Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Undang undang praktik keperawatan sudah lama menjadi bahan diskusi


para perawat. PPNI pada kongres Nasional keduanya di Surabaya tahun 1980
mulai merekomendasikan perlunya bahan-bahan perundang-undangan untuk
perlindungan hukum bagi tenaga keperawatan. Tidak adanya undang-undang
perlindungan bagi perawat menyebabkan perawat secara penuh belum dapat
bertanggung jawab terhadap pelayanan yang mereka lakukan. Tumpang tindih
antara tugas dokter dan perawat masih sering terjadi dan beberapa perawat lulusan
pendidikan tinggi merasa frustasi karena tidak adanya kejelasan tentang peran,
fungsi dan kewenangannya. Hal ini juga menyebabkan semua perawat dianggap
sama pengetahuan dan ketrampilannya, tanpa memperhatikan latar belakang
ilmiah yang mereka miliki.

Tanggal 12 Mei 2008 adalah Hari Keperawatan Sedunia. Di Indonesia,


momentum tersebut akan digunakan untuk mendorong berbagai pihak
mengesahkan Rancangan Undang-Undang Praktik keperawatan. Persatuan
Perawat Nasional Indonesia (PPNI) menganggap bahwa keberadaan Undang-
Undang akan memberikan perlindungan hukum bagi masyarakat terhadap
pelayanan keperawatan dan profesi perawat. Indonesia, Laos dan Vietnam adalah
tiga Negara ASEAN yang belum memiliki Undang-Undang Praktik Keperawatan.
Padahal, Indonesia memproduksi tenaga perawat dalam jumlah besar. Hal ini
mengakibatkan kita tertinggal dari negara-negara Asia, terutama lemahnya
regulasi praktik keperawatan, yang berdampak pada sulitnya menembus
globalisasi. Perawat kita sulit memasuki dan mendapat pengakuan dari negara
lain, sementara mereka akan mudah masuk ke negara kita.
Masih perlukah kitamempertanyakan lagi, apakah harus ada Undang Undang
Praktik Keperawatan di bumi pertiwi ini? Jawaban dari pertanyaan yang amat
mendasar, apakah masyarakat Indonesia mempunyai hak untuk menerima
pelayanan keperawatan yang bermutu, adalah jawaban untuk memastikan bahwa
Undang Undang Praktik Keperawatan, terlalu terlambat untuk disahkan, apalagi
untuk dipertanyakan. Sementara negara negara ASEAN seperti Philippines,
Thailand, Singapore, Malaysia, sudah memiliki Undang Undang Praktik
Keperawatan (Nursing Practice Acts) sejak puluhan tahun yang lalu.Mereka siap
untuk melindungi masyarakatnya dan lebih lebih lagi siap untuk menghadapi
globalisasi perawat asing masuk ke negaranya dan perawatnya bekerja di negara
lain.

1.2. Rumusan Masalah

1.2.1 Apa Pengertian Aspek Legal ?

1.2.2 Bagaimana Stndar Aspek Keperawatan?

1.2.3 Apa Perbedaan Preaktik Vokasional dan Praktik Profesional?

1.2.4 Apa yang dimaksud dengan legislasi keperawatan?

1.2.5 Apa yang menjadi beberapa masalah hukum dan praktek keperawatan?

1.2.6 Bagaimana undang-undang yang berkaitan dengan praktek keperawatan?

1.2.7 Bagaimana perlindungan hukum untuk keperawatan?

1.2.8 Bagaimana mencegah masalah hukum?

1.2.9 Apa yang dimaksud dengan regulasi praktek keperawatan ?

1.3. Tujuan

1.3.1 Untuk Mengetahui Pengertian Aspek Legal


1.3.2 Untuk menegetahui standar praktik keperawatan

1.3.3 Untuk mengetahui perdeaan praktik vokasional dan praktik profesional

1.3.4 Untuk mengetahui tentang legislasi keperawatan

1.3.5 Untuk mengetahui tentang beberapa masalah hukum dan praktek

Keperawatan

1.3.6 Untuk mengetahui tentangundang-undang yang berkaitan dengan praktek

keperawatan

1.3.7 Untuk mengetahui tentang perlindungan hukum untuk keperawatan

1.3.8 Untuk mengetahui tentang mencegah masalah hukum

1.3.8 Untuk mengetahui tentang regulasi praktek keperawatan


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Aspek Legal

Adalah Ilmu pengetahuan mengenai hak dan tanggung jawab legal yang
terkait dengan praktik keperawatan merupakan hal yang penting bagi perawat.

2.2 Standar Praktik Keperawatan

Standar Adalah nilai atau acuan yang menentukan level praktek terhadap
staf atau suatu kondisi pada pasien atau sistem yang telah ditetapkan untuk dapat
diterima sampai pada wewenang tertentu (Schroeder, 1991).

Sebuah standar secara komprehensif menguraikan semua aspek


profesionalisme, termasuk sistem, praktisi dan pasien. Secara umum standar ini
mencerminkan nilai profesi keperawatan dan memperjelas apa yang diharapkan
profesi keperawatan dari para anggotanya. Standar diperlukan untuk :

1. Meningkatkan, mempertahankan dan mengembalikan kesehatan publik

2. Mengajarkan teori dan praktek keperawatan

3. Melakukan konseling terhadap pasien dalam rangka perawatan kesehatan

4. Mengkoordianasi pelayanan kesehatan

5. Terbitan dalam administrasi, edukasi, konsultasi, pengajaran atau


penelitian.

Dalam pembuatan standar praktek keperawatan dilandasi oleh sifat suatu profesi
yaitu :

1. Profesional bertanggung jawab dan bertanggung gugat kepada publik


terhadap kerja mereka.
2. Praktek profesional didasarkan atas body of knowledge yang spesifik
3. Profesional dan kompeten menerapkan pengetahuannya
4. Profesional terikat oleh etik
5. Sebuah profesi menyediakan pelayanan kepada publik
6. Sebuah profesi mengatur dirinya sendiri.

Tipe standar keperawatan :

1. Standar Praktek

Standar praktek meliputi kebijakan, uraian tugas dan standar kerja.

Fungsi standar praktek :

a. Tuntunan bagi perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan


b. Menetapkan level kinerja perawat
c. Gambaran definisi institusi tentang apa yang dilakukan perawat
d. Kebijakan menentukan sumber sumber untuk memfasilitasi pemberian
asuhan

2. Standar Asuhan

Standar asuhan ini meliputi prosedur, standar asuhan generik dan rencana
asuhan.

Fungsi standar asuhan :

a. Kepastian keamanan dalam perawatan pasien


b. Memastikan hasil yang berasal dari pasien

2.3 Perbedaan Praktik Vokasional dan Praktik Profesional

Perawat vokasional adalah seseorang yang mempunyai kewenangan untuk


melakukan praktik dengan batasan tertentu dibawah supervisi langsung maupun
tidak langsung oleh Perawat Profesional dengan sebutan Lisenced Vocasional
Nurse (LVN)

Perawat Profesional adalah tenaga profesional yang mandiri, bekerja


secara otonom dan berkolaborasi dengan yang lain dan telah menyelesaikan
program pendidikan profesi keperawatan, telah lulus uji kompetensi perawat
profesional yang dilakukan oleh konsil dengan sebutan Registered Nurse (RN)

2.4 Legislasi Keperawatan

2.4.1. Pengertian

Legislasi Keperawatan adalah proses pembuatan undang-undang atau


penyempurnaan perangkat hukum yang sudah ada yang mempengaruhi ilmu dan
kiat dalam praktik keperawatan (Sand,Robbles1981).

2.4.2. Prinsip dasar legislasi untuk praktik keperawatan

a. Harus jelas membedakan tiap katagori tenaga keperawatan.


b. Badan yang mengurus legislasi bertanggung jawab aatas system
keperawatan.
c. Pemberian lisensi berdasarkan keberhasilan pendidikan dan ujian
sesuai ketetapan.
d. Memperinci kegiatan yang boleh dan tidak boleh dilakukan perawat.

2.4.3. Fungsi legislasi keperawatan

a. Memberi perlindungan kepada masyarakat terhadap pelayanan


keperawatan yang diberikan.
b. Memelihara kualitas layanan keperawatan yang diberikan
c. Memberi kejelasan batas kewenangan setiap katagori tenaga
keperawatan.
d. Menjamin adanya perlindungan hukum bagi perawat.
e. Memotivasi pengembangan profesi.
f. Meningkatkan proffesionalisme tenaga keperawatan.

2.4.4. Mekanisme Legislasi

Persyaratan legislasi antara lain berupa kemampuan (kompetensi) yang


diakui, tertuang dalam ijazah dan sertifikat. Legislasi keperawatan mencakup 3
komponen yaitu registrasi, sertifikasi, dan lisensi atau akreditasi :
a. Registrasi
Registrasi merupakan pencantuman nama seseorang dan informasi
lain pada badan resmi baik milik pemerintah maupun non pemerintah.
Perawat yang telah terdaftar diizinkan memakai sebutan registered
nurse. Untuk dapat terdaftar, perawat harus telah menyelesaikan
pendidikan keperawatan dan lulus ujian dari badan pendaftaran dengan
nilai yang diterima. Izin praktik maupun registrasi harus diperbaharui
setiap satu atau dua tahun. Dalam masa transisi professional
keperawatan di Indonesia, sistem pemberian izin praktik dan registrasi
sudah saatnya segera diwujudkan untuk semua perawat baik bagi
lulusan SPK, akademi, sarjana keperawatan maupun program master
keperawatan dengan lingkup praktik sesuai dengan kompetensi
masing-masing.
b. Sertifikasi
Sertifikasi merupakan proses pengabsahan bahwa seorang perawat
telah memenuhi standar minimal kompetensi praktik pada area
spesialisasi tertentu seperti kesehatan ibu dan anak, pediatric,
kesehatan mental, gerontology dan kesehatan sekolah. Sertifikasi telah
diterapkan di Amerika Serikat. Di Indonesia sertifikasi belum diatur,
namun demikian tidak menutup kemungkinan dimasa mendatang hal
ini dilaksanakan.
c. Lisensi atau Akreditasi
Akreditasi merupakan suatu proses pengukuran dan pemberian
status akreditasi kepada institusi, program atau pelayanan yang
dilakukan oleh organisasi atau badan pemerintah tertentu. Hal-hal yang
diukur meliputi struktur, proses dan kriteria hasil. Pendidikan
keperawatan pada waktu tertentu dilakukan penilaian/pengukuran
untuk pendidikan D III keperawatan dan sekolah perawat kesehatan
dikoordinator oleh Pusat Diknakes sedangkan untuk jenjang S 1 oleh
Dikti. Pengukuran rumah sakit dilakukan dengan suatu sistem
akrteditasi rumah sakit yang sampai saat ini terus dikembangkan.
Semua mekanisme tentang proses legislasi profesi perawat tersebut sudah
sangat jelas tercantum dalam KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1239/Menkes/SK/XI/2001

2.5 Beberapa Masalah Hukum dan Praktek Keperawatan

Berbagai masalah hukum dalam praktik keperawatan telah diidentifikasi


oleh para ahli. Beberapa masalah yang dibahas secara singkat disini meliputi :

2.5.1. Malpraktek

Malpraktek merupakan istilah yang sangat umum sifatnya dan tidak selalu
berkonotasi yuridis. Secara harfiah mal mempunyai arti salah sedangkan
praktek mempunyai arti pelaksanaan atautindakan,sehingga malpraktek
berarti pelaksanaan atau tindakan yang salah. Meskipun arti harfiahnya
demikian tetapi kebanyakan istilah tersebut dipergunakan untuk menyatakan
adanya tindakan yang salah dalam rangka pelaksanaan suatu profesi.

Sedangkan difinisi malpraktek profesi kesehatan adalah kelalaian dari


seseorang dokter atau perawat untuk mempergunakan tingkat kepandaian dan
ilmu pengetahuan dalam mengobati dan merawat pasien, yang lazim
dipergunakan terhadap pasien atau orang yang terluka menurut ukuran
dilingkungan yang sama (Valentin v. La Society de Bienfaisance Mutuelle de Los
Angelos, California, 1956).

2.5.2. Menandatangani Pernyataan Hukum

Perawat seringkali diminta menandatangi atau diminta untuk sebagai


saksi. Dalam hal ini perawat hendaknya tidak membuat pernyataan yang dapat
diinterprestasikan menghilangkan pengaruh. Dalam kaitan dengan kesaksian
perawat disarankan mengacu pada kebijakan rumah sakit atau kebijakan dari
atasan.

2.5.3. Informed Consent

Berbagai format persetujuan disediakan oleh institusi pelayanan dalam


bentuk yang cukup bervariasi. Beberapa rumah sakit memberikan format
persetujuan pada awal pasien masuk rumah sakit yang mengandung pernyataan
kesanggupan pasien untuk dirawat dan menjalani pengobatan. Bentuk persetujuan
lain adalah format persetujuan operasi. Perawat dalam proses persetujuan ini
biasanya berperan sebagai saksi. Sebelum informasi dari dokter ahli bedah atau
perawat tentang tindakan yang akan dilakukan beserta resikonya.

2.5.4. Insident Report

Setiap kali perawat menemukan suatu kecelakaan baik yang mengenai


pasien, pengunjung maupun petugas kesehatan, perawat harus segera membuat
suatu laporan tertulis yang disebut incident report. Dalam situasi klinik,
kecelakaan sering terjadi misalnya pasien jatuh dari kamar mandi, jarinya
terpotong oleh alat sewaktu melakukan pengobatan, kesalahan memberikan obat
dan lain-lain. Dalam setiap kecelakaan, maka dokter harus segera diberi tahu.

Beberapa rumah sakit telah menyediakan format untuk keperluan ini. Bila
format tidak ada maka kejadian dapat ditulis tanpa menggunakan format buku.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pencatatan incident report antara lain :

a. Tulis kejadian sesuai apa adanya


b. Tulis tindakan yang anda lakukan
c. Tulis nama dan tanda tangan anda dengan jelas
d. Sebutkan waktu kejadian ditemukan

2.5.5. Pencatatan

Pencatatan merupakan kegiatan sehari-hari yang tidak lepas dari asuhan


keperawatan yang dilakukan oleh perawat. Pencatatan merupakan salah satu
komponen yang penting yang memberikan sumber kesaksian hukum. Betapapun
mahirnya keterampilan anda dalam memberikan perawatan, jika tidak dicatat atau
dicatat tetapi tida lengkap, tidak dapat membantu dalam persidangan. Setiap
selesai melakukan suatu tindakan maka perawat harus segera mencatat secara
jelas tindkan yang dilakukan dan respon pasien terhadap tindakan serta
mencantumkan waktu tindakan diberikan dan tanda tangan yang memberikan
tindakan.

2.5.6. Pengawasan Penggunaan Obat

Pemerintah Indonesia telah mengatur pengedaran dan penggunaan obat.


Obat ada yang dapat dibeli secara bebas dan ada pula yang dibeli harus dengan
resep dokter. Obat-obat tersebut misalnya narkotik disimpan disimpan ditempat
yang aman dan terkunci dan hanya orang-orang yang berwenang yang dapat
mengeluarkannya. Untuk secara hukum hanya dapat diterima dalam pengeluaran
dan penggunaan obat golongan nartkotik ini, perawat harus selalu memperhatikan
prosedur dan pncatatan yang benar.

2.5.7. Abortus dan Kehamilan di Luar Secara Alami

Abortus merupakan pengeluaran awal fetus pada periode gestasi sehingga


fetus tidak mempunya kekuatan untuk bertahan hidup. Abortus merupakan
tindakan pemusnahan yang melanggar hukum, atau menyebabkan lahir prematur
fetus manusia sebelum masa lahir secara alami.

Abortus telah menjadi masalah internasional dan berbagai pendapat telah


diajukan baik yang menyetujui maupun yang menentang. Factor-faktor yang
mendorong abortus antara lain karena :

a. Pemerkosaan
b. Pria tidak bertanggung jawab
c. Demi kesehatan mental
d. Kesehatan tubuh
e. Tidak mampu merawat bayi
f. Usia remaja
g. Masih sekolah
h. Ekonomi
Aborsi di indonesia dilarang lewat undang-undang (UU) RI nomor 23 tahun
1992 tentang kesehatan dan juga untuk kalangan muslim lewat fatwa majelis
ulama indonesia (MUI) nomor 4 tahun 2005. (tetapi fatwa membolehkan aborsi
dalam keadaan darurat di mana nyawa ibu terancam).

2.5.8. Kematian dan Masalah Terkait

Masalah hukum yang berkaitan denagn kematian antara lain meliputi


pernyataan kematian, bedah mayat/otopsi dan donor organ. Kematian dinyatakan
oleh dokter dan ditulis secara sah dalam surat pernyataan kematian. Surat
pernyataan ini biasanya dibuat beberapa rangkap dan keluarga mendapat satu
lembar untuk digunakan sebagai dasar pemberitahuan kepada kerabat serta
keperluan ansuransi. Pada keadaan tertentu misalnya untuk keperluan keperluan
peradilan, dapat dilakukan bedah mayat pada orang yang telah meninggal.

2.6 Undang-undang yang Berkaitan dengan Praktek Keperawatan

Undang-undang praktik keperawatan sudah lama menjadi bahan diskusi


para perawat. PPNI pada kongres Nasional ke duanya di Surabaya tahun 1980
mulai merekomendasikan perlunya bahan-bahan perundang-undangan untuk
perlindungan hukum bagi tenaga keperawatan. Tidak adanya Undang-Undang
perlindungan bagi perawat menyebabkan perawat secara penuh belum dapat
bertanggung jawab terhadap pelayanan yang mereka lakukan. Tumpang tindih
antara tugas dokter dan perawat masih sering tejadi dan beberapa perawat lulus
pendidikan tinggi merasa prustasi karena tidak adanya kejelasan tentang peran,
fungsi dan kewenangannya. Hal ini juga menyebabkan semua perawat dianggap
sama pengetahuan dan ketrampilannya, tanpa memperhatikan latar belakang
ilmiah yang mereka miliki. UU dan peraturan lainnya yang ada di Indonesia yang
berkaitan dengan praktek keperawatan :

a. UU No. 9 tahun 1960, tentang pokok-pokok kesehatan


Bab II (tugas Pemerintah), pasal 10 antara lain menyebutkan
bahwa pemerintah mengatur kedudukan hukum, wewenang dan
kesanggupan hukum.

b. UU No. 6 tahun 1963 tentang tenaga kesehatan

UU ini merupakan penjabaran dari UU No. 9 tahun 1960. UU


ini membedakan tenaga kesehatan sarjana dan bukan sarjana. Tenaga
sarjana meliputi dokter, doter gigi dan apoteker. Tenaga perawat
termasuk dalam tenaga bukan sarjana atau tenaga kesehatan dengan
pendidikan rendah, termasuk bidan dan asisten farmasi dimana dalam
menjalankan tugas dibawah pengawasan dokter, dokter gigi dan
apoteker. Pada keadaan tertentu kepada tenaga pendidik rendah dapat
diberikaqn kewenangan terbats untuk menjalankan pekerjaannya tanpa
pengawasan langsung.

UU ini boleh dikatakan sudah using karena hanya


mengklaripikasikan tenaga kesehatan secara dikotomis (tenaga sarjana
dan bukan sarjana). UU ini juga tidak mengatur landasan hukum bagi
tenaga kesehatan dalam menjalankan pekerjaannya. Dalam UU ini juga
belum tercantum berbagai jenis tenaga sarjana keperawatan seperti
sekarang ini dan perawat ditempatkan pada posisi yang secara hukum
tidak mempunyai tanggung jawab mandiri karena harus tergantung
pada tenaga kesehatan lainnya.

c. UU kesehatan No. 14 tahun 1964, tentang wajib keja paramedis

Pada pasal 2,ayat (3) dijelasakan bahwa tenaga kesehatan


sarjana muda, menengah dan rendah wqajib menjalankan wajib kerja
pada pemerintah selama 3 tahun. Dalam pasal 3 dihelaskan bahwa
selama bekerja pada pemerintah, tenaga kesehatan yang dimaksut pada
pasal 2 memiliki kedudukan sebagain pegawai negeri sehingga
peraturan-peraturan pegawai negeri juga diberlakukan terhadapnya.
UU ini untuk saat ini sudah tidak sesuai dengan kemampuan
pemerintah dalam mengangkat pegawai negeri. Penatalaksanaan wajib
kerja juga tidak jelas dalam UU tersebut sebagai contoh bagai mana
sisitem rekruitmen calon pesrta wajib kerja, apa sangsinya bila
seseorang tidak menjalankaqn wajib kerja dll. Yang perlu diperhatikan
dalam UU ini, lagi posisi perawat dinyatakan sebagai tenaga kerja
pembantu bagi tenaga kesehatan akademis termasuk dokter, sehingga
dari aspek profesionalisasian, perawat rasanya masih jauh dari
kewenangan tanggung jawab terhadap pelayanannya sendiri.

d. SK Menkes No. 262/per/VII/1979 tahun 1979

Membedakan para medis menjadi dua golongan yaitu


paramedic keperawatan (termasuk bidan) dan paramedic non
keperawata. Dari aspek hukum, sartu hal yang perlu dicatat disini
bahwa tenaga bidan tidak lagi terpisah tetapi juga termasuk kategori
tenaga keperawatan.

e. Permenkes. No. 363/ Menkes/ per/XX/1980 tahun 1980

Pemerintah membuat suatu pernyataan yang jelas perbedaan


antara tenaga keperawatan dan bidan. Bidan seperti halnya dokter,
diizinkan mengadakan praktik swasta, sedangkan tenaga keperawatan
secara resmi tidak diizinkan. Dokter dapat membuka praktik swasta
untuk mengobati orang sakit dan bidan dapat menolong persalinan dan
pelayanan KB. Peraturan ini boleh dikatakan kurang relevan atau adil
bagi propesi keperawatan. Kita ketahuai Negara lain perawat diizinkan
membuka praktik swasta. Dalam bidang kuratif banyak perawat harus
menggantikan atau mengisi kekujrangan tenaga dokter untuk
mengobati penyakit terutam dipuskesmas- puskesmas tetapi secara
hukum hal tersebut tidak dilindungi terutama bagi perawat yang
memperpanjang pelayanan dirumah. Bila memang secara resmi tidak
diakui, maka seharusnya perawat dibebaskan dari pelayanan kuratif
atau pengobatan untuk benar-benar melakuan nursing care.

f. SK Mentri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara No. 94/Menpan/


1986,tanggal 4 Nopember 1989, tentang jabatan fungsional tenaga
keperawatan dan system kredit poin. Dalam system ini dijelaskan
bahwa tenaga keperawatan dapat naik jabatannya atau naik pangkatnya
setiap 2 tahun bila memenuhi angka kredit tertentu. Dalam SK ini,
tenaga keperawatan yang dimaksud adalah : penyenang kesehatan,
yang sudah mencapai golongan II/a, Pengatur Rawat/ Perawat
Kesehatan/Bidan, Sarjana Muda/D III Keperawatan dan Sarjana/S I
Keperawatan. System ini menguntungkan perawat karena dapat naik
pangkatnya dan tidak tergantung kepada pangkat/ golongan atasannya
g. UU kesehatan No. 23 tahun 1992
Merupakan UU yang banyak member kesempatan bagi
perkembangan termasuk praktik keperawatan professional karena
dalam UU ini dinyatakan tentang standar praktik, hak-hak pasien,
kewenangan, maupun perlindungan hukum bagi profesi kesehatan
termasuk keperawatan.

Beberapa pernyataan UU kes. No. 23 Th. 1992 yang dapat


dipakai sebagai acuan pembuatan UU praaktik keperawatan adalah :

1. Pasal 32 ayat 4
Pelaksanaan pengobatan dan atau perawatan berdasarkan ilmu
kedokteran dan ilmu keperawatan, hanya dapat dilaksanakan oleh
tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk
itu.
2. Pasal 53 ayat I
Tenaga kesehatan berhak memperoleh perlindungan hukum dalam
melaksanakan tugas sesui dengan profesinya.
3. Pasal 53 ayat 2
Tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya berkewajiban untuk
mematuhi standar profesi dan menghormati hak pasien.
h. KepMenKes No.1239/2001 tentang Registrasi dan Praktik
Keperawatan
1) Pasal 8
a) Perawat dapat melaksanakan praktik keperawatan pada sarana
pelayanan kesehatan, praktik perorangan dan atau kelompok.
b) Perawat dalam melaksanakan praktik keperawatan pada sarana
pelayanan kesehatan harus memiliki SIK.
c) Perawat dalam melaksanakan praktik perorangan /
berkelompok harus memiliki SIIP.
2) Pasal 15

Perawat dalam melaksanakan praktik keperawatan berwenang


untuk :

a) Melaksanakan asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian,


penetapan diagnosa keperawatan, perencanaan, melaksanakan
tindakan keperawatan dan evaluasi keperawatan.
b) Tindakan keperawatan sebagaimana dimaksud pada butir a
meliputi : intervensi keperawatan, observasi keperawatan,
pendidikan dan konseling kesehatan.
c) Dalam melaksanakan asuhan keperawatan
sebagaimanadimaksud huruf a dan b harus sesuai dengan
standart asuhan keperawatan yang ditetapkan oleh organisasi
profesi.
d) Pelayanan tindakan medik hanya dapat dilakukan berdasarkan
permintaan tertulis dari dokter
3) Pasal 17
Perawat dalam melaksanakan praktik keperawatan harus
sesuai dengan kewenangan yang diberikan, berdasarkan
pendidikan dan pengalaman serta dalam memberikan pelayanan
berkewajiban mematuhi standar profesi.
4) Pasal 20
a) Dalam keadaan darurat yang mengancam jiwa seseorang /
pasien, perawat berwenang untuk melakukan pelayanan
kesehatan diluar kewenangan sebagaimana dimaksud dalam
pasal 15.
b) Pelayanan dalam keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada
ayat (a) ditujukan untuk penyelamatan jiwa.

2.7 Perlindungan Hukum untuk Keperawatan

Di Indonesia, dengan telah terbitnya UU kesehatan No.23 tahun 1992


memberikan suatu jalan untuk mengeluarkan Peraturan Pemerintah termasuk
disini UU yang mengatur praktik keperawatan dan perlindungan dari tuntunan
malpraktik. Di berbagai negara maju dimana tuntutan malpraktik terhadap tenaga
professional semakin meningkat jumlahnya, maka berbagai area pelayanan
kesehatan telah melindungi para tenaga kesehatan termasuk perawat dengan
asuransi liabilitas atau asuransi malpraktik. Seiring dengan perkembangan zaman,
tidak menutup kemungkinan dimasa mendatang asuransi malpraktik juga perlu
dipertimbangkan bagi semua tenaga kesehatan termasuk perawat di Indonesia.

2.8 Mencegah Masalah Hukum

Masalah hukum memang merupakan hal yang kompleks karena


menyangkut nasib manusia. Menanggapi hal ini kita jadi ingat slogan lama
mencegah lebih baik dari pada mengobati. Kiranya mencegah masalah hukum
lebih baik dari pada memberikan sanksi hukum. Untuk ini sebagai perawat harus
mengetahui prinsip-prinsip dalam mencegah hukum.

Dibawah ini akan dibahas beberapa hal yang dapat dilakukan perawat
yang merupakan nurse defender terhadap masalah hukum :

a. Ketahui hukum atau UU yang mengatur praktik anda.


b. Jangan melakukAn apapun yang anda tidak tahu bagaimana
melakukannya (bila perlu, pelajarilah caranya).
c. Pertahankan kompetisi praktik anda, penting mengikuti pendidikan
keperawatan berkelanjutan.
d. Sebagai penuntut untuk meningkatkan praktik, mendapatkan kritik,
dan kesenjangan pengetahuan/keterampilan, lakukan pengkajian
diri, evaluasi kelompok, audit dan evaluasi dari supervisor.
e. Jangan ceroboh dalam melakukan praktik keperawatan.
f. Tetap perhatian pada pasien dan keluarganya.
g. Sering berkomunikasi dengan orang lain, jangan menutup diri.
h. Catat secara akurat, objektif dan lengkap, jangan dihapus.
i. Delegasikan secara aman dan absah, ketahui persiapan dan
kemampuan orang-orang dibawah pengawasan anda.
j. Bantu pengembangan kebijakan dan prosedur (dalam badan
hukum).
k. Ikuti asuransi malpraktik, jika saat ini tersedia.

2.9 Regulasi dalam Praktek Keperawatan

2.9.1. Latar Belakang Regulasi

Agar melindungi masyarakat dari praktik perawat yang tidak kompeten,


karena Konsil Keperawatan Indonesia yang kelak ditetapkan dalam UU praktik
keperawatan akan menjalankan fungsinya. Konsil Keperawatan melalui uji
kompetensi akan membatasi pemberian kewenangan melaksanakan praktik
keperawatan hanya bagi perawat yan mempunyai pengetahuan yang
dipersyaratkan untuk praktik. Sistem registrasi, lisensi dan sertifikasi ini akan
meyakinkan masyarakat bahwa perawat yang melakukan praktik keperawatan
mempunyai pengetahuan yang diperlukan untuk bekerja sesuai standar.
Masyarakat membutuhkan pelayanan keperawatan yang bermutu sebagai bagian
integrar dari pelayanan kesehatan, dan memperoleh kepastianhukum kepada
pemberian dan penyelenggaraan pelayanan keperawatan.

2.9.2. Tujuan Regulasi

Adapun tujuan dari regulasi adalah sebagai berikut :


a. Agar perawat semakin profesional dan proporsional sesuai dengan
tanggung jawab yang harus dipenuhi.
b. Diharapkan tidak terjadi adanya overlap.
c. Menghindari terjadi malpraktik yang kemungkinan dapat terjadi.
d. Meningkatkan mutu pelayanan profesinya dengan mengikuti
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui pendidikan dan
pelatihan sesuai dengan bidang.

2.9.3. Komponen Regulasi

Pertama, keperawatan sebagai profesi memiliki karakteristik yaitu adanya


kelompok pengetahuan (body of Knowledge) yang melandasi keperampilan untuk
menyelesaikan masalahg dalam tatanan praktik keperawatan; pendidikan yang
memenuhi standard an diselenggarakan diperguruan tinggi; pengendalian terhadap
stndar praktik; bertanggung jawab dan bertangguang gugat terhadap tindakan
yang dilakukan; memilih profesi keperawatan sebagai karir seumur hidup; dan
memperoleh pengakuan masyarakat karena fungsi mandiri dan kewenangan penuh
untuk melakukan pelayanan dan asuhan keperawatan yang berorientasi pada
kebutuhan system klien (individu, keluarga, kelompok dan komunitas).

Kedua, kewenangan penuh untuk bekerja sesuai dengan keilmuan


keperawatan yang dipelajari dalam suatu system pendidikan keperawatan yang
formal dan terstandar menurut perawat untuk akuntabel terhadap keputusan dan
tindakan yang dilakukannya. Kewenangan yang dimiliki berimplikasi terhadap
kesediaan untuk digugat, apabila perawat tidak bekerja sesuai standar dan kode
etik. Oleh karena itu, perlu diatur system registarasi, lisensi dan sertifikasi yang
ditetapkan denga nperaturan dan perundang-undangan. Sistem ini akan
melindungi masyarakat dari praktik perawat yang tidak kompeten, karena konsil
keperawatan Indonesia yang kelak ditetapkan dalam UU praktik keperawatan
akan menjalankan fungsinya. Konsil Keperawatan melalui uji kompetensi akan
membatasi pemberian kewenagan melaksanakan praktik keperawatan hanya bagi
perawat yang mempunyai pengetahuan yang dipersyaratakan untuk praktik.
Sistem registrasi, lisensi dan sertifikasi ini akan meyakinkan masyarakat bahwa
perawat yang melakukan praktik keperawatan mempunyai pengetahuan yang
diperlukan untuk bekerja sesuai standar.

Ketiga, perawat telah memberikan konstibusi besar dalam meningkatkan


derajat kesehatan. Perawat berperan dalam memberikan pelayanan kesehatan
mulai dari layanan pemerintah dan swasta, dari perkotaan hingga pelosok desa
terpencil dan perbatasan. Tetapi pengabdian tersebut pada kenyataannya belum
diimbangi dengan pemberioan perlindungan hukum, bahkan cendrung menjadi
objek hukum. Perawat juga memiliki kompetensi keilmuan, sikap rasional, etis
dan professional, semangat pengabdian yang tinggi, berdisiplin, kreatif, terampil,
berbudi luhur, dan dapat memegang teguh etika profesi. Disamping itu, UU ini
memiliki tujuan lingkup profesi yang jelas, kemutlakan profesi, kepentingan
bersama berbagai pihak (masyarakat, profesi, pemerintah dan pihak terkait
lainnya), keterwakilan yang seimbang, optimalisasi profesi, fleksibilitas, efisiensi
dan keselarasan, universal, keadilan, serta kesetaraan dan kesesuaian
interprofesioan (WHO, 2002).

Keempat, kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan khususnya


pelayanan keperawatan semakin meningkat. Hal ini karena adanya pergeseran
paradigm dalam pemberian pelayanan kesehatan, dari model medical yang
menitikberatkan pelayanan pada diagnosis penyakit dan pengobatan, ke paradigm
sehat yang lebih holistic yang melihat penyakit dan gejala sebagai informasi dan
bukan sebagai focus pelayanan (Cohen, 1996). Disamping itu, masyarakat
membutuhkan pelayanan keperawatan yang mudah dijangkau, pelayanan
keperaweatan yang bermutu sebagai bagian yang integrar dari pelayanan
kesehatan, dan memperoleh kepastian hukum kepada pemberian dan
penyelenggaraan pelayanan keperawatan.
BAB 3

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Perawat telah memberikan konstribusi besar dalam peningkatan akan


digunakan untuk mendorong berbagai pihak untuk mengesahkan Rancangan
Undang-Undang Praktik keperawatan.Tidak adanya undang-undang perlindungan
bagi perawat menyebabkan perawat secara penuh belum dapat bertanggung jawab
terhadap pelayanan yang mereka lakukan.

Konsil keperawatan bertujuan untuk melindungi masyarakat, menentukan


siapa yang boleh menjadi anggota komunitas profesi (mekanisme registrasi),
menjaga kualitas pelayanan dan memberikan sangsi atas anggota profesi yang
melanggar norma profesi (mekanisme pendisiplinan).RUU Praktik Perawat, selain
mengatur kualifikasi dan kompetensi serta pengakuan profesi perawat,
kesejahteraan perawat, juga diharapkan dapat lebih menjamin perlindungan
kepada pemberi dan penerima layanan kesehatan di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA

http://kharisshodiq.blogspot.co.id/2009/10/aspek-legal-dalam-
keperawatan.html?m=1
http://el-moshii.blogspot.co.id/2013/11/makalah-aspek-legal-
keperawatan.html?m=1