Anda di halaman 1dari 29

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny S

DENGAN POST OPERASI MASTEKTOMI


DIRUANG HCU RSUD SURADADI TEGAL

DISUSUN OLEH :

NINA NOVELINA NP

RUANG HCU RSUD SURADADI TEGAL

BAB I
KONSEP DASAR

A. DEFINISI

Carsinoma mammae adalah neolasma ganas dengan pertumbuhan

jaringan mammae abnormal yang tidak memandang jaringan

sekitarnya, tumbuh infiltrasi dan destruktif dapat bermetastase

(Soeharto Resko Prodjo, 1995).

Carsinoma mammae merupakan gangguan dalam pertumbuhan sel

normal mammae dimana sel abnormal timbul dari sel sel normal,

berkembang biak dan menginfiltrasi jaringan limfe dan pembuluh darah

(Lynda Juall Carpenito, 1995).

Carsinoma mammae adalah sekelompok sel tidak norma pada

payudara yang terus tumbuh berupa ganda (Erik T, 2005).

B. ETIOLOGI

Etiologi kanker payudara tidak diketahui pasti namun ada beberapa

faktor predisposisi yang menyebabkan timbulnya kanker


Menurut C. J. H. Van de Velde :

1. Ca Payudara yang terdahulu

Terjadi malignitas sinkron di payudara lain karena mammae adalah

organ berpasangan

2. Keluarga

Diperkirakan 5 % semua kanker adalah predisposisi keturunan ini,

dikuatkan bila 3 anggota keluarga terkena carsinoma mammae

3. Kelainan payudara ( benigna )


Kelainan fibrokistik ( benigna ) terutama pada periode fertil, telah

ditunjukkan bahwa wanita yang menderita / pernah menderita yang

porliferatif sedikit meningkat

4. Makanan, berat badan dan faktor resiko lain

Status sosial yang tinggi menunjukkan resiko yang meningkat,

sedangkan berat badan yang berlebihan ada hubungan dengan

kenaikan terjadi tumor yang berhubungan dengan estrogen pada

wanita post menopouse.

5. Faktor endokrin dan reproduksi

Graviditas matur kurang dari 20 tahun dan graviditas lebih dari 30

tahun Menarche kurang dari 12 tahun

6. Obat anti konseptiva oral

Penggunaan pil anti konsepsi jangka panjang lebih dari 12 tahun

mempunyai resiko lebih besar untuk terkena kanker.

C. ANATOMI FISIOLOGI

1. Anatomi payudara
Secara fisiologi anatomi payudara terdiri dari alveolusi, duktus

laktiferus, sinus laktiferus, ampulla, pori pailla, dan tepi alveolan.

Pengaliran limfe dari payudara kurang lebih 75% ke aksila. Sebagian

lagi ke kelenjar parasternal terutama dari bagian yang sentral dan

medial dan ada pula pengaliran yang ke kelenjar interpektoralis.


2. Fisiologi payudara
Payudara mengalami tiga perubahan yang dipengaruhi hormon.

Perubahan pertama ialah mulai dari masa hidup anak melalui masa

pubertas, masa fertilisasi, sampai ke klimakterium dan menopause.

Sejak pubertas pengaruh ekstrogen dan progesteron yang diproduksi


ovarium dan juga hormon hipofise, telah menyebebkan duktus

berkembang dan timbulnya asinus.


Perubahan kedua adalah perubahan sesuai dengan daur menstruasi.

Sekitar hari kedelapan menstruasi payudara jadi lebih besar dan

pada beberapa hari sebelum menstruasi berikutnya terjadi

pembesaran maksimal. Kadang-kadang timbul benjolan yang nyeri

dan tidak rata. Selama beberapa hari menjelang menstruasi payudara

menjadi tegang dan nyeri sehingga pemeriksaan fisik, terutama

palpasi, tidak mungkin dilakuakan. Pada waktu itu pemeriksaan foto

mammogram tidak berguna karena kontras kelenjar terlalu besar.

Begitu menstruasi mulai, semuanya berkurang.


Perubahan ketiga terjadi waktu hamil dan menyusui. Pada kehamilan

payudara menjadi besar karena epitel diktus lobul dan duktus

alveolus berproliferasi, dan tumbuh duktus baru.


Sekresi hormon prolaktin dan hipofise anterior memicu laktasi. Air

susu diproduksi oleh sel-sel alveolus, mengisi asinus, kemudian

dikeluarkan melaluai duktus ke puting susu (Samsuhidajat, 1997).


D. Distribusi dan Klasifikasi

Dari seluruh kanker payudara sekitar 50 % tumbuh pada kuadran


lateral atas, 10% pada ketiga kuadran lain dan 20% sub areolar
Klasifikasi kanker payudara menurut Robbin, (2002) adalah sebagai
berikut:
a. Non Invasif (Noninfiltratif)

1) Karsinoma intraduktal
2) Karsinoma intraduktal dengan penyakit paget
3) Karsinoma lobuler insitu.

b. Invasif (Infiltratif)

1) Karsinoma intraduktal invasif


2) Karsinoma duktal invasif dengan penyakit paget
3) Karsinoma lobuler invasif
4) Karsinoma meduler
5) Karsinoma koloid
6) Karsinoma tubular
7) Karsinoma kista adenoid
8) Karsinoma apokrin
9) Karsinoma papiler skuamosa.

Sedangkan klasifikasi berdasarkan TNM menurut Smeltzer &


Bare(2002).
Tumor primer (T) :

T0 Tidak ada bukti tumor primer


Tis Karsinoma in situ
T1 Tumor kurang dari 2 cm
T2 Tumor lebih dari 2 cm tetapi kurang dari 5 cm
T3 Tumor lebih dari 5 cm
T4 Perluasan kedinding dada, inflamasi

Kelenjar getah bening regional (N) :

N0 Tidak ada tumor dalam kelenjar getah bening regional.


N1 Metastasis ke kelenjar ipsilateral yang dapat berpindah-
pindah
N2 Metastasis ke kelenjar ipsilateral yang menetap
N3 Metastasis ke kelenjar mamaria interna ipsilateral

Metastasis jauh (M) :

M0 Tidak ada metastasis jauh


M1 Metastasis jauh (termasuk menyebar ke kelenjar
supraklavikular ipsilateral)

E. STADIUM CA MAMMAE
Pentahapan kanker menurut Smeltzer & Bare, (2002).

1. Stadium I : Tumor kurang dari 2 cm, tidak ada limfonodus terkena

(LN) atau penyebaran luas


2. Stadium IIa : Tumor kurang dari 5 cm, tanpa keterlibatan LN, tidak

ada penyebaran jauh. Tumor kurang dari 2 cm, dengan keterlibatan

LN
3. Stadium IIb : Tumor kurang dari 5 cm, dengan keterlibatan LN. Tumor

lebih besar dari 5 cm tanpa keterlibatan LN


4. Stadium IIIa : Tumor lebih besar dari 5 cm, dengan keterlibatan LN.

Semua tumor dengan LN terkena, tidak ada penyebaran jauh


5. Stadium IIIb : Semua tumor dengan penyebaran langsung ke dinding

dada atau kulit semua tumor dengan edema pada tangan atau

keterlibatan LN supraklavikular
6. Stadium IV : Semua tumor dengan metastasis jauh.

F. GAMBARAN KLINIK
Gejala-gejala kanker payudara antara lain, terdapat benjolan di

payudara yang nyeri maupun tidak nyeri, keluar cairan dari puting, ada

perlengketan dan lekukan pada kulit dan terjadinya luka yang tidak

sembuh dalam waktu yang lama, rasa tidak enak dan tegang, retraksi

putting, pembengkakan lokal.

Gejala lain yang ditemukan yaitu konsistensi payudara yang keras dan

padat, benjolan tersebut berbatas tegas dengan ukuran kurang dari 5

cm, biasanya dalam stadium ini belum ada penyebaran sel-sel kangker di

luar payudara (Erik T,2005).

Menurut William Godson III,M,D

Tanda karsinoma:

Kanker payudara mempunyai ciri yang khas ,mirip pada tumor jinak,

masa lunak ,batas tegas,mobile,bentuk bulat dan elips.

Gejala karsinoma :

Kadang timbul nyeri ,adanya keluaran dari puting susu,puting

eritema,mengeras,asimetik,inversi,gejala lain dapat timbul nyeri

tulang,berat badan turun (adanya metastase ).

Gejala umum Ca mamae adalah :

Teraba adanya massa atau benjolan pada payudara


Payudara tidak simetris / mengalami perubahan bentuk dan

ukuran karena mulai timbul pembengkakan

Ada perubahan kulit : penebalan, cekungan, kulit pucat

disekitar puting susu, mengkerut seperti kulit jeruk purut dan

adanya ulkus pada payudara

Ada perubahan suhu pada kulit : hangat, kemerahan , panas

Ada cairan yang keluar dari puting susu

Ada perubahan pada puting susu : gatal, ada rasa seperti

terbakar, erosi dan terjadi retraksi

Ada rasa sakit

Penyebaran ke tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan kadar

kalsium darah meningkat

Ada pembengkakan didaerah lengan

Adanya rasa nyeri atau sakit pada payudara.

Semakin lama benjolan yang tumbuh semakin besar.

Mulai timbul luka pada payudara dan lama tidak sembuh

meskipun sudah diobati, serta puting susu seperti koreng atau

eksim dan tertarik ke dalam.

Kulit payudara menjadi berkerut seperti kulit jeruk (Peau d'

Orange).

Benjolan menyerupai bunga kobis dan mudah berdarah.

Metastase (menyebar) ke kelenjar getah bening sekitar dan alat

tubuh lain

G. Tipe-tipe kanker payudara

a. Pagets disease adalah


Bentuk kanker yang dalam taraf permulaan manifestasinya

sebagai ezema menahun dari puting susu, yang biasanya merah dan

menebal. Suatu tumor subareoler bisa teraba. Pagets disease

mempunyai prognosis lebih baik. Sebenarnya penyakit ini adalah

suatu kanker intraduktal yang tumbuh dibagian terminal dari duktus

laktiferus. Secara patologik cicir-cirinya ialah: sel-sel paget (seperti

pasir), hipertrofi sel epedermoi, infiltrasi sel-sel bunder di bawah

epidermis. Pagets disease sangat jarang terdapat di negeri kita ini

b. Kanker duktus laktiferus

Non infiltrating papillary karsinoma bisa berbentuk dalam tiap

duktus laktiferus dari yang terbesar sampai yang sekecil-kecilnya.

Kadang-kadang sulit sekali dibedakan

dari papilloma.

c. Comedo carcinoma

Terdiri dari sel-sel kanker non papillry dan intraduktal, seing

dengan nekrosis sentral, sehingga pada permukaan potongan terlihat

seperti isi kelenjar. Jarang sekali comedo carsinoma terbatas pada

saluran saja; biasanya mengadkan infiltrasi ke sekitarnya, menjadi

infiltrating comedo carsinoma.

d. Adenokarsinoma dengan infiltrasi dan fibrosis.

Ini adalah kanker payudara yang lazim ditemukan . 75% dari

kanker payudara adalah tipe ini; oleh karena banyak fibrosis, dia

umumnya agak besar dan keras Juga disebut kanker tipe scirrbus

tumor mengadakan infiltrasi ke kulit dan ke dasar, yaitu fascia.


e. Medullary carsinoma.

Tumor ini biasanya sangat dalam di dalam mamma, biasanya

tidak seberapa keras, dan kadang-kadang disertai kista-kista dan

mempunyai kapsul. Tumor ini kurang infiltratif dibanding dengan tipe

scirrbus tadi dan metastasis ketiak sangat lama. Maka prognosis

tumor ini lebih baik daripada tipe-tipe lain yang disebut diatas.

f. Kanker dari lobulus.

Ini yang timbul sering sebagai carsinoma in situ dengan lobulus

yang membesar. Secara mikroskopik, kelihatan lobulus atau

kumpulan lobulus dengan berisi kelompok sel-sel asinus dengan

beberapa mitosis. Kalau mengadakan infiltrasi, hampir tidak dapat

dibedakan dari tipe scirrbus.

g. Mastitis karsinoma

Suatu penyakit yangsangat ganas dan sangat cepat jalannya.

Penyakit ini dapat timbul pada waktu menyusui, akan tetapi juga di

luar waktu tersebut. Dapat kita ketahui bahwa operasi akan

mengakibatkan penyebaran yang sangat cepat dan kematian.

Pendapat umum ialah mastitis karsinomatosa dibiopsi dan diradiasi

saja dengan atau tanpa hormon.

H. PATOFISIOLOGI KANKER PAYUDARA


1. PATOFISIOLOGI

Adapun faktor-faktor risiko untuk Ca mammae meliputi: adanya

riwayat pribadi tentang kanker payudara, anak perempuan atau

saudara perempuan (hubungan keluarga langsung), dari wanita


dengan Ca mammae dan risiko meningkat dua kali jika ibunya

terkena kanker sebelum berusia 60 tahun, menarche, dini pada

wanita yang mengalami menstruasi sebelum usia 12 tahun. Nulipara

dan usia maternal lanjut saat kelahiran anak pertama. Wanita yang

mempunyai anak pertama setelab usia 30 tahun menopause pada

usia lanjut yaitu 50 tahun meningkatkan risiko mengalami kanker

payudara, riwayat penyakit payudara jinak, pemajanan terhadap

radiasi ionisasi setelah masa pubertas dan sebelum usia 30 tahun.

Wanita yang menggunakan kontraseptif oral, terapi penggantian

horman yaitu wanita yang berusia lebih tua, yang menggunakan

estrogen suplemen, wanita muda yang mengkonsumsi alkohol.

Penyebab keganasan pada kanker payudara masih belum jelas, tetapi

faktor lingkungan, faktor hormonal dan faktor genetik semuanya

berkaitan dengan risiko terjadinya Ca mammae. Ca mammae berasal

dari jaringan epitelial dan paling sering pada sistem duktal. Mula-

mula terjadi perubahan genom sel somatik menyebabkan gen yang

terganggu dan hilangnya pengaturan produk gen maka terjadilah

hiperplasia sel-sel dengan perkembangan sel-sel atipik. Sel-sel yang

malignansi kemudian terakumulasi, dimana membutuhkan waktu 7

tahun untuk tumbuh dari sebuah sel tunggal sampai menjadi massa

cukup besar untuk dapat teraba (kira-kira berdiameter 1 cm). Sel

tersebut menjadi neoplasma ganas salah satu manifestasinya adalah

kanker payudara. Kebanyakan dari kanker payudara apabila

massanya sudah teraba gejala yang tersering adalah keluar cairan

dari puting susu yang khas adalah cairan keluar dari muara duktus

dan mungkin payudara dapat berdarah. Tanda-tanda lain dapat

berupa adanya lekukan pada kulit akibat distorsi ligamentum cooper

dan rasa sakit tidak enak, teraba benjolan pada payudara dan sering

meliputi tulang, hepar, paru-paru, susunan, saraf pusat (SSP). Jika


metastase tulang yaitu ke tulang belakang mungkin terjadi kompresi

medula spinalis, metastase otak, limfedema kronis jika tumor

kambuh lagi pada aksila.(Price,Sylvia,Wilson Lorrairee M,1995)

Sel kanker dapat menyebar melalui pembuluh darah dan

permebealitas kapiler akan terganggu sehingga sel kanker dapat

berkembang pada jaringan kulit.sel kanker tersebut akan terus

menginfiltrasi jaringan kulit ,menghambat dan merusak pembuluh

darah kapiler yang mensuplai darah kejaringan kulit. Akibatnya

jaringan dan lapisan kulit akan mati (nekrosis ) kemudian timbul luka

kanker .Jaringan nekrosis merupakan media yang baik untuk

pertumbuhan bakteri .baik bakteri aerob maupun anaerob.Bakteri

tersebut akan menginfeksi dasar luka kanker sehingga menimbulkan

bau yang tidak sedap. Selain itu, sel kanker dan proses infeksi itu

sendiri akan merusak permeabilitas kapiler kemudian menimbulkan

cairan luka (eksudat) yang banyak. Cairan yang banyak dapat

menimbulkan iritasi sekitar luka dan juga gatal-gatal. Pada jaringan

yang rusak dan terjadi infeksi akan merangsang pengeluaran reseptor

nyeri sebagai respon tubuh secara fisiologis akibatnya timbul gejala

nyeri yang hebat. Sel kanker itu sendiri juga merupakan sel imatur

yang bersifat rapuh dan merusak pembuluh darah kapiler yang

menyebabkan mudah perdarahan. Adanya luka kanker, bau yang

tidak sedap dan cairan yang banyak keluar akan menyebabkan

masalah psikologis pada pasien. Akhirnya, pasien cenderung merasa

rendah diri, mudah marah/tersinggung, menarik diri dan membatasi

kegiatannya. Hal tersebut yang akan menurunkan kualitas hidup

pasien kanker.
I. PATHWAY

Faktor Predisposisi dan resiko tinggi

Hiperplasia pada sel mamae


J. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Pemeriksaan penunjang klinis

Pemeriksaan radiologist

- Mammografi/USG Mamma

- X-foto thoraks

- Kalau perlu

Galktografi

Tulang-tulang

USG abdomen

Bone scan

CT scan

b. Pemeriksaan labortorium meliputi: Morfologi sel darah, LED,

Test fal marker (CEA) dalam serum/plasma


c. Pemeriksaan sitologis

- FNA dari tumor

- Cairan kista dan pleura effusion


- Secret putting susu

d. Pemeriksaan patologis
Pasca operasi dari spesimen operasi
K. PENATALAKSANAAN MEDIS
Ada 2 macam yaitu kuratif (pembedahan) dan paliatif (non

pembedahan). Penanganan kuratif dengan pembedahan yang

dilakukan secara mastektomi parsial, mastektomi total,

mastektomi radikal, tergantung dari luas, besar dan penyebaran

kanker. Penanganan non pembedahan dengan penyinaran,

kemoterapi dan terapi hormonal.

L. KOMPLIKASI
Metastase ke jaringan sekitar melalui saluran limfe (limfogen) ke

paru,pleura, tulang dan hati.

M. LANDASAN TEORITIS MASEKTOMI


Mastektomi adalah bedah pengangkatan seluruh payudara,nodus

limfa aksila,dan seluruh lemak,fasia,serta jaringan yang terdekat

sebagai tindakan terhadap karsinoma.( tucker et al: 1999)


Modified Radical Mastectomy adalah suatu tindakan

pembedahan onkologis pada keganasan payudara yaitu dengan

mengangkat seluruh jaringan payudara yang terdiri dari seluruh

stroma dan parenkhim payudara, areola dan puting susu serta

kulit diatas tumornya disertai diseksi kelenjar getah bening aksila

ipsilateral level I, II/III secara en bloc TANPA mengangkat

m.pektoralis major dan minor.

Tipe mastektomi dan penanganan kanker payudara bergantung

pada beberapa factor meliputi :

o Usia
o Kesehatan secara menyeluruh
o Status menopause
o Dimensi tumor
o Tahapan tumor dan seberapa luas penyebarannya
o Stadium tumor dan keganasannya
o Status reseptor homon tumor
o Penyebaran tumor telah mencapai simpul limfe atau belum

Tipe pembedahan secara umum dikelompokkan kedalam tiga kategori

: mastektomi radikal, mastektomi total dan prosedur yang lebih

terbatas ( contoh segmental, lumpektomi ).

1. Mastektomi preventif ( preventife mastectomy) disebut juga

prophylactic mastectomy.operasi ini dapat berupa total mastektomi

dengan mengangkat seluruh payudara dan putting atau berupa

subcutaneous mastectomy dimana seluruh payudara diangkat

namun putting tetap dipertahankan .

2. Mastektomi total ( sederhana ) mengangkat semua jaringan

payudara tetapi semua atau kebanyakan nodus limfe dan otot

dada tetap utuh.

3. Mastektomi radikal modifikasi mengangkat seluruh payudara ,

beberapa atau semua nodus limfe dan kadang-kadang otot

pektoralis minor.otot dada mayor masih utuh.Mastektomi radikal

( halsted ) adalah prosedur yang jarang dilakukan yaitu

pengangkatan seluruh payudara, kulit, otot pektoralis mayor dan

minor, nodus limfe ketiak dan kadang-kadang nodus limfe mamari

internal atau supra klavikular.

4. Prosedur membatasi ( contoh : lumpektomi ) mungkin dilakukan

pada pasien rawat jalan yang hanya berupa tumor dan beberapa

jaringan sekitarnya diangkat. Lumpektomi dianggap tumor non-

metastatik bila kurang dari 5 cm ukurannya yang tidak

melibatkan putting.prosedur meliputi dignostik ( menentukan tipe

sel ) dan atau pengobatan bila dikombinasi dengan terapi radiasi.


Berdasarkan tujuan terapi pembedahan, mastektomi dibedakan

menjadi dua macam yaitu tujuan kuratif dan tujuan paliatif.

Prinsip terapi bedah kuratif adalah pengangkatan seluruh sel

kanker tanpa meninggalkan sel kanker secara mikroskopik. Terapi

bedah kuratif ini dilakukan pada kanker payudara stadium

dini(stadium 0, I dan II).

Sedangkan tujuan terapi bedah palliatif adalah untuk

mengangat kanker payudara secara makroskopik dan masih

meninggalkan sel kanker secara mikroskopik. Pengobatan bedah

palliatif ini pada umumnya dilakukan untuk mengurangi keluhan-

keluhan penderita seperti perdarahan, patah tulang dan

pengobatan ulkus, dilakukan pada kanker payudara stadium

lanjut,yaitu stadium III dan IV.

Prosedur pengangkatan sel kanker dapat dilakukan dengan

cara sebagai berikut :

1. Mastektomi radikal, yaitu Mengangkat seluruh payudara, kulit,

otot mayor dan minor, nodus limfe aksila dan jaringan lemak

disekitarnya.

2. Mastektomi radikal modifikasi, seperti mastektomi radikal tetapi

otot pektoralis mayor dipertahankan.

3. Mastektomi sederhana, Mengangkat payudara dengan

mempertahankan otot-otot yang menyokong.

4. Mastektomi parsial, Mengangkat lesi dan jaringan disekitarnya

termasuk nodus limfe.

5. Lumpektomi, Mengangkat lesi dan 3 sampai 5 cm jaringan

ditepinya, jaringan payudara dan kulitnya dipertahankan.

Beberapa tipe mastektomi yang ada pada saat ini

1. Mastektomi Preventif (Preventive Mastectomy)


Mastektomi preventif disebut juga prophylactic mastectomy.

Operasi ini dapat berupa total mastektomi dengan mengangkat

seluruh payudara dan puting. Atau berupa subcutaneous mastectomy,

dimana seluruh payudara diangkat namun puting tetap

dipertahankan. Penelitian menunjukkan bahwa tingkat kekambuhan

kanker payudara dapat dikurangi hingga 90% atau lebih setelah

mastektomi preventif pada wanita dengan risiko tinggi.

Gambar payudara seorang wanita 25 tahun. menjalani prophylacyic

mastectomy dan telah mengalami rekonstruksi dengan menutup lubang

bekas operasi dengan dengan jaringan yang diambil dari perutnya.

2. Mastektomi Sederhana atau Total (Simple or Total

Mastectomy)

Mastektomi dengan mengangkat payudara berikut kulit dan


putingnya, namun simpul limfe masih dipertahankan. Pada beberapa

kasus, sentinel node biopsy terpisah dilakukan untuk membuang

satu sampai tiga simpul limfe pertama.

Total mastectomy
3. Mastektomi Radikal Termodifikasi (Modified Radical

Mastectomy)

Terdapat prosedur yang disebut modified radical mastectomy

(MRM)-mastektomi radikal termodifikasi. MRM memberikan trauma

yang lebih ringan daripada mastektomi radikal, dan ssat ini banyak

dilakukan di Amerika. Dengan MRM, seluruh payudara akan

diangkat beserta simpul limfe di bawah ketiak, tetapi otot pectoral

(mayor dan minor) otot penggantung payudara masih tetap

dipertahankan. Kulit dada dapat diangkat dapat pula dipertahankan,

Prosedur ini akan diikuti dengan rekonstruksi payudara yang akan

dilakukan oleh dokter bedah plastik.

Modified Radical Mastectomy

4. Mastektomi Radikal (Radical Mastectomy)

Mastektomi radikal merupakan pengangkatan payudara

komplit, termasuk puting. Dokter juga akan mengangkat seluruh

kulit payudara, otot dibawah payudara, serta simpul limfe (getah

bening). Karena mastektomi radikal ini tidak lebih efektif namun

merupakan bentuk mastektomi yang lebih ekstrim , saat ini jarang

dilakukan.
4. Mastektomi Parsial atau Segmental (Partial or Segmental

Mastectomy)

Dokter dapat melakukan mastektomi parsial kepada wanita

dengan kanker payudara stadium I dan II. Mastektomi parsial

merupakan breast-conserving therapy- terapi penyelamatan payudara

yang akan mengangkat bagian payudara dimana tumor bersarang.

Prosedur ini biasanya akan diikuti dengan terapi radiasi untuk

mematikan sel kanker pada jaringan payudara yang tersisa. Sinar X

berkekuatan penuh akan ditembakkan pada beberapa bagian

jaringan payudara. Radiasi akan membunuh kanker dan

mencegahnya menyebar ke bagian tubuh yang lain.

Partial Mastectomy

5. Quandrantectomy

Tipe lain dari mastektomi parsial disebut quadrantectomy. Pada

prosedur ini, dokter akan mengangkat tumor dan lebih banyak

jaringan payudara dibandingkan dengan lumpektomi.


Quandrantectomy

Mastektomi tipe ini akan mengangkat seperempat bagian

payudara, termasuk kulit dan jaringan konektif (breast fascia).

Cairan berwarna biru disuntikkan untuk mengidentifikasi simpul

limfe yang mengandung sel kanker.

6. Lumpectomy atau sayatan lebar,

Merupakan pembedahan untuk mengangkat tumor payudara

dan sedikit jaringan normal di sekitarnya. Lumpektomi (lumpectomy)

hanya mengangkat tumor dan sedikit area bebas kanker di jaringan

payudara di sekitar tumor. Jika sel kanker ditemukan di kemudian

hari, dokter akan mengangkat lebih banyak jaringan. Prosedur ini

disebuat re-excision (terjemahan : pengirisan/penyayatan kembali).

Lumpectomy

7. Excisional Biopsy

Biopsi dengan sayatan juga mengangkat tumor payudara dan

sedikit jaringan normal di sekitarnya. Kadang, pembedahan lanjutan

tidak diperlukan jika biopsy dengan sayatan ini berhasil mengangkat

seluruh tumor.
Excisional Biopsy

B. Indikasi operasi

Mastektomi dilakukan untuk pengangkatan beserta payudara

dan kelenjar axilla. (jitowiyono,sugeng dan kristiyanasari weni :

2012) dilakukan pada :


Kanker payudara stadium dini (I,II)
Kanker payudara stadium lanjut lokal dengan

persyaratan tertentu
Keganasan jaringan lunak pada payudara.

C. Kontra indikasi operasi

Tumor melekat dinding dada


Edema lengan
Nodul satelit yang luas
Mastitis inflamatoar

Tekhnik /Prosedur operasi

Secara singkat tekhnik operasi dari mastektomi radikal modifikasi

dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Penderita dalam general anaesthesia, lengan ipsilateral dengan

yang dioperasi diposisikan abduksi 900, pundak ipsilateral dengan

yang dioperasi diganjal bantal tipis.


2. Desinfeksi lapangan operasi, bagian atas sampai dengan

pertengahan leher, bagian bawah sampai dengan umbilikus,

bagian medial sampai pertengahan mammma kontralateral, bagian

lateral sampai dengan tepi lateral skapula. Lengan atas

didesinfeksi melingkar sampai dengan siku kemudian dibungkus


dengan doek steril dilanjutkan dengan mempersempit lapangan

operasi dengan doek steril


3. Bila didapatkan ulkus pada tumor payudara, maka ulkus harus

ditutup dengan kasa steril tebal ( buick gaas) dan dijahit

melingkar.
4. Dilakukan insisi (macam macam insisi adalah Stewart, Orr, Willy

Meyer, Halsted, insisi S) dimana garis insisi paling tidak berjarak 2

cm dari tepi tumor, kemudian dibuat flap.


5. Flap atas sampai dibawah klavikula, flap medial sampai

parasternal ipsilateral, flap bawah sampai inframammary fold, flap

lateral sampai tepi anterior m. Latissimus dorsi dan

mengidentifikasi vasa dan. N. Thoracalis dorsalis


6. Mastektomi dimulai dari bagian medial menuju lateral sambil

merawat perdarahan, terutama cabang pembuluh darah

interkostal di daerah parasternal. Pada saat sampai pada tepi

lateral m.pektoralis mayor dengan bantuan haak jaringan

maamma dilepaskan dari m. Pektoralis minor dan serratus

anterior (mastektomi simpel). Pada mastektomi radikal otot

pektoralis sudah mulai


7. Diseksi aksila dimulai dengan mencari adanya pembesaran KGB

aksila Level I (lateral m. pektoralis minor), Level II (di belakang m.

Pektoralis minor) dan level III ( medial m. pektoralis minor). Diseksi

jangan lebih tinggi pada daerah vasa aksilaris, karena dapat

mengakibatkan edema lengan. Vena-vena yang menuju ke jaringan

mamma diligasi. Selanjutnya mengidentifikasi vasa dan n.

Thoracalis longus, dan thoracalis dorsalis, interkostobrachialis.

KGB internerural selanjutnya didiseksi dan akhirnya jaringan

mamma dan KGB aksila terlepas sebagai satu kesatuan (en bloc)
8. Lapangan operasi dicuci dengan larutan sublimat dan Nacl 0,9%.
9. Semua alat-alat yang dipakai saat operasi diganti dengan set baru,

begitu juga dengan handschoen operator, asisten dan instrumen

serta doek sterilnya.


10. Evaluasi ulang sumber perdarahan
11. Dipasang 2 buah drain, drain yang besar ( redon no. 14)

diletakkan dibawah vasa aksilaris, sedang drain yang lebih kecil

( no.12) diarahkan ke medial.


12. Luka operasi ditutup lapais demi lapis

Komplikasi operasi

Dini : pendarahan,

- lesi n. Thoracalis longus wing scapula

- Lesi n. Thoracalis dorsalis.

Lambat : - infeksi

- nekrosis flap

- wound dehiscence

- seroma

- edema lengan

- kekakuan sendi bahu kontraktur

Mortalitas

hampir tidak ada

N. ASUHAN KEPERAWATAN MASTEKTOMI


a. Fokus pengkajian Keperawatan
Data biografi/biodata
Meliputi identitas klien : nama, umur, jenis kelamin, agama,

pendidikan, pekerjaan, dan alamat.

b. Riwayat kesehatan
1) Riwayat Keluhan Utama Keluhan di payudara atau ketiak dan

riwayat penyakitnya : Benjolan, kecepatan tumbuh, rasa sakit,


nipple discharge, nipple retraksi dan sejak kapan, krusta pada

aerola, kelainan kulit : dimpling, peau dorange, ulserasi,

venektasi, perubahan warna kulit, benjolan ketiak, edema

lengan.

2) Keluhan di tempat lain berhubungan dengan metastasis :Nyeri

tulang (vertebra, femur), rasa penuh di ulu hati, batuk, sesak,

sakit kepala hebat.

3) Riwayat kesehatan masa lalu

Apakah pasien pernah mengalami penyakit yang sama

sebelumnya

c. Riwayat keluarga
Resiko untuk menderita kanker payudara 2-3 kali lipat lebih besar

pada wanita yang ibunya atau saudara kandungnya menderita

karsinoma payudara.kemungkinan lebih besar bila ibu atau

saudara kandung menderita kanker bilateral premenapause .10%

kanker payudara karena factor genetik,karena mutasi BRCA-1

( kromosom 17) dan BRCA-2 ( kromosom 13 ).Sehubungan dengan

penyakit kanker lain ( indung telur,saluran cerna,sarcoma


jaringan lunak dsb ).

d. Faktor Risiko

a. Usia penderita

Insidensi meningkat sejalan bertambahnya usia

usia melahirkan anak pertama, punya anak atu tidak, riwayat

menyusui, riwayat menstruasi : menstruasi pertama usia

berapa, keteraturan siklus menstruasi, menopouse usia

berapa,

b. riwayat pemakaian obat hormonal


c. riwayat pernah operasi tumor payudara

Adanya hiperplasia ductal dan atypical lobular pada biopsi

payudara,resiko bertambah 5 kali lipat

d. Diet dan life style

Obesitas,konsumsi alkohol,diet tinggi lemak

e. Paparan Radiasi sebelum umur 40 tahun

e. Pemeriksaan fisik Head to toe


f. Pemeriksaan Laboratorium

1) Pemeriksaan darah hemoglobin biasanya menurun, leukosit

meningkat, trombosit meningkat jika ada penyebaran ureum

dan kreatinin.
2) Pemeriksaan urin, diperiksa apakah ureum dan kreatinin

meningkat.
3) Tes diagnostik yang biasa dilakukan pada penderita ca

mammae adalah sinar X, ultrasonografi, xerora diagrafi,

diaphanografi dan pemeriksaan reseptor hormon.


ASUHAN KEPERAWATAN POST OPERASI
a. Pengkajian 11 Fungsional Gordon
1) Pola persepsi kesehatan manajemen kesehatan
Tanyakan pada klien bagaimana pandangannya

tentang penyakit yang dideritanya dan pentingnya kesehatan

bagi klien? Bagaimana pandangan klien tentang penyakitnya

setelah pembedahan? Apakah klien merasa lebih baik

setelah pembedahan?
2) Pola nutrisi metabolic
Untuk mempercepat proses penyembuhan dan pemulihan

kondisi pasien setelah operasi, maka klien perlu dianjurkan:


a. Makan makanan bergizi
b. Konsumsi makanan (lauk pauk) berprotein tinggi, seperti :

daging, telur, ayam, ikan.


c. Minum sedikitnya 8-10 gelas sehari
Namun pasien tidak mau makan telur atau ikan karena

takut lukanya gatal dan lama sembuh. Maka perawat perlu

memberitahukan kepada klien tentang pentingnya konsumsi

protein seperti telur dan ikan untuk penyembuhan luka

pasca operasi.
3) Pola eliminasi
Control eliminasi urin klien pasca operasi, baik warna,

bau, frekuensi. Lihat apakah klien kesulitan dalam BAB

maupun BAK. Perawat juga harus memperhatikan

pemakaian drain redonm. Drain redonm harus tetap vakum

dan diukur jumlah cairan yang tertampung dalam botol

drain tiap pagi, bila drain buntu, misalnya terjadi bekuan

darah, bilain drain dengan PZ 5-10 cc supaya tetap lancar.

Pada mastektomi radikal atau radikal modifikasi, drain

umumnya dicabut setelah jumlah cairan dalam 24 jam tidak

melebihi 20-30 cc, pada eksisi tumor mamma tidak melebihi

5 cc.
4) Pola aktivas latihan
Pada pasien pasca mastektomi perlu adanya latihan-

latihan untuk mencegah atropi otot-otot kekakuan dan

kontraktur sendi bahu, untuk mencegah kelainan bentuk

(diformity) lainnya, maka latihan harus seimbang dengan

menggunakan secara bersamaan.


5) Pola istirahat tidur
Kaji perubahan pola tidur klien selama sehat dan

sakit, berapa lama klien tidur dalam sehari? Biasanya

pasien mengalami gangguan tidur karena nyeri pasca

operasi.
6) Pola kognitif persepsi
Kaji tingkat kesadaran klien, Kaji apakah ada

komplikasi pada kognitif, sensorik, maupun motorik setelah

pembedahan.
7) Pola persepsi diri dan konsep diri
Payudara merupakan alat vital seseorang ibu dan

wanita, kelainan atau kehilangan akibat operasi payudara

sangat terasa oleh klien. Klien akan merasa kehilangan

haknya sebagai wanita normal, ada rasa kehilangan tentang

hubungannya dengan ssuami, dan hilangnya daya tarik

serta serta pengaruh terhadap anak dari segi menyusui.


8) Pola peran hubungan
Klien merasa terkadang malu dalam berhubungan

dengan orang lain karena kondisinya saat ini, hal ini juga

biasanya tampak pada reaksi klien saat dilakukan

anamnesa
9) Pola reproduksi dan seksualitas
Setelah operasi, akan adanya gangguan pada

seksualitas pasien. Hal ini dapat terjadi karena klien merasa

rendah diri ketika berhubungan dengan suaminya karena

kondisinya saat ini.

10) Pola koping dan toleransi stress


Kaji apa yang biasa dilakukan klien saat ada masalah?

Apakah klien menggunakan obat-obatan untuk

menghilangkan stres? Diperlukan dukungan keluarga dan

orang sekitar termasuk perawat untuk menghilangkan

kecemasan dan rasa rendah diri klien terhadap keadaan

dirinya.
11) Pola nilai dan kepercayaan
Kaji bagaimana pengaruh agama terhadap klien

menghadapi penyakitnya? Apakah ada pantangan agama

dalam proses penyembuhan klien? Diperlukan pendekatan


agama supaya klien dapat menerima kondisinya dengan

lapang dada.

DIAGNOSA KEPERAWATAN POST OPERASI

Diagnosa keperawatan yang dapat muncul adalah:


1. Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan

dengan biofisikal : prosedur bedah yang mengubah

gambaran tubuh, psikososial , masalah tentang ketertarikan

seksual
2. Kerusakan integrasi kulit/ jaringan berhubungan dengan

pengangkatan bedah kulit/ jaringan , perubahan sirkulasi,

adanya edema, drainase , perubahan pada elastisitas kulit,

sensasi, dekstrusi jaringan ( radiasi )


3. Nyeri akut berhubungan dengan prosedur pembedahan

,trauma jaringan , interupsi saraf, diseksi otot.


4. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan

neuromuscular , nyeri / ketidaknyamanan , pembentukan

edema ditandai dengan :


5. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis ,dan

kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang


terpajan/ mengingat, salah interpretasi/ informasi
6. Perubahan pola seksual berhubungan dengan dampak

kehilangan payudara/ kehilangan gambaran dan atau proses

penyakit terhadap hubungan seksual.


INTERVENSI KEPERAWATAN :

1. Harga diri rendah berhubungan perubahan penampilan

terhadap hal sekunder hilangnya bagian tubuh


Tujuan : Harga diri pasien meningkat

Kriteria hasil : Pasien menunjukkan penerimaan diri dalam

situasi, pasien tampak tenang, pasiep kooperatjf dalam

program pengobatan.
Intervensi :

a) Berikan dukungan emosional (Rasional: kehilangan

payudara menyebabkan reaksi perasaan perubahan

gambaran diri).

b) Dorong pasien untuk mengekspresikan perasaan misal:

marah, berduka (Rasional : kehilangan bagian tubuh dan

menerima kehilangan hasrat seksual menambah proses

kehilangan yang membutuhkan penerimaan).

c) Berikan penguatan positif untuk meningkatkan/

perbaikan dan partisipasi program pengobatan (Rasional :

mendorong keianjutan prilaku sehat).