Anda di halaman 1dari 23

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan lengkap Praktikum Ekologi Hewan dengan judul Analisis


Komposisi Dan Persebaran Serta Penentuan Indeks Nilai Penting Spesies Hewan
Pada Kawasan Hutan Desa Ara, Kecamatan Bonto Bahari Kabupaten Bulukumba
disusun oleh:
nama : Nurul Rezky
kelas/ kelompok : A/ III
jurusan : Biologi
telah diperiksa dan dikonsultasikan kepada Asisten/ Kordinator, maka
dinyatakan diterima.

Makassar, Juni 2016

Mengetahui,
Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Muhammad Wiharto, M. Si


NIP. 1966 0930 1992 031 004

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keanekaragaman makhluk hidup dapat terjadi akibat adanya perbedaan
warna, ukuran, bentuk, jumlah, tekstur, penampilan, dan sifat-sifat lainnya.
Sedangkan keanekaragaman dari makhluk hidup dapat terlihat dengan adanya
persamaan ciri antar makhluk hidup. Untuk dapat mengenal makhluk hidup
khususnya pada hewan berdasarkan ciri-ciri yang dimilikinya dapat dilakukan
melalui pengamatan ciri-ciri morfologi, habitat, cara berkembang biak, jenis
makanan, tingkah laku, dan beberapa ciri lain yang dapat diamati.
keanekaragaman jenis hewan pada suatu tempat dapat menentukan
indeks keanekaragaman suatu komunitas, sangatlah diperlukan pengatahuan
atau keterampilan dalam mengindentifikasi hewan. Bagi seseorang yang sudah
terbiasa pun dalam melakukan indentifikasi hewan sering membutuhkan waktu
yang lama, apalagi yang belum terbiasa. Karena itu untuk kajian dalam
komunitas dan indeks keanekaragaman sering didasarkan pada kelompok
hewan, misalnya, familia, ordo atau kelas dan hal ini pun dibutuhkan cukup
keterampilan dan pengalaman.
Ukuran populasi umumnya bervariasi dari waktu, biasanya mengikuti
dua pola. Beberapa populasi mempertahankan ukuran poulasi mempertahankan
ukuran populasi, yang relatif konstan sedangkan pupolasi lain berfluktasi
cukup besar. Perbedaan lingkungan yang pokok adalah suatu eksperimen yang
dirangsang untuk meningkatkan populasi grouse itu. Penyelidikan tentang
dinamika populasi, pada hakikatnya dengan keseimbangan antara kelahiran dan
kematian dalam populasi dalam upaya untuk memahami pada tersebut di alam.
Kepadatan populasi satu jenis atau kelompok hewan dapat dinyatakan
dalam dalam bentuk jumlah atau biomassa per unit, atau persatuan luas atau
persatuan volume atau persatuan penangkapan. Kepadatan pupolasi sangat
penting diukur untuk menghitung produktifitas, tetapi untuk membandingkan
suatu komunitas dengan komnitas lainnya parameter ini tidak begitu tepat.
Untuk itu biasa digunakan kepadatan relatif. Kepadatan relatif dapat dihitung
dengan membandingkan kepadatan suatu jenis dengan kepadatan semua jenis
yang terdapat dalam unit tersebut. Kepadatan relatif biasanya dinyatakan dalam
bentuk persentase.
Populasi ditafsirkan sebagai kumpulan kelompok makhluk yang sama
jenis (atau kelompok lain yang individunya mampu bertukar informasi genetik)
yang mendiami suatu ruangan khusus, yang memiliki berbagai karakteristik
yang walaupun paling baik digambarkan secara statistik, unik sebagai milik
kelompok dan bukan karakteristik individu dalam kelompok itu. Suatu
populasi dapat juga ditafsirkan sabagai suatu kelompok yang sama. Suatu
populasi dapat pula ditafsirkan sebagai suatu kolompok makhuk yang sama
spesiesnya dan mendiami suatu ruang khusus pada waktu yang khusus.
Hewan dapat didefinisikan sebagai kelompok makhluk hidup multiseluler
yang berevolusi dari organisme eukariot yang memilki nenek moyang
protista sebagai organisme heterotrof sel tubuh hewan telah mengalami
spesialisasi dan mempunyai bermacam-macam fungsi terutama untuk
pembentukan struktur tubuh metabolisme, menerima rangsangan, pergerakan,
dan reproduksi.
Kepadatan populasi suatu jenis atau kelompok hewan dapat dinyatakan
dalam bentuk jumlah atau biomassa perunit. Atau persatuan luas atau persatuan
volume. Kepadatan populasi sangat penting diukur untuk menghitung
produktifitas, tetapi untuk membandingkan suatu komunitas dengan komunitas
lain. Keberadaan dan kepadatan popuasi suatu jenis hewan bergantung dari
faktor lingkungan yaitu faktor biotik dan faktor abiotik. Faktor biotik bagi
hewan itu sendiri yaitu lingkungan dan organisme lain yang terdapat di
habitatnya seperti mikroflora, tumbuh-tumbuhan dan jenis hewan lainnya.
Pada komunitas itu jenis-jenis organisme saling berinteraksi satu sama lain.
Interaksi itu dapat berupa predasi, parasit, kompetensi, simbiosis dan interaksi
yang lainnya.
Interaksi antara populasi merupakan interaksi yang terjadi antara
populasi-populasi dari berbagai spesies yang berbeda yang hidup bersama
dalam suatu komunitas. Dapat dikatakan bahwa populasi dari berbagai spesies
berbeda yang terdapat dalam suatu komunitas yang hidup berdampingan satu
sama lain. Beberapa ciri statistik penting pada populasi adalah kerapatan,
natalitas, mortalitas, sebaran umur, potensi biotik, pancaran dan bentuk
pertumbuhan. Di samping itu populasi itu juga memiliki karakteristik genetik
yang langsung berhubungan dengan egologinya, adalah keadaptifan, ketegaran
reproduktif, dan persistensi meninggalkan keturunan dalam waktu yang lama.
Perhitungan populasi bertujuan untuk mengetahui keragaman dan
kemelimpahan jenis hewan yang tinggal di suatu tempat. Dalam melakukan
penelitian ekologi hewan di lakukan di pantai Sawarna, kecamatan Bayah
kabupaten Lebak yaitu dengan menghitung kemelimpahan populasi (metode
CMRR), kemelimpahan fauna tanah (metode Pit fall trap), dan menghitung
kemelimpahan gastropoda (metode survey). Penelitian ini juga dilakukan untuk
memenuhi salah satu tugas praktikum lapangan mata kuliah Ekologi Hewan.

B. Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui bagaimana
keanekaragaman dan kelimpahan hewan melalaui analisis keanekaragaman
spesies.

C. Manfaat Praktikum
Adapun manfaat dari praktikum ini adalah sebagai salah satu kegiatan
yang dapat memberikan pengalaman langsung dalam rangka menambah
wawasan mengenai ekologi hewan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Istilah ekologi berasal dari kata dalam bahasa Yunani yaitu oikos dan logos.
Istilah ini mula-mula diperkenalkan oleh Ernst Haeckel pada tahun 1869. Tetapi
jauh sebelumya, studi dalam bidang-bidang yang sekarang termasuk dalam ruang
lingkup ekologi telah dilakukan oleh para pakar.(Sofa, 2008). Pembahasan ekologi
tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya,
yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktor abiotik antara lain suhu, air, kelembapan,
cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri
dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat
dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas,
dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang
menunjukkan kesatuan (Hadisubroto, 1989).
A. Faktor Biotik
Faktor biotik adalah faktor hidup yang meliputi semua makhluk hidup di
bumi, baik tumbuhan maupun hewan. Dalam ekosistem, tumbuhan berperan
sebagai produsen, hewan berperan sebagai konsumen, dan mikroorganisme
berperan sebagai decomposer. Faktor biotik juga meliputi tingkatan-tingkatan
organisme yang meliputi individu, populasi, komunitas, ekosistem, dan biosfer.
Tingkatan-tingkatan organisme makhluk hidup tersebut dalam ekosistem akan
saling berinteraksi, saling mempengaruhi membentuk suatu sistem yang
menunjukkan kesatuan (Soetjipta, 1992).
1. Individu
Individu merupakan organisme tunggal seperti : seekor tikus, seekor
kucing, sebatang pohon jambu, sebatang pohon kelapa, dan seorang
manusia. Dalam mempertahankan hidup, setiap jenis makhluk hidup
dihadapkan pada masalah-masalah hidup yang kritis. Misalnya, seekor
hewan harus mendapatkan makanan, mempertahankan diri terhadap musuh
alaminya, serta memelihara anaknya (Soetjipta, 1992).

2. Populasi
Populasi adalah sekelompok mahkluk hidup dengan spesies yang sama,
yang hidup di suatu wilayah yang sama dalam kurun waktu yang sama pula.
Misalnya semua rusa di Isle Royale membentuk suatu populasi, begitu juga
dengan pohon-pohon cemara. Ahli ekologi memastikan dan menganalisa
jumlah dan pertumbuhan dari populasi serta hubungan antara masing-
masing spesies dan kondisi-kondisi lingkungan (Soetjipta, 1992).
2. Komunitas
Komunitas ialah kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu
waktu dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu
sama lain. Komunitas memiliki derajat keterpaduan yang lebih kompleks
bila dibandingkan dengan individu dan populasi.Dalam komunitas, semua
organisme merupakan bagian dari komunitas dan antara komponennya
saling berhubungan melalui keragaman interaksinya (Soetjipta, 1992).
3. Ekosistem
Antara komunitas dan lingkungannya selalu terjadi interaksi. Interaksi ini
menciptakan kesatuan ekologi yang disebut ekosistem. Komponen
penyusun ekosistem adalah produsen (tumbuhan hijau), konsumen
(herbivora, karnivora, dan omnivora), dan dekomposer/pengurai
(mikroorganisme) (Soetjipta, 1992).
B. Faktor Abiotik
Faktor abiotik adalah faktor tak hidup yang meliputi faktor fisik dan kimia.
Menurut Campbell, 2004 faktor fisik utama yang mempengaruhi ekosistem
adalah sebagai berikut:
1. Suhu
Suhu berpengaruh terhadap ekosistem karena suhu merupakan syarat yang
diperlukan organisme untuk hidup. Ada jenis-jenis organisme yang hanya
dapat hidup pada kisaran suhu tertentu.

2. Sinar matahari
Sinar matahari mempengaruhi ekosistem secara global karena matahari
menentukan suhu. Sinar matahari juga merupakan unsur vital yang
dibutuhkan oleh tumbuhan sebagai produsen untuk berfotosintesis.
3. Air
Air berpengaruh terhadap ekosistem karena air dibutuhkan untuk
kelangsungan hidup organisme. Bagi tumbuhan, air diperlukan dalam
pertumbuhan, perkecambahan, dan penyebaran biji; bagi hewan dan
manusia, air diperlukan sebagai air minum dan sarana hidup lain, misalnya
transportasi bagi manusia, dan tempat hidup bagi ikan. Bagi unsur abiotik
lain, misalnya tanah dan batuan, air diperlukan sebagai pelarut dan pelapuk.
4. Tanah
Tanah merupakan tempat hidup bagi organisme. Jenis tanah yang berbeda
menyebabkan organisme yang hidup didalamnya juga berbeda. Tanah juga
menyediakan unsur-unsur penting bagi pertumbuhan organisme, terutama
tumbuhan.
5. Ketinggian
Ketinggian tempat menentukan jenis organisme yang hidup di tempat
tersebut, karena ketinggian yang berbeda akan menghasilkan kondisi fisik
dan kimia yang berbeda.
6. Angin
Angin selain berperan dalam menentukan kelembapan juga berperan dalam
penyebaran biji tumbuhan tertentu.
7. Garis lintang
Garis lintang yang berbeda menunjukkan kondisi lingkungan yang berbeda
pula. Garis lintang secara tak langsung menyebabkan perbedaan distribusi
organisme di permukaan bumi. Ada organisme yang mampu hidup pada
garis lintang tertentu saja. Interaksi antarkomponen ekologi
dapatmerupakan interaksi antarorganisme, antarpopulasi, dan
antarkomunitas.
8. Kelembaban merupakan salah satu komponen abiotik di udara dan tanah.
Kelembaban diperlukan oleh makhluk hidup agar tubuhnya tidak cepat
kering Karena penguapan. Kelembaban yang diperlukan setiap makhluk
hidup berbeda-beda. Sebagai contoh, jamur dan cacing memerlukan habitat
yang sangat lembab.
Fungsi organisme menurut Suin, 1989 dalam ekosistem dapat dibedakan
menjadi empat macam, yaitu produsen, konsumen, dekomposer, dan detrivora.
1. Produsen, yaitu organisme yang dapat menyusun senyawa organik sendiri
dengan menggunakan bahan senyawa anorganik yang berfungsi untuk
menyediakan makanannya sendiri. Kelompok produsen meliputi tumbuhan,dan
ganggang.
2. Konsumen, yaitu organisme yang memanfaatkan bahan organik dari makhluk
hidup lain sebagai sumber makanannya. Berdasarkan asal bahan organiknya
konsumen dibedakan menjadi herbivora, karnivova, dan omnivora. Herbivora
merupakan konsumen pemakan tumbuhan, contohnya kambing dan sapi.
Karnivora merupakan konsumen pemakan hewan (daging), contohnya singa.
Sedangkan omnivora adalah konsumen pemakan tumbuhan dan daging,
contohnya tikus dan manusia.
3. Dentrivora, yaitu organisme pemakan partikel partikel organik atau detrifus.
Contohnya cacing tanah, lipan, siput.
4. Dekomposer, yaitu organisme yang bertugas mengubah partikel-partikel
organik menjadi partikel anorganik. Contohnya jamur dan bakteri.
C. Macam-macam interaksi
Dalam ekosistem selalu terjadi bentuk-bentuk hubungan antara individu
dalam satu spesies maupun lain spesies atau bentuk hubungan antarpopulasi
dalam komunitas, maupun interaksi antara komponen biotik dan abiotik. Baik
hubungan yang saling menguntngkan atau ada yang dirugikan (Lakitan, 1994).
1. Interaksi antar populasi
a. Parasitisme, yaitu bentuk interaksi dimana satu organisme diuntungkan,
sedangkan organisme yang satunya dirugikan. Pada hubungan ini, satu
organisme akan mengeksploitasi organisme lainnya. Organisme yang di
tempati parasit disebut inang atau hospes. Berdasarkan tempat hidup parasit
pada inang dapat dibedakan menjadi 2 yaitu endoparasit dan ektoparasit.
Endoparasit adalah parasit yang hidup dalam tubuh inang sedangkan
ektoparasit adalah parasit yang hidup di luar tubuh inangnya. Berdasarkan
kebutuhan makanannya interaksi parasitisme dibedakan menjadi semi
parasit dan parasit obligat. Semi parasit adalah parasit yang mengambil
makanan masih dalam bentuk anorganik dari tubuh inangnya, sedangkan
parasit obligat adalah parasit yang menyerap bahan organik secara langsung
dari inangnya (Odum, 1993).
b. Komensalisme merupakan interaksi dimana organisme yang satu
diuntungkan dan organisme yang lain tidak terpengaruh secara berarti.
Contohnya hubungan antara penyu atau ikan hiu dengan ikan remora. Ikan
remora mendapat sisa-sisa makanan dari hiu atau penyu (Odum, 1993).
c. Mutualisme, yaitu interaksi dimana kedua organisme yang bersangkutan
saling mendapatkan keuntungan. Contohnya adalah kupu-kupu dan
tumbuhan berbunga, kupu-kupu mendapatkan makanan dari tumbuhan
berbunga, sedangkan tumbuhan bunga dibantu dalam proses
penyerbukannya (Odum, 1993).
d. Predasi, merupakan hubungan antara pemangsa dan mangsanya. Spesies
pemangsa (predator) biasanya lebih besar daripada mangsanya. Hubungan
ini sangat kuat karena jika tidak ada mangsa maka pemangsa tidak dapat
hidup tetapi jika tidak ada pemangsa,mangsa akan mengalami ledakan
populasi (Odum, 1993).
e. Kompetisi (persaingan), hubungan ini terjadi karena organisme selalu
memerlukan makanan dan ruang untuk melangsungkan hidupnya. Jika
organisme mempunyai habitat yang sama maka akan terjadi kompetisi
(Odum, 1993).
f. Sosial, hubungan ini dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari pada manusia
yang saling membantu dan menolong (Odum, 1993).
g. Netral, hubungan antara individu maupun antara populasi dapat terjadi
interaksi yang tidak jelas terlihat, baik yang menguntungkan atau yang
bersifat merugikan, meskipun mereka ada dalam satu tempat. Contohnya
pada kupu-kupu dan belalang atau kambing dengan ayam (Odum, 1993).
2. Interaksi Antarkomponen Biotik dengan Abiotik
Interaksi antara komponen biotik dengan abiotik membentuk
ekosistem. Hubungan antara organisme dengan lingkungannya
menyebabkan terjadinya aliran energi dalam sistem itu. Selain aliran energi,
di dalam ekosistem terdapat juga struktur atau tingkat trofik,
keanekaragaman biotik, serta siklus materi. Dengan adanya interaksi-
interaksi tersebut, suatu ekosistem dapat mempertahankan
keseimbangannya. Pengaturan untuk menjamin terjadinya keseimbangan ini
merupakan ciri khas suatu ekosistem. Apabila keseimbangan ini tidak
diperoleh maka akan mendorong terjadinya dinamika perubahan ekosistem
untuk mencapai keseimbangan baru (Darmawan, 2005).
Adanya perubahan-perubahan pada populasi mendorong perubahan
pada komunitas. Perubahan-perubahan yang terjadi menyebabkan ekosistem
berubah. Perubahan ekosistem akan berakhir setelah terjadi keseimbangan
ekosistem. Keadaan ini merupakan klimaks dari ekosistem. Apabila pada
kondisi seimbang datang gangguan dari luar, kesimbangan ini dapat
berubah, dan perubahan yang terjadi akan selalu mendorong terbentuknya
keseimbangan baru. Rangkaian perubahan mulai dari ekosistem tanaman
perintis sampai mencapai ekosistem klimaks disebut suksesi
(Campball, 2004).
Suatu organisme hidup akan selalu membutuhkan organisme lain dan
lingkungan hidupnya. Hubungan yang terjadi antara individu dengan
lingkungannya sangat kompleks, bersifat saling mempengaruhi atau timbal
balik. Hubungan timbal balik antara unsur-unsur hayati dengan nonhayati
membentuk sistem ekologi yang disebut ekosistem. Di dalam ekosistem
terjadi rantai makanan, aliran energi, dan siklus biogeokimia. Rantai
makanan adalah pengalihan energi dari sumbernya dalam tumbuhan melalui
sederetan organisme yang makan dan yang dimakan.
Para ilmuwan ekologi mengenal tiga macam rantai pokok, yaitu rantai
pemangsa, rantai parasit, dan rantai saprofit (Darmawan, 2005).
1. Rantai Pemangsa
Rantai pemangsa landasan utamanya adalah tumbuhan hijau sebagai
produsen. Rantai pemangsa dimulai dari hewan yang bersifat herbivora
sebagai konsumen I, dilanjutkan dengan hewan karnivora yang
memangsa herbivora sebagai konsumen ke-2 dan berakhir pada hewan
pemangsa karnivora maupun herbivora sebagai konsumen ke-3.
2. Rantai Parasit
Rantai parasit dimulai dari organisme besar hingga organisme yang hidup
sebagai parasit. Contoh organisme parasit antara lain cacing, bakteri, dan
benalu.
3. Rantai Saprofit
Rantai saprofit dimulai dari organisme mati ke jasad pengurai. Misalnya
jamur dan bakteri. Rantai-rantai di atas tidak berdiri sendiri tapi saling
berkaitan satu dengan lainnya sehingga membentuk faring-faring
makanan.
D. Rantai Makanan dan Tingkat Trofik
Salah satu cara suatu komunitas berinteraksi adalah dengan peristiwa
makan dan dimakan, sehingga terjadi pemindahan energi, elemen kimia, dan
komponen lain dari satu bentuk ke bentuk lain di sepanjang rantai makanan.
Organisme dalam kelompok ekologis yang terlibat dalam rantai makanan
digolongkan dalam tingkat-tingkat trofik. Tingkat trofik tersusun dari seluruh
organisme pada rantai makanan yang bernomor sama dalam tingkat memakan
(Sofa, 2008).
Sumber asal energi adalah matahari. Tumbuhan yang menghasilkan gula
lewat proses fotosintesis hanya memakai energi matahari dan C02 dari udara.
Oleh karena itu, tumbuhan tersebut digolongkan dalam tingkat trofik pertama.
Hewan herbivora atau organisme yang memakan tumbuhan termasuk anggota
tingkat trofik kedua. Karnivora yang secara langsung memakan herbivora
termasuk tingkat trofik ketiga, sedangkan karnivora yang memakan karnivora di
tingkat trofik tiga termasuk dalam anggota tingkat trofik keempat. Tingkat trofik
tersebut juga menggambarkan aliran energi yang terdapat dalam rantai makan
tersebut. Energi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk melakukan kerja.
Energi diperoleh organisme dari makanan yang dikonsumsinya dan dipergunakan
untuk aktivitas hidupnya. Aliran energi yang terjadi dalam setiap tingkat trofik
mengalami pengurangan. Pada tingkat trofik pertama yang ditempati oleh
produsen energi yang di hasilkan sanagt banyak. Pada tingkat trofik kedua,
energinya sudah berkurang, begitupun pada tingkat trofik ketiga dan tingkat trofik
keempat yang di tempati oleh dekomposer. Berkurangnya energi yang terjadi di
setiap trofik terjadi karena hal-hal berikut (Campball, 2004).
1. Hanya sejumlah makanan tertentu yang ditangkap dan dimakan oleh tingkat
trofik selanjutnya.
2. Beberapa makanan yang dimakan tidak bisa dicemakan dan
dikeluarkan sebagai sampah.
3. Hanya sebagian makanan yang dicerna menjadi bagian dari
tubuh organisms, sedangkan sisanya digunakan sebagai
sumber energy.
Ekologi adalah ilmu yang mempelajari tentang interaksi makhluk hidup
dengan lingkungannya. Ekologi menurut Begon adalah ilmu yang mempelajari
tentang distribusi dan kemelimpahan makhluk hidup dan interaksi yang
disebabkan oleh distribusi dan kelimpahan tersebut. Odum mendefinisikan
ekologi sebagai studi tentang hubungan organisme-organisme atau kelompok-
kelmpok organisme terhadap lingkungannya atau ilmu hubungan timbal-balik
antara organisme-organisme hidup dan lingkungannya. Keanekaragaman spesies
dapat digunakan untuk menyatakan struktur komunitas. Ukuran keanekaragaman
dan penyebabnya mencakup sebagian besar pemikiran tentang ekologi. Hal itu
terutama karena keanekaragaman dapat menghasilkan kestabilan dan dengan
demikian berhubungan dengan sentral ekologi (Campball,2004).
Konsep komunitas adalah suatu prinsip ekologi yang penting yang
menekan keteraturan yang ada dalam keragaman organisme hidup dalam habitat
apapun. Suatu komunitas bukan hanya merupakan pengelompokan secara
serampangan hewan dan tumbuhan yang hidup secara mandiri satu sama lain
namun mengandung komposisi kekhasan taksonomi, dengan pola hubungan
tropik dan metabolik yang tertentu. Konsep komunitas sangatlah penting dalam
penerapan praktis prinsip-prinsip ekologi karena cara terbaik untuk mendorong
atau membasmi pertumbuhan suatu organisme adalah memodifikasi komunitas
dan bukannnya menanganinya secara langsung. Diantara banyak organisme yang
membentuk suatu komunitas, hanya beberapa spesies atau grup yang
memperlihatkan pengendalian yang nyata dalam memfungsikan keseluruhan
komunitas. Kepentingan relatif dari oganisme dalam suatu komunitas tidak
ditentukan oleh posisi taksonominya namun oleh jumlh, ukuran, poduksi dan
hubungan lainnya (Michael, 1990).
Komunitas diberi nama dan digolongkan menurut spesies atau bentuk
hidup yang dominan, habitat fisik atau kekhasan fungsional. Analisis komunitas
dapat dilakukan dalam setiap lokasi tertentu berdasakan pada pembedaan zona
atau gradien yang terdapat dalam daerah tersebut. Umumnya semakin curam
gradien lingkungan, makin beragam komunitasnya karena batas yang tajam
terbentuk oleh perubahan yang mendadak dalam sifat fisik lingkungan. Angka
perbandingan antara jumlah spesies dan jumlah total individu dalam suatu
komunitas dinyatakan sebagai keragaman spesies. Ini berkaitan dengan kestabilan
lingkungan dan beragam dengan komunitas berbeda. Keragaman sangatlah
penting dalam menentukan batas kerusakan yang dilakukan terhadap sistem alam
oleh turut campurnya manusia (Bayu, 2011).
Suatu populasi memiliki kekhasan yang tidak dimiliki oleh individu-
individu yang membangun populasi tesebut. Kekhasan dasar suatu populasi yang
menarik bagi seorang ekolog adalah ukuran dan rapatannya. Jumlah individu
dalam populasi mencirikan ukurannya dan jumlah individu populasi dalam suatu
daerah atau satuan volume adalah rapatannya. Kelahiran (Natalitas), kematian
(mortalitas), yang masuk (imigrasi), dan yang keluar (emigrasi) dari anggota
mempengaruhi ukuran dan rapatan populasi. Kekhasan lain dari populasi yang
penting dari segi ekologi adalah keragaman morfologi dalam suatu populasi alam
sebaan umur, komposisi genetik dan penyebaran individu dalam populasi (Odum,
1993). Keanekaragaman hayati yang ada pada ekosistem pertanian seperti
persawahan dapat mempengaruhipertumbuhan dan produksi tanaman, yaitu dalam
sistem perputaran nutrisi, perubahan iklim mikro, dan detoksifikasi senyawa
kimia. Serangga sebagai salah satu komponen keanekaragaman hayati juga
memiliki peranan penting dalam jaring makanan yaitu sebagai herbivor, karnivor,
dan detrivor (Michael, 1990).
Populasi adalah kumpulan individu dari suatu jenis organisme. Pengertian
ini dikemukakan untuk menjelaskan bahwa individu- individu suatu jenis
organisme dapat tersebar luas di muka bumi, namun tidak semuanya dapat saling
berhubungan untuk mengadakan perkawinan atau pertukaran informasi genetik,
karena tempatnya terpisah. Populasi terdiri dari banyak individu yang tersebar
pada rentangan goegrafis. Tetapi individu itu tidak selalu tersebar merata. Ada
pola penyebaran, yaitu menggerombol, acak dan tersebar. Pola distribusi ini
disebabkan oleh tipe tingkah laku individu yang berbeda. Disatu pihak,
menggerombol sebagai akibat dari tertariknya individu-individu pada tempat yang
sama, apakah karna lingkungan yang cocok atau tempat berkumpul untuk fungsi
sosial. Misalnya perkawinan, dipihak lain tersebar sebagai interaksi antagonis
antar individu. Dalam hal tidak adanya daya tarik bersama/penyebaran sosial
individu-individu lain dalam populasi. Contoh pertumbuhan potensial populasi
manusia yang terdiri dari banyak wanita umur 15-35 tahun adalah lebih besar
pada populasi yang terdiri dari kebanyakan laki-laki tua/anak-anak. Tingkat
pertumbuhan populasi yaitu sebagai hasil akhir dari kelahiran dan kematian, juga
mempengaruhi struktur umur dan populasi (Hadisubroto, 1989).
Ukuran populasi umumnya bervariasi dari waktu, biasanya mengikuti dua
pola. Beberapa populasi mempertahankan ukuran poulasi mempertahankan
ukuran populasi, yang relative konstan sedangkan pupolasi lain berfluktasi cukup
besar. Perbedaan lingkungan yang pokok adalah suatu eksperimen yang
dirangsang untuk meningkatkan populasi grouse itu. Penyelidikan tentang
dinamika populasi, pada hakekatnya dengan keseimbangan antara kelehiran dan
kematian dalam populasi dalam upaya untuk memahami pada tersebut di alam
(Naughton, 1973).
Suatu populasi dapat juga ditafsirkan sabagai suatu kelompok yang sama.
Suatu populasi dapat pula ditafsirkan sebagai suatu kolompok makhuk yang sama
spesiesnya dan mendiami suatu ruang khusus pada waktu yang khusus. Populasi
dapat dibagi menjadi deme, atau populasi setempat, kelompok-kelompok yang
dapat saling membuahi, satuan kolektif terkecil populasi hewan atau tumbuhan.
Populasi memiliki beberapa karakteristik berupa pengukuran statistic yang tidak
dapat diterapkan pada individu anggota opulasi. Karakteristik dasar populasi
adalah besar populasi atau kerapatan. Kerapatan populasi ialah ukuran besar
populasi yang berhubungan dengan satuan ruang, yang umumnya diteliti dan
dinyatakan sabagai cacah individu atau biomassa per satuan luas per satuan isi.
Kadang kala penting untuk membedakan kerapatan kasar dari kerapatan ekologi
(=kerapatan spesifik). Kerapatan kasar adalah cacah atau biomassa persatuan
ruang total, sedangkan kerapatan ekologik adalah cacah individu biomassa
persatuan ruang habitat. Dalam kejadian yang tidak praktis untuk menerapkan
kerapatan mutklak suatu populasi. Dalam pada itu ternyata dianggap telah cukup
bila diketahui kerapan nisbi suatu populasi. Pengukuran kerapatan mutlak ialah
dengan cara :
1. Penghitungan menyeluruh yaitu cara yang paling langsung untuk mengerti
berapakah makhluk yang di pertanyakan di sutau daerah adalah menghitung
makhluk tersebut semuanya.
2.Metode cuplikan yaitu dengan menghitung proporsil kecil populasi.
(PETERSON) (Soetjipta.1992).
Pada suatu tempat atau area tertentu terdapat berbagai macam spesies
serangga yang hidup atau yang menempati, untuk mengetahui keanekaragaman
serangga yang hidup di area tertentu maka dapat mengunakan perhitungan
menggunakan rumus Shanon Wiener (H) dan Indeks Dominansi (D).
Indeks Dominansi

D = (ni/N)2 keterangan : D : Indeks Domonansi Simpson


ni : Jumlah Individu tiap spesies
N : Jumlah Individu seluruh spesies

Indeks Shanon Wienet (H)

H = - pi log pi keterangan : H : Indeks Keanekaragaman Shanon Wiener


pi = ni/N = Kelimpahan relative spesies

Diantara banyak organisme yang membentuk suatu komunitas, hanya spesies atau
grup yang memperlihatkan pengendalian yang nyata dalam memfungsikan
keseluruhan komunitas. Kepentingan relatif dari organisme dalam suatu
komunitas tidak ditentukan oleh posisitaksonominya tetapi jumlah, ukuran,
produksi dan hubungan lainnya. Tingkat kepentingan suatu spesies biasanya
dinyatakan oleh indeks keunggulannya (dominansi). Komunitas diberi nama dan
digolongkan menurut spesies atau bentuk hidup yang dominan, habitat fisik, atau
kekhasan fungsional. Analisis komunitas dapat dilakukan dalam setiap lokasi
tertentu berdasarkan pada pembedaan zone atau gradien yang terdapat dalam
daerah tersebut. Umumnya semakin curam gradien lingkungan, makin beragam
komunitas karena batas yang tajam terbentuk oleh perbahan yang mendadak
dalam sifat fisika lingkungan. Angka banding antara jumlah spesies an jumlah
total individu dalam suatu komunitas dinyatakan sebagai keanekaragaman spesies.
Ini berkaitan dengan kestabilan lingkungan dan beragam komunitas berbeda
(Wolf, 1992).
Kompetisis adalah interaksi antar individu yang muncul akibat kesamaan
kebutuhan akan sumber daya yang bersifat terbatas sehingga membatasi
kemampuan bertahan (survival), pertumbuhan dan reproduksi individu penyaing.
Secara teoritis, apabila dalam suatu populasi yang terdiri dari dua spesies maka
akan terjadi interaksi di antara keduanya (Kastono, 2005).
Kecenderungan dalam kompetisi menimbulkan adanya pemisahan secara
ekologi, spesies yang berdekatan atau yang serupa dan hal tersebut dikenal
sebagai azaz pengecualian kompetitif. Kompetisis dalam suatu komunitas dibagi
menjadi dua yaitu kompetisi sumber daya (resources competition atau scramble
atau exploitative competition), yaitu kompetisi dalam memanfaatkan secara
bersama-sama sumber daya yang terbatas inferensi (inference competition atau
contest competition), yaitu usaha pencarian sumber daya yang menyebabkan
kerugian pada individu lain (Noughton, 1990).
BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat


Hari/Tanggal : Sabtu, 28 Mei 2016
Waktu : 08.00 12.00 WITA
Tempat : Pantai Samboang. Desa Ara. Kecamatan Bontobahari, Kab.
Bulukumba.
B. Alat dan Bahan
a. Alat
1. GPS
2. Kamera
3. Sekop kecil
4. Parang
5. Meteran
b. Bahan
1. Tali
2. Plastik kecil dan besar
C. Cara kerja
1. Membuat10 plot pada transek 1. Ukuran plot 10 x 10 m, dan di dalam plot
10 x 10 m dibuatkan plot dengan ukuran 2x2 m dan di dalamnya dibuat
lagi plot berukuran 1x1 m, begitu seterusnya sampai plot 10.
2. Menghitung spesies hewan pada seluruh plot yang telah dibuat.
3. Mengambil serasah pada plot 1x1 m dan memasukkannya kedalam
kantong plastik.
4. Menggali tanah sedalam 10 cm, lalu mengambil organism dan tanahnya
dan memasukkan ke dalam kantong plastik.
5. Menghitung presentasi penutupan kanopi pada plot 2x2 m.
6. Jika pada daerah itu ada pohon, membentangkan kain di bawah pohon dan
menggoyangkan pohonnya untuk mengamati organisme di daerah tajuk.
Lalu mengambil organisme yang jatuh.
7. Membuat transek 2 sampai 10 dengan cara yang sama pada langkah 1-10.
B.Pembahasan
Dari percobaan yang telah dilakukan dan setelah melalui proses
pengamatan dan perhitungan, maka diperoleh hasil Indeks Dominansi (D)
untuk perhitungan yaitu pada setiap spesies berbeda dari spesies rang-rang
(Solenopsis sp.) 0,0041, spesies capung (Anax junius) 0,005041 dan untuk
spesies belalang (Oxya chinensis), spesies kupu-kupu (Cethosia myrina),
spesies tawon (Xylocopa latipes) memiliki nilai yang sama pada indeks
dominansi yaitu 0,001275.
Dan untuk nilai Indeks Shanon-Wiener (H) setelah melalui proses
pengamatan dan perhitungan, maka diperoleh hasil spesies rang-rang
(Solenopsis sp.) 0,0098, spesies capung (Anax junius) 5,2765, dan untuk
spesies belalang (Oxya chinensis), spesies kupu-kupu (Cethosia myrina),
spesies tawon (Xylocopa latipes) memiliki nilai yang sama pada indeks
dominansi yaitu 0,00369.
Berdasarkan hasil yang diperoleh tersebut dapat simpulkan bahwa
lingkungan tempat pengambilan sampel tersebut masih kurang stabil, artinya
lingkungan tempat pengambilan sampel sudah terpengaruh oleh hal-hal yang
bisa membuat populasi serangga di tempat itu berkurang, pencemaran yang
terjadi di sekitar kampus IAIN Lampung sudah memberi pengaruh yang
cukup berarti pada serangga yang berada disekitar daerah kampus.
Lingkungan tempat pengambilan sampel menjadi habitat yang tidak cocok
untuk serangga-serangga tersebut, sehingga jumlah spesies serangga yang
ada cenderung dalam jumlah yang banyak ada pula sedikit. Pada percobaan
ini tentang indeks keanekaragaman serangga di lingkungan kampus,
menggunakan alat yaitu fitfall traps (perangkap sumuran) yang terbuat dari
cangkir plastik, direct traps (perangkap langsung contohnya menggunakan
jarring ayun), perangkap nampan, yang berfungsi sebagai alat untuk
menangkap serangga.
Populasi merupakan kelompok individu dari spesies yang sama yang
secara morfologis dan biokimia relative sama yang menempati suatu tempat
pada waktu tertentu. Populasi tersebut akan membentuk suatu komunitas,
dimana komunitas adalah suatu kumpulan berbagai macam organisme
(hewan, tumbuhan, dan mikroba) yang hidup bersama dengan saling
berhubungan dan berinteraksi di dalam suatu daerah, dimana nantinya
komunitas akan membentuk suatu ekosistem, merupakan suatu sistem di
alam dimana organisme terdapat hubungan timbal balik anatara organisme
dengan organisme lainnya, juga dengan lingkungannya yang terhimpun dalam
suatu habitat.
Keanekaragaman organisme di suatu tempat dipengaruhi oleh beberapa
faktor tersebut adalah faktor udara, tanah, organisme, dan beberapa faktor
stabil, yaitu ketinggian, lintang, letak, dan pH. Jumlah spesies dalam
komunitas adalah penting dari segi ekologi karena keanekaragaman spesies
akan bertambah bila habitat, stabil atau sesuai dengan komunitas
bersangkutan.
Dengan keadaan lingkungan yang relatif stabil, serangga masih dapat
menambah atau memperbesar jumlah populasinya serta memperbanyak
variasi individunya. Tetapi tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti
populasi dari serangga akan berkurang begitu pula dengan
keanekaragamannya karena dipengaruhi oleh berbagai faktor misalnya
pencemaran lingkungan, aktivitas manusia yang dapat mempersempit habitat
serangga tersebut serta makanan yang tersedia mulai berkurang sehinnga
tingkat kompetisi antara serangga menjadi tinggi sehingga serangga banyak
yang melakukan emigrasi. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan
ditemukan bahwa indeks keanekaragaman serangga di kampus IAIN
Lampung tepatnya bagian belakang laboraturium dan samping kana
laboraturium, dikategorikan rendah karena diakibatkan oleh faktor
lingkungan dan serangga tidak mampu beradaptasi karena lokasi pengamatan
itu yang tidak memiliki sumber makanan yang melimpah sehingga
mengakibatkan populasi serangga disekitar kampus terganggu.

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikun yang telah dilaksanakan dapat di tarik
kesimpulan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi keanekaragaman
adalah faktor-faktor udara, tanah, organisme, dan beberapa faktor stabil, yaitu
ketinggian, lintang, letak, dan pH. Pada penggunaan masing-masing alat spesies
yang di peroleh memiliki perbedaan dari jumlah, spesies dan ukuran spesies..
Adanya campur tangan manusia mengakibatkan populasi suatu organism dapat
terganggu.
B. Saran
Adapun saran yang dapat saya berikan setelah melakukan praktikum ini
adalah sebaiknya ketika praktikum berlangsung asisten dan praktikan lebih
saling berkoordinasi.
DAFTAR PUSTAKA

Cemball. 2004. Biologi Edisi Kelima Jilid 2. Jakarta : Erlangga.

Darmawan, Agus.2005.Ekologi Hewan.Malang: UM Press.

Hadisubroto, Tisno (1989) dalam Dewi Suryani. 2011. Azas-azas dan Konsep
mengenai Organisasi pada Tingkat Populasi. Padang : Universitas Negeri
Padang.

Lakitan, B. 1994. Ekologi. PT. Raja Grafindo Persada : Jakarta

Michael, P. E. 1994. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang dan


Laboratorium. Universitas Indonesia : Jakarta.

Naughhton.1973. Ekologi Umum edisi Ke 2. UGM Press : Yogyakarta.

Odum, Eugene. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Universitas Gadjah Mada :


Yogyakarta.

Soetjipta.1992. Dasar-dasar Ekologi Hewan. DeptDikBud DIKTI : Jakarta.

Suin,nurdin Muhammad.1989. Ekologi Hewan Tanah. Bumi Aksara : Jakarta.

Soegianto, Agus. 1994. Ekologi Kwantatif. Surabaya: Usaha Nasional.

Setiadi, Agus. 1990. Pengantar Ekologi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.


Sofa.2008.Sejarah dan Ruang lingkup ekologi ekosistem.
http://massofa.wordpress.com/2008/09/23/sejarah-dan-ruang-lingkup-
ekologi-dan-ekosistem/. Diakses tanggal 17 Juni 2016.

Wolf, L. 1992. Ekologi Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.