Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

MANAJEMEN AKUAKULTUR TAWAR


BUDIDAYA IKAN HIAS AIR TAWAR DALAM SISTEM RESIRKULASI

Oleh:
HALIMI
NIM. G1B114213

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN
BANJARBARU
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan

hidayahnya penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini disusun untuk

memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Akuakultur Tawar.

Dalam pembuatan makalah ini telah penulis usahakan semaksimal mungkin dan

tentunya dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat berjalan dengan lancar. Untuk

itu penulis tidak lupa menyampaikan bayak terima kasih kepada semua pihak yang telah

membantu dalam pembuatan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari sempurna,

baik dari segi penyusunan, bahasan, ataupun penulisannya. Oleh karena itu penulis

mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun, khususnya dari dosen mata

kuliah guna menjadi acuan dalam bekal pengalaman bagi penulis untuk lebih baik di

masa yang akan datang.

Akhirnya penulis mengharapkan semoga dari makalah ini dapat diambil hikmah

dan manfaatnya sehingga dapat memberikan pengetahuan dan informasi terhadap

pembaca.

Banjarbaru, 2 April 2017

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.........................................................................................................i

DAFTAR ISI.....................................................................................................................ii

BAB I. PENDAHULUAN................................................................................................1

A. Latar Belakang..........................................................................................................1

B. Tujuan........................................................................................................................2

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA......................................................................................3

A. Ikan Hias...................................................................................................................3

B. Sistem Resirkulasi.....................................................................................................3

BAB III. PEMBAHASAN................................................................................................5

A. Sumber Air................................................................................................................5

B. Wadah Budidaya.......................................................................................................5

C. Filter Air....................................................................................................................6

D. Jenis-Jenis Media Filter............................................................................................6

E. Jenis-Jenis Filter......................................................................................................11

BAB IV. PENUTUP........................................................................................................17

A. Kesimpulan.............................................................................................................17

B. Saran........................................................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ikan hias merupakan salah satu komoditas perikanan yang menjadi komoditas

perdagangan yang potensial di dalam maupun di luar negeri. Ikan hias dapat dijadikan

sebagai sumber pendapatan devisa bagi negara. Indonesia merupakan salah satu negara

terkaya akan keanekaragaman jenis ikan hias dibandingkan dengan negara penghasil

ikan hias lainnya. Berdasarkan Pusat Data, Statistik dan Informasi Sekretariat Jenderal

Kementerian Kelautan dan Perikanan, kontribusi ikan hias air laut terhadap nilai ekspor

di Indonesia mencapai 61,8% dari US$ 13.262.362 (KKP, 2012 dalam Suroto, 2013).

Indonesia yang beriklim tropis sangat cocok untuk budidaya berbagai jenis ikan

hias air tawar dan memungkinkan dapat berproduksi sepanjang tahun. Sumber daya

alamnya mendukung, yaitu tersedianya lahan yang luas, surnber air yang melimpah dan

masih cukup banyak pakan alami. Dilihat dari jumlah penduduk Indonesia yang menuut

hasil sensus Badan Pusat Statistik saat ini berjumlah lebih dari 200 juta jiwa, masih

memungkinkan banyak diserapnya tenaga kerja dalam sektor ini dan dapat membuka

kesempatan kerja (Purnamasari, 2003).

Budidaya ikan hias dapat memberikan beberapa keuntungan bagi pembudidaya

antara lain budidaya ikan hias dapat dilakukan di lahan yang sempit seperti wadah

budidaya atau kolam-kolam kecil juga memiliki harga jual relatif tinggi, dipasarkan

secara internasional maupun domestik. Ikan hias yang baik secara kualitas adalah yang

tahan terhadap serangan penyakit dan tahan terhadap perubahan kualitas air. Pada

umumnya, para pembudidaya ikan hias di Indonesia dalam kegiatan budidaya hanya

berdasarkan pengalaman dan ketekunan. Oleh karena itu untuk memenuhi kebutuhan

pasar maka perlu dikembangkan upaya-upaya yang tepat sehingga dapat menghasilkan

1
ikan hias yang baik secara kualitas maupun kuantitas. Menjaga kualitas air dalam media

pemeliharaan sanagat penting dilakukan untuk mendapatkan ikan hias yang baik.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kualitas air tetap baik

adalah dengan sistem resirkulasi, makalah ini akan membahas mengenai pemeliharaan

ikan hias air tawar dalam sistem resirkulasi.

B. Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah

Manajemen Akuakultur Tawar dan untuk memberikan informasi mengenai budidaya

ikan hias air tawar dalam sistem resirkulasi dari beberapa literatur.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Ikan Hias

Ikan hias adalah jenis ikan baik yang berhabitat di air tawar maupun di laut yang

dipelihara bukan untuk konsumsi melainkan untuk memperindah taman atau ruang

tamu. Ikan hias air tawar adalah jenis ikan hias yang habitatnya di air tawar.

Pemeliharaan ikan hias air tawar biasanya di wadah budidaya atau di kolam tergantung

pada tujuan pemeliharaan. Ikan yang dipelihara untuk kesenangan biasanya ditempatkan

di wadah budidaya, sedangkan ikan yang dipeliharan dengan tujuan mendapat

keuntungan dari hasil budidaya biasanya ditempatkan di kolam. Jenis ikan yang

dipelihara untuk kesenangan biasanya tergantung selera pemilik, namun ikan yang

dipelihara untuk bisnis biasanya tergantung pada selera pasar dan harga. Ikan- ikan hias

ini dipelihara untuk kesenangan, oleh karena itu bentuk, warna, ukuran, keserasian, dan

kebiasaannya benar-benar harus diperhatikan. Hampir 75% pasokan ikan hias air tawar

di dunia berasal dari Indonesia, dan sekurang-kurangnya 363 jenis ikan hias air tawar

dari Indonesia telah diekspor ke berbagai negara di dunia (Riftiani, 2016).

Indonesia kaya akan keanekaragaman spesies ikan hias. Indonesia memiliki 400

spesies ikan air tawar dari 1.100 jenis ikan hias air tawar yang ada di dunia1 . Beberapa

ikan hias air tawar yang telah berhasil dibudidayakan di Indonesia antara lain adalah

Angelfish (Pterophyllum scalare), Blackghost (Apteronotus albifrons), Diamond Tetra

(Moenkhausia pittieri), False Chocolate Doradid (Platydoras armatulus), Leopard

Ctenopoma (Ctenopoma acutirostre), Rasbora Galaxy (Rasbora pauciperforata), White-

Spotted Doradid (Agamyxis pectinifrons) (Harmini, 2011).

3
B. Sistem Resirkulasi

Sistem resirkulasi merupakan sistem yang memanfaatkan kembali air yang

sudah

digunakan dengan cara memutar air secara terus-menerus melalui perantara sebuah filter

atau ke dalam wadah sehingga sistem ini bersifat hemat air, oleh karena itu sistem ini

merupakan salah satu alternatif model budidaya yang memanfaatkan air secara berulang

dan berguna untuk menjaga kualitas air. Recirculation Aquaculture System (RAS)

merupakan teknik budidaya yang menggunakan teknik akuakultur dengan kepadatan

tinggi di dalam ruang tertutup (indoor), serta kondisi lingkungan yang terkontrol

sehingga mampu meningkatkan produksi ikan pada lahan dan air yang terbatas (Syazili,

2014).

Menurut Samsundari & Wirawan (2013) sistem resirkulasi akuakulktur

(Recirculation Aquaculture System) merupakan sistem yang memanfaatkan ulang air

yang telah digunakan dengan meresirkulasinya melewati sebuah filter sehingga sistem

ini bersifat hemat air. Filter di dalam sistem ini berfungsi mekanis untuk menjernihkan

air dan berfungsi biologis untuk menetralisasi senyawa amonia yang toksik menjadi

senyawa nitrat yang kurang toksik dalam suatu proses yang disebut nitrifikasi. Berhasil

tidaknya budidaya ikan di dalam sistem resirkulasi sangat ditentukan oleh baik tidaknya

fungsi nitrifikasi di dalam sistem tersebut.

4
BAB III
PEMBAHASAN

Budidaya ikan hias air tawar dalam sistem resirkulasi memerlukan beberapa

komponen yaitu sumber air (kualitas dan kuantitas), sumber listrik, wadah

pemeliharaan, wadah media filter, media filter, mesin pompa, mesin aerasi, saringan

inlet dan saluran air (pipa atau selang).

A. Sumber Air

Ikan hias mempunyai kemampuan hidup pada lingkungan yang beragam.

Lingkungan hidup ikan yang sangat mempengaruhi adalah air, suhu, derajat keasaman

(PH), kandungan oksigen terlarut dan kecerahan. Untuk membudidayakan ikan hias

haruslah sesuai dengan kondisi lingkungan air disekitar kita. Lingkungan air yang ideal

bagi ikan hias rata rata adalah untuk suhu air 24 - 30C, pH 6 7, oksigen terlarut > 3

ppm dan kecerahan air 30 60 cm (Riftiani, 2016). Sumber air untuk budidayakan hias

antara lain berasal dari air tanah, air sungai dan air PAM. Jenis jenis air tersebut harus

diendapkan dahulu minimal 12 24 jam sebelum dipakai agar kandungan oksigen

terlarutmya cukup dan gas gas yang lainnya hilang. Untuk membuat pH yang sesuai

dengan kehidupan ikan hias dapat di lakukan dengan memberikan kapur pertanian atau

kapur bordo dengan dosis secukupnya bila terlalu asam atau basa.

B. Wadah Budidaya

Wadah budidaya yang sering digunakan untuk ikan hias adalah wadah budidaya,

kolam, bak semen, kolam terpal, kolam plastik, atau bak fiber glass dengan ukuran yang

beragam. Selain itu juga dapat di manfaatkan barang barang bekas yang tidak bocor

dan dapat ditimbal dengan ukuran dan diameter yang beragam ukurannya. Wadah

pembudidayaan ikan hias ini terdiri dari wadah perawatan induk, pemijihan, penetasan

telur, pendederan, pembesaran dan penampungan hasil. Tetapi wadah yang digunakan

5
tergantung dari jenis ikan dan yang utama adalah tergantung dari luas lahan dan modal

yang dimiliki.

C. Filter Air

Filter adalah alat yang digunakan untuk menyaring air dengan tujuan

memperbaiki kualitas air agar bisa digunakan kembali, filter berfungsi mekanis untuk

menjernihkan air dan berfungsi biologis untuk menetralisasi senyawa amonia yang

toksik menjadi senyawa nitrat yang kurang toksik dalam suatu proses yang disebut

nitrifikasi, filter dapat melakukan fungsinya dengan tiga cara yaitu menyerap, berikatan,

dan pertukaran ion. Serapan merupakan proses tertangkapnya suatu partikel ke dalam

stuktur media akibat dari pori-pori yang dimilikinya. Suatu partikel menempel pada

suatu permukaan yang disebabkan adanya perbedaan muatan lemah di antara dua benda,

dinamakan dengan proses adsorpsi. Sedangkan pertukaran ion adalah proses dimana

ion-ion yang terjerap pada suatu permukaan filter dengan ion-ion lain yang berada

dalam air. Media filter yang dapat digunakan seperti zeolit, arang, dan pecahan karang .

Filter berfungsi untuk menyaring kotoran, baik secara biologi, kimia maupun

fisika. Sistem filtrasi yang biasa digunakkan terdiri dari filter mekanik, kimia, biologi

dan pecahan karang (gravel).

D. Jenis-Jenis Media Filter

Menurut Priono & Satyani (2012) jenis-jenis media filter berdasarkan fungsinya

dalah sebagai berikut:

a. Filter Mekanis/Fisik

Sesuai dengan namanya, filter ini bekerjanya secara mekanis sehingga fungsinya

hanya menyaring kotoran, sisa pakan, debu, dan koloid yang berada di dalam air

budidaya. Material filter mekanis adalah spons, ijuk, atau serat kapas. Filter mekanis

pada umumnya dapat dikonstruksikan, baik sebagai filter internal maupun filter

6
eksternal. Dalam penggunaannya, filter ini perlu dicuci setiap periode waktu tertentu,

misalnya dua hari atau seminggu sekali. Filter mekanis dapat digunakan sebagai

prafilter, yaitu filter awal sebelum air masuk ke proses filter biologi atau kimia. Hal ini

disebabkan partikel besar seperti debu dan koloid tidak dapat atau sulit terproses, baik

secara kimia maupun biologi. Terdapat filter mekanis jenis tertentu apabila sudah lama

pemakainnya akan dapat berfungsi sebagai filter biologi.

b. Filter Kimia

Bentuk filter jenis ini berupa absorben atau bahan kimia penyerap maupun

pengikat sisa metabolit beracun yang ada dalam air. Filter kimia digunakan pada kondisi

tertentu dengan reaksi cepat atau memineralisasi substansi organik dengan cepat.

Berbeda dengan filter biologi yang dapat bertahan lama, daya kerja dan batas aktif filter

ini sangat tergantung pada material yang digunakan dan kapasitas daya serapnya. Ada

beberapa bahan yang berfungsi sebagai filter kimia, di antaranya ialah arang aktif, ozon,

dan sinar ultraviolet, resin, zeolit, serta peat, penjelasannya sebagai berikut:

1. Arang aktif atau karbon aktif merupakan bahan berspektrum absorbsi yang luas.

Dalam bentuk butiran (granula) atau tepung (powder) merupakan tipe dari filter

fisika kimia (mekanis dan kimia). Karbon aktif meniadakan warna (discoloration),

fosfat, klorin, kloramin, logam berat, dan berbagai bahan beracun dengan berbagai

tingkatan. Bahan ini memang sangat ideal untuk prafilter, terutama menyingkirkan

racun pada air minum (PAM). Namun, karbon aktif tidak dapat menyerap atau

menyingkirkan amoniak, nitrit atau nitrat. Oleh karena itu, karbon aktif tidak cocok

digunakan sebagai filter biologi. Daya aktif (life span) karbon umumnya hanya

beberapa jam atau beberapa hari saja sehingga perlu sering diganti. Itulah sebabnya

penggunaan karbon ini sebagai media filter untuk jangka lama tidak tepat. Bahan

arang aktif ini pun kurang cocok untuk air tawar karena daya serap mineralnya

7
sangat tinggi sehingga mineral dalam air cepat habis. Dibanding dengan air tawar,

pada penggunaan di air laut arang aktif ini akan lebih bermanfaat dan efektif.
2. Ozon (O3) dan sinar ultraviolet biasanya digunakan sebagai desinfektan untuk

memberantas mikroorganisme patogen pada ikan seperti virus, bakteri, jamur, dan

protozoa. Penggunaan ozon pun dapat memecah substansi amoniak yang sifatnya

beracun menjadi substansi tidak beracun (nitrat). Ozon dibuat dengan menggunakan

ozonator yang dialiri udara beroksigen. Alat ini mengubah oksigen menjadi ozon dan

dialirkan ke dalam air pemeliharaan ikan. Sementara sinar ultraviolet dibuat dengan

menggunakan lampu neon berwarna ungu (violet). Lampu neon ini dipasang di atas

wadah budidaya. Sinar ungu yang masuk ke air berfungsi sebagai desinfektan.

Dengan menggunakan ozon atau sinar ultraviolet, ikan akan tercegah dari serangan

penyakit. Sumber penyakit yang terkena ozon atau sinar ultraviolet akan mati. Sistem

ini memang jarang digunakan, biasanya hanya untuk wadah budidaya pajangan,

terutama untuk ikan hias laut. Saat ini mulai ada peternak diskus yang

menggunakannya. Penyebab ozon jarang digunakan adalah karena harganya mahal,

penerapannya pun harus hati-hati. Kadar ozon harus pas, kalau terlalu besar, insang

ikan akan rusak. Sebaliknya kalau terlalu sedikit, penggunaannya tidak efektif. Selain

itu, kalau terkena paparan ozon orang bisa sakit kepala dan mual. Sedangkan,

penggunaan ultraviolet (UV) hanya efektif pada air jernih. Bila digunakan pada air

keruh, daya desinfektannya hanya dapat menembus beberapa sentimeter saja dari

permukaan air. Sinar ini pun memiliki pengaruh pada manusia. Kalau sinar

ultraviolet terkena kulit manusia, dapat menyebabkan kanker kulit dan bila terpapar

ke mata, jaringan mata dapat mengalami kerusakan. Oleh karena itu, wadah budidaya

yang dipasangi lampu UV biasanya ditutup rapat.


3. Resin dapat dibandingkan dengan magnet yang bekerja sebagai penarik substansi

terlarut seperti koloid dan substansi spesifik seperti amoniak dan nitrat. Sebagai

8
media filter, resin akan menarik seluruh nitrat. Ada berbagai tipe resin yang dapat

mengikat berbagai jenis substansi. Penggunaannya memang cukup banyak. Hanya

saja, kapasitas resin sangat terbatas. Bila sudah jenuh, resin dapat dicuci dengan air

garam. Untuk itu, sangat dituntut kerajinan mencucinya.


4. Zeolit sangat baik digunakan sebagai absorben amoniak dengan aliran air cukup.

Namun, zeolit ini tidak efektif untuk penggunaan di air laut. Ada dua macam zeolit

yang dapat digunakan, yaitu zeolit alam dan sintetis. Zeolit sintetis banyak

diperjualbelikan dalam bentuk bola-bola disebut zeoball. Seperti halnya resin,

penggunaan zeolit pun akan mencapai tingkat kejenuhan, sehingga perlu ada

pengontrolan dan penjadwalan pencucian agar daya kerjanya tetap baik. Akan lebih

baik lagi penggantian secara teratur agar kesehatan ikan tetap terjamin.
5. Peat merupakan bahan filter buatan Kanada dan Jerman Utara. Bahan ini sangat

membantu banyak akuaris di dunia karena substansinya sangat bagus dan

memberikan pengaruh positif terhadap air pemeliharaan ikan. Bahan peat

mengandung tanin, fulvin, dan asam humus (humic acid) sehingga bekerja mereduksi

atau menurunkan pH dengan cara menukar ion secara alami, mengurangi kandungan

karbonat, serta mengikat logam berat dan bahan racun dalam air. Senyawa aktif peat

juga terdapat dalam air habitat asli diskus. Oleh karena itu, bahan ini sangat baik

digunakan dalam pemeliharaan diskus. Dengan peat air akan berubah menjadi

berwarna, tetapi akan sangat baik bagi ikan karena warna badannya akan menjadi

cemerlang. Selain itu, juga dapat merangsang ikan yang sudah lama tidak memijah

menjadi mau memijah.

c. Filter Biologi

Filter biologi berfungsi sebagai pengurai senyawa nitrogen yang beracun

menjadi senyawa tidak beracun melalui proses nitrifikasi dan nitratasi. Proses ini

dilakukan oleh bakteri perombak. Material filter dapat berupa kerikil kecil, pasir kasar,

9
serat gelas, atau spons. Filter biologi sebaiknya dibuat dengan aliran atau arus yang

sedikit lambat, sehingga akan memberikan kesempatan bagi bakteri untuk lebih banyak

bekerja optimal yaitu merombak metabolit sehingga fungsi filter akan lebih baik.

Pertumbuhan bakteri sangat dipengaruhi oleh suhu dan pH. Nilai optimalnya berada

pada pH 7,0-7,5 dan suhu 28oC-30C. Pada kondisi di luar nilai pH dan suhu tersebut

maka bakteri tidak dapat bekerja optimal sehingga efektivitas dari filter pun menurun.

Kebanyakan ikan hias air tawar suhu optimalnya berada di bawah suhu tersebut yaitu

antara 22C-27C maka tentunya tenaga filter juga akan lebih lambat bekerja. Oleh

karena itu, penggunaan filter kimia atau absorben seperti resin, zeolit maupun karbon

aktif bisa lebih baik walaupun harus lebih sering dilakukan penggantian air. Efektivitas

filter biologi juga tergantung pada waktu untuk tumbuh dan bekerjanya bakteri secara

optimal, yaitu sekitar 15 hari sampai enam minggu sejak dibuat. Sebagai tanda kalau

bakteri sudah tumbuh ialah air akan menjadi jernih dan baunya segar. Filter ini

umumnya akan stabil dalam waktu enam bulan, tergantung keseimbangan ukuran filter

dan jumlah ikan di dalamnya. Apabila ingin bakteri tumbuh dengan cepat maka

inokulasi bakteri pun dapat dilakukan, yaitu dengan mengalirkan atau memberi air lama

atau air dari wadah pemeliharaan ikan yang lain yang sudah ada bakterinya. Pada

kondisi yang terlalu banyak amoniak dan nitrit akibat terlalu padatnya ikan atau filter

yang terlalu kecil maka filter akan cepat jenuh sehingga bakteri tidak mampu bekerja

maksimal. Dengan demikian, filter tidak efektif lagi dan air tetap saja tidak aman untuk

ikan, penggantian air amat diperlukan.

E. Jenis-Jenis Filter

Jenis-jenis filter dibedakan berdasarkan tempat peletakan dan mesin yang

digunakannya, beberapa jenis filter yang umum digunakan diantaranya sebagai berikut:

a. Filter Internal

10
Filter internal yaitu filter air yang bekerja serta diletakkan di dalam wadah

budidaya baik itu menggantung, di tempel pada dinding wadah budidaya atau di sudut

wadah budidaya, di atas subtract atau di bawah substrat. Pada dasarnya adalah filter ini

ditenggelamkan di air serta bekerja di air. Semaakin besar ukuran filter maka kekuatan

filterasi mekanis, kimia serta biologisnya akan semakin besar juga lantaran mempunyai

kompartemen yang lebih.

Beberapa filter yang menggunakan prinsip internal filter diantaranya sebagai

berikut:

1. Power internal filter

Filter jenis ini diletakkan di dalam air wadah budidaya langsung. cara kerja filter

ini umumnya menerapkan metode penyaringan mekanis dan biologis saja yaitu dengan

menggunakan busa didalamnya. Penyaringan biologis di sistem internal filter ini di

lakukan oleh bakteri-bakteri pengurai yang akan tumbuh pada ronga ronga busa.

Gambar 1. Cara Kerja Internal Filter

(sumber: https://goo.gl/h8QdRD)

Filter jenis ini tidak cocok untuk ikan- ikan dengan ukuran kecil dan untuk

pembenihan karena ikan kecil akan tersedot kedalam filter, kotoran akan cepat penuh

di dalam filter sehingga harus sering dibersihkan, dan air cepat berubah warna karena

tidak adanya media kimiawi seperti karbon aktif.

2. Sponge Filter

11
Filter ini merupakan internal filter yang hanya menggunakan spons saja sebagai

penyaringan sampai- sampai di juluki sponge filter. karena menggunakan spons saja

metode penyaringan jenis filter ini menggunakan metode mekanis dan biologis yaitu

penguraian oleh bakteri yang berkoloni di dalam ronga- ronga spons. Tenaga yang

digunakan untuk mendorong air masuk kedalam spons adalah dengan sistem airlift

pump yaitu menggunakan mesin penghasil gelembung udara (aerator atau blower).

Gambar 2. Cara kerja Sponge Filter

3. Undergravel Filter

Sesuai dengan namanya filter "under gravel" adalah sebuah filter yang terletak

dibawah lapisan "gravel" (kerikil, pasir) di dasar wadah budidaya. Konstruksinya

terdiri dari lapisan bahan anti karat (plastik) berlubang dengan kaki penompang

sehingga tercipta ruangan bebas dibawahnya untuk memungkinkan air bersih

mengalir. Disalah satu sudutnya (atau lebih) terdapat pipa keluaran untuk

mengembalikan air hasil filtrasi kedalam wadah budidaya.

Gambar 3. Cara Kerja Undergravel Filter

12
(sumber: http://o-fish.com/Filter/filter_ugf.php)

Gambar 3 menunjukkan mekanisme kerja sebuah filter undergravel. Dalam hal

ini air dipaksa untuk menembus lapisan gravel pada dasar wadah budidaya dengan

bantuan head pump atau aerator, kemudian air tersebut dikembalikan ke dalam wadah

budidaya. Pada saat air melalui gravel, air mengalami setidaknya dua proses filtrasi,

yaitu mekanik, melalui pori-pori efektif lapisan gravel, dan biologi, melalui kontak air

dengan bakteri pengurai amonia dan nitrit yang hidup pada permukaan gravel.

Filtrasi biologi memegang peranan utama dalam sistem filter ini.

b. Filter External

Semua filter eksternal dipasang di luar wadah budidaya serta terpisah dengan air

dalam wadah budidaya hingga sistem filtrasinya berjalan di luar wadah budidaya. Rata-

rata keuntungan filter type ini adalah perawatannya yang mudah lantaran tidak

mengganggu habitat dalam wadah budidaya. Diluar itu juga ruangan dalam wadah

budidaya dapat lebih luas lantaran penempatannya di luar wadah budidaya serta

pemandangan dalam wadah budidaya tak terganggu oleh penampilan filter.

Beberapa filter yang menggunakan prinsip external filter diantaranya sebagai

berikut:

1. Filter atas

Filter atas ini merupakan filter yang paling populer di Indonesia, menggunakan

pompa air yang diletakkan di dalam wadah budidaya yang fungsinya untuk

13
mengalirkan air ke dalam box filter yang diletakkan diatas wadah budidaya dan

selanjutnya air akan jatuh dan kembali ke dalam wadah budidaya. Hasil filtrasi dari

filter jenis ini sangat bagus karena Umumnya filter jenis ini sudah menggunakan 3

sistem filtrasi yaitu mekanis: busa kasar & halus, biologis: bakteri yang tinggal di

rongga- rongga spon/ busa dan bioball dan kimiawi: beruba karbon aktif dan zeolit.

Gambar 4. Filter Atas (Top Filter)

(sumber: https://goo.gl/h8QdRD)

2. Filter HOB

Filter ini memakai tenaga kipas yang digerakkan oleh motor listrik untuk

menarik air dari wadah budidaya menuju media filter dalam kotak filter lalu

mendorong air yang telah terfilter kembali dalam wadah budidaya hingga dimaksud

Power Filter dan karena selalu dipasang di belakang wadah budidaya dan

menggantung jadi juga di kenal dengan Hang On Back Filter atau disingkat HOB

Filter.

Filter ini dapat mengaplikasikan tiga prinsip filtrasi yaitu mekanis, biologis serta

kimia. Dengan cara mekanis lantaran air ditinggalkan pada media saringan, serta

dengan cara biologis lantaran dalam filter ada media perkembangan bakteri, serta

dengan cara kimia lantaran dalam kotak filter ada katridge yang memiliki kandungan

karbon aktif.

Gambar 5. Cara Kerja Filter HOB

14
(sumber: https://goo.gl/h8QdRD)

3. Filter canister

Prinsip utama dari filter ini adalah memberikan kesempatan yang sama pada air

untuk melalui media filter secara menyeluruh, yaitu dengan cara memaksa air tersebut

menembus media filter. Hal ini dilakukan dengan membuat sistem tersebut kedap

udara, sehingga tercipta suatu tekanan yang seragam didalam filter, sesuatu yang tidak

bisa dilakukan dalam sistem terbuka yang langsug berhubungan dengan atmosfir.

Dengan cara demikian air akan terpaksa menembus media yang ada sehingga kontak

dengan media menjadi lebih baik. Adanya tekanan menyebabkan kondisi kontak

antara air dengan media menjadi terjamin, sehingga hasil filtrasi menjadi relatif lebih

baik, dan kontak dapat berlangsung dalam waktu relatif lama. Oleh karena itu sistem

filtrasi canister lebih jarang memerlukan perawatan rutin. Filtrasi dapat tetap

berlangsung dengan baik selama beberapa bulan, sebelum memerlukan perawatan.

filter ini penempatannya benar-benar diluar akuarium dan prinsip kerjanya mirip

dengan filter power yakni menarik air akuarium dan menyalurkannya melewati media

filtrasi yang ada dalam kontainer filter dan saat air yang telah terfiltrasi sampai pada

bagian terbawah maka air dipompa kembali ke dalam akuarium.

Gambar 6. Filter canister

15
(sumber: https://goo.gl/Q9q5iR)

c. Filter Gabungan

Filter gabungan adalah filter yang menggunakan prinsip filter internal dan filter

external secara berdampingan dalam satu sistem aliran air, filter ini digunakan untuk

memaksimalkan kinerja media filter dalam membersihkan air. Contohnya

penggabungan undergrevel filter dengan canister, pada inlet canister dihubungkan

dengan outlet undergravel maka terbentuklah sistem aliran air pada kedua filter tersebut.

16
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan

Budidaya ikan hias secara dapat dilakukan pada sistem resirkulasi, sistem ini

dapat memperbaiki kualitas air dan menghemat air dengan sangat efektif. Pada dasarnya

media filter ada 3 yaitu mekanis, kimia, dan biologi. Kemudian cara kerja filter juga ada

3 yaitu filter internal, filter external, dan filter gabungan.

B. Saran

Disarankan kepada pembaca untuk mempelajari lebih lanjut mengenai sistem

resirkulasi dan mencobanya untuk memelihara ikan hias di rumah, karena sistem ini

sangat baik untuk menjaga kualitas air dan juga dapat menghemat lebih banyak air

daripada sistem konvensional.

DAFTAR PUSTAKA

Harmini, 2011. Optimalisasi Produksi Benih Ikan Hias Air Tawar pada Taufans Fish
Farm, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, s.l.: Institut Pertanian Bogor. [Online]
Tersedia di: https://goo.gl/qxQaBe [Diakses: 30 Maret 2017]
Priono, B. & Satyani, D., 2012. Penggunaan Berbagai Jenis Filter Untuk Pemeliharaan
Ikan Hias Air Tawar Di Akuarium. Media Akuakultur, 7(2), pp. 76-83. [Online]
Tersedia di: https://goo.gl/CfDZf3 [Diakses: 29 Maret 2017]
Purnamasari, Y., 2003. Analisis Investasi Pengembangan Bisnis Ikan Hias Air Tawar
Untuk Pasar Ekspor, s.l.: Masters thesis, Institut Pertanian Bogor. [Online]
Tersedia di: repository.sb.ipb.ac.id/803/ [Diakses: 29 Maret 2017]
Riftiani, T., 2016. Aplikasi Pengenalan Ikan Hias Air Tawar Berbasis Android, Jakarta:
Universitas Mercu Buana Press. [Online] Tersedia di: https://goo.gl/5D4aHF
[Diakses: 30 Maret 2017]
Samsundari, S. & Wirawan, G. A., 2013. Analisis Penerapan Biofilter Dalam Sistem
Resirkulasi Terhadap Mutu Kualitas Air Budidaya Ikan Sidat (Anguilla
Bicolor). Jurnal Gamma, Volume 1, pp. 86-97. [Online] Tersedia di:
https://goo.gl/NSSkBP [Diakses: 31 Maret 2017]

17
Suroto, T. M., 2013. Identifikasi Bakteri Patogen Pada Ikan Badut (Amphiprion
percula). s.l.: Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. [Online] Tersedia di:
digilib.unila.ac.id/1110/ [Diakses: 1 April 2017]
Syazili, F. N., 2014. Reduksi Amonia Pada Sistem Resirkulasi Dengan Penambahan
Filter Yang Berbeda, s.l.: Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. [Online]
Tersedia di: http://digilib.unila.ac.id/2027/ [Diakses: 30 Maret 2017]

18