Anda di halaman 1dari 13

Kontribusi Pangan :

Lauk Hewani BAB II


Kontribusi
Kontribusi
Kontribusi
Tingkat
Tingkat
Kontribusi
Kontribusi
Kontribusi
Tingkat
Protein
Konsumsi
Protein
Konsumsi
Zat
Pemilihan
Konsumsi
Protein
Protein
Besi
Besar
Lauk
Protein
Lauk
Zat
Lauk
Daya
Protein
Hewani
Pengetahuan
Keluarga
Lauk
Sayuran
Besi
Pendapatan
Hewani
Bahan
Lauk
Pendidikan
Protein
Hewani
Beli
Hewani
dan
Hewani
Makanan
Zat Besi
Lauk Nabati
Sayuran
TINJAUAN PUSTAKA

A. Lauk Hewani

Lauk hewani merupakan sumber protein yang kaya akan asam amino esensial,
tidak dapat disintesis dalam tubuh. Lauk hewani berfungsi untuk pertumbuhan dan
perkembangan organ-organ sehingga harus ada dalam makanan. Bahan makanan
hewani adalah daging, telur, ikan dan ayam. Daging dan telur termasuk bahan hewani
yang merupakan sumber protein kaya akan asam amino esensial. Ayam termasuk
bangsa burung atau unggas yang paling populer sekarang ini karena harganya relatif
murah, rasanya cukup lezat, serta berbagai cara pengolahan dapat dilakukan dengan
mudah dan cepat. Ikan menjadi hidangan utama masyarakat didaerah pantai atau
aliran sungai karena ketersediannya melimpah (Uripi, 2002).

Bahan makanan hewani adalah bahan makanan yang berupa atau berasal dari
hewan atau produk-produk yang diolah dengan menggunakan bahan dasar asal
hewan. Pangan hewani mempunyai berbagai keunggulan dibanding pangan nabati.
Pertama, pangan hewani terasa gurih atau enak karena mengandung protein dan lemak
yang banyak. Kedua, pangan hewani mengandung protein yang lebih berkualitas
karena mudah digunakan tubuh dan memiliki komposisi asam amino yang lengkap
(Hardinsyah 2008).
Ketiga, pangan hewani mengandung berbagai zat gizi mineral yang tinggi dan
mudah digunakan oleh tubuh. Misalnya kalsium pada susu, zat besi, zink dan
selenium yang banyak di dalam daging, hati dan telur. Kalsium dan zink berperan
dalam pertumbuhan dan berbagai proses dalam tubuh. Zat besi bersama zat gizi
lainnya berperan dalam pembentukan sel-sel darah merah hemoglobin. Hemoglobin
berguna untuk membawa oksigen ke seluruh bagian tubuh. Bila kadar hemoglobin
rendah (anemia) maka tubuh kekurangan oksigen, badan menjadi lemah, konsentrasi
belajar dan stamina atau produktivitas kerja menjadi menurun (Hardinsyah 2008).
Keempat, pangan hewani mengandung zat gizi vitamin yang unik. Misalnya
vitamin A dalam hati dan kuning telur yang mudah digunakan tubuh. Kemudian
vitamin B12 yang tidak terdapat pada pangan nabati. Vitamin B12 yang kaya dalam
pangan hewani berperan penting dalam pembentukan sel darah merah yang
menangkap oksigen bagi tubuh dan dalam pembentukan myelin syaraf (Hardinsyah
2008).
Mutu protein ditentukan oleh jenis dan proporsi asam-asam amino yang
dikandungnya. Pola asam amino pada protein hewani merupakan yang terbaik untuk
memenuhi kebutuhan manusia karena polanya menyerupai pola kebutuhan asam
amino manusia. Oleh karena itu, apabila pangan hewani digunakan sebagai sumber
protein tunggal dalam jumlah memenuhi kebutuhan manusia maka ia memberikan
semua asam-asam amino esensial dalam jumlah cukup. Kelebihan asam-asam amino
esensial dapat digunakan untuk mensintesis asam-asam amino nonesensial. Pangan
sumber protein hewani adalah daging, ayam, ikan, telur, susu, dan produk olahannya
(Riyadi 2006).
B. Lauk Nabati

Lauk nabati merupakan bahan makanan yang bersumber dari protein nabati.
Bahan makanan ini terdiri atas golongan kacang kacangan dan hasil olahannya,
seperti tempe dan tahu. Sumber protein nabati juga lebih murah harganya
dibandingkan dengan sumber protein hewani (Ahmacd Djaeni Sediaoetama, 1989).

Protein kacang kacangan mempunyai nilai gizi lebih rendah dibandingkan


dengan protein dari jenis daging (protein hewani). Kalau protein hewani termasuk
kualitas lengkap (kualitas sempurna), maka protein kacang kacangan hanya
mencapai nilai kualitas setengah sempurna, bahkan banyak yang berkualitas protein
tidak sempurna (protein tidak lengkap) (Ahmacd Djaeni Sediaoetama, 1989).

Sumber protein nabati juga lebih murah harganya dibandingkan dengan


sumber protein hewani, sehingga terjangkau oleh daya beli sebagian besar
masyarakat. Karena itu di negara negara Barat sumber protein kacang kacangan
disebut juga bersumber protein si miskin (poor mans protein) atau daging si
miskin. Namun ini kurang menguntungkan menyebabkan kacang kacangan diberi
nilai sosial rendah, sehingga tidak begitu disukai oleh masyarakat dari golongan
penghasilan tinggi atau menengah (Ahmacd Djaeni Sediaoetama, 1989).

C. Sayuran

Sayuran merupakan bahan makanan yang berasal dari tumbuhan (bahan


makanan nabati). Bagian tumbuhan yang dapat dibuat sayur adalah daun (sebagian
besar sayur adalah daun), batang (wortel), bunga (jantung pisang), buah muda
(kacang panjang, labu, nangka muda), dapat dikatakan bahwa semua bagian
tumbuhan dapat dijadikan bahan makanan sayur (Ahmacd Djaeni Sediaoetama,
1989).

Sayur yang berwarna hijau merupakan sumber kaya karotin (provitamin A)


semakin tua warna hijau itu semakin banyak kandungannya akan karotin tersebut.
Sayur yang berwarna hijau tua tersebut diantaranya kangkung, daun singkong, daun
katik, daun pepaya, genjer dan daun kelor). Sayur berupa daun ini harus selalu
terdapat dalam susunan hidangan setiap harinya (Ahmacd Djaeni Sediaoetama, 1989).

Mineral yang banyak terdapat pada sayuran adalah zat besi (Fe), seng/ zinc
(Zn), tembaga (Cu), mangan (Mn), kalsium (Ca), dan fosfor (F) (Astawan, 2008).
Kurangnya zat besi di dalam tubuh dapat disebabkan oleh kurang makan sumber
makanan yang mengandung zat besi, makanan cukup namun yang dimakan
biovailabilitas besinya rendah sehingga jumlah zat besi yang diserap kurang dan
makanan yang dimakan mengandung zat penghambat penyerapan besi. Inhibitor
(penghambat) utama penyerapan Fe adalah fitat dan polifenol. Fitat terutama
ditemukan pada biji-bijian sereal, kacang, dan beberapa sayuran seperti bayam.
Polifenol dijumpai dalam minuman kopi, teh, sayuran, dan kacang kacangan
(Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat, 2008).
Sayuran daun berwarna hijau, dan sayuran berwarna jingga seperti wortel dan
tomat mengandung lebih banyak provitamin A berupa beta karoten daripada sayuran
tidak berwarna. Sayuran berwarna disamping itu kaya akan kalsium, zat besi, asam
folat dan vitamin C. Sayuran tidak berwarna seperti labu asam, ketimun, nangka dan
rebung tidak banyak mengandung zat besi. Memakannya hanya untuk kenikmatan,
dianjurkan sayuran yang dimakan tiap hari terdiri dari campuran sayuran daun,
kacang-kacangan, dan sayuran berwarna jingga (Arisman, 2007)
D. Tingkat Konsumsi Protein
Protein adalah bagian dari semua sel hidup yang merupakan bagian terbesar
tubuh sesudah air. Protein mempunyai fungsi khas yang tidak dapat digantikan oleh
zat lain, yaitu membangun serta memelihara sel sel dan jaringan tubuh (Almatsier,
2003).
Protein merupakan asam amino esensial yang diperlukan sebagai zat
pembangun, yaitu untuk pertumbuhan dan pembentukan protein dalam serum,
hemoglobin, enzim, hormon dan antibodi. Selain itu untuk mengganti sel sel yang
telah rusak, memelihara keseimbangan asam basa cairan tubuh, dan sumber energi
(Arisman, 2003). Fungsi khas protein inilah yang menyebabkan protein sangat
dibutuhkan oleh remaja. Hal ini dikarenakan remaja merupakan kelompok yang
dalam masa pertumbuhan dan perkembangannya memerlukan zat gizi yang relatif
besar jumlahnya dan bila konsumsi tidak seimbang maka dapat menimbulkan masalah
gizi (Khomsan, 2002).
Bahan makanan hewani merupakan sumber protein yang baik, dalam jumlah
maupun mutunya, seperti telur, susu, daging, unggas, ikan, dan kerang. Mutu protein
bahan makanan hewani lebih tinggi dari makanan nabati, dengan telur memiliki mutu
protein tertinggi. Protein hewani pada umumnya mempunyai susunan asam amino
yang paling sesuai untuk kebutuhan manusia. Untuk menjamin mutu protein dalam
makanan sehari-hari, dianjurkan sepertiga bagian protein yang dibutuhkan berasal dari
protein hewani (Almatsier, 2002).
Apabila pangan hewani digunakan sebagai sumber protein tunggal dalam
jumlah memenuhi kebutuhan manusia maka ia dapat memberikan semua asam-asam
amino esensial dalam jumlah cukup. Hal ini dikarenakan pola asam amino pada
protein hewani menyerupai pola kebutuhan asam amino manusia (Riyadi 2006).

Akan tetapi harga pangan hewani relatif mahal. Bahan makanan hewani kaya
dalam protein bermutu tinggi, tetapi hanya merupakan 18,4% konsumsi protein rata-
rata penduduk Indonesia. Sedangkan bahan makanan nabati yang kaya protein adalah
kacang kacangan dengan kontribusi rata rata 9,9% (Almatsier, 2002).

E. Tingkat Konsumsi Zat Besi

a. Definisi Besi

Besi merupakan zat mikro yang paling banyak terdapat di dalam tubuh
manusia dan hewan, yaitu sebanyak 3 5 gram di dalam tubuh manusia dewasa.
Besi mempunyai beberapa fungsi esensial di dalam tubuh, yaitu sebagai alat
angkut oksigen dari paru paru ke jaringan tubuh, sebagai alat angkut elektron di
dalam sel, dan sebagai bagian terpadu berbagai reaksi enzim di dalam jaringan
tubuh. Walaupun terdapat luas di dalam makanan banyak penduduk dunia yang
kekurangan besi, termasuk Indonesia. Kekurangan besi sejak tiga puluh tahun
terakhir diakui berpengaruh terhadap produktivitas kerja, penampilan kognitif, dan
sistem kekebalan(Almatsier, 2003).

b. Fungsi Besi

Fungsi besi sebagai berikut (Almatsier, 2003) :

- Metabolisme energi

Di dalam sel, besi bekerja sama dengan rantai protein pengangkut


elektron, yang berperan dalam langkah langkah akhir metabolisme energi.
Protein ini memindahkan hidrogen dan elektron yang berasal dari zat gizi
penghasil energi ke oksigen, sehingga membentuk air. Dalam proses tersebut
dihasilkan ATP. Menurunnya produktivitas kerja pada kekurangan besi
disebabkan oleh dua hal, yaitu berkurangnya enzim enzim mengandung
besi dan besi sebagai kofaktor enzim enzim yang terlibat dalam
metabolisme energi ; menurunnya hemoglobin darah. Akibatnya,
metabolisme energi di dalam otot terganggu dan terjadi penumpukan asam
laktat yang menyebabkan rasa lemah.

- Kemampuan belajar

Kadar besi dalam darah meningkat selama pertumbuhan hingga


remaja. Kadar besi otak yang kurang pada masa pertumbuhan tidak dapat
diganti setelah dewasa. Defisiensi besi berpengaruh negatif terhadap fungsi
otak, terutama terhadap fungsi sistem neurotransmitter (pengatur saraf).
Akibatnya, kepekaan reseptor saraf dopamin berkurang yang dapat berakhir
dengan hilangnya reseptor tersebut. Daya konsentrasi, daya ingat, dan
kemampuan belajar terganggu, ambang batas rasa sakit meningkat, fungsi
kelenjar tiroid dan kemampuan mengatur suhu tubuh menurun.

- Sistem kekebalan

Besi memegang peranan dalam sistem kekebalan tubuh. Respons


kekebalan sel oleh limfosit-T terganggu karena berkurangnya pembentukan
sel sel tersebut, yang kemungkinan disebabkan oleh berkurangnya sintesis
DNA. Berkurangnya sintesis DNA ini disebabkan oleh gangguan enzim
reduktase ribonukleotida yang membutuhkan besi untuk dapat berfungsi.
- Pelarut obat obatan

Obat obatan tidak larut air oleh enzim mengandung besi dapat
dilarutkan hingga dapat dikeluarkan dari tubuh.

c. Sumber Besi

Sumber besi yang baik adalah makanan hewani, seperti daging, ayam, telur
dan ikan. Sumber besi yang baik lainnya adalah serealia tumbuk, kacang
kacangan, sayuran hijau dan beberapa jenis buah. Pada umumnya besi di dalam
daging, ayam dan ikan mempunyai ketersediaan biologik tinggi, besi di dalam
serealia dan kacang kacangan mempunyai ketersediaan biologik sedang, dan
besi di dalam sebagian besar sayuran, terutama yang mengandung asam oksalat
tinggi, seperti bayam mempunyai ketersediaan biologik rendah (Almatsier, 2003).
Bahan makanan yang berasal dari makanan hewani di samping mengandung
banyak zat besi serapan zat besi dari makanan tersebut sebesar 20 30%
(Arisman, 2004).

Tabel 1 Nilai besi berbagai bahan makanan (mg/100 gr)

Bahan Makanan Nilai Bahan Makanan Nilai


Fe Fe
Tempe kacang kedelai murni 10,0 Jagung kuning, pipil lama 2,4

Kacang kedelai kering 8,0 Biskuit 2,7

Kacang hijau 6,7 Roti putih 1,5

Kacang merah 5,0 Beras setengah giling 1,2

Kelapa tua, daging 2,0 Kentang 0,7

Udang segar 8,0 Daun kacang hijau 6,2

Hati sapi 6,6 Bayam 3,9

Daging sapi 2,8 Sawi 2,9

Telur bebek 2,8 Daun katuk 2,7


Telur ayam 2,7 Kangkung 2,5

Ikan segar 2,0 Daun singkong 2,0

Ayam 1,5 Pisang ambon 0,5

Gula kelapa 2,8 Keju 1,5

Sumber : DKBM, Depkes. 1979.

d. Faktor faktor yang Mempengaruhi Absorpsi Besi (Almatsier, 2003):

- Bentuk besi

Besi hem yang merupakan bagian dari hemoglobin dan mioglobin


penyerapannya kurang lebih 40% dari besi dalam daging hewan, ayam dan
ikan. Besi nonhem terdapat dalam serealia, telur, kacang kacangan, sayuran
hijau dan beberapa jenis buah. Makan besi hem dan nonhem secara bersama
dapat meningkatkan penyerapan besi nonhem.

- Asam organik

Seperti vitamin C sangat membantu penyerapan besi nonhem dengan


merubah bentuk feri menjadi bentuk fero. Oleh karena itu sangat dianjurkan
makan sumber vitamin C tiap kali makan.

- Asam fitat

Faktor lain di dalam serat serealia dan asam oksalat di dalam sayuran
menghambat penyerapan besi. Faktor faktor ini mengikat besi, sehingga
mempersulit penyerapannya.

- Tanin

Merupakan polifenol dan terdapat di dalam teh, kopi dan beberapa


jenis sayuran dan buah juga menghambat absorpsi besi dengan cara
mengikatnya.

- Tingkat keasaman lambung


Kekurangan asam klorida di dalam lambung atau penggunaan obat
obatan yang bersifat basa, seperti antasid menghalangi absorpsi besi.

- Faktor Intrinsik

Di dalam lambung membantu penyerapan besi, diduga karena hem


mempunyai struktur yang sama dengan vitamin B12.

- Kebutuhan Tubuh

Bila tubuh kekurangan besi atau kebutuhan meningkat pada masa


pertumbuhan, absorpsi besi nonhem dapat meningkat sampai sepuluh kali,
sedangkan besi hem dua kali.

F. Angka Kecukupan Protein dan Zat Besi

Kecukupan gizi yang dianjurkan (AKG) adalah kecukupan rata rata zat gizi
setiap hari bagi setiap orang menurut golongan umur, jenis kelamin, ukuran tubuh dan
aktifitas untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal (Almatsier, 2003).

Angka kecukupan gizi yang dianjurkan didasarkan pada patokan berat badan
untuk masing masing kelompok umur, gender, dan aktifitas fisik. Patokan berat
badan tersebut didasarkan pada berat badan orang orang yang mewakili sebagian
besar penduduk yang mempunyai derajat kesehatan yang optimal (Almatsier, 2003).

Tabel 2 Angka Kecukupan Protein dan Zat Besi Rata Rata yang Dianjurkan

No Kelompok Umur Berat Badan Protein (g) Zat Besi


. (tahun) (kg) (mg)

1. 16 19 50 51 25
2. 20 45 54 48 26

Sumber : Widya Karya Pangan dan Gizi, 2004.

G. Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Konsumsi Protein

1. Besar Keluarga
Data besar keluarga berdasarkan BKKBN 1998 dikategorikan menjadi tiga
kelompok yaitu keluarga kecil yang terdiri dari empat orang, keluarga sedang
dengan jumlah anggota keluarga sebanyak lima sampai enam orang, dan keluarga
besar dengan jumlah anggota keluarga sebanyak tujuh orang. Besar keluarga
didefinisikan sebagai keseluruhan jumlah anggota keluarga yang terdiri dari
suami, istri, anak, dan anggota keluarga lainnya yang tinggal bersama.
Kejadian kurang energi protein berat sedikit dijumpai pada keluarga yang
memiliki anggota lebih kecil. Hal ini terjadi karena, jika besar keluarga bertambah
maka pangan untuk setiap anak berkurang dan banyak orang tua tidak menyadari
bahwa anak-anak yang sedang tumbuh memerlukan pangan relatif lebih tinggi
daripada golongan yang lebih tua (Suhardjo, 2003).

2. Pendidikan
Tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap perubahan sikap dan
perilaku hidup sehat. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan memudahkan
seseorang atau masyarakat untuk menyerap informasi dan
mengimplementasikannya dalam perilaku dan gaya hidup sehari-hari, khususnya
dalam hal kesehatan dan gizi (Fallah 2004 dalam WKNPG 2004).
Tingkat pendidikan orang tua mempunyai korelasi positif dengan cara
mendidik dan mengasuh anak. Tingkat pendidikan baik langsung maupun tidak
langsung akan mempengaruhi pola komunikasi antar anggota keluarga.
Pendidikan akan sangat mempengaruhi cara, pola, kerangka berpikir, persepsi,
pemahaman dan kepribadian yang nantinya merupakan bekal dalam
berkomunikasi (Gunarsa & Gunarsa 1995).
3. Pendapatan
Keluarga yang berpenghasilan cukup atau tinggi lebih mudah dalam
menentukan pemilihan bahan pangan sesuai dengan syarat mutu yang baik.
Tingkat pendapatan merupakan faktor yang menentukan kualitas dan kuantitas
makanan yang dikonsumsi. Pendapatan yang tinggi akan meningkatkan daya beli
sehingga keluarga mampu membeli pangan dalam jumlah yang diperlukan dan
akhirnya berdampak positif terhadap status gizi. Penurunan pendapatan terkait erat
dengan penurunan tingkat ketahahan pangan dan terjadinya masalah gizi kurang.
Keterkaitan ketahanan pangan dan ketidaktahanan pangan dapat dijelaskan dengan
hukum Engel dimana saat terjadi peningkatan pendapatan, konsumen akan
membelanjakan pendapatannya untuk pangan dengan alokasi semakin kecil.
Sebaliknya bila pendapatan menurun, alokasi yang dibelanjakan untuk pangan
semakin meningkat (Soekirman 2000).

4. Pengetahuan Gizi
Menurut Notoatmodjo (2005), pengetahuan akan membuat seseorang
mengerti sesuatu hal dan mengubah kebiasaannya, sehingga meningkatkan
pengetahuan akan merubah kebiasaan seseorang mengenai sesuatu. Jika
peningkatan itu terjadi pada pengetahuan akan gizi, maka akan terjadi perubahan
kebiasaan terkait dengan gizi sehingga menjadi lebih baik. Pengetahuan gizi
merupakan pengetahuan tentang peranan makanan, makanan yang aman untuk
dimakan sehingga tidak menimbulkan penyakit dan cara pengolahan makan yang
baik agar zat gizi dalam makanan tidak hilang serta bagaimana cara hidup sehat
(Notoatmodjo 2003). Menurut Paterrson dan Pietinen (2009), tingkat pengetahuan
gizi seseorang berpengaruh terhadap sikap dan perilaku dalam pemilihan makanan
yang pada akhirnya akan berpengaruh pada keadaan gizi yang bersangkutan.
Pengetahuan dapat diperoleh dari pendidikan formal maupun informal.
Riyadi (1996), menyatakan bahwa beberapa faktor yang mempengaruhi
jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi adalah banyaknya informasi yang
dimiliki oleh seseorang mengenai kebutuhan tubuh akan zat gizi, kemampuan
seseorang untuk menerapkan pengetahuan gizi ke dalam pemilihan bahan pangan,
dan cara pemanfaatan pangan yang sesuai dengan keadaannya. Oleh karena itu,
pengetahuan gizi sangat erat kaitannya dengan baik buruknya kualitas makanan
yang dikonsumsi.
5. Kebiasaan Makan
Model analisis perilaku konsumsi pangan anak-anak yang dikembangkan
oleh Lund dan Burk (1969), mengatakan bahwa suatu konsumsi pangan terjadi
karena ada motivasi (needs, drives, desires) yang ditentukan oleh beragam proses
kognitif mencakup persepsi, memori, berpikir, memutuskan untuk bertindak.
Kebutuhan hidup manusia (termasuk anak-anak) pada dasarnya mencakup tiga
macam yaitu kebutuhan biologis, kebutuhan psikologis, dan kebutuhan sosial.
Selain ketiga macam kebutuhan tersebut, ada faktor lain yang berkaitan langsung
dengan kognitif dan tidak langsung dengan motivasi yaitu pengetahuan dan
kepercayaan anak-anak terhadap makanan dan sikap serta penilaian anak terhadap
makanan (Suhardjo 1989).
6. Konsumsi Pangan
Konsumsi pangan meliputi informasi mengenai jenis pangan dan jumlah
pangan yang dimakan seseorang atau sekelompok orang (keluarga atau rumah
tangga) pada waktu tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi pangan dapat
ditinjau dari aspek jenis dan jumlah pangan yang dikonsumsi. Pola konsumsi
pangan merupakan susunan jenis pangan yang dikonsumsi berdasarkan kriteria
tertentu (Hardinsyah & Martianto 1992). Makanan sangat penting untuk
kelangsungan kehidupan, setiap makanan yang dikonsumsi akan memberikan
pengaruh pada status gizi dan kesehatan. Makanan mengandung berbagai zat gizi
yang penting yang dibutuhkan tubuh untuk kecukupan energinya, pertumbuhan,
dan perkembangan, tingkah laku normal, terhindar dari berbagai macam penyakit,
dan untuk perbaikan jaringan tubuh. Konsumsi harian zat gizi yang penting
dipengaruhi oleh variasi makanan yang dikonsumsi dan jumlahnya (Marotz et al.
2004). Cara seseorang atau sekelompok orang memilih pangan dan memakannya
sebagai reaksi terhadap pengaruh-pengaruh fisiologik, psikologik, budaya, dan
sosial dikenal sebagai kebiasaan makan. Kebiasaan makan kadang-kadang disebut
pola makan, kebiasaan pangan, atau pola pangan (Suhardjo 1989).

H. Kerangka Teori
Gambar I Kerangka Teori

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Konsumsi Protein (Unicef)

Sumber : UNICEF dalam Soekirman ,1999 (dengan modifikasi)

I. Kerangka Konsep
Gambar 2 Kerangka Konsep

J. Hipotesis

- Ada hubungan kontribusi protein lauk hewani dengan tingkat konsumsi protein

- Ada hubungan kontribusi protein lauk nabati dengan tingkat konsumsi protein

- Ada hubungan kontribusi protein sayuran dengan tingkat konsumsi protein

- Ada hubungan kontribusi zat besi lauk hewani dengan tingkat konsumsi zat
besi

- Ada hubungan kontribusi zat besi lauk nabati dengan tingkat konsumsi zat besi

- Ada hubungan kontribusi zat besi sayuran dengan tingkat konsumsi zat besi.