Anda di halaman 1dari 27

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Senam Lansia


1. Konsep Teori
Senam adalah serangkaian gerak nada yang teratur dan terarah

serta terencana yang dilakukan secara tersendiri atau berkelompok dengan

maksud meningkatkan kemampuan fungsional raga untuk mencapai tujuan

tersebut. Dalam bahasa Inggris terdapat istilah exercise atau aerobic yang

merupakan suatu aktifitas fisik yang dapat memacu jantung dan peredaran

darah serta pernafasan yang dilakukan dalam jangka waktu yang cukup

lama sehingga menghasilkan perbaikan dan manfaat kepada tubuh. Senam

berasal dari bahasa yunani yaitu gymnastic (gymnos) yang berarti

telanjang, dimana pada zaman tersebut orang yang melakukan senam

harus telanjang, dengan maksud agar keleluasaan gerak dan pertumbuhan

badan yang dilatih dapat terpantau (Suroto, 2004).


Senam merupakan bentuk latihan-latihan tubuh dan anggota tubuh

untuk mendapatkan kekuatan otot, kelentukan persendian, kelincahan

gerak, keseimbangan gerak, daya tahan, kesegaran jasmani dan stamina.

Dalam latihan senam semua anggota tubuh (otot-otot) mendapat suatu

perlakuan. Otot-otot tersebut adalah gross muscle (otot untuk melakukan

tugas berat) dan fine muscle (otot untuk melakukan tugas ringan). Senam

lansia yang dibuat oleh Menteri Negara Pemuda dan Olahraga

(MENPORA) merupakan upaya peningkatan kesegaran jasmani kelompok

lansia yang jumlahnya semakin bertambah. Senam lansia sekarang sudah

12
13

diberdayakan diberbagai tempat seperti di panti wredha, posyandu, klinik

kesehatan, dan puskesmas. (Suroto, 2004).


Senam lansia adalah olahraga ringan dan mudah dilakukan, tidak

memberatkan yang diterapkan pada lansia. Aktifitas olahraga ini akan

membantu tubuh agar tetap bugar dan tetap segar karena melatih tulang

tetap kuat, memdorong jantung bekerja optimal dan membantu

menghilangkan radikal bebas yang berkeliaran di dalam tubuh. Jadi senam

lansia adalah serangkaian gerak nada yang teratur dan terarah serta

terencana yang diikuti oleh orang lanjut usia yang dilakukan dengan

maksud meningkatkan kemampuan fungsional raga untuk mencapai tujuan

tersebut.
2. Manfaat Senam
Olahraga dapat memberi beberapa manfaat, yaitu: meningkatkan

peredaran darah, menambah kekuatan otot dan merangsang pernafasan

dalam. Selain itu dengan olahraga dapat membantu pencernaan, menolong

ginjal, membantu kelancaran pembuangan bahan sisa, meningkatkan

fungsi jaringan, menjernihkan dan melenturkan kulit, merangsang

kesegaran mental, membantu mempertahankan berat badan, memberikan

tidur nyenyak, memberikan kesegaran jasmani. Depkes (2003).


Senam lansia selain memiliki dampak positif terhadap peningkatan

fungsi organ tubuh juga berpengaruh dalam meningkatkan imunitas dalam

tubuh manusia setelah latihan teratur. (Depkes,1995 dalam Indonesian

Nursing, 2008).
Menurut Indonesian Nursing (2008) manfaat dari aktivitas

olahraga akan membantu tubuh tetap bugar dan segar karena melatih
14

tulang tetap kuat, mendorong jantung bekerja optimal dan membantu

menghilangkan radikal bebas yang ada di dalam tubuh.


a. Menghambat proses penuaan. Senam sangat dianjurkan untuk mereka

yang memasuki usia pralansia (45 tahun) dan usia lansia (>65 tahun).
b. Mendapatkan kesegaran jasmani yang baik yang terdiri dari unsur

kekuatan otot, kelenturan persendian, kelincahan gerak, keluwesan,

cardiovascular fitness dan neuromuscular fitness.


c. Peredaran darah akan lancar dan meningkatkan jumlah volume darah.

Selain itu 20% darah terdapat di otak, sehingga akan terjadi proses

indorfin hingga terbentuk hormon norepinefrin yang dapat

menimbulkan rasa gembira, rasa sakit hilang, adiksi (kecanduan gerak)

dan menghilangkan depresi.


d. Merasa berbahagia, senantiasa bergembira, bisa tidur lebih nyenyak,

pikiran tetap segar.


e. Meningkatkan imunitas dalam tubuh manusia setelah latihan teratur.
f. Meningkatkan keseimbangan antara osteoblast dan osteoclast. Apabila

senam terhenti maka pembentukan osteoblast berkurang sehingga

pembentukan tulang berkurang dan dapat berakibat pada pengeroposan

tulang.

Senam yang disertai dengan latihan stretching dapat memberi efek

otot yang tetap kenyal karena ditengah-tengah serabut otot ada impuls saraf

yang dinamakan muscle spindle, bila otot diulur (recking) maka muscle

spindle akan bertahan atau mengatur sehingga terjadi tarik-menarik,

akibatnya otot menjadi kenyal. Orang yang melakukan stretching akan

menambah cairan sinoval sehingga persendian akan licin dan mencegah

cedera (Suroto, 2004).


15

3. Kontra Indikasi
Dalam melakukan senam lansia terdapat juga kontra indikasi.

Antara lain: Infark miokard baru atau angina tidak stabil dalam dua

minggu, gagal jantung, aritmia dan stenosis aorta berat, setiap penyakit

akut yang serius (demam , batuk, flu dan pusing)


4. Gerakan Senam Lansia
Tahapan latihan kebugaran jasmani adalah rangkaian proses dalam

setiap latihan, meliputi pemanasan, kondisioning (inti), dan penenangan

(pendinginan) (Sumintarsih, 2006).


a. Pemanasan

Pemanasan dilakukan sebelum latihan. Pemanasan bertujuan

menyiapkan fungsi organ tubuh agar mampu menerima pembebanan

yang lebih berat pada saat latihan sebenarnya. Penanda bahwa tubuh

siap menerima pembebanan antara lain detak jantung telah mencapai

60% detak jantung maksimal, suhu tubuh naik 1C - 2C dan badan

berkeringat. Pemanasan yang dilakukan dengan benar akan

mengurangi cidera atau kelelahan.

b. Kondisioning

Setelah pemansan cukup dilanjutkan tahap kondisioning atau

gerakan inti yakni melakukan berbagai rangkaian gerak dengan model

latihan yang sesuai dengan tujuan program latihan.

c. Penenangan
Penenangan merupakan periode yang sangat penting dan

esensial. Tahap ini bertujuan mengembalikan kodisi tubuh seperti

sebelum berlatih dengan melakukan serangkaian gerakan berupa

stretching. Tahapan ini ditandai dengan menurunnya frekuensi detak


16

jantung, menurunnya suhu tubuh, dan semakin berkurangnya keringat.

Tahap ini juga bertujuan mengembalikan darah ke jantung untuk

reoksigenasi sehingga mencegah genangan darah diotot kaki dan

tangan.
5. Frekuensi latihan senam lansia
Latihan akan bermanfaat untuk meningkatkan kesegaran jasmani

jika dilaksanakan dalam zone latihan paling sedikit 15-30 menit (Mariam,

2008). (Dianingtyas, 2008) melaksanakan latihan senam dapat dilakukan

selama 30-45 menit. Waktu pelaksanaan latihan dilakukan paling sedikit

tiga kali atau sebanyak banyaknya lima kali dalam satu minggu. (Mariam,

2008) sedangkan (Dianingtyas, 2008) menjelaskan latihan dapat dilakukan

setiap 2 hari sekali selama 2 minggu. Bila latihan dilakukan diluar gedung

sebaiknya di lakukan dipagi hari sebelum jam 10.00 atau sore hari setelah

pukul 15.00 (Mariam, 2008) karena pada saat tersebut kondisi lingkungan

masih cukup optimal dimana matahari tidak tepat berada diatas kepala

sehinggga tidak mengganggu proses pengeluaran panas tubuh dan tidak

beresiko menimbulkan cedera (Ariwandi, 2010).

B. Konsep Lansia
1. Definisi lansia
Usia lanjut adalah fase menurunnya kemampuan akal dan fisik, yang

dimulai dengan adanya beberapa perubahan dalam hidup. Sebagaimana

diketahui, ketika manusia mencapai usia dewasa, ia mempunyai kemampuan

reproduksi dan melahirkan anak. Ketika kondisi hidup berubah, seseorang

akan kehilangan tugas dan fungsi ini, dan memasuki selanjutnya yaitu usia

lanjut, kemudian mati. Bagi manusia yang normal siapapun orangnya, tentu
17

telah siap menerima keaadaan baru dalam setiap fase hidupnya dan mencoba

menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungannya (Darmodjo, 2009).


Usia lanjut merupakan tahap perkembangan normal yang akan

dialami oleh setiap individu yang mencapai usia lanjut dan merupakan

kenyataan yang tidak dapat dihindari. Usia Lanjut adalah kelompok orang

yang sedang mengalami suatu proses perubahan yang bertahap dalam

jangka waktu beberapa dekat (Notoatmodjo,2007).

2. Proses Menua (Aging Proses)


Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaan yang terjadi didalam

kehidupan manusia. Proses menua merupakan proses sepanjang hidup, tidak

hanya dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan

kehidupan. Menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang

telah melalui 3 tahap kehidupan yaitu anak, dewasa dan tua (Nugroho,

2008).
Menua (bertambahnya umur) merupakan suatu proses yang dapat

menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk

memperbaiki diri/mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi

normalnya sehingga dapat memperbaiki kerusakan yang diderita

(Constantinides. 1994 dalam Darmodjo, 2009). Jadi, proses menua (aging)

adalah proses alami dimana manusia mengalami kemunduran struktur dan

fungsi organ yang dapat mempengaruhi kemandirian dan kesehatannya.


Terdapat beberapa teori dalam proses penuaan (Stanley, 2006) yaitu :

Teori Biologi Teori ini mencoba menjelaskan proses fisik penuaan,

termasuk perubahan fungsi dan struktur, pengembangan, panjang usia dan

kematian. Perubahan-perubahan dalam tubuh termasuk perubahan


18

molekuler dan seluler dalam sistem organ utama dan kemampuan tubuh

untuk berfungsi secara adekuat dan melawan penyakit. Teori biologi juga

mencoba untuk menjelaskan mengapa orang mengalami penuaan dengan

cara yang berbeda dari waktu ke waktu dan faktor apa yang mempengaruhi

umur panjang, perlawanan terhadap organisme, dan kematian atau

perubahan seluler.
Teori genetika : Teori sebab akibat menjelaskan bahwa penuaan

terutama dipengaruhi oleh pembetukan gen dan dampak lingkungan pada

pembentukan kode genetik. Menurut teori genetika. Penuaan adalah suatu

proses yang secara tidak sadar diwariskan yang berjalan dari waktu ke

waktu untuk mengubah sel atau struktur jaringan.teori genetika terdiri dari

teori asam deoksiribonukleat (DNA), teori ketepatan dan kesalahan, mutasi

somatik, dan teori glikogen. Teori-teori ini menyatakan bahwa proses

replikasi pada tingkatan seluler menjadi tidak teratur karena adanya

informasi tidak sesuai yang diberikan dari inti sel. Molekul DNA menjadi

saling bersilangan (cross link) dengan unsur yang lain sehingga mengubah

informasi genetik. Adanya crosslink ini mengakibatkan kesalahan pada

tingkat seluler yang akhirnya menyebabkan sistem dan organ tubuh gagal

untuk berfungsi, bukti yang mendukung teori ini termasuk perkembangan

radikal bebas, kolagen, dan lipofusin.


Teori Wear and Tear (dirusak dan dipakai) bahwa akumulasi

sampah metabolik atau zat nutrisi dapat merusak sintesis DNA, sehingga

mendorong malfungsi molekular dan akhirnya malfungsi organ tubuh.

Radikal bebas merupakan contoh dari produk sampah metabolisme yang


19

menyebabkan kerusakan ketika akumulasi terjadi. Radikal bebas dengan

cepat dihancurkan oleh sistem enzim pelindung pada kondisi normal.

Beberapa radikal bebas berhasil lolos dari proses perusakan ini dan

berakumulasi di dalam struktur biologis yang penting, saat itu kerusakan

organ terjadi.
Teori Imunitas menggambarkan suatu kemunduran dalam sistem

imun yang berhubungan dengan penuaan. Ketika orang bertambah tua,

pertahanan mereka terhadap organisme asing mengalami penurunan,

sehingga mereka lebih rentan untuk menderita berbagai penyakit seperti

kanker dan infeksi. Seiring dengan berkurangnya fungsi sistem imun,

terjadilah peningkatan dalam respon autoimun tubuh. Selain itu, tubuh

kehilangan kemampuannya untuk meningkatkan responnya terhadap sel

asing, terutama bila menghadapi infeksi.


Teori Neuroendokrin menjelaskan penuaan terjadi oleh karena

adanya suatu perlambatan dalam sekresi hormon tertentu yang mempunyai

suatu dampak pada reaksi yang diatur oleh sistem saraf. Hal ini lebih jelas

ditunjukkan dalam kelenjar hipofisis, tiroid, adrenal dan reproduksi.


Teori Kepribadian yang menyebutkan aspek-aspek pertumbuhan

psikologis tanpa menggambarkan harapan atau tugas spesifik lansia. Yang

mengembangkan sebuah teori pengembangan kepribadian orang dewasa

yang memandang kepribadian sebagai ekstrovert atau introvert, bahwa

keseimbangan antara kedua hal tersebut adalah penting bagi kesehatan.


Teori tugas perkembangan menyatakan tugas perkembangan

adalah aktivitas dan tantangan yang harus dipenuhi oleh seseorang pada

tahap-tahap spesifik dalam hidupnya untuk mencapai penuaan yang sukses.


20

Erikson menguraikan tugas utama lansia adalah mampu melihat kehidupan

seseorang sebagai kehidupan yang dijalani dengan integritas. Pada kondisi

tidak adanya pencapaian perasaan bahwa ia telah menikmati kehidupan

yang baik, maka lansia tersebut beresiko untuk disibukkan dengan rasa

penyesalan atau putus asa.


Teori Disengagement yang disebut juga teori pemutusan hubungan.

Menggambarkan proses penarikan diri lansia dari peran bermasyarakat dan

tanggungjawabnya. Lansia dikatakan akan bahagia apabila kontak sosial

telah berkurang dan tanggungjawab telah diambil oleh generasi yang lebih

muda. Manfaat pengurangan kontak sosial bagi lansia adalah agar ia dapat

menyediakan waktu untuk merefleksikan pencapaian hidupnya dan untuk

menghadapi harapan yang tidak terpenuhi, sedangkan manfaatnya bagi

masyarakat adalah dalam rangka memindahkan kekuasaan generasi tua

kepada generasi muda.


Teori Aktivitas merupakan lawan langsung dari teori disengagement

adalah teori aktivitas penuaan, yang berpendapat bahwa jalan menuju

penuaan yang sukses adalah dengan cara tetap aktif. Hubungannya dengan

mempertahankan interaksi yang penuh arti dengan orang lain dan

kesejahteraan fisik dan mental orang tersebut. Gagasan pemenuhan

kebutuhan harus seimbang dengan pentingnya perasaan dibutuhkan oleh

orang lain. Kesempatan untuk turut berperan dengan cara yang penuh arti

bagi kehidupan seseorang yang penting bagi dirinya adalah suatu komponen

kesejahteraan yang penting bagi lansia. Penelitian menunjukkan hilangnya

fungsi peran pada lansia secara negatif mempengaruhi kepuasan hidup.


21

C. Arthritis Gout
1. Definisi dan Prevalensi Artritis Gout
Artritis gout merupakan penyakit heterogen sebagai akibat deposisi

kristal monosodium urat pada jaringan atau supersaturasi asam urat

didalam cairan ekstarseluler (Anastesya W, 2009). Artritis gout merupakan

salah satu penyakit inflamasi sendi yang paling sering ditemukan, yang

ditandai dengan penumpukan kristal monosodium urat di dalam ataupun di

sekitar persendian. Monosodium urat ini berasal dari metabolisme purin.

Hal penting yang mempengaruhi penumpukan kristal adalah hiperurisemia

dan saturasi jaringan tubuh terhadap urat. Apabila kadar asam urat di

dalam darah terus meningkat dan melebihi batas ambang saturasi jaringan

tubuh, penyakit artritis gout ini akan memiliki manifestasi berupa

penumpukan kristal monosodium urat secara mikroskopis maupun

makroskopis berupa tophi (Zahara, 2013).


Dari waktu ke waktu jumlah penderita asam urat cenderung

meningkat. Penyakit gout dapat ditemukan di seluruh dunia, pada semua

ras manusia. Prevalensi asam urat cenderung memasuki usia semakin

muda yaitu usia produktif yang nantinya berdampak pada penurunan

produktivitas kerja. Prevalensi gout di Amerika serikat 2,6 dalam 1000

kasus. Peningkatan prevalensi diikuti dengan meningkatnya usia,

khususnya pada laki-laki. Sekitar 90% pasien gout primer adalah laki-laki

yang umumnya yang berusia lebih dari 30 tahun, sementara gout pada

wanita umumnya terjadi setelah menopause (Dufton J, 2011). Pada tahun

2006, prevalensi hiperurisemia di China sebesar 25,3% dan gout sebesar

0,36% pada orang dewasa usia 20 74 tahun (Kumalasari, 2009).


22

Prevalensi asam urat di Indonesia terjadi pada usia di bawah 34

tahun sebesar 32% dan kejadian tertinggi pada penduduk Minahasa

sebesar 29,2% (Pratiwi VF, 2013). Pada tahun 2009, Denpasar, Bali,

mendapatkan prevalensi hiperurisemia sebesar 18,2% (Kumalasari, 2009).


Faktor risiko yang menyebabkan orang terserang penyakit asam

urat adalah usia, asupan senyawa purin berlebihan, konsumsi alkohol

berlebih, kegemukan (obesitas), kurangnya aktivitas fisik, hipertensi dan

penyakit jantung, obat-obatan tertentu (terutama diuretika) dan gangguan

fungsi ginjal. Peningkatan kadar asam urat dalam darah, selain

menyebabkan artritis gout, menurut suatu penelitian hal tersebut

merupakan salah prediktor kuat terhadap kematian karena kerusakan

kardiovaskuler (Andry, 2009).


2. Patofisiologi Arthritis Gout
Penyakit arthritis gout merupakan salah satu penyakit inflamasi

sendi yang paling sering ditemukan, ditandai dengan adanya penumpukan

kristal monosodium urat di dalam ataupun di sekitar persendian (Zahara,

2013). Asam urat merupakan kristal putih tidak berbau dan tidak berasa

lalu mengalami dekomposisi dengan pemanasan menjadi asam sianida

(HCN) sehingga cairan ekstraseslular yang disebut sodium urat. Jumlah

asam urat dalam darah dipengaruhi oleh intake purin, biosintesis asam urat

dalam tubuh, dan banyaknya ekskresi asam urat (Kumalasari, 2009).


Kadar asam urat dalam darah ditentukan oleh keseimbangan antara

produksi (10% pasien) dan ekskresi (90% pasien). Bila keseimbangan ini

terganggu maka dapat menyebabkan terjadinya peningkatan kadar asam

urat dalam darah yang disebut dengan hiperurisemia (Manampiring, 2011).


3. Penegakan Diagnosis Arthritis Gout
23

Gangguan metabolisme yang mendasari gout adalah hiperurisemia

yang didefinisikan sebagai peninggian kadar urat pada pria lebih dari 7,0

mg/dl dan pada wanita 6,0 mg/dl (Anastesya W, 2009)

Sedangkan kadar asam urat normal menurut WHO

1) Pada laki-laki dewasa kadar normal asam uratnya adalah sekitar 2

7,5 mg/dL, sementara itu pada wanita yang sudah dewasa adalah

2 6,5 mg/dL
2) Pada laiki-laki dengan usia diatas 40 tahun kadar normal asam

uratnya 2 8,5 mg/dL, pada wanita 2 8 mg/dL


3) Anak-anak yang berusia 10 18 tahun kadar asam uratnya 3,6

5,5 mg/dL, sementara itu pada anak wanita 3,6 4 mg/dL


Gejala-gejala klinik hiperuresemia dibagi dalam 4 stadium,yaitu:
a. Stadium I
Tidak ada gejala yang jelas. Keluhan umum, sukar

berkonsentrasi. Pada pemeriksaan darah ternyata asam urat tinggi.


b. Stadium II

Serangan-serangan arthritis pirai yang khas, arthritis yang akut

dan hebat, 90% lokalisasi di jari empu (podagra), tetapi semua

persendian dapat diserang, kadang-kadang lebih dari satu sendi yang

diserang (migratory polyarthritis). Sendi tersebut menjadi bengkak

dalam beberapa jam, menjadi panas, merah, sangat nyeri. Kemudian

pembengkakan ini biasanya menjalar ke sekitar sendi dan lebih

menyolok daripada arthritis yang lain. Kadang-kadang terjadi efusi di

sendi-sendi besar. Tanpa terapi keluhan dapat berkurang sendiri setelah

4 sampai 10 hari. Pembengkakan dan nyeri berkurang, dan kulit

mengupas sampai normal kembali.


24

c. Stadium III

Pada stadium ini di antara serangan-serangan arthritis akut,

hanya terdapat waktu yang pendek, yang disebut fase interkritis.

d. Stadium IV

Pada stadium ini penderita terus menderita arthritis yang kronis

dan tophi sekitar sendi, juga pada tulang rawan dari telinga. Akhirnya

sendi-sendi dapat rusak, mengalami destruksi yang dapat

menyebabkan cacat sendi (Syukri, 2007).

Arthritis gout ditandai dengan serangan-serangan nyeri hebat dan

kemerahan pada bagian bawah sendi dari ibu jari kaki, yang terjadi pada

waktu tengah malam. Serangan berkurang dalam beberapa hari tetapi

berulang kembali. Lama kelamaan, sendi dirusak oleh endapan kristal

asam urat didalam sinovia dan tulang rawan. Asam urat didalam serum

meningkat. Penyakit ini dianggap sebagai suatu penyakit orang berada

yang memakan makanan yang kaya akan DNA, yang memproduksi

banyak asam urat (Sibuea, 2009). Berdasarkan American College of

Rheumatology pada tahun 2012 mengenai pedoman penatalaksanaan gout,

derajat Arthritis Gout berdasarkan beratnya serangan akut seperti

dijelaskan pada Tabel 2.1 sebagai berikut:

Tabel 4.1 Intensitas serangan arthritis gout berdasarkan derajat


nyeri (0- 10 skala analog visual)
Derajat Skala
Ringan 4
Sedang 5-6
Berat 7
Sumber: American College of Rheumatology, 2012
25

Terdapat beberapa faktor risiko yang dapat membuat seseorang

menjadi lebih mudah untuk terkena penyakit arthritis gout. Secara garis

besar, terdapat dua faktor risiko untuk pasien dengan penyakit arthritis

gout, yaitu faktor yang tidak dapat dimodifikasi dan faktor yang dapat

dimodifikasi. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi adalah usia dan

jenis kelamin. Sedangkan faktor risiko yang dapat dimodifikasi adalah

pekerjaan, Glomerular Filtration Rate (GFR), kadar asam urat, dan

penyakit-penyakit penyerta lain seperti Diabetes Melitus (DM), hipertensi,

dan dislipidemia yang membuat individu tersebut memiliki risiko lebih

besar untuk terserang penyakit arthritis gout (Festy P, 2009).


Hubungan antara hiperurisemia dan gangguan sistem

serebrovaskular telah diketahui sejak tahun 1990. Peningkatan kadar asam

urat serum merupakan temuan yang umum diperlihatkan pada penderita

dengan tekanan darah tinggi, resistensi insulin, obesitas dan gangguan

serebrovaskuler (Cerezo C,2012). Dengan penatalaksaan yang adekuat

terhadap penyakit penyerta seperti di atas, dapat membuat prognosis dan

penatalaksanaan arthritis gout menjadi lebih baik.


Pada penelitian tahun 2005 menemukan bahwa secara langsung

hipertensi berhubungan dengan resiko terjadinya gout, sedangkan studi

pada tahun 2007 menyebutkan bahwa hiperurisemia akan meningkatkan

kejadian hipertensi. (Setyoningsih, 2009).


Hubungan antara asam urat dan hipertensi telah digambarkan sejak

awal tahun 1960-an. Didapatkan bahwa hiperurisemia, pada beberapa

populasi, menstimulasi onset terjadinya hipertensi melalui pembentukan

kaskade inflamasi dimana terjadi disfungsi endotel, proliferasi otot polos,


26

dan arteriosklerosis pembuluh darah afferen renal. Selain itu, hipertensi

merupakan salah satu komorbiditas gout dimana mempengaruhi lebih dari

74% pasien dengan arthritis gout seperti yang telah dilaporkan oleh the US

National Health and Nutrition Examination Survey pada tahun 2007-2008.

Tekanan darah yang tinggi secara tidak langsung berhubungan dengan

insiden terjadinya gout dikarenakan penurunan aliran darah renal sehingga

menyebabkan peningkatan resistensi vaskular ginjal dan sistemik, yang

akhirnya menyebabkan ekskresi urat melalui ginjal menurun. Oleh karena

hal tersebut, penatalaksanaan hipertensi yang adekuat dapat menurunkan

tingginya insidensi terjadinya arthritis gout pada penderita dengan

hipertensi (Cerezo C,2012).


Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi asam urat

dapat menentukan progresifitas penyakit ginjal, stroke, serta meta analisis

melaporkan bahwa asam urat berhubungan dengan adanya hipertensi,

diabetes, serta sindrom metabolik. Penelitian menunjukkan bahwa terjadi

disfungsi endotelial yang mengindukasi perubahan adiposit pada penderita

dengan diabetes (Cerezo C,2012).


Tsunoda melaporkan terjadinya penurunan konsentrasi asam urat

serum setelah dilakukan perbaikan sensitivitas insulin dengan diet asam

urat obat yang meningkatkan sensitivitas insulin, sehingga diduga

hiperurisemia merupakan bagian dari sindrom resistensi insulin. Asam urat

merangsang produksi sitokin dari leukosit dan kemokin dari otot polos

pembuluh darah, merangsang perlekatan granulosit pada endotelium,

adhesi platelet dan pelepasan radikal bebas peroksida dan superoksida


27

serta memicu stress oksidatif. Dari sini diduga terdapat peranan potensial

asam urat bagi terjadinya disfungsi endotel dan dalam memediasi respon

inflamasi sistemik yang akhirnya bermuara pada cardiovascular events.

Hubungan yang positif antar asam urat dengan resistensi insulin sebagian

juga disebabkan karena hiperinsulinemia meningkatkan reabsorpsi sodium

di tubulus ginjal, sebagai akibatnya kemampuan ginjal mengekresikan

sodium dan asam urat menurun dan hasil akhirnya konsentrasi asam urat

serum meningkat (Wisesa, 2009).


Hiperurisemia diketahui juga berkaitan dengan berbagai keadaan

gangguan metabolik seperti diabetes melitus, hipertrigliseridemia,

obesitas, sindrom metabolik, dan hipotiroidisme. Obesitas meningkatkan

metabolisme adenin nukleotida sehingga memudahkan terjadinya

penumpukan kristal (Lugito, 2013). Pada Normative Aging Study ,

peningkatan berat badan berhubungan dengan peningkatan kadar asam

urat dalam darah dan resiko terjadinya gout. Penyakit gout sendiri lebih

sering menyerang penderita yang mengalami kelebihan berat badan lebih

dari 30% dari berat badan ideal. Orang dengan IMT > 25 kg/m 2 (kategori

obesitas) mempunyai resiko 3,5 kali untuk mengalami hiperurisemia

dibandingkan orang dengan IMT < 25 kg/m2 . Hasil ini sesuai dengan

penelitian Maria yang menunjukkan bahwa resiko orang dengan obesitas 2

kali lebih tinggi untuk mengalami hiperurisemia dibandingkan dengan

orang yang tidak mengalami obesitas. Pada orang yang obesitas (IMT > 25

kg/m2 ), kadar leptin pada tubuh akan meningkat. Leptin merupakan

protein dalam bentuk heliks yang disekresi oleh jaringan adiposa.


28

Peningkatan kadar leptin seiring dengan meningkatnya kadar asam urat

didalam darah. Hal tersebut disebabkan karena adanya gangguan proses

reabsorpsi asam urat pada ginjal. (Setyoningsih, 2009).


Subkomite The American Rheumatism Association menetapkan

bahwa kriteria diagnostik untuk gout adalah:


a. Adanya kristal urat yang khas dalam cairan sendi.
b. Tofi terbukti mengandung kristal urat berdasarkan pemeriksaan

kimiawi dan mikroskopik dengan sinar terpolarisasi.


c. Diagnosis lain, seperti ditemukan 6 dari beberapa fenomen aklinis,

laboratoris, dan radiologis sebagai tercantum dibawah ini:


1) Lebih dari sekali mengalami serangan arthritis akut.
2) Terjadi peradangan secara maksimal dalam satu hari. - Serangan

artrtis monoartikuler.
3) Kemerahan di sekitar sendi yang meradang.
4) Sendi metatarsophalangeal pertama (ibu jari kaki) terasa sakit atau

membengkak.
5) Serangan unilateral pada sendi tarsal (jari kaki).
6) Serangan unilateral pada sendi MTP 1.
7) Dugaan tophus (deposit besar dan tidak teratur dari natrium urat)

di kartilago artikular (tulang rawan sendi) dan kapsula sendi.


8) Hiperurikemia, yaitu pembengkakan sendi secara asimetris (satu

sisi tubuh saja) (Anastesya W, 2009).


Perubahan radiologis hanya terjadi setelah bertahun-tahun

timbulnya gejala. Terdapat predileksi pada sendi MTP pertama, walaupun

pergelangan kaki, lutut, siku, dan sendi lainnya juga dapat terlibat. Foto

polos dapat memperlihatkan:


a. Efusi dan pembengkakan sendi
b. Erosi: hal ini cenderung menimbulkan penampakan punched out,

yang berada terpisah dari permukaan artikular. Densitas tulang tidak

mengalami perubahan.
29

c. Tofi: mengandung natrium urat dan terdeposit pada tulang, jaringan

lunak, dan sekitar sendi. Kalsifikasi pada tofi juga dapat ditemukan,

dan tofi intraoseus dapat membesar hingga menyebabkan destruksi

sendi (Patel, 2007).

D. Konsep Hipertensi
1. Definisi Hipertensi
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami

tekanan darah di atas normal yang mengakibatkan angka kesakitan

(morbiditas) dan angka kematian (mortalitas). Tekanan darah 140/90 mmHg

merupakan tekanan darah normal yang didasarkan pada dua fase dalam

setiap denyut jantung yaitu fase sistolik 140 menunjukan fase darah yang

sedang dipompa oleh jantung dan fase diastolik 90 menunjukan darah yang

kembali ke jantung, Endang Triyanto, (2014).


Menurut WHO (2006), yang di kutip oleh Endang Triyanto

dinyatakan bahwa batas tekanan darah yang masih dianggap normal adalah

kurang dari 130/85 mmHg, sedangkan bila lebih dari 140/90 mmHg

dinyatakan sebagai hipertensi. Hipertensi ini sering ditemukan pada usia

lanjut sejalan dengan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang

mengalami kenaikan tekanan darah. Tekanan sistolik terus meningkat

sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik terus meningkat sampai usia 55-

60 tahun, kemudian berkurang secara perlahan atau bahkan menurun drastis.


Adapun hipertensi yang sangat parah, yang apabila tidak diobati

akan menimbulkan kematian dalam waktu 3-6 bulan. Hipertensi ini jarang

terjadi, hanya 1 dari 200 penderita hipertensi yang terkena penyakit

hipertensi, hipertensi ini dinamakan hipertensi maligna.


30

2. Klasifikasi Tekanan Darah


Di Indonesia sendiri berdasarkan konsensus yang dihasilkan pada

Pertemuan Ilmiah Nasional Pertama Perhimpunan Hipertensi Indonesia

pada tanggal 13-14 Januari 2007 belum dapat membuat klasifikasi

hipertensi sendiri untuk orang Indonesia. Hal ini dikarenakan data

penelitian hipertensi di Indonesia berskala nasional sangat jarang.

Tabel 2.1 Klasifikasi Hipertensi Hasil Konsensus Perhimpunan


Hipertensi Indonesia
Diastole
Kategori Sistol (mmHg) Dan/atau
(mmHg)
Normal <120 Dan <80
Pre hipertensi 120-139 Atau 80-89
Hipertensi tahap 140-159 Atau 90-99
1
Hipertensi tahap 160 Atau 100
2
Hipertensi sistol 140 Dan < 90
terisolasi
Sumber : Nandang Tisna 2009

3. Penyebab Hipertensi

Menurut Smeltzer dan Bare (2000), yang dikutip oleh Endang

Triyanto dinyatakan bahwa penyebab hipertensi dibagi menjadi 2, yaitu :

a. Hipertensi Esensial atau Primer


Penyebab pasti dari penyakit hipertensi esensial sampai saat ini

masih belum dapat diketehui. Kurang lebih 90% penderita hipertensi

tergolong hipertensi esensial sedangkan 10% nya tergolong hipertensi

sekunder. Hipertensi esensial terjadi pada usia 30-50 tahun. Genetik dan

ras merupakan bagian yang menjadi penyebab timbulnya hipertensi


31

esensial, termasuk faktor lain yang diantaranya adalah stress,minuman

beralkohol, merokok, lingkungan, dan lain-lain.


b. Hipertensi Sekunder
Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang penyebabnya dapat

diketehui, antara lain kelainan pembuluh darah ginjal, gangguan kelenjar

tiroid (hipertiroid), penyakit kelenjar adrenal (hiperaldosteronisme).

Golongan penyakit terbesar dari hipertensi adalah hipertensi esensial.


4. Tanda dan Gejala Hipertensi
Gejala-gejala hipertensi bervariasi pada masing-masing individu

dan hampir sama dengan gejala penyakit lainnya. Tanda dan gejala atau

manifestasi klinik yang ditemukan pada pengkajian (Brunner & Suddarth,

2002) adalah:

a. Pemeriksaan fisik mungkin menunjukkan tidak adanya abnormalitas

selain tingginya tekanan darah.


b. Mungkin terjadi perubahan retina dengan hemoragi, eksudat,

penyempitan arteriole.
c. Gejala biasanya menunjukkan kerusakan vaskuler yang berhubungan

dengan sistem organ yang disebabkan oleh pembuluh darah yang

terserang.
d. Penyakit arteri koroner dengan angina merupakan akibat yang umum.
e. Terjadi hipertrofi ventrikel kiri, gagal jantung.
f. Perubahan patologis pada ginjal.
g. Keterlibatan vaskular serebral (stroke atau serangan iskemia transien)

Menurut Vitahealth, (2004) yang dikutip oleh Endang Triyanto

menjelaskan bahwaGejala-gejala lain yang dapat ditemukan pada kasus

hipertensi yaitu :

a. Sakit kepala, pusing

b. Jantung berdebar-debar
32

c. Sulit bernapas setelah bekerja keras atau mengangkat beban berat

d. Mudah lelah

e. Penglihatan kabur

f. Wajah memerah

g. Hidung berdarah secara tiba-tiba

h. Sering buang air kecil, terutama pada malam hari

i. Tengkuk terasa kaku, berat atau nyeri

j. Telinga berdenging (tinitus) dan terasa berputar (vertigo).

5. Faktor yang Mempengaruhi Hipertensi


Menurut Susilo dan Wulandari (2011), yang di kutip oleh

Samsuryanti menjelaskan behwa faktor-faktor yang menyebabkan

terjadinya hipertensi secara umum yaitu:


a. Toksin / Racun
merupakan zat-zat sisa pembungan yang seharusnya dibuang

karena bersifat racun. Sisa-sisa pembuangan didalam saluran darah

akan menghambat kelancaran peredaran darah. Hal tersebut

mengakibatkan jantung terpaksa bekerja lebih keras untuk membantu

perjalanan darah melalui saluran yang tersumbat, hal tersebut

mengakibatkan pembesaran jantung dan selanjutnya mengakibatkan

penyakit jantung. Sementara itu tekanan yang dilakukan terhadap

saluran darah akan mengakibatkan tekanan darah tinggi.


b. Faktor genetik / keturunan.
33

Individu dengan orang tua hipertensi mempunyai resiko dua kali

lebih besar untuk menderita hipertensi daripada individu yang tidak

mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi.


c. Umur / Usia
Kepekaan terhadap hipertensi akan meningkat seiring dengan

bertambahnya umur seseorang. Individu yang berumur di atas 60

tahuan, 50-60% mempunyai tekanan darah yang lebih besar atau sama

dengan 140/90 mmHg. Hal itu merupakan pengaruh degenerasi yang

terjadi pada orang yang bertambah usia.


d. Jenis kelamin
Setiap jenis kelamin mempunyai struktur organ dan hormon yang

berbeda, laki-laki mempunyai resiko lebih besar terhadap morbiditas dan

mortalitas kardiovaskuler. Sedangkan peda perempuan, biasanya lebih

rentan terhadap hipertensi ketika mereka sudah berumur diatas umur 50

tahun.
e. Stress
Stress akan meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer dan

curah jantung sehingga akan menstimulasi aktivitas saraf simpatetik.

Adapun stress ini berhubungan dengan pekerjaan, kelas sosial, ekonomi

dan karakteristik personal. Stress tidak hanya memicu timbulnya

hipertensi, tetapi juga banyak penyakit fisik berat lainnya yang

disebabkan oleh stress, hidup sehat dan menggunakan pola fikir sehat

merupakan salah satu cara untuk mengendalikan stress.


f. Kegemukan / Obesitas
Kegemukan juga merupakan salah satu faktor yang

menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit berat, salah satunya

hipertensi.
g. Merokok
34

Penelitian terbaru menyatakan bahwa merokok menjadi salah

satu faktor hipertensi yang dapat di modifikasi.

h. Alkohol
Penggunaan alkohol secara berlebihan juga akan memicu

tekanan darah seseorang. Selain tidak bagus bagi tekanan darah, alkohol

juga membuat kecanduan yang akan sangat menyulitkan untuk

melapaskan nya.
i. Kafein (kopi)
Kandungan kafein selain tidak baik pada tekanan darah dalam

jangka panjang, pada orang-orang tertentu juga menimbulkan efek yang

tidak baik seperti tidak bisa tidaur, jantung berdebar-debar, sesak nafas

dan lain-lain.
j. Kurang olahraga
Dengan adanya kesibukan yang luar biasa, manusia pun merasa

tidak punya waktu lagi untuk berolahraga. Akibatnya kurang gerak dan

kurang olahraga, kondisi inilah yang memicu kolesterol tinggi dan juga

adanya tekanan darah yang terus menguat sehingga terjadi hipertensi.


k. Kolesterol tinggi
Kandungan lemak yang berlebihan dalam darah menyebabkan

timbunan kolesterol pada dinding pembuluh darah. Hal ini dapat

membuat pembuluh darah menyempit dan akibatnya tekanan darah

akan meningkat.

6. Komplikasi Hipertensi
Menurut Susilo dan Wulandari (2011), yang di kutip oleh

Samsuryanti menjelaskan behwa komplikasi hipertensi antara lain.

a. Kerusakan ginjal
35

Hipertensi adalah salah satu penyebab penyakit ginjal kronis,

hipertensi membuat ginjal harus bekerja lebih keras akibatnya, sel-sel

pada ginjal akan lebih cepat rusak.


b. Merusak kinerja otak
Kinerja otak juga bisa terganggu dari adanya hipertensi yang

disebabkan oleh adanya pembentukan lepuh kecil pada pembuluh

darah di otak yang selanjutnya akan mengakibatkan terjadinya stroke

dan gagal jantung karena terjadinya penyempitan dan pengerasan

pembuluh-pembuluh darah yang ada di jantung.


c. Kerusakan kinerja jantung
Tekanan darah tinggi yang tidak mendapatkan pengobatan dan

pengontrolan secara rutin maka hal ini dapat membawa si penderita

kedalam kasus-kasus serius dan bahkan menyebabkan kematian.


d. Kerusakan mata / penglihatan
Karena adanya gangguan, tekanan darah akan menyebabkan

perubahan-perubahan dalam retina pada belakang mata. Pemeriksaan

mata pada pasien hipertensi berat dapat mengungkapkan kerusakan,

penyempitan pembuluh-pembuluh darah kecil, kebocoran darah kecil

pada retina dan menyebabkan terjadinya pembengkakan saraf mata.


e. Resistensi pembuluh darah
Orang yang terkena hipertensi akut biasanya mengalami suatu

kekakuan yang meningkat atau resistensi pada pembuluh-pembuluh

darah di sekeliling dan di seluruh jaringan-jaringan tubuhnya.

Penungkatan beban kerja ini dapat menjurus pada kelainan-kelainan

jantung yang umumnya pertama kali terlihat sebagai pembesaran otot

jantung.
f. Stroke
36

Hipertensi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan stroke

yang dapat menjurus pada kerusakan otak dan saraf. Stroke umumnya

disebabkan oleh kebocoran darah atau suatu gumpalan darah dari

pembuluh-pembuluh darah yang mensuplay darah ke otak.


7. Pencegahan Hipertensi
Hipertensi tidak akan muncul begitu saja. Naiknya tekanan darah,

biasanya merupakan akumulasi dari sikap hidup yang tidak sehat dan

sudah berlangsung dalam waktu yang lama.


Menurut Susilo dan Wulandari (2011), yang di kutip oleh Samsuryanti

menjelaskan behwa pencegahan hipertensi antara lain :


a. Pola makan sehat
Pola makan sehat adalah makan-makanan yang mengandung

kalori dan kebutuhan nutrisi sesuai dengan keperluan. Oleh karena itu,

pola makan sehat masing-masing orang sebenarnya tidak sama. untuk

mengetahui pola makan sehat dan beberapa kalori maupun nutrisi yang

diperlukan, sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter atau ahli gizi

yang dipercaya.
Ada beberapa patokan pola makan sehat, yaitu sebagai berikut :
1) Kurangi konsumsi garam dalam makanan sehari-hari
Jika sudah menderita tekanan darah tinggi sebaiknya

menghindari makanan yang mengandung garam, pergunakan

garam atau hindari penggunaan garam berlebih.


2) Konsumsi makanan yang mengandung kalium
Bahan tersebut dapat diperoleh dari makanan seperti

pisang, wortel, bayam, tomat, ikan salmon dan makanan yang

mengandung magnesium bisa didapat dari makanan seperti coklat,

kedelai gandum dan kerang laut serta makanan yang berkalsium


37

bisa di dapatkan pada mekenan seperti kacang-kacangan, biji-

bijian, sayuran hijau dan dari hewan seperti daging dan susu.
3) Kurangi minuman yang beralkohol
Untuk penderita hipertensi, jumlah alkohol yang di izinkan

maksimal 30 ml alkohol per hari dan untuk perempuan 15 ml per

hari.
4) Makan sayur dan buah-buahan yang berserat tinggi
Seperti pisang, tomat, wortel, melon dan jeruk.
5) Kendalikan kadar kolesterol
Kurangi makanan yang mengandung lemak jenuh,

tingginya kolesterol dalam tubuh akan menyebabkan terjadinya

plak-plak meyumbat aliran darah, sehingga tekanan darah semakin

tinggi.

6) Kendalikan diabetes bila menderita diabetes


Konsumsilah makanan yang sehat. Jangan menggunakan

obat-obatan pengendali diabetes yang memicu komplikasi penyakit

lainnya, bila menggunakan obat tertentu harus dengan resep dari

dokter.
7) Tidur yang cukup
Setiap hari, antara 6-8 jam setiap hari, kondisi tubuh yang

kurang istirahat akan menyebabkan tekanan darah naik dan

memicu terjadinya hipertensi.


8) Kurangi makan-makanan yang mengandung kolesterol tinggi dan

Perbanyak aktivitas fisik untuk mengurangi berat badan.


9) Konsumsi minyak ikan
Karena peningkatan konsumsi minyak ikan yang

mengandung asam lenak (omega-3) dapat menurunkan tekanan

darah secara signifikan terutama bagi mereka yang menderita

diabetes.
10) Suplai kalsium
38

Meskipun hanya menurunkan sedikit tekanan darah tetapi

kalsium juga cukup membantu mengendalikan tekanan darah.


b. Pola hidup sehat
Menurut Susilo dan Wulandari (2011), yang di kutip oleh

Samsuryanti menjelaskan behwa untuk mengendalikan dan mencegah

hipertensi, selain pola makan sehat dilakukan bersamaan pola hidup

sehat. Ini sangat penting karena pola hidup sehat akan membual sehat

secara keseluruhan, termasuk terhindar dari penyakit hipertensi.

Adapun cara hidup sehat sebagai berikut :


1) Melakukan olahraga secara teratur bisa menurunkan tekanan darah

tinggi, seperti : berjalan kaki, bersepeda, jalan santai dan berenang

lakukan selama 30 hingga 45 menit sehari sebanyak 3 kali dalam 2

minggu.
2) Jalankan terapi anti stress agar mengurangi stress dan mampu

mengendalikan emosi secara setabil.


3) Berhenti merokok untuk mengurangi hipertensi
4) Mendekatkan diri kepada tuhan, sehingga setiap ada persoalan

tidak langsung emosi.