Anda di halaman 1dari 54

MODUL PELATIHAN MATLAB

METODE NUMERIK MENGGUNAKAN MATLAB

Disusun oleh:
Dani Puji Utomo

Isi:
Modul 1. Dasar-dasar Matlab
Modul 2. Akar-akar Persamaan Nonlinier
Modul 1. Dasar-dasar Matlab

1. Bilangan dan Operator matematika dalam MATLAB


Terdapat tiga tipe bilangan di MATLAB, yaitu:
Bilangan bulat (integer) contoh 1, 2, 10, 200, 5000

Bilangan real, contoh 2.1, 3.14, 0.011, 200.35

Bilangan kompleks, contoh a+bi


Matlab juga mempunyai variable yang bukan merupakan bilangan yang dilambangkan
dengan:
-inf : -infinity
inf : infinity
NaN : not a number
Daftar operasi aritmatika dasar dalam Matlab
+ : Penjumlahan
- : Pengurangan
* : Perkalian
/ : Pembagian
\ : Pembagian kiri
^ : Pangkat
: Transpose
() : Kurung
.* : Perkalian elemen matriks
./ : Pembagian elemen matrks
2. Penulisan Matriks di Matlab
Penulisan matriks dalam Matlab adalah dengan menggunakan kolom siku [] dan untuk
memisahkan elemen matriks digunakan tanda koma (,) atau spasi untuk memisahkan elemen
dalam 1 baris, dan tanda titik koma (;) digunakan untuk memisahkan elemen matriks dalam 1
kolom.
Matriks tansposisi (matrikst)
Menggunakan tanda petik atas () untuk mentranspose suatu matriks

Menentukan ukuran matriks

Menentukan determinan matriks


Menentukan invers matriks

Perhitungan invers matriks A menggunakan Matlab memunculkan peringatan di atas


menenjukkan bahwa matriks A adalah matriks singular. Hal ini dapat kita ketahui dengan
melihat nilai determinan berharga nol atau mendekati nol dapat dipastikan matriks A adalah
matriks singular.
Membuat data vector baris dengan selisih 1

Membuat data vector baris dengan selisih n

Membuat vector baris dengan jumlah data tertentu


3. Aljabar matrik
Penjumlahan dan pengurangan matrik
Hanya dapat dilakukan jika matrik memiliki orde yang sama.

Perkalian matriks
Syaratnya jumlah kolom matriks A sama dengan jumlah baris matriks B
Pembagian matriks kanan
XA=C
X=CA-1
X=C/A
Pembagian matriks kiri
AX=C
X= A-1C
X=A\C

Perkalian dan pembagian elemen matriks


Contoh
4. Membuat string dan display karakter
Membuat display karakter
disp('karakter yang diinginkan')

Menampilkan nilai variable menggunakan string format


Gunakan fungsi fprintf dan sprintf
Format tampilan bilangan Karakter khusus
Simbol Arti Simbol Arti
%d Bilangan bulat /n Pindah ke baris baru
%f Bilangan pecahan /t Geser sebanyak 1 tab
%o Bilangan octal
%x, %X Bilangan
hexadecimal
%e, %E Bilangan a x 10b
Contoh perintah

Angka 5.3 menunjukkan menyediakan ruang untuk 5 digit dengan 3 desimal


Perintah yang sama dapat pula menggunakan sprint, bedanya adalah dengan fprintf adalah
pada sprint hasil outputnya adalah standard output.
Modul 2. Metode Numerik Menggunakan Matlab

1. Akar-akar persamaan non linear

Contoh grafik persamaan nonlinier

Berikut adalah beberapa contoh Persamaan Nonlinier


Jenis persamaan nonlinier Contoh
Persamaan kuadrat X2-4x+3=0
Persamaan Polinomial X4+6x3+7x2-6x-8=0
Persamaan Transenden Sinx-2exp(-x2)=0
Persamaan Logaritmik ln(1+x2)-2exp(-x2)=0

a. Metode Iterasi sederhana


Metode ini adalah metode paling sederhana dalam menyelesaikan persoalan persamaan
nonlinier, namun memerlukan jumlah iterasi yang lebih panjang, selain itu kadang hasil
tidak konvergen.
Algoritma penyelesaiannya adalah
Buat fungsi nonlinier x=f(x)

Masukkan tebakan

tidak
Sesuai
toleransi?

ya

Selesai

Contoh:
Menyelesaikan persamaan x+ex=0, ubahlah persamaan menjadi x=g(x)
x=-ex
buat lining program pada Matlab
1. Buat fungsi pada M file untuk fungsi asli f(x)=0 dan diberi nama fungsi.m

2. Buat fungsi pada M file untuk fungsi g(x)=x dan diberi nama fungsig.m

3. Buat program eksekusi pada M-file sesuai algoritma


4. Hasil run program

Hasil diperoleh nilai x yang sesuai adalah -0,5711 dengan error sebesar 0.0063
Latihan:
Selesaikanlah dengan metode iterasi sederhana:
1. x^2+5x-2^x+7=0
2. ex+2x=0
3. 20e5/x+8=0
b. Metode Setengah Interval
Merupakan metode dengan tebakan dua arah, metode ini disebut juga metode bisection.
Langkah penyelesaiannya adalah sebagai berikut:
1) Hitung fungsi pada interval yang sama dari x sampai perubahan tanda dari f(xi)
dan f(xi+1), yaitu apabila f(xi)xf(xi+1)<0.
2) Perkirakan pertama dari akar xt dihitung dari rata-rata xi dan xi+1

3) Buat evaluasi berikut untuk menentukan subinterval mana akar persamaan berada.
Jika f(xi)xf(xt)<0, akar persamaan berada pada sub interval pertama,
kemudian tetapkan xi+1=xt dan lanjut langkah 4.
Juka f(xi)xf(xi+t)>0, akar berada pada subinterval kedua, kemudian tetapkan
xi=xt dan lanjut pada langkah ke 4
Jika f(xi)x(fxt)=0, akar persamaan adalah xt dan hitungan selesai.
4) Hitung perkiraan baru dari akar dengan cara berikut
Algoritma metode bisection

X1=tebakan1
X2=X1+dX
FX=F(X1).F(X2)

Y
FX>0?

N
Y
FX=0?

Hitung Xt

FX=F(Xx).F(X1)

Y
FX>0?
X1=Xt
N
FXt=F(X1)
X2=Xt
FXt=F(X2)

N
Error<Etolr

Y
Selesai

Contoh penyelesaian:
Menggunakan persamaan seperti dalam contoh iterasi sederhana dalam file fungsi.m
Buat lining program sebagai berikut
clear
clc
a=input('masukkan tebakan= ');
dx=input('masukkan interval= ');
b=a+d;
fa=fungsi(a);
fb=fungsi(b);
if fa*fb>0;
break
end
Etolr=input('masukkan toleransi= ');
Ea=1.1*Etolr;
i=0;
imax=input('masukkan maksimum iterasi= ');
disp(' i a b x fx E ');
disp('____________________________________');
while Ea>Etolr & i<imax
x=(a+b)/2;
i=i+1;
fx=fungsi(x);
if fx*fa>0
a=x;
else
b=x;
end
Ea=abs(a-b);

disp(sprintf('%3.0f %6.4f %6.4f %6.4f %8.5f %10.6f\n',i,a,b,x,fx,Ea))


;
end
disp(sprintf('Hasil Akar= %11.8f',x))

Hasil run program

Selesaikanlah dengan setengah interval:


1. x^2+5x-2^x+7=0
2. ex+2x=0
3. 20e5/x+8=0
c. Metode Interpolasi Linier
Metode ini dikenal juga dengan metode false position. Dengan metode ini nilai dari suatu
fungsi dapat diketahui lebih cepat dari pada metode sebelumnya. Metode interpolasi
linier didasarkan pada interpolasi antara dua nilai dari fungsi yang mempunyai tanda
berlawanan.
Persamaan untuk menentukan x baru:

Algoritma penyelesaian ditampilkan pada blok diagram berikut:

Hitung fungsi untuk


interval X yang sama
sehingga didapat f(Xi) dan
F(Xi+1) dengan tanda yang
berbeda

Hitung X* dan F(X*)

Y
Apakah F(X*) dan F(Xi) Xi+1=X*
bertanda sama? F(Xi+1)=F(X*)

Xn=X*
F(Xi)=F(X*)

Apakah F(X*) Y
Selesai
kecil?

N
Contoh penyelesaian:
Menggunakan persamaan seperti dalam contoh iterasi sederhana dalam file fungsi.m
Buat lining program sebagai berikut
clear
clc
a=input('masukkan tebakan bawah= ');
dx=input('masukkan interval x= ');
b=a+dx;
fa=fungsi(a);
fb=fungsi(b);
if fa*fb>0
break
end
Etolr=input('masukkan toleransi= ');
Ea=1.1*Etolr;
i=0; imax=30;
disp(' i a b x fx E ');
disp('_________________________________________________');
while Ea>Etolr & i<imax
xb=b-(fb*(a-b)/(fa-fb));
i=i+1;
fxb=fungsi(xb);
if fxb*fb>0
b=xb;
else
a=xb;
end
Ea=abs(a-b);
disp(sprintf('%3.0f %6.4f %6.4f %6.4f %8.5f %10.6f\n...
,i,a,b,xb,fxb,Ea))
end
disp(sprintf('Hasil Akar= %11.8f',xb))
Hasil run program

Selesaikanlah dengan setengah Interpolasi Linier:


1. x^2+5x-2^x+7=0
2. ex+2x=0
3. 20e5/x+8=0
d. Metode Newton Raphson
Metode Newton Raphson merupakan metode penyelesaian persamaan nonlinier secara
numeric hasil pengembangan deret Taylor. Untuk penyelesaiannya menggunakan satu
tebakan saja. Nilai x baru pada Newton-Raphson didefinisikan sebagai berikut:

Keuntungan menggunakan metode ini adalah mempu mencapai konvergensi yang lebih
cepat namun membutuhkan persamaan turunannya.
Algoritma penyelesaian Newton-Raphson

Tentukan F(Xi)
Tentukan F(Xi)

Masukkan tebakan
X0

Hitung nilai Xi+1

Apakah Xi+1 = N
Xi?

Selesai

Contoh penyelesaian:
Menggunakan persamaan seperti dalam contoh iterasi sederhana dalam file fungsi.m
Buat lining program sebagai berikut
clear
clc
syms x;
disp ('..........Newton-Raphson.........');
f = fungsi(x);
xi = input('masukkan tebakan = ');
et = input('eror toleransi: ');
i=0;
xb=0;
e=abs(xb-xi);
disp(' i xi f dfa e');
disp('--------------------------------');
while e > et
fa=subs(f,x,xi);
df=diff(f);
dfa=subs(df,x,xi);
xb=xi-(fa/dfa);
fprintf('%3.0f %6.4f %6.4f %6.4f %7.4f\n',i,xi,fa,dfa,e);
e=abs(xb-xi);
xi=xb;
i=i+1;
end
disp(sprintf('Hasil Akar= %11.8f',xb))

Hasil run program

Selesaikanlah dengan Metode Newton-Raphson:


1. x^2+5x-2^x+7=0
2. ex+2x=0
3. 20e5/x+8=0

e. Metode Secant
Metode secant adalah metode yang disusun untuk menyelesaikan permasalahan yang ada
pada metode Newton-Raphson yaitu keharusan mencari turunan pertama dari fungsi yang
dicari. Pada metode ini turunan pertama merupakan numeric mundur yang dinyatakan
dengan:

Dengan mensubstitusi pada persamaan Newton Raphson diperoleh persamaan:


Tentukan F(Xi)

Masukkan tebakan
Xi-1 dan Xi

Hitung nilai Xi+1

Apakah Xi+1 = N
Xi?

Selesai

Contoh penyelesaian:
Menggunakan persamaan seperti dalam contoh iterasi sederhana dalam file fungsi.m
Buat lining program sebagai berikut
clear
clc
syms x;
f=inline(fungsi(x));
x0=input('masukkan xo= ');
x1=input('masukkan x1= ');
Etol=input('masukkan error toleransi Etol= ');
i=1;
disp(' i xi f(xi) ');
disp('_______________________');
while abs(f(x1))>Etol
x2=x1-(f(x1)*(x1-x0)/(f(x1)-f(x0)));
disp(sprintf('%3.0f %7.4f %7.4f\n',i,x2,f(x2)));
x0=x1;
x1=x2;
i=i+1;
end
disp('___________________________________________')
disp(sprintf('Nilai Akarnya adalah = %10.8f\n',x2))
Hasil run program

Selesaikanlah dengan Metode Newton-Raphson:


1. x^2+5x-2^x+7=0
2. ex+2x=0
3. 20e5/x+8=0
Soal Latihan. Kerjakanlah dengan semua metode di atas

1. Persamaan Soave-Redlich-Kwong merupakan persamaan keadaan yang digunakan untuk


mempridiksi property dari suatu senyawa yang tidak dapat diprediksi menggunakan
persamaan gas ideal. Gas etana yang bertekanan 15 bar dan bersuhu 180C, dengan
menggunakan persamaan Soave-Redlich-Kwong tentukan:
a. Volume gas etana
b. Harga Z
Persamaan keadaan Soave-Redlich-Kwong adalah sebagai berikut:

Dengan:

={1+(0,48508+1,55171-0,156132)(1-Tr0,5)}2 (4)

Ao = 0,42748
Bo = 0,08664
= 0,098
Tc = 305,4 K
Pc = 48,8 bar

2. Bijih pirit (FeS) akan direaksikan dengan gas oksigen menggunakan reactor fluidized bed
pada suhu 900C tekanan 1 atm dengan konversi 96%. Gas oksigen yang digunakan
memiliki kemurnian 70% mol. reaksi yang terjadi adalah
2FeS(s) + 7/2O2(g) F2O3(s) + 2SO2(g)
diketahui data-data sebagai berikut :
densitas pyrite = 5,4 gr/cm3
jari-jari partikel (R) = 70m
konstanta reaksi (k) = 3,4 min-1
BM pyrite = 88 gr/mol
jika kinetika reaksi berjalan sesuai dengan reaksi orde satu dan ash resistance controlling,
tentukan :
a. waktu tinggal reactor (t)
b. Volume reactor jika flowrate umpan 10 m3/menit.
Persamaan yang digunakan :

b : densitas molar (mol/m3)


b : koefisien reaksi reaktan gas
CAg : konsentrasi gas (mol/m3)

3. Reaksi Steam Reforming berlangsung menurut reaksi berikut:


CH4(g) + H2O(g) CO(g) + 3H2(g)
Pada suhu 2000 K harga konstanta kesetimbangan reaksi adalah 5,528. Tentukan konversi
gas methanepada kondisi tersebut, dan tentukan komposisi kesetimbangan komponen-
komponen apabila Gas umpan komposisi 20% CH4(g) dan 80% H2O(g) berada pada kondisi
suhu 2000 K dan tekanan 4 atm.

4. Suatu reaksi elementer A B + C berlangsung dalam sebuah reaktor alir tangki


berpengaduk (RATB). Laju umpan murni A, 12 mol/s pada temperature 25C. reaksi bersifat
eksotermik, untuk itu digunakan air pendingin bertemperatur 50C untuk menyerap kalor yang
dibebaskan reaksi. Asumsi konstanta kapasitas panas sama baik disisi reaktan maupun
produk, neraca panas untuk system ini dirumuskan sebagai berikut:

FA0 = laju molar umpan, mol/s


X = konversi
HR = Kalor reaksi, J/mol.K
CpA = kapasitas panas A, J/mol.K
T = temperature reaktor
T0 = Temperatur referensi, 25C
Ta = Temperatu air pendingin, C
A = Luas perpindahan panas, m2
Untuk reaksi orde pertama konversi dirumuskan sebagai

Dengan adalah waktu tinggal dan k adalah konstanta laju reaksi dihitung menggunakan
persamaan arhenius

Hitunglah harga temperature reaktor dan konversinya!


(HR = -1500 kJ/mol; =10 s; CpA = 4500 J/mol.K; UA/FA0 = 700 W.s/mol.K)
MODUL PELATIHAN MATLAB
METODE NUMERIK MENGGUNAKAN MATLAB

Disusun oleh:
Dani Puji Utomo

Isi:
Modul 3. Akar-akar Persamaan Nonlinier Menggunakan Subrutin MATLAB
Modul 3. Akar-akar persamaan non linier menggunakan subrutin MATLAB

1. Subrutin roots dan fzero


MATLAB telah menyediakan subprogram untuk menyelesaikan persamaan non linier
tunggal yang telah menyatu dengan program MATLAB itu sendiri. Secara umum ada dua
jenis subrutin, yaitu roots dan fzero.
Rutin Keunggulan Kelemahan
roots.m Seluruh akar dapat diketahui Hanya untuk persamaan kuadrat
dengan hanya sekali dan polynomial.
menjalankan rutin.
Tidak membutuhkan tebakan
terlebih dahulu.
fzero.m Dapat mencari akar persamaan Hanya satu buah akar yang
segala jenis persamaan non linier dapat diketahui dalam sekali
menjalankan rutin.
Membutuhkan tebakan
terlebih dahulu.

Contoh penggunaan:
1. Program roots.m
Penulisan perintah roots di command window MATLAB
Jika persamaan C(1)*xn++C(n)*x+C(n-1)
Buat matriks dari koefisiennya
A=[C(1) C(2) C(n) C(n+1)]
roots(A)
contoh:
Menyelesaikan persamaan polynomial x3+3x2-5x+9=0
MATLAB Command window
Hasilnya adalah 3 akar dengan dua akar bilangan imajiner.
2. Program fzero.m
Penulisan fzero di MATLAB command window
X=fzero(fungsi,x0)
X0 adalah tebakan awal.
Contoh:
Menyelesaikan persamaan x+ex=0

Eksekusi menggunakan fzero pada command window

2. Subrutin fsolve
MATLAB juga menyediakan subprogram untuk menyelesaikan persamaan nonlinier yang
lebih fleksible dan dapat menyelesaikan lebih dari 1 persamaan, yaitu menggunakan
fsolve
Step 1. Buat terlebih dahulu fungsi system persamaan nonlinier pada m-file.
Step 2. Buat program pengeksekusi menggunakan m-file yang berbeda atau dapat juga di
command window
Step 3. Jalan program pengeksekusi.
Contoh:
Selesaikan persamaan berikut:
X3-3xy2 = 0,5
3x2y-y3 = 3/2
Buat fungsi untuk persamaan non linier pada m-file dan diberi nama persnonlin.m

Buat fungsi pada m-file lain dan diberi nama subrutin.m

Eksekusi pada command window


Atau bisa langsung pada command window tanpa membuat m-file subrutin.m
LATIHAN
1. Selesaikan menggunakan roots.m
Tekanan uap n-butana pada temperature 350 K adalah 9,4573 bar. Hitunglah volume
molar uap jenuh dan cair jenuh n-butana pada kondisi tersebut dengan menggunakan
persamaan gas Van der Waals. (R=8.314 J/mol.K; Tc=425,1; Pc=37,96 bar).

2. Selesaikan menggunakan fzero.m


Diketahui sebuah persamaan kapasitas panas sebagai berikut:

Tentukan temperature saat Cp=1kJ/kg.K


3. Selesaikan menggunakan fsolve.m
Reaksi steam reforming berlangsung menurut rengkaian reaksi kesetimbangan
berikut:
CH4 + H2O CO + 3H2
CO + H2O CO2 + H2
Pada suhu 2000 K harga konstanta kesetimbangan untuk masing-masing reaksi adalah
1,930x10-4 dan 5,528. Tentukan komposisi kesetimbangan komponen-komponen
apabila gas umpan berkomposisi 20% CH4 dan 80% H2O berada pada kondisi suhu
2000 K dan tekanan 1 atm.
MODUL PELATIHAN MATLAB
METODE NUMERIK MENGGUNAKAN MATLAB

Disusun oleh:
Dani Puji Utomo

Isi:
Modul 4. Sistem Persamaan Linier Simultan
Modul 4. Sistem Persamaan Linier Simultan

Persamaan linier merupakan persamaan yang variable bebasnya mempunyai orde satu.
Namun apabila persamaan tersebut lebih dari satu dan akan diselesaikan sekaligus atau
bersamaan, maka persamaan tersebut disebut system persamaan simultan. Jadi, suatu system
persamaan dengan n buah persamaan, dengan tiap persamaan yang merupakan fungsi dari x 1,
x2,,x3, dapat ditulis dalam bentuk:
a11x1 + a12x2 + + a1nxn = c1
a21x1 + a22x2 + + a2nxn = c2

an1 x1 + an1x2 + + annxn = cn
Variable x1, x2, hingga xn dapat dicari secara bersamaan menggunaan metode matriks.
Ada beberapa metode numeric menggunakan matriks yang dikembangkan untuk
menyelesaikan persamaan linier simultan, yaitu: metode Eliminasi Gauss, Metode Gauss
Jordan, Metode Iterasi Jacobi, dan metode matriks biasa.
1. Metode Eliminasi Gauss
Metode ini cukup baik dalam menyelesaikan persamaan linier. Pada metode ini,
persamaan linier diubah menjadi matriks seperti contoh berikut:
a11x1 + a12x2 + a13x3 = c1
a21x1 + a22x2 + a23x3 = c2
a31x1 + a32x2 + a33x3 = c3
menjadi

Selanjutnya matriks di atas diubah sehingga menjadi elemen dibawah diagonal nilainya
sama dengan nol.

Pada eliminasi gauss tahap ini disebut tahap eliminasi maju (Forward elimination).
Selanjutnya tahap berikutnya adalah substitusi balik (Back substitution) dengan bentuk
persamaan berikut:
Contoh kasus:
Tentukanlah variable bebas dari persamaan simultan berikut ini:
-12x + y 8z = -80
x 6y +4z = 13
-2x y + 10 = 90
Buat lining program pada m-file sebagai berikut:

Hasil eksekusi programnya adalah sebagai berikut:


2. Metode Gauss-Jordan
Metode Gauss Jordan hampir sama dengan metode Eliminasi Gauss, hanya saja matriks
elemen A diubah menjadi matriks identitas.

diubah menjadi:

Dengan demikian metode ini tidak melalui proses substitusi balik (back substitution)
sehingga lebih sederhana daripada metode eliminasi gauss.
Contoh kasus:
Tentukanlah variable bebas dari persamaan simultan berikut ini:
-12x + y 8z = -80
x 6y +4z = 13
-2x y + 10 = 90
Buat lining program pada m-file sebagai berikut:
Hasil eksekusi program adalah sebagai berikut:
3. Metode Jacobi
Metode Jacobi adalah salah satu metode untuk menyelesaikan persamaan simultan
dengan metode iterasi. Metode ini biasanya digunakan untuk system persamaan dengan
banyak elemen matriks yang bernilai nol.
Sebagai gambaran penyelesaian persamaan, kita gunakan tiga persamaan linier berikut:
a11x1 + a12x2 + a13x3 = c1
a21x1 + a22x2 + a23x3 = c2
a31x1 + a32x2 + a33x3 = c3
Kemudian nilai x1 akan dihitung menggunakan persamaan pertama, x2 menggunakan
persamaan kedua, dan x3 menggunakan persamaan ketiga, seperti berikut:
Nilai awal dari metode ini pada umumnya adalah nol, namun tidak ada ketentuan untuk
menentukan nilai nol.
Bandingkan nilai hasil perhitungan iterasi yang berlangsung dengan nilai perhitungan
iterasi yang sebelumnya. Perbandingan tersebut dapat dinyatakan sebagai error yang
sudah ditentukan terlebih dahulu toleransinya sebagai parameter penghentian iterasi.
Contoh kasus:
Tentukanlah variable bebas dari persamaan simultan berikut ini:
-12x + y 8z = -80
x 6y +4z = 13
-2x y + 10 = 90
Buat lining program pada m-file sebagai berikut:
Hasil eksekusi program adalah sebagai berikut:

4. Metode Matriks
Metode matriks adalah metode untuk menyelesaikan persamaan linier dengan
memanfaatkan invers dari suatu matriks. Persamaan linier diubah menjadi bentuk matriks
seperti berikut:

A X C
Secara matematika dapat dijabarkan sebagai berikut:
AX=C
Kedua ruas dikalikan dengan invers A
A-1 A X = A-1 C
Perkalian suatu matriks dengan inversnya akan mengubahnya menjadi matriks identitas I
I X = A-1 C
Hasil perkalian suatu matriks dengan matriks identitas hasilnya adalah matriks itu sendiri.
X = A-1 C
Contoh kasus:
Tentukanlah variable bebas dari persamaan simultan berikut ini:
-12x + y 8z = -80
x 6y +4z = 13
-2x y + 10 = 90
Buat lining program pada m-file atau bisa langsung pada command window.
Hasil eksekusi program

LATIHAN
1. Hubungan parameter-parameter transfer massa dapat dinyatakan dengan bilangan tak
berdimensi. Diketahui data percobaan sebagai berikut :
Sherwood Reynold Schmitd
1 43.7 10800 0.6
2 21.5 5290 0.6
3 24.2 3120 1.8
Persamaan transfer massa : Sh = K1 + ReK2 + ScK3
Tentukan K1, K2, K3 !

2. Reaksi fase gas nitrogen dengan oksigen mempunyai daftar kontanta kecepatan reaksi
sebagai berikut :
T (K) k
300 7,8
450 5.34
570 3.75
Jika k sesuai dengan persamaan k=A*Tm*exp(-E/T)
Tentukan nilai A, m, dan E

3. Reaktor fluidisasi menggunakan beberapa katalis padat,berikut data-data sifat katalis:


(lbm/ft.s) Dp (ft) (lbm/cuft) Re V(ft/s)
0,575 Dp0,25 0,94 350,4 16,7
0,62 Dp0,31 0,24 522,74 21,8
0,63 Dp0,46 0,13 983,48 35,2
Hubungan sifat-sifat tersebut dinyatakan sebagai Persamaan Bilangan Reynold

Hitung nilai , , Dp!


4. Menara distilasi yang bekerja pada tekenan 1 atm dirancang untuk memisahkan 10.000
lb/jam larutan 40% berat etanol dalam air hingga diperoleh 3(tiga) macam produk
masing-masing dengan kemurnian 90% ;66% dan 5% berat etanol. Produk dengan
kemurnian 66% berat etanol diambil dengan laju 2000 lb/jam. Sebagai pemanas
digunakan steam pada 3100F yang dimasukan langsung melalui dasar kolom. Jika umpan
masuk kolom pada suhu 600F sedangkan perbandingan refluk yang digunakan=2 saudara
diminta :
a. Menghitung laju alir destilat(D)
b. Menghitung laju alir residu(W)
c. Menghitung laju alir steam(S)

P-1

V1

P-3
-qc

P-2
D
P-6
P-4
Lo XD=0.90
(1)
I=2000 lb/jam
1 XI=0.66
(i) HI=115 Btu/lb
2
F=10.000 lb/jam
P-7
XF=0.40
TF=600F 3
HF=10 Btu/lb (N) 33

W
XW=0.05
HW=165 Btu/lb
S E-2
P-9 P-10
TS=3100F
HS=1182 BTU/LB
MODUL PELATIHAN MATLAB
METODE NUMERIK MENGGUNAKAN MATLAB

Disusun oleh:
Dani Puji Utomo

Isi:
Modul 5. Persamaan Differensial Biasa
Modul 5. Persamaan Differensial Biasa

Persamaan diferensial biasa adalah persamaan diferensial yang terdiri atas fungsi turunan dan
satu variable bebas.
Bentuk umum:

Aplikasi PDB banyak ditemukan pada kasus permodelan berbagai fenomena khususnya
dalam bidang teknik kimia misalnya permodelan reaktor, kinetika reaksi, dan fenomena
perpindahan.
Klasifikasi PDB berdasarkan ordenya terdiri atas tiga jenis (paling umum ditemukan dalam
permasalahan teknik kimia).

Berdasarkan jenis persamaan, PDB dibagi menjadi dua jenis yaitu:


1. Linier
Persamaan umum PDB linier dirumuskan sebagai berikut

2. Tak linier
PDB yang tidak memenuhi persamaan umum PDB linier maka dikelompokkan dalam
PDB tak linier.
A. Penyelesaian PDB secara Numerik
Salah satu penyelesaian dengan numeric yang paling sederhana untuk persamaan
diferensial orde satu dengan permasalahan kondisi awal yang diketahui adalah metode
euler. Akan tetapi metode ini memiliki simpangan yang cukup besar jika dibandingkan
dengan metode analitis.
1. Metode Euler
Metode euler merupakan metode yang menjadi dasar dalam penyelesaian PDB orde
satu. Metode ini juga sering disebut dengan metode integrasi nilai awal. Dasar
penyelesaian metode ini adalah metode beda tak hingga.

1
Bentuk persamaan umum untuk metode euler adalah sebagai berikut.

Dengan x sebagai interval variable bebas, semakin kecil nilai x maka semakin
kecil pula kesalahannya, karena metode ini dasarnya adalah beda tak terhingga.
Contoh penyelesaian:

Tentukan nilai y saat x = 3, dengan criteria saat x=0, y=2, selesaikanlah dengan
metode euler dan nilai x=0,1.
Penyelesaian:
Buat fungsi untuk persamaan pada m-file dan diberi nama file pdbfile.m

Buat program metode euler pada m-file dan diberi nama euler.m

Eksekusi program dengan memasukkan criteria penyelesaian, dapat dilakukan


langsung di command window atau di editor.

2
Hasil run menggunakan metode ini:

60

50

40

30

20

10

0
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3

2. Metode Euler Modifikasi


Metode euler modifikasi dikembangkan untuk memperkecil kesalahan pada metode
euler. Metode ini juga disebut metode euler implicit. Metode tersebut merupakan
gabungan dari metode beda terhingga maju dengan metode beda terhingga mundur.
Pada kasus untuk memperbaiki metode euler, maka metode euler biasa digunakan
untuk memprediksi nilai yi+1.

Hasil perdiksi pada persamaan di atas digunakan untuk mengoreksi metode implicit.

3
Kombinasi metode beda maju dan mundur dapat dituliskan sebagai berikut:

Contoh penyelesaian:

Tentukan nilai y saat x = 3, dengan criteria saat x=0, y=2, selesaikanlah dengan
metode euler dan nilai x=0,1.
Buat fungsi untuk persamaan pada m-file dan diberi nama file pdbfile.m

Buat program metode euler modifikasi pada m-file dan diberi nama eulmod.m

Eksekusi program dengan memasukkan criteria penyelesaian, dapat dilakukan


langsung di command window atau di editor.

4
Hasil run menggunakan metode ini

60

50

40

30

20

10

0
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5

3. Metode Runge Kutta


Metode runge kutta merupakan metode untuk menyelesaikan persamaan diferensial
biasa dengan ketelitian dan kestabilan yang cukup tinggi. Metode ini sangat umum
digunakan untuk menyelesaikan bentuk persamaan diferensial biasa, baik linear
maupun nonlinear dengan permasalahan kondisi awal.
Bentuk penyelesaian metode Runge Kutta dilakukan berdasarkan orde, umumnya ada
tiga orde yang sering digunakan yaitu:
1. Orde dua

5
Dengan nilai k:

2. Orde tiga

Dengan nilai k:

3. Orde empat

Dengan nilai k:

Pada metode Runge Kutta, semakin tinggi ordenya maka semakin tinggi pula
ketelitiannya. Di sisi lain parameter yang diperlukan juga semakin banyak. Pada
umumnya, penyelesaian persamaan differensial biasa akan menggunakan metode
Runge Kutta orde 4.
Contoh penyelesaian:

Tentukan nilai y saat x = 3, dengan criteria saat x=0, y=2, selesaikanlah dengan
metode Runge Kutta dan nilai x=0,1.

6
Buat fungsi untuk persamaan pada m-file dan diberi nama file pdbfile.m

Buat program metode Runge Kutta modifikasi pada m-file dan diberi nama
rungkut4.m

Eksekusi program dengan memasukkan criteria penyelesaian, dapat dilakukan


langsung di command window atau di editor.

7
Hasil run menggunakan metode ini:

60

50

40

30

20

10

0
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3

B. Penyelesaian PDB menggunakan Subrutin ode23 dan ode45


Matlab juga telah menyediakan subrutin atau subprogram untuk menyelesaikan
persoalan-persoalan persamaan differensial. Pada umumnya program yang sering
digunakan adalah perintah ode23 dan ode45. Penggunaannya sama saja antara ode23 dan
ode45 hanya saja ode45 biasanya digunakan untuk persamaan differensial dengan
stiffness tinggi (kesukaran).
Aturan penulisan menggunakan ode23 atau ode45

y=ode45(fungsi,x0,xa,y0)

8
Atau
y=ode45(@fungsi,x0,xa,y0)
Model penulisan lain dengan menggunakan input vector
xspan=[x0:dx:xa]
y=ode45(@fungsi,xspan,y0)
atau
xspan=[x0 xa]
y=ode45(@fungsi,xspan,y0)

Keterangan:
fungsi : nama file untuk persamaan diferensial
x0 : nilai awal variable bebas
xa : nilai akhir variable bebas
y0 : nilai awal variable terikat
Contoh penyelesaian:

Tentukan nilai y saat x = 3, dengan criteria saat x=0, y=2, selesaikanlah dengan metode
Runge Kutta dan nilai x=0,1.
Buat fungsi untuk persamaan pada m-file dan diberi nama file pdbfile.m

Buat program eksekusi pada m-file atau langsung pada command window

Hasil Run menggunakan ode45

9
60

50

40

30

20

10

0
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3

10
LATIHAN SOAL
1. Pada sebuah reaktor semi batch terjadi reaksi dekomposisi yang kompleks :

k1 C
k2
A B
k3
D

diketahui harga k1=0.05/menit , k2= 0.01/menit , k3=0.015/menit.


komposisi A awal, Cao=2 mol/L

Tentukan :

Tampilkan profil konsentrasi produk setelah bereaksi 10 menit


Berapa konsentrasi produk D setelah 8 menit ?
Berapa konversi reaktan A setelah 8 menit ?
Berapa perbandingan produk C dan D setelah reaksi berlangsung 8 menit ?

2. Suatu pabrik minuman menghasilkan larutan pekat dari mesin produksi dengan
konsentrasi 850gr/L pada laju alir 2 L/menit . larutan tersebut harus melalui proses lanjut
guna memenuhi permintaan pasar, prosesnya yaitu dengan cara menambahkan air dengan
kecepatan 2L/menit. Larutan hasil pengenceran tersebut keluar dengan laju 4L/menit.
Hitung berapa konsentrasi yang dicapai selama 3 menit?

11

Anda mungkin juga menyukai