Anda di halaman 1dari 9

GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP DUKUN BERSALIN

TENTANG KEMITRAAN DUKUN DENGAN BIDAN


DI PUSKESMAS CIKALONG KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2013

Mohamad Rizki Dwikane1 Eka Nurhayati2 Ina Rinawaty2


1
Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung
UPTD Puskesmas Cikalong

PENDAHULUAN

Peningkatan kesehatan ibu dan bayi di Indonesia adalah salah satu

komitmen Departemen Kesehatan melalui penerapan Rencana Pengurangan

Angka Kematian dan Kesakitan Ibu dan Bayi. Banyaknya upaya-upaya

pemerintah dalam pelayanan kesehatan yang diselenggarakan dan yang sedang

berjalan di dalam negeri nampaknya tidak memperlihatkan kontribusi menuju

penurunan AKI dan AKB.

Keberhasilan pembangunan kesehatan di Indonesia masih belum

memuaskan, terbukti dari masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka

Kematian Bayi (AKB). Kematian dan kesakitan ibu hamil, bersalin,nifas dan bayi

baru lahir masih merupakan masalah besar negara berkembang termasuk

Indonesia. Di Negara-negara miskin, sekitar 25 50% kematian wanita usia subur

disebabkan oleh masalah yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan dan nifas.

WHO memperkirakan diseluruh dunia setiap tahunnya lebih dari 585.000 ibu

meninggal pada saat hamil atau bersalin.

Suatu pelatihan pra-pelayanan yang baik kualitasnya dapat diperoleh

hanya dengan mengikuti langkah-langkah yang tepat yang dimulai dengan

pengembangan koordinasi yang dekat di antara lintas sektor yang bertanggung

1
jawab akan pendidikan staf Kesehatan Ibu dan Anak. Program ini akan terlaksana

bila di dukung dengan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Mengenai peranan dukun beranak dalam menurunkan AKI dan AKB adalah

dengan memberikan pelayanan kesehatan yang efektif kepada masyarakat

setempat; memberikan perawatan bagi ibu-ibu hamil, melahirkan serta ibu dan

bayi pasca-melahirkan.

Menurut data yang terdapat pada laporan tahunan Puskesmas Cikalong

didapatkan bayi meninggal berjumlah 18. Jumlah bidan desa 6 orang dan jumlah

dukun beranak 12 orang. Didapatkan kesenjangan antara target dan cakupan

persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh

masih tingginya dukun beranak di lingkungan kerja Puskesmas Cikalong.

Interaksi antara tenaga kesehatan dengan dukun beranak di wilayah kerja

Puskesmas Cikalong selama ini terhambat, karena didalam prakteknya dukun

beranak yang telah mendapat pembinaan dan pelatihan masih melakukan praktek

pertolongan persalinan tidak memenuhi standar kesehatan serta tidak memberikan

laporan kepada pihak Tenaga Kesehatan. Hasil temuan dilapangan menunjukkan

bahwa kemitraan bidan dengan dukun beranak sudah berjalan namun masih dalam

batas pemaknaan transfer knowledge, masih dalam bentuk pembinaan cara-cara

persalinan yang higienIs bidan desa kepada Dukun Bayi, berarti belum ada dalam

bentuk kesepekatan uraian tugas dan fungsi masing-masing, juga belum mengarah

pada alih peran pertolongan persalinan secara optimal. Namun dikhawatirkan di

masa mendatang, pembinaan yang dilakukan oleh bidan justru memberikan peran

baru Dukun Bayi, menambah prestisenya, dan menaikkan status mereka, bahkan

2
semakin menambah kepercayaan mereka menjalankan profesinya secara sendiri-

sendiri.

Berdasarkan paparan tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan

penelitian mengenai gambaran pengetahuan dan sikap dukun bersalin tentang

kemitraan dukun dengan bidan di Puskesmas Cikalong Kabupaten Bandung

Tahun 2013.

BAHAN DAN METODE

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian

deskriptif dengan rancangan cross sectional. Penelitian dilaksanakan pada bulan

Oktober di Puskesmas Cikalong. Variabel penelitian ini yaitu pengetahuan dan

sikap paraji tentang kemitraan antara dukun dan bidan. Populasi dalam penelitian

ini adalah seluruh dukun beranak (paraji) yang berada di lingkungan kerja

Puskesmas Cikalong. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling

yaitu sampel dalam penelitian ini adalah seluruh dukun beranak yang berlokasi di

wilayah Puskesmas Cikalong yang berjumlah 9 orang. Teknik pengumpulan data

yang digunakan adalah wawancara langsung dengan responden menggunakan

kuesioner. Teknik yang digunakan dalam pengolahan data untuk pengetahuan dan

sikap yaitu menggunakan persentase yaitu menjumlahkan setiap alternatif

jawaban pada setiap item soal, kemudian dibandingkan dengan jumlah responden

dan dikalikan seratus persen.

3
HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 1 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Paraji Tentang Pengertian


Kemitraan antara Bidan dan Paraji

NO. Pengetahuan Frekuensi Persentasi


1 Baik 9 100 %
2 Kurang 0 0
Total 9 100%

Berdasarkan tabel di atas, diketahui dari 9 paraji seluruhnya yakni 100 %

memiliki pengetahuaan yang baik tentang pengertian kemitraan antara bidan dan

paraji.

Tabel 2 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Paraji Tentang Tujuan program


Kemitraan antara Bidan dan Paraji

NO. Pengetahuan Frekuensi Persentasi


1 Baik 6 66,7 %
2 Kurang 3 33,3%
Total 9 100%

Berdasarkan tabel di atas, diketahui dari 9 orang paraji, terdapat lebih dari

setengah yakni 6 orang paraji(66,7%) memiliki pengetahuan baik.

Tabel 3 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Paraji Tentang Batasan Tindakan


sebagai Mitra bidan

NO. Pengetahuan Frekuensi Persentasi


1 Baik 7 77,8 %
2 Kurang 2 22,2%
Total 9 100%
Berdasarkan tabel di atas, diketahui dari 9 orang paraji, terdapat lebih dari

setengah yakni 7 orang paraji (77,8%) memiliki pengetahuan baik tentang batasan

tindakan yang boleh dilakukan paraji sebagai mitra dengan bidan.

4
Tabel 4 Distribusi Frekuensi Sikap Paraji dalam Kesediaan Merujuk setiap
Ibu hamil ke Bidan Setelah Dibuat Kesepakatan Sebelumnya

NO. Pengetahuan Frekuensi Persentasi


1 Favorable 8 88,9 %
2 Unfavorable 1 11,1%
Total 9 100%

Berdasarkan table diatas, diketahui dari 9 orang paraji, terdapat lebih dari

setengahnya yakni 8 orang paraji (88,9%) memiliki sikap yang favorable

( mendukung ).

Tabel 5 Distribusi Frekuensi Sikap Paraji dalam Kesediaan mengikuti


pelatihan dan pendidikan oleh bidan agara paham mengenai bersih alat,
bersih tempat, dan bersih orang.

NO. Pengetahuan Frekuensi Persentasi


1 Favorable 9 100 %
2 Unfavorable 0 0%
Total 9 100%

Berdasarkan table diatas, diketahui dari 9 orang paraji, seluruhnya yakni 9 orang

paraji (100%) memiliki sikap yang favorable ( mendukung ).

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil diatas, didapatkan dari 9 paraji, seluruhnya yaitu 100%

paraji memiliki pengetahuan yang baik tentang pengertian kemitraan antara

bidan dan paraji. Hasil penelitian dengan cara wawancara dengan bantuan

kuisioner, menunjukan seluruh paraji mampu menjelaskan dan menjawab secara

benar mengenai pengertian kemitraan antara bidan dan paraji. Hal ini

5
kemungkinan disebabkan karena kegiatan pelatihan dan pembinaan kemitraan

antara bidan dan paraji sudah pernah dilakukan sebelumnya, yaitu 5 tahun yang

lalu di Puskesmas Cikalong. Pelatihan dan pembinaan kegiatan kemitraan yang

dilakukan oleh bidan di Puskesmas Cikalong terhambat dikarenakan kurangnya

SDM yang ada di Puskesmas Cikalong, sehingga pelaksanaan kegiatan kemitraan

tersebut baru bisa dilakukan kembali setelah 5 tahun. Menurut Pedoman

Pelaksanaan kemitraan bidan dan dukun Kementrian Kesehatan RI, pengertian

kemitraan bidan dengan dukun adalah suatu bentuk kerjasama bidan dengan

dukun yang saling menguntungkan dengan prinsip keterbukaaan, kesetaraan, dan

kepercayaan dalam upaya untuk menyelamatkan ibu dan bayi, dengan

menempatkan bidan sebagai penolong persalinan dan mengalihfungsikan dukun

dari penolong persalinan menjadi mitra dalam merawat ibu dan bayi pada masa

nifas, dengan berdasarkan kesepakatan yang telah dibuat antara bidan dengan

dukun, serta melibatkan seluruh unsur/elemen masyarakat yang ada. Dalam hal

ini, dukun paraji sudah mengetahui tentang pengertian kemitraan tersebut yaitu

kerjasama.

Berdasarkan hasil persentase , diketahui dari 9 orang paraji, terdapat lebih dari

setengah yakni 6 orang paraji(66,7%) memiliki pengetahuan baik mengenai tujuan

dilakukannya program kemitraan antara bidan dan paraji. Menurut Pedoman

Pelaksanaan kemitraan bidan dan dukun Kementrian Kesehatan RI secara garis

besar tujuan pelatihan dukun beranak ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan

dan keterampilan sekaligus dedikasi dukun beranak agar timbul kepercayaan diri

untuk dapat melaksanakan pertolongan persalinan umumnya dalam melayani dan

6
meningkatkan kesehatan masyarakat Mayoritas paraji mengetahui tentang tujuan

kemitraan antara bidan dan paraji yakni meningkatkan angka cakupan pertolongan

persalinan oleh tenaga kesehatan sehingga diharapkan dapat menurunkan angka

kematian ibu dan bayi. Angka kematian bayi di Puskesmas Cikalong pada tahun

2012 berjumlah 18 orang. Hal ini kemungkinan diakibatkan karena masih

rendahnya pengetahuan ibu hamil mengenai penolong persalinan dan masih

berprakteknya paraji sebagai penolong persalinan walaupun sebenarnya paraji itu

sendiri sudah mengetahui tentang kemitraan antara bidan dan paraji.

Berdasarkan hasil persentase di atas, diketahui dari 9 orang paraji, terdapat

lebih dari setengah yakni 7 orang paraji (77,8%) memiliki pengetahuan baik

tentang batasan tindakan yang boleh dilakukan paraji sebagai mitra dengan bidan.

Mayoritas paraji mengetahui tentang batasan sebagai mitra bidan, yakni tugas

paraji adalah membantu bidan dalam proses persalinan. Namun dalam kenyataan

di lapangan, paraji masih melakukan praktek pribadinya apabila diminta oleh ibu

yang akan bersalin, sehingga paraji tidak melaporkan kepada bidan atau petugas

kesehatan tentang adanya proses persalinan tersebut.

Berdasarkan hasil persentase, diketahui dari 9 orang paraji, terdapat lebih

dari setengahnya yakni 8 orang paraji (88,9%) memiliki sikap yang favorable

(mendukung) dalam kesediaan erujuk setiap bu hamil ke bidan setelah dibuat

kesepakatan sebelumnya. Berdasarkan hasil penelitian, mayoritas paraji memiliki

sikap bersedia merujuk dan memotivasi setiap ibu hamil di lingkungannya untuk

memeriksakan kandungannya ke bidan desa atau bidan terdekat. Namun dalam

kenyataannya, minoritas (1 orang paraji) memilih untuk merawat sendiri ibu

7
hamil tersebut karena masalah ekonomi. Hal ini disebabkan belum terbentuknya

sebuah kesepakatan antara bidan dan paraji yang berjalan di Puskesmas Cikalong.

Dalam peraturannya, kemitraan antara bidan dan paraji, setiap paraji yang meruju

ibu hamil untuk memeriksakan kandungannya ke bidan akan mendapatkan tanda

terimakasih dari bidan berupa bayaran uang.

Berdasarkan table, diketahui dari 9 orang paraji, seluruhnya yakni 9 orang

paraji (100%) memiliki sikap yang favorable ( mendukung ) dalam kesediaan

mengikuti pelatihan dan pendidikan oleh bidan agara paham mengenai bersih alat,

bersih tempat, dan bersih orang. Mayoritas paraji memiliki sikap yang mendukung

untuk berjalannya kegiatan pelatihan dan pembinaan paraji oleh bidan. Hal ini

menunjukan kesadaran dari paraji untuk bermitra dengan bidan, namun

dikhawatirkan di masa mendatang, pembinaan yang dilakukan oleh bidan justru

memberikan peran baru Dukun Bayi, menambah prestisenya, dan menaikkan

status mereka, bahkan semakin menambah kepercayaan mereka menjalankan

profesinya secara sendiri-sendiri.

Hasil temuan dilapangan menunjukkan bahwa kemitraan bidan dengan

dukun beranak sudah berjalan namun masih dalam batas pemaknaan transfer

knowledge, berarti belum terdapat kesepekatan uraian tugas dan fungsi masing-

masing antara bidan dan paraji, juga belum mengarah pada alih peran pertolongan

persalinan secara optimal.

8
KESIMPULAN

Pengetahuan dan sikap paraji tentang kemitraan antara bidan dan paraji

sudah cukup baik, namun hal ini tidak sejalan dengan menurunnya angka

kematian bayi di wilayah kerja Puskesmas Cikalong. Hal ini kemungkinan

diakibatkan oleh :

1. Dukun paraji masih melakukan praktek mandiri walaupun mereka sudah

mengetaui tentang program kemitraan


2. Ketidaktahuan ibu hamil tentang penolong kesehatan yang aman, dalam

hal ini tenaga kesehatan (bidan)

UCAPAN TERIMAKASIH

Penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada pihak-pihak yang telah

membantu dalam penyelesaian artikel ini, yaitu Kepala Puskesmas Cikalong,

Pembimbing fakultas, dan bidan penanggung jawab program KIA-KB Puskesmas

Cikalong.