Anda di halaman 1dari 17

[NILAI DAN FUNGSI PENGEMBANGAN

LINGKUNGAN LAHAN BASAH] LAHAN BASAH

TUGAS PENGEMBANGAN LAHAN BASAH


NILAI DAN FUNGSI LINGKUNGAN LAHAN BASAH

KELOMPOK : MIGUEL FELIX WIJAYA 1507115976


MAHARANI MIRANDA 1507117634
RANI ARDEYLINA G - 1507123552
KELAS :B
DOSEN : Ir. SISWANTO, MT.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL S1


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS RIAU
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-
Nya penulis dapat menyelesaikan makalah mengenai Nilai dan Fungsi Lingkungan
Lahan Basah. Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu kelancaran pengerjaan makalah ini.

Makalah ini dibuat untuk memenuhi persyaratan tugas mata kuliah Pengembangan
Lahan Basah. Dalam kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan banyak terima kasih
kepada Bapak Ir. Siswanto, M.T selaku dosen mata kuliah Pengembangan Lahan Basah.

Isi makalah ini diselesaikan berdasarkan berbagai sumber pada halaman google.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak terdapat kekurangan dan kekeliruan,
ini disebabkan karena sisi keterbatasan kemampuan dan pengetahuan penulis. Oleh karena
itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca.
Harapan penulis agar makalah ini dapat berguna sebagai bahan referensi yang bermanfaat
bagi kita semua.

Pekanbaru, Maret 2017

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..........................................................................................................i

DAFTAR ISI.......................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN...................................................................................................1

A. Latar Belakang....................................................................................................1

B. Rumusan Masalah...............................................................................................2

C. Tujuan..................................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN....................................................................................................3

Lingkungan Lahan Basah.....................................................................................3

1. Definisi Lingkungan Lahan Basah.............................................................3

2. Nilai dan Fungsi Lingkungan Lahan Basah...............................................4

a. Pencegah Banjir dan Kekeringan................................................................5

b. Pengisi Air Tanah dan Penahan Intrusi Air Laut.........................................6

c. Penyimpan Karbon......................................................................................7

d. Pencegah Emisi Gas Rumah Kaca..............................................................8

e. Membersihkan Bahan Racun (Purifier)......................................................9

f. Sumber Plasma Nutfah..............................................................................11

BAB III PENUTUP.........................................................................................................13

A. Kesimpulan........................................................................................................13

B. Saran..................................................................................................................13

DAFTAR PUSTAKA 14

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Mengenal lahan basah (wetlands) adalah mengenal kondisi kekayaan alam


Indonesia. Lahan basah merupakan wilayah yang strategis bagi Indonesia. Lahan basah
yang dimaksud di sini adalah ekosistem rawa, termasuk rawa bergambut yang dipengaruhi
oleh air tawar maupun payau. Berbagai definisi yang dikemukakan itu mengacu pada
berbagai bentuk lahan basah yang beraneka, seperti rawa (swamp), payau (marshes),
daerah rawa pasang surut (tidal swamp area), rawa pesisir, rawa pedalaman, lebak (non-
tidal swamp), muara/kuala (estuary), dataran banjir (flood plain), dan daerah aliran sungai
(watersheed).

Lahan basah merupakan wilayah yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati


yang tinggi dibandingkan dengan kebanyakan ekosistem. Di atas lahan basah tumbuh
berbagai macam tipe vegetasi, seperti hutan rawa air tawar, hutan rawa gambut, hutan
bakau, paya rumput dan lain-lain. Margasatwa penghuni lahan basah juga tidak kalah
beragamnya, mulai dari yang khas lahan basah seperti buaya, kura-kura, biawak, ular,
aneka jenis kodok, dan berbagai macam ikan hingga ke ratusan jenis burung dan mamalia,
termasuk pula harimau dan gajah.

Pada sisi yang lain, banyak kawasan lahan basah yang merupakan lahan yang
subur, sehingga kerap dibuka, dikeringkan dan dikonversi menjadi lahan-lahan pertanian.
Baik sebagai lahan persawahan, lokasi pertambakan.

Saat ini peran dan fungsi lahan basah menjadi pertanyaan bagi para masyarakat
yang tinggal di daerah tersebut. Kebanyakan para warga yang tinggal di daerah itu tidak
mengetahui potensi apa yang ada di lingkungan disekitarnya. Sebenarnya banyak potensi
alam yang dapat dimanfaatkan dari lahan basah, contohnya adalah tanaman obat yang
berada di daerah tersebut. Hal ini yang menjadi alasan mengapa lahan basah perlu
dipertahankan.

1
B. Rumusan Masalah

Masalah masalah dalam makalah ini dirumuskan sebagai berikut.

1. Apa definisi lingkungan lahan basah?

2. Apa saja nilai dan fungsi lingkungan lahan basah?

C. Tujuan

Tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut.

1. Mengetahui definisi lingkungan lahan basah.


2. Mengetahui nilai dan fungsi lingkungan lahan basah.

2
BAB II

PEMBAHASAN

LINGKUNGAN LAHAN BASAH

1. Definisi Lingkungan Lahan Basah

Lahan Basah (wetlands) adalah salah satu ekosistem yang paling penting di bumi
karena kondisi hidrologi yang unik dan perannya sebagai ecotones (zona peralihan) antara
sistem daratan dan perairan.

Gambar 2.1 Lahan basah di Indonesia

Berdasarkan hasil Konvensi Ramsar 1971, pengertian lahan basah secara


internasional adalah:

Daerah-daerah rawa, payau, lahan gambut, dan perairan; tetap atau sementara; dengan air
yang tergenang atau mengalir; tawar, payau, atau asin; termasuk wilayah perairan laut yang
kedalamannya tidak lebih dari enam meter pada waktu surut.

Pengertian di atas menunjukkan bahwa cakupan lahan basah di wilayah pesisir


meliputi terumbu karang, padang lamun, dataran lumpur dan dataran pasir, mangrove,
wilayah pasang surut, maupun antara; sedang di daratan cakupan lahan basah meliputi
rawa-rawa baik air tawar maupun gambut, danau, sungai, dan lahan basah buatan seperti

3
kolam, tambak, sawah, embung, dan waduk. Untuk tujuan pengelolaan lahan basah
dibawah kerangka kerjasama Internasional, Konvensi Ramsar, mengeluarkan antara
pengelompokan tipe-tipe lahan basah menjadi 3 (tipe) utama yaitu (Kementerian
Lingkungan Hidup, 2004):

1. Lahan basah pesisir dan lautan, terdiri dari 11 tipe antara lain terumbu karang dan
hutan mangrove.

2. Lahan basah daratan, terdiri dari 20 tipe antara lain sungai dan danau.

3. Lahan basah buatan, terdiri dari 9 tipe antara lain sawah, tambak dan kolam
pengolahan limbah.

Tiap lahan basah tersusun atas sejumlah komponen fisik, kimia, dan biologi, seperti
tanah, air, spesies tumbuhan dan hewan, serta zat hara. Proses yang terjadi antar-komponen
dan di dalam tiap komponen membuat lahan basah dapat mengerjakan fungsi-fungsi
tertentu, dapat membangkitkan hasilan, dan dapat memiliki tanda pengenal khas pada skala
ekosistem.

Fungsi dan nilai lahan basah antara lain adalah mengatur siklus air, menyediakan
air permukaan dan air tanah, serta mencegah terjadinya banjir dan kekeringan. Seiring
dengan pesatnya pembangunan di berbagai sektor, keberadaan potensi sumberdaya air di
kawasan lahan basah (kawasan gambut, kawasan resapan air, sempadan sumber air, pantai,
kawasan sekitar danau/waduk, kawasan pantai berhutan bakau, dan rawa) menjadi semakin
terancam kelestariannya.

Kekhasan pemandangan lahan basah dan bentuk kehidupan yang ada di dalamnya
menarik wisata alam. Tampakan-tampakan khas lahan basah berupa keanekaragaman
hayati, warisan alam dan pemandangan rekreatif memunculkan kebutuhan akan
mempertahankan keutuhan lahan basah.

4
2. Nilai dan Fungsi Lingkungan Lahan Basah

a. Pencegah Banjir dan Kekeringan


Danau atau situ, rawa dan dataran banjir mempunyai kemampuan
menyimpan kelebihan air yang dicurahkan saat musim hujan menjadi fungsi ganda
untuk pencegahan banjir dan persediaan kemarau.
Dengan adanya danau atau situ, rawa dan dataran banjir maka air limpasan
permukaan akan tertampung sementara pada daerah tersebut. Air tersebut di
keluarkan secara sedikit demi sedikit pada saat musim kemarau sehingga debit air
sungai selalu stabil. Kemampuan suatu daerah tersebut sebagai penyerapan dan
penyimpan air tergantung pada jenis tanah dan topografinya. Pada daerah rawa
pembuatan drainase yang berlebihan akan menyebabkan kerusakan pada lahan rawa
tersebut.

Gambar 2.2 Daerah rawa pencegah banjir dan kekeringan

Sebagaimana yang diketahui, dari total air yang terdapat di bumi hanya 3%
saja yang berupa air tawar. Itupun sebagaian besar berupa air beku. Sedangkan,
manusia membutuhkan antara 20-50 liter air perharinya untuk memenuhi segala
kebutuhan dasarnya mulai dari minum, memasak, hingga mandi. Lahan basah
menjadi wilayah yang kaya akan air tawar. Lahan basah menampung air hujan
hingga dapat dimanfaatkan manusia bahkan membantu peresapan air ke dalam
tanah sebagai cadangan air di dalam tanah bagi manusia.
Dengan adanya cadangan air maka padi sebagai penghasil beras (makanan
pokok miliaran orang) tumbuh di sawah. Berbagai lahan pertanian yang
mengandalkan saluran irigasi. Ikan yang setiap orang mengkonsumsinya hingga
rata-rata 19 kg pertahun, tumbuh dan berkembang biak di rawa-rawa, hutan bakau,

5
hingga muara sungai. Sawah, irigasi, rawa-rawa, hutan bakau, hingga muara sungai
adalah sedikit contoh kawasan lahan basah yang keberadaannya menopang
ketersediaan pangan bagi manusia.

Gambar 2.3 Sawah yang tersedia cadangan air

b. Pengisi Air Tanah (Recharge) dan Penahan Intrusi Air Laut


Sistem perakaran, batang, dan daun vegetasi tertentu di lahan basah dapat
menambat sedimen serta menjernihkan air. Badan air dan vegetasi yang terdapat
pada lahan basah dapat menahan dan mendaur ulang unsur hara.

Gambar 2.4 Pengisi air tanah dan penahan intrusi air laut
Lingkungan lahan basah sangat berperan sebagai penampung air limpasan
akan memberi kesempatan atau waktu yang lebih banyak supaya air dapat meresap
ke dalam tanah. Air yang meresap akan mengisi aquifer dan menaikkan muka air
tanah, sehingga dapat bekerja sebagai benteng untuk menahan intrusi air laut ke
daratan.

6
Tempat penampungan air (sumber air dan hujan). Pemasok air ke aquifer
(kantung air), air tanah, dan lahan basah lain didataran lebih rendah yang untuk
selanjutnya sebagai penyedia air bagi kawasan sekitar dan menjaga tinggi kolom air
tanah untuk dimanfaatkan sebagai sumur dangkal. Mempertahankan keberadaan
lapisan air tanah guna mencegah intrusi air laut ke daratan fungsi Lahan Basah di
pesisir.

c. Penyimpan Karbon
Lahan basah dapat menyerap dan menyimpan karbon sehingga berfungsi
sebagai pengendali lepasnya karbon ke udara yang berkaitan dengan perubahan
iklim global. Lahan rawa gambut dapat menyimpan karbon pada biomassa
tanaman, serasa di bawah hutan dan diatas permukaan.

Gambar 2.5 Proses penyimpanan karbon oleh lahan basah

Lahan gambut, salah satu jenis lahan basah, mampu mengikat dan
menyimpan karbon (salah satu pemicu perubahan iklim) hingga 2 kali lipat
dibandingkan seluruh hutan di dunia. Pada berbagai lokasi di Provinsi Jambi, Riau,
dan Kalimantan Tengah, ketebalan gambut bisa mencapai 6-10 m dan kandungan
karbon tanah gambut bisa mencapai 60%. Setiap ketebalan satu meter, tanah
gambut menyimpan sekitar 400 800 ton karbon (C) per ha atau rata-rata sekitar
600 ton per ha. Ini berarti bahwa lahan gambut dengan ketebalan 5 m menyimpan
sekitar 3.000 ton C per ha . Lahan gambut menyimpan sekitar 329-525 gigaton
karbon. Timbunan karbon yang tinggi tersebut terbentuk karena keadaan jenuh air

7
(drainase jelek) pada lahan yang awalnya timbunan berupa danau dangkal. Karbon
yang tersimpan di dalam tanah gambut bersifat tidak stabil. Apabila lahan gambut
didrainase, maka bahan organik (yang menyimpan karbon) akan mudah
terdekomposisi membentuk CO2, yaitu gas rumah kaca terpenting yang
menyumbang pada pemanasan global
Proses fotosentesis mengubah karbon anorganik (C02) menjadi karbon
organik dalam bentuk bahan vegetasi. Pada sebagian besar ekosistem, bahan ini
membusuk dan melepaskan karbon kembali ke atmosfer sebagai (C0 2). Akan tetapi
hutan bakau justru mengandung sejumlah besar bahan organik yang tidak
membusuk. Karena itu, hutan bakau lebih berfungsi sebagai penyerap karbon
dibandingkan dengan sumber karbon.

d. Pencegah Gas Emisi Rumah Kaca


Vegetasi di hutan gambut dan hutan rawa membantu proses penyerapan CO2
di udara melalui proses fotosintesis sehingga mencegah pemanasan global tetapi
lahan gambut mempunyai resiko, dimana endapan karbon yang dikandungnya jika
dilepaskan sekaligus atau dibakar akan mempercepat proses pemanasan global.
Perombakan secara Anaerob terhadap bahan organik gambut menghasilkan
gas Metan (CH4) dan Karbon dioksida (CO2). Gas gas tersebut dikenal sebagai
gas rumah kaca yang sangat besar pengaruhnya terhadap peningkatan suhu di bumi.
Keberadaan lahan basah kecuali lahan gambut dan kelestarian vegetasi
diaggap penting dalam mencegah atau mengurangi efek rumah kaca. Hal ini karena
lahan basah dan vegetasi lain dapat mengambil CO 2 dari atmosfer untuk proses
fotosintesa dan melepaskan O2 sebagai salah satu hasil dari proses fotosintesa.
Tidak ada cara lain untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca kecuali
melalui proses fotosintesa akan tetapi, banyak cara untuk menambah emisi Gas
Rumah Kaca. Oleh sebab itu, pengembangan lahan basah dan menambah
bentangan hijauan adalah salah satu solusi untuk mengurangi emisi Gas Rumah
Kaca.

8
Gambar 2.6 Proses Pemanasan global

e. Membersihkan Bahan Racun (Purifier)


Aktifitas manusia menghasilkan banyak limbah berbahaya. Tidak sedikit
limbah-limbah berbahaya tersebut yang kemudian tercampur ke dalam air.
Akibatnya, air menjadi tidak layak untuk dikonsumsi. Lahan basah dengan berbagai
macam jenis tanaman yang tumbuh di dalamnya mampu menyaring dan
membersihkan air dari limbah-limbah yang berbahaya.

Gambar 2.7 Limbah dan bahan racun berbahaya

Di lahan rawa terdapat tumbuhan yang mampu menyerap racun dan


meningkatkan kualitas air. Diantaranya adalah sceng gondok, kangkung dan
rumput. Badan air dan keseluruhan komponen lingkungan yang terdapat

9
didalamnya dapat menurunkan daya racun bahan pencemar yang masuk
kedalamnya Konsep Purifikasi Alamiah.
Walaupun eceng gondok dianggap sebagai gulma di perairan, tetapi
sebenarnya ia berperan dalam menangkap polutan logam berat. Rangkaian
penelitian seputar kemampuan eceng gondok oleh peneliti Indonesia mengatakan
dalam waktu 24 jam eceng gondok mampu menyerap logam kadmium (Cd),
merkuri (Hg), dan nikel (Ni), masing- masing sebesar 1,35 mg/g, 1,77 mg/g, dan
1,16 mg/g bila logam itu tak bercampur. Eceng gondok juga menyerap Cd 1,23
mg/g, Hg 1,88 mg/g dan Ni 0,35 mg/g berat kering apabila logam-logam itu berada
dalam keadaan tercampur dengan logam lain. Lubis dan Sofyan (1986)
menyimpulkan logam chrom (Cr) dapat diserap oleh eceng gondok secara
maksimal pada pH 7. Dalam penelitiannya, logam Cr semula berkadar 15 ppm
turun hingga 51,85 persen. Selain dapat menyerap logam berat, eceng gondok
dilaporkan juga mampu menyerap residu pestisida.

Gambar 2.8 Eceng gondok yang menyerap bahan racun

Banyak racun yang memasuki ekosistem perairan dalam keadaan terikat


pada permukaan lumpur atau terdapat di antara kisi-kisi molekul partikel tanah air.
Beberapa spesies tertentu dalam hutan bakau bahkan membantu proses penambatan
racun secara aktif.

f. Sumber Plasma Nutfah


Di dalam suatu lahan basah terdapat berbagai jenis spesies tumbuhan dan
juga binatang. Di samping itu, lahan basah dapat menjadi tempat pemijahan ikan.
Lahan basah menjadi tempat hidup bagi berbagai spesies tumbuhan dan hewan

10
yang jumlahnya bahkan lebih besar dibandingkan dengan wilayah lain di muka
bumi. Sedikit 100.000 spesies air tawar mendiami lahan basah. Jutaan jenis burung
air (di Indonesia saja tercatat hampir 400-an spesies) tergantung pada kelestarian
lahan basah. Belum termasuk berbagai jenis hewan dan tumbuhan lainnya.
Lahan basah merupakan habitat berbagai spesies tumbuhan dan hewan yang
bernilai ekonomis. Data menunjukkan, dari 179 spesies yang dilindungi, menurut
Wetland Data Base PHPA/Wetland International, sebagian besar berhabitat di lahan
basah. Daerah seperti mangrove merupakan tempat mencari makan burung migran
yang singgah dan masuk dalam konvensi pelestarian spesies migran (Bonn
convention).

2.9 Hutan mangrove

Plasma Nutfah merupakan substansi yang mengatur perilaku kehidupan


secara turun termurun, sehingga populasinya mempunyai sifat yang membedakan
dari populasi yang lainnya. Perbedaan yang terjadi itu dapat dinyatakan, misalnya
dalam ketahanan terhadap penyakit, bentuk fisik, daya adaptasi terhadap
lingkungannya dan sebagainya.

11
Gambar 2.10 Flora dan Fauna Lahan Basah

Plasma nutfah dari kehidupan liar sangat besar manfaatnya baik bagi
perbaikan jenis-jenis satwa komersial maupun untuk memelihara populasi
kehidupan liar itu sendiri.

12
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Mengenal lahan basah (wetlands) adalah mengenal kondisi kekayaan alam


Indonesia. Lahan basah merupakan wilayah yang strategis bagi Indonesia. Lahan basah
yang dimaksud di sini adalah ekosistem rawa, termasuk rawa bergambut yang dipengaruhi
oleh air tawar maupun payau.

Saat ini peran dan fungsi lahan basah menjadi pertanyaan bagi para masyarakat
yang tinggal di daerah tersebut. Kebanyakan para warga yang tinggal di daerah itu tidak
mengetahui potensi apa yang ada di lingkungan disekitarnya. Sebenarnya banyak potensi
alam yang dapat dimanfaatkan dari lahan basah, contohnya adalah tanaman obat yang
berada di daerah tersebut. Hal ini yang menjadi alasan mengapa lahan basah perlu
dipertahankan.

B. Saran

Diharapkan pengembangan lahan basah dapat dilakukan. Harus ada perubahan pola
pikir (mindset) bahwa lahan basah yang mempunyai sisi keuntungan yang sering tidak kita
perhatikan, tetapi bermanfaat banyak. Oleh karena itu, usaha menjaga dan
mempertahankan bahkan mengembangkan lahan basah yang itu yang diperlukan.

13
DAFTAR PUSTAKA

Dirjen PHPA, Pengelolaan dan Perlindungan Ekosistem Lahan Basah di Indonesia,dalam


Kumpulan Makalah Seminar Nasional Pengelolaan Ekosistem Lahan Basah, Jakarta 7
Januari 1994.

http://danyelisavictory.blogspot.co.id/2013/04/nilai-dan-fungsi-lingkungan-lahan-
basah.html

https://alamendah.org/2015/01/17/manfaat-lahan-basah-bagi-masa-depan-manusia/

http://nerrissatsp.blogspot.co.id/2014/03/makalah-pengembangan-lahan-basah.html

http://biologitumbuhanlahanbasah.blogspot.com/2012/10/eceng-gondok-eichhornia-
crassipes.html

http://wikipedia.com/lahanbasah.html

http://h3rn1.blogspot.co.id/lahanbasah.html

meykesteven.blogspot.com/2012/02/tinjauan-ekologis-lahan-basah.html

https://indonesia.wetlands.org/id/wetlands/apa-lahan-basah-itu/

https://alamendah.org/2015/01/11/mengenal-lahan-basah-wetland-indonesia/

14