Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembangunan nasional merupakan pencerminan kehendak masyarakat,

bangsa dan Negara untuk terus meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran

rakyat di seluruh aspek kehidupan masyarakat. Tujuan utama pembangunan

nasional adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia. Untuk mencapai

tujuan tersebut, diselenggarakan program pembangunan nasional secara

berkelanjutan, berencana dan terarah (Notoatmodjo, 2012).

Salah satu indikator meningkatnya keberhasilan pembangunan

nasional adalah semakin meningkatnya usia harapan hidup penduduk. Dengan

meningkatnya usia harapan hidup penduduk, menyebabkan jumlah penduduk

lanjut usia terus meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan tersebut seiring

dengan meningkatnya umur harapan hidup (UHH), dalam sensus badan pusat

statistik (BPS) periode 2010-2015 UHH penduduk Indonesia rata-rata 69-71

tahun, untuk Jawa Barat sendiri rata-rata 66-73 tahun sedangkan di wilayah

kota Sukabumi itu sendiri rata-rata 63-67 tahun. Hal ini mencerminkan salah

satu hasil dalam upaya pembangunan kesehatan di Indonesia. Tetapi disisi

lain merupakan tantangan bagi kita semua untuk dapat mempertahankan

kesehatan dan kemandirian para lansia agar tidak menjadi beban pada dirinya,

keluarga maupun masyarakat karena masalah penyakit degenerative akibat

proses penuaan yang sering menyertai pada lansia.

1
2

Visi Indonesia sehat 2025 yang ingin dicapai dalam pembangunan

kesehatan menyatakan bahwa, kesehatan masyarakat di Indonesia ditandai

oleh penduduknya yang hidup dalam lingkungan dan perilaku hidup sehat,

baik jasmani maupun rohani, serta sosial dan memiliki kemampuan untuk

menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta

memiliki derajat kesehatan setinggi-tingginya, misi Indonesia Sehat 2025

yaitu kesehatan sebagai salah satu unsur dari kesejahteraan rakyat yang

mengandung arti terlindunginya dan terlepasnya masyarakat dari segala

macam gangguan derajat kesehatan merupakan tanggung jawab bersama

individu, swasta, dan pemerintah dengan upaya kesehatan melalui

pencegahan (preventive), peningkatan kesehatan (promotif), tanpa

mengabaikan upaya penyembuhan penyakit (kuratif), dan pemulihan

kesehatan (rehabilitative) (Depkes RI,2009).


Pembangunan kesehatan di Indonesia diarahkan pada peningkatan

kualitas hidup manusia dan masyarakat. Keberhasilan pembangunan dalam

bidang kesehatan mengakibatkan meningkatnya usia harapan hidup (UHH),

pada tahun 1990 mencapai 64,7 tahun untuk perempuan dan untuk laki-laki

61 tahun, sedangkan diperkirakan pada tahun 2005 umur harapan hidup

mencapai 68,2 tahun pada perempuan dan 64,3 tahun pada laki-laki. Tahun

2020 diproyeksikan jumlah penduduk yang berusia diatas 60 tahun akan

bejumlah 28,8 juta jiwa atau 11,34% dari seluruh penduduk Indonesia

(Depkes RI, 2010).


Usia harapan hidup yang semakin meningkat, membawa dampak

semakin kompleks penyakit yang bisa diderita oleh orang lanjut usia, dan
3

hipertensi merupakan salah satu penyakit yang lebih sering ditemukan

(Kuswardhani RAT, 2006 dalam Hubert dkk, 2012).


Hipertensi adalah dimana tekanan darah sistolik menunjukan angka

minimal 140 mmHg dan tekanan diastolik menunjukan angka minimal 90

mmHg, hipertensi dapat menimbulkan resiko komplikasi seperti penyakit

jantung koroner, left ventrikel hypertropi (LVH), stroke, serta kematian.


Hipertensi merupakan penyakit kronis serius yang bisa merusak organ

tubuh. Hampir 1 miliar orang atau 1 dari 4 orang dewasa menderita

hipertensi. Setiap tahun hipertensi menjadi penyebab 1 dari setiap 7 kematian

(7 juta pertahun) disamping menyebabkan kerusakan jantung, otak dan ginjal.

Di Negara yang berkembang penyakit hipertensi menjadi masalah utama

dalam kesehatan masyarakat yang ada di Indonesia maupun di beberapa

Negara berkembang lainnya ada di dunia.


Data WHO (2011) menunjukan, diseluruh dunia, sekitar 972 juta

orang atau 26,4% penghuni bumi mengidap penyakit hipertensi dengan

perbandingan 26,6% pria dan 26,1% wanita. Angka ini kemungkinan akan

meningkat menjadi 29,2% di tahun 2025. Dari 972 juta pengidap penyakit

hipertensi, 333 juta berada dinegara maju dan 639 sisanya berada di negara

berkembang, termasuk Indonesia.


Menurut World Health Organization (WHO), hipertensi membunuh 8

juta orang setiap tahun di dunia dan hampir 1,5 juta orang setiap tahun dalam

South-East Asia (SEA) Region. Sekitar sepertiga dari populasi orang dewasa

di daerah SEA memiliki tekanan darah tinggi. Tahun 2025, diperkirakan 1,56

miliar orang dewasa akan hidup dengan hipertensi (WHO, 2011).


Banyak penelitian menunjukan adanya hubungan antara asam urat

dengan penyakit kardiovaskular, termasuk hipertensi, sindrom metabolik, dan


4

penyakit ginjal (Tambayong, 2012). Penelitian yang dilakukan oleh Heinig

dan Johnson pada tahun 2006, menemukan bahwa tikus mengalami tekanan

darah tinggi 3 sampai 5 minggu setelah mereka sedikit meningkatkan kadar

asam urat dengan memberikan penghambat uricase, oxonic acid (Heining,

2006). Tekanan darah tinggi ini terjadi karena asam urat menyebabkan renal

mengalami vasokonstriksi melalui penurunan enzim nitrit oksidase di endotel

kapiler sehingga terjadi aktivasi sistem renin-angiotensin (Tambayong, 2012).


Penyakit asam urat adalah istilah yang sering digunakan untuk

menyebut salah satu jenis penyakit rematik artikuler (Utami, 2003). Asam

urat merupakan substansi hasil akhir nucleic acid atau metabolisme purin

dalam tubuh. Berdasarkan penyelidikan bahwa 90% dari asam urat

merupakan hasil katabolisme purin yang dibantu oleh enzim guanase dan

ksantin oksidase (Shamley, 2005).


Asam urat ini dibawa ke ginjal melalui aliran darah untuk dikeluarkan

bersama air seni. Ginjal yang sehat akan mengatur kadar asam urat dalam

darah agar selalu dalam keadaan normal. Namun, asam urat yang berlebihan

tidak akan tertampung dan termetabolisme seluruhnya oleh tubuh, maka akan

terjadi peningkatan kadar asam urat dalam darah yang disebut sebagai

hiperurisemia. Hiperurisemia yang lanjut dapat berkembang menjadi gout

(Klippel, 2000).
Hiperurisemia dan gout terus menjadi masalah penting di dalam

perawatan medis. Masing-masing dapat diobati secara efektif pada tingkat

dini, sehingga mencegah atau memperkecil kerusakan jaringan dan

kehilangan fungsi. Resiko komplikasi klinis hiperurisemia meningkat dengan

peningkatan kadar urat serum (Kozin, 1993).


5

Dari waktu ke waktu jumlah penderita asam urat cenderung

meningkat. Prevalensi gout di Amerika Serikat 2,6% dalam 1000 kasus, dan

10% kasus gout terjadi pada hiperurisemia sekunder (Walker dan Edward,

2003). Adapun 90% pasien gout primer adalah laki-laki berusia diatas 30

tahun (Tierney et al., 2004) dan diperkirakan 15 dari setiap 100 pria Amerika

Serikat itu berada dalam resiko gout. Prevalensi gout tidak hanya terjadi di

Amerika Serikat saja tetapi juga dibeberapa negara berkembang, seperti di

Indonesia (Walker dan Edward, 2003). Data terakhir dari Rumah Sakit Umum

Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo menunjukkan terjadi kenaikan penderita

sekitar 9 orang dari tahun 1993 sampai 1994 dan sekitar 19 orang dari 1994

sampai 1995 (Utami, 2003). Pada tahun 2007, menurut data pasien yang

berobat di klinik RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, penderita asam

urat sekitar 7% dari keseluruhan pasien yang menderita penyakit rematik

(Anonim, 2007)
Untuk menurunkan terjadinya penyakit asam urat perlu adanya cara

penanganan yang lebih maju namun lebih sederhana sehingga dapat

mengurangi beban perawatan dan bahkan mampu membantu memudahkan

para penderita asam urat dalam menjalani masa perawatan. Salah satu cara

penanganan asam urat adalah dengan melakukan senam bugar lansia.


Senam lansia merupakan olahraga ringan yang mudah dilakukan dan

tidak memberatkan yang dapat dilakukan lansia (Angriana, 2010). Olahraga

ini akan membantu tubuh tetap segar dan bugar karena senam lansia mampu

melatih tulang tetap kuat, mendorong kerja jantung semakin optimal dan

membantu menghilangkan radikal bebas yang ada dalam tubuh (Angriana,


6

2010). Senam lansia disamping mempunyai dampak yang baik bagi organ

tubuh juga dapat berpengaruh dalam peningkatan sistem imunitas setelah

melakukan latihan secara teratur.


Menurut penelitian yang dilakukan oleh Hubert, dkk (2012)

menunjukan terjadi penurunan bermakna kadar asam urat antara sebelum dan

sesudah senam bugar lansia dengan selisih rata-rata sebesar 1,56 mg/dl. Nilai

confidence interval, yaitu 0,84 untuk lower dan 2,28 untuk upper. Nilai

signifikasi (p) dari hasil uji statistik yaitu 0,00 lebih kecil dari nilai alpha ( =

0,05). Penelitian ini membuktikan adanya pengaruh yang signifikan senam

bugar lansia terhadap kadar asam urat penderita hipertensi.


Oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengkaji lebih dalam agar

dapat mengetahui apakah saat ini sudah dimungkinkan penangangan terhadap

asam urat penderita hipertensi melalui senam bugar lansia yang akhirnya

mendorong penulis untuk melakukan penelitian yang berjudul Pengaruh

Senam Bugar Lanjut Usia (Lansia) Terhadap Kadar Asam Urat

Penderita Hipertensi Ny. I di RW 04 Kelurahan Cikundul Kecamatan

Lembursitu Kota Sukabumi

A. Rumusan Masalah

Berdasarkan Uraian latar belakang diatas, peneliti merumuskan

permasalahan berikut : Adakah Pengaruh Senam Bugar Lanjut Usia (Lansia)

Terhadap Kadar Asam Urat Penderita Hipertensi Ny. I di RW 04 Kelurahan

Cikundul Kecamatan Lembursitu Kota Sukabumi?.

B. Tujuan Aplikasi Proses Keperawatan Komplementer


7

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk Pengaruh Senam Bugar Lanjut

Usia (Lansia) Terhadap Kadar Asam Urat Penderita Hipertensi Ny. I di RW 04

Kelurahan Cikundul Kecamatan Lembursitu Kota Sukabumi.

C. Kegunaan Aplikasi Proses Keperawatan Komplementer


1. Bagi Aplikator
Penelitian ini diharapkan akan mendapatkan tambahan ilmu,

pengalaman sehingga dapat meningkatkan kompetensi perawat untuk

mengaplikasikan segala ilmu yang dimiliki agar memberikan kenyamanan

pada klien.

2. Bagi Ny.I dan Lahan Aplikasi


Bagi Ny.J penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan derajat

kesehatan serta alternatif solusi untuk penganan penyakit asam urat tanpa

efek samping di Kelurahan Cikundul.


3. Bagi Institusi Pendidikan Stikes Kota Sukabumi

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi lembaga

pendidikan serta menjadi sumber informasi yang bermanfaat bagi peneliti

berikutnya agar termotivasi untuk meneliti tentang senam bugar lansia

Terhadap penurunan asam urat penderita hipertensi.

D. Kerangka Pemikiran

Kerangka berpikir merupakan model konseptual tentang bagaimana

teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai hal

yang penting, jadi dengan demikian maka kerangka berpikir adalah sebuah

pemahaman yang melandasi pemahaman- pemahaman yang lainnya, sebuah


8

pemahaman yang paling mendasar dan menjadi pondasi bagi setiap pemikiran

atau suatu bentuk proses dari keseluruhan dari penelitian yang akan dilakukan

(Sugiyono, 2011). Kerangka penelitian adalah suatu uraian dan visualisasi

hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep lainnya, atau antara

variabel yang satu dengan variabel yang lain dari masalah yang ingin diteliti.

(Notoatmodjo, 2010).

Hipertensi adalah dimana tekanan darah sistolik menunjukan angka

minimal 140 mmHg dan tekanan diastolik menunjukan angka minimal 90

mmHg, hipertensi dapat menimbulkan resiko komplikasi seperti penyakit

jantung koroner, left ventrikel hypertropi (LVH), stroke, serta kematian.

Senam lansia merupakan olahraga ringan yang mudah dilakukan dan

tidak memberatkan yang dapat dilakukan lansia (Angriana, 2010). Olahraga

ini akan membantu tubuh tetap segar dan bugar karena senam lansia mampu

melatih tulang tetap kuat, mendorong kerja jantung semakin optimal dan

membantu menghilangkan radikal bebas yang ada dalam tubuh (Angriana,

2010).

Dalam aplikasi ini yang diberikan perlakuan adalah warga yang

menderita asam urat penderita hipertensi di RW 04 Kelurahan Cikundul

Kecamatan Lembursitu Kota Sukabumi.

Berdasarkan uraian tersebut dapat dibuat bagan kerangka pemikiran

tentang Pengaruh Senam Bugar Lanjut Usia (Lansia) Terhadap Kadar Asam

Urat Penderita Hipertensi Ny. I di RW 04 Kelurahan Cikundul Kecamatan

Lembursitu Kota Sukabumi, adalah sebagai berikut :


9

Diagram 1.1 Kerangka Pemikiran Pengaruh Senam Bugar Lanjut


Usia (Lansia) Terhadap Kadar Asam Urat Penderita
Hipertensi Ny. I di RW 04 Kelurahan Cikundul
Kecamatan Lembursitu Kota Sukabumi

Perlakuan
Senam Bugar Lansia

Pretest Postest
Kadar asam urat Kadar asam urat
sebelum dilakukan sesudah dilakukan
senam bugar lansia senam bugar lansia

Keterangan :

= Variabel yang akan diteliti

= Pengaruh Variabel

= Perlakuan

Diagram tersebut menyatakan bahwa peneliti ingin mengetahui

bagaimana pengaruh senam bugar lansia terhadap kadar asam urat

penderita hipertensi sebelum dan sesudah melakukan senam bugar lansia.

E. Hipotesis Penelitian
10

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah

penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk

kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru

didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris

yang diperoleh (Sugiyono, 2012).

Hipotesis dalam penelitian ini adalah :

1. Ada pengaruh senam bugar lanjut usia (lansia) terhadap kadar asam urat

penderita hipertensi Ny. I di RW 04 Kelurahan Cikundul Kecamatan

Lembursitu Kota Sukabumi.


Bentuk Hipotesis Penelitian
H0 : Tidak ada pengaruh senam bugar lanjut usia (lansia) terhadap

kadar asam urat penderita hipertensi Ny. I di RW 04 Kelurahan

Cikundul Kecamatan Lembursitu Kota Sukabumi.


H1 : Ada pengaruh senam bugar lanjut usia (lansia) terhadap kadar

asam urat penderita hipertensi Ny. I di RW 04 Kelurahan

Cikundul Kecamatan Lembursitu Kota Sukabumi.