Anda di halaman 1dari 26

TUGAS VALIDASI ALUR PRODUKSI TENTANG

VALIDASI PROSES PADA SEDIAAN LARUTAN STERIL

Dosen :Dra.Nurul Akhatik,M.Si.Apt.

Disusunoleh:

Nuraini (13330006)

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA & ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT SAINS & TEKNOLOGI NASIONAL
JAKARTA
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan
anugerahnya, saya dapat menyelesaikan makalah VALIDASI ALUR
PRODUKSI dengan pokok pembahasan tentang VALIDASI PROSES PADA
SEDIAAN LARUTAN STERIL Tidak lupa juga saya menyampaikan terima
kasih sebesar-besarnya kepada ibu yang sudah membantu saya dalam proses
penyusunan makalah ini, sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik
Dalam penyusunan makalah ini, saya selaku penulis menyadari bahwa masih
banyak kekurangan dan kekeliruan yang terdapat didalamnya. Oleh karena itu
kritik, dan saran dari para pembaca sangat saya butuhkan untuk penyempurnaan
makalah-makalah saya selanjutnya agar bisa lebih baik.

JAKARTA,27 desember 2016

PENULIS
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Validasi

Kata validasi berasal dari bahasa latin validus yang memiliki arti kuat dan
powerful. Kamus inggris mendefinisikan kata valid sebagai kondisi yang didukung dengan
fakta yang sebenarnya, kuat, dan tidak memiliki kelemahan atau kecacatan. Sedangkan kata
validasi sebagai membuat sesuatu menjadi valid, mengesahkan, mengkonfirmasi
membenarkan berdasarkan data-data. Kata validasi pertama kali digunakan dalam prosedur
laboratorium pada tahun 1960-an untuk menjelaskan proses yang dilakukan untuk
menunjukkan bahwa instrumen dan metode yang digunakan sesuai dengan aplikasi yang
diterapkan. Proses validasi dilakukan untuk memastikan keakuratan hasil dan meminimalisasi
kesalahan. Saat ini validasi merupakan prosedur yang penting dalam analisis. Setiap fasilitas,
instrumen, proses, dan metode harus dievaluasi melalui program perubahan kontol. Apabila
ada perubahan baik dalam hal sekecil apapun harus dilakukan revalidasi atau rekualifikasi.

Validasi Proses Aseptis dan Sterilisasi


Untuk menjamin sterilitas dari produk yang digunakan, maka proses penyiapan bahan steril,
cara sterilisasi, pengisian ke wadah secara aseptis dan pengemasan harus divalidasi.
Validasi merupakan suatu tindakan pembuktian dengan cara yang sesuai bahwa
setiap bahan, proses, prosedur, kegiatan, sistem, perlengkapan atau mekanisme yang
digunakan dalam produksi dan pengawasan akan senantiasa mencapai hasil yang diinginkan
(Voight, 1995).
Dalam pelaksanaan validitas, prinsip penetapan kadar dianggap cocok untuk
prosedur yang ditetapkan. Validitas dimaksudkan untuk mengetahui ketelitian dan ketetapan
kadar tetapi bukan mengenai penyebab dari penyimpangan yang diamati.
Apabila ketelitian dan ketepatan dari penetapan kadar tidak memuaskan maka
prosedur tersebut perlu ditinjau, dirancang kembali, direvisi, atau diganti.
Kalibrasi instrumen yang dipakai dalam pengujian hendaklah dilakukan secara
berkala untuk menjamin bahwa instrumaen tersebut senantiasa memberikan hasil
penimbangan atau pengukuran yang tepat (Anonim, 2001).
Validasi proses sterilisasi
Semua proses sterilisasi (termal, kimiawi, radiasi, dan filtrasi) dirancang untuk
menghancurkan atau mengurangi bahan pencemar mikrobiologis yang ada dalam suatu
produk. Uji resmi sterilitas suatu produk adalah suatu uji penghancur terhadap sampel
terpilih; jadi tugas membuktikan bahwa semua bagian suatu produk adalah steril harus
memakai teori probabilitas statistik (Lachman, 1989).

Kondisi aseptik dicapai jika persyaratan berikut terpenuhi:


1. Ruang kerja
Jalan masuk ke dalam ruangan yang digunakan untuk kerja aseptik, harus melalui boks yang
sekaligus mudah dibersihkan dan didisinfeksi seperti halnya ruangan yang digunakan untuk kerja
aseptik.
2. Personel
Personel yang dipercaya bekerja aseptik harus memenuhi persyaratan higienis yang sama
dengan personel yang bekerja di lalu lintas bahan makanan.
3. Proteksi Pencemaran Ulang
Bahan, sediaan dan barang harus dibedakan atas dasar kebutuhan, dilindungi dari pencemaran
ulang melalui pengemas yang terbukti dapat disterilkan dan bertahan tetap steril dan melalui
tarnsportasi bebas debu serta penyimpanan pengemas ini yang terlindung dari debu.
4. Indikator sterilisasi dan Indikator keamanan
5. Penanganan bahan sediaan dan barang yang berlainan
6. Perusakan pengotor pirogen
7. pengujian terhadap sterilitas

STERILISASI

Kontaminasi mikroba pada bahan awal hendaklah dihindarkan dan bioburdennya


hendaklah di pantau sebelum proses sterilisasi. Spesifikasi bahan awal hendaklah
mencakup persyaratan untuk mikroba bila kebutuhan ini ternyata terindikasi dari
pemantauan tersebut.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Sediaan obat dan alat kesehatan seharusnya bersifat steril, bebas dari kuman. Terutama
sediaan obat yang langsung kontak dengan mukosa atau langsung masuk ke aliran darah
seperti tetes mata, injeksi, cairan infus, salep mata, dan tablet implant. Demikian juga dengan
alat-alat kesehatan seperti kasa steril, disposible syringe, dan benang bedah. Standar ini
dibuat dengan tujuan agar tidak terjadi infeksi pada pasien yang menggunakan sediaan obat
maupun alat kesehatan tersebut akibat kontaminasi kuman pathogen. Uji sterilitas merupakan
uji yang dilakukan terhadap sediaan steril untuk mengetahui adanya mikroorganisme pada
sediaan. Sebelum uji sterilitas perlu dilakukan validasi dan monitoring. Validasi merupakan
prosedur yang didokumentasi untuk mendapatkan pencatatan, interpretasi data yang
dibutuhkan untuk menunjukkan bahwa proses akan secara konsisten memenuhi spesifikasi
yang ditetapkan. Hasil validasi disebut protap. Monitoring dapat dilakukan
dengan tiga metode fisika, kimia, dan biologi

ada tiga faktor uji sterilitas antara lain:


a. Lingkungan tes dilaksanakan harus dilakukan pada kondisi yang dapat menghindari
terjadinya kontaminasi meliputi alat, lingkungan, dan pelakunya. Selama tes dilakukan
digunakan LAF-C, adapun penggunaan zat antimikroba harus hati-hati dan antimikroba harus
dihilangkan dahulu.
b. Kualitas kultur media kondidinya harus yang sesuai untuk tempat tumbuh bagi setiap
organism yang tersisa dan harus terjamin pada culture media. Media harus subur supaya
mikroorganisme dapat tumbuh. Factor yang mempengaruhi kualitas kultur media yaitu
nutrient, kelembaban, udara, suhu, ph, cahaya, tekanan osmotic, adanya inhibitor.
c. Metode test yang dilaksanakan, factor yang mempengaruhi pengambilan jumlah sampel
tergantung pada jumlah unit per batch, volume cairan tiap wadah, metode sterilisasai, system
indicator biologis yang digunakan, persyaratn khusus.
Tetes mata adalah sediaan steril yang berupa larutan atau suspensi yang digunakan dengan
cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata dari bola mata.DOM
Martin : 880Tetes mata adalah seringkali dimasukkan ke dalam mata yang terluka atau
kecelakaan atau pembedahan dan mereka kemudian secara potensial lebih berbahaya
daripada injeksi intavena.
Larutan mata merupakan cairan steril atau larutan berminyak dari alkaloid garam-garam
alkaloid, antibotik atau bahan-bahan lain yang ditujukan untuk dimasukkan ke dalam mata.
Ketika cairan, larutan harus isotonik, larutan mata digunakan untuk antibakterial, anstetik,
midriatikum, miotik atau maksud diagnosa. Larutan ini disebut juga tetes mata dan collyria
(singular collyrium).

definisi resmi larutan untuk mata adalah larutan steril yang dicampur dan dikemas untuk
dimasukkan dalam mata. Selain steril preparat tersebut memerlukan pertimbangan yang
cermat terhadap faktor-faktor farmasi seperti kebutuhan bahan antimikroba, isotonisitas,
dapar, viskositas dan pengemasan yang cocok.

Mengapa Tetes Mata Harus Steril

Sterilisasi merupakan sesuatu yang penting. larutan mata yang dibuat dapat membawa banyak
organisme, yang paling berbahaya adalah Pseudomonas aeruginosa. infeksi mata dari
organisme ini yang dapat menyebabkan kebutaan. Ini khususnya berbahaya untuk
penggunaan produk nonsteril di dalam mata ketika kornea dibuka. bahan-bahan partikulat
dapat mengiritasi mata, ketidaknyamanan pada pasien dan metode ini tersedia untuk
pengeluarannya.

Komposisi Tetes Mata

Selain bahan obat, tetes mata dapat mengandung sejumlah bahan tambahan untuk
mempertahankan potensi dan mencegah peruraian. Bahan tambahan itu meliputi

Pengawet

Sebagaimana yang telah dikatakan, ada bahan untuk mencegah perkembangan


mikroorganisme yang mungkin terdapat selama penggunaan tetes mata. Larutan untuk tetes
mata khusus, yang paling banyak tetes mata dan yang lain menggunakan fenil merkuri nitrat,
fenil etil alcohol dan benzalkonium klorida.

Isotonisitas dengan Sekresi Lakrimal

NaCl normalnya digunakan untuk mencapai tekanan osmotik yang sesui dengan larutan tetes
mata.
Oksidasi Obat

Banyak obat mata dengan segera dioksidasi dan biasanya dalam beberapa kasus termasuk
bahan pereduksi. Natrium metasulfit dalam konsentrasi 0,1% umumnya digunakan untuk
tujuan ini.

Konsentrasi Ion Hidrogen

Butuh untuk kestabilan konsentrasi ion hidrogen, dan beberapa buffer telah digambarkan.
Sodium sitrat digunakan dalam tetes mata fenilefrin.

Bahan Pengkhelat

Ketika ion-ion dan logam berat dapat menyebabkan peruraian obat dalam larutan digunakan
bahan pengkhelat yang mengikat ion dalam kompleks organik, akan memberikan
perlindungan. Na2EDTA, satu yang paling dikenal sebagai pengkhelat.

Viskositas

Untuk menyiapkan larutan kental dengan memberi aksi yang lama pada larutan mata dengan
tetap kontak lebih lama pada permukaan mata, bahan pengental dapat digunakan,
metilselulosa 1% telah digunakan untuk tujuan ini.

Tetes mata adalah larutan berair atau larutan berminyak yang idealnya harus memiliki sifat-
sifat sebagai berikut :
1. Ia seharusnya steril ketika dihasilkan
2. Ia seharusnya bebas dari partikel-partikel asing
3. Ia seharusnya bebas dari efek mengiritasi
4. Ia seharusnya mengandung pengawet yang cocok untuk mencegah pertumbuhan dari
mikroorganisme yang dapat berbahaya yang dihasilkan selama penggunaan.
5. Jika dimungkinkan larutan berair seharusnya isotonis dengan sekresi lakrimal konsentrasi
ion hidrogen sebaliknya cocok untuk obat khusus, dan idelanya tidak terlalu jauh dari netral
6. Ia seharusnya stabil secara kimia
BAB III

PEMBAHASAN

Produk steril adalah bentuk sediaan obat dalam bentuk terbagi-bagi yang bebas
dari mikroorganisme hidup. Pada prinsipnya, yang termasuk dalam bentuk
sediaan ini antara lain sediaan parentral, preparat untuk mata dan preparat
irigasi (misalnya infus). Sediaan parentral merupakan jenis sediaan yang unik di
antara bentuk sediaan obat terbagi-bagi, karena sediaan ini disuntikkan melalui
kulit atau membran mukosa ke bagian tubuh. Karena sediaan ini mengelakkan
garis pertahanan pertama dari tubuh yang paling efisien, yaitu membran kulit
dan mukosa, maka sediaan ini harus bebas dari kontaminasi mikroba dan dari
bahan-bahan toksis lainnya, serta harus memiliki tingkat kemurnian yang tinggi.
Semua bahan dan proses yang terlibat dalam pembuatan produk ini harus dipilih
dan dirancang untuk menghilangkan semua jenis kontaminasi, apakah
kontaminasi fisik, kimia atau mikrobiologis.

Sediaan untuk mata (tetes mata maupun salep mata), meskipun tidak dimasukkan ke dalam
rongga bagian dalam tubuh, namun ditempatkan berhubungan dengan jaringan-jaringan yang
sangat peka terhadap kontaminasi. Oleh karenanya dibutuhkan standar sejenis dengan
preparat (sediaan) steril lainnya. Larutan irigasi (infus) juga memiliki standar yang sama
dengan larutan parentral lainnya, karena selama pemberian sejumlah zat dari larutan dapat
memasuki aliran darah secara langsung melalui pembuluh darah luka yang terbuka atau
membran mukosa yang rusak.

VALIDASI PROSES ASEPTIS (MEDIA FILL)

Validasi proses/pengisian aseptis dilakukan dalam kondisi semirip mungkin dengan


kondisi produksi normal, menggambarkan semua kondisi terburuk (worst case) misal:

o pergantian personil,

o frekuensi istirahat, lampu mati,

o mesin rusak dan teknisi masuk ke dalam ruang aseptis, dan


o lain-lain.

Bila proses aseptis mencakup proses pencampuran bahan sampai dengan pengisian,
maka proses simulasi mencakup seluruh proses, tangki dan wadah yang digunakan.

Sediaan tetes mata atau telinga biasanya dikemas dalam wadah plastik (buram) akan
menghambat pendeteksian pertumbuhan, maka seluruh isi wadah dituang kedalam
wadah jernih saat pengamatan.

Validasi awal dan tiap kali terjadi perubahan proses kritis, perubahan shift, alat dan
dan modifikasi sistem tata udara dilakukan 3 kali untuk tiap shift dan proses/lini.

Revalidasi dapat dilakukan 1 kali untuk tiap shift dan proses/ lini pengisian tiap 6
bulan sekali

Ketentuan Umum Dalam Pelaksanaan Validasi Proses Aseptis (Media Fill)

Frekuensi
1. Validasi Awal (Initial Validation)

Validasi Awal terdiri dari 3 bets validasi proses aseptis berurutan dengan jumlah minimum
5000 ampul. Validasi Awal harus dilakukan apabila:
ada proses baru
ada mesin baru
setelah perubahan kritis pada proses atau peralatan
setelah modifikasi kritis pada Sistem Tata Udara atau LAF filling hood

2. Revalidasi Periodik (Periodic Revalidation)

Revalidasi Periodik dilakukan tiap 6 bulan dengan 1 bets (jumlah ampul minimum 5000).

3. Keadaan Khusus

Setelah kegiatan perawatan ruangan yang besar risikonya terhadap sterilitas ruangan (contoh:
pengecatan ruangan) atau overhol mesin: Validasi Awal (dengan 3 bets berurutan) sebelum
fasilitas digunakan kembali
Kualifikasi Personil (Personnel Qualification)

1.Awal

Seorang Operator Pengisian harus memperoleh pelatihan menurut Program Pelatihan untuk
Personil Produksi Steril yang sudah ditetapkan dan pelatihan dalam pengisian validasi proses
aseptis sebanyak 3 bets berturut-turut

2. Rekualifikasi

Tiap Operator Pengisian harus melakukan proses pengisian dalam Validasi Proses
Aseptis minimum 1 kali per tahun.

Operator Pengisian harus melakukan proses pengisian dalam Validasi Proses Aseptis
tiap kali setelah intervensi perbaikan mesin oleh Operator Teknik.

3. Tindakan pada Kegagalan Kualifikasi Personil

Apabila hasil dari yang dilakukan oleh seorang Operator tidak memenuhi persyaratan, maka
Operator tersebut harus mengulang 1 kali pengisian validasi proses aseptis lagi. Apabila hasil
Validasi Proses Aseptis yang kedua juga tidak memenuhi persyaratan maka Operator tersebut
tidak diperbolehkan melakukan proses pengisian dan harus diberi pelatihan kembali. Setelah
pelatihan ulang, Operator melakukan kembali pengisian Validasi Proses Aseptis dan setelah
hasilnya memenuhi syarat, Operator tersebut baru diperbolehkan untuk melakukan kegiatan
pengisian kembali.

4. Catatan Kualifikasi Personil

Kegiatan kualifikasi personil dicatat dalam formulir di Lampiran 3 Catatan Kualifikasi


Personil Pengisian oleh Kepala Bagian Validasi.

PEMBUATAN SECARA ASEPTIS

Tujuan dari proses aseptis adalah untuk mempertahankan sterilitas produk yang dibuat dari
komponen-komponen yang masing-masing telah disterilisasi sebelumnya dengan
menggunakan salah satu cara dari metode yang ada. Kondisi operasional hendaklah dapat
mencegah kontaminasi mikroba.
Untuk menjaga sterilitas komponen dan produk selama-proses aseptis, perhatian perlu
diberikan pada :

lingkungan; personil; permukaan yang kritis; sterilisasi wadah / tutup dan prosedur
pemindahannya; waktu tunggu maksimum bagi produk sebelum pengisian ke dalam wadah
akhir; dan filter untuk sterilisasi

PROSEDUR/PELAKSANAAN MEDIA FILL

Larutan steril TSB yang sudah dibuat diinkubasikan pada suhu 20 30C selama
minimal 5 hari di dalam inkubator. Catat suhu inkubasi setiap hari. Setelah 5hari
inkubasi amati apakah larutan tetap jernih.

Bila larutan tetap jernih, lakukan pengisian sesuai Catatan Pengolahan Bets yang
telah disiapkan untuk Validasi Proses Aseptis.

Selama proses pengisian Kepala Bagian Validasi mencatat aktivitas Operator


Pengisian melalui jendela Ruang Pengisian di koridor (Kelas D).

Gunakan udara tekan yang dilewatkan melalui filter 0,2 m sebagai pengganti
penggunaan gas N2 karena dapat menghambat pertumbuhan mikroba.

Lakukan inkubasi larutan sisa pengisian (100 ml). Masukkan larutan yang tersisa pada
tubing ke dalam kolf dan inkubasikan kolf selama 14 hari pada suhu 20 30C di
dalam inkubator. Catat suhu inkubasi tiap hari.

Setelah semua ampul diisi, inkubasikan ampul selama 14 hari:

Selama proses pengisian Kepala Bagian Validasi mencatat aktivitas Operator


Pengisian melalui jendela Ruang Pengisian di koridor (Kelas D).

Gunakan udara tekan yang dilewatkan melalui filter 0,2 m sebagai pengganti
penggunaan gas N2 karena dapat menghambat pertumbuhan mikroba.
Lakukan inkubasi larutan sisa pengisian (100 ml). Masukkan larutan yang tersisa pada
tubing ke dalam kolf dan inkubasikan kolf selama 14 hari pada suhu 20 30C di
dalam inkubator. Catat suhu inkubasi tiap hari.

Setelah semua ampul diisi, inkubasikan ampul selama 14 hari:

sebelum inkubasi semua ampul dibalik balik agar seluruh permukaan


terbasahi larutan media

inkubasi 7 hari pada suhu 20 25C,

amati apakah terjadi kekeruhan, catat, balik balikkan ampul dan

inkubasikan selama 7 hari berikutnya pada suhu 30 35C

Lakukan monitoring suhu inkubasi secara kontinu dengan data logger.

Lampirkan hasil monitoring pada Catatan Pengolahan Bets.

Lakukan inspeksi visual terhadap semua ampul hasil pengisian pada hari ke-7 dan hari
ke-14 inkubasi. Amati dan catat jumlah ampul yang keruh.

Setelah seluruh ampul diinspeksi oleh Operator Inspeksi Visual, Inspektur


Pengawasan Mutu melakukan pemeriksaan AQL pada ampul hasil inspeksi tersebut
pada hari ke-7 dan hari ke-14.

Evaluasi Hasil Validasi Proses Aseptis

1. Target hendaklah dengan pertumbuhan nol dan ketentuan berikut hendaklah


diterapkan:

2. Bila mengisi kurang dari 5.000 unit, tidak boleh ditemukan unit tercemar;

3. Bila mengisi 5.000 sampai dengan 10.000 unit:

o Batas Waspada : Satu (1) unit tercemar hendaklah diikuti dengan investigasi
dan pertimbangan untuk mengulang media fill;
o Batas Bertindak : Dua (2) unit tercemar merupakan pertimbangan untuk
dilakukan validasi ulang setelah investigasi

4. Bila mengisikan lebih dari 10.000 unit:

o Batas Waspada : Satu (1) unit tercemar hendaklah dinvestigasi;

o Batas Bertindak : Dua (2) unit tercemar merupakan pertimbangan untuk


dilakukan validasi ulang setelah investigasi.

Media fill merupakan proses pembuktian bahwa sistem produksi yang digunakan dalam
pembuatan produk steril (Aseptis, khususnya) telah memenuhi semua persyaratan yang telah
ditentukan. Tentu saja hal ini memberikan keyakinan bahwa produk yang kita hasilkan betul-
betul terjamin Khasiat, Keamanan dan Kualitasnya.

Metode first line untuk produksi sediaan steril adalah metode sterilisasi akhir, bila tidak
memungkinkan dilakukan metode ini, baru dilakukan metode aseptik.

Proses aseptis adalah proses pengolahan produk steril tanpa proses sterilisasi akhir pada
produk. resiko kontaminasi metode aseptik lebih besar daripada metode sterilisasi akhir,
tahap filling dalam metode aseptik merupakan proses perlindungan pasif dari kontaminasi,
sedangkan sterilisasi akhir merupakan proses aktif yang mengeradikasi mikroorganisme pada
produk akhir, sehingga untuk menjamin suatu proses aseptis akan selalu menghasilkan
produk yang memenuhi syarat sterilitas maka dilakukan Validasi Aseptis atau Media Fill.

Validasi merupakan proses pembuktian dengan cara yang sesuai bahwa setiap bahan,
prosedur, kegiatan, sistem, perlengkapan atau mekanisme yang digunakan dalam proses
produksi dan pengawasan dapat mencapai target yang ditetapkan. Proses validasi
memberikan jaminan bahwa produk akhir secara konsisten memenuhi spesifikasi dan
persyaratan kualitas yang telah ditetapkan sebelumnya. Media fill merupakan validasi yang
perlu dilakukan untuk memberikan jaminan sterilitas produk steril.

Media fill merupakan metode pengukuran kontaminasi yang potensial terjadi dalam
keseluruhan proses produksi sediaan steril secara aseptis. Guideline FDA menyarankan tes
media fill untuk mengevaluasi overall sterility dari line produksi aseptis dan hasil tes ini
merupakan syarat kritis untuk jaminan kualitas terhadap produk. Tes media fill juga dapat
memberikan jaminan dan validasi terhadap teknik aseptik seluruh personil peracikan. Tes
media fill berupa simulasi proses untuk membuktikan bahwa produk memiliki kualitas serta
sterilitas yang konsisten, dalam tes ini, semua peralatan, bahan kemas, prosedur dan personil
yang terlibat dan digunakan dalam proses rutin disimulasikan dengan akurat, benar-benar
seperti proses produksi normal. Simulasi ini dilakukan dengan mengganti obat dengan
suatuplacebo, yang berupa media pertumbuhan bakteri.

Validasi Metode Analisis

Pembuatan kurva baku: larutan kloramfenikol baku dengan konsentrasi 10,0; 15,0;
20,0; 25,0; dan 30,0 g/mL masing - masing disuntikkan ke alat KCKT sesuai dengan
kondisi yang telah ditetapkan. Luas puncak kloramfenikol dicatat untuk tiap
konsentrasi dan dibuat kurva hubungan antara konsentrasi kloramfenikol dan luas
area. Penentuan batas deteksi dan batas kuantitasi: Batas deteksi (limit of detection /
LOD) dan batas kuantitasi (limit of quantitation / LOQ) metode penetapan kadar
kloramfenikol dengan metode KCKT dihitung secara statistik melalui garis linear dari
kurva baku. Penentuan selektivitas: selektivitas dilihat dari kromatogram. Pada puncak
kloramfenikol terpisah dan tidak ada gangguan dari puncak zat lain yang mungkin ada
dalam sampel. Uji presisi: disiapkan enam larutan baku kloramfenikol 15,0 g/mL dan
disuntikkan ke KCKT , dicatat luas area dan waktu retensi. Kemudian dihitung
koefisien variasinya. Uji akurasi: Uji ini dilakukan dengan metode addisi. Ketepatan
dihitung dengan menghitung persentase recovery Uji recovery dilakukan dengan
memasukkan masing - masing 5,0 mL tetes mata ke dalam dua labu takar 100 mL. Ke
dalam salah satu labu ditambahkan 1 mL larutan baku kloramfenikol 1000 g/mL
sedangkan labu yang lain tidak. Kemudian kedua labu takar tersebut ditepatkan
volumenya dengan fase gerak sampai tanda, dipipet kembali masing - masing sebanyak
5,0 mL dan dimasukkan ke dalam labu takar 25 mL dan ditambah fase gerak sampai
tanda. Kedua larutan tersebut diinjeksikan ke KCKT. Luas area masing-masing dicatat
kemudian dihitung perolehan kembali dengan rumus sebagai berikut:% recovery = C2-C1/
C* X 100 %, Keterangan: C1= kadar sampel, 2 = kadar sampel + baku , C* = kadar
sebenarnya Penetapan Kadar Kloramfenikol Dipipet sejumlah volume tetes mata yang
setara dengan 50 mg kloramfenikol, dimasukkan ke dalam labu takar 25 mL lalu
ditambahkan fase gerak sampai tanda. Larutan tersebut kemudian dipipet 2 mL,
dimasukkan ke dalam labu takar 25 mL dan ditambah fase gerak sampai tanda. Setelah
disaring melalui membran filter 0,5 mm, larutan diinjeksikan ke KCKT. Pekerjaan ini
diulangi tiga kali. Kadar kloramfenikol dihitung menggunakan kurva baku yang telah
dibuat.

Pada penelitian ini dilakukan validasi terhadap metode penetapan kadar kloramfenikol
dalam sediaan obat tetes mata secara KCKT. hasil validasi tersebut dapat dikatakan
bahwa metode penetapan kadar kloramfenikol dalam sediaan obat tetes mata secara
KCKT cukup validasi sehingga metode ini dapat digunakan dalam analisis rutin.

Validasi Proses

menvalidasi semua proses produksi terutama tahap-tahap yang kritis yang dilakukan oleh
tim validasi dan dilaksanakan sesuai prosedur yang telah ditetapkan serta
didokumenatsikan dengan baik. Validasi yang dilakukan antara lain : validasi instalasi,
validasi operasional, dan validasi kinerja alat. Sebelum suatu prosedur pengolahan induk
diterapkan dilakukan verifikasi terhadap setiap prosedur pelaksanaan untuk membuktikan
bahwa prosedur bersangkutan cocok untuk pelaksanaan produksi rutin dan proses
yang telah ditentukan akan senantiasa menghasilkan produk yang memenuhi spesifikasi
yang telah ditentukan. Perubahan yang berarti pada proses, peralatan dan bahan maka
dilakukan validasi ulang, untuk menjamin bahwa perubahan tersebut akan tepat
menghasilkan produk yang memenuhi spesifikasi yang telah ditentukan.

Sterilisasi terdiri dari :

Sterilisasi Cara Panas


Sterilisasi Cara Panas Basah
Sterilisasi Cara Panas Kering
Sterilisasi Cara Radiasi
Sterilisasi dengan Etilen Oksida
Sterilisasi Akhir

PROTAP STERILISASI PAKAIAN AREA BERSIH DAN PENANGANANNYA

Tujuan

Untuk mempersiapkan pakaian kerja di Ruang Steril sehingga pakaian tersebut memenuhi
persyaratan yang ditetapkan.

Ruang Lingkup

Protap ini berlaku untuk penanganan pakaian yang akan di sterilkan di Ruang Laundry dan
Sterilisasi Pakaian Steril

Tanggung Jawab

3.1 Kepala Bagian Produksi Menyiapkan, mengkaji kembali dan melatihkan Protap ini
kepada karyawan berkaitan.

3.2 Supervisor Produksi Steril Bertanggung jawab atas pelaksanaan Protap ini secara
konsisten.

Prosedur
5.1 Setelah selesai dicuci dan dikeringkan, periksa terhadap debu, pengotoran, noda serta
kerusakan.

5.2 Siapkan kantong pembungkus pakaian sesuai kebutuhan.

5.3 Masukkan ke dalam tiap kantong pembungkus komponen-komponen sebagai berikut


masing-masing satu (sepasang):

baju terusan;

penutup kepala;

penutup mulut;

penutup kaki; dan

kaca mata pelindung.

5.4 Segel kantong; tempelkan Steritape pada segel dan cantumkan tanggal dan waktu
sterilisasi.

Distribusi Asli : Manajer Pemastian Mutu Kopi

No.1 : Manajer Produksi

No.2 : Supervisor Produksi Steril

No.3 : Manajer Pengawasan Mutu

PROTAP VALIDASI PROSES ASEPTIS

Tujuan

Untuk menjelaskan cara dan frekuensi pelaksanaan validasi proses aseptis dengan metode
media fill.

Ruang Lingkup
Protap ini berlaku untuk proses pengisian produk cair secara aseptis di Bagian Steril.

3. Tanggung jawab

3.1 Manajer Pemastian Mutu bertanggung jawab untuk mengkaji dan mengesahkan Protap ini
serta untuk memeriksa dan menyetujui Protokol dan Laporan Validasi.

3.2 Manajer Produksi bertanggung jawab untuk menyiapkan, mengkaji kembali dan
melatihkan Protap ini kepada Personil terkait serta menetapkan jadwal pelaksanaan validasi
proses aseptis, memonitor kesiapan pelaksanaannya serta ikut memeriksa dan menyetujui
Protokol dan Laporan Validasi.

3.3 Kepala Bagian Validasi bertanggung jawab untuk menyusun Protokol dan menyusun
pelaksanaan pengisian pada validasi proses aseptis serta membuat Laporan Validasi.

3.4 Supervisor dan Operator Bagian Steril bertanggung jawab untuk melaksanakan dan
mendokumentasikan produksi validasi proses aseptis sesuai dengan protocol yang telah
disetujui dan jadwal yang telah ditetapkan oleh Kepala Bagian Produksi dan prosedur yang
dijelaskan di protap ini.

3.5 Manajer Teknik bertanggung jawab untuk memastikan bahwa Petugas Bagian Teknik
yang bertugas di Ruang Pengisian sudah terkualifikasi melaksanakan prosedur terkait sesuai
Protap ini.

3.6 Supervisor Laboratorium Mikrobiologi bertanggung jawab untuk pengambilan sampel Air
untuk Injeksi (WFI) dan larutan TSB, pemeriksaan mikrobiologi sesuai Protap ini.

3.7 Manajer Pengawasan Mutu bertanggung jawab untuk memeriksa, meluluskan/ menolak
hasil pengujian yang diperlukan dalam validasi proses aseptis.

Ketentuan Umum 5.1 Frekuensi

5.1.1 Validasi Awal (Initial Validation)

Validasi Awal terdiri dari 3 bets validasi proses aseptis berurutan dengan jumlah minimum
5000 ampul.
Validasi Awal harus dilakukan apabila:

- ada proses baru

- ada mesin baru

- setelah perubahan kritis pada proses atau peralatan

- setelah modifikasi kritis pada Sistem Tata Udara atau LAF filling hood

5.1.2 Revalidasi Periodik (Periodic Revalidation )

Revalidasi Periodik dilakukan tiap 6 bulan dengan 1 bets (jumlah ampul minimum 5000).

5.1.3 Keadaan Khusus

Setelah kegiatan perawatan ruangan yang besar risikonya terhadap sterilitas ruangan (contoh:
pengecatan ruangan) atau overhol mesin: Validasi Awal (dengan 3 bets berurutan) sebelum
fasilitas digunakan kembali

Selain kegiatan kualifikasi, terdapat pula kegiatan validasi yang meliputi validasi prosedur
dan validasi proses. Validasi proses merupakan validasi dalam proses pembuatan sediaan obat
yang mencakup validasi produk baru, validasi bila terjadi perubahan proses dan validasi
ulang. Validasi dibagi menjadi :

a. Validasi Prospektif : Validasi yang dilaksanakan sebelum produksi rutin dilakukan dan
sebelum produk dipasarkan.

b. Validasi KonKuren : Validasi yang dilaksanakan sambil melakukan produksi rutin untuk
dijual dan sesuai dengan protokol yang telah disiapkan dan disetujui. Bets dapat diluluskan
berdasarkan hasil serangkaian uji Pengawasan Mutu yang intensif, pengkajian kondisi
pembuatan dan persetujuan dari Pemastian Mutu. Validasi ini dilaksanakan apabila, misal :
terjadi perubahan pabrik pembuat eksipien atau perubahan mesin dengan spesifikasi yang
sama.

c. Validasi Retrospektif : Validasi proses pembuatan produk yang telah dipasarkan


dilaksanakan berdasarkan data pembuatan, pengujian dan pengawasan bets. Data 10-30 bets
produk yang dibuat dengan menggunakan pembuatan yang sama, dievaluasi keterkendalian
dan kehandalan prosesnya.

d. Validasi Pembersihan : Validasi prosedur pembersihan yang dilakukan hanya untuk


permukaan alat yang bersentuhan langsung dengan produk.

e. Validasi Ulang : Evaluasi secara berkala terhadap fasilitas, sistem, peralatan dan proses
termasuk proses pembersihan untuk mengkonfirmasi bahwa validasi masih absah. Jika tidak
ada perubahan yang signifikan dalam status validasinya, maka kajian ulang data yang
menunjukkan bahwa fasilitas, sistem, peralatan dan proses memenuhi persyaratan untuk
validasi ulang. Validasi ulang mungkin diperlukan pada kondisi seperti : perubahan sintesis
bahan aktif, perubahan komposisi produk jadi dan perubahan metode analisis.

Proses validasi yang mengalami perubahan baik terhadap bahan awal, komponen produk,
peralatan proses, lingkungan kerja (atau pabrik), metode produksi atau pengujian ataupun
perubahan yang berpengaruh pada mutu atau reprodusibilitas proses sebaiknya tersedia
prosedur secara tertulis dan didokumentasikan.

Untuk mengetahui bahwa metode analisis sesuai tujuan penggunaannya diperlukan


kegiatan validasi terhadap metode analisis. Kegiatan validasi metode analisis meliputi :

a. Uji Identifikasi dilakukan untuk memastikan identitas analit dalam sampel dengan
membandingkan karakteristik sampel terhadap baku pembanding. Misal : spectrum, profil
kromatogram, reaksi kimia dan lain-lain.

b. Uji Kuantitatif Kandungan Impuritas dan Uji Batas Impuritas dilakukan untuk
merefleksikan secara tepat karakteristik kemurnian dari sampel. Karakteristik yang berbeda
diperlukan untuk uji kuantitatif dibandingkan untuk uji batas impuritas.
c. Uji Kuantitatif zat aktif dalam sampel bahan atau obat atau komponen tertentu dalam
obat. Penetapan kadar ini untuk menentukan kadar analit dalam sampel yang menunjukkan
pengukuran komponen utama yang terkandung dalam bahan aktif. Untuk obat karakteristik
validasi yang serupa juga berlaku untuk penetapan kadar zat aktif atau komponen tertentu.
Karakteristik validasi yang sama juga dapat dilakukan untuk penetapan kadar yang berkaitan
dengan metode analisis lain (misal: uji disolusi).

Metode analisis akan menentukan karakteristik validasi yang perlu dievaluasi,


diantaranya seperti : akurasi, presisi, ripitabilitas, intermediate precision, spesifisitas, batas
deteksi, batas kuantitasi, linearitas, dan rentang.

Berdasarkan uraian tersebut diatas, baik segala bentuk aktivitas maupun sumber daya
untuk memproduksi obat yang telah direncanakan, hendaknya divalidasi agar memberikan
bukti yang keakuratannya dapat meningkatkan mutu obat. Didalam kegiatan validasi terdapat
Rencana Induk Validasi yang digunakan sebagai acuan proses validasi. Baik rincian dan hasil
dari kegiatan validasi harus didokumentasikan dengan baik untuk memudahkan dalam
menjalankan tugas dan memberi rekomendasi terhadap hasil validasi di waktu yang akan
datang. Apabila kegiatan validasi perlu diulang seperti adanya perubahan yang signifikan,
yang dapat mempengaruhi mutu obat maka serangkaian kegiatan validasi tersebut harus
terdokumentasikan

Sediaan tetes mata atau telinga biasanya dikemas dalam wadah plastik. Wadah, penetes, tutup
dan overseal (bila dipakai) dicuci dan disterilkan sesuai pada produksi rutin. Sebagai
pengganti sterilisasi dengan panas, dipakai sterilisasi dengan radiasi atau Etilen Oksida untuk
wadah dan perangkatnya. Wadah plastik yang buram akan menghambat pendeteksian
pertumbuhan, dalam hal ini seluruh isi wadah hendaklah dituang ke dalam wadah jernih saat
pengamatan.

Penetapan Kadar kloramfenikol dalam Sediaan Tetes mata

Penetapan kadar kloramfenikol dalam tetes mata dapat dilakukan dengan menggunakan data
tinggi puncak dan luas puncak/luas area. Dalam penelitian ini digunakan perhitungan
menggunakan data luas area, sebab luas area kromatogram proporsional dengan konsentrasi
analit (Mulya & Suharman, 1995).

sediaan tetes mata tersebut memenuhi persyaratan yang tertera pada Farmakope Indonesia
Edisi IV tentang yaitu tetes mata kloramfenikol mengandung kloramfenikol tidak kurang dari
90% dan tidak lebih dari 130% dari jumlah yang tertera pada etiket.

Wadah dan penyimpanan tetes mata kloramfenikol dalam wadah tertutup rapat dan disimpan
di lemari pendingin sampai diserahkan (Depkes RI, 1995).

Penelitian yang dilakukan oleh Soviyatun (2014) tentang validasi metode KCKT untuk
penetapan kadar kloramfenikol dalam sediaan tetes telinga menggunakan fase diam C18 dan
fase gerak campuran air-metanol-asam asetat glasial dengan perbandingan 55:45:0,1 v/v
dengan deteksi UV pada 280 nm. Penelitian menghasilkan metode validasi yang memenuhi
syarat dan hasil penetapan kadar kloramfenikol memenuhi persyaratan kadar yang tertera
dalam FI edisi IV (1995). Tetes mata kloramfenikol dijual dengan nama dagang colme,
erlamicetin, spersanikol dan reco .

Beberapa bagian dari instrumen KCKT terdiri dari : Wadah Fase Gerak Pompa Injektor
Kolom Detektor Fase Gerak dan fase diam.

Validasi

Validasi metode analisis dilakukan untuk menjamin bahwa prosedur uji yang
dilakukan memenuhi standar yang dapat diterima dan sesuai dengan tujuan
yang telah ditetapkan (Lister, 2005) yaitu akurat, spesifik, reprodusibel, dan
tahan pada kisaran analit yang akan dianalisis. Suatu metode analisis harus
divalidasi untuk melakukan verifikasi bahwa parameter-parameter kinerjanya
cukup mampu untuk mengatasi problem analisis (Harmita, 2004).

Beberapa parameter analisis dalam validasi metode analisis diuraikan dan


didefinisikan sebagai berikut :

a. Presisi (ketelitian)

b. Akurasi (ketepatan)
c. Linieritas

d. Selektivitas

e. Sensitivitas

Sediaan Tetes Mata

Tetes mata adalah larutan steril yang dicampur dan dikemas untuk dimasukkan ke dalam
mata. Selain steril, preparat tersebut memerlukan pertimbangan yang cermat terhadap faktor-
faktor farmasi seperti kebutuhan bahan antimikroba, isotonisitas, dapar, viskositas dan
pengemasan yang cocok (Ansel, 1989). Dosis efektif dari pengobatan mata dapat berbeda-
beda dengan kekuatan obat yang diberikan; volume yang dipakai, lamanya pengobatan yang
berhubungan dengan permukaan mata dan frekuensi pemberian (Ansel, 1989).

Obat tetes mata biasanya dimaksudkan untuk efek lokal pada pengobatan bagian permukaan
mata atau pada bagian dalamnya, dimana yang paling sering dipakai adalah larutan dalam air.
Pada umumnya obat mata diberikan pada volume yang kecil, karena kapasitas mata untuk
menahan atau menyimpan cairan terbatas. Volume sediaan cair yang lebih besar dapat
digunakan untuk menyegarkan atau mencuci mata (Ansel, 1989).

Volume normal air mata dalam mata adalah 7 l. Dimana mata yang tidak berkedip dapat
memuat paling banyak 30 l cairan, sedangkan mata yang berkedip hanya dapat menyimpan
10 l cairan. Cairan yang berlebih, baik dari produksi secara normal maupun yang
ditambahkan dari luar, dengan cepat dialirkan ke mata. Ukuran tiap tetes yang dimasukkan ke
dalam larutan obat biasanya 50 l (berdasarkan 20 tetes/ml), jadi tetesan yang dimasukkan
kebanyakan akan hilang. Volume yang ideal dari larutan obat untuk dipakai, berdasarkan
kapasitas mata yaitu 5-10 l. Karena dosis mikroliter dari penetes mata biasanya tidak ada
atau tidak dipakai oleh pasien, hilangnya obat yang dimasukkan penetes mata standar
merupakan hal yang biasa. Jika diinginkan terapi dengan tetesan beberapa kali, dianjurkan
pemberiannya diulang setiap 5 menit. Hal ini memungkinkan penumpukan obat di sudut.
Kadang-kadang pemakaian larutan untuk mata dengan konsentrasi obat lebih besar dapat
digantikan untuk pengobatan dengan tetesan yang berulang kali dari larutan yang lebih encer
(Ansel, 1989).
1. Validasi metode penetapan kadar kloramfenikol menggunakan KCKT dengan fase diam
C18 dan fase gerak berupa campuran air:metanol:asam asetal glasial (40:60:0,1 v/v) dapat
dilakukan.

2. Uji validasi pada metode penetapan kadar kloramfenikol menggunakan KCKT memenuhi
syarat presisi, akurasi, selektivitas, linieritas dan sensitivitas.

3. Metode yang sudah divalidasi dapat diaplikasikan untuk penetapan kadar kloramfenikol
dalam sediaan tetes mata memenuhi persyaratan kadar menurut Farmakope Indonesia Edisi
IV tahun 1995

BAB IV

PENUTUP

KESIMPULAN

Validasi Proses
menvalidasi semua proses produksi terutama tahap-tahap yang kritis yang dilakukan oleh
tim validasi dan dilaksanakan sesuai prosedur yang telah ditetapkan serta
didokumenatsikan dengan baik. Validasi yang dilakukan antara lain : validasi instalasi,
validasi operasional, dan validasi kinerja alat. Sebelum suatu prosedur pengolahan induk
diterapkan dilakukan verifikasi terhadap setiap prosedur pelaksanaan untuk membuktikan
bahwa prosedur bersangkutan cocok untuk pelaksanaan produksi rutin dan proses
yang telah ditentukan akan senantiasa menghasilkan produk yang memenuhi spesifikasi
yang telah ditentukan. Perubahan yang berarti pada proses, peralatan dan bahan maka
dilakukan validasi ulang, untuk menjamin bahwa perubahan tersebut akan tepat
menghasilkan produk yang memenuhi spesifikasi yang telah ditentukan.

Sediaan Tetes Mata

Tetes mata adalah larutan steril yang dicampur dan dikemas untuk dimasukkan ke dalam
mata. Selain steril, preparat tersebut memerlukan pertimbangan yang cermat terhadap faktor-
faktor farmasi seperti kebutuhan bahan antimikroba, isotonisitas, dapar, viskositas dan
pengemasan yang cocok (Ansel, 1989). Dosis efektif dari pengobatan mata dapat berbeda-
beda dengan kekuatan obat yang diberikan; volume yang dipakai, lamanya pengobatan yang
berhubungan dengan permukaan mata dan frekuensi pemberian (Ansel, 1989).

DAFTAR PUSTAKA

Ditjen POM, (1979), Farmakope Indonesia, Edisi III, Depkes RI, Jakarta.

Ditjen POM, (1995), Farmakope Indonesia, Edisi IV, Depkes RI, Jakarta.
Parrot, L.E., (1971), Pharmaceutical Technology Fundamental Pharmaceutics, Burgess
Publishing Co, USA.

Jenkins, G.L., (1969), Scovilles:The Art of Compounding, Burgess Publishing Co, USA.

Sprowl, J.B., (1970), Prescription Pharmacy, 2nd Edition, JB Lipicant Co, USA.

Gennaro, A.R., (1998), Remingtons Pharmaceutical Science, 18th Edition, Marck


Publishing Co, Easton

Lachman, L, et all, (1986), The Theory and Practise of Industrial Pharmacy, Third Edition,
Lea and Febiger, Philadelphia.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995.

Farmakope Indonesia Ed.IV. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Gunawan, I., 1994, Metode Validasi Pada Analisis Kimia, Pendidikan Kelanjutan Apoteker,
Surabaya : Fakultas Farmasi Universitas Airlangga Mulya, M. & Suharman, 1995, Analisis
Instrumental, Surabaya, Airlangga University Press.

http://farmasiblogku.blogspot.co.id/2010/05/validasi-dan-proses-aseptis.html

bangkitlahapotekerindonesia.blogspot.com/2012/12/kualifikasi-dan-validasi_2.ht