Anda di halaman 1dari 9

Dalam makalah ini, saya mengambil tema yaitu Kepuasan Pasien Rawat Inap Terhadap

Pelayanan Perawat. Kepuasan pasien merupakan aspek yang menyangkut kepuasan fisik, mental dan
sosial pasien terhadap lingkungan rumah sakit, kebersihan, kenyamanan, kecepatan pelayanan,
keramahan, perhatian, biaya yang diperlukan dan sebagainya. Salah satu bentuk pelayanan yang paling
mempengaruhi tingkat kepuasan pasien di rumah sakit adalah pelayanan keperawatan. Dapat
dimaklumi karena pelayanan keperawatan diberikan selama 24 jam dimulai dari awal masuk hingga
kepulangan pasien. Jadwal harian perawat di ruangan dibagi menjadi tiga sift yaitu sift agi, sore, dan
malam. Perawat melakukan ronde perawatan atau serah terima pasien setiap kali pergantian sift
sehingga penanganan pasien dapat dilanjutkan secara terarah dan terkontrol oleh perawat sift
selanjutnya. Di samping itu, perawat juga dibantu oleh mahasiswa profesi keperawatan atau mahasiswa
praktek klinik dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien.

Sepanjang pasien di rawat di ruangan (rawat inap), pasien akan terus berinteraksi dengan
perawat. Perawatlah yang selalu standby membantu pasien ketika pasien membutuhkan pertolongan.
Perawat juga yang membantu pasien dalam memenuhi kebutuhan dasarnya dan membantu dalam
pemulihan dan penyembuhan pasien. Sehingga hubungan dan interaksi antara perawat dengan pasien
akan sangat menentukan tingkat kepuasan pasien terhadap kualitas pelayanan di rumah sakit. Hal ini
disebabkan pelayanan keperawatan merupakan ujung tombak utama pelayanan kesehatan di rumah
sakit dan merupakan cermin utama dari keberhasilan palayanan kesehatan secara keseluruhan.
Pelayanan perawat yang bermutu tinggi harus dilaksanakan oleh tenaga keperawatan profesional
dengan cara yang profesional juga. Sehingga masyarakat sering menilai baik buruknya pelayanan di
instalasi rawat inap tergantung bagaimana kinerja dari perawat.

Dengan kualitas pelayanan rawat inap yang memuaskan, akan mendorong pasien untuk tetap
memilih rumah sakit tersebut, apabila membutuhkan lagi fasilitas pelayanan kesehatan. Pelayanan
rawat inap banyak memberikan pelayanan dibandingkan dengan yang lainnya, karena unit tersebut
paling banyak terjadi interaksi antara perawat dengan pasien.

Ada empat indikator agar kualitas pelayanan keperawatan bisa dikatakan prima atau excellent,
yaitu: responsiveness atau ketanggapan perawat ketika dipanggil, helpfulness atau keinginan perawat
untuk membantu menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri pasien, kemamuan perawat
berkomunikasi dengan pasien, dan kemampuan perawat untuk memberikan instruksi atau penjelasan

1
yang memadai terhadap pengobatan atau perawat pasien. Apabila indikator-indikator tersebut dapat
dipenuhi dengan sangat baik oleh perawat, maka pasien akan sangat puas dan menganggap bahwa
kualitas pelayanan yang didapatkannya sudah prima.

Kualitas pelayanan keperawatan yang prima memiliki makna bahwa kualitas pelayanan yang
diberikan perawat kepada pasien melebihi kualitas yang telah distandarkan yang bertujuan untuk
mewujudkan kepuasan pasien. Bila pasien merasa puas dengan pelayanan yang diberikan dalam arti
sesuai dengan apa yang diharapkan, besar kemungkinan pasien ini akan menceritakan pada teman-
temannya ataupun keluarganya tentang kepuasan yang diterimanya saat di instalasi rawat inap.

PEMBAHASAN

2
Fakta yang ada di masyarakat, bahwa lulusan ners masih belum diakui sebagai sosok
professional yang akan mampu memberikan kontribusi yang hebat dalam meningkatkan pelayanan
keperawatan. Perawat masih identik dengan penjaga orang sakit dan pembantu profesi dokter serta
menempatkan diri sebagai kelas kedua pada kesehatan sistem keperawatan di Indonesia. Pandangan
tersebut harus kita terima dengan lapang dada dan sekaligus sebagai pemicu adrenalin kita untuk
membuktikan jadi diri kita, bahwa seorang ners adalah professional dengan segala atribut yang
menyertainya.

Satu kunci yang harus kita tanamkan kepada masyarakat adalah memperbaiki stigma
masyarakat bahwa perawat masih dianggap sebagai petugas yang judes, suka membentak-bentak

3
pasien, sering terlambat dan lain-lain. Hal yang harus dan terus kita lakukan adalah memperbaiki citra
perawat, dengan menunjukkan jati diri perawat professional, sebagai care provider (member pelayanan
atau asuhan), community leader (pemimpin kelompok), educator (pendidik), manager (pengelola) dan
researcher (peneliti).

Menghadapi era kesejagatan saat ini isu sentral yang berkembang adalah pesaingan diberbagai
jasa layanan kepada klien, sehingga membawa damak terhadap semakin meningkatnya tuntutan
kualitas sumber daya manusia kesehatan, peningkatan jasa layanan, dan tersedianya berbagai
alternative pelayanan di berbagai tatanan pelayanan kesehatan. Era kesejagatan hendaknya oleh
keperawatan dipersiapkan secara benar dan menyeluruh, mencakup seluruh aspek keadaan dan kejadian
atau peristiwa yang terjadi atau sedang dan akan berlangsung dalam era tersebut. Dalam beberapa
tahun terakhir dan menghadapi masa depan, khususnya memasuki Millenium, perkembangan IPTEK
terjadi dengan sangat cepat. Proses penyebaran IPTEK, serta penyebaran berbagai macam barang dan
jasa menjadi bertambah cepat, bahkan terjadi dengan sangat cepat. Hal ini disebabkan perkembangan
pesat dari teknologi transportasi dan telekomunikasi serta eksploitasi dari beberapa aspek perdangan
pasar bebas.

Perubahan berbagai aspek di pelayanan kesehatan membawa konsekuensi terhadap


keperawatan, khususnya tuntutan masyarakat terhadap peran perawat yang lebih professional.
Masyarakat terus-menerus berkembang atau mengalami perubahan, demikian pula dengan profesi
keperawatan. Dengan terjadinya perubahan atau pergeseran dari berbagai faktor yang mempengaruhi
keperawatan, maka akan terjadi perubahan atau pergeseran dalam keperawatan, baik perubahan dalam
pelayanan atau asuhan keperawatan, perkembangan IPTEKKEP, maupun perubahan dalam masyarakat
keperawatan, baik sebagai masyarakat ilmuwan maupun sebagai masyarakat professional.

Ners harus berperan sebagai change agent dengan prinsip ners must make a history, not just
story (Ners harus membuat sejarah, tidak hanya cerita). Pernyataan tersebut dituntut keberanian untuk
berbuat dan berubah yang lebih baik. Ners harus mempunyai keberanian untuk berubah, jangan takut
untuk berbuat yang terbaik, kita sering melihat ners ragu dengan zona nyaman yang dimiliki saat ini.
Jalan kehidupan ini tidak ada yang rata, kita yang harus meratakan jalan itu. Keberanian bukanlah
ketidaktakutan terhadap semua hal, tetapi kemenangan dalam mengatasi ketakutan pada diri sendiri.

4
Permasalahn yang mendasar pada profesi keperawatan Indonesia saat ini adalah perawat masih
belum melaksanakan peran caring secara professional dalam memberikan asuhan keperawatan kepada
klien. Hal ini dapat dilihat dari persepsi pengguna jasa layanan (masyarakat atau pasien), Institusi
Pelayanan Kesehatan, dan para perawat sendiri. Peran professional Perawat dipengaruhi oleh 4 faktor
utama sekaligus hal ini menjadikan suatu tantangan bagi profesi keperawatan, yaitu: (1) Kualitas
Sumber Daya Nes masih rendah (SDN), (2) Batang tubuh ilmu pengetahuan dan kewenangan perawat
yang belum jelas, (3) Model praktik keperawatan yang tidak tertata dengan baik dan belum adanya UU
yang mengatur praktik keperawatan, (4) Fokus tujuan pendidikan keperawatan hanya berorientasi
menyediakan lulusan untuk bekerja member layanan, kurang mencitakan softskill/membangun karakter
yang diperlukan stakeholder.

5
6
7
8
Solusi untuk menjawab masalah di atas adalah berbenah diri dengan menata pendidikan perawat
secara profesional. Langkah awal yang perlu ditempuh oleh Perawat professional adalah
mengembangkan Pendidikan Tinggi Keperawatan dan memberikan kesempatan kepada para perawat
kepada para perawat untuk melanjutkan pendidkan yang lebih tinggi. Sehingga diharapkan pada akhir
tahun 2015, semua pendidikan perawat yang bekerja di rumah sakit sudah memenuhi criteria minimal
sebagai perawat professional (Ners).

Pada saat ini berbagai upaya untuk lebih mengembangkan pendidikan keperawatan professional
memang sedang dilakukan dengan mengkonversi pendidikan SK ke jenjang Akademi Keperawatan dan
dari lulusan Akademi Keperawatan diharapkan dapat melanjutkan ke jenjang S1 Keperawatan
(Perawat). Namun prinsi asal konvensi, asal cepat, asal dapat ijazah perawat, dan asal-asalan menjadi
kelabunya masa depan keperawatan. Hal ini menjadi kendala dalam upaya mempercepat
profesionalisme keperawatan. Disana sini masih ditemukan berbagai penyimpangan dalam penerapan
kurikulum, proses pembelajaran yang tidak sesuai dan tidak mendukung. Perlu juga diadakan penataan
yang mendasar dari Program Pendidikan Keperawatan dengan lebih menekankan pada upaya
meningkatkan kualitas dan kuantitas lulusan.