Anda di halaman 1dari 21

7

BAB III

KONSEP DASAR LIGHTNING ARRESTER

Surge Arrester merupakan peralatan yang didesain untuk melindungi peralatan


lain dari tegangan surja (baik surja hubung maupun surja petir) dan pengaruh
follow current. Sebuah arrester harus mampu bertindak sebagai insulator,
mengalirkan beberapa miliampere arus bocor ke tanah pada tegangan sistm dan
berubah menjadi konduktor yang sangat baik, mengalirkan ribuan ampere arus
surja ke tanah, memiliki tegangan yang lebih rendah daripada tegangan withstand
dari peralatan ketika terjadi tegangan lebih, dan menghilangan arus susulan
mengalir dari sistem melalui arrester (power follow current) setelah surja petir
atau surja hubung berhasil didisipasikan.

a. Sejarah Teknologi Lightning Arrester

Sejak sistem listrik AC mulai diimplementasikan sekitar 100 tahun lalu di saluran
transmisi, teknologi proteksi petir sudah mulai dikembangkan, mulai dari
teknologi yang hanya memanfaatkan sela udara (gap), kemudian berkembang
dengan memanfaatkan kombinasi antara sela udara dan resistor non linear, serta
yang terakhir menggunakan resistor non linear tanpa gap (teknologi terakhir ini
mulai diimplementasikan mulai 20 tahun silam). Mayoritas Arrester pada Sistem
Transmisi di PLN saat ini telah menggunakan arrester dengan teknologi terakhir
yg memanfaatkan keping ZnO tanpa gap.

Perkembangan teknologi Arrester dapat dilihat sebagai berikut:


1892 1908 : Penggunaan Air Gaps
1908 1930 : Multiple gaps dengan resistan
1920 1930 : Lead Oxide dengan resistor
1930 1960 : Passive Gapped Silicon Carbide
1960 1982 : Active Gapped Silicon Carbide
1976 skrg : MOSA tanpa gap

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik


8

1985 skrg : MOSA tanpa gap dengan polymer housings


b. Konsep Dasar Lightning Arrester
Lightning Arrester/ Arrester/ Surge Arrester memiliki peran penting di dalam
koordinasi isolasi peralatan di gardu induk. Fungsi utama dari Lightning Arrester
adalah melakukan pembatasan nilai tegangan pada peralatan gardu induk yang
dilindunginya. Panjang lead yang menghubungkan arrester pun perlu
diperhitungkan, karena inductive voltage pada lead ini ketika terjadi surge akan
mempengaruhi nilai tegangan total paralel terhadap peralatan yang dilindungi.
Untuk memahami kerja sebuah arrester, maka akan dijelaskan lebih rinci di bawah
melalui contoh kasus yang diperoleh dari Siemens Handbook Metal Oxide
Arrester.

Gambar 16. Arrester Porselain dengan 2 Kompartemen

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik


9

c. Kofigurasi Lightning Arrester


Sebelum memahami lebih lanjut tentang proses konfigurasi arrester, perlu
dipahami terlebih dahulu bagaimana requirement dan parameter-parameter yang
mempengaruhi performa dari arrester. Secara mendasar, terdapat 2 kebutuhan
dasar dari arrester, yang pertama adalah mampu memeberikan level proteksi yang
memenuhi safety margin bagi peralatan yang dilindungi, dan yang kedua adalah
bahwa arrester tersebut harus mampu bekerja dengan baik dalam tegangan
operasional secara kontinu serta mampu menahan pengaruh transien ataupun
setiap tegangan lebih yang muncul di dalam system, tanpa terpengaruh baik
karakteristik elektris maupun thermalnya.

Kedua kebutuhan dasar tersebut saling terkait. Pada saat kita menurunkan level
proteksi di sebuah peralatan, itu juga berarti semakin tinggi stress yang dialami
oleh arrester selama tegangan operasi kontinu. Secara ringkas pemilihan arrester
dapat dilihat dalam bagan pada halaman berikut ini:

Gambar 21. Diagram Pemilihan Arrester

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik


10

Persyaratan tambahan arrester meliputi karakteristik elektris dari sebuah arrester:


mereka tidak boleh berubah sepanjang rentang waktu tertentu, tidak berubah
akibat pengaruh lingkungan, seperti polusi, radiasi sinar matahari ataupun
pengaruh mekanis. Pendekatan seperti bagan di atas akan dijelaskan dalam sub-
sub bab berikut di bawah ini.

d. Ragam Lightning Arrester


Lingkup arrester luas, mulai dari penggunaan elektronika hingga pada system
transmisi Tegangan Tinggi maupun Tegangan Ekstra Tinggi. Buku pedoman ini
membatasi arrester pada level tegangan Lightning Arrester pada Sistem Transmisi
secara umum dapat dikelompokkan berdasarkan beberapa kategori:

1. Berdasarkan Level Tegangan Withstand Voltage Peralatan yang


dilindungi

Mengacu pada IEC 60071-1:


a. Range I (1kV 245kV)
b. Range II (di atas 245 kV)
Klasifikasi ini didasarkan pada perbedaan karakteristik surja, dimana pada Range
II surja akibat proses switching lebih membahayakan peralatan daripada surja
lightning. Oleh karena proses switching memiliki steepness yang lebih lambat,
makadiperlukan pula arrester dengan karakteristik komponen non linear yang
berbeda.

ANSI/ IEEE C62.1 dan C62.11 membedakan lightning arrester ke dalam 4 kelas:
a. Station Class
b. Intermediate Class
c. Distribusi Class
d. Secondary Class

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik


11

2. Berdasarkan Letak Pemasangan


Arrester pada HV/ EHV menurut pemasangannya dibedakan menjadi sebagai
berikut:
a. Arrester GIS

Gambar 25. Arrester di GIS

b. Arrester Saluran Transmisi


Dipasang baik parallel dengan insulator pada tower (umumnya diserikan
dengan spark gap) atau dipasang pada konduktor sebagai pengganti
damper dilengkapi dengan disconnector Switch. Untuk tipe gap, stress
akibat tegangan power frekuensi tidak mempengaruhi kondisi arrester,
namun sulit untuk memonitor kondisi arrester karena tidak dilengkapi
dengan counter, yang dapat dilaksanakan adalah monitoring kondisi
tanduk api untuk menentukan apakah telah terjadi proses discharge.

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik


12

Gambar 26. Arrester di Saluran Transmisi

Sementara untuk arrester tanpa gap, dipasang pada konduktor terhubung


ke ground, dilengkapi dengan disconnector switch (yang akan bekerja bila
telah terjadi arus di atas nilai nominalnya), arrester line jenis ini juga
dilengkapi dengan counter sehingga memudahkan proses monitoring.

c. Arrester Gardu Induk


Merupakan Arrester kebanyakan yang terpasang di Gardu Induk, menurut
material penyusun housing, material Gardu Induk dibedakan menjadi:
1. insulator porselen
2. insulator polimer

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik


13

Gambar 27. Lightning Arrester di Gardu Induk

d. Berdasarkan material penyusun komponen non linear


Penjelasan pada sub-bab sebelumnya menjelaskan bahwa komponen non
linear yang terakhir digunakan adalah Metal Oksida, sekalipun sedikit
sekali (dan sudah tidak diproduksi) arrester menggunakan komponen non
linear dari Silikon Karbida (SiC)

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik


14

e. FMEA pada Lightning Arrester

FMEA (Failure Mode Effect Analysis) merupakan tahapan yang dilaksanakan


untuk mendapatkan gejala kegagalan pada sebuah peralatan dengan menerapkan
keterkaitan sebab-akibat antara kegagalan yang satu dengan penyebab
sebelumnya, demikian seterusnya hingga ditemukan penyebab kegagalan yang
paling awal. Penyebab kegagalan paling mula ini, misal, seal rusak (yang
menyebabkan moisture masuk ke dalam kompartemen arrester), perlu
dilaksanakan inspeksi khusus terhadapnya.

Dalam analisis FMEA, pendekatan yang dilaksanakan bukan melalui pendekatan


per komponen yang menyusun sebuah peralatan, melainkan pendekatan fungsi.
Dalam hal ini, sebuah Sistem Arrester MOSA memiliki sebuah fungsi utama
memotong tegangan lebih yang menuju peralatan yang dilindunginya. Tegangan
lebih ini baik berupa surja petir, surja hubung maupun tegangan lebih di dalam
sistem. Sebuah arrester terdiri dari beberapa sub sistem pendukung, yaitu:

i. Sub Sistem Pemotong Surja


Merupakan sub sistem kritis dari sebuah lightning arrester yang berfungsi
memotong tegangan lebih dari surja. Berupa komponen non linear, umum
digunakan adalah ZnO. Mayoritas arrester saat ini menggunakan tipe Metal
Oksida. Parameter utama yang mempengaruhi kualitas ZnO adalah karakteristik
V-I yang dimiliki serta kemampuannya mengabsorbsi energi ketika terjadi proses
surja.

ii. Sub Sistem Isolasi


Merupakan sub sistem yang memiliki sub fungsi memisahkan bagian konduktor
bertegangan dengan ground, terdiri dari kompartemen insulator (housing), baik
berupa keramik maupun polymer, juga insulator dudukan (insulation feet) berada
di sisi bawah dari arrester. Kompartemen perlu diperhatikan tingkat polusinya,
semakin tinggi tingkat polusi yang melekat, memungkinkan nilai arus bocor
Listrik untuk kehidupan yang lebih baik
15

permukaan menjadi tinggi. Pada insulator jenis keramik, perlu dilakukan


pengecekan apakah telah terjadi cracking pada permukaan kompartemen,
sementara pada insulator jenis polimer, dicek bilamana kondisi polimer utuh/
robek ataupun berlumut.

iii. Sub Sistem Counter & Meter Petunjuk


Counter berfungsi untuk menunjukkan jumlah kali surja telah terjadi pada arrester.
Sementara meter petunjuk berfungsi untuk menunjukkan bbesar nilai arus bocor
yang mengalir dari ujung atas arrester menuju ground dalam kondisi operasi
tegangan kontinu. Arus bocor total ini mayoritas bersifat kapasitif dan terpengaruh
oleh banyak factor: kebersihan kompartemen luar, stray capacitance di gardu
induk dan kondisi insulating feet. Agar keduanya bekerja baik, maka arrester
harus dipastikan hanya terhubung ke bumi melalui kawat ground, untuk itulah,
maka insulating feet berperan.

Walau demikian, meter petunjuk memberikan besaran nilai arus bocor total,
dimana nilai tersebut kurang akurat bila hendak digunakan untuk
merepresentasikan kondisi dari keeping metal oksida. Pengukuran lain, yang
merujuk pada IEC 60099-5, yakni pengukuran arus bocor resistif dengan
kompensasi harmonisa orde ke-3 dinilai lebih akurat untuk memberikan gambaran
kondisi komponen kritis arrester (Metal Oksida) tersebut.

Penelitian internal PLN menunjukkan bahwa ada keterkaitan antara jumlah kerja
counter arrester dengan besaran arus bocor resistif dari Arrester.

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik


16

Gambar 28. Relasi antara nilai arus bocor resistif dan jumlah kerja counter

iv. Sub Sistem Pentanahan


Merupakan komponen yang berfungsi untuk meneruskan baik arus bocor selama
tegangan operasi kontinu, maupun surja menuju bumi. Kawat pentanahan terbuat
dari tembaga. Kawat pentanahan umumnya dipasang seri dengan peralatan
monitoring (counter ataupun meter) sebelum dibumikan. Kondisi konektor harus
dipastikan baik, seperti: tidak terdapat rantas pada kawat, ataupun koneksi-
koneksi baik (mur dan baut), kawat tembaga tidak ditumbuhi lumut

v. Sub Sistem Pengaman Tekanan Lebih Internal


Memiliki fungsi melepaskan tekanan lebih di dalam arrester yang mungkin timbul
ketika terjadi discharge arus surja tinggi. Fungsinya mirip pressure relief pada
transformator. Pada saat terjadi surja, baik single maupun multiple, suhu keeping

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik


17

metal oksida mampu mencapai 170OC 200OC, oleh karenanya terjadi pemuaian
udara di dalam kompartemen udara, pemuaian ini perlu dilepas keluar
kompartemen untuk menghindari kompartemen (umumnya porselen menjadi
pecah), katup kembali menutup dengan segera untuk menjaga agar tekanan udara
di dalam kompartemen tetap lebih tinggi daripada tekanan udara luar.

Beberapa arrester dilengkapi dengan flag pressure relief, terbuat dari alumunium,
terpasang di ujung venting outlet arrester. Flag ini berfungsi untuk memberikan
indikasi, bahwa pernah terjadi surja yang cukup tinggi (di atas rated pressure
relief device), sehingga memungkinkan kerusakan pressure relief device.

Gambar 29. Sudden Pressure Relief Flag

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik


18

vi. Sub Sistem Konstruksi Penyangga


Memiliki fungsi sebagai penyangga arrester di atas permukaan tanah. Terdiri dari
pondasi dan struktur besi penyangga.

Gambar 30. Konstruksi Penyangga

vii. Sub Sistem Konektor


Memiliki fungsi melakukan koneksi antara kawat konduktor dengan bagian atas
arrester, dan dari arrester ke bagian pentanahan. Bagian ini rawan terjadi
kelonggaran yang memungkinkan timbulnya hot spot, oleh karenanya, perlu
dilakukan thermovisi secara berkala pada bagian ini, selain thermovisi pada
kompartemen arrester itu sendiri.

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik


19

Gambar 31. Konektor atas dan konektor bawah Arrester

viii. Sub Sistem Asesories/ Grading/Corona Ring


Memiliki fungsi mendistribusikan secara merata medan listrik dan mengurangi
efek corona pada bagian ujung atas LA. Grading ring perlu dipasang pada arrester
dengan ketinggian lebih dari 1,5 meter.

Gambar 32. Grading Rin

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik


f. Alat Dan Bahan
Alat dan bahan adalah suatu perlengkapan untuk bekerja, alat dan bahan yang
dipergunakan pada rutinitas kegiatan sehari-hari adalah :

1. WD-40

Gambar 10 betuk WD-40


WD-40 adalah pelumas yang digunakan untuk berbagai benda yang biasanya
berkarat dan berkerak. Salah satu contoh penggunaanya pada PT.PLN
(PERSERO) APP P3B JB CILEGON adalah untuk membersihkan alat proteksi

2. Lap/Majun

Gambar 11 contoh lap/majun


Lap/majun adalah kain potongan-potongan yang di susun kembali untuk suatu
susunan yang lebih tebal, guna mempermudah proses pekerjaan. Salah satu contoh
kegunaan majun pada kegiatan rutinitas pada PT.PLN ( persero ) APP P3BJB
Cilegon adalah untuk mengelap alat proteksi.
21

3. Obeng

Gambar 12 macam macam obeng

Obeng bukan hal lain keberadaanya bagi seorang tehnik. Obeng sangatlah
berguna untuk mempermudah pekerjaan manusia.Biasanya obeng dipergunakan
untuk membuka baud-baud yang kecil maupun yang besar.Salah satu contoh
penggunaanya pada PT.PLN ( Persero ) APP P3BJB Cilegon adalah ketika selesai
membersihkan alat proteksi, kemudian membuka baud-baud untuk mengecek
keadaan dalam pada alat proteksi tersebut.

4. Multi meter

Gambar 13 multimeter

Multimeter pada PT.PLN ( persero ) APP P3BJB Cilegon dipergunakan untuk


mengecek NO/NC pada alat proteksi speed switch dan yang lainya

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik


22

5. Tang komninasi

Gambar 14 tang kombinasi

Tang merupakan peralatan yang sangat berguna bagi pekerjaan manusia.


Tang di fungsikan untuk sebagai alat penjepit, pemotong, dan terkadang berfungsi
sebagai untuk melilit sebagian kabel dan baud

6. Plastik

Gambar 15 contoh plastic sebagai bahan kerja

Plastik biasanya di pergunakaan untuk membukus suatu benda,makanan,


dan yang lainya. Salah satu contoh kegunaanya adalah untuk membungkus alat
proteksi yang telah di bersihkan

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik


23

7. Koas

Gambar 16 koas sebagai benda kerja


Koas adalah alat pembersih, biasanya di pergunakan untuk membersihkan
debu atau partikel lainya pada benda yang sulit di jangkau.

8. HT/Handy Talky

Gambar 17 handy talky sebagai media komunikasi

HT merupakan sebuah alat komunikasi yangbentuknya mirip dengan telepon


genggam, tetapi sifatnya searah.Karena searah, maka sipengirim pesan dan si
penerima tidak bisa berbicara pada saat yang bersamaan.HTmenggunakan
gelombang radio frekuensi khusus, dan sering dipakai untuk komunikasi
yangsifatnya sementara karena salurannya dapat diganti-ganti setiap saat.

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik


24

g. Langkah Kerja
1. Menyiapkan alat dan bahan.
2. Membuka pelastik yang melapisi alat proteksi
3. Membersihkan alat proteksi yang akan dibersihkan dengan koas.
4. Menyemprotkan wd-40 ke bagian alat proteksi yang akan dibersihkan.
5. Mengelap bagian alat proteksi yang akan di bersihkan dengan kain/majun.
6. Membuka tutup alat proteksi
7. Memberitahukan kepada operator bahwa alat proteksi akan di cek
8. Memakai HT untuk komunikasi dengan operator
9. Menggunakan multimeter untuk mengecek bagus tidaknya alat proteksi
tersebut
10. Memberitahukan kembali kepada operator bahwa pengecekan telah selesai
11. Memotong pelastik dengan cuter secukupnya
12. Melapisi kembali alat proteksi dengan pelastik

h. Kesehatan Keselamatan Kerja


Ada berbagai alat keamanan diri yang harus digunakan dalam sebuah
pekerjaan atau sebuah situasi untuk melindungi pekerja dari dampak negatif
pekerjaannya, berikut alat-alat perlindungan diri yang dibutuhkan :
1. Sepatu

Gambar 18 sepatu sebagai pengaman kaki


Fungsinya melindungi kaki dari jatuhnya benda berat dan yang lainya maupun
hantaran listrik yang akan menyambar kita apabila kaki kontak langsung ke tanah.

2. Masker (penutup hidung)

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik


25

Gambar 19 masker sebagai pengaman hidug


Berfungsi melindungi pernafasan dari zat-zat berbahaya yang dapat terhirup
melalui hidung.

3. Helm

Gambar 20 helm sebagai pelindung kepala

Berfungsi untuk melindungi kepala dari benda-benda keras yang bisa saja
jatuh dari atas ke arah kepala

4. Sarung tangan

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik


26

Gambar 21 sarung tangan sebagai pengaman tangan

Berfungsi melindungi tangan dari cairan zat berbahaya yang dapat merusak
bagian kulit tangan pekerja.
5. Kaca mata

Gambar 22 kacamata sebagai pelindung mata

Berfungsi melindungi mata dari percikan api, debu maupun zat cair yang
dapat membahayakan mata.

6. Baju bengkel

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik


27

Gambar 23 baju kerja sebagai pelindung tubuh

Berfungsi melindungi seluruh tubuh dari zat berbahaya maupun percikan


api.Pada ash handling berfungsi untuk melindungi tubuh dari partikel debu fly
ash.

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik