Anda di halaman 1dari 21

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang
telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga
kami dapat menyelesaikan makalah ilmiah biologi tentang limbah dan
pemanfaatannya dengan baik.

Adapun makalah tentang SISTEM UTILITAS BAGUNAN BERLANTAI ini telah


kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai
pihak, sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami
tidak lupa menyampaikan bayak terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu kami dalam pembuatan makalah ini.

Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadar sepenuhnya bahwa ada
kekurangan baik dari segi penyusun bahasanya maupun segi lainnya. Oleh
karena itu dengan lapang dada dan tangan terbuka kami membuka selebar-
lebarnya bagi pembaca yang ingin member saran dan kritik kepada kami
sehingga kami dapat memperbaiki makalah yang akan dibuat pada tugas
selanjutnya.

Akhirnya penyusun mengharapkan semoga makalah ini dapat memnerikan


manfaat bagi para pemba khusunya untuk pembuat makalah ini sendiri.

Palu,29 Maret 2017


Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..
....i
DAFTAR ISI..
..ii
BAB 1. PENDAHULUAN
1. Rumusan masalah
....1
2. Tujuan .
..1
BAB II
ISI.
.
1. Air bersih..
2
2. Air kotor....
..5
3. System plambing.
7
4. System sirkulasi
vertical....9
5. System tata udara...............................
10
BAB III. PENUTUP
1. Kesimpilan..
13
2. Saran .
14
DAFTAR
PUSTAKA...14

BAB I

PENDAHULUAN

Rumusan masalah

Rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut :

1. pengertian air bersih ?


2. bagaiman cara pemsuplaian air bersih pada bangunan gedung
bertingkat ?
3. bagaimana system plambing pada bangunan gedung bertingkat ?
4. bagaimana system sirkulasi vertical pada bangunan gedung bertingkat
?

Tujuan

Tujuan dari pembutan makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Mahasiswa memahami dan mengerti bagaimana cara penyaluran dan


pengolahan air kotor pada bangunan gedung bertingkat.
2. Mahasiswa mamahami dan mengerti bagaimana system plambing
pada sebuah bangunan gedung bertingkat.
3. Mahasiswa mampu memahami dan mengerti bagaimana system
surkulasi vertical pada suatu bangunan gedung bertingkat.
4. Mahasiswa memahami dan mengerti bagaiman system tata udara
pada suatu bangunan gedung bertingkat.

A. SISTEM AIR BERSIH


Pada prinsipnya sistem pembagian air bersih di dalam rumah/ bangunan
ada dua yaitu :
1. Sistem sambungan langsung
Mekanisme dari sistem sambungan langsung yaitu air bersih dari PAM
melalui pipa utama PAM masuk ke instalasi meteran air dan air langsung
didisribusikan ke seluruh gedung. Sistem ini diterapkan pada bangunan
rumah.

Dalam sistem ini pipa distribusi dalam gedung langsung dengan pipa
utama penyediaan air bersih (misalnya : pipa utama dibawah jalan dari
perusahaan air minum). Karena terbatasnya tekanan dalam pipa utama dan
dibatasinya ukuran pipa, cabang dari pipa utama tersebut, maka sistem ini
terutama dapat diterapkan untuk perumahan dan gedung-gedung kecil dan
rendah. Ukuran pipa cabang biasnya diatur/ditetapkan oleh perusahaan air
minum. Tangki pemanas air biasanya tidak disambung langsung kepada pipa.
distribusi, dan dibeberapa daerah tidak diizinkan memasang katup gelontor
(flush valve).
Gambar 1.1 : sistem sambungan langsung
2. Sistem sambungan tidak langsung
2.1. Sistem tangki atap
Pada sistem tangki atap, air bersih ditampung terlebih dahulu
pada ground reservoir/tangki air bawah kemudian dipompa ke tangki
atap. Dari tangki atap, air didistribusikan ke jaringan perpipaan dalam
gedung dengan sistem gravitasi.

Apabila sistem sambungan langsung oleh berbagai alasan tidak


dapat diterapkan, sebagai gantinya banyak sekali digunakan sistem
tangki atap, terutama di negara Amerika Serikat dan Jepang. Dalam
sistem ini, air ditampung lebih dahulu dalam tangki bawah (dipasang
pada lantai terendah bangunan atau dibawah muka tanah) kemudian
dipompakan ke suatu tangki atas yang biasanya dipasang diatas atap
atau diatas lantai tertinggi bangunan. Dari tangki atap ini diterapkan
seringkali dengan alasan-alasan berikut :

a. Selama air digunakan, perubahan tekanan yang terjadi pada alat


plambing hampir tidak terjadi, perubahan tekanan ini hanyalah akibat
muka air dalam tangki atap.
b. Sistem pompa yang dinaikkan air tangki atap bekerja otomatis
dengan cara yang sangat sederhana sehingga kecil sekali
kemungkinan timbulnya kesulitan. Pompa biasanya dijalankan dan
dimatikan oleh alat yang mendeteksi muka dalam tangki atap.
c. Perawatan tangki atap sangat sederhana jika dibandingkan dengan
tangki tekan.

Gamabar 2.1 : sistem tangki atap


2.2. Sistem tangki tekan
Sistem tangki tekan diterapkan dalam keadaan dimana suatu kondisi
tidak dapat digunakan sistem sambungan langsung. Prinsip kerja sistem ini
adalah sebagai berikut :
Air yang telah ditampung dalam tangki bawah, dipompakan ke dalam
suatu bejana (tangki) tertutup sehingga udara di dalamnya terkompresi. Air
dalam tangki tersebut dialirkan ke dalam suatu distribusi bangunan. Pompa
bekerja secara otomatis yang diatur oleh suatu detektor tekanan, yang
menutup / membuka saklar motor listrik penggerak pompa. Pompa berhenti
bekerja kalau tekanan tangki telah mencapai suatu batas minimum yang
ditetapkan, daerah fluktuasi tekanan ini biasanya ditetapkan antara 1,0 sampai
1,5 kg / cm2. Daerah yang makin lebar biasanya baik bagi pompa karena
memberikan waktu lebih lama untuk berhenti, tetapi seringkali menimbulkan
efek yang negatif pada peralatan plambing.
Dalam sistem ini udara yang terkompresi akan menekan air ke dalam
sistem distribusi dan setelah berulang kali mengembang dan terkompresi lama
kelamaan akan berkurang, karena larut dalam air atau ikut terbawa keluar
tangki. Sistem tangki tekan biasanya dirancang agar volume udara tidak lebih
dari 30% terhadap volume tangki dan 70% volume tangki berisi air. Bila mula-
mula seluruh tangki berisi udara pada tekanan atmosfer, dan bila fluktuasi
tekanan antara 1,0 sampai dengan 1,5 kg/cm2, maka sebenarnya volume
efektif air yang mengalir hanyalah sekitar 10% dari volume tangki. Untuk
melayani kebutuhan air yang besar maka akan diperlukan tangki tekan yang
besar. Untuk mengatasi hal ini maka tekanan awal udara dalam tangki dibuat
lebih besar dari tekanan atmosfer (dengan memasukkan udara kempa ke dalam
tangki).
Variasi yang ada pada sistem tangki tekan antara lain :
a. Sistem Hydrocel.
Sistem ini mengunakan tabungtabung berisi udara dibuat dari bahan
karet khusus, yang akan mengkerut dan mengembang sesuai dengan
tekanan air dalam tangki. Dengan demikian akan mencegah kontak
langsung antara udara dengan air sehingga selama pemakaian sistem ini
tidak perlu ditambah udara setiap kali. Kelemahannya hanyalah bahwa
volume air yang tersimpan relatif sedikit
b. Sistem Tangki Tekan dengan Diafram
Tangki tekan pada sistem ini dilengkapi dengan diafram yang dibuat
dari bahan karet khusus, untuk memisahkan udara dengan air. Dengan
demikian akan menghilangkan kelemahan tangki tekan sehubungan dengan
perlunya pengisian udara secara periodik.

Gambar 2.3 : sistem tangka tekan

2.3. Sistem tanpa tangki ( Booster system ).


Dalam sistem ini tidak digunakan tangki apapun, baik tangki
bawah, tangki tekan, ataupun tangki atap. Air dipompakan langsung ke
sistem distribusi bangunan dan pompa penghisap air langsung dari pipa
utama (misalnya pipa utama perusahaan air minum). Di Eropa dan
Amerika Serikat cara ini dapat dilakukan kalau pipa masuk pompa
diameternya 100 mm atau kurang. Sistem ini sebenarnya dilarang di
Indonesia, baik oleh Perusahaan Air Minum maupun pada pipa-pipa
utama dalam pemukiman khusus (tidak untuk umum).
Sistem ini terdapat dua sistem dikaitkan dengan kecepatan pompa,
yaitu :
1. Sistem kecepatan putaran pompa konstan, Pompa utama selalu
bekerja sedangkan pompa lain akan bekerja secara otomatik yang
diatur oleh tekanan.
2. Sistem kecepatan putaran pompa variabel, Sistem ini untuk
mengubah kecepatan atau laju aliran diatur dengan mengubah
kecepatan putaran pompa secara otomatik.

Gambar 2.3.1 :
kombinasi tangki penampang air minum (dari PDAM), pompa dan tangki tekan

Gambar 2.3.2 : tampak luar


B. SISTEM AIR KOTOR
a. ONE PIPE SYSTEM
Semua sistem pembuangan (air tinja dan air sabun atau air kotor
tainnya) pada One Pipe System dialirkan melalui satu pipa.
Pada ujung pipa bagian atas selalu terbuka dan disebut vent stack.
Manfaat vent stack adatah untuk menghindari terjadinya cyclone effect
karena sifat pipa merupakan bejana berhubungan.

Gambar A.1 : Sistem one pipe system


b. TWO PIPE SYSTEM
Pada Two Pipe System,. air tinja dan air kotor/air sabun
dipisahkan pembuangan dengan dua jenis pipa.
Soil pipe mengalirkan air tinja, waste pipe mengalirkan air kotor
selain air tinja.

Gambar B.1 : Two pipe system


c. SINGLE STACK SYSTEM
Pada Single Stack System, air tinja dan air kotor / air sabun dipisahkan
pembuangan dengan dua jenis pipa pada aliran mendatar, sedangkan
pipa vertikal menjadi satu.
Pada ujung pipa bagian atas selalu terbuka dan sering disebut sebagai
vent stack
Keuntungan sistem ini adalah memudahkannya pengontrolan pipa
mendatar bila terjadi gangguan/kebuntuan dalam saluran. Selain itu,
pipa tegak yang berupa vent stack cukup satu buah saja, biasa
dianggap menguntungkan
Sistem ini banyak digunakan di Indonesia.

C. SYARAT PIPA AIR KOTOR


a. Pipa menggunakan bahan anti korosi, tidak menimbulkan
kontaminasi.
b. Permukaan dalam pipa harus licin, sehingga terbebas dari
penggumpalan.
c. Sirkulasi udara dalam pipa harus lancar.
d. Pada ujung atas vent stack harus terbuka agar tidak terjadi cyclone
effect maupun efek kapiler
e. Pada setiap fixture pembuangannya harus dilengkapi dengan trap
seal yang berfungsi sebagai penyekat bau, misalnya dengan
memakai prinsip leher angsa pada kloset, wastafel, dan floor drain
f. Kemiringan pipa harus diperhatikan.
Diameter pipa Kemiringan minimal < 75 inci 2 % > 75 inci 1%

D. PLAMBING
Plumbing atau plambing adalah segala sesuatu yang berhubungan
dengan pelaksanaan, pemeliharaan, dan perbaikan alat plambing dan pipa
serta peralatanya di dalam atau di luar gedung dengan sistem drainase
saniter, drainase air hujan, ven, air minum yang dihubungkan dengan sistem
kota.
secara singkat dapat dikatakan semua peralatan yang dipasang pada :
Ujung akhir pipa, untuk memasukkan air.
Ujung awal pipa, untuk membuang
air.
Secara khusus, pengertian plambing merupakan sistem perpipaan
dalam bangunan yang meliputi sistem perpipaan untuk :
a. penyediaan air minum
b penyaluran air buangan dan ven
c penyediaan air panas
d. penyaluran air hujan
e. pencegahan kebakaran
f. penyediaan gas
g. AC (air conditioner)
Fungsi plumbing atau plambing :
a. sebagai sistem penyediaan air minum, menyediakan air minum ke
tempat yang dikehendaki dengan tekanan yang cukup.
b. sebagai penyaluran air buangan

a. BAHAN PLAMBING
Bahan yang dianjurkan sebagai alat plambing harus memenuhi syarat-
syarat berikut :
a. Tidak menyerap air (atau, sedikit sekali)
b. Mudah dibersihkan
c. Tidak berkarat dan tidak mudah aus
d. Relatif mudah dibuat
e. Mudah dipasang
Bahan yang banyak digunakan adalah porselen, besi atau baja yang
dilapis, berbagai jenis plastik, dan baja tahan karat. Untuk bagian alat
plambing yang tidak atau jarang terkena air, ada juga digunakan bahan kayu.
Alat plambing yang tergolong mewah menggunakan juga marmer kualitas
tinggi. Bahan lain yang ada pada masa sekarang mulai banyak digunakan,
terutama untuk bak mandi (bath tub) adalah FRP atau resin polyester yang
diperkuat dengan anyaman serat gelas.
1) Saniter
Peralatan saniter pada gedung ini yang hanya menggunakan air
bersih adalah bak cuci tangan, janitor, bak cuci piring (pantry), dan
pancuran mandi, peralatan saniter umumnya dibuat dari bahan porselen
atau keramik. Bahan ini sangat popular karena biaya pembuatannya
cukup murah, dan ditinjau dari segi sanitasi sangat baik. Bahan lain yang
cukup banyak digunakan di Indonesia adalah teraso, walaupun untuk
membersihkan lebih sulit dari pada bahan porselen.
Beberapa jenis peralatan saniter yang menggunakan air bersih
pada gedung ini, sebagai berikut :
1. Bak cuci tangan
Pada gedung ini, bak cuci tangan meliputi bak cuci tangan kecil
dan bak cuci tangan. Bak cuci tangan kecil ialah tempat untuk menyuci
tangan (wastafel), sedangkan bak cuci tangan pada gedung ini ialah
tempat yang digunakan untuk mengambil air berwudhu, dimana
pemakaian air bersih pada bak cuci tangan ini terlalu banyak.

Gambar : bak cuci tangan


2. Janitor
Janitor adalah tempat pencucian (pembersihan) kain pel dan
biasanya juga dipakai untuk menyuci pakaian (laundry), tapi pada
gedung ini janitor hanya digunakan untuk tempat pencucian kain pel
saja.

Gambar : janitor
3. Pancuran Mandi
Pancuran mandi yang disambung dengan pipa fleksibel (hand
shower) sekarang ini makin banyak digunakan,di samping pancuran
yang dipasang tetap pada dinding. Pancuran mandi semacam ini
memberikan keleluasaan lebih dalam penggunaannya untuk mandi,
tetapi dalam keadaan tertentu dapat menimbulkan kemungkinan aliran
balik. Hal ini bisa terjadi kalau misalnya
katup pancuran tersebut dalam keadaan terbuka sedang kepala
pancurannya, ketika katup pancuran tersebut terbenam dalam bak
mandi (bath tub). Apabila dalam pipa air bersih ke pancuran terjadi
tekanan negative, air bekas yang di dalam bak mandi dapat tersedot
balik ke dalam pipa dan mencemari air bersih dalam pipa. Untuk
mencegah hal ini, seharusnya dipasang pemecah vakum untuk
menghindarkan aliran balik. Pemecah vakum tersebut dapat dipasang
dalam sistem pipa atau sambungan pipa dengan pipa fleksibel yang
menghubungkan kepala pancuran.

Gambar : instalasi katup pancuran bak mandi (Shower)


2) FITING SANITER
a. Keran air
Keran air ada beberapa macam :
1. Keran air yang dapat dengan mudah dibuka dan ditutup, yang umum
digunakan untuk berbagai keperluan.
2. Keran air yang dibuka akan menutup sendiri,misalnya untuk cuci
tangan.
3. Keran air yang laju alirannya diatur oleh ketinggian muka air, yaitu
keran atau katup pelampung.
Gambar : katup siram untuk cuci tangan

Gambar : sumbat bola untuk tangki siram

E. SIRKULASI VERTICAL
Transportasi vertical adalah metoda transportasi digunakan
untukmengangkut suatu benda atau manusia dari bawah ke atas ataupun
sebaliknya. Ada berbagai macam tipe transportasi vertical, di antaranya
tangga, lift, travator, escalator, dan lain-lain.

Gambar:
tranportasi secara vertical
a. Lift
Adalah alat transportasi vertical yang
digunakanuntukmengangkutorangatau barang.Liftterhubungantarlantai
dalam bangunanbertingkatsecara menerusdenganmenggunakantenaga
mesin(mekanik).Umumnyadigunakan digedung-gedungbertingkattinggi;
biasanyalebihdaritigaatauempat lantai. Gedung-gedung
Gambar : lift

Persyaratan lift
a. Bangunan lebih dari 3 lantai harus dilengkapi dengan elevator / lift
b. Jika menggunakantraction system, dimensi kabel yang dapatdigunkan
minimum 12 mm
c. Jumlah kabel minimal 3 buah
d. Balok pemikul dari baja / beton bertulang
e. Rel Lift dari bahan bajaf
f. Saat operasi ruang Lift harus tertutup rapa
g. Lubang masuk lift hanya satu tidak boleh lebih
h. Jarak tepi cabin lift dengan tepi lantai maksimal 4 cm
i. Tiap lift harus memiliki motor penggerak dan panel kontrol sendiri.
j. Dasar lubang lift harus memiliki pondasi kedap airk
k. Pintu otomatisl
Sistem penggerak dalam elevator dibedakan dalam

Sistem gearless Yaitu mesin yang berada diatas untuk perkantoran, hotel,
apartemen,rumah sakit dan sebagainya
Sistem hydrolic Yaitu mesin dibawah hanya terbatas pada 3-4 lantai biasanya
digunakan untuk lift makanan.

b. Eskalator
sebagaimana tangga (manual) yang menghubungkan satu lantai
dengan satu lantai yang diatasnya maupun dibawahnya dengan
menggunakan system tangga yang berjalan dengan bertenaga/bergerakatas
bantuan tenaga mesin Secara horizontal dibutuhkan ruangcukup luas untuk
fasilitas ini,karenanya,Escalator biasadig
Gambar: escalator
SYARAT ESCALATOR
a. Dilengkapi dengan railing
b. Tidak ada celah antara lantai dengan anak tangga pada Escalator dan
Sebaiknya didesain secara otomatis.
PERLETAKAN ESKALATOR
a. Paralel. Diletakkan secara paralel. Perencanaannya lebih menekankansegi
arsitektural dan memungkinkan sudut pandang yang luas
b. Cross Over. Perletakan bersilangan secara menerus (naik saja atauturun
saja). Kurang efisien dalam sistim sirkulasi tetapi bernilai estetis tinggi
c. Double Cross Over. Perletakan bersilangan antara naik dan turun,sehingga
dapat mengangkut penumpang dengan dalam jumlah lebih banyak.
F. Sistem Tata Udara
Sistem tata udara pada bangunan bertugas mengolah udara dan
menghasilkan kualitas udara yang baik (nyaman dan sehat) bagi
penghuninya.Keberadaan sistem tata udara sangat menunjang aktifitas dan
produktifitas manusia.Beberapa jenis sistem tata udara juga dapat digunakan
untuk berbagai keperluan khusus, dengan kondisi perancangan tertentu, selain
untuk tempat hunian manusia.Untuk mencapai tujuan diatas perlu diketahui
beban pendinginan dan karakteristik ruangan serta sistem tata udara yang
diperlukan.

a. Jenis Sistem Pengkondisian

Seperti yang pernah di utarakan sebelumnya, bahwa tujuan


pengkondisian udara adalah untuk mendapatkan kenyamanan bagi penghuni
yang berada didalam ruangan. Kondisi udara yang dirasakan nyaman oleh
tubuh manusia adalah berkisar antara :
Suhu dan kelembaban : 200C hingga 260C, 45% hingga 55%
Kecepatan udara : 0.25 m/s

Ada beberapa sistem pengkondisian udara yang dapat dilakukan, yaitu :

1. Sistem ekspansi langsung

Dengan sistem ini, pendinginan secara langsung dilakukan oleh


refrigerant yang diekspansikan melalui koil pendingin, sedangkan udara
disirkulasikan dengan cara menghembuskannya dengan menggunakan blower
/ fan melintasi koil pendingin tersebut.Sistem ini biasanya dipergunakan untuk
beban pendinginan udara yang tidak terlalu besar seperti keperluan ruangan
di rumah.
Gambar : Mesin AC jenis Direct Expantion / Ekspansi Langsung
2. Sistem Pengkondisian Udara secara Sentral

Secara singkat sistem Central Air Conditioning System ( Sistem


Pengkondisian Udara secara sentral ), yang biasa dirancang pada bangunan
dapat di jelaskan sebagai berikut : Unit pendingin utama digunakan 2 unit
Water Cooled Water Chiller dimana satu unit beroperasi dan satu unit sebagai
cadangan, unit Chiller beroperasi dengan menggunakan Primary
Refrigerant berupa refrigerant R123 pada unit Chiller & R 134A pada unit
purging yang sudah ramah lingkungan, nantinya akan mendinginkan
Secondary Refrigerant berupa air, dimana air yang sudah didinginkan ini di
sirkulasikan oleh Chilled Water Pump ke AHU dan FCU di LQB.

Pada unit AHU air dingin akan mengkondisikan / mendinginkan udara


segar dari luar gedung sehingga mencapai temperatur dan kelembaban yang
cukup dan untuk selanjutnya didistribusikan ke koridor koridor di ruangan
setiap lantainya dan kamar- kamar pada masing-masing lantai. Pada setiap
lantai akan ditangani oleh 2 unit AHU yang memiliki kapasitas pendinginan
yang sama, begitu pula dengan 2 lantai di atasnya memiliki masing-masing 2
unit AHU yang memiliki kapasitas pendinginan yang sama dengan lantai
dasar. Sedangkan proses pertukaran kalor yang terjadi di masing-masing
kamar akan ditangani oleh Fan Coil Unit yang telah mendapatkan distribusi
udara segar yang telah didinginkan oleh AHU sehingga kerja FCU tidak terlalu
berat. Dikarenakan lantai dasar, satu dan lantai dua memiliki kapasaitas
pendinginan yang sama dan jenis bangunan yang sama pula, maka
perhitungan luasan sistem ducting akan diwakilkan di salah satu lantai, yaitu
lantai dasar.
BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan
Dalam perancangan utilitas bangunan khususnya jenis bangunan
gedung bertingkat sangat diperlukan adanya kelengkapan dalam segala aspek.
Untuk itu perlu diketahui bahwa dalam suatu proses operasional suatu gedung
khususnya gedung bertingkat tidak akan lengkap/ tidak berfungsi dengan
semestinya jika salah satu atau beberapa sistem utilitas tidak menunjang atau
dengan kata lain sistem utilitas suatu bangunan merupakan rangkaian item
pelengkap yang harus direncanakan sejak awal sebelum gedung beroperasi
dengan semestinya yang merupakan suatu sistem yang terintegrasi dan
menunjang dalam proses operasionalnya sesuai dengan fungsi utilitas masing-
masing.
2. Saran
Suatu perancangan dikatakan sempurna apabila semua aspek yang
mendekung kelengkapan bangunan itu terlengkapi sakah satunya adalah
masalah utilitas. Jika kita akan merencanakan suatu banguna maka kita juga
harus memperhatikan kelengkan utilitasnya. Jika utilitas bangunan tidak
berjalan lancer maka itu akan mengganggu fungsi dari bangunan itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA

Principles of Air Conditioning, Paul Lang (1960:14

http://junaidawally.blogspot.co.id/2013/10/air-kotor_951.html
http://yudirachman.blogspot.co.id/2013/01/sistem-distribusi-
air.htmLemanfaatan Sumber Daya Air
http://junaidawally.blogspot.co.id/2013/10/air-kotor_951.html
http://yudirachman.blogspot.co.id/2013/01/sistem-distribusi-
air.htmLemanfaatan Sumber Daya Air