Anda di halaman 1dari 3

Menuju Kemerdekaan

Pada tahun 1870 Belanda telah membuat kebijakan untuk daeah koloninya
yang disebut Hindia Belanda ini dengan liberalisasi. Ide Ide liberal yang
berkembang di Nederland memberikan pengaruh kuat terutama dalam bidang
ekonomi. Ajarannya di bidang ekonomi seperti menghendaki dilaksanakannya usaha
usaha bebas dan pembebasan kegiatan ekonomi dari campur tangan negara atau
pemerintah (G.Mudjanto 1989 :19). Sebagai contoh VOC yang membuat kebijakan
cultuurstelsel atau tanam paksa dimana hal itu memberi keuntungan besar bagi
pemerintah Belanda tapi tidak bagi rakyat pribumi.

Berkat perjuangan golongan liberal dan humanism maka pada tahun 1870
sebagai batas akhir berlakunya cultursteelsel dan dikeluarkan Undang Undang
Agraria yang mengatur bagaimana pengusaha swasta memperoleh tanah untuk
usahanya dan Undang- Undang Gula yang mengautur pemindahan perusahaan
perusahaan gula ke tangan swasta.

Banyaknya kritik yang di tuai oleh Belanda akibat kurang memperhatikan


kesejahteran rakyat, dimana Th. Vn Deventer menuliskan bahwa kemakmuran
Belanda diperoleh karna kerja dan jasa orang Indonesia, maka dari itu Belanda
berhutang budi pada rakyat Hindia Belanda dan harus membayarnya dengan Trias :
Irigasi, emigrasi (transmigrasi) dan edukasi. Trias tersebut tidak berjalan dengan
baik karena semata mata dijalankan untuk kepentingan pemerintah bukan untuk
kemajuan pribumi.

Nasionalisme sebagai state Nation atau negara bangsa, sampai pada XX


belum ada di negara Indonesia. Sampai pada abad ke XIX perlawanan terhadap
Belanda masih bersifat kedaerahan. Perlawanan masih bersifat negative seperti
menundurkan diri ke daerah tepencil yang belum terjangkau kekuasaan colonial
ataupun mencari perlindungan pada kekuatan gaib. Model seperti ini sering
mengandalkan pemimpin yang karismatik yang dianggap pengikutnya mempunnyai
kesaktian dan akan berakhir jika pemimpinnya di tawan dan terbunuh.

Sesudah 1900 sifat perlawanan mengalami perubahan yaitu, perlawanan


bersifat nasional, perlawanan positif dengan senjata, taktik modern, dan diplomasi
(model barat). Perlawanan juga diorganisir dengan baik juga memikirkan masa
depan bangsa. Adanya homogenitas agama di Indonesia dengan 90% Islam dapat
mendesak nasionalisme sebagai suatu hal yang positif yang dapat memberi
kemungkinan berbeda. Demikian pula dengan kesamaan bahasa, dengan
menentang orang Indonesia menggunakan bahasa Belanda. Disamping masyarakat
telah menggunakan bahasa Melayu sebelum nasionalisme berkembang justru
membuat pemerintah Belanda bergetar, karena bahasa mampu menjadi senjata
psikologis untuk aspirasi nasional bangsa Indonesia (George Md. Tuman Kahin
1995:51). Perlawanan secara fisik yang tidak ada koordinasi, mendorong pemimpin
Indonesia untuk merubah perlawaan yaitu dengan menyadarkan bangsa Indonesia
akan pentingnya bernegara.
Sejak inilah muncul kesadaran berbangsa dan bernegara bagi rakyat
Nusantara yang sama-sama ada dalam penjajahan. A.K. Pringgodigdo (1991)
membagi masa perjuangan kebangsaan di Indonesia atas lima dimensi, yakni : (1)
Pergerakan Politik; (2) Pergerakan Serekat Kerja; (3) Pergerakan Keagamaan; (4)
Pergerakan Wanita; (5) Pergerakan Pemuda. Lima dimensi pergerakan pada masa
penjajahan Belanda ini dibagi lagi menurut kurun waktu sebagai berikut :
1. Masa 1908-1920
2. Masa 1920-1930
3. Masa 1930-1942
Ada tiga jenis pergerakan politik pada masa 1908-1920, ialah :
Organisasi-organisasi Indonesia yang terdiri atas Budi Utomo, Sarekat Islam,
perkumpulan-perkumpulan berdasarkan kedaerahan.

Melalui pendidikan Barat yang diberikan Belanda kepada kaum elite


Indonesia dan perkembangan Islam di Indonesia dianggap sebagai kesalahan
Belanda karena dengan demikian perlawanan terhadap colonial telah semakin tegas
dilakukan masyarakat Indonesia yaitu dnegan model Barat.

Pada tanggal 8 Desember 1941 Jepang mengalahkan sekutu di pearl


Harbour dan kemudian mengambil alih kekuasaan belanda di Indonesia pada tahun
1942. Pada awalnya Jepang berjanji akan membebaskan rakyat Indonesia dari
penjajahan dan memajukan rakyat Indonesia, akan tetapi Jepang merampas
kehormatan rakyat Indonesia dan terjadi kemiskinan dimana mana. Janji jepang
baru terealisasi setelah Jepang makin terdesak oleh sekutu. Sekutu merebut pulau
pulau antara Australia dan Jepang, dan mendarat di Irian Barat pada April 1944.

Pemerintah Jepang kemudian berusaha mendapat dukungan dari rakyat


Indonesia dengan dibacakannya pidato di Parlemen Jepang oleh Perdana Mentri
Kaiso pada tanggal 7 September 1944 yang mengatakan akan memberi
kemerdekaan Indonesia yang dikenal sebagai Kaiso Declarsion. Janji itu terasa
lambat sekali jika dibandingkan dengan Philipina dan Burma yang diberi
kemerdekaan masing masing pada tanggal 1 Agustus 1943, keterlambatan itu
mungkin dikarenakan (G. Moedjanto, 1989:84) :
1. Pemimpin Pemimpin Indonesia dan Jepang belum mengadaka
perjanjian apapun
2. Berhubungan dengan hal pertama Jepang terpaksa mempertimbangkan
waktunya
3. 1 Maret 1945 diumumkan pembentukan BPUPKI terjadi tawar menawar
antara Indonesia dan Jepang
4. 5 April 1945 Kaiso jatuh dan Kabinet Suzuki yang menggantikannya tidak
bisa segera mengambil alih tanggung jawab pelaksanaan pernyataan
Kaiso.

Sumber :
1. Sapriya, dkk. 2007. KONSEP DASAR IPS. Bandung: Laboratorium PKn
Universitas Pendidikan Indonesia Bandung
2. Buku pancasila kita
3. Yang dikutip di bacaan di atas

Semangat hasmy !!
Dari sudut hukum, proklamasi merupakan pernyataan yang berisi keputusan bangsa
Indonesia untuk menetapkan tatanan hukum nasional (Indonesia) dan menghapuskan
tatanan hukum kolonial.
Dari sudut politik ideologis, proklamasi merupakan pernyataan bangsa Indonesia
yang lepas dari penjajahan dan membentuk Negara Republik Indonesia yang bebas,
merdeka, dan berdaulat penuh.

. Proklamasi merupakan alat hukum internasional untuk menyatakan kepada rakyat


dan seluruh dunia, bahwa bangsa Indonesia mengambil nasib ke dalam tangannya sendiri
untuk menggenggam seluruh hak kemerdekaan

Hubungan antara Proklamasi dengan Pancasila


Proklamasi merupakan titik kluminasi (jenuh)/tingg) perjuangan bangsa indonesia melawan
penjajah. Perjuangan bangsa indonesia ini kemudian di jiwai,disemangati,didasari oleh nilai-
nilai yang terkandung dalam pancasila. Sehingga bisa dikatakan bahwa nilai-nilai dalam
pancasila yang mendasari perjuangan bangsa indonesia untuk merebut kemerdekaan yang
puncaknya ditandai dengan proklamasi.

Hubungan antara Pancasila dengan Proklamasi


Nilai-nilai pancasila pada saat penjajah (kolonial) sebelum terjadinya proklamasi selalu
direndahkan, dilecehkan, diinjak-injak. Kemudian dengan dilakukannya proklamasi nilai
pancasila ditegakkan, diselamatkan, di tinggikan, dijunjung tinggi. Sehingga dengan
melakukan proklamasi yang pada awalnya pada masa penjajahan pancasila tidak dianggap
bahkan di lecehkan maka dengan perjuangan rakyat bangsa indonesia kedudukan pancasila
sebagai dasar negara kembali di tegakkan