivasi kepada konseli untuk lebih rajin belajar untuk dapat meningkatkan

prestasinya dan untuk menyukai pelajaran Akuntansi karena merupakan kompetensi kejuruan

yang harus dikuasainya.


Menyarankan konseli untuk sering melakukan belajar kelompok dengan teman-temannya

agar dapat saling bertanya jika ada yang tidak dimengerti.

b. Membantu konseli membuat jadwal belajar yang baik.

c. Memberikan pengertian pada teman-temannya agar dapat saling menghargai dan

menyayangi dalam satu kelas sehingga tidak ada yang saling menjahili.

d. Memberikan buku referensi kepada konseli agar konseli dapat mendapatkan materi tambahan

dan tidak ketinggalan dengan teman-temannya.

e. Mengikutkan konseli dalam kegiatan tambahan belajar di luar sekolah agar prestasinya dapat

meningkat.

D. Treatment (Pemberian Bantuan)

Tahap pemberian bantuan ini merupakan langkah lanjutan setelah melakukan

prognosis. Tujuan dari tahap pemberian bantuan ini adalah untuk memberikan bantuan

kepada konseli agar dapat menyelesaikan masalah kesaulitan belajar sehingga dapat

mencapai hasil yang optimal dan penyesuaian yang baik.

Berdasarkan apa yang telah dijelaskan dalam diagnosis terdapat masalah yang telah

dihadapi oleh konseli diantaranya adalah kurangnya motivasi dan prestasi belajar serta

masalah pergaulan dengan teman-temannya. Dengan adanya data seperti itu praktikan perlu

memberikan bantuan yang berupa bimbingan dalam belajar dan dorongan semangat untuk

meningkatkan motivasi belajar konseli.

Pemberian bantuan yang telah dilaksanakan adalah sebagai berikut:

1. Konseling:

Memberikan motivasi kepada konseli untuk lebih rajin belajar.


Untuk dapat meningkatkan prestasinya, konseli diberikan arahan agar selalu mengerjakan

tugas-tugas yang diberikan oleh guru dan mempelajari materi-materi pelajaran. Selain itu

konseli diberikan arahan untuk menyukai pelajaran Akuntansi karena merupakan kompetensi

kejuruan yang harus dikuasainya.

Menyarankan konseli untuk sering melakukan belajar kelompok.

Dengan adanya belajar kelompok dengan teman-temannya diharapkan mereka dapat saling

bertanya jika ada yang tidak dimengerti, sehingga mereka bisa saling bantu-membantu dalam

belajar.

2. Membantu konseli membuat jadwal belajar yang baik.

Konseli dibantu dalam membuat jadwal belajar agar waktu luang di rumah dapat

dimanfaatkan untuk kegiatan belajar, sehingga konseli dapat mengurangi kebiasaan

menonton televisi.

3. Memberikan pengertian pada teman-temannya agar dapat saling menghargai dan menyayangi

dalam satu kelas sehingga tidak ada yang saling menjahili. Hal ini diajarkan saat proses

belajar mengajar di kelas, dengan pemberian pengertian tersebut diharapkan kelas bisa lebih

kompak dan saling tolong-menolong ketika ada kesulitan dalam belajar maupun hal yang

lain.
4. Memberikan buku referensi kepada konseli.
Dengan pemberian buku referensi, konseli dapat mendapatkan materi tambahan yang

bersumber dari buku lain. Sehingga diharapkan konseli dapat mempelajari materi yang belum

dimengerti dari referensi tersebut dan diharapkan konseli lebih rajin dalam belajar. Dalam hal

ini konseli diberikan buku akuntansi dan matematika, yang merupakan mata pelajaran yang

tidak disukainya.

Sedangkan pemberian bantuan yang belum dilaksanakan adalah:

Mengikutkan konseli dalam kegiatan tambahan belajar di luar sekolah.


Misalnya, dengan mengikutkan konseli pada suatu lembaga bimbingan belajar, sehingga

konseli mendapatkan tambahan pembelajaran. Dengan adanya tambahan belajar tersebut,

diharapkan prestasi konseli dapat meningkat.

E. Follow Up

Follow up adalah tahapan akhir dalam layanan bimbingan siswa yang bertujuan untuk

mengetahui perkembangan konseli setelah diberi bantuan. Kegiatan ini juga sebagai alat ukur

keberhasilan bantuan yang diberikan terhadap perkembangan perilaku konseli. Follow up

dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

1. Memantau perkembangan tingkah laku konseli untuk mengetahui sampai sejauh mana

layanan bimbingan dapat memperbaiki kondisi konseli.


2. Menganalisis data nilai pelajaran konseli apakah ada kemajuan sebelum dan sesudah

diberikan layanan bimbingan.


3. Memonitor atau mengawasi perkembangan konseli secara terus menerus baik di dalam

maupun di luar kelas.

Karena keterbatasan waktu yang dimiliki praktikan dalam memberikan layanan

bimbingan, maka selanjutnya praktikan menyerahkan sepenuhnya pengawasan dan

pengarahan terhadap konseli kepada guru BK, wali kelas dan guru bidang studi.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari layanan bimbingan siswa yang dilaksanakan, maka dapat menarik kesimpulan

sebagai berikut:
a. Layanan bimbingan sangat penting artinya bagi siswa yang mengalami masalah, terutama

masalah dalam hal belajar.


b. Berdasarkan data yang diperoleh melalui observasi, wawancara, analisis dokumen berupa

angket, problem check list, bisa diketahui bahwa konseli kurang menyukai pelajaran

akuntansi yang merupakan kompetensi kejuruan yang harus dikuasainya, prestasi konseli

kurang baik dan sosialisasi dengan temannya kurang.


c. Solusi yang ditawarkan kepada siswa adalah memberikan motivasi belajar kepada konseli,

memberikan referensi buku sebagai tambahan materi, memberikan pengarahan kepada

konseli untuk lebih menyukai pelajaran akuntansi dan memberikan motivasi kepada konseli

untuk lebih bisa berteman baik dengan teman-teman sekelasnya.

B. Saran

Dalam mengatasi kesulitan belajar siswa, dibutuhkan kerjasama antara siswa,

orang tua, dan pihak sekolah. Saran-saran yang dapat diberikan dalam upaya perbaikan dan

pemecahan masalah yang dihadapi oleh konseli antara lain:

Konseli harus memiliki semangat dan motivasi yang tinggi untuk belajar, sehingga

diharapkan prestasi belajarnya akan meningkat. Selain itu konseli harus dapat bersosialisasi

dengan baik sehingga ia akan merasa nyaman dengan teman-teman di kelas.


Orang tua juga berperan penting dalam pendidikan anak, orang tua harus selalu mengawasi,

membimbing dan memotivasi anaknya agar anak merasa diperhatikan sehingga semangatnya

belajar dapat meningkat.


Guru pengajar bidang studi sebaiknya menggunakan model pembelajaran yang dapat

menciptakan suasana kelas yang baik agar siswa senantiasa merasa nyaman dan tenang dalam

mengikuti pelajaran.
Setiap siswa mempunyai kemampuan yang berbeda-beda sehingga diharapkan agar guru bisa

memberikan pelayanan inividu sesuai kemampuannya.


Guru BK yang merupakan konselor siswa disekolah juga turut andil dalam membimbing

siswa agar siswa tidak melakukan hal-hal yang dapat mengganggu kegiatan belajar mengajar

disekolah. Siswa juga perlu diberikan motivasi-motivasi untuk mendorongnya dalam

meningkatkan prestasi belajarnya.

DAFTAR PUSTAKA

Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta
Djumhur. 1975. Bimbingan dan Konseling. Bandung : Angkasa Bandung
Endang, W.P. 1993. Dasar-dasar Penyelengaraan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Malang:
IKIP MALANG
Hamalik, Oemar. 2004. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo
Hayinah. 1992/ 1993. Masalah Belajar dan Bimbingan. Malang: OPF IKIP Malang.
Sukardi, Dewa Ketut. 2000. Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah.
Jakarta: PT. Rineka Cipta.
UPT PPL Universitas Negeri Malang. 2012. Buku Petunjuk Pelaksanaan Praktik Pengalaman
Lapangan (PPL) Keguruan Universitas Negeri Malang. Malang: UPT PPL Universitas
Negeri Malang
Winkel, W. S. 1997. Bimbingan dan Konseling di Institut Pendidikan. Jakarta: PT.
Gramedia Widiarsarana Indonesia.
Lampiran 1: Problem Check List
CHECKLIST
CHECKLIST TENTANG PROBLEM SISWA

NAMA : Sandara
KELAS : X Akuntansi Th 2012/2013

I. KESEHATAN
1. Saya sering sakit waktu SD/SLTP
2. Jantung saya sering merasa berdebar
3. Kesehatan sering terganggu
4. Sering merasa lelah tak bersemangat
5. Sering sukar tidur
6. Sering merasa pening
7. Kadang-kadang merasa mengantuk
8. Merasa kurang bergembira karena cacat
9. Kurang makanan yang bergizi
10. Tidak cukup latihan jasmani
11. Pernah menjadi bingung karena sakit
12. Pernah di operasi
13. Lahir sebelum waktunya (prematur)
14. Lahir melalui operasi
15. Pernah mengalami kecelakaan

II. RUMAH DAN KELUARGA


1. Saudara saya banyak
2. Saya tidak tinggal dengan orang tua
3. Di rumah merasa tidak kerasan
4. Jarang bergembira
5. Di rumah hampir tidak ada waktu untuk diri sendiri
6. Tidak/kurang erat dengan orang tua
7. Orang tua kurang memperhatikan saya
8. Sukar menyesuaikan diri dengan orang tua
9. Kurang senang dengan tingkah laku orang di rumah
10. Ayah Ibu sering bertengkar sehingga tidak tentram
11. Orang tu sering menekan dan keras
12. Saya dibiasakan manja
13. Saya tidak berayah/beribu
14. Orang tua saya sering pergi
15. Saya anak sulung/ bungsu/ tunggal

III. KEADAAN KEHIDUPAN


1. Uang saku saya tidak mencukupi
2. Tidak pernah mendapatkan uang saku
3. Biaya sekolah selalu kurang
4. Penghasilan orang tua saya kurang
5. Ibu/Kakak membantu mencari tambahan
6. Keperluan sekolah saya tidak terpenuhi
7. Saya terpaksa ikut bekerja mencari nafkah
8. Terpaksa sering menunggak uang sekolah
9. Tamat SMK bekerja
10. Keluarga kurang saling tolong-menolong
11. Ayah dan Ibu tidak hidup bersama
12. Keluarga saya hidup berantakan
13. Saya membiayai sekolah sendiri
14. Saya tidak puas dengan keadaan saya sekarang
15. Saya ikut orang lain karena orang tua tidak mampu

IV. AGAMA DAN MORAL


1. Tidak dapat bersungguh-sungguh dalam menerima pelajaran agama
2. Kadang-kadang timbul keinginan untuk pindah agama lain
3. Tidak dapat bersungguh-sunggh dalam menjalankan ibadah
4. Sering berdusta
5. Sering mengingkari janji
6. Sering tidak sportif
7. Sering tidak mampu mengakui kesalahan
8. Sering timbul sifat iri hati
9. Kurang dapat bertoleransi dengan agama lain
10. Suka mempermainkan orang lain
11. Kurang merasa iba terhadap penderitaan orang lain
12. Kurang ada rasa imbang
13. Sering lupa mengembalikan milik orang lain
14. Kurang mempunyai rasa hormat terhadap wanita/orang lain
15. Ada dorongan merasa senang menceritakan hal-hal yang menjurus ke porno

V. HUBUNGAN SOSIAL
1. Tidak senang bermain-main ke rumah teman
2. Sering gagal dalam mencari teman
3. Marasa tidak disenangi teman
4. Enggan bergaul dengan teman
5. Merasa rendah diri
6. Bersifat pemalu
7. Mudah tersinggung
8. Sering ingin marah
9. Tidak dapat menerima kritikan orang lain
10. Kurang dapat mengeluarkan isi hati
11. Dalam bergaul ingin memimpin
12. Tidak dapat mengemukakan pendapat
13. Tidak pernah diajak teman bermain bersama
14. Sukar menerima kekalahan

VI. PENYESUAIAN TERHADAP SEKOLAH


1. Sering merasa malas masuk sekolah
2. Sering meninggalkan pelajaran yang tidak saya sukai/takuti
3. Saya sering membolos
4. Saya ingin pindah sekolah
5. Di dalam kelas saya sering melamun
6. Tata tertib sekolah terlalu menekan
7. Sering timbul dorongan untuk melihat pekerjaan teman
8. Sering merasa cemas bila ulangan
9. Tidak senang dengan salah satu guru
10. Merasa fasilitas pembelajaran di Sekolah kurang memadahi/lengkap
11. Merasa bahan pelajaran sukar dipelajari
12. Ingin menjadi pengurus OSIS tetapi tetapi tidak ada yang memilih
13. Ada beberapa pelajaran yang tidak saya senangi
14. Pelajaran di sekolah terlalu membosankan
15. Merasa tak mampu mengikuti PRAKERIN

VII. KEBIASAAN BELAJAR


1. Belajar kalau ada ulangan saja
2. Belajar tidak teratur waktunya
3. Belajar pada malam/siang hari
4. Sukar memusatkan perhatian waktu belajar
5. Sulit mengingat pelajaran yang telah dihafal
6. Sulit untuk memulai belajar
7. Sering merasa malas dalam belajar
8. Kalau belajar sering mengantuk
9. Sering terganggu oleh saudara dalam belajar
10. Belajar dengan cara menghafal
11. Belajar dengan cara membayangkan
12. Belajar dengan cara membuat singkatan
13. Kurang ada semangat dalam belajar
14. Tidak dapat belajar secara efektif
15. Sering menyalin pekerjaan teman

VIII. MASA DEPAN BERHUBUNGAN DENGAN KARIER


1. Cita-cita pendidikan tidak tercapai
2. Merasa pesimis dalam mencari pekerjaan
3. Khawatir nantinya tidak dapat kerja/berkarier
4. Sulit memilih macam pekerjaan
5. Sulit menentukan kelanjutan yang sesuai
6. Ingin melanjutkan kependidikan tinggi tetapi orang tua tidak mampu
7. Saya ingin mengetahui bakat
8. Cita-cita saya tidak sesuai dengan kemampuan
9. Tidak tahu apa yang saya perbuat setelah lulus nanti
10. Bingung dalam menentukan sikap
11. Merasa canggung bila bekerja
12. Merasa takut bekerja karena merasa bekal kurang
13. Jurusan saya sekarang tidak sesuai
14. Sering berdebar bila mengingat masa depan
15. Ayah/Ibu sangat keras dan berperan dalam mengarahkan cita-cita

IX. PENGGUNAAN WAKTU


1. Sebagian besar waktu saya pakai kerja
2. Banyak waktu saya untuk membantu orang tua
3. Saya tidak dapat memanfaatkan waktu luang
4. Saya tidak dapat membagi waktu
5. Waktu saya banyak saya pakai untuk mencari nafkah
6. Waktu saya banyak saya pakai untuk pengembangan bakat
7. Waktu saya banyak saya pakai untuk menuruti keinginan pribadi
8. Waktu saya banyak saya pakai untuk membaca komik/majalah
9. Tiap sore waktu saya banyak saya pakai main
10. Waktu saya banyak terhabiskan dengan teman
11. Waktu saya banyak untuk ekstra kulikuler
12. Saya bingung mengisi waktu luang
13. Banyak waktu saya untuk rekreasi
14. Saya tidak senang rekreasi
15. Lebih senang dirumah dari pada kegiatan menyalurkan hobi

X. BERHUBUNGAN DENGAN KURIKULUM


1. Pelajaran sekolah terlalu mudah
2. Ada susunan pelajaran pada hari tertentu yang membosankan
3. Sulit mendapatkan buku pelajaran
4. Sulit untuk mamahami buku paket
5. Sering mendapatkan nilai rendah
6. Lebih senang pulang sore
7. Lebih senang mengikuti banyak ekstra
8. Tidak senang belajar bersama
9. Sering mendapatkan kesukaran menyelesaikan tugas-tugas
10. Sering khawatir kalau mendapat giliran
11. Pelajaran di sekolah terlalu rendah
12. Pelajaran yang hitungan sangat sulit bagi saya
13. Pelajaran hafalan tidak saya senangi
14. Merasa segan membaca buku pelajaran
15. Merasa bosan karena banyak buku yang harus dipelajari

XI. MASALAH ASMARA


1. Memikirkan masalah cinta adalah soal yang terlalu pagi buat saya
2. Pacaran adalah bagian dari hidup saya
3. Merasa tabu membicarakan soal cinta
4. Pacaran dalam masa sekolah dapat menjadi dorongan
5. Pacaran dalam masa sekolah dapat menjadi hambatan
6. Saya mulai tertarik pada salah satu teman
7. Saya mulai tertarik pada lawan jenis
8. Saya tertarik pada jenis yang sama
9. Saya pernah patah hati
10. Orang tua tidak setuju dengan pilihan saya
11. Mudah terpengaruh dengan bacaan/adegan cinta
12. Sering membayangkan adegan cinta
13. Gemar membaca/menonton film adegan cinta
14. Terpaksa pacaran dengan sembunyi-sembunyi karena orang tua menolak
15. Merasa jijik apabila membicarakan soal cinta
ANGKET STUDI KASUS
Lampiran 2: Angket Studi Kasus

Nama Siswa : Sandara


Tempat tanggal lahir : Jember, 01 Januari 1996
Alamat : Jl. Jayanegara no.22 Rambipuji
Nama Ayah : Duliam (Alm)
Nama Ibu : Minah
Pekerjaan Ibu : Pedagang
Alamat Orang tua : Jl. Jayanegara no.22 Rambipuji
Nama Wali (bagi yang dibiayai wali) : Hubungan
Ppekerjaan :
Alamat Wali :
Pekerjaan :
Alamat Wali :
Anak ke : 1 dari 3 bersaudara
Memiliki saudara tiri/angkat: ya / tidak
Penyakit yang sering dirasakan sekarang ini ialah: kepala pusing
Riwayat Pendidikan :
SD : MI Attoroqie Lulus Tahun 2009
SMP : MTs Nurul Ulum Lulus Tahun 2012
Ekstrakulikuler yang diikuti:...... BDI ..................seminggu.... 2 ....kali
.................................seminggu............kali
Kegiatan ekstra di rumah : ........ Mengaji .........seminggu.... 7 ....kali
.................................seminggu............kali
Keterangan Khusus
Belajar di rumah dilakukan setiap harinya jam 06.00 s/d 09.30 dan jam...s/d........
Apakah ada ruangan tersendiri untuk belajar di rumah (tidak ada) dengan penerangan lampu -
Watt
Kalau ada kesulitan belajar dibahas dengan teman
Menurut anda bagaimana perhatian orang tua terhadap belajar Anda orang tua cukup
perhatian
Kalau diminta keperluan sekolah anda bagaimana reaksi dari orang tua cepat/menunda/masa
bodoh
Teman dekat Anda di sekolah :Nama Minzy kelas X Ak alasan dekat teman SD
Teman dekat Anda di sekolah :Nama............sekolah/bekerja...................................

Bila Anda memiliki kesulitan dibicarakan dengan kakak sepupu


Alasannya: mengerti/care
Dari tempat tinggal ke sekolah kira-kira memerlukan waktu 30 Menit
Sarana transportai yang digunakan ke sekolah Angkot