Anda di halaman 1dari 143

MATA KULIAH

PENYEDIAAN AIR BERSIH

Oleh :
Basuki Setiyo Budi, S.T., M.T.

JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLITEKNIK NEGERI SEMARANG
DAFTAR ISI
BAB I AIR
BAB II HIDROLOGI
BAB III SUMBER AIR
BAB IV KEBUTUHAN AIR
BAB V KUALITAS AIR
BAB VI PENGOLAHAN AIR
BAB VII SISTEM JARINGAN DISTRIBUSI
BAB I
AIR

Latar Belakang
Air di Bumi
Penyediaan Air Bersih
Dampak Lingkungan
Tujuan Instruksi Khusus

Pada akhir kuliah mahasiswa mampu :


a. Menyebutkan latar belakang penyediaan Air
Bersih
b. Menyebutkan jumlah Air di Bumi
c. Menjelaskan peranan Penyediaan air bersih
d. Menyebutkan Manfaat dan dampak akibat Air
Latar Belakang
Penyediaan Air Bersih sangat dibutuhkan didalam
sebuah gedung dan daerah permukiman yang
luas, sehingga timbul beberapa masalah
diantaranya :
Pertambahan Penduduk di suatu daerah
Ketersediaan sumber air yang ada
Kualitas air
Oleh karena itu perlu dipelajari mengenai sumber
air, bagaimana membuat air menjadi bersih dan
bagaimana sistem distribusi dari sumber air ke
konsumen.
Air di Bumi
Air yang ada di alam diperkirakan 97,2% air laut dan 0,62 % air
tawar, sedangkan volume air di bumi diperkirakan berjumlah ( 1,3
1,4 ) 10 9 Km yang dapat dilihat pada tabel berikut :

No Lokasi Volume ( 10 9 Km 3 ) % Jumlah

1 Danau Air Tawar 125,00 0,0090

2 Sungai 1.25 0,0001

3 Kelembaban Tanah 65,00 0,0050

4 Air Tanah 8.250,00 0,6080

5 Danau Air asin dan Laut Pedalaman 105,00 0,008


6 Kelembaban Udara 13,00 0,001
7 Kutub Bumi dan Salju 19.200,00 2,150

8 Laut dan Lautan 1.320,00,00 97,202

Jumlah +1,358,000.00 100


Ilustrasi Penyediaan Air Bersih
Pengangkatan Sumber Air
Penyediaan Air

a. Konsumtif / Domestik
b. Non Kosumtif / non Domestik
c. Pengendalian
d. Manfaat Penyediaan Air
Penyediaan Air Secara Konsumtif
Keperluan penduduk : minum, memasak, cuci
dan mandi
Keperluan pertanian : mengairi sawah dan
perkebunan
Keperluan industri : tekstil, baja, makanan,
dsb
Keperluan Laboratorium : berkaitan dengan
bahan-bahan kimia yang dipakai
Penyediaan Air Secara Non Konsumtif

Keperluan :
PLTA,
Navigasi,
Rekreasi,
Perikanan,
Suaka Alam
Pendingin Mesin
Pengendalian Air
Pengendalian banjir dengan mengarahkan
aliran air menjauhi daerah genangan
(pembuatan sudetan)
Penggelontoran kota, mengalirkan air ke
dalam saluran untuk menghanyutkan sampah-
sampah
Air untuk pemadam kebakaran, pada kantor,
rumah sakit, sekolah, hotel
Manfaat Penyediaan Air
Pemakaian air harus memenuhi syarat-syarat
kwalitas air yaitu fisik, kimia, bakteriologis dan
radiologis sehingga layak digunakan konsumen

Pemakaian air kuantitasnya perlu dilakukan


penghematan dengan jalan membatasi
pemakaian air pada keperluan masyarakat,
karena dengan jumlah air bersih yang terbatas,
makin banyak konsumen yang terlayani
Dampak Lingkungan

Dampak Lingkungan :
Adanya Penyediaan air bersih berarti merubah
sistem ekologi yang telah ada menjadi sistem
ekologi baru yang menimbulkan dampak
lingkungan positif maupun negatif.
BAB II
HIDROLOGI
Proses pergerakan air yang berlangsung
terus menerus di bumi yang berkaitan
dengan :
Siklus Hidrologi
Iklim
Curah Hujan
Tujuan Instruksi Khusus

Pada akhir kuliah mahasiswa mampu :


a. Menyebutkan proses pergerakan air
b. Menyebutkan terjadinya aliran di bumi
c. Menyebutkan berbagai unsur pada iklim
d. Menyebutkan macam-macam curah hujan
Siklus Hidrologi
Proses pergerakan air yang berlangsung terus
menerus dan berulang di dalam bumi
Penjelasan Siklus Hidrologi
Aliran Permukaan (AP) / Surface Flow (SF) :
sebagian dari air hujan yang jatuh di permukaan
tanah langsung mengalir ke permukaan yang
lebih rendah (sungai, danau, laut).
Infiltrasi (I) : sebagian dari air hujan yang jatuh
masuk ke dalam tanah melalui pori-pori dan
menambah kelembaban tanah.
Presipitasi (P) : segala bentuk air yang jatuh dari
atmosfir ke permukaan bumi, berupa hujan, salju,
butiran es, embun dan kabut. Hujan adalah
bagian terbesar dari presipitasi, terutama bagi
daerah tropis ini. Presipitasi dapat diartikan
dengan hujan.
Perkolasi (PK) : kelanjutan dari presipitasi
dengan peresapan yang lebih dalam lagi,
sehingga menambah cadangan air tanah.
Evaporasi (E) : penguapan air yang terjadi di
setiap saat disemua permukaan bumi : sungai,
danau, tanah, laut.
Evapotranspirasi : penguapan air yang
disebabkan oleh tumbuh-tumbuhan.
Kondensasi : proses pendinginan dari awan
dan akhirnya jatuh ke bumi sebagai hujan,
salju dan lain-lain.
Sub Surface Flow (SSF) : air yang masuk ke
dalam daerah tak jenuh air yang mengalir
kemudian muncul sebagai mata air dan
akhirnya melalui sungai mengalir ke laut.
Iklim
Iklim suatu daerah dipengaruhi dari berbagai
unsur seperti temperatur, presipitasi,
kelembaban, angin, penyinaran matahari dan
tekanan udara. Bulan April Oktober
dipengaruhi angin pasat Tenggara yang kering
menyebabkan Musim Kemarau. Bulan Oktober
April terjadi angin pasat Timur Laut
mengandung uap air menyebabkan Musim
Hujan Indonesia.
Curah Hujan
Skope perencanaan penyediaan air bersih dan
pembuangan air kotor harus memperhatikan :
Distribusi curah hujan
Intensitas curah hujan
Distribusi curah hujan
Pencatatan data curah hujan dalam bentuk : curah
hujan jam-jaman, harian, bulanan dan tahunan.
Curah hujan tahunan dan bulanan dipergunakan
untuk perencanaan fasilitas penyediaan air,
sedangkan curah hujan harian dan jam-jaman untuk
perencanaan fasilitas pembuangan air.

Intensitas curah hujan


Curah hujan dalam jangka waktu yang pendek
dinyatakan dalam mm/jam.
Air Hujan
Air Permukaan
Air Tanah
Penangkapan Air
Tujuan Instruksional Khusus

a. Mengolah air hujan menjadi air minum


b. Menyebutkan asal mulanya air permukaan
c. Menggunakan air tanah untuk kebutuhan
konsumen
d. Merencanakan bangunan Penangkap air.
Air Hujan
Air hujan pada umumnya banyak dibutuhkan
pada daerah daerah yang sangat memerlukan
akan sumber air.
Sesuai dengan sifat fisik air hujan yang sangat
kekurangan mineral, maka pembubuhan akan
bahan mineral ke dalam air hujan sangat
diperlukan seperti kapur, garam yodida, dan
zat flour.
Air Permukaan
Air permukaan adalah sumber air yang
paling banyak dan mudah diperoleh dan
dipakai dalam penyediaan air bersih secara
besar-besaran, yang harus diperhatikan dalam
hal ini adalah :
Debit/Volume air yang tersedia
Tata cara perawatan air
Keadaan daerah, temperatur, tofografi, sifat
permukaan tanah dan corak daerah pengaliran
Air Tanah
Air tanah mepunyai berbagai keuntungan antara
lain :
Tidak memerlukan perawatan dan pengolahan
Kualitas tergantung dari susunan geologi
Temperatur sepanjang tahun sama
Penangkapan Air
a. Daerah penangkapan
b. Bangunan penangkapan
Daerah Penangkapan Air
Daerah di sebelah atas mata air
Radius yang dilindungi minimal 50 m dan di
diberi pagar
Daerah radius tidak boleh ada bangunan,
menggembala ternak, tanaman penghisap air,
membuat kolam atau tempat buangan
sampah
Di luar radius 100 - 200 m tidak boleh ada
depo minyak, bengkel dan pabrik, karena
limbahnya akan mencemari mata air
Bangunan Penangkapan Air
Bangunan dibuat sederhana dan praktis,
menyesuaikan bentuk topografi, pondasi dan
jenis mata air
Sumber mata air jangan sampai tertutup,
terganggu, terkena pencemaran dan
peledakan
Pada saat pelaksanaan konstruksi bangunan
aliran dari mata air dijaga tetap bebas
Tata Letak Bangunan Penangkapan Air
Tata Letak Bangunan Penangkapan Air
Tata Letak Bangunan Penangkapan Air
Sistem Gravitasi Bumi
Tata Letak Bangunan Penangkapan Air
Sistem Pompa
Bron Captering (Bangunan Penangkap Air di Pegunungan)
BAB IV
KEBUTUHAN AIR
Survei Lapangan
Disain Tata Letak Umum
Tata Letak Sementara
Tujuan Instruksional Khusus

Pada akhir kuliah mahasiswa mampu :


a. Merencanakan kebutuhan air
b. Menyebutkan sumber-sumber air
c. Merencanakan disain tata letak
Surve lapangan
Surve lapangan dilakukan untuk mendapatkan
suatu perencanaan dan pelaksanaan
Penyediaan Air Bersih yang mantap. Tahapan
surve lapangan ada dua yaitu :
Tahap perencanaan
Tahap Pelaksanaan
Tahap Perencanaan
Tahap Persiapan
Mempelajari laporan-laporan terdahulu
Mengumpulkan peta-peta : peta topografi skala
1 : 25.000, peta geologi, peta tata guna tanah,
foto udara, peta debit sungai
Mengumpulkan data iklim : curah hujan,
kelembaban, tekanan udara, temperatur,
penguapan dan penyinaran matahari
Tahap Pekerjaan Lapangan
Menentukan jenis sumber air : mata air,
sungai, danau dan air tanah.
Mengukur debit sumber air secara periodik.
Mengeplot lokasi-lokasi penting pada peta-
peta yang disiapkan dengan memakai kompas.
Mengumpulkan data kependudukan : jumlah,
penyebaran, pertambahan, golongan umur,
jenis kelamin dan golongan pekerjaan.
Mengumpulkan data-data bangunan prasarana :
jalan, sekolah, pasar, rumah sakit, peribadatan,
hotel, perumahan dan lain-lain pada kondisi
sekarang dan rencana pengembangan.
Mengumpulkan data-data administrasi : batas-batas
desa, kecamatan, daerah proyek, organisasi-
organisasi pemerintahan setempat yang
berhubungan dengan proyek PAB, status tanah dan
peraturan-peraturan daerah.
Mengumpulkan data-data perekonomian : produksi,
penghasilan penduduk, potensi pertanian,
perkebunan, pemasaran harga bahan pokok dan
trasportasi
Melakukan test kwalitas air secara biologis dan
kimia (langsung di lapangan atau pengambilan
contoh air untuk di test di laboratorium) secara
periodik.
Menentukan sumber tenaga listrik.
Mengumpulkan data-data bahan bangunan dan
harganya di daerah setempat.
Melakukan pengukuran dan pemetaan detail.
Memprediksi hambatan-hambatan yang mungkin
terjadi : penbebasan tanah, bahaya banjir, tenaga
kerja dan sebagainya.
Mengumpulkan data-data segala permasalahan
proyek sejenis di lokasi proyek.
Tahap Pelaksanaan
Pembuatan piket-piket / patok-patok pelaksanaan.
Pengecekan tingkat kesiapan daerah : pembebasan
tanah, pembuatan jalan masuk dan sebagainya.
Pengecekan harga bangunan, apakah dana sesuai.
Penjadwalan kembali karena keterlambatan dan
hambatan di luar dugaan.
Memberikan penjelasan kepada calon pelaksana
sehubungan dengan spesifikasi teknis dan metode
konstruksi.
Disain Tata Letak Umum
Dalam perencanaan tata letak perlu
dipertimbangkan aspek-aspek : teknik, ekonomi,
pemeliharaan dan biaya operasional
Untuk memilih suatu tata letak yang optimal
diperlukan keahlian dari teknisi perencana.
Sistem Penyediaan Air
Mata air
Sungai / Air Permukaan
Air Tanah
Air Hujan
Skema Instalasi Air Minum
Sumber Mata Air
Skema Instalasi Air Minum
Sumber Sungai / Air Permukaan
Skema Instalasi Air Minum
Sumber Air Tanah
Skema Instalasi Air Minum
Sumber Air Hujan
Tata Letak Sementara
Setelah sistem penyediaan air yang akan diambil
diputuskan, perencana harus memikirkan
tahapan-tahapan perencanaan selanjutnya,
bagian-bagian mana yang harus dikerjakan lebih
dahulu dan harus mempertimbangkan biaya
pelaksanaan proyek, biaya operasional, perkiraan
pertambahan penduduk, situasi finansial, sarana
perluasan, masa pakai dari setiap elemen /
bagian konstruksi dan tahap rencana.
Masa Pakai
Setiap elemen-elemen konstruksi pengadaan air
akan bekerja dengan baik selama waktu tertentu
yang disebut masa pakai/umur manfaat, seperti
berikut :
Bangunan penyadap (sungai/mata air): 30-50 tahun
Tangki dan bangunan penjernih dari beton : >50 thn
Instalasi : 10-20 tahun
Pipa-pipa bawah tanah : >50 tahun
Pompa mesin : 10-20 tahun
Tahap Rencana
Tahap 0 : Keadaan sekarang, jumlah penduduk yang
sekarang dijadikan dasar untuk menaksir
perkembangan lebih lanjut.
Tahap I : Saat dimana penduduk telah bertambah 2x
lipat dari penduduk sekarang. Ini berarti sama dengan
pertambahan penduduk 3% dalam satu tahun selama
24 tahun. Rencana pengembangan industri, pasar,
peternakan, jalan, sekolah, rumah sakit harus
diperhitungkan. Di daerah pedesaan biasanya Tahap 1
diambil 20-25 tahun, sedangkan dipusat perkembangan
desa-desa umpama ibukota kecamatan, Tahap 1
diambil 15 tahun.
Tahap II : Saat dimana penduduk telah bertambah 4x
lipat dari penduduk Tahap 0. Masa ini diambil setelah
30-50 tahun.
Contoh - Contoh
Rencana Tata Letak
1. Dari suatu proyek penyediaan air diperoleh data sebagai
berikut:
Sumber mata air berada di atas desa
Penduduk sekarang 2000 orang
Konsumsi air diperkirakan
Tahap 0 = 2000 orang @ 30 l/hari = 0,7 l/dt
Tahap I = 4000 orang @ 60 l/hari = 2,8 l/dt
Tahap II = 8000 orang @ 80 l/hari = 7,4 l/dt
Debit mata air 639,36 m3/hari pada akhir musim kemarau,
jadi cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan Tahap II.
Skema Rencana Tata Letak
2. Dari suatu proyek penyediaan air diperoleh data sebagai
berikut:
Sumber air dari sungai terletak lebih rendah dari sebuah
desa.
Jumlah penduduk sekarang 1400 orang
Kebutuhan air diperkirakan :
Tahap 0 = 1400 orang @ 25 l/hari = 35 m3/hari (0,4 l/dt)
Tahap I = 2800 orang @ 40 l/hari = 112 m3/hari (1,3 l/dt)
Tahap II = 3600 orang @ 50 l/hari = 180 m3/hari (2,08 l/dt)
Debit sungai terkecil dimusim kemarau 2,08 l/dt. Jadi debit
sungai dapat mencukupi kebutuhan tahap II.
Skema Rencana Tata Letak
Keterangan :
1. Bangunan penyadapan pada sungai. Bendung dan
pintu penyadapan untuk Tahap II. Bangunan
penangkap lumpur untuk Tahap I. Setelah Tahap I
direncanakan pengambilan dengan pompa.
2. Pompa hidram yang direncanakan untuk Tahap I.
3. Pipa tekan direncanakan untuk Tahap I sesuai dengan
kapasitas pompa hidram Q = 1,3 l/det.
4. Stasiun penjernihan : Bak pengendap, saringan pasir
lambat untuk Tahap I, dengan kemungkinan
perluasan, kapasitas diambil 60 m3.
5. Setelah Tahap I, masih diperlukan bak penampung
tambahan.
6. Pipa induk direncanakan untuk Tahap II.
7. Pipa distribusi, direncanakan untuk Tahap I.
Proyeksi Kebutuhan Air Bersih

Proyeksi kebutuhan air bersih dapat ditentukan


dengan memperhatikan pertumbuhan penduduk
untuk diproyeksikan terhadap kebutuhan air bersih
sampai dengan waktu dari proyeksi yang
dikehendaki. Adapun yang berkaitan dengan
proyeksi kebutuhan tersebut adalah :

Angka Pertumbuhan Penduduk


Angka pertumbuhan penduduk dihitung dengan
prosentase memakai rumus :
Angka Pertumbuhan (%) = Angka Pertumbuhan (%)
Data
Proyeksi Jumlah Penduduk
Ada beberapa metode yang digunakan untuk memproyeksikan
jumlah penduduk antara lain yaitu:
Metode Geometrical Increase
Pn = Po + (1 + r)n
dimana :
Pn = Jumlah penduduk pada tahun ke-n
Po = Jumlah penduduk pada awal tahun
r = Prosentase pertumbuhan geometrical penduduk tiap
tahun
n = Periode waktu yang ditinjau
Metode Arithmetical Increase
Pn = Po + n.r
Po Pt
r =
t
dimana :
Pn = Jumlah penduduk pada tahun ke-n
Po = Jumlah penduduk pada awal tahun proyeksi
r = Angka pertumbuhan penduduk tiap tahun
n = Periode waktu yang ditinjau
t = Banyak tahun sebelum tahun analisis
BAB V
KUALITAS AIR
Syarat Fisis
Syarat Chemis
Syarat biologis
Syarat Radiologis
Standar Kualitas Air Minum
Unit Keperluan Air
Tujuan Instruksional Khusus ( TIK )

a. Menyebutkan macam-macam air


b. Menyebutkan Syarat-syarat air
c. Memprediksi kebutuhan air rata - rata
Perjalanan air dari udara ke tanah sebagai contoh air
hujan akan menyerap gas-gas O2 CO2 N2 dan gas-gas
lain, setelah jatuh di tanah akan bercampur dengan
bahan anorganik maupun organik bacteria,
microbiologi dan lain-lain.
Ketentuan-ketentuan yang erat hubunganya dengan
penyediaan air bersih yaitu :

a. Syarat fisik : bau, warna, rasa


b. Syarat kimia : kandungan bahan kimia harus tidak
berbahay bagi manusia
c. Syarat Bacteriologi : Bakteri yang berbahaya harus
hilang
d. Syarat radiologis : sinar , , dan harus tidak ada
KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN RI
NOMOR : 907/MENKES/SK/VII/2002
TANGGAL : 29 JULI 2002
PERSYARATAN KUALITAS AIR MINUM

1. Kimiawi
Bahan kimia yang memiliki pengaruh langsung pada kesehatan
A. Bahan Anorganik
Kadar Maksimum Keterangan
Parameter Satuan
Yang Diperbolehkan
Antimon Mg/lt 0,005
Air Raksa Mg/lt 0,001
Arsen Mg/lt 0,01
Barium Mg/lt 0,7
Boron Mg/lt 0,3
Kadmium Mg/lt 0,003
Kromium ( Valensi 6 ) Mg/lt 0,05
Tembaga Mg/lt 2
Sianida Mg/lt 0,07
Fluorida Mg/lt 1,5
Timbal Mg/lt 0,01
Molydenum Mg/lt 0,07
Nikel Mg/lt 0,02
Nitrat ( Sebagai NO3 ) Mg/lt 50
Nitrit ( Sebagai NO2 ) Mg/lt 3
Selenium Mg/lt 0,01
A. Bahan Organik
Kadar Maksimum
Parameter Satuan Keterangan
Yang Diperbolehkan
Chlorinated Alkanes
Carbon Tetrachloride g/l 2
Dichloromethane g/l 20
1,2 dichloroethane g/l 30
1,1,1 trichloroethan g/l 2000
Chlorinated ethenes
Vinyl Chloride g/l 5
1,1 Dichloroetene g/l 30
1,2 dichloroetene g/l 50
Trichloroethene g/l 70
Tetrachloroetene g/l 40
Aromatic Hidrocarbon
Benzene g/l 10
Toluene g/l 700
Xylenes g/l 500
Benzo(a)pyrene g/l 0,7
Chlorinated Benzene
Monochlorobenzene g/l 300
1,2 dichlorobenzene g/l 1000
1,4 dichlorobenzene g/l 300
Trichlorobezene ( total ) g/l 20
Lain-lain
Di(2-ethylhexyl)adipate g/l 80
Di(2-ethylhexyl)phthalate g/l 8
Acrylamide g/l 0,5
Epichlorohydrin g/l 0,4
Hexachlorobutadiene g/l 0,6
Edetic acide ( EDTA ) g/l 200
Tributylin oxide g/l 2
Monochloramide Mg/lt 3
Chlorine Mg/lt 5
Bromate g/l 25
Chlorite g/l 200
A. Desinfektan dan hasil sampinganny
Kadar Maksimum
Parameter Satuan Keterangan
Yang Diperbolehlkan
Chlorophenol
2,4,6-trichlorophenol g/l 200
Formaldehyde g/l 900
Trihalomethanes
Bromoform g/l 100
Dibromochloromethane g/l 100
Bromodichloromethane g/l 60
Chloroform g/l 200
Chlorinated acitic acid
Dichloroacetic acide g/l 50
Trichloroacetid acide g/l 100
Chloral hydrate
Trichloroacetaldehyde g/l 10
Halogenated acetonitriles
Dichloroacetonitrile g/l 90
Dibromoacetonitrile g/l 100
Trichloroacetonitrile g/l 1
Cyanogen cloride
( sebagai CN ) g/l 70
Bahan kimia yang kemungkinan dapat menimbulkan keluhan pada konsumen
A. Bahan Anorganik
Kadar Maksimum yang
Parameter Satuan Keterangan
Diperbolehkan
Amonia Mg/lt 1,5
Alumunium Mg/lt 0,2
Tembaga Mg/lt 1
Kesadahan Mg/lt 500
Hidrogen Sulfida Mg/lt 0,05
Mangan Mg/lt 0,1
Sodium Mg/lt 200
Sulfat Mg/lt 250
Totol zat padat terlarut Mg/lt 1000
Seng Mg/lt 3

2. Fisik
Kadar yang
Parameter Satuan Keterangan
Diperbolehkan
Parameter Fisik
Warna TCU 15
Rasa dan Bau - - Tidak berbau dan
Temperatur C Suhu udara 3C berasa
Kekeruhan NTU 5

BAKTERIOLOGIS

Kadar Maksimum
Parameter Satuan Keterangan
Yang Diperbolehkan
a. Air Minum
E. Coli atau Fecal Coli Jml / 100 ml 0
b. Air yang masuk sistem
distribusi
E. Coli atau Fecal Coli Jml / 100 ml 0
Total Bakteri Coliform Jml / 100 ml 0
c. Air pada sistem distribusi
E. Coli atau Fecal Coli
Total Bakteri Coliform Jml / 100 ml 0
Jml /100 ml 0
BAB VI
PENGOLAHAN AIR
Proses pengolahan air ada dua, yaitu :
1. Proses pengolahan air sederhana (Pengolahan
Tak lengkap) : yaitu proses penjernihan air
melalui tahapan proses pengolahan
pengendapan awal, koagulasi, sedimentasi dan
saringan pasir lambat.
2. Proses pengolahan air lengkap (Pengolahan
Lengkap) : yaitu proses penjernihan air melalui
tahapan proses pengolahan penyaringan awal,
koagulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi dan
desinfeksi.
PENGOLAHAN AIR SEDERHANA
(PENGOLAHAN TAK LENGKAP)

Koagulasi
Sedimentasi

Saringan Pasir Lambat


Tujuan Instruksional Khusus

Pada akhir kuliah mahasiswa mampu :


a. Melaksanakan Proses Koagulasi
b. Melaksanakan Proses Pengendapan
dengan sistem sedimentasi
c. Menerangkan proses saringan pasir
lambat
Bagan Alur Proses Penjernihan Air
Sederhana
Proses pengolahan air pada dasarnya banyak sekali ragamnya,
tergantung kandungan yang ada didalam air itu sendiri
1 2 3 4 5 6

Keterangan :
1. Air baku
2. Pengendapan awal
3. Koagulasi : Fe2(SO4)3, FeCl3; FeSO4 Coperas; Al2(SO4)3 15-18
H2O
4. Sedimentasi
5. Saringan pasir lambat
6. Penampungan air
Proses Penjernihan Air Sederhana
Air Baku
Adalah sumber air : sungai, air tanah, danau air tawar.
Pengendapan Awal
Proses penangkapan lumpur dari air baku di dalam bak
pengendapan pertama.
Koagulasi
Proses penjernihan air dengan memberikan bahan kimia
tertentu yang disebut Coagulant (lihat pada bagan alur di depan)
Sedimentasi
Proses pemisahan air bersih dengan lumpur (flok-flok) di dalam
bak pengendapan selama 2 4 jam.
Saringan Pasir Lambat (pasir quars/kuarsa)
Proses pemisahan air bersih dengan sisa flok yang tidak sempat
diendapkan didalam bak pengendapan dengan saringan pasir.
Penampungan Air
Penampungan air bersih di dalam bak penampungan (reservoir).
Bangunan Pengolahan Air Bersih
(Treatment)
PENGOLAHAN AIR SECARA LENGKAP
(PENGOLAHAN LENGKAP)
Pengolahan air dimaksudkan untuk merubah
kualitas kualitas air yang semula tidak
memenuhi syarat kesehatan menjadi air yang
memenuhi syarat kesehatan, sebagaimana
Peraturan Menteri Kesehatan RI No.
492/Menkes/Per/IV/2010, tanggal 19 April
2010, air yang boleh dikonsumsi manusia
harus memenuhi persyaratan fisik, kimia dan
mikrobiologi dengan kadar parameter
tertentu.
Tujuan Instruksional Khusus

Pada akhir kuliah mahasiswa mampu :


a. Melaksanakan Proses Koagulasi
b. Melaksanakan Proses Flokulasi
c. Melaksanakan Proses Pengendapan dengan
sistem sedimentasi
d. Menerangkan proses filtrasi
e. Menerangkan proses desinfeksi
Menurut kualitasnya, air dapat digolongkan
sebagai berikut :
Air Baku : air yang ada di alam (air tanah, air
permukaan dan mata air) yang kualitasnya
mungkin belum memenuhi syarat kesehatan.
Air Bersih : air yang biasa dipergunakan untuk
keperluan rumah tangga yang kualitasnya hampir
memenuhi syarat kesehatan dan apabila diminum
harus dimasak terlebih dahulu.
Air Minum : air bersih yang kualitasnya sudah
memenuhi syarat kesehatan dan langsung dapat
diminum tanpa harus dimasak terlebih dahulu.
Contoh Sumber Produksi Air Bersih
Produksi
Kontribusi
No. Sumber Produksi Lokasi Th.2011
Produksi
(lt/det)

1 Air Permukaan 7 69,2% 1.802,10

2 Mata Air 8 11,1% 349,79

3 Air Tanah Dalam :

Sumur Kota 5 0,9% 23,14

Sumur Pegunungan 25 18,8% 472,96

Total 45 100% 2.643,99


Contoh Jenis Pengolahan Air Bersih

No. Macam Air Baku Jenis Pengolahan

Pengolahan Tak
1 Mata Air
Lengkap
Pengolahan Tak
2 Air Tanah Dalam Lengkap

Air Permukaan Pengolahan Lengkap


3
(Sungai)
Diagram Alir Pengolahan Air Bersih
Secara Lengkap
Denah Instalasi Pengolahan Air Bersih
(IPA)
PROSES PENGOLAHAN AIR BERSIH LENGKAP
KOAGULAN DESINFEKTAN
(TAWAS/PAC) (CHLOR/SODIUM)

KOA FLO SEDI FIL


GU KU MEN TRA
LASI LASI TASI SI

PENGADUKAN
RESERVOIR
INTAKE LAMBAT

PENGADUKAN
CEPAT

AIR SUNGAI
PROSES PENGOLAHAN AIR BERSIH
SECARA LENGKAP
Proses pengolahan air bersih secara lengkap
diberlakukan pada air baku yang berasal dari
sungai, meliputi :
1. Penyaringan Awal
Aliran air sungai sebagian diarahkan ke intake
yang merupakan unit bangunan pertama dari
instalasi Pengolahan Air. Pada unit bangunan ini
terjadi proses penyaringan terhadap kotoran
yang melayang dan terapung dengan
menggunakan screen jeruji besi (Bar Screen).
2. Proses Pengadukan Cepat (Koagulasi)
Proses pencampuran dan pemerataan bahan kimia
koagulan Alumunium Sulfat (tawas) atau Poly
Alumunium Chloride (PAC) dengan air baku. Proses
ini terjadi dengan memanfaatkan aliran turbulen
sehingga diharapkan dapat terbentuk inti-inti flok.
3. Proses Pengadukan Lambat (Flokulasi)
Flokulasi yaitu proses pengadukan yang bertujuan
untuk menggabungkan flok-flok kecil yang telah
terbentuk pada proses sebelumnya (koagulasi)
sehingga menjadi besar dan mudah untuk
diendapkan. Dalam proses ini yang terjadi adalah
pengadukan lambat, disamping untuk
menggabungkan flok juga dapat mencegah
pecahnya kembali flok-flok yang sudah terbentuk.
4. Proses Pengendapan (Sedimentasi)
Proses pengendapan flok-flok yang telah terbentuk
pada proses flokulasi. Pada unit bangunan
pengendapan ini dilengkapi dengan tube settler
yang bertujuan untuk mengoptimalkan proses
pengendapan.
5. Proses Penyaringan (Filtrasi)
Merupakan penyaringan dari proses sedimentasi
yang yang masih mengandung/membawa mikrofolk
yang belum terendapkan. Media yang dipakai pada
penyaringan ini adalah pasir kuarsa dari Bangka
dengan ketebalan 80 100 cm.
6. Proses Sterilisasi (Desinfeksi)
Proses pemberian zat desinfektan dalam hal ini
yang dipakai adalah Chlor (gas/cair) yang bertujuan
untuk membunuh bakteri/kuman yang mungkin
masih ada dalam air. Pembubuhan dilakukan di inlet
reservoir dengan maksud agar mempunyai waktu
kontak yang lebih lama di pelanggan.
DIAGRAM ALIR PROSES PENGOLAHAN
AIR SECARA LENGKAP
1. IPA Kaligarang I
2. IPA Kaligarang II
3. IPA Kaligarang III
4. IPA Kaligarang IV
IPA KALIGARANG I :

DIBANGUN TAHUN 1965.


KAPASITAS DESIGN 500 L/DET
SUMBER AIR BAKU DARI SUNGAI
KALIGARANG
KONSTRUKSI BANGUNAN BETON
SISTIM PENGOLAHAN LENGKAP
SUMBER DANA PDAM

IPA KALIGARANG II :

DIBANGUN TAHUN 1982.


KAPASITAS DESIGN 80 L/DET
SUMBER AIR BAKU DARI SUNGAI
KALIGARANG
KONSTRUKSI BANGUNAN BAJA
SISTIM PENGOLAHAN LENGKAP
SUMBER DANA PEMERINTAH
PUSAT
IPA KALIGARANG III:

DIBANGUN TAHUN 1995.


KAPASITAS DESIGN 250 L/DET
SUMBER AIR BAKU DARI SUNGAI
KALIGARANG
KONSTRUKSI BANGUNAN BETON
SISTIM PENGOLAHAN LENGKAP
SUMBER DANA PDAM

IPA KALIGARANG IV :

DIBANGUN TAHUN 1995.


KAPASITAS DESIGN 300 L/DET
SUMBER AIR BAKU DARI SUNGAI
KALIGARANG
KONSTRUKSI BANGUNAN BAJA
SISTIM PENGOLAHAN LENGKAP
SUMBER DANA PEMERINTAH
PUSAT
IPA PUCANG GADING :

DIBANGUN TAHUN 1995.


KAPASITAS DESIGN 50 L/DET
SUMBER AIR BAKU DARI
KALIBABON
KONSTRUKSI BANGUNAN BAJA
SISTIM PENGOLAHAN LENGKAP
SUMBER DANA PEMERINTAH
PUSAT

IPA KUDU :

DIBANGUN TAHUN 2001.


KAPASITAS DESIGN 1.250 L/DET
SUMBER AIR BAKU DARI
BENDUNG KLAMBU
KONSTRUKSI BANGUNAN BETON
SISTIM PENGOLAHAN LENGKAP
SUMBER DANA IBRD MELALUI
P3KT-SUDP
Ilustrasi Pengolahan Air Bersih
Secara Lengkap
MONITORING KUALITAS AIR BERSIH
Dasar : Undang-undang No. 8 Tahun 1999
tentang Perlindungan Konsumen. Kep. Men. Kes.
RI No. 492/Menkes/Per/IV/2010 tentang
Persyaratan Kualitas Air Minum.

Tujuan : Terjaminnya kualitas hasil pengolahan air


agar senantiasa memenuhi standar kualitas
sesuai ketentuan yang berlaku, baik di reservoir
Instalasi Pengolahan Air maupun di pelanggan.
Contoh jumlah lokasi pengambilan sampel
(sampling point) pengujian air :
Jumlah lokasi pengambilan
No. Lokasi sampel
Bakteriologis Fisika & Kimia
1 Reservoir 310 132
2 Pelanggan 804 84
Jumlah 1114 216
Total 1.330
Pelaksana Sampling :
1. Dinas Kesehatan Kota Semarang : 600 sampel
2. PDAM Kota Semarang : 730 sampel
STANDAR KUALITAS AIR MINUM
BAB VII

Sistem Transmisi
Sistem Distribusi
Tujuan Instruksional Khusus

Pada akhir kuliah mahasiswa mampu :


a. Merencanakan sistem transmisi
b. Merencanakan sistem distribusi
Sistem transmisi
Sistem transmisi merupakan pendistribusian
air yang berasal dari sumber air (air baku)
sampai penampungan air (reservoir), di dalam
sistem ini tidak boleh ada penyadapan air.

Sistem Distribusi
Sistem distribusi merupakan pendistribusian
air dari reservoir ke konsumen dengan sistem
jaringan perpipaan, di dalam sistem ini ada
penyadapan air untuk konsumen.
Diagram Sistem Transmisi dan
Sistem Distribusi
Diagram Sistem Transmisi dan
Sistem Distribusi
Sistem Jaringan Pipa Air (Lihat Pada
Skema Sistem Jaringan Distribusi)
Sistem Cabang ( Branch )
Sistem Campuran / gabungan

Sistem Loop
Pipa - Pipa

Tiga syarat pipa yaitu :


Harus mampu mengalirkan debit air yang
diperlukan
Dapat menahan gaya-gaya dalam dan luar
Cukup tahan lama
Kategori Pipa Berdasarkan Pemakaian
Pipa pembawa : untuk mengalirkan air dari
sumber air ke tempat tertentu di daerah
pemakaian : pipa pembawa utama/induk,
jaringan, pipa pada instalasi pompa pipa
gravitasi
Pipa cabang : pipa pembawa sekunder dari
pipa utama/induk ke rumah-rumah
Pipa plumbing : jaringan pipa yang terdapat di
dalam rumah
Pemakaian Pipa
Pemakaian Pipa
No. Jenis Pipa
Induk Distribusi Plumbing
1 Besi tuang x x
2 Asbes semen x x
3 Pipa yang digalvanisir x*) x x
4 Pipa baja bitumen coated x
5 Pipa beton x
6 Pipa plastik (PVC & PE) x x x
7 Pipa tembaga x
x : dipakai
*) : untuk keperluan khusus
Bahan dan Alat Penyambung Pipa
Pemilihan Jenis Pipa
Ukuran standar yang tersedia di pasaran
Karakteristik jenis pipa (pengaruh kualitas air,
daya tahan terhadap tekanan, umur pakai)
Faktor-faktor ekonomis
Teknik pemasangan (termasuk pengangkutan)
Skema Pemakaian Pipa Pada Sistem
Jaringan Distribusi Bercabang / Branch
Skema Pemakaian Pipa Pada Sistem
Jaringan Distribusi Petak (Grid)
Skema Pemakaian Pipa Pada Sistem
Jaringan Distribusi Tertutup/Berlingkar
(Loop/Ring)
Zona Tekanan
Klep / Valves
Ada tiga fungsi klep dalam jaringan pipa yaitu :
Penutup aliran
Pengatur aliran
Pengontrol tekanan
Mengingat pentingnya pemakaian klep dalam
setiap instalasi pengadaan air bersih, maka
perlu diketahui beberapa jenis klep dan
pemakaiannya secara umum.
Pemakaian Klep / Valves
Pemakaian
No. Jenis Klep Penutup Pengatur Pengatur
Aliran Tekanan
1 Klep geser (gate valve) x
2 Plug valve x*) x 0
3 Butter fly x*) x 0
4 Klep sekrup x x 0
5 Klep Aliran searah (non x 0
return valve)
6 Klep pengontrol (ball valve) x x 0
7 Klep pengatur tekanan x
x : dipakai
*) : sebagai perlengkapan khusus
0 : sebagai pengotrol tekanan
Perencanaan Jaringan Distribusi
Perhitungan jaringan distribusi baru dapat
dilaksanakan setelah diketahui hal-hal berikut:
Tata letak umum pengadaan air
Tata letak jaringan distribusi
Peta situasi dari seluruh sistem
Potongan memanjang rencana trase pipa-pipa
Bahan pipa yang dipilih
Perhitungan Hidrolis Pipa
Aliran air dalam pipa mengalami kehilangan
tekanan karena gesekan dengan dinding pipa.
Kehilangan tekanan akibat gesekan, adalah :
Berbanding langsung dengan panjang pipa
Berbanding langsung dengan kekasaran
dinding pipa
Sebanding dengan kuadrat kecepatan aliran
Ada 3 (tiga) tipe perhitungan hidrolis :

1. Diketahui : debit air, misal debit puncak, kemiringan


pipa/gradien hidrolis (kehilangan tekanan akibat gesekan)
Dihitung : diameter pipa yang diperlukan

2. Diketahui : diameter pipa yang ada dan debit air yang


diperlukan
Dihitung : Kehilangan tekanan akibat gesekan (gradien
hidrolis)

3. Diketahui : diameter pipa, kemiringan pipa / gradien


hidrolis
Dihitung : debit air melalui pipa
Selanjutnya persoalan-persoalan aliran di dalam
pipa secara lebih detail dapat dilihat dalam
materi Hidrolika.
Kebutuhan air puncak : jaringan distribusi harus
dihitung berdasarkan kebutuhan air puncak, yang
merupakan jumlah dari :
Jumlah kran umum x 8 liter/menit (kran )
Jumlah tempat cuci umum x 12 liter/menit (kran
3/4)
Jumlah kamar mandi x 8 liter/menit (kran )
Atau ditaksir 3 x kebutuhan rata-rata 24 jam (3 x
Q24 Jam)
Pada suatu kecepatan aliran tertentu akan
didapatkan pipa yang paling ekonomis.
Berikut ini diberikan ancer-ancer dalam
memilih kecepatan aliran :
Tabel Pemilihan Kecepatan Aliran Dalam Pipa
Kecepatan Aliran (V)
(m/det)
No. Pemakaian
Tahap I Tahap II

1 Pipa pembawa utama 0,8 1,5 2,0

Pipa sekunder/ penghubung ke


2 1,0 1,5
kran utama

3 Jaringan distribusi 1,0 1,8


Mencegah Kantong Udara
Kantong udara atau air pocket dapat
menurunkan debit dan menutup aliran dalam
pipa, bahkan pada pipa dengan diameter besar
sekalipun.
Kantong udara terjadi sebagai akibat dari :
Bila tinggi tekanan statis dalam pipa < 5,0 m
Bila tekanan dalam pipa berkurang,
dibandingkan gradien hidrolis
Pelepasan udara yang tidak memadai
Kapasitas aliran dalam pipa 5 m
Contoh Pemasangan Profil Pipa Hidrolis
Contoh Penempatan Klep Udara
Contoh Penyambungan Pipa Miring
Contoh Klep Pelepas Udara
Contoh Klep Pelepas Udara
SISTEM
DISTRIBUSI AIR Head Statis
HGL, EGL
Reservoir Head Loss

Sisa Tekan
Muka Tanah

Distribusi dengan sistem Gravitasi


Daerah pelayanan

Head Statis

HGL, EGL Head Loss

Sisa Tekan

Muka Tanah Derah Pelayanan


Distribusi dengan sistem Pompa

Pompa
Reservoir
Head Statis

Head Statis
HGL, EGL Head Loss

Sisa Tekan

Distribusi

Pompa

Reservoir

Distribusi dengan sistem Gabungan


Contoh Penyediaan Air Bersih
Dengan Pompa dan Filter
Contoh Penyediaan Air Bersih
Dengan Ferro Twin
Instalasi Pipa Air
Alat Meter Air
Instalasi Pipa Air Dingin dan
Pipa Air Panas
Instalasi Pipa Air Bersih dan
Pipa Air Kotor
Diagram Alir Penyediaan Air Dingin
dan Air Panas
Instalasi Pipa Air Bersih dan
Pipa Air Kotor di Dalam Gedung
Contoh Rencana Denah Instalasi
Air Bersih Rumah / Gedung
Contoh Rencana Denah Instalasi
Air Bersih Rumah / Gedung
Penyediaan Air Bersih Pada Gedung
Bertingkat Dengan Sistem Pompa dan
Sistem Gaya Gravitasi Bumi
Penyediaan Air Bersih Pada Gedung
Bertingkat
Penyediaan Air Bersih Pada Gedung
Bertingkat
Contoh soal
Sumber Air Sumur Dalam / Artetis
Untuk sumur dalam/artetis dalam perhitungan penyediaan air bersih, diperlukan
data debit yang akan dialirkan, kecepatan yang diijinkan, panjang pipa dari
sumber sampai reservoir, kemudian yang akan dihitung adalah diameter pipa,
Head loss, dan daya pompa. Untuk hasil perhitungan di Wilayah dusun
Karangguli, Desa Padaan, Kecamatan Pabelan karena penyediaan air bersihnya
selain dari sumber mata air juga dari sumur dalam/artetis adalah sebagai berikut :
Data :
Q = 1,0 lt/dt. (minimum)
L = 483 m
V = 1,5 m

Luas penampang pipa (Ah),


Diameter pipa hisap (Dh),
maka pipa hisap digunakan pipa dengan diameter 1,5 inch (37,5 mm)
luas penampang pipa (A),
dan kecepatan alirannya menjadi kehilangan tenaga pada aliran (hf)
Headloss mayor (hf) :
Pompa air baku (Pompa submersible)
Desain terpilih :
Jumlah pompa air baku 1 unit pompa dan 1 pompa cadangan

Perhitungan :
Debit pengambilan air baku (Q) = 1 l/dtk = 86,4 m3/hari
Beda tinggi Sumber Bangunan pengumpul (Hs) = 8 m
Headloss pipa transmisi air baku (HL) = 23 m
Beda tinggi el.min. dan mak air di bak (h) =3m
Head pompa yang dibutuhkan = Hs + HL + h
= 8 + 23 + 3 = 34 m
Karena debit air baku 86,4 m/hari maka pompa air baku (pompa intake) yang
digunakan direncanakan berjumlah 1 unit pompa yang beroperasi dan 1 unit
pompa cadangan.
Daya pompa teoritis :
P = 370,6 watt - 450 watt
Dari debit pompa tersebut dapat ditentukan pompa yang akan digunakan. Pompa
yang digunakan adalah pompa jenis submersible dengan kapasitas 1,0 l/dtk,
dengan head 34 m.
TERIMA KASIH