Anda di halaman 1dari 23

0

UJIAN KASUS

ILMU KEDOKTERAN JIWA

Oleh:
Kurnia Elka Vidyarni
NIM 132011101079

Penguji:
dr. Alif Mardijana, Sp.KJ

SMF/LAB. PSIKIATRI RSD DR. SOEBANDI JEMBER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JEMBER
2017
1

UJIAN KASUS

disusun untuk melaksanakan tugas Kepaniteraan Klinik Madya


SMF/Lab. Psikiatri RSD dr. Soebandi Jember

Oleh:
Kurnia Elka Vidyarni
NIM 132011101079

Penguji:
dr. Alif Mardijana, Sp.KJ

SMF/LAB. PSIKIATRI RSD DR. SOEBANDI JEMBER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JEMBER
2017
UJIAN KASUS
ILMU KEDOKTERAN JIWA
RSD DR. SOEBANDI JEMBER
2

Nama : Kurnia Elka Vidyarni


NIM : 132011101079
Pembimbing : dr. Alif Mardijana, Sp.KJ

I. Identitas Pasien
Nama : Ny. S.A
Umur : 49 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Petani
Agama : Islam
Status Perkawinan : Sudah menikah
Suku Bangsa : Jawa
Alamat : Krajan I 3/2 Lembengan, Ledokombo,
Jember
No. Rekam Medis : 10879
Status Pelayanan : BPJS PBI
Tanggal Pemeriksaan : 23 Februari 2017, 25 Februari 2017,
03 Maret 2017

I. Anamnesis
Ruang IGD RSD dr. Soebandi Jember (23 Februari 2017)
II. Keluhan Utama:
Pasien berbicara sendiri tidak jelas dan teriak-teriak (menurut anak
pasien).
III. Riwayat Penyakit Sekarang
a. Autoanamnesis
Ketika pemeriksa datang pasien sedang tertidur setelah pasien diinjeksi
CPZ di IGD. Pasien sempat sadar sebentar dan berbicara tidak jelas dan
memegang tangan pemeriksa.

b. Heteroanamnesis
3

Anak pasien mengatakan bahwa sejak kemarin pukul 08.00 (22 Februari
2017) pasien tiba-tiba menggigil, menangis, dan berbicara sendiri. Dan pada
saat itu pasien juga marah-marah tidak jelas. Yang dibicarakan pasien adalah
menanyakan keadaan keluarga dan tetangganya yang sudah meninggal. Saat
itu pasien masih mengenali anggota keluarga. Keluarga juga menyebutkan
kalau pasien pernah mengatakan pernah melihat bayangan hitam besar. Pasien
juga sering menyendiri dan berdiam diri terus kira-kira 1 tahun terakhir. Lima
hari terakhir, pasien sering berdiam diri dalam kamar. Pasien tinggal di rumah
bersama suami, anak, menantu, dan cucunya yang masih TK. Sehari-hari
pasien hanya di rumah, kadang membantu mengasuh cucunya dan membantu
aktivitas di sawah. Sebelum pasien datang ke IGD pasien seperti gelisah,
berbicara sendiri, dan teriak-teriak, tetapi isi pembicaraannya tidak jelas dan
kata-kata yang keluar tidak dapat dipahami.

c. Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat penyakit lain disangkal. Penggunaan alkohol dan obat-obatan
disangkal.

d. Riwayat Pengobatan
Injeksi Chlorpromazine (CPZ) amp 50mg/2cc.
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada riwayat gejala gangguan jiwa.

f. Riwayat Sosial
1. Status : Sudah menikah, tinggal bersama suami, anak,
cucu, dan menantu
2. Pendidikan : SD (hanya sampai kelas 4)
3. Pekerjaan : Petani
4. Premorbid : Kepribadian tertutup
5. Faktor Organik : -
6. Faktor Keturunan : -
7. Faktor Pencetus : -
8. Faktor Psikososial : Hubungan dengan suami dan keluarga tidak
dekat

IV. Pemeriksaan (23 Februari 2017)


4

1. Status interna singkat


Keadaan umum : Lemah
Kesadaran : Stupor, GCS 3-4-5
Tensi : 126/80mmHg
Nadi : 100x/menit
Pernafasan : 20x/menit
Suhu : 36,4C

2. Pemeriksaan Fisik
Kepala leher : a/i/c/d = -/-/-/-
Jantung : ictus scordis tampak dan teraba pada ICS
5 anterior axila line, redup, S1S2 tunggal,
e/g/m = -/-/-
Paru paru : Simetris, retraksi -/-, fremitus n/n,
vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing -/-
Abdomen : Flat, BU (+) normal, timpani, soepel
Ekstremitas : Akral hangat di keempat ekstremitas
Tidak ada odema di keempat ekstremitas

3. Status Psikiatri
KU : Pasien datang diantar keluarga, tetapi
suami tidak ikut, pasien berpakaian
sesuai usia dan gender
Kontak : Mata (-), verbal (-)
Kesadaran : Kualitatif : stupor
Kuantitatif : 3-4-5
Afek/emosi : Gelisah
Proses berpikir : Bentuk : Sulit dievaluasi
Arus : Sulit dievaluasi
Isi : Sulit dievaluasi
Persepsi : Halusinasi visual (+)
Ilusi (-)
Depersonalisasi (-)
Derealisasi (-)
Intelegensi : Dalam batas normal
Kemauan : Menurun
Psikomotor : Meningkat
Tilikan : Insight 1 (sama sekali tidak menyadari
dan menyangkal penyakitnya)
5

V. Anamnesis
Ruang Tulip RSD dr. Soebandi Jember (25 Februari 2017).
VI. Keluhan Utama:
Pasien mengeluh tenggorokannya sakit dan kepalanya pusing.
VII. Riwayat Penyakit Sekarang
a. Autoanamnesis
Ketika pemeriksa datang ke ruangan, pasien sedang tiduran di atas bed.
Pasien sudah dapat diajak bicara walau sedikit kesulitan. Pasien mengeluhkan
tenggorakannya sakit dan susah untuk bicara. Pasien juga merasa
tenggorokannya sakit untuk makan sehingga hanya makan sedikit. Pasien
juga mengeluhkan kepalanya pusing seperti diikat.
Pasien baru hari ini dapat diajak berkomunikasi walau hanya minimal.
Pasien mengatakan pernah ada bayangan yang mengajaknya pergi ke makam
tetapi pasien selalu menolak dan bayangan itu sering muncul diatap rumah.
Pasien menyebutkan kalau bayangan itu mengajak pasien ke makam keluarga
dan tetangganya yang sudah meninggal dan karena itu pasien merasa
ketakutan.

b. Heteroanamnesis
Menurut anak pasien, pasien tidur nyenyak sejak MRS. Anak pasien
mengatakan keadaan pasien sudah jauh lebih tenang dan tidak marah-marah
lagi tetapi untuk bicara belum lancar dan pasien berbicara seperlunya saja.
Pasien bisa bilang mau makan, mau minum saat lapar dan haus. Pasien makan
masih harus disuapin dan makannya sedikit karena kata pasien
tenggorokannya sakit untuk menelan. Kemarin pasien juga sempat minta
ikatan di tangannya dilepas karena tangannya terasa sakit.

c. Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat penyakit lain disangkal. Penggunaan alkohol dan obat-obatan
disangkal.

g. Riwayat Pengobatan
Pasien mendapatkan pengobatan injeksi Lodomer amp 5 mg/cc (2x1) dan
injeksi Diazepam amp 10 mg/2cc (2x1).
6

h. Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada riwayat gejala gangguan jiwa.

i. Riwayat Sosial
Status : Sudah menikah, tinggal bersama suami, anak,
cucu dan menantu
Pendidikan : SD (hanya sampai kelas 4)
Pekerjaan : Petani
Premorbid : Kepribadian tertutup
Faktor Organik :-
Faktor Keturunan :-
Faktor Pencetus :-
Faktor Psikososial : Hubungan dengan suami dan keluarga tidak
dekat

VIII. Pemeriksaan (25 Februari 2017)


1. Status interna singkat
Keadaan umum : Cukup baik
Kesadaran : Composmentis, GCS 4-5-6
Tensi : 120/80mmHg
Nadi : 90x/menit
Pernafasan : 20x/menit
Suhu : 36,5C

4. Pemeriksaan Fisik
Kepala leher : a/i/c/d = -/-/-/-
Jantung : ictus scordis tampak dan teraba pada ICS
5 anterior axila line, redup, S1S2 tunggal,
e/g/m = -/-/-
Paru paru : Simetris, retraksi -/-, fremitus n/n,
vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing -/-
Abdomen : Flat, BU (+) normal, timpani, soepel
Ekstremitas : Akral hangat di keempat ekstremitas
Tidak ada odema di keempat ekstremitas

5. Status Psikiatri
KU : Pasien memakai kaos pendek sesuai usia
dan gender dan berselimut
Kontak : Mata (+), verbal (+) minimal, tidak
lancar
7

Kesadaran : Kualitatif : composmentis, berubah


Kuantitatif : 4-5-6
Afek/emosi : Dangkal
Proses berpikir : Bentuk : Nonrealistik
Arus : Inkoheren
Isi : Waham (-)
Preokupasi terhadap bayangan
Persepsi : Halusinasi visual (+)
Ilusi (-)
Depersonalisasi (-)
Derealisasi (-)
Intelegensi : Dalam batas normal
Kemauan : Menurun
Psikomotor : Dalam batas normal
Tilikan : Insight 1 (sama sekali tidak menyadari
dan menyangkal penyakitnya)

IX. Anamnesis
Rumah pasien di Lembengan, Ledokombo, Jember (03 Maret 2017)
a. Keluhan Utama
Pasien merasa buram saat melihat benda yang jaraknya jauh.
b. Riwayat Penyakit Sekarang
a. Autoanamnesis
Saat pemeriksa datang ke rumah, pasien selesai sholat ashar. Pasien
memakai baju panjang dan berjilbab rapi. Pasien menyapa pemeriksa lalu
berjabat tangan dengan pemeriksa dan duduk di samping pemeriksa. Pasien
mengatakan badannya sudah mulai membaik, pasien sudah tidak melihat
bayangan hitam besar yang pernah mengajaknya pergi ke makam keluarga
dan tetangganya yang sudah meninggal. Tetapi pasien masih khawatir kalau
bayangan hitam itu datang lagi. Karena setiap bayangan hitam itu datang
selalu mengajak pasien pergi ke makam keluarga dan tetangganya yang sudah
meninggal. Dan karena bayangan itu pasien merasakan rumahnya seperti ada
gempa, bergetar semua. Selain itu pasien mengatakan kalau melihat benda
yang berjarak jauh seperti buram. Hal ini tidak pernah dirasakan pasien
sebelumnya dan hal ini dirasakan pasien baik siang ataupun malam hari. Saat
ditanya pasien mengingat bahwa seminggu yang lalu dibawa ke RS
8

dr.Soebandi. Sebelumnya pasien merasa seperti ada gempa di rumah dan


melihat bayangan hitam besar diatap rumah.
Pasien mengatakan bahwa badan dan pikirannya sudah mulai membaik.
Pasien selalu menyangkal kalau dibilang dirinya sakit. Untuk obat Clozapine
sudah 3 hari tidak diminum oleh pasien karena pahit ditenggorokan dan
walaupun tidak minum obat tersebut menurut pasien badanya merasa tetap
membaik. Pasien tidur nyenyak tanpa terbangun pada tengah malam. Pasien
tidur setelah minum obat kira-kira pukul 09.00 dan selalu bangun pukul
03.00. Pasien sholat tahajud saat pasien bangun pagi dan pasien tidak tidur
lagi karena menunggu sholat subuh. Pasien sholat subuh ke masjid yang
berjarak tidak jauh dari rumah dan pasien jalan kaki karena menurut pasien
jalan kaki itu salah satu olahraga. Pasien pergi ke masjid sendiri tanpa
ditemani anak, menantu ataupun cucunya. Kemarin sepulang dari masjid
pasien merasa menggigil karena hawa dingin dan setelah masuk rumah pasien
merasa tidak menggigil lagi.
Pasien dapat makan tanpa disuapin dengan porsi sedikit karena nafsu
makannya tidak menentu dan kadang pasien merasa tenggorokannya pahit.
Pasien makan masakan yang telah dimasakkan oleh anaknya. Saat pemeriksa
home visit pasien mempersilahkan pemeriksa untuk menikmati hidangan yang
sudah disiapkan oleh anaknya. Selama percakapan sesekali pasien menaikkan
kakinya diatas kursi dan saat dilihat oleh pemeriksa langsung diturunkan.
Pasien kadang menjawab pertanyaan pemeriksa dengan jeda yang agak lama.
Pasien memakai bahasa Madura. Pada saat ada tetangganya yang datang saat
itu, pasien juga menyapa tetangganya dan menanyakan kabar tetangganya
tersebut.

b. Heteroanamnesis
Menurut anak pasien, pasien sudah mulai membaik sejak KRS. Pasien
sudah mau beraktivitas walau belum pergi ke sawah. Aktivitas pasien hanya
di rumah, duduk, menonton tv, dan kadang membantu membereskan rumah
bersama anaknya. Pasien memang tipe orang pendiam. Pasien jarang bertamu
9

ke tetangga dan selama ini juga tidak pernah cerita kepada suami, anak,
maupun menantunya kalau ada masalah. Pasien sudah tidak marah-marah lagi
tetapi pasien lebih sering berdiam diri. Sudah kira-kira 1 tahun pasien
sering diam dan menyendiri dan saat ditanya anaknya pasien juga tidak
mengeluhkan ada masalah dengan siapapun baik keluarga maupun
tetangganya. Pasien tinggal di rumah bersama suami, anak, menantu, dan
cucunya. Menurut anak dan saudara pasien, hubungan pasien dengan suami,
anak, menantu, cucu, saudara, dan tetangga baik. Memang sebelum sakit
pasien bukan tipe orang yang giat bekerja, sehingga kalau tidak pergi ke
sawah pasien hanya berdiam diri di rumah. Pada saat pemeriksa home visit
suami pasien sedang tidak berada di rumah. Anak pasien juga mengatakan
saat seminggu yang lalu pasien dibawa ke RS dr. Soebandi adalah nasihat
kyai karena walaupun pasien sudah dirukiyah menurut kyai penyakit pasien
bukan karena hal-hal gaib tetapi karena penyakit lain yang harus mendapat
pengobatan dokter.
Pasien dapat makan sendiri tanpa disuapin tetapi makannya sedikit.
Pasien sering menolak makan banyak karena tenggorokannya pahit. Sejak
KRS pasien mandi hanya satu kali setiap hari karena kalau sore hawanya
dingin. Saat pasien pergi ke sungai yang berada di belakang rumah untuk
buang air pasien selalu minta ditemani oleh anaknya. Untuk mandi pasien
dapat melakukannya sendiri karena ada tempat untuk mandi di belakang
dapur.

a. Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat penyakit lain disangkal. Penggunaan alkohol dan obat-obatan
disangkal.

b. Riwayat Pengobatan
Pasien mendapatkan pengobatan berupa Risperidone tab 2 mg 2x1,
Thrihexyphenidyl tab 2 mg 2x1, dan Clozapine tab 25 mg 1x1. Tiga hari terakhir
pasien tidak mau minum Clozapine dikarenakan menurut pasien terasa pahit
ditenggorokan setelah minum obat tersebut.
10

c. Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada riwayat gejala gangguan jiwa.

d. Riwayat Sosial
Status : Sudah menikah, tinggal bersama suami,
anak, cucu, dan menantu
Pendidikan : SD (hanya sampai kelas 4)
Pekerjaan : Petani
Premorbid : Kepribadian tertutup
Faktor Organik : -
Faktor Keturunan : -
Faktor Pencetus : -
Faktor Psikososial : Hubungan dengan suami dan keluarga
tidak dekat

c. Pemeriksaan (03 Maret 2017)


1. Status interna singkat
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis, GCS 4-5-6
Tensi : 100/70 mmHg
Nadi : 82x/menit
Pernafasan : 20x/menit
Suhu : 36,5C

2. Pemeriksaan Fisik
Kepala leher : a/i/c/d = -/-/-/-
Jantung : ictus scordis tampak dan teraba pada ICS
5 anterior axila line, redup, S1S2 tunggal,
e/g/m = -/-/-
Paru paru : Simetris, retraksi -/-, fremitus n/n,
vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing -/-
Abdomen : Flat, BU (+) normal, timpani, soepel
Ekstremitas : Akral hangat di keempat ekstremitas
Tidak ada odema di keempat ekstremitas

3. Status Psikiatri
KU : Pasien memakai baju panjang, berjilbab
warna kuning rapi sesuai usia dan gender
Kontak : Mata (+), verbal (+), lancar, relevan
Kesadaran : Kualitatif : composmentis, berubah
Kuantitatif : GCS 4-5-6
Afek/emosi : Dangkal
11

Proses berpikir : Bentuk : Nonrealistik


Arus : Inkoheren
Isi : Waham (-)
Preokupasi terhadap bayangan
Persepsi : Halusinasi visual (+)
Ilusi (-)
Depersonalisasi (-)
Derealisasi (-)
Intelegensi : Dalam batas normal
Kemauan : Menurun
Psikomotor : Dalam batas normal
Tilikan : Insight 1 (sama sekali tidak menyadari
dan menyangkal penyakitnya)

d. Diagnosis Multiaksial
Axis I : Skizofrenia hebefrenik berkelanjutan (F20.10)
Axis II : Tidak ada diagnosis Aksis II (Z 03.2)
Axis III : Tidak ada
Axis IV : Tidak ada
Axis V : GAF SCALE 40-31 (beberapa disabilitas dalam hubungan
dengan realita dan komunikasi, disabilitas berat dalam
beberapa fungsi)

e. Diagnosis Banding
- Skizofrenia Katatonik (F 20.2)

f. Planning Terapi
Farmakoterapi
Risperidone tab 2 mg 1-0-1
Thrihexyphenidyl tab 2 mg 1-0-1
Clozapine tab 25 mg 0-0-1
Non-farmakoterapi
Edukasi
a. Menjelaskan kepada keluarga pasien tentang penyakit yang dialami
pasien supaya keluarga pasien dapat memahami dan menerima
keadaan pasien
b. Motivasi keluarga pasien untuk melakukan perawatan teratur pada
pasien, mengawasi kepatuhan minum obat pasien secara teratur dan
rutin untuk kontrol
12

c. Memotivasi pasien untuk bersemangat dalam melakukan aktivitas


yang bermanfaat seperti membantu pekerjaan rumah tangga apabila
belum mampu bekerja
Psikoterapi dan Rehabilitasi
Psikoterapi suportif individual/ kelompok, serta bimbingan yang
praktis dengan maksud mengembalikan pasien ke masyarakat
Terapi kerja untuk mendorong pasien bergaul lagi dengan orang lain,
seperti tetangga, dll.
Memerhatikan lingkungan pasien dengan mengatur sedemikian rupa
sehingga dia tidak mengalami stres terlalu banyak

g. Prognosis
Dubia ad malam karena:
Premorbid : kepribadian tertutup buruk
Perjalanan penyakit : pelan-pelan buruk
Umur permulaan sakit : usia tua baik
Jenis kelamin : perempuan baik
Jenis penyakit : skizofrenia paranoid buruk
Riwayat pengobatan : lambat mendapat pengobatan buruk
Faktor keturunan : tidak ada baik
Faktor pencetus : tidak ada buruk
Perhatian keluarga : tidak ada buruk
Ekonomi : ekonomi cukup baik
13

A. PEDOMAN DIAGNOSTIK SKIZOFRENIA


F20.0 Skizofrenia Paranoid
Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia.
Sebagai tambahan:
- Halusinasi dan/atau waham harus menonjol;
a. Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi
perintah, atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa
bunyi pluit (whistling), mendengung (humming), atau bunyi tawa
(laughing);
14

b. Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual,


atau lain-lain perasaan tubuh; halusinasi visual mungkin ada
tetapi jarang menonjol;
c. Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham
dikendalikan, (delusion of control), dipengaruhi (delusion of
influence), atau passivity (delusion of passivity), dan keyakinan
dikejar-kejar yang beraneka ragam, adalah yang paling khas;
- Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta
gejala katatonik secara relatif tidak nyata/menonjol.
Khas : Halusinasi dan/atau waham harus menonjol.

F20.1 Skizofrenia Hebefrenik


Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia.
Diagnosis hebefrenia untuk pertama kali hanya ditegakkan pada usia
remaja atau dewasa muda (onset biasanya mulai 15-25 tahun).
Kepribadian premorbid menunjukkan ciri khas: pemalu dan senang
menyendiri (solitary), namun tidak harus demikian untuk menentukan
diagnosis.
Untuk diagnosis hebefrenia yang meyakinkan umumnya diperlukan
pengamatan kontinu selama 2 atau 3 bulan lamanya, untuk memastikan
bahwa gambran yang khas berikut ini memang benar bertahan:
- Perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tak dapat diramalkan,
serta mannerisme; ada kecenderungan untuk selalu menyendiri
(solitary), perilaku menunjukkan hampa tujuan da hampa perasaan.
- Afek pasien dangkal (shallow) dan tidak wajar (inappropriate),
sering disertai oleh cekikikan (giggling) atau perasaan puas diri
(self-satisfied), senyum sendiri (self-absorbed), atau oleh sikap,
tinggi hati (lofty manner), tertawa menyeringai (grimaces),
mannerisme, mengibuli secara bersenda gurau (pranks), keluhan
hipokondriakal, dan ungkapan kata yang diulang-ulang (reiterated
phrases);
15

- Prose berpikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak


menentu (rambling) serta inkoheren.
Gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan proses pikir
umumnya menonjol. Halusinasi dan waham mungkin ada tetapi
biasanya tidak menonjol (feeling and fragmentary delusions and
hallucinations). Dorongan kehendak (drive) dan yang bertujuan
(determination) hilang serta sasaran ditnggalkan, sehingga perilaku
penderita memperlihatkan ciri khas, yaitu perilaku tanpa tujuan
(aimless) dan tanpa maksud (empty of purpose). Adanya suatu
preokupasi yang dangkal dan bersifat dibuat0buat terhadap agama,
filsafat, dan tema abstrak lainnya, makin mempersukar orang
memahami halan pikiran pasien.
Khas : gangguan proses berpikir

F20.2 Skizofrenia Katatonik


Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis skizofrenia
Satu atau lebih dari perilaku berikut ini harus mendominasi gambaran
klinisnya:
a. Stupor (amat berkurangnya dalam reaktivitas terhadap lingkungan
dan dalam gerakan serta aktivitas spontan atau mutisme (tidak
berbicara);
b. Gaduh gelisah (tampak jelas aktivitas motorik yang tak bertujuan,
yang tidak dipengaruhi oleh stimuli eksternal);
c. Menampilkan posisi tubuh tertentu (secara sukarela mengambil
dan mempertahankan posisi tubuh tertentu yang tidak wajar atau
anrh);
d. Negativisme (tampak jelas perlawanan yang tidak bermotif
terhadap semua perintah atau upaya untuk menggerakka, atau
pergerakan kearah yang berlawanan;
e. Rigiditas (mempertahankan posisi tubuh yang kaku untuk
melawan upaya menggerakkan dirinya);
16

f. Fleksibilitas cerea/waxy flexibility (mempertahankan anggota


gerak dan tubuh dalam posisi yang dapat dibentuk dari luar); dan
g. Gejala-gejala lain seperti command automatism (kepatuhan
secara otomatis terhadap perintah), dan pengulangan kata-kata
serta kalimat-kalimat.
Pada pasien yang tidak komunikatif dengan manifestasi perilaku dari
gangguan katatonik, diagnosis skizofrenia mungkin harus ditunda
sampai diperoleh bukti yang memadai tentang adanya gejala-gejala lain.
Penting untuk diperhatikan bahwa gejala-gejala katatonik bukan
petunjuk diagnostuk untuk skizofrenia. Gejala katatonik dapat
dicetuskan oleh penyakit otak, gangguan metabolik, atau alkohol dan
obat-obatan, serta dapat juga terjadi pada gangguan afektif.
Khas : psikomotor menurun

F20.3 Skizofrenia Tak Terinci (Undifferentiated)


Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis skizofrenia
Tidak memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia paranoid, hebefrenik,
atau katatonik;
Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia residual atau depresi pasca-
skizofrenia.

F20.4 Depresi Pasca-skizofrenia


Diagnosis harus ditegakkan hanya kalau:
- Pasien telah menderita skizofrenia (yang memenuhi kriteria umum
skizofrenia) selama 12 bulan terakhir ini;
- Beberapa gejala skizofrenia masih tetap ada (tetapi tidak lagi
mendominasi gambaran klinisnya); dan
- Gejala-gejala depresif menonjol dan mengganggu memenuhi paling
sedikit kriteria untuk episode depresif (F32.-), dan telah ada dalam
kurun waktu paling sedikit 2 minggu.
17

Apabila pasien tidak lagi menunjukkan gejala skizofrenia, diagnosis


menjadi Episode Depresif (F32.-). Bila gejala skizofrenia masih jelas dan
menonjol, diagnosis harus tetap salah satu dari subtipe skizofrenia yang
sesuai (F20.0-F20.3).

F20.5 Skizofrenia Residual


Untuk suatu diagnosis yang meyakinkan, persyaratan berikut ini harus
dipenuhi semua:
- Gejala negatif dari skizofrenia yang menonjol misalnya
perlambatan psikomotorik, aktivitas menurun, afek yang
menumpul, sikap pasif dan ketiadaan inisiatif, kemiskinan dalam
kuantitas atau isi pembicaraan, komunikasi non-verbal yang buruk
seperti dalam ekspresi muka, kontak mata, modulasi suara, dan
posisi tubuh, perawatan diri dan kinerja sosial yang buruk;
- Sedikitnya ada riwayat satu episode psikotik yang jelas di masa
lampau yang memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia;
- Sedikitnya sudah melampaui kurun waktu satu tahun dimana
intensitas dan frekuensi gejala yang nyata seperti waham dan
halusinasi telah sangat berkurang (minimal) dan telah timbul
sindrom negatif dari skizofrenia;
- Tidak terdapat dementia atau penyakit/gangguan otak organik lain,
depresi kronis atau institusionalisasi yang dapat menjelaskan
disabilitas negatif tersebut.
Khas : gangguan afek dan emosi

F20.6 Skizofrenia Simpleks


Diagnosis skizofrenia simpleks sulit dibuat secara meyakinkan karena
tergantung pada pemantapan perkembangan yang berjalan perlahan dan
progresif dari:
18

- Gejala negatif yang khas dari skizofrenia residual (lihat F20.5


diatas) tanpa didahului riwayat halusinasi, waham, atau manifestasi
lain dari episode psikotik, dan
- Disertai dengan perubahan-perubahan perilaku pribadi yang
bermakna, bermanifestasi sebagai kehilangan minat yang
mencolok, tidak berbuat sesuatu, tanpa tujuan hidup, dan penarikan
diri secara sosial.
Gangguan ini kurang jelas gejala psikotiknya dibandingkan sub tipe
skizofrenia lainnya.
Khas : kemauan menurun

F20.8 Skizofrenia Lainnya


F20.9 Skizofrenia YTT
(Sumber: Maslim, R. 2003. Diagnosis Gangguan Jiwa PPDGJ-III. Jakarta: PT
Nuh Jaya)

B. PROSES BERFIKIR INKOHEREN


Inkoherensi adalah salah satu gangguan dalam bentuk proses pikir dengan
ciri satu kalimatpun sudah sukar ditangkap atau diikuti maksudnya. Suatu wahan
yang aneh mungkin diterangkan secara inkoheren. Inkoherensi itu boleh dikatakan
merupakan asosiasi longgar yang ekstrim. Contoh kalimat inkoheren : ...saya
minta dijanji, tidur, lahir, dengan pakaian lengkap untuk anak saya atau lebih
menurut pengadilan Allah dengan suami jodohnya yang menyinggung segala
percobaan.... Pada skizofrenia gangguan terjadi pada asosiasi pikiran yaitu
inkoherensi.
(Sumber: Maramis, W.F. dan A.A., Maramis. 2009. Catatan Ilmu Kedokteran
Jiwa. Edisi dua. Surabaya: Airlangga University Press)

C. FARMAKOLOGI ANTI ANXIETAS


Sindrom anxietas disebabkan hiperaktivitas dari sistem limbik SSP yang
terdiri dari dopaminergic, nonadrenergic, serotonergic neurons yang
19

dikendalikan oleh GABA-ergic neurons (Gamma Amino Butiric Acid, suatu


inhibitory neurotransmiter).
Penggolongan obat anti anxietas :
1. Benzodiazepine
e.g : Diazepam, Chlordiazepoxide, Lorazepam, Clobazam, Bromazepam,
Aprazolam
2. Non Benzodiazepine
e.g : Sulpiride, Buspirone

Obat anti anxietas benzodiazepine yang bereaksi dengan reseptornya


(benzodiazepine receptors) akan meng-reinforce the inhibitory action og GABA-
ergic naurons (GABA Re-uptake Inhibitor).
Benzodiazepine diindikasikan untuk pengobatan jangka pendek pada
anxietas berat tetapi penggunaan jangka panjang sebaiknya dihindari. Diazepam,
Alprazolam, Chlordiazepoxide, dan Clobazam memiliki aksi kerja lambat.
Golongan yang memiliki masa kerja yang lebih pendek seperti Lorazepam dan
Oksazepam dapat digunakan pada pasien dengan gangguan fungsi hati, tetapi
memiliki risiko yang besar terhadap munculnya gejala putus obat. Benzodiazepine
mempunyai ratio terapetik lebih tinggi dan kurang menimbulkan adiksi dengan
toksisitas yang rendah.
Derivat benzodiazepine digunakan untuk menimbulkan sedasi,
menghilangkan rasa cemas, dan keadaan psikosomatik yang ada hubungannya
dengan rasa cemas. Selain itu sebagai hipnotik, antikonvulsi, pelemas otot dan
induksi anestesi umum.

(Sumber: (1) http://pionas.pom.go.id/ioni/bab-4-sistem-saraf-pusat/41-hipnosis-


dan-ansietas/412-ansietas/benzodiazepin; (2) Maslim, R. 2014. Penggunaan
Klinis Obat Psikotropik. Jakarta: PT Nuh Jaya; (3) Gunawan, S.G. 2007.
Farmakologi dan Terapi.Edisi 5. Jakarta: Balai Penerbit FKUI)

D. EKSTRAPIRAMIDAL SYNDROME
20

Efek samping dari obat anti psikosis salah satunya yaitu gangguan
ekstrapiramidal (EPS=Ekstrapiramidal Syndrome) yang ditandai dengan distonia
akut, akathisia, sindrom Parkinson: tremor, bradikinesia, dan rigiditas. Efek
samping dapat juga irreversible: tardive dyskinesia (gerakan berulang
involunter pada: lidah, wajah, mulut/rahang, dan anggota gerak , dimana pada
waktu tidur gejala tersebut menghilang). Biasanya efek samping ini terjadi pada
pemakaian jangka panjang (terapi pemeliharaan) dan pada pasien lanjut usia. Efek
samping ini tidak berkaitan dengan dosis obat anti psikosis (non doses related).
Apabila terjadi gejala tersebut: obat psikosis perlahan-lahan dihentikan ,
bisa dicoba dengan pemberian obat Reserpine 2,5 mg/h (dopamine depleting
agent) dan obat pengganti anti psikosis yang paling baik adalah Clozapine 50-100
mg/h atau Thioridazine (dosis ekivalen) dimana efek ekstrapiramidalnya sangat
ringan.
Untuk menghilangkan efek samping dari penggunaan obat anti psikosis
dapat juga diberikan golongan anticholinergic agent seperti injeksi Sulfas
Atropin 0,25 mg (im), tablet Thrihexyphenidyl 3x2 mg/h. Obat-obat ini biasanya
digunakan pada saat penghentian yang mendadak dari obat anti psikosis dimana
menimbulkan gejala cholinergic rebound : gangguan lambung, mual, muntah,
diare, pusing, gemetar, dan lain-lain.
Pada pasien yang masih terjadi efek samping dengan pemberian obat anti
psikosis yang paling baik yaitu Clozapine 50-100 mg/h dan tablet
Thrihexyphenidyl 3x2 mg/h sebagai anticholinergic agent dapat diterapi dengan
: (1) penurunan dosis dari obat anti psikosis, (2) pada penggunaan bersama anti
psikosis dan anti parkinson bial sudah tiba waktu pengehentian obat, obat anti
psikosis diberhentikan dahulu, kemudian obat anti parkinson (untuk
meminimalisir gejala cholinergic rebound.

(Sumber: Maslim, R. 2014. Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Jakarta: PT Nuh


Jaya)
21
22

(Sumber: http://eprints.ums.ac.id/14847/2/BAB_1.pdf)