Anda di halaman 1dari 3

Cystinuria pada anjing bersifat agak heteregeneous.

, dengan perbedaan di kedua tipe dan


kuantitas asid amino yang diekresikan dalam urin. Newfoundlands dengan bentuk resesif
autosomal pada cysturia yang berkembang dari urolithiasis pada umur yang muda (beberapa
bulan) dan kontra dengan ras lain, betina bisa dipengaruhi sama seperti jantan. Basis molekuler
bagi kekurangan di ras ini di identifikasi sebagai mutasi nonsense pada aoxn 2 dari SLC3A1
dimana menghasilkan formasi hasil protein terpotong yang terbilang parah. Mutasi yang berbeda
pada gen ini juga dilaporkan di anjing labrador retriever. Bagaimanapun, pada ras lain yang
memiliki cysturia, tidak ada mutasi di SLC3A1 dilaporkan. Menandakan bahwa patogenesis
molekular cysturia pada anjing sangat tidak memungkinkan untuk bersifat hateregenous, sama
sepeti di manusia. Saat ini, mutasi penghilangan di SLC7A9 belum teridentifikasi pada anjing
yang menghidap cysturia. Ini mungkin karena mutasi pada daerah non-coding berkaitan dengan
SLC3A1 atau SLC7A9 bertanggungjawab menyebabkan cysturia pada anjing, atau mungkin
keseluruh gen. Dalam kasus ini, menguraikan kasus penyebab cysturia pada anjing bisa saja
memiliki nilai komperatif dengan meningkatkan pemahaman cysturia pada manusia.

Cystine uroliths bisa di bubarkan dengan medis. Dengan semua uroliths, tidak bermanfaat
dengan menambah volume urin. Kelarutan cystine bisa di tingkatkan dengan mengurangakn ph
urin ke 7.0 7.5, dengan cara terapi diet atau pengobatan dengan potassium sitrat. Batasan
protein juga disarankan untuk mengurangkan kemasukan penanda cystine. Tidak beruntungnya,
d-penicilamine tidak efektif dan di terkait dengan banyak nya efek samping, yang menyebabkan
pengunaan nya terbatas. Obat N-(2- mercaptopropionl)-glycine (Thiola) lebih efektif tetapi tidak
mudah didapatkan. Sedihnya, banyak anjing yang didiagnosa terpaksa di euthanasi akibat
kegagalan menghalang obstruksi urethral yang terjadi berulang kali.

Manfaat potensial dan limitasi dari studi penyakit batu pada hewan

Studi Epidemiologi

Studi penyakit batu pada hewan dibantu dengan terkumpulnya banyak batu ke lab, seperti
yang dilustrasikan pada tabel 1 dan fig.3a,b. Ini membuatkan studi bagi berbagai faktor resiko
untuk formasi batu, termasuk penagaruh umur, jenis kelamin dan ras, seperti yang tertera diatas,
bersama dengan pengaruh seperti lokasi geografis, kehadirtan UTI dan sejarah diet. Satu
hambatan bagi studi faktor resiko bagi urolithiasis pada anjing di hewan adalah dengan minim
nya pengetahuan mengenai ukuran populasi yang berisiko. Jumlah anjing dan kucing yang hidup
di kebanyakan negara tidak tercatat. Sehingga banyak studi mengenai pembentuk batu hanya
mengidentifikasi jenis ras yang tertentu sahaja berbanding kejadian yang sebenarnya.

Studi Genetik

Anjing merupakan model yang idel untuk mdemdtakan penyakit genetik. Anjing
domestic melihatkan variasi yang mendalam dengan lebih >400 ras teridentifikasi. Setiap ras ini
dikembangkan dengan seleksi artificial yang kuat dalam jangka waktu yang pendek, kebanyakan
anjing dikembangkan pada era victoria. Seleksi ini menyebabkan penyempepitan populasi
dengan blok halpotype dan penyambungan bertanda yang tidak seimbang, membuatkan anjing
banyak menerima asosiasi studi gen yang luas. Bagaimanapun, blok haplotype yang besar
membuatkan setiap bagian sifat di identifikasi dalam satu ras dan bisa bekerja dengan ratusan
gen lain nya. Dalam banyak kejadian, masalah ini bisa di atasi ketika sifat yang tertentu menjadi
bukti pada beberapa ras, membolehkan terjadinya perbandingan diantara mereka hingga
menyudutkan bagian yang di inginkan.

Gen anjing sangat mirip dengan gen manusia, dengan rata rata perbedaan nukleotida 0.35
subsitusi per tempat (lebih sedikit dari tikus) dan jumlah gen yang sama, kebanyakan nya 1:1
ortologues. Sekarang ada beberapa nukleotida tungga polymorphism tersusun dengan ribuan
tempat. Map keterkaitan yang mendalam untuk semua anjing bagi semua kromosom anjing
tersedia yang bisa digunakan untuk pemetaan seluruh genom. Ada juga terdapat banyak
pengetahuan media mengenai anjing, diketahui banyak disorder yang dicurigai di warisi,
contohnya ada dalam database penyakit hewan yang diawarisi pada anjing (http://server.vet.-
cam.ac.uk/index.html). Dangan tambahan batu uric asid pada dalmatian dan batu cystic pada ras
newfoundland seperti yang diatas, ada juga beberapa dimana genome canine sukse digunakan
untuk menjelaskan mekanisme penyakit pada manusia. (contohnya penemuan gen photoreceptor,
PCRD, keterkaitan retinis pigmentosa) atau memahami sifat warisan phenotypic yang kompleks
dengan penagaruh gen berlipat.

Tantangan fisikal

Pengobatan penyakit batu di anjing dan kucing bisa menantang akibat saiz nya yang
kecil, khusunya pada kucing yang mengalami ureteroithiasis obstruktif. Hewan ini biasanya tidak
stabil klinisnya akibat obstruksi ginjal mereka yang berfungsi. Biar teknik operasi mikro telah di
dibuat untuk ureterotomy, pendekatan ini telah banyak digantikan dengan pemberian ureteric
stent. Ini akibat kemajuan 2.5f uteric katetr khusus buat kucing. Bagaimanapun, dengan stents
yang kecil ini, tetap sulit untuk melewat, biar penempatan endoskopi telah dilakuan, operasi
terbuka lebih umum dilakukan. Bahkan penempatan sukses dicapai dengan pyelocentesis
(penempatan antegrade) berbanding dengan cystotomy (penempatan retrograde). Dalam satu seri
kasus, penempatan ini sukses dalam 94% dari 84 anjing dan 94% dari 62 kucing.

Sangat disayangkan, sekali diposisikan, ureteric stents biasanya tidak bisa dilepas,
setidaknya di kucing. Ureter yang sangat kecil membuatkan trauma dan pembengkakan mukosa
akibat pelepasan stent menyebabkan obstruksi pada uretik. Dinyatakan bahwa kerak pada stent
merupakan masalah yang kecil di anjing dan kucing berbanding manusia sehingga stent bisa
berada di tempat pada jangka waktu yang lama. Namun, terlihat juga studi awal dari
pengkerakan model in-vitro mengindikasikan kelakuan dari urin kucing palsu dan manusia tidak
berbeda. Pendekatan alternatif untuk stenting sudah dilakukan untukm pengunaan kucing dengan
pembuatan sistim bypass ureteric subcutaneus.
ESWL sudah digunakan dengan sukses untuk merawatkan nephroureteroliths pada
anjing tetapi sangat terbatas kadar sukses nya pada kucing. Penjelasan potensial dari ini adalah
ureteroliths yang terdampak susah untuk pecah karena tidak dikelilingi oleh urin yang cukup
untuk buih kavitasi untuk terbentuk di sekitar uterolith. Namun, kelihatan bahwa batu kalsium
oksalat kucing diwarisi kurang retan untuk fregmentasi batu dari anjing (dan di asumsikan
manusia). Dinyatakan bahwa perbedaan ini disebabkan untuk mendifferensiasi di dalam matriks
organik bagi urolithsnya.

Kerja yang dilanjutkan untuk mengatasi tantangan dari penyakit batu ureterik di pasien
veterinarian bisa menghasilkan kemajuan yang bisa digunakan dalam pengobatan manusia.
Perbandingan diantara spesies bisa membuatkan pemahaman yang lebih mendalam di bidang
sidat biomekanikel dari uroliths.

Populasi Penjaga

Contoh terakhir dari manfaat potensial dari studi penyakit di anjing dan kucing tersedia
dari epidemik penyakit batu terbaru akibat kontaminasi makanan dengan malamin dengan/atau
asid cyanuric. Deteksi dan pengenalan dari makanan terkontaminasi di makanan bayi cina
difasilitasi dari outbreak terdahulu kegagalan renal di anjing dan kucing terasosiasi dari makanan
terkontaminasi.

Kesimpulan nya, ada banyak kelebihan untuk mempelajari penyakit yang muncul secara
alami di anjing dan kucing, bukan sahaja untuk kepentingan pasien saja tetapi bisa juga untuk
pengembangan di bidang medis manusia. Diantaranya ada di dalam kotak 1.