Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Rheologi berasal dari bahasa Yunani yaitu rheo dan logos. Rheo berarti mengalir,
dan logos berarti ilmu. Sehingga, rheologi adalah ilmu yang mempelajari tentang aliran zat
cair dan deformasi zat padat. Digunakan istilah ini untuk pertama kali oleh Bingham dan
Croeford untuk menggunakan aliran cairan dan deformasi dari padatan.
Rheologi meliputi pencampuran dan aliran dari bahan, pemasukan kedalam
wadah, pemindahan sebelum digunakan, penuangan dari botol, pengeluaran dari tube, atau
pelawatan dari jarum suntik. Rheologi dari produk tertentu yang dapat berkisar dalam
konsentrasi dari bentuk cair ke semisolid sampai ke padatan, dapat mempengaruhi
penerimaan obat bagi pasien, stabilitas fisika obat, bahkan ketersediaan hayati dalam tubuh
(bioavailability).
Sifat-sifat rheologi dari sistem farmasetika dapat mempengaruhi pemilihan alat
yang akan digunakan untuk memproses produk tersebut dalam pabkrinya. Tidak adanya
perhatian terhadap pemilihan alat ini akan berakibat diperolehnya hasil yang tidak
diinginkan. Seperti contoh pada karakteristik alirannya.
Dalam bidang farmasi, prinsip-prinsip rheologi dapat diaplikasikan dalam
pembuatan krim, suspensi, emulsi, losion, pasta, penyalut tablet, dan lain-lain. Selain itu,
prinsip rheologi digunakan juga untuk karakterisasi produk sediaan farmasi (dosage
form)sebagai penjaminan kualitas yang sama untuk setiap batch.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah :
a. Apa yang dimaksud dengan Rheologi ?
b. Bagaimana penerapan rheologi dalam bidang farmasi ?
c. Apa saja penggolongan bahan menurut tipe aliran dan deformasi ?
d. Apa yang dimaksud dengan Psikorheologi ?

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan dari praktikum yang dilakukan adalah :
a. Untuk mengetahui apa itu Rheologi
b. Untuk mengetahui penerapan rheologi dalam bidang farmasi
c. Untuk mengetahui penggolongan bahan menurut tipe aliran dan deformasi
d. Untuk mengetahui apa itu psikorheologi
BAB II
ISI
2.1 Dasar Teori Rheologi
Rheologi berasal dari bahasa Yunani yaitu rheo dan logos. Rheo berarti mengalir, dan
logos berarti ilmu. Digunakan istilah ini untuk pertama kali oleh Bingham dan Croeford
untuk menggunakan aliran cairan dan deformasi dari padatan. Rheologi mempelajari
hubungan antara tekanan gesek (shearing stress) dengan kecepatan geser (shearing rate)
pada cairan, atau hubungan antara strain dan stress pada benda padat. Sifat-sifat rheologi
dari dispersi heterogen lebih kompleks dan tidak dapat dinyatakan dalam suatu satuan
tunggal.
Rheologi merupakan ilmu yang mempelajari sifat zat cair atau deformasi zat padat.
Rheologi erat kaitannya dengan viskositas. Dalam bidang Farmasi, prinsipprinsip
rheologi diaplikasikan dalam pembuatan krim, suspensi, emulsi, lotion, pasta, penyalut
tablet, kosmetik dan lain sebagainya. Selain itu, prinsip rheologi digunakan untuk
karakterisasi produk sediaan Farmasi (Dosage Form). Sebagai penjamin kualitas yang
sama untuk setiap batch. Rheologi juga meliputi pencampuran dan aliran dari bahan,
penuangan, pengeluaran dari tube atau pelewatan dari jarum suntik. Rheologi dari suatu zat
tertentu dapat mempengaruhi penerimaan obat bagi pasien, stabilitas fisika obat, bahkan
ketersediaan hayati dalam tubuh (bioavailability). Sehingga viskositas telah terbukti dapat
mempengaruhi laju absorbsi obat dalam tubuh.
Sifat-sifat rheologi dari sistem farmasetika dapat mempengaruhi pemilihan alat yang
akan digunakan untuk memproses produk tersebut dalam pabriknya. Tidak adanya
perhatian terhadap pemilihan alat ini akan berakibat diperolehnya hasil yang tidak
diinginkan. Aspek ini dan banyak lagi aspek-aspek rheologi yang diterapkan dibidang
farmasi.
Ada beberapa istilah dalam rheologi ini :
a. Rate of shear (D) dv/dr untuk menyatakan perbedaan kecepatan (dv) antara dua bidang
cairan yang dipisahkan oleh jarak yang sangat kecil (dr).
b. Shearing stress ( atau F ) F/A untuk menyatakan gaya per satuan luas yang
diperlukan untuk menyebabkan aliran.

2.2 Penerapan Rheologi Dalam Bidang Farmasi


1. Sifat Rheologi Dalam Suspensi
Viskositas dari suatu suspensi apabila mempengaruhi pengendapan dari partikel-
partikel zat terdispersi perubahan dalam sifat-sifat aliran dari suspensi bila wadahnya
dikocok dan bila produk tersebut dituang dari botol dan kualitas penyebaran dari cairan
(lotio) bila digunakan untuk suatu bagian permukaan yang akan diobati. Pertimbangan
rheologi juga penting dalam pembuatan suspensi.
Satu-satunya shear yang terjadi dalam suatu suspensi pada penyimpanan adalah
lantaran pengendapan dari partikel-partikel yang tersuspensi. Gaya ini diabaikan dan bisa
dibuang. Tetapi jika wadah dikocok dan produk dituang dari botol terdapat laju shearing
yang tinggi. Zat pensuspensi yang ideal harus mempunyai viskositas yang tinggi pada
shear yang dapat diabaikan yakni selama penyimpanan dan zat pensuspensi itu harus
mempunyai viskositas yang rendah pada laju shearing yang tinggi yakni ia harus bebas
mengalir selama pengocokan, penuangan, dan penyebarannya ini
2. Sifat Rheologi Dalam Emulsi
Produk yang diemulsikan mungkin mengalami berbagai shear-stress selama
pembuatan atau penggunaanya. Pada kebanyakan proses ini sifat aliran produk akan
menjadi sangat penting untuk penampilan emulsi yang tepat pada kondisi penggunana dan
pembuatannya. Jadi penyebaran produk dermatologik dan produk kosmetik harus dikontrol
agar didapat suatu preparat yang memuaskan. Aliran emulsi parenteral melalu jarum
hipodermik, pemindahan suatu emulsi dari botol atau tube dan sifat dari satu emulsi dalam
berbagai proses penggilingan yang digunakan dalam pembuatan produk ini secara besar-
besaran, menunjukkan perlunya karakteristik aliran yang tepat.
Kebanyakan emulsi, kecuali emulsi encer menunjukkan aliran non Newton yang
mempersulit interpretasi data dan perbandingan kuantitatif antara sistem-sistem dan
formulasi-formulasi yang berbeda.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan fase terdispersi meliputi perbandingan
dengan fase terdispers meliputi perbandingan volume fase, distribusi ukuran partikel dan
viskositas dari fase dalam itu sendiri. Jadi, jika konsentrasi volume dari fase terdispers
rendah (kurang dari 0,05), sistem tersebut adalah Newton. Dengan naiknya konsentrasi
volume, sistem tersebut menjadi lebih tahan terhadap aliran dan menujukkan karekteristik
aliran pseudoplastis. Pada konsentrasi yang cukup tinggi, terjadi aliran plastis. Jika
konsentrasi volume mendekati 0,74 mungkin terjadi inversi dengna berubahnya viskositas
secara nyata. Pengurangan ukuran partikel rata-rata akan menaikkan viskositas. Makin
luas distribusi ukuran partikel, makin rendah viskositasnya jika dibandingkan dengan
sistem yang memiliki ukuran partikel rata-rata serupa tetapi dengan distribusi ukuran
partikel yang lebih sempit.
3. Sifat Rheologi Dalam Semisolid
Pembuat salep farmasetik dan krim kosmetik menyadari adanya keinginan untuk
mengontrol konsistensi bahan non-Newton. Instrumen yang paling baik untuk menentukan
sifat-sifat rheologi dari semisolid di bidang Farmasi adalah viskometer putar (rotational
viscometer). Untuk analisis semisolid yang berbentuk emusi dan suspensi digunakan
cone-plate viscometer. Viscometer Stormer terdiri dari cup yang stationer dan bob yang
berputar, dan alat ini juga baik untuk semisolid.
4. Sifat Aliran Pada Serbuk
Serbuk bulk agak analog dengan cairan non Newton menunjukkan aliran plastik dan
kadang-kadang dilatansi partikel-partikel dipengaruhi oleh gaya tarik menarik sampai
derajat yang bervariasi. Oleh karena itu, serbuk bisa jadi mengalir bebas (free-flowing)
atau melekat. Dalam pengertian khusus yaitu ukuran partikel porositas dan kerapatan, dan
kehalusan permukaan. Sifat-sifat dari zat padat yang menentukan besarnya interaksi
partikel-partikel.
Akan halnya partikel-partikel yang relati kecil (kurang dari 10m), aliran partikel
melalui lubang dibatasi karena gaya lekat antara partikel besarnya sama dengan gaya
gravitasi. Karena gaya yang terakhir ini merupakan fungsi dari garis tengah yang di
naikkan pangkat tiga, gaya-gaya tersebut menjadi lebih bermakna apabila ukuran partikel
meningkan dan aliran dipermudah. Laju aliran maksimum dicapai setelah aliran berkurang
apabila ukuran partikel mendekati besarnya lubang tersebut. Jika suatu serbuk
mengandung sejumlah partikel-partikel kecil, sifat-sifat aliran serbuk bisa diperbaiki
dengan menghilangkan fines atau mengadsorbsinya pada partikel-partikel yang lebih
besar. Kadang kadang, aliran yang jelek bisa diakibatkan karena adanya kelembapan dalam
hal mana pengeringan partikel-partikel akan mengurangi lekatnya partikel-partikel
tersebut.
Partikel-partikel panjang atau plat cenderung untuk mengepak walaupun dengan
sangat longgar sehingga memberikan serbuk yang mempunyai porositas tinggi. Partikel-
partikel dengan kerapatan tinggi dan porositas dalam rendah cenderung untuk mempunyai
sifat-sifat bebas mengalir. Ini dapat dikurangi dengan kasarnya permukaan, yang
cenderung mengakibatkan karakteristik aliran yang jelek disebabkan oleh gesekan dan
kelekatannya.
Serbuk yang mengsalir tidak baik atau granulat memberikan banyak kesulitan pada
industri farmasi. Produksi unit sediaan tablet yang seragam terbukti bergantung pada
beberapa sifat granulat. Jika ukuran granular berkurang, variasi berat tablet pun berkurang.
Variasi berat minimum dicapai pada granul yang mempunyai garis tengah 400 sampai 800
m. Jika ukuran granul dikurangi lagi, granul mengalir kurang bebas dan variasi berat
granul meningkat. Distribusi ukuran partikel mempengaruhi aliran dalam dan pemisahan
dari suatu granulat.
2.3 Penggolongan Bahan Menurut Tipe aliran dan deformasi
Penggolongan bahan menurut tipe aliran dan deformasi digolongkan menjadi 2 , yaitu:
1. Sistem Newton
Newton adalah orang pertama yang mempelajari sifat-sifat aliran dari cairan secara
kuantitatif. Dia menemukan bahwa makin besar viskositas suatu cairan, akan makin besar
pula gaya persatuan luas (shearing stress) yang diperlukan untuk menghasilkan suatu rate
of shear tertentu. Oleh karena itu, rate of shear harus berbanding langsung dengan shearing
stress.
Persamaan tersebut dapat ditulis sebagai :

F' dv F
.
A dr G

Dimana :
= koefisien viskositas

Rheogram cairan yang mempunyai tipe alir sistem Newton adalah sebagai berikut :

Pada kurva aliran Newton, besarnya tegangan geser sebanding dengan laju geser
sehingga diperoleh garis lurus yang melalui titik asal (0,0).
Cairan yang mempunyai tipe alir Newton misalnya ; air, etanol, gliserin, minyak pelumas
serta larutan yang mempunyai senyawa terlarut dengan ukuran partikel kecil, misalnya
larutan gula. Untuk menentukan viskositas cairan Newton dapat digunakan semua alat
pengukur viskositas, misalnya viskometer Ostwald, Hoppler, Brookfield, Stormer, dll.
2. Aliran non newton
Non-Newtonian bodies adalah zat-zat yang tidak mengikuti persamaan aliran Newton;
dispersi heterogen cairan dan padatan seperti larutan koloid, emulsi, suspensi cair, salep
dan produk-produk serupa masuk dalam kelas ini. Dalam farmasi, lebih besar
kemungkinan menjumpai cairan non-Newton dibanding dengan cairan biasa. Jika bahan-
bahan non-Newton dianalisis dalam suatu viskometer putar dan hasilnya diplot, diperoleh
berbagai kurva konsistensi yang menggambarkan adanya 3 kelas aliran, yaitu : plastis,
pseudoplastis, dan dilatan.
a. Aliran plastis
Aliran plastis berhubungan dengan adanya partikel-partikel yang terflokulasi dalam
suatu suspensi pekat. Akibatnya terbetuk struktur kontinue diseluruh sistem. Aliran plastis
juga disebut Bingham bodies. Viskositas plastis sering dinyatakan dengan persamaan
berikut:

U
F f
G

dimana: U = viskositas plastis


f = yield value
G = rate of shear
F = shearing stress
Rheogram cairan yang mempunyai tipe aliran plastis, sebagai berikut:
Rate of shear

Shearing stress

Kurva aliran plastik tidak melalui titik nol (0,0) tetapi agak memotong sumbu tekanan
geser (atau akan memotong jika bagiannya yang lurus diekstrapolasikan terhadap sumbu
tersebut) pada titik tertentu yang dinamakan yield value. Bingham bodies tidak akan
mengalir sampai shearing stress dicapai sebesar yield value. Pada harga stress dibawah
harga yield value, zat bertindak seperti bahan elastis. Ahli rheologi menggolongkan
Bingham bodies sebagai suatu bahan yang memiliki yield value, seperti halnya zat padat.
Sedangkan zat-zat yang mulai mengalir pada shearing stress terkecil didefenisikan sebagai
cairan. yield value adalah suatu sifat yang penting dari dispersi-dispersi tertentu.
Aliran plastis berhubungan dengan adanya partikel-partikel yang tersuspensi dalam
suspensi pekat. Adanya yield value disebabkan oleh adanya kontak antara partikel-partikel
yang berdekatan (disebabkan oleh adanya gaya van der Waals), yang harus dipecah
sebelum aliran dapat terjadi. Akibatnya, yield value merupakan indikasi dari kekuatan
flokulasi. Makin banyak suspensi yang terflokulasi, makin tinggi yield value-nya.
Kekuatan friksi antar partikel juga berkontribusi dalam yield value. Ketika yield value
terlampaui (shear stress di atas yield value), sistem plastis akan menyerupai sistem newton.
b. Aliran pseudoplastis
Banyak produk farmasi termasuk gom alam dan sintesis, misalnya: disperse cair dari
tragakan, Na alginat, metil selulosa dan CMC Na menunjukkan aliran pseudoplastis, sering
disebut sebagai shear-thining system. Aliran pseudoplastis tersusun dari partikel-partikel
yang terfokulasi dalam suspensi. Viskositas zat pseudoplastis berkurang dengan
meningkatnya pengadukan.
Rheogram cairan yang mempunyai tipe aliran plastis, sbb:

Rate of shear

Shearing stress

Aliran pseudoplastik mulai pada titik nol (atau paling sedikit mendekati pada tekanan-
tekanan geser yang rendah). Tidak ada yield value seperti yang terlihat pada zat plastik.
Viskositas aliran pseudoplastis berkurang dengan meningkatnya rate of shear.
Rheogram lengkung untuk bahan-bahan pseudoplastis ini disebabkan adanya aksi shearing
terhadap molekul-molekul polimer (atau suatu bahan berantai panjang). Dengan
meningkatnya shearing stress, molekul-molekul yang secara normal tidak beraturan, mulai
menyusun sumbu yang panjang dalam arah aliran. Pengarahan ini mengurangi tahanan dari
dalam bahan tersebut dan mengakibatkan rate of shear yang lebih besar pada tiap shearing
stress berikutnya.
c. Aliran dilatan
Suspensi-suspensi tertentu dengan persentase zat padat terdispersi tinggi missalnya:
cat, tinta atau pasta menunjukkan peningkatan dalam daya hambat untuk mengalir dengan
meningkatnya rate of shear.
Rheogram cairan yang mempunyai tipe aliran plastis, sbb:
Rate of shear

Shearing stress

Aliran dilatan dikarakteristikkan dengan menaikkan viskositas seiring dengan naiknya


kecepatan geser, karena itu juga disebut pemadatan aliran. Aliran ini merupakan kebalikan
dari aliran pseudoplastik.
Pada keadaaan istirahat, partikel-partikel tersebuat tersusun rapat dengan volume antar
partikel pada keadaan minimum. Tetapi jumlah pembawa dalam suspensi ini cukup untuk
mengisi volume ini dan membentuk ikatan lalu memudahkan partikel-partikel bergerak
dari suatu tempat ke tempat lainnya pada rate of shear yang rendah. Pada saat shear stress
meningkat, bulk dari system itu mengembang atau memuai (dilate). Hal itu menyebabkan
volume antar partikel menjadi meningkat dan jumlah pembawa yang ada tidak cukup
memenuhi ruang kosong tersebut. Oleh karena itu hambatan aliran meningkat karena
partikel-partikel tersebut tidak dibasahi atau dilumasi dengan sempurna lagi oleh
pembawa. Akhirnya suspense menjadi pasta yang kaku.

2.4 Psikorheologi
Selain sifat-sifat farmasetik dan farmakologis yang diinginkan, sediaan topikal harus
juga mencapai persyaratan rasa, daya sebar, warna, bau dan sifat-sifat psikologis dan
sensori lain. Pekerja pada industri makanan telah sejak lama menguji produknya seperti
keju, cokelat, mayonnaise dan adonan roti agar didapat konsistensi yang tepat selama
pembuatan, pengemasan dan penggunaan akhir. Alat perasa dalam mulut, alat perasa dalam
jari-jari dan alat perasa dalam kulit merupakan hal-hal yang perlu dipertimbangkan untuk
pembuat makanan, kosmetik dan produk dermatologis.
Scott-Blair membicarakan psikorheologi dalam industri makanan. Kostenbauder dan
Martin menetapkan daya sebar salap yang berhubungan dengan sifat-sifat rheologisnya.
Dalam konsultasi dengan ahli dermatologi, mereka membagi produk-produk tersebut ke
dalam tiga kelas. Kelas I produk lembut terutama untuk penggunaan mata; kelas II
termasuk salap obat umumnya yang mempunyai konsistensi sedang; dan kelas III adalah
produk-produk pelindung yang keras untuk penggunaan dalam keadaan luka lembab. Yield
value dan viskositas plastis untuk tiap kelas dari produk telah dilaporkan.
Boylan telah membuktikan bahwa thiksotropi, konsistensi dan yield value dari salep
bacitracin, USP berkurang dengan nyata bila temperatur dinaikkan dari 20o ke 35oC. Jjadi,
bila suatu produk mungkin mempunyai thiksotropis yang cukup dalam wadahnya, sifat ini
dapat hilang pada waktu digunakan ke kulit.
Barry et al, mengerjakan uji sensori (yang berhubungan dengan panca indra) terhadap
sediaan-sediaan topikal. Mereka menggunakan daftar untuk membedakan parameter
tekstur dan memakai metode rheologis yang mantap untuk penggunaan dalam industri
sebagai prosedur kontrol untuk memelihara keseragaman rasa pada kulit dan daya sebar
dari produk dermatologis. Cussler et al. Mempunyai tekstur cairan non-Newton yang
mempunyai sifat rheologi yang sangat berbeda bila digunakan ke kulit. Ternyata bahwa
konsistensi suatu bahan dapat ditentukan secara tepat dan teliti oleh orang-orang yang tidak
ditraining hanya dengan menggunakan tiga tanda sifat: kelembutan, ketipisan dan
kehangatan. Kelembutanberhubungan dengan koefisien tumbukan dan ketipisa
berhubungan dengan parameter non-Newton kental yang dapat diukur dengan alat yang
cocok. Karakteristik kehangatan ternyata cukup rumit dan memerlukan penelitian lebih
lanjut.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Rheologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari deformasi dan aliran
2. Penerapan rheologi dalam dunia farmasi adalah untuk pembuatan
suspensi,emulsi,semisolid, dan sifat aliran pada serbuk.
3. Tipe aliran terbagi menjadi aliran newton dan non newton yang terbagi menjasi aliran
plastis, pseoplastis, dan dilatan.

3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

Lachman, dkk. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri I Edisi III. Jakarta: Universitas
Indonesia press

Martin, A.N., J. Swarbrick, A. Cammarata. 2006. Physical Pharmacy, 5th ed. Philadelphia :
Lea & Febiger

Martin Alfred.1983. Farmasi Fisik Edisi III Jilid I. Jakarta. UI Press

Martin Alfred.1983. Farmasi Fisik Edisi III Jilid II. Jakarta. UI Press

Moechtar. 1990. farmasi fisik. Yogyakarta : UGM-press.

Note Rheologi by Dr. rer.nat. Sundani Nurono Soewandhi, School of Pharmacy ITB.

Voight. 1951. Tekhnologi Farmasi. Jakarta. UI Press