Anda di halaman 1dari 36

Jenis-jenis Media Komunikasi

Jenis-jenis media komunikasi ada bermacam-macam, antara lain


berupa bahasa, tulisan, isyarat, alat peraga atau alat elektronik. Media
komunikasi merupakan unsur yang sangat penting dalam proses
komunikasi. Dengan menggunakan media komunikasi maka aliran
informasi, berita atau pesan dapat dikirim atau diterima dengan
mudah dan cepat. Berdasarkan cara penggunaannya terdapat tiga
jenis media komunikasi, yaitu: media komunikasi audial, media
komunikasi visual, dan media komunikasi audio-visual.

Ketiga jenis media komunikasi tersebut dapat dijelaskan sebagai


berikut:

Media Komunikasi Audial

Yaitu alat komunikasi yang dapat ditangkap, didengar dan dipahami


oleh alat pendengaran. Misalnya telepon, intercom, radio serta tape
recorder.

Media Komunikasi Visual

Yaitu alat komunikasi yang dapat ditangkap, dilihat dan dipahami oleh
alat penglihatan. Misalnya surat, surat kabar, faksimili, majalah, buku,
beletin dan sejenisnya.

Media Komunikasi Audio-Visual

Yaitu alat komunikasi yang dapat ditangkap, dilihat, didengan dan


dipahami melalui alat pendengaran dan penglihatan. Misalnya televisi,
film layarlebar, VCD, internet dan sejenisnya.

Berbagai media komunikasi tersebut berfungsi sebagai alat untuk:

1. Mengirimkan/menyampaikan informasi

2. Penerjemah lambing-lambang komunikasi

3. Mempercepat dan mempersingkat penyampaian informasi

4. Menghibur (to intertaint), dan mendidik (to educate)


5. Mempengaruhi masyarakat (to change the society)

A. Pengertian Media

Pengertian Media - Dalam kehidupan bermasyarakat terdapat ciri utama yakni adanya
hubungan diantara anggotanya. Hubungan itu berlangsung sedemikian rupa, sehingga terjadi
proses saling mempengaruhi. Dengan kata lain antara anggota kelompok terdapat hubungan yang
disebut komunikasi interaksi. Melalui berbagai bentuk komunikasi maka kelompok-kelompok
masyarakat melakukan banyak kegiatan atau tingkah laku sosial sehingga tercapai tujuan-tujuan
bersama.

Bentuk komunikasi itu berlaku di dalam semua bentuk hubungan sosial, baik di sekolah maupun
di dalam pergaulan masyarakat yang lebih luas dan di dalam bentuk-bentuk masyarakat dengan
struktur dan fungsinya masing-masing. Di sekolah berlangsung hubungan komunikasi interaksi
antara para siswa dan guru.

Untuk mencapai maksud dan tujuannya, bentuk-bentuk organisasi masyarakat itu, perlu
peningkatan efisiensi dan efektivitasnya. Peningkatan efisiensi dan efektivitas tersebut sebagian
bergantung kepada faktor penunjang, yakni sarana dan prasarana. Dengan perkataan lain,
hubungan komunikasi interaksi itu akan berjalan dengan lancar dan mendapat hasil yang
maksimal. Apabila organisasi itu berjalan dan menggunakan alat bantu, alat bantu itulah yang
disebut dengan media.

Bertitik tolak dar alat bantu (media) itu dapat dipahami bahwa, media dalam hubungannya
dengan komunikasi interaksi suatu organisasi sangat menentukan. Namun yang masih perlu
kejelasan adalah, apa yang dimaksud dengan media.

Media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara
harfiah berarti perantara atau pengantar. Jadi dapat dipahami bahwa media adalah perantara atau
pengantar dari pengirim ke penerima pesan.

Selanjutnya akan diuraikan pengertian media menurut istilah. Para ahli di dalam memberikan
batasan media berbeda-beda pendapat, tetapi arah dan tujuannya sama, yang tidak lepas dari kata
medium.

Menurut Santoso S. Hamidjojo dalam Amir Achsin (1980), media adalah semua bentuk perantara
yang dipakai orang menyebar ide, sehingga ide atau gagasan itu sampai pada penerima.

Sedangkan Assosiasi Teknologi dan Komunikasi (Association of Education and Communication


Technology/ AECT) di Amerika memberi batasan yaitu: Media sebagai segala bentuk dan
saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan/ informasi. Gagne (1970) menyatakan
bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang
untuk belajar. Sementara Bringgs (1970) berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang
dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar buku, film, kaset adalah contoh-
contohnya.

Selanjutnya Mc. Luhan dalam Arif S. Sadiman (1984) berpendapat bahwa media adalah sarana
yang juga disebut channel, karena pada hakekatnya media memperluas atau memperpanjang
kemampuan manusia untuk merasakan, mendengarkan, dan melihat dalam batas-batas jarak,
ruang, dan waktu yang hampir tak terbatas lagi.

Dalam kaitannya dengan komunikasi interaksi dalam bentuk organisasi Dr. Oemar Hamalik
(1994) berpendapat bahwa media komunikasi adalah suatu media atau alat bantu yang digunakan
oleh suatu organisasi untuk mencapai efisiensi dan efektivitas kerja dengan hasil yang maksimal.

Dalam dunia pendidikan kita mengenal peragaan atau keperagaan. Ada yang lebih senang
menggunakan istilah peragaan. Tetapi ada pula yang senang yang menggunakan istilah
komunikasi peragaan. Dewasa ini telah mulai dipopulerkan istilah baru yakni Media
pendidikan.

Beragamnya istilah tersebut, yang mempunyai tekanan sendiri-sendiri, maka akan lebih baik di
salah satu diantaranya yaitu Media pendidikan. Media pendidikan sebagai alat bantu memiliki
ciri-ciri:
1. Media pendidikan identik artinya dengan pengertiankeparagaan yang berasal dari kata
raga, suatu benda yang dapat diraba, dilihat, didengar, dan dapat diamati.
2. Tekanan utama terdapat pada benda atau hal-hal yang bisa dilihat dan didengar.
3. Media pendidikan digunakan dalam rangka hubungan (komunikasi) dalam pengajaran,
antara guru dengan siswa.
4. Media pendidikan sebagai alat bantu belajar mengajar, baik diluar kelas.
5. Berdasarkan (3) dan (4), maka pada dasarnya media pendidikan merupakan suatu
perantara (medium, media) dan digunakan dalam rangka pendidikan.
6. Media pendidikan mengandung aspek; sebagai alat dan sebagai teknik, yang sangat erat
pertaliannya dengan metode mengajar.
7. Karena itu, sebagai tindakan operasional, dalam tulisan ini kita menggunakan pengertian
media pendidikan

Berdasarkan dari ciri-ciri umum media pendidikan tersebut, Dr. Oemar Hamlik (1994) memberi
batasan media pendidikan adalah alat, metode dan teknik digunakan dalam rangka mengaktifkan
komunikasi dan interaksi antar guru dan siswa dalam prose pendidikan dan pengajaran
disekolah.

Dari pengertian media serta batasan-batasan yang dikemukakan oleh para ahli di atas, terdapat
beberapa persamaan diantaranya, bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan
untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke sehingga dapat merangsang fikiran, perasaan,
perhatian dan minat perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.

B. Media Gambar

Berikut ini akan dipaparkan beberapa uraian berkaitan dengan pemahaman terhadap media
gambar yang merupakan salah satu fokus dalam penelitian. Dewasa ini gambar fotografi secara
luas dapat diperoleh dari berbagai sumber, misanya dari surat-surat kabar, majalah-majalah,
brosur-brosur dan buku-buku. Gambar, lukisan, kartun, ilustrasi dan foto yang diperoleh dari
berbagai sumber tersebut dapat dipergunakan oleh guru secara efektif dalam kegiatan belajar
mengajar.

Gambar pada dasarnya membantu mendorong para siswa dan dapat membangkitkan minatnya
pada pelajaran. Membantu mereka dalam kemampuan berbahasa, kegiatan seni, dan pernyataan
kreatif dalam bercerita, dramatisasi, bacaan, penulisan, melukis dan menggambar serta
membantu mereka menafsirkan dan mengingat-ingat isi materi bacaan dari buku teks (Arif S.
Sadiman, 1984).

Gambar fotografi merupakan salah satu media pengajaran yang amat dikenal di dalam setiap
kegiatan pengajaran hal ini disebabkan kesederhanaannya, tanpa memerlukan perlengkapan dan
tidak diproyeksikan untuk mengamatinya. Media gambar termasuk kepda gambar tetap atau still
picture yang terdiri dari dua kelompok, yaitu: pertama flat opaque picture atau gambar datar
tidak tembus pandang, misalnya gambar fotografi, gambar dan lukisan cetak. Kedua adalah
transparent picture atau gambar tembus pandang, misalnya film slides, film strips dan
transparancies.

Namun yang termasuk media gambar, penulis maksudkan dalam pembahasan skripsi ini yang
terdapat pada kelompok pertama yakni Flat opeque picture, karena gambar datar tidak tembus
pandang ini mudah pengadaannya serta biasanya relatif murah. Jadi media gambar adalah media
yang dipergunakan untuk memvisualisasikan atau menyalurkan pesan dari sumber ke penerima
(siswa). Pesan yang akan disampaikan dituangkan ke dalam komunikasi visual, di samping itu
media gambar berfungsi pula untuk menarik perhatian, memperjelas sajian ide, mengilustrasikan
atau menghiasi fakta yang mungkin akan cepat dilupakan atau diabaikan bila tidak digrafiskan.

C. Pemanfaatan Media Gambar Data Proses Belajar Mengajar

Di antara media pendidikan, gambar/ foto adalah media paling umum dipakai. Dia merupakan
bahasa yang umum, yang dapat dimengerti dan dinikmati di mana-mana. Oleh karena itu ada
pepatah Cina mengatakan bahwa sebuah gambar berbicara lebih banyak dari pada seribu kata.

Gambar ilustrasi fotografi adalah gambar yang tidak dapat diproyeksikan, dapat dipergunakan,
baik dalam lingkungan anak-anak maupun dalam lingkungan orang dewasa. Gambar yang
berwarna umumnya menarik perhatian. Semua gambar mempunyai arti, uraian dan tafsiran
sendiri. Karena itu gambar dapat dipergunakan sebagai media pendidikan dan mempunyai nilai-
nilai pendidikan bagi peserta didik yang memungkinkan belajar secara efisien peserta didik yang
berkaitan dengan pemanfaatan media gambar dalam data PBM beberapa ahli membekas rambu
yang perlu diperhatikan yaitu :
1. Prinsip-prinsip pemakaian media gambar.

Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan antara lain:


Pergunakanlah gambar untuk tujuan-tujuan pengajaran yang spesifik, yaitu dengan cara
memilih gambar tertentu yang akan mendukung penjelasan inti pelajaran atau pokok-
pokok pelajaran. Tujuan khusus itulah yang mengarahkan minat siswa kepada pokok-
pokok pelajaran. Bilamana tujuan instruksional yang ingin dicapainya adalah kemampuan
siswa membandingkan kelompok hewan bertulang belakang dengan tidak, maka gambar-
gambarnya harus memperhatikan perbedaan yang mencolok.
Padukan gambar-gambar kepada pelajaran, sebab keefektivan pemakaian gambar-gambar
di dalam proses belajar mengajar memerlukan keterpaduan. Bilamana gambar-gambar itu
akan dipakai semuanya, perlu dipikirkan kemungkinan dalam kaitan pokok-pokok
pelajaran. Pameran gambar di papan pengumuman pada umumnya mempunyai nilai
kesan sama seperti di dalam ruang kelas. Gambar-gambar yang ril sangat berfaedah untuk
suatu mata pelajaran, karena maknanya akan membantu pemahaman para siswa dan cara
itu akan ditiru untuk hal-hal yang sama dikemudian hari.
Pergunakanlah gambar-gambar itu sedikit saja, daripada menggunakan banyak gambar
tetapi tidak efektif. Hematlah penggunaan gambar yang mendukung makna. Jumlah
gambar yang sedikit tetapi selektif, lebih baik daripada dua kali mempertunjukkan
gambar yang serabutan tanpa pilih-pilih. Banyaknya ilustrasi gambar-gambr secara
berlebihan, akan mengakibatkan para siswa merasa dirongrong oleh sekelompok gambar
yang mengikat mereka, akan tetapi tidak menghasilkan kesan atau inpresi visual yang
jelas, jadi yang terpenting adalah pemusatan Perhatian pada gagasan utama. Sekali
gagasan dibentuk dengan baik, ilustrasi tambahan bisa berfaedah memperbesar konsep-
konsep permulaan. Penyajian gambar hendaknya dilakukan secara bertahap, dimulai
dengan memperagakan konsep-konsep pokok artinya apa yang terpenting dari pelajaran
itu. Lalu diperhatikan gambar yang menyertainya, lingkungannya, dan lain-lain berturut-
turut secara lengkap.
Kurangilah penambahan kata-kata pada gambar oleh karena gambar-gambar itu sangat
penting dalam mengembangkan kata-kata atau cerita, atau dalam menyajikan gagasan
baru. Misalnya dalam mata pelajaran biologi. Para siswa mengamati gambar-gambar
candi gaya Jawa Tengah dan Jawa Timur menjelaskan bahwa mengapa bentuk tidak
sama, apa ciri-ciri membedakan satu sama lain. Guru bisa saja tidak bisa mudah dipahami
oleh para siswa yang bertempat tinggal di lingkungan hutan tropis asing. Demikian pula
istilah supermarket terdengar asing bagi siswa-siswa yang hidup si kampung. Melalui
gambar itulah mereka akan memperoleh kejelasan tentang istilah Verbal
Mendorong pernyataan yang kreatif, melalui gambar-gambar para siswa akan didorong
untuk mengembangkan keterampilan berbahasa lisan dan tulisan, seni grafis dan bentuk-
bentuk kegiatan lainnya. Keterampilan jenis keterbacaan visual dalam hal ini sangat
diperlukan bagi para siswa dalam membaca gambar-gambar itu.
Mengevaluasi kemajuan kelas, bisa juga dengan memanfaatkan gambar baik secara
umum maupun secara khusus. Jadi guru bisa mempergunakan gambar datar, slides atau
transparan untuk melakukan evaluasi belajar bagi para siswa. Pemakaian instrumen tes
secara bervariasi akan sangat baik dilakukan guru, dalam upaya memperoleh hasil tes
yang komprehensip serta menyeluruh.

2. Memilih gambar yang baik dalam pengajaran

Dalam pemilihan gambar yang baik untuk kegiatan pengajaran terdapat beberapa kriteria yang
perlu diperhatikan antara lain:
Keaslian gambar. Gambar menunjukkan situasi yang sebenarnya, seperti melihat keadaan
atau benda yang sesungguhnya. Kekeliruan dalam hal ini akan memberikan pengaruh
yang tak diharapkan gambar yang palsu dikatakan asli.
Kesederhanaan. Gambar itu sederhana dalam warna, menimbulkan kesan tertentu,
mempunyai nilai estetis secara murni dan mengandung nilai praktis. Jangan sampai
peserta didik menjadi bingung dan tidak tertarik pada gambar.
Bentuk item. Hendaknya sipengamat dapat memperoleh tanggapan yang tetap tentang
obyek-obyek dalam gambar.
Perbuatan. Gambar hendaknya hal sedang melakukan perbuatan. Siswa akan lebih
tertarik dan akan lebih memahami gambar-gambar yang sedang bergerak.
Fotografi. Siswa dapat lebih tertarik kepada gambar yang nilai fotografinya rendah, yang
dikerjakan secara tidak profesional seperti terlalu terang atau gelap. Gambar yang bagus
belum tentu menarik dan efektif bagi pengajaran.
Artistik. Segi artistik pada umumnya dapat mempengaruhi nilai gambar. Penggunaan
gambar tentu saja disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai

Kriteria-kriteria memilih gambar seperti yang telah dikemukakan di atas juga berfungsi untuk
menilai apakah suatu gambar efektif atau tidak untuk digunakan dalam pengajaran. Gambar yang
tidak memenuhi kriteria tidak dapat digunakan sebagai media dalam mengajar.

3. Menggunakan gambar dalam kelas

Penggunaan gambar secara efektif disesuaikan dengan tingkatan anak, baik dalam hal besarnya
gambar, detai, warna dan latar belakang untuk penafsiran. Dijadikan alat untuk pengalaman
kreatif, memperkaya fakta, dan memperbaiki kekurang jelasan. Akan tetapi gambar juga menjadi
tidak efektif, apabila terlalu sering digunakan dalam waktu yang tidak lama. Gambar sebaiknya
disusun menurut urutan tertentu dan dihubungkan dengan masalah yang luas.

Gambar dapat digunakan untuk suatu tujuan tertentu seperti pengajaran yang dapat memberikan
pengalaman dasar. Mempelajari gambar sendiri dalam kegiatan pengajaran dapat dilakukan cara,
menulis pertanyaan tentang gambar, menulis cerita, mencari gambar-gambar yang sama, dan
menggunakan gambar untuk mendemonstrasikan suatu obyek.
Pengajaran dalam kelas dengan gambar sedapat mungkin penyajiannya efektif. Gambar-gambar
yang digunakan merupakan gambar yang terpilih, besar, dapat dilihat oleh semua peserta didik,
bisa ditempel, digantung atau diproyeksikan. Display gambar-gambar dapat ditempel pada papan
buletin, menjadikan ruangan menarik, memotivasi siswa, meningkatkan minat, perhatian, dan
menambah pengetahuan siswa.

4. Mengajar siswa membaca gambar

Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengajar siswa membaca gambar:
Warna. Siswa sangat tertarik pada gambar-gambar berwarna. Umumnya pada mulanya
mereka mengamati warna sebelum mereka mengetahui nama warna, barulah ia tafsirkan.
Pada umumnya mereka memilikji kriteria tersendiri tentang kombinasi warna-warna.
Melatih menanggapi, membedakan, dan menafsirkan warna perlu dilakukan guru
terhadap para siswa.
Ukuran. Dapat dibandingkan mana yang lebih besar antara seekor ayam dengan seekor
sapi, mana yang lebih tinggi antara seorang manusia dengan gereja, dan sebagainya.
Jarak. Maksudnya agar anak dapat mengira-ngira jarak antara suatu obyek dengan obyek
lainnya dalam suatu gambar, misalnya jarak antara puncak gunung latar belakangnya.
Sesuatu gambar dapat menunjukkan suatu gerakan. Mobil yang sedang diparkir yang
nampak dalam sebuah gambar, dalam gambar terdapat sebuah simbol-simbol gerakan.
Temperatur. Bermaksud anak memperoleh kesan apakah di dalam gambar temperaturnya
dingin atau panas. Bandingkan gambar yang menunjukkan musim salju dan gambar
orang-orang yang berada dalam keadaan membuka pakaian. Maka dapat dibedakan
temperatur rendah dan keadaan panas.

Beberapa kelebihan yang lain dari media gambar adalah :


Sifatnya konkrit. Gambar/ foto lebih realistis menunjukkan pokok masalah dibanding
dengan media verbal semata.
Gambar dapat mengatasai masalah batasan ruang dan waktu. Tidak semua benda, objek
atau peristiwa dapat dibawa ke kelas, dan tidak selalu bisa, anak-anak dibawa ke objek
tersebut. Untuk itu gambar atau foto dapat mengatasinya. Air terjun niagara atau danau
toba dapat disajikan ke kelas lewat gambar atau foto. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di
masa lampau, kemarin atau bahkan menit yang lalu kadang-kadang tak dapat dilihat
seperti apa adanya. Gambar atau foto sangat bermanfaat dalam hal ini.

Media gambar dapat mengatasi keterbatasan pengamatan kita. Sel atau penampang daun
yang tak mungkin kita lihat dengan mata telanjang dapat disajikan dengan jelas dalam
bentuk gambar.
Dapat memperjelas suatu masalah, dalam bidang apa saja dan untuk tingkat usia beberapa
saja, sehingga dapat mencegah atau membetulkan kesalah pahaman.
Murah harganya, mudah didapat, mudah digunakan, tanpa memerlukan peralatan yang
khusus.

Selain kelebihan-kelebihan tersebut gambar atau foto mempunyai beberapa kelemahan yaitu :
Gambar atau foto hanya menekankan presepsi indra mata.
Gambar atau foto benda yang terlalu kompleks kurang efektif untuk kegiatan
pembelajaran.
Ukuran sangat terbatas untuk kelompok besar.

Klasifikasi Media Pembelajaran Dalam Pendidikan

Media pembelajaran merupakan komponen instruksional yang meliputi pesan, orang, dan
peralatan. Dengan masuknya berbagai pengaruh ke dalam dunia pendidikan (misalnya
teori/konsep baru dan teknologi), media pendidikan (pembelajaran) terus mengalami
perkembangan dan tampil dalam berbagai jenis dan format, dengan masing-masing ciri dan
kemampuannya sendiri. Dari sinilah kemudian timbul usaha-usaha untuk melakukan klasifikasi
atau pengelompokan media, yang mengarah kepada pembuatan taksonomi media
pendidikan/pembelajaran.

Usaha-usaha ke arah taksonomi media tersebut telah dilakukan oleh beberapa ahli. Rudy Bretz,
mengklasifikasikan media berdasarkan unsur pokoknya yaitu suara, visual (berupa gambar, garis,
dan simbol), dan gerak. Di samping itu juga, Bretz membedakan antara media
siar (telecommunication) dan media rekam(recording). Dengan demikian, media menurut
taksonomi Bretz dikelompokkan menjadi 8 kategori:

1) media audio visual gerak,

2) media audio visual diam,

3) media audio semi gerak,

4) media visual gerak,

5) media visual diam,

6) media semi gerak,

7) media audio, dan

8) media cetak.
Pengelompokan menurut tingkat kerumitan perangkat media, khususnya media audio-visual,
dilakukan oleh C.J Duncan, dengan menyusun suatu hirarki. Dari hirarki yang digambarkan oleh
Duncan dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa semakin tinggi tingkat hirarki suatu media,
semakin rendah satuan biayanya dan semakin khusus sifat penggunaannya. Namun demikian,
kemudahan dan keluwesan penggunaannya semakin bertambah. Begitu juga sebaliknya, jika
suatu media berada pada hirarki paling rendah. Schramm (dalam Sadiman, dkk., 1986) juga
melakukan pengelompokan media berdasarkan tingkat kerumitan dan besarnya biaya. Dalam hal
ini, menurut Schramm ada dua kelompok media yaitu big media (rumit dan mahal) dan little
media (sederhana dan murah). Lebih jauh lagi ahli ini menyebutkan ada media massal, media
kelompok, dan media individu, yang didasarkan atas daya liput media.

Beberapa ahli yang lain seperti Gagne, Briggs, Edling, dan Allen, membuat taksonomi media
dengan pertimbangan yang lebih berfokus pada proses dan interaksi dalam belajar, ketimbang
sifat medianya sendiri. Gagne misalnya, mengelompokkan media berdasarkan tingkatan hirarki
belajar yang dikembangkannya. Menurutnya, ada 7 macam kelompok media seperti: benda untuk
didemonstrasikan, komunikasi lisan, media cetak, gambar diam, gambar gerak, film bersuara,
dan mesin belajar. Briggs mengklasifikasikan media menjadi 13 jenis berdasarkan kesesuaian
rangsangan yang ditimbulkan media dengan karakteristik siswa. Ketiga belas jenis media
tersebut adalah: objek/benda nyata, model, suara langsung, rekaman audio, media cetak,
pembelajaran terprogram, papan tulis, media transparansi, film bingkai, film (16 mm), film
rangkai, televisi, dan gambar (grafis).

Sejalan dengan perkembangan teknologi, maka media pembelajaran pun mengalami


perkembangan melalui pemanfaatan teknologi itu sendiri. Berdasarkan perkembangan teknologi
tersebut, Arsyad (2002) mengklasifikasikan media atas empat kelompok:

1) media hasil teknologi cetak,

2) media hasil teknologi audio-visual,

3) media hasil teknologi berbasis komputer, dan

4) media hasil gabungan teknologi cetak dan komputer.

Seels dan Glasgow (dalam Arsyad, 2002) membagi media ke dalam dua kelompok besar, yaitu:
media tradisional dan media teknologi mutakhir. Pilihan media tradisional berupa media visual
diam tak diproyeksikan dan yang diproyeksikan, audio, penyajian multimedia, visual dinamis
yang diproyeksikan, media cetak, permainan, dan media realita. Sedangkan pilihan media
teknologi mutakhir berupa media berbasis telekomunikasi (misal teleconference) dan media
berbasis mikroprosesor (misal: permainan komputer dan hypermedia).

Dari beberapa pengelompokkan media yang dikemukakan di atas, tampaknya bahwa hingga saat
ini belum terdapat suatu kesepakatan tentang klasifikasi (sistem taksonomi) media yang baku.
Dengan kata lain, belum ada taksonomi media yang berlaku umum dan mencakup segala
aspeknya, terutama untuk suatu sistem instruksional (pembelajaran). Atau memang tidak akan
pernah ada suatu sistem klasifikasi atau pengelompokan yang sahih dan berlaku umum.
Meskipun demikian, apapun dan bagaimanapun cara yang ditempuh dalam mengklasifikasikan
media, semuanya itu memberikan informasi tentang spesifikasi media yang sangat perlu kita
ketahui. Pengelompokan media yang sudah ada pada saat ini dapat memperjelas perbedaan
tujuan penggunaan, fungsi dan kemampuannya, sehingga bisa dijadikan pedoman dalam memilih
media yang sesuai untuk suatu pembelajaran tertentu.

Electronic learning / E-Learning Website E-Learning untuk sekolah sekarang ini memang
sudah suatu kebutuhan yang sangat mendesak dikarenakan perkembangan dunia internet yang
semakin hari semakin meningkat, Dengan adanya website sekolah yang menggunakan fasilitas
yang lengkap, diantaranya user siswa/i yang didalamnya menyediakan pembelajaran online.

Website e-learning mempermudah siswa/i dalam pembelajaran.Pembelajaran E-learning


mempermudah interaksi antara siswa/i dengan bahan/materi, siswa/i dengan guru maupun
sesama siswa/i. Siswa/i dapat saling berbagi informasi dan dapat mengakses bahan-bahan belajar
setiap saat dan berulang-ulang, dengan kondisi yang demikian itu siswa/i dapat lebih
memantapkan penguasaannya terhadap materi pelajaran

web sekolah E-Learning memang sangat membantu untuk sekolah sekolah karena siswa/i bisa
belajar tanpa terbatas dengan ruang dan waktu dalam artian dirumah pun siswa masih bisa
mendalami materi materi yang di update kedalam website sekolah, disamping materi siswa pun
bisa belajar mengerjakan soal di website e-learning sekolah itu.

Dari keterangan singkat diatas mungkin sekolah ada yang berminat untuk membuat web sekolah
E-Learning.....?
Pentingnya TI Dalam Pendidikan

Diposkan oleh ARJUNA BAHAGIA Jumat, 13 Januari 2012

Teknologi informasi serta Komunikasi dewasa ini berkembang cepat menurut deret ukur. Dari
tahun ke bulan, dari bulan ke minggu, dari minggu ke hari, dari hari ke jam, dan dari jam ke
detik! Oleh karena itulah para cerdik-cendekia sepakat pada suatu argumen, bahwa: informasi
memudahkan kehidupan manusia tanpa harus kehilangan kehumanisannya.

Manusia tidak bisa lepas dari pendidikan yang sebenarnya juga merupakan kegiatan informasi,
bahkan dengan pendidikanlah informasi ilmu pengetahuan dan teknologi dapat disebarluaskan
kepada generasi penerus suatu bangsa.

Pengaruh dari Teknologi informasi dan komunikasi terhadap dunia pendidikan khususnya dalam
proses pembelajaran. Menurut Rosenberg (2001), dengan berkembangnya penggunaan Teknologi
informasi dan komunikasi ada lima pergeseran di dalam proses pembelajaran yaitu:

Pergeseran dari pelatihan ke penampilan,


Pergeseran dari ruang kelas ke di mana dankapan saja,

Pergeseran dari kertas ke on line atau saluran,

Pergeseran fasilitasfisik ke fasilitas jaringan kerja,

Pergeseran dari waktu siklus ke waktu nyata.

Sebagai media pendidikan komunikasi dilakukan dengan menggunakan media-media


komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dsb. Interaksi antara guru dan siswa tidak
hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan
media-media tersebut.

Dengan adanya teknologi informasi sekarang ini guru dapat memberikan layanan
tanpa harus berhadapan langsung dengan siswa. Demikian pula siswa dapat
memperoleh informasi dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber melalui cyber
space atau ruang maya dengan menggunakan komputer atau internet. Hal yang
paling mutakhir adalah berkembangnya apa yang disebut cyber teaching atau
pengajaran maya, yaitu proses pengajaran yang dilakukan dengan menggunakan
internet. Istilah lain yang makin poluper saat ini ialah e-learning yaitu satu model
pembelajaran dengan menggunakan media teknologi komunikasi dan informasi khususnya
internet.

E-learning merupakan satu penggunaan teknologi internet dalam penyampaian pembelajaran


dalam jangkauan luas yang belandaskan tiga kriteria yaitu:

E-learning merupakan jaringan dengan kemampuan untuk memperbaharui, menyimpan,


mendistribusi dan membagi materi ajar atau informasi,

Pengiriman sampai ke pengguna terakhir melalui komputer dengan menggunakan teknologi


internet yang standar,

Memfokuskan pada pandangan yang paling luas tentang pembelajaran di balik paradigma
pembelajaran tradisional. (Rosenberg 2001; 28)

Pada saat ini e-learning telah berkembang dalam berbagai model pembelajaran yang berbasis
TIK seperti: CBT (Computer Based Training), CBI (Computer Based Instruction), Distance
Learning, Distance Education, CLE (Cybernetic Learning Environment), Desktop
Videoconferencing, ILS (Integrated Learning Syatem), LCC (Learner-Cemterted Classroom),
Teleconferencing, WBT (Web-Based Training), dsb.
Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pendidikan
23 Desember 2011 Komputer, Pengetahuan 4 Comments

komunikasi, pendidikan, teknologi informasi

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah memberikan pengaruh


terhadap dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran.

Komunikasi sebagai media pendidikan dilakukan dengan menggunakan media-media


komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dsb. Interaksi antara guru dan siswa tidak
hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan
media-media tersebut. Guru dapat memberikan layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan
siswa. Demikian pula siswa dapat memperoleh informasi dalam lingkup yang luas dari berbagai
sumber melalui cyber space atau ruang maya dengan menggunakan komputer atau internet.

Hal yang paling mutakhir adalah berkembangnya apa yang disebut cyber teaching atau
pengajaran maya, yaitu proses pengajaran yang dilakukan dengan menggunakan internet. Istilah
lain yang makin poluper saat ini ialah e-learning yaitu satu model pembelajaran dengan
menggunakan media teknologi komunikasi dan informasi khususnya internet.

Menurut Rosenberg (2001; 28), e-learning merupakan satu penggunaan teknologi internet dalam
penyampaian pembelajaran dalam jangkauan luas yang belandaskan tiga kriteria yaitu: (1) e-
learning merupakan jaringan dengan kemampuan untuk memperbaharui, menyimpan,
mendistribusi dan membagi materi ajar atau informasi, (2) pengiriman sampai ke pengguna
terakhir melalui komputer dengan menggunakan teknologi internet yang standar, (3)
memfokuskan pada pandangan yang paling luas tentang pembelajaran di balik paradigma
pembelajaran tradisional.
Internet: Hasil Perkembangan Teknologi Informasi

Saat ini e-learning telah berkembang dalam berbagai model pembelajaran yang berbasis TIK
seperti: CBT (Computer Based Training), CBI (Computer Based Instruction), Distance
Learning, Distance Education, CLE (Cybernetic Learning Environment), Desktop
Videoconferencing, ILS (Integrated Learning Syatem), LCC (Learner-Cemterted Classroom),
Teleconferencing, WBT (Web-Based Training), dsb.

Satu bentuk produk TIK adalah internet yang berkembang pesat di penghujung abad 20 dan di
ambang abad 21. Kehadirannya telah memberikan dampak yang cukup besar terhadap kehidupan
umat manusia dalam berbagai aspek dan dimensi. Internet merupakan salah satu instrumen
dalam era globalisasi yang telah menjadikan dunia ini menjadi transparan dan terhubungkan
dengan sangat mudah dan cepat tanpa mengenal batas-batas kewilayahan atau kebangsaan.

Melalui internet setiap orang dapat mengakses ke dunia global untuk memperoleh informasi
dalam berbagai bidang dan pada glirannya akan memberikan pengaruh dalam keseluruhan
perilakunya. Dalam kurun waktu yang amat cepat beberapa dasawarsa terakhir telah terjadi
revolusi internet di berbagai negara serta penggunaannya dalam berbagai bidang kehidupan.
Keberadaan internet pada masa kini sudah menjadi kebutuhan sekunder, dengan pesatnya
perkembangan jejaring sosial
BAB II
PEMBAHASAN

A. Televisi
1
Pada tahun 1873 seorang operator telegram menemukan bahwa cahaya
mempengaruhi resistansi elektris selenium. Ia menyadari itu bisa digunakan
untuk mengubah cahaya kedalam arus listrik dengan menggunakan fotosel
silenium (selenium photocell). Kemudian piringan metal kecil berputar
dengan lubang-lubang didalamnya ditemukan oleh seorang mahasiswa yang
bernama Paul Nipkow di Berlin, Jerman pada tahun 1884 dan disebut sebagai
cikal bakal lahirnya televisi. Sekitar tahun 1920 John Logie Baird dan Charles
Francis Jenkins menggunakan piringan karya Paul Nipkow untuk menciptakan
suatu sistem dalam penangkapan gambar, transmisi, serta penerimaannya.
Mereka membuat seluruh sistem televisi ini berdasarkan sistem gerakan
mekanik, baik dalam penyiaran maupun penerimaannya. Pada waktu itu
belum ditemukan komponen listrik tabung hampa (Cathode Ray Tube).
Televisi elektronik agak tersendat perkembangannya pada tahun-tahun
itu, lebih banyak disebabkan karena televisi mekanik lebih murah dan tahan
banting. Bukan itu saja, tetapi juga sangat susah untuk mendapatkan
dukungan finansial bagi riset TV elektronik ketika TV mekanik dianggap
sudah mampu bekerja dengan sangat baiknya pada masa itu. Sampai
akhirnya Vladimir Kosmo Zworykin dan Philo T. Farnsworth berhasil dengan
TV elektroniknya.

Dengan biaya yang murah dan hasil yang berjalan baik, orang-orang mulai
melihat kemungkinan untuk Vladimir Zworykin, yang merupakan salah satu
dari beberapa pakar pada masa itu, mendapat bantuan dari David Sarnoff,
Senior Vice President dari RCA (Radio Corporation of America). Sarnoff sudah
banyak mencurahkan perhatian pada perkembangan TV mekanik, dan
meramalkan TV elektronik akan mempunyai masa depan komersial yang
lebih baik. Selain itu, Philo Farnsworth juga berhasil mendapatkan sponsor
untuk mendukung idenya dan ikut berkompetisi dengan Vladimir.

Runtutan diatas dan seterusnya sampai sekarang, maka ditemukanlah


sebuah alat yang dinamakan televisi. Televisi itu pun dalam
perkembangannya tidak langsung seperti sekarang ini. Dahulu hasil dari
televisi itu masih hitam-putih, sampai akhirnya sekarang muncullah model-
model baru dalam televisi, mulai dari yang berwarna, digital, dll.
2. Manfaat Televisi bagi Dunia Pendidikan
Televisi selain sebagai media hiburan dan informasi juga dapat digunakan
sebagai media pendidikan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Darwanto
dalam buku ini. Hal ini dikarenakan, televisi mempunyai karakteristik
tersendiri yang tidak bisa dimiliki oleh media massa lainnya. Karakteristik
audio visual yang lebih dirasakan perannya dalam mempengaruhi khalayak,
sehingga dapat dimanfaatkan oleh negara dalam menyukseskan
pembangunan dalam bidang pendidikan melalui program televisi sebagai
sarana pendukung.
Televisi memang tidak dapat difungsikan mempunyai manfaat dan unsur
positif yang berguna bagi pemirsanya, baik manfaat yang bersifat kognitif,
afektif maupun psikomotor. Namun tergantung pada acara yang ditayangkan
televisi. Manfaat yang bersifat kognitif adalah yang berkaitan dengan ilmu
pengetahuan atau informasi dan keterampilan. Acara-acara yang bersifat
kognitif di antaranya berita, dialog, wawancara dan sebagainya. Manfaat
yang kedua adalah manfaat afektif, yakni yang berkaitan dengan sikap dan
emosi. Acara-acara yang biasanya memunculkan manfaat afektif ini adalah
acara-acara yang mendorong pada pemirsa agar memiliki kepekaan sosial,
kepedulian sesama manusia dan sebagainya. Adapun manfaat yang ketiga
adalah manfaat yang bersifat psikomotor, yaitu berkaitan dengan tindakan
dan perilaku yang positif. Acara ini dapat kita lihat dari film, sinetron, drama
dan acara-acara yang lainnya dengan syarat semuanya itu tidak
bertentangan dengan norma-norma yang ada di Indonesia ataupun merusak
akhlak pada anak.
B. Radio
1. Karakteristik Radio
Radio memiliki karakteristik yang tidak dapat dipisahkan dalam
kehidupan manusia, karena memberikan banyak kontribusi yang besar bagi
perkembangan komunikasi massa. Karakteristik radio memberikan manfaat
yang unik, baik ditinjau dari sisi kelebihan maupun kekurangannya. Dengan
memahami kekuatan dan kelemahan radio, penyiar dapat merencanakan
konsep implementasi untuk menghasilkan produksi siaran yang lebih efektif
dan efisien dalam bukunya Media Fark Book-KBP, Pedroche, Toledo & Montila
mengucapkan bahwa karakteristik radio memberikan manfaat yang unik,
diantaranya:

a. Menarik majinasi.
b. Cepat, radio merupakan alat informasi yang efisien dan tanpa banding.
c. Mudah dibawa
d. tidak memerlukan kemampuan membaca/ menulis.
e. tidak memerlukan konsentrasi yang penuh dari pendengarnya
f. Cukup murah
g. mudah digunakan dan pengoperasiannya.
Seperti media yang lainnya radio juga memiliki keterbatasan yakni bahwa
radio hanya sebuah media buta. Sekalipun radio disebut media buta karena
hanya berupa suara, namun suara merupakan sebuah instrumen yang
penting yang perlu dikaji lebih mendalam.
2. Manfaat Radio bagi Pendidikan
Mengapa perlu media dalam pembelajaran? Pertanyaan yang sering
muncul mempertanyakan pentingnya media dalam sebuah pembelajaran.
Kita harus mengetahui dahulu konsep abstrak dan konkrit dalam
pembelajaran, karena proses belajar mengajar hakekatnya adalah proses
komunikasi, penyampaian pesan dari pengantar ke penerima. Pesan berupa
isi/ajaran yang dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi baik verbal
(kata-kata& tulisan) maupun non-verbal, proses ini dinamakan encoding.
Penafsiran simbol-simbol komunikasi tersebut oleh siswa dinamakan
decoding.
Ada kalanya penafsiran berhasil, adakalanya tidak. Kegagalan/
ketidakberhasilan dalam memahami apa yang didengar, dibaca, dilihat atau
diamati. Kegagalan/ ketidakberhasilan atau penghambat dalam proses
komunikasi dikenal dengan istilah barriers atau noise. Semakin banyak
verbalisme semakin abstrak pemahaman yang diterima.radio menjadi media
pendidikan yang berguna bagi semua bentuk pendidikan, karena
memperkaya pengalaman pendidikan dan ide-ide yang kreatif. Dengan
demikian, alat ini memiliki potensi dan kekuatan yang berpengaruh dalam
pendidikan, masalah penggunaannya tergantung bagaimana filsafat
pendidikan yang dianut dan kesadaran atas potensi yang dimaksud tadi.
Nilai Radio bagi Pendidikan diantaranya :
1. Memberikan berita yang ter up-to-date.
2. Menarik Minat.

3. Beritanya Autentik

4. Berdasar pada kenyataan

5. Mempunyai tinjauan yang luas.


6. Memberikan gambaran yang jelas.

7. Mendorong kreatifitas

8. Integrasi dan diskriminasi

Maksudnya radio berpengaruh terhadap pembentukan pribadi seseorang,


menimbulkan sosial adjustment dan ini penting bagi pembentukan seorang
warga Negara yang baik, selain itu juga mendidik siswa untuk dapat
mendiskriminasikan persoalan-persoalan dalam masyarakat, radio
mendorong manusia berfikir rasional dan komparatif.
C. Internet
1. Pengertian Internet
Internet adalah kependekan dari interconected-network. Secara harfiah
mengandung pengertian sebagai jaringan komputer yang menghubungkan
beberapa rangkaian, internet juga didefinisikan sebagai jaringan komputer
yang mampu menghubungkan komputer di seluruh dunia (secara global)
sehingga berbagai jenis dan bentuk informasi dapat dikomunikasikan antar
belahan dunia secara instan dan global.
Selain kedua pengertian di atas, internet juga disebut sebagai
sekumpulan jaringan komputer yang menghubungkan situs akademik,
pemerintahan, komersial, organisasi, maupun perorangan. Internet
menyediakan akses untuk layanan telekomunikasi dari sumber daya
informasi untuk jutaan pemakainya yang tersebar di seluruh dunia. Layanan
internet meliputi komunikasi langsung (e-mail, chat), diskusi (usenet news,
milis, bulletin board), sumber daya informasi yang terdistribusi (World Wide
Web, Ghoper), remote login dan lalu lintas file (Telnet, FTP), serta berbagai
layanan lainnya.
Sejalan dengan perkembangan internet, telah banyak aktivitas yang
dilakukan dengan memanfaatkan jaringan internet, seperti e-Commerce, e-
Banking, e-Government, e-Learning dan lainnya. Salah satu aktivitas yang
berkaitan dengan proses pembelajaran adalah e-Learning. E-Learning adalah
wujud penerapan teknologi informasi di bidang pendidikan dalam bentuk
sekolah maya. E-Learning merupakan usaha untuk membuat sebuah
transformasi proses belajar mengajar di sekolah dalam bentuk digital yang
dijembatani oleh teknologi internet.
2. Manfaat Internet bagi Dunia Pendidikan
Fred S Keller, seorang teknolog pendidikan era tahun 1960-an mengkritik
penerapan metode-metode pembelajaran konvensional yang kurang menarik
perharian peserta didik. Karena menurutnya, peserta didik harus diberi akses
yang lebih luas dalam menentukan apa yang ingin mereka pelajari sesuai
minat, kebutuhan, dan kemampuannya. Dikatakannya pula bahwa guru
bukanlah satu-satunya pemegang otoritas pengetahuan di kelas. Siswa harus
diberi kemandirian untuk belajar dengan memanfaatkan berbagai sumber
belajar.
Kekayaan informasi yang sekarang tersedia di internet telah lebih
mencapai harapan dan bahkan imajinasi para penemu sistemnya. Melalui
internet dapat diakses sumber-sumber informasi tanpa batas dan aktual
dengan sangat cepat. Adanya internet memungkinkan seseorang di
Indonesia untuk mengakses perpustakaan di Amerika Serikat dalam bentuk
Digital Library. Sudah banyak pengalaman tentang kemanfaatan internet
dalam penelitian dan penyelesaian tugas akhir mahasiswa. Tukar menukar
informasi atau tanya jawab dengan pakar dapat juga dilakukan melalui
internet. Tanpa teknologi internet banyak tugas akhir dan tesis atau bahkan
desertasi yang mungkin membutuhkan waktu lebih banyak untuk
menyelesaikannya.
Para akademisi merupakan salah satu pihak yang paling diuntungkan
dengan kemunculan internet. Berbagai referensi, jurnal, maupun hasil
penelitian yang dipublikasikan melalui internet tersedia dalam jumlah yang
berlimpah. Para mahasiswa tidak lagi harus mengaduk-aduk buku di
perpustakaan sebagai bahan untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya.
Cukup memanfaatkan search engine, materi-materi yang dibutuhkan dapat
diperoleh dengan cepat. Selain menghemat tenaga dan biaya dalam
mencarinya, materi-materi yang dapat ditemui di internet cenderung lebih
up to date.
Bagi para pengajar bagi guru maupun dosen, internet bermanfaat dalam
mengembangkan profesinya, karena dengan internet dapat : (a)
meningkatkan pengetahuan, (b) berbagi sumber diantara rekan sejawat, (c)
bekerjasama dengan pengajar di luar negeri, (d) kesempatan
mempublikasikan informasi secara langsung, (e) mengatur komunikasi
secara teratur, dan (f) berpartisipasi dalam forum-forum lokal maupun
internasional. Di samping itu para pengajar juga dapat memanfaatkan
internet sebagai sumber bahan mengajar dengan mengakses rencana
pembelajaran atau silabus online dengan metodologi baru, mengakses
materi kuliah yang cocok untuk mahasiswanya, serta dapat menyampaikan
ide-idenya.
Sementara itu mahasiswa juga dapat menggunakan internet untuk belajar
sendiri secara cepat, sehingga akan meningkatkan dan memeperluas
pengetahuan, belajar berinteraksi, dan mengembangkan kemampuan dalam
bidang penelitian.
Dalam www.jurnal-kopertis4.org disebutkan beberapa manfaat internet
bagi pendidikan di Indonesia, yaitu : akses ke perpustakaan, akses ke pakar,
perkuliahan online, layanan informasi akademik, menyediakan fasilitas mesin
pencari data, menyediakan fasilitas diskusi, dan fasilitas kerjasama.
Peran Media Pendidikan dalam Setrategi Pembelajaran

OPINI | 15 October 2011 | 17:03 Dibaca: 70 Komentar: 0 Nihil

Dalam proses pembelajaran diperlukan setrategi yang tepat agar tujuan dari pembelajaran
dapat tercapai, karena dengan adanya setrategi pembelajaran, apalagi setrategi yang digunakan
merupakan setrategi yang memberikan kesan kepada peserta didik, pasti akan membuat peserta
didiktidak hanya mampu menangkap materi yang disampaikan, tetapi juga benar-benar paham
terhadap materi yang telah disampaikan, sehingga dapat memberikan pengalaman belajar kepada
sisiwa, dan dapat membantu sisiwa dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan
diawal.
jadi setrategi pembelajaran adalah keputusan instruktur dalam menetapkan berbagai
kegiatan yang akan dilaksanakan, srana dan prasarana yang digunakan, termasuk jenis media
yang akan digunakan, materi yang diberikan, dan metodologi yang yang digunakan dalm
melaksanakan kegiatan pembelajaran. diharapkan siswa dapat mendapatkan pengalaman yang
diprlukan untuk mencapai tujuan pebelajaran yang diinginkan, yaitu dengan adanya perubahan
tingkah laku. dengan kata lain setrategi pembelajaran adalah suatu kondisi yang diciptakan oleh
instruktur dengan sengaja seperti: metode, sarana prasarana, materi, media, dan sebagainya, agar
siswa difasilitasi(dipermudah dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.[1]

tetapi yang akan lebih dipaparkan oleh penulis di sini adalah bagaimana peran media
pembelajaran dalam membantu proses penyampaian setrategi pembelajaran.

sebagai contohnya, dengan ditemukannya radio, yang ditemukan pada tahun 1030an,
sehingga memunculkan gerakan (Audiovisual Education) yang lebih menekankan pada proses
penggunaan audivisual dalam pembelajaran, mulailah yang dikenal dengan AVA (Audiovisual
Aids) sebagai alat peraga yang menyajikan bahan visual dan audio untuk memperjelas apa yang
disampaikan guru.

alat peraga tersebut sangantlah membantu para guru dalam menyampaikan


pelajaran/materi kepada peserta didik, karena apa yang disampaikan akan lebih jelas dan
kongkrit. disebut juga dengan Theaching Aids alat untuk membantu guru dalam mengajar.

Thomas dan Weaver pada tahun 1944. menciptakan suatu model komunikasi untuk
kegiatan elektronoika dan dalam kawasan Matematika, sehingga muncullah istilah (Audiovisual
Comunocation). selanjutnya muncul (Educational nenia) semua menampilkan fungsi baru yaitu;
komunikasi dalam penggunaan media.

Fungsi komunikasi memuat (tulisan berbentuk modul, slide, OHP,dll) yang memuat
pesan yang akan disampaikan kepadapenerima, seperti halnya seorang guru yang akan
menyampaikan materi dengan menggunakan slide kepada peserta didik,sehingga langsung
penerima dapat melihat langsung melalui media tersebut.
Sedangkan kegunaan media komunikasi antara lain: memberikan pengetahuan tentang
tujuan belajar, memotivasi siswa, menyajikan informasi, merangsang diskusi, mengarahkan
kegiatan siswa, melaksanakan latihan dan ulangan, menguatkan belajar, memberikan pengalaman
simulasi.

Itulah tadi, sedikit pemeparan sederhana mengenai peran media dalam setrategi pembelajaran,
seprti yang sudah di jelaskan di atas, bahwa diantaranya bisa dijadikan alat bantu penyampaian
materi yang lebih jelas dan kongkrit, maupun peran media sebagai alat komunikasi dalam
penyampaian pesan, singkatnya dua model tersebut masih perlu digunakan dalam melaksanakan
proses pembelajaran.

Dewi Salma Prawiradilaga&Eviien Siregan, 2008, Mozaik Teknologi Pendidikan,


[1]
UNJ:Jakarta, hlm 4-5

Laporka

BAB I
PENDAHULUAN

Penyelenggaran Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh (PTJJ) sangat lekat dengan
penggunaan media. Sesuai dengan karakteristik PTJJ, dapat dikatakan bahwa
sebagian besar bahan ajar disampaikan melalui beraneka ragam media; baik media
cetak (misalnya buku), maupun noncetak (misalnya audio-visual, komputer). Para
ahli, umumnya sependapat bahwa PTJJ memiliki sedikitnya dua karakteristik
(Keegan, 1991). Karakteristik pertama adalah adanya keterpisahan antara pengajar
dengan peserta didik, baik ditinjau dari sisi jarak, ruang maupun waktu.
Karakteristik kedua adalah adanya penggunaan media. Dari pendapat tersebut,
keterpisahan antara pengajar dan peserta didik terlihat sebagai elemen utama yang
menjadi karakteristik dasar pendidikan jarak jauh (PJJ). Sementara elemen kedua,
penggunaan media, merupakan dampak dari adanya keterpisahan ini. Untuk
menjembatani keterpisahan ini dibutuhkan kehadiran media komunikasi. Kehadiran
media ini menjadi salah satu ciri kesamaan antara instititusi penyelenggara PTJJ.
Sementara salah satu faktor yang dapat membedakan institusi penyelenggara PTJJ
adalah jenis media yang digunakan. Variasi penggunaan media antar institusi
penyelenggara PTJJ sangat beragam mengingat banyaknya jenis media yang dapat
dimanfaatkan, mulai dari media yang paling sederhana sampai pada yang paling
canggih. Smaldino (2003) mengemukakan bahwa peran media dalam Sistem PJJ
adalah sebagai fasilitas untuk menyampaikan materi pembelajaran yang telah
dikembangkan secara terstruktur sedemikian rupa dengan asumsi bahwa
penggunanya mempelajari materi tersebut di luar ruang kelas, dan belajar secara
individual. Dalam menentukan media yang digunakan, selain situasi dan kondisi
institusi, ada dua hal yang harus diperhatikan dan dijadikan sebagai acuan bagi
pengelola dan pengambil keputusan PTJJ, yaitu ragam media yang tersedia dan
pemilihan media yang tepat guna dan tepat sasar.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Ragam Media Dalam PTJJ


Media yang digunakan dalam PTJJ pada hakekatnya sangat dipengaruhi oleh
pekembangan teknologi. Dalam era kemajuan teknologi yang luar biasa, media
yang dapat dipilih dan digunakan semakin luas. Banyak institusi penyelenggara PTJJ
berlomba memanfaatkan media pembelajaran yang canggih, modern dan mahal.
Mereka berasumsi bahwa semakin canggih media yang digunakan maka semakin
tinggi pula nilai kontribusi terhadap proses pembelajaran. Asumsi ini tidak
selamanya benar, sebab media yang sederhana sekalipun, apabila digunakan
sesuai dengan karakteristik dan kemampuannya akan memberikan nilai
pembelajaran yang signifikan. Untuk daerah terpencil dan terisolasi serta daerah
yang belum memiliki tenaga listrik, penggunaan media yang sederhana tentunya
akan lebih efektif.

1. Pengertian, Jenis dan Karakteristik Media


Media telah lama dimengerti sebagai alat komunikasi yang digunakan untuk
menyampaikan suatu informasi. Mengingat banyaknya ragam media yang dapat
dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran, maka untuk memudahkan
mempelajari media-media tersebut pada umumnya dilakukan pengelompokan.
Salah satu penggolongan media yang dikenal adalah menurut Brezt (1972), yang
mengidentifikasi media dalam tiga unsur pokok yaitu: suara, visual dan gerak.
Berdasarkan ketiga unsur tersebut Brezt mengklasifikasi media ke dalam delapan
klasifikasi yaitu:

media audio visual gerak


media audio visual diam
media audio semi-gerak
media visual gerak
media visual diam
media semi-gerak
media audio
media cetak
2. Jenis Media dan Pemanfaatannya dalam PTJJ
a. Media Cetak
Hampir semua institusi PJJ di dunia memanfaatkan media cetak sebagai media
utama untuk menyampaikan materi ajar. Kombinasi antara media cetak dengan
media video/televisi merupakan contoh pemanfaatan media secara terpadu.
b. Radio
Radio telah dikenal sebagai media yang sangat memasyarakat. Hal ini menunjukkan
bahwa radio merupakan sebuah media yang memiliki aksesibilitas tinggi. Dalam
PTJJ media radio juga dikenal sebagai media yang cukup banyak digunakan sebagai
sarana untuk menyampaikan materi ajar.
Penelitian di The United Kingdom Open University di Inggris tentang pemanfaatan
media radio menunjukkan bahwa walaupun program radio sangat memotivasi,
ternyata peserta didik mengalami kesulitan belajar melalui radio. Sebagai dampak
karakteristik ini, media radio lebih tepat digunakan untuk menyampaikan materi
ajar yang bersifat umum, auditif, konkrit, sehingga lebih mudah diterima. Selain itu
faktor penggunaan bahasa yang sederhana dan kosa kata yang sudah dikenal,
pemberian contoh-contoh, baik melalui dramatisasi maupun kasus-kasus juga
sangat berpengaruh pada keberhasilan penggunaan media radio.
c. Televisi
Televisi dikenal sebagai media yang sangat kaya yang mampu menyajikan beragam
informasi dalam bentuk suara dan gambar secara bersamaan. Pemanfaatan siaran
televisi dalam PTJJ tidak hanya didasarkan pada kemampuannya menyajikan
beragam informasi dalam bentuk audio-visual secara bersamaan, tetapi juga karena
kemampuannya menjangkau sejumlah besar pemirsa dalam jangkauan wilayah
geografis yang relatif luas. Pemanfaatan media televisi pada lembaga PTJJ di
beberapa negara ternyata tidak saja mempertimbangkan keunggulan yang dimiliki
oleh media tersebut tetapi juga faktor aksesibilitas media ini.
d. Media Berbantuan Komputer
Salah satu kelemahan penyelenggaraan sistem PTJJ adalah minimnya umpan balik
yang dapat diperoleh peserta didik tentang proses dan hasil belajar yang telah
mereka tempuh. Potensi media komputer yang dapat dimanfaatkan untuk
meningkatkan efektivitas proses pembelajaran pada sistim PTJJ antara lain:
memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara peserta didik dan materi
pembelajaran.
proses belajar dapat berlangsung secara individual sesuai dengan kemampuan
belajar peserta didik.
mampu menampilkan unsur audio visual untuk meningkatkan minat belajar (multi
media)
dapat memberikan umpan balik terhadap respon peserta didik dengan segera.
mampu menciptakan proses belajar secara berkesinambungan Robert Heinich dkk
(1986) mengemukakan enam bentuk interaksi yang dapat diaplikasikan dalam
merancang sebuah media pembelajaran untuk sistem PTJJ, berupa:
praktek dan latihan (drill and practice)
Program yang berbentuk drill and practice umumnya digunakan apabila peserta
didik diasumsikan telah mempelajari konsep, prinsip dan prosedur sebagai materi
pembelajaran.
Tutorial
Program ini menyajikan informasi dan pengetahuan dalam topik tertentu diikuti
dengan latihan pemecahan soal dan kasus.
permainan (games)
Program yang berisi permainan dapat memberi motivasi bagi siswa untuk
mempelajari informasi yang ada di dalamnya. Hal ini sangat berkaitan erat dengan
essensi bentuk permainan yang selalu menampilkan masalah menantang yang
perlu dicari solusinya oleh pemakai.
simulasi (simulation)
Program simulasi berupaya melibatkan siswa dalam persoalan yang mirip dengan
situasi yang sebenarnya namun tanpa resiko yang nyata. Melalui program simulasi
peserta didik diajak untuk membuat keputusan yang tepat dari beberapa alternatif
solusi yang ada.
penemuan (discovery)
Peserta didik harus terus mencoba sampai berhasil menemukan solusi yang
diperlukan untuk memecahkan masalah.
pemecahan masalah (problem solving)
Program seperti ini dapat dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan cara yang
ditempuh siswa dalam memberikan respon. Pada cara yang pertama siswa
merumuskan sendiri solusi masalah yang ditampilkan lewat komputer dan
memasukkan program ke dalamnya. Sedangkan pada cara yang kedua, komputer
menyediakan jawaban yang mewakili respon siswa terhadap masalah yang
ditayangkan oleh komputer.
e. Internet
Dengan teknologi yang berkembang pesat dewasa ini, pemanfaatan komputer
dalam sistim PTJJ tidak hanya dapat digunakan secara stand alone tetapi dapat pula
dimanfaatkan dalam suatu jaringan. Jaringan komputer atau computer network
telah memungkinkan proses belajar menjadi lebih luas, lebih interaktif dan lebih
fleksibel. Peserta didik dapat melakukan proses belajar tanpa dibatasi oleh faktor
ruang dan waktu, artinya, jika ada fasilitas jaringan, peserta didik dapat melakukan
proses belajar di mana saja dan kapan saja. Jaringan komputer yang paling umum
digunakan adalah internet. Saat ini teknologi internet telah memungkinkan setiap
orang memperoleh akses yang lebih besar terhadap beragam informasi yang
tersedia. Dengan kemajuan teknologi jaringan internet, belajar melalui dunia maya
pun mulai dikenal baik. Penyampaian materi dalam pembelajaran maya, baik
sebagian maupun secara utuh, dikemas dan disampaikan melalui komputer secara
online.
3. Indikator Media Efektif
Hal terpenting dalam pemanfaatan media dalam PTJJ yang harus selalu
dikedepankan adalah kemampuan media yang digunakan dalam memberi nilai
tambah (added value) terhadap aktivitas pembelajaran mahasiswa.
Kearsley & Moore (1996: 122-123) mengemukakan beberapa karakteristik penting
tentang kualitas media yang digunakan dalam PTJJ yakni sebagai berikut:
Memiliki tujuan pembelajaran yang jelas
Melibatkan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran
Lengkap
Memberikan dorongan belajar
Bervariasi
Memberi umpan balik
Melakukan evaluasi secara continue
B. Pemilihan Media Dalam PTJJ
Pemilihan media untuk PTJJ berbeda dengan pemilihan media bagi pendidikan yang
menggunakan sistem belajar tatap muka, walaupun keduanya tetap mengacu
kepada karakteristik yang dimiliki oleh masing-masing media. Rowntree (1994)
mengemukakan sejumlah kriteria yang perlu dipertimbangkan oleh pengambil
keputusan dalam pemilihan media dalam PTJJ yang antara lain berkaitan dengan
tujuan belajar yang akan dicapai, kondisi peserta didik yang meliputi aksesibilitas
terhadap media, kenyamanan menggunakan media, mampu memotivasi, serta
kemampuan organisasi dalam pengembangan dan pengadaan media. Sementara
Bates (1995) mengembangkan sebuah kerangka pemilihan media yang sistimatis
dengan memperhatikan tujuh faktor yang perlu dipertimbangkan yaitu: access
(aksesibilitas), costs (biaya), teaching and learning (proses pengajaran dan
pembelajaran), interactivity (interaktifitas), organisational issues (permasalahan
organisasi), novelty (kemuktahiran), dan speed (kecepatan). Pada dasarnya
Rowntree maupun Bates sependapat bahwa pemilihan media dalam PTJJ perlu
memperhatikan beberapa faktor seperti:
1. Akses terhadap media
Pengertian akses terhadap media adalah adanya ketersedian dan kemudahan
memperoleh atau menggunakan media. Akses terhadap media ini harus dilihat dari
dua sisi, yaitu sisi institusi penyelenggara PTJJ dan sisi peserta didik/calon peserta
didik. Dalam PTJJ, seberapapun pentingnya bahan ajar yang akan disampaikan dan
betapapun baiknya teknik penyampaiannya, akan menjadi sia-sia apabila peserta
didik tidak dapat menerimanya, hanya karena mereka tidak memiliki akses
terhadap media yang membawa bahan ajar tersebut.
2. Faktor Biaya
Dalam menentukan pilihan mengenai media apa yang akan digunakan dalam PTJJ,
faktor biaya merupakan faktor yang tidak dapat dihindarkan. Banyak orang berpikir
bahwa PJJ berarti penyelenggaraan pendidikan dengan biaya murah. Misalnya,
sebuah institusi jarak jauh memilih menggunakan media video interaktif.
Penggunaan media ini akan terhitung mahal apabila hanya digunakan untuk peserta
didik yang berjumlah sedikit tetapi sebaliknya dapat terhitung murah apabila
peserta didiknya banyak. Begitu pula bila institusi PTJJ memilih menggunakan media
cetak. Dengan jumlah peserta didik yang banyak maka biaya penyelenggaraan
pendidikan ini akan dirasakan sangat murah.
3. Fungsi pembelajaran
Berkaitan dengan hal ini Gagne et.al. (1988) melihat tiga faktor yang perlu
diperhatikan, yaitu:
a. Karakteristik fisik media
Karakteristik fisik media merupakan satu hal yang perlu dipertimbangkan dalam
pemilihan media. Pertimbangan ini berkaitan dengan kemampuan media untuk
menyajikan informasi verbal, baik dalam bentuk teks maupun audioKemampuan
media dalam menyajikan informasi visual dan gerakan merupakan salah satu
karakter fisik yang dapat mendasari pemilihan media.
b. Tujuan belajar
Secara umum dapat dikatakan bahwa hampir semua jenis media digunakan untuk
menyampaikan sebagian besar tujuan belajar, tetapi tidak pula disangkal bahwa
media tertentu akan lebih efektif apabila digunakan untuk pencapaian tujuan
belajar tertentu pula. Kemampuan ini tidak akan dapat dikuasai oleh perserta didik
hanya melalui media cetak saja. Dalam hal ini penggunaan media tambahan seperti
kaset audio dan video akan menyempurnakan pemahaman ataupun penguasaan
bahasa asing tersebut.
c. Kemampuan peserta didik dalam penggunaan media
Dalam pemilihan media untuk PTJJ, Rowntree (1994) mengemukakan perlu
memperhatikan kemampuan perserta didik dalam menggunakan media serta
kecenderungan mereka untuk menyukai media tertentu. Walaupun masih
merupakan asumsi apabila kondisi ini diperhatikan akan sangat berpengaruh
terhadap proses belajar pada PTJJ.

DAFTAR PUSTAKA

lppm.ut.ac.id
ikaumayasbm.blogspot.com/2009/01/
Bates, T. 1988. Television, learning dan distance education: International council for
distance education bulletin, 16(1), 29-38.
Keegan, D. 1991. Foundations of distance education. Great Britain: Biddies Ltd.
Prinsip Pengembangan Media Pendidikan
Written by situs talenta | 29/02/2012 | 0

Semakin sadarnya orang akan pentingnya media yang membantu pembelajaran sudah mulai
dirasakan. Pengelolaan alat bantu pembelajaran sudah sangat dibutuhkan. Bahkan
pertumbuhan ini bersifat gradual. Metamorfosis dari perpustakaan yang menekankan pada
penyediaan meda cetak, menjadi penyediaan-permintaan dan pemberian layanan secara multi-
sensori dari beragamnya kemampuan individu untuk mencerap informasi, menjadikan pelayanan
yang diberikan mutlak wajib bervariatif dan secara luas.Selain itu,dengan semakin meluasnya
kemajuan di bidang komunikasi dan teknologi, serta diketemukannya dinamika proses belajar,
maka pelaksanaan kegiatan pendidikan dan pengajaran semakin menuntut dan memperoleh
media pendidikan yang bervariasi secara luas pula.

Karena memang belajar adalah proses internal dalam diri manusia maka guru bukanlah
merupakan satu-satunya sumber belajar, namun merupakan salah satu komponen dari sumber
belajar yang disebut orang. AECT (Associationfor Educational Communication and Technology)
membedakan enam jenis sumber belajar yang dapat digunakan dalam proses belajar, yaitu:

1. Pesan; didalamnya mencakup kurikulum (GBPP) dan mata pelajaran.


2. Orang; didalamnya mencakup guru, orang tua, tenaga ahli, dan sebagainya.
3. Bahan;merupakan suatu format yang digunakan untuk menyimpan pesan
pembelajaran,seperti buku paket, buku teks, modul, program video, film, OHT
(over head transparency), program slide,alat peraga dan sebagainya (biasa
disebut software).

4. Alat; yang dimaksud di sini adalah sarana (piranti, hardware) untuk


menyajikan bahan pada butir 3 di atas. Di dalamnya mencakup proyektor
OHP, slide, film tape recorder, dan sebagainya.

5. Teknik; yang dimaksud adalah cara (prosedur) yang digunakan orang dalam
membeikan pembelajaran guna tercapai tujuan pembelajaran. Di dalamnya
mencakup ceramah,permainan/simulasi, tanya jawab, sosiodrama (roleplay),
dan sebagainya.

6. Latar (setting) atau lingkungan; termasuk didalamnya adalah pengaturan


ruang, pencahayaan, dan sebagainya.

Bahan & alat yang kita kenal sebagai software dan hardware tak lain adalah media pendidikan.

Media Pendidikan

Kata media berasal dari bahasa Latin yang adalah bentuk jamak dari medium batasan mengenai
pengertian media sangat luas, namun kita membatasi pada media pendidikan saja yakni media
yang digunakan sebagai alat dan bahan kegiatan pembelajaran.

Mengapa perlu media dalam pembelajaran? Pertanyaan yang sering muncul mempertanyakan
pentingnya media dalam sebuah pembelajaran.Kita harus mengetahui dahulu konsep abstrak dan
konkrit dalam pembelajaran,karena proses belajar mengajar hakekatnya adalah proses
komunikasi,penyampaian pesan dari pengantar ke penerima. Pesan berupa isi/ajaran yang
dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi baik verbal (kata-kata& tulisan) maupun non-
verbal, proses ini dinamakan encoding. Penafsiran simbol-simbol komunikasi tersebut oleh siswa
dinamakan decoding.

Ada kalanya penafsiran berhasil, adakalanya tidak.Kegagalan/ketidakberhasilan dalam


memahami apa yang didengar, dibaca,dilihat atau diamati. Kegagalan/ketidakberhasilan atau
penghambat dalam proses komunikasi dikenal dengan istilah barriers atau noise. Semakin
banyak verbalisme semakin abstrak pemahaman yang diterima.

Lantas dimana fungsi media? Ada baiknya kita melihat diagram cone of learning dari Edgar Dale
yang secara jelas memberi penekanan terhadap pentingnya media dalam pendidikan:

Secara umum media mempunyai kegunaan:

1. memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalistis.


2. mengatasi keterbatasan ruang, waktu tenaga dan daya indra.

3. menimbulkan gairah belajar, interaksi lebih langsung antara murid dengan


sumber belajar.
4. memungkinkan anak belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan
visual, auditori & kinestetiknya.

5. memberi rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman &


menimbulkan persepsi yang sama.

Selain itu, kontribusi media pembelajaran menurut Kemp and Dayton, 1985:

1. Penyampaian pesan pembelajaran dapat lebih terstandar


2. Pembelajaran dapat lebih menarik

3. Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan menerapkan teori belajar

4. Waktu pelaksanaan pembelajaran dapat diperpendek

5. Kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan

6. Proses pembelajaran dapat berlangsung kapanpun dan dimanapun


diperlukan

7. Sikap positif siswa terhadap materi pembelajaran serta proses pembelajaran


dapat ditingkatkan

8. Peran guru berubahan kearah yang positif

Karakteristik dan kemampuan masing-masing media perlu diperhatikan oleh guru agar mereka
dapat memilih media mana yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan. Sebagai contoh media
kaset audio, merupakan media auditif yang mengajarkan topik-topik pembelajaran yang bersifat
verbal seperti pengucapan (pronounciation) bahasa asing. Untuk pengajaran bahasa asing media
ini tergolong tepat karena bila secara langsung diberikan tanpa media sering terjadi
ketidaktepatan yang akurat dalam pengucapan pengulangan dan sebagainya. Pembuatan media
kaset audio ini termasuk mudah, hanya membutuhkan alat perekam dan narasumber yang dapat
berbahasa asing, sementara itu pemanfaatannya menggunakan alat yang sama pula.

Untuk itu perlu dicermarti daftar kelompok media instruksional menurut Anderson, 1976 berikut
ini:

KELOMPOK MEDIA MEDIA INSTRUKSIONAL


Audio pita audio (rol atau kaset)
1.
piringan audio

radio (rekaman siaran)


Cetak buku teks terprogram
2.
buku pegangan/manual

buku tugas
Audio Cetak buku latihan dilengkapi kaset
3.
gambar/poster (dilengkapi audio)
Proyek Visual Diam film bingkai (slide)
4.
film rangkai (berisi pesan verbal)
Proyek Visual Diam film bingkai (slide) suara
5. dengan Audio
film rangkai suara
Visual Gerak
film bisu dengan judul (caption)
6.
Visual Gerak film suara
7. dengan Audio
video/vcd/dvd
Benda benda nyata
8.
model tirual (mock up)
Komputer media berbasis komputer; CAI (Computer Assisted
9. Instructional) & CMI (Computer Managed Instructiona

Klasifikasi & Jenis Media

KLASIFIKASI JENIS MEDIA


Media yang tidak diproyeksikan Realia, model, bahan grafis, display

Media yang diproyeksikan OHT, Slide, Opaque

Audio K aset, Audio V ission, aktive Audio


Media audio
Vission

Media video Video

Computer A ssisted I nstructional


Media berbasis komputer
( Pembelajaran Berbasis Komputer)

Multimedia kit Perangkat praktikum

Media yang Tidak Diproyeksikan

Realita : Benda nyata yang digunakan sebagai bahan belajar

Model : Benda tiga dimensi yang merupakan representasi dari benda


sesungguhnya
Grafis : Gambar atau visual yang penampilannya tidak diproyeksikan (Grafik, Chart, Poster,
Kartun)

Display : Medium yang penggunaannya dipasang di tempat tertentu sehingga dapat dilihat
informasi dan pengetahuan di dalamnya.

Media Video

Kelebihan

Dapat menstimulir efek gerak

Dapat diberi suara maupun warna

Tidak memerlukan keahlian khusus dalam penyajiannya.

Tidak memerlukan ruangan gelap dalam penyajiannya

Kekurangan

Memerlukan peralatan khusus dalam penyajiannya

Memerlukan tenaga listrik

Memerlukan keterampilan khusus dan kerja tim dalam pembuatannya

Media Berbasiskan Komputer

Bentuk interaksi yang dapat diaplikasikan

Praktek dan latihan (drill & practice)

Tutorial

Permainan (games)

Simulasi (simulation)

Penemuan (discovery)

Pemecahan Masalah (Problem Solving)

(Heinich,et.al 1996)

Kemajuan media komputer memberikan beberapa kelebihan untuk kegiatan produksi audio
visual. Pada tahun-tahun belakangan komputer mendapat perhatian besar karena kemampuannya
yang dapat digunakan dalam bidang kegiatan pembelajaran. Ditambah dengan teknologi jaringan
dan internet, komputer seakan menjadi primadona dalam kegiatan pembelajaran.

Dibalik kehandalan komputer sebagai media pembelajaran terdapat beberapa persoalan yang
sebaiknya menjadi bahan pertimbangan awal bagi pengelola pengajaran berbasis komputer:

1. Perangkat keras -dan lunak- yang mahal dan cepat ketinggalan jaman
2. Teknologi yang sangat cepat berubah, sangat memungkinkan perangkat yang
dibeli saat ini beberapa tahun kemudian akan ketinggalan zaman.

3. Pembuatan program yang rumit serta dalam pengoperasian awal perlu


pendamping guna menjelaskan penggunaannya. Hal ini bisa disiasati dengan
pembuatan modul pendamping yang menjelaskan penggunaan dan
pengoperasian program.

Pemakaian Komputer dalam Proses Belajar


Sebelumnya perlu dijelaskan istilah CAI dan CMI yang digunakan dalam kegiatan belajar
dengan komputer.

CAI; yaitu penggunaan komputer secara langsung dengan siswa untuk menyampaikan isi
pelajaran, memberikan latihan dan mengetes kemajuan belajar siswa. CAI dapat sebagai tutor
yang menggantikan guru di dalam kelas. CAI juga bermacam-macam bentuknya bergantung
kecakapan pendesain dan pengembang pembelajarannya, bisa berbentuk permainan (games),
mengajarkan konsep-konsep abstrak yang kemudian dikonkritkan dalam bentuk visual dan audio
yang dianimasikan.

CMI; digunakan sebagai pembantu pengajar menjalankan fungsi administratif yang meningkat,
seperti rekapitulasi data prestasi siswa, database buku/e-library, kegiatan administratif sekolah
seperti pencatatan pembayaran, kuitansi dll.

Pada masa sekarang CMI & CAI bersamaan fungsinya dan kegiatannya seperti pada e-Learning,
dimana urusan administrasi dan kegiatan belajar mengajar sudah masuk dalam satu sistem.

Pemakaian Komputer dalam Kegiatan Pembelajaran


Untuk Tujuan Kognitif
Komputer dapat mengajarkan konsep-konsep aturan, prinsip, langkah-langkah, proses, dan
kalkulasi yang kompleks. Komputer juga dapat menjelaskan konsep tersebut dengan dengan
sederhana dengan penggabungan visual dan audio yang dianimasikan. Sehingga cocok untuk
kegiatan pembelajaran mandiri.

Untuk Tujuan Psikomotor


Dengan bentuk pembelajaran yang dikemas dalam bentuk games & simulasi sangat bagus
digunakan untuk menciptakan kondisi dunia kerja. Beberapa contoh program antara lain;
simulasi pendaratan pesawat, simulasi perang dalam medan yang paling berat dan sebagainya.

Untuk Tujuan Afektif


Bila program didesain secara tepat dengan memberikan potongan clip suara atau video yang
isinya menggugah perasaan, pembelajaran sikap/afektif pun dapat dilakukan mengunakan media
komputer.

PUSTAKA

Green L (1996). Creatives Silde/Tape Programs. Colorado: Libraries Unlimited, Inc. Littleton.

Hackbarth S. (1996). The Educational Technology Hanbook. New Jersey: Educational


Technology Publication, Englewood Cliffs.

Hannafin, M. J., Peck, L. L. (1998). The Design Development and Education of Instructional
Software. New York: Mc. Millan Publ., Co.

Heinich, R., et. al. (1996) Instructional Media and Technologies for Learning. New Jersey:
Prentice Hall, Englewood Cliffs.

E. Dale, Audiovisual Method in Teaching, 1969, NY: Dyden Press

Bloom, S. Benyamin (1956). Taxonomy of Educational Objective The Classification of


Educational Goal.

Sumber: http://teknologipendidikan.wordpress.com