Anda di halaman 1dari 23

Tugas: Entomologi Kesehatan

KLAS DIPLOPODA

OLEH :
KELOMPOK 4

IRMAWATI P. J1A1 14 145


ASKIKAH J1A1 14 146
MALIKUL NUR RAZAK J1A1 14 149
RURYSTIA NINGSIH LIAMBO J1A1 14 154
SARTINA J1A1 14 162
LD. MUH. MUSLIMIN J1A1 14 167
NENENG SUNARTI J1A1 14 170
YUSUF BUDIMAN J1A1 14 178
NURFIFIEN J1A1 14 036

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2017

ENTOMOLOGI KESEHATAN 1
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT Tuhan

Semesta Alam karena atas izin dan kehendak-Nya jualah makalah sederhana ini

dapat kami rampungkan tepat pada waktunya. Penulisan dan pembuatan makalah

ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Entomologi Kesehatan.

Adapun yang kami bahas dalam makalah sederhana ini mengenai Klas

Diplopoda. Dalam penulisan makalah ini kami menemui berbagai hambatan

yang dikarenakan terbatasnya Ilmu Pengetahuan mengenai hal yang berkenan

dengan penulisan makalah ini. Oleh karena itu sudah sepatutnya kami berterima

kasih kepada dosen yang telah memberikan pengetahuan.

Demikian makalah ini, kami mengharapkan saran dan kritik membangun

agar dalam pembuatan makalah selanjutnya lebih bagus dan berkualitas.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kendari, Maret 2017

Kelompok IV

ENTOMOLOGI KESEHATAN 2
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR ....................................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................... 3
C. Tujuan ...................................................................................................... 3

BAB II PEMBAHASAN
A. Ciri-ciri Klas Diplopoda.......................................................................... 4
B. Peran Klas Diplopoda............................................................................. 14
C. Pengendalian Klas Diplopoda................................................................. 16

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ............................................................................................ 17
B. Penutup ................................................................................................... 17

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 18

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada umumnya entomologi dapat dipelajari dalam berbagai bidang

diantaranya, bidang pertanian, peternakan, kesehatan dan sebagainya. Adapun

ENTOMOLOGI KESEHATAN 3
berkenaan dengan banyaknya masalah kesehatan masyarakat dari segi

lingkungan yang dipengaruhi adanya vektor-vektor penular penyakit

(arthropoda) maka entomologi dalam bidang kesehatan dalam proses

pembelajarannya menjadi sangatlah penting untuk dipahami lebih jauh

sehingga dalam aplikasinya dengan tepat dapat dijalankan berdasarkan aspek-

aspek yang ada di dalamnya. Sebagaimana kita ketahui bahwa Entomologi

Kesehatan adalah cabang ilmu yang mempelajari tentang artrhopoda yang

dapat menjadi penyebab langsung dari berbagai macam penyakit pada manusia

atau menjadi penular mikroorganisme penyebab penyakit dari seorang

penderita kepada manusia lainnya yang sehat.

Sebagai bagian dari komunitas ekosistem bumi, serangga telah menjadi

penentu keberadaan dan perkembangan ekosistem di muka bumi. Interaksi

antara serangga dengan manusia sudah berlansung sejak manusia ada dan

hidup di dunia. Serangga mempunyai peran penting dalam kehidupan manusia.

Begitu juga kerugian yang besar akibat gangguan kesehatan hewan dan

manusia yang disebabkan oleh penyakit yang ditularkan dan disebarkan oleh

serangga. Trilyunan rupiah dana digunakan untuk biaya pengendalian hama

tanaman, hama pascapanen,hama permukiman serta penyakit pada tanaman,

hewan dan manusia yang ditularkanoleh serangga. Manusia sering memandang

serangga secara antroposentris, yaitu sebagai kelompok organanisme yang

lebih banyak mendatangkan kerugian daripada keuntungan bagi kehidupan

manusia. Dengan belajar Entomogi kita bisa menempatkan serangga secara

ENTOMOLOGI KESEHATAN 4
proporsional dalam kehidupan, sehingga tidak memandang serangga sebagai

hewan yang selalu merugikan.

Kelas Diplopoda atau yang dikenal dengan luing (kaki seribu)

merupakan kelas dari filum Antropoda. mereka sudah ada sekitar 400 juta

tahun yang lalu sehingga layak disebut hewan purba. Sangat berpengaruh

dalam rangkaian ekologi bisa dikatakan sebagi dekompuser, karena mereka

merupakan komponen utama perombak kayu dan dedaunan di lantai

hutan,terutama di daerah tropika.

Walaupun dinamakan kaki seribu, tetapi pada dasarnya hewan ini tidak

benar-benar memiliki kaki yang berjumlah seribu. Para ilmuan ada yang telah

membuktikan spesies yang memiliki kaki yang paling banyak yaitu Illacme

plenipes hanya memiliki 750 kaki atau 350 pasang. Sedangkan kelas yang

lainya umumnya lebih sedikit biasanya 100-300 kaki saja.

Oleh karena itu, berdasarkan teori yang memperkuat pengaruh buruk

keberadaan beberapa klas diplopoda sebagai penyebab penyakit seperti kaki

seribu, lalat, kecoak, pinjal dsb dimana hal ini erat kaitannya dengan masalah

penyakit umum yang sering dialami oleh masyarakat pada umumnya. Selain

itu, dari pembelajaran teori dan praktek identifikasi arthropoda yang telah

dilakukan, maka hal tersebut mendasari dibuatnya laporan ini.

ENTOMOLOGI KESEHATAN 5
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah makalah ini

adalah sebagai berikut.

1. Apa cirri-ciri dari Klas Diplopoda ?


2. Bagaimana peranan Klas Diplopoda ?
3. Bagaimana cara mengendalikan Klas Diplopoda ?

C. Tujuan

Adapun tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut.

1. Untuk mengetahui cirri-ciri Klas Diplopoda.


2. Untuk mengetahui peranan Klas Diplopoda.
3. Untuk mengetahui cara mengendalikan Klas Diplopoda.

ENTOMOLOGI KESEHATAN 6
BAB II
PEMBAHASAN

A. Ciri-ciri Klas Diplopoda

Diplopoda dalam bahasa Indonesia disebut kaki seribu (luing)

merupakan kelas dari filum Artropoda, subfilum Myriapoda. Seperti bangsa

Chilopoda (lipan) yang memiliki tubuh terdiri dari berbagai segmen. Empat

segmen pertama di dada masing-masing memiliki satu pasang kaki, segmen

perut berikut semua memiliki dua pasang kaki. Kaki seribu kekurangan taring

beracun dan tidak menggigit, melainkan untuk mencegah predator mereka

defensif menggulung menjadi bola dan banyak memancarkan zat beracun atau

berbau busuk.

Sebagian besar spesies sekitar 8000 kaki seribu adalah herbivora atau

Scavenger, hidup memakan bahan tanaman dan hewan membusuk di habitat

mikro yang lembab. Seperti lipan perempuan bertelur di sarang, yang sering

dijaga ketat. Kaki seribu yang baru menetas biasanya hanya memiliki 3 pasang

kaki dan menambahkan segmen tubuh dengan masing-masing kaki meranggas

saat mereka tumbuh.

1. Struktur Tubuh

Kaki seribu memiliki tubuh yang terbagi atas dua bagian, kepala di

sebelah depan dan bagian tubuhyang panjang dibelakangnya. Tubuhnya

terdiri dari segmen-segmen tubuh berbentuk silinder.

ENTOMOLOGI KESEHATAN 7
Pada hampir setiap segmen tubuh dari kaki seribu dewasa terdapat

dua pasang kaki, Segmen tubuh pertama setelah kepala disebut tengkuk

(collum) dan tidak berkaki, Tiga segmen berikutnya (segmen 2 hingga 4)

mengandung sepasang kaki pada tiap segmennya Kaki seribu yang belum

dewasa sering kali mempunyai segmen terakhir yang tidak berkaki. Kaki

seribu yang belum dewasa sulit sekali ditentukan jenisnya. Oleh karena itu

pilihlah kaki seribu dewasa, spesimen yang segmen terakhirnya lengkap

dengan kaki atau specimen yang hanya mempunyai sedikit segmen tanpa

kaki untuk ditentukan identitasnya.

Alat mulut kaki seribu hanya memiliki dua pasang alat mulut,

mandibula yang digunakan untuk mengunyah dan suatu keping di sebelah

belakang yang disebut gnathochilarium.

Organ Tmsvry: Ini adalah organ perasa yang terletak di kepala

pada kebanyakan kaki seribu.Organ ini umumnya berbentuk cincin yang

agak menonjol, tetapi dapat juga berbentuk ladam atau hanya sekedar

berbentuk suatu lubang. Posisinya terletak di bagian belakang dasar

sungut. Tidak semua bangsa kaki seribu memiliki organ ini.

Ozopor: Organ ini pada kebanyakan bangsa kaki seribu terdapat

pada sejumlah segmen tubuh, yaitu lubang kelenjar yang menghasilkan

bau tertentu. Bagian ini agak sulit untuk dilihat. Pada kebanyakan hewan,

ozopore terletak di sebelah samping tubuh dan dimulai pada segmen ke

ENTOMOLOGI KESEHATAN 8
enam. Pada sebagian kecil kelompok hewan ini, lubang kelenjar terdapat

di sepanjang bagian tengah dorsal.

Paranota: Bagian dorsal setiap segmen cincin ditutupi dengan perisai

yang kerat dan disebut tergit.Pelebaran kearah samping tubuh dinamakan

paranota. Kebanyakan kaki seribu memiliki bintik mata pada daerah sisi

kepala. Mata demikian dapat terdiri dari sejumlah bintik mata yang bersatu

membentuk daerah penglihatan. Sejumlah kaki seribu, misalnya

Polydesmida, tidak pernah memiliki bintik mata. Kaki seribu yang hidup

di dalam gua pada beberapa bangsa telah kehilangan alat penglihatan

mereka, meskipun kerabatnya yang hidup di permukaan tanah mempunyai

daerah penglihatan yang terbentuk dengan baik.

Kaki seribu dewasa umumnya mempunyai alat kelamin yang jelas.

Alat kelamin tentu terdapat pada kedua jenis kelamin, hanya lebih nyata

pada hewan jantan. Kaki yang berubah menjadi alat kelamin umumnya

dapat ditemukan di dua bagian, di daerah segmen cincin yang ke tujuh atau

pada bagian ujung tubuhnya, meliputi pasangan kaki yang terakhir.

Pasangan kaki yang terakhir umumnya dinamakan telopod. Pasangan kaki

ke tujuh yang termodifikasi kadang-kadang tersembunyi pada suatu

kantung. Pada kelompok hewan demikian hewan jantan terlihat tidak

punya pasangan kaki pada segmen ke tujuh). Pasangan kaki ke tujuh yang

mengalami modifikasi dikenal dengan gonopod. Organ ini sangat penting

untuk mengidentifikasi jenis. Hewan betina mempunyai alat kelamin

ENTOMOLOGI KESEHATAN 9
(kadang-kadang disebut cifopod) dapat ditemukan di sebelah belakang

pasangan kaki kedua.

Lebih jelasnya lihat gambar di bawah ini:

Gambar 1. Bagian-bagian tubuh kaki seribu jantan dari Bangsa Julida

Pada tampak samping kaki pada bagian segmen depan, kaki-kaki

terlihat lebih depan dibandingkan dengan tempat sebenarnya (menurut

Blower, 1985). Perhatikan bahwa pasangan kaki pertaman berbentuk cakar

adalah ciri paling jelas dari Julid jantan. collum = tengkuk, ocelli = bintik,

mata, ocular field = daerah mata, mandible = rahang, ozopore(s) = ozopor,

gonopod(s) = gonopod, leg(s) = kaki.

Gambar 2. Struktur segmen cincin (diplosegmen)

ENTOMOLOGI KESEHATAN 10
Menurut Demange, (1981) ozopore(s) =ozopor, leg(s) = kaki, gland=

kelenjar, prozonite = prozonit, metazonite = metazonit, suture=

sambungan, stigma = lubang halus, sternite = sternit, posterior = belakang,

anterior = depan.

2. Ciri-ciri Diplopoda
Diplopoda berasal dari kata di = dua dan podos=kaki, Jadi

Diplopoda adalah kelas hewan yang memiliki dua pasang kaki. Ciri-ciri

umum dari Diplopoda adalah sebagai berikut:

a. Tubuhnya berbentuk silindris dan beruas-ruas (25-100 segmen) terdiri

atas kepala dan badan. Setiap segmen (ruas) mempunyai dua pasang

kaki, dan tidak mempunyai taring bisa (maksiliped). Pada ruas ke

tujuh, satu atau kedua kaki mengalami modifikasi sebagai organ

kopulasi.

b. Pada kepala terdapat sepasang antena yang pendek, dengan dua

kelompok mata tunggal.

c. Hidup di tempat yang lembab dan gelap dan banyak mengandung

tumbuhan yang telah membusuk.

d. Respirasi dengan trachea yang tidak bercabang.

e. Alat ekresi berupa dua buah saluran malphigi.

3. Klasifikasi dan Taksonomi Diplopoda


a. Klasifikasi

Kerajaan : Animalia

Filum : Artropoda

ENTOMOLOGI KESEHATAN 11
Subfilum : Myriapoda

Kelas : Diplopoda (De Blainville in Gervais, 1844)

b. Taksonomi

Taksonomi berdasarkan filogenetik Dipopoda dibagi dalam lima belas

bangsa, nammun yang akan di bahas hanya beberapa bangsa saja,

pengellompokan luwing dilakukan berdasarkan urutan filogenetiknya.

Berikut adalah urutan pengklasifikasiaan kelas diplopoda:

1) Basal genus Eileticus (fosil)

2) Basal genus Amynilyspes (fosil)

3) Basal genus Hexecontasoma (fosil)

4)

4. Klasifikasi dari Beberapa Ordo Diplopoda


Ordo Glomerida

Dari ordo ini dapat kita salah satu spesies yaitu luing pil

(Arthrosphae a rmagna). Hewan ini memiliki ukuran yang lebih kecil atau

pendek, dengan hanya memiliki 11-13 segmen tubuh (Racheboeuf, 2004),

dan mampu menggulung menjadi bentuk sebuah bola jika diganggu.

Keluwing pil adalah herbivora, mencari makanan di materi pembusukan

tanaman (Anonim, 2007).

Keluwing yang termasuk dalam genus Arthrosphaera adalah

penghuni daerah tropis yang sangat melimpah pada horizon tanah atas di

hutan di kawasan lembab. Mereka endemik dan bisanya berperan dalam

ENTOMOLOGI KESEHATAN 12
pembentukan berbagai tipe humus. Mereka terbatas dalam daerah

persebaran yang luas di wilyah Indo-Australia, Afrika Selatan dan

Madagaskar. Semenanjung India dihuni oleh sekitar 27 spesies

Arthrosphaera. Mereka diketahui berasal dari wilayah yang cukup curah

hujan, hutan tertentu di Ghats Barat dan Ghats Timur. Genus

Arthrosphaera memiliki ukuran tubuh yang besar (panjang 3-6 cm, lebar

1,5-3 cm) dan jika diganggu akan menggulung menjadi pil raksasa, karena

itulah disebut dengan Keluwing Pil (Ashwini dan Sridhar, 2006).

Merupakan ordo (bangsa) dari diplopoda yang berukuran kerdil

timgkat rendah, kaki seribu bangsa ini umumnya hidup di antara serasah

atau dalam kayu yang lapuk.

Status Hidup Hewan Kelas Ini

a. Jumlah spesies bernama: - sekitar 10 000

b. Kaki seribu yang paling kaki: - Illacme plenipes 375 pasang atau 750

kaki sama sekali

c. Kaki seribu dengan sedikit kaki: - Polyxenus lagurus 12 pasang atau

hanya 24 kaki

d. Yang terpanjang terpanjang dikenal: - Graphidostreptus gigas dan

Scaphistostreptus seychellarum baik di 28cm atau 11 in

e. Terpanjang yang pernah diketahui: - Arthropleura sp. naik menjadi 1,8

meter atau 6 meter dan 0,45 meter atau 1,6 kaki lebar (meskipun ada

beberapa discrepency tentang apakah mereka benar-benar kaki seribu)

f. Terpendek: - Polyxenus lagurus panjang 2-3 mm

ENTOMOLOGI KESEHATAN 13
g. Fosil tertua: - Kampecaris tuberculata dari Siluria Red Sandstone

h. Spesies yang tinggal di gua: - Aragosoma Barbieri

i. Desert spesies: - Archispirstreptus syriacus dan Orthoporus ornatus

j. Alpine spesies: - Trimerophorella nivicomes 2 500m di atas

permukaan laut dan Trimerophorella niger at 2 800m

k. Arboreal spesies: - Tachypodiulus niger dan Nemasoma varicorne

l. Jumping : - Diopsiulus regressus

m. Bercahaya kaki seribu: - Sebagian besar dalam genus Motyxia (=

Luminodesmus) (Polydesmidae) dan sebagian besar dari California

Motyxia sequoia

5. Habitat
Hewan ini hidup didarat tempat, tempat gelap seperti di dalam gua,

dan pada daerah yang lembab seperti pada dedaunan mati dan serasah

kayu. Sistem Peredaran Darah. Darah tidak berwarna merah karena tidak

mengandung hemoglobin (Hb), melainkan hemosianin yang larut dalam

plasma. Dari jantung darah dipompa ke dalam arteri ke tiap segmen, dan

kembali ke jantung lewat hemosoel (rongga tubuh yang mengambil bagian

dalam peredaran darah).

6. Reproduksi
Pada kelas diplopoda sudah dapat dibedakan jantan dan betina.

Bukaan genital terletak pada segmen ketiga, dan pada jantan disertai oleh

satu atau dua penis, yang paket setoran sperma ke gonopods. Pada wanita,

membuka pori-pori genital ke kamar kecil, atau vulva, yang ditutupi oleh

ENTOMOLOGI KESEHATAN 14
tudung kecil seperti penutup, dan digunakan untuk menyimpan sperma

setelah sanggama.

Dalam beberapa spesies jantan memancarkan feromon untuk

menarik si betina. Sebelum perkawinan, kaki seribu jantan terlebih dahulu

mengisi organ-organ seksual sekunder dari yang utama, untuk melakukan

hal ini dia harus menekukkan tubuhnya ke depan sehingga spermatophore

dari Gonopores pada segmen tubuh ke-3 dapat ditransfer ke Gonopods

(berarti 'seks-kaki') pada 7 segmen tubuh.

Kaki seribu jantan dan betina melakukan pendekatan untuk kawin

dengan cara, kaki seribu jantan berjalan di belakang betina dan

merangsang dengan irama pulsa dari kakinya. Ketika betina mengangkat

segmen depan jantan mengelilingi tubuhnya dan ketika mereka menentang

alat kelamin transfer sperma terjadi. Sperma dilewatkan ke perempuan

sebagai sebuah paket disebut spermatophore. Gonopods atau organ seksual

sekunder yang digunakan dalam transmisi spermatophore ini bervariasi

dalam bentuk dengan spesies yang berbeda, ini terkait erat dengan

membantu menghentikan bentuk spesies hybridizing.. Betina dapat dan

akan kawin beberapa kali dalam jenis Iulid tetapi jenis Polydesmoid betina

cenderung untuk kawin hanya sekali dalam semusim.

Betina menghasilkan 10-300 telur dalm satu waktu, telur ditempat

pada tempat yang lembab atau sampah organik, walaupun terkadang di

tempat yang kering, sarang akan dilapisi dengan kotorannya. Pertahanan

ENTOMOLOGI KESEHATAN 15
diri Kaki seribu tidak menggunakan sungut berbisa untuk melindungi diri

dari musuh. Mekanisme pertahanan utamanya adalah menggulungkan diri.

Tetapi ada juga yang memancarkan zat beracun berupa hydrogen sianida

melalui pori-pori di sepanjang sisi tubuh. Zat ini mampu membakar

eksoskeleton dari serangga kecil pengganggu seperti semut. Makanan

Hewan kelas diplopoda bersifat herbifor, memakan dedaunan, maupun

kayu-kayu yang membusuk. Hanya yang berukuran saja menggigit

manusia tetapi hanya sebagai mekanisme pertahanan.

B. Peran Kelas Diplopoda

a. Menguntungkan

Mayoritas kaki seribu adalah dekomposer yang berarti mereka hidup dari

memakan sisa-sisa tumbuhan. Kaki seribu memiliki peran penting dalam

menjaga kebersihan lantai hutan & meningkatkan kesuburan tanah karena

kotoran yang dikeluarkannya membantu meningkatkan kandungan zat-zat hara

dalam tanah yang pada gilirannya bisa dimanfaatkan oleh tumbuhan. Selain

sisa-sisa tumbuhan, kaki seribu juga mau memakan lumut & jamur. Beberapa

spesies kaki seribu juga memiliki sifat omnivora alias pemakan tumbuhan &

daging di mana daging yang dimakannya merupakan daging hewan-hewan

kecil semisal serangga. Kaki seribu bukanlah hewan yang mematikan bagi

manusia & sebaiknya dibiarkan hidup jika tidak mengganggu karena peran

pentingnya dalam menjaga kesuburan lingkungan. Namun kenyataannya,

hewan ini masih kerap dibunuh secara sengaja. Entah karena manusia merasa

ENTOMOLOGI KESEHATAN 16
takut & jijik dengan penampilannya, atau karena manusia yang membunuhnya

tidak bisa membedakan kaki seribu dengan lipan yang memang beracun. Di

rumah-rumah yang memiliki pekarangan, kaki seribu kadang-kadang terlihat

berkeriapan di dalam rumah karena mereka menghindari hujan & mencari

tempat teduh.

b. Merugikan

Beberapa spesies kaki seribu dianggap sebagai hama pertanian karena

mereka kerap merusak tanaman. Sebagai contoh, kaki seribu (millipede) dari

genus Spirostreptids dilaporkan bertanggung jawab atas rusaknya tanaman

kacang & kapas di Afrika. Dalam kasus lain, kaki seribu dianggap

membahayakan kegiatan transportasi darat karena ketika mereka mengalami

ledakan populasi, kerumunan dari kaki seribu menutupi jalur rel setempat

sehingga kereta yang lewat di atasnya bisa tergelincir & mengalami

kecelakaan. Kasus tersebut pernah dialami oleh negara-negara maju seperti

Jepang, Perancis, & Jerman.

Diplopoda dapat pula merugikan manusia seperti apabila tanpa disengaja

kaki seribu sebagai salah satu hewan kelas Diplopoda masuk kedalam mulut,

maka orang tersebut dapat meninggal. Hal ini terjadi karena adanya kandungan

Hidro Sianida (HCN) dalam tubuh kaki seribu. HCN ini lah yang dapat

menyebabkan kematian pada manusia.

ENTOMOLOGI KESEHATAN 17
C. Pengendalian Kelas Diplopoda

Kaki seribu atau millipede (kelas Diplopoda, sebelumnya juga disebut

Chilognatha) hidup di seresah tanaman dan makan sisa-sisa bahan organik

yang telah membusuk. Hewan ini suka lingkungan yang lembab. Sehingga cara

mengendalikannya dapat dilakukan seperti berikut.

1. Kurangi kelembaban dalam rumah anda. dmgam membiarkan sinar

matahari masuk ke dalam. ( bila memungkinkan)

2. Saat mengepel lantai gunakan karbol wangi untuk lantai, bahan ini tidak

disukai oleh kaki seribu, sehingga dia akan mencari tempat lain untuk

hidupnya, (tidak membunuh kaki seribu)

3. Sumber kaki seribu biasanya adalah pekarangan yang banyak tanaman,

kolam, sawah, atau tanah kosong yang tidak terawat.

4. Cari sumber adanya kaki seribu ini, kemudian sekeliling sumber ini beri /

kelilingi dengan ijuk. bahan ini akan menghambat kaki seribu.

5. Kalo ternyata semua cara "ramah" diatas tidak dapat mengatasi. maka baru

pakai bahan kimia aman yang di semprotkan di rumah. Yaitu semprotkan

biovectrol yang mengandung bahan dasar etofenprox (cho) yang dapat

menyerang system organ dalam tubuh hama

ENTOMOLOGI KESEHATAN 18
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut.

1. Diplopoda dalam bahasa Indonesia disebut kaki seribu (luing) merupakan

kelas dari filum Artropoda, subfilum Myriapoda.

2. Mayoritas kaki seribu adalah dekomposer yang berarti mereka hidup dari

memakan sisa-sisa tumbuhan. Kaki seribu memiliki peran penting dalam

menjaga kebersihan lantai hutan & meningkatkan kesuburan tanah karena

kotoran yang dikeluarkannya membantu meningkatkan kandungan zat-zat

hara dalam tanah yang pada gilirannya bisa dimanfaatkan oleh tumbuhan.

3. Pengendalian yang dapat dilakukan pada klas Diplopoda adalah dengan

menjaga ataupun mengurangi kelembaban rumah atau lingkungan rumah.

B. Saran

Berdasarkan isi makalah ini, tidak perlu adanya perhatian khusus

terhadap klas Diplopoda yakni kaki seribu atau millipede. Namun, untuk

mengantisipasi kemungkinan membahayakan kesehatan manusia sebaiknya

kita perlu trus memantau keadaan lingkungan.

ENTOMOLOGI KESEHATAN 19
DAFTAR PUSTAKA

Agustiyan, Windy. 2013. Ciri-ciri Kelas Diplopoda.


http://windyagustiyan.blogspot.co.uk/2013/05/ciri-ciri-kelas-diplopoda.html .
Diakses pada tanggal 2 Maret 2017.

Ardiyano, Devi Putri. 2011. Kelas Diplopoda.


http://deviputriardiyani.blogspot.co.uk/2011/07/kelas-diplopoda.html . Diakses
pada tanggal 2 Maret 2017.

Fauzi, Imron. 2013. Diplopoda. http://caves.or.id/arsip/glossary/diplopoda. Diakses


pada tanggal 2 Maret 2017.

Mutmainah. 2009. Diplopoda. http://mutmainnah-biologi-


mutmainnah.blogspot.co.uk/2009/12/diplopoda.html . Diakses pada tanggal 2
Maret 2017.

R, Hafani. 2014. Penjelasan Ciri, Klasifikasi dan Peranan Arthropoda.


http://www,materisma,com/2014/06/penjelasan-ciri-klasifikasi-dan-peranan-
arthropoda.html. Diakses pada tanggal 2 Maret 2017.

https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20090816061202AAlfOrE

http://www.re-tawon.com/2014/06/kaki-seribu-si-kaki-banyak-korban-salah.html

ENTOMOLOGI KESEHATAN 20
Soal dan Jawab !

1. Bagaimana cara menghambat kaki seribu dari sumbernya menggunakan

ijuk ? Dampak bahan kimia pada manusia dan lingkungan ? ( Sri Rahmawati )

Jawab :

Sumber kaki seribu biasanya adalah pekarangan yang banyak tanaman, kolam,

sawah, atau tanah kosong yang tidak terawat. Cara menghambat dengan

menggunakan ijuk yaitu dengan mencari sumber adanya kaki seribu ini, seperti di

bawah pot bunga dan tempat2 lembab lainnya, kemudian sekeliling sumber ini

beri / kelilingi dengan ijuk. bahan ini akan menghambat kaki seribu.

Bahan pembasmi serangga biasanya banyak yang menggunakan bahan aktif

propoksur , transflutrin , tiodan , basudin , basmion , dan permetrin . Dampak

negatif akibat dari penggunaan bahan pembasmi serangga adalah sebagai berikut :

Dapat mengakibatkan pencemaran terhadap lingkungan alam yang ada di

sekitar kita .

Bersifat racun bagi tumbuhan , hewan dan manusia .

Pada penggunaan yang tidak benar dapat mengakibatkan kematian

organisme yang sebenarnya bermanfaat bagi kehidupan manusia .

Dapat membuat hewan serangga menjadi lebih kebal terhadap insektisida

tertentu .

ENTOMOLOGI KESEHATAN 21
"Dampak ini saya dapat di dalam link ini http://tokoobatherbalonline.com/

Kalo ternyata semua cara "ramah" diatas tidak dapat mengatasi. maka baru pakai

bahan kimia aman yang di semprotkan di rumah. Yaitu semprotkan

BIOVECTROL yang mengandung bahan dasar ETOFENPROX (CHO) yang

dapat menyerang system organ dalam tubuh hama.

2. Apakah semua jenis wewangian dapat digunakan untuk mengendalikan

diplopoda/kaki seribu ? ( Fendi Halu )

Jawab :

Ya, semua pewangi lantai dapat di gunakan unutuk mencegah adanya kaki seribu

di lantai rumah. Karena pada dasarnya bau dari pewangi lantai yang mengandung

karbol wangi tidak di sukai oleh hewan kaki seribu.

3. Apakah ada dampak negatif lain dari kaki seribu selain tidak sengaja

termakan? ( Sitti Meydina )

Jawab:

Dampak negatif selain termakan adalah ketika tanpa sengaja kaki seribu tersebut

tertindis kemudian mngeluarkan cairan, kemudian cairan tersebbut mengenai luka

yg terdapat pada seseorang. Maka kemungkinan besarnya adalah luka tersebut

ENTOMOLOGI KESEHATAN 22
akan semakin parah dan jika terkena kulit maka org tersebut akan merasakn gatal

karena adanya kontaminasi dengan zat yang terkandung di dalam kaki sribu..

seperti hidrogen sianida (HCN).

ENTOMOLOGI KESEHATAN 23