Anda di halaman 1dari 13

TUJUAN HOME CARE DI MASYARAKAT

Smith (1995), mengidentifikasi pelayanan keperawatan di rumah ( HC) memiliki lima

tujuan dasar, yaitu :

1. Meningkatkan support system yang adekuat dan efektif serta mendorong

digunakannya pelayanan kesehatan.

2. Meningkatkan keadekuatan dan keefektifan perawatan pada anggota keluarga dengan

masalah kesehatan dan kecacatan.

3. Mendorong pertumbuhan dan perkembangan yang normal dari seluruh anggota

keluarga dan keluarga serta memberikan pendidikan kesehatan pada keluarga tentang

peningkatan kesehatan dan pencegahan.

4. Menguatkan fungsi keluarga dan kedekatananantar keluarga

5. Meningkatkan kesehatan lingkungan.

INDIKASI

Kasus umum yang merupakan pasca perawatan di RS adalah :

Klien dengan COPD

Klien dengan penyakit gagal jantung

Klien dengan gangguan oksigensi

Klien dengan mengalami perlukaan kronis

Klien dengan diabetes

Klien dengan gangguan fungsi perkemihan

Klien dengan kondisi pemulihan kesehatan ( rehabilitasi)

Klien dengan terapi cairan infus di rumah

Klien dengan gangguan fungsi persyarafan

Klien dengan AIDS

Sedangkan kasus dengan kondisi khusus, meliputi :

Klien dengan post partum

Klien dengan gangguan kesehatan mental

Klien dengan kondisi Usia Lanjut

Klien dengan kondisi terminal ( Hospice and Palliative care)


KONSEP YANG MENDASARI

Pengertian, dan perkembangan HC

Home Care (HC) merupakan layanan kesehatan yang dilakukan di rumah pasien (Lerman

D & Eric B.L.,1993). Sedangkan menurut Rice, (2001) Home Care sendiri dapat diartikan

sebagai ilmu dan seni yang berupaya memberikan layanan kesehatan dan perawatan

bermutu yang dilakukan di rumah klien dan pada area di komunitas. Pengertian lain

Home Care atau Home Health Nursing adalah interaksi yang dilakukan perawat di tempat

tinggal keluarga yang bertujuan untuk meningkatkan dan mempertahankan kesehatan

keluarga dan anggotanya. Bila dilihat dari perspektif sejarahnya maka kegiatan home

care merupakan pelayanan yang dilakukan oleh para perawat dimana mereka melakukan

kunjungan rumah bagi masyarakat miskin yang menderita sakit dan tidak di bawa ke

rumah sakit. Hal ini telah dimulai di Amerika Serikat sekitar tahun 1796 di Boston dan

pada tahun 1885 di New York telah ada semacam agen home care, yang akhirnya pada

tahun 1886 di bentuk organisasi perawat kunjungan rumah atau Visiting Nurse

Association (VNAs) dimana organisasi ini sejak tahun 1909 telah bergabung dengan

lembaga asuransi dengan memperkejakan 1416 orang tenaga perawat kunjungan

rumah. Sedangkan pemerintah USA memperkejakan sebanyak 12.000 perawat terlatih

untuk memberikan asuhan keperawatan di rumah pada keluarga miskin melalui kegiatan

Public Health Nurse/Community Health Nursing. Di Inggris, Home Care berkembang

sejak di kenalkan Florence Nigthtingale (1820-1910) dan pada pertengahan abad 19

berkembanglah konsep district nursing yang diawali oleh para biarawati yang merawat

orang-orang miskin di rumah. Peran district nurse terus berkembang mulai dari merawat

orang sakit dan merawat orang dengan sakaratul maut di rumah, sampai mengajarkan

keterampilan keperawatan dasar agar keluarga bisa mandiri. Perkembangan home care

di Indonesia tidak banyak dicatat, namun sebenarnya telah ada sejak dikenalkan konsep

Puskesmas sekitar tahun 70-an, dimana Public Health Nursing (PHN) saat itu dijadikan
kegiatan pokok Puskesmas yang wajib dilaksanakan di setiap Puskesmas. Namun karena

saat itu tenaga perawat di Indonesia masih belum memadai maka perkembangan

kegiatan Home Care melalui program PHN menjadi tidak optimal. Pada saat ini seiring

dengan pesatnya perkembangan pendidikan tinggi keperawatan dan perkembangan

legislasi praktek keperawatan melalui dikeluarkannya SK Menkes No 1239 Thn 2002

tentang registrasi dan praktik keperawatan, maka kegiatan home care ke depan akan

mengalami perkembangan yang pesat, apalagi banyak institusi rumah sakit yang mulai

menyadari peluang kedepan tentang kegiatan hospital home care ini.

Tujuan program HC

Smith (1995), mengidentifikasi pelayanan keperawatan di rumah ( HC) memiliki lima

tujuan dasar, yaitu :

1. Meningkatkan support system yang adekuat dan efektif serta mendorong

digunakannya pelayanan kesehatan.

2. Meningkatkan keadekuatan dan keefektifan perawatan pada anggota keluarga dengan

masalah kesehatan dan kecacatan.

3. Mendorong pertumbuhan dan perkembangan yang normal dari seluruh anggota

keluarga dan keluarga serta memberikan pendidikan kesehatan pada keluarga tentang

peningkatan kesehatan dan pencegahan.

4. Menguatkan fungsi keluarga dan kedekatananantar keluarga

5. Meningkatkan kesehatan lingkungan.

Kelima tujuan dasar dari pelayanan keperawatan di rumah pada hakekatnya bertujuan

untuk membantu keluarga menyelesaikan masalahnya, yang oleh Simmons (1980),

dikatagorikan menjadi ;

1. Sikap hidup dan sumber-sumber pelayanan kesehatan

2. Penyimpangan status kesehatan

3. Pola dan pengetahuan tentang pemeliharaan kesehatan

4. Dinamika dan struktur keluarga.


Disamping hal tersebut, menurut Suharyati, (2004) program ini juga mempunyai dampak

yang menguntungkan baik bagi klien dan keluarganya maupun bagi tenaga yang terlibat

dalam pelayanan home care. Bagi klien dan keluarganya dapat membantu secara efisien

dalam mengurangi beban biaya rawat inap di rumah sakit yang makin mahal, disamping

pula meningkatkan kemandirian keluarga dalam perawatan klien di rumah. Sedangkan

bagi para petugas yang terlibat terutama dalam pelayanan langsung di rumah klien

program ini dapat memberikan variasi lingkungan kerja dan mampu menambah

penghasilan bagi para perawat yang bekerja di rumah sakit.

Jenis kasus yang dilayani HC

Rice. R, (2001) mengidentifikasi jenis kasus yang dapat dilayani pada program home care

yang meliputi kasus-kasus yang umum pasca perawatan di rumah sakit dan kasus-kasus

khusus klinik dan yang biasa dijumpai di komunitas. Kasus umum yang merupakan pasca

perawatan di RS adalah :

Klien dengan COPD

Klien dengan penyakit gagal jantung

Klien dengan gangguan oksigensi

Klien dengan mengalami perlukaan kronis

Klien dengan diabetes

Klien dengan gangguan fungsi perkemihan

Klien dengan kondisi pemulihan kesehatan ( rehabilitasi)

Klien dengan terapi cairan infus di rumah

Klien dengan gangguan fungsi persyarafan

Klien dengan AIDS

Sedangkan kasus dengan kondisi khusus, meliputi :

Klien dengan post partum

Klien dengan gangguan kesehatan mental

Klien dengan kondisi Usia Lanjut

Klien dengan kondisi terminal ( Hospice and Palliative care)

(Rice R , 2001.,Allender &Spradley, 2001)


Provider dan peran perawat dalam program HC

Dalam memberikan pelayanan kepada klien, program HC melibatkan berbagai

multidisiplin baik tenaga medis, perawat, ahli gizi, fisioterapi, sosial worker dll, yang

merupakan tenaga yang langsung berhubungan dengan pemberian pelayanan kepada

klien, sedangkan yang lainnya adalah tenaga administratur program HC.

Dari semua jenis tenaga tersebut maka tenaga keperawatan merupakan tenaga utama

dalam memberikan pelayanan keperawatan di rumah. Menurut Triebsch &Brueckner

dalam Lerman and Linne,(1993); Rice R ,(2001)., Allender &Spradley, (2001) posisi

perawat dalam home care merupakan tenaga utama yang memberikan pelayanan pada

klien di rumah, oleh karena itu perawat dapat berfungsi sebagai koordinator dalam

pelayanan dan memerankan diri sebagai case manager, dan harus terlibat sejak rencana

klien pulang (discharge planning). Sebagai koordinator perawat harus mempunyai

pengetahuan tentang pelayanan home care (termasuk kriteria klien), keterampilan

komunikasi dan sensitif terhadap kebutuhan klien termasuk kebutuhan rencana klien

pulang dari perawatan di RS. Disamping itu perawat juga harus mampu menguasai

keterampilam kerja tim, organisasi serta kemampuan membaca peluang dan pemasaran

produk HC.

Perawat Home Care bekerja dengan berbagai macam klien yaitu klien-klien lansia

dengan penyakit kronis, ibu dengan bayi baru lahir, klien-klien terminal, dan lain-lain.

Fokus utama dalam pelayanan keperawatan Home Care adalah untuk memandirikan

klien dan keluarga, meningkatkan status kesehatan klien dan keluarga dengan berperan

sebagai pendidik, advokat bagi klien, sebagai manajer kasus, serta memberikan spirit

pada klien dan keluarganya.

Sedangkan untuk menunjang dan mengaplikasikan peran tersebut diperlukan

ketrampilan adalah:

Keterampilan dalam mengkaji dan mengevaluasi

Keterampilan dalam komunikasi yang efektif

Keterampilan dalam pengambilan keputusan

Keterampilan dalam pendokumentasian yang efektif

Berfikir kreatif/fleksibel dan kritis


Pengembangan diri

Strategi Pengelolaan HHC (Hospital-based Home Care)

Untuk mengelola program Hospital-based Home Care dengan sukses diperlukan

komitmen semua pihak baik pengelola agensi home care, rumah sakit maupun para

pemberi pelayanan. Komitmen ini sangat diperlukan mengingat banyaknya hambatan

dalam pengelolaan HHC ini, terutama para pengelola harus memiliki jiwa kewirausahaan

yang benar-benar tinggi. Menurut Ficks. W.J (1993) ada beberapa kendala/hambatan

dalam mencapai sukses dalam pengelolaan HHC, yaitu dilihat dari aspek internal dan

eksternal. Hambatan dari faktor internal terdiri dari product life cycle, wage and benefits,

administrivia, dan hospital large-scale mind-set. Sedangkan hambatan eksternal

menyangkut sistem pembayaran yang tidak lancar, meliputi reimbusment changes,

prospective payment dan case management yang tidak hati-hati. Untuk menanggulangi

hambatan faktor internal dan eksternal HHC tersebut maka strategi pengelolaan HHC

menurut Lerman and Linne,(1993) diarahkan kepada :

1. Menetapkan strategi MIA ( Mission, Innovation, and Autonomy) untuk mengatasi

hambatan internal

M =Mission

Antara agen/unit home care dan rumah sakit harus saling bersinergi dan mempunyai

kesamaan pandangan dalam hal :

Meningkatkan kunjungan klien, dimana bersama-sama berusaha secara aktif dan

proaktif, sehingga akan mampu meningkatkan kepuasan pelanggan dalam pelayanan

program HHC sehingga akan berdampak pada peningkatan kunjungan ke rumah sakit

(klien rawat jalan)

Penghematan biaya; HHC didesain untuk memaksimalkan penghematan biaya rumah

sakit dengan menurunkan Lenght of stay (LOS). Penghematan biaya ini menggunakan

rumus sbb:

Penghematan

Biaya RS melalui =
penurunan LOS

Rata-rata LOS -

LOS RS Aktual x Biaya-biaya lain RS per klien perhari

I =Innovation

Agensi/unit Hospital-Based Home Care harus dapat mendorong menciptakan inovasi-

inovasi terbaru berkaitan dengan pemasaran dan pelayanan. Dalam konteks ini Rumah

Sakit harus mendukung kegiatan HHC tersebut dengan memberikan reward yang positif

dan memadai. Ada dua prinsip yang harus dipegang untuk mengembangkan hal tersebut

adalah :

Jika RS memiliki program ionovasi yang dapat diimplementasikan tanpa mengganggu

operasional HHC, maka sebaiknya unit HHC mengadaptasi program RS tersebut

Dan sebaliknya jika agensi/unit HHC memiliki proses dan sistem inovasi sendiri dan

tidak mengganggu sistem RS, maka RS sebaiknya mengadaptasi sistem HHC tersebut.

A = Autonomy

Karena dalam mengembangkan program HHC mengandung unsur bisnis (profit oriented),

maka sebaiknya pengelola HHC diberi otonomi dalam mengembangkan tehnik-tehnik

euntrepreneurship (kewirausahaan), oleh karena itu sebaiknya yang menjadi

administratur HHC adalah seorang euntrepreneur. Dengan demikian akan mampu

mengingkatkan penampilan HHC yang profesional.

2. Untuk mengatasi hambatan eksternal, direkomendarisakan 4 hal yang perlu

diperhatikan :

Administrator harus memastikan semua informasi yang dibutuhkan oleh staff dan

tersedia dengan lengkap, meliputi akunting, laporan pelayanan,dan monitor produktifitas

pelayanan.

Untuk meningkatkan efisiensi operasional HHC, maka pengelola HHC harus mampu

mengembangkn sistem pembiayaan yang efektif dan efisien (dihitung berdasarkan unit

cost/kunjungan)
Program HHC harus mampu menciptakan sistem referal (rujukan) sebagai upaya

mengembangkan net-working yang mendukung peningkatan kunjungan ke HHC.

Kunci sukses yang paling penting adalah menciptakan service/pelayanan yang

berorientasi pada customers/pelanggan. Oleh karena orientasi kalkulasi bisnis harus

berubah dari :

Keuntungan (profit) = Revenue Biaya (cost)

Menjadi ..

Long term profit (dari cutomer yang puas) - Biaya =Profit plus

Akhirnya faktor kunci sukses strategi pengelolaan dan pemasaran HHC menurut Lerman,

(1993) yang paling tepat adalah dengan mengutamakan customer yaitu selain ongkos

yang terjangkau dan memadai, perawatan yang berfokus pada klien, dan kepatuhan

klien untuk kontrol yang teratur juga seperti di bawah ini:

Aspek Pelayanan

- Keberhasilan pemberi pelayanan (provideer) yang selalu memegang nilai-nilai, misi dan

etika RS untukk menjamin bahwa program Home Care dapat meningkatkan reputasi RS

di masyarakat.

- Provider memberdayakan karyawannya untuk mengembangkan dan meningkatkan

lingkup dan kualitas pelayanan.

- Provider memiliki komitmen terhadap pelayanan konsumen yang terbaik.

Manajemen dan perencanaan strategi

- Administrator Home Care yang berhasil selalu mengembangkan rencana strategi yang

memberi arah terhadap pelayanan

- Administrator dapat mengatasi hambatan organisasi RS guna keberhasilan program

- Administrator membangun koalisi internal RS dengan penyandang dana, manajer,

dokter, staf klinik dan koordinator pemulangan klien untuk memasukkan Home Care

sebagai komponen kunci dan tim yang penting di dalam sistem pelayanan RS yang

terintegrasi

- Administrator selalu mengikuti teknologi dan inovasi, mencari target pasar yang baru,
melayani berbagai jenis klien baru, mengubah pola praktek profesional jika kondisi klinik

memungkinkan

- Administrator menggunakan data bisnisdan marketing untuk tujuan manajemen

strategi

- Administrator menganalisa hasil provider lain dalam pasar, memeriksa siklus kehidupan

hasil Home Care, mengidentifikasi kesenjangan di dalam pelayanan dan melaksanakan

program baru

- Administrator berkolaboratif dan menekankan kemitraan dan hubungan kerjasama

dengan provider lain jika diperlukan

Manajemen Operasional

- Manajer Home Care yang berhasil memandang agen pelayanan Home Care dengan

pemikiran Home Care dan bukan pemikiran RS tradisional

- Manajer Home Care siap untuk berubah dan mengenali bahwa tidak ada satu rahasia

untuk sukses, fleksibilitas adalah kuncinya dan perubahan dalam arah harus dilakukan

pada jalan menuju sukses

- Manajer Home Care mengevaluasi kembali hasil dan pelayanan yang ditawarkan dan

merestrukturisasi kegiatan operasional jika diperlukan untuk mencapai tujuan RS

- Manajer Home Care mengimplementasi pemanfaatan dan sistem manajemen biaya

dengan baik dalam persiapan kontrak perawatan dan kemungkinan sistem pembayaran

Home Care secara prospektif

- Manajer Home Care melacak keakuratan klien dan mengidentifikasi total cost dan unit

cost untuk setiap hasil dan pelayanan yang diberikan

- Manajer Home Care mengembangkan produktivitas dan sistem monitoring manajemen

mutu yang kuat

- Manajer Home Care menyewa orang dengan bakat terbaik dan memberikan insentif

yang sesuai dengan penampilan yang dilakukan

- Manajer Home Care secara efisien rencana pemulangan klien dan melakukan proses

koordinasi

- Manajer Home Care mengimplementasikan manajemen sistem informasi yang canggih

untuk meningkatkan manajemen operasional dan pengambilan keputusan dalam


manajemen strategi secara klinis dan fiskal

- Manajer Home Care mengatur berbagai pelayanan dan hasil tanpa mengikuti pola

pemikiran penggantian biaya (reimbursement) medicare

- Manajer Home Care mengimplementasikan kebijakan personil yang fleksibel untuk

tujuan rekruitmen dan retensi

- Manajer Home Care menghilangkan program yang tidak berhasil, mengurangi kerugian

dan terus maju ke depan dengan kesempatan baru

Marketing/pembuatan kontrak

- Administrator Home Care yang berhasil secara afgresif memasarkan pelayanannya baik

secara internal maupun eksternal untuk membangun dan mengembangkan dasar

rujukan

- Administrator Home Care mengumpulkan dan mengemas pelayanan RS dan Home Care

secara komprehensif dan terintegrasi bagi perusahaan asuransi swasta dan pemerintah

untuk meningkatkan volume bisnis pada tingkat yang diharapkan

- Administrator Home Care memperkecil konsumen yang tergantuung pada pembayaran

Medicare dan memperluas secara agresif ke dalam pasar asuransi swasta, manajemen

kasus, self-pay (konsumen yang membayar sendiri)

Langkah-lngkah/prosedure Home Care.

Untuk melaksanakan Home Care dengan baik maka perlu melihat hubungan perawat

dengan klien/keluarga. Ada beberapa fase dalam melaksanakan pelayanan keperawatan

di keluarga/rumah :

1. Fase Pre inisiasi/persiapan.

Pada fase pertama, perawat mendapat data tentang keluarga yang akan di kunjungi dari

Puskesmas atau ibu kader. Perawat perlu membuat laporan pendahuluan untuk

kunjungan yang dilakukan. Kontrak waktu kunjungan perlu dilakukan pada fase ini .

2. Fase Inisiasi/perkenalan.

Fase ini mungkin memerlukan beberapa kali kunjungan. Selama fase ini perawat dan

keluarga berusaha untuk saling mengenal dan bagaimana keluarga menanggapi suatu

masalah kesehatan.

3. Fase implementasi.
Pada fase ini, perawat melakukan pengkajian dan perencanaanuntuk menyelesaikan

masalah kesehatan yang dimiliki oleh keluarga. Lakukan intervensi sesuai rencana,.

Eksplorasi nilai-nilai keluarga dan persepsi keluarga terhadap kebutuhannnya. Berikan

pendidikan kesehatan sesuai dengan pendidikannnya dan sediakan pula informasi

tertulis.

4. Fase terminasi

Fase ini, perawat membuat kesimpulan hasil kunjungan berdasarkan pada pencapaian

tujuan yang ditetapkan bersama keluarga.Menyususn rencana tindak lanjut terhadap

masalah kesehatan yang sedang di tangani dan masalah kesehatan yang

mungkindialami keluarga, penting dilakukan di fase terminasi.Tinggalkan nama dan

alamat perawat dengan nomor telepon.

5. Fase pasca kunjungan

Sebagai fase terakhir hendaknya perawat membuat dokumentasi legkap tentang hasil

kunjungan untuk disimpan di pelayanan kesehatan, tempat perawat bertugas.

Mekanisme Operasional Perawatan Pasien di Rumah

Menurut Helwiyah (2004) Klien yang memperoleh pelayanan keperawatan di rumah

dapat merupakan rujukan dari klinik rawat jalan, unit rawat inap RS maupun Puskesmas.

Namun klien dapat langsung menghubungi agensi pelayanan keperawatan di rumah atau

praktek keperawatan perorangan untuk memperoleh pelayanan.

Mekanisme yang harus dilakukan adalah:

Klien pasca rawat inap atau rawat jalan harus diperiksa terlebih dahulu oleh dokter

untuk menentukan apakah secara medis layak untuk dirawat di rumah atau tidak.

Selanjutnya apabila dokter telah menetapkan bahwa klien layak dirawat di rumah,

maka dilakukan pengkajian oleh koordinator kasus yang merupakan staf dari

pengelola/agensi perawatan kesehatan di rumah, kemudian bersama-sama klien dan

keluarga akan menentukan masalahnya dan membuat perencanaan, membuat

kesepakatan juga mencakup jenis pelayanan, peralatan dan sistem pembayaran serta

jangka waktu pelayanan.

Selanjutnya klien akan menerima pelayanan dari pelaksana pelayanan keperawatan di


rumah baik dari pelksana pelayanan yang dikontrak atau pelaksana yang direkrut oleh

pengelola perawatan di rumah. Pelayanan dikoordinir dan dikendalikan oleh koordinator

kasus, setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh tenaga pelaksana pelayanan harus

diketahui oleh korrdinator kasus.

Secara periodik koordinator kasus akan melakukan monitoring dan evaluasi terhadap

pelayanan yang diberikan apakah sudah sesuai dengan kesepakatyan.

Persyaratan klien yang menerima pelayanan keperawatan di rumah

Mempunyai keluarga atau pihak lain yang bertanggung jawab atau menjadi

pendamping bagi klien dalam berinteraksi deengan pengelola.

Bersedia menandatangani persetujuan setelah diberikan informasi (informed consent).

Bersedia melakukan perjanjian kerja dengan pengelola perawatan kesehatan di rumah

untuk memenuhi kewajiban, tanggung jawab, dan haknya dalam menerima pelayanan.

DAFTAR PUSTAKA

Allender J.A & Spardley., 2001., Community Health Nursing., Philadelphia: Lippincott.

Helwiyah Ropi., 2004., Home Care sebagai bentuk praktik keperawatan mandiri.,

Bandung: Majalah Keperawatan PSIK-FKUP.

Lerman D. & Linne E.B., 1993., Hospital Home Care., USA: AAAHP Inc.

Lukman M., 2002., Penanganan Keperawatan Komunitas sebagai Mitra Kedokteran

Keluarga., Bandung: Pertemuan Ilmiah Tahunan Kedokteran Keluarga FKUP.

Rice R., 2001., Home Care Nursing Practice., St. Louis: Mosby Company.

Suharyati S., 1998., Analisis Peluang Pasar Program Hospital Home Care di RSHS

Bandung tahun 1998.,Tesis: PPS IKM UI., Jakarta.