Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN CHOLELITIASIS

A. Pengertian
Pneumonia merupakan peradangan akut parenkim paru-paru yang biasanya
berasal dari suatu infeksi. (Price, 2005). Pneumonia adalah peradangan yang
mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus
respiratorius, alveoli, serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan menimbulkan
gangguan pertukaran gas setempat. (Zul, 2001 dalam Jadi, 2012).
Bronkopneumonia digunakan unutk menggambarkan pneumonia yang
mempunyai pola penyebaran berbercak, teratur dalam satu atau lebih area terlokalisasi
didalam bronki dan meluas ke parenkim paru yang berdekatan di sekitarnya. Pada
bronkopneumonia terjadi konsolidasi area berbercak. (Smeltzer,2001).

B. Etiologi
1. Bakteri
Pneumonia bakteri biasanya didapatkan pada usia lanjut. Organisme gram
posifif seperti : Steptococcus pneumonia, S. aerous, dan streptococcus pyogenesis.
Bakteri gram negatif seperti Haemophilus influenza, klebsiella pneumonia dan P.
Aeruginosa.
2. Virus
Disebabkan oleh virus influensa yang menyebar melalui transmisi droplet.
Cytomegalovirus dalam hal ini dikenal sebagai penyebab utama pneumonia virus.
3. Jamur
Infeksi yang disebabkan jamur seperti histoplasmosis menyebar melalui
penghirupan udara yang mengandung spora dan biasanya ditemukan pada kotoran
burung, tanah serta kompos.
4. Protozoa
Menimbulkan terjadinya Pneumocystis carinii pneumonia (CPC). Biasanya
menjangkiti pasien yang mengalami immunosupresi. (Reeves, 2001)

C. Concept Map
Terlampir

D. Tanda dan Gejala


1. Pneumonia Bakteri
a. Rinitis ringan
b. Anoreksia
c. Gelisah
d. Demam
e. Malaise
f. Napas cepat & dangkal (50-80)
g. Ekspirasi bersemi
h. Lebih dari 3 tahun sakit kepala & kedinginan.
i. Kurang dari 2 tahun vomitus & diare ringanj. Leukositosis
k. Fototorax pneumonia lobar
2. Pneumonia Virus
a. Batuk, rinitis
b. Demam ringan, batuk ringan dan malaise sampai demam tinggi, batuk hebat
dan protasi (kelesuan)\
c. Empisema obstruktif
d. Hasil foto torax bronkopneumonia
e. Penurunan leukosit
3. Pneumonia mikroplasma
a. Awal demam, menggigil, sakit kepala, anoreksia, mialgia (nyeri otot)
b. Rinitis, sakit tenggorokan
c. Batuk kering berdarah
d. Hasil foto torax area konsolidas
( Hidayat, 2005 dalam Mauludin, 2012)
E. Pemeriksaan Penunjang
1. Sinar x: mengidentifikasi distribusi struktural; dapat juga menyatakan abses
luas/infiltrat, empiema(stapilococcus); infiltrasi menyebar atau terlokalisasi
(bakterial); atau penyebaran /perluasan infiltrat nodul (virus). Pneumonia
mikoplasma sinar x dada mungkin bersih.
2. GDA: tidak normal mungkin terjadi, tergantung pada luas paru yang terlibat dan
penyakit paru yang ada.
3. Pemeriksaan gram/kultur sputum dan darah: diambil dengan biopsi jarum,
aspirasi transtrakeal, bronkoskopifiberotik atau biopsi pembukaan paru untuk
mengatasi organisme penyebab.
4. JDL: leukositosis biasanya ada, meski sel darah putih rendah terjadi pada infeksi
virus, kondisi tekanan imun memungkinkan berkembangnya pneumonia
bakterial.
5. Pemeriksaan serologi: titer virus atu legionella, aglutinin dingin.
6. LED: meningkat
7. Pemeriksaan fungsi paru : volume ungkin menurun (kongesti dan kolaps
alveolar); tekanan jalan nafas mungkin meningkat dan komplain menurun,
hipoksemia.
8. Elektrolit : natrium dan klorida mungkin rendah
9. Bilirubin : mungkin meningkat
10. Aspirasi perkutan/biopsi jaringan paru terbuka :menyatakan intranuklear tipikal
dan keterlibatan sitoplasmik(CMV) (Doenges, 2000)

F. Komplikasi
1. Atelektasis
Atelektasis adalah pengembangan paru yang tidak sempurna atau kolaps paru
merupakan akibat kurangnya mobilisasi atau refleks batuk hilang. Apabila
penumpukan secret akibat berkurangnya daya kembang paru-paru terus terjadi dan
penumpukan secret ini menyebabkan obstruksi bronkus intrinsik.
2. Empisema
Empisema adalah dalah suatu keadaan dimana terkumpulnya nanah dalam rongga
pleura terdapat di satu tempat atau seluruh rongga pleura. Terjadi di mulai adanya
gangguan pembersihan jalan napas akibat penutupan sputum, peradangan yang
menjalar ke bronkhiolus menyebabkan dinding bronkhiolus mulai melubang dan
membesar.
3. Abses paru
Abses paru adalah pengumpulan pus dalam paru yang meradang. Di dalam paru-
paru berdinding tebal, nanah mengisi rongga yang dibentuk ketika infeksi atau
peradangan merusak jaringan paru. Bisul sering merupakan hasil dari bunyi
aspirasi radang paru-paru ketika campuran organisme masuk ke dalam paru-paru
bisul dapat menyebabkan haemorhagic di dalam paru-paru jika tidak diperlakukan,
tetapi atibiotik yang khusus membunuh bakteri anaerobic dan organisme lain
secara cepat dapat mengurangi bahaya.
4. Infeksi sitemik
5. Endokarditis
Endokarditis adalah peradangan pada endokardial
6. Meningitis
Meningitis adalah infeksi yang menyerang selaput otak. Penyebaran virus
haemofillus influenza melalui hematogen ke system saraf sentral. Penyebarannya
juga bisa di mulai saat terjadi infeksi saluran pernapasan atau dimana manifestasi
klinik meningitis menyerupai pneumonia.
(Mauludin, 2012)

G. Penatalaksanaan Medis
1. Penisillin 50.000 u/kg BB/hr ditambah dengan klomfenikol 50-70 mg/kg BB/hr
atau diberikan antibiotik yang mempunyai spektrum luas seperti ampisillin.
Pengobatan ini diteruskan sampai bebas demam 4-5 hari.
2. Pemberian O2 dan cairan intravena biasanya diperlukan campuran glukosa 5% dan
NaCl 0,9% dalam perbandingan 3:1 ditambah dengan larutan KCl 10mEg/500
ml/botol infus.
3. Karena sebagian besar pasien jatuh ke dalam asidosis metabolik akibat kurang
makan dan hipoksia, maka dapat diberikan koreksi sesuai dengan analisa hasil gas
darah arteri.
4. Kemotherapi untuk mycroplasma pneumonia, dapat diberikan Eritromicin 4 X 500
mg sehari atau Tetrasiklin 3 4 mg sehari.
5. Bila terdapat obstruksi jalan napas, dan lendir serta ada febris, diberikan
broncodilator.

H. Penatalaksanaan Keperawatan
1. Menjaga kelancaran pernapasan
2. Kebutuhan istirahat
3. Kebutuhan nutrisi dan cairan
4. Mengontrol suhu tubuh
5. Mencegah komplikasi atau gangguan rasa nyaman dan nyaman
6. Kurangnya pengetahuan orang tua mengenai penyakit.

I. Pengkajian Keperawatan
1. Wawancara
a Apakah adanya riwayat batuk
b Apakah adanya penurunan napsu makan
c Apakah sering mengalami demam
2. Riwayat Kesehatan
a. Adanya riwayat mual dan muntah
b. Riwayat penyakit infeksi saluran pernapasan sebelumnya : batuk, pilek, demam
c. Anorexia, sukar menelan yang berhubungan dengan imunitas seperti malnutrisi
d. Anggota keluarga lain yang mengalami sakit saluran pernapasan
e. Batuk produktif, pernapasan cuping hidung, pernapasan cepat dan dangkal,
gelisah, sianosis.
3. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi : dispneu, takipneu, napas cuping hidung, gerak dada naik turun pada
daerah yang sakit
b. Palpasi : fremitus suara normal sampai dengan meningkat
c. Perkusi : redup, batas tegas
d. Auskultasi : ronkhi basah halus atau vesikuler
4. Data Fokus (Doengoes, 2000)
a. Pernapasan
1) Gejala : takipneu, dispneu, progresif, pernapasan dangkal, penggunaan obat
aksesoris, pelebaran nasal
2) Tanda : bunyi napas ronkhi, halus dan melemah, wajah pucat atau sianosis
bibir atau kulit
b. Aktivitas atau istirahat
1) Gejala : kelemahan, kelelahan, insomnia
2) Tanda : penurunan toleransi aktivitas, letargi
c. Integritas ego : banyaknya stressor
d. Makanan atau cairan
1) Gejala ; kehilangan napsu makan, mual, muntah
2) Tanda : distensi abdomen, hiperperistaltik usus, kulit kering dengan turgor
kulit buruk, penampilan kakeksia (malnutrisi)
e. Nyeri atau kenyamanan
1) Gejala : sakit kepala, nyeri dada (pleritis), meningkat oleh batuk, nyeri dada
substernal (influenza), mialgia, atralgia.
2) Tanda : melindungi area yang sakit (pasien umumnya tidur pada posisi yang
sakit untuk membatasi gerakan)
5. Data Penunjang
a. Foto thorax bronkopneumoni terdapat bercak-bercak infiltrat pada satu atau
beberapa lobus
b. Secara laboratorik ditemukan leukositosis mencapai 15.000 - 40.000 /mm

J. Diagnosa Keperawatan
1. Bersihan jalan napas tidak efektif b.d produksi mukus meningkat
2. Gangguan pertukaran gas b.d perubahan kapiler alveoli
3. Hipertermia b.d proses infeksi
4. Resiko kekurangan volume cairan b.d out put berlebih
5. Intoleransi aktivitas b.d ganggaun suplai oksigen
6. Cemas b.d kurang pengetahuan orang tua atau informasi tentang penyakit

K. Intervensi Keperawatan
1. Bersihan jalan napas tidak efektif b.d produksi mukus meningkat
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan bersihan jalan napas
kembali efektif.
NOC : Respiratory status : Airway patency
Kriteria hasil:
a. Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara napas yang bersih
b. Menunjukan jalan napas yang paten
c. Mampu mengeluarkan sputum
d. Mampu mengidentifikasikan dan mencegah faktor penghambat jalan napas
Intervensi
a. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
b. Lakukan fisioterapi dada bila perlu
c. Keluarkan sekret dengan batuk efektif atau suction
d. Auskultasi suara nafas, catat adanya suara nafas tambahan
e. Monitor respirasi dan status O2
f. Berikan bronkodilator bila perlu.
2. Gangguan pertukaran gas b.d perubahan kapiler alveoli
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pertukaran gas
kembali lancar.
NOC : Respiratory status : Gas exchange
Kriteria hasil:
a. Mendemontrasikan peningkatan ventilasi
b. Oksigenasi yang adekuat
c. Memelihara kebersihan paru
d. Bebas dari tanda-tanda distress pernapasan
e. TTV dalam rentang normal
Intervensi
a. Monitor rata-rata, kedalaman, irama dan usaha respirasi
b. Monitor suara napas
c. Auskultasi suara napas, catat area penurunan/tidak adanya ventilasi dan suara
tambahan
d. Tentukan kebutuhan suction dengan mengauskultasi crakles dan ronkhi pada
jalan napas
e. Monitor kelelahan otot diafragma (gerakan paradoksis)
f. Monitor TTV
3. Hipertermia b.d proses infeksi
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan suhu tubuh kembali
normal.
NOC : Thermoregulation
Kriteria hasil:
a. Suhu tubuh dalam rentang normal
b. Nadi dan RR dalam rentang normal
c. Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing
Intervensi
a. Monitor suhu sesering mungkin
b. Monitor tekanan darah, nadi dan RR
c. Monitor kesadaran
d. Berikan antipiretik
e. Kompres pasien pada lipatan paha dan aksila
f. Tingkatkan sirkulasi udara
4. Resiko kekurangan volume cairan b.d out put berlebih
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kebutuhan cairan
terpenuhi.
NOC : Fluid Balance
Kriteria hasil:
a. Membran mukosa lembab
b. Kelembaban kulit dalam baas normal
c. Tidak ada asites
d. Tidak haus berlebih
Intervensi
a. Montor berat badan
b. Pertahankan intake dan output
c. Monitor status hidrasi
d. Monitor TTV
e. Monitor indikasi kelebihan cairan
f. Monitor hasil laboratorium berhubungan dengan retensi cairan
5. Intoleransi aktivitas b.d ganggaun suplai oksigen
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan aktivitas cukup.
NOC : Activity tolerance
Kriteria hasil:
a. Pola napas dalam rentang normal
b. Warna kulit normal
c. Kemampuan untuk berbicara saat aktivitas
d. Kebutuhan oksigen aktivitas terpenuhi
Intervensi
a. Tentukan kesedian pasien untuk meningkatkan aktivitas sesuai kondisi fisik
b. Bantu pasien untuk memilih aktivitas yang sesuai kondisinya
c. Bantu pasien untuk fokus dalam melakukan aktivitasnya
d. Monitor emosiaonal, fisik dan spiritual terhadap aktivitas
e. Bantu keluarga memonitor peningkatan aktivitas ke arah tujuan
6. Cemas b.d kurang pengetahuan orang tua atau informasi tentang penyakit
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan cemas teratasi.
NOC : Anxiety control
Kriteria hasil:
a. Monitor intensitas cemas
b. Menyingkirkan tanda kecemasan
c. Mencari informasi untuk mengurangi kecemasan
d. Menggunakan teknik relaksasi untuk menurunkan kecemasan
Intervensi
a. Tenangkan pasien dan keluarga
b. Berikan informasi pada pasien dan kelurga tentang diagnosa, prognosis dan
tindakan
c. Sediakan aktivitas untuk menurunkan ketegangan
d. Berusaha memahami keadaan pasien dan keluarga
e. Temani pasien untuk mendukung keamanan dan menurunkan rasa takut
f. Tentukan kemampuan pasien dan kelurga untuk mengambil keputusan

DAFTAR PUSTAKA
Price, Sylvia. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Edisi 4.
Jakarta: EGC
Smelzer. 2001. Keperawatan Medikal Bedah Vol. 1. Jakarta: EGC
Mauludin. 2012. Asuhan Keperawatan Bronkopneumonia.
http://ariprahmatmauludin.blogspot.com/2012/10/asuhan-keperawatan-
bronchopneumonia.html diakses 11 November 2013
Doenges, Marilynn (2000). Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakata : EGC.
Reevers, Charlene J, et all (2000). Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta :
Salemba Medika.
Jadi. 2012. Askep Bronkopneumonia.
http://askepjadi.blogspot.com/2012/12/askep-bronkopneumonia.html
diakses 11 November 2013
Klaten, November 2013
Pembimbing Klinik Mahasiswa

( ) (Ni Wayan Soma Arianti)

Mengetahui
Pembimbing Akademik

( )

LAPORAN PENDAHULUAN

BRONKOPNEUMONIA
OLEH

Ni Wyn Soma Arianti (13160010)

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA

2013/2014