Anda di halaman 1dari 29

PEDOMAN PENGORGANISASIAN

UNIT HEMODIALISA
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang MahaEsa, karena atas rahmat-Nya

Pedoman Pelayanan Hemodialisa ini dapat selesai dan menjadi ketentuan dasar di Rumah Sakit

Harapan Jayakarta.

Terbitnya pedoman ini adalah sebagai acuan dalam menjalankan kegiatan penyehatan

lingkungan. Dan diharapkan Pedoman Pelayanan Unit Hemodialisa ini dapat meningkatkan

mutu lingkungan Rumah Sakit yang berpengaruh terhadap mutu pelayanan kesehatan di Rumah

Sakit Harapan Jayakarta

Dalam pelaksanaannya, pedoman pengorganisasian ini perlu penyempurnaan seiring

dengan perkembangan dan peningkatan volume pelayanan pasien di Rumah Sakit

HarapanJayakarta. Peran serta dan masukan dari berbagai pihak sangat diharapkan untuk

penyempurnaan dan penyesuaian Pedoman Pelayanan ini di kemudian hari.

Akhir kata kami ucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu

terwujudnya Pedoman Pelayanan Unit Hemodialisa di Rumah Sakit Harapan Jayakarta.

Jakarta, 23 Maret 2017

Direktur Rumah Sakit Harapan Jayakarta

dr. SuhermiYenti
DAFTAR ISI

Halaman Judul

Kata Pengantar

Daftar Isi

Kebijakan Direktur tentang Pedoman Pelayanan Unit Hemodialisa Rs. Harapan Jayakarta

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
B. Tujuan Pedoman
C. Ruang Lingkup Unit Hemodialisa
D. Batasan Operasional
E. Landasan Hukum

BAB II STANDAR KETENAGAAN

A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia


B. Distribusi Ketenagaan
C. Pengaturan Jaga

BAB III STANDAR FASILITAS

A. Denah Ruangan
B. Standar Fasilitas

BAB IV TATA LAKSANA PELAYANAN

BAB V LOGISTIK

BAB VI KESELAMATAN PASIEN

BAB VII KESELAMATAN KERJA

BAB VIII PENGENDALIAN MUTU

BAB IX PENUTUPAN
RUMAH SAKIT HARAPAN JAYAKARTA
Nomor :
T E N TAN G

PEDOMAN PELAYANAN
UNIT HEMODIALISA

DIREKTUR RUMAH SAKIT HARAPAN JAYAKARTA

Menimbang : a. Bahwa dalam upaya memberikan pelayanan hemodialisa yang cepat,


tepat, bermutu, profesional dan dengan memperhatikan keselamatan
pasien serta untuk memberi kepuasan kepada pasien dan keluarga di
Rumah Sakit Harapan Jayakarta, maka diperlukan penyelenggaraan
pelayanan yang berkesinambungan mulai dari pasien masuk sampai
pasien keluar.
b. Bahwa agar pelayanan di hemodialisa dapat dilaksanakan dengan
baik, maka perlu adanya Pedoman Pelayanan Hemodialisa sebagai
landasan bagi penyelenggaraan pelayanan hemodialisa di Rumah
Sakit Harapan Jayakarta
c. Bahwa untuk kepentingan tersebut di atas, perlu diterbitkan Peraturan
Direktur tentang Pedoman Pelayanan Hemodialisis Rumah Sakit
Harapan Jayakarta

Mengingat : a. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 Tentang Kesehatan.


b. Undang-Undang Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit
c. Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 Tentang Perlindungan
Konsumen
d. Undang-Undang Nomor 29 tahun 2004 Tentang Praktek Kedokteran
e. Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2014 Tentang Praktek
Keperawatan.
f. Peraturan Pemerintan Nomor 32 Tahun 1996 Tentang Tenaga
Kesehatan
g. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 812 Tahun 2010, Tentang
pelayanan Dialisis pada fasilitas kesehatan.
h. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1778/MENKES/SK/XII/2010
MEMUTUSKAN

Menetapkan : PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT HARAPAN JAYAKARTA


TENTANG PEDOMAN PELAYANAN HEMODIALISA
KESATU : Peraturan Pelayanan hemodialisa Rumah Sakit Harapan Jayakarta
sebagaimana tercantum dalam lampiran Peraturan ini.
KEDUA : Sosialisasi dan Evaluasi dari pedoman pelayanan hemodialisa Rumah Sakit
Harapan Jayakarta dilaksanakan oleh Kepala Unit Hemodialisa
KETIGA : Peraturan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan apabila di kemudian hari
terdapat kekeliruan dalam penetapan ini, akan diadakan perbaikan
sebagaiman mestinya.
BAB 1

PENDAHULUAN

A. PENDAHULUAN
Peningkatan pembangunan kesehatan di Indonesia seharusnya diikuti secara
seimbang oleh perbaikan mutu pelayanan kesehatan baik di sarana pelayanan kesehatan
maupun praktik perorangan. Adanya globalisasi serta industrialisasi yang cepat di sektor
kesehatan berdampak pada cara melakukan tindakan, baik berupa terapi, pemakaian alat,
pemberian resep dan sebagainya sehingga tindakan tersebut sesuai indikasi yang tepat.
Di samping itu dengan adanya Undang Undang Perlindungan Konsumen serta
terkaitnya praktik kedokteran terhadap aspek medis, legal, etis, psikologis, sosial budaya
serta finansial maka perlu dibuat suatu pedoman pelayanan kesehatan yang bertujuan
memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat dan memberikan rasa aman
bagi dokter atau tenaga medis dalam melakukan praktik kedokteran. Hal ini juga berlaku
pada pelayanan dialysis dimana umumnya pasien dengan penyakit ginjal kronik
membutuhkan pengobatan yang berulang dan melibatkan peralatan atau mesin dengan
teknologi tinggi serta kompetensi tenaga kesehatan yang memadai.

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Meningkatkan kualitas pelayanan pasien gagal ginjal melalui pedoman pelayanan
hemodialisis yang berorientasi pada keselamatan dan keamanan pasien.
2. Tujuan Khusus
a. Kebijakan Memberi acuan regulasi pelayanan hemodialisis
b. Memberi acuan manajemen pelayanan hemodialisis
c. Memberi acuan tugas pokok dan fungsi serta kompetensi masing-masing tenaga
yang terlibat dalam pelayanan hemodialisis.
d. Memberi acuan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam pelayanan
hemodialisis
e. Memberikan acuan sistem/pola pembiayaan yang berkaitan dengan pelayanan
hemodialisis.

C. RUANG LINGKUP
Ruang lingkup pelayanan Instalasi Hemodialisa Rumah Sakit Harapan Jayakarta
memberikan pelayanan terapi pengganti fungsi ginjal sebagai bagian dari pengobatan
pasien gagal ginjal dalam upaya mempertahankan kualitas hidup yang optimal yang
terdiri dari Hemodialisis(HD)
D. BATASAN OPERASIONAL
1. Kriteria pasien yang ditangani adalah:
a. Pasien yang mengalami gagal ginjal kronik (GGK) yaitu pasien yang sudah
mengalami penurunan fungsi ginjal yang lebih dari 3 bulan
b. Pasien yang mengalami gagal ginjal akut (GGA), yaitu pasien yang mengalami
penurunan fungsi ginjal diketahui masih baik dalam kurun waktu kurang dari 3
bulan terkahir.
c. Pasien dengan indikasi segera yaitu pasien dengan GGK atau GGA yang disertai
kondisi berikut:
1) Hiperkalemia, yaitu :kadar kalium dalam darah >6mEq/L.
2) Asidosis Metabolik berat
3) Kegagalan terapi konservatif/gagal terapi medikamentosa.
4) Kadar ureum dan kreatinin tang tinggi dalam darah.
5) Perikarditis : radang pada lapisan jantung.
6) Gangguan kongfusi berat, yaitu gangguan kognisi, perhatian, memori dan
orientasi dengan sumber yang tidak diketahui.
7) Hiperkalsemia.
8) Hipertensi emergensi.
2. Instalasi Hemodialisa Rumah Sakit Harapan Jayakarta melakukan pelayanan untuk
pasien reguler dan emergency dengan rincian sebagai berikut
a. Reguler : dilaksanakan dari hari senin hingga hari sabtu dengan 2 shift yaitu:
1) Pagi mulai jam 06.00 10.00 WIB
2) Siang mulai jam 10.00 15.00 WIB
b. Emergency dilakukan di luar jadwal reguler, dengan menghubungi petugas Unit
Hemodialisa terlebih dahulu.
c. Unit Hemodialisa Rumah Sakit Harapan Jayakarta memiliki 5 (lima) Mesin
Dialisis, dan memiliki ketenagaan sebagai berikut
1) 1 orang Konsulen ginjal Hipertensi sebagai konsultan.
2) 1 orang Ahli Penyakit Dalam (Internist) sebagai penanggung jawab Instalasi
Hemodialisa.
3) 1 Dokter Umum ( dokter Jaga )
4) 1 wakil kepala unit yang bersertifikat HD dan berpengalaman
5) 6 Orang perawat yang berpengalaman di HD

E. Landasan Hukum

Dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, Instalasi Hemodialisa memiliki


landasan hukum sebagi berikut:
1. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 Tentang Kesehatan.
2. Undang-Undang Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit
3. Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen
4. Undang-Undang Nomor 29 tahun 2004 Tentang Praktek Kedokteran
5. Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2014 Tentang Praktek Keperawatan.
6. Peraturan Pemerintan Nomor 32 Tahun 1996 Tentang Tenaga Kesehatan
7. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 812 Tahun 2010, Tentang pelayanan Dialisis
pada fasilitas kesehatan.
8. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1778/MENKES/SK/XII/2010

BAB II

STANDAR KETENAGAAN

A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia


Pada dasarnya kegiatan hemodialisa harus dilakukan oleh petugas yang memiliki
kualifikasi pendidikan dan pengalaman yang memadai, serta memiliki kewenangan
untuk melaksanakan kegiatan di bidang yang menjadi tugas atau tanggung jawabnya.
Pemenuhan kebutuhan jenis, dan jumlah tenaga hemodialisa dilaksanakan sesuai
dengan ketentuan-ketentuan peraturan perundang-undangan.
Untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia di Unit Hemodialisa di RS
Harapan Jayakarta umumnya diperlukan pembinaan/pengembangan kompetensi
tenaga pelaksana.
Pembinaan/pengembangan dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan.
Tujuan pendidikan dan pelatihan adalah :
1. Untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan pelaksanaan tugas dapat
meningkatkan efektifitas dan efisiensi kerja
2. Menambah pengetahuan wawasan perawat pelaksana :
a. Pendidikan
Perawat pelaksana berdasarkan kompetensi harus berpendidikan minimal
DIII Keperawatan
b. Pelatihan
Pelatihan untuk peningkatan kompetensi petugas di Unit Hemodialisa
dilaksanakan melalui :
1) Pelatihan internal yaitu program pelatihan yang diselenggarakan oleh
RS Harapan Jayakarta setiap 6 bulan sekali.
2) Pelatihan eksternal yaitu program pelatihan yang diselenggarakan oleh
pihak luar RS Harapan Jayakarta diantaranya ; pelatihan hemodialisa

B. Distribusi Ketenagaan

Tenaga yang terlibat di Unit Hemodialisa Rumah Sakit Harapan Jayakarta akan
menyelenggarakan pelayanan Dialisis. Dan untuk itu dibutuhkan kompetensi dan
kewenenangan yang diatur oleh Rumah Sakit sesuai klasifikasi pelayanan Hemodialisa Primer,
mengacu pada buku Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Unit Hemodialisa Kemenkes No
1778/MenKes/SK/XII/ 2010

Jumlah perawat pada Unit Hemodialisa ditentukan berdasarkan jumlah tempat tidur dan
ketersediaan ventilasi mekanik. Perbandingan perawat dan pasien yang menggunakan ventilasi
mekanik adalah 1:1, sedangkan perbandingan perawat dan pasien yang tidak menggunakan
ventilasi mekanik adalah 1:2 (Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1778/MENKES/SK/XII/2010).

No Jabatan Kualifikasi Jumlah


Dokter Spesialis Penyakit Dalam 1 orang
1. Supervisor
Konsultan Ginjal Hipertensi
Kepala Unit 1 orang
2 Dokter Spesialis Penyakit Dalam
Hemodialisa
3 Wakil Kepala Unit S1 Keperawatan bersertifikat HD 1 orang
Hemodialisa
DIII Keperawatan yang berpengalaman di 7 orang
4 Perawat Pelaksana
unit HD

C. Pengaturan Jaga
1. Pengaturan jadwal dinas dibuat dan dipertanggungjawabkan oleh Kepala Unit dan
disetujui oleh Manager Pelayanan Medis dan Keperawatan
2. Jadwal dinas dibuat untuk jangka waktu 1 bulan dan disosialisasikan kepada
perawat pelaksana
3. Untuk perawat yang memiliki keperluan penting pada hari tertentu dapat
mengajukan permintaan dinas pada buku permintaan. Permintaan akan
disesuaikan dengan kebutuhan ruangan apabila tenaga mencukupi dan berimbang
serta tidak menggangu pelayanan maka permintaan disetujui
4. Setiap tugas jaga atau shift harus ada perawat penanggung jawab shift dengan
syarat dan kualifikasi yang ditetapkan
5. Jadwal dinas terdiri dari 2 shift yaitu Pagi dan Sore
a. Shift Pagi : 06.00-10.00 WIB
b. Shift Sore : 10.00-15.00 WIB
6. Apabila ada perawat yang oleh karna satu dan lain hal tidak dapat menjalankan
tugasnya sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan maka yang bersangkutan
harus memberitahu atasan minimal 4 jam sebelum jam dinas berlangsung untuk
dicarikan pengganti dinasnya tersebut
7. Adapun untuk tata tertib jam kerja adalah sebagai berikut :
a. Batas keterlambatan karyawan maksimal 15 menit dari dimulai jadwal shift
b. Apabila keterlambatan melebihi batas toleransi yang diberikan, maka karyawan
tersebut akan memdapatkan evaluasi kedisiplinan dari atasan langsung
c. Apabila terjadi keterlambatan secara terus menerus, akan diberikan surat
peringatan
d. Izin meninggalkan dinas maksimal 3 jam dalam 1 hari kerja atas persejutuan
Kepala Unit atau Katim
.BAB III
STANDAR FASILITAS

A. Denah Ruangan

B. Standar fasilitas
Fasilitas Unit Hemodialisa Rumah Sakit Harapan Jayakarta
No Nama Alat Jumlah
1 Ambu Bag 1
2 Bak Instrument 5
3 Bantal 10
4 Duk Tidak Bolong 8
5 Duk Bolong 5
6 Ember Tempat Sampah Medis 2
7 Gunting 1
8 Jam dinding 1
9 Kursi Penunggu Pasien 9
10 Kursi Perawat 7
11 Komputer 1
12 Korentang 2
13 Kom Sedang + Tutup 5
14 Lemari Obat 2
15 Rak Berkas 1
16 Laken 35
17 Mesin HD 10
18 Regulator 02 2
19 Stetoscope 2
20 Sarung Bantal Pasien 17
21 Sarung Tabung 02 2
22 Selimut Pasien 10
23 Tempat Sampah Non Medis 3
24 Tabung 02 2
25 Tempat Tidur Pasien 10
26 Tempat Korentang 1
27 Tensimeter 1
28 Termometer 1
29 Timbangan BB 1
30 Tromol Kecil 1
31 Tromol Sedang 1
32 Tromol Besar 1
33 Trolly Tindakan 1
34 Ruang Re Use 1 Unit
35 Tempat dialiser Re Use 1 Unit
36 Ruang RO 1 Unit
37 Gluco DR 1
38 Sterilisator 1
39 Tv 1
40 Meja Pasien 5
41 AC 2 PK 2
42 AC 1 PK 1
43 Hexos Kipas Angin 3
BAB IV
TATA LAKSANA PE;AYANAN

A. Pengertian Hemodialisis
Dialisis merupakan suatu proses yang digunakan untuk mengeluarkan cairan dan produk
limbah dari dalam tubuh ketika ginjal tidak mampu melaksanakan proses tersebut (Smeltzer dan
Bare, 2002). Hemodialisis dilakukan dengan menggunakan sebuah mesin yang dilengkapi
dengan membran penyaring semi permiabel (ginjal buatan) yang memindahkan produk-produk
limbah yang terakumulasi dari darah ke dalam mesin dialisis.

B. Etiologi hemodialisa
Dialisis dilakukan pada ginjal untuk mengeluarkan zat-zat toksik dan limbah tubuh yang
dalam keadaan normal diekskresikan oleh ginjal yang sehat. Dialisis juga dilakukan dalam
penanganan pasien dengan edema yang membandel (tidak responsif terhadap terapi), koma
hepatikum, hiperkalemia, hiperkalsemia, hipertensi, dan uremia. Dialisis akut diperlukan bila
terdapat kadar kalium yang tinggi atau yang meningkat, kelebihan muatan cairan atau edema
pulmoner yang mengancam, asidosis yang meningkat, perikarditis dan konfusi yang berat.

Sedangkan dialisis kronis atau pemeliharaan dibutuhkan pada gagal ginjal kronis
(Smeltzer dan Bare, 2002)( penyakit ginjal stadium terminal) dalam keadaan terjadinya tanda-
tanda dan gejala uremia yang mengenai seluruh sistem tubuh (mual serta muntah, anoreksia
berat, peningkatan letargi, konfusi mental);
1. Kadar kalium serum meningkat.
2. Muatan cairan berlebih yang tidak responsif terhadap terapi diuretik serta pembatasan
cairan.
3. Penurunan status kesehatan yang umum.
4. Terdengarnya suara gesekan perikardium (pericardial friction rub) melalui auskultasi.

C. Metode Hemodialisis
Metode terapi dialisa mencakup hemodialisis, hemofiltrasi, dan peritoneal dialisis.
Hemodialisis dapat dilakukan pada saat toksin atau zat racun harus segera dikeluarkan untuk
mencegah kerusakan permanen atau menyebabkan kematian. Hemofiltrasi digunakan untuk
mengeluarkan cairan yang berlebihan. Sedangkan, peritoneal dialisis mengeluarkan cairan lebih
lambat daripada bentuk-bentuk dialisis yang lain (Smeltzer dan Bare, 2002).

D. Indikasi Hemodialisis
Hemodialisis diindikasikan pada gagal ginjal akut dan kronis, intoksikasi obat dan zat
kimia, ketidakseimbangan cairan dan elektrolit berat dan sindrom hepatoreanal (Faisal, 2007). Di
samping itu, terdengarnya suara gesekan perikardium (pericardial friction rub) melalui
auskultasi merupakan indikasi yang mendesak untuk dilakukan dialisis untuk pasien gagal ginjal
kronis (Smeltzer dan Bare, 2002).
Menurut konsensus Pernefri (2003) secara ideal semua pasien dengan Laju Filtrasi
Glomerulus (LFG) kurang dari 15 mL/menit, LFG kurang dari 10 mL/menit dengan gejala
uremia/malnutrisi dan LFG kurang dari 5 mL/menit walaupun tanpa gejala dapat menjalani
dialisis. Selain indikasi tersebut juga disebutkan adanya indikasi khusus yaitu apabila terdapat
komplikasi akut seperti oedem paru, hiperkalemia, asidosis metabolik berulang, dan nefropatik
diabetik.
Menurut Pernefri (2003) waktu atau lamanya Hemodialisa disesuaikan dengan kebutuhan
individu. Tiap Hemodialisa dilakukan 4 5 jam dengan frekuensi 2 kali seminggu. Hemodialisa
idealnya dilakukan 10 15 jam/minggu dengan QB 200300 mL/menit. Sedangkan menurut
Corwin (2000) Hemodialisa memerlukan waktu 3 5 jam dan dilakukan 3 kali seminggu. Pada
akhir interval 2 3 hari diantara Hemodialisa, Sedangkan hemodialisa rutin menurut Pernefri
(2003) dijelaskan bahwa hemodialisa rutin ini dilakukan pada keadaan yang sudah direncanakan
atau ditentukan waktunya. Umumnya dilakukan pada pasien dengan gagal ginjal kronik yang
bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Sedangkan pasien hemodialisa rutin adalah
pasien-pasien yang sudah terencana dalam menjalani program hemodialisa sesuai dengan waktu
yang telah ditentukan.

E. Prinsip Kerja Hemodialisa


Ada tiga prinsip yang mendasari kerja hemodialisis menurut Smeltzer dan Bare (2002),
yaitu: difusi, osmosis dan ultrafiltrasi.
1. Difusi adalah pengeluaran toksin dan zat limbah dalam darah dengan bergerak
dari darah yang berkonsentrasi tinggi, ke cairan dialisat dengan konsentrasi yang lebih
rendah.
2. Osmosis adalah bergeraknya air dari daerah bertekanan lebih tinggi (tubuh pasien)
ke tekanan yang lebih rendah (cairan dialisat), sehingga air yang berlebihan dikeluarkan
dari dalam tubuh.
3. Ultrafiltrasi adalah penambahan tekanan negatif

F. Komplikasi Hemodialisa
1. Hipervolemia, ditandai dengan peningkatan tekanan darah, nadi, frekuensi pernapasan,
tekanan vena sentral, dispnea, rales basah, batuk, edema, dan peningkatan berat badan
yang berlebihan sejak dialisis terakhir.
2. Ultrafiltrasi yang berlebihan, ditandai dengan gejala-gejala: hipotensi, mual, muntah,
berkeringat, pusing, dan pingsan.
3. Hipovolemia, ditandai dengan penurunan tekanan darah, peningkatan frekuensi nadi dan
pernapasan, turgor kulit buruk, mulut kering, tekanan vena sentral menurun, dan
penurunan haluaran urine.
4. Hipotensi, pada awal dialisis dapat terjadi pada pasien dengan volume darah sedikit,
seperti anak-anak dan orang dewasa yang kecil. Sedangkan hipotensi lanjut pada dialisis
biasanya karena ultrafiltrasi berlebihan atau terlalu cepat.
5. Hipertensi, penyebab yang paling sering adalah kelebihan cairan, sindrom disequilibrium,
respons renin terhadap ultrafiltrasi, dan ansietas.
6. Sindrom disequilibrium dialisis, dimanifestasikan oleh sekelompok gejala-gejala yang
diduga disfungsi serebral. Rentang beratnya gejala-gejala dari mual ringan, muntah, sakit
kepala, dan hipertensi sampai agitasi, kedutan, kekacauan mental, dan kejang.
7. Infeksi, yang diperkirakan karena penurunan respons imunologik pada pesien uremik yang
mengalami penurunan resisten terhadap infeksi.

G. Persiapan Sebelum Hemodialisis


Persiapan Pasien
1 Surat dari dokter nefrologi / penyakit dalam untuk tindakan hemodialisis ( intruksi
dokter )
2 Identitas pasien dan surat persetujuan tindakan hemodialisis
3 Riwayat penyakit yang pernah diderita ( penyakit lain dan alergi )
4 Keadaan umum pasien
5 Keadaan psikososial
6 Keadaaan fisik ( ukur tanda-tanda vital, berat badan, warna kulit, mata, ekstremitas
ederna +/-)
7 Data laboratorium : hb, ureum, kreatin, HbSAg
8 Pastikan bahwa pasien telah benar-benar siap dilakukan hemodialisis.
Persiapan Mesin
1 Listrik harus siap (harus ada listrik cadangan/genset).
2 Air yang sudah di proses melalui Reverse Osmoses
Persiapan Alat
1. Dialyzer
2. AV blood line
3. AV fistula
4. NaCl 0,9 %
5. Infus set
6. Spoit 1. 3 dan 20 cc
7. Heparin
8. Lidocain
9. Kassa steril
10. Duk
11. Sarung tangan
12. Mangkok kecil
13. Desinfektan (alkohol/betadine)
14. Klem
15. Matcan/gelas ukur plastik
16. Timbangan
17. Tensimeter
18. Termometer
19. Plester
20. Perlak kecil
Langkah-langkah
1 Mesin dihidupkan, dan didesinfeksi
2 Sambil mesin melakukan desinfeksi pasang set HD pada mesin dengan langkah sebagai
berikut:
a. Buka Dializer, dan AV Blood Line dari bungkusnya dan pasang pada tempatnya di
mesin. (lakukan dengan teknik aseptik)
b. Dengan teknik Aseptik sambungkan ujung AV Blood Line dengan Dializer.
c. Hubungkan ujung Infus Set yang telah di tusukkan ke NACL 0.9 % dengan Arterial
Blood Line.
d. Ujung yang satu dari Venuos Blood Line simpan di gelas ukur dengan
memperhatikan jangan sampai terendam dengan cairan bilasan yang keluar
3 Lakukan priming (pembilasan) dengan cara:
a. Letakkan dializer pada Holder dengan posisi terbalik. (Inlet di bawah dan outlet
diatas).
b. Alirkan NACL ke AV Blood Line dan Dializer sebanyak 500 cc (1 botol), dengan
menjalankan pompa di mesin HD dengan kecepatan 200-300 ml/mnt.
c. Tujuannya adalah untuk mengeluarkan udara dan zat-zat kimia yang ada pada AV
Blood Line dan Dializer.
d. Setelah NACL habis dibotol dan semua udara keluar, pompa dimatikan serta klem
AV Blood Line.
e. Sambungkan ujung A Blood Line dan V blood Line dengan konektor, dan klem di
buka kembali serta pasang NACL botol ke dua.
f. Pompa dijalankan kembali dengan keceoatan 200-300 ml/mnt.
g. Biarkan hingga mesin selesai melakukan desinfeksi.

4 Lakukan sooking (melembabkan) dializer dengan cara sebagai berikut:


a. Bila mesin telah selesai melakukan desinfeksi pilih mode Hemodialisis (mesin
Bbraun) dan Dialisis Mode pada mesin Nipro
b. Pasang Bicarbonat serbuk dan sambungkan dengan acid bial ada perintah dari
mesin.
c. Pasang coupler ke dializer bila telah ada perintah di mesin dan lakukan sooking, atau
melembabkan dializer dengan cairan dializat dengan cara posisi dialzer di
kembalikan pada posisi semula (inlet diatas dan outlet dibawah).
d. Setelah dializer terisi penuh dengan cairan dialisat, letakkan dializer dalam posisi
terbalik (inlet dibawah dan outlet diatas) pada holder.
e. Jalankan pompa mesin dengan kecepatan 200-300 ml/mnt.
f. Biarkan sampai mesin selesai melakukan ringsing (pembilasan) dan siap untuk di
sambungkan ke pasien.
g. Bila pasien memerlukan heparin sirkulasi, lakukan injeksi heparin pada port obat di
A Blood Line, sesuai dengan instruksi dokter.

F. Akses Vaskuler
Setelah mesin siap untuk di sambungkan dengan pasien, maka terlebih dahulu tentukan
akses vaskuler yang akan di gunakan. Akses vaskuler terdiri atas:

1 Akses Vaskuler sementara


a. Femoral
1) Tentukan tempat/vena femoral yamg akan di lukukan insersi.
2) Alasi dengan perlak kecil dan atur posisi
3) Bawa alat ddekat dengan pasien
4) Lakukan kebersihan tangan, dan gunakan APD
5) Beri tahu pasien bila akan dilakukan insersi
6) Lakukan desinfeksi daerah yang akan di insersi, kemudian pasang duk steril.
7) Lakukan anestesi lokal dengan lidocain daerah yang akan di insesrsi.
8) Lakukan insersi bila pasien sudah merasa baal pada daerah yang telah di
anestesi dengan cara cari denyit arteri femoral. Tarik ke arah medial - 1 cm,
kemudian tarik ke bawah 1-2 cm.
b. Double Lumen Cateter (CDL) dan Tuneling Cateter
1) Terlebih dahulu CDL atau Tuneling dibersihkan dengan cara:
a) observasi keadaan umum pasien dan periksa TTV.
b) Beri posisi yang nyaman.
c) Jelaskan tindakan yang akan dilakukan.
d) Dekatkan tempat sampah infeksius pada tempat tidur pasien
e) Dekatkan bak steril yang telah disiapkan ke dekat pasien
f) Lakukan kebersihan tangan dan gunakan APD
g) Buka verban penutup, sambil memperhatikan posisi CDL atau Tuneling.
h) Buka bak steril dan tuangkan larutan desinfeksi ke dalam kom steril.
i) Lakukan desinfeksi CDL atau Tuneling hingga bersih mulai dari pangkal
dengan gerakan memutar
j) Bersihkan dengan betadin campur NACL, kemudain beri antibiotik salep
pada pangkal CDL atau Tuneling.
k) Tutup dengan kasa steril dan fikasasi dengan plester, dengan menyisakan
bagian yang akan disambungkan dengan mesin.
2) Setelah mlekukan pembersihan dilanjutkan dengan melakukan tes kelancaran
CDL atau Tuneling dengan cara sebagai berikut:
a) Lepasakan sarung tangan yang digunakan untuk melakukan perawatan
CDL atau Tuneling
b) Lakukan kebersihan tangan.
c) Pakai sarung tangan steril.
d) Ambil spoit 3 cc, lalu darah yang ada di lumen CDL atau Tuneling di
aspirasi dan di buang ke tempat sampah infeksius.
e) Bilas dengan NACL secukupnya, kemudian lakukan test dengan
melakukan aspirasi dan memasukkan kembali darah sambil merasakan
lancar ridaknya aliran darah. (hal ini dapat diulangi sampai yakin betul
bahwa aliran darah sudah lancar)
f) Pengetesan ini dilakukan satu persatu (selang arteri atau vena terlbih
dahulu).
g) Tutup ujung CDL atau tuneling dengan posisi terklem.
h) Lakukan fiksasi dengan plseter
i) CDL atau Tuneling siap pakai.

2 Akses permanen
a. Cimino Shunt atau graft
1) Pasien mencuci daerah yang akan dilakukan insersi.
2) Anjurkan pasien baring atau duduk dengan posisi yang nyaman.
3) Beritahukan pada pasien tindakan akan dimulai
4) Ukur TTV pasien
5) Dekatkan alat yang akan di gunakan pada pasien
6) Lakukan kebersihan tangan dan gunakan APD.
7) Tentukan daerah yang akan dilakukan insersi
8) Letakkan duk steril di bawah lengan pasien yang akan di insersi.
9) Lakukan desinfeksi daerah yang akan di insersi.
10) Buka AV fistula dan letakkan diatas duk steril atau dalam bak alat.
11) Isi Fistula dengan NACl hingga penuh dengan spoit.
12) Lakukan penusukan pada vena sebagai inlet. (tempat masuknya darah), dan
fiksasi dengan plester pada daerah sayap fistula
13) Kemudian lakukan penusukan pada daerah cimini atau graf sebagai outlet
(tempat keluarnya darah).
14) Sambungkan dengan mesin untuk memulai dengan proses dilaisis.
15) Buka APD dan buang di tempat sampah infeksius.
16) Lakukan kebersihan tangan.

G. Memulai Hemodialisis
Setalah melakukan akses vaskuler dan melakukan pungsi atau insersi, maka proses dialisis
dapat dimulai dengan cara:

1. Memulai dialisis dengan CDL atau Tuneling:


a. Matikan pompa darah pada mesin.
b. Tutup semua klem.
c. Sambungkan A Blood Line dengan Selang arteri CDL atau tuneling, dan ujung V
Blood Line diletakkan di wadah penampung (matcan) dengan memperhatikan
ujung dari V Blood Line tidak boleh terendam.
d. Kencangkan konektor penghubung, buka klem pada A Blood Line dan selang
arteri CDl atau Tuneling, lalu jalankan pompa darah dengan kecepatan 100
ml/menit.
e. Sambil menunggu NACL yang ada pada Blood Line tergantikan dengan darah,
atur program dialisis pada mesin sesuai dengan instruksi dokter.
f. Bila NACL telah habis di Blood Line, sambungkan ujung V Blood Line dengan
selang vena CDL atau Tuneling, dan kencangkan konektor penyambung.
g. Naikkan kecepatan pompa darah secara bertahap sesuai dengan kemampuan
pasien.
2. Femoral dan Cimino shunt atau graft
a. Pompa darah pada mesin dimatikan, dan semua klem ditutup
b. Sambungan AV blood line dilepas, kemudian A blood line dihubungkan dengan
punksi outlet. Ujung V blood line ditempatkan ke matcan.
c. Buka klem pada A. Blood Line dan putar pompa perlahan-lahan sampai kurang
lebih 100 cc/menit untuk mengalirkan darah, mengawasi apakah ada penyulit.
d. Biarkan darah memasuki sirkulasi sampai pada bubble trap V blood line,
kemudian pompa dimatikan dan V blood line diklem.
e. Sambungkan V Blood line dengan Vena fistula dan pastikan tidak ada udara
dalam sirkulasi.
f. Jalankan pompa darah dan naikkan secara bertahap sesuai dengan kemampuan
pasien.

H. Monitoring Intra Dialisis


Selama proses dialisis berlangsung harus dilakukan monitoring terhadap mesin dan pasien,
yang bertujuan agar proses dialisis berjalan lancar, mencegah komplikasi, pasien merasa aman dan
nyaman, dan hasil dialisis dapat optimal.

1. Pengamatan pada pasien meliputi:


a. Observasi TTV setiap jam, dan setiap lebih sering untuk pasien yang dalam
kondisi kritis.
b. Observasi akses vaskuler (rembesan darah, pembengkakan, hematom).
c. Observasi keluhan pasien selama dialisis berlangsung
2. Pengamatan mesin meliputi:
a. Pengamatn dializer (adanya bekuan dan posisi dializer)
b. Sambungan AV fistula dengan Blood Line.
c. Sambungan Blood Line dengan Dializer.
d. Observasi tekanan Vena dan Arteri.
e. Observasi Tekanan Membran Pressure (TMP)
f. Observasi Ultra Filtrasion Goal (UFG) meliputi pemasukan cairan selama proses
dilaisis berlangsung (minum, infus, sonde, transfusi darah dan cairan priming).
g. Observasi time left (waktu):
1) Lama dialisis 4- 5 jam pada pasien reguler.
2) Pasien baru 2-3 jam

h. Observasi parameter lain :


1) Temperature mesin 36-37C
2) Konduktifitas Mesin 12-15 mS
3) Detektor udara berfungsi dengan baik
4) Alarm berfungsi dengan baik.

I. Mengakhiri Hemodialisis
1. Lakukan kebersihan tangan dan gunakan APD.
2. Tekan End Of Treatment pada mesin Bbrau dan Retrans pada mesin Nipro.
3. Tutup klem pada V Blood line dan V fistula, sedang pada A blood line dan A
fistula di biarkan terbuka
4. Buka klem NACL dan biarkan mengalir ke A fistula hingga nampak bening
kemudian klem.
5. Buka klem pada V blood line dan V fistula, dan jalankan pompa darah hingga
kecepatan maksimal 150 ml/menit hingga nampak bening.
6. Matikan pompa darah dan klem V blood line dan V Fistula.
7. Lepaskan ujung AV blood line denga ujung AV fistula.
8. Cabut AV fistula, kemudian tekan daerah penusukan lembut hingga darah
berhenti keluar, kemudian tutup dengan kasa steril dan fiksasi dengan plester.
9. Lepaskan dializer dan blood line dari mesin.
10. Jalankan program desinfeksi pada mesin
11. Rapikan pasien dan onservasi TTV
12. Buka APD dan buang pada tempat sampah infeksius
13. Timbang BB pasien setelah proses dialisis
14. Lakukan kebersihan tangan.
BAB V
LOGISTIK

A. Alat Tulis Kantor (ATK)


Kebutuhan ATK dipenuhi oleh Bagian Rumah Tangga dan perlengkapan Rumah Sakit
Harapan Jayakarta melalui buku permintaan setiap awal bulan.

B. Sarana dan Prasarana


Sarana dan prasarana terkordinasi dengan Instalasi Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit
(IPSRS) untuk untuk pemeliharaan alat dan gedung. Sedang untuk penyediaan linen berkordinasi
dengan bagian Loundry.

C. Persedian Bahan Habis Pakai (BHP) dan Obat


Untuk bahan habis pakai yang selanjutnya di sebut BHP serta obat yang digunakan
berkordinasi dengan Instalasi Farmasi khususnya bagian Gudang Farmasi Rumah Sakit Harapan
Jayakarta.
Unit Hemodialisa membuat perencanaan BHP dan Obat yang akan di gunakan selama
sebulan, kemudian diajukan ke Gudang Farmasi. Selanjutnya Unit Farmasi akan memesan ke
rekanan setalah mendapat persetujuan dari pihak manajemen Rumah sakit Harapan Jayakarta.
D. Pencatatan dan Pelaporan BHP dan Obat
Pencatatan pemakain BHP dilakukan setiap hari oleh petugas Unit hemodialisa pada
format yang telah disiapkan. Sedangkan pelaporan pemakaian BHP di serahkan ke Unit Farmasi
dalam hal ini bagian gudang farmasi setiap bulan.

BAB VI
KESELAMATAN PASIEN

A. Definisi
Keselamatan pasien (patient safety) Rumah Sakit adalah suatu system dimana Rumah
Sakit membuat asuhan pasien lebih aman

B. Tujuan
1. Terciptanya budaya keselamatan pasien di Rumah Sakit
2. Meningkatnya akuntabilitas Rumah Sakit terhadap pasien dan masyarakat
3. Menurunya kejadian tidak diharapkan ( KTD ) di Rumah Sakit
4. Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan
kejadian tidak diharapkan

C. Standar Safety Pasien


Standar keselamatan pasien ( Patient Safety ) untuk Unit Hemodialisa adalah :
1. Ketepatan Identitas
a) Target 100%. Label identitas tidak tepat bila apabila tidak terpasang, salah pasang,
salah penulisan nama, salah penulisan gelar (Tn,Ny,An), salah jenis kelamin dan
salah alamat
b) Target 100%. Terpasang gelang identitas Rawat Inap, Pasien masuk ke Rawat Inap
terpasang gelang identitas pasien
2. Komunikasi SBAR
Target 100%. Konsul ke Dokter via telepon menggunakan metode SBAR
3. Medikasi
a) Ketepatan pemberian obat
Target 100%. Yang dimaksud tidak tepat apabila salah obat, salah dosis,
salah jenis, salah rute pemberian, salah identitas pada etiket, dan salah
pasien
b) Ketepatan transfuse
Target 100%. Yang dimaksud tidak tepat apabila salah identitas pada
permintaan, salah tulis jenis produk darah, dan salah pasien
4. Pasien Jatuh
Target 100%. Tidak ada kejadian pasien jatuh di Unit Hemodialisa

BAB VII
KESELAMATAN KERJA

A. Pengertian
Keselamatan kerja merupakan suatu system dimana Rumah Sakit membuat
kerja / aktivitas karyawan lebih aman. System tersebut diharapkan dapat mencegah
terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan pribadi ataupun Rumah Sakit

B. Tujuan
1. Terciptanya budaya keselamatan kerja di Rumah Sakit Harapan Jayakarta
2. Mencegah dan mengurangi kecelakaan
3. Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan
proses kerjanya
4. Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang bahaya
kecelakaannya menjadi bertambah tinggi

C. Tata Laksana Keselamatan Karyawan


Setiap petugas medis maupun non medis menjalankan prinsip pencegahan
infeksi yaitu :
1. Menganggap bahwa pasien maupun dirinya sendiri dapat menularkan infeksi
2. Menggunakan alat pelindung diri ( Sarung tangan, kacamata, sepatu boot alat kaki
penutup, celemek, masker dll ) terutama bila terdapat kontak dengan specimen
pasien yaitu Urin, darah, muntah, secret, dll
3. Melakukan perasat yang aman bagi petugas maupun pasien, sesuai prosedur yang
ada, misalnya memasang kateter, menyuntik, menjahit luka, aff infuse, dll
4. Terpadat tempat sampah infeksius dan non infeksius
5. Mencuci tangan dengan sabun antiseptic sesuai dengan 5 momen cuci tangan
6. Mengelola alat dengan mengindahkah prinsip sterilisasi yaitu :
a) Dekontaminasi dengan larutan klorin
b) Pencucian dengan sabun
c) Pengeringan
7. Menggunakan baju kerja yang bersih
8. Melakukan upaya-upaya medis yang tepat dalam menangani kasus Hepatitis saat
Hemodialisa

BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

A. Pengawasan
Pengawasan merupakan salah satu fungsi manajemen yang mengusahakan agar pekerjaan
atau kegiatan terlaksana sesuai dengan rencana, dan kebijakan yang ditetapkan dapat mencapai
sasaran yang dikehendaki. Pengawasan memberikan dampak positif berupa :

1. Menghentikan atau meniadakan kesalahan, penyimpangan, penyelewengan, pemborosan,


hambatan dan ketidaktertiban.
2. Mencegah terulang kembali kesalahan, penyimpangan, penyelewengan, pemborosan,
hambatan dan ketidaktertiban.
3. Mencari cara yang lebih baik atau membina yang lebih baik untuk mencapai tujuan dan
melaksanakan tugas yang dibebankan.

B. Pengendalian
Pengendalian merupakan bentuk atau bahan untuk melakukan perbaikan yang terjadi
sesuai dengan tujuan arah pengawasan dan pengendalian. Bertujuan agar semua kegiatan dapat
tercapai secara berdaya guna dan berhasil guna. Dilaksanakan sesuai dengan rencana, pembagian
tugas, rumusan kerja, pedoman pelaksanaan dan peraturan yang berlaku.

Empat langkah yang dapat dilakukan dalam pengawasan dan pengendalian mutu
pelayanan yaitu :
1. Penyusunan standar biaya, standar performance mutu, standar kualitas pelayanan.
2. Penilaian kesesuaian yaitu membandingkan dari produk yang dihasilkan atau pelayanan
yang ditawarkan terhadap standar tersebut.
3. Melakukan koreksi bila diperlukan, yaitu dengan mengoreksi penyebab dan faktor-faktor
yang mempengaruhi kepuasan.
4. Perencanaan peningkatan mutu, yaitu ; membangun upaya-upaya-upaya yang
berkelanjutan untuk memperbaiki standar yang ada.

C. Bentuk-Bentuk Pengawasan dan Pengedalian Mutu


Beberapa bentuk pengawasan dan pengedalian mutu di Unit Hemodialisa Rumah Sakit
Harapan Jayakarta adalah sebagai berikut:

1. Melakukan pertemuan ruangan untuk menetapakan indikator mutu unit kerja, indikator
mutu area klinis, dan indikator sasaran keselamatan pasien dan insiden lain.
2. Menetapkan penanggung jawab untuk pengumpulan data, pencatatan, analisis dan
pelaporan data.
3. Pelaporan data dilakukan setiap bulan dan diserahkan kepada Komite Mutu dan
Keselamatan Pasien (KMKP).
4. Menyusun instrument penilaian staf dan melakukan penilaian kinerja setiap bulannya.
5. Melakukan analisis dan tindak lanjut hasil analisis kinerja staf Unit Hemodialisa setiap
enam bulan.
6. Melaporkan hasil anlisis kinerja staf Unit Hemodialisa kepada yang berwenang.
7. Melakukan penilaian kinerja unit dan analisis kinerja Unit Hemodialisa setiap bulannya,
serta membuat laporan dan rencana tindak lanjut serta rekomendasi kepada bidang
pelayanan medik.

D. Pembinaan
Pembinaan terhadap staf dan karyawan Rumah Sakit Harapan Jayakarta, Kuhusunya Unit
Hemodialisa sangat diperlukan untuk menjaga mutu atau meningkatkan mutu layanan Unit
Hemodialisa dengan melakukan:

1. Pertemuan ruitin bulanan staf Unit Hemodialisa.


2. Melakukan supervisor atau konsultasi dengan tenaga medis atau non medis lainnya.

E. Pengembangan
1. Pengembangan sarana dan prasanana yang ada di Unit Hemodialisa berupa penambahan
jumlah mesin HD dan perluasan ruangan.
2. Peningkatan Sumber Daya Manusia yang ada di Unit Hemodialisa dengan mengikuti
kegiatan keilmuan berupa:
a. Pelatihan Hemodialisa
b. Mengikuti Pertemuan Ilmiah Tahunan Perhimpunan Nefrologi Indonesia
(PERNEFRI) maupun Ikakatan Perawat Dialisis Indonesia (IPDI).
c. Mengikuti seminar dan Workshop khusunya di bidang Dialisis.
d. Mengikuti pelatihan, Seminar dan Workshop tentang kesehatan selain Dialisis.
BAB IX
PENUTUP

Dengan meningkatnya jumlah penderita yang memerlukan pelayanan hemodialisis, maka


sepatutnya menjadi perhatian unsur-unsur pemberi pelayanan untuk meningkatkan dan
mengembangkan pelayanan demi pemenuhan kebutuhan tersebut. Selain sarana prasarana,
pengembangan dan peningkatan sumber daya manusia juga perlu diperhatikan.

Upaya terus menerus untuk mengacu pada standar pelayanan terbaik adalah harapan dari
para konsumen kesehatan. Melalui pelayanan prima, diharapkan kualitas hidup para penderita
gagal ginjal kronis dapat ditingkatkan dan dapat berperan produktif pada bangsa dan negara