Anda di halaman 1dari 36

ANALISA GROUND VIBRATION PADA KEGIATAN

PELEDAKAN PT. SAGO PRIMA PRATAMA

PROPOSAL TUGAS AKHIR

OLEH :

JONATHAN CHISTON SILAEN


DBD 110 034

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS PALANGKARAYA
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
PALANGKARAYA
2015

1
HALAMAN PENGESAHAN

PROPOSAL TUGAS AKHIR

ANALISA GROUND VIBRATION PADA KEGIATAN


PELEDAKAN PT. SAGO PRIMA PRATAMA

Oleh

JONATHAN CHISTON SILAEN


DBD 110 034

telah dinyatakan memenuhi syarat untuk diterima

Palangkaraya, April 2015


Dosen Pembimbing I, Dosen Pembimbing II,

Deddy NSP Tanggara, ST.,MT Ir.Yulian Taruna, M.Si.


NIP. 1977 0110 2008 2 020 NIP. 19580705 198903 1 019

Mengetahui,
Ketua Jurusan
Teknik Pertambangan
Universitas Palangkaraya

Ir. Yulian Taruna, M.Si.


NIP. 19580705 198903 1 019

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Peledakan merupakan aktivitas penambangan yang bertujuan untuk
membongkar batuan atau material, dimana bahannya terdiri dari bahan
kimia yang mampu menciptakan ledakan. Kegiatan peledakan dilakukan
untuk memisahkan material batuan dengan batuan induknya, umumnya
sering dilakukan pada material yang tidak mudah digali secara mekanis
ataupun dikarenakan kekuatan batuan yang sangat keras. Untuk menunjang
kelancaran proses pembongkaran tanah penutup (overburden), biasanya
perusahaan tambang menggunakan teknik pemboran dan peledakan (drill
and blast).
Dalam proses peledakan terdapat dampak-dampak negatif yang dapat
mengganggu peroses penambangan. Salah satu dampak yang di timbulkan
adalah getaran tanah (ground vibration ) akibat peledakan. Getaran tanah
yang tidak dapat dikontrol, maka akan berpengaruh pada bangunan yang
berada di sekitar daerah penambangan.
Hal di atas melatarbelakangi penulis untuk melakukan pengamatan
dan penelitian dari dampak yang di hasilkan dari peledakan, dengan judul
ANALISA GROUND VIBRATION PADA KEGITAN PELEDAKAN
PT.THIESS CONTRACTOR.

1.2 Maksud dan Tujuan

3
1.2.1 Maksud
Maksud dari Tugas Akhir ini adalah sebagai salah satu syarat untuk
mendapatkan gelar sarjana di jurusan Teknik Pertambangan Universitas
Palangkaraya.

1.2.2 Tujuan
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Mengetahui tingkat ground vibration hasil kegiatan peledakan
2. Menentukan jarak aman dari ground vibration
3. Membandingkan nilai peak particle velocity antara teori Persamaan
Regresi Linier Berganda dengan George Bertha (1990).
1.3 Manfaat
Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah :
1. Bagi Peneliti
Peneliti dapat mengatahui pengaruh ground vibration yang dihasilkan
oleh peledakan. Dan dapat meminimalkan dampak negatif yang terjadi.
2. Bagi Perusahaan
Manfaat penelitian bagi perusahaan adalah memberikan bahan masukan
dalam hal pelaksanaan peledakan yang aman.

1.4 Rumusan Masalah

1. Berapa tingkat ground vibration dari hasil kegiatan peledakan?


2. Berapa jarak aman dari ground vibration?
3. Bagaimana perbandingan nilai peak particle velocity antara teori
persamaan regresi linier berganda dengan George Bertha ?

1.5 Pembatasan Masalah

Dalam penelitian tugas akhir ini, penulis memberikan batasan masalah


pada:

4
1. Penulis tidak merubah geometri yang telah digunakan
2. Tingkat getaran menurut KEPMEN Lingkungan Hidup Nomer Kep 49/1966.

BAB II

DASAR TEORI

5
2.1 Pola Pemboran
Kegiatan pemboran lubang ledak merupakan suatu hal yang sangat
penting diperhatikan sebelum kegiatan pengisisan bahan peledak. Kegiatan
pemboran lubang ledak dilakukan dengan menempatkan lubang lubang
ledak secara sistematis, sehingga membentuk suatu pola. Berdasarkan leak
lubang bor maka pola pemboran dibagi menjadi dua pola dasar, yaitu:
1. Pola pemboran sejajar (paralel pattern), terdiri dari dua macam, yaitu :
a. Pola bujursangkar (square pattern), yaitu jarak burden dan spasi
yang sama
b. Pola persegipanjang (rectangular pattern), yaitu jarak spasi dalam
satu baris lebih besar dibandingkan dengan burden.
2. Pola pemboran selang seling (staggered pattern), adalah pola pemboran
yang penempatan lubang ledak ditempatkan secara selang seling pada
setiap kolomnya. Dalam pola ini distribusi energi peledakan antar
lubang akan lebih terdistribusi secara merata daripada pola bukan
staggered. Pola zigzag terbagi menjadi Pola zigzag bujur sangkar (B=S)
dan Pola zigzag persegi panjang (S B).

6
3m 3m

3m 2,5 m

Bidang bebas Bidang bebas


a. Pola bujursangkar b. Pola persegi panjang

3m 3m

2,5 m
3m

Bidang bebas
Bidang bebas
c. Pola zigzag bujursangkar d. Pola zigzag persegipanjang

Gambar 2.1 Sketsa Pola Pemboran Pada Peledakan

2.2 Pola Peledakan


Secara umum pola peledakan menunjukkan urutan atau sekuensial
ledakan dari sejumlah lubang ledak. Pola peledakan pada tambang terbuka
dan bukaan di bawah tanah berbeda. Banyak faktor yang menentukan
perbedaan tersebut, diantaranya adalah faktor yang mempengaruhi pola
pengemboran. Adanya urutan peledakan berarti terdapat jeda waktu
peledakan diantara lubang-lubang ledak yang disebut dengan waktu tunda
atau delay time. Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan menerapkan
waktu tunda pada sistem peledakan antara lain adalah :
1. Mengurangi getaran
2. Mengurangi overbreak dan batu terbang (flyingrock)
3. Mengrunagi getaran tanah akibat airblast dan suara (noise)
4. Dapat mengarahkan fragmentasi batuan hasil peledakan
5. Dapat memperbaiki ukuran fragmentasi batuan hasil peledakan

7
Apabila pola peledakan tidak tepat atau seluruh lubang diledakkan
sekaligus, maka akan terjadi sebaliknya yang merugikan, yaitu peledakan
yang mengganggu lingkungan dan hasilnya tidak efektif dan tidak efisien.
Beberapa pola peledakan yang sering digunakan adalah sebagai berikut :

a. Pola Peledakan Corner Cut (Echelon)


Pola peledakan ini diterapkan untuk lokasi peledakan yang memiliki
tiga bidang bebas (free face), arah lemparan hasil peledakan dengan
menggunakan pola peledakan ini adalah kearah pojok (corner).

Gambar 2.2 Pola Peledakan Corner Cut (Echelon)

b. Pola Peledakan V-Cut


Pola peledakan ini diterapkan untuk lokasi peledakan yang memiliki
dua bidang bebas (free face), arah lemparan hasil peledakan dengan

8
menggunakan pola ini adalah kearah tengah (center) dengan pola
peledakan menyerupai huruf V.

Gambar 2.3 Pola Peledakan V-Cut

c. Pola Peledakan Box Cut


Pola peledakan ini diterapkan untuk lokasi peledakan yang hanya
mempunyai satu bidang bebas (free face) yakni permukaan yang
bersentuhan langsung dengan udara kearah vertical. Pola peledakan ini
bertujuan untuk menghasilkan bongkahan awal seperti kotak (box)
dengan control row ditengah-tengah membagi dua rangkaian.

9
Gambar 2.4 Pola Peledakan Box Cut

2.3 Geometri Peledakan


Untuk memperoleh hasil pembongkaran batuan sesuai dengan yang
diinginkan maka perlu suatu perencanaan ledakan dengan memperhatikan
besaran-besaran geometri peledakan. Berikut penjelasan mengenai
perhitungan geometri peledakan menurut C.J.Konya (1990) :
KOLOM LUBANG

T
LEDAK ( L )

PC

Gambar 2.5 Geometri Peledakan

10
Terminologi dan simbol yang digunakan pada geometri peledakan seperti
terlihat pada Gambar 2. yang artinya sebagai berikut:
B = burden
S = spasi
H = tinggi jenjang
L = kedalaman kolom lubang ledak
T = penyumbat (stemming)
PC = isian utama (primary charge atau powder column)
J = subdrilling

1. Burden
Yaitu jarak tegak lurus terpendek antara muatan bahan peledak
dengan bidang bebas yang terdekat atau ke arah mana pelemparan
batuan akan terjadi.

a. Burden terlalu kecil: bongkaran terlalu hancur dan tergeser dari


dinding jenjang serta kemungkinan terjadinya batu terbang sangat
besar.
b. Burden terlalu besar : Fragmentasi kurang baik ( gelombang tekan
yang mencapai bidang bebas menghasilkan gelombang tarik yang
sangat lemah di bawah kuat tarik batuan).Besarnya burden
tergantung dari karakteristik batuan, karakteristik bahan peledak dan
diameter lubang ledak.


B 3,15 x d e x 3 e
r

Dimana:

B = burden (ft),

de = diameter bahan peledak (inci),

11
e = berat jenis bahan peledak, dan

r = berat jenis batuan.

2. Spasi
Spasi didefinisikan sebagai jarak anatar lubang ledak dalam satu
row (baris), relatif horizontal terhadap free face. Apabila spasi terlalu
kecil akan mengakibatkan batuan hancur menjadi halus, ini disebabkan
karena energi yang menekan terlalu kuat, sedangkan bila jarak spasi
terlalu besar akan mengakibatkan bongkahan atau bahkan batuan hanya
mengalami keretakan, karena energi dari lubang lainnya.

Untuk memperoleh jarak spasi maka digunakan rumusan sebagai berikut:

1) Instantneous initation single row blastholes


A. Untuk tinggi jenjang rendah (low benches)
L < 4B, S = ( L + 2B) / 3
B. Untuk tinggi jenjang besar (high benches)
L = 4B, S = 2B
2) Delayed initation single row blastholes
A. Untuk tinggi jenjang rendah (low benches)
L < 4B, S = ( L+ 7B ) / 8
B. Untuk tinggi jenjang besar (high benches)
L = 4B, S = 1,4B

3. Stemming
Stemming adalah tempat material penutup di dalam lubang bor

di atas kolom isian bahan peledak. Fungsi stemming adalah agar terjadi

stress balance dan untuk mengurung gas-gas hasil ledakan agar dapat

menekan batuan dengan kekuatan yang besar. Sedangkan di dalam

penggunaan stemming yang perlu diperhatikan adalah panjang

stemming dan ukuran material stemming.

12
Panjang stemming
Stemming yang pendek dapat menyebabkan pecahnya
batuan pada bagian atas, tapi mengurangi fragmentasi keseluruhan
karena gas hasil ledakan menuju atmosfir dengan mudah dan cepat,
juga akan menyebabkan terjadinya flyrock, overbreak pada bagian
permukaan dan juga akan menimbulkan airblast.

Panjang stemming dapat ditentukan dengan menggunakan rumus :


T = B x Kt
dimana :
T = stemming, meter
Kt = stemming ratio (0,75 1,00)
Ukuran material stemming
Ukuran material stemming sangat berpengaruh terhadap
hasil peledakan, apabila bahan stemming terdiri dari butiran-
butiran halus hasil pemboran, kurang memiliki gaya gesek terhadap
lubang tembak sehingga udara yang bertekanan tinggi akan dengan
mudah mendorong material stemming tersebut, sehingga energi
yang seharusnya untuk menghancurkan batuan, banyak yang hilang
keluar melalui lubang stemming.
Untuk mencegahnya maka digunakan bahan yang berbutir
kasar dan keras. Bahan ini mempunyai karakteristik sebagai
berikut:
o Mempunyai bentuk susunan butir yang saling berkait
dengan kuat.
o Membentuk sambungan pasak dengan dinding lubang
tembak, sehingga mencegah keluarnya gas secara prematur.
Adapun persamaan yang digunakan untuk menentukan ukuran
material stemming optimum7) adalah sebagai berikut :

13
Sz = 0,05 Dh
dimana :
Sz = ukuran material stemming optimum
Dh = diameter lubang tembak

4. Subdrilling
Subdrilling adalah tambahan kedalaman dari lubang bor di bawah
lantai jenjang yang dibuat agar jenjang yang dihasilkan sebatas dengan
lantainya dan lantai yang dihasilkan rata. Bila jarak subdrilling terlalu
besar maka akan menghasilkan efek getaran tanah, sebaliknya bila
subdrilling terlalu kecil maka akan mengakibatkan problem tonjolan
pada lantai jenjang (toe) karena batuan tidak akan terpotong sebatas
lantai jenjangnya. Panjang subdrilling dapat ditentukan dengan
menggunakan rumus sebagai berikut :
J = B x Kj
di mana :
J = subdrilling, meter
Kj = subdrilling ratio (0,2 0,3)

5. Kedalaman Lubang Ledak


Kedalaman lubang tembak biasanya ditentukan berdasarkan kapasitas
produksi yang diinginkan dan kapasitas dari alat muat. Sedangkan
untuk menentukan kedalaman lubang tembak dapat digunakan rumus
sebagai berikut :
H = Kh x B
dimana :
H = kedalaman lubang tembak, meter

14
Kh = Hole depth ratio (1,5 4,0)

6. Panjang Kolom Isian


Panjang kolom isian merupakan panjang kolom lubang ledak yang
akan diisi bahan peledak. Panjang kolom isian dapat dihitung dengan rumus:
PC = H T

keterangan :

PC = Panjang kolom isian (meter)

H = Kedalaman lubang ledak (meter) T = Stemming (meter)

7. Tinggi Jenjang
Secara spesifik tinggi jenjang maksimum ditentukan oleh peralatan
lubang bor dan alat muat yang tersedia. Tinggi jenjang berpengaruh
terhadap hasil peledakan seperti fragmentasi batuan, ledakan udara,
batu terbang, dan getaran tanah. Penentuan ukuran tinggi jenjang
berdasarkan pada stiffness ratio. Rumus yang digunakan adalah :
L = 5 x De
Di mana,
L = Tinggi Jenjang minimum
De = Diameter lubang ledak

2.4 Mekanisme Pecahnya Batuan


Konsep yang dipakai adalah konsep pemecahan dan reaksireaksi
mekanik dalam batuan homogen. Sifat mekanis dalam batuan yang
homogen akan berbeda dari batuan yang mempunyai rekahanrekahan dan
heterogen seperti yang dijumpai dalam pekerjaan peledakan.
Proses pecahnya batuan akibat dari peledakan dibagi dalam tiga
tingkatan yaitu dynamic loading, quasi-static loading, dan release of
loading.
a) Proses pemecahan tingkat I (dynamic loading)

15
Pada saat bahan peledak meledak, tekanan tinggi menghancurkan
batuan di daerah sekitar lubang ledak. Gelombang kejut yang
meninggalkan lubang ledak merambat dengan kecepatan 3000 5000
m/det, akan mengakibatkan tegangan tangensial yang menimbulkan
rekahan yang menjalar dari daerah lubang ledak. Rekah pertama
menjalar terjadi dalam waktu 1 2 ms.

b) Proses pemecahan tingkat II (quasi-static loading)


Tekanan sehubungan dengan gelombang kejut yang meningkatkan
lubang ledak pada proses pemecahan tingkat I adalah positif. Apabila
mencapai bidang bebas akan dipantulkan, tekanan akan turun dengan
cepat, kemudian berubah menjadi negatif dan timbul gelombang tarik.
Gelombang tarik ini merambat kembali di dalam batuan. Oleh karena
batuan lebih kecil ketahanannya terhadap tarikan daripada tekanan,
maka akan terjadi rekahan rekahan primer disebabkan karena
tegangan tarik dari gelombang yang dipantulkan. Apabila tegangan
regang cukup kuat akan menyebabkan slambing atau spalling pada
bidang bebas. Dalam proses pemecahan tingkat I dan tingkat II fungsi
dari gelombang kejut adalah menyiapkan batuan dengan sejumlah
rekahan rekahan kecil. Secara teoritis energi gelombang kejut
jumlahnya antara 5 15 % dari energi total bahan peledak. Jadi
gelombang kejut menyediakan kesiapan dasar untuk proses pemecahan
tingkat akhir.

c) Proses pemecahan tingkat III (release of loading)


Dibawah pengaruh takanan yang sangat tinggi dari gasgas hasil
peledakan maka rekahan radial primer (tingkat II) akan diperlebar
secara cepat oleh kombinasi efek dari tegangan tarik disebabkan
kompresi radial dan pembajian (pneumatic wedging). Apabila massa
batuan di depan lubang ledak gagal dalam mempertahankan posisinya
bergerak ke depan maka tegangan tekan tinggi yang berada dalam
batuan akan dilepaskan. Efek dari terlepasnya batuan adalah

16
menyebabkan tegangan tarik tinggi dalam massa batuan yang akan
melanjutkan pemecahan hasil yang telah terjadi pada proses pemecahan
tingkat II. Rekahan hasil dalam pemecahan tingkat II menyebabkan
bidang bidang lemah untuk memulai reaksi reaksi fragmentasi
utama pada proses peledakan.

17
18
Tahap ketiga
Energi ledakan oleh bidang bebas pada tahap sebelumnya akan dipantulkan menyebabkan batuan hancur lebih semp

Gambar 2.6 Mekanisme Pecahnya Batuan

Lubang tembak

2.5 Getaran Tanah (Ground Vibration)


Batas bidang bebas

2.5.1 Pengertian Getaran Tanah

Getaran tanah (ground vibration) adalah gelombang yang bergerak


didalam tanah disebabkan oleh adanya sumber energi. Sumber Bidang
energiBebas
tersebut dapat berasal dari alam, seperti gempa bumi atau adanya aktivitas
manusia, salah satu diantaranya adalah kegiatan peledakan. Getaran tanah
(ground vibration) terjadi pada daerah elastic (elastic zone). Didaerah ini
tegangan yang diterima material lebih kecil dari kekuatan material sehingga
hanya menyebabkan perubahan bentuk dan volume. Sesuai dengan sifat
elastis material maka bentuk dan volume akan kembali ke keadaan semula
setelah tak ada tegangan yang bekerja. Perambatan tegangan pada daerah
elastis akan menimbulkan gelombang getaran. Getaran tanah ini pada
tingkat tertentu bisa menyebabkan terjadinya kerusakan struktur disekitar
lokasi peledakan. Karena itu keadaan bahaya yang mungkin ditimbulkan
oleh operasi peledakan tidak bisa diabaikan.

A. Faktor yang mempengaruhi getaran


Ground Vubration peledakan dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu
faktor yang dapat dikontrol dan yang tidak dapat dikontrol. Yang
dimaksud faktor yang tidak dapat dikontrol adalah faktor geologi dan
geomekanik batuan. Dan berikut ini adalah faktor yang dapat dikontrol
yang mempengaruhi ground vibration:
1. Jumlah muatan bahan peledak perwaktu tunda
Besarnya vibrasi yang dihasiljan peledakan oleh jumlah muatan
total bahan peledak perwaktu tunda. Besar kecilnya intensitas
ground vibration akan bergantung kepada jumlah berat bahan
peledak maksimum yang meledak bersamaan pada interval waktu.
Jadi lubang-lubang tembang yang mempunyai selisih waktu 8 ms,
dianggap meledak bersamaan. Jumlah muatan total handak yang
dianggap meledak bersamaan ini merupakan muatan bahan peledak

19
perwaktu tunda. Semakin besar muatan bahan peledak perwaktu
tunda, besaran vibrasi yang dihasilkan akan semakin meningkat
tetapi hubungan ini bukan merupakan hubungan yang sederhana,
misalnya muatan dua kali lipat jumlahnya tidak menghasilkan
getaran yang dua kali lipat.
2. Jarak dari lokasi peledakan
Jarak dari titik atau lokasi peledakan juga memberikan pengaruh
yang besar terhadap besaran vibrasi yang dihasilkan, seperti juga
muatan maksimal bahan peledak perwaktu tunda. Semakin dekat
suatu titik pengukuran vibrasi ke titik atau lokasi peledakan, maka
vibrasi yang terukur akan semakin besar.
3. Waktu tunda (delay period)
Interval waktu tunda antar lubang ledak sangat mempengaruhi
tingkat vibrasi yang dihasilkan. Jika interval waktu tunda semakin
besar, maka kemungkinan jumlah bahan peledakyang dianggap
meledak bersamaan (selisih waktu meledak kurang dari sama
dengan 8 ms) akan makin kecil, sehingga tingkat vibrasi yang
dihasilkan akan semakin kecil. Tetapi perlu diperhatikan pula
bahwa agar tingkat vibrasi yang dihasilkan kecil, maka jumlah
lubang ledak yang memiliki interval delay kurang dari sama
dengan 8 ms harus diusahakan sedikit pula.

Dan variabel-variabel yang tidak dapat dikontrol adalah faktor-faktor yang


tidak fapat dikendalikan oleh kemampuan manusia, hal ini disebabkan
karena prosesnya terjadi secara alamiah. Contoh variabel yang tidak dapat
dikontrol, anatara lain :

a) Karateristik massa batuan


b) Struktur geologi
c) Pengaruh Air

Dalam teori getaran ada tiga macam gelombang yaitu:

20
1. Gelombang tekan (compressive wave) adalah gelombang
yang menghasilkan pemadatan dan pemuaian pada daerah yang
sama dengan arah perambatan gelombang.
2. Gelombang geser (shear wave) adalah gelombang yang melintang
(transversal) yang bergerak tegak lurus pada arah perambatan
gelombang.
3. Gelombang permukaan (surface wave) adalah gelombang yang
merambat di atas permukaan batuan tetapi tidak menembus batuan.
Ketiga jenis gelombang getar tersebut dikelompokkan dalam badan
dan gelombang permukaan. Gelombang badan merambat melalui batuan
atau tanah. Salah satu jenis gelombang badan adalah P-Waves yang
menyebabkan tekanan/pemuaian pada arah merambat gelombang.

2.6 Kontrol Getaran

Peledakan tunda (delay blasting) adalah suatu teknik peledakan dengan


cara meledakkan sejumlah besar muatan bahan peledakan tidak sebagai satu
muatan (single charge) tetapi sebagai suatu seri dari muatan-muatan yang lebih
kecil. Maka getaran yang dihasilkan terdiri dari kumpulan getaran kecil dan
dengan mempergunakan delay, pengurangan tingkat getaran dapat dicapai.

Untuk mengetahui mengapa peledakan delay adalah efektif dalam


pengurangan tingkat getaran perlu mengerti perbedaan antara kecepatan partikel
(particle velocity) dan kecepatan perambatan (propagation velocity atau
transmission velocity).

Kecepatan perambatan adalah kecepatan gelombang seismik


merambat melalui batuan, berkisar antara 2000 20.000 feet/detik,
tergantung pada jenis batuan. Untuk suatu daerah dengan batuan tertentu,
kecepatan relatif konstan. Kecepatan perambatan tidak dipengaruhi oleh besarnya
energi (input energy).

Kecepatan partikel adalah kecepatan partikel bumi bergetar sekitar


posisi semula (rest position). Kecepatan partikel adalah fungsi

21
dari energi (input energy). Energi yang besar menghasilkan kecepatan partikel
yang tinggi pula.

Peledakan delay mengurangi tingkat getaran sebab setiap delay


menghasilkan masing-masing gelombang seismik yang kecil yang terpisah.
Gelombang hasil delay pertama telah merambat pada jarak tertentu sebelum delay
selanjutnya meledak. Kecepatan perambatan tergantung pada jenis batuannya.

3.7 Teori Getaran


3.7.1 Teori George Berta (1990)
Getaran tanah (ground vibration) terjadi pada daerah elastis. Pada
daerah ini tegangan yang diterima material lebih kecil dari kuat tarik
material sehingga hanya menyebabkan perubahan bentuk dan volume.
Sesuai dengann sifat elastis material maka bentuk dan volume kana
kembali pada keadaan semula setelah tidak ada tegangan yang bekerja.
Ground Vibration dapat diprediksi dengan menggunakan teori yang
dikemukanan oleh George Berta (1990)
Gambar 2. Diagram Gelombang Getaran dan Parameternya

a = perpindahan (m)
2
ac = akselerasi (m/ s )
T = Periode (s)
-1
F = 1/T frekuensi (s )

V = 2 a f = velocity kecepatan getaran (m/s)

Getaran bukanlah fenomena harmonik, tetapi hasil dari variasi


komponen dengan berbagai jenis frekuensi. Frekuensi getaran tergantung

22
pada karateristik batuan, baik pada titik ledakan dan di lokasi merekamnya
getaran dan itu juga tergantung pada jarak dari titik ledakan.
Dalam tanah tidak dikonsolidasi (terutama jika mengandung air) dapat
menghasilkan getaran dengan frekuensi rendah. Sedangkan dalam batuan
kompak getaran frekuensi tinggi yang dihasilkan.
Frekuensi getaran menjadi semakin rendah terutama karena lapisan
tanah menyerap frekuensi tinggi dan oleh karena itu gelombang frekuensi
yang lebih tinggi dilemahkan dengan cepat.
Teori ini mempertimbangkan beberapa faktor anatar lain: faktor
impedansi, faktor coupling, faktor perubahan, jumlah bahan peledak yang
digunakan, energi per unit massa bahan peledak, jarak, bobot isi batuan,
kecepatan seismik dan tipe kelompok batuan.

V=
Q
R 1 2 3 106
5 Kf LogR r C

Keterangan :

V = Kecepatan getaran tanah (m/s)

Q = Jumlah bahan peledak yang digunakan per delay (kg)


(toleransi waktu peledakan 8ms/delay dianggap meledak bersamaan)

R = Jarak titik ledak ke sensor yang dituju (m)

= Energi perunit massa (J/kg)


3
r = Bobot isi batuan (kg/m )

C = Kecepatan gelombang seismik (m/s)

Setelah didapatkan nilai partikel velocity (V) maka di tentukan juga


nilai amplitudo, dan percepatan seperti persamaan di bawah.

23
V
A=
( 2 fs )

ac = ( 2 fs V )

Keterangan:
A = Amplitudo (mm)
V = Kecepatan Getaran Tanah (mm/s)
fs = Frekwensi (Hz)
a = Percepatan (mm/s2)

Berikut beberapa faktor yang ditentukan menurut Bertha :

1. Faktor impedansi (1) :

( I cI r ) 2
1=1
( I c+ I r )2

Keterangan :

1 = Faktor impedansi
-2 -1
Ic = Impedansi bahan peledak (kg m s )

3
Ic = e ( kg/m ) x VOD (m/s)

3
e = Bobot isi bahan peledak (kg/ m )

VOD = Kecepatan detonasi (m/s)

-2 -1
Ir = Impedansi batuan (kg m s )
3
Ir = r (kg/m ) x C (m/s

3
r = Bobot isi batuan (kg/m )

C = Kecepatan gelombang seismic (m/s)

24
Jika impedansi batuan mendekati impedansi bahan peledak, maka
faktor impedansi akan mendekati harga 1, akan tetapi pada umumnya selalu
lebih kecil dari1, ini artinya bahwa tidak semua energi yang dihasilkan akan
diteruskan pada batuan.
2. Faktor coupling (2) :
Faktor coupling dalam hal ini merupakan fungsi dari coupling
ratio atau perbandingan antara diameter lubang ledak dengan isian
bahan peledak (f/c), dimana besaran coupling ratio ini akan
menurunkan tekanan gas hasil peledakan yang dengan sendirinya
akan memperkecil energi yang diteruskan pada batuan. Faktor
coupling dinyatakan oleh persamaan sebagai berikut :
1
2 = f / e
e ( e1 )

Keterangan :
2 = Faktor coupling

f = Diameter lubang ledak (inchi)

c = Diameter isian bahan peledak (inchi)

e = 2,72

2
Dari persamaan di atas, maka secara otomatis akan

2
mendekati harga 1 jika c mendekati harga f dan akan

turun dengan biasanya coupling ratio. Pemanfaatan fenomena tekanan


dinamik sebagai fungsi dari coupling ratio dalam teknologi peledakan
dikenal dengan istilah decoulping yaitu dengan meningkatkan
coupling ratio, atau dengan kata lai menggunakkan cartridge dengan
diameter yang lebih kecil dari diameter lubang ledak.
3
3. Faktor perubahan (

25
Faktor perubahan ini menyatakan besarnya perubahan energi dari bahan
peledaka yang diubah menajadi getaran, yang diperkirakan sekitar 40%.

3
Jadi besarnya faktor perubahan ( adalah 0,40 jika peledakan

3
dilakukan terbuka dan jika didalam tanah <0,40.

4. Kelompok Batuan
Dari tiap-tiap batuan dibagi dalam 3 kelompok berdasarkan karateristik
atau sifat-sifat kekerasan dari batuan tersebut seperti tercantum pada
Tabel 2.1
Tabel 2.1 Tipe Kelompok Batuan

Type Of Ground Kf
Water logged sands and gravels 0,11 - 0,13
Compacted aluviums 0,06 - 0,09
Hard and Compact rock 0,01 - 0,03

Dari tipe kelompok batuan diatas dapat ditentukan besarnya frekuensi


getaran yang dihasilkan oleh kegiatan peledakan. Frekuensi adalah
untuk menentukan besarnya perambatan gelombang pada batuan, yaitu
dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut:
f =( Kflog R )1

f = (Kf log R)-1


Keterangan :
f = Frekwensi (Hz)
Kf = Faktor pengaruh karakteristik dari tanah
R = Jarak titik ledak ke sensor yang dituju (m)

26
Gambar 2.7 Jarak Titik Ledak ke Sensor yang Dituju

3.7.2. Teori Persamaan Regresi Linier Berganda


Regresi Linier Berganda adalah regresi yang menjelaskan
hubungan antara peubah respon (variable dependent) dengan faktor-
faktor yang mempengaruhi lebih dari satu penduga (variable
independent). Tujuan dari regresi linier berganda adalah untuk mengukur
intensitas hubungan dua variabel atau lebih dan membuat predisksi atau
perkiraan nilai Y atas nilai X. Regresi Linier berganda juga digunakan
untuk mencari pengaruh dua penduga atau lebih terhadap variabel
respon (variable takbebas). Bentuk umum model regresi linier berganda
adalah :
=a 0+ a1 X 1 +a2 X 2 +
...... +a k X k

27
Keterangan :

= Variabel tak bebas (dependent variabel)

X i = Varibel bebas (indenpendent varibel)

a0 = Penduga bagi a0 intersep (titik potong)

a1,a2,ak = Penduga bagi ai

k = 1,2 .... n Koefisein Determinasi (r2) (nilainya antara 0 dan 1)

Untuk menyatakan proporsi keragaman total nilai-nilai peubah Y yang


dapat dijelaskan oleh nilai-nilai peubah X melalui hunungan linier. Contoh
r=0,6 artinya 0,36 atau 36% diantara keragaman total nilai-nilai Y dapat
dijelaskan oleh hubungan liniernya dengan nilai-nilai X. Atau besarnya
sumbangan X terhadap naik turunnya Y adaah 0,36% sedangkan 64%
disebabkan oleh faktor lain.

Koefisien Korelasi Linier (r)


Adalah hubungan linie antara dua variabel peubah/peubah acak X dan
Y untuk mengukur sejauh mana titik-titik menggerombol sekitar garis
linier.
Tabel 2.2 Pedoman Untuk Memberikan Interpretasi Koefisien
Korelasi

Interval Koefisien Tingkat Hubungan


0,00 - 0,199 Sangat Rendah
0,20 - 0,399 Rendah
0,40 - 0,599 Sedang
0,60 - 0,799 Kuat
0,80 - 1,00 Sangat Kuat

3.7.3 Kriteria Standar Getaran di Indonesia Berdasarkan Dampak


Kerusakan
Setelah diketahui frekuensi dan ground vibration maka bisa
ditentukan apakah suatu rancangan peledakan berpotensi menimbulkan

28
kerusakan atau tidak, dilakukan analisa berdasarkan acuan kriteria
kerusakan yang ada di Indonesia yaitu berdsarkan KEPMEN Lingkungan
Hidup No.49/Men LH/11/1996, tentang baku mutu tingkat getaran

Gambar 2. 8Grafik Baku Tingkat Getaran Berdasarkan Dampak Kerusakan

Keterangan :
Kategori A : Tidak menimbulkan kerusakan .
Kategori B : Kemungkinan keretakan plester .
Kategori C : Kemungkinan rusak komponen struktur dinding pemikul
beban.
Kategori D : Rusak dinding pemikul beban.

3.7.4 Kriteria Standar Getaran di Indonesia berdasarkan Kenyamanan dan


Kesehatan
Sedangkan untuk melalukan analisa tingkat getaran tanah berdasarkan
kenyamanan dan kesehatan terhadap manusia maka digunakan acuan
KEPMEN Lingkungan Hidup No.49/Men LH/11/1996.

29
Tabel 2. Tingkat Getaran Untuk Kenyamanan dan Kesehatan

30
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Di dalam melaksanakan permasalahan ini, penulis menggabungkan


antara teori dengan data-data lapangan. Sehingga dari keduanya didapat
pendekatan penyelesaian masalah. Rancangan kegiatan penelitian ini terdiri
dari beberapa tahapan, yaitu :
1. Tahap Persiapan
Pada tahap ini dilakukan penyusunan usulan Tugas Akhir, mempelajari
buku-buku literatur dan buku petunjuk maupun buku panduan yang
tersedia dan berkaitan dengan masalah yang ingin diteliti.
2. Tahap Pengumpulan data
Data yang diperlukan dalam penelitiann ini mencangkup data primer dan
data sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara survey
langsung di lapangan seperti geometri aktual lubang ledak, jumlah isian
bahan peledak, pola rangkaian peledakan dan nilai PPV. Sedangkan untuk
data sekunder berupa dokumen-dokumen yang dapat menunjang penelitian
seperti spesifikasi bahan peledak, curah hujan, peta dan lokasi
penambangan, topografi daerah dan morfologi
3. Tahap Penyusunan Laporan
Hasil dari data yang diperoleh dilapangan kemudian dilakuakan
perhitungan dengan menggunakan rumus-rumus yang diperoleh dari buku-
buku literatur.

31
3.2 Diagram Alir
Mulai

Berapa nilai ground vibration yang terjadi pada proses peledakan?


Berapa jarak aman dari ground vibration?

Studi Literatur

Pengambilan Data

Data Primer : Data Sekunder:


Geometri lubang ledak Peta Lokasi Perusahaan
Pola rangkaian peledakan Kondisi Geologi dan Morfologi
Data Curah Hujan
Jumlah bahan peledak
Nilai PPV

Pengolahan Data:
Perhitungan Peak Particle Velocity
Penentuan Jarak Aman dari ground vibration

Hasil dan Pembahasan

Kesimpulan dan Saran

Selesai

32
3.3 Jadwal Penelitian
Penelitian Tugas Akhir dilaksanakan selama kurang lebih 3 bulan dan
dimulai tanggal 2 Maret 2015. Lama dan waktu pelaksanaan penelitian ini
dapat diubah sesuai dengan kebijakan perusahaan.

URAIAN Bulan ke-1


No.
KEGIATAN I II III IV
1 Orientasi Lapangan
2 Pengambilan Data
3 Pengolahan Data
3 Pembuatan Laporan
4 Konsultasi Laporan
5 Presentasi

URAIAN Bulan ke-2


No.
KEGIATAN I II III IV
1 Orientasi Lapangan
2 Pengambilan Data
3 Pengolahan Data
3 Pembuatan Laporan
4 Konsultasi Laporan
5 Presentasi

URAIAN Bulan ke-3


No.
KEGIATAN I II III IV
1 Orientasi Lapangan
2 Pengambilan Data
3 Pengolahan Data
3 Pembuatan Laporan
4 Konsultasi Laporan
5 Presentasi

33
BAB IV
SISTEMATIKA PENULISAN

Sistematika penulisan laporan akhir ini memuat uraian secara garis besar
dari tiap-tiap bab dalam laporan tugas akhir, dijabarkan sebagai berikut.

1. BAB I PENDAHULUAN
Mengemukakan mengenai latar belakang dilaksanakan penelitian disertai
identifikasi masalah, pembatasan masalah, dan rumusan masalah mengenai
ground vibration yang dihasilkan pada kegiatan peledakan . Bab ini juga
mengemukakan tujuan dan manfaat penelitian ini yaitu untuk memberikan suatu
hasil penelitian yang berguna bagi perusahan pada umumnya dan penulis pada
khususnya.

2. BAB II KAJIAN PUSTAKA


Mengemukakan tentang rujukan teori yang menunjang proses analisis dan
interpretasi yang diambil dari literatur-literatur baik itu melalui data yang dimiliki
oleh perusahaan maupun buku-buku yang berkenaan dengan materi penelitian
penulis.

3. BAB III METODE PENELITIAN


Mengemukakan tentang metode penelitian yang digunakan dalam
pembuatan laporan. Bab ini berisi rancangan penelitian, populasi dan sampel
penelitian, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data.

4. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


Mengemukakan tentang hasil penelitian dan pembahasan data-data yang
diperoleh di lapangan.

5. BAB V PENUTUP
Mengemukakan tentang kesimpulan dan saran dari seluruh aktivitas
penelitian tugas akhir berdasarkan analisis data di pembahasan.

34
HALAMAN JUDUL.......................................................................................
HALAMAN PERNYATAAN.........................................................................
HALAMAN PENGESAHAN........................................................................
HALAMAN PERSEMBAHAN.....................................................................
KATA PENGANTAR......................................................................................
SARI.................................................................................................................
ABSTRAK.......................................................................................................
DAFTAR ISI....................................................................................................
DAFTARTABEL.............................................................................................
DAFTAR GAMBAR.......................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN...................................................................................

BAB I. PENDAHULUAN ..........................................................................


1.1 Latar Belakang...........................................................................
1.2 Rumusan Masalah .....................................................................
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ..................................................
1.3.1 Tujuan Penelitian .............................................................
1.3.2 Manfaat Penelitian ..........................................................
BAB II. KAJIAN PUSTAKA ......................................................................
BAB III. METODE PENELITIAN .............................................................
a. Gambaran Umum Perusahaan ...................................................
3.1.1 Lokasi dan Kesampaian Daerah .......................................
3.1.2 Keadaan Iklim dan Curah Hujan ......................................
3.1.3 Flora dan Fauna ................................................................
3.1.4 Sosial dan Kependudukan ................................................
3.2 Kondisi Geologi ........................................................................
3.2.1 Geologi Regional ............................................................
3.2.2 Geologi Daerah Penelitian ..............................................
3.3 Tata Laksana ..............................................................................
3.3.1 Langkah Kerja .................................................................
3.3.2 Metode Penelitian ............................................................
3.3.3 Analisa Hasil ...................................................................
3.4 Jenis dan Sumber Data ..............................................................
3.4.1 Jenis Data ........................................................................
3.4.2 Sumber Data ....................................................................
3.5 Alat dan Bahan ..........................................................................
3.6 Lokasi Penelitian .......................................................................
3.7 Waktu Penelitan .........................................................................

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN .....................................................


4.1 Hasil ..........................................................................................
4.2 Pembahasan ...............................................................................
BAB V. PENUTUP ......................................................................................
5.1 Kesimpulan ...............................................................................
5.2 Saran ..........................................................................................
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................

35
DAFTAR PUSTAKA

Anonim,2013.Diklat Teknik Pemberaian Batuan Pada Penambangan Bahan


Galian. Himpunan Mahasiswa Teknik Pertambangan. Fakultas Teknologi
Mineral. Yogyakarta.

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: KEP-


48/MENLH/XI/1996. Baku Tingkat Getaran

Koesnaryo, 1998, Bahan Peledak dan Metode Peledakan, Jurusan Teknik


Pertambangan, Fakultas Teknologi Mineral, Universitas Pembangunan
Nasional Veteran, Yogyakarta.

Suwandi, A, 2009, Diktat Kursus Juru Ledak XIV pada Kegiatan Penambangan
Bahan Galian, Pusdiklat Teknologi Mineral dan Batubara, Bandung.

36