Anda di halaman 1dari 155

Materi Pelatihan

PENGELOLAAN
BARANG MILIK DAERAH
KURSUS KEUANGAN DAERAH
Edisi Tahun 2013

Kementerian Keuangan Republik Indonesia


Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Pengarah Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan
Sekretaris Dirjen Perimbangan Keuangan Kementrian Keuangan
Direktur Pembiayaan dan Kapasitas Daerah DJPK
Direktur Pajak Daerah dan Retribusi Daerah DJPK
Direktur Dana Perimbangan DJPK
Direktur Evaluasi Pendanaan dan Informasi Keuangan Daerah DJPK


Editor M Khoiru Rusydi
Winston Pontoh

Kontributor Kepala Sub Direktorat Investasi dan Kapasitas Daerah Dit PKD DJPK
Sulis Gigih Prayogo (DJPK)
Samsul Hadi (DJPK)
Untung Afandi (Universitas lndonesia)
Sri Handaru Yuliati (Universitas Gadjah Mada)
Zulkifli (Universitas Andalas)
Yansor Djaya (Universitas Hasanuddin)
Dyah Purwanti (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara)
Indra Bastian (Universitas Gadjah Mada)

Kementerian Keuangan Republik Indonesia


Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan

Didukung oleh:

Deutsche Gesellschaft fuer Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH


Decentralisation as Contribution to Good Governance (DeCGG) Program
Fiscal Decentralisation Component
Jakarta 2013

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


iii Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Kata Sambutan
Kapasitas sumber daya manusia yang handal di seluruh pemerintah daerah merupakan salah satu
kunci sukses pengelolaan keuangan daerah yang effisien, transparan, dan akuntabel. Dalam rangka
meningkatkan kompetensi dan pemahaman para aparat pengelolaan keuangan Daerah dari seluruh
Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) - Kementerian
Keuangan sejak tahun 1981/1982 telah menyelenggarakan Kursus Keuangan Daerah (KKD). Sementara
itu, kegiatan Kursus Keuangan Daerah Khusus Penatausahaan/Akuntansi Keuangan Daereah (KKDK)
diselenggarakan sejak tahun 2007. Dalam pelaksanaannya, KKD dan KKDK dikerjasamakan dengan
7 perguruan tinggi negeri (yang selanjutnya dikenal dengan sebutan center of knowledge/center),
yaitu: Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Andalas (Unan), Univeristas
Hasanuddin (Unhas), Universitas Brawijaya (UB), Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), dan Sekolah Tinggi
Akuntansi Negara (STAN).

Pelaksanaan KKD-KKDK terus mengalami penyempurnaan dan updating terutama terkait dengan
kurikulum, satuan acara pembelajaran (SAP), dan modul. Untuk pertama kali, pada tahun 2012, modul-
modul kegiatan KKD-KKDK diseragamkan agar setiap lulusan mempunyai pemahaman yang sama atas
materi yang diajarkan. Perbaikan kualitas pelaksanaan KKD-KKDK terus dilanjutkan dan pada tahun 2013,
DJPK mendapat dukungan dari GIZ untuk melakukan standarisasi Modul KKD-KKDK sehingga modul-
modul tersebut diharapkan dapat memenuhi standar modul internasional. Standarisasi modul ini
menghasilkan dua produk utama, yaitu: (i) Materi Pelatihan (handbook) ; dan (ii) Panduan Bagi Pelatih
(trainer guideline) untuk 6 (enam) jenis pelatihan, yaitu Perencanaan Penganggaran, Pendapatan Daerah,
Belanja Daerah, Barang Milik Daerah, Penatausahaan Perbendaharaan Daerah dan Akuntansi Keuangan
Pemerintah Daerah.

Kami mengucapkan terima kasih kepada GIZ yang telah mendukung pelaksanaan standarisasi materi
pelatihan dan panduan bagi pelatih ini sehingga memudahkan bagi para pelatih untuk melaksanakan
pelatihan sehingga output dari hasil pelatihan ini memiliki standar yang berkualitas tinggi. Kami
menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para penyusun modul, pimpinan dan
pengurus center penyelenggara kegiatan KKD-KKDK serta seluruh pihak yang terlibat dalam proses
penyusunan standarisasi materi pelatihan KKD-KKDK ini.

Diharapkan dengan kehadiran modul yang telah distandarisasi ini akan menjadikan kualitas dari
pelaksanaan pelatihan KKD-KKDK terjaga dengan baik dan juga memudahkan para pelatih dan
penyelenggara dalam melaksanakan pelatihan KKD-KKDK. Dengan demikian, diharapkan pelaksanaan
pelatihan KKD-KKDK dapat berkontribusi pada perbaikan pengelolaan keuangan daerah.

Jakarta, Maret 2014


Direktur Pembiayaan dan Kapasitas Daerah

Adriansyah

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


iv Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Daftar Isi
PENGANTAR PELATIHAN vii
TOPIK 1 PENGANTAR : PENGERTIAN, PARADIGMA, DAN REGULASI BARANG MILIK DAERAH 1
1.1. PENGERTIAN BARANG MILIK DAERAH 3
1.2. Paradigma Pengelolaan Barang Milik Daerah 5
1.3. Regulasi Barang Milik Daerah 7
1.4. Rangkuman 8
Latihan 8
TOPIK 2 ORGANISASI DAN SDM PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH 9
2.1. Pendahuluan 11
2.2. Struktur Kelembagaan Pengelola Barang Milik Daerah 11
2.3. Tugas dan Wewenang Pihak-Pihak yang Melaksanakan Pengelola Barang Milik Daerah 12
2.4. Rangkuman 14
Latihan 14
TOPIK 3 PERENCANAAN PENGANGGARAN DAN SISTEM PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH 16
3.1. Perencanaan dan Penganggaran Kebutuhan Barang Milik Daerah 18
3.2. Urutan Pekerjaan dalam Perencanaan dan Penganggaran BMD. 27
3.3. Tata Prosedur Perencanaan Kebutuhan Barang Milik Daerah. 28
3.4. Sistem Pengelolaan Barang Milik Daerah. 30
3.5. Rangkuman 30
Studi Kasus Perencanaan Aset Daerah 31
TOPIK 4 PENGADAAN BARANG MILIK DAERAH 34
4.1. Pendahuluan. 36
4.2. Tujuan Pengadaan BMD. 36
4.3. Prinsip Pengadaan BMD. 37
4.4. Jenis Pengadaan BMD. 37
4.5. Tatacara Pelaksanaan Pengadaan BMD. 38
4.6. Pengadaan Tanah 39
4.7. Pertimbangan dalam Pengadaan BMD. 41
4.8. Daftar Hasil Pengadaan Barang Milik Negara/Daerah. 41
4.9. Rangkuman 42
TOPIK 5 PENGGUNAAN DAN PEMANFAATAN BARANG MILIK DAERAH 43
5.1. Penggunaan Barang Milik Daerah 45
5.2. Pemanfaatan Barang Milik Daerah 45
5.3. Penatausahaan Penggunaan dan Pemanfaatan Barang Milik Daerah 49
5.4. Rangkuman 60

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


v Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
TOPIK 6 PENGAWASAN, PENGENDALIAN, DAN PENGAMANAN BARANG MILIK DAERAH 61
6.1. Penyusunan Prosedur Pengawasan dan Pengendalian BMD 63
6.2. Penyusunan Prosedur Pengamanan BMD 65
6.3. Rangkuman 67
TOPIK 7 PENILAIAN BARANG MILIK DAERAH 68
7.1. Pendahuluan 70
7.2. Penilaian Barang Milik Daerah 70
7.3. Pelaksanaan Penilaian Barang Milik Daerah 82
7.4. Ketentuan Khusus 82
7.5. Rangkuman 86
TOPIK 8 PENGHAPUSAN BARANG MILIK DAERAH 88
8.1. Dasar Penghapusan Barang Milik Daerah 90
8.2. Wewenang Penghapusan Barang Milik Daerah 90
8.3. Kewajiban Pelaporan 91
8.4. Proses Penghapusan Barang Milik Daerah 91
8.5. Pelaksanaan Penghapusan Barang Milik Daerah 91
8.6. Pelaksanaan Penghapusan Secara /Khusus 92
8.7. Rangkuman 92
TOPIK 9 PEMINDAHTANGANAN BARANG MILIK DAERAH 95
9.1. Pendahuluan 97
9.2. Rangkuman 110
Latihan 110
TOPIK 10 PENATAUSAHAAN SERTA PERTANGGUNGJAWABAN BARANG MILIK DAERAH 113
10.1. Pengertian dan Tujuan Penatausahaan Barang Milik Daerah 115
10.2. Sasaran Penatausahaan BMD 115
10.3. Tujuan Penatausahaan Barang Milik Daerah 117
10.4. Inventarisasi Barang Milik Daerah 117
10.5. Sensus Barang Milik Daerah 120
10.6. Penggolongan Barang Milik Daerah 129
10.7. Kartu Inventaris Barang (KIB) 138
10.8. Pelaporan Barang Milik Daerah 145
10.9. Rangkuman 146

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


vi Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
PENGANTAR PELATIHAN
A. Abstraksi
Barang milik daerah (BMD) merupakan salah satu aset yang paling vital yang dimiliki daerah guna
menunjang operasional jalannya pemerintahan daerah. Hal ini disebabkan dengan adanya Barang Milik
Daerah maka pencapaian pembangunan nasional dapat terlaksana guna kesejahteraan masyarakat pada
umumnya dan masyarakat daerah pada khususnya.

Barang Milik Daerah pada umumnya akan dicantumkan dalam laporan keuangan khususnya di dalam
neraca pemerintah daerah, yang apabila tidak dikelola dengan efektif dan efisien akan menimbulkan
penyimpangan dan penyelewengan akan merugikan daerah tersebut, sehingga tata kelola (good
governance) yang baik dalam unsur pemerintahan tidak terlaksana.

Untuk menunjang tata kelola yang baik, pengelolaan Barang Milik Daerah harus dilaksanakan dengan
baik mulai pada saat perencanaan dan penganggaran Barang Milik Daerah hingga penatausahaan Barang
Milik Daerah itu sendiri. Oleh sebab itu, sumber daya manusia yang berkompeten sangat diperlukan
didalam pengelolaan Barang Milik Daerah tersebut.

Modul Pengelolaan Barang Milik Daerah disusun guna mendukung penyiapan sumber daya manusia
berupa aparat pemerintahan yang profesional, beretika dan bertanggungjawab dalam pengelolaan
Barang Milik Daerah. Beberapa hal penting yang akan dibahas di dalam modul ini adalah pengertian
manajemen aset dan juga paradigam baru dalam pengelolaan BMD, struktur organisasi pengelolaan BMD,
perencanaan kebutuhan BMD, pengelolaan BMD, penganggaran BMD, pengadaan BMD, penggunaan
BMD, pemanfaatan BMD, pengawasan dan pengendalian BMD, pengamanan BMD, penilaian BMD,
penghapusan BMD, pemindahtanganan BMD, hingga pada penatausahaan dan pertanggungjawaban
BMD.

B. Tujuan Pelatihan.
Untuk memberikan para peserta pelatihan dasar pengetahuan dan keahlian dasar dalam pengelolaan
Barang Milik Daerah.

C. Peserta Pelatihan.
Para peserta pelatihan yang diharapkan adalah para pegawai pemerintah daerah pada umumnya dan
khususnya bagi para pegawai yang berpraktik di dalam pengelolaan Barang Milik Daerah, baik di tingkat
provinsi, kabupaten dan kota.

D. Materi Pelatihan.
Pengantar : Pengertian, Paradigma, dan Regulasi Barang Milik Daerah
Organisasi dan SDM Barang Milik Daerah
Perencanaan dan Sistem Pengelolaan Barang Milik Daerah
Penganggaran dan Pengadaan BMD.
Penggunaan dan Pemanfaatan BMD.
Pengawasan, Pengendalian, dan Pengamanan BMD.
Penilaian, Penghapusan, Pemindahtanganan, Penatausahaan dan Pertanggungjawaban BMD

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


vii Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
E. Metode Pelatihan.
Metode pembelajaran dalam modul ini lebih dititikberatkan pada metode partisipatif yang mencakup
antara lain studi kasus (case study), ungkapan pendapat peserta (let participants explain something), role
play dan lintas kelompok (cross groups) dimana proporsional materi ajar masing-masing adalah :

10%. 60%. 30%


Pengantar Praktek/Aktifitas Integrasi teori dan praktek

F. Perlengkapan dan Fasilitas Pelatihan.


Perlengkapan dan fasilitas pelatihan kepada peserta adalah berupa ruangan belajar yang layak (memiliki
AC), spidol, laptop, infocus, powerpoint, gambar/foto, pinboard, metaplan, lembar kerja (studi kasus.

G. Evaluasi Pelatihan.
Dalam setiap topik materi ajar para peserta akan dievaluasi dengan pertanyaan-pertanyaan yang
bertujuan untuk mengukur kemampuan dan pemahaman para peserta.

H. Sertifikat Pelatihan.
Setelah mengikuti pelatihan KKD/KKDK, maka peserta akan mendapatkan sertifikat.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


viii Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
TOPIK 1

PENGANTAR :

PENGERTIAN, PARADIGMA,
DAN REGULASI BARANG
MILIK DAERAH
Pengertian, Paradigma, Dan Regulasi Barang Milik Daerah

Deskripsi:
Topik ini menjelaskan tentang pengertian tentang pengelolaan Barang Milik Daerah, perubahan
paradigma dalam pengelolaan Barang Milik Daerah serta menjelaskan tentang ketentuan
pengelolaan Barang Milik Daerah.

Sub Topik Kata Kunci


Pengertian Pengelolaan Prinsip Manajemen, Barang Milik Daerah, Aktivitas
Barang Milik Daerah Manajemen.

Paradigma Pengelolaan
Barang Milik Daerah Good Governance, Efisien, Efektif dan Nilai Tambah

Regulasi Barang Milik Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan


Daerah Menteri Dalam Negeri.

Referensi:
Kemenkeu. 2010. Modul Pokok-Pokok Pengelolaan Barang Milik Daerah.
Mardiasmo, 2004, Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah, Good Governence
Democratization, Local Government Financial Management, Public Policy, Reinventing
Government, Accountability Probity, Value for Money, Participatory Development,
Serial Otonomi Daerah, Andi, Yogyakarta.
Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 Tentang Perubahan Atas Peraturan
Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah.
Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik
Negara/Daerah;
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah
Peraturan Presiden (Perpres) No. 70 Tahun 2012, Perubahan Kedua atas Peraturan
Presiden No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/JasaPemerintah.
Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2007 Tentang Perubahan Ketujuh Atas
Keputusan Pesiden Nomor 80 Tahun 2003 Tentang Pedoman Pelaksanaan
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Permendagri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang
Milik Daerah;
Sumini, Penatausahaan Barang Milik Daerah, STAN, 2010
Sutaryo, Manajemen Aset Daerah,
http:sutaryofe.staff.uns.ac.id/files/2011/10/manajemen-aset-daerah.pdf (25 Juni 2013)
Undang-Undang Nomor.1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;
Undang-Undang Nomor.17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara,

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


2 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Pengertian, Paradigma, Dan Regulasi Barang Milik Daerah

1.1. PENGERTIAN BARANG MILIK DAERAH


Apa yang disebut dengan Barang Milik Daerah (BMD)? Barang Milik Daerah (BMD) adalah semua barang
yang dibeli atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, atau perolehan lainnya
yang sah (Undang-undang No. 1 Tahun 2004). Yang dimaksud barang dalam hal ini adalah benda dalam
berbagai bentuk dan uraian, yang meliputi bahan baku, barang setengah jadi, barang jadi/peralatan, yang
spesifikasinya ditetapkan oleh pengguna barang/jasa. Sedangkan yang dimaksud dengan perolehan
lainnya yang sah adalah barang yang diperoleh dari hibah/sumbangan atau yang sejenis; pelaksanaan
dari perjanjian/kontrak; diperoleh berdasarkan ketentuan undangundang dan diperoleh berdasarkan
putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.

Pengertian mengenai Barang Milik Daerah ini kemudian dirinci lagi dalam Pasal 2 Peraturan Pemerintah
Nomor 6 Tahun 2006 sebagai berikut:
1. Barang Milik Daerah meliputi:
Barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD.
Barang yang berasal dari perolehan lainnya yang sah;
2. Barang sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:
Barang yang diperoleh dari hibah/sumbangan atau yang sejenis.
Barang yang diperoleh sebagai pelaksanaan dari perjanjian /kontrak.
Barang yang diperoleh berdasarkan ketentuan undang-undang, atau
Barang yang diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan
hukum tetap.
Pengertian yang sama tentang Barang Milik Daerah juga ditemui dalam Keputusan Menteri Dalam Negeri
dan Keputusan Menteri Keuangan yang menjelaskan bahwa Barang Milik Daerah adalah semua Barang
yang dibeli atau yang diperoleh atas beban APBN/APBD atau berasal dari perolehan lainnya yang sah.
Oleh sebab itu, untuk menyamakan persepsi kita pada uraian selanjutnya maka yang maksud Barang
Milik Daerah adalah:
1. Semua barang inventaris yang dimiliki pemerintah daerah
2. Semua barang hasil kegiatan proyek APBD/APBN/LOAN yang telah diserahkan pada Pemerintah
daerah melalui Dinas/Instansi terkait
3. Semua barang yang secara hukum dikuasai oleh pemerintah daerah seperti; cagar alam, cagar
budaya, objek wisata, bahan tambang/galian C dan sebagainya, yang dapat menjadi sumber
pendapatan asli daerah yang berkelanjutan dan yang memerlukan pengaturan pemerintah daerah
dalam pemanfaatannya serta pemeliharaannya.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Barang Milik Daerah (BMD) adalah barang yang bersumber dari:
1. Pembentukan Daerah Otonom berdasarkan Undang-undang
2. Pembelanjaan APBN/APBD.
3. Sumbangan Dalam/Luar Negeri.
4. Sumbangan Pihak Ketiga.
5. Penyerahan dari Pemerintah Pusat.
6. Fasum dan Fasos.
7. Swadaya Masyarakat.
8. Semua barang yang secara hukum dikuasai Pemerintah Daerah.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


3 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Pengertian, Paradigma, Dan Regulasi Barang Milik Daerah

Gambar 1.1

Sumber: antaranews.com

Pertanyaan berikutnya adalah : Apa yang dimaksud dengan Pengelolaan Barang Milik Daerah?

Secara harfiah, istilah pengelolaan merupakan terjemahan dari kata management dalam bahasa
Inggris. Kata ini berasal dari kata kerja to manage yang artinya mengurus, mengatur, melaksanakan,
memperlakukan, dan mengelola (lihat kamus bahasa Inggris oleh John M. Echols dan Hassan Shadily).
Sekarang kata ini sudah umum dipakai sehingga istilah manajemen dan pengelolaan adalah dua kata
dengan makna yang sama dan sering dipakai secara bergantian.

Menurut Ensiklopedi Administrasi Indonesia, manajemen adalah segenap kekuatan menggerakkan


sekelompok orang yang mengerahkan fasilitas dalam satu usaha kerja sama untuk mencapai tujuan
tertentu.

Menurut George R. Terry dalam bukunya yang berjudul


Principle of Management menyatakan bahwa fungsi
manajemen adalah:
1. Planning atau Perencanaan.
2. Organizing atau Pengorganisasian.
3. Actuating atau Penggerakkan.
4. Controlling atau Pengendalian

Biasanya fungsi manajemen ini sering disingkat dengan istilah POAC.

Luther Hasley Guliek dalam bukunya Papers on the Science of Administration mengemukakan bahwa
aktivitas manajemen itu mencakup hal-hal sebagai berikut:
1. Planning atau Perencanaan.
2. Organizing atau Pengorganisasian.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


4 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Pengertian, Paradigma, Dan Regulasi Barang Milik Daerah

3. Staffing atau Penyusunan Staf.


4. Directing atau Pembimbingan.
5. Coordinating atau Pengkoordinasian.
6. Budgeting atau Penganggaran.

Pemahaman tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah dapat mengacu kepada Permendagri Nomor 17
Tahun 2007 Pasal 4 ayat 2 yang menyatakan bahwa pengelolaan barang daerah meliputi:
1. Perencanaan kebutuhan dan penganggaran
2. Pengadaan
3. Penerimaan, penyimpanan dan penyaluran
4. Penggunaan
5. Penatausahaan
6. Pemanfaatan
7. Pengamanan dan pemeliharaan
8. Penilaian
9. Penghapusan
10. Pemindahtanganan
11. Pembinaan, pengawasan dan pengendalian
12. Pembiayaan, dan
13. Tuntutan ganti rugi.

1.2. Paradigma Pengelolaan Barang Milik Daerah

Paradigma baru pengelolaan barang milik negara/aset negara telah memunculkan optimisme baru
dalam penataan dan pengelolaan aset negara yang lebih tertib, akuntabel, dan transparan. Pengelolaan
aset negara yang profesional dan modern dengan mengedepankan good governance diharapkan akan
mampu meningkatkan kepercayaan pengelolaan keuangan negara dari masyarakat/stake-holder.

Tahun 2006 merupakan babak baru dalam sejarah pengelolaan kekayaan negara Republik Indonesia
pada umumnya dengan terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan
Barang Milik Negara/Daerah sebagai kelanjutan dari 3 (tiga) paket undang-undang yang telah lahir
sebelumnya yaitu Undang- Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU Nomor 1 tahun
2004 tentang Perbendaharaan Negara, dan UU Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan
dan Tanggung Jawab Keuangan Negara dan telah dibentuk pula satu unit organisasi setingkat eselon I
di lingkungan Kementerian Keuangan yang mempunyai tugas dan fungsi (tusi) melakukan pengelolaan
kekayaan negara yakni Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN).

Penyerahan wewenang/kekuasaan Presiden selaku Kepala Pemerintahan memegang kekuasaan


pengelolaan keuangan negara sebagai bagian dari kekuasaan pemerintahan terhadap BMD juga

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


5 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Pengertian, Paradigma, Dan Regulasi Barang Milik Daerah

tercermin dalam dalam UU No. 17 tahun 2003 menyebutkan bahwa pengelolaan BMD termasuk dalam
lingkup pengelolaan keuangan negara diserahkan kepada gubernur/bupati/walikota selaku kepala
pemerintahan daerah untuk mengelola BMD dan mewakili pemerintah daerah dalam kepemilikan BMD
yang dipisahkan serta penjelasan mengenai penyerahan wewenang pengelolaan dari Presiden kepada
kepala daerah.

Pengelolaan aset Negara/daerah dalam pengertian yang dimaksud dalam Pasal 1 Ayat (1) dan Ayat (2)
PP No.6/2006 adalah tidak sekedar administratif semata, tetapi lebih maju berfikir dalam menangani
aset negara/daerah, dengan bagaimana meningkatkan efisiensi, efektifitas, dan menciptakan nilai
tambah dalam mengelola aset. Oleh karena itu, lingkup pengelolaan aset negara/daerah mencakup
perencanaan kebutuhan dan penganggaran; pengadaan; penggunaan; pemanfaatan; pengamanan dan
pemeliharaan; penilaian; penghapusan; pemindahtanganan; penatausahaan; pembinaan, pengawasan,
dan pengendalian. Proses tersebut merupakan siklus logistik yang lebih terinci yang didasarkan pada
pertimbangan perlunya penyesuaian terhadap siklus perbendaharaan dalam konteks yang lebih luas
(keuangan negara).

Perubahan paradigma dalam pengelolaan aset daerah juga terwujud dalam berbagai ketentuan yang
disusun oleh daerah, seperti Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 5 Tahun 2009 Tentang
Pengelolaan Barang Milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Ketentuan ini menghendaki pengelolaan
asset dilakukan dengan asas tanggung jawab, asas kemanfaatan, asas keadilan, asas akuntabilitas, asas
transparansi, dan asas nilai ekonomi. Berbeda pada era sebelum reformasi dimana pengelolaan aset
daerah hanya berlandaskan pada kepentingan penguasa ataupun pemilik modal besar, dan minimnya
azas kemanfaatan dan keadilan.

Gambar 1.2

Paradigma Lama Paradigma Baru

Nilai
Tambah

Sumber:id.berita.yahoo.com

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


6 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Pengertian, Paradigma, Dan Regulasi Barang Milik Daerah

1.3. Regulasi Barang Milik Daerah


Undang-undang Nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, dalam pasal 43 ayat 1
menyebutkan bahwa peraturan yang berkaitan dengan pengelolaan Barang Milik Daerah ditetapkan
oleh Gubernur/Bupati/Walikota. Akan tetapi, sebagai acuan bagi pemerintah daerah dalam penyusunan
peraturan daerah tersebut, pemerintah pusat telah menetapkan peraturan mengenai pedoman
pengelolaan barang yaitu Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang
Milik Negara/Daerah dan PP Nomor 38 Tahun 2008 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah Nomor
6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah. Perlu diingat bahwa pengelolaan
Barang Milik Daerah sebagai bagian dari pengelolaan keuangan daerah yang dilaksanakan secara
terpisah dari pengelolaan Barang Milik Negara. Berdasarkan peraturan tersebut, Kementrian Dalam
Negeri menerbitkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis
Pengelolaan Barang Milik Daerah. Mengacu pada Peraturan Pemerintah dan Peraturan Menteri Dalam
Negeri itulah, Gubernur/Bupati/Walikota menyusun peraturan daerah tentang Pokok-pokok Pengelolaan
BMD, serta peraturan kepala daerah mengenai sistem dan prosedur pengelolaan Barang Milik Daerah
untuk provinsi/kabupaten/kota masing-masing.

Beberapa pasal dalam PP No.6 tahun 2006 terkait dengan Pengelolaan Barang Milik Daerah adalah :
Pasal 3 ; menjelaskan tentang asas Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah (ayat 1) dan ruang
lingkupnya (ayat 2).
Pasal 5 ; menjelaskan tentang pemegang kekuasaan pengelolaan Barang Milik Daerah yakni
Gubernur/Bupati/Walikota dan wewenang yang dimilikinya berkaitan dengan pengelolaan
Barang Milik Daerah (ayat 1 dan 2). Selanjutnya, ayat 3 dan 4 menjelaskan tentang Sekretaris
Daerah sebagai pengelola Barang Milik Daerah serta wewenang dan tanggung jawab
yang dimilikinya berkaitan dengan hal tersebut.

Kemudian, sesuai dengan amanat dalam pasal 74 Peraturan Pemerintah No 6 tahun 2006, Menteri Dalam
Negeri menetapkan kebijakan teknis dan melakukan pembinaan pengelolaan Barang Milik Daerah. Oleh
karena itu Menteri Dalam Negeri menyusun Permendagri No 17 tahun 2007 yang mengatur tentang
Petunjuk Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah. Sedangkan untuk Pengelolaan Keuangan Daerah, diatur
dalam Permendagri Nomor 13 tahun 2006 dan Permendagri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Perubahan
atas Permendagri Nomor 13 tahun 2006. Dalam pasal 5 ayat 1 Permendagri Nomor 13 tahun 2006 tentang
Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah disebutkan bahwa Kepala daerah selaku kepala pemerintah
daerah adalah pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah dan mewakili pemerintah daerah
dalam kepemilikan kekayaan daerah yang dipisahkan.

Selanjutnya ayat 2 huruf g menyebutkan pula bahwa pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan
daerah , mempunyai kewenangan menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan Barang
Milik Daerah. Dalam pasal 6 ayat 3 huruf c disebutkan bahwa Sekretaris Daerah mempunyai tugas
menyiapkan pedoman pengelolaan barang daerah. Selanjutnya dalam pasal 7 ayat 2 huruf j menyebutkan
Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD) melaksanakan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta
penghapusan Barang Milik Daerah. Akan tetapi, selanjutnya dalam pasal 9 huruf f disebutkan bahwa
PPKD dapat melimpahkan kepada pejabat lainnya dilingkungan SKPKD untuk melaksanakan kebijakan
dan pedoman pengelolaan serta penghapusan Barang Milik Daerah.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


7 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Pengertian, Paradigma, Dan Regulasi Barang Milik Daerah

Gambar 1.3

Peliknya Penyelesaian Sengketa Barang Milik Negara

Sumber : www.komnasham.go.id

1.4. Rangkuman
Barang Milik Daerah adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD atau berasal dari
perolehan lainnya yang sah. Pengelolaan terhadap Barang Milik Daerah mengacu kepada Permendagri
Nomor 17 Tahun 2007 Pasal 4 ayat 2. Pemegang kekuasaan pengelolaan Barang Milik Daerah adalah
Gubernur/Bupati/Walikota dan pengelolanya adalah Sekretaris Daerah. Pengelolaan Barang Milik Daerah
saat ini tidak lagi sekedar administratif semata melainkan lebih maju lagi yakni bagaimana meningkatkan
efisiensi, efektifitas, dan menciptakan nilai tambah. Semua itu akan terwujud melalui pengelolaan Barang
Milik Daerah yang lebih tertib, akuntabel, dan transparan.

Latihan
1. Coba saudara sebutkan ruang lingkup dari pengelolaan Barang Milik Daerah.
2. Tuliskanlah beberapa Barang Milik Daerah yang berada dibawah atau pada SKPD tempat
saudara bekerja.
3. Coba saudara temukan perbedaan antar peranan Gubernur Bupati/Walikota dengan
Sekretaris Daerah (baik provinsi maupun Kabupaten/Kota)
4. Jelaskan perubahan paradigma lama dan paradigma baru pengelolaan aset daerah.
5. Jelaskan aturan perundangan tentang pengelolaan Barang Milik Daerah dan apa substansi
utama yang terdapat di dalamnya

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


8 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
TOPIK 2

ORGANISASI DAN SDM


PENGELOLAAN BARANG
MILIK DAERAH
Organisasi Dan Sdm Pengelolaan Barang Milik Daerah

Deskripsi:
Topik ini menjelaskan tentang struktur organisasi pengelolaan Barang Milik Daerah, serta
menjelaskan tentang wewenang dan tanggung jawab para pejabat pengelola Barang Milik
Daerah.

Sub Topik Kata Kunci


Struktur Kelembagaan
Pengelola Barang Milik Kepala Daerah, Sekretaris Daerah, Kepala SKPD,
Daerah Penyimpan Barang, Pengurus Barang.

Tugas dan wewenang


Pejabat Pengelola Pengelola, Pengguna, Pengurus
Barang

Referensi:
Anonim, 2007. Modul 2; Penyusunan Rencana Pengadaan dan Pemeliharaan
Aset/Barang Milik Daerah, Lembaga Administrasi Negara dan Departemen Dalam
Negeri.
Kemenkeu. 2010. Modul Pokok-Pokok Pengelolaan Barang Milik Daerah.
Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 Tentang Perubahan Atas Peraturan
Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah.
Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik
Negara/Daerah;
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah
Peraturan Presiden (Perpres) No. 70 Tahun 2012, Perubahan Kedua atas Peraturan
Presiden No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/JasaPemerintah.
Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2007 Tentang Perubahan Ketujuh Atas
Keputusan Pesiden Nomor 80 Tahun 2003 Tentang Pedoman Pelaksanaan
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Permendagri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang
Milik Daerah;
Sumini, Penatausahaan Barang Milik Daerah, STAN, 2010
Sutaryo, Manajemen Aset Daerah,
http:sutaryofe.staff.uns.ac.id/files/2011/10/manajemen-aset-daerah.pdf (25 Juni 2013)
Undang-Undang Nomor.1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;
Undang-Undang Nomor.17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara,

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


10 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Organisasi Dan Sdm Pengelolaan Barang Milik Daerah

2.1. Pendahuluan
Perkembangan paradigma pengelolaan pemerintah daerah dan paradigma pembangunan semakin
menegaskan tentang pentingnya aplikasi prinsip Tata Kelola Kepemerintahan Yang Baik (good governance)
dalam penyelenggaraaan pemerintahan di daerah. Dalam kerangka good governance diperlukan prinsip-
prinsip dalam pengelolaan antara lain transparansi, partisipasi, akuntabilitas dan supervisi, prediktabilitas,
ketanggapan, efektivitas dan efisiensi, kesetaraan/keadilan, visi strategik, profesionalisme, serta penegakan
hukum.

Dalam rangka good governance pengelolaan aset daerah, perlu adanya sinergi antara keuangan dan
aset, sehingga organisasi pengelola aset seharusnya menjadi satu wadah antara pengelola barang
dan keuangan. Salah satu keuntungan bersatunya pengelolaan antara barang dan keuangan adalah
menjadikan penatausahaan keduanya lebih mudah, sehingga masalah-masalah perbedaan perlakuan
atau pencatatan diantara kedua hal tersebut dapat diminimalisir.

Salah salah satu hal lain yang paling penting dalam pengelolaan Barang Milik Daerah adalah adanya
kelembagaan yang berkualitas yang mampu mengelola aset daerah dengan baik dan sesuai dengan
peraturan yang ada. Yang dimaksud dengan kelembagaan disini adalah institusi termasuk sumber
daya manusia yang mengelola Barang Milik Daerah tersebut. Peranan institusi ini sangat berpengaruh
terhadap baik buruknya pengelolaan Barang Milik Daerah karena sebagus apapun sistem yang tersedia,
bila tidak didukung oleh kualitas kelembagaan yang baik maka pengelolaan Barang Milik Daerah tidak
akan berjalan dengan baik.

2.2. Struktur Kelembagaan Pengelola Barang Milik Daerah


Struktur Organisasi Pengelolaan Barang Milik Daerah dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2.1 Struktur Kelembagaan

KEPALA DAERAH

SEKRETARIS DAERAH
Pengelola Barang Milik Daerah

Kepala SKPD
Biro / Bagian Perlengkapan
Pengguna Barang

Kepala Unit Pelaksanan Teknis


Kuasa Pelaksana Teknis

Penyimpan Barang Pengurus Barang

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


11 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Organisasi Dan Sdm Pengelolaan Barang Milik Daerah

Struktur organisasi di atas memperlihatkan bahwa pada hakekatnya penanggung jawab dari keseluruhan
pengelolaan Barang Milik Daerah adalah Kepala Daerah. Secara operasional Kepala Daerah dibantu oleh:
a. Sekretaris Daerah selaku pengelola;
b. Kepala Biro/Bagian Perlengkapan/Umum/Unit pengelola Barang Milik Daerah selaku pembantu
pengelola;
c. Kepala SKPD selaku pengguna;
d. Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah selaku kuasa pengguna;
e. Penyimpan Barang Milik Daerah; dan
f. Pengurus Barang Milik Daerah.

Selain itu struktur di atas juga menjelaskan bahwa pengelolaan Barang Milik Daerah tidaklah ditangani
oleh satu SKPD seperti Biro atau bagian perlengkapan, namun menjadi tanggung jawab semua SKPD
dalam mengelola barang yang ada pada SKPD masing-masing, dimana kepala SKPD menjadi pejabat
penanggungjawabnya.

2.3. Tugas dan Wewenang Pihak-Pihak yang Melaksanakan


Pengelola Barang Milik Daerah
1. Kepala Daerah sebagai pemegang kekuasaan pengelolaan Barang Milik Daerah berwenang dan
bertanggungjawab atas pembinaan dan pelaksanaan pengelolaan Barang Milik Daerah.
Kepala Daerah sebagai pemegang kekuasaan pengelolaan Barang Milik Daerah, mempunyai
wewenang :
a. menetapkan kebijakan pengelolaan Barang Milik Daerah;
b. menetapkan penggunaan, pemanfaatan atau pemindahtanganan tanah dan bangunan;
c. menetapkan kebijakan pengamanan Barang Milik Daerah;
d. mengajukan usul pemindahtanganan Barang Milik Daerah yang memerlukan persetujuan Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah;
e. menyetujui usul pemindahtanganan dan penghapusan Barang Milik Daerah sesuai batas
kewenangannya; dan
f. menyetujui usul pemanfaatan Barang Milik Daerah selain tanah dan/atau bangunan.
2. Sekretaris Daerah selaku pengelola, berwenang dan bertanggungjawab:
a. menetapkan pejabat yang mengurus dan menyimpan Barang Milik Daerah;
b. meneliti dan menyetujui rencana kebutuhan Barang Milik Daerah;
c. meneliti dan menyetujui rencana kebutuhan pemeliharaan/perawatan Barang Milik Daerah;
d. mengatur pelaksanaan pemanfaatan, penghapusan dan pemindahtanganan Barang Milik Daerah
yang telah disetujui oleh Kepala Daerah;
e. melakukan koordinasi dalam pelaksanaan inventarisasi Barang Milik Daerah; dan
f. melakukan pengawasan dan pengendalian atas pengelolaan Barang Milik Daerah.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


12 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Organisasi Dan Sdm Pengelolaan Barang Milik Daerah

3. Kepala Biro/Bagian Perlengkapan/Umum/Unit pengelola Barang Milik Daerah bertanggungjawab


mengkoordinir penyelenggaraan pengelolaan Barang Milik Daerah yang ada pada masing-masing SKPD;
4. Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah selaku pengguna Barang Milik Daerah, berwenang dan
bertanggung jawab:
a. mengajukan rencana kebutuhan Barang Milik Daerah bagi satuan kerja perangkat daerah yang
dipimpinnya kepada Kepala Daerah melalui pengelola;
b. mengajukan permohonan penetapan status untuk penguasaan dan penggunaan Barang Milik
Daerah yang diperoleh dari beban APBD dan perolehan lainnya yang sah kepada Kepala Daerah
melalui pengelola;
c. melakukan pencatatan dan inventarisasi Barang Milik Daerah yang berada dalam penguasaannya;
d. menggunakan Barang Milik Daerah yang berada dalam penguasaannya untuk kepentingan
penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah yang dipimpinnya;
e. mengamankan dan memelihara Barang Milik Daerah yang berada dalam penguasaannya;
f. mengajukan usul pemindahtanganan Barang Milik Daerah berupa tanah dan/atau bangunan
yang tidak memerlukan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Barang Milik Daerah
selain tanah dan/atau bangunan kepada Kepala Daerah melalui pengelola;
g. menyerahkan tanah dan bangunan yang tidak dimanfaatkan untuk kepentingan penyelenggaraan
tugas pokok dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah yang dipimpinnya kepada Kepala Daerah
melalui pengelola;
h. melakukan pengawasan dan pengendalian atas penggunaan Barang Milik Daerah yang ada
dalam penguasaannya;
i. menyusun dan menyampaikan Laporan Barang Pengguna Semesteran (LBPS) dan Laporan
Barang Pengguna Tahunan (LBPT) yang berada dalam penguasaannya kepada pengelola.
5. Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah selaku kuasa pengguna Barang Milik Daerah,berwenang dan
bertanggung jawab:
a. mengajukan rencana kebutuhan Barang Milik Daerah bagi unit kerja yang dipimpinnya kepada
Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah yang bersangkutan;
b. melakukan pencatatan dan inventarisasi Barang Milik Daerah yang berada dalam penguasaannya;
c. menggunakan Barang Milik Daerah yang berada dalam penguasaannya untuk kepentingan
penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi unit kerja yang dipimpinnya;
d. mengamankan dan memelihara Barang Milik Daerah yang berada dalam penguasaannya;
e. melakukan pengawasan dan pengendalian atas penggunaan Barang Milik Daerah yang ada
dalam penguasaannya; dan
f. menyusun dan menyampaikan Laporan Barang Kuasa Pengguna Semesteran (LBKPS) dan
Laporan Barang Kuasa Pengguna Tahunan (LBKPT) yang berada dalam penguasaannya kepada
kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah yang bersangkutan.
6. Penyimpan barang bertugas menerima, menyimpan dan menyalurkan barang yang berada pada
pengguna/kuasa pengguna;
7. Pengurus barang bertugas mengurus Barang Milik Daerah dalam pemakaian pada masing-masing
pengguna/kuasa pengguna.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


13 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Organisasi Dan Sdm Pengelolaan Barang Milik Daerah

Pejabat yang terkait dengan pengelolaan Barang Milik Daerah dapat dilihat dalam Tabel 2.1 berikut ini.

Tabel 2.1 Pejabat Daerah yang bertugas dalam Pengelolaan BMD:

No. Pejabat Pengelola BMD Pejabat Struktural Pemda


1 Pemegang Kekuasaan Pengelolaan BMD Gubernur/Bupati/Walikota
2 Pengelola BMD Sekretaris Daerah
3 Pembantu Pengelola BMD Ka.Ro/Bag.Kapan/Umum.
4 Pengguna.BMD Ka. Satuan Kerja Perangkat Daerah
5 Kuasa Pengguna BMD Ka.Unit Pelaksana Teknis Daerah
6 Panitia pengadaan, Panitia Penerimaan PNS yang diangkat oleh Sek.Da.
7 Penyimpan BMD PNS yang diangkat oleh Sek.Da.
8 Pengurus BMD PNS yang diangkat oleh Sek.Da.

2.4. Rangkuman
Organisasi dan Sumber Daya Manusia memegang peranan penting dalam pengelolaan Barang Milik
Daerah yang efisien dan efektif sesuai dengan peraturan yang melingkupinya. Penanggung jawab utama
Pengelola PBMD adalah Kepala Daerah dengan dibantu oleh Sekretaris Daerah sebagai Pengelola BMD.
Selanjutnya Sekda dibantu oleh Biro/Bagian perlengkapan, Kepala SKPD, Kepala UPTD, Penyimpan dan
Pengurus BMD. Berbeda dengan SKPD/UPTD yang mengelola BMD di SKPD/UPTD masing-masing, maka
Kepala Biro/Bagian Perlengkapan bertugas mengkoordinir Pengelolaan BMD disemua SKPD.

Latihan
1. Jelaskan secara singkat organisasi Pengelolaan Barang Milik Daerah
2. Jelaskan tanggung jawab dan wewenang para Pejabat Pengelola Barang Milik Daerah.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


14 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Organisasi Dan Sdm Pengelolaan Barang Milik Daerah

Boks 2.1 Pengelolaan Aset di Kabupaten Bandung


Kepala Bagian Pengelolaan Aset mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas
Asisten Administrasi dalam merencanakan teknis operasional, merumuskan kebijakan dan
koordinasi teknis administratif penyusunan rumusan kebijakan dan pengkoordinasian
Dinas Daerah dan Lembaga Teknis Daerah melalui koordinasi analisa kebutuhan, pelayanan
inventarisasi dan penghapusan serta pengembangan pemanfaatan, pengawasan dan
pengendalian aset pemerintah daerah.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


15 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
TOPIK 3

PERENCANAAN
PENGANGGARAN DAN
SISTEM PENGELOLAAN
BARANG MILIK DAERAH
Perencanaan Penganggaran Dan Sistem Pengelolaan Barang Milik Daerah

Deskripsi:
Topik ini menjelaskan tentang perencanaan kebutuhan dan sistem pengelolaan Barang Milik
Daerah, serta menjelaskan tentang prosedur dan mekanisme perencanaan kebutuhan Barang
Milik Daerah.

Sub Topik Kata Kunci


Perencanaan dan
Penganggaran Kebutuhan Ekonomis, Efektif, Efisien dan Akuntabel
Barang Milik Daerah

Urutan pekerjaan dalam


pengelolaan Barang Rencana Kebutuhan Barang, Pengadaan, Penyerahan
Milik Daerah dan Pemanfaatan

Tata prosedur
pengelolaan Barang Formulir (RKBMD, RKPBMD, RKA, DKPBMD)
Milik Daerah

Referensi:
Anonim, 2007. Modul 2; Penyusunan Rencana Pengadaan dan Pemeliharaan Aset/Barang Milik
Daerah, Lembaga Administrasi Negara dan Departemen Dalam Negeri.
Endarto, Yudowinarso, Teori Dasar Penilaian, STAN, 2012
Kemenkeu. 2010. Modul Pokok-Pokok Pengelolaan Barang Milik Daerah.
Mardiasmo, 2004, Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah, Good Governence
Democratization, Local Government Financial Management, Public Policy, Reinventing
Government, Accountability Probity, Value for Money, Participatory Development, Serial Otonomi
Daerah, Andi, Yogyakarta.
Murtaji, Penilaian Properti, STAN, 2010
Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah
Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah.
Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah;
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah
Peraturan Presiden (Perpres) No. 70 Tahun 2012, Perubahan Kedua atas Peraturan Presiden No. 54
Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/JasaPemerintah.
Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2007 Tentang Perubahan Ketujuh Atas Keputusan Pesiden
Nomor 80 Tahun 2003 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Permendagri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah;
Sumini, Penatausahaan Barang Milik Daerah, STAN, 2010
Sutaryo, Manajemen Aset Daerah,
http:sutaryofe.staff.uns.ac.id/files/2011/10/manajemen-aset-daerah.pdf (25 Juni 2013)
Tanda Setiya dan Rahmat Guntoro, Penilaian Barang Milik Daerah, Pusdiklat KNPK, BPPK, 2010
Undang-Undang Nomor.1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;
Undang-Undang Nomor.17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara,

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


17 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Perencanaan Penganggaran Dan Sistem Pengelolaan Barang Milik Daerah

3.1. Perencanaan dan Penganggaran Kebutuhan Barang Milik


Daerah
Perencanaan merupakan salah satu langkah manajemen dalam kerangka mencapai strategi suatu
organisasi yang ingin di capai dengan memperhatikan ekonomis, efektifitas, dan efisiensi, demikian
juga dengan organisasi pemerintah, dalam kerangka mencapai proses pengadaan Barang Milik Daerah
yang ekonomi, efisien dan efektif diperlukan suatu perencanaan yang bagus dan akuntabel. Ketentuan
perencanaan Barang Milik Daerah tertuang dalam ketentuan Pengelolaan Barang Milik Daerah dalam
Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 2006 dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun Tahun 2007
tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah, menjelaskan bahwa perencanaan kebutuhan
merupakan kegiatan merumuskan rincian kebutuhan Barang Milik Daerah untuk menghubungkan
pengadaan barang yang telah lalu dengan keadaan yang sedang berjalan sebagai dasar dalam melakukan
tindakan pemenuhan kebutuhan yang akan datang.

Sedangkan kegiatan penentuan kebutuhan merupakan kegiatan atau tindakan untuk merumuskan
rincian kebutuhan pada perencanaan sebagai pedoman dalam melaksanakan pemenuhan kebutuhan
dan/atau pemeliharaan Barang Milik Daerah yang dituangkan dalam anggaran. Perencanaan kebutuhan
disusun dalam Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) dengan memperhatikan ketersediaan Barang Milik
Daerah yang sudah ada.

Perencanaan Pengelolaan Barang Milik Daerah ini harus berpedoman pada standarisasi barang dan
standarisasi kebutuhan barang/sarana prasarana perkantoran. Berdasarkan rencana kebutuhan Barang
Milik Daerah, pemerintah daerah kemudian mengusulkan anggaran pengadaannya. Dalam hal ini,
masyarakat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) perlu melakukan pengawasan (monitoring)
mengenai apakah Barang Milik Daerah yang direncanakan untuk dimiliki daerah tersebut benar-benar
dibutuhkan daerah.

Setelah melakukan perencanaan Barang Milik Daerah, maka langkah selanjutnya adalah melakukan
penganggaran. Penganggaran dalam perencanaan kebutuhan Barang Milik Daerah merupakan kegiatan
atau tindakan untuk merumuskan penentuan kebutuhan Barang Daerah dengan memperhatikan alokasi
anggaran ataupun pagu masing-masing SKPD sesuai dengan RKPD.

Pelaksanaan perencanaan kebutuhan dan penganggaran perlu terkoordinasi dengan baik dengan
memperhatikan standarisasi yang telah ditetapkan sesuai kondisi daerah masing-masing. Perencanaan
kebutuhan dan penganggaran bukanlah merupakan suatu kegiatan yang berdiri sendiri, tetapi
merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dalam pengelolaan Barang Milik Daerah

Proses perencanaan kebutuhan dan penganggaran Barang Milik Daerah membutuhkan pemahaman
dari seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah terhadap tahapan kegiatan pengelolaan Barang Milik Daerah,
sehingga koordinasi dan sinkronisasi dalam kegiatan tersebut dapat dilakukan dengan baik. Berkaitan
dengan hal tersebut, perlu memahami wewenang tugas dan fungsi sebagai berikut :
1. Kepala Daerah sebagai pemegang kekuasaan Barang Milik Daerah mempunyai kewenangan untuk
mengambil tindakan yang mengakibatkan penerimaan dan pengeluaran Barang Milik Daerah serta
mempunyai tanggung jawab untuk melaksanakan pembinaan dalam pengelolaan Barang Milik Daerah;
2. Kepala Daerah dalam rangka pelaksanaan, pembinaan dan pengelolaan Barang Milik Daerah
dibantu oleh:

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


18 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Perencanaan Penganggaran Dan Sistem Pengelolaan Barang Milik Daerah

a. Sekretaris Daerah selaku pengelola, sebagai koordinator dibantu oleh asisten yang membidangi
melakukan pembinaan pengelolaan Barang Milik Daerah, bertugas dan bertanggungjawab atas
terselenggaranya koordinasi dan sinkronisasi antara pembina, pengelola dan pengguna barang/
kuasa pengguna barang. Apabila dalam pembinaan dan pengelolaan Barang Milik Daerah terdapat
perbedaan pendapat antara unsur pembina, pengelola dan pengguna/kuasa pengguna barang
yang mengakibatkan kemacetan, maka Sekretaris Daerah selaku pengelola barang berkewajiban
untuk mengambil tindakan pengamanan yang bersifat sementara. Dalam keadaan demikian,
Sekretaris Daerah diminta maupun tidak diminta harus menyampaikan laporan dan saran kepada
Kepala Daerah untuk mendapatkan keputusan terakhir;
b. Asisten yang membidangi dibantu oleh Pembantu Pengelola bertanggungjawab atas terlaksananya
tertib pemenuhan standarisasi sarana dan prasarana kerja Pemerintahan Daerah, standarisasi harga
dan bertanggungjawab atas penyelenggaraan pengelolaan Barang Milik Daerah;
c. Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah sebagai pengguna bertugas dan bertanggungjawab atas
perencanaan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan, penggunaan, penatausahaan, pemeliharaan/
perbaikan, pengamanan dan pengawasan barang dalam lingkungan wewenangnya.

Perencanaan kebutuhan barang dilaksanakan berdasarkan pertimbangan sebagai berikut :


1. Untuk menjalankan atau melaksanakan fungsi dan tugas masing-masing Unit/Satuan Kerja
2. Untuk mengisi kebutuhan barang pada masing-masing Unit/Satuan Kerja sesuai besaran
organisasi/jumlah pegawai/luas wilayah dalam satu organisasi;
3. Untuk mengganti barang-barang yang rusak, dihapus, dijual, hilang, mati atau sebab lain yang
dapat dipertanggungjawabkan sehingga memerlukan penggantian;
4. Adanya peruntukan barang yang didasarkan pada peruntukan standar perorangan, jika terjadi
mutasi bertambah personil sehingga mempengaruhi kebutuhan barang;
5. Untuk menjaga tingkat persediaan Barang Milik Daerah dalam jumlah yang tepat agar agar efisien
dan efektif; dan
6. Pertimbangan perkembangan teknologi.

Fungsi perencanaan penganggaran merupakan rangkaian kegiatan dalam pemenuhan kebutuhan


dengan memperhatikan kemampuan/ ketersediaan keuangan daerah. Perencanaan penganggaran
untuk pemenuhan kebutuhan barang harus terinci dengan memuat banyaknya barang, nama barang,
waktu dan jumlah biaya yang diperlukan. Perencanaan kebutuhan Barang Milik Daerah disusun oleh
masing-masing unit sesuai Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (RKA-SKPD)
dengan memperhatikan standarisasi sarana dan prasarana kerja pemerintahan daerah dan standarisasi
harga yang telah ditetapkan oleh Kepala Daerah.

Kegiatan perencanaan dan penentuan kebutuhan didasarkan atas beban tugas dan tanggungjawab
masing-masing unit sesuai anggaran yang tersedia dengan kata lain adalah fungsi pokok masing-masing
satuan perangkat kerja daerah sesuai dengan fungsi pelayanan kepada masyarakat, perencanaan ini
dilakukan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. barang apa yang dibutuhkan (jumlah, spesifikasi. Dll);
b. dimana dibutuhkan;
c. bilamana dibutuhkan;
d. berapa biaya;

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


19 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Perencanaan Penganggaran Dan Sistem Pengelolaan Barang Milik Daerah

e. siapa yang mengurus dan siapa yang menggunakan;


f. alasan-alasan kebutuhan; dan
g. cara pengadaan.

Standarisasi dan spesifikasi barang-barang yang dibutuhkan, baik jenis, macam maupun jumlah dan
besarnya barang yang dibutuhkan. Standarisasi merupakan penentuan jenis barang dengan titik berat
pada keseragaman, kualitas, kapasitas dan bentuk yang memudahkan dalam hal pengadaan dan
perawatan, yang berlaku untuk suatu jenis barang dan untuk suatu jangka waktu tertentu.

Dalam rangka penyusunan RKBU dan RKPBU, maka setiap unit dalam suatu organisasi/SKPD hendaknya
menghimpun kebutuhan tersebut dari unit terkecil, hal ini sesuai dengan ketentuan perencanaan yang
baik, dimana adanya usulan dari bawah (bottom up). Usulan ini dibuat dalam sebuah formulir Daftar Usulan
Kebutuhan Barang (DUKB) untuk usulan kebutuhan barang dan Daftar Usulan Kebutuhan Pemeliharaan
barang (DUKP) untuk usulan pemeliharaan untuk aset/BMD, berikut ini contoh formulir;

DAFTAR USULAN KEBUTUHAN BARANG


TAHUN ANGGARAN .

SEKSI/BAGIAN :
UNIT ..
KABUPATEN
PROVINSI

Kode Merk/Type Jumlah Harga Jumlah Biaya


No. Nama/Jenis Barang Sudah Tersedia Keterangan
Barang Ukuran Barang Satuan (Rp) (Rp)
1 2 3 4 5 6 7 8

.., ..

Kepala Seksi/Bag

()
NIP.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


20 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Perencanaan Penganggaran Dan Sistem Pengelolaan Barang Milik Daerah

DAFTAR USULAN KEBUTUHAN PEMELIHARAAN BARANG


TAHUN ANGGARAN .
SEKSI/BAGIAN.
UNIT ..
KABUPATEN
PROVINSI

Kode Uraian Kode Jumlah Harga Jumlah Biaya


No. Nama/Jenis Barang Lokasi Keterangan
Barang Pemeliharaan Rekening Barang Satuan (Rp) (Rp)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

..., ..

Kepala Seksi/Bag

()
NIP.

Setelah memperoleh gambaran usulan dari seksi atau bagian, maka SKPD diharapkan melakukan
penilaian tingkat prioritas, karena adanya keterbatasan sumber dana. Satuan Kerja Perangkat Daerah
(SKPD) dapat melakukan penilaian terlebih dahulu terkait tingkat kepentingan akan pengadaan Barang
Milik Daerah tersebut. Fungsi dari penilaian ini adalah menentukan prioritas pemenuhan Barang Milik
Daerah sebelum menyusun daftar pengadaan Barang Milik Daerah yang akan dibahas dalam RKPD.
Adapun cara melakukan penilaian tersebut adalah sebagai berikut:

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


21 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Perencanaan Penganggaran Dan Sistem Pengelolaan Barang Milik Daerah

Tabel 3.1 Standar Penilaian Tingkat Kepentingan BMD

Tingkat Penting Akibat dari Kerusakan BMD


Tinggi (T) Berdampak pada tingkat layanan kepada masyarakat
Menghambat operasional aktivitas kerja (tupoksi tidak dapat terlaksana)
Berpengaruh terhadap keamanan dan keselamatan pegawai/ masyarakat
Berdampak pada lingkungan
Menimbulkan biaya yang sangat besar (biaya perawatan atau operasional)
Sedang (S) Kemungkinan memberi dampak pada tingkat layanan kepada masyarakat
Cukup menghambat operasional aktivitas kerja (tupoksi masih dapat
terlaksana namun tidak optimal)
Ada kemungkinan berpengaruh terhadap keamanan & keselamatan
pegawai/masyarakat
Cukup berdampak pada lingkungan
Dalam jangka panjang akan menimbulkan biaya yang cukup besar
Rendah (R) Kemungkinan tidak memberi dampak pada tingkat layanan kepada masyarakat
Sedikit menghambat operasional aktivitas kerja (tupoksi masih dapat
dilaksanakan dengan baik)
Tidak berpengaruh terhadap keamanan dan keselamatan pegawai atau
masyarakat.
Sedikit berdampak pada lingkungan
Hanya menimbulkan sedikit biaya

Setelah memperoleh gambaran tingkat kepentingan Barang Milik Daerah, maka SKPD dapat melakukan
penilaian berdasarkan tingkat penting atau tidaknya pengadaan Barang Milik Daerah, mekanisme
penilaian dapat menggunakan cara sebagai berikut:

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


22 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Perencanaan Penganggaran Dan Sistem Pengelolaan Barang Milik Daerah

Tabel 3.2

No Kriteria Penting Indikator Skor (S) Bobot (B) Nilai (SxB)


< 10 2
Jumlah Masyarakat yang >10 < 50 5
1 5 50
di layani > 50 < 100 8
>100 10

Pengaruh Terhadap Tidak Berpengaruh 0


2 Pelaksanaan operasional Sedikit Berpengaruh 5 4 40
aktivitas (Tupoksi)
Sangat Berpengaruh 10
3 Pengaruh terhadap Tidak Berpengaruh 0
keamanan dan Sedikit Berpengaruh 5 3 30
keselamatan Sangat Berpengaruh 10
Sangat Berpengaruh 10
Dampak Terhadap
4 Tidak Berpengaruh 0 1 5
Lingkungan
Sedikit Berpengaruh 5
< 50 2
> 50 < 100 4
5 Biaya yang di timbulkan
> 100 < 150 6 2 8
>150 <200 8
>200 10

Berdasarkan penilaian diatas maka akan di peroleh gambaran nilai untuk masing-masing Barang Milik
Daerah yang akan di ajukan dalam pembahasan anggaran.

Pengajuan usulan perencanaan kebutuhan Barang Milik Daerah dan pemeliharaan ini dilakukan melalaui
formulir Daftar Rencana Kebutuhan Barang Unit (RKBU) dan Rencana Kebutuhan Pemeliharaan Barang
Unit (DRKPBU) sebagaimana formulir dibawah ini.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


23 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Perencanaan Penganggaran Dan Sistem Pengelolaan Barang Milik Daerah

DAFTAR RENCANA KEBUTUHAN BARANG UNIT (RKBU)


TAHUN ANGGARAN .

UNIT ..
KABUPATEN..
PROVINSI.

Kode Merk/Type Jumlah Harga Jumlah Biaya


No. Nama/Jenis Barang Keterangan
Barang Ukuran Barang Satuan (Rp) (Rp)
1 2 3 4 5 6 7 8

, ..

Kepala SKPD

()
NIP.

DAFTAR RENCANA KEBUTUHAN PEMELIHARAAN BARANG UNIT (RKPBU)


TAHUN ANGGARAN .
UNIT ..
KABUPATEN
PROVINSI

Kode Uraian Kode Jumlah Harga Jumlah Biaya


No. Nama/Jenis Barang Lokasi Keterangan
Barang Pemeliharaan Rekening Barang Satuan (Rp) (Rp)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

.., ..

Kepala SKPD

()
NIP.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


24 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Perencanaan Penganggaran Dan Sistem Pengelolaan Barang Milik Daerah

Petunjuk pengisian formulir:

Disudut kiri atas :


a) Nama SKPD yang bersangkutan.
b) Nama Daerah Kota / Kabupaten yang bersangkutan.
c) Nama Daerah Provinsi yang bersangkutan.
Lajur 1 : diisi nomor urut pencatatan.
Lajur 2: diisi dengan kode barang
Lajur 3 : diisi menurut macam jenis/jenis barang
Lajur 4: diisi uraian pemeliharaan terhadap BMD tersebut
Lajur 5 : diisi lokasi BMD berada (ruang/jalan).
Lajur 6 : diisi dengan kode rekening pengeluaran kas
Lajur 7 : diisi dengan banyaknya barang.
Lajur 8 : diisi harga satuan.
Lajur 9 : diisi jumlah harga (banyaknya barang dikali harga satuan).
Lajur 10 : diisi dengan keterangan lain yang ada sangkut pautnya dengan barang-barang
dimaksud.
Pada kanan bawah setelah Daftar Hasil Pengadaan Barang dibuat, dibubuhi tanggal pencatatan,
kemudian ditandatangani oleh Kepala SKPD.
Berikut ini adalah contoh pengisian daftar rencana kebutuhan barang unit, di Kabupaten Ngada Propinsi
Nusa Tenggara Timur.

LOGO

DAFTAR RENCANA KEBUTUHAN BARANG UNIT (RKBU)


TAHUN ANGGARAN 2014

UNIT : Perpustakaan Pusat


KABUPATEN : Ngada
PROVINSI : Nusa Tenggara Timur

Merk/Type
No. Kode Barang Nama/Jenis Barang Jumlah Barang Harga Satuan (Rp) Jumlah Biaya (Rp) Keterangan
Ukuran
1 2 3 4 5 6 7 8

..................., ..............................................

Kepala SKPD

( ...................................... )
NIP. .....................

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


25 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Perencanaan Penganggaran Dan Sistem Pengelolaan Barang Milik Daerah

Berikut ini merupakan gambaran dari dampak perencanaan kebutuhan Barang Milik Daerah.
Gambar 3.1

Rencana Kebutuhan Rencana Kebutuhan


BMD Tidak Tepat BMD Tepat

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


26 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Perencanaan Penganggaran Dan Sistem Pengelolaan Barang Milik Daerah

3.2. Urutan Pekerjaan dalam Perencanaan dan Penganggaran BMD.


Pelaksanaan Perencanaan Kebutuhan dan Penganggaran pada Barang Milik Daerah dilakukan dengan
tahapan kegiatan sebagai berikut:
1. Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) selaku kuasa pengguna barang berpedoman pada
standarisasi sarana dan prasarana kerja pemerintahan daerah yang ditetapkan dengan Peraturan
Kepala Daerah dan standar harga yang ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah menyusun
usulan Rencana Kebutuhan Barang Milik Daerah (RKBMD) dan usulan Rencana Kebutuhan
Pemeliharaan Barang Milik Daerah (RKPBMD) kepada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) selaku
Pengguna Barang Milik Daerah.
2. Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) selaku Pengguna Barang Milik Daerah Berpedoman
pada standarisasi sarana dan prasarana kerja pemerintahan daerah yang ditetapkan dengan
Peraturan Kepala Daerah dan standar harga yang ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah
menyusun dan mengkompilasi usulan Rencana Kebutuhan Barang Milik Daerah (RKBMD)
dan usulan Rencana Kebutuhan Pemeliharaan Barang Milik Daerah (RKPBMD) sebagai dasar
penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah
(SKPD) kepada Sekretaris Daerah selaku Pengelola barang.
3. Sekretaris Daerah selaku Pengelola barang bersama Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) selaku
pengguna membahas usulan Rencana Kebutuhan Barang Milik Daerah/Rencana Kebutuhan
Pemeliharaan Barang Milik Daerah masing-masing SKPD tersebut dengan memperhatikan data
barang pada pengguna dan/atau pengelola untuk ditetapkan sebagai Rencana Kebutuhan Barang
Milik Daerah (RKBMD) dan Rencana Kebutuhan Pemeliharaan Barang Milik Daerah (RKPBMD).
4. Setelah APBD ditetapkan, Kepala Biro perlengkapan selaku pembantu pengelola menyusun Daftar
Kebutuhan Barang Milik Daerah (DKBMD) dan Daftar Kebutuhan Pemeliharaan Barang Milik Daerah
(DKPBMD), sebagai dasar pelaksanaan pengadaan dan pemeliharaan Barang Milik Daerah kepada
Sekretaris Daerah selaku Pengelola.
5. Sekretaris Daerah selaku Pengelola membuat Surat Keputusan Kepala Daerah tentang Daftar
Kebutuhan Barang Milik Daerah (DKBMD) dan Daftar Kebutuhan Pemeliharan Barang Milik Daerah
(DKPBD) dan menyerahkannya kepada Kepala Daerah.
6. Kepala Daerah sebagai pemegang kekuasaan pengelolaan barang daerah menetapkan keputusan
Daftar Kebutuhan Barang Milik Daerah (DKBMD) dan Daftar Kebutuhan Pemeliharan Barang Milik
Daerah (DKPBD).

Sedangkan Permendagri No. 17 Tahun 2007 menjelaskan Tahapan Kegiatan Penyusunan Rencana
Kebutuhan dan Penganggaran sebagai berikut:
1. Satuan Kerja Perangkat Daerah sebagai pengguna barang merencanakan dan menyusun
kebutuhan barang dalam Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (RKA-SKPD)
sebagai bahan dalam penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD);
2. Masing-masing SKPD menyusun Rencana Kebutuhan Barang dan Rencana Kebutuhan
Pemeliharaan Barang kemudian menyampaikan kepada Pengelola melalui pembantu pengelola
untuk meneliti dan menyusun menjadi Rencana Daftar Kebutuhan Barang Milik Daerah (RDKBMD)
dan Rencana Kebutuhan Pemeliharaan Barang Milik Daerah (RKPBMD);
3. Rencana kebutuhan barang SKPD disusun berdasarkan standarisasi sarana dan prasarana kerja
pemerintahan daerah yang ditetapkan Bupati;

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


27 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Perencanaan Penganggaran Dan Sistem Pengelolaan Barang Milik Daerah

4. Setelah APBD ditetapkan setiap SKPD menyusun Daftar Rencana Tahunan Barang dan disampaikan
kepada Bupati melalui pengelola;
5. Berdasarkan rencana tahunan barang dari semua SKPD, diteliti dan dihimpun menjadi Daftar
Kebutuhan Barang Milik Daerah (RKBMD) untuk satu tahun anggaran;
6. Daftar kebutuhan barang daerah tersebut dijadikan pedoman dalam pelaksanaan pengadaan dan
pemeliharaan Barang Milik Daerah; dan
7. Format Rencana Kebutuhan Barang SKPD (RKB SKPD) (Lampiran 3) dan Rencana Kebutuhan
Pemeliharaan Barang SKPD (RKPB SKPD) (Lampiran4).

3.3. Tata Prosedur Perencanaan Kebutuhan Barang Milik Daerah.


Dalam melakukan pengelolaan BMD, pelaksanaan perencanaan kebutuhan dan penganggaran pada
BMD dilakukan dengan menyusun dan mengisi formulir/daftar sebagai berikut:
1. Peraturan Kepala Daerah Standarisasi Sarana dan Prasarana Kerja.
2. Keputusan Kepala Daerah Standar Harga.
3. Rencana Kebutuhan Barang Milik Daerah (RKBMD).
4. Rencana Kebutuhan Pemeliharaan Barang Milik Daerah (RKPBMD).
5. Rencana Kerja dan Anggaran (RKA).
6. Daftar Kebutuhan Barang Milik Daerah (DKBMD).
7. Daftar Kebutuhan Pemeliharaan Barang Milik Daerah (DKPBMD).

Pengisian formulir-formulir diatas merupakan salah satu langkah dalam melakukan proses
pertanggungjawab pengelolaan Barang Milik Daerah. Berikut ini adalah gambaran tata prosedur
pengelolaan Barang Milik Daerah meliputi perencanaan dan penganggaran;

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


28 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Perencanaan Penganggaran Dan Sistem Pengelolaan Barang Milik Daerah

Gambar 3.2

ASET

SDA & Financial Barang Daerah

Tingkat Pelayanan
Potensial Aset
Kebutuhan Aset

Perencanaan Manajemen Aset

Identifikasi Identifikasi &


& Inventarisasi Inventarisasi

Analisis kebutuhan
Analisis
Pengembangan

Pemeliharaan & Penghapusan &


Pengadaan Pemanfaatan
Perbaikan Pemindahtanganan
Prioritas

Belanja
Belanja Modal Operasional Pendapatan Lain-Lain

Investasi

Penganggaran

Pelaksanaan & Penatausahaan

Pelaporan & Pengevaluasian

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


29 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Perencanaan Penganggaran Dan Sistem Pengelolaan Barang Milik Daerah

3.4. Sistem Pengelolaan Barang Milik Daerah.


Sistem juga merupakan kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan yang berada dalam suatu
wilayah serta memiliki item-item penggerak, sedangkan dalam dalam Permendagri No. 17 tahun 2007
disebutkan bahwa yang dimaksud dengan sistem pengelolaan barang daerah adalah suatu rangkaian
kegiatan dan tindakan terhadap daerah yang meliputi:
1. Perencanaan kebutuhan dan penganggaran;
2. Pengadaan;
3. Penerimaan, penyimpanan dan penyaluran;
4. Penggunaan;
5. Penatausahaan;
6. Pemafaatan;
7. Pengamanan dan pemeliharaan;
8. Penilaian;
9. Penghapusan;
10. Pemindahtanganan;
11. Pembinaan, Pengawasan, dan Pengendalian;
12. Pembiayaan; dan
13. Tuntutan ganti rugi.

3.5.Rangkuman
1. Perencanaan kebutuhan BMD merupakan kegiatan merumuskan rincian kebutuhan Barang Milik
Daerah untuk menghubungkan pengadaan barang yang telah lalu dengan keadaan yang sedang
berjalan sebagai dasar dalam melakukan tindakan pemenuhan kebutuhan yang akan datang.
2. Perencanaan Kebutuhan BMD didasarkan akan fungsi pelayanan maupun tugas dan fungsi SKPD
terkait.

Latihan
1. Usulan rencana kebutuhan pengadaan barang/asset masing-masing Unit/Bagian
2. Buatlah urutan kebutuhan barang berdasarkan tugas dan fungsi SKPD
3. Usulan rencana kebutuhan dan pemeliharaan barang/asset masing-masing SKPD
4. Isilah Formulir Usulan rencana kebutuhan pengadaan dan pemeliharaan barang/aset sesuai
dengan kondisi dan situasi daerah atau instansi Anda

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


30 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Perencanaan Penganggaran Dan Sistem Pengelolaan Barang Milik Daerah

Studi Kasus Perencanaan Aset Daerah


Best Practice
Menciptakan kembali Kota Phuket Tua: Pariwisata Budaya
sebagai Strategi Pembangunan

Kota Phuket terletak di bagian tenggara Phuket seluas 12 kilometer persegi. Terdapat 20.877 kepala
keluarga dengan total populasi sebesar 74.583. Beberapa jalan di daerah tersebut masih terlihat benar-
benar tua karena gaya bangunannya yang unik. Pesona wisata ini memiliki potensi untuk dikembangkan.
Oleh karena itu, kota Phuket memutuskan untuk berinvestasi memulihkan daerah kota tua untuk
mempromosikannya dengan cara pelestarian bangunan tua dengan gaya arsitekturnya yang unik yang
dikenal sebagai tradisi Sino-Portugis (alias Sino-Kolonial) dan peranakan lama (Melayu -Cina, Selat alias
Cina) yang menjadi fokus untuk wisata budaya kota Phuket.

Seiring dengan konservasi, investasi juga mempromosikan partisipasi lokal, kesadaran masyarakat, wisata
budaya, dan meningkatkan ekonomi lokal. Kemudian diluncurkan sebuah proyek yang dinamakan
Konservasi dan Pembangunan Kota Tua Phuket. Proyek, yang dikoordinasi oleh Kota Phuket, bertujuan
untuk bekerja dengan masyarakat lokal dan organisasi dengan pemerintah kota yang menjadi pemeran
utama untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap konservasi bangunan arsitektur kota tua
bersama dengan pembangunan daerah dalam arah yang tepat, di bawah pengawasan yang ketat dari
ahli arsitektur Sino-Portugis.

Sejak itu, Kota Phuket telah memulai beberapa kegiatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat,
untuk mencintai dan merawat kota tua, dan untuk mempromosikan pariwisata di pusat kota Phuket
untuk memperkuat ekonomi seperti berikut:
Festival kota tua Phuket terlibat dalam pameran, forum pelestarian kota tua, penampilan yang baik
dan sederhana, menunjukkan tradisional, dan toko-toko makanan lokal di sepanjang Jalan Thalang.
Pelestarian tradisi asli dan adat lainnya seperti ritual wali animisme, festival bulan, ritual leluhur,
festival vegetarian, dan ritual pendiri Phuket
Pembentukan Yayasan Phuket Lama oleh jaringan aliansi masyarakat bertujuan untuk partisipasi
publik dalam arsitektur, budaya, dan konservasi mata pencaharian
Mengorganisir festival Phuket Yester taunan untuk membawa lebih banyak pengunjung ke
daerah pusat kota

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


31 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Perencanaan Penganggaran Dan Sistem Pengelolaan Barang Milik Daerah

Mempromosikan upacara pernikahan tradisional Phuket untuk menunjukkan cara hidup dan
budaya yang menjadi identitas Phuket
Konservasi pakaian Nyonya (pakaian tradisional Peranakan).
Pembentukan kelompok perikanan skala kecil di Ban Ko Jan dekat Sapan Hin untuk kegiatan
ekowisata pesisir dan jalur pemasaran tangkapan tambahan oleh anggota sehingga membantu
menghasilkan pendapatan dan tabungan
Relawan kota Phuket memandu pelatihan dan pengembangan potensi masyarakat lokal untuk
menjadi tuan rumah yang baik sehingga akhirnya meningkatkan kompetensi pariwisata

Selain itu, Kota Phuket telah berinvestasi di lingkungan perkotaan dan program perbaikan lanskap
untuk memastikan suasana yang indah dan mengesankan dan menjamin kepuasan pengunjung yang
mengunjungi Kota Phuket yang bersih, nyaman, dan menyenangkan, misalnya, peningkatan jalannya air
publik, manajemen limbah padat dan sumber energi hijau, jalur listrik bawah tanah, dan lain-lain untuk
membawa kembali pesona jalan-jalan Kota Phuket, investasi teknologi komunikasi terbaru, investasi
dalam hubungan publik, pendidikan misalnya pelatihan keterampilan bahasa asing, teknologi pergaulan,
dan lain-lain.

Kota Phuket juga telah merencanakan investasi jangka panjang keunggulan pariwisata Phuket seperti
pembentukan museum pendidikan dan pariwisata seperti Museum Ban Kao, Museum Thaihua digunakan
menjadi sebuah sekolah tua; pusat informasi wisata di daerah kota tua untuk akses yang lebih baik dan
penyediaan peta perjalanan bagi pengunjung yang tertarik bertamasya berjalan-jalan di sekitar kota
kota tua. Phuket telah mengelola pariwisata dengan cara berkelanjutan sehingga kota Phuket lama telah
menjadi sebuah situs wisata penting di provinsi ini. Ketika mengunjungi Phuket, salah satu tujuan yang
harus dikunjungi adalah kota tua Phuket yang terkenal dengan arsitektur Sino-Portugis, cara hidup, dan
resep lokal.

Keberhasilan merangsang ekonomi lokal dan apa yang dapat dilihat adalah kembalinya generasi baru
Phuket ke daerah kota tua untuk memulai atau memperbaharui bisnis mereka, merenovasi rumah Sino-
Portugis mereka untuk berbaur dengan suasana kota tua, dan menciptakan penjualan yang lebih banyak
dari produk tradisional mereka.

Kegiatan-kegiatan Pelaksanaan Praktik -Praktik Terbaik Phuket.


GTZ, melalui Departemen Administrasi Publik, mencari target proyek konservasi dalam pengelolaan
lingkungan perkotaan melalui pendekatan partisipatif. GTZ kemudian mendapatkannya yaitu
bersama dengan kota Phuket, sebagai proyek konservasi percontohan, dan memulai program yang
disebut Konservasi dan pengembangan lingkungan arsitektur di kota Phuket tua. Tujuannya adalah 1)
meningkatkan perekonomian kota Phuket tua, 2) melestarikan lingkungan arsitektur, 3) melestarikan cara
hidup lama, tradisi budaya, dan kehidupan Phuket asli, dan 4) membangun kesadaran tentang masalah
pelestarian budaya.

Pelaksanaan kegiatan dapat dikategorikan menjadi 4 kelompok:


1. Pengembangan database arsitektur, lingkungan fisik, dan infrastruktur kota tua Phuket;
2. Membentuk badan-badan administratif; komite operasional multi partai, Yayasan Phuket Lama,
masyarakat kota Tua;

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


32 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Perencanaan Penganggaran Dan Sistem Pengelolaan Barang Milik Daerah

3. Meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan apresiasi terhadap kota tua bersama dengan kegiatan
yang menghasilkan pendapatan seperti Phuket di masa lalu, pelatihan khusus tentang adat
kebiasaan asli misalnya Batik, resep, pemandu wisata, dan lain-lain;
4. Hubungan publik produksi media dan peningkatan daya tarik wisata tambahan. Kotamadya
didukung dengan memberikan leaflet, program televisi, misalnya investasi dalam pembangunan
fisik mengubah sebuah sekolah tua menjadi sebuah museum.

Pencapaian PraktikPraktik Terbaik Phuket.


1. Masyarakat di kota tua dan di pusat kota telah menjadi proaktif dalam pelestarian kota tua sebagai
daya tarik budaya untuk pariwisata Phuket. Pada awalnya, para pemilik atau penyewa berusaha untuk
merenovasi gedung-gedung di kota tua yang seidentik mungkin dengan aslinya meskipun dengan
biaya konstruksi yang lebih tinggi. Kemudian pada tahun 1990, Penghargaan Asosiasi Arsitektur Siam
diberikan HRH Putri Sirindhorn kepada penyewa untuk usaha konservasi sangat baik.
2. Penduduk di kota tua mengambil bagian dalam konservasi bangunan dan kegiatan tradisi lama,
misalnya, pakaian, resep, upacara pernikahan, upacara keagamaan, dan lain-lain yang sangat menarik
bagi pengunjung sehingga menghasilkan lebih banyak pendapatan. Pada tahun 1997, kelompok ini
dipuji oleh Komite Konservasi Pusaka Thailand untuk pekerjaan konservasi arsitektur mereka.
3. Kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan penduduk dalam konservasi dan pengembangan
kota tua untuk melestarikan identitas dan kebanggaan dari satu generasi ke generasi. Pada tahun
2000, kota memenangkan hadiah dari Dana Pembangunan Perkotaan sebagai Kota Identitas.
4. Kembalinya generasi muda ke Phuket. Di masa lalu, setelah dikirim belajar di tempat lain, para
pemuda tidak pernah kembali ke Phuket untuk meneruskan hidup mereka. Tapi setelah kota tua
berhasil dikembangkan, para pemuda mulai datang kembali untuk memperluas jaringan bisnis
orang tua mereka atau memulai bisnis mereka sendiri yang berkaitan dengan pariwisata seperti
restoran, asrama, toko cinderamata, dan lain-lain. Mereka memiliki penghasilan rata-rata seribu USD
per bulan.
5. Harga real estat telah meningkat cepat. Investor baik dari luar Thailand maupun asing mulai tertarik
untuk berinvestasi di daerah yang dikembangkan dan kotamadya memiliki penghasilan yang lebih
baik dari pajak di masa depan.
Sumber: Buku teks untuk Pertukaran Lintas Negara dan Replikasi Praktik -Praktik Terbaik dalam
Pemerintahan Lokal di Negara Asia Tenggara (www.DELGOSEA.eu, 6/2/2014).

Boks 3.2: Dalam rangka Perencanaan dan Penganggaran Kebutuhan BMD, Propinsi
Sulawesi Utara mengeluarkan surat edaran kepada Pengguna Anggaran/Barang Dan Kuasa
Pengguna Anggaran/ Barang Di Lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara Surat Edaran
NOMOR : 900/457/Sekr-BPKBMD Tentang Bijakan Perencanaan Kebutuhan Dan Penganggaran
Barang Milik Daerah Tahun 2013

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


33 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
TOPIK 4

PENGADAAN BARANG
MILIK DAERAH
Pengadaan Barang Milik Daerah

Deskripsi:
Topik ini menjelaskan tentang bagaimana Pengadaan Barang Milik Daerah.

Sub Topik Kata Kunci


Penganggaran Barang
Pengelolaan, Penganggaran, Barang Milik Daerah
Milik Daerah

Pengadaan Barang Milik Pengadaan, Barang Milik Daerah


Daerah

Referensi:
Anonim, 2007. Modul 2; Penyusunan Rencana Pengadaan dan Pemeliharaan Aset/Barang Milik
Daerah, Lembaga Administrasi Negara dan Departemen Dalam Negeri.
Kemenkeu. 2010. Modul Pokok-Pokok Pengelolaan Barang Milik Daerah.
Mardiasmo, 2004, Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah, Good Governence
Democratization, Local Government Financial Management, Public Policy, Reinventing
Government, Accountability Probity, Value for Money, Participatory Development, Serial Otonomi
Daerah, Andi, Yogyakarta.
Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah
Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah.
Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah;
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah
Peraturan Presiden (Perpres) No. 70 Tahun 2012, Perubahan Kedua atas Peraturan Presiden No. 54
Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/JasaPemerintah.
Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2007 Tentang Perubahan Ketujuh Atas Keputusan Pesiden
Nomor 80 Tahun 2003 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Permendagri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah;
Sumini, Penatausahaan Barang Milik Daerah, STAN, 2010
Sutaryo, Manajemen Aset Daerah,
http:sutaryofe.staff.uns.ac.id/files/2011/10/manajemen-aset-daerah.pdf (25 Juni 2013)
Tanda Setiya dan Rahmat Guntoro, Penilaian Barang Milik Daerah, Pusdiklat KNPK, BPPK, 2010
Undang-Undang Nomor.1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;
Undang-Undang Nomor.17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara,

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


35 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Pengadaan Barang Milik Daerah

4.1. Pendahuluan.
Pengadaan Barang/Jasa adalah kegiatan untuk memperoleh Barang/Jasa oleh Kementerian/ Lembaga/
Satuan Kerja Perangkat Daerah/Institusi yang prosesnya dimulai dari perencanaan kebutuhan sampai
diselesaikannya seluruh kegiatan untuk memperoleh Barang/Jasa. (Pasal 1 Perpres nomor 70/2012).
Pengadaan barang daerah dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip efisien, efektif, transparan dan
terbuka, bersaing, adil/tidak diskriminatif dan akuntabel.

Pengadaan barang/jasa pemerintah daerah dilaksanakan oleh Panitia Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Daerah yang ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah. Kepala Daerah dapat melimpahkan
kewenangan kepada SKPD untuk membentuk Panitia Pengadaan Barang/Jasa. Peraturan terkait dengan
pengadaan BMN/D diatur lebih lanjut dalam Peraturan Presiden Nomor 54 tahun 2010 tentang pengadaan
barang/jasa pemerintah beserta perubahannya yaitu Perpres 70 tahun 2012 tentang Perubahan ke II
Perpes Nomor 54 tahun 2010. Sedangkan khusus pengadaan tanah dilaksanakan sesuai dengan peratuan
perundangan-undangan yaitu Undang Undang Nomor 2 tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi
Pembangunan Untuk Kepentingan Umum.

Organisasi Pengadaan Barang/Jasa untuk Pengadaan melalui Penyedia Barang/Jasa terdiri atas:
a. Pengguna Anggaran yang selanjutnya disebut PA adalah pejabat pemegang kewenangan
penggunaan anggaran Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah atau Pejabat yang
disamakan pada Institusi Pengguna APBN/APBD
b. Kuasa Pengguna Anggaran yang selanjutnya disebut KPA adalah pejabat yang ditetapkan oleh PA
untuk menggunakan APBN atau ditetapkan oleh Kepala Daerah untuk menggunakan APBD
c. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) adalah pejabat yang bertanggung jawab atas pelaksanaan
Pengadaan Barang/Jasa.
d. ULP/Pejabat Pengadaan; Unit Layanan Pengadaan yang selanjutnya disebut ULP adalah unit
organisasi Kementerian/Lembaga/ Pemerintah Daerah/Institusi yang berfungsi melaksanakan
Pengadaan Barang/Jasa yang bersifat permanen, dapat berdiri sendiri atau melekat pada unit yang
sudah ada, sedangkan Pejabat Pengadaan adalah personil yang ditunjuk untuk melaksanakan
Pengadaan Langsung.
e. Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan adalah panitia/pejabat yang ditetapkan oleh PA/KPA yang
bertugas memeriksa dan menerima hasil pekerjaan

4.2. Tujuan Pengadaan BMD.


1) tertib administrasi pengadaan barang daerah;
2) tertib administrasi pengelolaan barang daerah;
3) pendayagunaan barang daerah secara maksimal sesuai dengan tujuan pengadaan barang daerah; dan
4) tercapainya tertib pelaksanaan penatausahaan barang daerah.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


36 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Pengadaan Barang Milik Daerah

4.3. Prinsip Pengadaan BMD.


Prinsip-prinsip dalam pengadaan Barang Milik Daerah, yaitu :
1) Efisien : bahwa pengadaan Barang Milik Daerah harus memperhitungkan penghematan biaya.
2) Efektif : bahwa pengadaan Barang Milik Daerah harus tepat penggunaannya sehingga pembiayaan
dapat tepat anggaran.
3) Transparan dan terbuka : bahwa dalam pengadaan Barang Milik Daerah harus dilakukan secara
transparan dan terbuka sehingga dapat bermanfaat umum.
4) Bersaing : bahwa pengadaan Barang Milik Daerah harus diadakan secara kompetitif agar tercapai
spesifikasi pengadaan yang berkompeten.
5) Adil/tidak diskriminatif : bahwa pengadaan Barang Milik Daerah dapat diikuti oleh siapa saja yang
memenuhi persyaratan.
6) Akuntabel : bahwa pengadaan Barang Milik Daerah pada saat dimulai dan akhir pemanfaatannya
dapat dipertanggungjawabkan dan terukur.

4.4. Jenis Pengadaan BMD.


Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa dilakukan melalui sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 54
tahun 2010 tentang pengadaan barang/jasa pemerintah beserta perubahannya yaitu Perpres 70 tahun
2012:
a. Swakelola
Pengadaan Barang/Jasa dimana pekerjaannya direncanakan, dikerjakan, dan/atau diawasi sendiri
oleh K/L/D/I sebagai penanggung jawab anggaran, instansi pemerintah lain dan/atau kelompok
masyarakat.
b. Pemilihan Penyedia Barang/Jasa.
Jenis-jenis pemilihan barang dan jasa antara lain;
1. Pelelangan Umum adalah metode pemilihan Penyedia Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya
untuk semua pekerjaan yang dapat diikuti oleh semua Penyedia Barang/Pekerjaan Konstruksi/
Jasa Lainnya yang memenuhi syarat.
2. Pelelangan Terbatas adalah metode pemilihan Penyedia Barang/Pekerjaan Konstruksi dengan
jumlah Penyedia yang mampu melaksanakan diyakini terbatas dan untuk pekerjaan yang
kompleks.
3. Pelelangan Sederhana adalah metode pemilihan Penyedia Barang/Jasa Lainnya untuk pekerjaan
yang bernilai paling tinggi Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
4. Pemilihan Langsung adalah metode pemilihan Penyedia Pekerjaan Konstruksi untuk pekerjaan
yang bernilai paling tinggi Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
5. Seleksi Umum adalah metode pemilihan Penyedia Jasa Konsultansi untuk pekerjaan yang dapat
diikuti oleh semua Penyedia Jasa Konsultansi yang memenuhi syarat.
6. Seleksi Sederhana adalah metode pemilihan Penyedia Jasa Konsultansi untuk Jasa Konsultansi
yang bernilai paling tinggi Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


37 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Pengadaan Barang Milik Daerah

7. Sayembara adalah metode pemilihan Penyedia Jasa yang memperlombakan gagasan orisinal,
kreatifitas dan inovasi tertentu yang harga/biayanya tidak dapat ditetapkan berdasarkan Harga
Satuan.
8. Kontes adalah metode pemilihan Penyedia Barang yang memperlombakan barang/benda
tertentu yang tidak mempunyai harga pasar dan yang harga/biayanya tidak dapat ditetapkan
berdasarkan Harga Satuan
9. Penunjukan Langsung adalah metode pemilihan Penyedia Barang/Jasa dengan cara menunjuk
langsung 1 (satu) Penyedia Barang/Jasa.
10. Pengadaan Langsung adalah Pengadaan Barang/Jasa langsung kepada Penyedia Barang/Jasa,
tanpa melalui Pelelangan/ Seleksi/Penunjukan Langsung

4.5. Tatacara Pelaksanaan Pengadaan BMD.


a) Panitia Pengadaan ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah dengan susunan keanggotaannya
melibatkan unsur teknis terkait;
b) Panitia Pengadaan menyelenggarakan tender/lelang dan mengambil keputusan dalam suatu rapat
yang dituangkan dalam Berita Acara Lelang mengenai calon pemenang atas dasar harga terendah
dikaitkan dengan harga perkiraan sendiri (owner estimate) atau sering disingkat HPS yang dapat
dipertanggungjawabkan untuk kualitas barang yang dibutuhkan, selanjutnya menyampaikan Berita
Acara tersebut disertai saran kepada Kepala Daerah dan/atau Sekretaris Daerah untuk menetapkan
Pemenang Lelang. Dalam Berita Acara Lelang dimaksud memuat antara lain :
1) hari, tanggal dan tempat pelaksanaan lelang.
2) anggota panitia yang hadir.
3) rekanan yang diundang, rekanan yang hadir, rekanan yang memenuhi syarat.
4) surat-surat penawaran yang masuk.
c) Setelah ditetapkan calon pemenang lelang, Kepala Daerah atau pengelola atau pengguna,
menetapkan pemenang lelang;
d) Pelaksanaan mengadakan/pekerjaan dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1) membuat Surat Perjanjian yang ditandatangani oleh Kepala Daerah atau pengelola atau Kepala
SKPD; dan
2) sepanjang pengadaan/pekerjaan tidak dilakukan melalui lelang, maka pelaksanaan pengadaan/
pekerjaan dilakukan dengan Surat Perintah Kerja yang ditandatangani oleh Kepala SKDP dan/atau
pejabat pengadaan. Dalam Surat Perintah Pengadaan/Pekerjaa tersebut diatas,merupakan dasar
untuk penerimaan barang, harus dengan tegas memuat dan menyatakan jumlah barang dan
biaya maupun syarat-syaratlain yang diperlukan.
e) Penerimaan barang dilaksanakan oleh penyimpanan barang dan/atau pengurus barang setelah
diperiksa oleh Panitia Pemeriksa Barang Daerah dengan membuat Berita Acara Pemeriksaan;
f) Pembayaran hanya dapat dilakukan apabila melampiri dokumen-dokumen sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


38 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Pengadaan Barang Milik Daerah

Dalam tatacara sebagaimana yang telah diuraikan diatas, khusus untuk harga perkiraan sendiri (owner
estimate) atau sering disingkat HPS, diatur lebih rinci dalam Peraturan Presiden RI No. 70 tahun 2012
tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/
Jasa Pemerintah, dimana dalam aturan tersebut dijelaskan bahwa Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)
adalah merupakan pihak yang menetapkan rencana HPS tersebut.

4.6. Pengadaan Tanah


Pengadaan tanah dilaksanakan/dikoordinasikan oleh pengelola.
a) Asal-usul tanah terdiri dari :
1) Tanah Negara (tanah yang langsung dikuasai Negara).
2) Tanah hak masyarakat (tanah masyarakat hukum adat).
3) Tanah hak (tanah kepunyaan perorangan atau Badan Hukum), berbentuk hak milik, hak guna
usaha, hak guna bangunan, hak pakai atau hak pengelolaan.
b) Setiap penguasaan tanah oleh daerah untuk keperluan apapun perlu ada landasan haknya yang sah,
yaitu hak atas tanah yang diberikan oleh Pejabat yang berwenang. Yang dimaksud dengan Pejabat
yang berwenang dalam pemberian hak atas tanah ialah Instansi Badan Pertanahan Nasional (BPN).
c) Penguasaan tanah oleh Pemerintah Daerah dilakukan dengan prosedur :
1) Pemberian tanah Negara (tanah yang langsung dikuasai oleh Negara) oleh Pemerintah melalui
keputusan pemberian hak.
2) Pembebasan tanah hak (tanah yang sudah ada haknya, kepunyaan perorangan atau Badan
Hukum) dilakukan secara musyawarah dengan pembayaran ganti rugi kepada pemiliknya.
3) Penerimaan atau sumbangan (hibah) tanpa disertai pembayaran ganti rugi kepada pihak yang
melepaskan tanahnya.
d) Setelah proses pembebasan tanah atau penerimaan sumbangan/hibah selesai, perlu pengurusan
lebih lanjut dalam rangka memperoleh hak atas tanahnya serta sertifikat tanah yang bersangkutan,
dengan diperolehnya sertifikat, barulah proses pengadaan tanahnya dapat dianggap selesai,
tertib dan aman terhadap kemungkinan tuntutan dari pihak lain. Hak atas tanah yang dimiliki oleh
Pemerintah Daerah sama dengan hak yang dimiliki Instansi Pemerintah, yaitu :
1) Hak pakai, apabila tanahnya dipergunakan sendiri untuk keperluan yang langsung berhubungan
dengan penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan.
2) Hak pengelolaan, apabila tanahnya dipergunakan untuk keperluan lain yang tidak langsung
berhubungan dengan tugas, seperti pengkaplingan untuk pegawai/anggota DPRD, pola kerjasama
dengan Pihak Ketiga atau penggunaannya akan ditentukan kemudian oleh Kepala Daerah.
e) Tata cara pembebasan tanah.
1) Ketentuan dalam Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pengadaan
Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, dan Peraturan Kepala Badan Pertanahan
Nasional Republik Indonesia nomor 5 Tahun 2012 Tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan
Pengadaan Tanah harus dipenuhi dan ditaati dalam rangka melaksanakan pembebasan tanah
oleh Pemerintah Daerah, baik untuk keperluan instansi ataupun untuk keperluan pembangunan.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


39 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Pengadaan Barang Milik Daerah

2) Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum diselenggarakan melalui tahapan: perencanaan;


persiapan; pelaksanaan; dan penyerahan hasil.
3) Perencanaan; Setiap Instansi yang memerlukan tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan
Umum membuat rencana Pengadaan Tanah yang didasarkan pada:
Rencana Tata Ruang Wilayah
Prioritas Pembangunan yang tercantum dalam:
1. Rencana Pembangunan Jangka Menengah;
2. Rencana Strategis; dan
3. Rencana Kerja Pemerintah Instansi yang bersangkutan
4) Rencana Pengadaan Tanah disusun dalam bentuk dokumen perencanaan Pengadaan Tanah,
paling sedikit memuat:
1. maksud dan tujuan rencana pembangunan
2. kesesuaian dengan Rencana Tata Ruang Wilayah dan Prioritas Pembangunan
3. letak tanah
4. luas tanah yang dibutuhkan
5. gambaran umum status tanah
6. perkiraan jangka waktu pelaksanaan Pengadaan Tanah
7. perkiraan jangka waktu pelaksanaan pembangunan
8. perkiraan nilai tanah
9. rencana penganggaran
5.) Persiapan; Gubernur melaksanakan tahapan kegiatan Persiapan Pengadaan Tanah setelah
menerima dokumen perencanaan Pengadaan Tanah, Gubernur membentuk Tim Persiapan
dalam waktu paling lama 10 (sepuluh) hari kerja. Tim Persiapan sebagaimana beranggotakan
bupati/walikota, satuan kerja perangkat daerah provinsi terkait, Instansi yang memerlukan tanah,
dan Instansi terkait lainnya.
6) Tim Persiapan bertugas;
1. melaksanakan pemberitahuan rencana pembangunan
2. melakukan pendataan awal lokasi rencana pembangunan
3. melaksanakan Konsultasi Publik rencana pembangunan
4. menyiapkan Penetapan Lokasi pembangunan
5. mengumumkan Penetapan Lokasi pembangunan untuk kepentingan umum
6. melaksanakan tugas lain yang terkait persiapan Pengadaan Tanah bagi pembangunan untuk
Kepentingan Umum yang ditugaskan oleh gubernur.
7) Pelaksanaan Pengadaan Tanah dilaksanakan oleh Kepala Kantor Wilayah BPN selaku Ketua
Pelaksana Pengadaan Tanah. Susunan keanggotaan pelaksanaan Pengadaan Tanah ditetapkan
oleh Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah yang berunsurkan paling kurang;
1. Pejabat yang membidangi urusan Pengadaan Tanah di Iingkungan Kantor Wilayah BPN.
2. Kepala Kantor Pertanahan setempat pada lokasi Pengadaan Tanah
3. Pejabat Satuan Kerja Perangkat Daerah provinsi yang membidangi urusan pertanahan
4. camat setempat pada lokasi Pengadaan Tanah
5. lurah/ kepala desa atau nama lain pada lokasi Pengadaan Tanah

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


40 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Pengadaan Barang Milik Daerah

8) Penyerahan hasil: Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah menyerahkan hasil Pengadaan Tanah kepada
Instansi yang memerlukan tanah disertai data Pengadaan Tanah , paling lama 7 (tujuh) hari kerja
sejak pelepasan hak Objek Pengadaan Tanah.
9) SKPD yang memerlukan tanah harus mengajukan permohonan pembebasan tanah kepada
Kepala Daerah dengan mengemukakan maksud dan tujuan penggunaan tanahnya. Permohonan
tersebut harus disertai dengan keterangan mengenai :
1. status tanah yang akan dibebaskan haknya (jenis/macam haknya, luas serta tanahnya).
2. gambar situasi tanahnya.
3. maksud dan tujuan pembebasan tanah dan rencana penggunaan tanahnya.

4.7. Pertimbangan dalam Pengadaan BMD.


a) Keseluruhan dokumen kontrak yang bersangkutan harus disusun sesuai dengan ketentuan yang
berlaku dan/atau ketentuan yang tercantum dalam perjanjian yang bersangkutan;
b) Penyedia barang/jasa yang ditunjuk benar-benar mampu dan memiliki reputasi baik, antara
lain dibuktikan dari pelaksanaan pekerjaannya pada kontrak yang lain pada waktu lalu di Dinas/
Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah lainnya yang bersangkutan dan ditempatkan pemberi
kerja yang lain;
c) Harga yang disepakati benar-benar telah memenuhi persyaratan, menguntungkan daerah dan
telah dibandingkan dengan standar harga yang ditetapkan oleh Kepala Daerah serta dapat
dipertanggungjawabkan.

4.8. Daftar Hasil Pengadaan Barang Milik Negara/Daerah.


Daftar hasil pengadaan Barang Milik Negara/Daerah memuat catatan seluruh barang yang diadakan oleh
semua SKPD dalam masa satu tahun anggaran.

Pelaksana Fungsional Pengguna bertanggung jawab untuk membuat daftar hasil pengadaan barang milik
negara/daerah tahunan dalam lingkup wewenangnya dan bertanggung jawab pula untuk melaporkan/
menyampaikan daftar hasil pengadaan barang milik negara/daerah tersebut kepada Pengelola khususnya
Tanah dan Bangunan, termasuk gedung negara/daerah.

Prosedur pembuatan Daftar Hasil Pengadaan Barang Milik Negara/Daerah (DHPBMN/D) tersebut adalah
sebagai berikut:
1. Pembantu pengelola menyediakan formulir yang diperlukan;
2. Formulir tersebut dikirim/disampaikan kepada semua SKPD untuk diisi sesuai dengan barang-
barang yang diadakan oleh unit yang bersangkutan;
3. Daftar tersebut dibuat setiap 6 (enam) bulan;
4. Daftar hasil Pengadaan Barang Milik Negara/Daerah dari semua SKPD dikirim ke pembantu

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


41 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Pengadaan Barang Milik Daerah

pengelola paling lambat 2 (dua) bulan setelah berakhirnya tahun anggaran yang bersangkutan
untuk disusun/dihimpun menjadi Buku Daftar Hasil Pengadaan Barang Milik Negara/Daerah

4.9. Rangkuman
Pengelolaan BMD didasarkan pada beberapa azas pengelolaan BMD, yaitu azas fungsional, azas kepastian
hukum, azas transparansi, azas efisiensi, azas akuntabilitas, yaitu setiap kegiatan pengelolaan BMD harus
dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat, azas kepastian nilai.

Standarisasi merupakan penentuan jenis barang dengan titik berat pada keseragaman, kualitas, kapasitas
dan bentuk yang memudahkan dalam hal pengadaan dan perawatan, yang berlaku untuk suatu jenis
barang dan untuk suatu jangka waktu tertentu.

Tujuan Pengadaan BMD untuk mencapai tertib administrasi pengadaan barang daerah,
pendayagunaannya, pengelolaannya dan penatausahaannya. Dimana prinsip untuk pengadaan BMD
harus memperhatikan beberapa prinsip, yaitu efisien, efektif, transparan dan terbuka, bersaing, adil/tidak
diskriminatif, dan akuntabel.

LATIHAN
1. Kendaraan dinas digunakan oleh pejabat yang berwenang untuk kepentingan pribadi di luar jam
operasional. Situasi ini tidak sesuai dengan azas apa dan mengapa ?
2. Faktor teknologi adalah salah satu dasar pertimbangan dalam penganggaran pengadaan BMD.
Jelaskan kaitannya dengan jalannya roda operasional pemerintahan.
3. Perlukah disusun daftar pilihan untuk harga barang dan pemasok pengadaan barang dan jasa?
4. Jika Pemerintah Daerah menerima sejumlah bidang tanah dari sumbangan masyarakat, dimana
tidak dalam setahun sesudahnya dibangun bangunan untuk menjalankan fungsi pemerintahan.
Disebut apa jenis pengadaan ini.
5. Berikan contoh standarisasi BMD !

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


42 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
TOPIK 5

PENGGUNAAN DAN
PEMANFAATAN BARANG
MILIK DAERAH
Penggunaan Dan Pemanfaatan Barang Milik Daerah

Deskripsi:
Topik ini menjelaskan tentang bagaimana penggunaan Barang Milik Daerah, pemanfaatan
barang daerah melalui pinjam pakai, penyewaan, kerjasama pemanfaatan, bangun guna serah
dan bangun serah guna, serta menatausahakan penggunaan dan pemanfaatan Barang Milik
Daerah.

Sub Topik Kata Kunci


Penggunaan Barang Milik
Daerah Pengguna, Penggunaan

Pemanfaatan barang daerah


melalui pinjam pakai,
penyewaan, kerjasama Kriteria, Bentuk Pemanfaatan
pemanfaatan, bangun guna
serah dan bangun serah guna

Menatausahakan penggunaan
dan pemanfaatan Barang Penatausahaan
Milik Daerah

Referensi:
Anonim, 2007. Modul 2; Penyusunan Rencana Pengadaan dan Pemeliharaan Aset/Barang Milik
Daerah, Lembaga Administrasi Negara dan Departemen Dalam Negeri.
Endarto, Yudowinarso, Teori Dasar Penilaian, STAN, 2012
Kemenkeu. 2010. Modul Pokok-Pokok Pengelolaan Barang Milik Daerah.
Murtaji, Penilaian Properti, STAN, 2010
Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah
Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah.
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah
Peraturan Presiden (Perpres) No. 70 Tahun 2012, Perubahan Kedua atas Peraturan Presiden No. 54
Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/JasaPemerintah.
Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2007 Tentang Perubahan Ketujuh Atas Keputusan Pesiden
Nomor 80 Tahun 2003 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Permendagri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah;
Permendagri Nomor 22 Tahun 2009 tentang Petunjuk Teknis Tata Cara Kerjasama Daerah.
Sumini, Penatausahaan Barang Milik Daerah, STAN, 2010
Sutaryo, Manajemen Aset Daerah,
http:sutaryofe.staff.uns.ac.id/files/2011/10/manajemen-aset-daerah.pdf (25 Juni 2013)
Undang-Undang Nomor.17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara,

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


44 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penggunaan Dan Pemanfaatan Barang Milik Daerah

5.1. Penggunaan Barang Milik Daerah


Penggunaan adalah kegiatan yang dilakukan oleh pengguna/kuasa pengguna dalam mengelola dan
menatausahakan BMD sesuai dengan tugas pokok dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang
bersangkutan. BMD ditetapkan status penggunaannya untuk penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi
SKPD dan dapat dioperasikan oleh pihak lain dalam rangka mendukung pelayanan umum sesuai tugas
pokok dan fungsi SKPD yang bersangkutan. Status penggunaan BMD ditetapkan dengan Keputusan
Kepala Daerah. Penetapan status penggunaan BMD diatur dalam pasal 22 ayat dua Permendagri 17
tahun 2007 sebagai berikut :
a. pengguna melaporkan BMD yang diterima kepada pengelola disertai dengan usul penggunaannya; dan
b. pengelola meneliti usul penggunaan BMD yang diterima dari pengguna untuk ditetapkan status
penggunaannya
Penetapan status penggunaan tanah dan/atau bangunan dilakukan dengan ketentuan bahwa tanah
dan/atau bangunan digunakan untuk kepentingan penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi pengguna
dan/atau kuasa pengguna. Pengguna dan/atau kuasa pengguna wajib menyerahkan tanah dan/atau
bangunan termasuk barang inventaris lainnya yang tidak digunakan untuk kepentingan penyelenggaraan
tugas pokok dan fungsi pengguna dan/atau kuasa pengguna kepada Kepala Daerah melalui pengelola
(pasal 23 Permendagri 17 tahun 2007).

Pengguna yang tidak menyerahkan tanah dan/atau bangunan yang tidak digunakan untuk
menyelenggarakan tugas pokok dan fungsi SKPD bersangkutan kepada Kepala Daerah, dikenakan sanksi
berupa pembekuan dana pemeliharaan tanah dan/atau bangunan dimaksud. Tanah dan/atau bangunan
yang tidak digunakan sesuai tugas pokok dan fungsi SKPD, dicabut penetapan status penggunaannya
dan dapat dialihkan kepada SKPD lainnya (pasal 24 Permendagri 17 tahun 2007).

5.2. Pemanfaatan Barang Milik Daerah


Pemanfaatan adalah pendayagunaan Barang Milik Daerah yang tidak dipergunakan sesuai dengan tugas
pokok dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam bentuk sewa, pinjam pakai, kerjasama
pemanfaatan, bangun guna serah dan bangun serah guna dengan tidak mengubah status kepemilikan.

5.2.1. Kriteria Pemanfaatan Barang Milik Daerah


Pemanfaatan BMD berupa tanah dan/atau bangunan, selain tanah dan/atau bangunan yang dipergunakan
untuk menunjang penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi SKPD, dilaksanakan oleh pengguna setelah
mendapat persetujuan pengelola. Pemanfaatan BMD berupa tanah dan/atau bangunan yang tidak
dipergunakan untuk menunjang penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi SKPD, dilaksanakan oleh
pengelola setelah mendapat persetujuan Kepala Daerah. Pemanfaatan BMD selain tanah dan/atau
bangunan yang tidak dipergunakan untuk menunjang penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi SKPD,
dilaksanakan oleh pengguna setelah mendapat persetujuan pengelola. Pemanfaatan BMD dilaksanakan
berdasarkan pertimbangan teknis dengan memperhatikan kepentingan negara/daerah dan kepentingan
umum.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


45 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penggunaan Dan Pemanfaatan Barang Milik Daerah

5.2.2. Bentuk Pemanfaatan Barang Milik Daerah


Bentuk-bentuk pemanfaatan Barang Milik Daerah berupa:

a. Sewa
Barang Milik Daerah baik barang bergerak maupun tidak bergerak yang belum dimanfaatkan oleh
pemerintah daerah, dapat disewakan kepada Pihak Ketiga sepanjang menguntungkan daerah. BMD yang
disewakan, tidak merubah status kepemilikan barang daerah. Penyewaan BMD berupa tanah dan/atau
bangunan dilaksanakan oleh pengelola setelah mendapat persetujuan dari Kepala Daerah. Penyewaan
BMD atas sebagian tanah dan/atau bangunan, selain tanah dan/atau bangunan yang masih dipergunakan
oleh pengguna, dilaksanakan oleh pengguna setelah mendapat persetujuan dari pengelola. Jangka
waktu penyewaan BMD paling lama 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang. Selain itu hasil penerimaan
sewa disetor ke Kas Daerah. Penyewaan dilaksanakan berdasarkan surat perjanjian sewa-menyewa.
Adapun surat perjanjian sewa menyewa, sekurang-kurangnya harus memuat siapa saja pihak-pihak yang
terikat dalam perjanjian; jenis, luas atau jumlah barang, besaran sewa, dan jangka waktu; tanggung jawab
penyewa atas biaya operasional dan pemeliharaan selama jangka waktu penyewaan; serta persyaratan
lain yang dianggap perlu. Pemanfaatan BMD selain disewakan dapat dikenakan retribusi. Retribusi atas
pemanfaatan/penggunaan BMD sebagaimana dimaksud, ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

b. Pinjam Pakai
Barang Milik Daerah baik berupa tanah dan/atau bangunan maupun selain tanah dan/atau bangunan,
dapat dipinjampakaikan untuk kepentingan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Pinjam pakai
BMD berupa tanah dan/atau bangunan maupun selain tanah dan/atau bangunan dilaksanakan oleh
pengelola setelah mendapat persetujuan Kepala Daerah. BMD yang dipinjampakaikan tidak merubah
status kepemilikan barang daerah. Jangka waktu pinjam pakai BMD paling lama 2 (dua) tahun dan
dapat diperpanjang. Pelaksanaan pinjam pakai dilakukan berdasarkan surat perjanjian yang sekurang-
kurangnya memuat :
1. pihak-pihak yang terikat dalam perjanjian.
2. jenis, luas dan jumlah barang yang dipinjamkan.
3. jangka waktu peminjaman.
4. tanggung jawab peminjam atas biaya operasional dan pemeliharaan selama jangka waktu
peminjaman persyaratan lain yang dianggap perlu.

c. Kerjasama Pemanfaatan
Kerjasama pemanfaatan BMD dengan pihak lain dilaksanakan dalam rangka mengoptimalkan daya guna
dan hasil guna BMD dan meningkatkan penerimaan daerah. Dalam pasal 37 dinyatakan bahwa kerjasama
pemanfaatan BMD dilaksanakan sebagai berikut :
1. Kerjasama pemanfaatan BMD atas tanah dan/atau bangunan yang sudah di serahkan oleh
pengguna kepada pengelola
2. Kerjasama pemanfaatan atas sebagian tanah dan/atau bangunan yang masih digunakan oleh
pengguna
3. Kerjasama pemanfaatan atas BMD selain tanah dan/atau bangunan.
Kerjasama pemanfaatan atas BMD atas tanah dan/atau bangunan yang sudah diserahkan oleh pengguna
kepada pengelola, dilaksanakan oleh pengelola setelah mendapatkan persetujuan Kepala Daerah.
Sedangkan untuk kerjasama pemanfaatan atas BMD atas tanah dan/atau bangunan yang masih digunakan

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


46 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penggunaan Dan Pemanfaatan Barang Milik Daerah

oleh penguna dan kerjasama pemanfaatan atas BMD selain tanah dan/atau bangunan, dilaksanakan
oleh pengguna setelah mendapatkan persetujuan pengelola. Ketentuan yang mengatur pelaksanaan
kerjasama pemanfaatan BMD sebagaimana dinaytakan dalam pasar 38, adalah sebagai berikut :
1. tidak tersedia dan/atau tidak cukup tersedia dana dalam APBD untuk memenuhi biaya operasional/
pemeliharaan/perbaikan yang perlu dilakukan terhadap BMD dimaksud.
2. mitra kerjasama pemanfaatan ditetapkan melalui tender/lelang dengan mengikutsertakan
sekurang-kurangnya 5(lima) peserta/peminat, kecuali untuk kegiatan yang bersifat khusus dapat
dilakukan penunjukan langsung.
3. besaran pembayaran kontribusi tetap dan pembagian keuntungan hasil kerjasama pemanfaatan
ditetapkan dari hasil perhitungan tim yang ditetapkan oleh Kepala Daerah.
4. pembayaran kontribusi tetap dan pembagian keuntungan hasil kerjasama pemanfaatan disetor
ke kas daerah setiap tahun selama jangka waktu pengoperasian.
Biaya pengkajian, penelitian, penaksir dan pengumuman tender/lelang, dibebankan pada Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah. Biaya yang berkenaan dengan persiapan dan pelaksanaan penyusunan
surat perjanjian, konsultan pelaksana/pengawas, dibebankan pada Pihak Ketiga. Selama jangka waktu
pengoperasian, mitra kerjasama pemanfaatan dilarang menjaminkan atau menggadaikan BMD yang
menjadi obyek kerjasama pemanfaatan. Jangka waktu kerjasama pemanfaatan paling lama 30 (tiga
puluh) tahun sejak perjanjian ditandatangani dan dapat diperpanjang.

Setelah berakhir jangka waktu kerjasama pemanfaatan, Kepala Daerah menetapkan status penggunaan/
pemanfaatan atas tanah dan/atau bangunan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan (pasal 39).

d. Bangun Guna Serah dan Bangun Serah Guna


1. Bangun Guna Serah.
Bangun Guna serah BMD dapat dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut:
Pemerintah Daerah memerlukan bangunan dan fasilitas bagi penyelenggaraan pemerintahan daerah
untuk kepentingan pelayanan umum dalam rangka penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi :
a. tanah milik pemerintah daerah yang telah diserahkan oleh pengguna kepada Kepala Daerah.
b. tidak tersedia dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah untuk penyediaan bangunan
dan fasilitas dimaksud.
Bangun Guna Serah BMD dilaksanakan oleh pengelola setelah mendapat persetujuan Kepala
Daerah. Penetapan mitra Bangun Guna Serah dilaksanakan melalui tender/lelang dengan
mengikutsertakan sekurang-kurangnya 5 (lima) peserta/peminat. Mitra Bangun Guna Serah yang
telah ditetapkan selama jangka waktu pengoperasian, harus memenuhi kewajiban sebagai berikut :
a. membayar kontribusi ke kas daerah setiap tahun yang besarannya ditetapkan berdasarkan
hasil perhitungan tim yang dibentuk oleh Kepala Daerah.
b. tidak menjaminkan, menggadaikan atau memindahtangankan objek Bangun Guna Serah.
c. memelihara objek Bangun Guna Serah.
Objek bangun guna serah yang tidak bisa dijaminkan, digadaikan atau dipindahtangankan, berupa
sertifikat hak pengelolaan milik Pemerintah Daerah. Objek bangun guna serah berupa tanah dan/
atau bangunan tidak boleh dijadikan jaminan dan/atau diagunkan. Hak guna bangunan di atas
hak pengelolaan milik pemerintah daerah, dapat dijadikan jaminan dan/atau diagunkan sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan. Jangka waktu bangun guna serah paling lama 30

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


47 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penggunaan Dan Pemanfaatan Barang Milik Daerah

(tiga puluh) tahun sejak perjanjian ditandatangani. Bangun guna serah dilaksanakan berdasarkan
surat perjanjian yang sekurang-kurangnya memuat :
a. pihak-pihak yang terikat dalam perjanjian.
b. objek bangun guna serah.
c. jangka waktu bangun guna serah.
d. hak dan kewajiban para pihak yang terikat dalam perjanjian.
e. persyaratan lain yang dianggap perlu.
Izin mendirikan bangunan bangun guna serah atas nama pemerintah daerah. Biaya pengkajian,
penelitian dan pengumuman tender/lelang, dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah. Biaya yang berkenaan dengan persiapan dan pelaksanaan penyusunan Surat Perjanjian,
konsultan pelaksana/pengawas, dibebankan pada pihak pemenang. Setelah jangka waktu
pendayagunaan berakhir, objek bangun guna serah terlebih dahulu diaudit oleh aparat pengawasan
fungsional pemerintah daerah sebelum penggunaannya ditetapkan oleh Kepala Daerah.

2. Bangun Serah Guna.


Bangun serah guna BMD dapat dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut :
a. pemerintah daerah memerlukan bangunan dan fasilitas bagi penyelenggaraan pemerintahan
daerah untuk kepentingan pelayanan umum dalam rangka penyelenggaraan tugas pokok
dan fungsi.
b. tanah milik pemerintah daerah yang telah diserahkan oleh pengguna kepada Kepala Daerah.
c. tidak tersedia dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah untuk penyediaan bangunan
dan fasilitas dimaksud.
Bangun serah guna BMD dilaksanakan oleh pengelola setelah mendapat persetujuan Kepala Daerah.
Penetapan mitra bangun serah guna dilaksanakan melalui tender/lelang dengan mengikutsertakan
sekurang-kurangnya 5 (lima) peserta/peminat. Mitra Bangun Serah Guna yang telah ditetapkan
selama jangka waktu pengoperasian, harus memenuhi kewajiban sebagai berikut :
a. membayar kontribusi ke kas daerah setiap tahun yang besarannya ditetapkan berdasarkan
hasil perhitungan tim yang dibentuk oleh Kepala Daerah.
b. tidak menjaminkan, menggadaikan atau memindahtangankan objek Bangun Serah Guna
memelihara objek Bangun Serah Guna.
Objek bangun serah guna yang tidak dijaminkan, digadaikan atau dipindahtangankan, berupa
sertifikat hak pengelolaan milik pemerintah daerah. Objek bangun serah guna berupa tanah
tidak boleh dijadikan jaminan hutang/diagunkan. Hak guna bangunan di atas hak pengelolaan
milik pemerintah daerah, dapat dijadikan jaminan utang/diagunkan dan dilaksanakan sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan. Jangka waktu bangun serah guna paling lama 30
(tiga puluh) tahun sejak perjanjian ditandatangani. Bangun serah guna dilaksanakan berdasarkan
surat perjanjian. Surat perjanjian bangun serah guna, sekurang-kurangnya memuat :
a. pihak-pihak yang terikat dalam perjanjian
b. objek bangun serah guna
c. jangka waktu bangun serah guna
d. hak dan kewajiban para pihak yang terikat dalam perjanjian
e. persyaratan lain yang dianggap perlu.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


48 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penggunaan Dan Pemanfaatan Barang Milik Daerah

Izin mendirikan bangunan bangun serah guna atas nama pemerintah daerah. Biaya pengkajian,
penelitian dan pengumuman lelang, dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah. Biaya yang berkenaan dengan persiapan dan pelaksanaan penyusunan surat perjanjian,
konsultan pelaksana/pengawas, dibebankan pada pihak pemenang. Bangun Serah Guna BMD
dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut :
a. mitra Bangun Serah Guna harus menyerahkan hasil Bangun Serah Guna kepada Kepala
Daerah setelah selesainya pembangunan
b. mitra Bangun Serah Guna dapat mendayagunakan BMD tersebut sesuai jangka waktu yang
ditetapkan dalam surat perjanjian.
c. setelah jangka waktu pendayagunaan berakhir, objek Bangun Serah Guna terlebih dahulu
diaudit oleh aparat pengawasan fungsional pemerintah daerah sebelum penggunaannya
ditetapkan oleh Kepala Daerah. Setelah berakhir jangka waktu kerjasama pemanfaatan, Kepala
Daerah menetapkan status penggunaan/pemanfaatan atas tanah dan/atau bangunan sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan.

5.3. Penatausahaan Penggunaan dan Pemanfaatan Barang Milik


Daerah
Penatausahaan penggunaan dan pemanfaatan BMD menjabarkan petunjuk teknis pengaturan status
penggunaan BMD baik untuk penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah
maupun dioperasikan oleh pihak lain dalam rangka menjalankan pelayanan umum sesuai tugas pokok
dan fungsi dan pengaturan pemanfaatan barang daerah melalui pinjam pakai, penyewaan, kerjasama
pemanfaatan, bangun guna serah dan bangun serah guna.

Petunjuk Teknis Penggunaan


1. Umum
Penggunaan merupakan penegasan pemakaian BMD yang ditetapkan oleh Kepala Daerah kepada
pengguna/kuasa pengguna barang sesuai tugas dan fungsi SKPD yang bersangkutan. Penetapan status
penggunaan BMD pada masing-masing SKPD dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. jumlah personil/pegawai pada SKPD.
b. standar kebutuhan tanah dan/atau bangunan dan selain tanah dan/atau bangunan untuk
menyelenggarakan tugas pokok dan fungsi SKPD.
c. beban tugas dan tanggungjawab SKPD.
d. jumlah, jenis dan luas, dirinci dengan lengkap termasuk nilainya.
Status penggunaan BMD pada masing-masing SKPD ditetapkan dalam rangka tertib pengelolaan BMD
dan kepastian hak, wewenang dan tanggungjawab kepala SKPD.

2. Tata cara penetapan status penggunaan


a. pengguna melaporkan BMD yang berada pada SKPD yang bersangkutan kepada pengelola
disertai usul penetapan status penggunaan.
b. pengelola melalui pembantu pengelola, meneliti laporan sebagaimana dimaksud pada huruf a.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


49 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penggunaan Dan Pemanfaatan Barang Milik Daerah

c. setelah dilakukan penelitian atas kebenaran usulan SKPD, pengelola mengajukan usul kepada
Kepala Daerah untuk ditetapkan status penggunaannya.
d. penetapan status penggunaan BMD untuk melaksanakan tugas dan fungsi SKPD dan/atau
dioperasikan oleh pihak lain dalam rangka menjalankan pelayanan umum sesuai tugas pokok
dan fungsi SKPD yang bersangkutan.
e. penetapan status penggunaan sebagaimana dimaksud pada huruf d, ditetapkan oleh Kepala
Daerah.
f. atas penetapan status penggunaan, masing-masing Kepala SKPD melalui penyimpan/pengurus
barang wajib melakukan penatausahaan barang daerah yang ada pada pengguna masing-
masing.
3. Penyerahan tanah dan/atau bangunan
a. pengguna barang wajib menyerahkan tanah dan bangunan yang tidak dipergunakan untuk
menyelenggarakan tugas dan fungsi SKPD kepada Kepala Daerah melalui pengelola.
b. Kepala Daerah menetapkan BMD berupa tanah dan/atau bangunan yang harus diserahkan oleh
pengguna karena sudah tidak dipergunakan untuk penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi
SKPD yang bersangkutan.
c. Pengguna yang tidak menyerahkan tanah dan/atau bangunan tersebut diatas dikenakan sanksi
berupa pembekuan dana pemeliharaan tanah dan/atau bangunan tersebut.
d. Format Daftar Barang yang Diterima Dari Pihak Ketiga, Surat Keputusan Kepala Daerah tentang
Penetapan Status Penggunaan BMD.

Petunjuk Teknis Pemanfaatan


1. Umum
BMD berupa tanah dan/atau bangunan dan selain tanah dan/atau bangunan yang telah diserahkan oleh
pengguna kepada pengelola dapat didayagunakan secara optimal sehingga tidak membebani Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah, khususnya biaya pemeliharaan dan kemungkinan adanya penyerobotan
dari pihak lain yang tidak bertanggung jawab. Pemanfaatan BMD yang optimal akan membuka lapangan
kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat dan menambah/meningkatkan pendapatan daerah.3

2. Pengertian pemanfaatan
Pemanfaatan merupakan pendayagunaan BMD yang tidak dipergunakan sesuai tugas pokok dan fungsi
SKPD dalam bentuk pinjam pakai, sewa, kerjasama pemanfaatan, bangun guna serah, bangun serah
guna dengan tidak merubah status kepemilikan. Pemanfaatan BMD berupa tanah dan/atau bangunan
dilaksanakan oleh pengelola setelah mendapat persetujuan Kepala Daerah, selain tanah dan/atau
bangunan dilaksanakan oleh pengguna setelah mendapat persetujuan pengelola.

A. Sewa atau Penyewaan


Penyewaan merupakan penyerahan hak penggunaan/ pemanfaatan kepada Pihak Ketiga, dalam
hubungan sewa menyewa tersebut harus memberikan imbalan berupa uang sewa bulanan atau
tahunan untuk jangka waktu tertentu, baik sekaligus maupun secara berkala. Penyewaan dapat
dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Penyewaan BMD hanya dapat dilakukan dengan pertimbangan untuk mengoptimalkan
daya guna dan hasil guna BMD.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


50 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penggunaan Dan Pemanfaatan Barang Milik Daerah

2. Untuk sementara waktu BMD tersebut belum dimanfaatkan oleh SKPD.


3. Barang Milik Daerah dapat disewakan kepada pihak lain/Pihak Ketiga;
4. Jenis-jenis BMD yang disewakan ditetapkan oleh Kepala Daerah.
5. Besaran sewa ditetapkan oleh Kepala Daerah berdasarkan hasil perhitungan Tim Penaksir.
6. Hasil penyewaan merupakan penerimaan daerah dan disetor ke kas daerah.
7. Dalam Surat Perjanjian sewa-menyewa harus ditetapkan :
a. jenis, jumlah, biaya dan jangka waktu penyewaan.
b. biaya operasi dan pemeliharaan selama penyewaan menjadi tanggung-jawab penyewa.
c. persyaratan lain yang dianggap perlu.
d. jenis BMD yang dapat disewakan, antara lain:
1. Mess/Wisma/Bioskop dan sejenisnya.
2. Gudang/Gedung.
3. Toko/Kios,
4. Tanah.
5. Kendaraan dan Alat-alat besar.
7. Prosedur penyewaan.
a. pengusulan penyewaan.
b. Kepala SKPD mengusulkan kepada Kepala Daerah melalui pengelola atas BMD yang akan
disewakan, dalam pengusulan tersebut dilengkapi data barang dan apabila dipandang
perlu dapat dibentuk Panitia Penyewaan.
9. Kewenangan penyewaan.
Penyewaan tanah dan/atau bangunan milik Pemerintah Daerah dilaksanakan oleh pengelola
setelah mendapat persetujuan Kepala Daerah dan penyewaan sebagian tanah dan/atau
bangunan yang masih digunakan oleh pengguna serta selain tanah dan/atau bangunan
dilaksanakan oleh pengguna setelah mendapat persetujuan pengelola.
10. Batasan penyewaan.
Dalam Keputusan tentang penyewaan BMD harus memuat secara tegas antara lain:
data mengenai BMD yang akan disewakan.
ketentuan pelaksanaan diatur lebih lanjut dalam Surat Perjanjian Sewa Menyewa.
Surat Perjanjian Sewa Menyewa memuat antara lain:
1. data BMD yang disewakan.
2. hak dan kewajiban dari pada kedua belah pihak.
3. jumlah/besarnya uang sewa yang harus dibayar oleh Pihak Ketiga.
4. jangka waktu sewa-menyewa.
5. sanksi.
6. ketentuan lain yang dipandang perlu terutama mengenai batasan-batasan penggunaan
BMD yang disewakan kepada Pihak Penyewa.
7. surat Perjanjian Sewa Menyewa tersebut ditandatangani oleh pengelola atas nama Kepala
Daerah dengan Pihak Penyewa.
8. hasil penyewaan BMD disetorkan ke kas daerah.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


51 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penggunaan Dan Pemanfaatan Barang Milik Daerah

9. segala biaya yang diperlukan dalam rangka persiapan pelaksanaan penyewaan BMD
ditanggung oleh Pihak Penyewa.
11. Jangka waktu penyewaan maksimal 5 (lima) tahun dan dapat dipertimbangkan untuk
diperpanjang.
12. Selain penyewaan terhadap pemanfaatan BMD dapat dikenakan retribusi yang ditetapkan
dengan Peraturan Daerah.

B. Pinjam Pakai
Pinjam pakai merupakan penyerahan penggunaan BMD kepada instansi pemerintah, antar
pemerintah daerah, yang ditetapkan dengan Surat Perjanjian untuk jangka waktu tertentu, tanpa
menerima imbalan dan setelah jangka waktu tersebut berakhir, BMD tersebut diserahkan kembali
kepada Pemerintah Daerah.
Pinjam pakai selain hal tersebut di atas, dapat diberikan kepada alat kelengkapan Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah dalam rangka menunjang penyelenggaraan pemerintahan daerah.
1. Syarat-syarat pinjam pakai Barang Milik Daerah adalah :
a. Barang Milik Daerah tersebut sementara waktu belum dimanfaatkan oleh SKPD;
b. Barang Milik Daerah yang dipinjampakaikan tersebut hanya boleh digunakan oleh
peminjam sesuai dengan peruntukkannya;
c. pinjam pakai tersebut tidak mengganggu kelancaran tugas pokok instansi atau SKPD;
d. Barang Milik Daerah yang dipinjampakaikan harus merupakan barang yang tidak habis pakai;
e. peminjam wajib memelihara dan menanggung biaya-biaya yang diperlukan selama
peminjaman;
f. peminjam bertanggung jawab atas keutuhan dan keselamatan barang;
g. jangka waktu pinjam pakai maksimal selama 2 (dua) tahun dan apabila diperlukan dapat
diperpanjang kembali;
h. pengembalian Barang Milik Daerah yang dipinjampakaikan harus dalam keadaan baik dan
lengkap;
2. Pinjam pakai BMD hanya dapat dilaksanakan antar Pemerintah.
3. Pinjam pakai BMD ditetapkan dengan Surat Perjanjian dan penyerahannya dituangkan dalam
Berita Acara.
4. Surat Perjanjian Pinjam Pakai dilaksanakan oleh pengelola setelah mendapat persetujuan
Kepala Daerah.
5. Pinjam pakai dilaksanakan berdasarkan Surat Perjanjian dengan sekurang-kurangnya memuat:
a. pihak-pihak yang terikat dengan perjanjian
b. jenis, luas dan jumlah barang yang dipinjamkan
c. jangka waktu pinjam pakai
d. tanggungjawab peminjam atas biaya operasional dan pemeliharaan selama jangka waktu
peminjaman
e. persyaratan lain yang dianggap perlu

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


52 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penggunaan Dan Pemanfaatan Barang Milik Daerah

C. Kerjasama pemanfaatan
Kerjasama pemanfaatan terhadap BMD dengan pihak lain dalam rangka optimalisasi dayaguna
dan hasil guna BMD dan dalam rangka menambah/meningkatkan penerimaan daerah.
Pengaturan kerjasama daerah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 50 tahun 2007
dan juga Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 22 tahun 2009 tentang Petunjuk Teknis
Kerjasama Daerah. Kerjasama pemanfaatan BMD berupa tanah dan/atau bangunan yang telah
diserahkan oleh pengguna kepada Kepala Daerah dan sebagian tanah dan/atau bangunan
yang masih digunakan oleh pengguna dan barang daerah selain tanah dan/atau bangunan.
Kewenangan penetapan kerjasama pemanfaatan BMD berupa tanah dan/atau bangunan yang
telah diserahkan pengguna, dilaksanakan oleh Pengelola setelah mendapat persetujuan Kepala
Daerah. Kewenangan penetapan kerjasama pemanfaatan sebagian tanah dan/atau bangunan
yang masih dipergunakan oleh pengguna selain tanah dan/atau bangunan dilaksanakan oleh
Pengguna setelah mendapat persetujuan Pengelola.

Penetapan dan kewajiban mitra kerjasama.


1. mitra kerjasama pemanfaatan BMD ditetapkan melalui tender/lelang dengan sekurang kurangnya
5 peserta/peminat, apabila setelah 2 kali berturut-turut diumumkan, peminatnya kurang dari 5,
dapat dilakukan proses pemilihan langsung atau penunjukan langsung melalui negosiasi baik teknis
maupun harga.
2. pengecualian sebagaimana pada angka 1), dapat dilakukan penunjukan langsung terhadap kegiatan yang
bersifat khusus seperti penggunaan tanah milik Pemerintah Daerah untuk keperluan kebun binatang
(pengembang biakan/pelestarian satwa langka), pelabuhan laut, pelabuhan udara, pengelolaan limbah,
pendidikan dan sarana olah raga dan dilakukan negosiasi baik teknis maupun harga.
3. mitra kerjasama pemanfaatan harus membayar kontribusi tetap ke rekening kas daerah setiap
tahun selama jangka waktu pengoperasian yang telah ditetapkan dan pembagian keuntungan hasil
kerjasama pemanfaatan.
4. besaran kontribusi tetap dan pembagian keuntungan hasil kerjasama pemanfaatan ditetapkan
berdasarkan hasil perhitungan Tim yang dibentuk dengan Keputusan Kepala daerah dengan
memperhatikan antara lain :
a. Nilai tanah dan/atau bangunan sebagai obyek kerjasama ditetapkan sesuai NJOP dan/atau harga
pasaran umum, apabila dalam satu lokasi terdapat nilai NJOP dan/atau pasaran umum yang
berbeda dilakukan penjumlahan dan dibagi sesuai jumlah yang ada.
b. Kegiatan kerjasama pemanfaatan untuk kepentingan umum dan/atau kegiatan perdagangan.
c. Besaran investasi dari mitra kerja.
d. Penyerapan tenaga kerja dan peningkatan PAD.
5. waktu pemanfaatan paling lama 30 (tiga puluh) tahun sejak perjanjian ditandatangani dan dapat
diperpanjang.
6. mitra kerjasama pemanfaatan dilarang menjaminkan obyek kerjasama pemanfaatan yaitu tanah dan/
atau bangunan.
7. biaya pengkajian, penelitian, penaksir dan pengumuman lelang, dibebankan pada Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah.
8. Biaya yang berkenaan dengan persiapan dan pelaksanaan penyusunan surat perjanjian, konsultan
pelaksana/pengawas, tidak dapat dibebankan pada Pihak Ketiga.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


53 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penggunaan Dan Pemanfaatan Barang Milik Daerah

Prosedur/tatacara kerjasama pemanfaatan.


Permohonan kerjasama pemanfaatan ditujukan kepada Panitia Tender/lelang dan dilengkapi data-data
sebagai berikut :
1. akte pendirian.
2. memiliki SIUP sesuai bidangnya.
3. telah melakukan kegiatan usaha sesuai bidangnya.
4. mengajukan proposal.
5. memiliki keahlian dibidangnya.
6. memiliki modal kerja yang cukup.
7. data teknis :
Tanah : Lokasi/alamat, luas, status,penggunaan saat ini.
Bangunan : Lokasi/alamat, luas,status/IMB, kondisi.
Rencana penambahan bangunan gedung dan fasilitas lainnya dengan memperhatikan :
a. KDB (Koefisien Dasar Bangunan).
b. KLB (Koefisien Luas Bangunan).

Tugas Panitia.
1. menerima dan meneliti secara administratif permohonan yang diajukan oleh pemohon.
2. meneliti dan membahas proposal/surat permohonan yang diajukan pemohon yang berkaitan
dengan jenis usaha, masa pengelolaan, besarnya kontribusi dan hal-hal lain yang dianggap perlu
sesuai bentuk pemanfaatannya bersama-sama dengan pihak pemohon.
3. melakukan penelitian lapangan.
4. membuat Berita Acara hasil penelitian.
5. memberikan dan menyampaikan saran pertimbangan kepada Kepala Daerah.
6. menyiapkan surat jawaban penolakan atau persetujuan pemanfaatan dari Kepala Daerah tentang
persetujuan pemanfaatan.
7. menyiapkan Keputusan Kepala Daerah tentang persetujuan pemanfaatan.
8. menyiapkan Surat Perjanjian, Berita Acara Serah Terima.
Pelaksanaan kerjasama pemanfaatan atas BMD ditetapkan dalam Surat Perjanjian yang memuat
antara lain :
a. pihak-pihak yang terikat dalam perjanjian.
b. obyek kerjasama pemanfaatan.
c. jangka waktu kerjasama pemanfaatan;
d.. pokok- pokok mengenai kerjasama pemanfaatan.
e. data BMD yang menjadi objek kerjasama pemanfaatan.
f. hak dan kewajiban para pihak yang terikat dalam perjanjian.
g. besarnya kontribusi tetap dan pembagian hasil keuntungan ditetapkan dengan keputusan Kepala
Daerah dan dicantumkan dalam Surat Perjanjian Kerjasama Pemanfaatan.
h. Sanksi.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


54 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penggunaan Dan Pemanfaatan Barang Milik Daerah

i. Surat Perjanjian ditandatangani oleh pengelola atas nama Kepala Daerah dan mitra kerjasama.
j. Persyaratan lain yang dianggap perlu.

D. Bangun Guna Serah


Bangun Guna Serah yang selanjutnya diangkat BGS adalah pemanfaatan tanah dan/atau bangunan
milik Pemerintah Daerah oleh Pihak Ketiga membangun bangunan siap pakai dan/atau menyediakan,
menambah sarana lain berikut fasilitas diatas tanah tanah dan/atau bangunan tersebut dan
mendayagunakannya selama kurun waktu tertentu untuk kemudian setelah jangka waktu berakhir
menyerahkan kembali tanah dan bangunan dan/atau sarana lain berikut fasilitasnya tersebut kepada
Pemerintah Daerah. Penetapan mitra kerjasama Bangun Guna Serah dilaksanakan melalui tender/lelang
dengan mengikut sertakan sekurang-kurangnya 5 peserta/ peminat, apabila diumumkan 2 kali berturut-
turut peminatnya kurang dari 5, dapat dilakukan proses pemilihan langsung atau penunjukan langsung
melalui negosiasi baik tekhnis maupun harga.
Dasar pertimbangan bangun guna serah atas BMD yaitu :
1. Barang Milik Daerah belum dimanfaatkan.
2. mengoptimalisasikan BMD.
3. dalam rangka efisiensi dan efektifitas.
4. menambah/ meningkatkan Pendapatan Daerah.
5. menunjang program pembangunan dan kemasyarakatan Pemerintah Daerah.

Persyaratan pelaksanaan Bangun Guna Serah :


1. Gedung yang dibangun berikut fasilitas harus sesuai dengan kebutuhan Pemerintah Daerah sesuai
dengan tugas dan fungsi.
2. Pemerintah Daerah memiliki tanah yang belum dimanfaatkan
3. Dana untuk pembangunan berikut penyelesaian fasilitasnya tidak membebani APBD.
4. Bangunan hasil guna serah harus dapat dimanfaatkan secara langsung oleh Pihak Ketiga.
5. Mitra bangun guna serah harus mempunyai kemampuan dan keahlian.
6. Obyek Bangun Guna Serah berupa sertifikat tanah hak pengelolaan (HPL) milik Pemerintah Daerah
tidak boleh dijaminkan, digadaikan dan pemindahtanganan.
7. Pihak Ketiga akan memperoleh Hak Guna Bangunan diatas HPL milik Pemerintah Daerah.
8. Hak Guna Bangunan diatas HPL milik Pemerintah Daerah dapat dijadikan jaminan, diagunkan
dengan dibebani hak tanggungan dan hak tanggungan dimaksud akan hapus dengan habisnya
hak guna bangunan.
9. izin mendirikan bangunan atas nama Pemerintah Daerah.
10. obyek pemeliharaan meliputi tanah beserta bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya.
11. mitra kerja bangun guna serah membayar kontribusi ke kas Daerah setiap tahun selama jangka
waktu pengoperasian.
12. Besaran kontribusi ditetapkan berdasarkan hasil perhitungan Tim yang dibentuk dengan Keputusan
Kepala Daerah dengan memperhatikan antara lain :
a. Nilai aset berupa tanah milik pemerintah daerah sebagai obyek bangun guna serah ditetapkan
sesuai NJOP dan harga pasaran umum setempat dibagi dua, dan apabila dalam satu lokasi
terdapat nilai NJOP dan harga pasaran umum setempat yang berbeda, dilakukan penjumlahan

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


55 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penggunaan Dan Pemanfaatan Barang Milik Daerah

dan dibagi sesuai jumlah yang ada.


b. Apabila pemanfaatan tanah tidak merubah status penggunaan pemanfaatan (fungsi), dimana
pola bangun guna serah dilakukan pembangunannya dibawah permukaan tanah, maka nilai
tanahnya diperhitungkan separuh (50 %) dari nilai sebagaimana dimaksud huruf a).
c. Peruntukan bangun guna serah untuk kepentingan umum dan atau kepentingan perekonomian/
perdagangan.
d. Besaran nilai investasi yang diperlukan/disediakan pihak ketiga.
e. Dampak terhadap penyerapan tenaga kerja dan peningkatan PAD.
13. selama masa pengoperasian, tanah dan/atau bangunan tetap milik Pemerintah Daerah.
14. penggunaan tanah yang dibangun harus sesuai dengan Rencana Umum Tata Ruang Wilayah /Kota
(RUTRWK).
15. jangka waktu pengguna-usahaan paling lama 30 (tiga puluh) tahun sejak dimulai masa
pengoperasian.
16. biaya penelitian, pengkajian, penaksir dan pengumuman lelang, dibebankan pada Anggaran
Pendapatan dan BelanjaDaerah.
17. pelaksanaan penelitian, pengkajian dilaksanakan oleh tim yang ditetapkan dengan SK Kepala
Daerah dan dapat bekerjasama dengan Pihak Ketiga.
18. biaya yang berkenaan dengan persiapan dan pelaksanaan penyusunan surat perjanjian, konsultan
pelaksana/pengawas, dibebankan pada Pihak Ketiga.

Prosedur/tatacara bangun guna serah.


1. Permohonan penggunausahaan ditujukan kepada Panitia tender/lelang dengan dilengkapi data-
data sebagai berikut :
a. akte pendirian.
b. memiliki SIUP sesuai bidangnya.
c. telah melakukan kegiatan usaha sesuai bidangnya.
d. mengajukan proposal.
e. memiliki keahlian dibidangnya.
f. memiliki modal kerja yang cukup.
g. Data teknis :
Tanah : Lokasi/alamat, luas, status, penggunaan saat ini.
Bangunan : Lokasi/alamat, luas,status kepemilikan.
Rencana Pembangunan gedung dengan memperhatikan:
1. KDB (Koefisien Dasar Bangunan)
2. KLB (Koefisien Luas Bangunan).
3. Rencana Pembangunan dlsb.

Tugas Panitia.
1. menerima dan meneliti secara administratif permohonan yang diajukan oleh pemohon.
2. meneliti dan membahas proposal/surat permohonan yang diajukan pemohon yang berkaitan
dengan jenis usaha, masa pengelolaan, besarnya kontribusi dan hal-hal lain yang dianggap perlu
sesuai bentuk pemanfaatannya bersama sama dengan pihak pemohon.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


56 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penggunaan Dan Pemanfaatan Barang Milik Daerah

3. melakukan penelitian lapangan.


4. membuat Berita Acara hasil penelitian.
5. memberikan dan menyampaikan saran pertimbangan kepada Kepala Daerah.
6. menyiapkan surat jawaban penolakan atau persetujuan pemanfaatan dari Kepala Daerah tentang
persetujuan pemanfaatan.
7. menyiapkan Keputusan Kepala Daerah tentang persetujuan pemanfaatan.
8. menyiapkan Surat Perjanjian, Berita Acara Serah Terima.

Pelaksananan.
Pelaksanaan bangun guna serah atas BMD ditetapkan dalam Surat Perjanjian yang memuat antara lain :
1. pihak-pihak yang terikat dalam perjanjian
2. obyek Bangun Guna Serah
3. jangka waktu Bangun Guna Serah
4. pokok- pokok mengenai bangun guna serah
5. data BMD yang menjadi objek bangun guna serah
6. hak dan kewajiban para pihak yang terikat dalam perjanjian jumlah/besarnya kontribusi yang harus
dibayar oleh Pihak Ketiga
7. sanksi
8. surat Perjanjian ditandatangani oleh pengelola atas nama Kepala Daerah dan mitra kerjasama
9. persyaratan lain yang dianggap perlu.

Penyerahan Kembali.
Penyerahan kembali bangunan/gedung beserta fasilitas kepada Pemerintah Daerah yang bersangkutan
dilaksanakan setelah masa pengoperasian yang dijanjikan berakhir yang dituangkan dalam bentuk Berita
Acara.

E. Bangun Serah Guna

Bangun Serah Guna yang selanjutnya disingkat BSG adalah pemanfaatan tanah dan/atau bangunan milik
Pemerintah Daerah oleh Pihak Ketiga dengan cara Pihak Ketiga membangun bangunan siap pakai dan/
atau menyediakan/ menambah sarana lain berikut fasilitas diatas tanah dan/atau bangunan tersebut dan
setelah selesai pembangunannya diserahkan kepada Daerah untuk kemudian oleh Pemerintah Daerah
tanah dan bangunan siap pakai dan/atau sarana lain berikut fasilitasnya tersebut diserahkan kembali
kepada pihak lain untuk didayagunakan selam kurun waktu tertentu. Penetapan untuk Bangun Serah
Guna dilaksanakan melalui tender yang mengikut sertakan sekurang-kurangnya 5 peserta/peminat,
apabila diumumkan 2 kali berturut-turut peminatnya kurang dari 5, dapat dilakukan proses pemilihan
langsung atau penunjukkan langsung melalui negosiasi baik tekhnis maupun harga. Dasar pertimbangan
bangun serah guna atas BMD yaitu :
1. Barang Milik Daerah belum dimanfaatkan.
2. Mengoptimalisasikan BMD.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


57 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penggunaan Dan Pemanfaatan Barang Milik Daerah

3. Dalam rangka efisiensi dan efektifitas.


4. Menambah/meningkatkan Pendapatan Daerah.
5. Menunjang program pembangunan dan kemasyarakatan Pemerintah Daerah.

Persyaratan pelaksanaan Bangun Serah Guna :


1. Gedung yang dibangun berikut fasilitasnya harus sesuai dengan kebutuhan Pemerintah Daerah
sesuai dengan tugas dan fungsi.
2. Pemerintah Daerah memiliki tanah yang belum dimanfaatkan.
3. Dana untuk pembangunan berikut penyelesaian fasilitasnya tidak membebani APBD.
4. Bangunan hasil bangun serah guna harus dapat dimanfaatkan secara langsung oleh Pemerintah
Daerah sesuai bidang tugas baik dalam masa pengoperasian maupun saat penyerahan kembali.
5. Mitra bangun serah guna harus mempunyai kemampuan keuangan dan keahlian.
6. Obyek Bangun Serah Guna berupa sertifikat tanah hak pengelolaan (HPL) milik Pemerintah Daerah
tidak boleh dijaminkan, digadaikan dan dipindahtangankan.
7. Pihak Ketiga akan memperoleh Hak Guna Bangunan diatas HPL milik Pemerintah Daerah.
8. Hak Guna Bangunan diatas HPL milik Pemerintah Daerah dapat dijadikan jaminan, diagunkan
dengan dibebani hak tanggungan dan hak tanggungan dimaksud akan hapus dengan habisnya
hak guna bangunan.
9. Izin mendirikan bangunan atas nama Pemerintah Daerah.
10. Obyek pemeliharaan meliputi tanah beserta bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya.
11. Mitra kerja bangun serah guna membayar kontribusi ke kas Daerah setiap tahun selama jangka
waktu pengoperasian.
12. Besaran kontribusi ditetapkan berdasarkan hasil perhitungan Tim yang dibentuk dengan Keputusan
Kepala Daerah dengan memperhatikan:
a. Nilai tanah dan/atau bangunan sebagai obyek kerjasama ditetapkan sesuai NJOP dan/atau harga
pasaran umum, apabila dalam satu lokasi terdapat nilai NJOP dan/atau pasaran umum yang
berbeda dilakukan penjumlahan dan dibagi sesuai jumlah yang ada.
b. Kegiatan kerjasama pemanfaatan untuk kepentingan umum dan/atau kegiatan perdagangan.
c. Besaran investasi dari mitra kerja.
d. Penyerapan tenaga kerja dan peningkatan PAD.
13. Selama masa pengoperasian, tanah dan/atau bangunan tetap milik Pemerintah Daerah.
14. Penggunaan tanah yang dibangun harus sesuai dengan Rencana Umum Tata Ruang Wilayah /Kota
(RUTRWK).
15. Jangka waktu pengguna-usahaan paling lama 30 (tiga puluh) tahun sejak dimulai masa
pengoperasian.
16. Biaya penelitian, pengkajian, penaksir dan pengumuman lelang, dibebankan pada Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah.
17. Pelaksanaan penelitian, pengkajian dilaksanakan oleh tim yang ditetapkan dengan SK Kepala
Daerah dan dapat bekerjasama dengan Pihak Ketiga.
18. Biaya yang berkenaan dengan persiapan dan pelaksanaan penyusunan surat perjanjian, konsultan
pelaksana/pengawas, dibebankan pada Pihak Ketiga.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


58 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penggunaan Dan Pemanfaatan Barang Milik Daerah

Prosedur/tatacara bangun serah guna.


Permohonan penggunausahaan ditujukan kepada Panitia lelang yang ditetapkan dengan Surat
Keputusan Kepala Daerah dengan dilengkapi data-data sebagai berikut :
1. akte pendirian.
2. memiliki SIUP sesuai bidangnya.
3. telah melakukan kegiatan usaha sesuai bidangnya.
4. mengajukan proposal.
5. memiliki keahlian dibidangnya
6. memiliki modal kerja yang cukup.
7. data teknis :
Tanah : Lokasi/alamat, luas, status, penggunaan saat ini.
Bangunan : Lokasi/alamat, luas,status/IMB, kondisi.
Rencana Pembangunan gedung dengan memperhatikan:
a. KDB (Koefisien Dasar Bangunan)
b. KLB (Koefisien Luas Bangunan).
c. Rencana Pembangunan.

Tugas Panitia.
1. menerima dan meneliti secara administratif permohonan yang diajukan oleh pemohon.
2. meneliti dan membahas proposal/surat permohonan yang diajukan pemohon yang berkaitan
dengan jenis usaha, masa pengelolaan, besarnya kontribusi atau uang sewa setoran dan hal-hal lain
yang dianggap perlu sesuai bentuk pemanfaatannya bersama-sama dengan pihak pemohon.
3. melakukan penelitian lapangan.
4. membuat Berita Acara hasil penelitian.
5. memberikan dan menyampaikan saran pertimbangan kepada Kepala Daerah.
6. menyiapkan surat jawaban penolakan atau persetujuan pemanfaatan dari Kepala Daerah tentang
persetujuan pemanfaatan.
7. menyiapkan Keputusan Kepala Daerah tentang persetujuan pemanfaatan;
8. menyiapkan Surat Perjanjian, Berita Acara Serah Terima.
9. Pelaksanaan bangun serah guna atas BMD ditetapkan dalam Surat Perjanjian yang memuat antara lain:
a. pihak-pihak yang terikat dalam perjanjian
b. obyek Bangun Serah Guna
c. jangka waktu Bangun Serah Guna
d. pokok- pokok mengenai bangun serah guna
e. data BMD yang menjadi objek bangun serah guna
f. hak dan kewajiban para pihak yang terikat dalam perjanjian
g. jumlah/besarnya kontribusi atau uang sewa yang harus dibayar oleh Pihak Ketiga
h. sanksi
10. Surat Perjanjian ditandatangani oleh pengelola atas nama Kepala Daerah dan mira kerjasama
11. Persyaratan lain yang dianggap perlu.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


59 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penggunaan Dan Pemanfaatan Barang Milik Daerah

Penyerahan kembali.

Penyerahan kembali bangunan/gedung beserta fasilitas kepada Pemerintah Daerah yang bersangkutan
dilaksanakan setelah masa pengoperasian yang dijanjikan berakhir yang dituangkan dalam bentuk Berita
Acara.

5.4. Rangkuman
Penggunaan adalah kegiatan yang dilakukan oleh pengguna/kuasa pengguna dalam mengelola dan
menata usaha kan BMD sesuai dengan tugas pokok dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)
yang bersangkutan.

Pemanfaatan merupakan pendayagunaan BMD yang tidak dipergunakan sesuai tugas pokok dan fungsi
SKPD dalam bentuk pinjam pakai, sewa, kerjasama pemanfaatan, bangun guna serah, bangun serah guna
dengan tidak merubah status kepemilikan.

Pemanfaatan BMD berupa tanah dan/atau bangunan dilaksanakan oleh pengelola setelah mendapat
persetujuan Kepala Daerah, selain tanah dan/atau bangunan dilaksanakan oleh pengguna setelah
mendapat persetujuan pengelola.

Latihan
1. Jelaskan perbedaan penggunaan dan pemanfaatan BMD.
2. Jelaskan perbedaan Bangun Guna Serah dengan Bangun Serah Guna.
3. Dalam kelompok, identifikasi BMD di daerah anda yang dapat dilakukan pinjam pakai, sewa,
kerjasama pemanfaatan, bangun guna serah, dan bangun serah guna. Pilih satu satu bentuk
pemanfaatan di kelompok anda, kemudian buat pemetaan (mapping) apa saja yang harus
disiapkan meliputi perencanaan, pengorganisasian, dan penatausahaan.
Gambar 5.1 Dampak Pengelolaan Aset di Kota Tua Puket (Thailand)

Sumber; http://muslimtravelergirl.blogspot.com dan http://katalogwisata.com

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


60 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
TOPIK 6

PENGAWASAN,
PENGENDALIAN, DAN
PENGAMANAN BARANG
MILIK DAERAH
Pengawasan, Pengendalian, Dan Pengamanan Barang Milik Daerah

Deskripsi:
Topik ini menjelaskan tentang pengawasan, pengendalian dan pengamanan Barang Milik
Daerah (BMD)

Sub Topik Kata Kunci


Peserta mampu
menjelaskan tentang
pengawasan,
pengamanan dan Pengawasan, Pengendalian
pengendalian Barang
Milik Daerah

Peserta mampu
menjelaskan tentang
pengamanan Barang Milik Pengamanan Barang Milik Daerah
Daerah

Referensi:
Anonim, 2007. Modul 2; Penyusunan Rencana Pengadaan dan Pemeliharaan Aset/Barang Milik
Daerah, Lembaga Administrasi Negara dan Departemen Dalam Negeri.
Endarto, Yudowinarso, Teori Dasar Penilaian, STAN, 2012
Kemenkeu. 2010. Modul Pokok-Pokok Pengelolaan Barang Milik Daerah.
Murtaji, Penilaian Properti, STAN, 2010
Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah
Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah.
Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah;
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah
Peraturan Presiden Nomor 50 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Kerjsama Daerah
Peraturan Presiden (Perpres) No. 70 Tahun 2012, Perubahan Kedua atas Peraturan Presiden No. 54
Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.
Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2007 Tentang Perubahan Ketujuh Atas Keputusan Pesiden
Nomor 80 Tahun 2003 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2007 Tentang Perubahan Ketujuh Atas Keputusan Pesiden
Nomor 80 Tahun 2003 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Permendagri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah;
Permendagri Nomor 22 Tahun 2009 tentang Petunjuk Teknis Tata Cara Kerjasama Daerah.
Sumini, Penatausahaan Barang Milik Daerah, STAN, 2010
Sutaryo, Manajemen Aset Daerah,
http:sutaryofe.staff.uns.ac.id/files/2011/10/manajemen-aset-daerah.pdf (25 Juni 2013)
Tanda Setiya dan Rahmat Guntoro, Penilaian Barang Milik Daerah, Pusdiklat KNPK, BPPK, 2010
Undang-Undang Nomor.1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;
Undang-Undang Nomor.17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara,

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


62 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Pengawasan, Pengendalian, Dan Pengamanan Barang Milik Daerah

6.1. Penyusunan Prosedur Pengawasan dan Pengendalian BMD


6.1.1. Konsep Pengawasan dan Pengendalian BM
Barang milik daerah merupakan salah satu unsur penting dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan
dan pelayanan kepada masyarakat. Oleh karena pengelolaan BMD merupakan bagian dari pengelolaan
keuangan daerah, maka pengelolaan BMD yang baik mencerminkan pengelolaan keuangan daerah
yang baik. Pengelolaan BMD sebagai aset daerah yang strategis perlu dilakukan dengan baik dan benar
untuk memperoleh manfaat optimal dalam mendukung penyelenggaraan pemerintahan (tupoksi) dan
pelayanan kepada masyarakat.

Pengawasan dan pengendalian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari siklus pengelolaan BMD
mulai dari perencanaan kebutuhan BMD sampai dengan pelaporan yang dilakukan secara periodik.
Pengawasan dan pengendalian, dalam pemanfaatan dan pengalihan aset merupakan suatu permasalahan
yang sering terjadi pada pemerintah daerah saat ini. Mardiasmo (2004) menegaskan bahwa pengawasan
yang ketat perlu dilakukan sejak tahap perencanaan hingga penghapusan aset. Hal itu sangat penting
untuk memastikan bahwa seluruh mekanisme dan prosedur pengelolaan BMD telah dilakukan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.

Kepala Daerah adalah pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah dan mewakili pemerintah
daerah dalam kepemilikan kekayaan daerah yang dipisahkan. Oleh karena itu, kepala daerah berwenang
dan bertanggung jawab atas pembinaan dan pelaksanaan pengelolaan serta tertib administrasi BMD.
Kepala Daerah sebagai pemegang kekuasaan pengelolaan BMD memiliki kewenangan untuk melakukan
pengawasan dan pengendalian atas pengelolaan BMD.

6.1.2. Tujuan dan Ruang Lingkup Pengawasan dan Pengendalian


Tujuan utama pengawasan dan pengendalian adalah untuk menjamin kelancaran penyelenggaraan
pengelolaan BMD secara berdayaguna dan berhasilguna. Untuk mencapai tujuan itu maka fungsi
pembinaan, pengawasan dan pengendalian sangat penting untuk menjamin tertib administrasi
pengelolaan BMD.

Pengertian dan ruang lingkup kegiatan pengawasan dan pengendalian BMD sebagaimana diatur dalam
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan BMD adalah :
1. Pengawasan.
Usaha atau kegiatan untuk mengetahui dan menilai kenyataan yang sebenarnya mengenai
pelaksanaan tugas dan/atau kegiatan, apakah dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan.
Lingkup pengawasan BMD menekankan pada prinsip kesesuian dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
2. Pengendalian.
Usaha atau kegiatan untuk menjamin dan mengarahkan agar pekerjaan yang dilaksanakan berjalan
sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
Siklus pengelolaan BMD merupakan rangkaian kegiatan dan/atau tindakan yang dimulai dari perencanaan
kebutuhan dan penganggaran. Pengendalian BMD diperlukan untuk memastikan bahwa pengadaan dan
penggunaan BMD berjalan sesuai dengan perencanaan kebutuhannya.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


63 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Pengawasan, Pengendalian, Dan Pengamanan Barang Milik Daerah

6.1.3. Prosedur Pengawasan dan Pengendalian BMD.


Kepala SKPD sebagai pengguna barang bertugas dan bertanggungjawab atas perencanaan kebutuhan,
pengadaan, penyimpanan, penggunaan, penatausahaan, pemeliharaan/perbaikan, pengamanan dan
pengawasan barang dalam lingkungan wewenangnya. Setelah rencana kebutuhan BMD dan rencana
kebutuhan pemeliharaan/ perawatan BMD yang diajukan oleh SKPD disetujui olek Sekda sebagai
pengelola BMD maka koordinasi penyelenggaraan pengelolaan BMD yang ada pada masing-masing
SKPD menjadi tanggung jawab kepala SKPD yang dalam pelaksanaannya dibantu oleh pembantu
pengelola (Kepala Biro/Bagian Perlengkapan/Umum/Unit pengelola BMD). Prosedur pengawasan dan
pengendalian BMD dilakukan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :
a. Pengecekan status penggunaan BMD.
Pemeriksaan status penggunaan BMD untuk memastikan bahwa penggunaan BMD sesuai dengan
tupoksi dan efisien. Dalam PP 6 tahun 2006 dan Permendagri 17 tahun 2007 disebutkan Untuk
semua BMD ditetapkan status penggunaannya untuk penyelenggaraan tupoksi SKPD dan dapat
dioperasikan oleh pihak lain dalam rangka mendukung pelayanan umum sesuai tugas pokok dan
fungsi SKPD yang bersangkutan. Untuk BMD yang digunakan untuk menyelenggarakan TUPOKSI,
barang tersebut terdapat dalam Daftar Barang Pengguna (DBP).
b. Pengecekan Inventaris Barang.
Pengecekan inventaris barang secara fisik oleh SKPD minimal dilakukan sekali dalam 6 bulan.
Untuk barang bergerak pengecekan dapat dilakukan dengan memeriksa kartu barang gudang.
Pengecekan inventaris barang bertujuan untuk :
- memberikan keyakinan fisik atas barang yang terdapat dalam dokumen invetaris;
- mengetahui kondisi terkini barang, apakah barang tersebut baik, rusak ringan atau rusak berat;
- tercapainya tertib administrasi, sehingga untuk barang yang sudah rusak berat dapat
diusulkan untuk dilakukan penghapusan, pertanggungjawaban atas barang-barang yang tidak
diketemukan/ hilang, dan juga pencatatan barang-barang yang belum dicatat dalam dokumen
inventaris;
- pendataan atas masalah yang muncul terkait dengan BMD, seperti sengketa tanah, kepemilikan
yang tidak jelas, inventaris yang dikuasai pihak ketiga;
Untuk setiap BMD yang tergolong sebagai aset tetap, dicatat dalam Kartu Inventaris Barang (KIB).
KIB terdiri dari :
1. KIB-A: Tanah,
2. KIB-B: Mesin dan Peralatan
3. KIB-C: Gedung dan Bangunan
4. KIB-D: Jalan, Irigasi dan Jaringan
5. KIB-E: Aset Tetap Lainnya
6. KIB-F: Konstruksi dalam Pengerjaan
c. Evaluasi Penggunaan dan Pemanfaatan BMD.
Berdasarkan hasil pengecekan dan pemeriksaaan pada langkah 1 dan 2 selanjutnya perlu
dilakukan evaluasi penggunaan dan pemanfaatan BMD. Evaluasi penggunaan BMD meliputi
kebenaran penggunaan, penanggung jawab, dan kondisi barang sesuai dengan TUPOKSI. Sedang
pemanfaatan berkaitan dengan tanah dan bangunan. Hasil evaluasi dibuat dalam satu bentuk
laporan pengawasan dan pendalian BMD.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


64 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Pengawasan, Pengendalian, Dan Pengamanan Barang Milik Daerah

d. Pengendalian BMD.
Sebagai tindak lanjut dari hasil evaluasi pada langkah 3 dilakukan pengendalian terhadap BMD
yang tidak sesuai dengan perencanaan kebutuhannya. Bentuk kegiatan pengendalian BMD yang
diusulkan harus dinyatakan dengan jelas dengan memertimbangkan temuan kesenjangan yang
diperoleh pada langkah 1, 2 dan 3.

6.2. Penyusunan Prosedur Pengamanan BMD


6.2.1. Konsep Pengamanan BMD
Pengamanan aset daerah merupakan salah satu sasaran strategis yang harus dicapai daerah dalam
kebijakan pengelolaan aset daerah (Mardiasmo, 2004). Pengamanan aset daerah yang dilakukan secara
efektif dapat mengoptimalkan dukungan terhadap penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan
kepada masyarakat. Pengelola, pengguna dan/atau kuasa pengguna wajib melakukan pengamanan BMD
yang berada dalam penguasaannya. Konsep pengamanan BMD menekankan pada keamanan secara
fisik, administrasi, dan hukum. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman
Teknis Pengelolaan BMD menjelaskan bahwa pengamanan adalah kegiatan tindakan pengendalian
dalam pengurusan BMD dalam bentuk fisik, administratif dan tindakan upaya hukum.

Yang dimaksud pengendalian dalam bentuk fisik adalah merupakan tindakan yang harus dilakukan
oleh pengurus BMD agar secara fisik barang tersebut terjaga atau dalam keadaan aman sehingga
jumlah, kondisi, dan keberadaan barang tersebut sesuai dengan yang tercatat dalam data administrasi.
Pengamanan sebagaimana tersebut di atas, dititik beratkan pada penertiban/pengamanan secara
fisik dan administratif, sehingga BMD tersebut dapat dipergunakan/dimanfaatkan secara optimal serta
terhindar dari penyerobotan pengambilalihan atau klaim dari pihak lain.

6.2.2. Ruang Lingkup Pengamanan BMD


Ruang lingkup kegiatan pengamanan BMD yang harus dilakukan oleh pengelola pengguna dan/atau
kuasa pengguna meliputi :
1. pengamanan administrasi meliputi kegiatan pembukuan, inventarisasi, pelaporan dan
penyimpanan dokumen kepemilikan.
2. pengamanan fisik untuk mencegah terjadinya penurunan fungsi barang, penurunan jumlah
barang dan hilangnya barang; pengamanan fisik untuk tanah dan bangunan dilakukan dengan
cara pemagaran dan pemasangan tanda batas, selain tanah dan bangunan dilakukan dengan cara
penyimpanan dan pemeliharaan; dan
3. pengamanan hukum antara lain meliputi kegiatan melengkapi bukti status kepemilikan.

6.2.3. Prosedur Pengamanan BMD


Prosedur pengamanan mengacu pada Permendagri Nomor 17 tahun 2007 dibedakan dalam :
1. pengamanan untuk barang selain tanah dan bangunan dan,
2. pengamanan untuk tanah dan bangunan. Pengamanan fisik untuk selain tanah dan bangunan
dilakukan dengan cara penyimpanan dan pemeliharaan.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


65 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Pengawasan, Pengendalian, Dan Pengamanan Barang Milik Daerah

a. Pengamanan Administrasi BMD.


Pengamanan administrasi BMD secara umum berisikan kegiatan-kegiatan yang tercakup dalam
penatausahaan BMD. Setiap kepala SKPD (melalui penyimpan/pengurus barang) wajib melakukan
penatausahaan BMD yang ada pada pengguna masing-masing. Penatausahaan BMD meliputi
pembukuan, inventarisasi, dan pelaporan BMD yang berada di bawah penguasaan pengguna
barang/kuasa pengguna barang. Pengamanan administrasi menekankan pada kelengkapan dan
ketersediaan dokumen administrasi BMD. Prosedur pengamanan administrasi berisikan kegiatan-
kegiatan pemeriksaan atas :
- pembukuan, untuk memastikan bahwa seluruh BMD telah dibukukan sebagi milik pemerintah
daerah;
- inventarisasi, untuk memastikan bahwa seluruh BMD telah diinventarisasi dalam bentuk
jumlah, kondisi dan nilai;
- pelaporan, untuk memastikan bahwa seluruh BMD telah dilaporkan sebagai milik pemerintah
daerah ; dan
- penyimpanan dokumen, untuk memastikan bahwa seluruh dokumen BMD disimpan pada
tempat yang aman.
b. Pengamanan Fisik BMD.
Pengamanan fisik BMD dilakukan untuk menjamin bahwa secara fisik BMD tidak mengalami
masalah penurunan fungsi barang, penurunan jumlah barang dan hilangnya barang. Prosedur
pengamanan fisik untuk tanah dan bangunan dilakukan dengan cara pemagaran dan pemasangan
tanda batas. Prosedur ini dilakukan untuk menghindari terjadinya penyalahgunaan, baik dalam
bentuk pemanfaatan insidentil maupun dalam bentuk penyerobotan oleh pihak-pihak lain.
Selain tanah dan bangunan dilakukan dengan cara penyimpanan dan pemeliharaan.
c. Pengamanan Hukum BMD.
Pengamanan hukum BMD terutama berkaitan dengan kegiatan melengkapi bukti kepemilikan.
Permendagri Nomor 17 Tahun 2007 pasal 46 menjelaskan bahwa :
1. Barang milik daerah berupa tanah harus disertifikatkan atas nama Pemerintah daerah;
2. Barang milik daerah berupa bangunan harus dilengkapi dengan bukti kepemilikan atas nama
Pemerintah Daerah.
3. Barang milik daerah selain tanah dan/atau bangunan harus dilengkapi dengan bukti
kepemilikan atas nama pemerintah daerah.
Prosedur pengamanan hukum BMD meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
1. Pemeriksaan bukti kepemilikan.
- Pemeriksaan bukti kepemilikan tanah atas nama Pemerintah Daerah;
- Pemeriksaan bukti kepemilikan bangunan atas nama Pemerintah Daerah.
- Pemeriksaan bukti kepemilikan BMD atas nama Pemerintah Daerah. Jika pada langkah ini
ditemukan ketidaklengkapan dokumen bukti kepemilikan atas nama Pemerintah Daerah,
maka dapat ditempuh langkah ke-2.
2. Penyelesaian kelengkapan bukti kepemilikan.
Untuk tanah dan bangunan penyelesaian kelengkapan bukti kepemilikan dapat diproses
sesuai prosedur yang berlaku mulai dari pengukuran batas-batas sampai dengan penerbitan
sertifikat. Sedangkan untuk selain tanah dan bangunan, pelengkapan dokumen kepemilikan
dapat dilakukan dengan memeriksa kembali pada kegiatan penatausahaan BMD.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


66 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Pengawasan, Pengendalian, Dan Pengamanan Barang Milik Daerah

6.3. Rangkuman
Pengawasan, pengendalian dan pengamanan merupakan bagian tidak terpisahkan dari siklus
pengelolaan BMD, mulai dari perencanaan kebutuhan BMD sampai dengan pelaporan. Tujuan utama
pengawasan dan pengendalian adalah untuk menjamin kelancaran penyelenggaraan pengelolaan BMD
secara berdayaguna dan berhasilguna. Prosedur pengawasan dan pengendalian meliputi pengecekan
status penggunaan BMD, pengecekan inventaris barang, evaluasi penggunaan dan pemanfaatan BMD,
serta pengendalian BMD.

Pengamanan merupakan kegiatan tindakan pengendalian dalam pengurusan BMD dalam bentuk
fisik, administrasi dan tindakan upaya hukum. Pengelola, pengguna dan/atau kuasa pengguna wajib
melakukan pengamanan BMD yang berada dalam penguasaannya. Prosedur pengamanan BMD
meliputi : (1) pengamanan administrasi terdiri atas kegiatan pembukuan, inventarisasi, pelaporan dan
penyimpanan dokumen kepemilikan; (2) pengamanan fisik, untuk selain tanah dan bangunan dilakukan
dengan cara penyimpanan dan pemeliharaan. Sedangkan untuk tanah dan bangunan dilakukan dengan
cara pemagaran dan pemasangan tanda batas; (3) pengamanan hukum, meliputi pemeriksaan bukti
kepemilikan dan penyelesaian kelengkapan bukti kepemilikan.

Latihan
Kategori hasil pemeriksaan BPK tahun 2012 untuk Pemkab Sidrap adalah Wajar Dengan Pengecualian
(WDP). Penyebab utama adalah masih adanya aset belum terdata. Kabupaten Enrekang selama delapan
tahun langganan memeroleh kategori WDP karena rekonsilidasi aset dilakukan hanya melalui Kartu
Inventaris Barang (KIB) tetapi tidak dilakukan pada fisik. Kabupaten Pangkep pada tahun 2012 memeroleh
kategori WTP. Dalam proses pemeriksaan aset sendiri, SKPD turut berpartisipasi dengan melakukan
pencatatan aset. Tahun sebelumnya kita kurang merinci apa saja aset yang dimiliki Kabupaten Pangkep,
tetapi kemudian kita perbaiki. (Harian FAJAR, 29 Mei 2013).

DPRD Banten memertanyakan hilangnya aset daerah. Dari nilai aset Pemprov Banten senilai 1,6 trilyun
rupiah, senilai 500-700 milyar rupiah hilang karena tidak terdata baik. Hilangnya aset pemerintah itu
diketahui setelah Komisi Perekonomian dan Keuangan melakukan peninjauan ke beberapa lokasi tempat
aset-aset itu berada. Aset daerah yang hilang terdiri atas benda bergerak dan tidak bergerak seperti: jalan,
sebidang tanah, jembatan penyeberangan lalu lintas, bangunan air, gedung pemerintahan, kendaraan
operasional dan mesin-mesin. (TEMPO INTERAKTIF, 20 Maret 2007).

Berdasar pada dua kutipan pemberitaan di atas, saudara diminta:


1. Mengidentifikasi kemungkinan sumber penyebab utama masalah pengawasan, pengendalian, dan
pengamanan BMD.
2. Berdasarkan prosedur pengawasan, pengendalian, dan pengamanan BMD uraikan langkah-langkah
yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah pada poin (1).

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


67 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
TOPIK 7

PENILAIAN BARANG MILIK


DAERAH
Penilaian Barang Milik Daerah

Deskripsi:
Topik ini menjelaskan tentang penilaian Barang Milik Daerah (BMD)

Sub Topik Kata Kunci


Peserta mampu
menjelaskan dan Penilaian
melakukan penilaian BMD

Referensi:
Anonim, 2007. Modul 2; Penyusunan Rencana Pengadaan dan Pemeliharaan Aset/Barang Milik
Daerah, Lembaga Administrasi Negara dan Departemen Dalam Negeri.
Endarto, Yudowinarso, Teori Dasar Penilaian, STAN, 2012
Kemenkeu. 2010. Modul Pokok-Pokok Pengelolaan Barang Milik Daerah.
Murtaji, Penilaian Properti, STAN, 2010
Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah
Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah.
Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah;
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah
Peraturan Presiden Nomor 50 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Kerjsama Daerah
Peraturan Presiden (Perpres) No. 70 Tahun 2012, Perubahan Kedua atas Peraturan Presiden No. 54
Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.
Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2007 Tentang Perubahan Ketujuh Atas Keputusan Pesiden
Nomor 80 Tahun 2003 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2007 Tentang Perubahan Ketujuh Atas Keputusan Pesiden
Nomor 80 Tahun 2003 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Permendagri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah;
Permendagri Nomor 22 Tahun 2009 tentang Petunjuk Teknis Tata Cara Kerjasama Daerah.
Sumini, Penatausahaan Barang Milik Daerah, STAN, 2010
Sutaryo, Manajemen Aset Daerah,
http:sutaryofe.staff.uns.ac.id/files/2011/10/manajemen-aset-daerah.pdf (25 Juni 2013)
Tanda Setiya dan Rahmat Guntoro, Penilaian Barang Milik Daerah, Pusdiklat KNPK, BPPK, 2010
Undang-Undang Nomor.1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;
Undang-Undang Nomor.17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara,

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


69 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penilaian Barang Milik Daerah

7.1. Pendahuluan
Reformasi pengelolaan keuangan negara di Indonesia dimulai dengan dilahirkannya tiga paket undang-
undang di bidang keuangan negara, yaitu Undang-undang nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan
Negara, Undang-undang nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, dan Undang-undang
nomor 15 tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.
Undang-undang nomor 1 tahun 2004 mengamanatkan bahwa Pemerintah diharuskan menyusun
laporan keuangan pemerintah, baik itu pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, dan menyusun
standar akuntansi pemerintahan. Penyusunan laporan keuangan pemerintah mengacu pada standar
akuntansi pemerintahan, yang selanjutnya diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)

Salah satu elemen penting dari laporan keuangan pemerintah daerah adalah aset yang menjadi bagian dari
Neraca. LKPD ini merupakan konsolidasi dari Laporan Keuangan SKPD dan Laporan Keuangan Bendahara
Umum Daerah (LK BUD). LKPD yang pertama kali disusun adalah Laporan Keuangan Pemerintah Daerah
(LKPD) tahun 2004. LKPD 2004 yang diterbitkan pemerintah dilakukan pemeriksaan (audit) oleh Badan
Pemeriksa Keuangan (BPK).

Perbaikan-perbaikan terus dilakukan dalam rangka memperbaiki kualitas laporan keuangan pemerintah
pusat maupun laporan keuangan pemerintah daerah (LKPD). Salah satunya adalah dengan diterbitkannya
Keputusan Presiden RI nomor 17 tahun 2007 tentang Tim Penertiban Barang Milik Negara/Daerah, yang
ditetapkan tanggal 7 Agustus 2007. Keppres ini diterbitkan dengan pertimbangan bahwa:
1. Barang Milik Negara/Daerah (BMN/D) di kementerian/Lembaga/SKPD sampai saat ini belum
terinventarisasi dengan baik sesuai peraturan perundang-undangan; dan
2. Dalam rangka mengoptimalkan pemanfaatan Barang Milik Negara/Daerah (BMN/D) di Kementerian/
Lembaga/SKPD, perlu dilakukan inventarisasi dan pengamanan terhadap BMN/D di Kementerian/
Lembaga/Daerah secara tertib, efektif, efisien, dan akuntabel.
Sejak diterbitkannya Keppres tersebut, dimulailah kegiatan inventarisasi dan penilaian (IP) terhadap
seluruh barang milik negara yang berada di semua Kementerian/Lembaga/Daerah. Inventarisasi
dilakukan atas seluruh barang milik negara pada Kementerian/Lembaga/Daerah. Sedangkan penilaian
dilakukan atas barang milik negara yang diperoleh sampai dengan 31 Desember 2004. Kebijakan ini
didasari pertimbangan bahwa (pada waktu itu) nilai Barang Milik Negara/Daerah yang diperoleh mulai 1
Januari 2005 masih bisa didasarkan pada nilai perolehan.

7.2. Penilaian Barang Milik Daerah


7.2.1. Penilaian dalam Siklus Pengelolaan Barang Milik Daerah
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2008 tentang pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah
pasal 3 jo PP no 6 tahun 2006 menyatakan bahwa pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah merupakan
serangkaian proses yang meliputi :
- Perencanaan kebutuhan dan penganggaran
- Pengadaan
- Penggunaan

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


70 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penilaian Barang Milik Daerah

- Pemanfaatan
- Pemeliharaan dan pengamanan
- Penilaian
- Penghapusan
- Pemindahtanganan
- Penatausahaan
- Pembinaan, pengawasan dan pengendalian.

Berdasarkan rangkaian proses tersebut di atas terlihat bahwa penilaian merupakan salah satu tahapan
penting dalam pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah. Peran penilaian dalam siklus pengelolaan
Barang Milik Negara/Daerah sangat krusial sebagai pengontrol/pengendali pengambilan keputusan yang
terkait dengan pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah, baik dalam hal penatausahaan, pemanfaatan
dan pemindahtanganan.

7.2.2. Pengertian Penilaian


Penilaian adalah proses kegiatan yang dilakukan oleh penilai untuk memberikan suatu opini atas nilai
suatu obyek penilaian pada saat tertentu dalam rangka pengelolaan BMD. Nilai yang dihasilkan dari
kegiatan penilaian berupa nilai wajar, dimana istilah nilai wajar tersebut merupakan penyebutan istilah
nilai pasar dalam ilmu akuntansi.

Kegiatan penilaian dalam rangka pengelolaan BMD merupakan implementasi tindakan untuk mendukung
kepastian nilai, yaitu adanya ketepatan jumlah dan nilai Barang dalam rangka optimalisasi pemanfataan
dan pemindahtanganan BMD serta penyusunan Neraca Pemerintah Daerah. Dapat disimpulkan bahwa:
a. Penilaian BMD dilakukan dalam rangka pengamanan dan penyusunan neraca daerah;
b. Penilaian BMD juga dapat dipergunakan dalam rangka pencatatan, inventarisasi, pemanfaatan,
pemindahtanganan dan inventarisasi.
Penilaian BMD dalam rangka penyusunan neraca pemerintah daerah atau LKPD dilakukan tanpa harus
didahului adanya permohonan penilaian. Penilaian untuk tujuan tersebut dilakukan berdasarkan
rencana kerja penilaian yang ditetapkan oleh pemerintah daerah. Penilaian BMD berupa tanah dan atau
bangunan dalam rangka pemanfaatan atau pemindahtanganan dilakukan berdasarkan permohonan
dari pengelola Barang.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


71 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penilaian Barang Milik Daerah

Gambar 7.1 Pelaksanaan Penilaian Barang Milik Daerah

PENCATATAN LAPORAN
KEUANGAN Pada prinsipnya tugas
Menentukan nilai wajar. inventarisasi dan pencantuman
Pada saat pencatatan harus nilai aset BMD merupakan
tugas Pengguna Barang.
dicatat sesuai denganharga
perolehan atau nilai wajar Penilaian oleh Pengelola
Barang dari hasil penilaian; Barang dilakukan berdasar
Milik Perlu dilakukan kegiatan Rencana Kerja
penilaian secara berkala.
Daerah
PEMANFAATAN
Menentukan Nilai Wajar
(sedapat mungkin
menggunakan data
pembanding
pendekatan data pasar).

Obyek Penilaian Barang Milik Daerah.


Obyek penilaian BMD adalah :
1. Barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD; dan
2. Barang yang berasal dari perolehan lainnya yang sah, meliputi :
Barang yang diperoleh dari hibah / sumbangan atau yang sejenis
Barang yang diperoleh sebagai pelaksanaan perjanjian atau kontrak;
Barang yang diperoleh dengan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, atau
Barang yang diperoleh berdasarkan keputusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap.

Nilai Wajar.
Nilai wajar mengacu ke definisi nilai pasar, yang selanjutnya dalam ilmu akuntansi sebagai Nilai Wajar,
adalah perkiraan jumlah uang pada tanggal penilaian, yang dapat diperoleh dari transaksi jual beli, hasil
penukaran, atau penyewaan suatu properti, antara pembeli yang berminat membeli dan penjual yang
berminat menjual atau antara penyewa yang berminat menyewa dan pihak yang berminat menyewakan
dalam suatu transaksi bebas ikatan, yang penawarannya dilakukan secara layak dala waktu yang cukup,
dimana kedua pihak masing-masing mengetahui kegunaan properti tersebut bertindak hati-hati, dan
tanpa paksaan. Dari kegiatan penilaian dapat diperoleh suatu opini mengenai nilai suatu BMD. Nilai
yang dihasilkan dari kegiatan penilaian berupa nilai wajar dimana istilah nilai wajar tersebut merupakan
penyebutan istilah nilai pasar dalam ilmu akuntansi.

Nilai/Harga Limit Terendah Penjualan.


Dalam suatu hal BMD akan dilakukan penjualan, maka memerlukan adanya suatu patokan nilai limit untuk
menentukan harga penawaran terendah penjualan. Nilai/harga limit terendah penjualan ditetapkan
berdasarkan nilai wajar yang diperoleh dengan cara melakukan penilaian. Nilai/harga limit terendah
atas penjualan BMD selain tanah dan bangunan ditetapkan oleh Pengguna Barang dengan persetujuan
Pengelola Barang. Penentuan nilai/harga limit terendah penjualan harus dilakukan dengan hati-hati,
karena Pengguna Barang/Kuasa Pengguna Barang (pimpinan Satker) harus melampirkan Surat Tanggung
Jawab Sepenuhnya atas Nilai Limit (bermaterai).

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


72 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penilaian Barang Milik Daerah

7.2.3 Metode Penilaian


Penilaian merupakan suatu masalah yang multikompleks karena keterkaitannya dengan perkembangan-
perkembangan ekonomi, sosial, lingkungan, teknik, kebijaksanaan dan hukum. Dari hal-hal tersebut di
atas maka konsep-konsep penilaian memerlukan proses sebagai berikut :
1. Identifikasi masalah dengan melaksanakan pendataan, penyelidikan dan penalaran.
2. Kemampuan peramalan/estimasi atas hasil yang akan diperoleh.
3. Estimasi biaya.
Apabila data tersebut dikaitkan dengan penilaian maka data properti adalah merupakan bahan mentah
yang dapat dipakai sebagai bahan yang akan diolah atau dianalisis sehingga menghasilkan informasi. Dan
informasi inilah yang nantinya akan dapat memberikan gambaran atau pandangan sebagai pembanding
atas properti yang lain. Data ini dapat berupa sesuatu yang berkaitan dengan tanah ataupun bangunan,
berupa bentuk obyek, ukuran, harkat, letak/lokasi, kondisi, bahkan harga jual atau nilai, data tersebut
dapat digunakan untuk :
a. Dasar untuk menentukan nilai pasar
b. Dasar perhitungan bermacam-macam netode penilaian
c. Dasar peramalan di masa yang akan datang
Nilai adalah kesimpulan akhir dari proses penilaian yang diadakan dengan tujuan yang berbeda-beda dan
dilakukan oleh orang yang berbeda pula. Namun harus disadari bahwa pelaksanaannya dengan suatu
metodologi tertentu sehingga merupakan estimasi dan pendapat yang sehat dan wajar, berdasarkan
fakta yang obyektif, dan keyakinan dalam waktu dan relevansi yang otentik. Metodologi yang lazim
digunakan dalam proses penilaian adalah :
a. Pendekatan data pasar
b. Pendekatan biaya
c. Pendekatan pendapatan
Pendekatan-pendekatan tersebut dapat dipergunakan secara bersama-sama, tetapi juga dapat
dipergunakan hanya satu atau dua pendekatan saja tergantung pada data dan kondisi obyek penilaian
serta tujuannya.

a. Pendekatan Data Pasar


Pendekatan data pasar adalah suatu metode yang memperkirakan nilai pasar dari suatu properti
berdasarkan harga jual properti lain yang serupa yang telah diketahui nilai jualnya dengan cara
membandingkan properti tersebut. Beberapa prinsip pendekatan yang sering digunakan dalam
metode pendekatan data pasar adalah :
- Prinsip penilaian yang menggunakan dasar pemikiran dengan pendekatan prinsip penawaran
dan permintaan, yang mendekatkan pada keadaan pasar.
- Prinsip keseimbangan yang merupakan kelanjutan dari prinsip penawaran dan permintaan akan
selalu mengimbangi, saling mengisi dan bergerak menuju keseimbangan antara permintaan dan
penawaran.
- Prinsip substitusi, yang mengatakan bahwa nilai selalu ditentukan berdasarkan sejumlah uang
yang dipergunakan untuk memperoleh barang pengganti yang sebanding sebagaimana daya
guna, harapan, keuntungan, manfaat dan fungsinya.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


73 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penilaian Barang Milik Daerah

Berdasarkan perbandingan yang dilakukan tersebut maka penilai akan mendapatkan angka-angka
yang akan diinterpretasikan sebagai nilai, kemudian lalu ditetapkan sebagai nilai sesuai dengan
tujuanny
a. Agar pelaksanaan pendekatan data pasar ini terlaksana dengan baik maka perlu proses kerja serta
langkah sebagai berikut :
1. Pengumpulan data
Data dihimpun dan kemudian disortir, ditabulasi dan dicatat dalam kelompok-kelompok yang
telah diatur sedemikian rupa sehingga mudah dianalisis. Sumber-sumber data diperoleh dari :
- Pengembang perumahan
- Penjual dan pembeli
- Kantor/pejabat yang terkait, misal Notaris PPAT, Camat, Lurah/Kepala Desa, KJPP, DJKN,
BPN).
- Iklan, pameran atau promosi
- Pajak bumi dan bangunan
2. Analisis data
Data yang telah ditabulasi dan dihubungkan dengan korelasi baik faktor internal dan eksternal
dari masing-masing obyek yang akan dibandingkan dengan beberapa metode dan kemudian
diadakan penyesuaian-penyesuaian maka dapat diindikasikan nilai yang akan ditetapkan.
3. Penyesuaian (adjustment)
Penyesuaian tidak diperkenankan dengan selisih angka yang terlalu jauh atau terlalu besar.
Penyesuaian perlu dilakukan terhadap obyek yang dinilai dengan pembanding dalam hal :
- Lokasi
- Waktu
- Sifat-sifat fisik
Kesesuaian lokasi dapat dilihat dari 2 hal, yaitu :
1. Jarak antara suatu titik / tempat tertentu dengan titik/tempat yang lain, yang dapat
dirupakan dalam ukuran
2. Jarak dalam arti tempuh, misalnya beberapa menit atau jam titik/tempat dapat dicapai.

Sedangkan waktu dalam penilaian yang harus diperhatikan adalah kapan saat penilaian
dilakukan, karena waktu penilaian sangat berpengaruh terhadap nilai, misalnya berkaitan
dengan kurs, mata uang atau kondisi barang yang dinilai. Waktu merupakan faktor yang
menentukan dalam perkiraan / interpretasi nilai yang ditetapkan dalam laporan penilaian.
Beberapa metode dapat digunakan, antara lain :
a. Metode Jumlah Bulat (Lump Sum Method)
Dalam metode ini penilaian dilaksanakan dengan dengan mengukur perbandingan dan
penyesuaian obyek tersebut, tidak dihitung dari masing-masing faktor, tetapi sekaligus
b. Metode Tambah Kurang (Plus Minus Method)
Metode ini merupakan perbaikan dari metode jumlah bulat yang dirasakan terlalu kasar.
Obyek yang dinilai setelah dibandingkan dengan obyek yang telah diketahui nilainya
secara keseluruhan baik kelebihan maupun kekurangannya baik fakta dan datanya, lalu
diadakan penyesuaian atau adjustment sesuai dengan keyakinannya secara langsung.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


74 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penilaian Barang Milik Daerah

c. Metode Jumlah Rupiah (Rupiah Amount Method)


Dalam penilaian dengan metode ini setiap data pembanding disesuaikan dengan obyek
yang dinilai dengan menambahkan atau mengurangkan jumlah rupiah terhadap setiap
faktor yang diperbandingkan.
d. Metode Persentase (Percentage Method)
Dalam metode ini penilaian dilakukan hampir sama dengan metode komponen rupiah
atau jumlah rupiah, tetapi perkiraan penambahan atau pengurangan penyesuaiannya
diperhitungkan dengan menggunakan persentase.
4. Kesimpulan nilai
Langkah berikutnya adalah menentukan estimasi nilai dengan menggunakan beberapa
metode tersebut di atas. Dari beberapa metode pendekatan seperti yang telah dianalisis
di atas maka dapat digambarkan bahwa masing-masing metode memiliki kelebihan dan
kekurangan. Pendekatan data pasar memiliki kelebihan antara lain fleksibel, mudah, cepat
dan sederhana dalam penggunaannya dan memiliki kekurangan antara lain sulit menemukan
obyek penilaian yang benar-benar sama atau identik, sebab itu dalam membandingkan harus
betul-betul merupakan data yang dapat dipertimbangkan persamaan dan perbedaannya
untuk menentukan penyesuaiannya.

b. Pendekatan Biaya
Pendekatan ini merupakan suatu pendekatan yang dilaksanakan dengan teknik atau metode
pendekatan memperkirakan atau menginterpretasikan biaya yang dikeluarkan untuk
mendapatkan, menghasilkan atau membangun obyek penilaian pada masa/waktu sekarang
dalam keadaan baru dan dikurangi dengan penyusutan dan kemudian ditambah dengan
perkiraan nilai tanah. Formulasi pendekatan biaya :

NILAI INDIKASI TANAH Rp a

Nilai Indikasi Bangunan : -Rp b


1. Bangunan -Rp c
2. Bangunan Lainnya Rp ( b+c)
Rp d
Penyusutan ------%
Nilai indikasi Bangunan Rp (b+c)-d
Nilai Aktiva tetap Rp a +(b+c)-d

Tahap-tahap penilaian pendekatan biaya :


1. Penilaian tanah dalam keadaan kosong (menggunakan pendekatan data pasar)
2. Menghitung nilai ganti atau reproduksi baru bangunan
3. Menghitung depresiasi bangunan
4. Menentukan nilai indikasi bangunan dengan cara mengurangkan perkiraan nilai reproduksi
baru dengan penyusutan
5. Nilai obyek yang dinilai didapat dengan menambahkan Nilai Indikasi Bangunan dengan Nilai
Indikasi Tanah.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


75 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penilaian Barang Milik Daerah

Beberapa metoda yang lazim dipergunakan untuk menetapkan nilai reproduksi baru/nilai
ganti adalah :
1. Metode kalkulasi biaya (cost approach)
Metode ini menghitung nilai tanah dan bangunan dengan menganggap tanah sebagai
tanah kosong, nilai tanah dihitung dengan menggunakan metode perbandingan data
pasar. Nilai bangunan dihitung dengan menggunakan metode kalkulasi biaya. Nilai
bangunan diperoleh dengan mengasumsikan biaya pembangunan/penggantian baru
kemudian dikurangi dengan penyusutan pada saat penilaian. Biaya pembangunan dapat
dikelompokkan menjadi:
a. Biaya langsung
Yaitu biaya yang langsung berhubungan dengan bangunan seperti biaya upah buruh
dan biaya material komponen bangunan yang berhubungan dengan bangunan,
biaya overhead kontraktor, keuntungan kontraktor, biaya profesional lainnya yang
terkait untuk pembangunan seperti arsitek, konstruktor, surveyor dan lainnya.
b. Biaya tidak langsung
Yaitu biaya atau uang yang tidak terkait langsung dengan fisik konstruksi, tetapi
diperlukan dalam biaya pembangunan. Biaya tidak langsung termasuk bunga selama
masa konstruksi, pajak, biaya ahli hukum terkait, akuntan, penilai dan lain-lainnya yang
diperlukan. Semua biaya ini harus diperhitungkan tergantung jenis bangunannya.
2. Biaya penggantian baru (replacement cost new)
Untuk menghitung biaya penggantian baru pada metode kalkulasi biaya, ada empat
macam metode yang dikenal yaitu :
a. Metode penelitian jumlah atau metode survey kuantitas.
Metode ini menggunakan taksiran terperinci atas harga semua komponen material yang
persis sama dengan yang dipakai sebagai bahan untuk membangun obyek penilaian.
b. Metode unit terpasang.
Metode ini menggunakan biaya/jumlah harga bahan bangunan yang terpasang
pada bangunan yang terdiri dari fondasi, dinding, kerangka, kolom, atap, lantai dan
lain-lain dan kemudian dijumlahkan. Unsur-unsur ini dihargai sebagai unit terpasang
termasuk diantaranya adalah bahan dan tenaga kerja atau upah pengerjaan untuk
mendirikan bangunan.
c. Metode meter persegi.
Metode ini didasarkan pada perhitungan biaya-biaya per unit yang diketahui atau
ditetapkan yang berasal dari perbandingan obyek dalam penentuan biaya per m2
setiap jenis pekerjaan bangunan yang kemudian disesuaikan antara obyek yang
dinilai dengan obyek pembanding bila ternyata terdapat perbedaan perbandingan.
d. Metode indeks biaya.
Metode ini digunakan untuk menyesuaikan biaya pengganti baru bangunan pada
saat ini dengan mendasarkan pada biaya pengganti baru bangunan pada saat baru
dibangun. Biaya ini dapat naik atau turun tergantung pada besar kecilnya indeks pada

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


76 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penilaian Barang Milik Daerah

saat ini. Caranya dengan menghitung indeks biaya saat ini dengan indeks biaya masa
lampau/indeks biaya saat dibangun.

BIAYA PENGGANTI Indeks biaya saat ini


= x Biaya Pengganti Baru Saat
BARU SEKARANG Indeks Biaya Lampau

Dari keempat metode tersebut diatas, maka metode survey kuantitas memberikan
perhitungan biaya yang paling teliti. Kecuali perbedaan metode pendekatan biaya seperti
di atas, maka ada variasi penilai yang dipengaruhi oleh subyektivitas masing-masing dengan
latar belakang dan pengetahuan serta pengalaman dari individu penilai tersebut.
Di samping beberapa hal tersebut di atas masih ada faktor penyusutan sebagai akibat
penggunaan, pemakaian dan pendayagunaan aset, yaitu :
1. Penyusutan fisik (physical deterioration).
Artinya adalah suatu kerugian, kehilangan nilai yang diakibatkan oleh kemerosotan,
kerusakan, keretakan, kemunduran badan/fisik yang nampak ataupun tidak nampak
sehingga wujud, struktur dan elemen yang ada menjadi menurun nilainya/harganya.
2. Penyusutan atau keausan fungsional (functional obsolescence).
Suatu kerugian atau kehilangan yang melekat pada harta sebagai akibat dari tidak berfungsi
atau rusaknya mekanisme alat atau perlengkapan atau tujuan bangunan, sehingga tidak
dapat memenuhi tujuan, kenyamanan dan keselamatan pengguna harta tetap. Misalnya
lift/escalator rusak, ac tidak dingin atau rusak padahal konstruksi bangunan didesain tanpa
ventilasi, pintu sering macet tidak dapat dibuka, jendela tidak dapat ditutup dengan benar,
engsel lepas, kayu mengembang dan lain-lain.
3. Penyusutan ekonomi (economic obsolescence).
Suatu kerugian atau kehilangan nilai yang diakibatkan oleh karena kekuatan-kekuatan di
luar aset dan menyangkut faktor-faktor ekonomi/moneter atau lingkungan masyarakat. Hal
itu terjadi misalnya karena perubahan peraturan pemerintah, perubahan nilai mata uang
sebagai akibat krisis moneter dan lain-lain. Penyusutan fisik dan fungsional adalah keausan
yang disebabkan faktor internal, sedangkan penyusutan ekonomi adalah keausan yang
disebabkan faktor eksternal, dan perlu diketahui bahwa macam dan luasnya penyusutan
diperhitungkan/ditentukan melalui pertimbangan pengamatan yang sangat hati-hati.

c. Pendekatan Pendapatan
Pendekatan pendapatan ini merupakan suatu teknik penilaian yang menghitung atau
memperkirakan pendapatan bersih yang dianalisis berdasarkan jumlah modal investasi yang
menghasilkan pendapatan dari jumlah modal tersebut. Pada dasarnya prosedur penilaian yang
ditempuh melalui metode pendekatan pendapatan adalah memproyeksikan pendapatan yang
diperhitungkan dapat dihasilkan oleh suatu obyek penilaian di masa mendatang ke dalam saat ini.
Untuk menentukan nilai dengan metode pendapatan diperlukan kondisi-kondisi sebagai berikut :
1. Kewajaran pendapatan untuk estimasi pendapatan bersih.
2. Waktu tentang penghasilan bersih biasanya dipergunakan umur ekonomis (economic life) dari
obyek penilaian.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


77 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penilaian Barang Milik Daerah

3. Tingkat kapitalisasi yang berupa persentase.


4. Konversi pendapatan terhadap modal.
Untuk sebuah properti tak hanya penghasilan yang berupa sewa atau hasil gedung itu saja, tetapi
juga merupakan penghasilan ikutan berupa sewa parkir, ruangan yang disewa. Perlu diperhatikan
bahwa pendapatan kotor ini pada masing-masing jenis properti mempunyai spesifikasi tersendiri
misalnya untuk pusat perbelanjaan, hotel, perkantoran, lapangan golf, pendapatan serta
macamnya bervariasi. Formula untuk menentukan nilai adalah :

Pendapatan Bersih (I)


Nilai (V) =
Angka Kapitalisasi (R)

Langkah-langkah pelaksanaan :
1. Menentukan estimasi pendapatan kotor tahunan.
Langkah awal mengumpulkan dan mencatat semua harga sewa atau hasil dan prosentase
tarif penempatan (occupancy rate) dari obyek yang dinilai untuk menghitung penghasilan
kotor yang diharapkan dapat dihasilkan.
2. Estimasi penghasilan kotor efektif.
Tingkat kekosongan (void) ini diperhitungkan sebagai sewa yang tidak tertagih. Sebagai
kebalikan dari tingkat kekosongan ini adalah faktor hunian (occupancy rate) yaitu seberapa
banyak kamar/ruangan yang laku. Untuk menentukan tingkat kekosongan dan sewa yang
tidak terbayar, perlu diteliti dengan pertimbangan sebagai berikut :
a. Tingkat kekosongan.
b. Dibandingkan kondisinya dengan properti sejenis yang disewakan yang terletak dalam
radius lokasi yang sama.
c. Estimasi situasi dan kondisi sosial, ekonomi, perkembangan penduduk di masa yang
akan datang.
d. Tingkat pendapatan dan ekonomi rata-rata masyarakat dan kaum pendatang di masa
mendatang.
e. Masa sewa yang menyangkut tentang lama dan kondisi sewa.
3. Menetapkan biaya operasi per tahun dan mengurangkannya dari pendapatan kotor efektif.
4. Menghitung pengembalian setiap tahun yang ditanam dan diharapkan dapat menghasilkan.
Dalam hal ini bila sudah diketahui besarnya % nilai kapitalisasi maka tinggal mengalikan dengan
pendapatan bersih per tahun.

7.2.4. Proses Penilaian


Seseorang penilai harus sudah membayangkan obyek yang akan dinilai dengan melakukan studi
kelayakan terlebih dahulu, atau melakukan identifikasi penyelidikan pendahuluan, sehingga diketahui
dengan seksama lokasi, lingkungan, kondisi, dan situasi obyek sehingga dapat dengan dibuat
perencanaan tindakan, anggaran, sumberdaya manusia termasuk skill dan segala yang perlu dipersiapkan
untuk penilaian. Tahapan dari proses penilaian adalah sebagaimana di bawah ini :

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


78 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penilaian Barang Milik Daerah

1. Identifikasi Permasalahan.
Sebelum melakukan penilaian, langkah pertama adalah melakukan identifikasi permasalahan
terhadap lokasi obyek, dan obyek itu sendiri. Tahapan ini sangat penting agar tidak terjadi
kesalahan, kerancuan, baik tentang pemahaman maupun kondisi dan situasi obyek. Terdapat
beberapa nilai yang mutlak harus diketahui dan diidentifikasi yaitu :
a. Identifikasi obyek yang akan dinilai
b. Penentuan tanggal penilaian
c. Tujuan penilaian
d. Jenis nilai yang sesuai
2. Identifikasi obyek yang akan dinilai.
Hal ini merupakan identifikasi permulaan suatu obyek secara fisik untuk mengetahui secara lengkap
yang memungkinkan setiap orang mengetahui lokasi obyek tersebut berada.
3. Penentuan tanggal penilaian.
Produk akhir penilaian adalah estimasi nilai pada suatu batasan waktu tertentu. Nilai suatu obyek
mempunyai kemungkinan berubah dari waktu ke waktu, oleh karena itu identifikasi tanggal
penilaian menjadi sangat penting karena menentukan saat nilai diketahui dan dinyatakan oleh
pemberi tugas. Penilaian sangat mungkin untuk digunakan mengetahui nilai di waktu lampau, saat
ini ataupun merupakan estimasi nilai di waktu yang akan datang.
4. Tujuan penilaian.
Tujuan penilaian harus ditentukan untuk digunakan sebagai nilai dengan tujuan jual beli, sewa,
asuransi, agunan, pembebasan tanah, pasar saham, perusahaan yang akan masuk bursa, lelang dan
lain sebagainya. Identifikasi tujuan penilaian ini penting supaya tidak terjadi pemahaman yang keliru
karena nilai yang digunakan untuk lelang apabila digunakan untuk kepentingan lain, tentu akan
menimbulkan kesalahpahaman nilai dan tentu saja hasilnya tidak tepat.
5. Jenis nilai yang dikehendaki.
Jenis nilai yang dikehendaki dengan tujuan penilaian, hal ini sangat ditekankan oleh pemberi tugas
agar hasil penilaian tidak tumbuh dengan nilai yang digunakan untuk kepentingan lain, yang tentu
saja akan berbeda besar nilainya. Misalnya nilai untuk tujuan jual beli berbeda dengan nilai untuk
perpajakan atau lelang. Bagi nilai jual beli kecenderungannya menggunakan nilai wajar, sedangkan
untuk perpajakan saat ini masih menggunakan NJOP, dan Nilai Lelang adalah nilai tertinggi yang
didapat pada saat pelelangan diselenggarakan.
6. Survey pendahuluan.
Data dan informasi yang diperoleh dan dikumpulkan sebagai data masukan akan sangat
menentukan dalam tahapan selanjutnya dari proses penilaian. Berdasarkan data yang dikumpulkan
tahap pertama, penilai dapat memperkirakan data pelengkap selanjutnya yang nantinya sangat
menentukan dalam penilaian tahap selanjutnya. Jenis obyek penilaian, tanggal penilaian,
tujuan penilaian dan legalitas obyek yang berbeda akan menghasilkan nilai yang berbeda pula.
Seharusnya sesuai dengan tujuan penilaian yang ditentukan oleh pemberi tugas penilaian.
7. Sumber data.
Sumber data sangat variatif, dan di Indonesia secara garis besar sumber data dapat diklasifikasikan
sebagai berikut: sumber langsung dari obyek dan dari data yang sudah tersedia dari sumber lain.
8. Personil dan waktu yang diperlukan.
Penentuan personil sangat diperhatikan dalam pelaksanaan, baik keahlian maupun jumlahnya, serta
waktu pelaksanaan yang dikehendaki oleh pemberi tugas dan kompleksitas obyek yang dinilai.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


79 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penilaian Barang Milik Daerah

9. Perencanaan kerja.
Seyogyanya perencanaan dibuat dan dipersiapkan sematang mungkin sehingga memperlancar
dan membantu kelancaran, efektifitas dan efisiensi pelaksanaan penilaian.
10. Pengumpulan dan analisis data.
Data yang dikumpulkan harus valid, up to date dan sebanyak mungkin memenuhi kriteria
persyaratan sesuai dengan obyek yang akan dinilai. Data yang tidak mempunyai korelasi langsung
terhadap nilai properti, tidak perlu dicantumkan dalam laporan penilaian, dan secara umum data
tersebut sebagai bahan analisis secara garis besar diklasifikasikan pada data umum dan data khusus.
a. Data Umum.
Meliputi data dalam skala nasional, propinsi, kabupaten, kota dan lingkungan sekitarnya. Data ini
membuat faktor-faktor eksternal seperti masalah sosial, ekonomi, peraturan pemerintah dan lain-
lain. Di samping itu juga data lokasional seperti kecenderungan populasi, peraturan pemerintah
tentang kondisi wilayah, peraturan lalu lintas, tata guna tanah, perijinan, kepadatan penduduk,
kepadatan transportasi, fasilitas umum, fasilitas sosial yang berpengaruh terhadap nilai obyek
penilaian. Tren ekonomi baik secara nasional maupun regional dan lingkup yang lebih sempit
atau lingkungan sekitar atau wilayah sekitarnya yang mempengaruhi kondisi dan situasi lokasi
tersebut, misalnya upah buruh, pekerja pendatang, tingkat keahlian penduduk atau tenant, bahan
material, tingkat sewa, tingkat hunian/tingkat kekosongan, memungkinkan untuk dianalisis
bahkan mungkin sampai dengan memungkinkan untuk dianalisis bahkan mungkin sampai
dengan kepercayaan, misalnya hong sui, tusuk sate, naga dino, dan lain-lain yang mempengaruhi
minat konsumen terhadap lokasi, tipe, harga, kualitas, tingkat permintaan dalam suatu segmen
pasar tertentu yang berpengaruh terhadap nilai.
b. Data Khusus.
Data yang lebih spesifik adalah berkaitan dengan obyek penilaian, misalnya :
Tapak/site
Ukuran luas tanah, bentuk kontur, jenis tanah, elevasi, letak (sudut tengah, tusuk sate dsb), zoning
dan lain-lainnya.
Bangunan (improvement)
Bangunan utama (main building) termasuk kualitas material, luas ukuran, desain, lay out, konstruksi,
atap, langit-langit, lantai, dinding, kusen dan lain-lain. di samping itu juga perlu dilihat Other Land
Improvement (OLI) yang berupa pagar, pos keamanan, jalan internal/perkerasan areal parkir,
halaman, taman, saluran air, dan lain-lain.
Dokumen kepemilikan (title)
Dokumen yang mendukung atau surat-surat tanda kepemilikan/pengusaaan, perijinan dan
pembangunan sangat menentukan dan mempengaruhi nilai subyek properti, misalnya akta jual
beli, sertifikat tanah, IMB, ijin lokasi, dan BPKB (kendaraan).
c. Data Pembanding.
Data masukan tentang data pembanding dapat berupa :
Data harga jual beli obyek sejenis dalam kriteria yang hampir sama.
Harga sewa untuk berbagai jenis properti yang bersangkutan
Data obyek lain yang dapat mendukung analisis dalam penilaian.
11. Penerapan Metode Penilaian.
Penggunaan pendekatan atau metode penilaian tergantung pada obyek atau properti yang akan

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


80 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penilaian Barang Milik Daerah

dinilai. Biasanya untuk tanah selalu digunakan pendekatan data pasar sedangkan untuk gedungnya
dapat diterapkan sekaligus menggunakan pendekatan biaya ataupun pendekatan pendapatan.
12. Rekonsiliasi Nilai.
Penerapan satu atau lebih metode penilaian (pada langkah keempat) biasanya menghasilkan
kesimpulan nilai yang berbeda. Jika penilai menerapkan tiga metode penilaian mungkin akan
diperoleh kesimpulan nilai yang berbeda. Pada tahap rekonsiliasi nilai ini penilai mempertimbangkan
semua faktor, kemudian membuat keputusan kesimpulan nilai yang paling sesuai atau paling
mendekati keyakinannya berdasarkan analisis yang telah diperbuat. Untuk itu terdapat beberapa cara
yang dilakukan dalam rangka rekonsiliasi nilai, misalnya :
- Penilai melakukan rekonsiliasi nilai dengan membuat rata-rata dari semua kesimpulan nilai yang
diperoleh;
- Penilai lain menggunakan cara dengan mengambil keputusan berdasarkan pilihan salah satu
metode yang paling diyakini dengan mempertimbangkan semua faktor yang berpengaruh
seperti akurasi data, tujuan penilaian, faktor lain yang dapat ditangkap oleh intuisi penilai selama
proses penilaian.
- Penilai lain ada yang menggunakan cara pembobotan.
13. Kesimpulan Nilai dan Pelaporan.
Akhir dari seluruh proses penilaian adalah sebuah keputusan (judgement) tentang kesimpulan nilai
yang harus dibuat oleh penilai sebagai jawaban atas tugas yang dibebankan. Dalam keputusan ini
penilai harus mampu bersikap jujur, tidak berat sebelah, tidak boleh memihak, dan adil. Integritas
merupakan salah satu hal penting yang harus dimiliki seorang penilai profesional. Ia harus mampu
mempertanggungjawabkan keputusan yang dibuatnya. Pertanggungjawaban tersebut tidak hanya
bersifat temporer, tetapi penilai mempunyai beban untuk mempertanggungjawabkan keputusannya
seumur hidup. Untuk itu penilai mengekspresikan keputusan dan pertanggungjawabannya secara
tertulis dalam laporan penilaian yang memuat seluruh karyanya termasuk semua data pendukung,
faktor yang berpengaruh serta rasionalisasi pengambilan keputusan penilaian.
Kegiatan penilaian BMD harus didukung dengan data yang akurat atas seluruh kepemilikan BMD
yang tercatat dalam daftar inventarisasi BMD.
Hasil penilaian dituangkan dalam laporan penilaian. Laporan penilaian sekurang-kurangnya memuat:
Uraian obyek penilaian
Tujuan penilaian
Tanggal survey lapangan
Tanggal penilaian
Hasil analisis data
Pendekatan penilaian
Simpulan nilai
Tanggal penilaian merupakan tanggal terakhir pelaksanaan survei lapangan atas obyek penilaian.
Laporan penilaian ditulis dalam bahasa Indonesia dan ditandatangani oleh seluruh anggota
tim penilai. Anggota tim penilai bertanggung jawab penuh atas laporan penilaian. Anggota tim
penilai tidak menandatangani laporan penelitian, dengan alasan tertulis dilampirkan dalam laporan
penilaian. Laporan penilaian hanya dapat dipergunakan sepanjang ditandatangani oleh paling
sedikit 2/3 anggota tim penilai.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


81 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penilaian Barang Milik Daerah

7.3. Pelaksanaan Penilaian Barang Milik Daerah


Menurut Kepmendagri Nomor 17 tahun 2007, dalam melaksanakan penilaian BMD :
1. Pelaksanaan penilaian BMD dilakukan oleh Tim yang ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah
dan dapat melibatkan dengan lembaga independen bersertifikat di bidang penilaian aset;
2. Lembaga independen bersertifikat di bidang penilaian aset adalah perusahaan penilai yang
memenuhi persyaratan sesuai peraturan perundang-undangan;
3. Penilaian BMD yang dilaksanakan oleh Panitia penilai, khusus untuk tanah dan/atau bangunan, dilakukan
dengan estimasi terendah menggunakan Nilai Jual Objek Pajak sehingga diperoleh nilai wajar;
4. Penilaian BMD selain tanah dan/atau bangunan berdasarkan nilai perolehan dikurangi penyusutan
serta memperhatikan kondisi fisik aset;
5. Penilaian BMD yang dilaksanakan oleh Lembaga Independen yang bersertifikat di bidang penilaian
aset, dilakukan dengan pendekatan salah satu atau kombinasi dari data pasar, kalkulasi biaya
dan kapitalisasi pendapatan serta dilakukan sesuai standar penilaian Indonesia yang diakui oleh
Pemerintah.

7.4. Ketentuan Khusus


a. apabila harga barang hasil pembelian, pembuatan dan berasal dari sumbangan/hibah tidak
diketahui nilainya, maka dapat dilakukan penilaian oleh Tim Penaksir atau oleh pengurus barang;
b. dalam menentukan nilai taksiran dilakukan dengan membandingkan barang yang sejenis dan
tahun yang sama;
c. penilaian terhadap benda-benda bersejarah dan benda-benda bercorak kebudayaan, pelaksanaan
penilaiannya dapat melibatkan tenaga ahli dibidang tersebut;
d. terhadap BMD yang kondisinya telah rusak sama sekali dan tidak mempunyai nilai, tidak perlu
dicantumkan dalam daftar nilai untuk membuat neraca (segera di proses penghapusannya dari
buku inventaris);
e. apabila harga barang pembelian, pembuatan atau harga barang yang diterima berasal dari
sumbangan/hibah dan sebagainya tidak diketahui karena tiadanya dokumen yang bersangkutan
menunjukan nilai yang tidak wajar, nilainya supaya ditaksir oleh Tim/pengurus barang;
f. benda-benda bersejarah dan benda-benda yang bercorak kebudayaan tetap dimasukkan ke dalam
Buku Inventaris, sedangkan nilainya dapat ditaksir dengan bantuan tenaga ahli dibidang tersebut.

Ilustrasi Penilaian Barang Milik Daerah (BMD).


Berikut ini adalah contoh penilaian BMD dengan menggunakan pendekatan data pasar, pendekatan
biaya, pendekatan pendapatan. Dari jenis-jenis nilai yang telah diuraikan sebelumnya, penilaian BMD
dinilai berdasarkan nilai pasar yang berlaku pada saat dilakukannya penilaian.

Jenis-jenis BMD sangat beragam seperti telah diuraikan sebelumnya dengan jumlah yang cukup banyak
karena obyek penilaian barang daerah meliputi seluruh Barang Daerah yang dimiliki/dikuasai oleh
pemerintah daerah dan memiliki nilai ekonomis. Kriteria yang perlu diperhatikan dalam menentukan
metode penilaian sebagai berikut :

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


82 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penilaian Barang Milik Daerah

1. Penilaian tanah menggunakan harga pasar dan nilai jual obyek pajak (NJOP)
2. Penilaian bangunan dengan menggunakan umur ekonomis, faktor fisik, bahan material, konstruksi
dan karaketristik bangunan.
3. Penilaian kendaraan dan mesin-mesin menggunakan faktor fisik, umur ekonomis, merk, jenis, tipe,
tahun pembuatan dan spesifikasi teknis dan harga pasar.
4. Penilaian perlengkapan alat kantor dan rumah tangga menggunakan faktor fisik, manfaat, kondisi
peralatan dan umur ekonomis.
5. Penilaian hewan dan tanaman menggunakan faktor fisik, jenis, umur manfaat dan harga pasar.

A. Pendekatan Data Pasar.

Data BMD yang aka dinilai berupa kendaraan bermotor berupa mobil jenis Minibus merk Toyota Kijang,
dengan rincian sebagai berikut :

Tabel 7.1

No Item yang disesuaikan Kondisi Obyek Penilaian


1 Body dan cat Abu-abu metalik, rusak ringan
2 Ban dan Velg Standar, baik
3 Kelistrikan Baik
4 Central lock Ada
5 Radio/tape Standar, baik
6 Air Conditioner Single Blower
7 Rem Standar dilapis
8 Power Steering Baik
9 Mesin Baik
10 Pajak dan Surat-Surat Lengkap
11 Jenis Transaksi -
12 Tahun Keluaran dan Jenis 1998

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


83 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penilaian Barang Milik Daerah

Tabel 7.2 Data pembanding I Minibus Toyota Kijang harga Rp. 46.000.000,00

No Item yang disesuaikan Kondisi Obyek Penilaian Penyesuaian


1 Body dan cat Hijau metalik; baik -2%
2 Ban dan Velg Racing; baik -5%
3 Kelistrikan Baik 0
4 Central lock Ada 0
5 Radio/tape Standard; baik 0
6 Air Conditioner Single Blower 0
7 Rem Standar tanpa lapis 0
8 Power Steering Baik 0
9 Mesin Baik 0
10 Pajak dan Surat-Surat Lengkap 0
11 Jenis Transaksi Penawaran -10%
12 Tahun Keluaran dan Jenis 1999 -3%
Total Penyesuaian 18%
Nilai setelah penyesuaian Rp37.720.000
Pembobotan 55%


Tabel 7.3 Data Pembanding II Minibus merk Toyota Kijang harga Rp. 43.000.000,00

No Item yang disesuaikan Kondisi Obyek Penilaian Penyesuaian


1 Body dan cat Hitam Metalik 0
2 Ban dan Velg Standar ; Baik 0
3 Kelistrikan Rusak Ringan 0
4 Central lock Ada 0
5 Radio/tape Standard; baik 0
6 Air Conditioner Single Blower 0
7 Rem Standar tanpa lapis 0
8 Power Steering Baik 0
9 Mesin Baik 0
10 Pajak dan Surat-Surat Lengkap 0
11 Jenis Transaksi Penawaran -10%
12 Tahun Keluaran dan Jenis 2000 -6%
Total Penyesuaian 16%
Nilai setelah penyesuaian Rp36,120,000
Pembobotan 45%

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


84 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penilaian Barang Milik Daerah

B. Pendekatan Biaya.
Sebuah BMD berupa bangunan akan dinilai dengan menggunakan pendekatan biaya, contoh data
ini berupa cuplikan data dan dimisalkan telah diperoleh data bahwa suatu bangunan dengan biaya
sebagaimana yang telah ditetapkan sesuai dengan NJOP per m2 Rp1.200.000,00. Biaya ini telah dikaji
dan dianalisis berdasarkan perhitungan Pekerjaan Umum dan beberapa pembanding lainnya, misalnya
perusahaan pengembang. Maka perhitungan obyek penilaian sebagai berikut :

Bangunan Utama 250 x Rp1.200.000 Rp300.000.000,00


Taman 150 x Rp300.000 Rp.45.000.000,00
Perkerasan 100 x Rp100.000 Rp. 10.000.000,00
Nilai Sementara Rp 355.000.000,00

Apabila penyusutan diperhitungkan dengan metode garis lurus dan diperkirakan umur ekonomis
bangunan 50 tahun, padahal usia bangunan sampai saat ini (dibangun tahun 1995) adalah 8 tahun; maka
dihitung dengan cara prosentase = 8/50 x 100% = 16%. Maka penyusutan = 16% x Rp355.000.000,00 =
Rp56.800.000,00

Nilai Bangunan Sementara = Rp. 355.000.000,00


Penyusutan 16% x Rp355 juta = -Rp. 56.800.000,00
Nilai Indikasi Bangunan = Rp. 298.200.000,00

C. Pendekatan Pendapatan.
Sebuah gedung serbaguna seluas 2000 m2 berdiri di atas tanah seluas 3000 m2 disewakan untuk
umum. Tingkat kapitalisasi disesuaikan dengan bunga bank pada waktu itu sebesar 8% dan pembagian
keuntungan untuk manajer gedung 15% dari pendapatan bersih, maka berapakah nilai gedung serbaguna
tersebut? Berikut ini adalah data cuplikan untuk proses penilaian.

Tabel 7.4

1 Pendapatan sewa pada laporan Rp175.000.000,00


akuntansi
2 Tingkat kekosongan 25% x Rp175 juta (Rp43.750.000,00)
Pendapatan Kotor per tahun Rp131.250.000,00
3 Penghasilan lain-lain :
Keuntungan restoran Rp25.000.000,00
Sewa Toko 45.000.000,00
Sewa Ballroom 15.000.000,00
Rp85.000.000,00

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


85 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penilaian Barang Milik Daerah

Pendapatan Kotor per tahun Rp216.250.000,00


4 Biaya operasional :
Upah/Gaji Rp12.500.000,00
Bahan makanan/minuman 11.800.000,00
Penggantian/alat perlengkapan 7.500.000,00
Pemeliharaan dan maintenance 10.000.000,00
Listrik dan air 5.000.000,00
Administrasi 6.000.000,00
Bunga bank 10.000.000,00
Premi asuransi 550.000,00
PBB 8.500.000,00
Biaya yang harus dibayar Rp71.850.000,00
Pendapatan Rp144.400.000,00
Pembagian keuntungan bagi manajer=15% x Rp144.400.000 (21.660.000,00)
Nilai kapitalisasi yang diperkirakan Rp122.740.000,00
Jika nilai kapitalisasi 8%; 1/0.08 = 12.5
Maka nilai yang diestimaskan = 12.5 x Rp122.740.000,00 Rp1.534.250.000,0

7.5. Rangkuman
Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah merupakan serangkaian proses yang meliputi perencanaan
kebutuhan dan penganggaran, pengadaan, penggunaan, pemanfaatan, pemeliharaan dan
pengamanan, penilaian, penghapusan, pemindahtanganan, penatausahaan, pembinaan, pengawasan
dan pengendalian.

Penilaian adalah proses kegiatan yang dilakukan oleh penilai untuk memberikan suatu opini atas nilai
suatu obyek penilaian pada saat tertentu dalam rangka pengelolaan BMD. Nilai yang dihasilkan dari
kegiatan penilaian berupa nilai wajar, dimana istilah nilai wajar tersebut merupakan penyebutan istilah
nilai pasar dalam ilmu akuntansi.

Kegiatan penilaian dalam rangka pengelolaan BMD merupakan implementasi tindakan untuk mendukung
kepastian nilai, yaitu adanya ketepatan jumlah dan nilai Barang dalam rangka optimalisasi pemanfataan
dan pemindahtanganan BMD serta penyusunan Neraca Pemerintah Daerah. Metodologi yang lazim
digunakan dalam proses penilaian adalah pendekatan data pasar, pendekatan biaya, pendekatan
pendapatan.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


86 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penilaian Barang Milik Daerah

Latihan
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan pendekatan data pasar dalam penilaian BMD.
2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan pendekatan biaya dalam penilaian BMD.
3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan pendekatan pendapatan dalam penilaian BMD.
4. Jelaskan metode-metode yang terdapat dalam pendekatan data pasar.
5. Jelaskan jenis-jenis penyusutan yang merupakan akibat dari penggunaan BMD.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


87 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
TOPIK 8

PENGHAPUSAN BARANG
MILIK DAERAH
Penghapusan Barang Milik Daerah

Deskripsi:
Topik ini menjelaskan tentang penilaian, penghapusan Barang Milik Daerah (BMD)

Sub Topik Kata Kunci


Peserta mampu
menjelaskan dan
melakukan penghapusan Penghapusan
BMD.

Referensi:
Anonim, 2007. Modul 2; Penyusunan Rencana Pengadaan dan Pemeliharaan Aset/Barang Milik
Daerah, Lembaga Administrasi Negara dan Departemen Dalam Negeri.
Endarto, Yudowinarso, Teori Dasar Penilaian, STAN, 2012
Kemenkeu. 2010. Modul Pokok-Pokok Pengelolaan Barang Milik Daerah.
Murtaji, Penilaian Properti, STAN, 2010
Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah
Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah.
Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah;
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah
Peraturan Presiden (Perpres) No. 70 Tahun 2012, Perubahan Kedua atas Peraturan Presiden No. 54
Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/JasaPemerintah.
Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2007 Tentang Perubahan Ketujuh Atas Keputusan Pesiden
Nomor 80 Tahun 2003 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Permendagri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah;
Sumini, Penatausahaan Barang Milik Daerah, STAN, 2010
Sutaryo, Manajemen Aset Daerah,
http:sutaryofe.staff.uns.ac.id/files/2011/10/manajemen-aset-daerah.pdf (25 Juni 2013)
Tanda Setiya dan Rahmat Guntoro, Penilaian

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


89 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penghapusan Barang Milik Daerah

8.1. Dasar Penghapusan Barang Milik Daerah


Penghapusan adalah tindakan menghapus Barang Milik Daerah dari daftar barang dengan menerbitkan
surat keputusan dari pejabat yang berwenang untuk membebaskan pengguna dan/atau kuasa
pengguna dan/atau pengelola dari tanggung jawab administrasi dan fisik atas barang yang berada
dalam penguasaannya (Pasal 1 angka 24 Permendagri 17/2007).

Pada prinsipnya semua BMD dapat dihapuskan, yakni :


a. Penghapusan barang tidak bergerak berdasarkan pertimbangan/ alasan-alasan sebagai berikut:
1) rusak berat, terkena bencana alam/force majeure.
2) tidak dapat digunakan secara optimal (idle)
3) terkena planologi kota.
4) kebutuhan organisasi karena perkembangan tugas.
5) penyatuan lokasi dalam rangka efisiensi dan memudahkan koordinasi.
6) pertimbangan dalam rangka pelaksanaan rencana strategis Hankam.
b. Penghapusan barang bergerak berdasarkan pertimbangan/alasan-alasan sebagai berikut:
1) Pertimbangan Teknis, antara lain:
- secara fisik barang tidak dapat digunakan karena rusak dan tidak ekonomis bila diperbaiki.
- secara teknis tidak dapat digunakan lagi akibat modernisasi.
- telah melampaui batas waktu kegunaannya/kedaluwarsa.
- karena penggunaan mengalami perubahan dasar spesifikasi dan sebagainya.
- selisih kurang dalam timbangan/ukuran disebabkan penggunaan/susut dalam penyimpanan/
pengangkutan.
2) Pertimbangan Ekonomis, antara lain :
- Untuk optimalisasi BMD yang berlebih (idle).
- Secara ekonomis lebih menguntungkan bagi daerah apabila dihapus, karena biaya operasional
dan pemeliharaannya lebih besar dari manfaat yang diperoleh.
3) Karena hilang/kekurangan perbendaharaan atau kerugian, yang disebabkan :
- Kesalahan atau kelalaian Penyimpan dan/atau Pengurus Barang.
- Diluar kesalahan/kelalaian Penyimpan dan/atau Pengurus Barang.
- Mati, bagi tanaman atau hewan/ternak.
- Karena kecelakaan atau alasan tidak terduga (force majeure).

8.2. Wewenang Penghapusan Barang Milik Daerah


Penghapusan BMD berupa barang tidak bergerak seperti tanah dan/atau bangunan ditetapkan dengan
Keputusan Kepala Daerah setelah mendapat persetujuan DPRD, sedangkan untuk barang-barang
inventaris lainnya selain tanah dan/atau bangunan sampai dengan nilai sebesar Rp. 5.000.000.000,- (lima
milyar rupiah) dilakukan oleh Pengelola setelah mendapat persetujuan Kepala Daerah.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


90 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penghapusan Barang Milik Daerah

8.3. Kewajiban Pelaporan


Barang milik daerah yang rusak, hilang, mati (hewan dan tanaman), susut, berlebih dan
tidak efisien lagi supaya dilaporkan kepada Kepala Daerah melalui pengelola. Laporan tersebut harus
menyebutkan nama, jumlah barang, lokasi, nomor kode barang, nilai barang dan lain-lain yang diperlukan

8.4. Proses Penghapusan Barang Milik Daerah


Kepala Daerah membentuk Panitia Penghapusan BMD yang susunan personilnya terdiri dari unsur teknis
terkait. Tugas Panitia Penghapusan meneliti barang yang rusak, dokumen kepemilikan, administrasi,
penggunaan, pembiayaan, pemeliharaan/ perbaikan maupun data lainnya yang dipandang perlu. Hasil
penelitian tersebut dituangkan dalam bentuk Berita Acara dengan melampirkan data kerusakan, laporan
hilang dari kepolisian, surat keterangan sebab kematian dan lain-lain. Selanjutnya Pengelola mengajukan
permohonan persetujuan kepada Kepala Daerah mengenai rencana penghapusan barang dimaksud
dengan melampirkan Berita Acara hasil penelitian Panitia Penghapusan. Setelah mendapat persetujuan
Kepala Daerah, penghapusan ditetapkan dengan Surat Keputusan Pengelola atas nama Kepala Daerah,
juga menetapkan cara penjualan dengan cara lelang umum melalui Kantor Lelang Negara atau lelang
terbatas dan/atau disumbangkan/dihibahkan atau dimusnahkan.

Apabila akan dilakukan lelang terbatas, Kepala Daerah membentuk Panitia Pelelangan terbatas untuk
melaksanakan penjualan/pelelangan terhadap barang yang telah dihapuskan dari Daftar Inventaris BMD.
Khusus penghapusan untuk barang bergerak karena rusak berat dan tidak dapat dipergunakan lagi
seperti alat Kantor dan Alat Rumah Tangga yang sejenis termasuk kendaraan khusus lapangan seperti
Alat Angkutan berupa kendaraan Alat Berat, Mobil Jenazah, Truk, Ambulance atau kendaraan lapangan
lainnya ditetapkan penghapusannya oleh Pengelola setelah mendapat persetujuan Kepala Daerah.

8.5. Pelaksanaan Penghapusan Barang Milik Daerah


a. Penghapusan BMD dilakukan dalam hal barang tersebut sudah tidak berada dalam penguasaan
Pengguna Barang (mutasi).
b. Penghapusan BMD dilakukan dalam hal barang tersebut sudah tidak berada pada Daftar Barang
Daerah.
c. Penghapusan tersebut di atas dilakukan setelah mendapat persetujuan Kepala Daerah dan
penetapan oleh Pengelola atas nama Kepala Daerah.
d. Penghapusan barang daerah dengan tindak lanjut pemusnahan dilakukan apabila barang
dimaksud :
1) Tidak dapat digunakan, tidak dapat dimanfaatkan dan tidak dapat dipindahtangankan.
2) Alasan lain sesuai peratuan perundang-undangan.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


91 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penghapusan Barang Milik Daerah

8.6. Pelaksanaan Penghapusan Secara /Khusus


Penghapusan gedung milik daerah yang harus segera dibangun kembali (rehab total) sesuai dengan
peruntukan semula serta yang sifatnya mendesak dan membahayakan, penghapusannya ditetapkan
dengan Keputusan Kepala Daerah. Dalam keadaan bangunan yang membahayakan keselamatan jiwa
dapat dilakukan pembongkaran terlebih dahulu sambil menunggu Keputusan Kepala Daerah. Alasan-
alasan pembongkaran bangunan gedung dimaksud adalah :
a. Rusak berat yang disebabkan oleh kondisi konstruksi bangunan gedung sangat membahayakan
keselamatan jiwa dan mengakibatkan robohnya bangunan gedung tersebut.
b. Rusak berat yang disebabkan oleh bencana alam seperti gempa bumi, banjir, angin topan,
kebakaran dan yang sejenis.

8.7. Rangkuman
Penghapusan BMD adalah tindakan penghapusan barang Pengguna/Kuasa Pengguna dan penghapusan
dari Daftar Inventaris BMD dengan adanya Keputusan Kepala Daerah.

Penghapusan atas BMD dilakukan atas barang tidak bergerak dan barang bergerak yang didasarkan pada
pertimbangan atau alasan-alasan tertentu.

Barang milik daerah yang rusak, hilang, mati (hewan dan tanaman), susut, berlebih dan tidak efisien lagi
supaya dilaporkan kepada Kepala Daerah melalui pengelola. Laporan tersebut harus menyebutkan nama,
jumlah barang, lokasi, nomor kode barang, nilai barang dan lain-lain yang diperlukan.

Latihan
1. Sebutkan alasan-alasan dihapusnya sebuah BMD.
2. Gambarkan proses penghapusan BMD.
3. Sebutkan pihak-pihak yang terkait dalam penghapusan BMD.
4. Sebutkan alasan sebuah BMD yang dihapuskan akan dilanjutkan dengan pemusnahan.
5. Identifikasi apa sajakah yang harus dicantumkan dalam laporan penghapusan BMD

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


92 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penghapusan Barang Milik Daerah

Boks 8.1: Jaksa Tutup Kasus Pembongkaran Rumah Jabatan Bupati

Selasa, 13 November 2012 19:48 WIB

(TRIBUN KALTIM/NIKO RURU)


Bangunan utama rumah jabatan Bupati Nunukan di Jalan Ujang Dewa, Kecamatan Nunukan
Selatan yang dirobohkan sebelum pelepasan aset.

BANGKAPOS.COM, NUNUKAN -- Jaksa penyelidik dugaan korupsi kasus


pembongkaran rumah jabatan Bupati Nunukan di Jalan Ujang Dewa, Kecamatan
Nunukan Selatan, Selasa (13/11/2012) akhirnya menutup kasus tersebut.
Kepala Kejaksaan Negeri Nunukan Azwar, Selasa sore menjelaskan, penghapusan aset daerah
dimaksud tidak memenuhi unsur-unsur tindak pidana korupsi, dalam hal ini unsur merugikan
keuangan negara. Karena dalam proses pembongkaran rumah dinas dimaksud, sudah dalam
proses penghapusan. Hanya saja, prosesnya belum selesai, ujarnya kepada tribunkaltim.co.id.
Selain itu, material hasil pembongkaran rumah dinas masih dapat dijual secara lelang yang
hasilnya dapat disetorkan ke kas daerah. Kemudian tidak ada memenuhi unsur memperkaya
atau menguntungkan diri sendiri, orang lain atau suatu koorporasi. Karena memang dalam proses
pembongkaran rumah dinas Bupati dimaksud, tidak ada yang diperkaya atau diuntungkan, ujarnya.
Pihak atasan maupun pihak pengelola barang maupun kontraktor yang melakukan
pembongkaran tidak diuntungkan dari pembongkaran rumah jabatan dimaksud. Muhammad
Said memerintahkan pembongkaran. Dia selaku ketua sub panitia penghapusan Barang
Milik Daerah dan juga sebagai kuasa pengguna anggaran kegiatan pembangunan guest
house, dia juga tidak ada diuntungkan, ujarnya. Sehingga berdasarkan pengumpulan
data dari dokumen, keterangan beberapa pihak dan didukung pendapat ahli, Tim
Penyelidik Kejaksaan Negeri Nunukan berpendapat, penyelidikan kasus itu dihentikan.
Kita hentikan karena tidak ditemukan bukti permulaan yang cukup. Tidak tertutup
kemungkinan dibuka kembali apabila ditemukan bukti-bukti baru yang mendukung, katanya.
Diakui dalam penghapusan aset Pemkab Nunukan berupa satu unit rumah jabatan Bupati
Nunukan, memang terdapat cacat prosedur. Karena pembongkaran rumah jabatan itu

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


93 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penghapusan Barang Milik Daerah

tidak dilengkapi persetujuan penghapusan dari Bupati Nunukan dan SK penghapusan yang
diterbitkan pengelola barang dalam hal ini Sekretaris Kabupaten Nunukan. Pembongkaran rumah
jabatan ini melanggar PP Nomor 6/2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah.
Namun tidak ditemukan unsur korupsi dalam kasus tersebut. Terhadap pelanggaran prosedur
dimaksud, maka pihak yang bertanggungjawab terhadap pelanggaran itu dapat dijatuhi
hukuman administrasi berupa hukuman disiplin. Dan yang berwenang menjatuhkan hukuman
adalah atasan langsung. Harus ada yang bertanggungjawab, ujarnya

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


94 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
TOPIK 9

PEMINDAHTANGANAN
BARANG MILIK DAERAH
Pemindahtanganan Barang Milik Daerah

Deskripsi:
Topik ini menjelaskan tentang pemindahtanganan Barang Milik Daerah (BMD).

Sub Topik Kata Kunci


Peserta mampu
menjelaskan Pemindahtanganan
pemindahtanganan BMD.

Referensi:
Anonim, 2007. Modul 2; Penyusunan Rencana Pengadaan dan Pemeliharaan Aset/Barang Milik
Daerah, Lembaga Administrasi Negara dan Departemen Dalam Negeri.
Endarto, Yudowinarso, Teori Dasar Penilaian, STAN, 2012
Kemenkeu. 2010. Modul Pokok-Pokok Pengelolaan Barang Milik Daerah.
Murtaji, Penilaian Properti, STAN, 2010
Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah
Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah.
Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah;
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah
Peraturan Presiden (Perpres) No. 70 Tahun 2012, Perubahan Kedua atas Peraturan Presiden No. 54
Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/JasaPemerintah.
Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2007 Tentang Perubahan Ketujuh Atas Keputusan Pesiden
Nomor 80 Tahun 2003 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Permendagri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah;
Permendagri Nomor 52 Tahun 2012 tentang Pedoman Pengelolaan Investasi Daerah
Sumini, Penatausahaan Barang Milik Daerah, STAN, 2010
Sutaryo, Manajemen Aset Daerah,
http:sutaryofe.staff.uns.ac.id/files/2011/10/manajemen-aset-daerah.pdf (25 Juni 2013)
Tanda Setiya dan Rahmat Guntoro, Penilaian Barang Milik Daerah, Pusdiklat KNPK, BPPK, 2010
Undang-Undang Nomor.1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;
Undang-Undang Nomor.17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara,

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


96 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Pemindahtanganan Barang Milik Daerah

9.1. Pendahuluan
Pemindahtanganan BMD adalah pengalihan kepemilikan sebagai tindak lanjut dari penghapusan.
Pemindahtanganan BMD berupa tanah dan/atau bangunan dan selain tanah dan bangunan yang bernilai
lebih dari Rp. 5.000.000.000,- (lima milyar rupiah) ditetapkan dengan trantanah dan/atau bangunan yang
tidak memerlukan persetujuan DPRD apabila:
a. Sudah tidak sesuai dengan tata ruang wilayah atau penataan kota;
b. Harus dihapuskan karena anggaran untuk bangunan pengganti sudah disediakan dalam dokumen
penganggaran;
c. Diperuntukkan bagi pegawai negeri;
d. Diperuntukkan bagi kepentingan umum;
e. Dikuasai negara berdasarkan keputusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum
tetap dan/atau berdasarkan ketentuan perundang-undangan, yang jika status kepemilikannya
dipertahankan tidak layak secara ekonomis.

Bentuk-bentuk pemindahtanganan terdiri dari:


1. Penjualan dan Tukar Menukar;
2. Hibah;
3. Penyertaan modal

9.1.1. Penjualan dan Tukar Menukar


Penjualan Barang Milik Daerah dilakukan secara lelang melalui Kantor Lelang Negara setempat, atau
melalui Panitia Pelelangan Terbatas untuk BMD yang bersifat khusus yang dibentuk dengan Keputusan
Kepala Daerah, dan hasil penjualan/pelelangan tersebut disetor sepenuhnya ke Kas Daerah.Keanggotaan
Panitia Pelelangan/Penjualan barang tersebut dapat sama dengan keanggotaan Panitia Penghapusan.
Penjualan BMD yang dilakukan secara lelang meliputi barang bergerak dan barang tidak bergerak. Barang
bergerak seperti mobil ambulance, mobil pemadam kebakaran, mikro bus, derek, alat-alat berat, pesawat,
kendaraan diatas air dan jenis kendaraan untuk melayani kepentingan umum serta barang inventaris
lainnya. Barang yang tidak bergerak yaitu tanah dan/atau bangunan.

Mengingat prinsip pokok bahwa fungsi tanah yang dalam penguasaan Pemerintah Daerah harus
benar-benar dipergunakan secara tertib dan harus diamankan, yaitu jangan sampai menimbulkan
pertentangan dalam masyarakat, maka pelepasan hak atas tanah dan/atau bangunan harus jelas luas
tanah, lokasi dan nilainya.

Tanah yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah adalah tanah Negara yang telah diserahkan kepada
Pemerintah Daerah dalam bentuk Hak Pakai, atau Hak Pengelolaan, atau tanah berasal dari tanah rakyat
yang telah dibebaskan oleh Pemerintah Daerah dengan memberikan ganti rugi ataupun tanah lain yang
dikuasainya berdasarkan transaksi lain (sumbangan, hibah), sesuai dengan prosedur dan persyaratan
menurut ketentuan peraturan perundang-undangan.

Tanah dengan Hak Pakai atau Hak Pengelolaan dimaksud, diberikan berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan yakni instansi Badan Pertanahan Negara. Berdasarkan Keputusan pemberian
Hak Pakai atau Hak Pengelolaan tersebut, kepada instansi Badan Pertanahan Negara setempat perlu

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


97 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Pemindahtanganan Barang Milik Daerah

dimintakan sertifikat Hak Pakai atau Hak Pengelolaan atas nama Pemerintah Daerah. Pelepasan hak atas
tanah dan bangunan Pemerintah Daerah dikenal 2 (dua) cara, yakni melalui pelepasan yaitu dengan cara
pembayaran ganti rugi (dijual) dan dengan cara tukar menukar (ruilslagh/tukar guling). Tujuannya :
a. Untuk meningkatkan tertib administrasi pelaksanaan pelepasan hak atas tanah dan/atau bangunan
dengan cara ganti rugi atau dengan cara tukar menukar (ruilslag/tukar guling) dalam rangka
pengamanan BMD;
b. Mencegah terjadinya kerugian daerah; dan
c. Meningkatkan daya guna dan hasil guna BMD untuk kepentingan daerah sesuai dengan tugas dan
fungsinya.
Subyek pelepasan (ganti rugi atau tukar menukar/ruilslag/tukar guling) adalah pelepasan hak dengan
cara ganti rugi atau tukar menukar (ruilslag/tukar guling) dapat dilakukan antara Pemerintah dengan
Pemerintah Daerah, antar Pemerintah Daerah, antara Pemerintah Daerah dengan Swasta, BUMN/BUMD,
Koperasi, pegawai/perorangan, atau Badan Hukum lainnya. Alasan pelepasan hak (cara ganti rugi atau
cara tukar menukar/ruilslag/tukar guling) antara lain:
a. Terkena planologi;
b. Belum dimanfaatkan secara optimal (idle);
c. Menyatukan barang/aset yang lokasinya terpencar untuk memudahkan koordinasi dan dalam
rangka efisiensi;
d. Memenuhi kebutuhan operasional Pemerintah Daerah sebagai akibat pengembangan organisasi; dan
e. Pertimbangan khusus dalam rangka pelaksanaan rencana strategis Hankam.

Pelepasan dengan alasan tersebut di atas dilaksanakan karena dana untuk keperluan memenuhi
kebutuhan Pemerintah Daerah tidak tersedia dalam APBD. Motivasi/pertimbangan lainnya, yakni :
a. Disesuaikan dengan peruntukan tanahnya berdasarkan Rencana Umum Tata Ruang Kota/Wilayah
(RUTRK/W);
b. Membantu instansi Pemerintah diluar Pemerintah Daerah yang bersangkutan yang memerlukan
tanah untuk lokasi kantor, perumahan dan untuk keperluan pembangunan lainnya;
c. Tanah dan bangunan Pemerintah Daerah yang sudah tidak cocok lagi dengan peruntukan
tanahnya, terlalu sempit dan bangunannya sudah tua sehingga tidak efektif lagi untuk kepentingan
dinas dapat dilepas kepada Pihak Ketiga dengan Pembayaran ganti rugi atau cara tukar menukar
(ruilslag/tukar guling);
d. Untuk itu perlu diperhatikan:
1) Dalam hal tukar menukar (ruilslag/tukar guling) maka nilai tukar pada prinsipnya harus berimbang
dan lebih menguntungkan Pemerintah Daerah;
2) Apapun yang harus dibangun Pihak Ketiga di atas tanah tersebut harus seijin Pemerintah Daerah
agar sesuai dengan peruntukan tanahnya;
3) Dalam hal pelepasan hak dengan pembayaran ganti rugi, diperlukan surat pernyataan kesediaan
Pihak Ketiga untuk menerima tanah dan/atau bangunan itu dengan pembayaran ganti rugi
sesuai ketentuan yang berlaku;
4) Dalam hal pelepasan hak dengan tukar menukar (ruilslag/tukar guling), diperlukan Surat Perjanjian
Tukar Menukar antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, antar Pemerintah Daerah,
dan Pemerintah Daerah dengan Pihak Ketiga yang bersangkutan yang mengatur materi tukar
menukar, hak dan kewajiban masing-masing Pihak sesuai ketentuan yang berlaku.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


98 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Pemindahtanganan Barang Milik Daerah

e. Nilai Tanah dan/atau bangunan.


Nilai tanah dan/atau bangunan yang akan dilepaskan dengan ganti rugi atau dengan tukar
menukar (ruilslag/tukar guling) kepada Pihak Ketiga, sebagai berikut:
1) nilai ganti rugi tanah dapat ditetapkan dengan berpedoman pada harga dasar terendah atas
tanah yang berlaku setempat, untuk kavling perumahan, Pegawai Negeri, TNI, POLRI dan DPRD,
sedangkan untuk Instansi Pemerintah, Koperasi dan/atau Yayasan milik Pemerintah, dapat
ditetapkan dengan berpedoman pada Nilai Jual Objek Pajak dan/atau harga pasaran umum
setempat.
Nilai taksiran tanah untuk swasta harus ditetapkan dengan berpedoman pada harga umum
tanah dan berdasarkan NJOP yang berlaku setempat.
2) nilai bangunan ditaksir berdasarkan nilai bangunan pada saat pelaksanaan penaksiran dan
hasilnya dikurangi dengan nilai susut bangunan yang diperhitungkan jumlah umur bangunan
dikalikan dengan:
(1) 2 % untuk bangunan permanent;
(2) 4 % untuk bangunan semi permanent;
(3) 10 % untuk bangunan yang darurat.
Dengan ketentuan maksimal susutnya sebesar 80 % dari nilai taksiran (tidak dikenakan
potongan sebesar 50 % seperti pada penjualan rumah dinas daerah golongan 111 ).
3) Proses hak atas tanah dan bangunan.
a) Pembentukan Panitia Penaksir.
Kepala Daerah membentuk Panitia Penaksir yang bertugas meneliti bukti penguasaan atas
tanah dan/atau bangunan:
(1) meneliti kenyataan lokasi dan keadaan lingkungan tanah dan/atau bangunan tanah
tersebut, dihubungkan dengan rencana pelepasan hak atas tanah ditinjau dari segi sosial,
ekonomi, budaya dan kepentingan Pemerintah Daerah yang bersangkutan.
(2) menaksir besarnya nilai atas tanah dan/atau bangunan tersebut dengan berpedoman
pada harga dasar/umum/NJOP tanah yang berlaku setempat dan untuk bangunannya
sesuai tersebut pada huruf e angka 2) di atas;
(3) meneliti bonafiditas dan loyalitas calon pihak ketiga dan memberikan saran-saran kepada
Kepala Daerah; dan
(4) lain-lain keterangan yang dipandang perlu.
Hasil penelitian Panitia Penaksir tersebut dituangkan dalam bentuk Berita Acara.
b) Permohonan Persetujuan DPRD.
Pengelola menyiapkan surat permohonan Kepala Daerah kepada DPRD untuk mengajukan
permohonan persetujuan atas rencana pelepasan hak atas tanah dan/atau bangunan dengan
cara ganti rugi atau cara tukar menukar (ruilslag/tukar guling) dengan melampirkan Berita
Acara hasil penaksiran Panitia Penaksir.
c) Keputusan Kepala Daerah.
Berdasarkan persetujuan DPRD tersebut di atas selanjutnya ditetapkan Keputusan Kepala
Daerah tentang pelepasan hak atas tanah dengan ganti rugi atau tukar menukar. Pada
lampiran Keputusan Kepala Daerah tersebut di atas harus memuat data atas tanah dan/atau
bangunan yakni : Letak/alamat, Luas dan tahun perolehan, nama dan alamat Pihak Ketiga dan
besarnya nilai ganti rugi atau nilai tukar menukar tanah dan/atau bangunan tersebut.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


99 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Pemindahtanganan Barang Milik Daerah

d) Pelepasan hak atas tanah dan/atau bangunan dengan cara ganti rugi dilakukan dengan
pelelangan / tender dan apabila peminatnya hanya satu dilakukan dengan penunjukan
langsung dan dilakukan negosiasi harga yang dituangkan dalam Berita Acara.
e) Pelepasan hak atas tanah dan/atau bangunan dengan cara tukar menukar dilakukan langsung
dengan Pihak Ketiga (tidak dilakukan pelelangan/tender) dan dilakukan negosiasi harga yang
dituangkan dalam Berita Acara.
f) Teknis pelepasan hak atas tanah dan/atau bangunan:
(1) Perjanjian antara Pemerintah Daerah dengan Pihak Ketiga. Pelepasan hak atas tanah
dan/atau bangunan dengan cara tukar menukar (ruilslag) dimaksud harus diatur dalam
Surat Perjanjian Bersama antara Pemerintah Daerah dengan Pihak Ketiga. Dalam Surat
Perjanjian Bersama tersebut harus dicantumkan secara jelas mengenai data tanah dan/
atau bangunan, hak dan kewajiban kedua belah pihak, ketentuan mengenai sanksi dan
ketentuan lain yang dipandang perlu. Pelepasan hak atas tanah dan/atau bangunan
dengan cara pembayaran ganti rugi harus dilengkapi dengan Surat Pernyataan dari Pihak
Ketiga mengenai kesediaan menerima pelepasan tanah dan/atau bangunan tersebut
dengan pembayaran ganti rugi sesuai ketentuan yang berlaku yang dituangkan dalam
Berita Acara Serah Terima.
(2) Penghapusan tanah dan/atau bangunan dari Buku Inventaris.
(a) apabila mengenai tanah kapling untuk rumah pegawai, harus ditegaskan dalam
Keputusan Kepala Daerah tentang pelepasan hak Pemerintah Daerah atas tanah
tersebut dan menghapuskan tanah tersebut dari Buku Inventaris. Selanjutnya sertifikat
hak atas tanah bagi masingmasing pegawai yang bersangkutan baru dapat diproses
melalui Kantor Pertanahan setempat.
(b) apabila mengenai tanah dimaksud pada huruf a di atas, maka sertifikat atas tanah
yang dilepaskan kepada Pihak Ketiga dapat diselesaikan melalui Kantor Pertanahan
setempat berdasarkan Keputusan Kepala Daerah yang bersangkutan tentang
pelepasan hak atas tanah dan/atau bangunan Pemerintah Daerah dimaksud dan
menghapuskan tanah dan/atau bangunan tersebut dari Buku Inventaris.
g. Penjualan Kendaraan Dinas dan Rumah Golongan III.
1) Kendaraan Perorangan Dinas
a) kendaraan perorangan dinas yang dapat dijual adalah kendaraan perorangan dinas
yang dipergunakan oleh Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah;
b) umur kendaraan perorangan dinas yang dapat dijual sudah dipergunakan selama 5
(lima) tahun dan/atau lebih, sudah ada pengganti dan tidak mengganggu kelancaran
pelaksanaan tugas;
c) yang berhak membeli kendaraan perorangan dinas sebagaimana dimaksud pada
huruf a) adalah Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang telah mempunyai masa
jabatan 5 (lima) tahun atau lebih dan belum pernah membeli kendaraan perorangan
dinas dari pemerintah dalam tenggang waktu 10 (sepuluh) tahun;
d) permohonan membeli Kendaraan perorangan dinas. Penjualan Kendaraan
perorangan dinas didasarkan surat permohonan dari yang bersangkutan.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


100 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Pemindahtanganan Barang Milik Daerah

e) pembentukan Panitia Penjualan Kendaraan. Untuk melaksanakan penelitian atas


kendaraan yang dimohon untuk dibeli, Kepala Daerah dengan Surat Keputusan
membentuk Panitia Penjualan Kendaraan Perorangan Dinas. Panitia penjualan
kendaraan meneliti dari segi administratif/pemilikan Kendaraan, keadaan fisik,
kemungkinan mengganggu kelancaran tugas dinas, efisiensi penggunaannya, biaya
operasional, nilai jual kendaraan, persyaratan pejabat pemohon dan lain-lain yang
dipandang perlu. Hasil penelitian Panitia Kendaraan tersebut dituangkan dalam
bentuk Berita Acara.
f) Pelaksanaan penjualan kendaraan perorangan Dinas.
(1) penjualan kendaraan perorangan dinas milik Pemerintah Daerah, persyaratan
administratif yang harus dipenuhi, yakni :
- keputusan pengangkatan pertama sebagai Kepala Daerah dan Wakil Kepala
Daerah;
- surat pernyataan belum pernah membeli kendaraan perorangan dinas dalam
tenggang waktu 10 (sepuluh) tahun;
- hasil penelitian panitia penjualan.
- harga jual kendaraan perorangan dinas ditentukan sebagai berikut:
a. kendaraan perorangan dinas yang telah berumur 5 sampai dengan 7
tahun, harga jualnya adalah 40 % (empat puluh persen ) dari harga umum/
pasaran yang berlaku;
b. kendaraan perorangan dinas yang telah berumur 8 tahun atau lebih,
harga jualnya 20 % (dua puluh persen) dari harga umum /pasaran yang
berlaku.
(2) Kepala Daerah menetapkan keputusan penjualan kendaraan perorangan dinas
dengan lampiran Keputusan yang memuat antara lain:
a. Nama dan jabatan pembeli;
b. Data mengenai kendaraan;
c. Biaya perbaikan selama 1 (satu) tahun terakhir;
d. Harga jual sesuai dengan peraturan perundang-undangan;
e. Harga yang ditetapkan;
f. Jumlah harga yang harus dibayar pembeli.
(3) Pelaksanaan teknis penjualan kendaraan perorangan dinas. Setelah penetapan
penjualan kendaraan perorangan dinas selanjutnya:
a. dibuat Surat Perjanjian Sewa Beli Kendaraan Perorangan Dinas yang
ditandatangani oleh Pengelola atas nama Kepala Daerah;
b. apabila ada biaya perbaikan selama 1 (satu) tahun terakhir atas kendaraan
tersebut, maka biaya dimaksud harus dibayar lunas sekaligus oleh pembeli
sebelum Surat Perjanjian ditandatangani;
c. surat perjanjian sewa beli harus memuat :

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


101 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Pemindahtanganan Barang Milik Daerah

- besarnya cicilan bulanan atas harga jual kendaraan dimaksud dengan


ketentuan harus sudah dilunasi paling lambat dalam waktu 5 (lima) tahun;
- apabila dilunasi dalam waktu kurang dari 1 (satu) tahun, maka balik nama
atas kendaraan tersebut dapat dilaksanakan;
- selama belum dilunasi kendaraan perorangan dinas tersebut tetap
tercatat sebagai barang inventaris milik pemerintah daerah.
d. dalam hal kendaraan tersebut masih dipergunakan untuk kepentingan dinas,
maka untuk biaya oli dan BBM dapat disediakan pemerintah daerah sepanjang
memungkinkan.
e. semua harga jual dan biaya perbaikan selama 1 (satu) tahun terakhir
merupakan penerimaan Pemerintah Daerah dan harus disetor ke Kas Daerah.
f. setelah harga jual kendaraan perorangan dinas dilunasi, maka dikeluarkan
Keputusan Kepala Daerah yang menetapkan:
- Pelepasan hak pemerintah daerah atas Kendaraan Perorangan Dinas
tersebut kepada pembelinya; dan
- Menghapuskan Kendaraan Perorangan Dinas dari Buku Inventaris
Pemerintah Daerah.
g. Berdasarkan Keputusan Kepala Daerah dimaksud pada angka f) di atas,
pejabat pembeli Kendaraan Perorangan Dinas dapat melakukan Balik Nama
Kendaraan tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
h. Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah baru diberikan hakuntuk membeli
lagi kendaraan perorangan dinas setelah jangka waktu 10 (sepuluh) tahun
sejak saat pembeliannya yang pertama.
2) Kendaraan Dinas Operasional.
a) Kendaraan dinas operasional yang telah dihapus dari Daftar Inventaris BMD
dapat dijual melalui pelelangan baik pelelangan umum dan/atau pelelangan
terbatas;
b) Kendaraan dinas operasional yang dapat dihapus dari Daftar Inventaris BMD
yang telah berumur 5 (lima) tahun lebih;
c) Penghapusan kendaraan dinas operasional walaupun batasan usianya telah
ditetapkan, harus tetap memperhatikan kelancaran pelaksanaan tugas dan/
atau sudah ada penggantinya;
d) Kendaraan dinas operasional yang dapat dihapus dari Daftar Inventaris terdiri
dari:
- Jenis sedan, jeep, station wagon, minibus dan pickup;
- Jenis kendaraan bermotor beroda 2 (dua), (sepeda motor dan scooter);
- Jenis Kendaraan Dinas operasional khusus terdiri dari mobil Ambulans,
mobil pemadam kebakaran, bus, mikro bus, truck, alat-alat besar, pesawat,
dan kendaraan diatas air.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


102 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Pemindahtanganan Barang Milik Daerah

e) Permohonan penghapusan kendaraan dinas operasional.


Pengguna/kuasa pengguna barang mengajukan usul penghapusan
kendaraan dinas operasional yang telah memenuhi persyaratan umur
kendaraan kepada Kepala Daerah melalui pengelola.
f) Pembentukan Panitia Penghapusan.
Untuk melaksanakan penelitian atas kendaraan yang dimohon untuk
dihapus, Kepala Daerah dengan Surat Keputusan membentuk Panitia
Penghapusan Kendaraan Dinas Operasional. Panitia penghapusan kendaraan
dinas operasional meneliti dari segi administratif/pemilikan kendaraan,
keadaan fisik, kemungkinan mengganggu kelancaran tugas dinas, efisiensi
penggunaannya, biaya operasional, nilai jual kendaraan, dan lain-lain yang
dipandang perlu. Hasil penelitian Panitia Penghapusan tersebut dituangkan
dalam bentuk Berita Acara. Apabila memenuhi persyaratan, Kepala Daerah
menetapkan keputusan tentang penghapusan kendaraan dinas operasional.
g) Pelaksanaan Penjualan/Pelelangan:
- Setelah dihapus dari daftar inventaris, pelaksanaan penjualannya dapat
dilakukan melalui pelelangan umum atau pelelangan terbatas;
- Pelelangan umum dilaksanakan melalui kantor lelang negara;
- Pelelangan terbatas dilaksanakan oleh panitia pelelangan terbatas yang
ditetapkan dengan keputusan kepala daerah;
- Yang dapat mengikuti pelelangan terbatas terhadap kendaraan dinas
operasional yaitu Pejabat/Pegawai Negeri Sipil yang telah mempunyai
masa kerja 10 (sepuluh) tahun dengan prioritas pejabat/pegawai
yang akan memasuki masa pensiun dan pejabat/pegawai pemegang
kendaraan dan/atau pejabat/pegawai yang lebih senior dan Ketua dan
Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang telah mempunyai
masa bhakti 5 (lima) tahun.
- Dalam tenggang waktu 10 (sepuluh) tahun pejabat/pegawai, Ketua/Wakil
Ketua DPRD dapat mengikuti pelelangan terbatas kembali sejak saat
pembeliannya yang pertama.
- Kendaraan dinas operasional yang dapat dilakukan penjualan/ pelelangan
terbatas; jenis sedan, jeep, station wagon, minibus, pick up dan jenis
kendaraan bermotor beroda 2 (dua);
- Kendaraan dinas operasional khusus lapangan (bus, pemadam kebakaran,
ambulance, truck, alat-alat berat, dlsb), penjualan/ pelelangannya
dilakukan melalui pelelangan umum atau pelelangan terbatas;
- Hasil penjualan/pelelangan disetor ke kas daerah.
3) Rumah Dinas Daerah.
a) Rumah dinas milik daerah dibedakan dalam 3 (tiga) golongan yakni :

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


103 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Pemindahtanganan Barang Milik Daerah

- Rumah daerah golongan I adalah rumah milik daerah yang disediakan


untuk ditempati oleh pemegang jabatan tertentu yang berhubungan
dengan sifat dinas dan jabatannya, harus tinggal di rumah tersebut
(rumah jabatan);
- Rumah daerah golongan II adalah rumah milik daerah yang tidak boleh
dipindah-tangankan dari suatu dinas ke dinas yang lain dan hanya
disediakan untuk ditempati oleh pegawai dari Dinas yang bersangkutan
(rumah Instansi);
- Rumah daerah golongan III adalah rumah milik daerah lainnya (rumah
milik daerah yang disediakan untuk ditempati oleh Pegawai Negeri), tidak
termasuk rumah daerah golongan I dan Golongan II tersebut di atas.
b) Rumah daerah golongan III milik daerah dapat dijual/disewa belikan kepada
pegawai.
- Rumah milik daerah yang dapat dijual/disewa belikan kepada pegawai,
hanya rumah daerah golongan III dan rumah daerah golongan II yang
telah dirubah golongannya menjadi rumah dinas golongan III yang
permanen, semi permanen dan darurat, yang telah berumur 10 (sepuluh)
tahun atau lebih. Penentuan rumah daerah golongan III ditetapkan
dengan Keputusan Kepala Daerah.
- Rumah dinas milik daerah yang tidak dapat dijual yaitu:
(1) Rumah Daerah Golongan I;
(2) Rumah Daerah Golongan II, kecuali yang telah dialihkan menjadi
Rumah Daerah Golongan III;
(3) Rumah Daerah Golongan III yang masih dalam sengketa;
(4) Rumah Daerah Golongan III yang belum berumur 10 (sepuluh) tahun.
Yang berhak membeli Rumah Daerah Golongan III.
1. Pegawai Negeri
mempunyai masa kerja sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) tahun;
memiliki Surat Ijin Penghunian (SIP);
Surat Ijin Penghunian ditandatangani oleh pengelola atas nama
Kepala Daerah;
Belum pernah dengan jalan/cara apapun memperoleh/
membeli rumah dari Pemerintah berdasarkan peraturan
perundang-undangan.
2. Pensiunan Pegawai Negeri :
Menerima pensiunan dari Negara / Pemerintah;
Memiliki Surat Ijin Penghunian ( SIP);
Belum pernah dengan jalan/cara apapun memperoleh/ membeli
rumah dari Pemerintah berdasarkan peraturan perundang-
undangan.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


104 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Pemindahtanganan Barang Milik Daerah

(3) Janda/Duda Pegawai Negeri :


a. masih menerima tunjangan pensiun dari Negara/Pemerintah,
adalah :
almarhum suaminya/isterinya sekurang-kurangnya mempunyai
masa kerja 10 (sepuluh) tahun pada Pemerintah, atau
masa kerja almarhum suaminya/ isterinya ditambah dengan
jangka waktu sejak yang bersangkutan menjadi janda/duda
berjumlah sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) tahun.
b. memiliki Surat Ijin Penghunian (SIP).
c. almarhum suaminya/isterinya belum pernah dengan jalan/
cara apapun memperoleh/ membeli rumah dari Pemerintah
berdasarkan peraturan Perundangundangan.
(4) Janda/Duda Pahlawan, yang suaminya/isterinya dinyatakan sebagai
Pahlawan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan:
Masih menerima tunjangan pensiunan dari Pemerintah.
Memiliki Surat Ijin Penghunian (SIP).
Almarhum suaminya/isterinya belum pernah dengan jalan/
cara apapun memperoleh/membeli rumah dari Pemerintah
berdasarkan peraturan perundangundangan.
(5) Pejabat Negara/Daerah atau janda/duda Pejabat Negara/ Daerah :
masih berhak menerima tunjangan pensiun dari Pemerintah;
memiliki Surat Ijin Penghunian (SIP);
almarhum suaminya/isterinya belum pernah dengan jalan/
cara apapun memperoleh/membeli rumah dari Pemerintah
berdasarkan peraturan perundangundangan.
(6) apabila penghuni rumah Daerah Golongan III sebagaimana dimaksud
pada angka 1) s/d 5) meninggal dunia, maka pengajuan permohonan
pengalihan hak/membeli atas rumah dimaksud dapat diajukan oleh
anak yang sah dari penghuni yang bersangkutan.
c) Pengalihan hak atas Rumah Daerah Golongan III sebagaimana dimaksud
angka (1) s/d (6) tersebut di atas dilakukan dengan cara Sewa Beli. Taksiran
harga rumah Daerah Golongan III berpedoman pada nilai biaya yang
digunakan untuk pembangunan rumah yang bersangkutan pada waktu
penaksiran dikurangi penyusutan menurut umur bangunan/rumah :
(1) 2 % setiap tahun untuk permanent;
(2) 4 % setiap tahun untuk semi permanen;
(3) 10 % setiap tahun untuk darurat;
Dengan ketentuan setinggi-tingginya (maksimal) penyusutan 80 % atau
nilai sisa bangunan/rumah minimal 20 %. Harga rumah dan tanahnya

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


105 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Pemindahtanganan Barang Milik Daerah

ditetapkan sebesar 50 % (lima puluh persen) dari harga taksiran dan penilaian
yang dilakukan oleh Panitia. Pembayaran harga rumah dilaksanakan secara
angsuran/cicilan, yakni:
(1) pembayaran angsuran pertama paling sedikit 5 % (lima persen) dari harga
yang ditetapkan dan harus dibayar penuh pada saat perjanjian sewa beli
ditandatangani.
(2) pembayaran angsuran terhadap sisa pembayaran dilaksanakan paling
lama 20 (dua puluh) tahun.
d) Permohonan membeli Rumah Daerah Golongan III.
Penjualan Rumah Daerah Golongan III tidak dapat diproses sebelum adanya
Peraturan Daerah yang mengatur penjualan rumah daerah golongan III atau
diatur dalam Peraturan Daerah tentang Pengelolaan BMD.
Proses pelaksanaan penjualan Rumah Daerah Golongan III didasarkan atas
permohonan dari Pegawai Negeri yang telah mendapat persetujuan dari
atasan langsungnya, dan janda/duda sebagai dimaksud pada huruf c) di atas.
e) Pengelola mengkoordinir permohonan pembelian rumah Daerah Golongan
III dan secara periodik melaporkan kepada Kepala Daerah.
(1) Setelah mendapat persetujuan dari kepala Daerah, maka segera dibentuk
Panitia Penaksir dan Panitia Penilai.
Susunan Panitia Penaksir dan Panitia Penilai melibatkan unsur teknis
terkait.
Susunan Personalia kedua panitia tersebut tidak boleh dirangkap
dan diusahakan agar anggota-anggota Panitia Penilai, baik jabatan
maupun pangkatnya lebih tinggi dari pada Personalia Panitia Penaksir.
(2) Tugas Panitia Penaksir adalah meneliti dari segi antara lain:
Pembangunan dan pemilikan rumah dan/atau tanahnya;
Keadaan fisik rumah;
Perbaikan-perbaikan yang telah dilaksanakan;
Ijin penghunian;
Persyaratan personil pegawai dari segi masa kerja, pernah/belum
membeli rumah pemerintah dengan cara apapun;
Menaksir harga rumah dan ganti rugi atas tanahnya disesuaikan
dengan keadaan pada saat penaksiran termasuk perbaikan-perbaikan
yang telah dilakukan atas biaya pemerintah daerah. Apabila ada
penambahan dan/atau perbaikan dilakukan oleh dan atas beban
penghuni sendiri tidak diperhitungkan.
Lain-lain yang dipandang perlu. Hasil penelitian penaksiran tersebut
dituangkan dalam bentuk Berita Acara hasil penaksiran.
Tugas panitia Penilai adalah untuk menilai hasil Penaksiran Panitia

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


106 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Pemindahtanganan Barang Milik Daerah

Penaksir tersebut di atas. Hasil penilaian Panitia Penilai dituangkan


dalam bentuk Berita Acara.
Apabila hasil penaksiran Panitia Penaksir dan hasil penilaian
Panitia Penilai tidak sama (tidak sepakat) maka yang menetapkan/
memutuskan harga taksiran tersebut adalah pengelola.
f) Keputusan Kepala Daerah.
Dengan telah terpenuhinya semua persyaratan yang diperlukan yaitu:
(1) Berita Acara hasil penaksiran Panitia Penaksir dan Berita Acara hasil
penilaian Panitia Penilai;
(2) Persyaratan - persyaratan administrasi dan pejabat/pegawai pembeli.
Selanjutnya penjualan rumah Daerah golongan III dan/atau ganti rugi
atas tanah bangunannya, ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah.
Dalam Keputusan penjualan rumah Daerah Golongan III harus dengan
tegas menetapkan penjualan rumah Daerah golongan III dan termasuk
tanah bangunannya atau rumahnya saja atau tanahnya saja, kepada
masing-masing pegawai, dengan mencantumkan pula jabatannya. Selain
itu harus pula ditegaskan Pelaksanaan penjualannya diatur dalam Surat
Perjanjian Sewa Beli.
g) Surat Perjanjian Sewa Beli.
Setelah dikeluarkan Keputusan Kepala Daerah tentang penjualan rumah
golongan III, dibuat Surat Perjanjian Sewa Beli rumah dan ganti rugi atas
tanahnya yang ditandatangani oleh Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjuk
sebagai Pihak ke I dan masing-masing pegawai/pembeli sebagai pihak ke II.
Sebelum Surat Perjanjian ditandatangani, pembeli harus melunasi minimum 5
% dari harga jual rumah beserta tanahnya/ganti rugi atas tanahnya yang telah
ditetapkan dan disetor ke Kas Daerah sebagai penerimaan Daerah. Dalam
Surat Perjanjian tersebut harus dicantumkan besarnya angsuran bulanan
yang sama terhadap sisa harga yang belum dilunasi. Waktu pelunasan seluruh
harga jualnya dilaksanakan paling lama 20 (dua puluh) tahun. Apabila dilunasi
dalam waktu yang lebih cepat, maka dapat dilakukan Pelepasan hak. Selain itu
dalam Surat Perjanjian tersebut harus dicantumkan pula persyaratan lainnya
yang dipandang perlu mengenai sanksi yang dapat dikenakan apabila terjadi
kelalaian atau pelanggaran atas ketentuan yang berlaku.
h) Pelepasan hak dan penghapusan dari Buku Inventaris.
Setelah pegawai yang bersangkutan melunasi harga rumah dan/atau ganti
rugi atas tanah maka Kepala Daerah menetapkan Keputusan tentang :
(1) Pelepasan hak Pemerintah Daerah atas rumah dan/atau tanah
bangunannya yang telah dijual kepada pembeli.
(2) Menetapkan penghapusan rumah dan/atau tanah bangunannya dari
Buku Inventaris kekayaan milik Pemerintah Daerah.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


107 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Pemindahtanganan Barang Milik Daerah

Berdasarkan Keputusan Kepala Daerah tersebut di atas, maka atas hak


sertifikat atas tanah bangunan dapat dimohon oleh pegawai yang
bersangkutan untuk mendapatkan sesuatu hak pada Instansi Pertanahan
setempat.

9.1.2. Hibah

a. Umum
1) Pertimbangan pelaksanaan hibah BMD dilaksanakan untuk kepentingan sosial, keagamaan,
kemanusiaan, dan penyelenggaraan pemerintahan, sebagai berikut:
a) Hibah untuk kepentingan sosial, keagamaan dan kemanusiaan misalnya untuk kepentingan
tempat ibadah, pendidikan, kesehatan dan sejenisnya; dan
b) Hibah untuk kepentingan penyelenggaraan pemerintahan yaitu hibah antar tingkat Pemerintahan
(Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah dan antar Pemerintah Daerah).
2) Barang milik daerah yang dapat dihibahkan harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a) Bukan merupakan barang rahasia negara/daerah;
b) Bukan merupakan barang yang menguasai hajat hidup orang banyak;
c) Tidak digunakan lagi dalam penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi dan penyelenggaraan
pemerintahan negara/daerah.
3) Kepala Daerah menetapkan BMD berupa tanah dan/atau bangunan yang akan dihibahkan sesuai
batas kewenangannya.
4) Hibah BMD berupa tanah dan/atau bangunan yang telah diserahkan kepada pengelola yang sejak
awal pengadaaannya direncanakan untuk dihibahkan sesuai yang tercantum dalam dokumen
penganggaran, dilaksanakan setelah mendapat persetujuan Kepala Daerah;
5) Hibah BMD selain tanah dan/atau bangunan dilakukan oleh pengguna barang setelah mendapat
persetujuan oleh pengelola;
6) Hibah BMD selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai sampai dengan Rp5.000.000.000,- (lima
milyar rupiah) dilaksananakan oleh Kepala Daerah tanpa persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah.

b. Tata Cara
1) Pengelola barang mengajukan usul hibah atas tanah dan/atau bangunan kepada Kepala Daerah
disertai dengan penjelasan serta kelengkapan data;
2) Kepala Daerah dapat membentuk Tim untuk meneliti dan mengkaji terhadap rencana pelaksanaan
hibah dengan memperhatikan kepentingan sosial, keagamaan, kemanusiaan dan penyelenggaraan
pemerintahan;
3) Apabila Kepala Daerah menyetujui atas usul hibah tersebut, maka Kepala Daerah mengajukan
permohonan kepada DPRD untuk pelaksanaan hibah/pemindahtanganan tanah dan/atau bangunan
tersebut;
4) Setelah mendapat persetujuan DPRD, ditindak lanjuti dengan Surat Keputusan Penghapusan tanah
dan/atau bangunan dimaksud dan dituangkan dalam Berita Acara Hibah;

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


108 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Pemindahtanganan Barang Milik Daerah

5) Pengguna mengajukan usul hibah selain tanah dan/atau bangunan kepada Kepala Daerah melalui
pengelola disertai dengan penjelasan serta kelengkapan data.
6) Kepala Daerah dapat membentuk tim untuk meneliti dan mengkaji terhadap rencana hibah tersebut.
7) Setelah mendapat persetujuan Kepala Daerah ditindaklanjuti dengan keputusan yang ditandatangani
oleh pengelola atas nama Kepala Daerah. Selanjutnya pengguna barang melaksanakan serah terima
barang/hibah yang dituangkan dalam berita acara.

9.1.3. Penyertaan Modal Pemerintah Daerah

a. Umum
1) Penyertaan modal pemerintah daerah atas BMD dilakukan dalam rangka pendirian, pengembangan,
dan peningkatan kinerja Badan Usaha Milik Daerah atau badan hukum lainnya yang dimiliki oleh
Pemerintah dan swasta;
2) Pertimbangan penyertaan modal daerah dilaksanakan atas BMD yang sejak awal pengadaaannya
direncanakan untuk penyertaan modal dan BMD akan lebih optimal apabila dilakukan melalui
penyertaan modal.
3) Penyertaan modal Pemerintah Daerah dilaksanakan terhadap tanah dan/atau bangunan yang telah
diserahkan oleh pengguna kepada Kepala Daerah atau terhadap tanah dan/atau bangunan yang
sejak awal direncanakan untuk penyertaan modal.
4) Penyertaan modal pemerintah daerah dapat juga dilakukan terhadap BMD selain tanah dan/atau
bangunan.
5) Kepala Daerah menetapkan BMD berupa tanah dan/atau bangunan yang akan dijadikan untuk
penyertaan modal daerah sesuai batas kewenangannya.

b. Tata Cara Pelaksanaan Penyertaan Modal Daerah atas Tanah dan/atau Bangunan.
1) Pengelola mengajukan usul penyertaan modal Pemerintah Daerah atas tanah dan/atau bangunan
kepada Kepala Daerah disertai alasan pertimbangan serta kelengkapan data;
2) Kepala Daerah membentuk Tim untuk meneliti dan mengkaji usul yang disampaikan oleh pengelola;
3) Apabila Kepala Daerah menyetujui atas rencana penyertaan modal tersebut, selanjutnya Kepala Daerah
mengajukan permohonan persetujuan kepada DPRD untuk menghapus/memindahtangankan aset
tersebut yang akan dijadikan sebagai penyertaan modal;
4) Setelah mendapat persetujuan DPRD, Kepala Daerah menetapkan penghapusan terhadap aset tersebut,
selanjutnya pengelola menyiapkan rancangan Peraturan Daerah tentang Penyertaan Modal Daerah;
5) Setelah Peraturan Daerah ditetapkan, selanjutnya dilakukan penyerahan barang dengan Berita Acara
Serah Terima kepada pihak ketiga selaku mitra penyertaan modal daerah;
6) Pelaksanaan penyertaan modal sesuai peraturan perundangundangan.

c. Tata Cara Penyertaan selain tanah dan/atau bangunan.


1) Pengguna barang mengajukan usul kepada Kepala Daerah melalui pengelola disertai alasan
pertimbangan dan kelengkapan data dan hasil kajian Tim intern Instansi pengguna.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


109 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Pemindahtanganan Barang Milik Daerah

2) Pengelola melakukan penelitian dan pengkajian dan apabila memenuhi syarat, pengelola
dapat mempertimbangkan untuk menyetujui usul dimaksud sesuai batas kewenangannya.
3) Hasil penelitian dan kajian tersebut di atas, pengelola menyampaikan kepada Kepala Daerah
dan apabila Kepala Daerah menyetujui, selanjutnya pengelola menyiapkan rancangan
Peraturan Daerah dan disampaikan kepada DPRD.
4) Setelah Perda ditetapkan, pengguna melakukan penyerahan barang kepada pihak ketiga
dan dituangkan dalam Berita Acara Serah Terima.

9.1.4. Laporan Pemindahtanganan


Pemindahtanganan yang meliputi penjualan, tukar-menukar, hibah dan penyertaan modal, Kepala
Daerah melaporkan kepada Menteri Dalam Negeri selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari setelah
ditetapkan Keputusan Penghapusan.

9.2. Rangkuman
Pemindahtanganan BMD adalah pengalihan kepemilikan sebagai tindak lanjut dari penghapusan.
Pemindahtanganan BMD berupa tanah dan/atau bangunan dan selain tanah dan bangunan yang
bernilai lebih dari Rp. 5.000.000.000,- (lima milyar rupiah) ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah
setelah mendapat persetujuan DPRD.

Adapun bentuk-bentuk dari pemindahtanganan BMD adalah penjualan dan tukar menukar, hibah, dan
penyertaan modal. Atas pemindahtanganan BMD tersebut, maka harus dilakukan pelaporan kepada
Menteri Dalam Negeri selambatnya 15 hari setelah ditetapkan Keputusan Penghapusan.

Latihan
1. Sebutkan alasan dilepaskannya sebuah BMD.
2. Apa tolok ukur nilai ganti rugi tanah.
3. Berapa tarif untuk menghitung nilai susut bangunan bangunan permanen, bangunan semi
permanen, dan untuk bangunan yang darurat.
4. Sebutkan alasan-alasan dilakukannya hibah atas sebuah BMD.
5. Apa tujuan dilakukannya penyertaan modal.
6. Sebutkan pihak-pihak yang terkait dengan dilakukannya penyertaan modal.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


110 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Pemindahtanganan Barang Milik Daerah

Boks 9.1 Pemkot Malang Tidak Akan Melepas Tanah Bengkok

Selasa, 21 Januari 2014 20:15 WIB

SURYA Online, MALANG Wali Kota Malang, M Anton, Pemkot tidak akan melepaskan aset
tanah bengkok di Kelurahan Buring, Kecamatan Kedungkandang, ke mantan anggota DPRD Kota
Malang periode 1992-1997. Menurutnya, dalam aturan tidak diperbolehkan melepaskan aset milik
pemerintah daerah.

Tetapi sayang, Abah Anton tidak menyebutkan aturan yang melarang pelepasan tanah bengkok
tersebut. Tidak. Kami tidak akan melepaskan aset tanah itu. Dalam aturan memang tidak boleh,
kata Abah Anton, Selasa (21/1/2014).

Dikatakannya, pemkot sudah mengecek tanah bengkok yang diperebutkan oleh mantan anggota
DPRD Kota Malang tersebut. Saat ini, kondisi tanah bengkok itu hanya ditanami berbagai jenis
pohon. Menurutnya, suatu saat jika Pemkot Malang butuh pengembangan pembangunan, tanah
itu akan difungsikan.

Sekarang memang belum dibutuhkan, tapi suatu saat pasti Pemkot memanfatkan tanah
tersebut, ujarnya.

Ketua Komisi A DPRD Kota Malang, Arief Wahyudi, mengatakan, seharusnya posisi tanah tersebut
sudah lepas dari aset Pemkot Malang setelah ada surat keputusan (SK) pelepasan tanah yang
dikeluarkan dua wali kota sebelumnya. Jika pemkot membatalkan pelepasan tanah itu, maka hak-
hak yang dikeluarkan mantan anggota DPRD harus dikembalikan.

Mereka (mantan anggota DPRD) sudah mengeluarkan biaya sebagai ganti rugi untuk kepemilkan
lahan tersebut. Maka Pemkot harus mengembalikannya jika membatalkan proses pelepasan
tanah tersebut, katanya.

Sebelumnya, mantan anggota DPRD Kota Malang, periode 1992-1997, mempertanyakan aset
tanah bengkok Kelurahan Buring, yang diberikan Pemkot Malang kepada 45 anggota dewan
periode tersebut. Perwakilan mantan anggota DPRD tersebut meminta kepastian hukum ke
komisi A DPRD Kota Malang, untuk memperjuangkan hak mereka, Senin (20/1/2014).

Perwakilan mantan anggota DPRD, Agus Soekamto, menceritakan awal mula pemberian aset
tanah tersebut ke dewan. Awalnya, anggota DPRD periode 1992-1997 mempunyai hak sewa tanah
dari Pemkot Malang. Dalam aturan, anggota DPRD yang sudah menyewa lahan itu melebihi dua
tahun bisa mengajukan pelepasan tanah.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


111 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Pemindahtanganan Barang Milik Daerah

Dikatakannya, pada 1998, saat Wali Kota Malang, dijabat Soesamto, para anggota DPRD mengajukan
surat pelepasan tanah tersebut. Lalu, Wali Kota Malang saat itu Susamto, mengeluarkan surat
keputusan (SK) pelepasan tanah itu.

Surat keputusan pelepasan tanah itu bernomor 593/32/428.114/1998 yang ditandatangani Wali
Kota Malang, saat itu, Susamto, pada 24 Januari 1998. Para anggota DPRD diwajibkan membayar
uang ganti rugi Rp 1 juta per bidang tanah. Dalam SK itu, lokasi tanah berada di wilayah Wonokoyo.

Setelah ada pergantian wali kota dari Soesamto ke Suyitno, ada surat keputusan baru yang
dibuat pada 2002. Wali Kota Malang, Suyitno, mengeluarkan surat keputusan bernomor
593.1/24/420.112/2002, terkait pelepasan tanah itu, pada 1 Oktober 2002. Dalam SK baru itu hanya
menyebutkan lokasi tanah yang dalam SK sebelumnya berada di Wonokoyo diubah menjadi di
wilayah Buring.

Dua SK Wali Kota itu digunakan sebagai dasar mengajukan sertifikat tanah ke Badan Pertanahan
Nasional (BPN) pada 2003. Ketika itu, BPN menyatakan tidak ada persoalan terkait tanah tersebut.
Namun, masalah pelepasan tanah itu muncul ketika Wali Kota Malang dijabat Peni Suparto.
Peni mengeluarkan surat nomor 593/ 308/ 420.112/2004, tentang persertifikatan tanah eks
bengkok Kelurahan Buring. Dalam surat itu, sertifikat baru bisa dikerjakan kalau kemauan rakyat
sudah dipenuhi.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


112 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
TOPIK 10

PENATAUSAHAAN SERTA
PERTANGGUNGJAWABAN
BARANG MILIK DAERAH
Penatausahaan Serta Pertanggungjawaban Barang Milik Daerah

Deskripsi:
Topik ini menjelaskan tentang penatausahaan, dan pertanggungjawaban Barang Milik Daerah
(BMD).

Sub Topik Kata Kunci


Peserta mampu melakukan
Penatausahaan
penatausahaan BMD.

Peserta mampu
Pertanggungjawaban
menjelaskan proses
pertanggungjawaban
BMD.

Referensi:
Anonim, 2007. Modul 2; Penyusunan Rencana Pengadaan dan Pemeliharaan Aset/Barang Milik
Daerah, Lembaga Administrasi Negara dan Departemen Dalam Negeri.
Endarto, Yudowinarso, Teori Dasar Penilaian, STAN, 2012
Kemenkeu. 2010. Modul Pokok-Pokok Pengelolaan Barang Milik Daerah.
Murtaji, Penilaian Properti, STAN, 2010
Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah
Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah.
Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah;
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah
Peraturan Presiden (Perpres) No. 70 Tahun 2012, Perubahan Kedua atas Peraturan Presiden No. 54
Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/JasaPemerintah.
Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2007 Tentang Perubahan Ketujuh Atas Keputusan Pesiden
Nomor 80 Tahun 2003 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Permendagri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah;
Sumini, Penatausahaan Barang Milik Daerah, STAN, 2010
Sutaryo, Manajemen Aset Daerah,
http:sutaryofe.staff.uns.ac.id/files/2011/10/manajemen-aset-daerah.pdf (25 Juni 2013)
Tanda Setiya dan Rahmat Guntoro, Penilaian Barang Milik Daerah, Pusdiklat KNPK, BPPK, 2010
Undang-Undang Nomor.1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;
Undang-Undang Nomor.17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara,

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


114 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penatausahaan Serta Pertanggungjawaban Barang Milik Daerah

10.1. Pengertian dan Tujuan Penatausahaan Barang Milik Daerah


Untuk dapat melaksanakan penatausahaan secara benar terlebih dahulu kita harus memahami apa
itu penatausahaan. Definisi penatausahaan menurut Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006
dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 adalah rangkaian kegiatan yang meliputi
pembukuan, inventarisasi dan pelaporan BM sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Pembukuan adalah kegiatan pendaftaran dan pencatatan BMD ke dalam Daftar Barang yang ada pada
Pengguna Barang dan Pengelola Barang. Maksud pembukuan adalah agar semua BMD yang berada
dalam penguasaan Pengguna Barang dan yang berada dalam pengelolaan Pengelola Barang tercatat
dengan baik. Pengguna/kuasa pengguna barang wajib melakukan pendaftaran dan pencatatan BMD ke
dalam Daftar Barang Pengguna (DBP)/Daftar Barang Kuasa Pengguna (DBKP). Daftar Barang Pengguna
(DBP)/Daftar Barang Kuasa Pengguna (DBKP) daftar yang memuat data barang yang dimilki oleh masing-
masing Pengguna/Kuasa Pengguna. Pengguna/kuasa pengguna barang dalam melakukan pendaftaran
dan pencatatan sesuai dengan Kartu Inventaris Barang (KIB) yang dimuat dalam Lampiran 25 Permendagri
Nomor 17 Tahun 2007. Pembantu pengelola melakukan koordinasi dalam pencatatan dan pendaftaran
BMD ke dalam Daftar BMD (DBMD).

Inventarisasi adalah kegiatan untuk melakukan pendataan, pencatatan dan pelaporan hasil pendataan
BMD. Maksud inventarisasi adalah untuk mengetahui jumlah dan nilai serta kondisi BMD yang sebenarnya,
baik yang berada dalam penguasaan Pengguna Barang maupun yang berada dalam pengelolaan
Pengelola Barang. Di samping itu, Pengelola dan Pengguna melaksanakan sensus BMD setiap 5 (lima)
tahun sekali untuk menyusun Buku Inventaris dan Buku Induk Inventaris beserta rekapitulasi barang milik
pemerintah daerah. Pengelola bertanggung jawab atas pelaksanaan sensus BMD tersebut.

Adapun pelaporan adalah kegiatan penyampaian data dan informasi yang dilakukan oleh unit pelaksana
penatausahaan BMD pada Pengguna Barang dan Pengelola Barang. Maksud pelaporan adalah agar semua
data dan informasi mengenai BMD dapat disajikan dan disampaikan kepada pihak yang berkepentingan
dengan akurat guna mendukung pelaksanaan pengambilan keputusan dalam rangka pengelolaan BMD
dan sebagai bahan penyusunan Neraca Pemerintah Daerah.

10.2. Sasaran Penatausahaan BMD


Adapun sasaran dari penatausahaan BMD meliputi :
1. semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
(APBD);
2. semua barang yang berasal dari perolehan lainnya yang sah,meliputi :
barang yang diperoleh dari hibah/sumbangan atau yang sejenisnya;
barang yang diperoleh sebagai pelaksanaan perjanjian/kontrak;
barang yang diperoleh berdasarkan ketentuan undang-undang; atau
barang yang diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan
hukum tetap.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


115 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penatausahaan Serta Pertanggungjawaban Barang Milik Daerah

Penatausahaan menghasilkan dokumen yang digunakan sebagai bukti untuk mencatat transaksi dalam
proses akuntansi meliputi semua dokumen yakni semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) atau berasal dari perolehan lainnya yang sah, yang
berada dalam penguasaan Kuasa Pengguna Barang/Pengguna Barang dan berada dalam pengelolaan
Pengelola Barang.

Dalam penatausahaan BMD ini termasuk di dalamnya melaksanakan tugas dan fungsi akuntansi BMD.
Penatausahaan BMD dalam rangka mewujudkan tertib administrasi termasuk menyusun Laporan BMD
yang akan digunakan sebagai bahan penyusunan neraca pemerintah daerah. Sedangkan penatausahaan
BMD dalam rangka mendukung terwujudnya tertib pengelolaan BMD adalah menyediakan data agar
pelaksanaan pengelolaan BMD dapat dilaksanakan sesuai dengan azas fungsional, kapastian hukum,
transparansi dan keterbukaan, efisiensi, akuntabilitas, dan kepastian nilai. Dalam rangka pelaksanaan
tugas dan fungsi akuntansi BMD termaksud, mengacu kepada Standar Akuntasi Pemerintahan (SAP) yang
ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010.

Dalam SAP dimaksud, BMN/D terbagi atas persediaan pada pos aset lancar, aset tetap, aset tak berwujud
dan aset lain-lain pada pos aset lainnya. Persediaan adalah aset lancar dalam bentuk barang atau
perlengkapan (supplies) yang dimaksudkan untuk mendukung kegiatan operasional pemerintah, dan
barang-barang yang dimaksudkan untuk dijual dan/atau diserahkan dalam rangka pelayanan kepada
masyarakat. Aset tetap adalah aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas)
bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum. Aset
tetap terdiri dari tanah, gedung dan bangunan, peralatan dan mesin, jalan, irigasi, dan jaringan, aset tetap
lainnya, dan konstruksi dalam pengerjaan. Aset lainnya adalah aset pemerintah selain aset lancar, investasi
jangka panjang, aset tetap dan dana cadangan.

Adapun BMD yang berada pada pos aset lainnya adalah aset tak berwujud dan aset lain-lain. Aset tak
berwujud meliputi software komputer, lisensi dan franchise, hak cipta (copyright), paten, dan hak lainnya,
dan hasil kajian/penelitian yang memberikan manfaat jangka panjang. Selanjutnya, pos aset lain-lain
digunakan untuk mencatat BMD berupa aset lainnya yang tidak dapat dikelompokkan ke dalam aset tak
berwujud, seperti aset tetap yang dihentikan dari penggunaan aktif pemerintah.

Sesuai dengan pasal 30 Permendagri 17 Tahun 2007, bahwa untuk untuk memudahkan pendaftaran
dan pencatatan serta pelaporan BMD secara akurat dan cepat, pemerintah daerah dapat menggunakan
aplikasi SIMBADA. SIMBADA merupakan sebuah aplikasi manajemen barang atau aset daerah integratif
yang dibuat untuk membantu staf Satuan Kerja Perangkat Daerah merencanakan, menatausahakan,
menginvetarisasi, dan membuat laporan terkait dengan barang atau aset daerah. SIMBADA disusun
dengan berpedoman pada Permendagri No. 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan BMD.
Untuk keperluan pelaporan daftar aktiva, SIMBADA juga mengadopsi Permendagri No. 13 Tahun 2006
tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah yang telah direvisi dengan Permendagri Nomor 59
Tahun 2007. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa SIMBADA telah memenuhi kebutuhan Pemda
dalam hal penatausahaan barang daerah secara integratif. Dengan dua pedoman tersebut, SIMBADA
harus didesain dengan mempertimbangkan urutan proses manajemen barang daerah yang terdiri
dari perencanaan kebutuhan barang, pengadaan barang, penyimpanan barang, inventarisasi barang,
pemeliharaan barang dan pelaporan barang. Untuk memenuhi seluruh kebutuhan ini, SIMBADA dibuat
harus dengan menampilkan menu-menu pokok yang terdiri dari perencanaan, pengadaan, penyimpanan,
inventarisasi, pemeliharaan, pemanfaatan, pelaporan, import dan pengaturan.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


116 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penatausahaan Serta Pertanggungjawaban Barang Milik Daerah

10.3. Tujuan Penatausahaan Barang Milik Daerah


Mengapa BMD harus ditatausahakan? Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang
Pengelolaan Barang Negara/Daerah dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang
Pedoman Teknis Pengelolaan BMD menyatakan bahwa, Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)
selaku Pengguna Barang Daerah, berwenang dan bertanggungjawab melakukan pencatatan dan
inventarisasi BMD yang berada dalam penguasaannya. Pencatatan barang daerah pada SKPD sangat
penting dikarenakan catatan tersebut dijadikan obyek audit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)
dalam meyakini penyajian laporan keuangan SKPD dan Pemerintah Daerah. Hasil penatausahaan BMD
ini nantinya dapat digunakan dalam rangka (a) penyusunan neraca pemerintah daerah setiap tahun,
(b) perencanaan kebutuhan pengadaan dan pemeliharaan BMD setiap tahun untuk digunakan sebagai
bahan penyusunan rencana anggaran, dan (c) pengamanan administrasi BMD. Dengan penatausahaan
secara tertib, maka akan dihasilkan angka-angka yang tepat dan akurat yang berdampak pada tersedianya
database yang memadai dalam menyusun perencanaan kebutuhan dan penganggaran dan akan
dihasilkan pula laporan aset daerah di neraca dengan angka yang tepat dan akurat.

Berdasarkan hasil pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2007 ditemukan penyimpangan pengelolaan
aset senilai Rp.37,75 Triliun. (media Indonesia, edisi 11 April 2008). Hasil temuan tersebut menunjukan
penyimpangan yang terbesar adalah pencatatan aset tidak tertib dan atau tidak sesuai dengan ketentuan
88%, selanjutnya tanah belum bersertifikat 6%, aset dikuasai pihak lain 5% dan lain-lain 1% (Bisnis Indonesia
12 April 2008). Pencatatan dan administrasi aset tidak tertib memberikan konsekuensi atas opini Badan
Pemeriksa Keuangan terhadap laporan keuangan Pemerintah Daerah.

10.4. Inventarisasi Barang Milik Daerah


10.4.1. Peranan dan Fungsi Inventarisasi Barang Milik Daerah
Inventarisasi merupakan kegiatan atau tindakan untuk melakukan perhitungan, pengurusan,
penyelenggaraan, pengaturan, pencatatan data dan pelaporan Barang Milik Daerah dalam unit
pemakaian. Inventarisasi adalah kegiatan atau tindakan untuk melakukan penghitungan fisik barang
daerah, meyakinkan kebenaran pemilikan, serta menilai kewajaran sesuai kondisi barang daerah. Dari Hasil
Inventarisasi, dapat diketahui aktiva tetap yang benar-benar dimiliki oleh Pemerintah Daerah, kemudian
dilakukan penilaiannya sesuai dengan kebijakan akuntansi Pemerintah Daerah. Hasil penilaian aktiva
tetap akan merupakan saldo awal kelompok aset tetap dalam neraca atau merupakan dukungan atas
saldo aset tetap dalam neraca. Pelaksanaan kegiatan invetarisasi barang dikoordinasikan oleh Sekretariat
Daerah c.q. Kepala Bagian Perlengkapan dimulai dari wilayah terkecil yaitu kelurahan, kecamatan dan
dari Satuan Kerja/Unit Kerja terkecil yaitu Sekolah Negeri, Cabang Dinas/UPT/Puskes, Satuan Kerja dan
seluruhnya bermuara pada Bagian Perlengkapan untuk dikompilasi dan diolah. Tujuan Inventarisasi
Barang Milik/Kekayaan Daerah adalah untuk :
1. Meyakini keberadaan fisik barang yang ada pada dokumen invetaris dan ketepatan jumlahnya.
2. Mengetahui kondisi terkini barang (Baik, Rusak Ringan, dan Rusak Berat).
3. Melaksanakan tertib administrasi yaitu :

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


117 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penatausahaan Serta Pertanggungjawaban Barang Milik Daerah

a. membuat usulan penghapusan barang yang sudah rusak berat.


b. mempertanggungjawabkan barang-barang yang tidak diketemukan/hilang.
c. mencatat/membukukan barang-barang yang belum dicatat dalam dokumen inventaris.
4. mendata permasalahan yang ada atas inventaris, seperti sengketa tanah, kepemilikan yang tidak
jelas, inventaris yang dikuasai pihak ketiga
5. menyediakan informasi nilai Aset Daerah sebagai dasar penyusunan neraca awal Daerah.
Adapun sasaran invetarisasi atas Barang-barang Milik/ Kekayaan Daerah meliputi :
Barang inventaris yang dibeli/ diperoleh dengan seluruhnya dari dana APBD
Barang inventaris yang dibeli/ diperoleh dengan sebagian dari dana APBD
Barang inventaris yang dibeli/ diperoleh dari dana di luar APBD, misalnya barang hibah, hasil
sitaan, dll.
Barang inventaris yang belum jelas pemiliknya tetapi dikuasai dan dikelola oleh instansi yang
bersangkutan

Dari kegiatan inventarisasi disusun Buku Inventaris yang menunjukkan semua kekayaan daerah yang
bersifat kebendaan, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Buku inventaris tersebut memuat
data meliputi lokasi, jenis/merk type, jumlah, ukuran, harga, tahun pembelian, asal barang, keadaan
barang dan sebagainya. Adanya buku inventaris yang lengkap, teratur dan berkelanjutan mempunyai
fungsi dan peran yang sangat penting dalam rangka:
1. pengendalian, pemanfaatan, pengamanan dan pengawasan setiap barang;
2. usaha untuk menggunakan memanfaatkan setiap barang secara maksimal sesuai dengan tujuan
dan fungsinya masing-masing;dan
3. menunjang pelaksanaan tugas Pemerintah.
Barang inventaris adalah seluruh barang yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah yang penggunaannya lebih
dari satu tahun dan di catat serta didaftar dalam Buku Inventaris. Agar Buku Inventaris dimaksud dapat
digunakan sesuai fungsi dan peranannya, maka pelaksanaannya harus tertib, teratur dan berkelanjutan,
berdasarkan data yang benar, lengkap dan akurat sehingga dapat memberikan informasi yang tepat
dalam :
1. perencanaan kebutuhan dan penganggaran;
2. pengadaan.
3. penerimaan, penyimpanan dan penyaluran;
4. penggunaan.
5. penatausahaan;
6. pemanfaatan.
7. pengamanan dan pemeliharaan;
8. penilaian;
9. penghapusan;
10. pemindahtanganan;
11. pembinaan, pengawasan dan Pengendalian
12. pembiayaan; dan
13. tuntutan ganti rugi.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


118 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penatausahaan Serta Pertanggungjawaban Barang Milik Daerah

Barang Milik/Kekayaan Negara yang dipergunakan oleh Pemerintah Daerah, pengguna mencatat dalam
Buku Inventaris tersendiri dan dilaporkan kepada pengelola. BMD adalah barang yang berasal/dibeli
dengan dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah atau sumbangan berupa
pemberian, hadiah, donasi, wakaf, hibah, swadaya, kewajiban pihak ketiga dan sumbangan pihak lain.
Termasuk BMD adalah BMD yang pengelolaannya berada pada Perusahaan Daerah/Badan Usaha Milik
Daerah/yayasan Milik Daerah. Dalam hal ini, pimpinan Perusahaan Daerah/Badan Usaha Milik Daerah/
yayasan Milik Daerah wajib melaporkan daftar inventaris BMD kepada Kepala Daerah, dan Kepala Daerah
berwenang untuk mengendalikan setiap mutasi inventaris barang tersebut.

10.4.2. Dokumen Inventarisasi Barang Milik Daerah


Inventaris harus diadministrasikan dengan tepat dan lengkap untuk dapat menyajikan informasi yang
valid dan relevan. Informasi tersebut merupakan faktor penting dalam pengambilan keputusan yang
berhubungan dengan kekayaan Daerah. Informasi yang berasal dari data yang tidak valid dan relevan
akan menyebabkan pengambilan keputusan yang salah. Dalam perencanaan pengadaan barang,
perencanaan pemeliharaan, dan proses penghapusan inventaris yang telah memenuhi persyaratan
penghapusan tentu membutuhkan informasi dengan kualitas data yang memadai. Untuk kepentingan
penyajian informasi yang berkualitas diperlukan berbagai bentuk formulir atau dokumen inventaris.
Macam-macam dokumen inventaris yang digolongkan menurut jenis kegiatan adalah sebagai berikut :
1. Kegiatan Pencatatan
Dokumen yang digunakan dalam kegiatan pencatatan adalah sebagai berikut:
a. Buku Induk Inventaris: kompilasi/gabungan Buku Inventaris.
b. Buku Inventaris (BI): himpunan catatan data teknis dan administrasi yang diperoleh dari Kartu
Inventaris Barang hasil inventarisasi.
c. Kartu Inventaris Barang (KIB): kartu untuk mencatat barang inventaris secara tersendiri atau
kumpulan/ kolektif yang diperlukan untuk inventarisasi atau tujuan lainnya selama barang
tersebut belum dihapuskan. Contoh KIB yang harus diselenggarakan antara lain KIB Tanah, KIB
Gedung, KIB Kendaraan, dan KIB Lainnya.
d. Kartu Inventaris Ruangan (KIR): kartu untuk mencatat barang inventaris yang ada dalam ruangan kerja.
Dalam Inventarisasi, pencatatan kondisi inventaris dibagi dalam 3 kategori yaitu Baik, Rusak Ringan,
dan Rusak Berat. Informasi kondisi barang diperlukan dalam proses penilaian inventaris dan berguna
sebagai salah satu data dalam pengambilan keputusan mengenai inventaris oleh pihak pengelola,
seperti penghapusan barang, perencanaan pengadaan, perencanaan pemeliharaan, dan lainnya.
2. Kegiatan Pelaporan
Dokumen yang berkaitan dengan pelaporan adalah sebagai berikut:
a. Daftar Rekapitulasi Inventaris: disusun oleh Kepala Daerah selaku Kuasa/Ordonator Barang
dengan menggunakan bahan dari Rekapitulasi Inventaris Barang yang disusun oleh Pengurus
Barang Satuan Kerja/ unit Kerja.
b. Daftar Mutasi Barang: memuat data barang yang berkurang dan atau bertambah dalam suatau
jangka waktu tertentu, misalnya setiap 3 bulan (LMBT) atau setahun (LT1).
Hasil inventarisasi berupa jenis dan nilai aset Daerah akan digunakan sebagai data utama dalam
penyusunan neraca awal Daerah. Pos yang akan menyajikan jenis dan nilai aset Daerah adalah:

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


119 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penatausahaan Serta Pertanggungjawaban Barang Milik Daerah

1. Aset Tetap, yang terdiri dari rekening :


a. Tanah
b. Gedung dan Bangunan
c. Jalan, Irigasi, dan Jaringan
d. Peralatan dan Mesin
e. Kendaraan
f. Inventaris Kantor
g. Aset Tetap Lainnya
h. Konstruksi dalam Pengerjaan
2. Aset Lainnya, yaitu pada rekening :
a. Built Operating Transfer (BOT), jika Pemda memiliki suatu bangunan yang dibangun
dengan cara kemitraan dengan swasta berdasarkan perjanjian.
b. Lain-Lain Aset, yaitu aset yang tidak dapat digolongkan dala jenis aset lancar, investasi
permanen, dan aset tetap di atas. Untuk tumbuhan dan hewan ternak, pencatatannya
dalam pos di neraca melihat konteks keberadaannya. Tumbuhan dan hewan ternak dapat
dicatat dalam pos Persediaan, Aset Lainnya atau dicatat terpisah dalam buku tersendiri
(ekstra comptabel).

10.5. Sensus Barang Milik Daerah


10.5.1. Pengertian dan Tujuan Sensus Barang Milik Daerah
Pasal 27 Permendagri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan BMD menyebutkan
bahwa Pengelola dan Pengguna melaksanakan sensus BMD setiap 5 (lima) tahun sekali untuk menyusun
Buku Inventaris dan Buku Induk Inventaris beserta rekapitulasi Barang Milik Pemerintah Daerah. Dengan
demikian kegiatan penatausahaan tidak hanya terdiri dari pembukuan, inventarisasi dan pelaporan saja
tetapi termasuk kegiatan sensus barang milik milik daerah yang merupakan kegiatan inventarisasi yang
dilaksanakan tiap 5 (lima) tahun sekali.

Tujuan sensus barang setiap 5 (lima) tahun sekali tidak disebutkan dengan tegas pada PP 6/2006
dan batang tubuh Permendagri 17/2007, justru disebutkan pada lampiran Permendagri No. 17 Tahun
2007, yaitu : untuk mendapatkan data barang dan pembuatan Buku Inventaris yang benar, dapat
dipertanggungjawabkan dan akurat (up to date). Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 020-336 tentang
Pedoman Pelaksanaan Sensus Barang Daerah tanggal 12 April 1982 pada Lampiran I menyatakan: Tujuan
sensus barang daerah adalah untuk mendapatkan data barang negara dan daerah yang dikuasai oleh
daerah yang dibukukan dan selanjutnya meningkatkan daya guna dan hasil guna serta memberikan
jaminan pengamanan dan penghematan terhadap setiap penggunaan barang milik pemerintah. Pada
Kepmendagri yang sama menyatakan bahwa sensus barang daerah dilaksanakan mulai awal April 1983
sampai September 1983. Dan selanjutnya sensus barang daerah dilaksanakan pada Tahun 1988, 1993,
1998, 2003 dan terakhir sensus barang daerah dilaksanakan Tahun 2008 dan akan dilaksanakan pada
Tahun 2013.

Selanjutnya, lampiran Permendagri No. 17 Tahun 2007 banyak menyebutkan sensus barang daerah,
di antaranya pada penatausahaan dan yang penting ada pada bab pelaporan. Penyusunan dan

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


120 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penatausahaan Serta Pertanggungjawaban Barang Milik Daerah

penyampaian laporan inventarisasi 5 (lima) tahunan (sensus) yang berada dalam penguasaan Pengguna
menjadi tanggungjawab Pengguna dan dilaporkan kepada kepada Pengelola Barang. Proses pelaporan
penyusunan hasil sens vvus dimulai dari masing-masing Buku Inventraris Pengguna yang secara serentak
pada waktu tertentu di rekap ke dalam Buku Induk Inventaris oleh Pembantu Pengelola dan disampaikan
kepada Pengelola.

Sensus barang dilakukan secara periodik untuk mendapatkan data barang yang benar dan dapat
dipertanggungjawabkan serta akurat. Barang yang akan disensus adalah seluruh barang milik Pemerintah
Daerah. BMD dikelompokkan menjadi :
a. Barang milik daerah (Provinsi/Kabupaten/Kota), termasuk barang yang dipisahkan pada Perusahaan
Daerah/Badan Usaha Milik Daerah/yayasan Milik Daerah.
b. Barang milik/kekayaan Negara yang dipergunakan oleh Pemerintah Daerah.
Akan tetapi, pelaksanaan sensus atas Konstruksi Dalam Pengerjaan dan Persediaan tidak diatur
dalam Permendagri 17 tahun 2007. Pelaksanaan sensus barang daerah dilakukan melalui tahap
persiapan dan tahap pelaksanaan sensus barang.
Tahap persiapan
1. Pembentukan Panitia Sensus Barang Daerah;
2. Penyusunan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Sensus BMD. Juknis Sensus BMD ditetapkan oleh Kepala
Daerah;
3. Penataran Petugas Pelaksanaan Sensus Barang Provinsi/ Kabupaten/Kota dilaksanakan pada
masing-masing Daerah;
4. Menyediakan Kartu/Formulir/Buku Petunjuk Pelaksanaan serta peralatan yang diperlukan.
5. Menyiapkan biaya persiapan dan pelaksanaanSensus Barang Daerah

Tahap Pelaksanaan
Dalam tahap pelaksanaan sensus BMD, masing-masing pengguna/kuasa pengguna harus melaksanakan
pengisian formulir Buku Inventaris.
1. Penyampaian formulir dan bahan sampai unit kerja terendah;
2. Melaksanakan sensus barang daerah yang masingmasing di SKPD/wilayah dengan mengisi KlB dan
KIR;
3. Penyelesaian hasil sensus BMD dengan menyampaikan buku inventaris oleh unit kerja terendah
kepada atasan;
4. Pembuatan Daftar Rekapitulasi oleh unit/Satuan Kerja;
5. Mengawasi dan mengevaluasi hasil sensus barang dalam SKPD/ wilayah masing-masing;
6. Membuat Buku Induk Inventaris Provinsi/Kabupaten/ Kota;
7. Melaporkan hasil sensus barang Provinsi/Kabupaten/Kota kepada Kementrian Dalam Negeri.

Dalam pelaksanaan pengumpulan data Sensus Barang Daerah dimulai dari satuan kerja terendah secara
berjenjang. Semua pengguna/kuasa pengguna yang terdapat pada setiap Provinsi/Kabupaten/Kota,
melaksanakan Sensus Barang Daerah dengan tahapan dimulai dari Satuan Kerja/Sub Unit terendah. Hasil
dari sensus barang harus disampaikan pengguna barang kepada pengelola barang paling lambat 3
bulan sejak sensus dilaksanakan.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


121 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penatausahaan Serta Pertanggungjawaban Barang Milik Daerah

10.5.2. Pelaksanaan Sensus Daerah


a. Pelaksanaan di Tingkat Kelurahan.
Setiap Kelurahan melakukan pengisian :
- Kartu Inventaris Barang (KIB), masing-masing rangkap 2.
1. KlB A : Tanah
2. KIB B : Mesin dan Peralatan
3. KlB C : Gedung dan Bangunan
4. KIB D : Jalan, Irigasi dan Jaringan
5. KIB E : Aset Tetap Lainnya
6. KIB F : Konstruksi dalam Pengerjaan
- Kartu Inventaris Ruangan (KIR), berdasarkan letak barang menurut ruangan masing-masing.
- Buku Inventaris BMD yang berada pada Kelurahan. Buku Inventaris dibuat rangkap 4, dan setelah
diisi, lembar ke-4 disimpan di Kelurahan sebagai arsip (Buku Inventaris Kelurahan), sedangkan
lembar ke-1 3 dikirimkan ke Kecamatan.
- Buku Inventaris Kelurahan terdiri dari :
1. Buku Inventaris Barang Daerah Provinsi sebanyak 4 rangkap
2. Buku Inventaris Barang Daerah Kabupaten/Kota sebanyak 4 rangkap.
3. Buku Inventaris Barang Milik/Kekayaan Negara (kalau ada) sebanyak 4 rangkap.
Masing-masing barang dicatat secara terpisah sesuai kepemilikan barang pada KIB, KIR dan
Buku Inventaris.
b. Pelaksanaan di Tingkat Kecamatan.
Setiap Camat mengisi :
- Kartu Inventaris Barang (KIB), masing-masing rangkap 2.
1. KIB A : Tanah
2. KIB B : Mesin dan Peralatan
3. KIB C : Gedung dan Bangunan
4. KIB D : Jalan, Irigasi dan Jaringan
5. KIB E : Aset Tetap Lainnya
6. KIB F : Konstruksi dalam Pengerjaan
- Kartu Inventaris Ruangan (KIR), berdasarkan letak barang menurut ruangan masing-masing.
- Buku Inventaris barang yang berada di Kecamatan dibuat rangkap 3. Setelah diisi, Buku Inventaris
digabungkan dengan semua Buku Inventaris Satuan Kerjanya (di Kelurahan) menjadi Buku
Inventaris Kecamatan. Dari Buku Inventaris dimaksud harus dibuatkan Rekapitulasinya. Lembar ke
3 disimpan di Kantor Camat sebagai arsip (Buku Inventaris Kecamatan), sedangkan lembar ke 1 s/d
2 dikirimkan ke Kabupaten/Kota melalui pengelola/pembantu pengelola.
- Buku Inventaris Kecamatan, yakni :
1. Buku Inventaris Barang Daerah Provinsi sebanyak 3 rangkap.
2. Buku Inventaris Barang Daerah Kabupaten/Kota sebanyak 3 rangkap.
3. Buku Inventaris Barang Milik/Kekayaan Negara sebanyak 3 rangkap (kalau ada).
Masing-masing barang yang ada di kecamatan tersebut dicatat secara terpisah sesuai pemilikan

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


122 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penatausahaan Serta Pertanggungjawaban Barang Milik Daerah

barangnya (begitu pula pencatatan di KIB dan KIR).


c. Pelaksanaan di Tingkat Sekolah Negeri (SDN/SLTP, SMU).
Setiap Kepala SDN Satuan Kerja mengisi :
- Kartu Inventaris Barang KlB):
1. KIB A : Tanah
2. KIB B : Mesin dan Peralatan
3. KIB C : Gedung dan Bangunan
4. KIB D : Jalan, Irigasi dan Jaringan
5. KIB E : Aset Tetap Lainnya
6. KIB F : Konstruksi dalam Pengerjaan
- Kartu Inventaris Ruangan (KIR), berdasarkan letak barang menurut ruangan masing-masing.
- Buku Inventaris barang yang berada di SDN yang bersangkutan dalam rangkap 5. Lembar ke-5
disimpan sebagai arsip pada SDN/Satuan Kerja yang bersangkutan (Buku Inventaris SDN/Satuan
Kerja). Sedangkan lembar ke 1 s/d 4 disampaikan ke kuasa pengguna.
- Buku Inventaris SDN, yakni :
1. Buku Inventaris Barang Daerah Provinsi sebanyak 5 rangkap.
2. Buku Inventaris Barang Daerah Kabupaten/Kota sebanyak 5 rangkap.
3. Buku Inventaris barang milik/kekayaan negara sebanyak 5 rangkap (kalau ada).
Setiap barang yang ada di lingkungan SDN/Satuan Kerja yang bersangkutan dicatat secara
terpisah sesuai pemilikan barangnya, begitu juga untuk KIB dan KIR.
d. Pelaksanaan di Tingkat Kuasa pengguna atau unit pelaksana teknis Daerah.
Setiap kuasa pengguna atau unit pelaksana teknis daerah mengisi :
- Kartu Inventaris Barang (KIB), masing-masing 2 rangkap.
1. KIB A :Tanah
2. KIB B : Mesin dari Peralatan
3. KIB C : Gedung dan Bangunan
4. KIB D : Jalan, Irigasi dan Jaringan KIB E : Aset Tetap Lainnya
5. KIB F : Konstruksi dalam Pengerjaan
- Kartu Inventaris Ruangan (KIR) berdasarkan letak barang menurut ruangan masing-masing.
- Buku Inventaris barang yang berada di kuasa pengguna atau unit pelaksana tekhnis yang
bersangkutan dalam rangkap 4 dan setelah diisi, kemudian menggabungkan dengan Buku
Inventaris dari semua Satuan Kerjanya menjadi Buku Inventaris kuasa pengguna (UPDT). Dari
Buku Inventaris dimaksud harus dibuatkan Rekapitulisasi. Lembar ke 4 disimpan sebagai arsip di
kuasa pengguna/UPDT, sedangkan lembar ke 1 s/d 3 dikirim ke SKPD yang bersangkutan. Buku
Inventaris kuasa pengguna/UPDT, yakni :
1. Buku Inventaris Barang Daerah Propinsi sebanyak 4 rangkap.
2. Buku Inventaris Barang Daerah Kabupaten/Kota sebanyak 4 rangkap.
3. Buku Inventaris Barang Milik/Kekayaan Negara sebanyak 4 rangka (kalau ada).
Masing-masing dicatat secara terpisah sesuai pemilikan barangnya, kalau ada di kuasa pengguna/
UPDT tersebut, begitu juga KIB dan KIR.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


123 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penatausahaan Serta Pertanggungjawaban Barang Milik Daerah

e. Pelaksanaan di Tingkat Pengguna Barang (SKPD).


Setiap SKPD mengisi:
- Kartu Inventaris Barang (KIB), masing-masing sebanyak 2 rangkap.
1. KIB A : Tanah
2. KIB B : Mesin dan Peralatan
3. KIB C : Gedung dan Bangunan
4. KIB D : Jalan, Irigasi dan Jaringan
5. KIB E : Aset Tetap Lainnya
6. KIB F : Konstruksi dalam Pengerjaan
- Kartu Inventaris Ruangan (KIR) berdasarkan letak barang menurut ruangan masing-masing.
- Buku Inventaris barang yang berada di SKDP yang bersangkutan dalam rangkap 4 dan setelah
diisi, kemudian menggabungkan dengan Buku Inventaris dari semua kuasa pengguna/UPDT
menjadi buku Inventaris SKPD. Dari Buku Inventaris dimaksud harus dibuatkan Rekapitulasinya.
Lembar ke 4 disimpan di SKPD sebagai arsip, sedangkan lembar ke 1 s/d 3 dikirimkan/disampaikan
ke pengelola.
- Buku Inventaris SKPD, yakni:
1. Buku Inventaris Barang Daerah Propinsi sebanyak 3 rangkap.
2. Buku Inventaris Barang Daerah Kabupaten/Kota sebanyak 3 rangkap.
3. Buku Inventaris Barang Milik/Kekayaan Negara sebanyak 3 rangkap (kalau ada).
Masing-masing dicatat secara terpisah sesuai pemilikan barangnya, kalau ada di SKPD tersebut,
begitu juga untuk KIB dan KIR.
f. Pelaksanaan di Tingkat Kuasa pengguna pada Sekretariat Daerah Kabupaten/Kota.
Setiap Kuasa pengguna pada Sekretariat Daerah Kabupaten/Kota mengisi :
- Kartu Inventaris Barang (KIB) dengan rangkap 2, yang terdiri dari :
1. KIB A : Tanah
2. KIB B : Mesin dan Peralatan
3. KIB C : Gedung dan Bangunan
4. KlB D : Jalan, Irigasi dan Jaringan
5. KIB E : Aset Tetap Lainnya
6. KIB F : Konstruksi dalam Pengerjaan
- Kartu Inventaris Ruangan (KIR) berdasarkan letak barang menurut ruangan masing-masing.
- Buku Inventaris barang yang berada di kuasa pengguna Unit Setda Kabupaten/Kota dalam
rangkap 3 barang-barang yang ada pada Sekretariat Daerah dan setelah diisi, kemudian
menggabungkannya dari semua Satuan Kerja /Sub Unit Setda. Lembar ke 3 disimpan di Unit Setda
sebagai arsip (Buku Inventaris Unit Setda), sedangkan lembar ke 1 dan 2 dikirimkan/disampaikan
ke Pengelola/pembantu Pengelola.
- Buku Inventaris Unit/Satuan Kerja Setda Kabupaten/Kota yakni:
1. Buku Inventaris Barang Daerah Provinsi sebanyak 3 rangkap
2. Buku Inventaris Barang Kabupaten /Kota sebanyak 3 rangkap.
3. Buku Inventaris Barang milik/Kekayaan Negara sebanyak 3 rangkap (kalau ada).
Masing-masing dicatat secara terpisah sesuai pemilikan barangnya, kalau ada di Kuasa Pengguna

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


124 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penatausahaan Serta Pertanggungjawaban Barang Milik Daerah

unit Setda Kabupaten /Kota tersebut, begitu juga untuk KIB dan KIR.
g. Pelaksanaan di Tingkat Sekretariat Daerah Kabupaten/Kota.
Setiap Sekretariat daerah mengisi :
- Kartu Inventaris Barang (KIB), masing-masing rangkap dua.
1. KIB A : Tanah
2. KIB B : Mesin dan Peralatan
3. KIB C : Gedung dan Bangunan
4. KIB D : Jalan, Irigasi dan Jaringan
5. KIB E : Aset Tetap Lainnya
6. KIB F : Konstruksi dalam Pengerjaan
- Kartu Inventaris Ruangan (KIR) berdasarkan letak barang menurut ruangan masing-masing.
- Buku Inventaris barang yang berada pada unit sekretariat dalam rangkap 3 dan setelah diisi,
kemudian menggabungkannya dengan Buku Inventaris dari semua kuasa pengguna Unit kerja
menjadi Buku Inventaris Sekretariat Daerah. Bukubuku Inventaris Sekretariat Daerah dimaksud
dibuatkan Rekapitulasi. Lembar ke 2 disimpan di pengelola, sedangkan lembar ke 1 disampaikan
kepada Kepala Daerah.
- Buku Inventaris Sekretariat Daerah, yakni :
1. Buku Inventaris Barang Daerah Provinsi sebanyak 2 rangkap.
2. Buku Inventaris Barang Daerah Kabupaten/Kota sebanyak 2 rangkap.
3. Buku Inventaris Barang Milik/Kekayaan Negara sebanyak 2 rangkap (Kalau ada).
Masing-masing dicatat secara terpisah sesuai pemilikan barangnya, kalau ada di Sekratariat Daerah
tersebut begitu juga untuk KIB dan KIR.
h. Pelaksanaan di Tingkat Kabupaten/Kota.
Pada tingkat kabutapan/kota, pada dasarnya hanya menerima Buku Inventaris dari :
- semua SKPD (termasuk Satuan Kerjanya) dalam rangkap 2
- Unit Setda Kabupaten/Kota (termasuk kuasa pengguna), sebanyak 2 rangkap.
Buku-buku Inventaris tersebut dikompilasi pengelola/pembantu pengelola (Sekda) sebagai pusat
Inventarisasi. Hasil dari kompilasi tersebut akan diperoleh:
1. Buku Induk Inventaris Barang Daerah Kabupaten/Kota sebanyak 2 rangkap, dimana yang
asli (rangkap ke-1) akan disimpan di Kabupaten/Kota, sedangkan rangkap ke-2 akan dikirim /
disampaikan ke Provinsi,
2. Buku Inventaris Barang Provinsi, sebanyak 2 rangkap, dimana yang asli akan disampaikan ke
Provinsi , sedangkan rangkap ke-2) disimpan di Kabupaten/Kota
3. Buku Inventaris Barang milik/Kekayaan Negara sebanyak 2 rangkap (kalau ada Barang milik/
kekayaan negara). Buku yang asli (rangkap ke-1) disampaikan ke masing-masing Kementrian,
sedangkan rangkap ke-2 disimpan di Kabupaten/Kota.
Selain itu, akan dilakukan rekapitulasi Buku Induk Inventaris Barang Daerah Kabupaten/
Kota. Hasil rekapitulasi tersebut akan dimasukkan dalam Daftar Rekapitulasi Induk untuk
menggambarkan jumlah barang Kabupaten/Kota tersebut. Sedangkan Buku Inventaris
Barang-barang Provinsi, Barang Milik/Kekayaan Negara dibuatkan pula Daftar Rekapitulasinya
masing-masing rangkap dua untuk memudahkan Provinsi untuk mengumpulkan/
mengkompilasi daftar rekapitulasi tersebut di Provinsi untuk disampaikan masing-masing :

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


125 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penatausahaan Serta Pertanggungjawaban Barang Milik Daerah

1. Menteri Dalam Negeri; dan


2. Arsip (di Provinsi yang bersangkutan).
i. Pelaksanaan di Tingkat Provinsi.
Setiap dinas yang terdapat dalam Provinsi/Unit-unit Provinsi (semua Pengguna/Kuasa pengguna
Provinsi) mengisi :
- Kartu Inventaris Barang (KIB) dalam rangkap 2
1. KIB A : Tanah
2. KIB B : Mesin dan Peralatan
3. KIB C : Gedung dan Bangunan
4. KIB D : Jalan, Irigasi dan Jaringan
5. KIB E : Aset Tetap Lainnya
6. KIB F : Konstruksi dalam Pengerjaan
- Kartu Inventaris Ruangan (KIR) berdasarkan letak barang menurut ruangan masing-masing.
- Buku Inventaris barang yang berada di pengguna/kuasa pengguna yang bersangkutan dalam
rangkap 3, Setelah diisi, lembar ke 3 disimpan pada pengguna/kuasa pengguna bersangkutan
sebagai arsip (Buku Inventaris Pengguna/kuasa pengguna), sedangkan lembar ke 1 s/d 2 dikirim
atau disampaikan ke Pengelola.
- Buku Inventaris Pengguna/Kuasa Pengguna Provinsi, yakni:
1. Buku Inventaris Barang Daerah Provinsi sebanyak 3 rangkap
2. Buku Inventaris Barang Barang Milik/Kekayaan Negara sebanyak 3 rangkap.
Masing-masing dicatat secara terpisah sesuai dengan pemilikan barangnya kalau ada, begitu
juga untuk KIB dan KIR.
- Kepala Bagian Tata Usaha pada SKPD menggabungkan semua Buku Inventaris Kuasa Pengguna
tersebut termasuk Buku Inventaris SKPD yang bersangkutan dalam rangkap 2 . Rangkap yang ke-2
akan disimpan di SKPD (menjadi Buku Inventaris SKPD). Selanjutnya, akan dibuatkan rekapitulasi
dari Buku Inventaris SKPD. Sedangkan rangkap ke-1 (asli) akan dikirim/disampaikan ke Gubernur
cq. Pengelola/Pembantu Pengelola.
j. Pelaksanaan di Tingkat Sekretariat Daerah Provinsi.
Semua Kuasa Pengguna Unit Sekretariat Daerah Provinsi mengisi:
- Kartu Inventaris Barang A, B, C, D, E dan F dalam rangkap dua.
- Kartu Inventaris Ruangan (KIR) berdasarkan letak barang menurut ruangan masing-masing.
- Buku Inventaris barang yang berada pada kuasa pengguna yang bersangkutan dalam rangkap 3.
Setelah diisi lembar ke 3 disimpan pada kuasa pegguna Unit sekretariat bersangkutan sebagai arsip
(Buku Inventaris kuasa pengguna), sedangkan lembar ke 1 s/d 2 dikirim atau disampaikan ke Pembantu
Pengelola.
- Pembantu Pengelola menggabungkan semua Buku Inventaris Kuasa Pengguna tersebut termasuk
buku inventaris pembantu pengelola sendiri, menjadi buku inventaris Sekretariat Daerah, dan dibuatkan
rekapitulasinya dalam dua rangkap. Lembar pertama (asli) akan disampaikan kepada Pengelola,
sedangkan lembar ke-2 akan disimpan di Sekretariat Daerah sebagai arsip (buku Inventaris unit /setda).
k. Pelaksanaan di Tingkat Pengelola.
Pengelola barang menerima:
- Buku Inventaris dari SKPD Provinsi.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


126 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penatausahaan Serta Pertanggungjawaban Barang Milik Daerah

- Buku Inventaris dari Unit Setda Provinsi .


- Buku Inventaris dari Daerah Kabupaten/Kota Wilayahnya.
Buku Inventaris tersebut di atas di kompilasi oleh Pengelola/Pembantu Pengelola sebagai Pusat
Inventaris Barang Provinsi. Dari hasil kompilasi tersebut, akan diperoleh :
1. Buku Induk.
2. Inventaris Barang Provinsi.
3. Buku Induk Inventaris Barang Kabupaten/Kota dalam provinsi yang bersangkutan.
Bagaimana dengan Barang milik/kekayaan Negara yang dipergunakan oleh Pemerintah Daerah?
Barang milik/kekayaan negara yang dipergunakan oleh Pemerintah Daerah akan dikompilasi dalam
Bentuk Buku Inventaris tersendiri. Seluruh Daftar Rekapitulasi barang milik Provinsi, Kabupaten/Kota
dan barang milik kekayaan negara akan disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri. Khusus untuk
barang milik Pusat (yaitu milik kementrian tertentu), kalau sudah ada aturan/petunjuk dari kementrian
yang bersangkutan, maka pengguna/kuasa pengguna tidak perlu mencatat/menginventaris barang
tersebut berdasarkan petunjuk ini. Pencatatan serta inventarisasi dilaksanakan sesuai dengan
petunjuk departemen pemilik barang tersebut. Laporan akan disampaikan kepada departemen
bersangkutan, dan tembusannya harus disampaikan kepada Kepala Daerah melalui Pengelola cq.
Pembantu Pengelola.

10.5.3. Buku Inventaris.


Setelah pengisian dalam KIB dan KIR, selanjutnya dilakukan rekapitulasi dalam buku yang disebut Buku
Inventaris. Buku inventaris adalah himpunan catatan data teknis dan administratif yang diperoleh dari
catatan kartu barang inventaris sebagai hasil sensus ditiap-tiap SKPD yang dilaksanakan secara serentak
pada waktu tertentu. Cara pengisian Buku Inventaris sebagai berikut :
a. Pada sudut kiri atas diisi nama SKPD Kabupaten/Kota, Provinsi dan Nomor Kode Lokasi pada sudut
kanan atas.
b. Kolom 1: Nomor Urut. Nomor urut pencatatan setiap jenis barang, kecuali dalam hal barang
tersebut sama jenisnya, sama harganya dan sama lokasinya, maka kelompok barang tersebut diberi
sebuah nomor urut (bukan per barang).
c. Kolom 2: Nomor Kode Barang. Nomor Kode Barang diisi dengan nomor kode barang yang telah
ditetapkan sesuai dengan masing-masing barang seperti tercantum dalam Tabel Kode Barang.
d. Kolom 3 : Nomor Register. Nomor Register diisi nomor urut pencatatan dari setiap barang yang
sejenis, kecuali dalam hal barang tersebut sama jenisnya sama harga dan sama lokasinya, maka
nomor register barang tersebut ditulis dengan nomor 0001 sampai dengan sejumlah barang
sejenis tersebut. Dari nomor register ini dapat diketahui berapa banyak barang dari setiap barang
yang sejenis. Misalnya kursi (0001) sampai (9999) dan sebagainya. Kalau ada satu jenis barang yang
lebih dari 9999, maka dipergunakan huruf A untuk jumlah 10000 jadi dituliskan A000. Bila lebih dari
10999 ditulis B000, demikian seterusnya.
e. Kolom 4 : Nama/Jenis Barang. Diisi nama/jenis barang yang dimaksud.
f. Kolom 5 : Merk/Tipe. Apabila barang mempunyai merk/type, maka diisi merek/tipe barang yang
bersangkutan. Sedangkan barang-barang yang tidak mempunyai merek dan tipe barang, kolom ini
dikosongkan atau tidak diisi (diberikan tanda -).
g. Kolom 6 : Nomor Sertifikat/Pabrik/Chasis/Mesin.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


127 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penatausahaan Serta Pertanggungjawaban Barang Milik Daerah

h. Kolom 7 : Bahan. Diisi bahan dari barang bersangkutan misalnya dari kayu, besi, rotan, plastik dan
lain-lain. Untuk barang-barang yang bahannya tidak dapat ditentukan secara pasti bahannya, maka
kolom ini dikosongkan atau tidak diisi.
i. Kolom 8 : Asal/Cara Perolehan Barang. Diisi asal/cara perolehan barang, misalnya dari pembelian
melalui proyek dan atau rutin, hibah, sumbangan dan lain-lain.
j. Kolom 9 : Tahun pembelian/perolehan. Diisi tahun saat barang itu dibeli atau saat diperoleh.
k. Kolom 10 : Ukuran Barang / Konstruksi (P, SP, D). Diisi ukuran barang/kontruksi gedung kantor, rumah
dan sebagainya. Ditulis P, SP, D untuk bangunan-bangunan yang sifatnya Permanen atau Darurat,
sedangkan jenisnya dapat ditulis tidak bertingkat, bertingkat satu, dua dan selanjutnya.
l. Kolom 11 : Satuan. Diisi satuan barang bersangkutan, misalnya sekian unit dan sebagainya.
m. Kolom 12 : Keadaan Barang. Diisi keadaan barang bersangkutan ditulis B, RR, RB untuk barang yang
keadaannya baik, rusak ringan atau rusak berat.
n. Kolom 13 : Jumlah Barang. Diisi jumlah/banyaknya barang bersangkutan.
o. Kolom 14 : Harga. Diisi harga barang yang bersangkutan pada saat dibeli/diperoleh atau bila perlu
ditaksir. Bagi barang yang sama jenisnya, sama barangnya dan sama lokasinya maka diisi jumlah
harga barangnya, sedangkan harga satuannya ditulis pada kolom keterangan.
p. Kolom 15: Keterangan. Diisi dengan keterangan yang dipandang perlu.

Setelah diisi seluruhnya maka pada sebelah kanan bawah dibubuhkan tanggal pencatatan dan
ditandatangani Pengurus Barang dan diketahui oleh Kepala SKPD. Perlu diingat, dalam satu instansi
pemerintah mungkin saja terdapat 3 komponen kepemilikan barang. Oleh karena itu, akan terdapat 3
buah Buku Inventaris Barang, yaitu:
1. Buku Barang Milik Daerah Propinsi (No.Kode 11)
2. Buku Barang Milik Kabupaten/Kota (No.Kode 12)
3. Buku Barang Milik Pemerintah Pusat (No. Kode 00).

BUKU INVENTARIS
SKPD :
KABUPATEN/KOTA :
PROVINSI : NO. KODE LOKASI :
NOMOR SPESIFIKASI BARANG Bahan Asal/ Tahun Ukuran Satuan Keadaan Barang JUMLAH Keterangan
No. Urut Kode Register Nama/ Merk/ No. Cara Perolehan Perolehan Barang/ (B/RR/RB) Barang Harga
Barang Jenis Type Sertifikat Barang Konstruksi
Barang No. Pabrik (P,S,D)
No. Chasis
No. Mesin
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

MENGETAHUI .....................................
KEPALA SKPD PENGURUS BARANG

( ) ( )
NIP NIP

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


128 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penatausahaan Serta Pertanggungjawaban Barang Milik Daerah

SKPD :
KAB/KOTA :
PROVINSI :
KODE LOKASI :
REKAPITULASI BUKU INVENTARIS
(REKAP HASIL SENSUS)

NO. URUT GOL KODE BIDANG BARANG NAMA BIDANG BARANG JUMLAH BARANG JUMLAH HARGA KET
(DLM RIBUAN)
1 2 3 4 5 6 7
1 01 01 TANAH
2 02 PERALATAN DAN MESIN
02 Alat-alat Besar
03 Alat-alat Angkutan
04 Alat-alat Bengkel dan Alat Ukur
05 Alat-alat Pertanian/Peternakan
06 Alat-alat Kantor dan Rumah Tangga
07 Alat-alat Studio dan Komunikasi
08 Alat-alat Kedokteran
09 Alat-alat Laboratorium
10 Alat-alat Keamanan
3 03 GEDUNG DAN BANGUNAN
11 a. Bangunan Gedung
12 a. Bangunan Monumen
4 04 JALAN, IRIGASI DAN JARINGAN
13 a. Jalan dan jembatan
14 b. Bangunan air/irigasi
15 c. Instalasi
16 b. Jaringan
5 05 ASSET TETAP LAINNYA
17 a. Buku Perpustakaan
18 b. Barang Bercorak Kesenian/kebudayaan
19 c.Hewan Ternak dan Tumbuhan
6 06 KONSTRUKSI DALAM PENGERJAAN

MENGETAHUI ......................................
KEPALA SKPD PENGURUS BARANG

( ) ( )
NIP NIP

10.6. Penggolongan Barang Milik Daerah


Setiap BMD harus dicatat dan didaftarkan dalam suatu daftar yang disebut Daftar Barang Pengguna (DBP)
dan Daftar Barang Kuasa Pengguna (DBKP). Selanjutnya Daftar Barang Pengguna ini akan digabungkan
menjadi Daftar BMD. Penggabungan ini dilakukan oleh pembantu pengelola. Daftar Barang Pengguna
dan Daftar Barang Kuasa Pengguna ini dihasilkan dari hasil pencatatan Kartu Inventaris Barang (KIB) dan
Kartu Inventaris Ruangan (KIR).

Pada saat pencatatan dalam KIB dan KIR tersebut, terlebih dahulu dilakukan penggolongan dan kodefikasi
BMD. Penggolongan barang dalam DBP dan DBKP akan terdiri dari 2 kode, yaitu kode lokasi dan kode
barang. Kedua kode ini terdiri dari 14 digit. Sehingga setiap barang, nantinya akan memiliki 2 kode yang
masing-masing terdiri dari 14 digit. Untuk tertib administrasi, setiap barang akan diberikan kode yang
terdiri dari kedua macam kode tersebut.

Kode Lokasi (14 digit)


Kode Barang (14 digit)

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


129 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penatausahaan Serta Pertanggungjawaban Barang Milik Daerah

Jadi setiap barang yang dimiliki pemerintah daerah, akan diberikan kode yang terkait dengan kode lokasi
dan kode barang. Kode lokasi terkait dengan kepemilikan dari barang tersebut, sedangkan kode barang
terkait dengan klasifikasi/penggolongan barang. Misalnya saja, suatu bangunan milik Pemkot Tangerang
Selatan yang diperoleh tahun 2005, harus diberikan kode yang terkait dengan kepemilikan (Pemkot
Tangerang), dan kode barang berdasarkan penggolongan barang.

Setiap kode barang dan kode kepemilikan ini harus dicantumkan pada setiap barang Inventaris. Kode
barang dan kode kepemilikan ini bisa ditulis pada stiker dan ditempelkan pada barang, atau dicantumkan
pada papan. Apabila ruang/tempat yang tersedia tidak dapat memuat kode tanda kepemilikan, sehingga
tidak dapat ditempelkan pada barang, kode barang tersebut cukup dicatat dalam Buku Inventaris (BI),
Kartu lnventaris Barang (KIB) dan Kartu Inventaris Ruangan (KIR).

Barang milik daerah yang dipisahkan (Pemerintah Daerah) tetap menjadi milik pemerintah daerah. Oleh
karena itu, semua barang inventaris yang dipisahkan (milik Perusahaan Daerah) akan diperlakukan sama
dengan barang inventaris milik pemerintah daerah, kecuali BMD yang diperdagangkan sesuai dengan
bidang usaha dari Perusahaan Daerah itu.

Cara pencantuman kode barang tanda kepemilikan :


a. Kode Barang dan tanda kepemilikan untuk kendaraan bermotor, baik kendaraan bermotor roda 2,
roda 4 maupun kendaraan bermotor lainnya ditempatkan di bagian luar yang mudah dilihat.
b. Kode Barang dan tanda kepemilikan rumah dinas dicantumkan pada sebuah papan yang
ditempelkan pada tembok rumah bagian depan sehingga tanda tersebut tampak nyata dari jalan
umum. Format dari papan tersebut yaitu :
- lebar 15 cm.
- panjang 25 cm.
- gambar lambang daerah berbentuk bulan ukuran garis tengah 6 cm.
- tinggi huruf 2 cm.
c. Kode barang dan tanda kepemilikan untuk tanah kosong dicantumkan pada sebuah papan yang
berukuran sekurang-kurangnya 60x100 cm. Dalam papan tersebut harus tercantum gambar
lambang daerah.

1. Kode Lokasi
Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan mengenai kodefikasi BMD yang terdiri dari kode lokasi barang,
dan kode barang. Kode lokasi barang menerangkan mengenai kepemilikan barang beserta tahun
perolehan/pembelian/pembangunan dari BMD yang dimiliki suatu SKPD. Cara penulisan kode lokasi
dapat dilihat pada di bawah ini.

Digit pertama dan kedua dari kode lokasi menerangkan kode kepemilikan untuk masing-masing
tingkatan pemerintahan. Ini terkait dengan status kepemilikan barang. Terdapat barang milik pemerintah
kabupaten/kota, barang milik pemerintah provinsi, dan barang milik pemerintah pusat (yaitu barang
milik kementerian/lembaga). Untuk digit pertama dan kedua akan diberikan kode :
a. 12 untuk barang milik pemerintah kabupaten/Kota
b. 11 untuk barang milik pemerintah provinsi
c. 00 untuk barang milik pemerintah pusat (BM/KN)

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


130 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penatausahaan Serta Pertanggungjawaban Barang Milik Daerah

Gambar 10.1 Kode Lokasi Barang

Kode Kepemilikan Barang


1 2
3 4 Kode Provinsi

5 6 Kode Kabupaten/kota
Kode
Lokasi 7 8 Kode bidang

(14 digit 9 10 Kode SKPD

11 12 Kode tahun pembelian / pengadaan / pembangunan

13 14 Kode unit/sub unit satuan kerja

Sumber : Diolah dari Permendagri No 17 tahun 2007

Sedangkan digit 3 dan digit 4 menunjukkan kode provinsi dimana setiap provinsi memiliki kode sendiri
yang diatur dalam Permendagri No. 17 Tahun 2007 dalam Lampiran 39. Sedangkan kode kabupaten
menggunakan pedoman dalam Lampiran 40 Permendagri 17 tahun 2007. Untuk kode satker diatur
sendiri dalam peraturan daerah.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


131 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penatausahaan Serta Pertanggungjawaban Barang Milik Daerah

Tabel 10.1

Kode Provinsi Kode Provinsi


NO Nama Provinsi Nomor NO Nama Provinsi Nomor
Kode Kode
1 NANGROE ACEH DARUSALAM 01 18 PAPUA 18
2 SUMATERA UTARA 02 19 SULAWESI UTARA 19
3 SUMATERA BARAT 03 20 SULAWESI TENGAH 20
4 RIAU 04 21 SULAWESI TENGGARA 21
5 JAMBI 05 22 SULAWESI SELATAN 22
6 BENGKULU 06 23 KALIMANTAN TIMUR 23
7 SUMATERA SELATAN 07 24 KALIMANTAN TENGAH 24
8 LAMPUNG 08 25 KALIMANTAN SELATAN 25
9 DKI JAKARTA 09 26 KALIMANTAN BARAT 26
10 JAWA BARAT 10 27 MALUKU UTARA 27
11 JAWA TENGAH 11 28 BANTEN 28
12 DI YOGYAKARTA 12 29 BANGKA BELITUNG 29
13 JAWA TIMUR 13 30 GORONTALO 30
14 BALI 14 31 IRIAN JAYA BARAT 31
15 NUSA TENGGARA BARAT 15 32 KEPULAUAN RIAU 32
16 NUSA TENGGARA TIMUR 16 33 SULAWESI BARAT 33
17 MALUKU 17

Selanjutnya digit ke-5 dan ke-6 menunjukkan kode kabupaten/kota yang terdapat dalam wilayah suatu
provinsi. Kalau kode provinsi diatur dalam Permendagri no 17 tahun 2007, kode kabupaten/kota yang
baru dibentuk ditetapkan oleh gubernur dengan mengikuti urutan sesuai nomor urut kabupaten/kota
yang ditetapkan Kementerian Dalam Negeri.
Digit berikutnya yaitu digit ke-7 dan ke-8 menunjukkan kode bidang, yaitu pengelompokan bidang tugas
yang terdapat dalam suatu pemerintah daerah. Kode bidang ini mencakup 22 bidang, yaitu :

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


132 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penatausahaan Serta Pertanggungjawaban Barang Milik Daerah

Tabel 10.2

1. Sekwan/DPRD; 12. Bidang Perindustrian;


2. Gubernur/Bupati/Walikota; 13. Bidang Pendapatan;
3. Wakil GUbernur/Bupati/Walikota; 14. Bidang Pengawasan;
4. Sekretariat Daerah; 15. Bidang Perencanaan;
5. Bidang Kimpraswil/PU; 16. Bidang Lingkungan Hidup;
6. Bidang Perhubungan; 17. Bidang Pariwisata;
7. Bidang Kesehatan; 18. Bidang Kesatuan Bangsa;
8. Bidang Pendidikan dan Kebudayaan; 19. Bidang Kepegawaian;
9. Bidang Sosial; 20. Bidang Penghubung;
10. Bidang Kependudukan; 21. Bidang Komunikasi, informasi dan dokumentasi;
11. Bidang Pertanian; 22. Bidang BUMD.

Kode ini masih bisa bertambah apabila pemerintah daerah memiliki lebih dari 22 bidang. Misalnya saja
yang tedapat pada Kota Surabaya. Dalam Peraturan Walikota Surabaya Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kodefikasi Lokasi dan BMD Walikota Surabaya, terdapat 26 kode bidang, yaitu :

1. Walikota adalah nomor 10. Bidang Kependudukan 19. Bidang Kepegawaian


01; adalah nomor 10; adalah nomor 19;
2. Wakil Walikota adalah 11. Bidang Pertanian 20. Bidang Penghubung
nomor 02; adalah nomor 11; adalah nomor 20;
3. Sekretariat Daerah 12. Bidang Perindustrian 21. Bidang Komunikasi,
adalah nomor 03; adalah nomor 12; Informasi dan
4. Sekretariat DPRD / DPRD 13. Bidang Pendapatan dokumentasi adalah
adalah nomor 04; adalah nomor 13; nomor 21;

5. Bidang Pekerjaan 14. Bidang Pengawasan 22. Bidang BUMD adalah


Umum adalah nomor adalah nomor 14; nomor 22.
05; 15. Bidang Perencanaan 23. Bidang Pertanahan
6. Bidang Perhubungan adalah nomor 15; adalah nomor 23;
adalah nomor 06; 16. Bidang Lingkungan 24. Bidang Ketentraman
7. Bidang Kesehatan Hidup adalah nomor 16; dan Ketertiban adalah
adalah nomor 07; nomor 24;
17. Bidang Pariwisata
8. Bidang Pendidikan dan 25. Bidang Pemberdayaan
adalah nomor 17;
Kebudayaan adalah Masyarakat adalah
18. Bidang Kesatuan Bangsa nomor 25;
nomor 08;
adalah nomor 18;
9. Bidang Sosial adalah 26. Kecamatan adalah
nomor 09; nomor 50.

Digit ke-9 dan ke-10 adalah nomor kode Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Kode ini adalah penjabaran
dari bidang tugas SKPD sesuai struktur organisasi di lingkungan Pemerintah Daerah. Sedangkan digit ke-

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


133 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penatausahaan Serta Pertanggungjawaban Barang Milik Daerah

11 dan 12 merupakan kode tahun pembelian/pengadaan barang yang diisi dengan 2 angka terakhir
pada tahun pembelian/perolehan barang. Apabila suatu barang tidak diketahui tahun pembelian/
perolehannya, maka tahun pembelian dibandingkan dengan barang yang sama, yaitu barang sejenis,
tipe yang sama, memiliki merek dan bahan yang sama. Penetapan perkiraan tahun untuk barang seperti
ini ditetapkan oleh Pengurus barang.
Digit ke-13 dan ke-14 adalah nomor kode Sub Unit Kerja. Untuk setiap SKPD diberikan nomor urut kode
sub unit sesuai struktur organisasi perangkat daerah mulai dari nomor 01 dan seterusnya, sampai sejumlah
sub Unit/Satuan Kerja dalam SKPD tersebut. Contohnya, pemerintah kota Surabaya memiliki komputer
yang berada di kantor kelurahan Mojo, Kecamatan Gubeng. Barang tersebut diperoleh tahun 1999. Kode
lokasi barang untuk barang tersebut adalah:
Gambar 10.2

Kode kepemilikan Kode Kode SKPD. Kode unit/sub


barang. Barang kabupaten/kota. Untuk kecamatan unit kerja. Untuk
milik pemerintah Untuk kota Gubeng kodenya kelurahan Mojo,
kota Surabaya Surabaya kodenya 15 kodenya 01
30

1 2 1 3 3 0 5 0 1 5 9 9 0 1

Kode Provinsi, Kode bidang. Kode tahun


untuk Jawa Timur Sesuai peraturan perolehan.
kodenya 13 walikota Surabaya, Barang tersebut
kode kecamatan diperoleh tahun
50 1999

Untuk kode kepemilikan barang, provinsi, kabupaten/kota diatur dalam Permendagri 17 tahun 2007,
sedangkan kode bidang, SKPD, unit/sub unit kerja akan diatur oleh Perda.

2. Kode Barang
Kode barang juga terdiri dari 14 digit. Kode ini menggambarkan klasifikasi/penggolongan barang. Tata
cara pemberian kode barang dapat dilihat pada Tabel 3.3. Menurut Permendagri, BMD digolongkan ke
dalam 6 kelompok yaitu:
a. Tanah
Selanjutnya akan dibagi menjadi Tanah Perkampungan, Tanah Pertanian, Tanah Perkebunan, Kebun
Campuran, Hutan, Tanah Kolam Ikan, Danau/ Rawa, Sungai, Tanah Tandus/Rusak, Tanah Alang-Alang
dan Padang Rumput, Tanah Penggunaan Lain, Tanah Bangunan dan Tanah Pertambangan, tanah
badan jalan dan lain-lain sejenisnya.
b. Peralatan dan Mesin.
1. Alat-alat besar.
Alat-alat Besar Darat, Alat-alat Besar Apung. Alat-alat Bantu dan lain-lain sejenisnya.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


134 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penatausahaan Serta Pertanggungjawaban Barang Milik Daerah

2. Alat-alat angkutan.
Alat Angkutan Darat Bermotor, Alat Angkutan Darat Tak Bermotor, Alat Angkut Apung Bermotor,
Alat Angkut Apung tak Bermotor, Alat Angkut Bermotor Udara, dan lain-lainnya sejenisnya.
3. Alat-alat bengkel dan alat ukur.
Alat Bengkel Bermotor, Alat Bengkel Tak Bermotor, dan lain-lain sejenisnya.
4. Alat-alat pertanian/peternakan
Alat Pengolahan Tanah dan Tanaman, Alat Pemeliharaan Tanaman /Pasca Penyimpanan dan lain-
lain sejenisnya.
5. Alat-alat kantor dan rumah tangga
Alat Kantor, Alat Rumah Tangga, dan lain-lain sejenisnya.
6. Alat studio dan alat komunikasi
Alat Studio, Alat Komunikasi dan lain-lain sejenisnya.
7. Alat-alat kedokteran.
Alat Kedokteran seperti Alat Kedokteran Umum, Alat Kedokteran Gigi, Alat Kedokteran Keluarga
Berencana, Alat Kedokteran Mata, Alat Kedokteran THT, Alat Rontgen, Alat Farmasi, dan lain-lain
sejenisnya.
8. Alat-alat laboratorium.
Unit Alat Laboratorium, Alat Peraga/Praktek Sekolah dan lain-lain sejenisnya.
9. Alat-alat keamanan.
Senjata Api, Persenjatan Non Senjata Api, Amunisi, Senjata Sinar dan lain-lain sejenisnya.
c. Gedung dan bangunan
1. Bangunan gedung.
Bangunan Gedung Tempat Kerja, Bangunan Gedung, Bangunan Instalansi, Bangunan Gedung
Tempat Ibadah, Rumah Tempat Tinggal dan gedung lainnya yang sejenis.
2. Bangunan monumen.
Candi, Monumen Alam, Monumen Sejarah, Tugu Peringatan dan lain-lain sejenisnya.
d. Jalan, irigasi dan jaringan.
1. Jalan dan jembatan.
Jalan, Jembatan, terowongan dan lain-lain jenisnya.
2. Bangunan air/irigasi.
Bangunan air irigasi, Bangunan air Pasang, Bangunan air Pengembangan rawa dan Polde,
Bangunan Air Penganan Surya dan Penanggul, Bangunan air minum, Bangunan air kotor dan
Bangunan Air lain yang sejenisnya.
3. Instalasi.
Instalasi Air minum, Instalasi Air Kotor, Instalasi Pengolahan Sampah, Instalasi Pengolahan Bahan
Bangunan, Instalasi Pembangkit Listrik, Instalasi Gardu Listrik dan lain-lain sejenisnya.
4. Jaringan.
Jaringan Air Minum, Jaringan Listrik dan lain-lain sejenisnya.
e. Aset tetap lainnya.
1. Buku dan perpustakaan.
Buku seperti Buku Umum Filsafah, Agama, Ilmu Sosial, Ilmu Bahasa, Matematika dan Pengetahuan

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


135 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penatausahaan Serta Pertanggungjawaban Barang Milik Daerah

Alam, Ilmu Pengetahuan Praktis. Arsitektur, Kesenian, Olah raga Geografi, Biografi,sejarah dan lain-
lain sejenisnya
2. Barang bercorak kesenian/kebudayaan.
Barang Bercorak Kesenian, Kebudayan seperti Pahatan, Lukisan Alat-alat Kesenian, Alat Olah Raga,
Tanda Penghargaan, dan lain-lain sejenisnya.
3. Hewan/ternak dan tumbuhan.
Hewan seperti Binatang Ternak, Binatang Unggas, Binatang Melata, Binatang Ikan, Hewan Kebun
Binatang dan lain-lain sejenisnya. Tumbuhan-tumbuhan seperti Pohon Jati, Pohon Mahoni,
Pohon Kenari, Pohon Asem dan lain-lain sejenisnya termasuk pohon ayoman/pelindung.
f. Kontruksi dalam pengerjaan
Kode barang adalah kode yang terdiri dari 14 digit angka. Untuk kode BMD, menggunakan
kodefikasi dan penggolongan yang terdapat dalam Lampiran 41 Permendagri 17 tahun 2007.
Gambar 10.3 Kode Barang

Kode golongan barang


1 2
3 4 5 Kode Bidang

6 Kode kelompok barang


Kode
Lokasi 7 8 Kode sub kelompok barang

(14 digit 9 10 Kode-kode sub sub kelompok barang

11 12 13 14 Nomor urut Pendaftaran

Sumber : Diolah dari Permendagri nomor 17 tahun 2007

Digit ke 1 dan ke-2 dari kode barang menunjukkan golongan barang. Kode golongan barang
diklasifikasikan menjadi 6 golongan, yaitu:
a. Untuk tanah, kodenya adalah 01.
b. Untuk mesin dan peralatan, kodenya adalah 02.
c. Untuk gedung dan bangunan, kodenya adalah 03.
d. Untuk jalan,Irigasi dan Jaringan, kodenya adalah 04.
e. Untuk Aset Tetap Lainnya, kodenya adalah 05.
f. Untuk Konstruksi dalam Pengerjaan, kodenya adalah 06.

Penggolongan ini sesuai dengan pengelompokan BMD menjadi 6 kelompok besar. Selanjutnya
golongan barang terbagi dalam beberapa bidang barang. Bidang barang terbagi dalam beberapa
kelompok barang, kelompok barang terbagi dalam beberapa sub kelompok, sedangkan sub kelompok
terdiri dari beberapa sub-sub kelompok. Penjabaran golongan, bidang, kelompok, sub kelompok dan
sub-sub kelpompok telah disediakan dalam lampiran Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun
2007. Sedangkan nomor urut pendaftaran diberikan terhadap barang dalam sub-sub kelompok yang
sama yang jumlahnya lebih dari satu barang. Contoh penetapan kode barang akan diberikan beberapa
contoh berikut ini.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


136 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penatausahaan Serta Pertanggungjawaban Barang Milik Daerah

a. Komputer milik Pemerintah Kota Surabaya diperoleh tahun 1999 (contoh di atas), berada di
kelurahan Mojo (01), kecamatan Gubeng (15), kota Surabaya (30). Komputer tersebut memiliki NUP
0003. Kode lokasi seperti yang sudah dibahas pada sub bab sebelumnya adalah 12.13.30.50.15.99.01.
Untuk kode barang :
Gambar 10.4

Kode Golongan.
Untuk mesin dan Kode kelompok. Kode sub-sub
peralatan Komputer adalah kelompok, PC
kodenya 02 kelompok 03 Unit kodenya 01

1 2 0 6 0 3 0 2 0 1 0 0 0 3

Kode Bidang. Kode sub Kode Nomor Urut


Komputer adalah kelompok. Pendaftaran
alat kantor dan Komputer 02
rumah tangga,
kodenya 06

Sehingga komputer tersebut akan diberikan kode :

Kode Lokasi 12.13.30.50.15.99.01


Kode Barang 02.06.03.02.01.0003

b. Sebuah stetoscope milik pemkot Jakarta yang terdapat di Puskesmas Kecamatan Cakung (08),
Kelurahan Cakung Barang (04), Kecamatan Cakung (06), Jakarta Utara (05), Provinsi DKI Jakarta (09),
diperoleh tahun 2000 dengan nomor urut 5. Kode lokasi adalah :

Gambar 10.5

Kode kepemilikan Kode Kode SKPD. Kode unit/sub unit


barang. Barang kabupaten/kota. Untuk kelurahan kerja. Puskesmas
milik pemerintah Untuk kota Jakarta Cakung Barat Cakung kodenya
kota Jakarta Utara, Utara kodenya 05 kodenya 04 08
kodenya 12

1 2 0 9 0 5 0 6 0 4 0 0 0 8

Kode Provinsi, Kode bidang. Kode tahun


untuk DKI Jakarta Untuk kesehatan perolehan.
kodenya 09 06 Barang tersebut
diperoleh tahun
2000

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


137 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penatausahaan Serta Pertanggungjawaban Barang Milik Daerah

Gambar 10.6

Kode kelompok.
Kode Golongan. Termasuk kelompok
Untuk mesin dan Radiation Kode sub-sub
peralatan Application and kelompok.
kodenya 02 Non Destructive 06 Stetoscope = 45

0 2 0 9 0 6 0 3 4 5 0 0 0 5

Kode Bidang. Kode sub Kode Nomor Urut


Stetoscope adalah kelompok. Untuk Pendaftaran, yaitu
alat laboratorium, Peralatan Umum 00005
kodenya 09 Kedokteran/Klinik
Nuklir 03

Sehingga stetoscope tersebut akan diberikan kode:

Kode Lokasi 12.09.05.06.04.00.08


Kode Barang 02.09.06.03.45.0005

Untuk barang-barang yang belum ada nomor kode barangnya, digunakan nomor kode lain-lain
dari sub kelompok barang tersebut.

10.7. Kartu Inventaris Barang (KIB)


Kartu Inventaris Barang (KIB) adalah kartu yang digunakan untuk mencatat barang-barang inventaris.
Pencatatan ini bisa dilakukan untuk setiap barang (misalnya PC merk A), atau secara kolektif (semua
PC digabungkan dalam 1 KIB). Pencatatan dalam KIB harus meliputi informasi yang terkait dengan asal
barang tersebut (pembelian, hibah, wakaf dstnya), volume/jumlah, kapasitas (terkait dengan peralatan
tentu saja ada kapasitas terkait dengan mesin/peralatan), merk, tipe, nilai/harga, tahun pembelian/
pembuatan dan data lain mengenai barang tersebut yang diperlukan untuk inventarisasi maupun tujuan
lain dan dipergunakan selama barang itu belum dihapuskan.

Setiap barang akan dicatat dalam Kartu Inventaris Barang. Barang dalam golongan yang sama, akan
dicatat dalam KIB yang sama. Misalnya saja, tanah kolam ikan dan tanah tandus/rusak akan dibukukan
dalam KIB yang sama. Sebaliknya, tanah tandus/rusak tentunya tidak akan dicatat dalam KIB yang sama
dengan bangunan. Terdapat 6 macam KIB, yaitu :
1. KIB-A : Tanah,
2. KIB-B : Mesin dan Peralatan

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


138 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penatausahaan Serta Pertanggungjawaban Barang Milik Daerah

3. KIB-C : Gedung dan Bangunan


4. KIB-D : Jalan, Irigasi dan Jaringan
5. KIB-E : Aset Tetap Lainnya
6. KIB-F : Konstruksi dalam Pengerjaan

Untuk setiap KIB, selalu terdapat kode lokasi. Untuk kode lokasi ini digunakan pedoman kode lokasi yang
sudah dibahas dalam KIB sebelumnya. Selain itu, setiap KIB selalu mencantumkan 2 penandatangan,
yaitu Pengurus Barang, kepala SKPD. Setiap barang milik SKPD tentu harus diketahui oleh kepala SKPD. Itu
sebabnya pada sisi kiri bawah, terdapat tanda tangan kepala SKPD. Selain itu, terdapat kolom keterangan
yang memuat keterangan yang dianggap perlu. Tentu saja, keterangan ini mencakup hal-hal yang belum
terdapat dalam KIB tersebut, yang dianggap perlu dicatat oleh SKPD.

1. KIB-A Tanah.
KIB-A mencatat BMD yang termasuk dalam golongan tanah. Misalnya saja tanah perkampungan, tanah
pertanian, tanah perkebunan tanah penggunaan lain, tanah bangunan dan tanah pertambangan, tanah
badan jalan dan lain-lain sejenisnya. KIB-A Tanah terdiri atas 14 kolom dengan cara pengisian sebagai
berikut :
1. Kolom 1 : Nomor urut pencatatan
2. Kolom 2 : Jenis Barang/Nama Barang. Pada kolom 2 dituliskan dengan jelas jenis tanah yang
merupakan barang inventaris. Misalnya saja tanah perkantoran, tanah perkebunan,tanah tegalan,
tanah hutan dlsbnya.
3. Kolom 3 : Nomor Kode Barang. Untuk kode barang digunakan kode barang yang terdapat dalam
lampiran Permendagri 17 tahun 2007.
4. Kolom 4 : Nomor Register, yaitu nomor urut barang. Nomor urut barang berbeda dengan nomor
urut pencatatan dan terkait dengan barang sejenis.
5. Kolom 5 : Luas tanah
6. Kolom 6 : Tahun pengadaan tanah
7. Kolom 7 : Letak/Alamat. Tuliskan letak alamat lengkap lokasi dari tanah tersebut. Contoh : Jalan Raya
Bintaro Utama Sektor V, Bintaro, Tangerang, atau nama kelurahan, kecamatan/nama kota dsbnya.
8. Kolom 8 diisi hak pakai atau hak pengelolaan tanah. Kalau tanah tersebut dipergunakan
langsung menyelenggarakan tugas pokok dan fungsi pemerintahan, kolom 8 diisi hak pakai. Jika
tanah tersebut digunakan untuk menunjang tugas pokok dan fungsi, maka diisi hak pengelolaan.
9. Kolom 9 : Tanggal Sertifikat, yaitu tanggal terbitnya sertifikat tanah.
10. Kolom 10: Nomor Sertifikat.
11. Kolom 11: Penggunaan. Misalnya saja perkampungan, taman, perkebunan dlsbnya.
12. Kolom 12 diisi dengan asal usul perolehan dari barang tersebut. Misalnya saja dibeli, hibah, transfer
masuk dan lain sebagainya.
13. Kolom 13: Harga. Pada kolom ini dituliskan nilai pembelian dari tanah atau nilai taksiran tanah kalau
tanah tersebut berasal dari sumbangan/hibah, pembukaan hutan dan sebagainya.

Perlu diingat, apabila ada data tanah yang tidak jelas, supaya proses pencatatan (Sensus Daerah) tidak
terhambat, kolom atau lajur tersebut dapat dikosongkan atau diberikan tanda . Akan tetapi ada 2 hal
yang tidak boleh dikosongkan dan harus ditaksir atau diperkirakan, yaitu :

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


139 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penatausahaan Serta Pertanggungjawaban Barang Milik Daerah

a. Tahun Perolehan, karena tahun perolehan termasuk dalam Kode Lokasi


b. Harga, oleh karena menyatakan/menggambarkan besarnya aset/ kekayaan yang ada pada SKPD,
dan menggambarkan seluruh aset/kekayaan dan masing-masing Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota.
Khusus mengenai harga, yang dicantumkan adalah harga beli sesuai ketentuan yang berlaku. Namun dalam
rangka Sensus barang Daerah, apabila tidak ada harga beli atau harga peroehan, maka untuk mendapatkan
data/harga yang wajar, dapat dengan harga pada saat dilaksanakan Sensus Barang Daerah, seperti :
a. Untuk tanah berdasarkan Harga Umum tanah atau NJOP setempat.
b. Untuk bangunan berdasarkan Harga standar dari Dinas Pekerjaan Umum.

KARTU INVENTARIS BARANG (KIB) A - TANAH

NO. KODE LOKASI :


No Jenis Nomor Luas Tahun Letak/ Status Tanah Penggunaan Asal Harga Ket
Barang/ Kode Register (m2) Pengadaan Alamat Hak Sertifikat Usul (Ribuan
Nama Barang Rp)
Barang Tanggal Nomor

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

MENGETAHUI ............., .......................................


KEPALA SKPD PENGURUS BARANG

(...................................) (.........................................)
NIP

2. KIB-B Mesin dan Peralatan.


KIB B digunakan untuk mencatat mesin dan peralatan, seperti :
a. Alat-alat besar.
Alat-alat Besar Darat, Alat-alat Besar Apung. Alat-alat Bantu dan lain-lain sejenisnya.
b. Alat-alat angkutan.
Alat Angkutan Darat Bermotor, Alat Angkutan Darat Tak Bermotor, Alat Angkut Apung Bermotor,
Alat Angkut Apung tak Bermotor, Alat Angkut Bermotor Udara, dan lain-lainnya sejenisnya.
c. Alat-alat bengkel dan alat ukur.
Alat Bengkel Bermotor, Alat Bengkel Tak Bermotor, dan lain-lain sejenisnya.
d. Alat-alat pertanian/peternakan.
Alat Pengolahan Tanah dan Tanaman, Alat Pemeliharaan Tanaman/Pasca Penyimpanan dan lain-lain
sejenisnya.
e. Alat-alat kantor dan rumah tangga.
Alat Kantor, Alat Rumah Tangga, dan lain-lain sejenisnya.
f. Alat studio dan alat komunikasi.
Alat Studio, Alat Komunikasi dan lain-lain sejenisnya.
g. Alat-alat kedokteran.
Alat Kedokteran seperti Alat Kedokteran Umum, Alat Kedokteran Gigi, Alat Kedokteran Keluarga

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


140 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penatausahaan Serta Pertanggungjawaban Barang Milik Daerah

Berencana, Alat Kedokteran Mata, Alat Kedokteran THT, Alat Rontgen, Alat Farmasi, dan lain-lain
sejenisnya.
h. Alat-alat laboratorium.
Unit Alat Laboratorium, Alat Peraga/Praktek Sekolah dan lain-lain sejenisnya.
i. Alat-alat keamanan.
Senjata Api, Persenjatan Non Senjata Api, Amunisi, Senjata Sinar dan lain-lain sejenisnya.

KIB-B terdiri atas 16 kolom dengan cara pengisiannya sebagai berikut :


1. Kolom 1 : Nomor Urut, yaitu nomor urut setiap jenis barang.
2. Kolom 2 : Nomor Kode Barang.
3. Kolom 3 : Nama Barang/Jenis Barang.
Isi jenis barang atau nama secara jelas seperti kendaraan. Misalnya alat besar, komputer PC dan
sebagainya. Untuk barang-barang yang mempunyai nomor pabrik, cara pencatatannya harus satu
persatu, sehingga hanya akan ada satu barang saja di setiap baris. Akan tetapi, tidak semua BMD
memiliki nomor pabrik. Beberapa BMD seperti kursi dan meja tidak memiliki nomor pabrik. Barang-
barang yang tidak mempunyai nomor pabrik dapat digabungkan dalam satu baris dengan syarat
barang tersebut mempunyai karakteristik yang sama (ukuran, bahan baku, tahun pembelian dan
sebagainya).
4. Kolom 4 : Nomor Register. Kalau terdapat lebih dari satu barang yang sejenis, maka diberikan nomor
register yang dimulai dari 0001 sampai dengan nomor terakhir dari barang dimaksud.
5. Kolom 5: Merk/Tipe.
Pada kolom 5 tuliskan merk dan tipe barang yang dimaksud. Apabila tidak ada tipenya kolom ini
diberi tanda strip (-). Contohnya :
a. mobil, merk Toyota Kijang Inova, Tipe EV.
b. Komputer, merk IBM dengan tipe Pentium 4.
6. Kolom 6 : Ukuran/CC.
Pada kolom 6 tuliskan ukuran atau cc dari barang yang bersangkutan. Apabila tidak ada ukurannya
diberi tanda strip (-). Contoh :
a. Mobil 2000 cc (untuk mobil Toyota Kijang)
b. Komputer dengan spesifikasi besaran layar, kapasitas, dan sebagainya.
7. Kolom 7 : Bahan.
Misalnya besi untuk filling cabinet, besi dan plastik untuk kursi. Apabila digunakan lebih dari 1
bahan, maka tuliskan bahan yang paling banyak digunakan.
8. Kolom 8 : Tahun Pembelian.
Pada kolom 8 tuliskan tahun pembelian dari barang yang bersangkutan. Apabila tidak diketahui
tahun pembeliannya supaya tuliskan tahun penerimaan/unit pemakaiannya.
9. Kolom 9: Nomor Pabrik.
Pada kolom 9 tuliskan nomor pabrik barang yang bersangkutan. Apabila tidak diketahui nomor
pabrik maka kolom ini diberi tanda strip (-).
10. Kolom 10 : Nomor Rangka, yaitu nomor rangka/chasis dari alat angkutan yang bersangkutan (kalau
ada). Kalau tidak ada nomor chasis berikan tanda -. Contoh : K.357608 dan sebagainya.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


141 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penatausahaan Serta Pertanggungjawaban Barang Milik Daerah

11. Kolom 11 Nomor Mesin. Nomor mesin bisa dapat dilihat pada pada faktur /kuitansi pembelian alat
angkutan. Kalau tidak ada nomor mesin berikan tanda strip (-).
12. Kolom 12: Nomor Polisi. Contoh : B 8165 LE dan seterusnya. Untuk jenis Alat Angkutan tertentu yang
tidak mempunyai Nomor Polisi, maka kolom ini diberi tanda -.
13. Kolom 13 : BPKB.
14. Kolom 14 : Asal-usul. Contoh : Pembelian, hadiah dan sebagainya.
15. Kolom 15 : Harga.
Pada kolom 15 tuliskan harga barang yang bersangkutan berdasarkan faktur/kuitansi pembelian
apabila barang yang bersangkutan berasal dari pembelian. Apabila barang yang bersangkutan
berasal dari sumbangan/hadiah, supaya diperkirakan dengan harga yang wajar. Pencatatannya
dinyatakan dalam ribuan rupiah. Contohnya, suatu barang dengan harga Rp 1.250.765,- maka pada
kolom ini dituliskan 1.251.

KARTU INVENTARIS BARANG (KIB) B


PERALATAN DAN MESIN

NO. KODE LOKASI :


No urut Kode Barang Nama Nomor Merk/ Ukuran/ Bahan Tahun Nomor Asal Harga Ket
Barang/ Register Type CC Pembelian Usul
Jenis Pabrik Rangka Mesin Polisi BPKB Cara
Barang Perolehan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

MENGETAHUI ............., .......................................


KEPALA SKPD PENGURUS BARANG

(...................................) (.........................................)
NIP

3. KIB-C Gedung dan Bangunan.


KIB-C ini digunakan untuk mencatat setiap bangunan, gedung dan bangunan monumen. KIB Gedung
dan Bangunan ini terdiri dari 17 kolom. Setiap gedung dan bangunan yang dimiliki pemerintah daerah
harus dicatat dalam KIB-C. Cara pengisian :
1. Kolom 1: Diisi nomor urut
2. Kolom 2: Jenis Barang/nama Barang.
Pengisian tentang Gedung diartikan sebagai bangunan yang berdiri sendiri atau dapat pula
merupakan suatu kesatuan bangunan yang tidak dapat dipisahkan. Misalnya, Gedung Kantor
Gubernur, Kabupaten, Kecamatan, Kelurahan, Gedung Sekolah, Puskesmas, Olah Raga, Monumen
dan sebagainya.
3. Kolom 3: Diisi Nomor Kode Barang.
4. Kolom 4: Diisi Nomor Register.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


142 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penatausahaan Serta Pertanggungjawaban Barang Milik Daerah

5. Kolom 5: Kondisi Bangunan, yaitu kondisi bangunan gedung/bangunan monumen pada saat
pelaksanaan Inventarisasi. Kondisi fisik bisa dalam keadaan baik, rusak ringan, rusak sedang dan
rusak berat.
6. Kolom 6: Konstruksi Bangunan. Pada kolom 6 tuliskan bertingkat apabila bangunan tersebut
bertingkat. Sebaliknya jika tidak bertingkat tuliskan tidak.
7. Kolom 7 dituliskan : beton apabila bangunan tersebut seluruhnya berkonstruksi beton. Apabila
tidak berkonstruksi beton isikan tidak.
8. Kolom 8: Luas Lantai ( M ). Harus disajikan dengan bilangan bulat. Perhitungan luas lantai tersebut
termasuk luas teras. Untuk gedung bertingkat dihitung dari luas lantai satu , dijumlah dengan luas
lantai bertingkat berikutnya.
9. Kolom 9: Letak/Lokasi. Tuliskan letak/alamat lengkap lokasi dari bangunan tersebut. Misalnya : Jalan
Raya Bintaro Utama Sektor V, Bintaro Jaya, Tangerang Selatan.
10. Kolom 10 dan 11 diisi dengan data mengenai dokumen gedung.
Apa saja yang dimaksud dengan dokumen gedung ? Dokumen gedung dapat berupa surat-surat
pemilikan seperti sertifikat atas tanah bangunan gedung, Surat Ijin Bangunan dan sebagainya.
Pada kolom 10 diisikan tanggal dokumen dikeluarkan, sedangkan pada kolom 11 diisikan Nomor
Dokumen.
11. Pada kolom 12 tuliskan luas dari tanah bangunan dengan ukuran m dengan bilangan bulat. Kalau
kolom 8 merupakan luas bangunan, dalam kolom ini yang disajikan adalah luas tanah.
12. Pada kolom 13 isikan status tanah dari tanah/bangunan.
Status tanah/bangunan bisa berupa :
a. Tanah milik Pemda.
b. Tanah Negara (Tanah yang dikuasai langsung oleh Negara).
c. Tanah Hak Ulayat (Tanah masyarakat Hukum Adat)
d. Hak Tanah (Tanah kepunyaan perorangan atau Badan Hukum), Hak Guna Bangunan, Hak Pakai
atau Hak Pengelolaan.
13. Kolom 14 isikan Nomor Kode Tanah.
14. Kolom 15 : Asal Usul. Misalnya saja dibeli, hibah dan lain-lain. Apabila bangunan/barang tersebut
dibiayai dari beberapa sumber anggaran, dicatat sebagai milik komponen pemilikan pokok.
Misalnya, bangunan milik Pemda yang pembangunannya dibantu dari anggaran Pusat maka
statusnya tetap dicatat sebagai milik Pemda.
15. Kolom 16: Harga.
Pada kolom 16 tuliskan harga yang sebenarnya untuk bangunan gedung/monumen tersebut.
Terkadang dari dokumen yang ada, nilai gedung/monumen tersebut tidak dapat diketahui. Apabila
hal ini terjadi, nilai gedung dicatat berdasarkan harga yang berlaku dilingkungan tersebut pada
waktu pencatatan.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


143 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penatausahaan Serta Pertanggungjawaban Barang Milik Daerah

KARTU INVENTARIS BARANG (KIB) C


GEDUNG DAN BANGUNAN

NO. KODE LOKASI :


No urut Jenis Nomor Kondisi Konstruksi Luas Letak/ Dokumen Luas Status Nomor Asal Harga Ket
Barang/ Bangunan Bangunan Lantai Lokasi Gedung (M2) Tanah Kode Usul
Nama Kode Register (B,KB,RB) Bertingkat Beton/ (M2) Alamat Tanggal Nomor Tanah
Barang Barang Tidak Tidak
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

MENGETAHUI ............., .......................................


KEPALA SKPD PENGURUS BARANG

(...................................) (.........................................)
NIP

4. KIB-D Jalan, Irigasi dan Jaringan.


KIB-D terdiri dari 17 kolom dan digunakan untuk mencatat jalan, irigasi dan jaringan. KIB D mencatat BMD
yang terdiri dari:
a. Jalan dan jembatan.
Jalan, Jembatan, terowongan dan lain-lain jenisnya.
b. Bangunan air/irigasi.
Bangunan Air Irigasi, Bangunan Air Pasang, Bangunan Air, Pengembangan Rawa dan Polde, Bangunan
Air Pengaman Surya dan Penanggul, Bangunan Air Minum, Bangunan Air Kotor dan Bangunan Air
lain yang sejenis.
c. Instalasi.
Instalasi Air Minum, Instalasi Air Kotor, Instalasi Pengolahan Sampah, Instalasi Pengolahan Bahan
Bangunan, Instalasi Pembangkit Listrik, Instalasi Gardu Listrik dan lain-lain sejenisnya.
d. Jaringan.
Jaringan Air Minum, Jaringan Listrik dan lain-lain sejenisnya.
Cara pengisian KIB D:
1. Kolom 1 : Diisi nomor urut
2. Kolom 2 : Jenis Barang
Pada kolom 2 tuliskan jenis Jalan, Irigasi Dan Jaringan yang merupakan Barang Inventaris. Misalnya Jalan,
Jembatan, terowongan, Bangunan Air Irigasi, Bangunan Air Pasang, Bangunan Air Pengembangan
Rawa dan Polde, Bangunan Air Pengaman Surya dan Penanggul, Bangunan Air Minum, Bangunan
Air Kotor, Instalasi Air Minum, Instalasi Air Kotor, Instalasi Pengolahan Sampah, Instalasi Pengolahan
Bahan Bangunan, Instalasi Pembangkit Listrik, Instalasi Gardu Listrik, Jaringan Air Minum, Jaringan
Listrik dan lain-lain sejenisnya.
3. Kolom 3 diisi nomor kode barang.
4. Kolom 4 diisi nomor register (pencatatan).

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


144 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penatausahaan Serta Pertanggungjawaban Barang Milik Daerah

KARTU INVENTARIS BARANG (KIB) D


JALAN, IRIGASI DAN JARINGAN

NO. KODE LOKASI :


No. Jenis Nomor Konstruksi Panjang Lebar Luas Letak/ Dokumen Status Nomor Asal Harga Kondisi Ket
2
Urut Barang/ (km) (m) (m ) Lokasi Tanah Kode Usul (B,KB,RB)
Nama Kode Register Tanggal Nomor Tanah
Barang Barang
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

10.8. Pelaporan Barang Milik Daerah


1. Pengguna/kuasa pengguna diwajibkan untuk menyusun laporan barang semesteran, tahunan dan
5 (lima) tahunan kepada kepada Kepala Daerah melalui pengelola.
2. Pembantu pengelola menghimpun seluruh laporan pengguna barang semesteran, tahunan dan 5
(lima) tahunan dari masing-masing SKPD, jumlah maupun nilai serta dibuat rekapitulasinya sebagai
bahan penyusunan neraca daerah.
3. Hasil sensus barang daerah dari masing-masing pengguna/kuasa pengguna, di rekap ke dalam buku
inventaris dan disampaikan kepada pengelola, selanjutnya pembantu pengelola merekap buku
inventaris tersebut menjadi buku induk inventaris.
4. Buku Induk Inventaris sebagaimana dimaksud pada angka 3 merupakan saldo awal pada daftar
mutasi barang tahun berikutnya, selanjutnya untuk tahun-tahun berikutnya
5. pengguna/kuasa pengguna dan pengelola hanya membuat Daftar Mutasi Barang (bertambah dan/
atau berkurang) dalam bentuk rekapitulasi Barang Milik Daerah.
6. Mutasi barang bertambah dan/atau berkurang pada masing-masing SKPD setiap semester, dicatat
secara tertib pada :
Laporan Mutasi Barang.
Daftar Mutasi Barang.
7. Laporan mutasi barang merupakan pencatatan barang bertambah dan/atau berkurang selama 6
(enam) bulan untuk dilaporkan kepada Kepala Daerah melalui pengelola.
8. Laporan Mutasi Barang semester I dan semester II digabungkan menjadi Daftar Mutasi Barang
selama 1 (satu) tahun, dan masing-masing dibuatkan Daftar Rekapitulasinya (Daftar Rekapitulasi
Mutasi Barang).
9. Daftar mutasi barang selama 1 (satu) tahun tersebut disimpan di Pembantu Pengelola.
10. Rekapitulasi seluruh Barang Milik Daerah (daftar mutasi), disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri.

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


145 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Penatausahaan Serta Pertanggungjawaban Barang Milik Daerah

10.9. Rangkuman
Pengguna/kuasa pengguna menyusun laporan barang semesteran dan tahunan. Laporan barang
semesteran dan tahunan tersebut disampaikan kepada kepala daerah melalui pengelola. Laporan
tersebut oleh pembantu pengelola dihimpun menjadi Laporan BMD (LBMD). Laporan Barang Milik
Daerah ini digunakan sebagai bahan untuk menyusun neraca pemerintah daerah. Proses inilah yang
disebut dengan kegiatan penatausahaan BMD, yang dilakukan dengan urutan kegiatan pembukuan,
inventarisasi dan pelaporan. Penatausahaan dilakukan untuk menghasilkan laporan barang semesteran
dan tahunan. Sedangkan untuk melakukan pendataan ulang terhadap BMD dilakukan sensus barang
tiap 5 (lima) tahun sekali untuk meng-update data barang agar diperoleh angka yang akurat. Untuk
memudahkan pendaftaran dan pencatatan serta pelaporan BMD secara akurat dan cepat pemerintah
dapat mempergunakan aplikasi Sistem Informasi Manajemen Barang Daerah (SIMBADA).

Latihan
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan
a. pembukuan,
b. inventarisasi,
c. pelaporan dan
d. apa kaitan antara (a), (b) dan (c).
2. Sebutkan sasaran dan tujuan dari kegiatan penatausahaan BMD!
3. Apa akibatnya apabila BMD tidak ditatausahakan secara tertib?
4. Jelaskan apa yang dimaksud dengan sensus BMD dan apa kaitannya dengan penatausahaan BMD?
5. Apa perbedaan inventarisasi dengan sensus BMD?
6. Jelaskan peranan dan fungsi inventarisasi BMD?

MATERI PELATIHAN PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH


146 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan

Anda mungkin juga menyukai