Anda di halaman 1dari 18

Makalah Sejarah

Politik Luar dan Dalam Negeri pada Masa


Orde Baru

XII MIPA 2
Kelompok 3

Disusun oleh :
1. Debie Prasetyo (05)
2. Ika Ainun Tajalla (11)
3. Isna Wasiatin (12)
4. Rody Bagas Oktaviano (28)

SMA NEGERI 1 KOTA BLITAR


TAHUN AJARAN 2016/2017

1
Kata Pengantar

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, kami panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
sejarah tentang politik luar dan dalam negeri pada masa Orde Baru.
Adapun makalah sejarah tentang politik luar dan dalam negeri pada masa
orde baru ini telah kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan
berbagai pihak, sehingga dapat meamperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu
kami tidak lupa menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu kami dalam pembuatan makalah ini.
Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadar sepenuhnya bahwa ada
kekurangan baik dari segi penyusun bahasa maupun segi lainnya. Oleh karena itu
dengan lapang dada dan tangan terbuka kami menerima saran dan kritik dari
pembaca sehingga kami dapat memperbaiki makalah ini.
Semoga dari makalah ini dapat diambil hikmah dan manfaatnya sehingga
dapat memberikan inpirasi bagi pembaca.

Penyusun

2
BAB I
PENDAHULUAN

2.1 Latar Belakang


Makalah ini dibuat untuk memdalami dan mempelajari politik luar dan
dalam negeri pada masa orde baru. Orde Baru adalah sebutan bagi masa
pemerintahan Presiden Soeharto di Indonesia. Orde Baru menggantikan Orde
Lama yang merujuk kepada era pemerintahan Soekarno. Salah satu penyebab
yang melatarbelakangi runtuhnya orde lama dan lahirnya orde baru adalah
keadaan keamanan dalam negeri yang tidak kondusif pada masa Orde Lama.
Terlebih lagi karena adanya peristiwa pemberontakan G30S/PKI.
Kekuasan Soekarno beralih ke Soeharto ditandai dengan keluarnya Surat
Perintah Sebelas Maret (SUPERSEMAR) 1966. Setelah dikeluarkan
Supersemar maka mulailah dilakukan penataan pada kehidupan berbangsa dan
bernegara sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Pada tanggal 23 Februari
1967, MPRS menyelenggarakan sidang istimewa untuk mengukuhkan
pengunduran diri Presiden Soekarno dan mengangkat Soeharto sebagai pejabat
Presiden RI. Dengan Tap MPRS No. XXXIII/1967 MPRS mencabut kekuasaan
pemerintahan negara dan menarik kembali mandat MPRS dari Presiden
Sukarno. 12 Maret 1967 Jendral Soeharto dilantik sebagai Pejabat Presiden
Republik Indonesia. Peristiwa ini menandai berakhirnya kekuasaan Orde Lama
dan dimulainya kekuasaan Orde Baru.
Sebagai pelajar kita wajib memahami akan seluk beluk dari kinerja pada
masa orde baru dengan mempelajari kebijakan politik pada masa orde baru.
Maka dari itu kami mendapatkan tugas dari pelajaran Sejarah Indonesia untuk
membuat makalah tentang Politik Luar maupun Dalam Negeri pada masa Orde
Baru.

2.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana sejarah lahirnya Orde Baru ?
2. Bagaimana kehidupan politik luar negeri masa Orde Baru?
3. Bagaimana kehidupan politik dalam negeri masa Orde Baru?
4. Apa saja dampak positif kehidupan politik pada masa Orde Baru?
5. Apa saja dampak negatif kehidupan politik pada masa Orde Baru?

3
2.3 Tujuan
1. Mengetahui sejarah lahirnya Orde Baru
2. Mengetahui kondisi politik luar negeri masa Orde Baru
3. Mengetahui kondisi politik dalam negeri masa Orde Baru
4. Mengetahui dampak positif kehidupan politik pada masa Orde Baru
5. Mengetahui dampak negatif kehidupan politik pada masa Orde Baru

1.4 Manfaat
1. Memahami sejarah lahirnya Orde Baru
2. Memahami kondisi politik luar negeri masa Orde Baru
3. Memahami kondisi politik dalam negeri masa Orde Baru
4. Memahami dampak positif dalam kehidupan politik masa Orde Baru
5. Memahami dampak negatif dalam kehidupan politik masa Orde Baru

4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Lahirnya Orde Baru


Orde Baru adalah sebutan bagi masa pemerintahan Presiden Soeharto di
Indonesia. Orde Baru menggantikan Orde Lama yang merujuk kepada era
pemerintahan Soekarno. Salah satu penyebab yang melatarbelakangi runtuhnya
orde lama dan lahirnya orde baru adalah keadaan keamanan dalam negeri yang
tidak kondusif pada masa Orde Lama. Terlebih lagi karena adanya peristiwa
pemberontakan G30S/PKI. Hal ini menyebabkan presiden Soekarno
memberikan mandat kepada Soeharto untuk melaksanakan kegiatan
pengamanan di Indonesia melalui surat perintah sebelas maret atau Supersemar.
Orde Baru hadir dengan semangat "koreksi total" atas penyimpangan yang
dilakukan oleh Soekarno pada masa Orde Lama. Orde Baru berlangsung dari
tahun 1966 hingga 1998. Dalam jangka waktu tersebut, ekonomi Indonesia
berkembang pesat meskipun hal ini terjadi bersamaan dengan praktik korupsi
yang merajalela di negara ini. Selain itu, kesenjangan antara rakyat yang kaya
dan miskin juga semakin melebar.
Kekuasan Soekarno beralih ke Soeharto ditandai dengan keluarnya Surat
Perintah Sebelas Maret (SUPERSEMAR) 1966. Setelah dikeluarkan
Supersemar maka mulailah dilakukan penataan pada kehidupan berbangsa dan
bernegara sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Penataan dilakukan di
dalam lingkungan lembaga tertinggi negara dan pemerintahan. Dikeluarkannya
Supersemar berdampak semakin besarnya kepercayaan rakyat
kepada pemerintah karena Soeharto berhasil memulihkan keamanan dan
membubarkan PKI. Pada tanggal 23 Februari 1967, MPRS menyelenggarakan
sidang istimewa untuk mengukuhkan pengunduran diri Presiden Soekarno dan
mengangkat Soeharto sebagai pejabat Presiden RI. Dengan Tap MPRS No.
XXXIII/1967 MPRS mencabut kekuasaan pemerintahan negara dan menarik
kembali mandat MPRS dari Presiden Sukarno. 12 Maret 1967 Jendral Soeharto
dilantik sebagai Pejabat Presiden Republik Indonesia. Peristiwa ini menandai
berakhirnya kekuasaan Orde Lama dan dimulainya kekuasaan Orde Baru.

5
2.1.1 Latar Belakang Lahirnya Orde Baru
Orde baru lahir karena dilatarbelakangi oleh beberapa hal, antara
lain :
1. Terjadinya peristiwa Gerakan 30 September 1965.
2. Keadaan politik dan keamanan negara menjadi kacau karena
peristiwa Gerakan 30 September 1965 ditambah adanya konflik di
angkatan darat yang sudah berlangsung lama.
3. Keadaan perekonomian semakin memburuk dimana inflasi mencapai
600% sedangkan upaya pemerintah melakukan devaluasi rupiah dan
kenaikan harga bahan bakar menyebabkan timbulnya keresahan
masyarakat.
4. Reaksi keras dan meluas dari masyarakat yang mengutuk peristiwa
pembunuhan besar-besaran yang dilakukan oleh PKI. Rakyat
melakukan demonstrasi menuntut agar PKI beserta Organisasi
Masanya dibubarkan serta tokoh-tokohnya diadili.
5. Kesatuan aksi (KAMI,KAPI,KAPPI,KASI,dsb) yang ada di
masyarakat bergabung membentuk Kesatuan Aksi berupa Front
Pancasila yang selanjutnya lebih dikenal dengan Angkatan 66
untuk menghacurkan tokoh yang terlibat dalam Gerakan 30
September 1965.
6. Kesatuan Aksi Front Pancasila pada 10 Januari 1966 di depan
gedung DPR-GR mengajukan tuntutanTRITURA (Tri Tuntutan
Rakyat).
7. Upaya reshuffle kabinet Dwikora pada 21 Februari 1966 dan
Pembentukan Kabinet Seratus Menteri tidak juga memuaskan rakyat
sebab rakyat menganggap di kabinet tersebut duduk tokoh-tokoh
yang terlibat dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965.
8. Wibawa dan kekuasaan presiden Sukarno semakin menurun setelah
upaya untuk mengadili tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa
Gerakan 30 September 1965 tidak berhasil dilakukan meskipun
telah dibentuk Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub).
9. Sidang Paripurna kabinet dalam rangka mencari solusi dari masalah
yang sedang bergejolak tak juga berhasil. Maka Presiden
mengeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret 1966 (SUPERSEMAR)
yang ditujukan bagi Letjen Suharto guna mengambil langkah
yang dianggap perlu untuk mengatasi keadaan negara yang semakin
kacau dan sulit dikendalikan.

6
2.1.2 Upaya menuju pemerintahan Orde Baru
Setelah dikelurkan Supersemar maka mulailah dilakukan penataan
pada kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai dengan Pancasila dan
UUD 1945. Penataan dilakukan didalam lingkungan lembaga tertinggi
negara dan pemerintahan. Dikeluarkannya Supersemar berdampak
semakin besarnya kepercayaan rakyat kepada pemerintah karena Suharto
berhasil memulihkan keamanan dan membubarkan PKI. Munculnya
konflik dualisme kepemimpinan nasional di Indonesia. Hal ini
disebabkan karena saat itu Soekarno masih berkuasa sebagai presiden
sementara Soeharto menjadi pelaksana pemerintahan. Konflik Dualisme
inilah yang membawa Suharto mencapai puncak kekuasaannya karena
akhirnya Sukarno mengundurkan diri dan menyerahkan kekuasaan
pemerintahan kepada Suharto. Pada tanggal 23 Februari 1967, MPRS
menyelenggarakan sidang istimewa untuk mengukuhkan pengunduran
diri Presiden Sukarno dan mengangkat Suharto sebagai pejabat Presiden
RI.
Dengan Tap MPRS No. XXXIII/1967 MPRS mencabut kekuasaan
pemerintahan negara dan menarik kembali mandat MPRS dari Presiden
Sukarno. Tanggal 12 Maret 1967 Jendral Suharto dilantik sebagai
Pejabat Presiden Republik Indonesia. Peristiwa ini menandai
berakhirnya kekuasaan Orde Lama dan dimulainya kekuasaan Orde Baru.
Pada Sidang Umum bulan Maret 1968 MPRS mengangkat Jendral
Suharto sebagai Presiden Republik Indonesia.
Tujuan perjuangan Orde Baru adalah menegakkan tata kehidupan
bernegara yang didasarkan atas kemurnian pelaksanaan Pancasila dan
Undang-undang Dasar 1945. Sejalan dengan tujuan tersebut maka ketika
kondisi politik bangsa Indonesia mulai stabil untuk melaksanakan amanat
masyarakat maka pemerintah mencanangkan pembangunan nasional
yang diupayakan melalui program pembangunan jangka pendek dan
pembangunan jangka panjang.
Pemerintahan Orde Baru senantiasa berpedoman pada tiga konsep
pembangunan nasional yang terkenal dengan sebutan Trilogi
Pembangunan, yaitu : (1) pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya
yang menuju pada terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat; (2)
pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi; dan (3) stabilitas nasional yang
sehat dan dinamis.

7
Berkuasanya Orde Baru ternyata menimbulkan banyak perubahan
yang dicapai bangsa Indonesia melalui tahapan pembangunan di segala
bidang. Pemerintahan Orde Baru berusaha meningkatkan peran negara
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga langkah-langkah
yang diambil adalah mencapai stabilitas ekonomi dan politik.
Merujuk hasil Sidang Umum IV MPRS yang mengambil suatu
keputusan untuk menugaskan Jenderal Soeharto selaku pengembang
Surat Perintah Sebelas Maret yang sudah ditingkatkan menjadi ketetapan
MPRS No. IX/MPRS/1966 untuk membentuk kabinet baru. Kabinet baru
diberi nama Kabinet Ampera yang merupakan singkatan dari Kabinet
Amanat Penderitaan Rakyat selanjutnya diberi tugas untuk menciptakan
stabilitas politik dan ekonomi sebagai persyaratan dalam melaksanakan
pembangunan nasional. Tugas ini yang dikelak terkenal dengan sebutan
Dwi Darma Kabinet Ampera. Sedangkan program kerja terkenal
dengan sebutan Catur Karya Kabinet Ampera, yaitu: (1) memperbaiki
kehidupan rakyat terutama dibidang sandang dan pangan; (2)
melaksanakan pemilihan umum dalam batas waktu seperti yang
tercantum dalam ketetapan MPRS No. XI/MPRS/1966 yaitu pada 5 Juli
1968; (3) Melaksanakan politik luar negeri yang bebas aktif untuk
kepentingan nasional, sesuai dengan Tap No. XI/MPRS/1966; (4)
melanjutkan perjuangan anti imperialisme dan kolonialisme dalam segala
bentuk dan manifestasinya.
Pada 21 Maret 1968 Jenderal Soeharto selaku Pejabat Presiden
menyampaikan laporan kepada Sidang Umum V MPRS Tahun 1968
tentang pelaksanaan Dwi Darma dan Catur Karya Kabinet Ampera, yang
dilaporkan pertama kali bahwa telah dilaksanakan usaha mendudukkan
kembali posisi, fungsi, dan hubungan antar lembaga negara tertinggi
sesuai dengan yang diatur dalam UUD 1945.

2.2 Kondisi Politik Luar Negeri Masa Orde Baru


2.2.1 Indonesia Kembali Menjadi Anggota PBB
Indonesia kembali menjadi anggota PBB pada tanggal 28
September 1966 dan tercatat sebagai anggota ke-60. Sebagai anggota
PBB, Indonesia telah banyak memperoleh manfaat dan bantuan dari
organisasi internasional tersebut. Manfaat dan bantuan PBB, antara lain
sebagai berikut.

8
1. PBB turut berperan dalam mempercepat proses pengakuan de facto
ataupun de jure kemerdekaan Indonesia oleh dunia internasional.
2. PBB turut berperan dalam proses kembalinya Irian Barat ke wilayah
RI.
3. PBB banyak memberikan sumbangan kepada bangsa Indonesia dalam
bidang ekonomi, sosial, dan kebudayaan.
Hubungan yang harmonis antara Indonesia dan PBB menjadi
terganggu sejak Indonesia menyatakan diri keluar dari keanggotaan PBB
pada tanggal 7 Januari 1965. Keluarnya Indonesia dari keanggotaan PBB
tersebut sebagai proses atas diterimanya Federasi Malaysia sebagai
anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, sedangkan Indonesia sendiri
pada saat itu sedang berkonfrontasi dengan Malaysia. Akibat keluar dari
keanggotaan PBB, Indonesia praktis terkucil dari pergaulan dunia. Hal itu
sangat jelas merugikan pihak Indonesia.

2.2.2 Penghentian Konfrontasi dengan Malaysia


Indonesia melakukan konfrontasi dengan Malaysia setelah
diumumkan Dwikora oleh Presiden Soekarno pada tanggal 3 Mei 1964.
Tindakan pemerintah Orde Lama ini jelas menyimpang dari pelaksanaan
politik luar negeri bebas aktif.
Pada masa Orde Baru, politik luar negeri Indonesia kembali lagi
pada politik bebas aktif sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Hal ini
merupakan pelaksanaan dari Ketetapan MPRS No. XII/MPRS/1966.
Indonesia segera memulihkan hubungan dengan Malaysia yang sejak
1964 terputus. Normalisasi hubungan Indonesia Malaysia tersebut
berhasil dicapai dengan ditandatangani Jakarta Accord pada tanggal 11
Agustus 1966. Persetujuan normalisasi hubungan Indonesia Malaysia
merupakan hasil perundingan di Bangkok (29 Mei 1 Juni 1966).
Perundingan dilakukan Wakil Perdana Menteri/Menteri Luar
Negeri Malaysia, Tun Abdul Razak dan Menteri Utama/ Menteri Luar
Negeri Indonesia, Adam Malik. Perundingan telah menghasilkan
persetujuan yang dikenal sebagai Persetujuan Bangkok. Adapun
persetujuan Bangkok mengandung tiga hal pokok, yaitu sebagai berikut.
1. Rakyat Sabah dan Serawak akan diberi kesempatan menegaskan lagi
keputusan yang telah diambil mengenai kedudukan mereka dalam
Federasi Malaysia.
2. Kedua pemerintah menyetujui memulihkan hubungan diplomatik.
3. Kedua pemerintah menghentikan segala bentuk permusuhan,

9
2.2.3 Pembentukan Organisasi ASEAN
Association of Southeast Asian Nations atau Perhimpunan Bangsa
Bangsa Asia Tenggara atau dikenal dengan nama ASEAN. ASEAN
merupakan organisasi regional yang dibentuk atas prakarsa lima menteri
luar negeri negara negara di kawasan Asia Tenggara. Kelima menteri
luar negeri tersebut adalah Narsisco Ramos dari Filipina, Adam Malik
dari Indonesia, Thanat Khoman dari Thailand, Tun Abdul Razak dari
Malaysia, dan S. Rajaratnam dari Singapura. Penandatanganan naskah
pembentukan ASEAN dilaksanakan pada tanggal 11 Agustus 1967 di
Bangkok sehingga naskah pembentukan ASEAN itu disebut Deklarasi
Bangkok.
Syarat menjadi anggota adalah dapat menyetujui dasar dan tujuan
pembentukan ASEAN seperti yang tercantum dalam Deklarasi ASEAN.
Keanggotaan ASEAN bertambah seiring dengan banyaknya negara yang
merdeka. Brunei Darussalam secara resmi diterima menjadi anggota
ASEAN yang keenam pada tanggal 7 Januari 1984. Vietnam diterima
menjadi anggota ASEAN ketujuh pada tanggal 28 Juli 1995. Sementara
itu, Laos dan Myanmar bergabung dengan ASEAN pada tanggal 23 Juli
1997 dan menjadi anggota kedelapan dan kesembilan. Kamboja menjadi
anggota ASEAN yang kesepuluh pada tanggal 30 April 1999.
ASEAN mempunyai tujuan utama, antara lain :
1. Meletakkan dasar yang kukuh bagi usaha bersama secara regional
dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, dan
perkembangan kebudayaan.
2. Meletakkan landasan bagi terwujudnya suatu masyarakat yang
sejahtera dan damai di kawasan Asia Tenggara.
3. Memberi sumbangan kearah kemajuan dan kesejahteraan dunia.
4. Memajukan perdamaian dan stabilitas regional dengan menghormati
keadilan, hukum, serta prinsip prinsip piagam PBB.
5. Memajukan kerja sama aktif dan tukar menukar bantuan untuk
kepentingan bersama dalam bidang ekonomi, sosial, kebudayaan,
teknik, ilmu pengetahuan, dan administrasi.
6. Memajukan pelajaran pelajaran (studies) tentang Asia Tenggara.
7. Memajukan kerja sama yang erat dan bermanfaat, di tengah tengah
organisasi organisasi regional dan internasional lainnya dengan
maksud dan tujuan yang sama dan menjajaki semua bidang untuk
kerja sama yang lebih erat di antara anggota.

10
Dasar kerja sama ASEAN adalah:
1. Saling menghormati kemerdekaan, kedaulatan, persamaan, integritas
territorial, dan identitas semua bangsa.
2. Mengakui hak setiap bangsa untuk penghidupan nasional yang bebas
dari ikut campur tanga, subversi, dan konversi dari luar.
3. Tidak saling mencampuri urusan dalam negeri masing masing.
4. Menyelesaikan pertengkaran dan persengketaan secara damai.
5. Tidak menggunakan ancaman dan penggunaan kekuatan.
6. Menjalankan kerja sama secara efektif.

2.3 Kondisi Politik Dalam Negeri Masa Orde Baru


2.2.1 Pembentukan Kabinet Pembangunan
Awal pada masa peralihan kekuasaan (28 Juli 1966) adalah Kabinet
AMPERA dengan tugas yang dikenal dengan nama Dwi Darma Kabinet
Amper yaitu untuk menciptakan stabilitas politik dan ekonomi sebagai
persyaratan untuk melaksanakan pembangunan nasional. Program
Kabinet AMPERA yang disebut Catur Karya Kabinet AMPERA adalah
sebagai berikut.
1) Memperbaiki kehidupan rakyat terutama di bidang sandang dan
pangan.
2) Melaksanakan pemilihan Umum dalam batas waktu yakni 5 Juli 1968.
3) Melaksanakan politik luar negeri yang bebas aktif untuk kepentingan
nasional.
4) Melanjutkan perjuangan anti imperialisme dan kolonialisme dalam
segala bentuk dan manifestasinya.

2.2.2 Penyederhanaan dan Pengelompokan Partai Politik


Setelah pemilu 1971 maka dilakukan penyederhanakan jumlah
partai tetapi bukan berarti menghapuskan partai tertentu sehingga
dilakukan penggabungan (fusi) sejumlah partai. Sehingga
pelaksanaannya kepartaian tidak lagi didasarkan pada ideologi tetapi atas
persamaan program. Penggabungan tersebut menghasilkan tiga kekuatan
sosial-politik, yaitu:
1. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) merupakan fusi dari NU,
Parmusi, PSII, dan Partai Islam Perti yang dilakukan pada tanggal 5
Januari 1973 (kelompok partai politik Islam).

11
2. Partai Demokrasi Indonesia (PDI), merupakan fusi dari PNI, Partai
Katolik, Partai Murba, IPKI, dan Parkindo (kelompok partai politik
yang bersifat nasionalis).
3. Golongan karya (golkar).

2.2.3 Pemilihan Umum Selama masa Orde Baru


Pemilihan umum pada masa orde baru diadakan setiap lima tahun
sekali dan telah dilaksanakan sebanyak enam kali. Tujuan pemilu tersebut
untuk memilih anggota MPR, DPR, DPRD I dan II. Keanggotaan MPR,
yaitu seluruh anggota DPR, utusan daerah dan golongan. Setiap lima
tahun sekali MPR mengadakan sidang umum. MPR berwenang memilih
dan mengangkat presiden dan wakil presiden. Presiden dan kabinetnya
berkewajiban menjalankan tugasnya sesuai dengan UUD 1945
melaksanakan GBHN, mempertanggungjawabkan tugasnya pada akhir
masa jabatannya. DPR bertugas mengawasi jalannya pemerintahan/tugas
presiden. Mekanisme tugas dan kerja lembaga negara lain menyesuikan
UUD 1945 dan UU yang mengaturnya.
Pada masa orde baru kehidupan politiknya diatur dalam UU berikut
ini.
1. UU No.1 Tahun 1985 tentang pemilihan umum.
2. UU No.2 Tahun 1985 tentang susunan dan kedudukan MPR dan DPR.
3. UU No.3 Tahun 1985 tentang partai politik dan golongan karya.
4. UU No.4 Tahun 1985 tentang preferendum.
5. UU No.5 Tahun 1985 tentang organisasi kemasyarakatan (Ormas).
Sistem politik yang berlaku adalah otoriter dan tidak demokratis,
dimana kekuasaan eksekutif terpusat dan tertutup dibawah kontrol
lembaga kepresidenan, dalam penyelenggaraan negara dan pembangunan
ekonomi banyak terjadi KKN. Pemerintahan orde baru pimpinan
Soeharto berlangsung selama 32 tahun namun kehidupan politik pada
waktu itu dinilai gagal. Selanjutnya pemerintahan orde baru juga dinilai
gagal karena telah menciptakan pemerintahan yang sentralistik yaitu
mekanisme hubungan pusat dan daeraah cenderung menganut sentralisasi
kekuasaan sehingga menyebabkan kesenjangan dan ketidakadilan antara
pemerintahan pusat dan pemerintahan daerah
Pemilihan Umum Selama masa Orde Baru telah berhasil
melaksanakan pemilihan umum sebanyak enam kali yang
diselenggarakan setiap lima tahun sekali, yaitu:

12
1. Pemilu 1971
a. Pejabat negara harus bersikap netral berbeda dengan pemilu 1955
dimana para pejabat negara termasuk perdana menteri yang berasal
dari partai peserta pemilu dapat ikut menjadi calon partai secara
formal.
b. Organisasai politik yang dapat ikut pemilu adalah parpol yang pada
saat pemilu sudah ada dan diakui mempunyai wakil di DPR/DPRD.
c. Pemilu 1971 diikuti oleh 58.558.776 pemilih untuk memilih 460
orang anggota DPR dimana 360 orang anggota dipilih dan 100
orang diangkat.
d. Diikuti oleh 10 organisasi peserta pemilu yaitu Partai Golongan
Karya (236 kursi), Partai Nahdlatul Ulama (58 kursi), Partai
Muslimin Indonesia (24 kusi), Partai Nasional Indonesia (20 kursi),
Partai Kristen Indonesia (7 kursi), Partai Katolik (3 kursi), Partai
Islam Perti (2 kursi), Partai Murba dan Partai IPKI (tak satu
kursipun).
2. Pemilu 1977
Sebelum dilaksanakan Pemilu 1977 pemerintah bersama DPR
mengeluarkan UU No.3 tahun 1975 yang mengatur mengenai
penyederhanaan jumlah partai sehingga ditetapkan bahwa terdapat 2
partai politik (PPP dan PDI) serta Golkar. Hasil dari Pemilu 1977 yang
diikuti oleh 3 kontestan menghasilkan 232 kursi untuk Golkar, 99
kursi untuk PPP dan 29 kursi untuk PDI.
3. Pemilu 1982
Pelaksanaan Pemilu ketiga pada tanggal 4 Mei 1982. Hasilnya
perolehan suara Golkar secara nasional meningkat. Golkar gagal
memperoleh kemenangan di Aceh tetapi di Jakarta dan Kalimantan
Selatan Golkar berhasil merebut kemenangan dari PPP. Golkar
berhasil memperoleh tambahan 10 kursi sementara PPP dan PDI
kehilangan 5 kursi.
4. Pemilu 1987
Pemilu tahun 1987 dilaksanakan pada tanggal 23 April 1987.
Hasil dari Pemilu 1987 adalah:
a. PPP memperoleh 61 kursi mengalami pengurangan 33 kursi
dibanding dengan pemilu 1982 hal ini dikarenakan adanya larangan
penggunaan asas Islam (pemerintah mewajibkan hanya ada satu
asas tunggal yaitu Pancasila) dan diubahnya lambang partai dari
kabah menjadi bintang.

13
b. Sementara Golkar memperoleh tambahan 53 kursi sehingga
menjadi 299 kursi.
c. PDI memperoleh kenaikan 40 kursi karena PDI berhasil
membentuk DPP PDI sebagai hasil kongres tahun 1986 oleh
Menteri Dalam Negeri Soepardjo Rustam.
5. Pemilu 1992
Pemilu tahun 1992 diselenggarakan pada tanggal 9 Juni 1992
menunjukkan perubahan yang cukup mengagetkan. Hasilnya
perolehan Golkar menurun dari 299 kursi menjadi 282 kursi,
sedangkan PPP memperoleh 62 kursi dan PDI meningkat menjadi 56
kursi.
6. Pemilu 1997
Penyelenggaraan Pemilu yang teratur selama Orde Baru
menimbulkan kesan bahwa demokrasi di Indonesia sudah tercipta.
Apalagi pemilu itu berlangsung secara tertib dan dijiwai oleh asas
LUBER (Langsung, Umum, Bebas, dan Rahasia).
Kenyataannya pemilu diarahkan pada kemenangan peserta tertentu
yaitu Golongan Karya (Golkar) yang selalu mencolok sejak pemilu 1971-
1997. Kemenangan Golkar yang selalu mendominasi tersebut sangat
menguntungkan pemerintah dimana terjadi perimbangan suara di MPR
dan DPR. Perimbangan tersebut memungkinkan Soeharto menjadi
Presiden Republik Indonesia selama enam periode pemilihan. Selain itu,
setiap pertanggungjawaban, Rancangan Undang-undang, dan usulan
lainnya dari pemerintah selalu mendapat persetujuan dari MPR dan DPR
tanpa catatan.
Mengadakan Penentuan Pendapat Rakyat (Perpera) di Irian Barat
pada tanggal 2 Agustus 1969.

2.4 Dampak Positif Dalam Kehidupan Politik Masa Orde Baru


Pemerintah mampu membangun pondasi yang kuat bagi kekuasaan
lembaga kepresidenan yang membuat semakin kuatnya peran negara dalam
bermasyarakat. Situasi keamanan pada masa Orde Baru relatif aman dan
terjaga dengan baik karena pemerintah mampu mengatasi semua tindakan dan
sikap yang dianggap bertentangan dengan Pancasila. Dilakukan peleburan
partai dimaksudkan agar pemerintah dapat mengontrol partai politik.

2.5 Dampak Negatif Dalam Kehidupan Politik Masa Orde Baru

14
Terbentuk pemerintahan Orde Baru yang bersifat otoriter, dominatif, dan
sentralis.
a. Otoritarianisme merambah segenap aspek kehidupan masyarakat,
berbangsa, dan bernegara termasuk kehidupan politik yang merugikan
rakyat.
b. Pemerintah Orde Baru gagal memberikan pelajaran berdemokrasi yang baik
kepada rakyat Indonesia. Golkar menjadi alat politik untuk mencapai
stabilitas yang diinginkan, sementara dua partai lainnya hanya sebagai
boneka agar tercipta citra sebagai negara demokrasi.
c. Sistem perwakilan bersifat semu bahkan hanya dijadikan topeng untuk
melanggengkan sebuah kekuasaan secara sepihak. Dalam setiap pemilihan
presiden melalu MPR, Soeharto selalu terpilih.
d. Demokratisasi yang terbentuk didasarkan pada KKN ( Korupsi, Kolusi, dan
Nepotisme ) sehingga banyak wakil rakyat yang duduk di MPR maupun
DPR yang tidak mengenal rakyat dan daerah yang diwakilinya.
e. Kebijakan politik teramat birokratis, tidak demokratis, dan cenderung KKN.
f. Dwifungsi ABRI terlalu mengakar masuk ke sendi sendi kehidupan
berbangsa dan bernegara bahkan pada bidang bidang yang seharusnya
masyarakat yang berperan besar terisi oleh personel TNI dan Polri. Dunia
bisnis tidak luput dari intervensi TNI maupun Polri.
g. Kondisi politik lebih payah dengan adanya upaya penegakan hukum yang
sangat lemah. Dimana hokum hanya diciptakan untuk keuntungan
pemerintah yang berkuasa sehingga tidak mampu mengadili para
konglomerat yang telah menghabisi uang rakyat.

15
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Orde Baru merupakan sebutan untuk pemerintahan yang dipimpin oleh
presiden Soeharto yaitu pada tahun 1966 hingga 1998. Perpindahan kekuasaan
ini terjadi karena adanya bebera permasalahan yang dianggap pelik ketika
pemerintahan Soekarno, diantaranya terjadinya peristiwa Gerakan 30
September 1965 yang menyebabkan keadaan politik dan keamanan negara
menjadi kacau dan terjadinya inflasi mencapai 600% sehingga meresahkan
masyarakat. Dengan demikian maka kekuasaan Soekarno beralih ke Soeharto
ditandai dengan keluarnya Surat Perintah Sebelas Maret (SUPERSEMAR)
pada tahun 1966. Tujuan perjuangan Orde Baru adalah menegakkan tata
kehidupan bernegara yang didasarkan atas kemurnian pelaksanaan Pancasila
dan Undang-undang Dasar 1945 yang berpedoman pada tiga konsep
pembangunan nasional yang terkenal dengan sebutan Trilogi Pembangunan,
yaitu : (1) pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya yang menuju pada
terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat; (2) pertumbuhan ekonomi yang
cukup tinggi; dan (3) stabilitas nasional yang sehat dan dinamis. System politik
yang dianut oleh Orde Baru adalah ototoriter. Sehingga selur kekuasaan
eksekutif terpusat dan tertutup dibawah control lembaga kepresidenan.
Berkuasanya Orde Baru ternyata menimbulkan banyak perubahan yang
dicapai bangsa Indonesia melalui tahapan pembangunan di segala bidang.
Pemerintahan Orde Baru berusaha meningkatkan peran negara dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga langkah-langkah yang diambil
adalah mencapai stabilitas ekonomi dan politik. Namun sayangnya, lama-
kelamaan pemerintahan seperti ini banyak dimanfaatkan oleh pemerintahan,
sehingga banyak terjadi KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme). Pemerintahan
orde baru pimpinan Soeharto berlangsung selama 32 tahun namun kehidupan
politik pada waktu itu dinilai gagal. Selanjutnya pemerintahan orde baru juga
dinilai gagal karena telah menciptakan pemerintahan yang sentralistik yaitu
mekanisme hubungan pusat dan daeraah cenderung menganut sentralisasi
kekuasaan sehingga menyebabkan kesenjangandan ketidakadilan antara
pemerintahan pusat dan pemerintahan daerah.

3.2 Saran

16
Perkembangan suatu Negara ada di tangan pemimpinnya. Dengan
demikian permasalahan yang dialami sebuah Negara akan dapat terselesaikan
jika pemimpinnya dapat menanganinya dengan tegas. Seperti permasalahan
hutang yang dialami oleh pemerintahan pada masa Orde Baru. Meski pada
masa itu pembangunan berjalan dengan lancar, namun menanggung hutang
yang banyak. Selain itu, pada masa Orde Baru terjadi sentralisasi dalam
pemerintahan dan kegiatan ekonomi. Maka dari itu diharapkan pada
pemerintahan saat ini untuk melakukan otonomi daerah kepada seluruh
propinsi sehingga potensi yang ada di setiap daerah dapat dioptimalkan dengan
seefisien mungkin. Selain itu juga diimbangi dengan transparansi keuangan
sehingga masyarakat dapat mengetahui regulasi uang tersebut.

17
DAFTAR PUSTAKA

1. http://adarnawati.blogspot.co.id/2015/03/makalah-masa-pemerintahan-orde-
baru_30.html
2. http://susifkipsejarah2011.blogspot.co.id/2013/05/makalah-orde-baru.html.
3. https://arikhamid.wordpress.com/tag/kebijakan-politik-orde-baru/

18