Anda di halaman 1dari 35

Dalam kapasitasnya sebagai bank sentral, Bank Indonesia mempunyai satu tujuan tunggal,

yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah ini
mengandung dua aspek, yaitu kestabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa, serta
kestabilan terhadap mata uang negara lain.
Aspek pertama tercermin pada perkembangan laju inflasi, sementara aspek kedua tercermin
pada perkembangan nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara lain. Perumusan tujuan
tunggal ini dimaksudkan untuk memperjelas sasaran yang harus dicapai Bank Indonesia serta
batas-batas tanggung jawabnya. Dengan demikian, tercapai atau tidaknya tujuan Bank
Indonesia ini kelak akan dapat diukur dengan mudah.

Untuk mencapai tujuan tersebut Bank Indonesia didukung oleh tiga bidang tugas, yang terdiri
dari:
1. Menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter
2. Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran
3. Stabilitas Sistem Keuangan
Ketiga bidang tugas tersebut didukung oleh fungsi manajemen intern (Enabler) yang kuat.
Saat ini Bank Indonesia berkantor pusat di Jakarta dan memiliki 45 (empat puluh lima) kantor
perwakilan di seluruh Indonesia dan 4 (empat) kantor perwakilan di luar negeri, yaitu : New
York, London, Tokyo dan Singapura.

STATUS DAN KEDUDUKAN BANK INDONESIA

:: Lembaga Negara yang Independen

Babak baru dalam sejarah Bank Indonesia sebagai


Bank Sentral yang independen dalam melaksanakan
tugas dan wewenangnya dimulai ketika sebuah
undang-undang baru, yaitu UU No. 23/1999 tentang
Bank Indonesia, dinyatakan berlaku pada tanggal 17
Mei 1999 dan sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang Republik Indonesia No. 6/ 2009.
Undang-undang ini memberikan status dan
kedudukan sebagai suatu lembaga negara yang
independen dalam melaksanakan tugas dan
wewenangnya, bebas dari campur tangan Pemerintah
dan/atau pihak lain, kecuali untuk hal-hal yang
secara tegas diatur dalam undang-undang ini.

Bank Indonesia mempunyai otonomi penuh dalam merumuskan dan melaksanakan setiap
tugas dan wewenangnya sebagaimana ditentukan dalam undang-undang tersebut. Pihak luar
tidak dibenarkan mencampuri pelaksanaan tugas Bank Indonesia, dan Bank Indonesia juga
berkewajiban untuk menolak atau mengabaikan intervensi dalam bentuk apapun dari pihak
manapun juga.
Status dan kedudukan yang khusus tersebut diperlukan agar Bank Indonesia dapat
melaksanakan peran dan fungsinya sebagai otoritas moneter secara lebih efektif dan efisien.

:: Sebagai Badan Hukum


Status Bank Indonesia baik sebagai badan hukum publik maupun badan hukum perdata
ditetapkan dengan undang-undang. Sebagai badan hukum publik Bank Indonesia berwenang
menetapkan peraturan-peraturan hukum yang merupakan pelaksanaan dari undang-undang
yang mengikat seluruh masyarakat luas sesuai dengan tugas dan wewenangnya. Sebagai
badan hukum perdata, Bank Indonesia dapat bertindak untuk dan atas nama sendiri di dalam
maupun di luar pengadilan.

"Bank Indonesia mempunyai satu tujuan tunggal yakni mencapai dan menjaga kestabilan
nilai rupiah. Hal ini mengandung dua aspek yakni kestabilan nilai mata uang rupiah terhadap
barang dan jasa yang tercermin pada laju inflasi; serta kestabilan nilai mata uang rupiah
terhadap mata uang negara lain yang tercermin pada perkembangan nilai tukar. Dari segi
pelaksanaan tugas dan wewenang, Bank Indonesia menerapkan prinsip akuntabilitas dan
transparansi melalui penyampaian informasi kepada masyarakat luas secara terbuka melalui
media massa setiap awal tahun mengenai evaluasi pelaksanaan kebijakan moneter, dan serta
rencana kebijakan moneter dan penetapan sasaran-sasaran moneter pada tahun yang akan
datang. Informasi tersebut juga disampaikan secara tertulis kepada Presiden dan DPR sesuai
dengan amanat Undang-Undang.

VISI, MISI DAN SASARAN STRATEGIS BANK INDONESIA

:: Visi
Menjadi lembaga bank sentral yang kredibel dan terbaik di regional melalui penguatan nilai-
nilai strategis yang dimiliki serta pencapaian inflasi yang rendah dan nilai tukar yang stabil

:: Misi
1. Mencapai stabilitas nilai rupiah dan menjaga efektivitas transmisi kebijakan moneter
untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.
2. Mendorong sistem keuangan nasional bekerja secara efektif dan efisien serta mampu
bertahan terhadap gejolak internal dan eksternal untuk mendukung alokasi sumber
pendanaan/pembiayaan dapat berkontribusi pada pertumbuhan dan stabilitas
perekonomian nasional.
3. Mewujudkan sistem pembayaran yang aman, efisien, dan lancar yang berkontribusi
terhadap perekonomian, stabilitas moneter dan stabilitas sistem keuangan dengan
memperhatikan aspek perluasan akses dan kepentingan nasional.
4. Meningkatkan dan memelihara organisasi dan SDM Bank Indonesia yang menjunjung
tinggi nilai-nilai strategis dan berbasis kinerja, serta melaksanakan tata kelola
(governance) yang berkualitas dalam rangka melaksanakan tugas yang diamanatkan UU.

:: Nilai-Nilai Strategis
Trust and Integrity Professionalism Excellence Public Interest Coordination and
Teamwork

:: Sasaran Strategis
Untuk mewujudkan Visi, Misi dan Nilai-nilai Strategis tersebut, Bank Indonesia menetapkan
sasaran strategis jangka menengah panjang, yaitu :

1. Memperkuat pengendalian inflasi dari sisi permintaan dan penawaran


2. Menjaga stabilitas nilai tukar
3. Mendorong pasar keuangan yang dalam dan efisien
4. Menjaga SSK yang didukung dengan penguatan surveillance SP
5. Mewujudkan keuangan inklusif yang terarah, efisien, dan sinergis
6. Memelihara SP yang aman, efisien, dan lancar
7. Memperkuat pengelolaan keuangan BI yang akuntabel
8. Mewujudkan proses kerja efektif dan efisien dengan dukungan SI, kultur, dan
governance
9. Mempercepat ketersediaan SDM yang kompeten
10. Memperkuat aliansi strategis dan meningkatkan persepsi positif BI
11. Memantapkan kelancaran transisi pengalihan fungsi pengawasan bank ke OJK

TUJUAN DAN TUGAS BANK INDONESIA

:: Tujuan Tunggal

Dalam kapasitasnya sebagai bank sentral, Bank Indonesia mempunyai satu tujuan
tunggal, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai
rupiah ini mengandung dua aspek, yaitu kestabilan nilai mata uang terhadap barang
dan jasa, serta kestabilan terhadap mata uang negara lain.

Aspek pertama tercermin pada perkembangan laju inflasi, sementara aspek kedua tercermin
pada perkembangan nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara lain. Perumusan tujuan
tunggal ini dimaksudkan untuk memperjelas sasaran yang harus dicapai Bank Indonesia serta
batas-batas tanggung jawabnya. Dengan demikian, tercapai atau tidaknya tujuan Bank
Indonesia ini kelak akan dapat diukur dengan mudah.

:: Tiga Pilar Utama

Untuk mencapai tujuan tersebut Bank Indonesia didukung oleh tiga pilar yang merupakan
tiga bidang tugasnya. Ketiga bidang tugas tersebut perlu diintegrasi agar tujuan mencapai dan
memelihara kestabilan nilai rupiah dapat dicapai secara efektif dan efisien. berikut tugas dan
fungsi Bank Indonesia yang telah dituangkan dalam bentuk gambar berisi tiga pilar.

DEWAN GUBERNUR BANK INDONESIA

:: Pengangkatan dan Pemberhentian Dewan Gubernur

Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya Bank Indonesia dipimpin oleh Dewan
Gubernur. Dewan ini terdiri atas seorang Gubernur sebagai pemimpin, dibantu oleh
seorang Deputi Gubernur Senior sebagai wakil, dan sekurang-kurangnya empat atau
sebanyak-banyaknya tujuh Deputi Gubernur. Masa jabatan Gubernur dan Deputi Gubernur
selama 5 tahun dan dapat diangkat kembali dalam jabatan yang sama untuk sebanyak-
banyaknya 1 kali masa jabatan berikutnya.

Gubernur, Deputi Gubernur Senior, dan Deputi Gubernur diusulkan dan diangkat oleh
Presiden dengan persetujuan DPR. Calon Deputi Gubernur diusulkan oleh Presiden
berdasarkan rekomendasi dari Gubernur Bank Indonesia. (vide Pasal 41 UU No.3
Tahun 2004 yang mengubah UU No.23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia). Anggota
Dewan Gubernur Bank Indonesia tidak dapat diberhentikan oleh Presiden, kecuali bila
mengundurkan diri, terbukti melakukan tindak pidana kejahatan, tidak dapat hadir secara
fisik dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan berturut-turut tanpa alasan yang dapat
dipertanggungjawabkan, dinyatakan pailit atau tidak mampu memenuhi kewajiban kepada
kreditur, atau berhalangan tetap.

Nama nama gubernur

Organisasi

KEDUDUKAN BANK INDONESIA SEBAGAI LEMBAGA NEGARA

Dilhat dari sistem ketatanegaraan Republik Indonesia, kedudukan BI sebagai lembaga negara
yang independen tidak sejajar dengan lembaga tinggi negara seperti Dewan Perwakilan
Rakyat, Badan Pemeriksa Keuangan, dan Mahkamah Agung. Kedudukan BI juga tidak sama
dengan Departemen karena kedudukan BI berada di luar pemerintahan. Status dan kedudukan
yang khusus tersebut diperlukan agar BI dapat melaksanakan peran dan fungsinya sebagai
Otoritas Moneter secara lebih efektif dan efisien. Meskipun BI berkedudukan sebagai
lembaga negara independen, dalam melaksanakan tugasnya, BI mempunyai hubungan kerja
dan koordinasi yang baik dengan DPR, BPK, Pemerintah dan pihak lainnya.

Dalam hubungannya dengan Presiden dan DPR, BI setiap awal tahun anggaran
menyampaikan informasi tertulis mengenai evaluasi pelaksanaan kebijakan moneter dan
rencana kebijakan moneter yang akan datang. Khusus kepada DPR, pelaksanaan tugas dan
wewenang setiap triwulan dan sewaktu-waktu bila diminta oleh DPR. Selain itu, BI
menyampaikan rencana dan realiasasi anggaran tahunan kepada Pemerintah dan DPR. Dalam
hubungannya dengan BPK, BI wajib menyampaikan laporan keuangan tahunan kepada BPK.

:: Hubungan BI dengan Pemerintah : Hubungan Keuangan

Dalam hal hubungan keuangan dengan Pemerintah, Bank Indonesia membantu menerbitkan
dan menempatkan surat-surat hutang negara guna membiayai Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara (APBN) tanpa diperbolehkan membeli sendiri surat-surat hutang negara
tersebut.

Bank Indonesia juga bertindak sebagai kasir Pemerintah yang menatausahakan rekening
Pemerintah di Bank Indonesia, dan atas permintaan Pemerintah, dapat menerima pinjaman
luar negeri untuk dan atas nama Pemerintah Indonesia.
Namun demikian, agar pelaksanaan tugas Bank Indonesia benar-benar terfokus serta agar
efektivitas pengendalian moneter tidak terganggu, pemberian kredit kepada Pemerintah guna
mengatasi deficit spending - yang selama ini dilakukan oleh Bank Indonesia berdasarkan
undang-undang yang lama - kini tidak dapat lagi dilakukan oleh Bank Indonesia.

:: Hubungan BI dengan Pemerintah : Independensi dalam Interdependensi

Meskipun Bank Indonesia merupakan lembaga negara yang independen, tetap diperlukan
koordinasi yang bersifat konsultatif dengan Pemerintah, sebab tugas-tugas Bank Indonesia
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kebijakan-kebijakan ekonomi nasional secara
keseluruhan.

Koordinasi di antara Bank Indonesia dan Pemerintah diperlukan pada sidang kabinet yang
membahas masalah ekonomi, perbankan dan keuangan yang berkaitan dengan tugas-tugas
Bank Indonesia. Dalam sidang kabinet tersebut Pemerintah dapat meminta pendapat Bank
Indonesia.

Selain itu, Bank Indonesia juga dapat memberikan masukan, pendapat serta pertimbangan
kepada Pemerintah mengenai Rancangan APBN serta kebijakan-kebijakan lain yang
berkaitan dengan tugas dan wewenangnya.

Di lain pihak, Pemerintah juga dapat menghadiri Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia
dengan hak bicara tetapi tanpa hak suara. Oleh sebab itu, implementasi independensi justru
sangat dipengaruhi oleh kemantapan hubungan kerja yang proporsional di antara Bank
Indonesia di satu pihak dan Pemerintah serta lembaga-lembaga terkait lainnya di lain pihak,
dengan tetap berlandaskan pembagian tugas dan wewenang masing-masing.

:: Kerjasama BI dengan Lembaga Lain

Menyadari pentingnya dukungan dari berbagai pihak bagi keberhasilan tugasnya, BI


senantiasa bekerja sama dan berkoordinasi dengan berbagai lembaga negara dan unsur
masyarakat lainnya. Beberapa kerjasama ini dituangkan dalam nota kesepahaman (MoU),
keputusan bersama (SKB), serta perjanjian-perjanjian, yang ditujukan untuk menciptakan
sinergi dan kejelasan pembagian tugas antar lembaga serta mendorong penegakan hukum
yang lebih efektif.

Beberapa Kerjasama dimaksud adalah dengan pihak-pihak sbb :

1. Departemen Keuangan (MoU tentang Mekanisme Penetapan Sasaran, Pemantauan,


dan Pengendalian Inflasi di Indonesia, MoU tentang BI sebagai Process Agent di bidang
pinjaman dan hibah luar negeri Pemerintah, SKB tentang Penatausahaan Penerbitan Surat
Utang Negara (SUN) dalam rangka penyehatan perbankan)
2. Kejaksaan Agung & Kepolisian Negara : SKB tentang kerjasama penanganan tindak
pidana di bidang perbankan
3. Kepolisian Negara RI dan Badan Intelijen Negara : MoU tentang Pemberantasan uang
palsu
4. Menkokesra, Kementrian Koperasi dan UKM : MoU bidang Pemberdayaan dan
Pengembangan UMKM
5. Perhimpunan Pedagang SUN (Himdasun) : MoU tentang Penyusunan Master
Repurchase Agreement (MRA)
6. Keputusan Bersama Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia tentang
Koordinasi Pengelolaan Uang Negara (.pdf)

HUBUNGAN KERJASAMA INTERNASIONAL YANG DILAKUKAN BANK


INDONESIA

BI menjalin hubungan kerjasama dengan lembaga internasional yang diperlukan dalam


rangka menunjang kelancaran pelaksanaan tugas Bank Indonesia maupun Pemerintah yang
berhubungan dengan ekonomi,moneter, maupun perbankan. BI menjalin kerjasama
internasional meliputi bidang-bidang :

1. Intervensi bersama untuk kestabilan pasar valuta asing


2. Penyelesaian transaksi lintas negara
3. Hubungan koresponden
4. Tukar-menukar informasi mengenai hal-hal yang terkait dengan tugas-tugas selaku
bank sentral
5. Pelatihan/penelitian di bidang moneter dan sistem pembayaran.

Keanggotaan Bank Indonesia di beberapa lembaga dan forum internasional atas nama Bank
Indonesia sendiri antara lain :

1. The South East Asian Central Banks Research and Training Centre (SEACEN Centre)
2. The South East Asian, New Zealand and Australia Forum of Banking Supervision
(SEANZA)
3. The Executive' Meeting of East Asian and Pacific Central Banks (EMEAP)
4. ASEAN Central Bank Forum (ACBF)
5. Bank for International Settlement (BIS)

Keanggotaan Bank Indonesia mewakili pemerintah Republik Indonesia antara lain :

1. Association of South East Asian Nations (ASEAN)


2. ASEAN+3 (ASEAN + Cina, Jepang dan Korea)
3. Asia Pacific Economic Cooperation (APEC)
4. Manila Framework Group (MFG)
5. Asia-Europe Meeting (ASEM)
6. Islamic Development Bank (IDB)
7. International Monetary Fund (IMF)
8. World Bank, termasuk keanggotaan di Intenational Bank of Reconstruction and
Development (IBRD), International Development Association (IDA) dan International
Finance Cooperatioan (IFC), serta Multilateral Investment Guarantee Agency (MIGA)
9. World Trade Organization (WTO)
10. Intergovernmental Group of 20 (G20)
11. Intergovernmental Group of 15 (G15, sebagai observer)
12. Intergovernmental Group of 24 (G24, sebagai observer)

Governance
GOVERNANCE FRAMEWORK

Dalam penerapan dan penegakan tata kelola di Bank Indonesia, diperlukan kerangka
konseptual yang mengintegrasikan seluruh elemen governance yang mencakup pondasi awal
hingga tujuan akhir yang akan dicapai. Untuk itu telah disusun kerangka kerja tata kelola
(governance framework) Bank Indonesia yang menggambarkan elemen pokok yang
diperlukan untuk mengimplementasikan tata kelola yang baik.

Kerangka kerja tata kelola Bank Indonesia memuat lima elemen pokok sebagai berikut:

1. Prinsip Tata Kelola (Governance Principle) Bank Indonesia yakni prinsip-prinsip


yang melandasi pelaksanaan tata kelola di Bank Indonesia,
2. Komitmen Tata Kelola (Governance Committment) Bank Indonesia yakni wujud
komitmen Dewan Gubernur dan satuan kerja untuk menerapkan dan menegakkan Tata
Kelola Bank Indonesia,
3. Struktur Tata Kelola (Governance Structure) Bank Indonesia yakni organ internal dan
eksternal Bank Indonesia yang berwenang menjalankan mandat pelaksanaan tugas Bank
Indonesia dan pengawasan terhadap Bank Indonesia,
4. Proses Tata Kelola (Governance Process) Bank Indonesia yakni serangkaian standard
an prosedur yang digunakan oleh Dewan Gubernur dan satuan kerja untuk memastikan
penerapan dan penegakan Tata Kelola Bank Indonesia dilaksanakan secara terencana,
konsekuen, dan berkelanjutan, dan
5. Hasil Tata Kelola (Governance Outcome) Bank Indonesia yakni manifestasi dari
penerapan dan penegakan Tata Kelola Bank Indonesia yang berdampak positif terhadap
penciptaan nilai (value creation) dan keberlansungan mandat Bank Indonesia
(sustainability).

Dengan adanya kerangka kerja secara utuh dan menyeluruh tersebut, diharapkan akan
mempermudah komunikasi dengan pemangku kepentingan internal dan eksternal dalam
menjelaskan mengenai tata kelola Bank Indonesia.

Gambar Kerangka Kerja Governance Bank Indonesia

VISI, MISI DAN SASARAN STRATEGIS BANK INDONESIA

:: Visi
Menjadi lembaga bank sentral yang kredibel dan terbaik di regional melalui penguatan nilai-
nilai strategis yang dimiliki serta pencapaian inflasi yang rendah dan nilai tukar yang stabil

:: Misi
1. Mencapai stabilitas nilai rupiah dan menjaga efektivitas transmisi kebijakan moneter
untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.
2. Mendorong sistem keuangan nasional bekerja secara efektif dan efisien serta mampu
bertahan terhadap gejolak internal dan eksternal untuk mendukung alokasi sumber
pendanaan/pembiayaan dapat berkontribusi pada pertumbuhan dan stabilitas
perekonomian nasional.
3. Mewujudkan sistem pembayaran yang aman, efisien, dan lancar yang berkontribusi
terhadap perekonomian, stabilitas moneter dan stabilitas sistem keuangan dengan
memperhatikan aspek perluasan akses dan kepentingan nasional.
4. Meningkatkan dan memelihara organisasi dan SDM Bank Indonesia yang menjunjung
tinggi nilai-nilai strategis dan berbasis kinerja, serta melaksanakan tata kelola
(governance) yang berkualitas dalam rangka melaksanakan tugas yang diamanatkan UU.

:: Nilai-Nilai Strategis
Trust and Integrity Professionalism Excellence Public Interest Coordination and
Teamwork

:: Sasaran Strategis
Untuk mewujudkan Visi, Misi dan Nilai-nilai Strategis tersebut, Bank Indonesia menetapkan
sasaran strategis jangka menengah panjang, yaitu :

1. Memperkuat pengendalian inflasi dari sisi permintaan dan penawaran


2. Menjaga stabilitas nilai tukar
3. Mendorong pasar keuangan yang dalam dan efisien
4. Menjaga SSK yang didukung dengan penguatan surveillance SP
5. Mewujudkan keuangan inklusif yang terarah, efisien, dan sinergis
6. Memelihara SP yang aman, efisien, dan lancar
7. Memperkuat pengelolaan keuangan BI yang akuntabel
8. Mewujudkan proses kerja efektif dan efisien dengan dukungan SI, kultur,
dan governance
9. Mempercepat ketersediaan SDM yang kompeten
10. Memperkuat aliansi strategis dan meningkatkan persepsi positif BI
11. Memantapkan kelancaran transisi pengalihan fungsi pengawasan bank ke OJK

Fungsi pengawasan terhadap Bank Indonesia tidak terlepas dari kedudukan Bank Indonesia
sebagai lembaga publik yang independen dalam tatanan kenegaraan Indonesia. Pengawasan
terhadap Bank Indonesia dilakukan sebagai perwujudan mekanisme saling mengawasi dan
saling mengimbangi (checks and balances) antar lembaga negara. Hal tersebut diperlukan
untuk mewujudkan akuntabilitas pelaksanaan tugas dan wewenang Bank Indonesia kepada
publik.

Undang-Undang tentang Bank Indonesia menuntut adanya akuntabilitas dan transparansi


dalam setiap pelaksanaan tugas, wewenang dan anggaran Bank Indonesia. Akuntabilitas dan
transparansi yang dituntut dari Bank Indonesia tersebut dimaksudkan agar semua pihak yang
berkepentingan dapat ikut melakukan pengawasan terhadap setiap langkah kebijakan yang
ditempuh oleh Bank Indonesia (checks and balances).

Sesuai amanat Undang-Undang, DPR merupakan pihak yang diberikan kewenangan secara
konstitusi untuk melakukan fungsi pengawasan terhadap lembaga negara lain, termasuk Bank
Indonesia. Sesuai hakekatnya, kontrol legislatif ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas
pembuatan keputusan melalui peningkatan responsivitas terhadap kebutuhan dan tuntutan
masyarakat, mengawasi penyalahgunaan kekuasaan Pemerintah melalui investigasi, dan
menegakkan kinerja lembaga negara.

Untuk membantu DPR melakukan fungsi pengawasan di bidang tertentu terhadap Bank
Indonesia, maka sebagaimana diatur dalam Undang-undang tentang Bank Indonesia,
dibentuk Badan Supervisi Bank Indonesia (BSBI). BSBI dibentuk berdasarkan Undang-
Undang tentang Bank Indonesia dan bertanggung jawab langsung kepada DPR-RI, serta tidak
berada dalam struktur organisasi Bank Indonesia. BSBI menyampaikan hasil telaahannya
terkait dengan kegiatan operasional dan keuangan Bank Indonesia kepada DPR-RI setiap
triwulan, dan tidak mengevaluasi kinerja Dewan Gubernur Bank Indonesia. Keberadaan
BSBI diharapkan memperkuat fungsi pengawasan DPR-RI terhadap Bank Indonesia dalam
rangka meningkatkan akuntabilitas, independensi, transparansi, dan kredibilitas Bank
Indonesia.

Bank Indonesia wajib menyampaikan Laporan Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Bank
Indonesia kepada DPR-RI dan Pemerintah secara triwulanan dan tahunan sesuai dengan
amanat Undang-Undang tentang Bank Indonesia. Diseminasi laporan tersebut juga dilakukan
kepada masyarakat melalui media massa dengan mencantumkan ringkasannya dalam berita
negara. Laporan Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Bank Indonesia dapat di akses
di Laporan kepada DPR.

Di bidang keuangan Bank Indonesia, mekanisme checks and balances menjadi hal yang
penting. Hal ini mengingat Bank Indonesia memiliki keistimewaan sebagai lembaga
independen yang melakukan pengelolaan anggaran yang terpisah dari Anggaran Penerimaan
dan Belanja Negara. Terkait dengan transparansi anggaran, Bank Indonesia berkewajiban
menyampaikan anggaran tahunannya kepada DPR yang meliputi anggaran untuk kegiatan
operasional dan anggaran untuk kebijakan. Dalam penyampaian anggaran tersebut, Bank
Indonesia juga menyampaikan evaluasi terkait penggunaan anggaran tahun berjalan dalam
bentuk Laporan Evaluasi Pelaksanaan Anggaran Operasional dan Rencana Investasi Bank
Indonesia.

Pengawasan terhadap Bank Indonesia dari sisi keuangan dilakukan dalam bentuk
pemeriksaan terhadap Laporan Keuangan Tahunan Bank Indonesia (LKTBI) oleh Badan
Pemeriksa Keuangan (BPK-RI). Hasil audit BPK-RI tersebut disampaikan kepada DPR-RI
dan diumumkan kepada masyarakat melalui media massa. Adapun dalam penyusunan dan
pemeriksaan LKTBI, Bank Indonesia dan BPK-RI mengacu pada standar akuntansi bank
sentral sebagaimana direkomendasikan oleh Komite Akuntansi dan Keuangan Bank
Indonesia.

Berdasarkan pemeriksanaan LKTBI, Bank Indonesia telah memperoleh opini Wajar Tanpa
Pengecualian (WTP) dari BPK-RI sejak LKTBI Tahun 2003. Pencapaian terebut tidak lepas
dari upaya Bank Indonesia yang senantiasa menindaklanjuti temuan audit yang disampaikan
BPK-RI. Hal ini menunjukkan kesungguhan dan komitmen pelaksanaan tugas Bank
Indonesia yang transparan dan akuntabel. Selanjutnya, Bank Indonesia mempublikasikan
laporan keuangan tahunannya kepada publik setelah hasil pelaksanaan audit BPK-RI
disampaikan kepada Bank Indonesia
Di samping melakukan audit terhadap LKTBI, BPK-RI dapat melakukan pemeriksaan khusus
terhadap Bank Indonesia atas permintaan DPR-RI apabila diperlukan. Pemeriksaan khusus
atas permintaan DPR-RI terhadap Bank Indonesia dimaksudkan untuk mengetahui lebih
dalam mengenai suatu permasalahan atau suatu kegiatan tertentu yang berkaitan dengan
pengelolaan keuangan dan pelaksanaan anggaran oleh Bank Indonesia.

Dengan adanya proses audit ini diharapkan dapat mendukung pelaksanaan tugas Bank
Indonesia dengan pengelolaan keuangan keuangan dan pelaksanaan anggaran yang tertib, taat
pada peraturan perundang-undangan, efisien, efektif, transparan dan bertanggung jawab
dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.

Sejarah kelembagaan Bank Indonesia dimulai sejak berlakunya Undang-Undang (UU) No.
11/1953 tentang Penetapan Undang-Undang Pokok Bank Indonesia pada tanggal 1 Juli 1953.
Dalam melakukan tugasnya sebagai bank sentral, Bank Indonesia dipimpin oleh Dewan
Moneter, Direksi, dan Dewan Penasehat. Di tangan Dewan Moneter inilah, kebijakan
moneter ditetapkan, meski tanggung jawabnya berada pada pemerintah. Setelah sempat
dilebur ke dalam bank tunggal, pada masa awal orde baru, landasan Bank Indonesia berubah
melalui UU No. 13/1968 tentang Bank Sentral. Sejak saat itu, Bank Indonesia berfungsi
sebagai bank sentral dan sekaligus membantu pemerintah dalam pembangunan dengan
menjalankan kebijakan yang ditetapkan pemerintah dengan bantuan Dewan Moneter. Dengan
demikian, Bank Indonesia tidak lagi dipimpin oleh Dewan Moneter. Setelah orde baru
berlalu, Bank Indonesia dapat mencapai independensinya melalui UU No. 23/1999 tentang
Bank Indonesia yang kemudian diubah dengan UU No. 3/2004. Sejak saat itu, Bank
Indonesia memiliki kedudukan khusus dalam struktur kenegaraan sebagai lembaga negara
yang independen dan bebas dari campur tangan pemerintah dan/atau pihak-pihak lain.
Namun, dalam melaksanakan kebijakan moneter secara berkelanjutan, konsisten, dan
transparan, Bank Indonesia harus mempertimbangkan pula kebijakan umum pemerintah di
bidang perekonomian.

Governance

PROSES PERUMUSAN KEBIJAKAN

Bank Indonesia sebagai otoritas yang mengeluarkan peraturan/kebijakan perlu memastikan


proses perumusan kebijakan dilakukan melalui prosedur dan mekanisme yang terstruktur dan
sistematis guna menghasilkan output kebijakan yang kredibel dan memenuhi prinsip
akuntablitas publik. Untuk meningkatkan kualitas kebijakan, perumusan kebijakan harus
memenuhi prinsip-prinsip yakni: (i) berdasarkan riset, (ii) berorientasi ke depan, (iii) tata
kelola yang baik, (iv) mempertimbangkan dampak antar kebijakan, dan (v) memperhatikan
ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Untuk memastikan proses perumusan kebijakan di Bank Indonesia telah dilaksanakan secara
sistematis, Bank Indonesia menetapkan kerangka kerja kebijakan yang terintegrasi antara
kebijakan moneter, makroprudensial, sistem pembayaran dan pengelolaan uang Rupiah, serta
dukungan kebijakan ekonomi daerah dan kebijakan internasional. Terkait proses perumusan
kebijakan, peningkatan fokus pada aspek governance diharapkan dapat menghasilkan
kebijakan Bank Indonesia yang lebih efektif, kredibel, dan memenuhi prinsip akuntabilitas
publik.

Di samping itu, proses perumusan kebijakan dikomunikasikan kepada publik untuk


meningkatkan kredibilitas pengaturan/kebijakan yang dihasilkan. Guna meningkatkan
partisipasi masyarakat dalam perumusan kebijakan, dibuka kesempatan kepada pemangku
kepentingan untuk memberikan masukan terhadap rumusan pengaturan. Hal tersebut
diharapkan dapat menjembatani komunikasi kebijakan di awal dan meningkatkan efektivitas
dalam implementasi kebijakan ke depan.

Proses perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan di Bank Indonesia dilaksanakan


melalui prosedur dan mekanisme yang terstruktur dan sistematis untuk meningkatkan
kredibilitas kebijakan, menciptakan mekanismechecks and balances, dan memastikan
termitigasinya risiko (rule making rules).

Pengambilan keputusan dilakukan dengan mempertimbangkan: (i) kepentingan umum, (ii)


tujuan yang hendak dicapai, (iii) azas manfaat, (iv) hasil asesmen/kajian yang matang, (v)
risiko dan mitigasinya, serta (vi) kesesuaian dengan peraturan perundang-undangan.

Sebagaimana amanat Undang-Undang tentang Bank Indonesia, Rapat Dewan Gubernur


(RDG) merupakan forum pengambilan keputusan tertinggi di Bank Indonesia. Melalui forum
ini, Dewan Gubernur menetapkan atau melakukan evaluasi kebijakan yang bersifat prinsipil
dan strategis. RDG dilaksanakan berdasarkan prinsip musyawarah demi mufakat.
Apabila mufakat tidak tercapai, Gubernur menetapkan keputusan akhir. Untuk menjaga tata
kelola pengambilan keputusan, RDG diselenggarakan apabila telah kuorum yakni dihadiri
oleh separuh atau lebih jumlah Anggota Dewan Gubernur.

Guna meningkatkan efektivitas proses pengambilan keputusan dalam RDG, materi yang
diajukan harus dikaji dan dibahas secara matang dalam forum pembahasan/koordinasi antar
satuan kerja, rapat bidang, dan/atau rapat komite. Di Bank Indonesia, terdapat 5 (lima)
komite yakni: (i) komite kebijakan moneter, (ii) komite kebijakan stabilitas sistem keuangan,
(iii) komite kebijakan sistem pembayaran, (iv) komite pengelolaan cadangan devisa, dan (v)
komite sumber daya manusia. Tujuan dari komite ini adalah memastikan rekomendasi atas
usulan kebijakan prinsipil dan strategis yang diajukan kepada Dewan Gubernur telah
dilakukan berdasarkan analisis dan pembahasan yang mendalam dengan mempertimbangkan
aspek risiko dan mitigasinya, serta aspek tata kelola yang baik.

Penyelenggaraan RDG terdiri atas RDG Bulanan dan RDG Mingguan. RDG Bulanan
merupakan RDG yang diselenggarakan paling kurang 1 (satu) kali dalam sebulan. Untuk
meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, sejak 2016, pelaksanaan RDG Bulanan
dilakukan dalam waktu 2 (dua) hari berturut-turut. RDG Bulanan hari pertama: (i)
memaparkan hasil asesmen terhadap kondisi perekonomian dan outlook kebijakan moneter,
stabilitas sistem keuangan, serta sistem pembayaran dan pengelolaan uang Rupiah, dan (ii)
membahas dan mengintegrasikan opsi bauran kebijakan. Selanjutnya, RDG Bulanan hari
kedua membahas rekomendasi dan menetapkan kebijakan umum di bidang moneter,
makroprudensial, serta sistem pembayaran dan pengelolaan uang Rupiah.
Sedangkan RDG Mingguan diselenggarakan paling kurang 1 (satu) kali dalam seminggu
untuk melakukan evaluasi atas pelaksanaan kebijakan moneter, perkembangan stabilitas
sistem keuangan, perkembangan sistem pembayaran dan pengelolaan uang rupiah dan/ atau
menetapkan kebijakan lain yang bersifat prinsipil dan strategis yang berkaitan dengan
pelaksanaan tugas Bank Indonesia.

Sebagai bentuk transparansi kebijakan kepada stakeholders, keputusan yang ditetapkan dalam
RDG Bulanan disampaikan kepada masyarakat pada hari yang sama dengan penyelenggaraan
RDG guna membangun ekspektasi positif stakeholders. Di samping itu, Bank Indonesia juga
mempublikasikan jadwal RDG Bulanan selama satu tahun ke depan, sebelum berakhirnya
tahun berjalan.

Informasi RDG bulanan dapat di akses di link berikut.

MANAJEMEN RISIKO DAN PENGENDALIAN INTERNAL

Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, Bank Indonesia menghadapi risiko yang
berpotensi meningkat dan kompleks yang disebabkan oleh dinamika perkembangan dan
tuntutan, baik secara internal maupun eksternal. Untuk itu, diperlukan pengelolaan risiko
secara komprehensif dan terintegrasi dengan penguatan pada aspek pengendalian intern.

Pelaksanaan manajemen risiko dilakukan dengan mengacu kepada international best


practices terbaik yang terbagi dalam 3 (tiga) kategori. Pertama, pengendalian risiko
secara first line of defense yang dilakukan oleh unit kerja yang melaksanakan proses bisnis.
Kedua, pengendalian risiko secara second line of defense dilakukan oleh unit kerja yang
memiliki fungsi manajemen risiko dan independen dari unit kerja yang melaksanakan proses
bisnis. Ketiga, pengendalian risiko secara third line of defense dilakukan oleh unit kerja yang
melaksanakan fungsi audit internal guna memastikan kegiatan pengendalian risiko
dilaksanakan secara efektif

Dengan adanya pengendalian risiko dalam tiga tahapan ini, diharapkan proses pelaksanaan
tugas Bank Indonesia khususnya pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan
memperhatikan aspek kehati-hatian, prinsip tata kelola yang baik, dan memperoleh hasil yang
optimal terhadap kinerja, keuangan, dan kredibilitas kebijakan.

Berdasarkan framework di atas, peran internal audit memiliki peran penting dalam quality
assurance terhadap seluruh proses kerja di Bank Indonesia. Ruang lingkup fungsi audit
internal meliputi pelaksanaan audit internal dan konsultasi melalui pemberian opini dan
rekomendasi terhadap proses tata kelola, manajemen risiko, dan Pengendalian.

Pelaksanaan fungsi audit internal Bank Indonesia menggunakan metodologi audit internal
berbasis risiko (Risk Based Internal Audit). Semakin tinggi risiko sasaran audit, maka
semakin tinggi frekuensi pelaksanaan audit internal. Proses kerja yang berisiko tinggi diaudit
setiap tahun, sedangkan proses kerja dengan risiko sedang dan rendah diaudit dalam rentang
waktu yang lebih panjang, yakni sekali dalam 2 atau 3 tahun.

JARING PENGAMAN SISTEM KEUANGAN


Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK) merupakan kerangka kerja yang melandasi
pengaturan mengenai skim asuransi simpanan, mekanisme pemberian fasilitas pembiayaan
darurat oleh bank sentral (lender of last resort), serta kebijakan penyelesaian krisis. JPSK
pada dasarnya lebih ditujukan untuk pencegahan krisis, namun demikian kerangka kerja ini
juga meliputi mekanisme penyelesaian krisis sehingga tidak menimbulkan biaya yang besar
kepada perekonomian. Dengan demikian, sasaran JPSK adalah menjaga stabilitas sistem
keuangan sehingga sektor keuangan dapat berfungsi secara normal dan memiliki kontribusi
positif terhadap pembangunan ekonomi yang berkesinambungan.

Pada tahun 2005, Pemerintah dan Bank Indonesia telah menyusun kerangka Jaring Pengaman
Sektor Keuangan (JPSK) yang kelak akan dituangkan dalam sebuah Rancangan Undang
Undang tentang Jaring Pengaman Sektor Keuangan. Dalam kerangka JPSK dimaksud dimuat
secara jelas mengenai tugas dan tanggung-jawab lembaga terkait yakni Departemen
Keuangan, BI dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebagai pemain dalam jaring
pengaman keuangan. Pada prinsipnya Departemen Keuangan bertanggung jawab untuk
menyusun perundang-undangan untuk sektor keuangan dan menyediakan dana untuk
penanganan krisis. BI sebagai bank sentral bertanggung-jawab untuk menjaga stabilitas
moneter dan kesehatan perbankan serta keamanan dan kelancaran sistem pembayaran.
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) bertanggung jawab untuk menjamin simpanan nasabah
bank serta resolusi bank bermasalah.

Kerangka JPK tersebut telah dituangkan dalam Rancangan Undang-Undang JPSK yang pada
saat ini masih dalam tahap pembahasan Dengan demikian, UU JPSK kelak akan berfungsi
sebagai landasan yang kuat bagi kebijakan dan peraturan yang ditetapkan oleh otoritas terkait
dalam rangka memelihara stabiltas sistem keuangan. Dalam RUU JPSK semua komponen
JPSK ditetapkan secara rinci yakni meliputi: (1) pengaturan dan pengawasan bank yang
efektif; (2) lender of the last resort; (3) skim asuransi simpanan yang memadai dan (4)
mekanisme penyelesaian krisis yang efektif.

1. Pengaturan dan Pengawasan Bank yang efektif

Pengaturan dan pengawasan bank yang efektif merupakan jarring pengaman pertama dalam
JPSK (first line of defense). MEngingat pentingnya fungsi pengawasan dan pengaturan yang
efektif, dalam kerangka JPSK telah digariskan guiding principles bahwa pengawasan dan
pengaturan terhadap lembaga dan pasar keuangan oleh otoritas terkait harus senantiasa
ditujukan untuk menjaga stabilitas system keuangan, serta harus berpedoman kepada best
practices dan standard yang berlaku.

2. Lender of last Resort

Kebijakan lender of last resort (LLR) yang baik terbukti sebagai salah satu alat efektif dalam
pencegahan dan penanganan krisis. Sejalan dengan itu, BI telah merumuskan secara lebih
jelas kebijakan the lender of last resort (LLR) dalam kerangka JPSK untuk dalam kondisi
normal dan darurat (krisis) mengacu pada best practices. Pada prinsipnya, LLR untuk dalam
kondisi normal hanya diberikan kepada bank yang illikuid tetapi solven yang memiliki
agunan likuid dan bernilai tinggi. Sedangkan dalam pemberian LLR untuk kondisi krisis,
potensi dampak sistemik menjadi faktor pertimbangan utama, dengan tetap mensyaratkan
solvensi dan agunan.
Untuk mengatasi kesulitan likuiditas yang berdampak sistemik, Bank Indonesia sebagai
lender of last resort dapat memberikan fasilitas pembiayaan darurat kepada Bank Umum yang
pendanaannya menjadi beban Pemerintah berdasarkan Undang-undang No 23 Tahun 1999
tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No 3 Tahun 2004
yang telah disetujui DPR tanggal 15 Januari 2004. Sebagai peraturan pelaksanaan fungsi
lender of the last resort, telah diberlakukan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor
136/PMK.05/2005 tanggal 30 Desember 2005 dan Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor
8/1/2006 tanggal 3 Januari 2006. Pendanaan FPD bersumber dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara (APBN).

3. Skim Penjaminan Simpanan (deposit insurance) yang memadai

Pengalaman menunjukkan bahwa LPS merupakan salah satu elemen penting dalam menjaga
stabilitas sistem keuangan. Program penjaminan pemerintah (blanket guarantee) yang
diberlakukan akibat krisis sejak tahun 1998 memang telah berhasil memulihkan kepercayaan
masyarakat terhadap sektor perbankan. Namun penelitian menunjukkan bahwa blanket
guarantee tersebut dapat mendorong moral hazard yang berpotensi menimbulkan krisis dalam
jangka panjang.

Sejalan dengan itu, telah diberlakukan Undang-Undang Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)
Nomor 24 Tahun 2004. Dalam undang-undang tersebut tersebut, LPS nantinya memiliki dua
tanggung jawab pokok yakni: (i) untuk menjamin simpanan nasabah bank; dan (ii) untuk
menangani (resolusi) bank bermasalah. Untuk menghindari dampak negatif terhadap
stabilitas keuangan, penerapan skim LPS tersebut akan dilakukan secara bertahap.
Selanjutnya, jaminan simpanan nasabah bank akan dibatasi sampai dengan Rp100 juta per
rekening mulai Maret 2007.

4. Kebijakan Resolusi Krisis yang efektif

Kebijakan penyelesaian krisis yang efektif dituangkan dalam kerangka kebijakan JPSK agar
krisis dapat ditangani secara cepat tanpa menimbulkan beban yang berat bagi perekonomian.
Dalam JPSK ditetapkan peran dan kewenangan masing-masing otoritas dalam penanganan
dan penyelesaian krisis, sehingga setiap lembaga memiliki tanggung jawab dan akuntabilitas
yang jelas. Dengan demikian, krisis dapat ditangani secara efektif, cepat, dan tidak
menimbulkan biaya sosial dan biaya ekonomi yang tinggi.

Dalam pelaksanaannya, JPSK memerlukan koordinasi yang efektif antar otoritas terkait.
Untuk itu dibentuk Komite Koordinasi yang terdiri dari Menteri Keuangan, Gubernur Bank
Indonesia dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Sebagai
bagian dari kebijakan JPSK tersebut, telah dikeluarkan Keputusan Bersama Menteri
Keuangan, Gubernur Bank Indonesia dan Ketua Dewan Komisioner LPS tentang Forum
Stabilitas Sistem Keuangan sebagai wadah koordinasi bagi BI, Depkeu dan LPS dalam
memelihara stabilitas sistem keuangan.

LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN

Program penjaminan pemerintah (blanket guarantee) telah berhasil mengembalikan


kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan. Namun, kebijakan tersebut tersebut
meningkatkan beban anggaran negara dan berpotensi menimbulkan moral hazard oleh pihak
pengelola bank dan nasabah bank. Dalam rangka mengurangi dampak negatif dari program
penjaminan pemerintah tersebut, telah didirikan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Sesuai
dengan Undang-Undang No. 24 tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)
pada tanggal 22 September 2004, LPS memiliki dua fungsi yaitu menjamin simpanan
nasabah bank dan melakukan penyelesaian atau penanganan bank yang tidak berhasil
disehatkan atau bank gagal.

Penjaminan simpanan nasabah bank yang dilakukan LPS bersifat terbatas untuk mengurangi
beban anggaran negara dan meminimalkan moral hazard. Namun demikian, tetap dijaga
kepentingan nasabah secara optimal. Setiap bank yang beroperasi di Indonesia baik Bank
Umum maupun Bank Perkreditan Rakyat (BPR) diwajibkan untuk menjadi peserta
penjaminan. Adapun jenis simpanan di bank yang dijamin meliputi tabungan, giro, sertifikat
deposito dan deposito berjangka serta jenis simpanan lainnya yang dipersamakan dengan itu.
Skim penjaminan LPS telah dimulai secara penuh pada sejak tanggal 22 Maret 2007.

Apabila terdapat bank yang mengalami kesulitan keuangan dan gagal disehatkan kembali
sehingga harus dicabut izin usahanya, LPS akan membayar simpanan setiap nasabah bank
tersebut sampai jumlah tertentu, sebagaimana ditetapkan. Adapun simpanan nasabah yang
tidak dijamin akan diselesaikan melalui proses likuidasi bank. Dengan adanya penjaminan
simpanan nasabah bank oleh LPS, diharapkan kepercayaan masyarakat terhadap industri
perbankan dapat tetap terpelihara.

KOMUNIKASI DAN EDUKASI TERHADAP STAKEHOLDERS

Dalam pelaksanaan tugasnya, prinsip akuntabilitas dan transparansi senantiasa diterapkan


dengan cara menyampaikan informasi terkait kebijakan kepada pemangku kepentingan Bank
Indonesia. Pendekatan komunikasi Bank Indonesia dilakukan secara proaktif horisontal dan
multi-channel. Pendekatan ini dilakukan secara aktif dan dua arah dengan melakukan
inisiatif untuk melakukan penyebaran informasi mengenai kebijakannya sejak dini dan
terencana dengan berbagai instrumen komunikasi.

Pelaksanaan komunikasi Bank Indonesia diarahkan untuk mendukung pencapaian tujuan


Bank Indonesia. Karenanya, Bank Indonesia memfokuskan strategi komunikasinya pada
produk kebijakan yang selaras dengan ekspektasi dan kebutuhan publik. Diharapkan
kebijakan komunikasi tersebut dapat membentuk ekspektasi masyarakat sesuai dengan arah
kebijakan Bank Indonesia.

Untuk mengkomunikasikan kebijakan, digunakan media konvensional seperti surat kabar,


televisi, radio maupun melalui website dan media sosial. Selain melalui channel komunikasi
tersebut, komunikasi dengan DPR, pemerintah maupun lembaga negara lainnya terus
diperkuat untuk mensinergikan komunikasi antar lembaga.

Di samping itu, Bank Indonesia secara berkala menerbitkan berbagai publikasi seperti
Laporan Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Bank Indonesia, Laporan Tahunan Bank
Indonesia, Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia Bulanan, Tinjauan Kebijakan Moneter
Bulanan, Perkembangan Ekonomi dan Moneter Triwulanan, Laporan Triwulanan
Perkembangan Kebijakan Moneter dan laporan lainnya. Hal ini semata-mata dilakukan agar
pemangku kepentingan Bank Indonesia memahami secara mendalam dan komprehensif
mengenai tugas dan kebijakan yang diterbitkan Bank Indonesia.
Penjelasan detail mengenai Layanan Informasi Publik dan Laporan dapat diakses dalam
menu Layanan Informasi Publik dan Laporan Publikasi.

Dilihat dari sistem ketatanegaraan Republik Indonesia, kedudukan BI sebagai lembaga


negara yang independen tidak sejajar dengan lembaga tinggi negara seperti Dewan
Perwakilan Rakyat, Badan Pemeriksa Keuangan, dan Mahkamah Agung. Kedudukan BI juga
tidak sama dengan Departemen karena kedudukan BI berada di luar pemerintahan. Status dan
kedudukan yang khusus tersebut diperlukan agar BI dapat melaksanakan peran dan fungsinya
sebagai otoritas moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, dan pengelolaan uang Rupiah
secara lebih efektif dan efisien. Meskipun BI berkedudukan sebagai lembaga negara
independen, dalam melaksanakan tugasnya, BI mempunyai hubungan kerja dan koordinasi
yang baik dengan DPR, BPK, Pemerintah dan pihak lainnya.

Dalam hubungannya dengan Presiden dan DPR, BI setiap awal tahun anggaran
menyampaikan informasi tertulis mengenai evaluasi pelaksanaan kebijakan moneter dan
rencana kebijakan moneter yang akan datang. Khusus kepada DPR, pelaksanaan tugas dan
wewenang setiap triwulan dan sewaktu-waktu bila diminta oleh DPR. Selain itu, BI
menyampaikan rencana dan realiasasi anggaran tahunan kepada Pemerintah dan DPR. Dalam
hubungannya dengan BPK, BI wajib menyampaikan laporan keuangan tahunan kepada BPK.
Informasi lebih lanjut dapat mengunjungi informasi Pengawasan terhadap Bank Indonesia.

:: Hubungan BI dengan Pemerintah : Hubungan Keuangan

Dalam hal hubungan keuangan dengan Pemerintah, Bank Indonesia membantu menerbitkan
dan menempatkan surat-surat hutang negara guna membiayai Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara (APBN) tanpa diperbolehkan membeli sendiri surat-surat hutang negara
tersebut.

Bank Indonesia juga bertindak sebagai kasir Pemerintah yang menatausahakan rekening
Pemerintah di Bank Indonesia, dan atas permintaan Pemerintah, dapat menerima pinjaman
luar negeri untuk dan atas nama Pemerintah Indonesia.

Namun demikian, agar pelaksanaan tugas Bank Indonesia benar-benar terfokus serta agar
efektivitas pengendalian moneter tidak terganggu, pemberian kredit kepada Pemerintah guna
mengatasi deficit spending - yang selama ini dilakukan oleh Bank Indonesia berdasarkan
undang-undang yang lama - kini tidak dapat lagi dilakukan oleh Bank Indonesia.

:: Hubungan BI dengan Pemerintah : Independensi dalam Interdependensi

Meskipun Bank Indonesia merupakan lembaga negara yang independen, tetap diperlukan
koordinasi yang bersifat konsultatif dengan Pemerintah, sebab tugas-tugas Bank Indonesia
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kebijakan-kebijakan ekonomi nasional secara
keseluruhan.

Koordinasi di antara Bank Indonesia dan Pemerintah diperlukan pada sidang kabinet yang
membahas masalah ekonomi, perbankan dan keuangan yang berkaitan dengan tugas-tugas
Bank Indonesia. Dalam sidang kabinet tersebut Pemerintah dapat meminta pendapat Bank
Indonesia.
Selain itu, Bank Indonesia juga dapat memberikan masukan, pendapat serta pertimbangan
kepada Pemerintah mengenai Rancangan APBN serta kebijakan-kebijakan lain yang
berkaitan dengan tugas dan wewenangnya.

Di lain pihak, Pemerintah juga dapat menghadiri Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia
dengan hak bicara tetapi tanpa hak suara. Oleh sebab itu, implementasi independensi justru
sangat dipengaruhi oleh kemantapan hubungan kerja yang proporsional di antara Bank
Indonesia di satu pihak dan Pemerintah serta lembaga-lembaga terkait lainnya di lain pihak,
dengan tetap berlandaskan pembagian tugas dan wewenang masing-masing.

:: Kerjasama BI dengan Lembaga Lain

Menyadari pentingnya dukungan dari berbagai pihak bagi keberhasilan tugasnya, BI


senantiasa bekerja sama dan berkoordinasi dengan berbagai lembaga negara dan unsur
masyarakat lainnya. Beberapa kerjasama ini dituangkan dalam nota kesepahaman (MoU),
keputusan bersama (SKB), serta perjanjian-perjanjian, yang ditujukan untuk menciptakan
sinergi dan kejelasan pembagian tugas antar lembaga serta mendorong penegakan hukum
yang lebih efektif.

FORUM STABILITAS SISTEM KEUANGAN

Forum Stabilitas Sistem Keuangan (FSSK) adalah forumkoordinasi, kerja sama dan
pertukaran informasi antara otoritas yang berkepentingan dalam pemeliharaan stabilitas
sistem keuangan Indonesia. Forum ini sangat diperlukan terutama dalam menghadapi risiko
atau dampak sistemik, yang penyelesaiannya menuntut kebijakan dan pengambilan keputusan
bersama secara efektif dan responsif. FSSK dibentuk pada tanggal 30 Desember 2005,
berdasarkan Keputusan Bersama Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, dan Ketua
Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan.

Empat fungsi pokok FSSK, yakni :

1. Menunjang pelaksanaan tugas Komite Koordinasi dalam proses pengambilan


keputusan terhadap Bank Bermasalah yang ditengarai sistemik;
2. Melakukan koordinasi dan tukar menukar informasi untuk sinkronisasi peraturan
perundang-undangan dan ketentuan di bidang perbankan, lembaga keuangan non bank,
dan pasar modal;
3. Membahas berbagai permasalahan yang dihadapi oleh lembaga-lembaga yang
berkecimpung dalam sistem keuangan yang berpotensi sistemik berdasarkan informasi
dari otoritas pengawas lembaga keuangan;
4. Mengkoordinasikan pelaksanaan atau persiapan inisiatif tertentu di sektor keuangan.

Untuk memudahkan pelaksanaan keempat fungsi di atas, FSSK dikelompokkan dalam tiga
jenjang, yakni:
1. Forum Pengarah, bertugas memberikan arahan kepada Forum Pelaksana mengenai
fungsi pokok FSSK. Forum Pengarah terdiri dari 7 orang anggota, yakni 3 orang setingkat
Direktur Jenderal (Dirjen) Departemen Keuangan, 3 orang anggota Dewan Gubernur Bank
Indonesia dan 1 orang Kepala Eksekutif LPS.
2. Forum Pelaksana, bertugas melaksanakan fungsi pokok FSSK sesuai arahan dari
Forum Pengarah terdiri dari 14 orang anggota, yakni 6 orang Direktur di Departemen
Keuangan, 6 orang Direktur Bank Indonesia, dan 2 orang Direktur LPS.
3. Tim Kerja, berfungsi menunjang kelancaran tugas Forum Pengarah dan Forum
Pelaksana, beranggotakan pejabat-pejabat dari Departemen Keuangan, BI dan LPS yang
dibentuk berdasarkan usulan dari masing-masing lembaga dan keputusan Forum
Pengarah.
4. Tujuan Kebijakan Moneter Bank Indonesia
5.
6. Bank Indonesia memiliki tujuan untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai
rupiah. Tujuan ini sebagaimana tercantum dalam UU No. 3 tahun 2004 pasal 7
tentang Bank Indonesia.
7. Hal yang dimaksud dengan kestabilan nilai rupiah antara lain adalah kestabilan
terhadap harga-harga barang dan jasa yang tercermin pada inflasi. Untuk mencapai
tujuan tersebut, sejak tahun 2005 Bank Indonesia menerapkan kerangka kebijakan
moneter dengan inflasi sebagai sasaran utama kebijakan moneter (Inflation Targeting
Framework) dengan menganut sistem nilai tukar yang mengambang (free floating).
Peran kestabilan nilai tukar sangat penting dalam mencapai stabilitas harga dan sistem
keuangan. Oleh karenanya, Bank Indonesia juga menjalankan kebijakan nilai tukar
untuk mengurangi volatilitas nilai tukar yang berlebihan, bukan untuk mengarahkan
nilai tukar pada level tertentu.
8. Dalam pelaksanaannya, Bank Indonesia memiliki kewenangan untuk melakukan
kebijakan moneter melalui penetapan sasaran-sasaran moneter (seperti uang beredar
atau suku bunga) dengan tujuan utama menjaga sasaran laju inflasi yang ditetapkan
oleh Pemerintah. Secara operasional, pengendalian sasaran-sasaran moneter tersebut
menggunakan instrumen-instrumen, antara lain operasi pasar terbuka di pasar uang
baik rupiah maupun valuta asing, penetapan tingkat diskonto, penetapan cadangan
wajib minimum, dan pengaturan kredit atau pembiayaan. Bank Indonesia juga dapat
melakukan cara-cara pengendalian moneter berdasarkan Prinsip Syariah.

Kerangka Kebijakan Moneter

Kerangka Kebijakan Moneter di Indonesia

Dalam melaksanakan kebijakan moneter, Bank Indonesia menganut sebuah kerangka kerja
yang dinamakanInflation Targeting Framework (ITF). Kerangka kerja ini diterapkan secara
formal sejak Juli 2005, setelah sebelumnya menggunakan kebijakan moneter yang
menerapkan uang primer (base money) sebagai sasaran kebijakan moneter.
Apa itu ITF | Mengapa ITF? | Bagaimana ITF diterapkan?

Dengan kerangka ini, Bank Indonesia secara eksplisit mengumumkan sasaran inflasi kepada
publik dan kebijakan moneter diarahkan untuk mencapai sasaran inflasi yang ditetapkan oleh
Pemerintah tersebut. Untuk mencapai sasaran inflasi, kebijakan moneter dilakukan
secara forward looking, artinya perubahan stance kebijakan moneter dilakukan melaui
evaluasi apakah perkembangan inflasi ke depan masih sesuai dengan sasaran inflasi yang
telah dicanangkan. Dalam kerangka kerja ini, kebijakan moneter juga ditandai oleh
transparansi dan akuntabilitas kebijakan kepada publik. Secara
operasional, stance kebijakan moneter dicerminkan oleh penetapan suku bunga kebijakan
(BI Rate) yang diharapkan akan memengaruhi suku bunga pasar uang dan suku bunga
deposito dan suku bunga kredit perbankan. Perubahan suku bunga ini pada akhirnya akan
memengaruhi output dan inflasi.

engenalan Inflasi

Definisi Inflasi | Disagregasi Inflasi | Pentingnya Kestabilan Harga

Secara sederhana inflasi diartikan sebagai meningkatnya harga-harga secara umum dan terus
menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali
bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan harga) pada barang lainnya.
Kebalikan dari inflasi disebut deflasi.

Indikator yang sering digunakan untuk mengukur tingkat inflasi adalah Indeks Harga
Konsumen (IHK). Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari
paket barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. Sejak Juli 2008, paket barang dan jasa
dalam keranjang IHK telah dilakukan atas dasar Survei Biaya Hidup (SBH) Tahun 2007 yang
dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Kemudian, BPS akan memonitor
perkembangan harga dari barang dan jasa tersebut secara bulanan di beberapa kota, di pasar
tradisional dan modern terhadap beberapa jenis barang/jasa di setiap kota.

Indikator inflasi lainnya berdasarkan international best practice antara lain:

1. Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB). Harga Perdagangan Besar dari suatu
komoditas ialah harga transaksi yang terjadi antara penjual/pedagang besar pertama
dengan pembeli/pedagang besar berikutnya dalam jumlah besar pada pasar pertama atas
suatu komoditas. [Penjelasan lebih detail mengenai IHPB dapat dilihat pada web site
Badan Pusat Statistik www.bps.go.id]

2. Deflator Produk Domestik Bruto (PDB) menggambarkan pengukuran level harga


barang akhir (final goods) dan jasa yang diproduksi di dalam suatu ekonomi (negeri).
Deflator PDB dihasilkan dengan membagi PDB atas dasar harga nominal dengan PDB
atas dasar harga konstan.

Pengelompokan Inflasi

Inflasi yang diukur dengan IHK di Indonesia dikelompokan ke dalam 7 kelompok


pengeluaran (berdasarkan the Classification of individual consumption by purpose -
COICOP), yaitu :
1. Kelompok Bahan Makanan
2. Kelompok Makanan Jadi, Minuman, dan Tembakau
3. Kelompok Perumahan
4. Kelompok Sandang
5. Kelompok Kesehatan
6. Kelompok Pendidikan dan Olah Raga
7. Kelompok Transportasi dan Komunikasi.

isagregasi Inflasi | Pentingnya Kestabilan Harga

Disamping pengelompokan berdasarkan COICOP tersebut, BPS saat ini juga


mempublikasikan inflasi berdasarkan pengelompokan yang lainnya yang dinamakan
disagregasi inflasi. Disagregasi inflasi tersebut dilakukan untuk menghasilkan suatu indikator
inflasi yang lebih menggambarkan pengaruh dari faktor yang bersifat fundamental.

Di Indonesia, disagegasi inflasi IHK tersebut dikelompokan menjadi:

1. Inflasi Inti, yaitu komponen inflasi yang cenderung menetap atau persisten
(persistent component) di dalam pergerakan inflasi dan dipengaruhi oleh faktor
fundamental, seperti:
o Interaksi permintaan-penawaran
o Lingkungan eksternal: nilai tukar, harga komoditi internasional, inflasi mitra
dagang
o Ekspektasi Inflasi dari pedagang dan konsumen

2. Inflasi non Inti, yaitu komponen inflasi yang cenderung tinggi volatilitasnya karena
dipengaruhi oleh selain faktor fundamental. Komponen inflasi non inti terdiri dari :
o Inflasi Komponen Bergejolak (Volatile Food) :
Inflasi yang dominan dipengaruhi oleh shocks (kejutan) dalam kelompok bahan
makanan seperti panen, gangguan alam, atau faktor perkembangan harga komoditas
pangan domestik maupun perkembangan harga komoditas pangan internasional.
o Inflasi Komponen Harga yang diatur Pemerintah (Administered Prices) :
Inflasi yang dominan dipengaruhi oleh shocks (kejutan) berupa kebijakan harga
Pemerintah, seperti harga BBM bersubsidi, tarif listrik, tarif angkutan, dll.
3.
Determinan Inflasi
Inflasi timbul karena adanya tekanan dari sisi supply (cost push inflation), dari sisi
permintaan (demand pull inflation), dan dari ekspektasi inflasi. Faktor-faktor terjadinya cost
push inflation dapat disebabkan oleh depresiasi nilai tukar, dampak inflasi luar negeri
terutama negara-negara partner dagang, peningkatan harga-harga komoditi yang diatur
pemerintah (administered price), dan terjadi negative supply shocks akibat bencana alam dan
terganggunya distribusi.

Faktor penyebab terjadi demand pull inflation adalah tingginya permintaan barang dan jasa
relatif terhadap ketersediaannya. Dalam konteks makroekonomi, kondisi ini digambarkan
oleh output riil yang melebihi outputpotensialnya atau permintaan total (agregate demand)
lebih besar dari pada kapasitas perekonomian. Sementara itu, faktor ekspektasi inflasi
dipengaruhi oleh perilaku masyarakat dan pelaku ekonomi dalam menggunakan ekspektasi
angka inflasi dalam keputusan kegiatan ekonominya. Ekspektasi inflasi tersebut apakah lebih
cenderung bersifat adaptif atau forward looking. Hal ini tercermin dari perilaku pembentukan
harga di tingkat produsen dan pedagang terutama pada saat menjelang hari-hari besar
keagamaan (lebaran, natal, dan tahun baru) dan penentuan upah minimum regional (UMR).
Meskipun ketersediaan barang secara umum diperkirakan mencukupi dalam mendukung
kenaikan permintaan, namun harga barang dan jasa pada saat-saat hari raya keagamaan
meningkat lebih tinggi dari komdisi supply-demand tersebut. Demikian halnya pada saat
penentuan UMR, pedagang ikut pula meningkatkan harga barang meski kenaikan upah
tersebut tidak terlalu signifikan dalam mendorong peningkatan permintaan.

Pentingnya Kestabilan Harga

Kestabilan inflasi merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan


yang pada akhirnya memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Pentingnya pengendalian inflasi didasarkan pada pertimbangan bahwa inflasi yang tinggi dan
tidak stabil memberikan dampak negatif kepada kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Pertama, inflasi yang tinggi akan menyebabkan pendapatan riil masyarakat akan terus turun
sehingga standar hidup dari masyarakat turun dan akhirnya menjadikan semua orang,
terutama orang miskin, bertambah miskin.

Kedua, inflasi yang tidak stabil akan menciptakan ketidakpastian (uncertainty) bagi pelaku
ekonomi dalam mengambil keputusan. Pengalaman empiris menunjukkan bahwa inflasi yang
tidak stabil akan menyulitkan keputusan masyarakat dalam melakukan konsumsi, investasi,
dan produksi, yang pada akhirnya akan menurunkan pertumbuhan ekonomi.

Ketiga, tingkat inflasi domestik yang lebih tinggi dibanding dengan tingkat inflasi di negara
tetangga menjadikan tingkat bunga domestik riil menjadi tidak kompetitif sehingga dapat
memberikan tekanan pada nilai rupiah.

ank Indonesia dan Inflasi

Inflasi sebagai single objective


Melalui amanat yang tercakup di Undang Undang tentang Bank Indonesia, tujuan Bank
Indonesia fokus pada pencapaian sasaran tunggal atau single objective-nya, yaitu mencapai
dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah ini mengandung dua aspek,
yaitu kestabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa, serta kestabilan terhadap mata
uang negara lain. Aspek pertama tercermin pada perkembangan laju inflasi, sementara aspek
kedua tercermin pada perkembangan nilai tukar rupiah terhadap mata uang Negara lain.
baca selengkapnya

Pengendalian Inflasi

Kebijakan moneter Bank Indonesia ditujukan untuk mengelola tekanan harga yang berasal
dari sisi permintaan aggregat (demand management) relatif terhadap kondisi sisi penawaran.
Kebijakan moneter tidak ditujukan untuk merespon kenaikan inflasi yang disebabkan oleh
faktor yang bersifat kejutan yang bersifat sementara (temporer) yang akan hilang dengan
sendirinya seiring dengan berjalannya waktu. baca selengkapnya

Penetapan Target Inflasi

Target atau sasaran inflasi merupakan tingkat inflasi yang harus dicapai oleh Bank Indonesia,
berkoordinasi dengan Pemerintah. Penetapan sasaran inflasi berdasarkan UU mengenai Bank
Indonesia dilakukan oleh Pemerintah. Dalam Nota Kesepahaman antara Pemerintah dan
Bank Indonesia, sasaran inflasi ditetapkan untuk tiga tahun ke depan melalui Peraturan
Menteri Keuangan (PMK). Berdasarkan PMK No.66/PMK.011/2012 tentang Sasaran Inflasi
tahun 2013, 2014, dan 2015 tanggal 30 April 2012 sasaran inflasi yang ditetapkan oleh
Pemerintah untuk periode 2013 2015, masing-masing sebesar 4,5%, 4,5%, dan 4% masing-
masing dengan deviasi 1% baca selengkapnya

oordinasi Pengendalian Inflasi

Inflasi yang rendah dan stabil merupakan prasyarat untuk mewujudkan kesejahteraan
masyarakat. Sementara itu, sumber tekanan inflasi Indonesia tidak hanya berasal dari sisi
permintaan yang dapat dikelola oleh Bank Indonesia. Dari hasil penelitian, karakteristik
inflasi di Indonesia masih cenderung bergejolak yang terutama dipengaruhi oleh sisi suplai
(sisi penawaran) berkenaan dengan gangguan produksi, distribusi maupun kebijakan
pemerintah. Selain itu, shocks terhadap inflasi juga dapat berasal dari kebijakan pemerintah
terkait harga komoditas strategis seperti BBM dan komoditas energi lainnya (administered
prices).

Berdasarkan karakteristik inflasi yang masih rentan terhadap shocks tersebut, untuk mencapai
inflasi yang rendah, pengendalian inflasi memerlukan kerjasama dan koordinasi lintas
instansi, yakni antara Bank Indonesia dengan Pemerintah. Diharapkan dengan adanya
harmonisasi dan sinkronisasi kebijakan tersebut, inflasi yang rendah dan stabil dapat tercapai
yang pada gilirannya mendukung kesejahteraan masyarakat.
Menyadari pentingnya peran koordinasi dalam rangka pencapaian inflasi yang rendah dan
stabil, Pemerintah dan Bank Indonesia membentuk Tim Pemantauan dan Pengendalian
Inflasi (TPI) di level pusat sejak tahun 2005. Penguatan koordinasi kemudian dilanjutkan
dengan membentuk Tim Pengendalian Inflasi di level daerah (TPID) pada tahun 2008.
Selanjutnya, untuk menjembatani tugas dan peran TPI di level pusat dan TPID di daerah,
maka padaJuli 2011 terbentuk Kelompok Kerja Nasional (Pokjanas) TPID yang
diharapkan dapat menjadi katalisator yang dapat memperkuat efektivitas peran TPID.
Keanggotaan Pokjanas TPID adalah Bank Indonesia, Kemenko Perekonomian dan
Kemendagri.

Tentang Tim Pemantauan dan Pengendalian Inflasi (TPI)

Pembentukan TPI didasarkan pada Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Keuangan
No.88/KMK.02/2005 dan Gubernur Bank Indonesia No.7/9/KEP.GBI/2005 yang berlaku
untuk masa tugas 1 tahun (tahun 2005).Untuk selanjutnya, dasar hukum pelaksanaan tugas
TPI diatur dalam Surat Keputusan (SK) Menteri Keuangan (Menkeu) yang ditetapkan setiap
tahun.

TPI dibentuk berdasarkan pertimbangan bahwa inflasi yang rendah dan stabil merupakan satu
sasaran yang ingin dicapai Pemerintah, sebagai bagian dalam upaya menjaga stabilitas makro
ekonomi sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) dan Undang-
Undang (UU) Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagai mana telah diubah
terakhir dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2009.

Tugas dan Fungsi

Merujuk pada pertimbangan awal pembentukan TPI yang dituangkan dalam Keputusan
Menteri Keuangan (KMK), di dalamnya termaktub beberapa tugas utama yang digunakan
sebagai dasar pelaksanaan tugas TPI, yakni:
1. Melakukan koordinasi dalam rangka penetapan sasaran inflasi tiga tahun ke depan;
2. Melakukan koordinasi dalam rangka pemantauan dan evaluasi faktor-faktor yang
mempengaruhi inflasi termasuk di dalamnya kebijakan-kebijakan yang ditempuh;
3. Melakukan koordinasi dalam rangka merekomendasikan pilihan kebijakan yang
mendukung kepada pencapaian sasaran inflasi kepada Menteri Keuangan.

Susunan Keanggotaan

Selain BI, keanggotaan TPI adalah dari instansi terkait dari Pemerintah yang kebijakannya
berkaitan dengan kebijakan di bidang harga dan pendapatan. Dengan pertimbangan tersebut,
keanggotaan TPI dari instansi terkait di Pemerintah adalah Kementerian Keuangan,
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Negara Perencanaan
Pembangunan Nasional, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, Kementerian
Perhubungan, Kementerian ESDM, dan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Susunan keanggotaan dari setiap tahun diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan dan
dapat disesuaikan dengan kebutuhan terutama dalam rangka meningkatkan efektivitas
pengendalian inflasi. Pada tahun 2012, keanggotaan Tim diatur dalam No. 966/KM.1/2012
terdiri dari Pengarah, Penanggung Jawab, Tim Pelaksana dan Sekretariat Tim.

Program/Agenda Kerja

Mekanisme kerja TPI disandarkan pada tugas-tugas yang tercantum di dalam Keputusan
Menteri Keuangan yang diperbaharui setiap tahunnya. Di dalam KMK tersebut, untuk level
teknis tim antara lain melakukan pertemuan rutin setiap bulan yang mengagendakan beberapa
hal, diantaranya untuk memperoleh updating dan monitoring kebijakan masing-masing
instansi yang berdampak pada inflasi. Dengan pertukaran informasi tersebut, TPI dapat
mengidentifikasi sumber-sumber sekaligus potensi tekanan inflasi ke depan sehingga dapat
menyelaraskan berbagai kebijakan di masing-masing instansi agar konsisten dengan
pencapaian sasaran inflasi.

Selain itu, untuk memperkuat keberadaan dan peran TPI dilakukan juga pertemuan di tingkat
eselon I pertemuan tersebut yang merupakan pertemuan pembuat keputusan (decision maker)
dari masing-masing lembaga. Dalam pertemuan tersebut dikemukakan beberapa
permasalahan yang terkait dengan pengendalian inflasi dikemukanan sekaligus pilihan-
pilihan kebijakan yang mungkin ditempuh. Dengan pertemuan tingkat tinggi tersebut,
permasalahan pengendalian inflasi yang telah teridentifikasi di level teknis dapat ditindak-
lanjuti sehingga kinerja TPI menjadi lebih efektif.

Selanjutnya, sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan tersebut, TPI bertanggung jawab
memberikan laporan kepada Menteri Keuangan di setiap akhir tahun periode tugasnya.

Untuk tahun 2013, Kegiatan TPI akan difokuskan pada beberapa kegiatan, yaitu

1. Pemantauan dan identifikasi tekanan inflasi serta penyusunan rekomendasi mengenai


langkah-langkah pengendalian tekanan inflasi.
2. Melakukan asesmen dan menyusun rekomendasi kebijakan stabilisasi harga pangan
dalam konteks implementasiUndang-undang No.18/2012 tentang Pangan.
3. Penguatan aspek kelembagaan dan penyelarasan kegiatan antara TPI dan Pokjanas
TPID.
4. Penguatan kapasitas sumber daya manusia dan penerbitan publikasi singkat tentang
inflasi.

akarta Interbank Offered Rate (JIBOR)

Jakarta Interbank Offered Rate (JIBOR) adalah rata-rata dari suku bunga indikasi pinjaman
tanpa agunan (unsecured) yang ditawarkan dan dimaksudkan untuk ditransaksikan oleh Bank
Kontributor kepada Bank Kontributor lain untuk meminjamkan rupiah untuk tenor tertentu di
Indonesia.

JIBOR merupakan suku bunga acuan yang digunakan pada transaksi keuangan antara lain
untuk referensi suku bunga mengambang, produk derivatif suku bunga dan valuasi instrumen
keuangan dalam mata uang rupiah.
Penggunaan JIBOR akan mendukung terciptanya pasar uang yang likuid dan dalam serta
efisiensi transaksi di pasar uang yang pada akhirnya akan memperkuat stabilitas moneter dan
sistem keuangan di Indonesia.

JIBOR dipublikasikan melalui situs Bank Indonesia pada setiap hari kerja pukul 10.00 WIB.
Selain itu, JIBOR juga dipublikasikan melalui sistem Laporan Harian Bank Umum (LHBU)
Bank Indonesia, Thomson Reuters dan Bloomberg.

JIBOR ditetapkan berdasarkan suku bunga indikasi yang disampaikan oleh bank kontributor.
Dalam rangka meningkatkan kredibilitas JIBOR, sejak 1 April 2015 Bank Indonesia
mewajibkan bank kontributor untuk menerima permintaan transaksi meminjam dan/atau
meminjamkan rupiah pada tingkat suku bunga sesuai suku bunga indikasi yang disampaikan
oleh bank kontributor tersebut, sepanjang memenuhi batasan waktu dan batasan tertentu.

Selain itu, sejak 1 April 2015 dan sejalan dengan yang terjadi di negara lain, Bank Indonesia
menghentikan JIBOR dalam mata uang dolar Amerika Serikat karena sangat jarang atau
dapat dikatakan tidak pernah digunakan dan diacu oleh pelaku pasar.

Penjelasan singkat mengenai JIBOR adalah sbb:

No Subjek Keterangan

1 Waktu publikasi 10.00 WIB


2 Tenor overnight, 1 minggu, 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, dan 12 bulan
Day count
3 convention Actual/360
Metode Rata-rata sederhana, setelah mengeluarkan 15% data suku bunga
4 perhitungan indikasi tertinggi dan 15% data suku bunga indikasi terendah

Penjelasan BI Rate sebagai Suku Bunga Acuan

Definisi

BI Rate adalah suku bunga kebijakan yang mencerminkan sikap atau stance kebijakan
moneter yang ditetapkan oleh bank Indonesia dan diumumkan kepada publik.

Fungsi

BI Rate diumumkan oleh Dewan Gubernur Bank Indonesia setiap Rapat Dewan
Gubernur bulanan dan diimplementasikan pada operasi moneter yang dilakukan Bank
Indonesia melalui pengelolaan likuiditas (liquidity management) di pasar uang untuk
mencapai sasaran operasional kebijakan moneter.

Sasaran operasional kebijakan moneter dicerminkan pada perkembangan suku bunga Pasar
Uang Antar BankOvernight (PUAB O/N). Pergerakan di suku bunga PUAB ini diharapkan
akan diikuti oleh perkembangan di suku bunga deposito, dan pada gilirannya suku bunga
kredit perbankan.

Dengan mempertimbangkan pula faktor-faktor lain dalam perekonomian, Bank Indonesia


pada umumnya akan menaikkan BI Rate apabila inflasi ke depan diperkirakan melampaui
sasaran yang telah ditetapkan, sebaliknya Bank Indonesia akan menurunkan BI Rate apabila
inflasi ke depan diperkirakan berada di bawah sasaran yang telah ditetapkan.

Penetapan BI Rate

Jadwal Penetapan dan Penentuan

Penetapan respons (stance) kebijakan moneter dilakukan setiap bulan melalui mekanisme
RDG Bulanan dengan cakupan materi bulanan.

Respon kebijakan moneter (BI Rate) ditetapkan berlaku sampai dengan RDG
berikutnya

Penetapan respon kebijakan moneter (BI Rate) dilakukan dengan memperhatikan efek
tunda kebijakan moneter (lag of monetary policy) dalam memengaruhi inflasi.

Dalam hal terjadi perkembangan di luar prakiraan semula,


penetapan stance Kebijakan Moneter dapat dilakukan sebelum RDG Bulanan melalui
RDG Mingguan.

Besar Perubahan BI Rate

Respon kebijakan moneter dinyatakan dalam perubahan BI Rate (secara konsisten dan
bertahap dalam kelipatan 25basis poin (bps). Dalam kondisi untuk menunjukkan intensi Bank
Indonesia yang lebih besar terhadap pencapaian sasaran inflasi, maka perubahan BI Rate
dapat dilakukan lebih dari 25 bps dalam kelipatan 25 bps.

BI 7-day (Reverse) Repo Rate

Bank Indonesia melakukan penguatan kerangka operasi moneter dengan memperkenalkan


suku bunga acuan atau suku bunga kebijakan baru yaitu BI 7-Day Repo Rate, yang akan
berlaku efektif sejak 19 Agustus 2016. Selain BI Rateyang digunakan saat ini, perkenalan
suku bunga kebijakan yang baru ini tidak mengubah stance kebijakan moneter yang sedang
diterapkan.

Mengapa BI memperkenalkan suku bunga acuan BI baru? Hal itu agar suku bunga kebijakan
dapat secara cepat memengaruhi pasar uang, perbankan dan sektor riil. Instrumen BI 7-Day
Repo Rate sebagai acuan yang baru memiliki hubungan yang lebih kuat ke suku bunga pasar
uang, sifatnya transaksional atau diperdagangkan di pasar, dan mendorong pendalaman pasar
keuangan.

Pada masa transisi, BI Rate akan tetap digunakan sebagai acuan bersama dengan BI Repo
Rate 7 Hari.

Penguatan kerangka operasi moneter ini merupakan hal yang lazim dilakukan di berbagai
bank sentral dan merupakanbest practice internasional dalam pelaksanaan operasi moneter.
Kerangka operasi moneter senantiasa disempurnakan untuk meningkatkan efektivitas
kebijakan. Khususnya untuk menjaga stabilitas harga.

Penguatan kerangka operasi moneter juga mempertimbangkan kondisi makroekonomi yang


kondusif dalam beberapa waktu terakhir, yang memberikan momentun bagi upaya penguatan
kerangka operasi moneter.

PENJELASAN OPERASI MONETER

Kerangka Operasi Moneter | Proses Operasi Moneter | Kriteria Surat Berharga &
Counterparty Penyempurnaan Operasi Moneter | Proyeksi Likuiditas Harian

Dalam rangka mencapai sasaran akhir kebijakan moneter, Bank Indonesia menerapkan
kerangka kebijakan moneter melalui pengendalian suku bunga (target suku bunga). Stance
kebijakan moneter dicerminkan oleh penetapan suku bunga kebijakan (BI Rate). Dalam
tataran operasional, BI Rate tercermin dari suku bunga pasar uang jangka pendek yang
merupakan sasaran operasional kebijakan moneter. Sejak 9 Juni 2008, BI menggunakan suku
bunga Pasar Uang Antara Bank (PUAB)1 overnight (o/n) sebagai sasaran operasional
kebijakan moneter.

Agar pergerakan suku bunga PUAB o/n tidak terlalu melebar dari anchor-nya (BI Rate),
Bank Indonesia selalu berusaha untuk menjaga dan memenuhi kebutuhan likuiditas
perbankan secara seimbang sehingga terbentuk suku bunga yang wajar dan stabil melalui
pelaksanaan operasi moneter (OM).

Operasi Moneter adalah pelaksanaan kebijakan moneter oleh Bank Indonesia dalam rangka
pengendalian moneter melalui Operasi Pasar Terbuka dan Standing Facilities. Operasi Pasar
Terbuka yang selanjutnya disebut OPT merupakan kegiatan transaksi di pasar uang yang
dilakukan atas inisiatif Bank Indonesia dalam rangka mengurangi (smoothing) volatilitas
suku bunga PUAB o/n. Sementara instrumen Standing Facilities merupakan penyediaan dana
rupiah (lending facility) dari Bank Indonesia kepada Bank dan penempatan dana rupiah
(deposit facility) oleh Bank di Bank Indonesia dalam rangka membentuk koridor suku bunga
di PUAB o/n. OPT dilakukan atas inisiatif Bank Indonesia, sementara Standing Facilities
dilakukan atas inisiatif bank.

rangan :
PUAB atau Pasar Uang Antar Bank adalah kegiatan pinjam meminjam dana antara satu
bank dengan bank lainnya. Suku bunga PUAB merupakan harga yang terbentuk dari
kesepakatan pihak yang meminjam dan meminjamkan dana. Kegiatan di PUAB dilakukan
melalui mekanisme over the counter (OTC) yaitu terciptanya kesepakatan antara peminjam
dan pemilik dana yang dilakukan tidak melalui lantai bursa. Transaksi PUAB dapat
berjangka waktu dari satu hari kerja (overnight) sampai dengan satu tahun.

. Proyeksi Likuiditas

Untuk menentukan berapa jumlah likuiditas yang harus diserap (absorpsi) maupun disediakan
(injeksi) dalam rangka menjaga keseimbangan supply dan demand, Bank Indonesia
melakukan estimasi kebutuhan likuiditas perbankan sehingga dapat ditetapkan target operasi
moneter setiap harinya. Estimasi likuiditas perbankan dilakukan dengan mempertimbangkan
faktor-faktor otonom (autonomous factor) seperti operasi keuangan Pemerintah dan mutasi
uang kartal.

Efektivitas operasi moneter berbasis suku bunga tidak terlepas dari adanya informasi yang
handal dan setara kepada seluruh pelaku pasar, sehingga tercipta persepsi yang sama untuk
mencapai tujuannya, yaitu terbentuknya suku bunga yang wajar. Oleh karena itu, sejak
Oktober 2008 Bank Indonesia mulai mengumumkan kondisi likuiditas perbankan kepada
pelaku pasar dan masyarakat sebanyak dua kali setiap harinya melalui website Bank
Indonesia, BI-SSSS dan sarana lainnya. Dengan adanya informasi mengenai kondisi
likuiditas, diharapkan dapat membantu treasury bank dalam mengelola kebutuhan
likuiditasnya dan meningkatkan efektifitas pelaksanaan Operasi Moneter.

Pengumuman proyeksi likuiditas meliputi 2 (dua) materi utama yaitu:

Proyeksi Total Likuiditas Tersedia


Proyeksi Total Likuiditas adalah perkiraan ketersediaan likuiditas rupiah di pasar dan
merupakan hasil proyeksi dari net perubahan faktor otonomus yang berperan dalam
menambah/mengurangi ketersediaan likuiditas rupiah. Ketersediaan likuiditas rupiah
antara lain dipengaruhi oleh net aliran masuk/keluar uang kartal dari/ke sistem perbankan
dan mutasi rekening pemerintah di Bank Indonesia, net instrumen Operasi Moneter jatuh
waktu, dan net perubahan saldo giro perbankan di Bank Indonesia.

Proyeksi Excess Reserve


Proyeksi Excess Reserve adalah perkiraan selisih antara saldo giro perbankan di Bank
Indonesia dengan kewajiban pemeliharaan Giro Wajib Minimum (GWM).

Tautan Terkait:
Pengumuman Proyeksi Likuiditas

B. Operasi Pasar Terbuka


Operasi Pasar Terbuka (OPT) adalah kegiatan transaksi di pasar uang dalam rangka Operasi
Moneter yang dilakukan oleh Bank Indonesia dengan Peserta Operasi Moneter. Operasi Pasar
Terbuka dilakukan untuk mencapai target suku bunga PUAB O/N sebagai sasaran operasional
kebijakan moneter. OPT terdiri dari 2 jenis, yaitu:

1. OPT Absorpsi
OPT absorpsi dilakukan apabila dari perkiraan perhitungan likuiditas maupun dari
indikator suku bunga di PUAB diperkirakan mengalami kelebihan likuiditas, yang
diantaranya diindikasikan melalui penurunan suku bunga PUAB secara tajam. Instrumen
yang digunakan dalam OPT absorpsi ini adalah (i) Penerbitan SBI dan SBIS, (ii)
Penerbitan SDBI (iii)Transaksi Reverse Repo SBN, (iv) Transaksi Penjualan SBN secara
outright, (v) Penempatan berjangka (Term Deposit) dalam rupiah di Bank Indonesia dan
(vi) Jual Valuta Asing terhadap Rupiah (dalam bentuk spot, forward atau swap). Peserta
pada OPT Absorpsi adalah bank dan/atau lembaga perantara yang melakukan transaksi
untuk kepentingan bank.

2. OPT Injeksi
OPT injeksi dilakukan apabila dari perkiraan perhitungan likuiditas maupun dari indikator
suku bunga di PUAB diperkirakan mengalami kekurangan likuiditas, yang diantaranya
diindikasikan melalui peningkatan suku bunga PUAB secara tajam. Instrumen yang
digunakan dalam OPT injeksi ini adalah (i) Transaksi Repo, (ii) Transaksi Pembelian SBN
secara outright dan (iii) Beli Valuta Asing terhadap Rupiah (dalam bentuk spot, forward
atau swap). Peserta pada OPT Injeksi adalah bank dan/atau lembaga perantara yang
melakukan transaksi untuk kepentingan bank.

Berikut ini adalah tabel jenis instrumen OPT dan dampaknya terhadap likuiditas serta
karakteristiknya :

Keterangan:

- VRT (Variable Rate Tender)


- FRT (Fixed Rate Tender)
- FX (foreign exchange)
- SBI (Sertifikat Bank Indonesia)
- SBIS (Sertifikat Bank Indonesia Syariah)
- SBN (Surat Berharga Negara)
- SDBI (Sertifikat Deposito Bank Indonesia)

Tautan Terkait:

Indikator Terpilih Moneter & Sistem Pembayaran (ITEMs)


PBI Operasi Moneter
SE Operasi Pasar Terbuka
PBI Operasi Moneter Syariah
C. Standing Facilities

Koridor Suku Bunga atau Standing Facilities (SF) adalah kegiatan penyediaan dana rupiah
(lending facility) dari Bank Indonesia kepada Bank dan penempatan dana rupiah (deposit
facility) oleh Bank di Bank Indonesia dalam rangka Operasi Moneter. Penyediaan Standing
Facilities berfungsi untuk membatasi volatilitas suku bunga PUAB O/N. Standing facilities
terdiri dari 2 jenis, yaitu:

1. Penyediaan dana rupiah dari Bank Indonesia kepada Bank (lending facility), yaitu
fasilitas bagi bank yang mengalami kesulitan likuiditas dengan cara merepokan
SBI/SDBI/SBN yang dimilikinya kepada Bank Indonesia; dan
2. Penempatan dana rupiah oleh Bank di Bank Indonesia (deposit facility), yaitu
fasilitas bagi bank yang memiliki kelebihan likuiditas dengan cara menempatkan dana
yang dimilikinya kepada Bank Indonesia.
3. Bagaimana Bekerjanya Kebijakan Moneter?
4.
Tujuan akhir kebijakan moneter adalah menjaga dan memelihara kestabilan nilai
rupiah yang salah satunya tercermin dari tingkat inflasi yang rendah dan stabil. Untuk
mencapai tujuan itu Bank Indonesia menetapkan suku bunga kebijakan BI Rate
sebagai instrumen kebijakan utama untuk mempengaruhi aktivitas kegiatan
perekonomian dengan tujuan akhir pencapaian inflasi. Namun jalur atau transmisi
dari keputusan BI rate sampai dengan pencapaian sasaran inflasi tersebut sangat
kompleks dan memerlukan waktu (time lag).
5. Mekanisme bekerjanya perubahan BI Rate sampai mempengaruhi inflasi tersebut
sering disebut sebagai mekanisme transmisi kebijakan moneter. Mekanisme ini
menggambarkan tindakan Bank Indonesia melalui perubahan-perubahan instrumen
moneter dan target operasionalnya mempengaruhi berbagai variable ekonomi dan
keuangan sebelum akhirnya berpengaruh ke tujuan akhir inflasi. Mekanisme tersebut
terjadi melalui interaksi antara Bank Sentral, perbankan dan sektor keuangan, serta
sektor riil. Perubahan BI Rate mempengaruhi inflasi melalui berbagai jalur,
diantaranya jalur suku bunga, jalur kredit, jalur nilai tukar, jalur harga aset, dan jalur
ekspektasi.
6.

7. Pada jalur suku bunga, perubahan BI Rate mempengaruhi suku bunga deposito dan
suku bunga kredit perbankan. Apabila perekonomian sedang mengalami kelesuan,
Bank Indonesia dapat menggunakan kebijakan moneter yang ekspansif melalui
penurunan suku bunga untuk mendorong aktifitas ekonomi. Penurunan suku bunga
BI Rate menurunkan suku bunga kredit sehingga permintaan akan kredit dari
perusahaan dan rumah tangga akan meningkat. Penurunan suku bunga kredit juga
akan menurunkan biaya modal perusahaan untuk melakukan investasi. Ini semua
akan meningkatkan aktifitas konsumsi dan investasi sehingga aktifitas perekonomian
semakin bergairah. Sebaliknya, apabila tekanan inflasi mengalami kenaikan, Bank
Indonesia merespon dengan menaikkan suku bunga BI Rate untuk mengerem aktifitas
perekonomian yang terlalu cepat sehingga mengurangi tekanan inflasi.
8. Perubahan suku bunga BI Rate juga dapat mempengaruhi nilai tukar. Mekanisme ini
sering disebut jalur nilai tukar. Kenaikan BI Rate, sebagai contoh, akan mendorong
kenaikan selisih antara suku bunga di Indonesia dengan suku bunga luar negeri.
Dengan melebarnya selisih suku bunga tersebut mendorong investor asing untuk
menanamkan modal ke dalam instrument-instrumen keuangan di Indonesia seperti
SBI karena mereka akan mendapatkan tingkat pengembalian yang lebih tinggi.
Aliran modal masuk asing ini pada gilirannya akan mendorong apresiasi nilai tukar
Rupiah. Apresiasi Rupiah mengakibatkan harga barang impor lebih murah dan barang
ekspor kita di luar negeri menjadi lebih mahal atau kurang kompetitif sehingga akan
mendorong impor dan mengurangi ekspor. Turunnya net ekspor ini akan berdampak
pada menurunnya pertumbuhan ekonomi dan kegiatan perekonomian.
9. Perubahan suku bunga BI Rate mempengaruhi perekonomian makro melalui
perubahan harga aset. Kenaikan suku bunga akan menurunkan harga aset seperti
saham dan obligasi sehingga mengurangi kekayaan individu dan perusahaan yang
pada gilirannya mengurangi kemampuan mereka untuk melakukan kegiatan ekonomi
seperti konsumsi dan investasi.
10. Dampak perubahan suku bunga kepada kegiatan ekonomi juga mempengaruhi
ekspektasi publik akan inflasi (jalur ekspektasi). Penurunan suku bunga yang
diperkirakan akan mendorong aktifitas ekonomi dan pada akhirnya inflasi mendorong
pekerja untuk mengantisipasi kenaikan inflasi dengan meminta upah yang lebih
tinggi. Upah ini pada akhirnya akan dibebankan oleh produsen kepada konsumen
melalui kenaikan harga.
11. Mekanisme transmisi kebijakan moneter ini bekerja memerlukan waktu (time
lag). Time lag masing-masing jalur bisa berbeda dengan yang lain. Jalur nilai tukar
biasanya bekerja lebih cepat karena dampak perubahan suku bunga kepada nilai tukar
bekerja sangat cepat. Kondisi sektor keuangan dan perbankan juga sangat
berpengaruh pada kecepatan tarnsmisi kebijakan moneter. Apabila perbankan
melihat risiko perekonomian cukup tinggi, respon perbankan terhadap penurunan
suku bunga BI rate biasanya sangat lambat. Juga, apabila perbankan sedang
melakukan konsolidasi untuk memperbaiki permodalan, penurunan suku bunga kredit
dan meningkatnya permintaan kredit belum tentu direspon dengan menaikkan
penyaluran kredit. Di sisi permintaan, penurunan suku bunga kredit perbankan juga
belum tentu direspon oleh meningkatnya permintaan kredit dari masyarakat apabila
prospek perekonomian sedang lesu. Kesimpulannya, kondisi sektor keuangan,
perbankan, dan kondisi sektor riil sangat berperan dalam menentukan efektif atau
tidaknya proses transmisi kebijakan moneter.
12. Transparansi dan Akuntabilitas Kebijakan Moneter
13.
14. Transparansi dan Komunikasi
15. Agar kebijakan moneter dapat berkerja secara efektif, komunikasi yang terbuka antara
Bank Indonesia dengan masyarakat sangat dibutuhkan. Oleh karenanya, kebijakan
moneter Bank Indonesia senantiasa dikomunikasikan secara transparan kepada
masyarakat. Komunikasi tersebut juga sebagai bagian dari akuntabilitas kebijakan
moneter dan berperan dalam membantu pembentukan ekspektasi masyarakat terhadap
inflasi ke depan. Melalui komunikasi, Bank Indonesia mengajak masyarakat untuk
memandang dan membentuk tingkat inflasi ke depan sebagaimana yang diitetapkan
dalam sasaran yang diumumkan. Oleh karenanya, komunikasi kebijakan moneter
dilakukan dengan terus menerus memuat pengumuman dan penjelasan tentang
sasaran inflasi ke depan, analisis Bank Indonesia terhadap perekonomian, kerangka
kerja, dan langkah-langkah kebijakan moneter yang telah dan akan ditempuh, jadwal
Rapat Dewan Gubernur (RDG), serta hal-hal lain yang ditetapkan oleh Dewan
Gubernur.
16. Komunikasi kebijakan moneter dilakukan dalam bentuk siaran pers, konferensi pers
setelah Rapat Dewan Gubernur, publikasi Tinjauan/Laporan Kebijakan Moneter yang
memuat latar belakang pengambilan keputusan, maupun penjelasan langsung kepada
masyarakat luas, media massa, pelaku ekonomi, analis pasar dan akademisi.
17. Media komunikasi Kebijakan Moneter Bank Indonesia dalam bentuk publikasi :
a. Tinjauan Kebijakan Moneter
b. Laporan Perekonomi Indonesia
c. Laporan Triwulanan DPR RI
d. Siaran Pers Kebijakan Moneter (link BI Rate)
18. Akuntabilitas
19. Bank Indonesia secara reguler menyampaikan pertanggung-jawaban pelaksanaan
kebijakan moneter kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebagai bentuk
akuntabilitas Bank Indonesia dalam melaksanakan tugas dan wewenang yang telah
ditetapkan dalam Undang-Undang. Pertanggung-jawaban kebijakan moneter
dilakukan dengan penyampaian secara tertulis maupun penjelasan langsung atas
pelaksanaan Kebijakan Moneter secara triwulanan dan aspek-aspek tertentu kebijakan
moneter yang dipandang perlu. Selain itu Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanan
Kebijakan tersebut disampaikan pula kepada Pemerintah dan masyarakat luas untuk
transparansi dan koordinasi.
20. Dalam hal sasaran inflasi untuk suatu tahun tidak tercapai, maka Bank Indonesia
menyampaikan penjelasan kepada Pemerintah sebagai bahan penjelasan Pemerintah
bersama Bank Indonesia secara terbuka kepada DPR dan masyarakat.
21. Koordinasi Kebijakan Moneter dan Fiskal
22. Mengingat bahwa laju inflasi di Indonesia tidak hanya dipengaruhi oleh faktor
permintaan (demand pull) namun juga faktor penawaran (cost push), maka agar
pencapaian sasaran inflasi dapat dilakukan dengan efektif, kerjasaama dan koordinasi
antara pemerintah dan BI melalui kebijakan makroekonomi yang terintegrasi
sangatlah diperlukan. Sehubungan dengan hal tersebut, di tingkat pengambil
kebijakan, Bank Indonesia dan Pemerintah secara rutin menggelar Rapat Koordinasi
untuk membahas perkembangan ekonomi terkini. Di sisi lain, Bank Indonesia juga
kerap diundang dalam Rapat Kabinet yang dipimpin oleh Presiden RI untuk
memberikan pandangan terhadap perkembangan makroekonomi dan moneter terkait
dengan pencapaian sasaran inflasi. Koordinasi kebijakan fiskal dan moneter juga
dilakukan dalam penyusunan bersama Asumsi Makro di Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara (APBN) yang dibahas bersama di DPR. Selain itu, Pemerintah juga
berkoordinasi dengan Bank Indonesia dalam melakukan pengelolaan Utang Negara.
23. Di tataran teknis, koordinasi antara Pemerintah dan BI telah diwujudkan dengan
membentuk Tim Koordinasi Penetapan Sasaran, Pemantauan dan Pengendalian Inflasi
(TPI) di tingkat pusat sejak tahun 2005. Anggota TPI, terdiri dari Bank Indonesia dan
departmen teknis terkait di Pemerintah seperti Departemen Keuangan, Kantor Menko
Bidang Perekonomian, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Departemen
Perdagangan, Departemen Pertanian, Departemen Perhubungan, dan Departemen
Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Menyadari pentingnya koordinasi tersebut, sejak
tahun 2008 pembentukan TPI diperluas hingga ke level daerah. Ke depan, koordinasi
antara Pemerintah dan BI diharapkan akan semakin efektif dengan dukungan forum
TPI baik pusat maupun daerah sehingga dapat terwujud inflasi yang rendah dan stabil,
yang bermuara pada pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dan
berkelanjutan.

1. Kurs Referensi : Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR)

JISDOR merupakan harga spot USD/IDR, yang disusun berdasarkan kurs transaksi
valuta asing terhadap rupiah antar bank di pasar domestik, melalui Sistem Monitoring
Transaksi Valuta Asing Terhadap Rupiah (SISMONTAVAR) di Bank Indonesia secara real
time.
JISDOR dimaksudkan untuk memberikan referensi harga pasar yang representatif
untuk transaksi spot USD/IDR pasar domestik.
JISDOR mulai diterbitkan sejak 20 Mei 2013.
Spesifikasi data JISDOR :
Spesifikasi Keterangan

Currency Pair USD/IDR

Jenis Data Data transaksi aktual antar bank USD/IDR

Seluruh bank devisa yang melakukan transaksi valas antar bank


Kontributor USD/IDR dalam rentang waktu yang ditentukan

Media Pelaporan Data SISMONTAVAR

Penerbit Bank Indonesia

Rentang Waktu
Pengambilan Data 08.00 09.45 WIB

Cut off Time 09.45 WIB

Waktu Pengumuman 10.00 WIB

Metode Perhitungan Rata-rata tertimbang (Weighted Average) berdasar volume transaksi

Media Pengumuman Website BI

Data JISDOR tersedia untuk setiap hari kerja, dalam hal ini tidak termasuk Sabtu,
Minggu, hari libur nasional, atau hari lain yang ditetapkan sebagai hari libur yang
berakibat bank tidak melakukan kegiatan operasi.
Dalam hal tidak terdapat data transaksi bank selama rentang waktu yang ditetapkan,
maka perhitungan JISDOR menggunakan rata-rata tertimbang kurs transaksi pukul 10.00
16.00 WIB hari sebelumnya.
2. Kurs Transaksi BI

Kurs Transaksi BI disajikan dalam bentuk kurs jual dan kurs beli valas terhadap
rupiah, digunakan sebagai acuan transaksi BI dengan pihak ketiga seperti pemerintah.
Titik tengah Kurs Transaksi BI USD/IDR menggunakan Kurs Referensi (JISDOR).
Kurs Transaksi BI diumumkan sekali setiap hari kerja.

Biro informasi kredit

Kebijakan pengembangan industri perbankan di masa datang diarahkan untuk mencapai suatu
sistem perbankan yang sehat, kuat, dan efisien guna menciptakan kestabilan sistem keuangan
yang pada gilirannya akan membantu mendorong perekonomian nasional secara
berkesinambungan.

Bertitik tolak dari hal tersebut, dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi
melalui penyaluran kredit, sejak tahun 2006 Bank Indonesia merasa perlu untuk mendukung
pelaksanaan fungsi intermediasi perbankan melalui pembentukan Biro Informasi
Kredit. Tugas utama Biro Informasi Kredit adalah menghimpun dan menyimpan data
penyediaan dana/pembiayaan, dan pada akhirnya mendistribusikannya sebagai informasi
kredit yang selanjutnya disebut dengan Informasi Debitur Individual (IDI) Historis. IDI
Historis dapat dimanfaatkan oleh lembaga keuangan anggota Biro Informasi Kredit
(perbankan dan Lembaga Keuangan Non Bank), serta masyarakat baik perorangan maupun
badan usaha.

Bagi lembaga keuangan, IDI Historis yang diperoleh diharapkan dapat dimanfaatkan antara
lain untuk mengetahui kredibilitas (kelayakan) calon penerima fasilitas penyediaan dana
(debitur) dan untuk mengetahui calon debitur dimaksud sedang menerima fasilitas
penyediaan dana dari lembaga lain atau tidak. Informasi tersebut akan membantu lembaga
keuangan dalam:

1. Mempermudah analisa untuk pemberian kredit/pembiayaan, sehingga dapat


memperlancar proses penyediaan dana; dan
2. Penerapan manajemen risiko antara lain untuk menghindari kegagalan membayar
pinjaman yang telah diberikan dan mencegah penipuan.

Bagi masyarakat, IDI Historis yang diperoleh diharapkan mampu memberikan edukasi
positif untuk senantiasa bertanggung jawab terhadap kewajiban kredit yang telah
diterimanya, sekaligus untuk membantu melakukan kontrol terhadap kebenaran dan
keakuratan data yang disampaikan lembaga keuangan kepada Bank Indonesia.

:: Hal yang perlu diperhatikan:


1. Kewenangan memutuskan untuk memberikan fasilitas kredit/pembiayaan
merupakan kebijakan perbankan atau LKNB yang bersangkutan.
2. Kebenaran dan keakuratan informasi IDI Historis adalah tanggung jawab dari
lembaga keuangan anggota Biro Informasi Kredit yang melaporkan data tersebut.
3. Segala akibat hukum yang timbul sehubungan dengan penggunaan IDI Historis untuk
keperluan lembaga keuangan anggota Biro Informasi Kredit yang tidak sesuai dengan
ketentuan, sepenuhnya menjadi tanggung jawab lembaga keuangan yang bersangkutan.
4. Segala akibat hukum yang timbul sehubungan dengan penggunaan IDI Historis oleh
masyarakat, sepenuhnya menjadi tanggung jawab yang bersangkutan.