Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Udara merupakan elemen yang sangat penting bagi kehidupan manusia.
Tanpa ada udara manusia tidak dapat bertahan hidup. Adanya ventilasi di dalam
ruangan akan memudahkan pergerakan udara, dari luar ruang akan masuk ke
dalam ruangan, sehingga ada pergantian udara. Karena kualitas udara yang buruk
dalam ruangan sering menimbulkan keluhan pada penghuninya seperti sakit
kepala, tenggorokan kering, iritasi pada mata dan kulit, kehilangan konsentrasi dan
menurutnya prestasi kerja atau yang biasa disebut "Sick Building Syndrome".
Kenyamanan ruangan menjadi hal penting bagi penghuni. Unsur
kenyamanan meliputi kenyamanan thennis, kelembaban, akustik, penerangan dan
visual termasuk kualitas udara dalam ruangan yang dipengaruhi oleh semua
elemen yang berada dalam ruangan itu sendiri, termasuk perilaku pengguna
ruangan dan sistem ventilasi serta sirkulasi udara. Udara dalam ruang yang
mengandung bahan pencemar seperti Oksida Nitrogen, Karbon Dioksida,
Formaldehid dan Mikroorganisme, dengan adanya pergerakan udara diharapkan
dapat memperbaiki kualitas udara, sehingga meningkatkan kenyamanan dan
kesehatan pengguna ruangan tersebut.
Mikroorganisme di udara merupakan unsur pencemaran yang sangat
berarti sebagai penyebab gejala berbagai penyakit antara lain iritasi mata, kulit,
saluran pernapasan (ISPA) dan lain-lain. Mikroorganisme dapat berada di udara
melalui berbagai cara terutama dari debu yang berterbangan. Debu yang
mengandung mikroorganisme antara lain berasal dari tanah, kotoran
hewan/manusia dan bahan buangan lain. Jumlah koloni mikroorganisme di udara
tergantung pada aktifitas dalam ruangan serta banyaknya debu dan kotoran lain.
Ruangan yang kotor akan berisi udara yang banyak mengandung mikroorganisme
dari pada ruangan yang bersih.

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa tujuan dan persyaratan dari adanya ventilasi pada ruang?
2. Parameter apa yang menjadi penilaian standar kualitas udara ruang?
3. Sebutkan jenis-jenis ventilasi/ventilator pada ruang?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui tujuan dan persyaratan adanya ventilasi pada ruang
2. Untuk mengetahui parameter yang mempengaruhi standar kualitas udara ruang
3. Untuk mengetahui jenis-jenis dari ventilasi pada ruang

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2
A. Definisi Ventilasi
Ventilasi adalah tempat pertukaran udara yang digunakan untuk memelihara
dan menciptakan udara sesuai dengan kebutuhan atau kenyamanan. Ventilasi ini
juga digunakan untuk menurunkan kadar suatu kontaminan di udara tempat kerja
melalui bukaan atau lubang seperti jendela, pintu, lubang angin atau dibantu
peralatan kipas angin (fan) atau dengan ventilasi lokal dan ventilasi sistem
pengendali suhu dan kelembaban udara (air conditioning)sampai batas yang tidak
membahayakan bagi keselamatan dan kesehatan kerja.
Ventilasi udara diperkenakan untuk menjaga kualitas dalam ruangan. Tujuan
utama dari sebuah sistem ventilasi udara adalah untuk membatasi konsentrasi
karbondioksida serta polutan seperti debu, asap dan komponen organik halus.
Ventilasi udara seringkali didesain untuk menjaga temperatur dan kelembaban
ruangan. Untuk menyediakan sebuah kondisi iklim mikro yang dapat diterima
didalam sebuah ruangan, baik dari aspek kenyamanan maupun kesehatan bagi para
penghuni ruangan (occupant ). Dalam hal ini, iklim mikro mengacu pada
lingkungan termal dan kualitas udara ruang dalam ( IAQ, indoor Air Quality).
Ventilasi merupakan proses untuk mencatu udara segar ke dalam bangunan
gedung dalam jumlah yang sesuai kebutuhan. Definisi lain menyebutkan bahwa
ventilasi adalah pergerakan udara masuk ke dan keluar dari ruang tertutup. Selain
itu, Ventilasi adalah teknik engineering control yang penting untuk meningkatkan
dan memelihara kualitas udara ditempat kerja. Alasan perlunya ventilasi antara
lain adalah:
1. Memanaskan atau mendinginkan udara dalam ruangan
2. Mengeluarkan kontaminan
3. Mengencerkan konsentrasi kontaminan dalam udara
4. Pertukaran udara untuk penyegaran
5. Mencegah terjadinya kebakaran atau peledakan

B. Tujuan Ventilasi
Tujuan ventilasi antara lain:
1. Meningkatkan dan mempertahankan kondisi udara agar tetap segar dan
nyaman.

3
2. Sebagai lubang masuk dan keluar angin sekaligus Sebagai lubang pertukaran
udara atau lubang ventilasi yang tidak tetap (sering berupa jendela atau pintu)
serta sebagai lubang masuknya cahaya dari luar (sinar matahari).
3. Menurunkan kadar kontaminan di udara sampai kebatas yang tidak
membahayakan pekerja
4. Mengurangi konsentrasi debu dan gas-gas yang dapat menyebabkan
keracunan, kebakaran, dan peledakan.
5. Menghilangkan gas-gas yang tidak menyenangkan yang ditimbulkan oleh
keringat dan sebagainya dan gas-gas pembakaran (CO2) yang ditimbulkan
oleh pernafasan dan proses-proses pembakaran.
6. Menghilangkan uap air yang timbul sewaktu memasak, mandi dan
sebagainya.
7. Menghilangkan kalor yang berlebihan.
8. Membantu mendapatkan kenyamanan termal.

C. Persyaratan Penggunaan Ventilasi


Agar udara dalam ruangan tetap terjaga, dapat dilakukan persyaratan teknis
ventilasi dan jendela sebagai berikut : Luas lubang ventilasi tetap, minimum 5%
dari luas lantai ruangan dan luas lubang ventilasi insidentil (dapat dibuka dan
ditutup) minimum 5% luas lantai, dengan tinggi lubang ventilasi minimal 80 cm
dari langit-langit. Udara yang masuk haruslah udara yang bersih, tidak dicemari
oleh asap pembakaran sampah, knalpot kendaraan, debu dan lain-lain.
Apabila udara yang dikeluarkan ke tempat terbuka dari suatu sistem ventilasi
mengandung sejumlah kontaminan, sedang sistem ventilasi tanpa dilengkapi
dengan alat pembersih seperti scrubber, cyclone, bag house filter dan lain-lain,
kemungkinan udara tersebut sebagian akan masuk kembali dan mencemari
lingkungan kerja. Demikian pula yang jatuh di luar industri, meskipun dalam
jumlah kecil namun lama kelamaan akan mengendap dan menumpuk yang
akhirnya menyebabkan gangguan kesehatan.
Aliran udara diusahakan cross ventilation dengan menempatkan lubang
hawa berhadapan antara dua dinding ruangan. Aliran udara ini diusahakan tidak

4
terhalang oleh barang-barang seperti lemari, dinding, sekat, dan lain-lain.
Kelembaban udara dijaga antara 40% - 70%.

D. Prinsip Sistem Ventilasi


Prinsip sistem ventilasi yang digunakan dalam suatu industri adalah
membuat suatu proses pertukaran udara di dalam ruang kerja. Pertukaran udara
dicapai dengan cara memindahkan udara dari tempat kerja dan mengganti dengan
udara segar yang dilakukan secara bersama-sama.
Prinsip dari ventilasi adalah menggerakan udara kotor dalam rumah atau di
tempat kerja, kemudian menggantikannya dengan udara bersih. Sistem ventilasi
menjadi fasilitas penting dalam upaya penyehatan udara pada suatu lingkungan
kerja. Menurut ILO (1991), ventilasi digunakan untuk memberikan kondisi dingin
atau panas serta kelembaban di tempat kerja.
Pertukaran udara secara mekanik dilakukan dengan cara memasang sistem
pengeluaran udara (exhaust system) dan pemasukan udara (supply system) dengan
menggunakan fan. Exhaust system dipasang untuk mengeluarkan udara, beserta
kontaminan yang ada di sekitar ruang kerja, biasanya ditempatkan di sekitar ruang
kerja atau dekat dengan sumber kontaminan dikeluarkan. Supply system dipasang
untuk memasukkan udara ke dalam ruangan, umumnya digunakan untuk
menurunkan tingkat konsentrasi kontaminan di dalam lingkungan kerja.
E. Jenis-jenis Ventilasi
Salah satu cara pengendalian udara dalam ruang adalah ventilasi, yaitu
pemasukandan pengeluaran udara kedalam ruang melalui bukaan atau lubang yang
ada untukmendapatkan udara yang memenuhi standard kualitas kesehatan dan
proses produksi industri. Jenis-jenis ventilasi diantarannya adalah:
1. Ventilasi Umum (General Ventilation)
Jenis ventilasi ini biasanya digunakan pada tempat kerja dengan emisi
gas yang sedang dan derajat panas yang tidak begitu tinggi. Jenis ventilasi ini
biasanya dilengkapi dengan alat mekanik berupa kipas penghisap contohnya
adalah (exhaust fan). Prinsip kerja dari general ventilation ini adalah udara
yang dibangun di luar tempat kerja di hisap dan di hembuskan oleh kipas
kedalam rungan bercampur dengan bahan pencemar sehingga terjadi

5
pengenceran. Kemudian udara kotor yang telah diencerkan tersebut dihisap
dan di buang keluar, sehingga udara di dalm ruangan dapat tetap tejaga
kebersihannya. Ventilasi umum dapat juga diartikan dengan pengenceran,
yaitu penurunan konsentrasi kontaminan udara dalam ruang kerja sampai pada
tingkat yang tidak membahayakan kesehatan (NAB) dan keselamatan tenaga
kerja. Ventilasi umum dapat berlangsung dengan baik bila:
a) Kadar kontaminan udara dalam ruang tidak terlalu tinggi agar volume
udara pengencer tidak terlalu besar.
b) Pekerja berada cukup jauh dari sumber pengencer agar tidak terpengaruh
pencemaran, kadar kontaminan udara masih dibawah nilai ambang batas.
c) Toksisitas kontaminan masih rendah
d) Pencemaran terjadi merata.
Pemasukan dan pengeluaran udara dalam ruang terjadi disebabkan
adanya perbedaan tekanan udara luar dan dalam. Udara akan mengalir dari
udara bertekanan tinggi ke udara bertekanan rendah. Perbedaan tekanan
dapat terjadi karena adanya perbedaan suhu udara dan mengakibatkan
terjadinya perbedaan kerapatan udara atau berat jenis udara. Udara panas
dengan berat jenis rendah mengalir keatas, sedang udara dingin dengan berat
jenis tinggi akan mengalir kebawah. Pada ventilasi alamiah udara mengalir
secara alamiah.Ventilasi umum terlaksana dengan dua cara:
1) Ventilasi Horisontal (ventilasi silang)
Arus angin datang dari luar ruang secara horizontal, dapat
terjadi bila terdapat perbedaan suhu udara luar dan dalam ruang atau antar
ruang dalam bangunan.Ventilasi silang berfungsi dengan baik, maka pada
dinding harus ada bukaan atau lubang seperti pintu, jendela, atau lubang
angin.Aliran udara masuk kedalam ruangan tidak terlalu kuat dan tidak
terhambat, dan harus diarahkan ke bagian-bagian ruang yang ditempati
atau dipakai.Kemungkinan penempatan lubang ventilasi Penempatan
lubang ventilasi adalah
penting untuk pengarahan aliran udara dari lubang masuk (inlet) ke
lubang keluar (outlet).

6
Keadaan 1; Tidak ada lubang keluar tidak ada aliran udara keluar,
ventilasi tidak efektif, menimbulkan ketidaknyamanan.
Keadaan 2; Pada dinding yang berhadapan terdapat masing-masing
satu lubang masuk dan satu lubang keluar yang sama luasnya. Lubang
masuk letaknya keluar, terletak dalam batas daerah hunian atau kerja
(living zone) : 0,30m 1,80m diatas lantai. Luas lubang keluar lebih
besar dari lubang masuk adalah lebih baik.
Keadaan 3; Lubang masuk terletak tinggi, lubang keluar rendah.
Terjadi kantung udara dibawah lubang masuk, tidak ada aliran udara
dalam daerah hunian.Ventilasi kurang efektif.
Keadaan 4; Lubang masuk dan keluar sama tinggi dan sama luas
ventilasi baik sekali. Pemasangan kisi-kisi, jalusi, sungkup (kanopi)
pada lubang masukan dapat memperbaiki pola aliran udara masuk
kedalam ruang.Penempatan lubang keluar hampir tidak merubah pola
aliran udara dalam ruang.Aliran udara dalam ruang hanya tergantung
pada ukuran, bentuk dan letak lubang angin masuk. Ventilasi lebih baik
lagi bila dibuat dua lubang masuk dengan lubang besar pada bagian
bawah dna lubang kecil atau jalusi dibagian atas.Kecepatan aliran
udara masuk dapat diperbesar bila lubang keluar dibuat lebih
besar.Perbandingan ukuran lubang keluar dengan lubang masuk
mempengaruhi kecepatan aliran udara dalam ruang.Makin besar
perbandingan lubang, makin tinggi kecepatan aliran udara.Dalam
gambar ditunjukkan besar kecepatan aliran udara dalam ruang
dinyatakan dalam persen kecepatan udara luar.
2) Ventilasi vertikal
Aliran udara terjadi karena perbedaan berat jenis lapisan-lapisan
udara luar dan dalam bangunan.Berat jenis kecil udara mengalir keatas,
berat jenis besar udara mengalir kebawah (efek cerobong). Kesimpulan:

7
a) Lubang-lubang ventilasi ditempatkan pada dinding-dinging yang
saling berhadapan agar terjadi aliran udara yang baik dalam ruang.
b) Lubang-lubang ventilasi ditempatkan tidak sama tinggi dari lantai
agar terjadi aliran udara yang baik dalam ruang.
c) Cerobong udara keluar dibuat setinggi mungkin agar terjadi aliran
udarayang baik dalam ruang (efek cerobong).
d) Tinggi letak lubang ventilasi masuk sedemikian sehingga aliran
udaramasuk mengenai daerah hunian (living zone) pada batas
ketinggian 0,30 m-1,80m diatas lantai.
e) Lubang-lubang ventilasi sebaiknya dibuat dengan kombinasi ventilasi
horizontal dan vertikal.
f) Untuk kenyamanan ruang, kecepatan aliran udara dibuat berkisar
antara0,10-0,15 m/detik. Untuk kesehatan tidak melebihi 0,5 m/det,
atau kurangdari 0,10 m/det.
Suhu udara yang mengalir mempengaruhi kenyamanan, udara
yang mengalir dengan kecepatan 0,6 m/det pada suhu 30C tidak terasa
jelek, tetapi aliran udara dengan kecepatan 0,15 m/det. Pada suhu 12C
terasa tidak enak. Udara yang mengalir diatas lantai yang dingin terasa
tidak enak. Udara yang mengalir dengan kecepatan 0,10 m/det didaerah
pegunungan terasa sangat dingin pada kaki.
Pada tempat-tempat dengan kecepatan udara tinggi, dikendalikan
dengan memasang penahan atau pembelok arah angin (deflektor) pada
bukaan, yang dapat digerakkan untuk mengatur arah angin, dan kecepatan
angin masuk.
Tabel 2.1 Penahan Angin (deflektor)
Tidak dapat berputar (tetap), kecepatan angin masuk dapat
dikurangi
Dapat berupah pada sumbu horisontal, arah dan kecepatan
angin masuk dapat diatur
Dapat berputar pada suhu horisontal, dapat menurunkan
kecepatan dari 40 km/jam menjadi 5 sampai 1,5 km / jam

8
Sumber: fakultas teknik, USU,2011
PenentuanVentilasi Umum
Beberapa rumus dan perhitungan yang sering dipakai untuk
pengukuran ventilasi umum adalah:
a) Pergantian udara per jam (air change per hour)
General ventilation rate =......kali..(2.1)
Luas ruangan x tinggi ruangan
b) Waktu setiap pergantian udara
Volume ruangan =.....menit....(2.2)
Ventilation rate
c) Aliran udara per unit luas area (air floor per unit floor area)
General ventilation rate =....cmm/m(2.3)
Luas daerah lantai
d) Volume udara setiap orang (air volume per person)
General ventilation rate =...cmm/m.....(2.4)
Jumlah pekerja
2. Ventilasi alami (Natural Ventilation)
Merupakan suatu bentuk pertukaran udara secara alamiah tanpa
bantuan alat-alat mekanik seperti kipas. Ventilasi alami masih dapat
dimungkinkan membersihkan udara selama pada saat ventilasi terbuka terjadi
pergantian dengan udara yang segar dan bercampur dengan udara yang kotor
yang ada dalam ruangan. Secara umum, standar luas ventilasi alami dihitung
lebih dari 20 % luas lantai tempat kerja (Sumamur, 1987).
Penggunaan ventilasi alami tidak efektif jika digunakan dengan tujuan
untuk mengurangi emisi gas, debu dan vapours ditempat kerja. Hal ini
disebabkan tingkat kesulitan yang tinggi pada ventilasi alami terkait
penentuan parameter yang harus kita ketahui menyangkut kecepatan angin,
tekanan angin dari luar, arah angin, radiasi panas dan berapa besar pengaruh
lubang-lubang yang ada pada dinding dan atap, Ventilasi alami biasanya
digunakan dengan tujuan untuk memberikan kesegaran dan kenyamanan pada
tempat Kerja yang tidak memiliki sumber bahaya yang tinggi.
Ventilasi umum dapat berlangsung dengan baik bila : Kadar
kontaminan udara dalam ruang tidak terlalu tinggi agar volume udara

9
pengencer tidak terlalu besar. Pekerja berada cukup jauh dari sumber
pengencer agar tidak terpengaruh pencemaran, kadar kontaminan udara
masih dibawah nilai ambang batas. Toksisitas kontaminan masih rendah
Pencemaran terjadi merata.
Ventilasi alami yang disediakan harus terdiri dari bukaan permanen,
jendela, pintu atau sarana lain yang dapat dibuka, dengan:
1) Jumlah bukaan ventilasi tidak kurang dari 5% terhadap luas lantai ruangan
yang membutuhkan ventilasi; dan
2) Arah yang menghadap ke:
a) Halaman berdinding dengan ukuran yang sesuai, atau daerah yang
terbuka keatas.
b) Teras terbuka, pelataran parkir, atau sejenis; atau
c) Ruang yang bersebelahan.
3. Ventilasi mekanik
Penggantian udara terjadi dengan bantuan alat mekanik seperti kipas
angin (fan), penyedot udara (blower),exhauster. Cara ini digunakan bila cara
alamiah tidak mencukupi, misalnya ukuran ruang luas. Ada dua jenis kipas
angin yaitu sistem baling-baling dan sistem sedot pompa sertrifugal. Kipas
angin yang digunakan garis tengah besar dengan putar per menit sekecil
mungkin untuk memberikan kenyamanan.Aliran udara dibuat merata dalam
seluruh ruang, diletakkan dekat sumber kontaminan.Bila sumber kontaminan
dekat dinding kipas angin berfungsi sebagai pengisap kontaminan keluar
(exhauster).Bila berat jenis kontaminan lebih besar dari berat jenis udara,
maka kipas dipasang dekat lantai. Bila dipasang pada langit-langit, tinggi
ruang harus lebih dari 3 m. Kapasitas kipas ditentukan oleh volume ruang,
jumlah pergantian udara dalam ruang yang diperlukan. Persyaratan Teknik
ventilasi mekanik.
1) Sistem ventilasi mekanis harus diberikan jika ventilasi alami yang
memenuhi syarat tidak memadai.
2) Penempatan fan harus memungkinkan pelepasan udara secara maksimal
dan juga memungkinkan masuknya udara segar atau sebaliknya.

10
3) Sistem ventilasi mekanis bekerja terus menerus selama ruang tersebut
dihuni.
4) Bangunan atau ruang parkir tertutup harus dilengkapi sistem ventilasi
mekanis untuk membuang udara kotor dari dalam dan minimal 2/3
volume udara ruang harus terdapat pada ketinggian maksimal 0,6 meter
dari lantai.
5) Ruang parkir pada ruang bawah tanah (besmen) yang terdiri dari lebih
satu lantai, gas buang mobil pada setiap lantai tidak boleh mengganggu
udara bersih pada lantai lainnya.
6) Besarnya pertukaran udara yang disarankan untuk berbagai fungsi
ruangan harus sesuai ketentuan yang berlaku.
Ventilasi mekanik merupakan ventilasi buatan, beberapa conoth ventilasi
mekanik adalah seperti di bawah ini:
a. Ventilasi pengeluaran setempat ( Local Exhaust Ventilation)
Jenis ventilasi ini dipakai dengan pertimbangan teknis, bahwa bahan
pencemar berupa gas, debu dan vapours yang ada pada tempat kerja dalam
konsentrasi tinggi tidak dapat dibuang atau diencerkan hanya dengan
menggunakan ventilasi umum ataupun ventilasi alami, namun harus
dengan ventilasi pengeluaran setempat yang diletakan tepat pada sumber
pencemar. Bahan pencemar yang keluar dari proses kerja akan langsung di
hisap oleh ventilasi, sebelum sampai pada tenaga kerja.
b. Comfort Ventilation
Jenis ventilasi ini dengan menggunakan alat yang biasa disebut Air
Conditioner (AC) pada suatu ruangan. Jenis ventilasi ini berfungsi
menciptakan kondisi tempat kerja agar menjadi nyaman, hangat bagi
tempat kerja yang dingin, atau menjadi sejuk pada tempat kerja yang
panas. Sementara pendapat serupa mengatakan, bahwa untuk memperoleh
ventilasi yang baik dapat dilaksanakan dengan cara : Ventilasi alamiah,
merupakan ventilasi yang terjadi secara alamiah, dimana udara masuk

11
kedalam ruangan melalui jendela, pintu, atau lubang angin yang sengaja
dibuat.

Ventilasi Mekanik, merupakan ventilasi buatan dengan menggunakan:


AC (Air Conditioner), yang berfungsi untuk menyedot udara dalam ruang
kenudian disaring dan dialirkan kembali dalam ruangan
Fan (Baling-baling) yang menghasilkan udara yang dialirkan ke depan
Exhauser, merupakan baling-baling penyedot udara dari dalam dan luar
ruangan untuk proses pergantian udara yang sudah dipakai.
4. Ventilasi Lokal
Pembuangan udara dilakukan langsung dari sumber kontaminan
melalui corong (hood) pengisap yang dipasang dan ditempatkan dekat sumber
kontaminan. Dari corong pengisap kontaminan disalurkan dalam pipa (duct)
menggunakan penyedot udara (blower) kemudian kontaminan dipisahkan oleh
sistem pembersih udara.Udara bersih selanjutnya dibuang ke atmosfir.
Tipe corong penghisap dan sistem pemasangannya harus disesuaikan
dengan jenis kontaminan dan cara kerja operator sehingga terhindar dari
pengaruh kontaminasi dari hasil proses produksi. Kapasitas penghisap harus
kecil, sehingga pemakaian energi kecil dan ekonomi.Kontaminan harus dapat
diisap seluruhnya, jangan sempat menyebar dalam ruang atau zona pernafasan
operator.Kontaminan harus terkonsentrasi dalam sistem ventilasi untuk dapat
dipisahkan menjadi udara bersih dan sisa buangan yang dapat dimanfaatkan
selanjutnya.Ventilasi lokal dengan sistem pembersih kontaminan. Tipe-tipe
sistem ventilasi lokal:
a) Ventilasi lokal menggunakan sistem pembersih kontaminan. Corong
penghisap dipasang tepat diatas sumber kontaminan. Kontaminan
disalurkan melalui sistem perpipaan ke sistem pembersih udara
menggunakan alat penyedot (blower) dan cara bersih dipisahkan dari

12
kontaminan selanjutnya dibuang ke atmosfir, sedang sisanya berupa
kontaminan dapat dimanfaatkan selanjutnya.
b) Ventilasi lokal menggunakan corong pengeluaran setempat tepat diatas
sumber kontaminan.Dengan cara ini udara terkontaminasi tidak tersebar
dalam ruang. Operator terhindar dari pengaruh kontaminan. Operator
tidak diperkenankan membungkuk diatas bak kerja.
c) Ventilasi lokal menggunakan corong celah (slot), dipasang disisi sumber
kontaminan. Gas buangan diisap melalui saluran samping. Operator dapat
bekerja dengan membungkuk diatas sumber kontaminan/bak kerja.
d) Ventilasi lokal menggunakan sistem tiup dan bisa (push and pull
exhauster). Sumber kontaminan diberi udara yang ditiupkan dari saluran
tiup memakai exhauster, udara kontaminan ditiup dan dibuang melalui
salurang buang memakai exhauster yang dipasang disebelahnya.
e) Ventilasi lokal untuk pengeluaran kontaminan pada pabrik
5. Ventilasi Pengendalian Suhu Udara
Pengendalian suhu bertujuan untuk penyegaran udara dalam
lingkungan kerja, dilaksanakan dengan menurunkan panas dengan cara
mengalirkan udara segar dan dingin menggantikan udara panas dalam ruang
kerja. Dapat dilaksanakan dengan cara-cara:
1. Ventilasi alamiah, dengan mengadakan lubang/bukaan seperti pintu,
jendela, lobang angin sehingga terjadi pengaliran udara secara alami.
2. Ventilasi mekanis, menggunakan peralatan bantu mekanis seperti :
a. Kipas angin, blower, untuk mengalirkan udara segar dan mengganti
udara panas serta menaikkan kecepatan liner udara dalam ruang.
b. Alat pendingin udara (air conditioning), untuk menurunkan suhu
udara dan kelembaban ruang. Udara panas dalam ruang diisap dan
panasnya diserap untuk pendinginan dan pengembunan dan kemudian
diembuskan kembali masuk dalam ruang.
Pendinginan udara bertujuan untuk:
1. Penyegaran udara bagi karyawan
2. Penyegaran udara yang diperlukan untuk proses produksi,
penyimpanan, lingkungan kerja mesin dan lain-lain.
Sistem pendingin ruang terdiri dari:

13
1. Sistem langsung (direct cooling), udara didinginkan langsung oleh zat
pendingin (refrigerant) menggunakan mesin sistem paket (package air
conditioner).
2. Sistem tidak langsung (indirect cooling), menggunakan media air es,
mesin pengolah udara (air handling unit AHU).
Faktor yang harus diperhatikan dalam membangun sistem ventilasi, selain
bentuk juga harus sangat diperhatikan kekuatan aliran dan tata letak ventilasi.
Letak ventilasi harus sesuai dengan priciples of dilution ventilation, terutama
untuk tempat kerja dengan resiko paparan bahan kimia. Berikut merupakan
contoh bagan kerja sistim ventilasi :

14
F.

Perancangan Ventilasi
Terdapat beberapa perencanaan ventilasi, diantaranya:
a. Perencanaan Ventilasi Alami
Perancangan ventilasi alami dilakukan sebagai berikut:
1. Menentukan kebutuhan ventilasi udara yang diperlukan sesuai fungsi
ruangan.
2. Mentukan ventilasi gaya angin atau ventilasi gaya termal yang akan
digunakan.
a) Ventilasi gaya angin
Faktor yang mempengaruhi laju ventilasi yang disebabkan gaya angin
termasuk:
1. Kecepatan rata-rata.
2. Arah angin yang kuat.
3. Variasi kecepatan dan arah angin musiman dan harian.
4. Hambatan setempat, seperti bangunan yang berdekatan, bukit, pohon
dan semak belukar.
Liddamnet (1988) meninjau relevansi tekanan angin sebagai
mekanisme penggerak. Model simulasi lintasan aliran jamak
dikembangkan dan menggunakan ilustrasi pengaruh angin pada laju
pertukaran udara.

15
Kecepatan angin biasanya terendah pada musim panas dari pada
musim dingin. Pada beberapa tempat relatif kecepatannya di bawah
setengah rata-rata untuk lebih dari beberapa jam per bulan. Karena itu,
sistem ventilasi alami sering dirancang untuk kecepatan angin setengah
rata-rata dari musiman.
Persamaan di bawah ini menunjukkan kuantitas gaya udara melalui
ventilasi bukaan inlet oleh angin atau menentukan ukuran yang tepat
dari bukaan untuk menghasilkan laju aliran udara:
Q = CV.A.V.............................................................(2.5)
dimana :
Q = laju aliran udara, m3 / detik.
A = luas bebas dari bukaan inlet, m2.
V = kecepatan angin, m/detik.
CV = effectiveness dari bukaan (CV dianggap sama dengan 0,5 ~ 0,6
untuk angin yang tegak lurus dan 0,25 ~ 0,35 untuk angin yang
diagonal).
Inlet sebaiknya langsung menghadap ke dalam angin yang kuat.
Jika tidak ada tempat yang menguntungkan, aliran yang dihitung dengan
persamaan akan berkurang, jika penempatannya kurang lazim, akan
berkurang lagi.
Penepatan outlet yang diinginkan
1. Pada sisi arah tempat teduh dari bangunan yang berlawanan langsung
dengan inlet.
2. Pada atap, dalam area tekanan rendah yang disebabkan oleh aliran
angin yang tidak menerus.
3. pada sisi yang berdekatan ke muka arah angin dimana area tekanan
rendah terjadi dalam pantauan pada sisi arah tempat teduh,dalam
ventilator atap, atau

16
4. Pada cerobong . Inlet sebaiknya ditempatkan dalam daerah bertekanan
tinggi, outlet sebaiknya ditempatkan dalam daerah negatip atau
bertekanan rendah.
b) Ventilasi gaya termal
Jika tahanan didalam banguanan tidak cukup berarti, aliran
disebabkan oleh efek cerobong yang dapat dinyatakan dengan persamaan:
.........................(2.6)
dimana :
Q = laju aliran, m3 / detik.
K = koefisien pelepasan untuk bukaan.
DhNPL= tinggi dari tengah-tengah bukaan terendah sampai NPL , m
T1 = Temperatur di dalam bangunan, K.
To = Temperatur luar, K.
Persamaan ini digunakan jika T1 >To , jika T1 < To , ganti T1
dengan To, dan ganti (T1-To) dengan (To T1). Temperatur rata-rata
untuk T1 sebaiknya dipakai jika panasnya bertingkat. Jika bangunan
mempunyai lebih dari satu bukaan, luas outlet dan inlet dianggap sama.
Koefisien pelepasan K dihitung untuk semua pengaruh yang
melekat, seperti hambatan permukaan, dan campuran batas. Perkiraan
DhNPL sulit. Jika satu jendela atau pintu menunjukkan bagian-bagian
yang besar (mendekati 90%) dari luas bukaan total dalam selubung, NPL
adalah tinggi tengah-tengah lubang, dan DhNPL sama dengan setengah
tingginya.
Untuk kondisi ini, aliran yang melalui bukaan dua arah, yaitu
udara dari sisi hangat mengalir melalui bagian atas bukaan, dan udara dari
sisi dingin mengalir melalui bagian bawah. Campuran batas terjadi
dikedua sisi antar muka aliran yang berlawanan, dan koefisien orifis dapat
dihitung sesuai dengan persamaan (Kiel dan Wilson, 1986):
K = 0,40 + 0,0045.( Ti To )................................(2.7)

17
Jika ada bukaan lain yang cukup, aliran udara yang melalui
bukaan akan tidak terarah dan campuran batas tidak dapat terjadi.
Koefisien pelepasan K = 0,65 sebaiknya dipakai. Tambahan
informasi pada cerobong yang disebabkan aliran udara untuk ventilasi
alami bisa dipenuhi pada referensi Foster dan Down (1987). Aliran
terbesar per unit luas dari bukaan diperoleh jika inlet dan outletsama.
Persamaan ke dua diatas didasarkan pada kesamaan ini.Kenaikan
luas outlet di atas luas inlet atau sebaliknya, menaikkan aliran udara tetapi
tidak proporsional terhadap penambahan luas. Jika bukaan tidak sama,
gunakan luas yang terkecil dalam persamaan dan tambahkan
kenaikannya.
c) Perancangan Ventilasi Mekanik
Perancangan sistem ventilasi mekanis dilakukan sebagai berikut:
1. Tentukan kebutuhan udara ventilasi yang diperlukan sesuai fungsi
ruangan.
2. Tentukan kapasitas fan.
3. Rancang sistem distribusi udara, baik menggunakan cerobong udara
(ducting) atau fan yang dipasang pada dinding/atap.
Jumlah laju aliran udara yang perlu disediakan oleh sistem
ventilasi mengikuti persyaratan. Untuk mengambil perolehan kalor yang
terjadi di dalam ruangan, diperlukan laju aliran udara dengan jumlah
tertentu untuk menjaga supaya temperatur udara di dalam ruangan tidak
bertambah melewati harga yang diinginkan. Jumlah laju aliran udara V
(m3/detik) tersebut, dapat dihitung dengan persamaan:
..............................(2.8)
dimana :
V = laju aliran udara (m3/detik).
Q = perolehan kalor (Watt).
f = densitas udara (kg/m3).

18
C = panas jenis udara (joule/kg.C).
(tL tD ) = kenaikan temperatur terhadap udara luar (C)

Tabel.2.3. Kebutuhan Laju Udara Ventilasi


Kebutuhan Udara Luar
No Fungsi Gedung Satuan
Merokok Tidak Merokok
1 Laundri (m/min)/orang 1,05 0,46
2 Restoran:
a. Ruang Makan (m/min)/orang 1,05 0,21
b. Dapur (m/min)/orang -0,3 0,3
c. Fast Food (m/min)/orang 1,05 0,21
3 Service mobil
a. Garasi (tertutup) (m/min)/orang 0,21 0,21
b. Bengkel (m/min)/orang 0,21 0,21
4 Hotel, Motel, dsb:
a. Kamar Tidur (m/min)/orang 0,42 0,21
b. Ruang tamu/ ruang duduk (m/min)/orang 0 0,75
c. Kamar mandi/ Toilet (m/min)/orang 0 0
d.Lobi (m/min)/orang 0,45 0,15
e. Ruang pertemuan (kecil) (m/min)/orang 1,05 0,21
f. Ruang rapat (m/min)/orang 1,05 0,21
5 Kantor
a. Ruang Kerja (m/min)/orang 0,6 0,15
b. Ruang pertemuan (m/min)/orang 1,05 0,21
6. Ruang Umum
a. Koridor (m/min)/orang 0 0
b. WC umum (m/min)/orang 2,25 2,25
c. Ruang Locker/ Ruang
(m/min)/orang 1,05 0,45
Ganti baju
7. Pertokoan
a. Besmen Lantai Dasar (m/min)/orang 0,75 0,15
b. Lantai Atas Kamar Tidu (m/min)/orang 0,75 0,15
c. Mall dan Arkade (m/min)/orang 0,3 0,15
d. Lif (m/min)/orang 0 0,45
e. Ruang Merokok (m/min)/orang 1,5 0
8. Ruang Kecantikan
a. Panti Cukur dan Salon (m/min)/orang 0,87 0,6
b. Ruang Olah Raga (m/min)/orang 0 0,42

19
c. Tako Kembang (m/min)/orang 0 0,15
d. Salon Binatang Peliharaan (m/min)/orang 0 0,3
9. Ruang Hiburan
a. Disko dan Bowling (m/min)/orang 0 0,21
b. Lantai Gerak atau
(m/min)/orang 0 0,6
Gymnasium
Tabel 2.3. Kebutuhan Laju Udara Ventilasi
Kebutuhan Udara Luar
No Fungsi Gedung Satuan
Merokok Tidak Merokok
c. Ruang Penonton (m/min)/orang 1,05 0,21
d. Ruang Bermain (m/min)/orang 1,05 0,21
e. Kolam Renang (m/min)/orang 0 0,15
10
. Teater
a. Loket (m/min)/orang 0,6 0,15
b. Lobi dan Lauge (m/min)/orang 1,05 0,21
c. Panggung dan Studio (m/min)/orang 0 0,3
Transportasi, Ruang Tunggu,
1,05 0,21
11. atau Peron (m/min)/orang
12
. Rauang Kerja
a. Proses Makanan (m/min)/orang 0 0,15
b.Khazanah Bank (m/min)/orang 0 0,15
c. Farmasi (m/min)/orang 0 0,21
d. Studio Fotografi (m/min)/orang 0 0,21
e. Ruang Gelap (m/min)/orang 0 0,6
f. Ruang duplikasi atau
0 0,15
Cetak Foto (m/min)/orang
13
. Sekolah
a. Ruang Kelas (m/min)/orang 0,75 0,15
b. Laboratorium (m/min)/orang 0 0,3
c. Perpustakaan (m/min)/orang 0 0,15
14
. Rumah Sakit
a. Ruang Pasien (m/min)/orang 1,05 0,21
b. Ruang Periksa (m/min)/orang 1,05 0,21
c. Ruang bedah dan Bersalin (m/min)/orang 0 1,2
d. Ruang Gawat darurat atau
0 0,45
Terapi (m/min)/orang

20
e. Ruang Otopsi (m/min)/orang 0 3
15
. Rumah Tinggal
a. Ruang Duduk (m/min)/orang 0 0,3
b. Ruang Tidur (m/min)/orang 0,75 0,3
c. Dapur (m/min)/orang 0,75 3
d. Toilet (m/min)/orang 0,3 1,5
e. Garasi (Rumah) (m/min)/orang 0 3
f. Garasi Bersama (m/min)/orang 1,5 0,45
16
. Industri
a. Aktifitas Tinggi (m/min)/orang 1,05 0,6
b. Aktifitas Sedang (m/min)/orang 1,05 0,3
c. Aktifitas Rendah (m/min)/orang 1,05 0,21
Sumber: BSNI, 2001
Untuk tenaga kerja yang terpapar lingkungan yang panas dan
lembab maka kecepatan angin harus diperhatikan agar evaporasi dapat
berlangsung dengan baik. Kecepatan angin yang dianjurkan tenaga kerja
yang terpapar panas pada berbagai suhu adalah sebagai berikut:

Tabel.2.4.Suhu dan Kecepatan Angin


Suhu (C) Kecepatan Angin (m/detik)
16 20 0,25
21 22 0,25 0,30
24 25 0,40 0,60
26 27 0,70 - 1,00
28 30 1,10 1,30
Sumber: Higiene Perusahaan,E, 2011

Keputusan Menteri Kesehatan No.261 / MENKES /SK / I / 1998


tentang persyaratan kesehatan lingkungan kerja, yang menyebutkan:
1. Suhu yang diizinkan dalam ruangan adalah 21C sampai dengan 30C.
2. Kelembaban udara yang diizinkan dalam ruangan adalah 65% hingga
95 %.
3. Volume udara setiap orang adalah yang dianjurkan sebesar 0,283
cmm/ orang.

21
G. Parameter Kualitas Udara Dalam Ruang
a. Suhu / Temperatur Udara
Suhu udara sangat berperan terhadap kenyamanan kerja. Sebagaimana
kita ketahui, tubuh manusia menghasilkan panas yang digunakan untuk
metabolisme basal dan muskular, namun dari semua energi yang dihasilkan
tubuh hanya 20 % saja dipergunakan dan sisanya akan dibuang ke lingkungan.
Variasi suhu udara tubuh dengan ruangan memungkinkan terjadinya pelepasan
suhu tubuh, sehingga tubuh merasa nyaman. Sebaliknya suhu ruangan yang
tinggi merupakan beban tambahan bagi seseorang yang sedang bekerja
Untuk melakukan penilaian suhu suhu udara ruangan, pada umumnya
dibedakan menjadi dua yaitu suhu basah dimana pengukuran dilakukan jika
udara mengandung uap air, dan suhu kering bilamana udara sama sekali tidak
mengandung uap air. Pembacaannya dilakukan dengan termometer sensor
kering dan sensor basah. Kisaran suhu kering 22- 25C. Bagi pekerja dengan
beban kerja ringan kisaran suhu dapat lebih luas yaitu 20-25C.
b. Kelembaban udara
Kelembaban udara dihitung dari perbandingan suhu basah dan suhu
kering (persen) dengan demikian kedua ukuran ini saling berkaitan.
Kombinasi suhu dan kelembaban udara yang tepat akan menciptakan
kenyamanan ruangan, sebaliknya kombinasi keduanya dapat pula
memperburuk kondisi udara ruangan. Kelembaban relatif udara yang rendah,
yaitu kurang dari 20% dapat menyebabkan kekeringan selaput lendir
membran. Sedangkan kelembaban yang tinggi pada suhu tinggi dapat
meningkatkan pertumbuhan mikroorganisme dan pelepasan folmaldehid dari
material bangunan. Agar terpenuhi kenyamanan dengan kelembaban relatif
udara dengan besaran sekitar 65%, sangat layak dipertimbangkan adanya
penggunaan AC.

c. Kecepatan Aliran Udara

22
Kecepatan aliran udara mempengaruhi gerakan udara dan pergantian
udara dalam ruang. Besar kecepatan aliran udara yang nyaman, sekitar 0,15
1,5 m /detik. Sedangkan kecepatan udara kurang dari 0,1 m/dtk atau lebih
rendah menjadikan ruangan tidak nyaman karena tidak ada gerakan udara,
sebaliknya kecepatan udara terlalu tinggi akan menyebabkan tarikan dingin
dan atau kebisingan di dalam ruangan.
d. Kebersihan udara
Kebersihan udara berkaitan dengan keberadaan kontaminasi udara
baik kimia maupun mikrobiologi. Sistem ventilasi AC umumnya
diperlengkapi dengan saringan udara untuk mengurangi atau menghilangkan
kemungkinan masuknya zat-zat berbahaya ke dalam ruangan. Untuk ruangan
pertemuan atau gedung-gedung dimana banyak orang berkumpul dan ada
kemungkinan merokok, dibuat suatu perangkat hisap udara pada langit-langit
ruangan sedangkan lubang hisap jamur dibuat dilantai dengan cenderung
menghisap debu.
e. Bau
Bau dapat menjadi petunjuk keberadaan suatau zat kimia berbahaya
seperti Hydrogen Sulfida, Amonia dll. Selain itu bau juga dihasilkan oleh
berbagai proses biologi oleh mikroorganisme. Kondisi ruangan yang lembab
dengan suhu tinggi dan aliran udara yang tenang biasanya menebarkan bau
kurang sedap karena proses pembusukan oleh mikroorganisme.

f. Kualitas Ventilasi

Ventilasi merupakan salah satu faktor yang penting dalam


menyebabkan terjadinya Sick Building Syndrome. Menurut standar WHO,
luas ventilasi ruangan yang kurang dari 10% atau ventilation rate kurang dari
20 CFM OA memberikan risiko yang besar untuk terjadinya gejala SBS.
Ventilation rate yang baik untuk suatu gedung atau ruangan adalah 25 -50
CFM OA per penghuni. Ventilasi yang paling ideal untuk suatu ruangan

23
apabila ventilasi dalam keadaan bersih, luas memenuhi syarat, sering dibuka,
adanya cross ventilation sehingga tidak menyebabkan adanya dead space
dalam ruangan. Ketidakseimbangan antara ventilasi dan pencemaran udara
merupakan salah satu sebab terbesar gejala SBS.

Fungsi sebuah sistem ventilasi dalam lingkungan kerja dimaksudkan


untuk mengatur kondisi kenyamanan ruangan, memperbaruhi udara dengan
pencemaran udara ruangan pada batas normal, serta menjaga kebersihan udara
dari kontaminasi berbahaya. Ventilasi ruangan secara alami didapatkan
dengan jendela terbuka yang mengalirkan udara luar ke dalam ruangan.

Untuk memenuhi fungsi diatas, kita dapat memanfaatkan sistem AC


(Air Conditioner). Pada dasarnya mekanisme kerja AC dengan mengalirkan
udara dari luar gedung, dilakukan proses pendinginan, selanjutnya udara yang
dingin itu dihembuskan ke dalam ruangan. Terdapat dua jenis AC, yaitu AC
sentral dan AC non sentral, dengan perbedaan utama pada volume udara segar
yang dipergunakan. Biasanya AC non sentral hanya memiliki gerakan udara
masuk (inlet), sedangkan outlet melalui lubang atau pintu yang sedang dibuka.
Sistem ventilasi AC non sentral memungkinkan masuknya zat pencemar dari
udara ke dalam ruangan. Pada sistem AC sentral, udara luar dihisap masuk
kedalam chiller, mengalami proses pendinginan, kemudian dihembuskan ke
ruangan. Selanjutnya udara di ruangan yang masih agak dingin dihisap lagi
untuk didinginkan kembali kemudian dihembuskan lagi. Aliran udara
demikian disebut udara sirkulasi, dimana 85% 100% berupa udara
campuran. Bangunan atau gedung yang menggunakan sistem sirkulasi
artifisial umumnya dibuat relatif tertutup untuk mengurangi penggunaan kalor
(efisiensi energi), artinya kurang memiliki sistem pertukaran udara segar dan
bersih yang baik.

24
g. Pencahayaan

Sistem pencahayaan ruangan terdiri dari dua macam yaitu


pencahayaan alami (sinar matahari) dan pencahayaan buatan (lampu). Faktor
pencahayaan penting berkaitan dengan perkembangbiakan mikro organisme
dalam ruangan. Sinar matahari yang mengandung ultra violet dapat
membunuh kuman-kuman sehingga pertumbuhan mikroorganisme terhambat.

h. Kadar Debu / Partikulat ( Respirable Suspended Perticulate)

Partikulat RSP ( Respirable Suspended Particulate ) adalah partikulat


atau fiber yang melayang-layang diudara, dan mempunyai ukuran cukup kecil
untuk dapat dihirup oleh manusia. Partikulat ini meliputi semua materi baik
fisik maupun kimia, dan dalam bentuk cair maupun padat, atau kedua-duanya.
Umumnya partikulat berdiameter kurang dari 10m3. Partikulat kecil ini bisa
berasal dari material gedung, alatalat pembakaran, aktivitas penghuni
gedung, dan infiltrasi dari sumbersumber partikulat diluar gedung.

H. Peraturan Penggunaan Ventilasi Pada Ruang

Ventilasi dengan jumlah dan bentuk yang cukup terkait erat dengan aplikasi
keselamatan dan kesehatan kerja di suatu tempat kerja. Peraturan perundanga-
undangan juga telah mengatur besarnya ventilasi yang sesuai, baik dari SNI 03-
6572-2001, OSHA 1910.94 tentang ventilation dan OSHA 1918.94 tentang
ventilation and atmospheric conditions.
Penggunaan ventilasi pada bangunan ruang juga diatur pada Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia No. 36 Tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan

25
Undang-undang No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung dimana persyaratan
penggunaan ventilasi umum sebagai berikut:
1. Jumlah kontaminan tidak besar dan terus menerus
2. Konsentrasi rendah
3. Toksisitas rendah
4. Sumber merata

I. Dampak Negatif dari Kualitas Udara yang Buruk Pada Ruang


Kualitas udara di dalam ruangan mempengaruhi kenyamanan lingkungan
ruang kerja. Kualitas udara yang buruk akan membawa dampak negatif terhadap
pekerja/karyawan berupa keluhan gangguan kesehatan. Dampak pencemaran udara
dalam ruangan terhadap tubuh terutama pada daerah tubuh atau organ tubuh yang
kontak langsung dengan udara meliputi organ sebagai berikut :
a. Iritasi selaput lendir: Iritasi mata, mata pedih, mata merah, mata berair
b. Iritasi hidung, bersin, gatal: Iritasi tenggorokan, sakit menelan, gatal, batuk
kering
c. Gangguan neurotoksik: Sakit kepala, lemah/capai, mudah tersinggung, sulit
berkonsentrasi.
d. Gangguan paru dan pernafasan: Batuk, nafas berbunyi/mengi, sesak nafas,
rasa berat di dada dan juga hydropneumonia (paru-paru basah)
e. Gangguan kulit: Kulit kering, kulit gatal
f. Gangguan saluran cerna: Diare / mencret
g. Lain-lain: Gangguan perilaku, gangguan saluran kencing, sakit kepala

J. Solusi Penggunaan Ventilasi


Adapun Secara Umum Solusi Penempatan Ventilasi Yang Baik Diantaranya :
a. Lubang-lubang ventilasi ditempatkan pada dinding-dinging yang saling
berhadapan agar terjadi aliran udara yang baik dalam ruang.
b. Lubang-lubang ventilasi ditempatkan tidak sama tinggi dari lantai agar terjadi
aliran udara yang baik dalam ruang.
c. Cerobong udara keluar dibuat setinggi mungkin agar terjadi aliran udara yang
baik dalam ruang (efek cerobong).

26
d. Tinggi letak lubang ventilasi masuk sedemikian sehingga aliran udara masuk
mengenai daerah hunian (living zone) pada batas ketinggian 0.30 m- 1.80m
diatas lantai.
e. Lubang-lubang ventilasi sebaiknya dibuat dengan kombinasi ventilasi
horizontal dan vertikal.
f. Untuk kenyamanan ruang, kecepatan aliran udara dibuat berkisar antara 0.10-
0.15 m/detik. Untuk kesehatan tidak melebihi 0.5 m/det, atau kurang dari 0.10
m/det. Suhu udara yang mengalir mempengaruhi kenyamanan, udara yang
mengalir dengan kecepatan 0.6 m/det pada suhu 300C tidak terasa jelek, tetapi
aliran udara dengan kecepatan 0.15 m/det. Pada suhu 120C terasa tidak enak.
Udara yang mengalir diatas lantai yang dingin terasa tidak enak. Udara yang
mengalir dengan kecepatan 0.10 m/det didaerah pegunungan terasa sangat
dingin pada kaki. Pada tempat-tempat dengan kecepatan udara tinggi,
dikendalikan dengan memasang penahan atau pembelok arah angin (deflektor)
pada bukaan, yang dapat digerakkan untuk mengatur arah angin, dan kecepatan
angin masuk.
g. Pemeriksaan kualitas udara dalam ruangan secara berkala sesuai parameter
kualitas udara (kualitas fisik, kimia dan mikrobiologi) agar tercipta lingkungan
kerja yang sehat.
h. Monitoring kesehatan dengan pemeriksaan kesehatan secara berkala untuk
mengetahui sejak dini gangguan kesehatan yang terjadi sebelum berkoloni di
dalam tubuh.

27
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Ventilasi adalah tempat pertukaran udara yang digunakan untuk
memelihara dan menciptakan udara sesuai dengan kebutuhan atau kenyamanan.
Tujuan Ventilasi
o Meningkatkan dan mempertahankan kondisi udara agar tetap segar dan
nyaman..
o Sebagai lubang masuk dan keluar angin sekaligus Sebagai lubang
pertukaran udara
o Menurunkan kadar kontaminan di udara
o Mengurangi konsentrasi debu dan gas-gas
o Menghilangkan gas-gas yang tidak menyenangkan yang ditimbulkan oleh
keringat dan sebagainya
o Menghilangkan uap air yang timbul sewaktu memasak, mandi dan
sebagainya.
o Menghilangkan kalor yang berlebihan.
o Membantu mendapatkan kenyamanan termal.
Persyaratan Ventilasi
Luas lubang ventilasi tetap, minimum 5% dari luas lantai ruangan dan
luas lubang ventilasi insidentil (dapat dibuka dan ditutup) minimum 5% luas
lantai, dengan tinggi lubang ventilasi minimal 80 cm dari langit-langit. Udara
yang masuk haruslah udara yang bersih, tidak dicemari oleh asap pembakaran
sampah, knalpot kendaraan, debu dan lain-lain.
Jenis Ventilasi
a. Ventilasi umum
b. Ventilasi alami
c. Ventilasi mekanik
d. Ventilasi lokal
e. Ventilasi pengendalian suhu udara

B. Saran

28
Sebaiknya penggunaan ventilasi pada lingkungan masyarakat harus sesuai
dengan peraturan yang telah ditentukan agar terhindar dari berbagai penyakit yang
dapat mengancam kesehatan dan juga penggunaan ventilasi dapat membuat
ruangan segar dan sejuk.

DAFTAR PUSTAKA

Nuzuliana. 2012. Laporan Praktikum Ventilasi Umum.


http://nuzuliana.blogspot.co.id/ (Diakses Pada Tanggal 8 Maret 2017, Pukul
13:20 WITA)
Novianus, Cornelis. 2014. Materi Ventilasi. http://www.academia.edu. (Diakses Pada
Tanggal 8 Maret 2017, Pukul 13:45 WITA)
Munif. 2017. Standar Penilaian Kualitas Udara Ruang.
http://helpingpeopleideas.com (Diakses Pada Tanggal 8 Maret 2017, Pukul
14:00 WITA)

29