Anda di halaman 1dari 8

RESUME

WARISAN EKSTRAKROMOSOMAL

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Genetika 1 yang dibimbing oleh


Bapak Mohamad Amin

Disusun oleh :

1. Chomisatut Thoyibah (150342604725)


2. Shohib Manzili (150342607634)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
PROGRAM STUDI S1 BIOLOGI
Februari 2017

Warisan Ekstrakromosomal
DNA merupakan materi genetik yang paling penting. Seluruh sejarah tentang
genetika, laporan sporadic menunjukkan bahwa elemen sitoplasmik atau ekstranuklear juga
bertindak sebagai agen dalam transmisi pewarisan. Beberapa kasus yang bergantung pada gen
sitoplasmik dan telah diklasifikasikan dalam pewarisan maternal ditunjukkan oleh investigasi
terdahulu memiliki hubungn dengan gen ibu. Fenotip diekspresikan dalam keturunannya, dan
kasus tersebut digolongkan dalam efek maternal. Pewarisan ekstrakromosomal didefinisikan
sebagai pewarisan non-Mendelian, umumnya melibatkan DNA dalam replikasi sitoplasmik
misalnya mitokondria dan plastid. Sebagian kecil bakteri dan virus juga merupakan agen
pewarisan ekstranuklear.
Patokan (kriteria) dalam pewarisan ekstranuklear
Ada lima kriteria utama yang dapat digunakan untuk membedakan antara sifat yang
dikontrol oleh gen nuclear dan sifat yang dikontrol oleh gen ekstranuklear, yaitu
1. Perbedaan dalam hal hasil dari reciprocal crosses akan menyebabkan penyimpangan dari
pola transmisi gen autosom Mendelian.
2. Sel reproduktif betina umumnya memiliki lebih banyak sitoplasma dan organel
sitoplasmik daripada sel jantan dan akan diperluas untuk mempengaruhi sifat non-
Mendelian.
3. Gen kromosomal menempati sebagian tempat tertentu dengan memetuhi gen lain.
4. Kekurangan pemisahan Mendelian dan karakteristik rasio Mendelian yang tergantung
pada transmisi kromosomal pada meiosis akan mendukung transmisi ekstrakromosomal.
5. Penggantian eksperimental pada nuclei dapat memperjelas pengaruh relatif pada nucleus
dan sitoplasma.
Organel Sitoplasmik Dan Simbion
Organel-organel hanya digambarkan sebagai proporsi sangat kecil dari materi genetik,
mungkin beberapa ratus gen, berdasarkan jumlah DNA fungsional yang dilibatkan. Organel
sitoplasmik memiliki khususnya fungsi yang dasar dan signifikan, tentu saja, hingga
eksistensi kehidupan yang berkelanjutan. DNA secara langsung berhubungan dengan fenotip
yang dasar dan vital tersebut. Yang menarik dikemukakan oleh Margulis adalah bahwa
mitokondria adalah bakteria yang hidup bebas. Setelah beberapa periode, mereka
membuktikan simbion pewarisan dengan inang sel eukariot dan akhirnya ditempelkan dalam
organel sel hewan dan tumbuhan. Mereka mengambil dari unit hidup bebas pada DNA
mereka dan alat lain untuk mekanisme genetik.
Mitokondria merupakan organel sitoplasmik yang kecil yang memiliki lapisan-lapisan
interna (cristae) yang dibentuk dari invaginasi membran dalam mitokondria. Mitokondria
memiliki ukuran yang hampir sama dengan bakteria dan ada pada sel eukariot namun tidak
ditemukan pada bakteri dan virus. Mitokondria terdiri atas DNA unit kecil dan banyak yang
ada di luar genom nuclear. Genom mitokondria kecil dan mengkode sejumlah struktur dan
fungsi yang terbatas. Mitokondria terdiri atas apparatus khusus yang mensintesis protein
denga ribosom spesifik, tRNA, tRNA asam amino sintetase.
Mutan pertama ditemukan dalam ragi, jenis koloni kecil disebut petite, Petites kurang
mampu untuk memanfaatkan oksigen dalam metabolisme karbohidrat. Strain petite yang
telah dianalisis menunjukkan hanya proporsi kecil dari G dan C dan peristiwa pasangan basa
AT yang berulang. DNA semacam ini tidak mengkodekan informasi biologis yang bermakna.
Tidak adanya sitokrom oksidase dari mitokondria tidak berarti bahwa enzim ini dikodekan
oleh DNA mitokondria, tetapi ini menunjukkan bahwa perubahan mutasi DNA mitokondria
akan menyebabkan selang-seling yang turun temurun dalam fenotipe mitokondria.
David JB membandingkan DNA mitokondria dalam kultur sel mamalia yang
berbeda, termasuk tikus dan manusia, ia juga menghibrid sel mamalia yang berbeda dalam
kultur. Dalam sel tikus dan hibrida manusia, misalnya, dia telah menunjukkan bahwa tidak
hanya DNA mitokondria dari tikus yang homogen dan manusia yang homogen yang dapat
dideteksi tetapi juga DNA hibrid yang heterogen. Dalam satu rangkaian percobaan, 20
persen dari setiap unit DNA sirkular adalah milik tikus dan 80 persen adalah DNA
mitokondria manusia.
MtDNA ini biasanya keluar sebagai molekul sirkuler yang relatif kecil, yang dapat
dengan mudah diisolasi dan ditandai. sehingga informasi cukup tersedia mengenai struktur
genom mitokondria. MtDNA biasanya hadir dalam beberapa salinan per organel. Sel HeLa
Manusia mengandung sekitar 10 salinan mtDNA per mitokondria dan memiliki sekitar 800
mitokondria per sel. Struktur mtDNA sangat kekal pada hewan yang tingkat tinggi.
Genom mitokondria seluruh mamalia ditranskripsi sebagai salah satu unit dari sisi
promotor tunggal, dan transkrip primer raksasa membelah endonucleolytically untuk
memproduksi masing-masing molekul tRNA, rRNA, dan mRNA. Dengan demikian, seluruh
mtDNA, berlaku, setara dengan satu operon pada bakteri. Mitokondria merupakan organel
kompleks yang mengandung sejumlah besar protein yang berbeda jauh melebihi dari 13
berpotensi dikode oleh genom mitokondria mamalia mayoritas protein mitokondria harus
dikode oleh gen inti.
DNA Pada Plastida
Kloroplas timbul dari partikel sitoplasma yang disebut proplastida yang mengandung
DNA dan duplikasi sendiri yang tidak tergantung pada bagian sel lain. DNA didistribusikan
kurang lebih sama selama pembagian sel. Beberapa karakteristik pewarisan kloroplas dari
sitoplasma biji induk
Banyak varietas tidak terwariskan, beberapa dikontrol oleh gen nuclear dan hal lain
pada pewarisan plastida. Plastida warna normal dan mutan mungkin tergantung dengan
mutasi plastida. Kloroplas diisolasi dan didapatkan dari sintesis protein dengan adanya
adenosine tripospat atau cahaaya.
DNA Kloroplas dan Pertahanan Obat
Mutasi DNA nonkromosomal mengekspresikan fenotif yang sama seperti kromosom
DNA mutan. Pertukaran resiprok menunjukkan bahwa pertahanan antibiotic dikontrol oleh
gen nonkromosom, uniparental pada pewarisan. Semua keturunan dari masing-masing
resiprok melakukan perkawinan (mating) seperti, plus (+) type mating dengan memasuki ke
famili lain yang melakukan pertahanan streptomycin, kemudian menunjukkan pewarisan
maternal. Hasil dari pertukaran resiprok menunjukkan pewarisan non mendel yang disertai
pasangan tunggal dari pertukaran sifat.

Organisasi pada genom plastid


Macam dari tipe genom adalah plastid-cloroplas, amiloplas, dan kromoplas yang
dimiliki oleh lebih dari 200 spesies yaitu tumbuhan tinggi dan hijau. Pada DNAs
mitokondria, kloroplas sering mengandung penggandaan copian cpDNAs. Semua genom
kloroplas yang dianalisis mengandung kumpulan gen yang sama. Namun, gen yang
mengatur sangat bermacam-macam pada cpDNAs. Genom kloroplas untuk tumbuhan tinggi
memiliki ukuran 21 sampai 31. Pada prokariotik dipercaya telah berkembang, kloroplas telah
kehilangan materi genetik. Informasi dari nenek moyang sangat bergantung pada gen nuclear
dari sekumpulan sel untuk banyak komponen esensial. Komponen dari mitokondria yang
terakhir disintesis pada ribosom sitoplasma dan disalurkan ke dalam kloroplas dengan
bantuan peptide amino terminal yang diangkut dan membelah selama transportasi
berlangsung di dalam membran sitoplasma
Bakteria Symbiont Pada Paramecium Sitoplasma
Protozoa uniselular yang melakukan dua reproduksi yaitu secara aseksual dan seksual.
Reproduksi aseksual terjadi akibat pembelahan sel ke hasil kloning dari sel yang serupa
secara genetik . Tahap seksual, paramecium berkonjugasi secara periodik dan mentransfer
materi genetik dari satu sel ke sel lain. Paramecium dan Ciliate yang lain mempunyai dua
macam nuclei, yaitu makronukleus vegetative besar dan mikronukleus kecil. Ini mungkin
untuk laboratorium membuat persilangan seksual melalui. Meiosis berikutnya, menghasilkan
sel haploid, tetapi sampai autogami menjadi homozigot diploid. Hal ini menyediakan sebuah
tempat untuk pembanding ekstraselular dan nuclear warisan, dan untuk memperlihatkan
bahwa progeny dapat berbeda dari wild type pada ciri yang dikendalikan oleh gen nuclear
dan ekstranuklear.
T. M. Sonnoborn dan yang lain mempunyai investigasi sebuah efek presisten
eksraselular pada Paramecium. Beberapa strain dari P.aurelia menghasilkan sebuah unsur
yang mempunyai pengaruh yang mematikan dari anggota strain lain pada beberapa spesies.
Paramecium dari strain yang mampu memproduksi unsur racun yang disebut killer. Efek
racun juga mengurangi divisi sel setelah mengalami pengulangan. Pemisahan elemen pada
sitoplasma telah menerima hasil dari subtansi racun. Killer kemudian diamati dengan
menggunakan mikroskop dan partikelnya disebut kappa. Partikel ini yang diperlihatkan
utuk menjadi bacteri symbiotic, yang diberi nama Caedobacter taeniospirales (bakteri
pembunuh dengan ribbon spiral).
Sebuah subtantasi toxic (Paramecin), dihasilkan oleh bakteri pembunuh, yang
difusikan ke medium cair. Paramecin tidak mempunyai efek pada killer, yang berasosiasi
dengan semacam partikel semacam kappa yang terjadi pada lebih dari 20 persent populasi
kappa. Virus toxic pada paramecium sensitif tapi tidak beracun pada nonbright bakteri.
Bakteri kappa hanya mengabdikan diri pada organisme yang membawa nuclear alel k
dominan, yang memetapkan lingkungan yang diperlukan untuk bakteri bereproduksi. Ketika
killer konjugasi dengan sensitif dibawah kondisi yang tepat (untuk menghidari membunuh
pasangan) dan tidak terjadi pertukaran sitoplasmik. Ada dua macam clones mucul, yaitu satu
dari sel killer asli yang mengandung alel K (Kk) dan bakteri kappa, dan yang lain dari sel
sensitive asli, yang membwa alel K (Kk) dan kekurangan kappa. Autogami selanjutnya,
separuh keturunan dari killer adalah killer dan separuh [paramecium sensitive. Selama tidak
ada sitoplasmik yang ditransfer pada konjugasi, hanya sel dari killer asli yang menerima
wariasan dari bakteri kappa. Kappa tidak dapat bereproduksi di sel. Autogami menghasilkan
sel homozigot KK dank k, yang yang menghasilkan clone killer atau nonkiller, secara
respective.
DNA PLASMID DAN TRANSFOMASI TUMOR
Molekul ekstrakromosom DNA dapat mereplikasi dengan bebas dan mempertahankan
dirinya sendiri di dalam sitoplasma sel tumbuhan yang disebut dengan plasmid. Plasmid
biasanya berada bersamaan dengan kromosom mitokondria dan plastid, tetapi plasmid tidak
dapat diorganisasikan menjadi organel yang vital di dalam sel inangnya. Plasmid memiliki
kemampuan dapat melakukan replikasi dengan bebas untuk melakukan kombinasi dengan
DNA lain, dan membawa DNA inti sel untuk melekukan aktifitas sinsesis, plasmid digunakan
untuk rekayasa genetika.
Steliritas Sitoplasma Pada Tanaman
Contoh lain dari pewarisan sitoplasma adalah dihubungkan dengan kegagalan polen.
Ini terjadi pada banyak bunga pada tanaman dan mengakibatkan sterilnya jantan. Sterilitas
jantan meupakan bagian yang penting ketika melelui proses pembentukan biji. tanaman
hybrid diproduksi secara komersial pada jagung, timun, bawang merah, sorghum, dan
tanaman hybrid yang lain.
Jantan Steril ketika melewati Proses Polinasi Tanaman
Contoh mekanisme pewarisan meteri adalah transmit jantan steril pada jagung,yang
diteliti dan dianalisa dengan hati-hati oleh M.M. Rhoades. Polen digugurkan pada kepala
putik pada tanaman jagung, mengakibatkan polen menjadi jantan yang steril. Tetapi struktur
betina masih normal. Gen nuclear tidak mengontrol macam sterilnya, meskipun gen
ditransmisasikan dari generasi ke generasi berasal dari telur sitoplasma.
Fakta dari varietas jantan steril diproduksi hanya dari keturunan jantan steril ketika
diadakan fertilisasi dengan polen dari tanaman jagung normal. Jantan steril pada tanaman biji
akan terus mengalami perulangan dalam bentuk polen hingga terbentuk jantan yang fertil.
Dalam genetika bentukan steril dirubah, jantan steril tetap terbentuk, menunjukkan bahwa
pewariasan materi tidak dapat dikontrol oleh gen kromosom. Dalam pemeriksaan
berkembang, diantara bagian kecil polen didapatkan dari bentukan jantan yang steril.
Membuat resiprok sangat mungkin. Ini semua melewati pembentukan keturunan dari jantan
steril pada biji tanaman kemuadian berubah menjadi jantan yang fertile. Keturunan dari
materi jantan steril tanpa memperhatikan pembentukan pada umumnya.
Besar sekala menngunakan jagung jantan yang steril untuk pembentukan biji
membawa penyakit dalam kelompok hasil pertanian jagung di tahu 1970. Karena keuntungan
keseragaman jagung dan keuntungan besar jantan steril dalam pembentukan biji, sumber
pertama sitoplasma, diketahui di Texas (T0 sitoplasma jantan steril, yang telah digunakan
dalam produksi biji untuk hibrid jagung ditanam tahun depan.
Bahaya keseragaman
Apa yang menyebabkan penyakit pada hasil jagung? Sebuah mutans baru berbentuk
jamur Helminthosporium maydis (nisikado dan miyake) mulai menjadi pathogen yang
mematikan pada khusus jagung hibrida. Jamur ini merusak jagung dengan (T) sitoplasma
jantan steril. Ahli pathogen dan keturunan tanaman memenukan wabah ini berasal dari
varietas jagung yang resistan dengan jamur. Karena sebelumnya, muncul penyakit daun
tanaman yang berwarna kuning, tahun 1970 produksi biji telah digeser dengan jagung tanpa
T sitoplama. Jagung ini dibutuhkan detasseling tetapi secara luas digunakan untuk tanaman
musim dingin tahun 1971. Ini juga memproduksi beberapa biji yang resistens untuk tanaman
umum pertanian. Beberapa tanaman diprediksi sekitar 20-30 persen hasil pertanian mati
bahkan resiko lebih banyak lagi tanaman hybrid mudah rentan.
Sebagian besar produksi biji tahun 1971 diselesaikan tanpa menggunakan steril jantan
dan T sitoplasma. Penyebaran T pada H. maydis tidak terlalu parah pada tahun 1972.
Perkembangan H.maydis yang lain dapat muncul atau salah satu penyakit tamanan
jagungdapat menjadi ancaman untuk jagung hibrida dengan T jantan steril sitoplasma.
Beberapa varietas dari jagung resistan dengan persebaran T pada H. maydis yang sekarang
telah diidentivikasi dan telah tersedia untuk produksi benih.
Efek Maternal

Telur dan embrio dipengaruhi oleh lingkungan maternal pada tempat


perkembangannya. Terjadi perpindahan sitoplasma tubuh induk betinanya dan nutrisi dari
ibu, dan mempengaruhi aksi gen yang mempengaruhi gen yang membawa efek maternal.

a. Efek maternal pada arah perputaran cangkang siput


P1 : betina kanan X jantan kiri
S+S ss
F1: kanan X kanan
+
SS S+S
F2: kanan kanan kanan kanan
+ + + +
SS SS SS SS

Dari penelitian diatas, menunjukkan bahwa spindel yang terbentuk pada metafase
pembelahan pertama mempengaruhi langsungnya coiling. Karakteristik fenotipik dipengaruhi
langsung oleh induk betina tanpa ada hubungan dengan gen pada telur atau sperma.

Pertanyaan

1. Bagaimana efek maternal dalam mempengaruhi fenotipik terhadap keturunannya?


Jawab: induk betina dapat mempengaruhi sifat fenotip kepada keturunannya.
Misalnya sifat arah perputaran cangkang pada siput.
P1 : betina kanan X jantan kiri
S+S ss
F1: kanan X kanan
S+S S+S
F2: kanan kanan kanan kanan
S+S+ S+S S+S SS
Berdasarkan persilangan tersebut, induk betina yang memiliki sifat perputaran
cangkang ke kanan, memiliki pengaruh yang besar terhadap keturunannya.
2. Bagaimana hubungan antara mitokondria dengan pewarisan ekstrakromosomal?
Mitokondria memiliki DNA unit kecil dan banyak yang ada di luar genom nuclear.
Genom mitokondria mengkode sejumlah struktur dan fungsi yang terbatas.
Mitokondria terdiri atas apparatus khusus yang mensintesis protein denga ribosom
spesifik, tRNA, tRNA asam amino sintetase.

Anda mungkin juga menyukai