Anda di halaman 1dari 5

Teologi kontekstual adalah cabang ilmu teologi Kristen yang menelaah bagaimana ajaran Kristen dapat

menjadi relevan di konteks-konteks yang berbeda.[1] Teologi ini merupakan bagian dari teologi
pembebasan.[2] Beberapa contoh teolog yang mengangkat isu teologi kontekstual adalah Kosuke
Koyama, C. S. Song, dan Gustavo Gutierrez.[3]

Daftar isi

1 Sejarah Singkat

2 Model-model Pendekatan Kontekstual

2.1 Model Akomodasi

2.2 Model Adaptasi

2.3 Model Prossesio

2.4 Model Transformasi

2.5 Model Dialektis

3 Tokoh

3.1 Matteo Ricci

3.2 Gustavo Gutierrez

3.3 C. S. Song

3.4 Kosuke Koyama

3.5 Aloysius Pieris

3.6 Hope S. Antone

4 Tokoh-tokoh yang Mengembangkan Teologi Kontekstual di Indonesia

4.1 Andreas A. Yewangoe

4.2 Eka Darmaputera

4.3 Emanuel Gerrit Singgih

5 Referensi

1. Sejarah Singkat

Istilah kontekstualisasi telah digunakan secara populer dalam dunia teologi pada akhir abad
ke-20.[1] Kata ini ditambahkan pada perbendaharaan kata dalam bidang misi dan teologi sejak
diperkenalkan oleh Theological Education Fund (TEF) pada tahun 1972.[4] Ada kelompok yang
mempergunakan dan mempertahankan penggunaan istilah kontekstualisasi.[1] Namun, ada pula yang
menggunakan istilah lain, seperti teologi lokal, teologi inkulturasi, dan teologi pribumi.[1]

Konteks pembicaraan tentang kontekstualisasi dalam diskusi TEF adalah pendidikan teologi
di negara-negara Dunia Ketiga.[4] Namun, para teolog menyadari bahwa ide dari kontekstualisasi itu
sendiri sebetulnya sudah ada jauh sebelum TEF bersidang, yaitu terdapat dalam Alkitab.[4]
Contohnya adalah inkarnasi Yesus dan pendekatan Paulus pada waktu ia mengkomunikasikan Injil
kepada orang bukan Yahudi.[4] Oleh karena itu, para teolog beranggapan bahwa kontekstualisasi
hanya merupakan istilah baru dari istilah-istilah yang telah ada dan dipakai sebelumnya.[4] Istilah-
istilah itu adalah pribumi, inkulturasi, akomodasi dan adaptasi.[4]

2. Model-model Pendekatan Kontekstual[sunting | sunting sumber]

Dalam penerapannya, teologi kontekstual memiliki beberapa model pendekatan.[1]

2.1. Model Akomodasi

Akomodasi adalah sikap menghargai dan terbuka terhadap kebudayaan asli.[1] Sikap ini
dinyatakan dalam bentuk kelakuan, perbuatan, dan perkataan, baik dalam ranah ilmiah maupun
praktis.[1] Objek akomodasi adalah kehidupan busaya yang menyeluruh dari suatu bangsa, baik
dari segi fisik, sosial, dan ideal. [1] Dalam pendekatan ini, terjadi sebuah pengambilalihan nilai-
nilai budaya dan dipadukan dengan nilai-nilai Kristiani.[1] Dengan demikian, terdapat pandangan
positif bagi Alkitab.[1] Selama ini, Alkitab dipandang menghancurkan nilai-nilai dalam suatu
budaya.[1]

2.2. Model Adaptasi

Model ini berbeda dengan model akomodasi.[1] Model ini tidak mengasimilasikan unsur
budaya dalam nilai-nilai Kristiani.[1] Model ini menggunakan bentuk atau pemahaman yang ada
dalam suatu budaya untuk menjelaskan suatu pemahaman dalam kekristenan.[1] Tujuan dari
model ini adalah untuk mengekspresikan dan menerjemahkan Alkitab dalam istilah setempat
(indigenous terms).[1] Hal ini dilakukan agar istilah Kristiani tersenut dapat dipahami oleh suatu
masyarakat dengan konteks yang berbeda.[1]

2.3. Model Prossesio[sunting | sunting sumber]

Prossesio adalah sikap yang menanggapi budaya secara negatif.[1] Proses prossesio
terjadi melalui seleksi, penolakan, reinterpretasi, dan rededikasi.[1] Kelompok yang menganut
model ini memahami bahwa kebudayaan adalah sesuatu yang telah dirusak oleh dosa. [1] Tidak
ada kebaikan di dalam kebudayaan.[1] Model ini juga memahami bahwa hanya Kekristenan dan
Alkitab yang kudus dan tidak berdosa.[1]

2.4. Model Transformasi

Model ini berakar pada pemahaman Richard Niebuhr mengenai Allah dan kebudayaan.
Allah dipahami berada di atas kebudayaan.[1] Melalui kebudayaan, Allah berinteraksi dengan
manusia.[1] Bila seseorang dibaharui oleh Allah, maka kebudayaan tersebut juga ikut dibaharui.
[1]

2.5. Model Dialektis[sunting | sunting sumber]

Model ini menekankan interkasi yang dinamis antara teks dan konteks. Konsep ini
didukung oleh pemahaman yang kuat bahwa kebudayaan juga membawa perubahan.[1] Tidak
hanya Kekristenan yang membawa perubahan bagi konteks, tetapi konteks juga memberi
perubahan bagi Kekristenan.[1] Contohnya dalam teologi, kebudayaan memberi warna baru bagi
teologi dalam usahanya menghadirkan Kekristenan di tengah konteks yang ada.[1]

3. Tokoh
3.1. Matteo Ricci[sunting | sunting sumber]

Matteo Ricci (kiri) dan Xu Guangqi( ) (kanan) dalam Unsur Euclid edisi
Cina() Matteo Ricci adalah pastur dari Ordo Yesuit di Italia.[5] Ia diutus menjadi
misionaris di Cina selama Dinasti Ming.[5] Ia memperkenalkan budaya Barat ke Cina.[5] Ia juga
salah satu misionaris yang menggunakan model pendekatan akomodasi.[5]

3.2. Gustavo Gutierrez

Gustavo Gutierrez adalah seorang imam Katolik.[6] Ia juga seorang teolog.[6] Ia lebih
dikenal sebagai teolog pembebasan.[6] Ia mencetuskan ide teologi pembebasan.[6] Ide itu berakar
pada konteks saat itu.[6] Ia melihat bahwa gereja tidak memihak kepada yang miskin.[6] Gereja
hanya mementingkan dirinya sendiri.[6]

3.3. C. S. Song

Choang Seng Song atau yang dikenal sebagai C. S. Song adalah salah satu teolog
kontekstual di Asia.[7] Ia memahami bahwa ilmu teologi yang selama ini diajarkan dan
dikembangkan oleh gereja-gereja di Asia tidak menyentuh budaya lokal.[7] Dalam
pandangannya, teologi semestinya menyentuh konteks.[7]

3.4. Kosuke Koyama

Kosuke Koyama adalah salah satu teolog yang mengembangkan teologi kontekstual di
Jepang.[8] Ia tidak hanya seorang teolog, tetapi juga seorang misionaris.[8] Salah satu teologi
kontekstual yang ia kembangkan adalah teologi kerbau.[8]

3.5. Aloysius Pieris

Aloysius Pieris adalah seorang teolog dari Sri Lanka.[9] Ia juga ikut mengembangkan
teologi kontekstual di negara tersebut.[9] Salah satu bentuk teologinya adalah teologi kemiskinan
dan kaitannya dengan pluralisme.[9]
3.6. Hope S. Antone

Hope S. Antone adalah salah satu teolog dari Filipina.[10] Ia mengembangkan teologi
kontekstual dengan pendekatan pendidikan Kristiani.[10] Ia memahami bahwa Filipina memiliki
teologinya sendiri dari budaya yang ada di negara tersebut.[10] Hal ini dicetuskan karena adanya
dominasi teologi Barat yang dianggap mengabaikan konteks masyarakat Filipina.[10]

4. Tokoh-tokoh yang Mengembangkan Teologi Kontekstual di Indonesia[sunting | sunting sumber]


4.1. Andreas A. Yewangoe

Andreas Anangguru Yewangoe adalah salah satu teolog yang mengembangkan teologi
kontekstual di Indonesia.[11] Pendeta yang sering disebut A.A. Yewangoe ini mengembangkan
teologi penderitaan dalam konteks Asia, khususnya Indonesia.[11] Ia juga memadukan ideologi
Pancasila dengan nilai-nilai Kristiani.[11] Salah satu bukunya berjudul Theologia Crucis di Asia:
Pandangan Kristen Asia tentang Penderitaan dan Iman, Agama dan Masyarakat dalam Negara
Pancasila.[11]

4.2. Eka Darmaputera

Eka Darmaputera adalah pendeta dan teolog yang cukup berpengaruh dalam teologi
kontekstual di Indonesia.[12] Ia mengembangkan teologi dalam studi Pancasila.[12] Ia juga
dikenal sebagai tokoh muda yang memajukan pemikiran teologi di Indonesia.[12] Ia sempat
menjabat sebagai ketua Gerakan Mahasiswa Kristen di Indonesia (GMKI).[12]

4.3. Emanuel Gerrit Singgih

Emanuel Gerrit Singgih adalah salah satu teolog Perjanjian Lama di Indonesia.[13] Ia
juga mengembangkan teologi kontekstual di Indonesia.[13] Ia juga dosen di Fakultas Teologi,
Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW).[13] Salah satu bukunya berjudul Berteologi dalam
Konteks.[13]

Referensi

1. Y. Tomatala. 1993. Teologi Kontekstual: Suatu Pengantar.hal 2. Malang: Gandum Mas.


2. (Indonesia)Drewes, B. F. dan Julianus Mojau. 2007. Apa itu Teologi: Pengantar ke dalam Ilmu
Teologi.Jakarta: BPK Gunung Mulia.
3. Douglas J. Elwood. 2006. Teologi Kristen Asia: tema-tema yang tampil ke permukaan.Jakarta: BPK
Gunung Mulia.
4. (Inggris)Theological Education Fund Staff. 1972. Ministry in Context: The Third Mandate Programme
of The Theological Education Fund.England: Theological Education Fund.
5. (Inggris)Sunquist, Scott W. 2001. A Dictionary of Asian Christianity.Michigan: William B. Eerdman
Publishing Co.
6. Lane, Tony. 2007. Runtut Pijar.Jakarta: BPK Gunung Mulia
7. (Inggris)Song, C. S. 1982. The Compassionate God.New York: Orbis Books
8. (Inggris)Koyama, Kosuke. 2009. Water Buffalo Theology.New York: Orbis Books
9. (Inggris)England, John C. 2009. Asian Christian Theologies: A Research Guide to Authors,
Movements, Sources. Volume 1: Asia Region, South Asia, Austral Asia.New Delhi: ISPCK
10. (Indonesia)Antone, Hope S. 2003. Pendidikan Kristiani Kontekstual: Mempertimbangkan Realitas
Kemajemukan dalam Pendidikan Agama.Jakarta: BPK Gunung Mulia
11. (Inggris)Yewangoe, A. A. 2009. Tidak Ada Penumpang Gelap: Warga Gereja, Warga Bangsa.Jakarta:
BPK Gunung Mulia
12. Darmaputera, Eka. 1988. Pancasila and the Search for Identity and Modernity in Indonesian Society: a
Cultural and Ethical Analysis.Leiden, New York: E.J. Brill
13. (Inggris)Hamel, Victorius A. 2010. Gerrit Singgih: Sang Guru dari Labuang Baji.Jakarta: BPK
Gunung Mulia

Diperoleh dari "https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Teologi_kontekstual&oldid=7857898"