Anda di halaman 1dari 14

Makanan Pendamping ASI: MPASI WHO

Hai ibu-ibu.. :) ada yang masih bingung bagaimana memberi makan pada anak saat umurnya
sudah 6 bulan?

Yuk dibaca artikel berikut ini:

Pemberian makan pada anak sebaiknya disesuaikan dengan tahapan perkembangan tubuhnya.
Sebagai manusia kecil yang sedang sibuk tumbuh berkembang, kebutuhan zat gizi tubuh anak
sangat banyak loh. Jangan sampai dia kekurangan asupan zat gizi karena efeknya sangat fatal
sekali, bahkan hingga kelak di usia dewasanya. ASI saja sudah tidak cukup buat anak di atas
6 bulan yaa

Dalam pemberian MPASI menurut MPASI WHO ini mudah sekali, bayi boleh makan apa saja
dari menu meja makan keluarga dan harus diperhatikan: frequency (frekuensi MPASI),
amount (jumlah takaran MPASI), thickness (tekstur makanan MPASI), variety (jenis),
active/responsive feeding dan higiene.

1. Frekuensi pemberian makan MPASI


Pada awal MPASI WHO setelah bayi genap berumur 6 bulan (5 bulan 30 hari), frekuensi
MPASI makanan utama/makan besar diberikan bertahap 2 3 kali sehari.

Pada umur 6 8 bulan 29 hari, frekuensi MPASI makanan utama (makan besar) diberikan 3
kali. Berikan snack seperti biskuit atau buah matang 1 2 kali sehari.

Pada umur 9 11 bulan 29 hari, frekuensi MPASI makanan utama (makan besar) diberikan 3
4 kali sehari. Berikan snack 1 2 kali sehari.

Pada umur 12 24 bulan, frekuensi MPASI makanan utama (makan besar) diberikan 3 4
kali sehari dan juga 1 2 kali snack tambahan.

Alasan kenapa frekuensi MPASI makan anak harus sering adalah karena anak -terpaksa-
memakan makanan sedikit demi sedikit padahal PR kekosongan asupan kalori dan zat gizi
yang dia miliki begitu serius.

Menghitung umur 1 bulan = 30 hari. Jadi waktu makan MPASI itu bayi umur 5 bulan 30 hari.
Waktu makan sebaiknya disesuaikan dengan waktu makan keluarga supaya
bayi lebih semangat belajar makan ^.^ Tapi jangan terlalu dekat dengan
waktu jam tidur bayi.

2. Jumlah takaran makanan yang diberikan


Frekuensi MPASI makan dan jumlah takaran makanan MPASI yang diberikan dalam panduan
MPASI WHO menyesuaikan dengan kapasitas lambung bayi dan rata-rata kandungan
kalori

Kandungan kalori pada bubur MPASI diperkirakan sekitar 0,8 kcal/gram.

Kapasitas ukuran lambung bayi masih kecil yah. Bayi yang baru lahir ukuran lambungnya
hanya sebesar kelereng, umur 3 hari bertambah sebesar bola bekel dan umur 1 minggu
bertambah menjadi sebesar bola pingpong. Nah, ukuran ini berangsur-angsur akan membesar
seukuran bola tenis pada bayi umur 6 12 bulan (ada sumber yang menuliskan besarnya
lambung bayi seukuran kepalan tanggannya).

Menurut penelitian, kapasitas lambung bayi itu sekitar 30 gram makanan/kg BB-nya.

Pada awal MPASI di umur 6 bulan jumlah takaran makanan MPASI yang diberikan sekitar 2
3 sendok makan per kali pemberian.

Pada umur 6 8 bulan 29 hari, jumlah takaran makanan MPASI dinaikkan bertahap dari 2 3
sendok makan menjadi cangkir/mangkok (125 mL) per kali pemberian. Jadi saat bayi umur
6 bulan 2 minggu diharapkan sudah lancar makan sehingga bisa diberikan takaran setengah
mangkok (125 mL) saat makan. > ukuran cangkir/mangkok yg digunakan 250 mL.

Pada umur 9 11 bulan 29 hari, jumlah takaran makanan MPASI dinaikkan bertahap menjadi
cangkir/mangkok (125 mL) > ukuran cangkir/mangkok 250 mL.

Pada umur 12 24 bulan, jumlah takaran makanan MPASI dinaikkan bertahap menjadi 1
cangkir/mangkok (175 250 mL) > ukuran cangkir/mangkok 250 mL.

Karena kita terpaksa- memberikan makanan dalam jumlah sedikit, namun


dengan PR harus bisa memenuhi kekosongan energi dan zat gizi yang serius
maka jenis menu dan metode MPASI yang kita pilih haruslah tepat.
3. Tekstur makanan MPASI
Menurut petunjuk MPASI WHO, pada umur 6 bulan tekstur makanan MPASI yang diberikan
adalah makanan lumat/halus (bubur saring, pure atau makanan yang ditumbuk/dihaluskan).
Pastikan tekstur makanan MPASI tidak terlalu cair atau encer, jadi gunakan sedikit saja air.
Jadi tekstur bubur cair, tapi jika sendok dimiringkan bubur tidak tumpah.

Pada umur 8 bulan bayi sudah bisa dikenalkan dengan makanan finger food.

Pada umur 9 11 bulan 29 hari tekstur makanan MPASI dinaikkan menjadi makanan lembek
(nasi tim, bubur tanpa disaring, makanan dicincang halus atau irisan makanan-lunak).

Pada umur 12 bulan tekstur makanan MPASI bayi sudah bisa memakan makanan meja
keluarga: makanan yang dicincang kasar, diiris atau dipegang tangan.

Tekstur makanan MPASI ini disesuaikan dengan perkembangan sistema persarafan dan oro-
motorik bayi. Di atas sudah disampaikan tentang kekosongan suplai energi dan zat gizi juga
ukuran lambung yang kecil. Sehingga kita hanya bisa memberikan makanan dalam jumlah
sedikit namun frekuensi sering, juga sebaiknya yang mudah dicerna.

Pemilihan tekstur makanan MPASI ini disesuaikan juga dengan proses pencernaan makanan.
Proses pencernaan makanan ada dua tahap, yaitu pencernaan mekanik oleh kegiatan oro-
motorik gigi-geligi dan pencernaan kimiawi oleh reaksi enzimatik enzim pemecah makanan.
Reaksi enzimatik akan sempurna jika luas permukaan sentuh antar-partikel makin efisien,
sehingga ukuran partikel bahan makanan yang tertelan sebaiknya sudah kecil.

Kemampuan Fisik Bayi Untuk Makan:

Bayi umur 5 bulan baru belajar menggerakkan sendi rahangnya dan makin kuat refleks
hisapnya. Bayi umur 7 bulan bisa membersihkan sendok menggunakan bibirnya. Bayi saat ini
bisa menggerakkan sendi rahang naik-turun juga gigi masih sedikit pun biasanya baru punya
gigi seri yang bertugas memotong bukan menggilas makanan, sehingga proses mengunyah
dan hasil partikel kunyahan masih kasar. Mulai umur 8 bulan bayi telah mampu
menggerakkan lidah ke samping dan mendorong makanan ke gigi-geliginya, makin stabil
menjaga keseimbangan dan memegang sehingga dia sudah bisa menerima makanan finger
food.

Umur 10 bulan merupakan waktu kritis bayi diharapkan sudah bisa memakan tekstur
makanan MPASI semi-padat (lumpy solid food) sehingga mulai kenalkan makanan lembek
tanpa saring di umur 9 bulan. Jika terlambat menaikkan tekstur makanan maka anak akan
semakin sulit memakan makanan yang lebih padat. Umur 12 bulan sendi rahang bayi telah
stabil dan mampu melakukan gerakan rotasi sehingga sudah bisa lebih canggih dalam
mengunyah tekstur makanan MPASI kasar. Pada saat ini bayi telah siap memakan makanan
meja sesuai yang dimakan oleh keluarga.

Jika bayi dipaksa makan makanan padat dini-sendiri contohnya seperti dalam baby led
weaning harus diperhatikan juga risiko tersedak yang masih sangat besar. Ibunya udah bisa
manuver Heimlich belom nih? Banyak loh bayi yang berakhir mengenaskan karena
tersedak, hiks.

Baby-led weaning (BLW) means forgetting pures and weaning spoons and simply letting
your baby feed himself. Sekilas tentang baby led weaning bisa dibaca di:
http://www.babycentre.co.uk/a1007100/baby-led-weaning

Selain itu bayi membutuhkan lebih banyak waktu untuk memanipulasi makanan tekstur padat
untuk bisa mengunyahnya hingga menjadi partikel yang lebih kecil untuk ditelan. Akibatnya
bayi akan memakan jumlah makanan yang lebih sedikit (karena capek dan bosan -dipaksa-
mengunyah) sehingga asupan makanannya kurang dan kekosongan kebutuhan tubuhnya akan
tetap kosong.

Jika ibu ingin bayi mendapatkan manfaat zat gizi secara optimal dari makanan yang dia
makan maka sebaiknya ibu pilih menu dengan tekstur makanan MPASI sesuai tahap
perkembangan bayi ya.

4. Varietas Bahan Makanan


Menurut petunjuk MPASI WHO, pada umur 6 bulan sistem pencernaan bayi termasuk
pancreas telah berkembang dengan baik sehingga bayi telah mampu mengolah, mencerna
serta menyerap berbagai jenis/varietas bahan makanan seperti protein, lemak dan
karbohidrat. Pencernaan serta organ tubuh bayi sudah siap mengolah bahan makanan lain
selain ASI dan susu formula. Jadiii bayi sudah boleh makan berbagai jenis bahan makanan,
bukan hanya buah aja.

Pada umur 6 bulan, ginjal bayi telah berkembang dengan baik sehingga mampu
mengeluarkan produk sisa metabolisme termasuk dari bahan pangan tinggi protein seperti
daging. Jadi, bukan menjadi alasan menunda pemberian daging merah, ikan dan telur. Supaya
bayi tumbuh berkembang dengan baik sebaiknya kawal dengan pemberian menu protein
hewani plus nabati.

Jadi yaaa tidak ada alasan gak boleh kasih makanan ini-itu (padahal ortu mampu
menyediakan) hanya karena takut anak tidak bisa mencernanya dan ginjal tidak kuat. Baca,
baca dan baca lagi yuuukk.. :D
Pada masa awal MPASI, varietas bahan makanan yang berikan 1 jenis makanan terlebih
dahulu, kemudian tambahkan 1 jenis makanan lain setiap minggu (kalau AAP setelah
beberapa hari percobaan, penelitian lain menyarankan tiap 2 4 hari tambah setiap bahan
baru). Dalam pengenalan bahan baru disarankan memulai dengan dosis sekitar 1 2 sendok
teh. Lebih disarankan lagi diberikan sebagai rasa tunggal, namun ada beberapa bayi yang
menyukai saat dicampur.
Makanan pertama -yang buat saya monumental, haha- prioritaskan memilih sumber
karbohidrat (bubur serealia seperti bubur beras, bubur jagung, kentang tumbuk, pisang kerok,
sukun) dan segerakan memberikan bahan pangan sumber zat besi hewani.

Tambahkan minyak atau margarin setengah hingga satu sendok teh ke dalam bubur bayi
untuk meningkatkan kandungan energi serta supaya makanan licin dan mudah ditelan bayi.
Ibu bisa menggunakan minyak apapun yang tersedia di rumah selama minyaknya masih
bersih dan bagus bukan minyak bekas menggoreng. Tambahkan minyak ketika bubur akan
disajikan ke bayi.

Hindari makanan dan minuman manis seperti teh, soda, atau biskuit manis. Jangan
memberikan makanan yang keras dan berpotensi untuk tersedak. Hindari pemberian makanan
asin seperti ikan asin.

Bubur bayi dari tepung:

Disarankan memasak bubur dari nasi atau beras. Namun, beberapa suku memiliki kebiasaan
menyimpan bahan makanan pokok dalam bentuk tepung supaya awet seperti masyarakat
Papua dengan sagu atau warga Wonosari dengan tepung singkongnya. Ibu bisa memasak
bubur bayi dari bahan pokok yang tersedia di rumah, sesuaikan saja dengan menu meja
keluarga.

Bubur nasi dimasak dari nasi keluarga dalam pelatihan MPASI WHO di Perinasia.

Bolehkah MPASI sayur dan buah saja?

Makan ala diet vegetarian yaitu hanya memberikan bayi makanan buah sayur serta bahan
pangan nabati lain -sudah dibuktikan dari serangkaian penelitian para ahli- tidak bisa
memenuhi kekosongan zat gizi yang diperlukan bayi (alasannya sudah saya jelaskan di atas),
KECUALI ibu juga memberikan bayi suplementasi dan produk makanan yang telah
difortifikasi di bawah pengawasan dokter anak.

Jika pilihan MPASI ibu hanya buah dan sayuran yang boleh dimakan bayi, tentu bayi akan
rentan mengalami kekurangan energi, kecuali jumlah makanan yang diberikan sangat banyak
dengan risiko bayi sembelit karena makan melebihi kapasitas pencernaannya (ingat bahwa
bayi membutuhkan lebih banyak makanan jika kandungan kalorinya makin sedikit).
Susu sapi untuk bayi:

Susu sapi dan hewan lain belum boleh menjadi minuman utama bagi bayi di bawah 12 bulan
karena terkait dengan risiko perdarahan di saluran cerna serta menghambat penyerapan zat
besi. Namun, ibu bisa menggunakan susu dan produk susu seperti keju, yoghurt, dan lainnya
sebagai campuran dalam MPASI jika bayi tidak sensitif dan alergi.

Madu untuk bayi:

Madu baru diberikan pada anak di atas umur 12 bulan terkait risiko botulisme akibat adanya
Clostridium botulinum yang mencemari madu.

Bolehkah memberikan makanan yang digoreng?

Boleh.

Kok boleh gorengan sih? Kan kalori gorengan lebih tinggi, toh ibu sendiri yang menggoreng
dengan minyak yang aman digunakan. Oiya, jangan samakan diet bayi dengan diet kita-kita
yang udah berumur ini. Bayi itu butuh kolesterol. Salah satu nutrisi unggulan di ASI yang
tidak ada di sufor juga susu lain itu apa? KOLESTEROL dan ASAM LEMAK.

Makanan pencetus alergi:

Terkait ketakutan akan adanya alergi sebenarnya tidak ada pantangan makanan bagi bayi:

Untuk bayi yang terlahir dari keluarga yang sangat kuat dan jelas riwayat alerginya, AAP
merekomendasikan menunda pemberian susu sapi hingga usia anak 1 tahun, telur hingga usia
anak 2 tahun dan kacang tanah, kacang-kacangan, dan ikan hingga anak 3 tahun (AAP, 1998).

Namun demikian, penelitian yang membuktikan adanya manfaat penundaan atau pembatasan
makanan dalam MPASI belum ada (Halken dan Host, 2001) sehingga para ahli internasional
tidak merekomendasikan pembatasan diet pada MPASI anak (WHO/IAACI, 2000).

Kejadian alergi makanan terjadi pada sekitar 2 8% anak berumur kurang dari 3 tahun,
tandanya biasanya langsung muncul dalam beberapa jam setelah anak makan.Gejala yang
mungkin timbul antara lain gejala saluran pencernaan (diare, muntah, sakit perut), gejala
saluran pernafasan (batuk, mengi, infeksi telinga), gejala di kulit (bercak merah atau gatal)
dan gejala sistemik (syok anafilaksis hingga BB anak susah naik bahkan gagal tumbuh).
Alergi juga bisa muncul lambat setelah 72 jam terpapar alergen, jadi setelah 3 hari baru
muncul gejala alergi.

Jangan lupa berikan minum air putih

Berikan air putih yang bersih dan sudah dimasak sebanyak kurang lebih 4 8 oz (120 240
mL) per hari, sebenarnya pemberian air putih bagi bayi yang sudah MPASI ini tidak dibatasi
jadi menyesuaikan kebutuhan bayi. Tawarkan bayi minum air putih setiap selesai makan.
Patokannya: lihat urin dan feses bayi. Jangan sampai bayi kekurangan cairan. Bayi yang
tinggal di daerah panas akan membutuhkan lebih banyak minum sebagai pendamping
MPASI.

Pemberian air putih bagi bayi yang sudah makan MPASI berguna sebagai suplai cairan juga
untuk mencegah sembelit. Lebih lengkapnya bisa dibaca di link berikut ini: minum air putih.

Bagaimana dengan gula dan garam?

Jreng jreeenggg semua sumber yang saya baca tidak merekomendasikan makanan manis,
asin dan berbumbu tajam. Tapi dalam booklet pemberian makan dari Unicef boleh
ditambahkan sedikit garam beryodium
dan dalam buku MPASI rumahan bagi bayi dari WHO boleh ditambahkan sedikit gula.

Bayi bisa tetap lahap dengan rasa alami makanan. Masalahnya beberapa kasus akan berakhir
dengan bayi malas makan dan lebih memilih menyusu karena rasa MPASI hambar
sedangkan ASI ibu kaya rasa, hasilnya bayi jadi kurus. Jika bayi susah makan karena rasa
MPASI rumahan yang hambar semua dikembalikan ke ibu apakah mau menambahkan
SEDIKIT gula-garam sebagai perasa alami atau mencari solusi yang lain (ingat cukup
SEDIKIT ya, jangan terlalu manis apalagi terlalu asin).

Sebenarnya ibu bisa memakai keju, margarin, mentega, aneka ragam racikan bumbu atau
ASIP supaya bubur terasa lebih lezat bagi bayi :)

Bumbu yang bisa digunakan sebagai perasa bubur yang disukai anak Indonesia:

1. Daun sereh atau batang sereh.

2. Bawang merah (cukup belah 2).

3. Bawang putih (cukup belah 2).

4. Daun jeruk.

5. Lengkuas.

6. Daun bawang.

7. Daun pandan.

8. Kadang bisa juga daun salam dan seledri.

Buku MPASI WHO bisa diunduh disini: MPASI WHO

Booklet Unicef bisa diunduh disini: Booklet Unicef

Btw jangan sedih kalau bayi anda tidak mau makan bubur yang ditambah ASIP -normal jika
ada bayi yang gak suka saat ASIP dicampur ke bubur- daripada bersedih mending segera
mencari variasi menu baru.
(Pesan moral: jadi busui jangan picky eater kalau gak mau anak picky eater :D).

5. Pemberian makan dengan cara aktif/responsif


MPASI bukan hanya sekedar makanan namun juga cara makan, kapan waktu makan, tempat
makan, dan faktor pemberi makanan sehingga dalam MPASI WHO ini juga diperhatikan
faktor psikososial anak.

Suapi bayi dan perhatikan anak yang lebih besar serta beri bantuan bila dia
membutuhkan. Beri anak makanan dengan sabar dan penuh perhatian, dorong anak
untuk mau makan namun jangan paksa anak untuk makan.

Jika anak menolak makan, coba ganti kombinasi makanan, rasa, tekstur dan metode
makan.

Minimalisasi gangguan saat anak makan jika anak tipe yang mudah teralihkan
perhatiannya.

Waktu makan adalah saatnya anak untuk belajar dan waktu keluarga mencurah cinta
dan saling berkomunikasi sehingga ajak anak untuk mengobrol dengan kontak mata
yang penuh kehangatan.

Jika anak menolak sendok coba berikan makan dengan menggunakan tangan.
Pastikan tangan ibu bersih yaa.
Jarang ada penelitian tentang anak yang dibiarkan makan sendiri tanpa bantuan sejak
dini seperti dalam baby led weaning.

Metode pemberian makan aktif responsif (jadi ibu menyuapi anak tapi anak juga dilibatkan
secara aktif untuk makan) telah terbukti dari berbagai penelitian yang dilakukan bisa
membuat anak makan lebih banyak.

Cara pemberian makan aktif responsif:

Berikan anak makanan dalam piring tersendiri sehingga ibu bisa mengukur banyaknya
makanan yang dimakan anak. Beri makan dengan alat makan sesuai perkembangan umur
anak serta budaya setempat, ada beberapa kebudayaan yang memberikan sendok yang lebih
kecil bagi bayi. Bayi yang lebih besar akan tertarik untuk makan sendiri, berikan dia sendok
untuk berpartisipasi menyuapkan makanan ke dalam mulutnya sambil dibantu oleh ibu.

Pemberian ASI pada saat MPASI masih seperti pada saat


masa ASI eksklusif yaitu sesering dan selama yang anak
inginkan.
Pada umur 6 12 bulan WHO menyarankan untuk menyusui terlebih dahulu sebelum
memberikan makanan lain. Beberapa ahli menyarankan menyusui setelah anak makan.
Namun teknis pelaksanaannya dikembalikan kepada kenyamanan ibu dan anak. Jangan takut
anak menyusu akan membuat anak malas makan. Menyusu semau bayi pada masa-masa ini
akan tetap membuatnya masih lapar karena ASI sangat berbeda dari susu formula dan sudah
tidak bisa memenuhi kebutuhan nafsu makan juga energi bagi bayi.

Keuntungan masih menyusui semau bayi pada masa MPASI antara lain:

Bayi akan terlindungi dari reaksi peradangan dan infeksi karena ada sel-sel darah
putih, antibodi, antiradang dan aktivator sel darah putih di dalam ASI.

Epidermal growth factor di dalam ASI akan membantu perkembangan sel-sel usus
juga papilla lidah/taste bud bayi.

Papilla lidah yang sehat akan membuat anak mudah merasakan rasa makanan sehingga nafsu
makannya menjadi baik. Pencernaan yang berkembang sempurna membantu bayi makin
efektif mencerna makanan.

Terdapat enzim percerna karbohidrat, lemak dan protein di dalam ASI sehingga proses
pencernaan zat gizi dalam makanan akan semakin efisien.

6. Higienitas
MPASI WHO sangat menekankan kebersihan. Pada masa-masa ini bayi sangat rentan terkena
diare sehingga ibu harus memastikan kebersihan makanan, air, alat makan, proses memasak
dan tangan (pemberi makan maupun bayi). Cuci tangan ibu dan bayi dengan air serta sabun
saat mau memasak, mau makan dan setelah dari toilet (sabun biasa, tidak perlu sabun
antibakteri).

Disarankan menggunakan peralatan makan yang mudah dibersihkan seperti cangkir,


mangkok dan sendok, bukan botol-sendok, dot atau pipet. Makanan bayi bisa disimpan di
kulkas dalam rentang yang tidak terlalu lama (misal ibu bekerja menyiapkan makanan untuk
1 hari, jangan 3 hari apalagi 1 minggu yah, dudududuu..).

Masak dengan benar hingga makanan matang. Bubur bayi yang tidak disimpan di kulkas
sebaiknya segera digunakan dalam waktu 2 jam. Pastikan makanan mentah yang dimakan
bayi bersih dan aman. Pisahkan makanan mentah dan matang.
Jadi kalo di cara makan ala MPASI WHO ini cukup dengan makanan yang ada di meja makan
keluarga. Ambil nasi dari nasi keluarga (kenapa memasak bubur dari nasi bukan beras?
Supaya hanya dibutuhkan tambahan air sedikit agar tidak terlalu encer, juga biar cepet
masaknya) lalu pisahkan sayur juga lauk yang belum dibumbui bumbu-bumbu tajam (misal
merica atau cabe).

Untuk menu sesuaikan saja dengan masakan yang ibu masak dengan tekstur dan jumlah
menyesuaikan tahap perkembangan anak. Boleh sih pakai blender, food processor atau yang
lainnya, tapi kalo buat tipe ibu malas nyupir (nyuci piring) macam saya akhirnya jadi males
banget. Penggunaan blender tidak boleh dengan menambah air karena tekstur bubur akan
encer.

Cara memasak bubur MPASI WHO:


1. Ambil nasi 1 mangkok ditambah air satu mangkok. (air bisa kaldu atau santan)

2. Tambahkan bumbu, sayur-mayur dan lauk-pauk. Bumbu utuh saja, bawang cukup
dibelah dua dan jangan ikut dilumatkan. Sayur dan lauk yang diiris halus.

3. Masak di atas api hingga air habis sehingga nasi telah menjadi bubur lembik.

4. Ambil bubur lembik lalu lumatkan dengan saringan kawat.

5. Ambil hasil pelumatan bubur dibalik saringan kawat sehingga menjadi bubur lumat.

6. Sajikan dengan ditambahkan satu sendok minyak atau margarin.

Hasil oleh-oleh memasak MPASI di Pelatihan MPASI PERINASIA ^_^ Ini dimasak dalam
waktu yang sangat singkat loh, hanya sekitar 10 menit dan tidak merepotkan. Jadi kata siapa
memasak MPASI sulit?
Sebenarnya pemberian MPASI itu tidak sulit ya, namun jika salah pilih akan sangat
merugikan bayi. MPASI yang salah akan membuat:

1. Bayi akan rentan sakit,

2. Bayi lambat tumbuh,

3. Bayi akan berhenti tumbuh.

Jangan sampai otak anak jadi kecil gara-gara kurang gizi yaa.. >_<

Ciri ada sesuatu yang salah di MPASI ya berat badan anak susah naik, grafik pertambahan
berat badan jelek dan anak sering banget sakit. Bisa dilihat dari gambar ada gambaran CT
scan anak di usia yang sama, anak kurang gizi otaknya lebih kecil dan banyak yang kosong
jadi akhirnya ya jadi anak yang bodoh. Padahal anak ASI -sudah dibuktikan dari penelitian
jangka panjang- seharusnya tumbuh berkembang dengan baik, pintar, aktif dan sehat.

Jika ragu dengan MPASI ibu bisa mendiskusikannya dengan DSA pro-ASI yang komunikatif.
Dokter spesialis anak adalah orang yang sekolah kedokteran dan mendalami permasalahan
anak selama 12 tahun, jadi mereka pastilah tahu apa yang harus anak makan. Daripada
berimprovisasi dengan akibat masa depan anak terancam kan?

Artikel berikut juga penting untuk diketahui, yaitu tentang

1. Pemilihan makanan pertama bagi bayi: klik link.

2. Gerakan tutup mulut atau bubur disembursembur ketika si bayi sulit disuap makan
MPASI: klik link.

3. Ibu cerdas pintar membaca kurva pertumbuhan anak: klik link.

4. Ketika galau berat badan anak sulit naik: klik link.

MPASI WHO itu berkualitas, mudah, dan terjangkau