Anda di halaman 1dari 26

PROPOSAL KERJA PRAKTEK

PENGAMATAN PROSES SISTEM PENYALIRAN TAMBANG UNTUK


PENUNJANG KELANCARAN DALAM KEGIATAN PENAMBANGAN
BATUBARA DI PT. PAMA PERSADA NUSANTARA JOBSITE PT. ASMIN
BARA BRONANG PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

Disusun Oleh :

BINSAR REZEKI SINAGA DBD 111 0119

MEY TRISONI SILALAHI DBD 111 0123

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
2015
I. PENDAHULUAN

Kerja Praktek (KP) merupakan program pendidikan yang menghubungkan


antara pihak Perusahaan atau Industri dengan sebuah Perguruan Tinggi dimana
dituntut untuk dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama dibangku
kuliah dengan keadaan lapangan yang sebenarnya. Penerapan ilmu yang diperoleh
dibangku kuliah tersebut sering mengalami kendala dikarenakan terbatasnya ilmu
yang diperoleh di Perguruan Tinggi yang bersangkutan, baik terbatas sarana dan
prasarana sebagai penunjang kuliah yang disediakan oleh pihak Perguruan Tinggi
maupun kemampuan dari Mahasiswa itu sendiri. Keterbatasan inilah yang
diantisipasi dengan diharuskannya seorang Mahasiswa pada akhir studinya
melaksanakan Kerja Praktek (KP). Adapun pelaksanaan Kerja Praktek (KP)
tersebut dilakukan pada perusahaan yang bergerak pada bidang usaha sesuai atau
relevan dengan bidang ilmu yang dipelajari, dalam hal ini bidang Pertambangan
(sesuai bidang ilmu dan jurusan yang dipraktekkan).

Perusahaan yang ditunjuk untuk kegiatan praktek tersebut adalah


perusahaan yang diharapkan mampu membina dan mengarahkan serta bersedia
memberikan pengalaman ilmu teori dan praktek secara langsung dilapangan
kepada Mahasiswa yang melaksanakan praktek. Hal ini penting diperhatikan,
karena melalui praktek lapangan diharapkan sumber daya manusia meningkat
hingga mendapatkan pengalaman kerja yang dapat berguna nantinya pada masa
mendatang serta dapat memberikan masukan kepada pihak perusahaan terhadap
segala analisa yang akan dilakukan.

II. LATAR BELAKANG

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kekayaan yang


melimpah ruah, baik itu berupa hasil hutan maupun hasil tambang yang berupa
bijih, minyak bumi, maupun mineral yang salah satunya adalah batubara.Batubara
merupakan salah satu bahan galian yang sangat penting sebagai bahan bakar
alternatif setelah minyak bumi. Mengingat semakin menipisnya cadangan minyak
bumi, maka sejak tahun 1980 pemerintah Indonesia mencanangkan penggunaan
batubara secara optimal sebagai sumber energi untuk keperluan industri dan
rumah tangga sebagai pengganti minyak bumi, sehingga disamping menjadi
energi alternatif pengganti minyak bumi maka dengan adanya penambangan
batubara diharapkan dapat menambah devisa bagi negara dan juga dapat
menambah pendapatan asli daerah. Dampak dari kebijaksanaan yang diambil
pemerintah untuk peningkatan penggunaan bahan bakar batubara sebagai
pengganti minyak bumi, maka saat ini banyak bermunculan pengusaha-
pengusaha swasta maupun pengusaha asing yang menambahkan modalnya untuk
kegiatan baik eksplorasi maupun eksploitasi dalam bidang pertambangan batubara
diwilayah negara Indonesia.
Indonesia sendiri memiliki cadangan batubara yang cukup besar terutama
yang terdapat di Sumatera, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, sehingga
dengan adanya cadangan batubara yang cukup besar tersebut Indonesia berpotensi
untuk menjadi salah satu negara penghasil batubara pada abad ke 20. Di
Kalimantan Timur sendiri banyak dijumpai perusahaan pertambangan yang
mengusahakan dan memanfaatkan batubara untuk memenuhi kebutuhan pasar
domestik maupun kebutuhan manca negara (komoditasekspor), tapi mengingat
batubara adalah sumber daya alam yang unrenewable resources (tidak dapat
diperbaharui) maka batubara tersebut harus dimanfaatkan secara efektif dan
efisien sehingga mampu memberikan keuntungan yang maksimal.
Air memiliki pengaruh besar terhadap produktivitas tambang. Pada
kegiatan penambangan terbuka air yang masuk kedalam pit terutama disebabkan
oleh air hujan dan rembesan air yang berasal dari air bawah tanah. Oleh karena itu
diperlukan berbagai metode/cara untuk mengendalikan aliran air yang masuk ke
dalam front kerja.

Pada kesempatan ini, penyusun mengajukan judul PENGAMATAN


PROSES SISTEM PENYALIRAN TAMBANG UNTUK PENUNJANG
KELANCARAN DALAM KEGIATAN PENAMBANGAN
III. MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud dari Kerja Praktek ini adalah sebagai salah satu syarat kurikulum
pembelajaran pada program S1 Teknik pertambangan Universitas Palangkaraya,
Provinsi Kalimantan Tengah.
Adapun tujuan dari pelaksanaan kerja praktek ini adalah :
1. Sebagai sarana untuk mengaplikasikan ilmu drainase tambang yang telah
di dapat selama perkuliahan.
2. Dapat mengetahui dan memahami sistem kerja di dunia kerja dan mampu
mengadakan pendekatan masalah secara utuh.
3. Sebagai pengalaman berharga bagi mahasiswa yang di dapat di jadikan
bekal saat memasuki dunia kerja.
4. Untuk mengetahui sistem drainase tambang perusahaan pada kegiatan
pengamatan kerja praktek.

IV. RUMUSAN MASALAH


Berdasarkan dari latar belakang yang diuraikan di atas maka disusun
rumusan masalah :
1. Bagaimana sistem penyaliran air (drainase tambang) dilakukan dengan

benar?

2. Apa upaya yang dilakukan untuk mencegah air agar tidak masuk ke dalam

pit?

3. Apa upaya yang dilakukan untuk menangani kuantitas air berlebih yang

terlanjur masuk ke dalam pit?

V. BATASAN MASALAH
Batasan masalah dalam Kerja Praktek ini adalah:
1. Pengamatan dilakukan pada sistem penyaliran air (sistem drainase) untuk
meningkatkan produktivitas tambang
2. Pengamatan dilakukan pada upaya pengeluaran air dari pit/sump sampai
dengan pengaliran menuju paritan/tempat penampungan akhir
VI. METODE PENGAMBILAN DATA
Metode yang digunakan dalam kerja praktek ini adalah metode langsung

(data primer) dan metode tidak langsung (data sekunder). Metode langsung

yaitu pengamatan secara langsung dilapangan sedangkan metode tidak

langsung yaitu pengambilan data-data yang sudah ada (data

perusahaan).Tahapan kegiatan kerja praktek mencakup beberapa hal antara

lain:

a. Metode Observasi (pengamatan)


Metode ini dilakukan dengan cara pengamatan terhadap proses pekerjaan
langsung di lapangan.

b. Metode Interview (wawancara)


Metode ini dilakukan dengan cara tanya jawab kepada operator lapangan
dan staf perusahaan

c. Metode Pustaka
Metode ini dilakukan dengan cara studi literatur baik yang menyangkut
tentang pihak perusahaan maupun yang berkenaan dengan topik yang
dibahas dalam laporan ini.

Adapun data-data yang diperlukan antara lain:


a. Letak dan luas daerah tangkapan hujan (catchment area)
b. Data curah hujan sebanyak-banyaknya
c. Peta topografi,
d. Sistem pengendalian air (sistem drainase) dan lain-lain
VII. JADWAL DAN PELAKSAAN KERJA PRAKTEK
Setelah disesuaikan dengan jadwal akademik, maka jadwal kegiatan
kerja praktek yang kami usulkan adalah kurang lebih dua bulan. Terhitung dari
awal bulan februari sampai dengan pertengahan maret 2015. Susunan langkah
kerja yang diusulkan:

Februari Maret
Kegiatan
I II III IV I II III IV

Pengambilan data
Pengolahan dan
Analisis data
Pembuatan laporan

Study Literatur

VIII. DASAR TEORI


2.1 Dampak Air Tambang :

Dampak yang diakibatkan karena adanya air tambang antara lain :

a. Ongkos pemompaan akan naik (dilihat dari jumlah pumping hours),

dikarenakan volume air yang dipompa semakin besar, apabila tidak

adanya upaya untuk mengurangi jumlah air yang masuk ke dalam

tambang.

b. Traksi ban alat angkut akan bekurang dikarenakan jalan yang licin atau

becek sehingga akan menimbulkan : produktiftas tambang akan menurun,

borosnya pemakaian bahan bakar, dan tidak safety/ resiko kecelakaan alat

ataupun manusia akan lebih besar.

c. Terjadnya pelunakan jalan tambang sehingga ongkos penggantian ban alat

angkut akan naik

d. Produtivitas alat gali muat akan menurun disebabkan material yang di

loading berupa mud/lumpur serta dudukan dari alat yan tidak stabil/alat

mudah amblas difront kerja yang tegenang air.

e. Ongkos blasting akan naik, dikarenakan kegiatan blasting tidak efektif

apabila lubang bor basah.

f. Mengurangi kestabilan dari lereng penambangan maupun timbunan


g.

2.2 Pengertian Drainase

h. Pengertian drainase adalah suatu usaha untuk mencegah,

mengeringkan, dan mengeluarkan air yang masuk atau menggenangi suatu

daerah tertentu. Drainase diperlukan sebagai penunjang kelancaran dalam

kegiatan penambangan.

i. Tujuan drainase tambang adalah :

1. Mencegah terjadinya korosi pada peralatan tambang.

2. Mencegah terjadinya akumulasi (genangan) air di dalam tambang.

3. Menciptakan kondisi kerja yang aman dan nyaman di dalam tambang.

j. Secara hidrologi air dibawah permukaan tanah dapat dibedakan

menjadi air pada daerah tak jenuh dan air pada daerah jenuh. Daerah tidak

jenuh air umumnya terdapat pada bagian teratas dari lapisan tanah dan

dicirikan oleh gabungan tiga fasa, yaitu :

1. Fasa padat (material atau butiran padatan).

2. Fasa cair ( air adsorbsi, air kapiler dan air infiltrasi).

3. Fasa gas.

k. Daerah ini dipisahkan dari daerah jenuh air oleh jaringan kapiler.

Daerah jenuh merupakan bagian dibawah zona tak jenuh. Air yang terdapat

pada zona atau daerah jenuh inilah yang disebut Ground Water.

2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Sistem Drainase Tambang

l. Beberapa faktor yang memengaruhi Perencanaan drainase tambang dan

yang perlu diperhatikan antara lain daerah tangkapan hujan, curah hujan,

debit limpasan, dan dimensi drainase.


2.3.1 Daerah Tangkapan Hujan (Catchment Area)

m.Catchment area adalah merupakan suatu area atau daerah

tangkapan hujan dimana batas wilayah tangkapannya ditentukan dari titik-

titik elevasi tertinggi sehingga akhirnya merupakan suatu poligon tertutup

yang mana polanya disesuaikan dengan kondisi topografi, dengan mengikuti

kecenderungan arah gerak air (E.M Wilson).

n. Hujan yang terjadi dipermukaan bumi merupakan hasil dari suatu

daur air. Daur air di muka bumi secara garis besar terdiri dari penguapan,

presipitasi dan pengaliran. Air yang menguap terutama air laut, akan naik ke

atmosfir berubah menjadi awan dan setelah mengalami berbagai proses

kemudian jatuh sebagai hujan atau salju ke permukaan bumi.

o. Air yang jatuh ke permukaan bumi sebagian meresap ke dalam

tanah (infiltrasi) dan sebagian ditahan oleh tumbuhan (intersepsi) dan

sebagian lagi akan mengisi cekungan dan lekukan dipermukaan bumi dan

mengalir ke tempat yang lebih rendah.

p. Air hujan yang akan mempengaruhi secara langsung sistem

drainase adalah air hujan yang mengalir pada permukaan tanah (run off)

ditambah sejumlah air yang keluar dari proses infiltrasi air tanah.

q.

r.

s.

t.

u.

v.
w.

x. DAUR HIDROLOGI

y.

z. Awan

Kondensasi

aa.

ab. Presipitasi

ac.

ad. Intersepsi Uap air

ae.

af.

ag. Infiltrasi Limpasan permukaan

Evapotranspirasi

ah.

ai. Aliran air tanah Perembesan

air tanah

aj. Gambar 2.1. Daur Hidrologi

ak.

2.3.2 Curah Hujan

al. Curah hujan adalah banyaknya air hujan yang jatuh ke bumi

persatu satuan luas permukaan pada suatu jangka waktu tertentu . Curah

hujan merupakan salah satu faktor penting dalam suatu sistem drainase,

karena besar kecilnya curah hujan akan mempengaruhi besar kecilnya air

limpasan (Sayoga, R). Besar kecilnya curah hujandapat dinyatakan sebagai


volume air hujan yang jatuh pada suatu areal tertentu dalam jangka waktu

relatif lama, oleh karena itu besarnya curah hujan dapat dinyatakan dalam

m3/satuan luas, secara umum dinyatakan dalam tinggi air (mm). Curah hujan

10 mm berarti tinggi hujan yang jatuh pada areal seluas 1 m 2 adalah 10 liter.

Angka-angka curah hujan yang diperoleh sebelum diterapkan dalam rencana

pengendalian air permukaan harus diolah terlebih dahulu. Data curah hujan

yang akan dianalisis adalah Curah hujan harian maksimum dalam satu tahun

selama 10 sampai 20 tahun, dinyatakan dalam mm/24 jam.

am. Analisis data curah hujan meliputi:

a. Periode Ulang Hujan (PUH)

an. Periode ulang hujan adalah hujan maksimum yang

diharapkan terjadi pada setiap n tahun (Soewarno). Jika suatu data curah

hujan mencapai harga tertentu (x) yang diperkirakan terjadi satu kali dalam n

tahun, maka n tahun dapat dianggap sebagai periode ulang dari x.

Perhitungan periode ulang dapat dilakukan dengan beberapa metode, tetapi

metode yang paling banyak dipakai di Indonesia adalah Metode Extreem

Gumbel atau lebih lazim disebut Metode Gumbel.

ao. Rumus metode Gumbel adalah :

x
Xr X Yr Yn
n
ap.

aq.

ar.

as.

at. Keterangan :
au. Xr = Hujan Harian rencana maksimum (mm/24 jam)

av. X = Curah hujan rata rata

aw. x = Standar deviasi


1/ 2
( Xi ) 2

n 1
ax. =

ay. n = Expected standar deviasi

az. Yr = Variasi reduksi untuk PUH

ba. Yn = Nilai rata-rata dari reduksi valid, tergantung dari

jumlah data

bb. Nilai curah hujan maksimum rata-rata (x) dapat dihitung

dengan

bc. rumus :

Xi
n
bd. x=

be. Dimana :

bf. Xi = Curah hujan maksimum pada tahun x

bg. N = Lama tahun pengamatan

b. Intensitas Curah Hujan

bh. Intensitas curah hujan adalah besarnya air hujan yang jatuh

kepermukaan bumi pada satuan luas (Kensaku Takeda dan Suyono .S).

Dengan demikian apabila diketahui curah hujan 1 mm berarti curah hujan

tersebut adalah sama dengan 1 liter/m2. Jadi curah hujan merupakan jumlah

air hujan yang jatuh pada satu satuan luas. Satuan curah hujan dinyatakan
dalam mm sedangkan derajat curah hujan dinyatakan dalam curah hujan per-

satuan waktu dan disebut juga dengan intensitas hujan.

bi. Besarnya intensitas hujan yang mungkin terjadi dalam

kurun waktu tertentu dihitung berdasarkan persamaan mononobe. Rumus

menyatakan bahwa nilai tingkat intensitas curah hujan yang

diperbolehkanyaitu curah hujan perbandingan rata-rata perhari terhadap

lamanya hujan rata-rata perhari. hujan dapat dihitung

bj. dengan rumus mononobe :

2/3
Rt 24
I
24 t
bk.

bl. Dimana :

bm. I = Intensitas curah hujan (mm/jam)

bn. Rt = Curah hujan rencana

bo. t = Lama hujan (menit)

bp.

c. Debit Limpasan (Run Off)

bq. Limpasan adalah semua air yang bergerak dari daerah

pengaliran ke suatu aliran permukaan (surface stream) tidak memandang

rutenya, apakah lewat rute permukaan atau lewat dibawah permukaan tanah

(surface atau sub surface ).

br. Debit limpasan dapat dihitung dengan persamaan rasional

berikut :

bs. Q = 0.278 x C x I x A

bt.
bu. dimana :

bv. Q = Debit limpasan (m3/detik)

bw. C = Koefisien limpasan

bx. I = Intensitas curah hujan (m/jam)

by. A = Luas catchment area (km2)

bz.

2.4 Sistem Drainase Tambang Terbuka

ca. Terapat dua metode untuk mengendalikan air yang masuk ke dalam

front penambangan, yaitu:

a. Metode Mine Drainage

cb. Metode ini dibuat di bagian luar pit dan digunakan untuk

mencegah/meminimalisir jumlah air yang masuk ke dalam pit. Metode ini

terdiri atas beberapa jenis, antara lain :

1. Metode Siemens

cc. Pada tiap jenjang dari kegiatan penambangan dibuat lubang

bor kemudian ke dalam lubang bor dimaksukkan pipa dan disetiap

bawah pipa tersebut diberi lubang-lubang. Bagian ujung ini masuk ke

dalam lapisan akuifer, sehingga air tanah terkumpul pada bagian ini

dan selanjutnya dipompa ke atas dan dibuang ke luar daerah

penambangan.
cd.
ce. Gambar 2.2. Metode Siemens

2. Metode Pemompaan Dalam (Deep Well Pump)

cf.Metode ini digunakan untuk material yang mempunyai

permeabilitas rendah dan jenjang tinggi. Dalam metode ini dibuat

lubang bor kemudian dimasukkan pompa ke dalam lubang bor dan

pompa akan bekerja secara otomatis jika tercelup air. Kedalaman

lubang bor 50 meter sampai 60 meter.

cg.
ch. Gambar 2.3. Metode Deep well pump
ci.
cj.

3. Metode Elektro Osmosis


ck. Pada metode ini digunakan batang anoda serta katoda.

Bilamana elemen-elemen dialiri arus listrik maka air akan terurai, H+

pada katoda (disumur besar) dinetralisir menjadi air dan terkumpul

pada sumur lalu dihisap dengan pompa.

cl.
cm.Gambar 2.4. Metode electro osmosis

4. Small Pipe With Vacuum Pump

cn. Cara ini diterapkan pada lapisan batuan yang inpermiabel

(jumlah air sedikit) dengan membuat lubang bor. Kemudian

dimasukkan pipa yang ujung bawahnya diberi lubang-lubang. Antara

pipa isap dengan dinding lubang bor diberi kerikil-kerikil kasar

(berfungsi sebagai penyaring kotoran) dengan diameter kerikil lebih

besar dari diameter lubang. Di bagian atas antara pipa dan lubang bor

di sumbat supaya saat ada isapan pompa, rongga antara pipa lubang

bor kedap udara sehingga air akan terserap ke dalam lubang bor.
co.
cp. Gambar 2.5. Metode Small Pipe With Vacuum Pump
cq.
b. Metode Mine Dewatering

1. Sistem Kolam Terbuka

cr. Sistem ini diterapkan untuk membuang air yang telah masuk ke

daerah penambangan. Air dikumpulkan pada sumur (sump), kemudian

dipompa keluar dan pemasangan jumlah pompa tergantung

kedalaman penggalian.

2. Cara Paritan

cs.Penyaliran dengan cara paritan ini merupakan cara yang paling

mudah, yaitu dengan pembuatan paritan (saluran) pada lokasi

penambangan. Pembuatan parit ini bertujuan untuk menampung air

limpasan yang menuju lokasi penambangan. Air limpasan akan masuk

ke saluran-saluran yang kemudian di alirkan ke suatu kolam

penampung atau dibuang langsung ke tempat pembuangan dengan

memanfaatkan gaya gravitasi.

ct.

3. Sistem Adit.
cu. Cara ini biasanya digunakan untuk pembuangan air pada

tambang terbuka yang mempunyai banyak jenjang. Saluran

horisontal yang dibuat dari tempat kerja menembus ke shaft yang

dibuat di sisi bukit untuk pembuangan air yang masuk ke dalam

tempat kerja. Pembuangan dengan sistem ini biasanya mahal,

disebabkan oleh biaya pembuatan saluran horisontal tersebut dan

shaft.

cv.

cw. Gambar 2.6. Sistem Adit

cx.

cy.

cz.

da.

db.

dc.

dd.

de.

df.

dg.

dh.

di.
dj. IX. PENUTUP
dk.
dl. Demikian proposal ini dibuat sebagai bahan pertimbangan bagi
pihak perusahaan dengan harapan dapat memudahkan pelaksanaan Kerja
Praktek (KP) nantinya, dan sekiranya dari perusahaan dapat menerimanya
untuk melakukan Kerja Praktek. Kami menyadari bahwa dalam penulisan
proposal ini banyak terdapat kekurangan atau kekeliruan, untuk itu dimohon
adanya saran konstruktif pelaksanaan Kerja Praktek (KP) ini.

dm.

dn.

do.

dp.

dq.

dr.

ds.

dt.

du.

dv.

dw.

dx.

dy.

dz.

ea.

eb.

ec.

ed.

ee.

ef.
eg. LAMPIRAN

eh. RENCANA PENYUSUNAN ISI LAPORAN KERJA PRATEK

ei. KATA PENGANTAR

ej. LEMBAR PENGESAHAN

ek. DAFTAR ISI

el. DAFTAR GAMBAR

em. DAFTAR TABEL

en. DAFTAR LAMPIRAN

eo. BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


1.2. Rumusan Masalah
1.3. Tujuan Penelitian
1.4. Batasan Masalah
1.5. Metode Penelitian
ep.
eq. BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

er. 2.1. Sejarah Singkat Perusahaan


es. 2.2. Lokasi Dan Kesampaian Daerah
et. 2.3. Keadaan Topografi
eu. 2.4. Iklim dan Curah Hujan
ev. 2.5. Sistem Drainase
ew.
ex. BAB III TINJAUAN DASAR TEORI

ey. 3.1. Sistem penyaliran tambang (Sistem drainase)

ez. 3.2. Faktor-faktor mempengaruhi sistem drainase tambang

fa. 3.3. Metode sistem penyaliran (sistem drainase) yang digunakan


fb. 3.4. Data yang diperlukan

fc. BAB IV ANALISA DATA DAN EVALUASI

fd. BAB V PENUTUP

fe. 5.1. Kesimpulan

ff. 5.2. Saran

fg. DAFTAR PUSTAKA

fh. LAMPIRAN

fi. Keterangan :

fj. *) : ISI/PEMBAHASAN disesuaikan dengan pihak perusahaan

fk.

fl.

fm.

fn.

fo.

fp.

fq.

fr.

fs.

ft.

fu.

fv.

fw.

fx.

fy.
fz. BIODATA :

ga. Nama : MEY TRISONI SILALAHI

gb. Jenis Kelamin : Laki-Laki

gc. TTL : Kabanjahe, 13 Mei 1992

gd. Alamat : Jln. Taurus 7 No. 347 Palangka Raya

ge. No. Telpon : 081264620498

gf. Email : meytrisonisilalahi@yahoo.co.id

gg. Riwayat Pendidikan :

gh. - SD Negeri 4 Kabanjahe Kab. Karo

gi. - SMP Negeri 1 Kabanjahe Kab.Karo

gj. - SMA Negeri 1 Kabanjahe Kab.Karo

gk. - Sedang Menempuh Pendidikan S-1 di Jurusan Teknik Pertambangan


Universitas Palangka Raya.

gl.

gm.

gn.

go.

gp.

gq.

gr.

gs.

gt.
gu. BIODATA :

gv. Nama : BINSAR REZEKI SINAGA

gw.Jenis Kelamin : Laki-Laki

gx. TTL : Medan, 02 September 1994

gy. Alamat : Jln. Bukit Raya XV No.02 Palangka Raya

gz. No Telpon/Hp : 0813-4625-6275

ha. Email : noeiskandar@yahoo.co.id

hb. Riwayat Pendidikan :

hc. - SD Swasta Katolik St. Yoseph 1 Medan

hd. - SMP Swasta Sriwijaya Medan

he. - SMA Swasta Sriwijaya Medan

hf. - Sedang Menempuh Pendidikan S-1 di Jurusan Teknik Pertambangan


Universitas Palangka Raya.

hg.

hh.

hi.