Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN HASIL

PRAKTIKUM PENGECORAN (PbSn)

SAMUEL LESMANA (5141121026)

PENDIDIKAN TEKNIK MESIN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
T.A 2016

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang mana telah
memberikan kami kekuatan serta kelancaran dalam menyelesaikan tugas mata kuliah
Teknologi Pengecoran yang dapat kami selesai pada waktu yang telah di
rencanakan. Tersusunnya karya makalah ini tentunya tidak lepas dari peran serta berbagai
pihak yang telah memberikan bantuan secara material dan spiritual, baik secara langsung
maupun tidak langsung. Oleh karena itu kami mengucapkan terima kasih kepada :

1. Orang tua yang telah memberikan dukungan dan doa kepada kami sehingga makalah
ini dapat terselesaikan.
2. Bapak Reza Fadilla,M.T, Ph.D selaku dosen pengampu mata kuliah Teknologi
Pengecoran Universitas Negeri Medan yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
3. Bapak Masud Wanto,S.pd selaku kepala laboratorium Teknologi Pengecoran yang
telah membantu kami.
4. Teman-teman yang telah membantu dan memberikan dorongan semangat agar
makalah ini dapat kami selesaikan.

Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang membalas budi baik yang tulus dan
ihklas kepada semua pihak yang kami sebutkan di atas. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi para pembaca nantinya guna menambah wawasan dan ilmu pengetahuan.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita semua.Dan apabila di dalam makalah ini
terdapat hal-hal yang dianggap tidak berkenan di hati pembaca,kiranya kami mohon
dimaafkan.

Medan, 29 April 2016

Penulis
kelompok

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejarah pengecoran dimulai ketika orang mengetahui bagaimana mencairkan logam


dan bagaimana membuat cetakan.Hal itu terjadi kira-kira tahun 4.000 SM, sedangkan tahun
yang lebih tepat tidak diketahui orang. Awal penggunaan logam oleh orang ialah ketika orang
membuat perhiasan dari emas atau perak tempaan, dan kemudian membuat senjata atau mata
bajak dengan menempa tembaga, hal itu di mungkinkan karena logam-logam ini terdapat di
alam dalam keadaan murni, sehingga dengan mudah orang dapat menempanya.
Pengecoran logam merupakan suatu proses pembuatan benda yang dilakukan melalui
beberapa tahapan mulai dari pembuatan pola, cetakan, proses peleburan, menuang,
membongkar dan membersihkan coran. Hampir semua benda-benda logam yang berbentuk
rumit baik logam ferro maupun non-ferro mulai dari berukuran kecil sampai besar dapat
dibuat melalui proses pengecoran. Coran dibuat dari logam yang dicairkan, dituang ke dalam
cetakan,kemudian di biarkan mendingin dan membeku.

Timah dan timbal termasuk unsur-unsur golongan 14 (p) yang lebih bersifat logam
dibanding dengan tiga anggota pertama yaitu karbon, silicon, dan germanium.
Meskipun tidak sebanyak aluminium, timah merupakan logam yang juga dapat
dijumpai di sekitar kita. Timah, demikian juga timbel, merupakan juga unsur-unsur yang
bersifat logam dalam golongannya, tetapi lunak, tidak kuat, dan mempunyai titik leleh rendah
(232C) sehingga mudah ditempa menjadi bentuk piringan, serta tahan terhadap korosi.
Timbal bersifat lembek-lemah dengan titik leleh 327 C, Nampak mengkilat / berkilauan
ketika baru dipotong, ketika segera menjadi buram ketika terjadi kontak dengan udara
terbuka.
Campuran timbal dan timah digunakan sebagai bahan solder untuk perekat atau
pemantri bahan-bahan elektronik. Timbel merupakan bahan paduan yang mempunyai
kemampuan sangat tinggi untuk menahan sinar X dan sinar Y, sehingga lempengan timbal
banyak dipakai sebagai pelindung bahan radioaktif.

3
B. Tujuan

1. Dapat memahami apa itu pengecoran logam.


2. Dapat memahami bentuk atau pola pola dalam pengecoran logam.
3. Mengetahui kualitas dari pengecoran logam paduan (PbSn)
4. Untuk mengetahui perhitungan serta massa yang dibutuhkan untuk mengecor dari masing-
masing logam (PbSn)
5. Mengetahui sifat sifat karakteristik dan spesifik dari pengecoran logam paduan (PbSn)
6. Mempratekkan teori teori yang diperoleh dalam mata kuliah teknologi pengecoran
kedalam praktikum pengecoran paduan (PbSn)
7. Melengkapi syarat mata kuliah dan syarat mengikuti Praktek Kerja Nyata.
8. Menambah pengetahuan dan kemampuan menyusun suatu laporan.

C. Manfaat

Manfaat yang didapat dari makalah ini sangat banyak antara lain;
Menambah ilmu pengetahuan, wawasan yang umum dan luas.
Mengenal bahan bahan coran.
Mengetahui cara pemilihan proses pengecoran dan perancangan komponen untuk
kemudahan pengecoran

4
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Timbal (Pb)

Timbal (Pb) merupakan salah satu jenis logam berat yang sering juga disebut dengan
istilah timah hitam, Timbal merupakan bahan alami yang terdapat dalam kerak bumi. Timbal
sering kali digunakan dalam industri kimia seperti pembuatan baterai, industri pembuatan
kabel listrik dan industri pewarnaan pada cat. Timbal memiliki titik lebur yang rendah yaitu
327,46 oC, mudah dibentuk, memiliki sifat kimia yang aktif sehingga biasa digunakan untuk
melapisi logam agar tidak timbul perkaratan. Timbal adalah logam yang lunak berwarna abu-
abu kebiruan mengkilat dan memiliki bilangan oksidasi +2.

Timbal adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang Pb dan
nomor atom 82 dengan berat atom 207,20. Titik didih timbal adalah 1749 oC dan memiliki
massa jenis 11,34 g/cm3. Lambangnya diambil dari bahasa Latin Plumbum. logam Pb pada
suhu 500-600 oC dapat menguap dan membentuk oksigen di udara dalam bentuk timbal
oksida (PbO). Dibawah ini merupakan tabel yang menunjukkan beberapa sifat fisika yang
dimiliki timbal.

5
a. Sifat dan Karakteristik Logam Timbal (Pb)
Beberapa sumber menyebutkan bahwa plumbum (Pb) adalah logam lunak berwarna abu-
abu kebiruan mengkilat, memiliki titik lebur rendah, mudah dibentuk, memiliki sifat kimia
yang aktif, sehingga bisa digunakan untuk melapisi logam agar tidak timbul perkaratan. Pb
dicampur dengan logam lain akan terbentuk logam campuran yang lebih bagus daripada
logam murninya.

Pb adalah logam lunak berwarna abu-abu kebiruan mengkilat serta mudah dimurnikan dari
pertambangan. Pb meleleh pada suhu 3280C (6620F), titik didih 1.7400C (3.1640F), bentuk
sulfid dan memiliki gravitasi 11,34 dengan berat atom 207,20. Timbal (Pb) termasuk ke
dalam logam golongan IV-A pada tabel periodik unsur kimia, mempunyai nomor atom (NA)
82 dengan bobot atau berat atom (BA) 207,2.

Timbal termasuk logam berat trace metals karena mempunyai berat jenis lebih dari lima
kali berat jenis air. Bentuk kimia senyawa Pb yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan
akan mengendap pada jaringan tubuh, dan sisanya akan terbuang bersama bahan sisa
metabolisme.

Menurut Palar (2004), logam timbal (Pb) mempunyai sifat-sifat yang khusus seperti berikut :
1. Merupakan logam yang lunak, sehingga dapat dipotong dengan menggunakan pisau atau
dengan tangan dan dapat dibentuk dengan mudah.
2. Merupakan logam yang tahan terhadap peristiwa korosi atau karat, sehingga logam timbal
sering digunakan sebagai bahan coating.
3. Mempunyai titik lebur rendah hanya 327,5C.
4. Mempunyai kerapatan yang lebih besar dibandingkan dengan logam-logam, kecuali emas
dan merkuri.
5. Merupakan pengantar listrik yang baik.

6
B. Timah (Sn)

Timah (Sn) adalah sebuah unsur kimia yang memiliki simbol Sn dan nomor atom
50. Timah adalah unsur logam pada golongan 4A, periode 5 tabel periodik kimia. Timah
dalam bahasa Inggris disebut sebagai Tin. Nama latin dari timah adalah Stannum dimana
kata ini berhubungan dengan kata stagnum yang dalam bahasa inggris bersinonim dengan
kata dripping yang artinya menjadi cair / basah, penggunaan kata ini dihubungkan dengan
logam timah yang mudah mencair. Berat atom timah sendiri adalah 118,71 ,Berat jenis
(putih): 7,365 gram/cm3 ,Titik lebur : 231 C ,Titik didih: 2602 C. Timah memiliki dua
kemungkinan bilangan oksidasi, +2 dan +4 yang sedikit lebih stabil.

Timah ditemukan dalam lapisan kulit bumi terutama pada bijih kasiterit. Timah
umumnya tidak ditemukan dalam bentuk bebas. Timah merupakan 50 elemen yang paling
melimpah di kulit bumi.Mayoritas timah ditambang di Cina, Malaysia, Peru, dan
Indonesia.Timah biasa terbentuk oleh 9 isotop yang stabil. Ada 18 isotop lainnya yang
diketahui.Timah merupakan logam berwarna putih keperakan, dengan kekerasan yang
rendah, dapat ditempa ("malleable"), mempunyai sifat konduktivitas panas dan listrik yang
tinggi, relatif lunak, tahan karat dan memiliki titik leleh yang rendah dan memilki struktur
kristal yang tinggi. Jika struktur ini dipatahkan, terdengar suara yang sering disebut (tangisan
timah) ketika sebatang unsur ini dibengkokkan. Dibawah ini merupakan tabel yang
menunjukkan beberapa sifat fisik yang dimiliki timah.

Sifat fisik timah keterangan

Berat Atom : 118,70999999999999


Densitas : 7.30 g/cm3
Struktur Kristal : Tetragonal

7
Kofigurasi Elektron : 2,8,18,18,4
Elektron Valensi : 2,4
Orbital : [Kr] 4d10 5s2 5p2
Jari-jari Atom : 1.72 Angstrum
Jari-jari Ion : .71 (+4) Angstrum
Volume Atom : 16.3 cm3/mol
Elektronegativitas : 1,96
Bilangan Oksidasi : (4),2
Titik Didih : 2602C
Titik Lebur : 231.97C
Kalor Jenis : 0.227 J/gK
Kalor Uap : 295.80 kJ/mol
Kalor Lebur : 7.029 kJ/mol
Konduktivitas Panas : 0.666 W/cmK

a.Sumber Timah (Sn) di Bumi


Mineral yang terkandung di dalam bijih timah pada umumnya mineral utama, yaitu
cassiterite. Timah tidak ditemukan dalam unsur bebasnya dibumi akan tetapi diperoleh dari
senyawaannya. Timah pada saat ini diperoleh dari mineral cassiterite atau tinstone. Cassiterite
merupakan mineral oksida dari timah SnO2, dengan kandungan timah berkisar 78%. Contoh
lain sumber biji timah yang lain dan kurang mendapat perhatian daripada cassiterite adalah
kompleks mineral sulfide yaitu stanite (Cu2FeSnS4) merupakan mineral kompleks antara
tembaga-besi-timah-belerang dan cylindrite (PbSn4FeSb2S14) merupakan mineral kompleks
dari timbale-timah-besi-antimon-belerang dua contoh mineral ini biasanya ditemukan
bergandengan dengan mineral logam yang lain seperti perak.

C. Dengan melakukan beberapa pengujian

A. Pengujian Kekerasan

Proses pengujian kekerasan dapat diartikan sebagai kemampuan suatu bahan terhadap
pembebanan dalam perubahan yang tetap. Dengan kata lain, ketika gaya tertentu diberikan
pada suatu benda uji yang mendapat pengaruh pembebanan, benda uji akan mengalami
deformasi. Kita dapat menganalisis seberapa besar tingkat kekerasan dari bahan tersebut
melalui besarnya beban yang diberikan terhadap luas bidang yang menerima pembebanan
tersebut.Kita harus mempertimbangkan kekuatan dari benda kerja ketika memilih bahan
tersebut.Dengan pertimbangan itu, kita cenderung memilih bahan benda kerja yang memiliki

8
tingkat kekerasan yang lebih tinggi.Alasannya, logam keras dianggap lebih kuat apabila
dibandingkan dengan logam lunak.Meskipun demikian, logam yang keras biasanya
cenderung lebih rapuh dan sebaliknya, logam lunak cenderung lebih ulet dan elastic.
Secara umum, kekerasan sebuah material dapat didefinisikan sebagai ketahanan suatu
material terhadap deformasi plastis. Kekerasan dapat juga diartikan menjadi berbagai macam
definisi, yaitu :
- Ketahanan terhadap penekanan di bawah beban statik atau dinamik
- Energi yang diserap ketika diberikan beban impak
- Ketahanan terhadap pengoresan
- Ketahanan terhadap abrasi
- Ketahanan terhadap pemotongan dan pengeboran

Gambar sebuah material yang diuji kekerasannya menggunakan Universal Tensile Machine

B. Pengujian Metalugrafi
Ilmu logam dibagi menjadi dua bagian khusus, yaitu metalurgi dan metalugrafi.
Metalurgi adalah ilmu yang menguraikan tentang cara pemisahan logam dari ikatan
unsur-unsur lain. Metalurgi dapat dikatakan pula sebagai cara pengolahan logam secara
teknis untuk memperoleh jenis logam atau logam paduan yang memenuhi kebutuhan
tertentu. Sedangkan metalugrafi adalah ilmu yang mempelajari tentang cara pemeriksaan
logam untuk mengetahui sifat, struktur, temperatur, dan persentase campuran logam
tersebut.Dalam proses pengujian metalugrafi, pengujian logam dibagi lagi menjadi dua
jenis, yaitu :
1. Pengujian makro (Macroscope Test)
Pengujian makro ialah proses pengujian bahan yang menggunakan mata terbuka
dengan tujuan dapat memeriksa celah dan lubang dalam permukaan bahan. Angka
kevalidan pengujian makro berkisar antara 0,5 hingga 50 kali.
2. Pengujian mikro (Microscope Test)

9
Pengujian mikro ialah proses pengujian terhadap bahan logam yang bentuk kristal
logamnya tergolong sangat halus. Sedemikian halusnya sehingga pengujiannya
memerlukan kaca pembesar lensa mikroskop yang memiliki kualitas perbesaran
antara 50 hingga 3000 kali.

Untuk mengamati struktur mikro yang terbentuk pada logam tersebut biasanya
memakai mikroskop optik. Sebelum benda uji diamati pada mikroskop optik, benda uji
tersebut harus melewati tahap-tahap preparasi.
Tujuannya adalah agar pada saat diamati benda uji terlihat dengan jelas, karena
sangatlah penting hasil gambar pada metalugrafi. Semakin sempurna preparasi benda uji,
semakin jelas gambar struktur yang diperoleh. Adapun tahapan preparasinya meliputi
pemotongan, mounting, pengampelasan, polishing dan etching(etsa).

Gambar mesin mikroskop optik

C. Pengujian Komposisi Kimia


Proses pengujian komposisi kimia berlangsung dengan pembakaran bahan
menggunakan elektroda dimana terjadi suhu rekristalisasi, dari suhu rekristalisasi terjadi
penguraian unsur yang masing-masing beda warnanya..Proses pembakaran elektroda ini tidak
lebih dari tiga detik.Pengujian komposisi dapat dilakukan untuk menentukan jenis bahan yang
digunakan dengan melihat persentase unsur yang ada.

Uji komposisi merupakan pengujian yang berfungsi untuk mengetahui seberapa besar
atau seberapa banyak jumlah suatu kandungan yang terdapat pada suatu logam,baik logam
ferro maupun logam non ferro. Uji komposisi biasanya dilakukan ditempat pabrik-pabrik atau
perusahaan logam yang jumlah produksinya besar, ataupun juga terdapat di Instititut
pendidikan yang khusus mempelajari tentang logam.

10
ada tiga bagian utama proses pengujian komposisi yaitu (Hendri, 2002).
1. Furnace berisi logam cair yang dilebur dari beberapa raw material
2. Standar material yang menentukan kandungan komposisi masing-masing unsur yang
ditetapkan
3. Proses pengujian komposisi yang menggunakan CE meter dan Spectrometer.

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pengecoran pb-sn

Dalam pelaksanaan praktikum, mahasiswa melakukan pengecoran, adapun


pengecoran tersebut adalah :

Pengecoran pb-sn dimana pb 55% dan sn 45%

11
B. Pelaksanaan Praktikum
Praktikum dilaksanakan di Laboratorium Material Fakultas Teknik Universitas
Negeri Medan. Dalam pelaksanaan praktikum ada beberapa hal yang harus diketahui
dan dilaksanakan, yakni persiapan bahan, persiapan alat, keselamatan kerja dan
langkah kerja.
1. proses penimbanggan
(A)Persiapan bahan
bahan pengecoran dengan bahan pb 55% dan sn 45 %

(B) Adapun perlengkapan persiapan alat adalah sebagai berikut.

Timbangan

(C)Keselamatan Kerja

Sebelum melakukan pekerjaan harus mendengar instruksi dari kepala laboratorium


terlebih dahulu.
Segara laporkan suatu kendala apa saja yang dapat mengganggu pada saat memulai
proses pekerjaan
Pakailah baju praktek.
Jangan menyandarkan tubuh pada timbangan.
Jangan hidupkan timbangan untuk hal yang tak berguna
Bekerjalah dengan hati-hati dan jangan terburu-buru.

(D) langkah kerja

Menghidupkan timbangan

12
Menimbang pb seperlunya
Menimbang sn seperlunya
Mematikan timbangan dan menyimpan nya

2.proses peleburan.

(A) persiapan bahan.

Bahan pb-sn yang sudah di timbang

(B) persiapan alat

Gelas kaleng yang ukuran 60 mm

13
Tungku peleburan sentrotech st 1200 cc

(C) Keselamatan Kerja

Sebelum melakukan pekerjaan harus mendengar instruksi dari kepala laboratorium


terlebih dahulu.
Segara laporkan suatu kendala apa saja yang dapat mengganggu pada saat memulai
proses pekerjaan
Pakailah baju praktek.
Jangan menyandarkan tubuh pada mesin.
Jangan hidupkan mesin untuk hal yang tak berguna
Bekerjalah dengan hati-hati dan jangan terburu-buru

(D) langkah kerja

Masukan pb-sn kedalam gelas


Nyalakan tungku peleburan
Masukan pb-sn yg sudah di dalam gelas kedalam tungku peleburan
Perhatikan suhu peleburan.

3.Pengujian kekerasan (hardness)

Metode Pengujian : Vickers


Nama Alat : Micro Vickers Hardness Tester
Merk Alat : Super Tech

Hardness Micro Vickers

a. Persiapan Bahan
Adapun persiapan bahan Ada pun langkah persiapan bahan yang dilaksanakan adalah:
Cutting, yaitu pemotongan benda uji yang disesuaikan dengan penampang
yang

14
akan diamati panjang pemotongan biasanya 5-7 mm (dengan menggunakan
Mesin potong)

Mesin potong

Mounting (pembingkaian), dilakukan untuk memudahkan penanganan/


pemegangan terhadap benda uji yang berukuran kecil atau memiliki bentuk
yang tidak beraturan yang akan sulit ditangani atau dipegang khususnya pada
saat
pengamplasan dan pemolesan apabila tidak di mounting.

mounting

15
Grinding, yaitu proses meratakan permukaan benda uji dengan menggunakan
kertas amplas anti air secara berurutan mulai dari kekasaran 120, 240, 360,
400, 700, 800, dan 1200, selama proses grinding diberi air untuk mencegah
terjadinya oksidasi pada permukaan benda uji.

Proses grinding

Polishing, yaitu menghaluskan serta menghilangkan goresan goresan selama


proses grinding dengan menggunakan kain bludru (polishing cloth) dan pasta
diamond dengan tingkat kehalusan 6 m, 1 m dan m. sebagai media
pendingin digunakan Luricant Blue atau alkohol 96%

polishing

Viewing, Pengamatan yang dilakukan dengan menggunakan mikroskop optik.

16
b. Persiapan Alat
Mesin uji kekerasan Vickers (Vickers Hardness Test)
Amplas halus
Mikroskop pengukur (biasanya satu set dengan alatnya)
Mesin percobaan kekerasan vickers (vickers hardness test) yang pertama kali
adalah dengan memasang indentor pyramid diamond, meletakan specimen di
tempatnya, menyetel beban yang akan dipakai, melihat dan mengukur diagonal
persegi empat teratas dari bekas yang terjadi seteliti mungkin.

c. Keselamatan Kerja
Sebelum melakukan pekerjaan harus mendengar instruksi dari kepala
laboratorium terlebih dahulu.
Segara laporkan suatu kendala apa saja yang dapat mengganggu pada saat
memulai proses pekerjaan
Pakailah baju praktek.
Jangan menyandarkan tubuh pada mesin.
Jangan hidupkan mesin untuk hal yang tak berguna
Bekerjalah dengan hati-hati dan jangan terburu-buru.

d. Langkah Kerja
Periksa dan persiapkan material yang hendak untuk untuk diuji.
Periksa dan persiapkan mesin untuk dipakai.
Meletakkan benda uji pada landasan sehingga penampangnya tegak lurus
terhadap mesin.
Melakukan penekanan dengan menekan tombol start
Lakukan pengelihatan dengan vickers hardness test dengan menyetel beban
yang akan dipakai yaitu dengan pemebesaran sampai 1000 x sehingga didapkan
untuk tekanan (F) Sebesar 1000 kgf, melihat dan mengukur diagonal persegi
empat teratas dari bekas yang terjadi seteliti mungkin dengan arah horizontal
dan vertikal,
Melakukan penekanan dengan menekan tombol start.
Menunggu speciment ditekan sampai lampu holding padam.

17
Mengeser posisi indentor dengan sensor kembali, kemudian menghitung
diagonal batas penekanan yang terjadi.
Lakukanlah proses pengujian sebanyak lima kali sehingga diperoleh nilai rata-
rata dari uji kekerasan Vickers tersebut.
Maka didapatkan nilai untuk penguijian kekerasan Vickers.

4.Pengujian Metalurgy (mikrostruktur)

Metode Pengujian : Destruktif


Nama Alat : Microscope Optik
Merk Alat : Olympus BX 41 M

Microscope Metalurgy

a. Persiapan Bahan
Ada pun langkah persiapan bahan yang dilaksanakan adalah:
Cutting, yaitu pemotongan benda uji yang disesuaikan dengan penampang
yang
akan diamati panjang pemotongan biasabya 10-12 mm (dengan menggunakan
Mesin potong)

18
Mesin potong

Mounting (pembingkaian), dilakukan untuk memudahkan penanganan/


pemegangan terhadap benda uji yang berukuran kecil atau memiliki bentuk
yang tidak beraturan yang akan sulit ditangani ataupun di pegang khususnya
pada saat pengamplasan dan pemolesan apabila tidak mounting

mounting

Grinding, yaitu proses meratakan permukaan benda uji dengan menggunakan


kertas amplas anti air secara berurutan mulai dari kekasaran 120, 240, 360,
400, 700, 800, dan 1200 dan 1500 selama proses grinding diberi air untuk
mencegah terjadinya oksidasi pada permukaan benda uji.

19
Grinding

Polishing, yaitu menghaluskan serta menghilangkan goresan goresan selama


proses grinding dengan menggunakan kain bludru (polishing cloth) dan pasta
diamond dengan tingkat kehalusan 6 m, 1 m dan m. sebagai media
pendingin digunakan Luricant Blue atau alkohol 96%

Polishing

Etching, yaitu mereaksikan benda uji dengan bahan etsa sehingga dapat
memunculkan gambar struktur mikro dengan jelas. (proses etsa menggunakan
menggunakan nital 2%).

Viewing, Pengamatan yang dilakukan dengan menggunakan mikroskop optik.

20
Microscope Optik

b. Persiapan Alat
Sediakan Mikroskop optic untuk melihat mikrostruktur suatu material tersebut
c. Keselamatan Kerja
Sebelum melakukan pekerjaan harus mendengar instruksi dari kepala
laboratorium terlebih dahulu.
Segara laporkan suatu kendala apa saja yang dapat mengganggu pada saat
memulai proses pekerjaan.
Pakailah baju praktek.
Jangan menyandarkan tubuh pada mesin.
Jangan hidupkan mesin untuk hal yang tak berguna
Bekerjalah dengan hati-hati dan jangan terburu-buru.
d. Langkah Kerja
Setelah selesai dalam tahap persiapan maka akan dilaksanakan tahap
pengujian
Periksa dan persiapkan mesin untuk dipakai.
Mengecek apakah sepecimen yang akan diuji sudah layak untuk dilakukan
pengujian.
Setelah sudah layak untuk diuji maka proses selanjutnya yaitu melakukan etsa
dengan mengikis daerah batas butir sehingga struktur bahan dapat diamati
dengan jelas dengan bantuan mikroskop optik. Zat etsa bereaksi dengan
sampel secara kimia pada laju reaksi yang berbeda tergantung pada batas butir,
kedalaman butir dan komposisi dari sampel. Sampel yang akan dietsa haruslah
bersih dan kering.
Setelah selesai dietsa maka selanjutnya akan dilaksanakan pengujian dengan
mikroskop optic dengan optic pembesaran 5x, 10x, 20x, 50x dan 100x
Maka didapatkan hasil foto dari struktur specimen tersebut

21
Tetapi dalam hal ini kita belum mendapatkan hasil yang lebih baik untuk
menghasilkan specimen yang lebih baik maka perlu dilakukan proses
perlakukan panas dengan dipanaskan di dalam dapur pemanasan.
Langkah selanjutnya hilangkah hasil etsa dengan cara mempolesnya kembali
dengan kertas pasir.
Setelah selesai maka dilakukanlah pengujian dengan mikroskop optic untuk
mendapatkan hasil yang jauh lebih baik.

5.Pengujian komposisi logam pb-sn

Metode Pengujian : Spectrofotometri


Nama Alat : Spectrometer UV
Merk Alat : Oxford Instrument Persiapan Bahan

Spectrometer UV

a. Persiapan Bahan
Adapun persiapan bahan yang dilakukan adalah proses grinding menggunakan
kertas pasir 80. Sehingga permukaan tampak rata dan bergaris.

22
Gambar permukaan logam yang hendak di spectro

b. Persiapan Alat

Spectrometer UV

c. Keselamatan Kerja
Sebelum melakukan pekerjaan harus mendengar instruksi dari kepala
laboratorium terlebih dahulu.
Segara laporkan suatu kendala apa saja yang dapat mengganggu pada saat
memulai proses pekerjaan.
Pakailah baju praktek.
Jangan menyandarkan tubuh pada mesin.
Jangan hidupkan mesin untuk hal yang tak berguna
Bekerjalah dengan hati-hati dan jangan terburu-buru.

d. Langkah Kerja
Panaskan mesin terlebih dahulu 2-3 jam
Pastikan material sudah benar-benar siap untuk di uji
Kemudian letakan benda kerja pada area tempat yang hendak di bakar yang
berlumbang
Kemudian bakarlah material menggunakan menggunakan elektroda dimana
terjadi suhu rekristalisasi,sehingga akan muncul di komputer hasil kandungan
berapa persenkah kadar logam yang ada di material tersebut.
Kemudian angkat material dan gosok lagi material menggunakan kertas pasir
80
Kemudian lakukan berulang-ulang hingga 3 kali percobaan Kemudian anda
dapat melihat rata-rata kandungan kadar logam

23
C. Data Praktikum

1. Kekerasan bahan
Data hasil uji kekerasan :

NO DATA NILAI SATUAN


D 37,68 m
Titik 1 D 36,11 m
HV 6,8 N/mm
D 38,67 m
Titik 2 D 37,06 m
HV 6,5 N/mm
D 32,69 m
Titik 3 D 35,21 m
HV 8,0 N/mm
D 38,95 m
Titik 4 D 38,13 m
HV 6,2 N/mm
D 39,65 m
Titik 5 D 43,39 m
HV 5,4 N/mm

2. Micro struktur
Data hasil uji Mikrostruktur

optic pembesaran 10x :

3. Komposisi kimia

24
DATA HASIL KOMPOSISI MATERIAL :
NO DATA NILAI SATUAN
1 Fe 0,195 %
2 Zn 0,0354 %
3 Si < 0,0020 %
4 Mn < 0,0010 %
5 P 0,0271 %
6 Sn 0,240 %
7 Cr < 0,0010 %
8 Mg < 0,0005 %
9 Ni < 0,0020 %
10 Al < 0,0010 %
11 Co 0,0901 %
12 Cu 96,5 %
13 S 0,0340 %
14 As 0,0321 %
15 Ag < 0,0020 %
16 pb 2,56 %

BAB IV
HASIL PENELITIAN

25
1. Pengujian kekerasan (hardness)

Uji kekerasan Vickers dilakukan selama 5 kal titiki percobaan

NO DATA NILAI SATUAN


D 37,68 m
Titik 1 D 36,11 m
HV 6,8 N/mm
D 38,67 m
Titik 2 D 37,06 m
HV 6,5 N/mm
D 32,69 m
Titik 3 D 35,21 m
HV 8,0 N/mm
D 38,95 m
Titik 4 D 38,13 m
HV 6,2 N/mm
D 39,65 m
Titik 5 D 43,39 m
HV 5,4 N/mm

Pengujian di Titik 1 :

F
HV = 6,8 D 1. D2

D1 =37,68 m = 0,03768 mm

D2 =36,11 m = 0,03611 mm

F 9,81
HV = 6,8 D 1. D2 = 6,8 ( 0,03768 X 0,03611 ) = 49,02 N/mm

Hasilnya sesuai dengan yang di tabel

Pengujian di Titik 2 :

F
HV = 6,5 D 1. D2

D1 = 38,67 m = 0,03867 mm

D2 = 3706 m = 0,03706 mm

26
F 9,81
HV = 6,5 D 1. D2 = 6,5 ( 0,03867 X 0,03706 ) = 61,11 N/mm

Hasilnya sesuai dengan yang di tabel

Pengujian di Titik 3 :

F
HV = 8,0 D 1. D2

D1 = 32,69 m = 0,03269 mm

D2 = 35,21 m = 0,03521 mm

F 9,81
HV = 8,0 D 1. D2 = 8,0 ( 0,03269 X 0,03521 ) = 84,52 N/mm

Hasilnya sesuai dengan yang di tabel

Pengujian di Titik 4 :

F
HV = 6,2 D 1. D2

D1 = 38,95 m = 0,03895 mm

D2 = 38,13 m = 0,03813 mm

F 9,81
HV = 6,2 D 1. D2 = 6,2 ( 0,03895 X 0,03813 ) = 59,54N/mm

Hasilnya sesuai dengan yang di tabel

Pengujian di Titik 5 :

F
HV = 5,4 D 1. D2

D1 = 39,65 m = 0,03965 mm

D2 = 43,39 m = 0,04339 mm

27
F 9,81
HV = 5,4 D 1. D2 = 5,4 ( 0,03965 X 0,04339 ) = 57,97 N/mm

Hasilnya sesuai dengan yang di tabel

BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN

Setelah kami melakukan praktikum dan membaca dari semua referensi yang di dapatkan
dan dari penyusunan laporan ini maka kami dapat menyimpulkan bahwa :

Kami dapat mengetahui tentang bagaimana proses untuk mendapatkan komposisi dari
suatu logam pb-sn.
Mengetahui tentang bagaimana proses melaksanakan pengujian kekerasan pada suatu
logam pb-sn.
Kami dapat mengetahui rumus untuk mencari HV pada uji kekerasan suatu material
Mengetahui tentang bagaimana proses melaksanakan pengujian metalugrafi pada
suatu logam pb- sn.
Kami dapat mengetahui struktur mikro pada suatu bahan atau material pb-sn.

B. SARAN

Ketika melakukan pengujian diharapkan mahasiswa bisa mengecek dan mengukur benda
kerja yang akan diuji tersebut agar bisa menghasilkan pengujian yang falid. Sehingga
pengujian tersebut tidak sia sia. Adapun saran-saran lain yang dapat diberikan kepada
pembaca mengenai.
laporan pengecoran bahan ini adalah bahwa dalam pengujian suatu bahan diperlukan

28
kerja keras dan kesabaran dalam menguji secara spectrometer, kekerasan Vickers,
metalugrafi, dan Tensile Machine suatu bahan tersebut dan harus terus belajar untuk
mempraktikan agar menambah pengalaman.Dan mengenai penulisan laporan ini kami
minta maaf apa bila dalam penulisan kurang sempurna.

29
C. LAMPIRAN

Dokumentasi :

30
31
DAFTAR PUSTAKA

Surdia, T dan Saito, S. (1992). Pengetahuan Bahan Teknik. Jakarta: P.T. Pradnya
Paramitha.

Callister Jr.,W.D., 2000, Fundamentals of Materials Science and Engineering, Interactive e


Text, John Wiley & Sons, Fifth Edition, pp.

http//google.co.id=pengujian_material.pdf

http://polmanceper.ac.id/pelayanan-pengujian/?lang=id

https://www.google.co.id/?gws_rd=cr,ssl&ei=OltkVt7dKY_IuASti5PwDA#q=uji+komposisi

http://www.sucofindo.co.id/2/25/30/pengujian-dan-analisa/210/pengujian-material-produk-
logam.html

http://doddi_y.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/27227/2.pdf

http://web.unair.ac.id/admin/file/f_41124_UjiKekerasanMaterialdenganMetodeRockwell.pdf

http://doddi_y.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/9080/Material+Teknik+
%28uji+kekerasan%29.ppt

http://www.teknikmesin.org/pengujian-kekerasan-dengan-sistem-vickers/

http://teknik-mesin1.blogspot.co.id/2011/06/uji-kekerasan-vickers.html

http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/Bab%202%20Tarik.pdf

32