Anda di halaman 1dari 23

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Anatomi dan Pendarahan Hidung

Hidung luar terdiri atas pangkal hidung (bridge), batang hidung (dorsum
nasi), puncak hidung (tip), ala nasi, kolumela, dan nares anterior. Bagian-bagian
ini tersusun dar atas ke bawah membentuk susunan piramid. Hidung luar
dibentuk oleh kerangka tulang yaitu os nasal, prosesus frontalis os maksila,
prosesus nasalis os frontal dan rawan yang terdiri atas sepasang kartilago nasalis
lateralis superior, kartilago ala mayor, serta kartilago septum.

Kavum nasi dibagi atas kavum nasi kanan dan kiri oleh septum nasi yang
memanjang dari nares anterior ke nares posterior (koana). Bagian dari kavum nasi
yang berada di belakang nares anterior adalah vestibulum. Vestibulum
mempunyai banyak kelenjar sebasea dan fibrise. Kavum nasi terdiri atas dinding
media, lateral, inferior, dan superior.

Bagian medial hidung adalah septum nasi yang terdiri dari tulang dan rawan.
Pada dinding lateral kavum nasi terdapat konka inferior, konka media, dan konka
superior. Diantara konka dan dinding lateral kavum nasi terdapat meatus yaitu
meatus inferior, meatus media, dan meatus superior. Dinding inferior terdiri atas
os maksila dan os palatum. Dinding superior dibentuk oleh lamina kribriformis
yang memisahkan rongga tengkorak dan rongga hidung serta os sfenoid di bagian
yang lebih posterior1.

Pembuluh darah utama hidung berasal dari arteri karotis interna dan arteri
karotis eksterna. Arteri karotis interna bercabang menjadi arteri optalmika yang
kemudian bercabang menjadi arteri etmoidalis anterior dan arteri etmoidalis
posterior. Arteri karotis eksterna bercabang menjadi arteri fasialis dan arteri
maksilaris interna. Bagian anterior hidung diperdarahi oleh arteri fasialis melalui
cabangnya yaitu arteri labialis superior. Arteri maksilaris bercabang menjadi
arteri sfenopalatina, arteri nasalis posterior, dan arteri palatina mayor.

1
Gambar 1. Anatomi pembuluh darah pada septum nasi2

Arteri sfenopalatina, arteri palatina mayor, arteri etmoidalis anterior, arteri


labialis superior membentuk anastomosis pada bagian anterior septum yang
dinamakan pleksus Kiesselbach. Arteri sfenopalatina, arteri nasalis posterior, dan
arteri faringeal asendens membentuk pleksus Woodruff yang terdaoat pada bagian
posterior septum3.

1.2 Definisi Epistaksis

Epistaksis merupakan suatu gejala yang berupa perdarahan akut yang


berasal dari lubang hidung, rongga hidung, dan nasofaring. Epistaksis bukanlah
suatu penyakit dan biasanya ringan1,4.

1.3 Epidemiologi Epistaksis

Epistkasis adalah kegawatdaruratan di bidang telinga hidung tenggrokan


(THT) yang paling sering terjadi. Epistaksis juga merupakan penyebab tersering
kedua perdarahan spontan. Sebanyak 60% penduduk pernah mengalami
setidaknya satu kali episode epistaksis. Insiden epistaksis paling sering terjadi

2
pada umur di bawah 10 tahun dan di atas 50 tahun. Pria memiliki angka
prevalensi lebih tinggi daripada wanita2,5,6,7,8.

1.4 Klasifikasi Epistaksis

Berdasarkan sumber perdarahannya, epistaksis terbagi atas 4:


1. Epistaksis anterior
Epistaksis anterior paling sering terjadi pada anak. Sumber perdarahan
tersering dari epistaksis anterior adalah pleksus Kiesselbach. Arteri
ethmoidalis anterior juga bisa menjadi sumber perdarahan. Perdarahan
biasanya berhenti secara spontan dan dapat dikendalikan dengan spontan.
2. Epistaksis posterior
Perdarahan pada epistaksis posterior adalah arteri sfenopalatina dan
arteri ethomoidalis posterior. Berbeda dengan epistaksis anterior, epistaksis
posterior sering terjadi pada dewasa terutama yang menderita hipertensi,
arteriosklerosis, atau penyakit jantung dan pembuluh darah. Perdarahan
cenderung lebih hebat dan jarang berhenti spontan.

1.5 Etiologi Epistaksis

Penyebab epistaksis seringkali tidak diketahui dan terjadi secara spontan.


Beberapa hal yang bisa menjadi penyebab epistaksis adalah1,3:
Tabel 1. Penyebab Epistaksis2
Lokal Sistemik
Sinusitis kronik Hemofilia
Epistaxis digitorum (mengorek Hipertensi
hidung)
Benda asing Leukemia
Polip atau neoplasma intranasal Penyakit hati (contohnya sirosis
hepatis)
Zat iritatif (contohnya asap rokok) Obat ( contohnya aspirin, anti
koagulan, NSAID)
Obat ( contohnya, kortikosteroid Disfungsi platelet
topikal)
Rinitis Trombositopenia
Deviasi septum
Perforasi septum
Trauma
Malformasi pembuluh darah atau
telaangiektasia

3
1. Trauma
Trauma ringan seperti mengorek hidung, bersin, mengeluarkan ingus
bisa menyebabkan epistaksis. Trauma yang lebih berat yang bisa
meyebabkan epistaksis dapat berupa jatuh, kecelakaan lalu lintas, dan lain-
lain. Kelainan anatomi berupa spina septum yang tajam juga bisa
menyebabkan trauma.
2. Kelainan pembuluh darah lokal
Biasanya kongenital, yaitu berupa pembuluh darah lebih lebar, tipis,
jaringan ikat daa sel-selnya lebih sedikit.
3. Infeksi lokal
Rinitis atau sinusitis bisa menjadi penyebab epistaksis. Infeksi spesifik
seperti tuberkulosis, lupus, lepra juga bisa meyebabkan epistaksis.
4. Tumor
Tumor yang paling sering menyebabkan epistaksis adalah angiofibroma.
5. Penyakit kardiovaskuler
Hipertensi, arteriosklerosis, nefritis kronik, sirosis hepatis, diabetes
melitus adalah beberapa penyakit vaskuler yang bisa menyebabkan
epistaksis. Terdapat dua hipotesis yang menjelaskan hubungan epistaksis
dan hipertensi. Yang pertama adalah terdapatnya kerusakan pembuluh darah
yang kronis akibat hipertensi. Hipotesis yang kedua adalah pasien
epistaksis dengan hipertensi cenderung mengalami perdarahan yang
berulang pada bagian hidung yang kaya dengan persarafan otonom
(pertengahan posterior dan bagian antara konka media dan inferior).
6. Kelainan darah
Beberapa penyebab epistaksis yang berupa kelainan darah adalah
leukemia, trombositopenia, dan hemofilia.
7. Kelainan kongenital
Teleangiektasis hemoragik herediter dan Von Willenbrand disease adalah
kelainan kongenital yang bisa menyebabkan epistaksis.
8. Infeksi sistemik
Infeksi ang paling sering adalah demam berdarah dengue.

4
9. Perubahan udara atau tekanan atmosfir
Cuaca yang sangat dingin dan kering menyebabkan keringnya mukosa
hidung sehingga akan menyebabkan epistaksis.
10. Gangguan hormonal
Epistaksis bisa terjadi karena perubahan hormonal seperti pada wanita
hamil atau menopause.

1.6 Manifestasi Klinik Epistaksis8

Perdarahan pada epistaksis sering bersumber pada bagian anterior dan cukup
mudah untuk dikendalikan. Epistaksis yang lebih berat dan mengancam nyawa
bersumber dari pembuluh darah yang lebih besar yang berada di superior
posterior kavum nasi. Keadaan seperti ini biasanya ditemukan pada pasien yang
lebih tua dengan komorbid. Perdarahan bisa menyebabkan gangguan jalan napas
dan ketidakstabilan hemodinamik.
Pada epistaksis anterior, hampir semua darah akan keluar melalui nares
anterior. Sedangkan epistaksis posterior akan melalui nasofaring dan mulut serta
juga bisa melalui nares anterior.
Epistaksis pada pasien dengan kelainan darah terjadi berulang-ulang dengan
waktu perdarahan yang lebih lama. Pada pasien ini juga diketahui mudah
terjadinya lebam dan bisa ditemukan lebam-lebam pada beberapa lokasi di tubuh.

1.7 Diagnosis Epistaksis


Untuk menegakkan diagnosis epistaksis, diperlukan anamnesis, pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan penunjang yang baik.

1. Anamnesis9
Hal-hal yang perlu diketahui dari anamnesis adalah:
- Derajat keparahan, frekuensi, dan durasi epistaksis
- Sisi yang mengalami perdarahan
- Riwayat trauma, epistaksis sebelumnya, hipertensi, mudah lebam, sirosis
hepatis, leukemia, atau penyakit sistemik lainnya
- Eksplorasi kemungkinan adanya benda asing pada anak
- Penggunaan obat, terutama antikoagulan atau antitrombosit

5
2. Pemeriksaan Fisik9
Lakukan pemeriksaan rinoskopi anterior secara menyeluruh pada kavum
nasi. Tampon anterior yang diberikan vasokontriktor ( adrenalin 1/5000-
1/10.000 dan pantokain atau lidokain 2%) bisa membantu pemeriksaan.
Biarkan tampon selama 10-15 menit. Hal ini dilakukan untuk menentukan
titik perdarahan dan mengurangi rasa nyeri. Jika sumber peradarahan
anterior tidak bisa ditemukan atau perdarahan tidak berhenti, pikirkan
kemungkinan epistaksis posterior.

3. Pemeriksaan Penunjang8,9
Pemeriksaan penunjang dilakukan apabila terdapat kecurigaan
koagulopati atau adanya perdarahan yang masif. Beberapa pemeriksaan
penunjang yang bisa dilakukan:
- Nasoendoskopi, untuk melihat kavum nasi secara keseluruhan dan juga
nasofaring
- Laboratorium, yaitu berpa pemeriksaan darah lengkap dan profil
hemostasis berupa waktu perdarahan, Prothrombin Time (PT), activated
Partial Thromboplastin Time (aPTT), serta International Normalized
Ratio (INR).
- Pencitraan berupa MRI atau CT-scan yang dilakukan apabila terdapat
kecurigaan keganasan atau benda asing yang sulit dilihat pada
pemeriksaan fisik.

Tabel 2. Interpretasi PT dan PTT8


PT PTT Gangguan didapat Gangguan Kongenital
Memanjan Normal Gangguan hepar atau Defissiensi faktor VII
g defisiensi vitamin K
Normal Memanjang Lupus anticoagulant Defisiensi faktor VIII
Acquired factor VIII (hemofili A), IX (hemofili
inhibitor B), atau faktor XI
Memanjan Memanjang DIC, gangguan hepar Defisiensi fibrinogen,
g protombin, faktor V, atau
faktor X
Normal Normal Trombositopenia, Defisiensi faktor ringan,
gangguan trombosit penyakit von Willebrandt
kualitatif ringan, defisiensi faktor
XIII

6
1.8 Diagnosis Banding Epistaksis

Diagnosis banding dari epistaksis bisa berupa perdarahan yang keluar dari
hidung tapi tidak bersumber dari pembuluh darah yang ada di hidung, yaitu4:
- Hemoptisis
- Varises esofagus yang berdarah
- Perdarahan pada basis cranii yang mengalir melalui sinus sphenoid.

1.9 Tatalaksana Epistaksis

Prinsip utama dalam tatalaksana epistaksis adalah4:


1. Menghentikan perdarahan
2. Mencegah komplikasi
3. Mencegah epistkasis berulang
Epistaksis ditatalaksana dengan cara4,10:
1. Keadaan umum diperbaiki dan kemudian periksa pasien dengan posisi
duduk. Apabila pasien sangat lemah atau dalam keadaan syok, pasien boleh
berbaring dengan kepala dimiringkan
2. Epistaksis ringan bisa dihentikan dengan cara menegakkan kepala dan
kemudian menekan cuping hidung ke arah septum (metode Trotter)
3. Apabila darah tidak mengalir lagi, buka hidung dengan spekulum dan
bersihkan hidung dengan alat pengisap (suction).
4. Bila perdarahan tidak berhenti, masukkan kapas yang sudah diberikan
anastesi lokal yaitu larutan pantokain 2% sebanyak 2 cc atau lidokain 2%
sebanyak 2cc yang ditetesi larutan adrenalin 1/1000 sebanyak 0,2 cc. Hal
ini dilakukan agar pembuluh darah berhenti sementara karena
bervasokontriksi dan untuk menghilangkan nyeri. Keluarkan kapas setelah
10-15 menit dan temukan sumber perdarahan.
5. Jika sumber perdarahan pada bagian anterior sudah terlihat jelas, lakukan
kaustik denga kapas lidi yang sudah dibasahi larutan nitrasargenti 20-30%
atau asam trikoloroasetat 10%. Kemudian berikan salep antibiotik pada
daerah itu.
6. Apabila perdarahan anterior belum berhenti setelah melakukan kaustik,
pasang tampon anterior dengan kain kassa atau kapas yang diberi vaselin

7
dna dicampr dengan betadin atau antibiotika. Cara lain yang bisa digunakan
adalah dengan menggunakan tampon rol yang dibuat dari kassa sehingga
menyerupai pita yang diletakkan berlapis-lapis dari dasar sampai ke puncak
hidung. Tampon harus menekan sumber perdarahan dan dipasang selama
dua hari. Pemberian antibiotik dan analgetik dilakukan selama pemakaian
tampon.

Gambar 2. Tampon anterior4

7. Perdarahan posterior ditatalaksana dengan menggunakan tampon Bellocq


yang terbuat dari kassa berbentuk bulat atau kubus dengan diameter 3 cm.
Tampon Bellocq memiliki tiga benang, yaitu dua benang pada salah satu
sisi dan satu pada sisi lainnya. Koana harus dapat ditutupi secara
keseluruhan oleh tampon. Tampon posterior dipasang dengan cara:

a) Masukkan kateter karet melalui kedua nares anterior hingga mencapai


orofaring dan kemudian keluarkan melalui mulut
b) Kaitkan kedua ujung kateter masing-masing pada dua benang yang ada
pada tampon dan kemudian tarik kembali kateter melalui hidung
c) Tarik kedua ujung benang yang keluar dari hidung dan dorong tampon
ke nasofaring
d) Agar tampon yang ada di nasofaring itdak bergerak, ikat kedua benang
tersebut pada sebuah gulungan kassa di depan hidung.
e) Letakkan satu benang pada sisi lain yang berada di rongga mulut ke pipi

8
pasien. Benang ini berguna untuk menarik tampon dan mengeluarkannya
dari mulut setelah 2-3 hari pemakaian.
f) Berikan obat-obat hemostatik jika diperlukan

Gambar 3. Tampon Bellocq4

Menghentikan perdarahan posterior juga bisa dilakukan dengan


penggunaan balon. Yang pertama adalah dengan kateter Foley. Kateter
dimasukkan melalui nares anterior sampai terlihat di orofaring.
Gembungkan kateter dan tarik melalui mulut sampai balon berada di koana
dan kemudian fiksasi kateter. Yang kedua adalah Brighton balloon.

Gambar 4. Penampang sagital kavum nasi dengan Brighton balloon10

9
8. Operasi
Tindakan bedah dilakukan jika perdarahan masih berlanjut dan darah tetap
mengalir setelah pemakaian tampon. Sebagianbesar pasien mendapatkan
anastesi umum, kecuali pada orang tua biasanya menggunakan anastesi
lokal dengan sedasi. Tindakan bedah terdiri atas:
a) Diatermi
b) Operasi septum
c) Ligasi arteri

Gambar 5. Protokol Tatalaksana Epistaksis10

10
1.10 Komplikasi Epistaksis
Perdarahan yang terjadi bisa menyebabkan syok atau anemia pada pasien.
Beberapa komplikasi yang terjadi akibat tindakan adalah4,8:
1. Kaustik bisa menyebabkan terjadinya sinekia dan perforasi septum
2. Pemasangan tampon anterior menyebabkan ostium sinus tersumbat
sehingga bisa menyebabkan sinusitis. Selain itu tampon anterior juag bisa
menyebabkan sinekia, toxic shock syndrome, dan disfungsi tuba
eushtacius.
3. Tampon posterior bisa menyebabkan terjadinya otitis media dan juga
laserasi pada palatum mole atau sudut bibir apabila tampon terlalu
kencang dikeluarkan.Sinekia, rinosinusitis, toxic shock syndrome,
disfungsi tuba eushtacius, disfagia, hipoventilasi juga bisa terjadi akibat
tampon posterior.
4. Ligasi arteri dapat menyebabkan fistula oroantral, trsimus, parastesi, dan
lain-lain.

1.11 Prognosis Epistaksis


Prognosis pada pasien epistaksis cukup bervariasi. Secara umum,
prognosisnya adalah dubia ad bonam apabila penyebab yang mendasari dapat
diatasi atau dihindari. Beberapa pasien bisa mengalami rekuerensi dan biasanya
akan berhenti spontan atau dengan intervensi yang minimal. Sebagian kecil
rekurensi membutuhkan penanganan yang lebih agresif4,8.

11
BAB 2
LAPORAN KASUS
KEPANITERAAN KLINIK ROTASI TAHAP II

IDENTITAS PASIEN
Tanggal Pemeriksaan : 27 Februari 2017

Nama : Nn.D
Umur : 11 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Pelajar SMA
Alamat : Jln. Air Camar no 40 Padang

A. ANAMNESIS PENYAKIT (DISEASE)

Seorang pasien perempuan berumur 11 tahun datang ke IGD RSUP M.Djamil


Padang pada tanggal 9 Maret 2016 dengan

Keluhan Utama : Keluar darah dari hidung kanan dan kiri sejak 2 jam sebelum
masuk rumah sakit

Riwayat Penyakit Sekarang :


Keluar darah dari hidung kiri dan kanan sejak 2 jam sebelum masuk
Rumah Sakit
Perdarahan dari hidung berulang sejak 2 minggu ini sebanyak dua kali,
lama perdarahan lebih kurang 10 menit, darah sedikit-sedikit dan berhenti
sendiri.
Perdarahan sebanyak lebih dari 2 saputangan.
Riwayat bersin bersin lebih dari 5 x pada pagi hari tidak ada
Riwayat telinga berdenging, pendengaran berkurang dan terasa penuh di
telinga tidak ada
Demam sejak 2 hari yang lalu, demam tinggi dan terus-menerus
Riwayat trauma pada hidung tidak ada
Riwayat batuk pilek tidak ada
Riwayat nyeri menelan tidak ada
Riwayat memasukan benda asing ke hidung tidak ada
Riwayat pemakaian dekongestan topikal tidak ada
Riwayat penggunaan obat semprot hidung tidak ada
Riwayat gusi sering berdarah, dan ketika luka sulit sembuh tidak ada
Riwayat demam berdarah dan demam tifoid tidak ada sebelumnya

Riwayat Penyakit Dahulu :

12
Pasien pernah mengalami perdarahan dari hidung seperti ini sebelumnya
saat SD. Terakhir mengalami perdarahan 2 tahun yang lalu. Perdarahan
menghabiskan sekitar 3-4 saputangan.
Riwayat pemakaian obat-obatan antitrombolitik sebelumnya tidak ada

Riwayat Penyakit Keluarga :


Ayah pasien juga mengalami keluhan yang sama yaitu perdarahan dari hidung
beeberapa kali, dirasakan ketika udara dingin.

Riwayat Personal Sosial :


Kebiasaan menggosok-gosok hidung ada.

Review Sistem

Pada pasien ini didapatkan masalah mengenai sistem pernapasan, terutama di


bagian saluran pernapasan atas.

B. ANAMNESIS PENGALAMAN SAKIT (ILLNESS)

Pengalamn Sakit Pasien

1. Pikiran : Perdarahan pada hidung yang sering terjadi


2. Perasaan : Takut perdarahan tidak berhenti
3. Efek pada fungsi : mengganggu aktivitas ketika perdarahan terjadi
4. Harapan : Kembali sehat, bernafas kembali normal

C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum : Baik
2. Kesadaran : Komposmentis
3. Tanda vital
Tekanan darah : 120 / 80 mmHg
Nadi : 88 x/i
Respirasi : 25 x/i
Suhu : 37,5 oC
4. Antropometri
Tinggi badan : 170 cm
Berat badan : 72 kg
Lingkar pinggang : -
Lingkar panggul : -
Lingkar lengan atas :-
Status gizi : Baik
Indeks Masa Tubuh (IMT) : 24,9
Waist Hip Ratio :-
5. Pemeriksaan Umum

13
Kulit : Tak ada kelainan
Kelenjar limfe : Tidak ada pembesaran kelenjar limfe
Otot : Tak ada kelainan
Tulang : Tak ada kelainan
Sendi : Tak ada kelainan
6. Pemeriksaan Khusus
Kepala : Normocephal
Mata : Konjungtiva anemis (-), Sklera ikterik (-)
Hidung : Tak ada kelainan
Telinga : Tak ada kelainan
Mulut dan gigi : Caries (-)
Tenggorokan : Tak ada kelainan
Leher : Tidak ada pembesaran KGB

Pemeriksaan thorak :
Jantung
Inspeksi : Ictus tidak terlihat
Palpasi : Ictus teraba 1 jari medial LMCS RIC IV
Perkusi : Batas jantung dalam batas normal
Auskultasi : Irama teratur, bising (-)
Paru
Inspeksi : Simetris statis dan dinamis, retraksi (-)
Palpasi : Fremitus kiri=kanan
Perkusi : Sonor
Auskultasi : bronkovesikular, rhonki -/-, wheezing -/-
Pemeriksaan abdomen :
Inspeksi : perut tidak tampak membuncit
Palpasi : hepar dan lien tidak teraba
Perkusi : timpani
Auskultasi : bising usus (+) normal
Anus dan genitalia : tidak ada kelainan
Ekstremitas : akral hangat, perfusi baik

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Laboratorium
-
2. Radiologi
-
3. Lainnya

14
-
E. DIAGNOSIS KLINIS
1. Diferential diagnosis : Epitaksis
2. Diagnosis kerja :-

3. DATA ANGGOTA KELUARGA INTI (KELUARGA ASAL)

No Nama Jenis Tgl Pekerjaa No. Status


. Kelami Lahir/Umu n HP Kesehatan
n r
1. Tn. A Lk 44 th Swasta Sehat
2. Ny. M Pr 37 th IRT Sehat
3. D Lk 17 th Pelajar
4. Pasien Pr 15 th Pelajar
5. D Pr 14 th Pelajar

4. DATA ANGGOTA KELUARGA YANG TINGGAL SERUMAH

No Nama Jenis Tgl Pekerjaa No. Status


. Kelami Lahir/Umu n HP Kesehatan
n r
1. Tn. A Lk 44 th Swasta Sehat
2. Ny. M Pr 37 th IRT Sehat
3. D Lk 17 th Pelajar
4. Pasien Pr 15 th Pelajar
5. D Pr 14 th Pelajar

15
F. INSTRUMEN PENILAIAN KELUARGA (FAMILY ASSESMENT
TOOLS)
1. Genogram Keluarga (Family Genogram)

: Laki-laki

: Perempuan

: Pasien

: Tinggal serumah

2. Peta Keluarga (Family Map)

Anak I

Anak II

Anak III

3. APGAR Keluarga (Family APGAR)

16
APGAR Keluarga Hampir Kadang- Hampi
selalu kadang (1) r tidak
(2) pernah
(0)
1. Saya merasa puas karena saya
dapat meminta pertolongan
kepada keluarga saya ketika
saya menghadapi
permasalahan.
2. Saya merasa puas dengan cara
keluarga saya membahas
berbagai hal dengan saya dan
berbagi masalah dengan saya.
3. Saya merasa puas karena
keluarga saya menerima dan
mendukung keinginan-keingian
saya untuk memulai kegiatan
atau tujuan baru dalam hidup
saya.
4. Saya merasa puas dengan cara
keluarga saya mengungkapkan
kasih sayang dan menanggapi
persaan-perasaan saya, seperti
kemarahan, kesedihan dan
cinta.
5. Saya merasa puas dengan cara
keluarga saya dan saya berbagi
waktu bersama.
Skala pengukuran:

Hampir selalu: 2

Kadang-kadang: 1

Hampir tidak pernah: 0

17
Skor : 10

8-10 : Sangat fungsional

4-7 : Disfungsional sedang

0-3 : Disfungsional berat

5. SCREEM Keluarga (Family SCREEM)

Aspek SCREEM Sumber Daya Patologis

Dekat dengan
tetangga,
hubungan dengan
Social keluarga baik,
hubungan pasien
dengan saudara
baik

Cultural

Pasien optimis dengan


Religious kesembuhan terhadap
penyakitnya

Pendidikan tamatan
Educational
SMA

- Pasien memiliki
Economic kartu BPJS
untuk berobat
Pasien memiliki
kebiasaan yang
kurang baik yaitu
Medical
mengucek-ngucek
hidungnya bila
gatal

18
6. Perjalanan Hidup Keluarga (Family Life Line)

Life Events/
Tahun Usia Severity of illness
Crisis

G. RUMAH DAN LINGKUNGAN SEKITAR


1. Kondisi Rumah
o Rumah dari dinding
o MCK di dalam
o Ventilasi ada
2. Lingkungan Sekitar Rumah
o Rumah berada di komplek
o Rumah dekat dengan Sekolah Dasar
3. Denah Rumah

H. INDIKATOR PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS)

Jawaban
No. Indikator PHBS
Ya Tidak

1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan

2. Pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan

3. Menimbang berat badan balita setiap bulan

Menggunankan air bersih yang memenuhi syarat


4.
kesehatan

5. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun

6. Menggunakan jamban sehat

Melakukan pemberantasan sarang nyamuk di


7.
rumah dan lingkungannyan sekali seminggu

8. Mengkonsumsi sayuran dan atau buah setiap hari

9. Melakukan aktivitas fisik atau olahraga

10. Tidak merokok di dalam rumah

Kesimpulan :

19
I. CATATAN TAMBAHAN HASIL KUNJUNGAN RUMAH
-
J. PENGELOLAAN KOMPREHENSIF
a. Patient-Centered

Preventif :
- Istirahat cukup 6-8 jam sehari
- Banyak minum 5-8 gelas sehari, minumlah air yang telah dimasak
dengan mendidih 3-5 menit.
- Diet tinggi kalori tinggi protein, makan 3 porsi sehari, dengan lauk
seperti tahu, tempe, ikan, telur, ayam; sayur seperti kangkung,
bayam, wortel; kemudian diselingi dengan buah diantara jam
makan seperti papaya, jeruk, pisang. Perbanyak memakan
makanan yang mengandung vitamin C.
- Jaga kebersihan diri, mandi dua kali sehari ganti pakaian setiap
mandi; gosok gigi dua kali sehari setiap pagi dan menjelang tidur;
potong kuku 1 kali seminggu
Promotif :
- Menjelaskan kepada pasien mengenai epitaksis.
- Menjelaskan faktor risiko dari penyakit ini adalah karna rapuhnya
pembuluh darah di hidung pasien dan bisa disebabkan karena
pasien sering mengucek hidungnya sehingga mempermudahnya
pecah pembuluh darah.
- Menjelaskan bahwa penyakit ini tidak dapat ditularkan
- Menjelaskan cara memberhentikan perdarahan yang paling mudah
yaitu menegakkan kepala dan kemudian menekan cuping hidung ke
arah septum (metode Trotter)
- Menjelaskan kepada orangtua pasien tentang komplikasi dari
penyakit ini dan kapan harus datang ke IGD kepada ibu dan
pasien.
Kuratif (Resep) :
- Vitamin K 1x1 tab
- Vitamin C 1x1 tab
Rehabilitatif :
- kontrol kembali ke puskesmas jika masih terdapat perdarahan.

20
b. Family-Focusedapat
-
c. Community-Oriented
-

Dinas Kesehatan Kodya Padang


Puskesmas: Lubuk Begalung

Dokter : dokter muda Fulan


Tanggal: 27 Februari 2017

R/ Vitamin K tab No. X


S1dd tab 1

R/ Vitamin C No. X
S3dd tab 1

21
Pro: Nn. D
Umur: 15 Tahun
Alamat: Jln. Air Camar No. 40

DAFTAR PUSTAKA

1. Soepardi E A, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti R D. Buku Ajar Ilmu


Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi ke- 7. Jakarta:
Badan Penerbit FK UI; 2012.
2. Kucik CJ, Clenney T. Management of Epistaxis. 2005;71(5):305-311.
3. Budiman BJ, Hafiz A. Epistaksis dan Hipertensi: Adakah hubungannya?
(diunduh 9 Maret 2016). Tersedia dari: URL: http://repository.unand.ac.id/176
73/1/Referat 1 - Epistaksis.pdf
4. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter
di Fasilitias Pelayanan Kesehatan Primer. 2014.
5. Lubis B, Saragih RAC. Tatalaksana Epistaksis Berulang pada Anak. Sari
Pediatri 2007;9(2).

22
6. Neto PS, Nunes LMA, Gregorio LC, Santos RDP, Kosugi EM. Surgical
Treatment of Severe Epistaxis: an eleven years experience. Braz J
Otorhinolaryngol 2013;79(1):59-64
7. Limen MP, Palandeng O, Tumbel R. Epistaksis di Poliklinik THT-KL BLU
RSUP. PROF. DR. R. D. Kandou Manado Periode Januari 2010-Desember
2012. Jurnal e-Biomedik 2013;1(1);478-483
8. Bertrand B, Eloy P, Rombaux P, Lamarque C, Watelet JB, Collet S. Guideline
to The Management of Epistaxis. B-ENT 2005; 1(suppl 1):27-43.
9. Afifah NH, Mangunkusumo E. Epistaksis. Dalam: Tanto C, Liwang F, Hanifati
S, Pradipta EA editor (penyunting). Kapita Selekta Kedokteran. Edisi ke-4.
Jakarta: Media Aesculapius. 2014. hlm. 1044-1046
10. Pope LER, Hobbs CGL. Epistaxis: An Update on Current Management.
Postgrad Med J 2005;81:309-314
11. Nguyen A Quoc.epistaxis-overview. Available from http://www.emedicine.
medscape.com /artickle. diakses pada 9 Maret 2016.
12. Nasal anatomy and physiology. Available from http://www.studyblue.com
/notes/note/n/an3-09-nasal-cavity-parasinuses-and-physiology/deck/6752464.
diakses pada 9 Maret 2016
13. Sarhan NA, Algamal AM. Relationship between epistaxis and hypertension: A
cause and effect or coincidence. Journal of the Saudi Heart Association. Vol
27: 79-84.
14. Yolazenia dan Budiman BJ. Epistaksis berulang dengan rinosinusitis kronik,
spina pada septum dan telangiektasis. Laporan kasus bagian telinga hidung
tenggorok bedah kepala leher (THT-KL) Fakultas Kedokteran Universitas
Andalas. hlm 1-5.

23