Anda di halaman 1dari 7

Muchamad Zubaid

209.121.0011

1. EPIDURAL HEMATOME (EDH)

Epidural hematome (EDH) adalah perdarahan yang terbentuk di ruang potensial

antara tabula interna dan duramater dengan cirri berbentuk bikonvek atau menyerupai

lensa cembung. Paling sering terletak diregio temporal atau temporoparietal dan sering

akibat robeknya pembuluh darah meningeal media. Perdarahan biasanya dianggap

berasal dari arteri, namun mungkin sekunder dari perdarahan vena pada sepertiga kasus.

Kadang-kadang, EDH akibat robeknya sinus vena, terutama diregio parietal-oksipital

atau fossa posterior.


Walaupun EDH relatif tidak terlalu sering (0.5% dari keseluruhan atau 9% dari

pasien koma cedera kepala), harus selalu diingat saat menegakkan diagnosis dan

ditindak segera. Bila ditindak segera, prognosis biasanya baik karena penekan gumpalan

darah yang terjadi tidak berlangsungg lama. Keberhasilan pada penderita pendarahan

epidural berkaitan langsung denggan status neurologis penderita sebelum pembedahan.

Penderita dengan pendarahan epidural dapat menunjukan adanya lucid interval yang

klasik dimana penderita yang semula mampu bicara lalu tiba-tiba meningggal (talk and

die), keputusan perlunya tindakan bedah memang tidak mudah dan memerlukan

pendapat dari seorang ahli bedah saraf.1


Dengan pemeriksaan CT Scan akan tampak area hiperdens yang tidak selalu

homogen, bentuknya biconvex sampai planoconvex, melekat pada tabula interna dan

mendesak ventrikel ke sisi kontralateral (tanda space occupying lesion). Batas dengan

corteks licin, densitas duramater biasanya jelas, bila meragukan dapat diberikan injeksi

media kontras secara intravena sehingga tampak lebih jelas.2


Gambar X. Epidural Hematome (tanda panah kuning) lesi hiperdens dengan bentuk

biconvex

2. SUBDURAL HEMATOME (SDH)

Hematoma subdural (SDH) adalah perdarahan yang terjadi di antara duramater

dan arakhnoid. SDH lebih sering terjadi dibandingkan EDH, ditemukan sekitar 30%

penderita dengan cedera kepala berat. Terjadi paling sering akibat robeknya vena

bridging antara korteks serebral dan sinus draining.


Gambar X. Perdarahan Intrakranial
Namun ia juga dapat berkaitan dengan laserasi permukaan atau substansi otak.

Fraktura tengkorak mungkin ada atau tidak.1


Selain itu, kerusakan otak yang mendasari SDH akut biasanya sangat lebih berat dan

prognosisnya lebih buruk dari EDH. Mortalitas umumnya 60%, namun mungkin

diperkecil oleh tindakan operasi yang sangat segera dan pengelolaan medis agresif.

SDH terbagi menjadi akut dan kronis.

a. SDH Akut

Pada CT Scan tampak gambaran hyperdens sickle (seperti bulan sabit) dekat

tabula interna, terkadang sulit dibedakan dengan EDH. Batas medial hematom seperti

bergerigi. Adanya hematom di daerah fissure interhemisfer dan tentorium juga

menunjukan adanya SDH.3

Gambar X. Akut Subdural Hematome - Lesi hyperdens sickle (seperti bulan sabit)

b. SDH Kronis
Pada CT Scan terlihat adanya komplek perlekatan, transudasi, kalsifikasi yang

disebabkan oleh bermacam- macam perubahan, oleh karenanya tidak ada pola tertentu.

Pada CT Scan akan tampak area hipodens, isodens, atau sedikit hiperdens, berbentuk

menyerupai konveksokonkaf, berbatas tegas melekat pada tabula. Jadi pada prinsipnya,

gambaran SDH akut adalah hiperdens, yang semakin lama densitas ini semakin

menurun, sehingga terjadi isodens, bahkan akhirnya menjadi hipodens.2

(A) (B)
Gambar X. Kronik Subdural Hematome (A) Lesi Isodens (B) Lesi Hipodens
3. SUBARACHNOID HEMORRHAGE (SAH)

Perdarahan Subarachnoid adalah perdarahan ke dalam rongga diantara otak dan

selaput otak (rongga subarachnoid). Perdarahan subarachnoid merupakan penemuan

yang sering pada trauma kepala akibat dari robeknya pembuluh darah leptomeningeal

pada vertex di mana terjadi pergerakan otak yang besar sebagai dampak, atau pada

sedikit kasus, akibat rupturnya pembuluh darah Serebral Major.4

Subarachnoid Hemorrhage (SAH) atau Perdarahan Subarachnoid (PSA)

menyiratkan adanya darah di dalam ruang Subarachnoid akibat beberapa proses

patologis. SAH biasanya disebabkan oleh tipe perdarahan non-traumatik, biasanya

berasal dari ruptur aneurisma Berry atau arteriovenous malformation

(AVM)/malformasi arteriovenosa (MAV) dan trauma kepala.5


Gambar X. Subarachnoid Hemorrhage Anatomi

Kebanyakan aneurisma intrakranial yang belum ruptur bersifat asimptomatik.

Apabila terjadi ruptur pada aneurisma, tekanan intrakranial meningkat. Ini bisa

menyebabkan penurunan kesadaran secara tiba-tiba yang terjadi sebagian daripada

pasien. Penurunan kesadaran secara tiba-tiba sering didahului dengan nyeri kepala yang

hebat. 10% kasus pada perdarahan aneurisma yang sangat hebat bisa menyebabkan

penurunan kesadaran selama beberapa hari. Nyeri kepala biasanya disertai dengan kaku

kuduk dan muntah.6

Aneurisma pada arteri komunikan anterior atau Bifurcatio Arteri Serebri Media

bisa ruptur dan defisit yang sering terjadi adalah hemiparesis, afasia dan abulia.

Simptom prodromal bisa menunjukkan lokasi pembesaran aneurisma yang belum

ruptur. Paresis Nervus Cranialis III yang berkaitan dengan dilatasi pupil, refleks cahaya

negatif dan nyeri fokal di atas atau belakang mata bisa tejadi dengan pembesaran

aneurisma pada persimpangan antara Arteri Comunikan Posterior dan Arteri Carotis

Interna. Paresis Nervus Cranialis VI menunjukkan aneurisma dalam sinus cavernosus.

Gangguan ketajaman penglihatan bisa terjadi dengan pembesaran aneurisma pada Arteri

Serebri Anterior. Nyeri pada Occipital dan Cervikal Posterior menunjukkan aneurisma

pada Arteri Cerebellar Posterior Inferior atau Arteri Serebellar Anterior Inferior.6
Aneurisma bisa mengalami ruptur kecil dan darah bisa masuk ke dalam ruang

Subarachnoid, ini dinamakan perdarahan sentinel. Nyeri kepala prodromal dari ruptur

kecil dilaporkan pada 30 hingga 50% aneurisma SAH. Nyeri kepala sentinel dapat

muncul 2 minggu sebelum diagnosa SAH. Kebocoran kecil umumnya tidak

memperlihatkan tanda-tanda peningkatan intrakranial atau rangsang meningeal.6

Computed tomography (CT) Scan adalah pilihan awal untuk mengevaluasi

perdarahan. Pada pasien yang mengeluh dengan mengatakan nyeri kepala yang sangat

hebat dapat di suspek perdarahan di dalam ruang Subarachnoid. Darah yang berada

dalam ruang Subarachnoid pada fasa akut mempunyai intensitas yang sama dengan

cairan Serebrospinal maka MRI tidak disarankan. Suspek dengan kasus SAH

seharusnya dievaluasi dengan CT scan tanpa zat kontras.7

CT scan bisa positif pada 90% kasus jika CT scan dilakukan dalam beberapa

hari selepas perdarahan. Pada CT scan, gambaran perdarahan Subarachnoid

menunjukkan peningkatan density (hiperdens) pada ruang cairan Serebrospinal.

Aneurisma sering terjadi pada Sirkulus Willisi maka pada CT scan, darah tampak pada

Cisterna Basalis. Perdarahan yang hebat bisa menyebabkan seluruh ruang Subarachnoid

tampak opasifikasi. Jika hasil CT scan negatif tetapi terdapat gejala SAH yang jelas,

pungsi lumbal harus dilakukan untuk memperkuatkan diagnosis.8


Gambar X. CT scan kepala normal dan CT scan kepala dengan SDH

Perdarahan Subarachnoid non-traumatik harus dilakukan pemeriksaan angiografi

untuk mendeteksi aneurisma karena bisa terjadi perdarahan ulang. Melalui pemeriksaan

angiografi dapat dilakukan terapi intervensi neuroradiologi. Perdarahan dari ruptur

aneurisma bisa meluas sehingga ke parenkim otak dan lebih jauh ke dalam sistem

ventrikular. Perdarahan Subarachnoid yang hebat bisa mengganggu absorpsi Cairan

Serebrospinal dan hidrosefalus bisa terjadi.9

DAFTAR PUSTAKA
1. American College of Surgeons, 1997, Advance Trauma Life Suport. United

States of America: First Impression.


2. Ghazali Malueka, 2007, Radiologi Diagnostik, Yogyakarta: Pustaka Cendekia.
3. Bernath David, 2009, Head Injury, www.e-medicine.com.
4. Anonim.,2005, Subarachnoid Hemorrhage ,Granial Computed Tomography.
5. Ningrumwahyuni.wordpress.com/2009/08/06subarachnoid-hemorrhage/.
6. Smith WS, Johnston SC, Easton JD. Cerebrovascular diseases. In: Kasper DL,

Fauci AS,Longo DL, Braunwald E, Hauser SS, Jameson JL, editor. Harrisons

principles of internalmedicine. 16th edition. United States of America: The

McGraw-Hill Companies, Inc; 2005.


7. Mayor NM. Neuroimaging. In: Mayor NM, editor. A practical approach to

radiology.Philadelphia: Saunders, an imprint of Elsevier Inc; 2006.


8. Jager R, Saunders D. Cranial and intracranial pathology (2): cerebrovascular

disease and non-traumatic intracranial hemorrhage. In: Grainger RG, Allison

D, Adam A, Dixon AK, editor.Grainger & Allisons diagnostic radiology: a

textbook of medical imaging. 4th edition. London:Churchill Livingstone; 2001.


9. Eastman GW, Wald C, Crossin J. Central nervous system. In: Eastman GW,

Wald C, CrossinJ, editor. Getting started in clinical radiology from image to

diagnosis. Germany: Thieme; 2006.