Anda di halaman 1dari 28

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Normal Varian


2.1.1 Red Marrow
1. Definisi

Bone marrow atau sum-um tulang adalah jariingan yang terdiri dari pusat tulang besarIni

adalah tempat di mana sel-sel darah baru yang diproduksi.


Sumsum tulang mengandung dua jenis sel induk: hemopoietic (yang dapat menghasilkan sel

darah) dan stroma (yang dapat menghasilkan lemak, tulang rawan dan tulang). Ada dua jenis

sumsum tulang:

a. Red marroww atau sumsum merah (juga dikenal sebagai jaringan myeloid). Red Marrow

biasanya ditemukan terutama di tulang pipih seperti tulang pinggul, tulang dada,

tengkorak, tulang rusuk, tulang belakang dan bahu pisau, dan di cancellous ("spons")

materi di ujung proksimal tulang femur panjang dan humerus.


b. Yellow marrow atau sumsum kuning. Sel darah merah, trombosit dan sel darah putih yang

paling muncul di sumsum merah; beberapa sel darah putih berkembang dalam sumsum

kuning. Warna sumsum kuning adalah karena jumlah yang jauh lebih tinggi dari sel-sel

lemak.
Kedua jenis sumsum tulang mengandung pembuluh darah banyak dan kapiler.Saat lahir,

semua sumsum tulang merah.Dengan usia, lebih dan lebih dari itu dikonversi ke jenis kuning.Orang

dewasa memiliki rata-rata sekitar 2.6 kg dari sumsum tulang, dengan sekitar setengah dari itu

menjadi merah.1
2. Gambaran Radiologi
Erythropoietic atau merah sumsum bisa menjadi penyebab umum untuk kekhawatiran tentang

magnetic resonance imaging (MRI). Ini akan sangat bermasalah jika daerah sumsum merah massal

seperti dalam penampilan. Red sumsum harus hyperintense ke sumsum lemak pada T2-tertimbang

urutan (T2W) MRI lemak ditekan dan hypointense pada T1-tertimbang urutan (T1W) MRI. Fitur

utama adalah bahwa intensitas sinyal rendah pada urutan T1W MRI harus lebih tinggi dari otot

rangka atau diskus intervertebralis. Pada fase dan out-of-fase gambar T1W MRI dapat membantu
4
5

dalam kasus samar-samar sebagai sumsum merah harus memiliki beberapa sumsum lemak

bercampur dan, akibatnya, harus kehilangan sinyal (menjadi gelap) pada out-of-fase dibandingkan

dengan di fase MRI.

Gambar 1. (A dan B): Pulau sumsum merah pada sakrum.Seorang pria berusia 49 tahun dengan kembung berulang
menjalani enterography MR, yang menunjukkan lesi insidental di sakrum. Dia ingat untuk dan out-of-fase pencitraan
MRI T1W di-fase. (A) dalam fase gambar T1W MRI menunjukkan lesi (panah) sedikit hyperintense ke otot rangka (B)
Di out-of-fase T1W MRI gambar, ada kehilangan sinyal karena adanya sumsum lemak bercampur (panah).

Di sisi lain, sumsum-menggantikan tumor, seperti banyak metastasis, harus mengganti semua

sumsum lemak dan tidak harus kehilangan sinyal pada out-of-fase T1W pencitraan . Jadi, ketika

mendekati kelainan sumsum pada MRI, penting untuk memiliki T1W gambar yang mencakup otot

rangka untuk perbandingan dan di-fase dan out-of-fase T1W gambar untuk menunjukkan ada

tidaknya lemak. Sumsum kuning dapat mengubah kembali ke sumsum merah dengan stres

fisiologis seperti anemia. Selain itu, sumsum merah harus tidak memperpanjang masa lalu parut

physeal ke epiphysis dan tidak harus mendistorsi pola trabekular yang normal.

2.1.2 Humeral Pseudocyst


1. Definisi

Gambaran Anataomi normal karena terjadinya peningkatan tulang cancellous

dibagian tuberositas paling besar dari humerus yang dapat dilihat sebagai lesi berkilau pada

radiografi.2
Radiolusen ini terlihat pada kepala humerus superolateral dan dapat didiagnosa sebagai

chondroblastoma, giant sel tumor, sel Langerhans Histiositosis, atau bahkan metastasis osteolitik

pada radiografi. Meningkat Lemak di daerah ini dapat segera terlihat pada MRI dan membantu

membuat diagnosis . Pada radiografi, pseudolesion ini akan terlihat pada pandangan rotasi eksternal
6

bahu dan biasanya ada garis tajam demarkasi inferior antara pseudolesion dan sumsum yang

berdekatan, yang karena garis fusi antara epiphysis di tuberositas lebih besar dan poros

humerus. Sisa dari margin biasanya tidak jelas. 2

2. Gambaran Radiologi
Sebuah pseudokista adalah daerah stres yang relatif rendah dalam tulang yang mengakibatkan

pembentukan tulang trabekular yang tidak diucapkan seperti di daerah stres yang lebih

tinggi. Daerah ini stres relatif lebih rendah berkembang menjadi lesi litik jelas, yang sebenarnya

merupakan daerah penghalusan trabekular. Ketika daerah ini dari penghalusan trabekular secara

visual dibandingkan dengan tulang sekitarnya yang berisi trabekula lebih menonjol, salah satu

melihat sebuah litik lesi jelas atau yang disebut pseudokista. Pada magnetic resonance imaging

(MRI), pseudokista memiliki sinyal sumsum normal, karena adalah varian normal.3

Gambar 2. (AC): Pseudokista humerus. Seorang wanita berusia 47 tahun dengan nyeri bahu kiri. Sebuah radiolusen
putaran di tuberositas lebih besar (panah) pada radiografi bahu rotasi eksternal (A) sesuai dengan lemak sumsum
normal (panah) yang hyperintense pada (B) T1W dan hypointense pada (C) T2W lemak jenuh gambar MRI koronal.

2.1.3 Wards Triangle


Suatu area dengan peningkatan densitas (radiolusen) yang biasanya tampak pada collum

femoralis tepat di persimpangan antara penekanan dan garis-garis trabekula tulang (lihat gambar 3).

Seperti halnya pseudokista humerus, area ini menjadi kurang jelas pada pasien dengan osteoporosis

oleh karena adanya kelemahan dari struktur trabekula tulang. 4, 5


7

Gambar 3. (A and B): Triangular Ward. Wanita 67 tahun dengan nyeri pinggang kiri. (A) Pada foto hip joint AP
tampak area berbentuk triangular dengan peningkatan densitas (radiolusen) di collum femoralis (tanda panah). (B) Pada
CT Scan potongan koronal menunjukkan garis-garis trabekula tulang collum femoralis yang mulai hilang (tanda
panah).

2.1.4 Calcaneal Pseudocyst


Pseudokista Kalkaneus memiliki bentukan yang sama dengan triangular Ward. Sebuah area

radiolusen di anterior tulang kalkaneus yang disusun oleh trabekula tulang (Lihat Gambar 4).

Meskipun gambaran hampir tampak normal namun beberapa lesi patologis lain dapat terjadi di area

ini yang juga membentuk area radiolusen pada foto radiologis.

Gambar 4. (A and B): Psudokista Kalkaneus dan Lipoma Intraosseus (A) Foto ankle posisi lateral pada wanita 39 tahun
dengan nyeri pada kakinya menunjukkan gambaran radiolusen (tanda panah) di sebelah anterior kalkaneus dengan
penurunan struktur trabekula tulang. (B) Foto ankle pada pria 45 tahun dengan Lipoma Intraosseus (tanda panah)
menunjukkan gambaran radiologis yang sama dengan pseudokista kalkaneus, namun disini terdapat area kalsifikasi
(tanda panah atas) yang mengalami nekrosis.

Tumor ini antara lain simple bone cyst, Giant cell tumor, kondroblastoma, dan lipoma

intraosseous. Pada lipoma intraosseus dapat terjadi nekrosis yang dapat menyebabkan kalsifikasi

distrofik tulang dengan lesi sklerotik.4


2.2 Congenital and Developmental Abnormalities
2.2.1 Dorsal Defect of The Patella
1. Definisi
8

Kecacatan Patella bagian dorsal merupakan lesi jinak subchondral dari etiologi tidak diketahui

dan merupakan suatu perkembangan yang tidak normal dari patela, yang dapat menjadi suatu

kesalahan bila mengira suatu proses patologis seperti fokus infeksi atau osteochondritis dissecans.
2. Epidemiologi
Kecacatan Patella bagian dorsal terjadi pada laki-laki dan perempuan dengan frekuensi yang

sama, dan yang paling sering ditemukan pada remaja. Hal ini terlihat pada sekitar 1% dari populasi

dan biasanya terdapat bilateral.6


3. Presentasi Klinis
Kondisi ini sering asimtomatik dan insidental menemukan pada pencitraan lutut, tetapi

kadang-kadang mungkin penyebab nyeri lutut.


4. Gambaran Radiologi
Kecacatan patella bagian dorsal dapat tampak 1-2 cm berbentuk bulat dan radiolusen pada

lokasi yang sama dengan bipsrtitte patella dan ini diyakini karena penggabungan yang tidak lengkap

dari pusat osifikasi patela [Gambar 5]6 etiologi lain yang potensial adalah bahwa itu adalah karena

daya tarik pada penyisipan dari vastus lateralis. Kadang-kadang, lesi ini dapat memuncukan gejala.4

Gambar 5. (A dan B) : Kecacatan patella bagian dorsal. Seorang wanita berusia 38 tahun nyeri pada lutut kiri. (A)
Gambaran radiologi lutut (AP) menunjukkan gambaran radiolusen (panah) pada aspek superolateral dari patella. (B)
Pada gambaran MRI potongan sagital menunjukkan area fokal pada kortikal tidak beraturan dengan hialin kartilago
masih intak.

2.2.2 Synovial Herniation Pit in The Proximal Femur


1. Definisi
Merupakan herniasi sinovial dengan kecacatan kortikal yang disebabkan oleh abrasi dari

kapsul sendi panggul terhadap leher femoralis, meskipun mungkin ini masih merupakan varian

yang normal [Gambar 6].7


2. Presentasi Klinis
Meskipun lesi ini kadang bersifat asimtomatik, ini dihubungkan dengan tubrukan

femoracetabular. 7
3. Gambaran Radiologi
9

Digambarkan dengan suatu bulatan atau berbentuk oval yang radiolusen di bagian proksimal

leher femur superior yang dikenal sebagai lubang herniasi sinovial. 8 Biasanya lesi ini kurang dari 1

cm, tetapi dapat tumbuh hingga 2-3 cm dan dapat membentuk lobus-lobus.9

Gambar 6. (A-C) : Lubang herniasi sinovial pada femur proximal. Seorang wanita berusia 60 tahun dengan dicurigai
patah tulang setela terjatuh. (A) Gambaran radiologi AP terlihat bulatan kecil yang radiolusen (panah) dan tepi sklerotik
pada leher tulang femur aspek superior lateral. (B) Dengan MRI T1W potongan coronal terlihat suatu lesi yang
hipointens (panah). (C) Dengan Gambaran MRI T2W potongan coronal terlihat suatu lesi yang hiperintens.

2.2.3 Avulsive Cortical Irregularity of The Posterior Femur


1. Definisi
Sebuah Avulsi kortikal yang irreguler dari tulang paha posterior, yang dikenal sebagai

desmoid kortikal.
2. Epidemiologi
Ini biasanya terjadi pada remaja (10-15 tahun) dan kecenderungan lebih banyak terjadi pada

laki-laki.
3. Presentasi Klinis
Pasien biasanya tanpa gejala dan ditemukan secara kebetulan. Kadang-kadang juga dapat

keluhan nyeri.
4. Gambaran Radiologi
Terlihat sebagai lesi radiolusen fokal yang tidak teratur sepanjang aspek posteromedial dari

tulang femur distal pada anak-anak [Gambar 7]. [13] Diagnosis untuk gambaran sperti ini termasuk

osteomielitis dan permukaan osteosarcoma, terutama jika lesi memiliki penampilan agresif. Telah

diusulkan bahwa lesi ini mungkin disebabkan oleh traksi karena kepala medial gastrocnemius atau

magnus adduktor lesi ini tidak harus dilihat pada kerangka individu dewasa.10
10

Gambar 7. (A dan B) : Sebuah Avulsi kortikal yang irreguler dari tulang paha posterior. Seorang perempuan berusia 18
tahun dengan nyeri pada lutut sebelah kanan. (A) Gambaran radiologi lateral dari lutut menunjukkan area kortikal
yang tidak beraturan pada letak medial dari metafisis femur distal. (B) Pada MRI T2W menunjukkan edema sum-sum
tulang (mata panah) dan pada area kortikal tang tidak beraturan (panah).

2.2.4 Supracondylar Process of The Humerus


1. Definisi
Sebuah proses suprakondiler pada humerus adalah munculnya tulang yang menyimpang

(spur) dari aspek anteromedial humerus.


2. Epidemiologi
Kasus ini terjadi sekitar 1-3% dari populasi.[15] Hal ini biasanya temuan secara tidak sengaja.
3. Presentasi Klinis
Kebanyakan pasien tidak menunjukkan gejala meskipun harus dipertimbangkan jika pasien

datang dengan gejala kompresi saraf median dan tidak ada patologi pada pencitraan dari

terowongan karpal.
4. Gambaran Radiologi
Biasanya, hal ini terlihat sebagai pendorong tulang kecil memproyeksikan anteromedially dari

metadiaphysis humerus terhadap sendi siku. Penegakan diagnosa tidak boleh salah untuk

osteokondroma atau permukaan osteosarkoma. Pada osteokondroma terletak dari titik jauh dari

sendi, sedangkan poin proses suprakondilerr menuju sendi siku [Gambar 8]. Kadang-kadang,

ligamen memanjang dari proses suprakondiler ke epikondilus medial (ligamentum dari Struthers),

membentuk sebuah terowongan yang dapat menjerat saraf median dan bahkan arteri brakialis, yang

akan menimbulkan gejala.11


11

Gambar 8. (A dan B): Proses suprakondiler pada humerus. Seorang laki-laki berusia 45 tahun dengan nyeri pada siku
kanan. (A) Riadiografi AP dari siku menunjukkan proses osseous (panah) yang timbul dari aspek anteromedial dari
distal humerus. Memiliki kemiripan denga gambar USG (B) yang menunjukkan osseous yang menonjol (panah) dengan
ligamen hiperintens dari struthers yang dempet (mata panah).

2.2.5 Soleal Line


1. Definisi
Garis soleal adalah garis pada tulang tulang "tug lesi" yang dapat terbentuk pada tibia pada

lampiran soleus dan meniru periostitis dari tumor, infeksi, atau fraktur stres [Gambar 9].12
2. Gambaran Radiologi
Baris soleal dimulai 1-2 cm di bawah segi fibula dan dapat muncul sebagai garis ridge. Hal ini

dapat muncul dari kepala tibialis dari soleus, dengan penebalan korteks memperluas lateral hingga

medial sepanjang posterior atas sepertiga dari tibia. Perubahan serupa tulang dapat dilihat di

lampiran fibula dari soleus tersebut.13

Gambar 9. (A dan B) : Garis soleal pada seorang laki-laki berusia 67 tahun dengan dicurigai fraktur pada kaki kanan
setelah terjatuh. (A) AP dan (B) lateral radiografi dari tibia proksimal menunjukkan terdapat garis penebalan pada
kortikal (panah) sepanjang tibia proksimal dan fibula, yang mana sesuai dengan enthesopyite dari tambahan garis
soleus. Pada tibia terjadi kalsifikasi lateral hingga medial sepanjang kortek posterior.

2.3 Trauma and Iatrogenic Lesions


2.3.1 Subperiosteal Hematoma
Periosteum adalah membran fibrosa tebal yang bersifat vaskular yang erat melekat pada

tulang. Jejas ke periosteum dapat menyebabkan hematoma subperiosteal, yang mengangkat

periosteum dari tulang dan dapat menyerupai massa fokal seperti osteosarcoma parosteal atau

osteochondroma. Hematoma subperiosteal sering sembuh tanpa pengobatan, namun, juga dapat

mengeras dan bertahan. Pada pencitraan, lesi ini memiliki penampilan non-agresif dan berpusat di

subperiosteum tersebut. Jika mengeras, dapat berisi sumsum lemak.14


12

Gambar 10. Hematoma Subperiosteal. Pada laki-laki berusia 53 tahun dengan riwayat trauma paha.(A) posisi AP dan
(B) CT koronal pinggul kiri,menunjukkan lesi () yang timbul dari korteks femoralis medial dengan pengerasan pusat.
(C) MRI Axial, menunjukkan hematoma subperiosteal kronis yang berisi sumsum lemak () dan tulang kortikal ( ).

2.3.2 Stress Fracture


Fraktur stress adalah sebuah retakan kecil pada tulang yang disebabkan oleh penggunaan

kekuatan atau tekanan yang berulang, sering dan berlebihan. Fraktur stress juga timbul dari

penggunaan normal tulang yang telah melebah akibat kondisi seperti osteoporosis.
Fraktur stress paling sering terjadi pada tulang kaki bagian bawah (metatarsal, tarsal, dan

tibia) yang berfungsi menahan beban.


Gejala: bengkak, nyeri, kerapuhan di tempat tertentu, peningkatan pembengkakan dan rasa

sakit saat beraktivitas, penurunan pembengkakan dan rasa sakit saat beristirahat.15

Gambar 11. fraktur stres. Pada wanita berusia 68 tahun dengan pinggul kanan dan paha yang sakit. (A) foto AP
pinggul menunjukkan penebalan korteks di aspek lateral poros tibialis. (B) Coronal dan (C) gambar CT aksial
menunjukkan garis fraktur linear dalam penebalan korteks.
13

Awalnya, fraktur stres mungkin tidak terlihat pada radiografi dan

dapat terdeteksi pada CT atau MRI. Dengan berjalanya waktu, reaksi periosteal dan resorpsi korteks

dapat dilihat. Sebuah garis fraktur dapat terlihat pada computed tomography (CT). Garis fraktur

biasanya tegak lurus terhadap korteks. Fraktur stres di tibia dapat menyerupai garis soleal atau

osteoid osteoma, tetapi dapat dibedakan dari satu sama lain pada CT.15

2.3.3 Myositis Ossificans16


1. Definisi
Miositis osifikan adalah sebuah masa jinak yang ditandai dengan osifikasi heterotopik, yang

merupakan pertumbuhan tulang baru bukan neoplassma diluar tulang baru.


2. Faktor Etiologi dan Predisposisi
Biasanya kelainan ini dimualai dengan adanya riwayat trauma atau komplikasi yang terjadi

seperti paralisis. Biasanya terjadi pada ekstremitas atas dan bawah, biasanya pada otot lateral, otot

quadriceps dan brachialis.sebanyak 80% terjadi pada otot-otot alat gerak. Sering terjadi pada

dewasa muda decade ke-2sampai ke-3.


3. Tanda dan Gejala
Dapat assimtomatis, pembatasan pergerakan, Massa yang membesar, lunak atau padat, terasa

nyeri saat digerakan.


4. Jenis Miosis Osifikan
Miositis osifikan cirkumscripta, miositis osifikan progresif, panniculitis osifikan, fibro-

osseous pseudotumour of the digits.

Gambar 12. Myositis ossificans. Pada wanita berusia 53 tahun, dengan massa teraba sepanjang tibia distal. (A) Foto
lateral, menunjukkan nodul oval dengan tepi padat pada bagian anterior dari poros tibialis. (B) potongan Sagittal dan
(C) aksial gambar CT menunjukkan kalsifikasi perifer dan osifikasi sentral lesi antara massa dan korteks tibialis.

2.3.4 Biceps Tenodesis17


14

Suatu tindakan bedah operasi dengan menggunakan oethosis untuk stabilisasi sendi dengan

mengaitkan tendon bisep pada tulang.

Gambar 13. Bisep tenodesis. Pada wanita berusia 58 tahun dengan riwayat rotator cuff dan labral tear. AP radiografi
dari bahu kanan menunjukkan lesi fokal di poros humerus proksimal dari tenodesis bisep. Jahitan jangkar pada kepala
humerus.

2.3.5 Bone Marrow Biopsy and Bone Graft Donor Sites18


Aspirasi dan biopsi sumsum tulang untuk diagnosis hematologi yang paling sering diperoleh

dari tulang iliac melalui pendekatan posterior. Akhir-akhir ini biopsy dilakukan jika ada

kemungkinan edema atau perubahan kistik.

Gambar 14. Biopsi sumsum tulang. Seorang wanita berusia 23 tahun dengan limfoma dan biopsi tulang iliaka. gambar
MRI Aksial T2W lemak jenuh menunjukkan lesi hyperintense dengan batas yang tidak teratur pada tulang iliaka kiri
dengan perubahan dari biopsi sumsum tulang.

2.3.6 Particle Disease


Penyakit partikel dapat muncul sebagai daerah radiolusen,biasanya diikuti dengan artroplasti.

Penyakit partikel dapat meniru tumor osteolitik atau infeksi. Namun, penyakit partikel dapat

dibedakan dengan adanya bagian keras dan adanya lusenisi abnormal yang terlihat di kedua sisi

sendi.19
15

Gambar 15. Penyakit Partikel. Pada laki-laki berusia 82 tahun yang telah menjalani penggantian panggul total untuk
nyeri pinggul. (A) AP radiografi dari pinggul kanan menunjukkan beberapa lesi di kedua sisi sendi pinggul kanan,
berbatasan kedua femoral dan acetabular (B) Axial CT, menunjukkan beberapa rongga sekitar prostesis.

2.3.7 Radiation Changes


Radioterapi dapat menyebabkan kongesti vaskuler,edema,dan penurunan seluleritas di

sumsum tulang. Hal ini akan menyebabkan sinyal menurun pada T1W dan sinyal meningkat pada

T2W, sehingga sumsum tulang akan diganti dengan lemak atau fibrosis, dengan sinyal tinggi pada

T1W dan sinyal menengah di T2W. Iradiasi tulang dapat meningkatkan risiko untuk fraktur

insufisiensi, osteonekrosis, dan sarkoma radiasi.20

Gambar 16. Perubahan Radiasi. Pada wanita berusia 59 tahun dengan riwayat kanker endometrium
Salpingohisterektomi dan terapi radiasi. Axial short tau inversion recovery (STIR), gambar MRI menunjukkan distribusi
regional edema tulang di tulang iliaka dan sakrum dengan batas batas-batasnya (garis putus-putus), yang menunjukkan
medan radiasi.

2.4 Metabolic Disease and Arthritic Changes


2.4.1 Brown Tumor of Hyperparathyroidism
1. Definisi
Brown tumor yang juga dikenal sebagai osteitis fibrosa cystica atau osteoclastoma adalah

salah satu manifestasi dari hiperparatiroidisme. Keadaan ini merupakan proses seluler reparatif,

kemudian menjadi proses neoplastik.21


2. Epidemiologi
Hiperparatiroidisme yang lama tidak diobati dapat mengakibatkan lesi osteolitik dikenal

sebagai tumor coklat (osteoclastomas), yang mana dapat dilihat baik pada hiperparatirodime primer

atau hiperparatiroidisme sekunder dan terlihat pada 5% pasien dengan hiperparatiroidisme. 21


3. Patologi
Penampilan khas tumor coklat adalah lesi osteolitik yang terdefinisi dengan baik, yang

mungkin memiliki septations, menjadi meluas, dan kadang-kadang dapat memiliki fitur agresif.

Bagian yang umumnya terkena yaitu tulang panjang, tulang rusuk, panggul, dan tulang wajah.22
4. Gambaran Radiologi
16

Gambar 17. A. AP Radiograf, B. CT Image. Particle disease. Seorang laki-laki berusia 82 tahun yang mengalami Total
Hip Replacement untuk nyeri pinggul. (A) AP radiografi dari pinggul kanan menunjukkan beberapa lesi berkilau
(panah) pada kedua sisi sendi pinggul kanan, berbatasan femoralis dan komponen acetabular (B) Axial CT gambar
menunjukkan beberapa rongga (yang ditunjukkan panah) di sekitar prosthesis.22

Pada gambar diatas, menunjukkan terdefinisikan dengan baik, lesi litik murni yang

memprovokasi tuang secara reaktif kecil. Korteks dapat menipis dan meluas, tetapi tidak akan

menembus. 21

Gambar 18. Foto AP Humerus

2.4.2 Melorheostosis
1. Definisi
Melorheostosis didefenisikan sebagai penyakit sklerosing mesodermal yang langka, non

herediter, jinak, yang menyebabkan sklerosis tulang dan jaringan lunak disekitarnya. Pertama sekali

dideskripsikan oleh Leri dan Joanny pada tahun 1922.23


2. Epidemiologi
Kejadian penyakit ini diperkirakan 0,9 per 1.000.000 penduduk. Hingga kini, baru dilaporkan

sebanyak 400 kasus melorheostosis di seluruh dunia, dimana sejumlah kasus terdiagnosis secara

kebetulan.24
Tidak ada predileksi gender untuk penyakit ini. Beberapa kasus muncul pada dekade keempat

dan kelima, meskipun demikian sekitar 40%-50% kasus ini didiagnosis pada usia 20 tahun.11 Usia

pada saat munculnya melorheostosis bervariasi, dari usia 2 tahun sampai dengan 64 tahun.25
17

3. Etiologi
Etiologi dan patogenesis masih belum diketahui secara pasti. Setelah lima tahun sejak pertama

kali dideskripsikan oleh Leri dan Joanny, berbagai teori mulai dikemukakan. Teori klasik

dikemukakan oleh Murray dan McCredie pada tahun 1979, menyebutkan adanya hubungan

melorheostosis dengan sklerotom tubuh (regio pada tulang yang diinervasi oleh saraf sensorik

tulang belakang). Sklerotom mencerminkan pola segmental pada awal perkembangan embriogenik,

dimana sel-sel pembentuk kartilago bermigrasi dari sklerotom tubuh menuju kuncup-kuncup

anggota tubuh. Adanya lesi sensori segmental oleh karena infeksi spesifik, perusakan, atau cedera

pada satu atau lebih segmen neural crest pada saat embriogenesis dapat menyebabkan terjadinya

penyakit melorheostosis. Teori ini dapat menjelaskan sifat ganjil penyakit ini yakni keterlibatan satu

anggota gerak tubuh (monomelic).26


4. Gambaran Radiologi
Freyschmidt,27 dalam penelitiannya pada 23 kasus melorheostosis

menyimpulkan gambaran radiologis melorheostosis memiliki lima pola, yaitu:

a. Pola radiologis khusus dengan gambaran fenomena aliran atau tetesan lilin pada

permukaan dalam atau luar tulang yang terlibat (gambar 19).


b. Kasus hiperostosis seperti osteoma pada axis panjang tulang yang terlibat (gambar 20)

dengan kriteria: a. Diameter lesi lebih dari 5cm, b.Lebih dari satu tulang yang terlibat, c.

Lesi yang hanya terletak eksentrik pada dan atau di tulang yang memenuhi syarat, d. Jika

hanya ada satu tulang yang terlibat, terdapat tanda lain seperti skleroderma yang berbatas,

atau fibrosis subkutan diatas tulang yang terlibat, yang wajib ditegakkan diagnosisnya.
c. Pola radiografis dengan hiperostosis goresan-goresan yang panjang dan tebal berdekatan

dengan sisi dalam korteks dua tulang atau lebih, namun unilateral berbeda dengan pola

khas osteopathia striata (gambar 21).


d. Pada kasus hiperostosis yang mirip dengan myositis ossificans neuropathica (gambar 22)

dengan kriteria: a. Osifikasi berdekatan dengan sendi di dua atau lebih regio unilateral

dengan atau tanpa adanya hyperostosis intraoseus, b. Berbeda dengan myositis ossificans

klasik, osifikasi tersusun noduler dan tidak terlihat sebagai struktur tulang yang pipih, c.
18

Kriteria eksklusi: riwayat trauma langsung pada daerah yang dimaksud dan atau adanya

defisit neurologis.
e. Pola campuran (gambar 23), terdapat lebih dari satu pola radiografis diatas dan dengan

tampilan klinis yang berbeda.27

Gambar 19

Gambar 20

Gambar 21

Gambar 22
19

Gambar 23

2.4.3 Osteonecrosis
1. Definisi
Osteonekrosis adalah penyakit yang disebabkan oleh berkurangnya aliran darah ke tulang

pada sendi. Nekrosis iskemik pada tulang dan sumsum dapat terjadi karena berbagai penyebab

termasuk trauma, steroid, hemoglobinopati, alkoholisme, radioterapi, dan kemoterapi.22


2. Epidemiologi
Osteonekrosis paling sering ditemukan di pinggul, lutut, bahu, dan pergelangan kaki. juga

bisa terjadi osteonekrosis dalam satu atau lebih tulang. Ketika osteonekrosis melibatkan epiphysis

(nekrosis avaskular), dapat menyebabkan rusaknya tulang subchondral dan osteoarthritis.


Jika tidak mendapatkan pengobatan, penyakit memburuk dan tulang-tulang di sendi rusak,

menyebabkan tidak dapat menekuk atau menggerakkan sendi yang terkena dengan baik, dan bisa

terjadi nyeri di sendi.28


3. Gambaran Radiologi
Awalnya, osteonekrosis mungkin tidak terlihat pada radiografi; tapi seiring waktu, dapat

bermanifestasi sebagai radiolusensi terpusat dengan margin sklerotik. Mungkin meniru

enchondromas, tetapi tidak memiliki kalsifikasi pusat.22


MRI sensitif untuk mendeteksi infark tulang. Awalnya, daerah ini muncul sebagai daerah non-

spesifik edema sumsum; tapi dengan waktu, fitur karakteristik band luar sinyal rendah terkait

dengan band dalam sinyal tinggi pada gambar T2W-non-lemak jenuh (tanda garis ganda) dapat

berkembang.22

Gambar 24

2.4.4 Calcific Tendinitis (Resorptive Phase)


20

1. Definisi
Kalsifikasi tendinitis adalah proses yang melibatkan deposisi kristal kalsium pada tendon

rotator cuff , dimana proses ini terjadi terutama pada pasien dengan usia antara 30 dan 50 tahun.

Etiologi dari kasifikasi tendinitis ini masih diperdebatkan dan belum diketahui secara pasti.

Diagnosis dari kalsifikasi tendinitis ini ditentukan berdasarkan riwayat penyakit dan pemeriksaan

fisis, dan sebagai pemeriksaan penunjang sebagai bukti khusus adanya deposit kalsifikasi,

dilakukan pemeriksaan radiologis dan sonografi.29


2. Epidemiologi
Sekitar 80% dari deposit kalsifikasi terletak pada tendon supraspinatus, 15% di tendon

infraspinatus dan 5% pada tendon subscapularis. Lokasi yang cenderung menjadi tempat terjadinya

kalsifikasi , yaitu pada tendon supraspinatus adalah 1,5 sampai 2 cm proximomedial dari

tuberositas. Berdasarkan hasil penelitian telah dilakukan sampai saat ini, insiden rate dapat terjadi

pada semua gender , meskipun beberapa sumber literatur mengungkapkan bahwa laki-laki

cenderung memiliki tingkat predisposisi lebih tinggi dibandingkan perempuan. Berbagai studi

menunjukkan bahwa lebih dari 50 % pasien dengan deposit kalsifikasi menggambarkan gejala klinis

yang progresif. Pasien dengan diabetes mellitus lebih cenderung mampu berkembang mengalami

deposit kalsifikasi. Bahkan, lebih dari 30 % pasien dengan diabetes mellitus tergantung insulin,

memiliki kalsifikasi pada rotator cuff.29


3. Tahapan Kalsifikasi
Uththoff dan coworkers mempunyai hipotesis bahwa kondisi aktif dalam proses kalsifikasi

sel, sering disertai dengan resorpsi fagosit spontan. Mereka mendeskripsikan proses kalsifikasi

menjadi empat tahap ,yaitu pre-kalsifik,kalsifik,resorptif dan pembulihan. 30

Gambar 25

a. Tahap Pre Kalsifikasi


21

Tahap ini dimulai dengan metaplasia chondral dari tenocytes dalam tendon . Hal ini

menyebabkan peningkatan produksi proteoglikan dan pembentukan fibrocartilaginous

jaringan di lokasi predileksi. Di tahap ini pasien belum merasakan adanya nyeri. 29, 30, 31
b. Tahap Kalsifikasi
Ini adalah tahap di mana gangguan tersebut menjadi klinis jelas . Hal ini dapat dibagi

menjadi tahap-tahap berikut : 29, 30, 31


Fase formatif
Fase istirahat
Fase resorptive
Selama fase formatif , kristal hidroksiapatit menumpuk antara kondrosit dan jaringan
fibrocartilaginous , membentuk deposit kalsium kecil . Ini terutama dipisahkan oleh septa
fibrocartilaginous , tapi saling menyatu sebagai gangguan yang bersifat progresif. Dalam
fase ini, kalsifikasi memiliki kapur dengan konsistensi seperti gembur. 29, 30, 31
Selama fase istirahat , deposit dengan fibrocartilage yang berdinding off , tetapi tidak ada
tanda-tanda proses inflamasi. Tahap resorptive dimulai dengan peningkatan vaskularisasi
pada kapsul deposit. Makrofag dan giant sel sekitarnya membentuk granuloma di mana
deposit kalsifikasi diserap . Selama proses ini, kalsifikasi akan mencair dan berubah
menjadi konsistensi pasta gigi . Fase resorptive ini merupakan fase dimana pasien akan
merasakan nyeri yang hebat. 29, 30, 31
c. Tahap Post Kalsifikasi
Tahap pasca - kalsifikasi mengikuti fase resorptive. Sekarang ditandai dengan migrasi

fibroblas ke zona cacat . Ini mengarah pada pembentukan jaringan parut yang terutama

terdiri dari kolagen tipe III yang digantikan oleh kolagen tipe I jalannya proses remodeling.
29, 30, 31

4. Gejala Klinis
Gejala klinis tendinitis kalsifikasi sangat bervariasi dan sangat tergantung pada tahap

gangguan tersebut telah tercapai. Selain itu, tingkat keparahan dan sifat dari rasa sakit yang

dirasakan berkorelasi dengan ukuran kalsifikasi dan lokasi. Sedangkan gejala klinis mungkin terjadi

pada tahap pre-kalsifikasi dan dalam tahap formatif dan istirahat , banyak pasien mengalami nyeri

hebat selama fase resorptive. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa fase ini ditandai oleh reaksi

inflamasi berat seiring dengan pelepasan mediator nyeri dan oleh Tekanan meningkat pada deposit

disebabkan oleh meningkatnya pencairan. Gambaran utama dari gejala klinik yaitu, nyeri tiba-tiba

saat istirahat yang dapat memperburuk selama gerakan. Kelainan ini terutama terjadi pada laki

laki, umur pertengahan atau lebih, dengan gejala mulai dengan ringan sampai perubahan degeneratif
22

pembungkus muskulotendinosa dengan atau tanpa penimbunan kalsium. Gambaran kllinis yang

terjadi biasanya khas. 29,32

5. Pemeriksaan Radiologis
Pemeriksaan radiologis menunjukan adanya penimbunan kalsium pada pembungkus

muskulotendinosa daerah sekitar insersinya di humerus.33


a. X-Ray

Radiografi bahu yang terkena dalam tiga bidang (true AP, aksial, Y -view) adalah standar
prosedur pencitraan dalam diagnosis kalsifikasi tendinitis. Proyeksi AP benar dapat
dikombinasikan dengan pemeriksaan X - ray tambahan lengan di rotasi internal untuk
memastikan bahwa kepala humerus tidak mengganggu deposit kalsifikasi di wilayah tendon
infraspinatus, menyebabkan mereka untuk membentuk perbatasan. Pandangan aksial sangat
berguna dalam diagnosis kalsifikasi deposit di wilayah subscapularis tendon.
Berbagai klasifikasi telah diusulkan dalam diagnosis X - ray deposit kalsifikasi . Namun,
dalam banyak kasus klasifikasi ini tidak sesuai dengan gejala klinis dan intraoperatif
temuan. DePalma dan Kruper membedakan antara dua morfologi X ray menurut definisi
pinggiran dan radiotransparency : 29,32
Tipe I : deposit transparan dengan batas irreguler.
Tipe II : deposit padat dengan batas reguler .

Gambar 26
b. USG
Ultrasound imaging masih merupakan prosedur penting dalam diagnosis tendinitis bahu.

Pada bagian , ini karena pencitraan USG memungkinkan menunjukkan lokalisasi pra-

operasi dan menunjukkan lokasi deposit kalsifikasi. Farin dan Jaroma et al. Mampu

membuktikan bahwa ada korelasi yang tinggi antara konsistensi dan sonomorphology dari

kalsifikasi. Mereka menunjukkan bahwa dalam deposit fase formatif dengan konsistensi

padat mampu mengarahkan pada suara sonografi dan batasan jaringan tendon sekitarnya.
23

Deposit dengan peningkatkan tingkat pencairan pada fase resorptive menghasilkan

bayangan akustik jauh lebih lemah dan lebih sulit untuk membedakan dari jaringan

sekitarnya. Hal ini disebabkan fakta bahwa dalam fase formatif deposit kalsifikasi

memiliki kepadatan kristal hidroksiapatit tinggi dan dengan demikian menyebabkan

refleksi USG kuat. Dalam fase resoptive, bagaimanapun reaksi inflamasi menyebabkan

jumlah cairan dan jumlah sel meningkat, yang mengarah pada refleksi substansial

berkurang dari gelombang ultrasound. 29,32


c. CT-Scan

Gambar 27. Tendinitis kalsifikasi (fase resorptive). Pada pemeriksaan CT Scan potongan (A) Axial dan (B) koronal,
gambar CT menunjukkan adanya kalsifikasi di lokasi insersi dari tendon gluteus maximus ke femur posterior (tanda
panah). Erosi korteks ringan juga terdapat pada area insersi gluteal (panah). 22

2.4.5 Subchondral Cyst (Geode)


Pada osteoarthritis, defek pada tulang rawan bagian atasnya dapat memungkinkan sinovium

dan cairan sendi untuk memasuki tulang subchondral sehingga menyebabkan kista subchondral

(geodes). Biasanya berukuran kecil, sekitar permukaan artikular, dan memiliki margin sklerotik.

Namun, bisa membesar, tapi dapat memanjang ke bawah poros dari tulang tubular menyerupai

neoplasma.22 CT dapat membantu dalam menunjukkan margin sklerotik. Pada MRI, lesi bersifat

seperti kista dan biasanya isointense otot pada gambar T1W dan hyperintense gambar T2W. Sinyal

T1 tinggi dapat terjadi pada lesi yang mengandung bahan protein, dan internal enhancement dapat

terlihat jika lesi mengandung material fibrosa. Harus ada bukti osteoarthritis pada sendi untuk

mendukung diagnosis ini dan perubahan yang paling sering terlihat di kedua sisi sendi.22
24

Gambar 28

2.5 Infection
2.5.1 Osteomyelitis/Brodies Abscess
1. Definisi
Osteomielitis adalah infeksi pada tulang dan sumsum tulang yang dapat disebabkan oleh

bakteri, virus, atau proses spesifik (M. tuberkulosa, jamur ). Menurut perjalanan waktunya,

osteomielitis dikategorikan atas akut, sub-akut, atau kronik dengan pembagian pada tiap tipe

berdasarkan onset penyakit (timbulnya infeksi). Osteomielitis akut berkembang dalam dua minggu

setelah onset penyakit, sedangkan osteomielitis sub-akut dalam dua minggu sampai tiga bulan dan

osteomielitis kronik setelah lebih dari tiga bulan. 34,35


2. Epidemiologi
Osteomielitis sering ditemukan pada usia dekade I-II, tetapi dapat pula ditemukan pada bayi

dan neonatus. Insiden di amerika 1 dari 5000 anak, dan 1 dari 1000 pada neonatal. Pada

keseluruhan insiden terbanyak pada negara berkembang. Osteomielitis pada anak-anak sering

bersifat akut dan menyebar secara hematogen, sedangkan osteomielitis pada orang dewasa

merupakan infeksi subakut atau kronik yang berkembang secara sekunder dari fraktur terbuka dan

meliputi jaringan lunak. 36,37


Kejadian pada anak laki-laki lebih sering dibandingkan dengan anak perempuan dengan

perbandingan 4:1. Lokasi yang tersering ialah tulang-tulang panjang, misalnya femur, tibia,

humerus, radius, ulna dan fibula. Namun tibia menjadi lokasi tersering untuk osteomielitis post

trauma karena pada tibia hanya terdapat sedikit pembuluh darah. 36,37
3. Etiologi
Organisme spesifik yang diisolasi dari osteomielitis seringkali dihubungkan dengan usia

pasien atau keadaan-keadaan tertentu yang menyertainya (trauma atau riwayat operasi).
25

Staphylococcus aureus terlibat pada kebanyakan pasien dengan osteomielitis hematogenous akut

dan bertangguang jawab atas 90% kasus pada anak-anak yang sehat. Penyebab osteomielitis pada

anak-anak ialah Staphylococcus aureus (89-90%), Streptococcus (4-7%), Haemophillus influenza

(2-4%), Salmonella typhi dan Escherichia coli (1-2%). Bakteri penyebab osteomielitis kronik

terutama Staphylococcus aureus (75%), atau Escherichia coli, Proteus atau Pseudomonas

aeruginosa. Staphylococcus epidermidis merupakan penyebab utama osteomielitis kronik pada

operasi-operasi ortopedi yang menggunakan implan. 36,37,40


Selain disebabkan bakteri piogenik, osteomielitis juga dapat disebabkan oleh infeksi bakteri

granulomatosa seperti tuberkulosis dan siphilis melalui proses spesifik, oleh jamur seperti

aktinomikosis yang pada awalnya seringkali bersifat kronik. Selain itu juga dapat disebabkan oleh

virus. 35,38,40
4. Klasifikasi
Osteomielitis merupakan penyakit yang kompleks, sehingga sistem klasifikasi yang bervariasi

telah dikembangkan disamping kategori umum yaitu akut, sub-akut, dan kronik. System klasifikasi

Waldvogel membagi osteomielitis dalam kategori hematogenous, contiguous and chronic,

sedangkan klasifikasi yang lebih baru menurut sistem klasifikasi Cierny-Mader berdasarkan status

dari proses penyakit, bukan etiologi, kronisitas, atau factor lainnya sehingga istilah akut dan kronik

tidak dipergunakan pada system Cierny-Mader derajat pada system ini bersifat dinamik dan dapat

berubah-ubah sesuai sesuai kondisi medik pasien, keberhasilan terapi antibiotic dan pengobatan

lainnya. 38,39

5. Gambaran Radiografi

Dalam osteomielitis pada ekstremitas, foto radiografi polos dan scintigrafi tulang adalah alat

pemeriksaan utama. Bukti radiograf dari osteomielitis tidak akan muncul sampai kira-kira dua

minggu setelah onset dari infeksi.35,40


Kuman biasanya bersarang dlam spongiosa metafisis dan membentuk pus sehingga timbul

abses. Pus menjalar ke arah diafisis dan korteks, mengangkat periost dan kadang-kadang

menembusnya. Pus meluas di daerah periost dan pada tempat-tempat tertentu membentuk fokus

skunder. Nekrosis tulang yang timbul dapat luas dan terbentuk sekuester. Periost yang terangkat
26

oleh pus kemudian akan membentuk tulang di bawahnya, yang dikenal sebagai reaksi periosteal.

Juga di dalam tulang itu sendiri dibentuk tulang baru, baik pada trabekula dan korteks, sehingga

tulang terlihat lebih opak dan dikenal sebagai sklerosis. Tulang yang dibentuk di bawah periost ini

membentuk bungkus bagi tulang yang lama dan disebut involukrum. Involukrum ini pada berbagai

tempat terdapat lubang tempat pus keluar, yang disebut kloaka. 40


Seringkali reaksi periosteal yang terlihat lebih dahulu, baru kemudian terlihat daerah-daerah

yang berdensitas lebih rendah pada tulang yang menunjukkan adanya dekstruksi tulang, dan disebut

rarefikasi. 40
Pada osteomielitis akut, temuan radiografi meliputi area periostitis agresif, kerusakan korteks,

scalloping endosteal, dan tunneling intracortical. Di sana mungkin terjadi pembengkakan jaringan

lunak dan pembentukan gas. Namun, temuan radiografi mungkin tidak muncul selama 1-2 minggu.

Pada osteomielitis kronik tulang akan menjadi tebal dan sklerotik dengan gambaran hilangnya batas

antara korteks dan medula. Dalam tulang yang terinfeksi akan terdapat sekuestra dan area destruksi.

Kadang-kadang suatu abses, dikenal dengan brodies abscess akan terlihat sebagai daerah lusen

yang dikelilingi area sklerotik. 34,40

Gambar 28. Brodies abscess akan terlihat sebagai daerah lusen yang dikelilingi area sklerotik.

Gambar 29. AP radiografi dari lutut menunjukkan lucencies subarticular besar dengan rims sklerotik (panah) di medial
dan kondilus femoralis lateral. Ada penyempitan ruang dan konsisten osteofitosis sendi (panah) dengan osteoarthritis
degeneratif.
27

Magnetic resonance imaging (MRI) sangat membantu dalam mendeteksi osteomielitis. MRI

lebih unggul jika dibandingkan dengan radiografi, CT scan dan scintigrafi tulang MRI memiliki

sensitifitas 90-100% dalam mendeteksi osteomielitis. MRI juga memberikan gambaran resolusi

ruang anatomi dari perluasan infeksi. 37

Gambar 30. Gambaran Coronal T2W fat-saturated MRI menunjukkan lesi kistik (panah) berbatasan ruang sendi
yangmenyempit (panah).

Gambar 31. Tuberkulosis osteomielitis, (A) Gambaran coronal T1W and (B) coronal T2W fat-saturated MRI
menunjukkan kelainan sinyal sumsum pada sakrum (panah). (C) Gambaran coronal T2W fat-saturated MRI
menunjukkan hyperintense abses (panah) berbatasan dengan batas inferior lesi sacral (panah).

2.6 Technical Artifacts


2.6.1 Humeral Head - Internal Rotation View
1. Definisi dan Etiologi
Dislokasi humerus merupakan pergeseran kaput humerus dari sendi glenohumeral, berada di

anterior dan medial glenoid (dislokasi anterior), di posterior (dislokasi posterior), dan di bawah

glenoid (dislokasi inferior). Dislokasi terjadi karena kekuatan yang menyebabkan gerakan rotasi
28

eksterna dan ekstensi sendi bahu. Kaput humerus didorong kedepan dan menimbulkan avulsi kapsul

sendi dan kartilago beserta periosteum labrum glenoidalis bagian anterior.Sendi bahu memiliki

ROM terbesar dari semua sendi dalam tubuh dan, dengan demikian beresiko tinggi untuk

dislokasi.41

Gambar 32. Dislokasi Posterior


Untuk etiologi dari dislokasi humerus ini adalah Trauma (langsung atau tidak langsung)

adalah mekanisme yang paling umum dari cedera untuk semua dislokasi bahu, dan arah dislokasi

tergantung pada arah gaya. Jarang ditemukan, trauma langsung pada sendi bahu dalam keadaan

rotasi interna.41
2. Gambaran Radiologi
Pada radiografi rotasi internal bahu, sebuah pseudolesion dengan perbatasan sklerotik dan

pusat radiolusen dapat muncul di kepala humerus. Sebuah perbatasan sklerotik tajam terlihat di

leher humerus sebagai diameter tulang berubah tiba-tiba. Pseudolesion seharusnya tidak dilihat pada

rotasi eksternal atau pandangan lain dan tidak boleh salah untuk lesi osteolitik.2

Gambar 33. (A dan B): humerus kepala pseudolesion.Seorang laki-laki berusia 30 tahun dengan nyeri bahu kanan. (A)
pandangan rotasi internal bahu kanan menunjukkan pseudolesion berkilau dengan perbatasan pseudosclerotic (panah)
(B) pseudolesion ini menghilang pada pandangan rotasi eksternal.6
2.6.2 Radial Tuberosity - Lateral View
1. Definisi
Tuberositas radialis adalah anatomi normal yang menonjol pada radius,tulang panjang di

lengan bawah. Tuberositas radiali adalah proe, atau tonjolan keluar dari tulang, yang menyediakan

titik insersi untuk oto bisep brachii. Hal ini terletak tepat dibawah kepala radial dan siku.42
29

Kondisi yang dapat menimpa tuberositas radialis termasuk robeknya tendon bisep brachii,

fraktur, trauma, dislokasi siku, dan osteomielitis.42


2. Gambaran Radiologi
Tuberositas radial adalah struktur anatomi normal dalam radius proksimal; Namun, proyeksi

lateral, itu digambarkan en face dan dapat muncul sebagai lesi radiolusen bulat telur Pada proyeksi

lainnya, tuberositas menjadi jelas dan radiolusen artifactual menghilang. Tonjolan tulang dari

osteochondroma dapat meniru lesi radiolusen jika dilihat en face juga. Untuk menghindari

perangkap ini, penting untuk meninjau proyeksi tambahan.2

Gambar 34. (A dan B): Radial tuberositas pseudolesion.Seorang wanita berusia 33 tahun dengan nyeri siku medial.(A)
radiografi lateral siku menunjukkan pseudolesion berkilau (panah) di tuberositas radial yang menghilang pada
radiografi AP (B).

2.6.3 Wrap-Around/Aliasing in MRI


1. Definisi

Aliasing di MRI (juga dikenal sebagai wrap-around) adalah gambaran umum artefak

MRI yang terjadi ketika bidang pandang (Field Of View) lebih kecil dari tubuh-bagian yang

digambarkan .Bagian tubuh yang terletak di luar tepi FOV diproyeksikan ke sisi lain dari gambar.43
Dasar aliasing terletak pada "analog-ke-digital konversi" dimana sinyal MR terus menerus

diambil oleh kumparan penerima diubah menjadi mitra digital untuk presentasi sebagai gambar

skala abu-abu. Ini ubiquitously melibatkan sampling sinyal kontinu pada interval yang telah

ditentukan. Untuk kesetiaan yang lebih besar dalam konversi sinyal, laju sampling harus minimal

dua kali frekuensi tertinggi dalam sinyal (Nyquist rate). Pada tingkat sampling yang lebih rendah,

sinyal frekuensi tinggi menjadi tidak bisa dibedakan dari sinyal frekuensi yang lebih rendah, yaitu,

mereka menjadi alias.43


30

Pada MRI, lokalisasi spasial dalam satu gambar tergantung pada signature frekuensi sinyal

MR yang berasal dari bagian itu. Dalam bandwidth yang diberikan, sinyal frekuensi yang lebih

tinggi umumnya berasal dari pinggiran gambar dan alias atas frekuensi yang lebih rendah (relatif)

bagian tengah gambar. Aliasing di MRI dapat terjadi di kedua fase dan frekuensi sumbu.43

2. Gambaran Radiologi
Bidang pandang (FOV) di MRI mengacu pada wilayah anatomi yang dicitrakan. Memutuskan

pada FOV yang tepat tergantung pada ukuran struktur yang dicitrakan dan mempertimbangkan

trade-off antara resolusi spasial dan rasio signal-to-noise. Jika FOV dipilih yang lebih kecil dari

anatomi yang dicitrakan, wrap-around atau aliasing artefak dapat terjadi. Hal ini dapat

menyebabkan data gambar yang berada di luar FOV yang "membungkus" dan artifactually

termasuk dalam gambar. Hal ini dapat diperbaiki dengan menggunakan cukup FOV besar ke arah

fase-encoding untuk memasukkan seluruh bagian tubuh atau dengan menggunakan teknik

oversampling fase selama pencitraan.2

Gambar 35. Wrap-around / aliasing di MRI. Seorang laki-laki berusia 47 tahun dengan nyeri pantat yang lebih
rendah.Aksial gambar STIR MRI menunjukkan wrap-around / aliasing artefak dari tangan kanan (panah) dan meniru
lesi fokal dari kepala femoral kanan (panah).

2.6.4 Pulsation Artifact on MRI


Denyut struktur pembuluh darah dapat menyebabkan "ghosting" pada MRI. Hal ini dapat

meniru lesi tulang sebagai data gambar artifactual dari pembuluh yang ditumpangkan ke

tulang . Mengulangi urutan pencitraan setelah menukar phase- dan frekuensi-encoding arah dapat

membantu untuk menentukan apakah atau tidak lesi adalah nyata. Untuk mengurangi denyut
31

artefak, seseorang dapat menempatkan sebuah band kejenuhan atas kapal atau tidak menyelaraskan

kapal dan target lesi ke arah fase-encoding yang sama.2

Gambar 36. Denyut artefak. Seorang laki-laki berusia 31 tahun dengan nyeri lutut kanan. Gambar aksial T1W MRI
menunjukkan fokus sinyal rendah bulat (panah) di fibula, yang disebabkan oleh denyut artefak dari arteri poplitea
(panah) dan meniru tumor.

2.6.5 External Objects


Objek-objek eksternal tertindih di kulit pasien dapat meniru lesi tulang. Hal ini biasanya

terjadi pada pengaturan trauma akut ketika pencitraan mendesak diperlukan dan teknik mungkin

suboptimal.44

Gambar 37. (A dan B): objek eksternal. Seorang wanita berusia 60 tahun dengan nyeri pinggul kiri. (A) Frog
pandangan pinggul kiri menunjukkan radiolusen kecil (panah) di poros femoralis proksimal, yang menghilang pada (B)
AP radiografi pinggul kiri. Radiolusen yang disebabkan oleh lubang kecil di tag sisi locator.