Anda di halaman 1dari 2

KEDUDUKAN ANAK DALAM HUKUM ADAT

Dalam masyarakat hukum adat berbeda dari masyarakat yang modern, dimana
keluarga/rumah tangga dari suatu ikatan perkawinan tidak saja terdapat anak kandung, tetapi
juga terdapat anak tiri, anak angkat, anak asuh, anak akuan dan sebagainya (baca Hilman
Hadikusuma, Hukum Perkawinan Adat, 1989:139). Kesemua anak anak itu ada sangkut
pautnya dengan hak dan kewajiban orang tua yang mengurus atau memeliharanya, begitupula
sebaliknya. Kedudukan anak anak tersebut pengaturannya juga berlatar belakang pada
susunan masyarakat adat bersangkutan dan bentuk perkawinan orang tua yang berlaku.
Bukan tidak menjadi masalah tentang sah tidaknya anak, hal mana dipengaruhi oleh agama
yang dianut masyarakat bersangkutan, tetapi yang juga penting adalah menyangkut masalah
keturunan dan pewarisan.

Dalam masyarakat dengan susunan kekerabatan yang patrilineal yang cenderung melakukan
perkawinan bentuk jujur, dimana isteri pada umumnya masuk dalam kelompok kekerabatan
suami, maka kedudukan anak dikaitkan dengan tujuan penerusan keturunan menurut garis
lelaki. Sehingga ada kemungkinan keluarga yang tidak mempunyai anak lelaki atau tidak
mempunyai anak sama sekali mengangkat anak wanita berkedudukan seperti anak lelaki atau
mengangkat anak lelaki orang lain menjadi penerus keturunan yang kedudukannya sejajar
dengan anak sendiri.

Jadi dalam keluarga/rumah tangga yang bersifat patrilineal, terdapat bermacam macam
anak, seperti anak sah yang tidak sama kedudukannya dengan anak tidak sah, anak kandung
yang berbeda kedudukan karena kedudukan ibunya berbeda, anak tiri yang dapat diangkat
menjadi anak penerus keturunan bapak tiri seperti di Rejang Bengkulu, anak angkat penerus
keturunan bapak angkat (Lampung; tegak tegi) yang matrilokal seperti nyentane di Bali;
begitu pula halnya dengan anak levirat(Lampung: semalang), anak sororat (Lampung: nuket;
turun ranjang), anak asuh (anak Pelihara), anak akuan dan lain lain, yang berbeda beda
dalam kedudukannya terhadap ayah kandung, ayah angkat, ayah tiri, mertua dan sebagainya,
dan dalam hubungan kekerabatan.
Dalam masyarakat yang matrilineal yang cenderung melakukan perkawinan dalam bentuk
semenda, dimana suami masuk dalam kerabat isteri (matrilokal) atau dibawah kekuasaan
kerabat isteri, maka kedudukan anak dikaitkan dengan penerusan keturunan menurut garis
wanita. Sehingga ada kemungkinan keluarga yang tidak mempunyai anak wanita atau tidak
mempunyai anak sama sekali mengangkat anak lelaki berkedudukan seperti anak wanita atau
mengangkat anak wanita orang lain untuk menjadi penerus keturunan yang berkedudukan
sejajar dengan anak sendiri.

Dalam masyarakat keibuan seperti di Minangkabau kedudukan anak lebih menghormati ibu
dan mamaknya daripada terhadap ayahnya sendiri. Tanggung jawab pihak ibu lebih besar
daripada tanggung jawab pihak ayah terhadap anak kemenakannya. Di lingkungan
masyarakat adat Semendo Sumatera Selatan kedudukan anak yang menjadi tunggu lubang
lebih berperanan dan bertanggung jawab daripada anak anak wanita lainnya. Dalam
masyarakat Minangkabau anak anak kemenakan dibedakan antara yang bertali darah,
bertali adat, bertali emas dan dibawah lutui di dalam rumah tangga/kerabat.

Dalam masyarakat yang kekeluargaannya bersifat parental (keorangtuaan) yang terbanyak di


Indonesia, kedudukan anak di daerah yang satu berbeda dari daerah lainnya. Di Aceh yang
kuat keagamaan Islamnya, anak di luar perkawinan tidak berhak mewaris, sebaliknya di Jawa
anak kowar dapat mewaris atau diberi bagian warisan atas dasar parimirma. Di lingkungan
masyarakat melayu tidak banyak pengaruh tentang adanya anak angkat, tetapi di Jawa anak
wong ora nggenah, anak pungut, anak pupon, dapat berperan melebihi anak sendiri.
Disamping itu di pedesaan orang Jawa sudah terbiasa anak cucu diurus oleh embah
kakeknya, entah anak itu anak sah atau tidak sah, sedangkan di daerah lain bukan suatu
kebiasaan.