Anda di halaman 1dari 29

PROSES BERPIKIR DAN GANGGUANNYA

REFERAT

Oleh:
1. Sarah Daniswara 122011101050
2. Kurnia Elka Vidyarni 132011101079

Dosen Pembimbing:
dr. Justina Evy Tyaswati, Sp.KJ

SMF/LAB. PSIKIATRI RSD DR. SOEBANDI JEMBER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JEMBER
2017
PROSES BERPIKIR DAN GANGGUANNYA

REFERAT

disusun untuk melaksanakan tugas Kepaniteraan Klinik Madya


SMF/Lab. Psikiatri RSD dr. Soebandi Jember

Oleh:
1. Sarah Daniswara 122011101050
2. Kurnia Elka Vidyarni 132011101079

Dosen Pembimbing:
dr. Justina Evy Tyaswati, Sp.KJ

SMF/LAB. PSIKIATRI RSD DR. SOEBANDI JEMBER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JEMBER
2017

2
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN SAMPUL............................................................................ i
HALAMAN JUDUL................................................................................ ii
DAFTAR ISI............................................................................................. iii
BAB 1. BERPIKIR.................................................................................. 1
1.1 Definisi Berpikir......................................................................... 1
1.2 Tahapan Cara Berpikir.............................................................. 3
1.3 Karakteristik Berpikir............................................................... 5
BAB 2. PROSES BERPIKIR.................................................................. 9
2.1 Definisi Ide................................................................................... 9
2.2 Proses Berpikir........................................................................... 9
2.3 Problem Solving.......................................................................... 12
2.4 Daerah Asosiasi........................................................................... 14
BAB 3. GANGGUAN PROSES BERPIKIR......................................... 16
3.1 Bentuk Pikiran............................................................................ 16
3.2 Arus Pikiran................................................................................ 18
3.3 Isi Pikiran.................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA............................................................................... 27

BAB 1. BERPIKIR

1.1 Definisi Berpikir


Berpikir adalah berkembangnya ide dan konsep di dalam diri seseorang.
Perkembangan ide dan konsep ini berlangsung melalui proses penjalinan
hubungan antara bagian-bagian informasi yang tersimpan di dalam diri seseorang
yang berupa pengertian-pengertian. Berpikir mencakup banyak aktivitas mental.
Berpikir adalah suatu kegiatan mental yang melibatkan kerja otak. Walaupun tidak

3
bisa dipisahkan dari aktivitas kerja otak, pikiran manusia lebih dari sekedar kerja
organ tubuh yang disebut otak. Kegiatan berpikir juga melibatkan seluruh pribadi
manusia dan juga melibatkan perasaan dan kehendak manusia. Memikirkan
sesuatu berarti mengarahkan diri pada objek tertentu, menyadari secara aktif dan
menghadirkannya dalam pikiran kemudian mempunyai wawasan tentang objek
tersebut (Suriasumantri, 1983).
Berpikir juga berarti berjerih-payah secara mental untuk memahami sesuatu
yang dialami atau mencari jalan keluar dari persoalan yang sedang dihadapi.
Dalam berpikir juga termuat kegiatan meragukan dan memastikan, merancang,
menghitung, mengukur, mengevaluasi, membandingkan, menggolongkan,
memilah-milah atau membedakan, menghubungkan, menafsirkan, melihat
kemungkinan-kemungkinan yang ada, membuat analisis dan sintesis menalar atau
menarik kesimpulan dari premis-premis yang ada, menimbang, dan memutuskan
(Suriasumantri, 1983).
Secara sederhana, berpikir adalah memproses informasi secara mental atau
secara kognitif. Secara lebih formal, berpikir adalah penyusunan ulang atau
manipulasi kognitif baik informasi dari lingkungan maupun simbol-simbol yang
disimpan dalam long term memory. Jadi, berpikir adalah sebuah representasi
simbol dari beberapa peristiwa atau item. Sedangkan menurut Drever (dalam
Khodijah, 2006) berpikir adalah melatih ide-ide dengan cara yang tepat dan
seksama yang dimulai dengan adanya masalah. Solso (1998 dalam Khodijah,
2006) berpikir adalah sebuah proses dimana representasi mental baru dibentuk
melalui transformasi informasi dengan interaksi yang komplek atribut-atribut
mental seperti penilaian, abstraksi, logika, imajinasi, dan pemecahan masalah
(Khodijah, 2006).
Dari pengertian tersebut tampak bahwa ada tiga pandangan dasar tentang
berpikir, yaitu (1) berpikir adalah kognitif, yaitu timbul secara internal dalam
pikiran tetapi dapat diperkirakan dari perilaku, (2) berpikir merupakan sebuah
proses yang melibatkan beberapa manipulasi pengetahuan dalam sistem kognitif,
dan (3) berpikir diarahkan dan menghasilkan perilaku yang memecahkan masalah
atau diarahkan pada solusi (Khodijah, 2006).

4
Biasanya kegiatan berpikir dimulai ketika muncul keraguan dan pertanyaan
untuk dijawab atau berhadapan dengan persoalan atau masalah yang memerlukan
pemecahan. Charles S. Pierce mengemukakan bahwa bahwa dalam berpikir ada
dinamika gerak dari adanya gangguan suatu keraguan (irritation of doubt) atas
kepercayaan atau keyakinan yang selama ini dipegang, lalu terangsang untuk
melakukan penyelidikan (inquiry) kemudian diakhiri dengan pencapaian suatu
keyakinan baru. Kegiatan berpikir juga dirangsang oleh kekaguman dan
keheranan dengan apa yang terjadi atau dialami. Dengan demikian, kegiatan
berpikir manusia selalu tersituasikan dalam kondisi konkret subjek yang
bersangkutan. Kegiatan berpikir juga dikondisikan oleh stuktur bahas yang
dipakai serta konteks sosio-budaya dan historis tempat kegiatan berpikir
dilakukan (Sobur, 2003).
Sebagai contoh pertama, yaitu objek yang ingin diketahui sudah tertentu.
Yang harus disadari adalah objek tersebut tidak pernah sederhana. Biasanya, objek
itu sangat rumit. Mungkin mempunyai beratus-ratus segi, aspek, karakteristik, dan
sebagainya. Pikiran kita tidak mungkin untuk mencakup semuanya dalam suatu
ketika. Dalam upaya untuk mengenal benar-benar objek semacam itu, seseorang
harus dengan rajin memperhatikan semua seginya, menganalisis objek tersebut
dari berbagai pendirian yang berbeda. Kesemuanya ini adalah berpikir
(Bochenski, dalam Suriasumantri, 1999).
Perbedaan dalam cara berpikir dan memecahkan masalah merupakan hal
nyata dan penting. Perbedaan itu mungkin sebagian disebabkan oleh faktor
pembawaan sejak lahir dan sebagian lagi berhubungan dengan taraf kecerdasan
seseorang. Namun, jelas bahwa proses keseluruhan dari pendidikan formal dan
pendidikan informal sangat mempengaruhi gaya berpikir seseorang di kemudian
hari, disamping mempengaruhi pula mutu pemikirannya (Khodijah, 2006).
Plato beranggapan bahwa berpikir adalah berbicara dalam hati. Sehubungan
dengan pendapat Plato ini, ada yang berpendapat bahwa berpikir adalah aktivitas
ideasional (Woodworth dan Marquis, dalam Suryabrata, 1995). Pada pendapat ini
dikemukakan dua kenyataan, yakni: (1) Berpikir adalah aktivitas; jadi subjek yang
berpikir aktif, (2) Aktivitas bersifat ideasional; jadi bukan sensoris dan bukan

5
motoris, walaupun dapat disertai oleh kedua hal itu; berpikir menggunakan
abstraksi-abstraksi atau ideas.

1.2 Tahapan Cara Berpikir


Piaget menciptakan teori bahwa bahwa cara berpikir logis berkembang
secara bertahap, kira-kira pada usia dua tahun dan pada sekitar tujuh tahun.
Menurut Piaget, cara berpikir anak-anak sama sekali tidak seperti cara berpikir
orang dewasa. Pikiran anak-anak tampaknya diatur berlainan dengan orang yang
lebih besar. Anak-anak kelihatannya memecahkan persoalan pada tingkatan yang
sama sekali berbeda. Perbedaan anak-anak yang lebih kecil dan lebih besar tidak
terlalu berkaitan dengan persoalan bahwa anak yang lebih besar mempunyai
pengetahuan yang lebih banyak, melainkan karena pengetahuan mereka berbeda
jenis, dengan penemuan ini Piaget mulai mengkaji perkembangan stuktur mental.
Berikut tahapan-tahapan perkembangan menurut Piaget:
1. Tahap sensorimotor
Berlangsung dari kelahiran hingga usia 2 tahun. Pada tahap ini,
bayi membangun suatu pemahaman tentang dunia dengan
mengkoordinasikan pengalaman-pengalaman sensor (seperti melihat dan
mendengar) dengan tindakan-tindakan motorik fisik, yang disebut
dengan sensorimotor. Pada permulaan tahap ini, bayi yang baru lahir
memiliki sedikit lebih banyak daripada pola-pola refleks.

2. Tahap praoperasional
Berlangsung kira-kira dari usia 2 tahun hingga 7 tahun. Pada tahap
ini, anak-anak mulai melukiskan dunia dengan kata-kata dan gambar-
gambar. Pemikiran simbolis melampaui hubungan sederhana antara
informasi sensor dan tindakan fisik. Akan tetapi, walaupun anak-anak
prasekolah dapat secara simbolis melukiskan dunia, menurut Piaget,
mereka masih belum mampu untuk melaksanakan apa yang disebut
operasi-tindakan mental yang diinternalisasikan yang memungkinkan
anak-anak melakukan secara mental apa yang sebelumnya dilakukan
secara fisik.

6
3. Tahap operasional konkret
Berlangsung kira-kira dari usia 7-11 tahun. Pada tahap ini anak-
anak dapat melaksanakan operasi, dan penalaran logis menggantikan
pemikiran intuitif sejauh pemikiran dapat diterapkan ke dalam contoh-
contoh yang spesifik atau konkret. Misalnya, pemikiran operasional
konkret tidak dapat membayangkan langkah-langkah yang diperlukan
untuk menyelasaikan suatu permasalahan aljabar, yang terlalu abstrak
untuk dipikirkan pada tahap perkembangan ini.
4. Tahap operasional formal
Tampak dari usia 11-15 tahun. Pada tahap ini individu melampaui
dunia nyata, pengalaman-pengalaman konkret dan berpikir secara
abstrak dan lebih logis. Sebagai bagian dari pemikiran yang lebih
abstrak, anak-anak remaja mengembangkan gambaran keadaan yang
ideal. Mereka dapat berpikir seperti apakah orang tua yang ideal dan
membandingkan orang tua mereka dengan standard ideal ini. Mereka
mulai mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan bagi masa depan dan
terkagum-kagum terhadap apa yang dapat mereka lakukan. Dalam
memecahkan masalah, pemikir operasional formal ini lebih sistematis,
mengembangkan hipotesis tentang mengapa sesuatu terjadi seperti itu,
kemudian menguji hipotesis ini dengan cara deduktif.

1.3 Karakteristik Berpikir


Berpikir banyak sekali macamnya. Banyak para ahli yang mengutarakan
pendapat mereka. Berikut ini akan dijelaskan macam-macam berpikir, yaitu :
1. Berpikir alamiah adalah pola penalaran yang berdasarkan kebiasaan
sehari-hari dari pengaruh alam sekelilingnya, misal; penalaran tentang
panasnya api yang dapat membakar jika dikenakan kayu pasti kayu tersebut
akan terbakar.
2. Berpikir ilmiah adalah pola penalaran berdasarkan sarana tertentu secara
teratur dan cermat, misal; dua hal yang bertentangan penuh tidak dapat
sebagai sifat hal tertentu pada saat yang sama dalam satu kesatuan.

7
3. Berpikir autistik: contoh berpikir autistik antara lain adalah mengkhayal,
fantasi atau wishful thinking. Dengan berpikir autistik seseorang melarikan
diri dari kenyataan, dan melihat hidup sebagai gambar-gambar fantastis.
4. Berpikir realistik: berpikir dalam rangka menyesuaikan diri dengan dunia
nyata, biasanya disebut dengan nalar (reasoning). Floyd L. Ruch (1967)
menyebutkan ada tiga macam berpikir realistik, antara lain :
a. Berpikir Deduktif
Deduktif merupakan sifat deduksi. Kata deduksi berasal dari kata
Latin deducere (de berarti dari, dan kata ducere berarti
mengantar, memimpin). Dengan demikian, kata deduksi yang
diturunkan dari kata itu berarti mengantar dari satu hal ke hal lain.
Sebagai suatu istilah dalam penalaran, deduksi merupakan proses
berpikir (penalaran) yang bertolak dari proposisi yang sudah ada,
menuju proposisi baru yang berbentuk kesimpulan (Keraf, 1994).

b. Berpikir Induktif
Induktif artinya bersifat induksi. Induksi adalah proses berpikir yang
bertolak dari satu atau sejumlah fenomena individual untuk
menurunkan suatu kesimpulan (inferensi). Proses penalaran ini
mulai bergerak dari penelitian dan evaluasi atas fenomena-
fenomena yang ada. Karena semua fenomena harus diteliti dan
dievaluasi terlebih dahulu sebelum melangkah lebih jauh ke proses
penalaran induktif, proses penalaran itu juga disebut sebagai corak
berpikir ilmiah. Namun, induksi tidak akan banyak manfaatnya jika
tidak diikuti oleh proses berpikir deduksi. Berpikir induktif ialah
menarik suatu kesimpulan umum dari berbagai kejadian (data) yang
ada di sekitarnya. Dasarnya adalah observasi. Proses berpikirnya
adalah sintesis. Tingkatan berpikirnya adalah induktif. Jadi jelas,
pemikiran semacam ini mendekatkan manusia pada ilmu
pengetahuan.
Tepat atau tidaknya kesimpulan (cara berpikir) yang diambil secara
induktif ini terutama bergantung pada representatif atau tidaknya

8
sampel yang diambil, yang mewakili fenomena keseluruhan. Makin
besar jumlah sampel yang diambil, makin representatif dan makin
besar taraf validitas dari kesimpulan itu, demikian juga sebaliknya.
Taraf validitas kebenaran kesimpulan itu masih ditentukan pula oleh
objektivitas dari si pengamat dan homogenitas dari fenomena-
fenomena yang diselidiki (Purwanto, 1998).

c. Berpikir Evaluatif
Berpikir evaluatif ialah berpikir kritis, menilai baik-buruknya, tepat
atau tidaknya suatu gagasan. Dalam berpikir evaluatif, kita tidak
menambah atau mengurangi gagasan. Kita menilainya menurut
kriteria tertentu (Rakhmat, 1994). Perlu diingat bahwa jalannya
berpikir pada dasarnya ditentukan oleh berbagai macam faktor.
Suatu masalah yang sama mungkun menimbulkan pemecahan yang
berbeda-beda pula. Adapun faktor- faktor yang mempengaruhi
jalannya berpikir itu antara lain, yaitu bagaimana seseorang melihat
atau memahami masalah tersebut, situasi yang tengah dialami
seseorang dan situasi luar yang dihadapi, pengalaman-pengalaman
orang tersebut, serta bagaimana intelegensi orang itu.

Selain jenis-jenis berpikir yang telah disebutkan di atas, masih ada pendapat
lain dari beberapa ahli.
a. Morgan dkk. (1986, dalam Khodijah, 2006) membagi dua jenis berpikir,
yaitu;
Berpikir autistik (autistic thinking) yaitu proses berpikir yang
sangat pribadi menggunakan simbol-simbol dengan makna yang
sangat pribadi, contohnya mimpi.
Berpikir langsung (directed thinking) yaitu berpikir untuk
memecahkan masalah.
b. Menurut Kartono (1996, dalam Khodijah, 2006) ada enam pola berpikir,
yaitu :

9
Berpikir konkrit, yaitu berpikir dalam dimensi ruang, waktu, dan
tempat tertentu.
Berpikir abstrak, yaitu berpikir dalam ketidakberhinggaan, sebab
bisa dibesarkan atau disempurnakan keluasannya.
Berpikir klasifikatoris, yaitu berpikir menganai klasifikasi atau
pengaturan menurut kelas-kelas tingkat tertentu.
Berpikir analogis, yatiu berpikir untuk mencari hubungan
antarperistiwa atas dasar kemiripannya
Berpikir ilmiah, yaitu berpikir dalam hubungan yang luas dengan
pengertian yang lebih komplek disertai pembuktian-pembuktian.
Berpikir pendek, yaitu lawan berpikir ilmiah yang terjadi secara
lebih cepat, lebih dangkal dan seringkali tidak logis.
c. Menurut De Bono (1989 dalam Khodijah, 2006:119) mengemukakan dua
tipe berpikir, sebagai berikut:
Berpikir vertikal, (berpikir konvergen) yaitu tipe berpikir
tradisional dan generatif yang bersifat logis dan matematis dengan
mengumpulkan dan menggunakan hanya informasi yang relevan.
Berpikir pendek Berpikir lateral (berpikir divergen) yaitu tipe
berpikir selektif dan kreatif yang menggunakan informasi bukan
hanya untuk kepentingan berpikir tetapi juga untuk hasil dan dapat
menggunakan informasi yang tidak relevan atau boleh salah dalam
beberapa tahapan untuk mencapai pemecahan yang tepat.

10
BAB 2. PROSES BERPIKIR

2.1 Definisi Ide

Gagasan atau ide adalah istilah yang dipakai baik secara populer
maupun dalam bidang filsafat dengan pengertian umum "citra mental" atau
"pengertian". Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ide/gagasan
adalah rancangan yang tersusun di pikiran. Artinya sama dengan cita-cita.
Gagasan dalam kajian Filsafat Yunani maupun Filsafat Islam menyangkut
suatu gambaran imajinal utuh yang melintas cepat. Misalnya: gagasan tentang
sendok, muncul dalam bentuk sendok yang utuh di pikiran. Selama gagasan
belum dituangkan menjadi suatu konsep dengan tulisan maupun gambar yang
nyata, maka gagasan masih berada di dalam pikiran. Gagasan menyebabkan

11
timbulnya konsep, yang merupakan dasar bagi segala macam pengetahuan,
baik sains maupun filsafat.

2.2 Proses Berpikir


Proses berpikir adalah kemampuan menggunakan akal menjalankan proses
pemikiran / kemahiran berpikir. Seseorang yang memperolehi kemahiran berpikir
sanggup dan cakap dalam menyusun perbincangan, konsep atau ide secara yang
teratur dan membuat kesimpulan atau keputusan yang tepat untuk tindakan yang
terarah dan sewajarnya.

Konsep Berpikir
Edward de Bono ( 1976 )
Kemahiran berpikir ini membolehkan manusia melihat pelbagai perspektif
untuk menyelesaikan masalah dalam sesuatu situasi tertentu.
Dewey ( 1910 ) menegaskan :
Pemikiran yang dihasilkan adalah kerana terdapat situasi keraguan atau
masalah tertimbul. Pemikiran merupakan aktiviti psikologikal dalam sesuatu
proses yang dialami untuk digunakan menyelesaikan masalah dalam situasi
yang dihadapi.

Jika berpikir selalu melibatkan suatu masalah, maka proses berpikir dalam
menyelesaikan masalah seharusnya ada beberapa hal di bawah ini (Ahmadi,
2009):
- Ada minat untuk menyelesaikan masalah
- Memahami tujuan pemecahan masalah
- Mencari kemungkinan-kemungkinan pemecahan masalah
- Menentukan kemungkinan mana yang digunakan
- Melaksanakan kemungkinan yang dipilih untuk memecahkan masalah

Proses atau jalannya berpikir itu pada pokoknya ada 4 langkah, yaitu:

12
1. Pembentukan Pengertian atau lebih tepatnya disebut pengertian logis
dibentuk melalui tiga tingkatan, sebagai berikut:
Menganalisis ciri-ciri dari sejumlah objek yang sejenis. Objek
tersebut kita perhatikan unsur - unsurnya satu demi satu. Kita ambil
manusia dari berbagai bangsa lalu kita analisa ciri-ciri misalnya,
manusia Indonesia, ciri - cirinya: makhluk hidup, berbudi, berkulit
sawo matang, berambut hitam, dan untuk manusia Eropa, ciri-
cirinya: mahluk hidup, berbudi, berkulit putih, berambut pirang atau
putih, bermata biru terbuka.
Membanding-bandingkan ciri tersebut untuk diketemukan ciri - ciri
mana yang sama, mana yang tidak sama, mana yang selalu ada dan
mana yang tidak selalu ada mana yang hakiki dan mana yang tidak
hakiki.
Mengabstraksikan, yaitu menyisihkan, membuang, ciri-ciri yang
tidak hakiki, menangkap ciri-ciri yang hakiki. Pada contoh di atas
ciri - ciri yang hakiki itu ialah: makhluk hidup yang berbudi.
2. Pembentukan Pendapat, yaitu menggabungkan atau memisah beberapa
pengertian menjadi suatu tanda yang khas dari masalah itu. Pendapat
dibedakan menjadi tiga macam:
1. Pendapat Afirmatif (positif), yaitu pendapat yang secara tegas
menyatakan sesuatu, misalnya si Ani itu rajin, si Totok itu pandai,
dsb.
2. Pendapat Negatif, yaitu pendapat yang secara tegas menerangkan
tidak adanya sesuatu sifat pada sesuatu hal, misalnya si Ani tidak
marah, si Totok tidak bodoh, dsb.

3. Pendapat Modalitas (kebarangkalian), yaitu pendapat yang


menerangkan kemungkinan-kemungkinan sesuatu sifat pada suatu
hal, misalnya hari ini mungkin hujan, si Ali mungkin tidak datang,
dsb.

13
3. Pembentukan Keputusan, yaitu menggabung-gabungkan pendapat
tersebut. Keputusan adalah hasil perbuatan akal untuk membentuk
pendapat baru berdasarkan pendapat-pendapat yang telah ada. Ada tiga
macam keputusan, yaitu:
1. Keputusan dari pengalaman-pengalaman, misalnya: kemarin paman
duduk dikursi yang panjang, masjid dikota kami disebelah alun-
alun, dsb.
2. Keputusan dari tanggapan-tanggapan, misalnya: anjing kami
menggigit seorang kusir, sepeda saya sudah tua, dsb.
3. Keputusan dari pengertian-pengertian, misalnya: berdusta adalah
tidak baik, bunga itu indah, dsb.
4. Pembentukan Kesimpulan, yaitu menarik keputusan dari keputusan-
keputusan yang lain.

Menurut Dewey (1933) dalam bukunya How We Think proses berpikir dari
manusia normal mempunyai urutan berikut:
o Timbul rasa sulit, baik dalam bentuk adaptasi terhadap alat, sulit mengenal
sifat, ataupun dalam menerangkan hal-hal yang muncul secara tiba-tiba
o Kemudian rasa sulit tersebut diberi definisi dalam bentuk permasalahan
o Timbul suatu kemungkinan pemecahan yang berupa reka-reka, hipotesa,
inferensi atau teori
o Ide-ide pemecahan diuraikan secara rasional melalui pembentukan implikasi
dengan jalan mengumpulkan bukti-bukti (data)
o Menguatkan pembuktian tentang ide-ide di atas dan menyimpulkannya baik
melalui keterangan-keterangan ataupun percobaan-percobaan.

Sedangkan menurut Kelly (1930) dalam bukunya The Scientific Versus The
Philosophic Approach to The Novel Problem proses berpikir menuruti langkah-
langkah berikut:
o Timbul rasa sulit
o Rasa sulit tersebut didefinisikan
o Mencari suatu pemecahan sementara

14
o Menambah keterangan terhadap pemecahan tadi yang menuju kepada
kepercayaan bahwa pemecahan tersebut adalah benar
o Melakukan pemecahan lebih lanjut dengan verifikasi eksperimental
(percobaan)
o Mengadakan penilaian terhadap penemuan-penemuan eksperimental menuju
pemecahan secara mental untuk diterima atau ditolak sehingga kembali
menimbulkan rasa sulit
o Memberikan suatu pandangan ke depan atau gambaran mental tentang situasi
yang akan datang utnuk dapat menggunakan pemecahan tersebut secara tepat.

2.3 Problem Solving


Problem Solving atau Pemecahan Masalah adalah kemampuan berpikir
yang utama karena hal itu meliputi cara berpikir yang lainnya: berpikir kreatif dan
analitis untuk pembuatan keputusan.
1. Berpikir Kreatif, adalah berpikir yang memberikan perspektif baru atau
menangkap peluang baru sehingga memunculkan ide-ide baru yang belum
pernah ada. Kreatif tidak hanya demikian tetapi kreatif juga sebuah
kombinasi baru yaitu kumpulan gagasan baru hasil dari gagasan-gagasan
lama.menggabungkan beberapa gagasan menjadi sebuah ide baru yang lebih
baik.
2. Berpikir Analitis, adalah berpikir yang menggunakan sebuah tahapan atau
langkah-langkah logis. Langkah berpikir analitis ialah dengan menguji
sebuah pernyataan atau bukti dengan standar objektif, melihat bawah
permukaan sampai akar-akar permasalahan, menimbang atau memutuskan
atas dasar logika.
Kedua cara ini tidak saling bertentangan, tetapi saling melengkapi sesuai
konteksnya. Sebagai contoh Anda perlu berpikir kreatif dalam memecahkan
sebuah persoalan, namun anda juga perlu berpikir Analitis untuk memutuskan
mana yang terbaik diantara kemungkinan kreatif anda.
Adapun proses pemecahan masalah sebagai berikut:
1. Penafsiran Masalah : Disebut juga dengan mendefinisikan masalah dengan
cara berpikir kreatif

15
2. Strategi Pemecahan Masalah : Membuat seleksi terhadap strategi
pemecahan masalah yang terbaik
Beberapa strategi pemecahan masalah yang sering digunakan:
Trial and error : memakan waktu yang lama
Informational Retrieval yaitu mendapatkan kembali informasi untuk
pemecahan masalah dengan cepat
Algoritma yaitu suatu metode pemecahan masalah yang menjamin suatu
pemecahan masalah jika tersdia kesempatan bagi seseorang untuk
mengembangkannya
Heuristic yaitu membantu untuk menyederhanakan masalah, dipengaruhi
oleh pengalaman masa lalu. Ada empat metode Heuristic yaitu:
Hill Climbing
Suatu stategi Heuristic dimana setiap langkah menggerakkan secara
progersif untuk lebih dekat pada tujuan akhir.
Subgoals
Metode pemecahan suatu masalah dengan menjadikannya lebih kecil
atau menjadi bagian-bagian, dimana-mana masing-masing tersebut
bertujuan untuk mempermudah pemecahan.

Mean and Analysis


Suatu stategi Heuristic yang sasarannya untuk mengurangi perbedaan
antara situasi yang terjadi dengan tujuan yang diinginkan melalui
perantara suatu cara
Working Backward
Suatu stategi Heuristic dimana kita harus bergerak mundur dari tujuan
kita dalam keadaan-keadaan tertentu

Proses berfikir dinyatakan dalam bentuk bicara dan menulis. Kita harus
dapat membedakan antara gangguan berbicara dan berbahasa dengan gangguan
dalam proses berfikir. Sebelum menyatakan gangguan proses berfikir harus
disingkirkan adanya gangguan berbicara dan berbahasa lain. Tiga kriteria dapat
dipakai untuk membantu mengevaluasi proses berfikir, yaitu konsep, tightness of

16
association dan goal directedness. Proses berfikir dibagi menjadi proses atau
bentuk dan isi. Proses atau bentuk menunjukkan dimana seseorang dapat
menyatukan ide dan asosiasi dalam bentuk pikirnya. Proses pikir atau bentuk pikir
dapat logis dan koheren atau tak logis bahkan tidak dapat dipahami sama sekali
(inkomprehensibel). Bentuk proses berfikir dinilai dari produktivitas dan
kontinuitasnya atau arus berpikirnya. Isi menunjuk pada apa yang sesungguhnya
menjadi pemikiran seseorang tentang ide-idenya, kepercayaannya atau
keyakinannya, preokupasinya, dan obsesinya.

2.4 Daerah Asosiasi


Daerah motorik, sensorik, dan bahasa membentuk sekitar separuh dari
korteks serebri total. Daerah sisanya yang disebut daerah asosiasi, terlibat dalam
fungsi-fungsi luhur. Terdapat tiga daerah asosiasi:
1. Korteks asosiasi prefrontal
Bagian depan lobus frontalis tepat anterior dari korteks pramotor. Ini
adalah bagian otak yang mempunyai ide cemerlang. Secara spesifik, peran
yang dikaitkan dengan bagian ini adalah (1) perencanaan aktivitas volunter;
(2) pengambilan keputusan (yaitu, menimbang akibat dari tindakan yang
dilakukan dan memilih antara berbagai opsi untk beragam situasi sosial dan
fisik); (3) kreativitas; dan (4) sifat kepribadian. Untuk melaksanakan fungsi
saraf tingkat paling tinggi ini, korteks prefrontal adalah tempat bekerjanya
ingatan sementara, dimana otak secara temporer menyimpan dan secara
aktif memanipulasi informasi yang digunakan untuk berfikir dan membuat
rencana.
2. Korteks asosiasi parietal-temporal-oksipital
Korteks asosiasi parietal-temporal-oksipital terletak di pertemuan
antara ketiga lobus yang menjadi asal namanya. Di lokasi yang strategik ini,
daerah ini mengumpulkan dan mengintegrasikan sensasi somatik,
pendengaran, dan penglihatan yang diproyeksikan dari ketiga lobus ini
untuk pemrosesan yang lebih kompleks. Bagian ini memungkinkan
seseorang memperoleh gambaran yang tepat tentang hubungan berbagai
tubuh dengan dunia luar. Sebagai contoh, bagian ini mengintegrasikan

17
informasi penglihatan dengan input proprioseptif agar dapat menempatkan
apa yang dilihat dalam perspektif yang benar, misalnya menyadari bahwa
sebuag botol terletak tegak tanpa bergantung pada sudur penglihatan (yaitu,
apakah anda sedang berdiri, berbaring, atau bergantung terbalik di dahan
pohon). Bagian ini berperan dalam jalur bahasa yang menghubungkan
daerah Wernicke ke korteks penglihatan dan pendengaran.
3. Korteks asosiasi limbik
Korteks asosiasi limbik terletak terutama di bagian paling bawah dan
berbtasan dengan bagian dalam lobus temporalis. Daerah ini bagian dalam
kedua lobus temporalis. Daerah ini terutama berkaitan dengan motivasi dan
emosi serta berperan besar dalam ingatan (Sherwood, 2012).

BAB 3. GANGGUAN PROSES BERFIKIR

Proses berpikir meliputi proses pertimbangan (judgement), pemahaman


(comprehension), ingatan serta penalaran (reasoning). Proses berpikir yang
normal mengandung arus ide, simbol, dan asosiasi yang terarah kepada tujuan dan
yang dibangkitkan oleh suatu masalah atau tugas dan yang menghantarkan kepada
suatu penyelesaian yang berorientasi kepada kenyataan.
Berbagai macam faktor mempengaruhi proses berpikir diantaranya:
(1) faktor somatik (gangguan otak, kelelahan); (2) faktor psikologik (gangguan
emosi, psikosa); dan (3) faktor sosial (kegaduhan dan keadaan sosial yang lain)
yang sangat mempengaruhi perhatian atau konsentrasi si individu. Kita dapat
membedakan tiga aspek proses berpikir, yaitu: bentuk pikiran, arus pikiran dan isi
pikiran, ditambah dengan pertimbangan. Gangguan bentuk pikiran: dalam
kategori ini termasuk semua penyimpangan dari pemikiran rasional, logik dan
terarah kepada tujuan.

A. Bentuk Pikir
Gangguan bentuk pikir merupakan penyimpangan dari pikiran rasional,
logik, dan terarah kepada tujuan.

18
1. Pikiran dereistik : tidak sesuai dengan atau tidak mengikuti kenyataan,
logika, dan pengalaman (tidak ada sangkut paut antara proses mental
individu dan pengalamannya yang sedang berjalan). Sebagai contoh,
seorang kepala kantor pemerintah pernah mengatakan: Seorang pegawai
negeri dan warga-warga yang baik harus kebal korupsi, biarpun gaji tidak
cukup, biarpun keluarganya menderita, bila tidak tahan silahkan keluar...
atau seorang lain lagi: Kita harus memberantas perjudian dan pelacuran,
karena hal-hal ini merupakan exploitation de Ihomme par Ihomme,
homo homini lupus, machiavellisme. Karena itu segala bentuknya harus
dikikis habis tanpa kecuali....
2. Pikiran autistik : bentuk pikiran dari dalam penderita itu sendiri dalam
bentuk lamunan, fantasi, waham, atau halusinasi. Hal ini hanya akan
memuaskan keinginan yang tidak terpenuhi tanpa memperdulikan
keadaan sekitarnya, hidup dalam alam pikirannya sendiri. Kadang-kadang
istilah ini dipakai untuk bentuk dereistik.
3. Bentuk pikiran nonrealistik : bentuk pikiran yang sama sekali tidak
berdasarkan kenyataan atau realita, misalnya menyelidiki sesuatu yang
spektakuler/ revolusioner, mengambil kesimpulan yang aneh dan tidak
masuk akal. (Merupakan gejala yang menonjol pada skizofrenia
hebefrenik di samping tingkah laku kekanak-kanakan).

Gangguan kontinuitas dinilai relevan/irelevan (isi pikiran atau ucapan yang


tidak ada hubungannya dengan pertanyaan atau dengan hal yang sedang
dibicarakan), goal directed atau tidak (berbicara dengan terarah pada tujuan) logis
atau tidak (berbicara sesuai logika). Gangguan kontinuitas yang tampak dalam
arus pikiran, yaitu tentang cara dan lajunya proses asosiasi dalam pemikiran.
Terdapat berbagai jenis:
1. Perseverasi: pengulangan yang diluar konteks dari kata-kata, frasa atau
ide, berulang-ulang menceritakan suatu ide, pikiran atau tema secara
berlebihan. Seperti contoh: Nanti besok saya pulang, ya saya sudah
kangen rumah, besok saya sudah berada dirumah, sudah makan enak di

19
rumah sendiri, ya pak dokter, satu hari lagi saya nanti sudah bisa tidur
di rumah, besok ayah akan datang mengambil saya pulang....
2. Benturan/penghalangan (blocking): jalan pikiran tiba-tiba berhenti atau
berhenti di tengah sebuah kalimat. Terjadi hambatan yang tiba-tiba dari
proses pikir dalam mengeluarkan arus ide. Pasien tidak dapat
menerangkan mengapa ia berhenti.
3. Tangensial: memberikan jawaban yang sesuai dengan topik umum
tetapi tidak secara langsung menjawab pertanyaannya, misalnya
Apakah ada gangguan dalam tidur Anda semalam ?, Saya biasanya
tidur di tempat tidur, tetapi sekarang saya tidur di sofa.
4. Pikiran berputar-putar (circumstantiality): secara tidak langsung
menuju kepada ide pokok dengan menambahkan banyak hal yang
remeh-remeh, menjemukan dan tidak relevan.
5. Rambling: menceritakan dengan bertele-tele.
6. Logorea: banyak bicara, kata-kata yang dikeluarkan bertubi-tubi tanpa
kontrol, mungkin koheren ataupun inkoheren.
Penilaian lain pada produktivitas dapat berupa: overbundance (berfikir
berlebihan), rapid thinking (proses pikir berjalan cepat), slow thingking (proses
pikir yang lambat), hesitant thinking (proses pikir yang ragu-ragu), poverty of
thingking (kemiskinan isi atau ide pikiran) bahkan sampai vague-empty (tidak
jelas dan kosong), break through thingking (pikiran terobosan).

B. Arus Pikir
Adalah lajunya proses asosiasi dalam pikiran, arah permasalahan, cara
gagasan, dan bahasa yang dibentuk. Pemeriksa menemukan gangguan dari apa
dan bagaimana penderita berbicara, menulis, atau menggambar. Pemeriksa juga
menilai proses pikir penderita dengan mengamati perilaku penderita, khususnya
dalam melakukan tugas tertentu, dalam terapi kerja occupational therapy.
Gangguan arus dari proses pikir dapat berubah flight of ideas (pikiran melayang):
perubahan yang mendadak dan cepat dalam pembicaraan, sehingga suatu ide yang
belum selesai diceritakan sudah disusul oleh ide lain atau proses pikir yang tidak

20
dapat mengarah pada tujuan karena distractibility.Sebagai contoh pasien pernah
bercerita sebagai berikut: Waktu saya datang ke rumah sakit kakak saya baru
mendapat rebewes, lalu untung saya pakai kemeja biru, hingga pak dokter
menanyakan kalau sudah makan.... Contoh lain: Saya kesini berjalan kaki.
Tetapi kaki saya terluka saat saya jogging. Menurut Anda apakah jogging baik
untuk saya ?. Itu tidak menolong terhadap infark jantung, aspirin mungkin lebih
baik. Tetapi saya tidak senang minum obat. Obat dan kriminalitas sama saja.
Penggangguan arus pikir, yaitu pikiran mereka sering tidak dapat
dimengerti oleh orang lain dan tidak logis, ciri-cirinya :
1. Asosiasi longgar, asosiasi derailment atau tangensial adalah arus pikir
tentang ide penderita yang tidak saling berkaitan. Idenya dapat melompat
dari satu topik ke topik lain sehingga membingungkan pendengar misal,
dipertengahan kalimat. Sebagai contoh: Saya mau makan. Semua orang
dapat berjalan. Bila ekstrim akan terjadi inkoherensi. Asosiasi yang
snagat longgar dapat didengar dari uccapan seorang penderita sebagai
berikut: ...saya yang menjalankan mobil kita harus membikin tenaga
nuklir dan harus minum es krim....
2. Overinklusif adalah arus pikiran tentang sering dimasuki informasi yang
tidak relevan secara terus menerus.
3. Neologisme adalah arus pikiran tentang menciptakan kata-kata baru yang
bagi dirinya mengandung arti simbolik.
4. Bloking adalah arus pikiran dari pembicaraan yang tiba-tiba berhenti
sering pada pertengahan kalimat dan disambung kembali beberapa saat
atau beberapa menit kemudian, biasanya dengan topic yang lain. Ini
menunjukkan bahwa ide penderita diinterupsi missal, oleh halusinasi.
Penderita-penderita sangan mudah dialihkan perhatiannya dan sulit
memusatkan perhatian.
5. Clanging adalah arus pikiran tentang memilih kata-kata dan tema berikut
berdasarkan bunyi kata-kata yang terakhir yang diucapkan dan bukan isi
pikiran misal, kemarin saya pergi ke toko kemari saya pergi ke took

21
denderira melihat di sekitaya dam kemudisan berkata, saya kira saya
lebih baik dari Eko.
6. Ekolalia adalah arus pikir yang mengulang kata kata atau kalimat yang
baru saja diucapkan oleh seseorang, dengan gaya nusikal dan lagu tapi
tanpa upaya yang jelas untuk berkomunikasi.
7. Konkritisasi adalah arus pikiran yang dengan menggunakan IQ rata-rata
normal atau lebih tinggi, padahal kemampuan berfikir abstraknya buruk.
8. Alogia adalah arus pikiran tentang berbicaranya yang sangat sedikit tetapi
tidak sengaja, miskin pembicaraan atau dapat berbicara dengan jumlah
normal tetapi dengan isi pembicaraannya sedikit, miskin isi pembicaraan.
9. Perseverasi adalah arus pikiran tentang berulang-ulang menceritakan suatu
ide pikiran atau tema secara berlebihan.
10. Inkoherensi adalah arus pikiran tentang bicara satu kalimatpun sukat
ditangkap atau diikuti maksudnya, itu boleh dikatakan asosiasi longgar
yang ekstrim.
11. Kecepatan bicara adalah arus pikiran tentang dalam bicara mengutarakan
pikiran mungkin lambat sekali atau sangat cepat.
12. Logorea adalah arus pikiran tentang bicara, kata-kata yang dikeluarkan
bertubi-tubi tanpa control, mungkin koherent ataupun incoherent.
13. Pikiran melayang flight of idea adalah arus pikiran tentang perubahan
yang mendadak lagi cepat dalam pembicaraan, sehingga suatu ide yang
belum selesai diceritakan sudah disusul dengan ide yang lain.
14. Asosiasi bunyi clang association adalah arus pikiran tentang
mengungkapkan perkataan yang mempunyai persamaan bunyi.
15. Irrelevansi adalah arus pikiran tentang ucapan yang tidak ada
hubungannya dengan pernyataan atau dengan hal yang sedang dibicarakan.
16. Pikiran berputar-putar cirkumstansialitas adalah arus pikiran tentang
dalam mengatakan sesuatu secara tidak langsung kepada ide pokok,
dengan menambahkan banyak hal yang remeh-remeh yang menjemukan
dan tidak relevan.

22
17. Afasia adalah arus pikiran tentang afasi sensorik tidak atau sukar mengerti
pembicaraan orang lain atau afasi motoric tidak dapat atau sukar berbicara,
sering kedua-duanya sekaligus dan terjadi karena kerusakan otak.
18. Main-main dengan kata-kata adalah arus pikiran tentang mengajak
membuat sajak secara tidak wajar.

C. Isi Pikiran
Isi pikiran mencerminkan gagasan, keyakinan, dan interprestasi terhadap
stimuli. Dapat terjadi baik pada isi pikiran nonverbal, maupun isi pikiran yang
verbal misalnya :
1. Kegembiraan yang luar biasa atau ekstasi adalah isi pikiran tentang
kegembiraan yang luar biasa yang dapat timbul mengambang pada orang
normal pada fase permulaan saat narkosis pada anestesi umum. Boleh juga
disebabkan oleh narkotika (feeling high) atau (fligh) sebagai bahasanya para
narkotik atau kadang-kadang timbul sepintas lalu pada skizofrenia. Semua
mengatakan bahwa isi pikiran mereka itu tidak dapat diceritakan.
2. Fantasi adalah isi pikiran tentang suatu keadaan atau kejadian yang
diharapkan atau diinginkan, tetapi dikenalnya sebagai nyata. Fantasi yang
kreatif menyiapkan si individu untuk bertindak sesudahnya. Fantasi dalam
lamunan merupakan pelarian terhadap keinginan yang tidak dapat dipenuhi.
Pada pseudologia fantastika (pseudologia fantastica) orang itu percaya akan
kebenaran fantasinya secara inheren selama jangka waktu yang cukup lama
dan bertindak sesuai dengan itu.
3. Fobi adalah isi pikiran tentang rasa takut yang irrasional terhadap suatu benda
atau keadaan yang tidak dapat dihilangkan atau ditekan oleh penderita,
biarpun diketahui bahwa hal itu irrasional adanya. Fobi dapat mengakibatkan
kompulsi seperti pada fobi kotor atau fobi kuman menimbulkan kompulsi
cuci-cuci tangan. Ini perlu dibedakan dengan kecemasan yang mengambang
(free floating anxienty) atau kecemasan terhadap keadaan umum, misalnya
takut akan jatuh sakit, takut gagal dalam usahanya.
- Agorafobi : terhadap ruang yang luas

23
- Ailurofobi : terhadap kucing
- Akrofobi : terhadap tempat yang tinggi
- Algofobi : terhadap perasaan nyeri
- Astrafobi : terhadap badai, guntur, kilat
- Bakteriofobi : terhadap kuman
- Eritrofobi : terhadap mukanya akan jadi merah
- Hantufobi : terhadap hantu
- Hematofobi : terhadap darah
- Kankerofobi : terhadap penyakit kanker (cancerophobia)
- Klaustrofobi : terhadap ruangan yang tertutup
- Misofobi : terhadap kotoran dan kuman
- Monofobi : terhadap keadaan sendirian
- Niktofobi : terhadap keadaan gelap
- Okholofobi : terhadap keadaan ramai
- Panfobi : terhadap segala sesuatu
- Pathofobi : terhadap penyakit
- Pirofobi : terhadap api
- Sifilofobi : terhadap penyakit sifilis
- Sosiofobi : terhadap kerumunan orang
- Xenofobi : terhadap orang asing
- Zoofobi : terhadap binatang
4. Obsesi adalah isi pikiran yang kukuh persistent yang timbul, biarpun tidak
dikehendaki, dan diketahui bahwa isi pikiran itu tidak wajar atau tidak
mungkin, misalnya bahwa anaknya sedang sakit keras atau bahwa seorang
wanita menjadi hamil karena perbuatannya. Obsesi dapat menimbulkan
kompulsi, misalnya obsesi barangnya hilang menyebabkan kompulsi
membuka-buka kemari untuk melihat kalau barangnya ada di dalamnya.
5. Preokupasi adalah pikiran terpaku pada sebuah ide saja,
yang biasanya berhubungan dengan keadaan yang bernada emosional yang
kuat. Umpamanya preokupasi dengan ujian, anak yang sakit, atau perjalanan
yang akan dilakukan.

24
6. Pikiran yang tak memadai (inadequate) adalah pikiran yang eksentrik, tidak
cocok dengan banyak hal, terutama dalam pergaulan dan pekerjaan seseorang
7. Pikiran bunuh diri (suicidal thoughts/ideation): mulai dari kadang-kadang
memikirkan hal bunuh diri sampai terus menerus memikirkan akan cara
bagaimana ia dapat membunuh dirinya.
8. Pikiran bubungan (ideas of reference): pembicaraan orang lain, benda-benda
atau suatu kejadian dihubungkannya dengan dirinya, umpamanya burung
bersiul dianggap sebuah cerita baginya, atau temannya memakai kemeja yang
berwarna merah diartikannya bahwa teman itu sedang marah kepadanya,
(pasien mungkin sadar, bahwa pikirannya itu tidak masuk akal), radio
berbicara padanya.
9. Pikiran pengaruh (ideas of influence): pikiran atau keyakinan tentang orang
lain atau kekuatan lain mengontrol aspek dari perilaku seseorang.
10. Rasa terasing (alienasi): perasaan bahwa dirinya sudah menjadi lain,
berbeda,asing, umpamanya heran siapakah dia itu sebenarnya; rasanya ia
berbeda sekalidari orang lain; heran kenapa orang lain sudah berbeda,
menjadi asing, aneh. Ini dibedakan dari pikiran isolasi sosial dan dari
amnesia.
11. Pikiran isolasi sosial (social isolation): rasa terisolasi, tersekat, terkunci,
terpencil dari masyarakat, rasa ditolak, tidak disukai oleh orang lain, rasa
tidak ena bila berkumpul dengan orang lain, lebih suka menyendiri. Hal ini
dibedakan dengan menarik diri yang menunjukkan tingkah laku dari
isolasi sebagai mekanisme pembelaan psikologik.
12. Pikiran rendah diri: merendahkan, menghinakan dirinya sendiri,
menyalahkan dirinya tentang suatu hal yang pernah atau tidak pernah
dilakukannya.
13. Merasa dirugikan oleh orang lain: mengira ada orang lain yang telah
merugikannya, sedang mengambil keuntungan dari dirinya atau sedang
mencelakakaknnya.
14. Merasa dingin dalam bidang sexual: acuh tak acuh tentang hal sexual,
kegairahan sexual berkurang secara umum (hiposexualitas). Ini dibedakan
dari gangguan potensi sexual dan dari impotensi dan frigiditas.
15. Rasa salah: sering mengatakan bahwa ia bersalah. Ini bukan waham dosa.

25
16. Pesimisme: mempunyai pandangan yang suram mengenai banyak hal dalam
hidupnya.
17. Sering curiga: mengutarakan ketidakpercayaan kepada orang lain. Ini bukan
waham curiga.
18. Waham (delusi): keyakinan tentang suatu isi pikiran yang tidak sesuai dengan
kenyataannya atau tidak cocok dengan intelegensi dan latar belakang
kebudayaannya.
Mayer-Gross membagi waham dalam 2 kelompok yaitu waham primer
dan waham sekunder, waham sistematis atau tafsiran yang bersifat waham
(delusional interpretation). Waham primer timbul secara tidak logis sama
sekali, tanpa penyebab apa-apa dari luar. Menurut Mayer-Gross hal itu
hamper patognomonis buat skizofrenia. Misal istrinya sedang berbuat serong
sebab ia melihat seekor cicak. Waham sekunder biasanya logis
kedengarannya, dapat diikuti dan ini merupakan gejala-gejala skizofrenia
lain.
Seorang penderita dengan waham curiga, maka pola perilaku akan
menunjukkan kecurigaan terhadap perilaku orang lain, lebih-lebih orang yang
belum dikenalnya. Bisa terjadi kecurigaan kepada orang sekitarnya akan
meracuni atau membunuh dirinya. Ia bias membunuh orang karena
wahamnya kalau tidak ia kana dibunuh. Atau ia akan diracuni dan dibuat
celaka oleh orang yang dibunuhnya.
Waham adalah contoh yang paling jelas dari gangguan isi pikiran.
Waham dapat bervariasi pada penderita skizofrenia, waham kejar, kebesaran,
keagamaan, atau somatic. Waham adalah suatu keyakinan aneh missal,
mata saya adalah computer yang dapat mengontrol dunia atau bias pula tidak
aneh hanya sangat tidak mungkin, missal FBI mengikuti saya dan tetan
dipertahankan meskipun telah diperlihatkan bukti-bukti yang jelas untuk
mengoreksinya. Waham sering ditemui pada gangguan jiwa berat dan
beberapa bentuk waham yang spesifik sering ditemukan waham disorganisasi
dan waham tidak sistematis. Waham banyak jenisnya, antara lain :

26
Waham kejaran adalah keyakinan tentang ada orang atau komplotan
yang sedang mengganggunya atau keyakinan tentang ia sedang ditipu,
dimata-matai atau kejelekannya sedang dibicarakan orang banyak.
Waham somatik atau hipokondrik adalah keyakinan tentang sebagian
tubuhnya yang tidak benar, misalnya ususnya sudah busuk, otaknya
sudah cair, ada seekor kuda dalam perutnya.
Waham kebesaran adalah keyakinan tentang ia mempunyai kekuatan,
pendidikan, kepandaian atau kekayaan yang luar biasa, misalnya dirinya
adalah ratu adil, dapat membaca pikiran orang lain, mempunyai
puluhan rumah dan mobil.
Waham keagamaan adalah keyakinan tentang dirinya pemimpin dengan
tema-tema keagamaan.
Waham dosa adala keyakinan tentang dirinya telah berbuat dosa atau
kesalahan yang besar, yang tidak dapat diampuni atau keyakinan tetang
dirinya bertanggung jawab atas suatu kejadian yang tidak baik,
misalnya kecelakaan keluarga, karena pikirannya yang tidak baik.
Waham pengaruh adalah keyakinan tentang pikirannya, perbuatannya
diawasi atau dipengaruhi oleh orang lain atau oleh suatu kekuasaan
yang aneh.
Waham sindiran (ideas of reference) adalah merasa bahwa dirinya
dibicarakan orang lain.
Waham nihilistik adalah keyakinan bahwa dunia ini sudah hancur atau
bahwa ia sendiri dan atau orang lain sudah mati.
Tingkah laku yang dipengaruhi oleh waham: karena waham, maka ia
berbuat atau bertingkah laku demikian.
Ada juga waham kelompok, seperti pada folic a deux, yaitu kelompok 2
orang berwaham sama; folic a trois, 3 orang dan sebagainya.
19. Kekuatiran yang tidak wajar tentang kesehatan fisiknya: takut kalau-kalau
kesehatan fisiknya tidak sesuai lagi dengan keadaan badannya yang

27
sebenarnya.Termasuk baik prihatin tentang sebuah organ, maupun tentang
beberapa organtubuhnya (seperti pada nerosa hipokondrik).
20. Ide-ide tidak wajar: masih berupa ide ide dari proses berpikir yang tidak
sekukuh waham, dapat berupa ide hipokondrik, ide bunuh diri, ide
membunuh dan lain-lain.
21. Isi pikiran yang miskin (poverty of content): isi pikiran yang tidak kaya ide,
hanya minimal ide-idenya.
Dalam isi pikiran juga dinilai tentang mimpi dan fantasi. Menurut Freud,
mimpi adalah jalan ke arah unconscious seseorang. Mimpi yang berulang
mempunyai arti tertentu. Fantasi dan lamunan (daydreams) merupakan
sumber bahan unconscious yang berarti.
Gangguan pertimbangan: ada hubunganya dengan keadaan mental yang
menghindari kenyataan yang menyakitkan. Pertimbangan adalah kemampuan
mengevaluasi keadaan serta langkah yang dapat diambil, alternatif yang dapat
dipilih, atau kemampuan menarik kesimpulan yang wajar berdasarkan
pengalaman. Bila langkah atau kesimpulan yang diambil sesuai dengan
kenyataanya seperti yang dinilai dengan ukuran orang dewasa yang matang,
maka pertimbangan itu utuh, baik atau bermoral adanya. Sebaliknya bila
langkah atau kesimpulan itu tidak cocok dengan kenyataan, maka
pertimbangan itu terganggu, kurang baik atau abnormal adanya. Dalam
pemilihan alternatif mungkin juga orang lain sering keliru, bimbang, atau
tidak puas dengan pilihannya.
Gangguan ini dapat timbul dalam keadaan sebagai berikut:
- Dalam hubungan keluarga: dalam keluarga inti atau keluarga luas,
misalnya tidak insaf bahwa tingkah lakunya mengganggu keluarganya.
- Dalam hubungan sosial lain: merasa dirinya dirugikan atau dialang-
alangi secara terus menerus.
- Dalam pekerjaan: misalnya harapan yang tidak realistik mengenai
pekerjaannya.
- Dalam rencana untuk masa depan: pasien tidak mempunyai rancangan
apapun.

28
DAFTAR PUSTAKA

Kaplan, H.I., B.J., Sadock dan J.A., Grebb. 2010. Sinopsis Psikiatri. Terjemahan
Widjaja Kusuma. Jakarta: Binarupa Aksara

Kardis, S. 2013. Edan Skizofrenia Suatu Gangguan Jiwa.

Khodijah, N. 2006. Psikologi Belajar. Palembang: IAIN Raden Fatah Press

Maramis, W.F. dan A.A., Maramis. 2009. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi
dua. Surabaya: Airlangga University Press

Sherwood, L. 2012. Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem. Jakarta: EGC

Sobur, A. 2003. Psikologi Umum Dalam Lintasan Sejarah. Bandung: Pustaka


Setia

Suriasumantri, J.S. 1983. Psikologi Pendidikan. http://www.andragogi.com


[Diakses pada 12 Maret 2017]

29